Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUJIAN DAN EVALUASI TEKSTIL 2

IDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA SELULOSA

GOLONGAN I, II, III DAN IV

NAMA : WINRIASARI

NPM : 15020088

GRUP : 2K3

DOSEN : KHAIRUL UMAM., S.ST., M.T

ASISTEN : SAMUEL S., S. ST

WITRI AS., S.ST

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL

BANDUNG

2016

I. MAKSUD DAN TUJUAN


MAKSUD
Mengetahui jenis zat warna yang digunakan untuk mencelup kain selulosa.
TUJUAN
Mengetahui berbagai cara pengujian zat warna pada serat selulosa
Mempelajari bagaimana metode pengujian zat warna pada serat
selulosa dan mengetahui mekanisme uji penentuannya.
Menganalisa zat warna yang digunakan untuk mencelup serat
selulosa.

II. TEORI DASAR


Identifikasi zat warna pada selulosa digunakan menjadi empat
golongan dan cara pengujian dilakukan berturut-turut dari zat warna
golongan satu sampai zat warna golongan empat.
Golongan I : Zat warna yang luntur dalam larutan amonia atau asam
asetat encer mendidih. Zat warna yang termasuk golongan ini adalah
zat warna direk, asam, basa dan direk dengan pengerjaan iring.
Golongan II : Zat warna yang berubah warnanya karena reduksi
dengan Natrium Hidrosulfit dalam suasana alkali dan warna kembali ke
warna semula(asli) oleh oksidasi dengan udara. Zat warna yang
termasuk golongan ini adalah zat warna bejana, belerang, bejana-
belerang (Hydron), dan Oksidasi.
Golongan III : Zat warna yang rusak oleh reduksi dengan Natrium
Hidrosulfit dalam suasana alkali dan larutan ekstraksinya dalam
amonia atau asam asetat tidak dapat mencelup kembali kain kapas
putih. Zat warna yang termasuk dalam golongan ini adalah zat warna
direk dengan iring logam, zat warna direk dengan iring formaldehid,
direk diazotasi, dan dibangkitkan dengan nafloat .
Golongan IV : Zat warna yang tidak luntur dalam pelarut organik
Dimetilformamida (DMF) 1:1 dan DMF 100%. Termasuk golongan ini
adalah zat warna pigmen dan reaktif.

Pada prinsif pengujian dari uji zat warna pada selulosa ini
adalah contoh uji dilarutkan warnanya dengan pereaksi tertentu dan larutan
ekstraksinya diamati daya celupnya atau karakteristik khusus lainnya.

Zat warna golongan I

Zat warna direk


Zat warna direk umumnya adalah senyawa azo yang disulfonasi. Zat
warna ini juga termasuk zat warna substantif karena mempunyai
afinitas yang besar terhadap selulosa. Beberapa zat warna direk
dapat mencelup serat binatang dan mempunyai ikatan hidrogen. zat
warna direk umumnya mempunyai ketahanan yang kurang baik
terhadap pencucian, tidak tahan terhadap oksidasi dan rusak oleh zat
reduksi.
Zat warna asam
Zat warna asam mengandung asam-asam mineral/ asam organik dan
juga dalam bentuk garam-garam natrium dari asam organik dengan
gugus anion yang merupakan gugus pembawa warna (kromofor).
Struktur kimia zat warna asam mempunyai zat warna direk yang
mengandung gugus sulfonat atau karboksilat sebagai gugus pelarut.
Zat warna asam dapat mencelup serat-serat binatang, poliamida, dan
poliakrilat berdasarkan ikatan elektrovalen atau ikatan ion.
Zat warna basa
Zat warna basa dalah zat warna yang mempunyai muatan positif/
kation. Zat warna basa merupakan suatu garam. Basa zat warna
basa yang dapat membentuk garam dengan asam. Asam dapat
berasal dari hidroklorida atau oksalat.

Zat warna golongan II

Zat warna bejana


Zat warna bejana tidak larut dalam air, pleh karena itu dalam
pencelupan harus diubah dalam bentuk leuco yang larut. Senyawa
leuco tersebut mempunyai substantivitas terhadap selulosa sehingga
dapat tercelup. Adanya oksidator atau oksigen menyebabkan bentuk
leuco yang tercelup dalam serat tersebut akan teroksidasi kembali
kebentuk semula yaitu pigmen zat warna bejana.
Zat warna belerang
Zat warna belerang adalah zat warna yang mengandung unsur
belerang sebagai kromofor. Stuktur molekulnya merupakan molekul
yang kompleks dan tidak larut dalam air oleh karena itu dalam
pencelupannya memerlukan reduktor Na2S dan NaCl untuk
melarutkannya. Untuk membentuk zatwarna semula maka perlu
proses oksidasi baik dengan udara maupun dengan bantuan
oksidator-oksidator lainnya.
Zat warna hidron
Zat warna hidron merupakan sifat-sifat antara zat warna bejana dan
zat warna belerang. zat warna ini juga mempunyai warna yang
spesifik. Reduktor yang digunakan adalah reduktor lemah seperti
Na2CO3.

Zat warna golongan III

Zat warna golongan III adalah zat warna yang rusak dalam larutan
Natrium hidrosulfit yang bersifat alkali dan larutan ekstraksinya. Air-amonia
atau asam asetat tidak mencelup kembali serat kapas putih atau warna tidak
kembali ke warna asli setelah oksidasi. Zat warna yang termasuk dalam
golongan ini adalah :

Zat warna direk dengan iring logam


Zat warna direk dengan iring formaldehid
Zat warna naftol
Zat warna naftol merupakan zat warna yang terbentuk dalam serat
pada waktu pencelupan dan merupakan hasil reaksi antara senyawa
naftol dengan garam diazodium(kopling). Sifat-sifat umum dari zat
warna naftol adalah tidak larut dalam air, luntur dalam piridin pekat
mendidih, bersifat poli genetik dan mono genetik, karena
mengandung gugus azo maka tidak tahan terhadap reduktor.
Zat warna azo yang tidak luntur dan zat warna yang diazotasi atau
dibangkitkan.

Zat warna golongan IV

Zat warna yang sukar dilunturkan dalam berbagai pelarut seperti amonia,
asam asetat dan piridina.

Zat warna pigmen


Zat warna pigmen adalah zat warna yang hanya mengandung
kromofor saja sehingga pada pencelupannya perlu dibantu dengan
zat pengikat yang disebut binder. Unsur-unsur yang terdapat dalam
zat warna pigmen antara lain garam-garam organik, oksida organik,
gugus azo, logam berwarna dan lain-lain. Zat warna ini luntur dalam
DMF pekat dan DMF 1:1, kecuali untuk zat warna pigmen ftalosianin
yang berasal dari zat warna pigmen anorganik.
Zat warna reaktif
Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat mengadakan reaksi
dengan serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari
serat. Oleh karena itu zat warna ini mempunyai ketahanan cuci yang
baik. Zat warna ini mempunyai berat molekul yang kecil oleh karena
itu kilapnya lebih baik dibandingkan dengan zat warna direk. Sifat
umum zat warna reaktif adalah larut dalam air, berikatan kovalen
dengan serat, karena kebanyakan gugus azo maka warna ini mudah
rusak oleh reduktor kuat, tidak tahan terhadap oksidator yang
mengandung khlor (NaOCl).

III. PRAKTIKUM
A. Alat-alat yang digunakan
Tabung reaksi
Rak tabung reaksi
batang pengaduk
Pipet volume
pipet tetes
bunsen
kasa
gelas piala 600 ml
kertas saring

B. Bahan-bahan yang digunakan

Pengujian Zat warna golongan I


- 3 lembar kain yang sudah dicelup zat warna selulosa golongan I
- kain kapas
- wool
- akrilat
- Pereaksi-pereaksi :
NH4OH 10%
NaCl
CH3COOH 10%
CH3COOH glacial
NaOH 10%
Eter
Pengujian Zat warna golongan II
- 3 lembar kain yang sudah dicelup dengan zat warna selulosa golongan
II
- kain kapas
- paraffin
- pereaksi-pereaksi :
NaOH 10%
Na2S2O4
Na2CO3
Na2S
Nacl
HCl 16%
SnCl2 10%
Pb Ac 10%
NaOCl 10%
Pengujian zat warna golongan III dan IV
- 3 lembar kain yang sudah dicelup zat warna selulosa golongan III dan IV
- kain kapas untuk naftol
- wool
- pereaksi-pereaksi :
NaOH 10%
Na2S2O4
Alkohol
NaCl
DMF 1:1
DMF 100%
HCl 1%
H2SO4 60%

C. Cara Kerja
Uji Zat warna direk
- Masukan contoh uji ke dalam tabung reaksi
- Tambahkan 4 ml amonia 10%
- Didihkan hingga sebagian besar zw terekstraksi
- Ambil contoh uji dari larutan ekstrak zat warna
Catatan : sebaiknya larutan ekstraknya dibagi dua, satu bagian
untuk uji zw direk dan satu bagian lagi untuk zw asam.
- Masukan kapas putih, wol putih dan akrilat putih masing-masing 10mg
kemudian tambahkan 5-10 mg NaCl.
- Didihkan selama 0,5-1,5 menit kemudian biarkan menjadi dingin.
- Ambil kain-kain tersebut cuci dengan air, amati warnanya.
- Pencelupan kembali kain kapas lebih tua dibandingkan dengan wol dan
akrilat menunjukan zw direk.
Uji Zat warna asam
- Netralkan larutan ekstraksi yang diperoleh dari larutan amonia dengan
asam asetat 10% (periksa dengan kertas lakmus atau kertas pH).
- Tambahkan lagi 1 ml asam asetat 10%.
- Masukan kain-kain kapas, wol dan akrilat, didihkan selama satu menit
- Ambil kain-kain tersebut, cuci dengan air, amati warnanya.
- pencelupan kembali wol putih oleh larutan ekstraksi dalam suasana
asam menunjukan adanya Zw asam.
Uji Zat warna basa
- Masukan contoh uji ke dalam tabung reaksi
- Tambahkan 1 ml asam asetat glasial tambahkan 3-5 ml air didihkan
sampai terjadi ekstraksi
- Ambil contoh uji dan bagilah ekstraksi menjadi 2 bagian (1 bagian untuk
pencelupan dan 1 bagian lagi untuk uji penentuan).
- Masukan kain-kain kapas, wol dan akrilat.
- Didihkan selama 1-1,5 menit
- Pencelupan kembali kain akrilat dengan warna tua menunjukan adanya
zat warna basa.
Uji penentuan
- Tambahkan 3 ml larutan natrium hidroksida 10% (sampai alkalis) ke
dalam larutan ekstraksi zat warna dan panaskan.
- Dinginkan dan kemudian tambahkan 3 ml eter.
- Kocok larutan tersebut, biarkan memisah (air dibawah, eter diatas).
- Pindahkan lapisan eter kedalam tabung reaksi lain.
- Tambahkan 1-3 ml asam asetat 10% kocok lagi
- Pewarnaan kembali lapisan larutan asam asetat dengan warna yang
sama dengan warna yang asli menunjukan adanya zw basa.

Uji zat warna golongan II


- Uji Zat Warna Golongan II
- Masukan contoh uji kedalam tabung reaksi
- Tabmbahkan 2-3 ml air, 2 ml NaOH 10%, didihkan selama 1 menit,
tambahkan Na2S2O4 didihkan lagi selama 1 menit.
- Keluarkan contoh uji, angin-anginkan/ oksidasi dengan udara.
- Warna kembali ke warna semula maka menunjukan zat warna golongan
II.
Uji warna bejana
- Masukan contoh uji tambahkan 2 ml air dan ml NaOH 10%.
- Didihkan dan tambahkan Na2S2O4 didihkan kembali selama 1
menit
- Ambil contoh uji masukan kapas putih dan NaCl didihkan selama
1-1,5 menit biarkan dingin.
- Ambil kain kapas tersebut letakan diatas kertas saring dan biarkan
terkena udara.
- Kapas tercelup kembali kewarna contoh asli tetapi lebih muda.
Uji penentuan I
- Panaskan lilin parafin, ketika mendidih masukan potongan-
potongan contoh uji
- Setelah itu lilin parafin biarkan terlebih dahulu agak mendingin
- Kemudian tetesi parafin ke kertas saring sehingga ketas saring
terwarnai/ tidak
- Apabila parafin terwarnai maka menunjukan positif zat warna
bejana.
Uji zat warna belerang
- Masukan contoh uji kedalam tabung reaksi.
- Tambahkan 2-3 ml air. Natrium Karbonat panaskan kemudian
panaskan Na2S.
- Panaskan sampai mendidih selama 1-2 menit
- Ambil contoh uji, masukan kapas putih dan NaCl didihkan selama
1-2 menit.
- Ambil kapas tersebut, letakan diatas kertas saring atau cuci
dengan air biarkan terkena udara.
- kain kapas akan tercelup kembali dengan warna yang sama
dengan warna contoh asli tetapi lebih muda.
Uji penentuan 1
- Didihkan contoh uji dalam 3 ml larutan NaOH 10% kemudian cucui
bersih (2kali dengan air mengalir).
- Masukan contoh uji (bersih) tambahkan 2 ml HCl 16%
- Didihkan selama 0,5 1 menit biarkan dingin
- Tambahkan 3 ml SnCl 10%
- Letakan kertas Pb Ac pada mulut tabung ( kertas Pb Ac : Kertas
saring dibasahi dengan larutan Pb Ac 10%) panaskan.
- Warna coklat atau hitam pada kertas Pb Ac menunjukan zat warna
belerang.
Uji penentuan 2
- Rendam contoh uji dengan larutan NaOCl 10%.
- Zat warna belerang akan rusak dalam waktu 5 menit.
Uji zat warna Hydron
- + di parafin
- + dibejana
Uji zat warna golongan III dan IV
- Uji zat warna golongan III
- Masukan contoh uji ke dalam tabung reaksi tambahkan 3 ml air,
NaOH 10% dan Na2S2O4.
- Panaskan sampai mendidih selama 3 menit.
- Semua zat warna golongan II akan rusak, ditandai dengan
perubahan warna terhadap contoh uji atau lunturan wkstraksi
menjadi putih, abu-abu, kuning atau jingga, warna tidak kembali
setelah oksidasi.
Zat warna naftol
- Masukan contoh uji dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 1 ml NaOH 10% dalam 3 ml alkohol didihkan.
- Tambahkan Na2S2O4 panaskan/ didihkan (warna akan tereduksi)
- Dinginkan, ambil contoh uji amati warnanya.
- Warna rusak menunjukan adanya zat warna naftol atau reaktif
(dengan oksidasi warna akan kembali)
- Kedalam filtrat (lunturan) masukan kapas putih dan NaCl didihkan
selama 2 menit.
- Kapas berwarna kuning dan berpendar dibawah sinar ultra
lembayung menunjukan zat warna naftol.
Uji penentuan
- Lelehan dalam parafin positif
Uji zat warna pigmen
- Masukan contoh uji dalam larutan DMF 1:1
- Didihkan selama 2 menit amati warnanya.
- Ulangi pengerjaan butir (1) dan (2) dengan DMF 100%
- Pewarnaan muda dalam larutan 1:1 dan pewarnaan tua dalam
DMF 100% menunjukan adanya Zat warna pigmen.
Uji penentuan 1
- Masukan contoh uji dalam 3 ml larutan HCl 1% didihkan selama
5 menit.
- Cuci bersih
- Ambil seratnya, amati dibawah mikroskop
bila terdapat partikel zat warna pada permukaan serat
menunjukan zat warna pigmen dengan zat pengikat
bila partikel warna terdapat diseluruh serat menunjukan zat
warna pigmen dengan pencelupan polimer.
Uji penentuan 2
- Khusu zat warna pigmen yang berwarna biru apabila :
contoh uji ditetesi HNO3 pekat warna violet
Contoh uji ditetesi H2SO4 warna hijau menunjukan zat
warna pigmen alician biru.
Zat warna Reaktif
- Masukan contoh uji dalam 3 ml larutan DMF 1:1 didihkan selama
2 menit.
- Ulangi butir (1) dalam 3 ml larutan DMF 100%
- Amati warna kedua larutan ekstraksinya.
- Ekstraksi DMF 1:1 akan terwarna sangat muda
- Ekstraksi DMF 100% tidak terwarnai menunjukan zat warna reaktif
Uji penentuan 1
- Masukan contoh uji kedalam tabung reaksi, tambahkan 3 ml
larutan NaOH 5%
- Didihkan selama 2 menit (kemudian dinginkan)
- Asamkan dengan larutan H2SO4 pekat (2-3 tetes)
- Masukan serat wol didihkan
- Pewarnaan pada serat wol menunjukan zat warna reaktif
Uji penentuan 2
- Masukan contoh uji dalam tabung reaksi yang berisi 3 ml larutan
(asam sulfat 0,2% dan 6mg Na2SO4)
- Didihkan beberapa menit
- Masukan serat wol dinginkan
- Pewarnaan pada serat wol menunjukan zat warna reaktif.
Uji penentuan III
- Cu + NaOCl Rendam 10 menit (warna rusak +reaktif)

IV. DATA PRAKTIKUM


Dilampirkan pada jurnal

V. DISKUSI

Zat Warna Golongan I


Pada pengujian zat warna direk, asam dan basa, kapas terwarnai
pada sampel no. 8 dengan warna yang paling tua dan sampel no.
41dan juga 29 terwarnai muda. Dimana setelah diambil kesimpulan
zat warna pada sampel 8 itu direk sedangkan pada sampel No.41 zat
warna asam terlihat dari wol yang terwarnai sangat tua dibandingkan
dengan sampel No.8 maupun No.29 dan sampel No.29 adalah zat
warna basa. Kapas bisa terwarnai pada zat warna basa maupun
asam ini disebabkan karena terikat dengan ikatan ionik yang
terbentuk antara zat warna basa dengan serat. Sehingga sangat
dimungkinkan zat warna basa dapat mencelup kapas dengan warna
muda karena zat warna basa dalam larutan akan terionisasi
membentuk ion positif sedangkan kapas dalam larutan akan
membentuk ion negatif hanya saja muatan negatif pada kapas tidak
sebanyak seperti pada wool. Point penting dalam mengidentifikasi zat
warna direk pada pewarnaan kapas adalah bahwa pewarna zat
warna basa pada kapas memberi warna yang lebih berbeda dari
warna sampel uji yang sebenarnya begitu juga dengan zat warna
asam kapas terwarnai lebih muda dari kapas yang dicelup dengan zat
warna direk yaitu contoh uji No.8.
Pada pengujian zat warna basa dengan menggunakan asam, zat
warna direk yang setelah diidentifikasi terdapat pada sampel no.8,
dapat mewarnai serat akrilat disamping zat warna basa itu sendiri
yang dapat mewarnai akrilat, sehingga cukup menyulitkan dalam
mengidentifikasi jenis zat warna. Pewarnaan direk terhadap bahan
akrilat ini dapat dijelaskan karena memang ikatan zat warna direk
adalah ikatan hidrogen dimana adanya atom H terluar pada stuktur
akrilat dapat memungkinkan terjadinya ikatan hidrogen dengan atom
N=N pada stuktur Azo zat warna direk. Hanya saja karena akrilat
merupakan serat buatan maka ikatan hidrogen yang terbentuk relatif
sedikit sehingga warna pada akrilat yang tercelup oleh direk akan
lebih muda dibanding akrilat yang tercelup oleh zat warna basa.

Identifikasi Golongan II
Tidak validnya data uji penentuan untuk zat warna belerang yang
ditandai dengan penodaan coklat-hitam pada kertas Pb Asetat terjadi
pada keseluruhan sampel contoh uji, sehingga fungsi dari uji
penentuan yang seharusnya menjadi data primer yang paling
menentukan, justru menjadi tidak relevan. Ketidak validan ini karena
sifat Pb (II) Asetat yang stabil dalam air tetapi mudah diendapkan oleh
ion klorida yang berasal dari SnCl. Cara percobaan dengan
mendinginkan dahulu filtrat sebelum ditambahkan SnCl pada tabung
adalah untuk menghindari terbentuknya ion klorida yang dapat
bereaksi dengan ion Pb (II) pada kertas timbal asetat sehingga yang
diharapkan yang akan bereaksi adalah ion S yang berasal dari zat
warna belerang. Untuk itu terjadinya penodaan coklat-hitam pada
seluruh kertas sampel uji Timbal Asetat kebanyakam diakibatkan oleh
pengendapan Pb(CH3COO)2 oleh ion klor disamping memang terjadi
pengendapan akibat bereaksi dengan S (belerang) membentuk
endapan PbS (Timbal Sulfida). Pencemaran hasil praktek ini bisa
diakibatkan oleh suhu larutan filtrat dalam tabung yang tidak begitu
dingin sebelum ditambahkan SnCl2 sehingga ion klor teruapkan,
adanya pengotor larutan SnCl2 pada mulut tabung sehingga langsung
bereaksi dengan kertas timbal asetat, atau terlalu lamanya proses
pemanasan sehingga yang teruapkan tidak hanya ion S tetapi juga
ion Cl ikut teruapkan dan bereaksi dengan Pb.

Identifikasi Golongan III


Pada uji penentuan II dengan menggunakan parafin didapat hasil
percobaan untuk sampel 57 terwarnai dengan jelas, sampel uji no 45
warna lilin parafinnya sedikit berubah jika dibandingkan dengan
warna lilin parafin pada sampel uji no 35 yang jernih (sampel 35
teridentifikasi warna reaktif). Adanya pemahaman awal bahwa
pengujian parafin akan terwarnai oleh 2 jenis zat warna yaitu bejana
dan naftol nampaknya terdapat kekeliruan. Jika dikaji secara stuktur
molekul zat warna, zat warna pigmen memungkinkan untuk mewarnai
parafin karena memang hanya gugusan kromofor/pemberi warna
adapun proses pewarnaanya dibantu oleh binder sebagi pengikat
pada bahan. Sifat ketahanan luntur yang sangat tergantung pada
kekuatan ikatan binder dengan serat dapat menjadi analisa pertama
untuk menjelaskan bahwa pemanasan parafin menyebabkan
rusaknya binder zat warna sehingga zat warna terlepas dari bahan
dan mewarnai parafin. Adapun untuk mendapatkan hasil pewarnaan
yang jelas dalam identifikasi zat warna naftol pada parafin, proses
pemanasannya tidak terlalu lama karena jika terlalu lama waktu
pemanasannya akan menyebabkan warna naftol hilang. Ini karena
sifat zat warna azo yang tidak tahan panas sehingga akan memutus
gugus azo yang menjadi kromofor zat warna sehingga warnanya
menghilang.

Identifikasi Golongan IV
Setelah diketahui kain No.45 menggunakan zat warna naftol dalam
pencelupannya, maka kain 57 dan 35 harus diuji lagi dengan uji zat
warna golongan IV. Pengujian ini dilakukan dengan melarutkan
contoh uji kedalam pelarut organik Dimetil Formamid (DMF) 100%
dan DMF 1:1 Hasil yang diperoleh dari pelarut contoh uji dengan DMF
1:1 menunjukan bahwa kain No 35 lunturannya lebih tua dari pada
lunturan kain 57. Kesimpulan sementara menunjukan kain No.35
menggunakan zat warna reaktif karena zat warna reaktif merupakan
zat warna yang larut dalam air (DMF 1:1 mengandung air dengan
konsentrasi yang sama dengan konsetrasi DMF sehingga kain
dengan zat warna reaktif masih bisa terlunturkan).
Selanjutnya kedua contoh uji dilarutkan dalam DMF 100% dan
hasilnya adalah kain No.35 lunturannya lebih tua dari pada lunturan
kain 57. Hasil ini berarti kain No.57 menggunakan zat warna pigmen
karena zat warna pigmen tidak larut dalam air yang sama artinya zat
warna pigmen tidak larut dalam DMF 1:1 atau lunturannya sangat
muda. Karena zat warna pigmen tidak larut dalam air maka zat warna
pigmen hanya larut dalam pelarut organik DMF 100%.
Pada pengujian ini perlu dilakukan uji penentuan. Uji penentuan
pertama menggunakan contoh uji yang ditambahkan NaOH5%
kemudian lunturannya ditambah H2SO4 dan wool. Wool yang
terwarnai tua menunjukan adanya zat warna reaktif pada contoh uji.
Pada uji penentuan kedua, digunakan contoh uji yang dilarutkan
dalam campuran Na2SO4 dan H2SO4 dipanaskan kemudian
lunturannya ditambah wool. wool yang terwarnai menunjukan adanya
zat warna reaktif pada contoh uj. Dari kedua uji penentuan yang
dilakukan menunjukan bahwa wool terwarnai oleh lunturan dari
contoh uji No.35 sehingga disimpulkan bahwa kain no.35
menggunakan zat warna reaktif dan kain no.57 menggunakan zat
warna pigmen.

VI. KESIMPULAN
Penggolongan zat warna pada selulosa golongan I didasarkan
kepada kelunturan zat warna didalam larutan amonia atau asam
asetat encer mendidih.
Penggolongan zat warna pada selulosa golongan II didasarkan pada
perubahan warna pada reduksi dengan Natrium hidrosulfit dalam
suasana alkali, dan pada oksidasi oleh udara warna aslinya akan
timbul kembali.
Penggolongan zat warna pada selulosa golongan III didasarkan
kepada zat rusak dalam larutan Natrium Hidrosulfat alkali dan warna
tidak kembali ke warna asli setelah oksidasi.
Penggolongan zat warna pada selulosa golongan IV didasarkan pada
zat warna yang tidak/sukar dilunturkan dalam pelarut amonia, asam
asetat, dan piridina.
Contoh uji No.8 menggunakan zat warna direk
Contoh uji No. 41 menggunakan zat warna Asam
Contoh uji No.29 mengguanakn zat warna basa.
Contoh uji No.64 menggunakan zat warna bejana
Contoh uji No.27 mengguanakan zat warna Hydron.
Contoh uji No.76 menggunakan zat warna belerang.
DAFTAR PUSTAKA

Dede karyana, S.Teks, M.Si. 2008. Pedoman Praktikum Laboratorium


Evaluasi Kimia. Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

P.Soepriyono, S.Teks, dkk. 1973. Serat-serat Tekstil. Bandung : Institut


Teknologi Tekstil.

Wibowo Moerdoko, S.Teks, dkk. 1975. Evaluasi Tekstil bagian Kimia.


Bandung : Institut Teknologi Tekstil.