Anda di halaman 1dari 2

STERILISASI PADA PASIEN MULTIPARA

Nadia Chairunnisa
Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi
Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur

PENDAHULUAN
Berdasarkan Kementerian Kesehatan RI (2013) penggunaan kontrasepsi pada Ibu dapat
membantu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dengan mengurangi angka aborsi akibat
kehamilan yang tidak diharapkan. [1] Kontrasepsi yang banyak digunakan di Indonesia adalah
pil dan suntikan, akan tetapi, efek samping yang banyak dirasakan oleh pasien menyebabkan
angka drop out pasien KB pil dan suntikan berada di angka 38,8% dan 23% [2] Maka dari itu,
pada kehamilan 4 terlalu, pasien disarankan untuk melakukan metode kontrasepsi non-
jangka panjang seperti sterilisasi.

KASUS
Pasien wanita, 36 th, G6P5A0, datang untuk persalinan pervaginam. Usia kehamilan 38-39
minggu, tekanan darah 120/70, frekuensi nadi 84 x/menit, Frekuensi nafas 24x/menit, Suhu
37,3 oC. setelah persalinan pasien meminta untuk dilakukan sterilisasi. Riwayat kehamilan
pertama 1 maret 2001 lahir prematur dikarenakan ketuban pecah dini. Pada kehamilan ke-2
sampai ke-3 kelahiran prematur persalinan spontan. Kehamilan ke-5 pada tahun 2014 anak
lahir normal dengan riwayat letak sungsang. Maka, pada kehamilan ke-6, ibu meminta untuk
dilakukan sterilisasi.

PEMBAHASAN
Sterilisasi merupakan tindakan yang dilakukan pada kedua tuba fallopii perempuan, yang
mengakibatkan yang bersangkutan tidak dapat hamil lagi. Tindakan sterilisasi ini telah
dikenal sejak zaman dahulu, dulu dilakukan terhadap orang dengan penyakit jiwa. Sekarang
tindakan ini dilakukan secara suka rela dalam rangka keluarga berencana, akan tetapi secara
resmi, tindakan ini tidak termasuk ke dalam program nasional keluarga berencana di
Indonesia.[3]

Keuntungan sterilisasi diantaranya adalah motivasi yang hanya dilakukan satu kali saja,
efektivitas hampir 100% tanpa mempengaruhi libido seksualitas, dan tidak adanya kegagalan
dari pihak pasien.

Cara untuk melakukan sterilisasi ini dikenal dengan 5 cara, yaitu cara Pomeroy, cara Irving,
cara Aldridge, Cara Uchida, dan Cara Kroener. Cara Pomeroy dan cara Kroener banyak
dilakukan. Cara Pomeroy dilakukan dengan mengangkat bagian tengah tuba sehingga
membentuk lipatan terbuka, kemudian dasarnya diikat dengan benang yang dapat diserap,
tuba di atasnya dipotong. Angka kegagalan teknik ini 0 0,4%

Untuk cara Kroener, Bagian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operasi. Suatu ikatan
dengan benang sutera dibuat melalui bagian dari mesosalping di bawah fimbria. Jahitan diikat
dua kali, satu mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal dari
jahitan sebelumnya. Seluruh fimbria dipotong. Setelah pasti tidak ada perdarahan, maka tuba
dikembalikan ke dalam rongga perut. Keuntungan dari teknik ini sangat kecilnya
kemungkinan mengikat ligamentum rotundum. Angka kegagalan 0,19%
Yang ketiga, cara Uchida, tuba ditarik ke luar abdomen melalui suatu insisi kecil di atas
simfisis pubis. Kemudian dilakukan suntikan di daerah ampulla tuba dengan larutan adrenalin
dalam air garam di bawah serosa tuba. Akibat suntikan ini, mesosalping di daerah tersebut
menggembung. Lalu, dibuat sayatan kecil di daerah yang kembung tersebut. Serosa
dibebaskan dari tuba sepanjang kira kira 4-5 cm, tuba dicari dan setelah ditemukan dijepit,
diikat, lalu digunting. Ujung tuba yang proksimal akan tertanam dengan sendirinya di bawah
serosa, sedangkan ujung tuba yang distal dibiarkan berada di luar serosa. Luka sayatan dijahit
secara kantong tembakau. Angka kegagalan adalah 0.

Sedangkan, untuk cara lain yaitu Irving, tuba dipotong antara dua ikatan benang yang dapat
diserap, sedangkan ujung proksimal tuba ditanam ke dalam miometrium, lalu ujung distal
ditanam ke dalam ligamentum latum. Untuk cara Aldridge peritoneum dari ligamentum latum
dibuka dan kemudian tuba bagian distal bersama-sama dengan fimbria ditanam ke dalam
ligamentum latum.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budijanto, Didik. 2013. Determinan 4 Terlalu Masalah Kesehatan Reproduksi
Hubungannya dengan Penggunaan Alat KB Saat Ini di Indonesia. Jakarta : Buletin Jendela
Data dan Informasi Kesehatan, Vol.2 Thn. 2013. ( Semester II, 2013)

2.

3. Anwar M, Baziad A, Prabowo R.P. 2014. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. Jakarta : Bina
Pustaka Sarwono