Anda di halaman 1dari 44

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Baku Pembuatan Bioethanol


Bahan baku merupakan bahan mentah yang menjadi dasar pembuatan suatu
produk yang mana bahan tersebut dapat diolah melalui proses tertentu untuk dijadikan
wujud yang lain atau menjadi sebuah produk yang diinginkan. Dalam pembuatan
bioetanol, bahan baku yang

2.1.1 Jerami padi

Jerami adalah batang kering dari tanaman sejenis padi-padian yang bijinya sudah
dipanen sehingga hanya sedikit nutrisi yang terkandung di dalamnya. Salah satu fungsi
dari jerami adalah untuk mempertahankan produktivitas tanah. Jerami dihasilkan sangat
besar pada setiap waktu panennya. Setelah memanen padi, biasanya jerami hanya
dibiarkan begitu saja atau dibakar oleh para petani sehingga menimbulkan pencemaran
udara karena gas CO2 bebas yang terlepas ke udara. (Yunilas, 2009).

Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung
dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi
mayoritas penduduk dunia. Adapun ciri ciri umum dari padi adalah sebagai berikut :
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau poaceae (graminae atau glumiflorae).
Berakar serabut, batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian
pelepah daun yang saling menopang daun sempurna dengan pelepah tegak, daun
berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh
rambut yang pendek dan jarang, bagian bunga tersusun majemuk, tipe malai
bercabang,satuan bunga disebut floret yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada
panikula, tipe buah bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan
bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh
palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan padi
yang biasa dikonsuksi yaitu jenis enduspermium Indonesia dikenal sebagai salah satu
negara agraris yang subur. Negara agraris adalah negara yang sebagian besar
penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Indonesia yang terkenal

14
15

sebagai negara yang mempunyai wilayah yang luas, mempunyai potensi di bidang
pertanian, salah satunya adalah pertanian padi. Sepanjang tahun produksi padi
menghasilkan limbah berupa jerami padi dalam jumlah yang besar. Jerami padi biasa
dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan kompos. Namun ada juga yang hanya
membakar jerami padi pada area persawahannya. Jerami padi juga dapat dimanfaatkan
sebagai substrat industri dengan mencampurkannya dengan bahan lain sesuai produk
yang ingin di hasilkan. Produktivitas pertanian tanaman pangan di Indonesia setiap
tahunnya menghasilkan jumlah yang cukup besar. Menurut FAO (2005), Indonesia
merupakan produsen padi ketiga terbesar di dunia yaitu sebesar 9% dari total produksi
dunia setelah China (31%) dan India (9%). Namun, tanaman pangan di Indonesia selalu
membawa hasil samping atau limbah pertanian hingga mencapai jutaan ton setiap
tahunnya.

Limbah pertanian ini terdiri atas jerami padi, daun jagung, batang jagung, daun
kedelai dan lain sebagainya. Jerami padi merupakan limbah pertanian terbesar di
Indonesia. Jumlahnya sekitar 20 juta per tahun. Menurut data BPS tahun 2006, luas sawah
di Indonesia adalah 11,9 juta hektar. Produksi per hektar sawah bisa mencapai 12-15 ton
bahan kering setiap kali panen, tergantung lokasi dan varietas tanaman. Sejauh ini,
pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak baru mencapai 31-39 %, sedangkan yang
dibakar atau dimanfaatkan sebagai pupuk 36-62 %, dan sekitar 7-16 % digunakan untuk
keperluan industri (Safan, 2008). Jerami padi merupakan bagian dari batang padi tanpa
akar yang tertinggal setelah diambil butir buahnya. Peningkatan produksi padi juga
diiringi peningkatan limbah jerami padi. Banyaknya jerami padi yang belum
dimanfaatkan secara optimal mendorong para peneliti mengembangkan potensi jerami
padi menjadi sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Berikut ini adalah komponen
yang ada dalam jerami padi :

- Selulosa 39 %

- Hemiselulosa 27 %

- Lignin 12 %

- Abu 11 %

Selulosa adalah polimer yang tersusun atas unit-unit glukosa melalui ikatan -1,4-
glikosida. Bentuk polimer ini memungkinkan selulosa saling menumpuk atau terikat
16

menjadi bentuk serat yang sangat kuat. Panjang molekul selulosa ditentukan oleh jumlah
unit 4 glucan di dalam polimer, disebut dengan derajat polimerisasi. Derajat polimerisasi
selulosa tergantung pada jenis tanaman dan umumnya dalam kisaran 200-27.000 unit
glukosa. Selulosa dapat dihidrolisis menjadi glukosa dengan menggunakan asam atau
enzim (Safan, 2008). Hemiselulosa mirip dengan selulosa, namun tersusun dari
bermacam-macam jenis gula. Monomer gula penyusun hemiselulosa terdiri dari monomer
gula berkarbon 5 (C-5) dan 6 (C-6), seperti : xylosa, mannose, glukosa, galaktosa,
arabinosa, dan sejumlah kecil rhamnosa, asam glukoroat, asam metal glukoroat, dan asam
galaturonat (Safan, 2008). Sedangkan lignin adalah molekul kompleks yang tersusun dari
unit phenylphropane yang terikat di dalam struktur tiga dimensi. Lignin adalah material
yang paling kuat dalam biomassa, namun sangat resisten terhadap degradasi, baik secara
biologi, enzimatis, maupun kimia. Karena kandungan karbon yang relatif tinggi
dibandingkan denga selulosa dan hemiselulosa lignin memiliki kandungan energi yang
tinggi (Safan, 2008). Lignin merupakan salah satu bagian yang berbentuk kayu dari
tanaman seperti janggel, kulit keras, biji, bagian serabut kasar, akar, batang dan daun.

Lignin mengandung substansi yang kompleks dan merupakan suatu gabungan


beberapa senyawa yaitu karbon, hidrogen dan oksigen. Selain lignin, bagian yang lain
dari jerami adalah selulosa. Selulosa merupakan polisakarida yang didalamnya
mengandung zat - zat gula (Hartadi, 1983). Secara alami lignin berwarna coklat. Kalau
jerami berubah warna menjadi agak putih, berarti ada sebagian lignin yang hilang. Lignin
membuat jerami jadi keras dan liat. Kalau jerami menjadi lebih lunak dari jerami aslinya,
berarti pelindung ligninnya sudah mulai rusak.

Mungkin jika kita mendengar nama jerami padi bayangan sebagian besar orang
adalah tumpukan batang padi yang teronggok di pematang sawah tanpa ada yang
memperdulikan bagaimana kondisinya dan pada akhirnya akan dibakar sebagai sampah
pertanian. Namun tidak semua orang tahu bahwa jerami padi juga memiliki kekuatan
yang dahsyat sebagai bahan baku briket, pakan ternak, pupuk, bahkan bahan baku gas
hidrogen dan minyak diesel. Jika selama ini jerami hanya dibakar sebagai sampah
pertanian maka tahukah anda pembakaran jerami di sawah-sawah ternyata memberikan
keuntungan positif selain hanya memproduksi asap dan bau. Pembakaran jerami oleh
petani secara tak langsung mengembalikan unsur hara jerami ke dalam tanah, membunuh
bakteri patogen yang ada dalam tanah, dan ikut mengurangi gulma yang ada di lahan
pertanian. Hasil pembakaran jerami berupa selulosa akan lebih cepat diserap tanah dalam
17

kondisi abu karena kandungan protein dan karbonnya sudah terpecah. Dengan demikian
tanpa disadari pembakaran jerami juga menguntungkan tanah secara tak
langsung.(Yunilas, 2009).

Kegunaan lain dari jerami padi adalah sebagai penghasil bio-ethanol atau gas
hidrogen. Dengan menggunakan reaksi hidrolisis pada jerami padi akan didapatkan
ethanol untuk bahan bakar mesin giling dan kendaraan bermotor. Dan jika membutuhkan
gas untuk pembangkit listrik maka proses gasifikasi dari jerami padi mampu
memproduksi gas hidrogen untuk menyalakan turbin listrik. Hasil gasifikasi jerami padi
berupa bubuk abu bisa digunakan sebagai campuran briket atau pupuk organik. Bukan
main betapa banyaknya fungsi jerami padi yang selama ini dianggap sebagai limbah
pertanian ini.

Melihat banyaknya fungsi jerami padi tersebut sudah selayaknya para petani mulai
dibekali pengetahuan dan keterampilan bagaimana memanfaatkan jerami padi pasca
panen di pedesaan. Jumlah jerami padi yang cukup melimpah tentunya mampu
menghasilkan nilai tersendiri bagi kaum petani di Indonesia begitu juga para peternak
yang bisa menjadikan jerami padi sebagai makanan samping selain makanan pokok
hewan ternak seperti daun dan rerumputan.

2.2 Bahan Pembantu Dalam Proses Pembuatan Bioetanol

2.2.1 Asam sulfat

Asam sulfat merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat, memiliki berat jenis
1.841 dan titik didih 626oF (330oC).Hal ini membuat asam sulfat laut dalam air pada
semua perbandingan.

Gambar 2.1 Struktur Asam sulfat


18

Asam sulfat sebagai sekelompok asam organik yang mengandung satu atau lebih
sulfonat, -SO3H. Gambaran dari asam sulfonat organik yang memiliki rumus RSO3H,
dimana R- dapat berasal dari berbagai sumber. Khas R- yang alkana, alkena, alkuna, dan
aren. R- mungkin berisi berbagai fungsi sekunder seperti amina, amida, asam karboksilat,
ester, eter, keton, nitril, fenol, dll turunan asam sulfonat digunakan industri. Pada skala
besar dalam pembuatan surfaktan, pewarna, tinta, zat pendispersi, dan polimer. Asam
sulfonatjuga menemukan aplikasi yang luas sebagai katalis dalam kedua alkilasi (qv)
proses dan reaksi organik umum. Sulfonat turunan asam telah menemukan aplikasi yang
lebih esoteris dibidang sintesis organik adat dan biologipenelitian. Asam sulfonat
derivatif, dimana R-kelompok berasal dari sumber anorganik seperti halida, oksigen
(Kirk-Othmer, 2007)
Asam sulfat dapat digunakan untuk menghasilkan ester asam sulfonat, yang
berasal dari epoksida, olefin, alkuna,allenes, dan ketena, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar Reaksi Kimia Asam Sulfat. Asam sulfonat dapat dikonversi menjadi sulfonamid
melalui reaksi dengan amina dengan adanya fosfor oksiklorida [10025-87-3], POCl3 (11).
Karena asam sulfonat umumnya tidak dikonversi langsung ke sulfonamid, reaksi yang
paling mungkin melibatkan sulfonil klorida menengah.Fosfor pentaklorida [10026-13-8]
dan fosfor pentabromide [7789-69-7] dapat digunakan untuk mengkonversi asam sulfonat
ke sulfonil halida yang sesuai (12, 13). Konversi juga dapat dicapai dengan elektrolisis
terus menerus tiol atau disulfida dengan adanya HCl berair [7647-01-0] (14) atau dengan
langsung sulfonasi dengan asam chlorosulfuric. Sulfonil fluorida biasanya disiapkan oleh
sulfonasi langsung dengan fluoro sulfuric acid [7789-21-1], atau dengan reaksi dari asam
sulfonat atau sulfonat dengan asam fluoro sulfuric. Halogenasi asam sulfonat, yang
menghindari produksi halida sulfonil, dapat dicapai dengan kondisi halogenasi oksidatif
(George.dkk, 1981).
Asam sulfonat rentan terhadap pengurangan dengan yodium [ 7553-56-2 ] di
hadapan trifenilfosfina [ 603-35-0 ] untuk menghasilkan iodida sesuai . Jenis pengurangan
juga lancar dengan alkil sulfonat.Asam sulfonat aromatik juga dapat dikurangi
elektrokimia untuk memberikan arena orangtua. Namun, asam sulfat ketika dikurangi
dengan yodium dan fosfor [ 7723-14-0 ] , menghasilkan tiol ( qv ) . Aminasi dari sulfonat
memiliki juga telah dilaporkan , di mana ikatan karbon - sulfur dibelah. Ortho - lithiation
lithium asam sulfonat garam telah terbukti menjadi teknik yang berguna untuk sintesis
19

organik, tetapi memiliki sedikit kepentingan komersial. optik sulfonat aktif telah
digunakan dalam sintesis asimetris untuk alkohol selektif O - alkilat dan fenol,biasanya
pada skala laboratorium . Sulfonat aromatik dibelah, yaitu, desulfonated, oleh radiasi UV
untuk memberikan senyawa aromatik orangtua dan produk kopling senyawa aromatik ,
seperti yang ditunjukkan , di mana Ar mewakili gugus alkil (Kirk-Othmer, 2007).

Gambar 2.2. Skema reaksi asam sulfat dengan beberapa senyawa kimia

Asam sulfonat rentan terhadap pengurangan dengan yodium [ 7553-56-2 ] di


hadapan trifenilfosfina [ 603-35-0 ] untuk menghasilkan iodida sesuai . Jenis pengurangan
juga lancar dengan alkil sulfonat.Asam sulfonat aromatik juga dapat dikurangi
elektrokimia untuk memberikan arena orangtua. Namun, asam sulfat ketika dikurangi
dengan yodium dan fosfor [ 7723-14-0 ] , menghasilkan tiol ( qv ) . Aminasi dari sulfonat
memiliki juga telah dilaporkan , di mana ikatan karbon - sulfur dibelah. Ortho - lithiation
lithium asam sulfonat garam telah terbukti menjadi teknik yang berguna untuk sintesis
organik , tetapi memiliki sedikit kepentingan komersial. optik sulfonat aktif telah
digunakan dalam sintesis asimetris untuk alkohol selektif O - alkilat dan fenol,biasanya
pada skala laboratorium . Sulfonat aromatik dibelah , yaitu , desulfonated , oleh radiasi
UV untuk memberikan senyawa aromatik orangtua dan produk kopling senyawa aromatik
, seperti yang ditunjukkan , di mana Ar mewakili gugus alkil (Kirk-Othmer, 2007).
ArSO3H (SO3) ArH + ArAr
20

Asam sulfonat dapat dikenai berbagai kondisi transformasi, seperti yang


ditunjukkan pada gambar 2.2 reaksi asam sulfat dengan beberapa senyawa kimia. Asam
dapat digunakan untuk menghasilkan anhidrida sulfonat oleh pengobatan dengan agen
dehidrasi , seperti tionilchloride [ 7719-09-7 ] . Transformasi ini juga dilakukan
menggunakan fosfor pentoksida [ 1314-56-3 ] . sulfonatanhidrida , terutama anhidrida
aromatik sulfonat , sering diproduksi di situ selama sulfonasi dengansulfur trioksida
(Brandy George.dkk, 1981).

Gambar 2.3 Skema reaksi asam sulfat dengan beberapa senyawa kimia

Dalam kondisi dehidrasi, asam sulfonat bereaksi dengan senyawa aromatik


tersubstitusi untuk memberikan derivatif sulfon. Asam sulfonat dapat dihidrolisa
menggunakan suhu tinggi dan tekanan, untuk mendorong reaksi sampai selesai. Seperti
yang diharapkan, setiap asam sulfonat memiliki suhu yang unik hidrolitik desulfonation
sendiri. Asam sulfonat alkana rendah memiliki stabilitas hidrolitik baik, dibandingkan
dengan asam sulfonat aromatik yang mudah dihidrolisis. Desulfonation hidrolitik
menemukan digunakan dalam pemisahan isomer xilena sulfonat asam dan lainnya diganti
mono-, di-, dan asam polysulfonic. Produk pembelahan beberapa sulfonat dimanfaatkan
pada skala industri Gambar Kimia Reaksi 3 Asam Sulfat. Fusi sulfonat aromatik dengan
natrium hidroksida [1310-73-2] dan alkali kaustik lainnya menghasilkan garam fenolik
(lihat alkilfenol; Fenol). Aromatik terklorinasi yang diproduksi oleh pengobatan suatu
sulfonat aromatik denganasam klorida dan natrium klorat [7775-09-9]. Nitril dapat
diproduksi dengan reaksi dari sulfonat dengan garam sianida. Arenesulfonates dapat
21

dikonversi untuk amina dengan penggunaan amonia. Ini transformasi juga agak lancar
menggunakan mono dan dialkyl amines (Kirk-Othmer, 2007).

Turunan asam sulfonat aromatik dapat nitrasi menggunakan asam nitrat [52583-
42-3], HNO3, in H2SO4 (19). Sultones dapat diobati dengan derivatif hidrazin untuk
memberikan asam cincin dibuka sesuai sulfonat. Reduksi katalitik dari fungsi sekunder di
sulfonat , di mana sulfonatemoiety tidak berubah ,dilakukan dengan menggunakan teknik
hidrogenasi standar. Asam sulfonat dapat dikonversi menjadi yang sesuai ester silil dalam
hasil yang sangat tinggi (Brandy George.dkk, 1981).

Gambar 2.4 Skema reaksi asam sulfat dengan beberapa senyawa kimia

Asam Sulfat terdiri dari sulfur atau belerang dan beberapa gabungan dari unsur
unsur lainnya. Sekeping sulfur melebur menjadi cecair merah darah. Apabila terbakar, ia
mengeluarkan nyala berwarna biru. Pada suhu bilik, sulfur adalah satu pepejal lembut
berwarna kuning terang. Walaupun sulfur adalah terkenal dengan baunya yang tidak
menyenangkan kerap dipadankan dengan telur-telur busuk - bau tersebut adalah
sebenarnya ciri bagi hidrogen sulfida (H2S); sulfur keunsuran adalah tidak berbau. Ia
terbakar dengan nyalaan biru dan mengeluarkan sulfur dioksida, yang dikenali kerana bau
peliknya yang menyesakkan. Sulfur adalah tak larut dalam air tetapi larut dalam karbon
disulfida dan pada kadar kelarutan yang kurang sedikit dalam pelarut organik lain seperti
benzena. Keadaan pengoksidaan sulfur yang biasa termasuk 2, +2, +4 dan +6. Sulfur
membentuk sebatian stabil bersama semua unsur kecuali gas nadir.

Sulfur dalam keadaan pepejal biasanya wujud sebagai siklik berbentuk mahkota
yang terdiri daripada molekul-molekul S8. Sulfur mempunyai banyak alotrop selain S8.
Dengan membuang satu atom daripada mahkota akan menghasilkan S7, yang yang
berperanan dalam warna kuning sulfur yang unik. Terdapat banyak lagi bentuk cincin lain
yang disediakan, termasuk S12 dan S18. Secara bandingannya, oksigen yang lebih ringan
hanya wujud dalam dua keadaan yang mempunyai kepentingan kimia: O2 dan O3.
22

Selenium, analog sulfur yang lebih berat boleh membentuk cincin tetapi lebih sering
dijumpai sebagai satu rangkaian polimer. (Kirk, 1981).

Asam sulfat murni yang tidak diencerkan tidak dapat ditemukan secara alami
dibumi melalui oksidasi mineral sulfida, misalnya besi sulfide.Air yang dihasilkan dari
oksidasi ini sangat asam dan disebut sebagai air asam tambang (George.dkk, 1981). Air
asam ini mampu melarutkan logam-logam yang ada dalam bijih sulfida, yang akan
menghasilkan uap berwarna cerah yang beracun. Oksidasi besi sulfide pirit oleh oksigen
molekuler menghasilkan besi(II) atau Fe.

Asam sulfat dapat dibuat dari belerang, pyrite (FeS) dan juga beberapa sulfide
logam (CuS, ZnS, NiS). Pada umumnya asam sulfat diproduksi dengan kadar 78-100%
serta bermacam-macam konsentrasi oleum.

Asam sulfat merupakan komoditas kimia yang sangat penting dan sebenarnya
pula, produksi asam sulfat suatu Negara merupakan indikator yang baik terhadap
kekuatan industri negara tersebut.[5] Kegunaan utama (60% dari total produksi diseluruh
dunia) asam sulfat adalah dalam "metode basah" produksi asam fosfat, yang digunakan
untuk membuat pupukfosfat dan juga trinatrium fosfat untuk deterjen. Pada metode ini,
batuan fosfat di gunakan dan diproses lebih dari 100 juta ton setiap tahunnya. Bahan-
bahan baku yang di tunjukkan pada persamaan di bawah ini merupakan fluorapatit,
walaupun komposisinya dapat bervariasi. Bahan baku ini kemudian diberi 93% asam
suflat untuk menghasilkan kalsium sulfat, hidrogen fluorida (HF), dan asam fosfat. HF di
pisahkan sebagai asam fluorida. Proses keseluruhannya dapat ditulis:

Ca5F(PO4)3 + 5 H2SO4 + 10 H2O 5 CaSO42 H2O + HF + 3 H3PO4

Asam sulfat digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri besi dan baja untuk
menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri otomobil. Asam
yang telah digunakan sering kali didaur ulang dalam kilang regenerasi asam bekas (Spent
Acid Regeneration (SAR) plant). Kilang ini membakar asam bekas dengan gas alam, gas
kilang, bahan bakar minyak, ataupun sumber bahan bakar lainnya. Proses pembakaran ini
akan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3) yang kemudian di
gunakan untuk membuat asam sulfat yang "baru"( George.dkk, 1981).
23

Amonium sulfat, yang merupakan pupuk nitrogen yang penting, umumnya di


produksi sebagai produk sampingan dari kilang pemroses kokas untuk produksi besi dan
baja. Mereaksikan amonia yang dihasilkan pada dekomposisi termal batu bara dengan
asam sulfat bekas mengijinkan amonia di kristalkan keluar sebagai garam (sering kali
berwarna coklat karena kontaminasi besi) dan di jual kepada industri agrokimia.

Kegunaan asam sulfat lainnya yang penting adalah untuk pembuatan aluminium
sulfat. Alumunium sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun pada serat pulp
kertas untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang membantu mengentalkan serat
pulp menjadi permukaan kertas yang keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk
membuat aluminium hidroksida. Aluminium sulfat dibuat dengan mereaksikan bauksit
dengan asam sulfat (Fessenden, 1982) :

Al2O3 + 3 H2SO4 Al2(SO4)3 + 3 H2O

Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai contoh,
asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk mengubah
sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang digunakan untuk membuat nilon. Ia juga
digunakan untuk membuat asam klorida dari garam melalui proses Mannheim. Banyak
H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak bumi, contohnya sebagai katalis untuk
reaksi isobutana dengan isobutilena yang menghasilkan isooktana.

Sifat fisika asam sulfat Antara lain :

Fase : Cair
Titik didih, oC : 290
Titik beku, oC : 3
Densitas, kg/L : 1,84
Viskositas, cp : 1,9
Kapasitas panas, kcal/kg.oC : 0,408
Konduktivitas termal, Btu/j.ft2 : 0,21
(George.dkk, 1981)
Sifat kimia asam sulfat Antara lain:

Dengan basa membentuk garam dan air


24

Dengan alcohol membentuk eter dan air

(George.dkk,1981)

2.2.2. Air

Air(H2O) merupakan senyawa polar dan reaktif, oleh karena itu air dapat
bereaksi dengan berbagai macam zat yang kepolarannya sama dan dapat menghantarkan
listrik degan baik. Air mempunyai tekanan kritis (Pc) = 2218, 4atm, temperature kritis

(Tc) = 374,15oC dan densitas kritis (c) = 323kg/cm3.

Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan
untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa
jenis gas dan banyak macam molekul organik.

Gambar 2.5 Struktur air

Dari struktur molekul air merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam
kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain
yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang mengisyaratkan bahwa air
seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida. Dengan memperhatikan tabel
periodik, terlihat bahwa unsur-unsur yang mengelilingi oksigen adalah nitrogen, flor, dan
fosfor, sulfur dan klor. Semua elemen-elemen ini apabila berikatan dengan hidrogen akan
menghasilkan gas pada temperatur dan tekanan normal. Alasan mengapa hidrogen
berikatan dengan oksigen membentuk fase berkeadaan cair, adalah karena oksigen lebih
bersifat elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut (kecuali flor).
25

Tarikan atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat dari pada yang
dilakukan oleh atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua atom
hidrogen, dan jumlah muatan negatif pada atom oksigen. Adanya muatan pada tiap-tiap
atom tersebut membuat molekul air memiliki sejumlah momen dipol. Gaya tarik-menarik
listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini membuat masing-masing
molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk dipisahkan dan yang pada akhirnya
menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut sebagai ikatan hidrogen. (Perry,
2008)

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O, dimana satu molekul air
tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air
secara fisik bersifat tidak memiliki warna, tidak berasa, dan tidak berbau. Air dapat
berwujud padat, cair, maupun gas. Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air
memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam,
gula, dan asam. Meskipun air bukan merupakan sumber nutrien seperti bahan makanan
lain, namun air sangat essensial dalam kelangsungan proses biokimiawi makhluk hidup.
Air sangat penting dalam aktivitas kehidupan, seperti dalam pengembangan teknologi
pangan, transportasi, energi listrik, aktivitas rumah tangga, dan sebagai air minum.
Air termasuk senyawa momen dipol. Momen dipol adalah jumlah vector dari
ikatan dalam molekul. Karena adisi vector menyangkut arah maupun besarnya momen
ikatan, maka momen dipol adalah ukuran kepolaran molekul secara keseluruhan. Momen
ikatan air tidak saling meniadakan, dan air mempunyai momen dipol netto. Dari
pengamatan ini dapat dideduksi bahwa molekul air tak simetrik oksigen. Jadi, momen
dipol dapat digunakan untuk membantu menentukan geometri molekul (Fessenden,
2008).

Air terdapat di tanah yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah serta berada
di atas lapisan kedap air atau impermeable. Air tanah sangat dipengaruhi oleh resapan air
sekelilingnya. Pada musim kemarau jumlah air tanah preatis berkurang. Sebaliknya pada
musim hujan jumlah air tanah preatis akan bertambah. Air tanah preatis dapat diambil
melalui sumur atau mata air.Air tanah adalah air tawar yang terletak di ruang pori-pori
antara tanah dan bebatuan dalam. Air tanah juga berarti air yang mengalir di lapisan
aquifer di bawah water table. Terkadang berguna untuk membuat perbedaan antara
26

perairan di bawah permukaan yang berhubungan erat dengan perairan permukaan dan
perairan bawah tanah dalam di aquifer (yang kadang-kadang disebut dengan "air fosil").

Sistem perairan di bawah permukaan dapat disamakan dengan sistem perairan


permukaan dalam hal adanya input, output, dan penyimpanan. Perbedaan yang paling
mendasar adalah kecepatan dan kapasitasnya, air tanah mengalir dengan kecepatan
bervariasi, antara beberapa hari hingga ribuan tahun untuk muncul kembali ke perairan
permukaan dari wilayah tangkapan hujan, dan air tanah memiliki kapasitas penyimpanan
yang jauh lebih besar dari perairan permukaan. Input alami dari air tanah adalah serapan
dari perairan permukaan, terutama wilayah tangkapan air hujan. Sedangkan output
alaminya adalah mata air dan serapan menuju lautan. (Perry, 2008).

Sebagian besar (71%) dari permukaan bumi tertutup oleh air. Sekalipun air
jumlahnya relatif konstan, tetapi air tidak diam, melainkan bersikulasiakibat pengaruh
cuaca, sehingga terjadi suatu siklus yang disebut siklus hidrologis. Dari siklus hidrologis
ini dapat dilihat adanya berbagai sumber air tawar yang dapat pula diperkirakan kualitas
dan kuantitasnya secara sepintas. Sumber -sumber air tersebut adalah air permukaan yang
merupakan air sungai dan danau, air tanah yang tergantung kedalamannya bisa disebut air
tanah dangkal atau air tanah dalam dan air angkasa, yaitu air yang berasal dari atmosfir,
seperti hujan dan salju.
Air digunakan sebagai pelarut universal. Adapun syarat-syarat kesehatan air
bersih adalah :
a. Persyaratan biologis
Persyaratan biologis berarti air bersih tersebut tidak mengandung
mikroorganisme yang nantinya menjadi infiltran dalam tubuh manusia. Mikroorganisme
itu dibagi empat group, yaitu parasite, bakteri, virus dan kuman. Dari keempat jenis
mikroorganisme tersebut, umumnya yang menjadi parameter kualitas air adalah bakteri,
seperti escheria coli.
b. Pernyaratan fisika
Persyaratan fisika air bersih terdiri dari kondisi fisik air pada umumnya, yakini
derajat keasaman (pH), suhu, kejernihan, warna dan bau. Aspek fisik ini sesungguhnya
selain penting untuk aspek kesehatan juga langsung dapat terkait dengan kualitas fisik air
seperti suhu dan keasaman. Selain itu fisik air juga penting untuk menjadi indicator tidak
langsung pada persyaratan biologis dan kimia, seperti warna air dan bau.
27

c. Persyaratan kimia
Persyaratan kimia menjadi sangat penting karena banyak sekali kandungan
kimiawi air yang memberi akibat buruk pada kesehatan, karena tidak sesuai dengan
proses biokimia tubuh. Bahan kimia seperti nitrat, arsenic dan berbagai macam logam
berat khususnya air raksa, timah hitam dan cadmium dapat menyebabkan gangguan pada
tubuh manusia karena dapat berubah menjadi racun dalam tubuh.
d. Persyaratan radioaktif
Persyaratan radioaktif sering juga dimasukkan sebagai bagian dari persyaratan
fisik, namun sering dipisahkan karena jenis pemeriksaannya sangat berbeda. Pada
wilayah tertentu seperti wilayah disekitar raktor nuklir, isu radioaktif menjadi penting
untuk kualitas air.

Berikut adalah sifat fisika air :

Fase : Cair
Titik beku : 0oC
Titik didih : 100oC
Densitas : 0.998kg/L
Viskositas : 0.8948 cp
Panas pembentukan : 285.89 Calori (pada 18oC)
Panas penguapan : 40.65 Calori (pada 100oC)
Panas spesifik : 4.179

(Perrys, 2008)

Sifat kimia air:

Reaksi keseluruhan yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan sebagai
berikut.

2H2O 2H2 + O2

reaksi padatan kalium (K) dengan air (2H2O) menghasilkan larutan kalium
hidroksida (KOH) dan gas hidrogen (H2)

2K (s) + 2H2O (l) 2KOH (aq) + H2 (g)


28

Reaksi pembuatan garam dari natrium klorida dan air

Nacl + H2O NaOH + Hcl

(Perrys, 2008)

2.2.3 NH4OH

Ammonium hidroksida adalah larutan NH3 dalam air. Biasanya dibuat dengan
mereaksikan hydrogen dan nitrogen dengan katalisator, kemudian mereaksikan NH3 yang
terbentuk dengan air. Bersifat iritan dan korosif. Amonium hidroksida mengandung tidak
lebih dari 40% ammonia (NH3). Ammonium hidroksida termasuk basa lemah, yaitu
dalam larutannya hanya sedikit mengandung ion hidroksida karena dalam air mengalami
ionisasi sebagian. Basa kuat jika dilarutkan dalam air akan terurai menjadi unsur - unsur
penyusunnya secara sempurna contohnya yaitu natrium hidroksida dan kalium hidroksida.

Sebuah molekul sabun dalam air akan terionisasi menjadi ion positif (disebut
bagian kepala berupa ion logam atau NH4 ) dan ion negatif (disebut bagian ekor berupa
rantai alkil). Bagian ekor bersifat hidrofobik (menjauhi molekul air) dan bagian kepala
bersifat hidrofilik (mendekati molekul air). Bagian ekor ini akan mencari permukaan
tertentu (misalnya kotoran lemak) dan akan bergerombol mengelilingi permukaan
tersebut membentuk misel. Sedangkan bagian kepala akantetap kontak dengan molekul
air sehinggga dengan demikian mencegah bagian ekor (yang membentuk misel) dari
mengendap dan mencegah terbentuknya misel yang terlalu besar yang dapat mengendap
secara gravitasi. Hasilnya kotoran dan molekul sabun akan tetap terdispersi dalam air
(Fessenden, 1983).

Menurut teori asam-basa Arrhenius, reaksi asam-basa merupakan reaksi


netralisasi. Namun, menurut teori asam-basa Bronsted-Lowry, reaksi asam-basa
merupakan reaksi kompetisi untuk menangkap proton. Sebagai contoh, berikut adalah
reaksi amonia dengan air:

HN3(g) + H2O(l) NH4OH(aq) <> NH4+(aq) + OH(aq)


29

Amonia merupakan basa (menangkap proton), sedangkan air merupakan asam


(memberikan proton) pada reaksi maju (dari kiri ke kanan). Tetapi, pada reaksi balik (dari
kanan ke kiri), ion amonium (NH4+) adalah asam, dan ion hidroksida (OH) adalah basa.
Jika keasaman air lebih kuat dari ion amonium, maka konsentrasi ion amonium dan ion
hidroksida relatif besar pada saat kesetimbangan. Namun sebaliknya, jika ion amonium
lebih asam dibandingkan air, maka jumlah amonia menjadi jauh lebih banyak
dibandingkan ion amonium pada saat kesetimbangan. Bronsted-Lowry mengatakan
bahwa jika suatu asam bereaksi dengan suatu basa, pasangan asam-basa konjugasi dapat
terbentuk. Pasangan asam-basa konyugasi dibedakan oleh satu buah ion H+. Pada contoh
di atas, NH3 adalah suatu basa, dan NH4+ adalah asam konyugasinya. Di sisi lain, H2O
adalah suatu asam, dan ion OH adalah basa konyugasinya. Pada reaksi di atas, ion OH
merupakan basa kuat, dan amonia merupakan basa lemah. Akibatnya, kesetimbangan
cenderung bergeser ke kiri. Dengan demikian, pada kesetimbangan tidak terdapat banyak
ion hidroksida.

Berikut Sifat Fisika dan Kimia dari NH4OH


Sifat Fisika
Fase : cairan
Warna : tak berwarna
Bau : tajam (menyengat)
pH : 13,6 ( [20dC] bersifat basa kuat )
Titik Lebur : -57,50C
Titik Didih : 37,7C
Massa Jenis : 0,91 gr/ml
Densitas : (20C) 0,91 g/cm3
Kelarutan : (20C) larut dalam air

Sifat Kimia :

1. Dibuat menurutproses Haber & Bosch


reaksi : N2(g)+ 3H2(g) 2NH3(g)
30

Reaksi di atas adalah eksoterm, namun harus dilangsungkan pada suhu


tinggi, karena kedua gas tersebut bersifat lembam.suhu reaksi 530 dC dan tekanan
150-200 atm dengan katalis Fe3O4

2. Dibuat dari garam ammonium dan lindi


Reaksi : (NH4)2CO3 + Ca(OH)2 CaCO3 + 2H2O + 2NH3
Di laboratorium jika diperlukan gas amoniak dalam jumlah yang sedikit,
maka dibuat dengan membasakan garam-garam ammonium dengan kapur.

Kegunaan ammonium hidroksida Sebagai pendingin untuk pabrik es,


bahan pembuatan pupuk dan obat-obatan, industri tekstil, pembuatan kertas, di
dalam rumah tangga digunakan dalam campuran obat pembersih sendok, garpu
perak, dan barang logam lainnya, pereaksi analisis jumlah dan jenis, digunakan
sebagai bahan dasar pembuatan asam nitrat, Na-karbonat, pupuk ZA, pengisi
mesin pendingin (pengganti freon), pengawet lateks (getah pohon karet yang
masih cair).

2.2.4 Urea

Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen,
oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga dikenal dengan
nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa. Nama lain yang juga sering
dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyl diamine.
Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama yang berhasil dibuat dari senyawa
anorganik, yang akhirnya meruntuhkan konsep vitalisme.

Gambar 2.6 Molekul urea


31

Urea (CO[NH2]2) merupakan produk metabolik mengandung nitrogen dari


katabolisme protein pada manusia, yang mewakili lebih dari 75% nitrogen non-protein
yang dieksresikan. Biosintesis urea dari amonia asal nitrogen-asam-amino dilakukan oleh
enzim hepatik pada siklus urea. Selama proses katabolisme protein, nitrogen asam amino
dikonversi menjadi urea dalam hati melalui enzim siklus urea.

Lebih dari 90% urea diekskresikan melalui ginjal, dan sebagian melalui saluran
gastrointestinal dan kulit. Akibatnya, penyakit ginjal terkait dengan penumpukan urea
dalam darah. Peningkatan konsentrasi urea plasma menandai kondisi uremik (azotemik).
Urea diserap ulang secara aktif atau disekresikan oleh tubula-tubula tetapi disaring secara
bebas oleh glomerulus.

Urea ditemukan pertama kali oleh Hilaire Roulle pada tahun 1773. Senyawa ini
merupakan senyawa organik pertama yang berhasil disintesis dari senyawa anorganik.
Pembuatan urea dari amonia dan asam sianida untuk pertama kalinya ditemukan oleh
F.Wohler pada tahun 1828. Namun pada saat ini pembuatan urea pada umumnya
menggunakan proses dehidrasi yang ditemukan oleh Bassarow pada tahun 1870. Proses
ini mensintesis urea dari pemanasan amonium karbamat. Prinsip pembuatan urea pada
umumnya yaitu dengan mereaksikan antara amonia dan karbondioksida pada tekanan dan
temperatur tinggi didalam reaktor kontinu untuk membentuk amonium karbamat (reaksi1)
selanjutnya amonium karbamat yang terbentuk didehidrasi menjadi urea (reaksi 2).
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Reaksi 1 : 2 NH3(g) + CO2(g) NH4COONH2(g)

Gambar 2.7 Skema Rumus bangun reaksi pembentukan amonium karbamat

Reaksi 2 : NH4COONH2(g) CO(NH2)2(g) + H2O(l)

Gambar 2.8 Skema Rumus bangun reaksi dehidrasi amonium karbamat


32

Beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi pembuatan urea yaitu:

a. Temperatur

Reaksi sintesis urea berjalan pada temperatur optimal adalah 190C dengan waktu
tinggal sekitar 60 menit. Jika temperatur turun akan menyebabkan konversi amonium
karbamat menjadi urea akan turun

b. Tekanan

Untuk menghasilkan urea yang optimal, maka diperlukan tekanan tinggi yaitu 173
atm karena konversi amonium karbamat menjadi urea hanya berlangsung pada fasa cair
sehingga tekanan harus dipertahankan pada keadaan tinggi.

c. Perbandingan NH3 dan CO2

Industri urea di Indonesia pada umumnya mensintesis urea dengan perbandingan


NH3 dan CO2 adalah 3,5-4 mol. Hal ini dikarenakan perbandingan mol dapat
mempengaruhi suhu, tekanan operasi dan jumlah amonia yang terbentuk.

d. Jumlah air

Jumlah air dalam reaktor dapat berpengaruh terhadap reaksi yang kedua yaitu
penguraian amonium karbamat menjadi urea dan air. Jika terdapat air dalam jumlah yang
cukup banyak, maka akan memperkecil konversi terbentuknya urea dari larutan karbamat.

Kegunaan urea:

Urea melayani peran penting dalam metabolisme nitrogen yang mengandung senyawa
oleh hewan dan merupakan zat yang mengandung nitrogen utama dalam urin dari
mamalia.
Banyak digunakan dalam pupuk sebagai sumber nitrogen nyaman.
Urea juga merupakan penting bahan baku bagi industri kimia .
Pertanian, Lebih dari 90% dari produksi dunia urea diperuntukkan untuk digunakan
sebagai pupuk nitrogen-release.
Urea merupakan bahan baku untuk pembuatan banyak senyawa kimia penting, seperti
: berbagai plastik, terutama resin urea-formaldehida, berbagai perekat seperti urea-
formaldehida atau urea-melamin-formaldehida digunakan di laut kayu lapis, Kalium
cyanate, bahan baku industri lainnya, Urea nitrat sebagai bahan peledak.
33

Medis, Urea digunakan dalam topikal dermatologis untuk mempromosikan produk


rehidrasi dari kulit Jika ditutupi oleh oklusi berpakaian, urea persiapan 40% juga
dapat digunakan untuk non operasi debridement dari paku.
Urea merupakan komponen utama dari suatu obat alternatif pengobatan yang disebut
terapi urine.
Metode Industri, Untuk digunakan dalam industri, urea dihasilkan dari sintetis amonia
dan karbon dioksida.
Memainkan peran dalam sistem pertukaran lawan dari nefron, yang memungkinkan
untuk reabsorpsi air dan ion kritis dari urin diekskresikan.

Sifat fisis urea :

Rumus molekul : NH2CONH2


Bobot molekul : 60,06 g/mol
Titik leleh : 132 0C
Titik didih : 195 0C
Bentuk : Prill
Bulk density : 0,74 g/cc
Spesific gravity : 1,335 (solid) g/cc

Sifat kimia urea :

Pada tekanan rendah dan temperatur tinggi urea akan menjadi biuret
2CO(NH2)2 NH2CONHCONH2

Bereaksi dengan formaldehid membentuk monometilourea dan dimetilourea


tergantung dari perbandingan urea dan formaldehid
Pada tekanan vakum dan suhu 180 190 0C akan menyublim menjadi amonium
cyanat (NH4OCN)
Pada tekanan tinggi dan adanya amonia akan merubah menjadi cyanic acid dan
cynuric acid
3 (NH2)2CO 3 HOCN + 3 NH3

3 HOCN (NCOH)3
34

Dalam amonia cair akan membentuk urea-amonia CO(NH2)2, NH2, yang


terdekomposisi pada suhu diatas 450C

2.2.6 NPK

Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk dengan kandungan unsur hara yang
lengkap. Unsur hara makro utama dalam pupuk NPK adalah Nitrogen, Fosfor dan
Kalium. Berikut ini kandungan dan manfaat ketiga unsure hara tersebut:

Nitrogen

Keberadaan Nitrogen mutlak ada untuk kelangsungan pertumbuhan dan


perkembangan tanaman, dan dibutuhkan dalam jumlah yang banyak. Tanaman menyerap
N sebagian besar dalam bentuk ion NO3- dan NH4+, juga sedikit Urea melalui daun, dan
sedikit asam amino larut dalam air. Tanaman yang mengandung cukup unsur N akan
menunjukkan warna daun hijau tua, yang artinya kadar klorofil dalam daun tinggi.
Sebaliknya, apabila tanaman kekurangan atau defisiensi N maka daunnya akan
menguning (klorosis) karena kukarangan klorofil. Pertumbuhan tanaman yang lambat,
lemah dan kerdil bisa disebabkan oleh kekurangan N. Tanaman cepat masak bisa
disebabkan oleh kekurangan N. Defisiensi N juga dapat meningkatkan kadar air biji dan
menurunkan produksi dan kualitas.

Kelebihan N akan meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman, tetapi akan


memperpendek masa generatif, yang akhirnya justru menurunkan produksi atau
menurunkan kualitas produksi tanaman. Tanaman yang kelebihan N menunjukkan warna
hijau gelap sukulen, yang menyebabkan tanaman peka terhadap hama, penyakit dan
mudah roboh. Apabila N tersedia di dalam tanah hanya atau sebagian besar dalam bentuk
amonium, dapat menyebabkan keracunan pada tanaman dan akhirnya dapat
mengakibatkan jaringan vascular pecah dan berakibat pada terhambatnya serapan air.
Semua atau sebagian besar pupuk N komersial mempunyai kelarutan tinggi jika diberikan
ke dalam tanah. Berbeda dengan pupuk N dari bahan organik baik pupuk kandang, pupuk
hijau, dan kompos, akan melepas N jika telah didekomposisikan. Semua bentuk N di
dalam tanah akan dikonversikan atau dioksidasi menjadi NO3-, yang selanjutnya menjadi
35

subjek reaksi/proses denitrifikasi, erosi, dan pencucian, sehingga bentuk NO3- di dalam
tanah sangat tidak stabil.

Fosfor

Tidak ada unsur lain yang dapat menggantikan fungsinya dalam tanaman,
sehingga tanaman harus mendapatkan atau mengandung P dalam jumlah cukup untuk
pertumbuhannya secara normal. Fungsi penting forfor di dalam tanaman yaitu dalam
proses fotosintesis, respirasi, transfer dan penyimpanan energi, pembelahan dan
pembesaran sel serta proses-proses di dalam tanaman lainnya. Pada umumnya kadar P di
dalam tanaman di bawah kadar N dan K yaitu sekitar 0,1 hingga 0,2%. Tanaman
menyerap sebagian besar unsur hara P dalam bentuk ion ortofosfat primer (H2PO4-).
Sejumlah kecil diserap dalam bentuk ion ortofosfat sekunder (HPO4-2). pH tanah sangat
besar pengaruhnya terhadap perbandingan serapan ion-ion tersebut, yaitu makin masam
H2PO4- makin besar sehingga makin banyak yang diserap tanaman dibandingkan dengan
HPO4-2.

Fosfor meningkatkan kualitas buah, sayuran, biji-bijian dan sangat penting dalam
pembentukan biji. Fosfor juga sangat penting dalam transfer sifat-sifat menurun dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Fosfor membantu mempercepat perkembangan akar dan
perkecambahan, dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air, meningkatkan daya tahan
terhadap penyakit yang akhirnya meningkatkan kualitas hasil panen. Gejala pertama
tanaman yang kekurangan P adalah tanaman menjadi kerdil. Bentuk daun tidak normal
dan apabila defisiensi akut maka ada bagian-bagian daun, buah dan batang yang mati.
Defisiensi P juga dapat menyebabkan penundaan kemasakan, juga pengisian biji
berkurang. Sebagian besar tanaman dapat mengambil (merecovery) P yang diberikan dari
pupuk sebesar 10 hingga 30% dari total P yang diberikan selama tahun pertama
pemberian. Besarnya kemampuan tanaman ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :
sumber P, tipe tanah, tanaman, metode aplikasi dan musim.

Kalium
Kalium di dalam jaringan tanaman ada dalam bentuk kation dan bervariasi sekitar
1,7 2,7% dari berat kering daun yang tumbuh secara normal. Ion K di dalam tanaman
berfungsi sebagai aktivator dari banyak enzim yang berpartisipasi dalam beberapa proses
metabolisme utama tanaman. Kalium sangat vital dalam proses fotosintesis. Apabila
36

kekurangan K maka proses fotosintesis akan turun, akan tetapi respirasi tanaman akan
meningkat. Kejadian ini akan menyebabkan banyak karbohidrat yang ada dalam jaringan
tanaman tersebut digunakan untuk mendapatkan energi untuk aktivitas-aktivitasnya
sehingga pembentukan bagian-bagian tanaman akan berkurang yang akhirnya
pembentukan dan produksi tanaman berkurang. Fungsi kalium yang lain adalah menjadi
sintesis protein, pemecah karbohidrat, memberi energi bagi tanaman, serta membantu
dalam kesetimbangan ion dalam tanaman. Selain itu, meningkatkan daya tahan tanaman
terhadap iklim tidak menguntungkan. Kalium juga terlibat aktif dalam lebih dari 60
sistem enzim yang mengatur reaksi-reaksi kecepatan pertumbuhan tanaman.

Kalium juga berpengaruh pada proses membuka dan menutup pori-pori daun
tanaman, stomata. Proses ini dikendalikan oleh konsentrasi K dalam sel yang terdapat
disekitar stoma. Kadar K tidak cukup (defisien) dapat menyebabkan stomata membuka
hanya sebagian dan menjadi lebih lambat dalam penutupan. Gejala kekurangan K
ditunjukkan dengan tanda-tanda terbakarnya daun yang dimulai dari ujung atau pinggir,
bercak-bercak nekrotik berwarna coklat pada daun-daun dan batang yang tua.

Pupuk majemuk dapat dibuat melalui berbagai proses, diantaranya adalah: (1)
Bulk blending/physical blending yaitu mencampurkan secara fisik beberapa jenis pupuk
tunggal sesuai dengan formula yang diinginkan. Produk pupuk majemuk yang dihasilkan
mempunyai formula yang fleksibel namun dalam tiap butiran pupuk hanya mengandung
salah satu hara N, P, atau K. (2) Fussion blending yaitu mencampur secara fisik beberapa
jenis hara pupuk kemudian dihaluskan dan dibuat granul. Produk pupuk majemuk yang
dihasilkan dalam tiap butiran pupuk terdapat tiga unsur N, P, dan K namun tidak
homogen, formula yang dihasilkan bisa bervariasi. (3) Chemical blending yaitu
memformulasi beberapa jenis hara pupuk secara kimia. Pada masing-masing butiran
pupuk terdapat unsur N, P, dan K yang homogen, namun pabriknya tidak fleksibel untuk
memproduksi berbagai formula.

Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara utama
lebih dari dua jenis. Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15 % dalam bentuk NH3,
Phosfor 15 % dalam bentuk P2O5, dan Kalium 15 % dalam bentuk K2O. Artinya setiap
100 kg NPK didalamnya terkandung 15 kg unsur N dalam bentuk NH3, 15 kg Phosfor
dalam bentuk P2O5 dan 15 kg Kalium dalam bentuk K2O. Perbandingan yang sering
37

dipakai dalam pembuatan pupuk NPK ini adalah 16:16:16 artinya analisis pupuk yang
dipakai adalah N = 16,P = 16,K = 16.
Ciri - Ciri dan Kegunaan :
Warnanya putih dan pink dengan rumus kimia NH4H2PO4 (mono ammonium fosfat).
Mempercepat pertumbuhan tanaman dan menjadikan tanaman lebih sehat dan
kuat
Praktis, hemat biaya, he mat waktu dan dosis lebih terukur
Lebih efisien, karena sekali pemberian pupuk sudah sekaligus mencakup unsur
hara makro, mikro dan organik yang dibutuhkan tanaman.

Sifat Fisik Pupuk NPK adalah sebagai berikut


Bentuk : Butiran (Granul)
Warna : Abu-Abu
Senyawa : Anorganik
Kelarutan : Lambat
Higroskopisitas : Rendah
Grade Pupuk : 16-16-16

Sifat Kimia Pupuk NPK adalah sebagai berikut :


Rumus Kimia :-
Kadar Hara : 16% N. 16% P205, 16% K2O
Sifat Fisiologis : Netral

2.2.7 Khamir (yeast)

Khamir (yeast) merupakan jasad renik (mikroorganisme) yang pertama yang


digunakan manusia dalam industri pangan. Orang-orang Mesir zaman dahulu telah
menggunakan yeast dan proses fermentasi dalam memproduksi minuman beralkohol dan
membuat roti lebih dari 5000 tahun yang lalu.Khamir ini nerupakan mikroorganisme
uniseluler yang masuk dalam Kingdom Fungi. Anggota kingdom tersebut lainnya yang
membentuk jaringan hifa (miselium) disebut Kapang (mould). Istilah khamir umumnya
digunakan untuk bentuk-bentuk menyerupai jamur. Khamir yang sering digunakan pada
38

fermentasi etanol adalah Saccharomyces cereviseae, S. uvarium, Schizosaccharomyces


sp., Kluyveromyces sp. (Lackhe, 2002).
Khamir yang sangat potensial untuk fermentasi etanol adalah Saccharomyces
cereviseae karena memiliki daya konversi menjadi etanol sangat tinggi, metabolismenya
sudah diketahui, metabolit utama berupa etanol, CO2, dan air dan sedikit menghasilkan
metabolit lainnya. Fermentasi ini membutuhkan kondisi yang sedikit aerob, pH 4,0 - 4,5,
suhu 30C dan kadar gula 10 18% (Westhoff, 1978).
Saccharomyces cerevisiae, merupakan Khamir yang paling popular dalam
pengolahan makanan. Khamir ini telah lama digunakan dalam industri wine dan bir. Dlam
bidang pangan, khamir digunakan dalam pengembangan adonan roti dan dikenal sebagai
ragi roti.(Hidayat, 2006).
Saccharomyces cerevisiae
Ragi (Saccharomyces cerevisiae) adalah mikroorganisme penghasil etanol yang
paling dikenal saat ini. Efesiensi fermentasi dapat ditingkatkan dengan cara
mengabolisasi sel mikroorganisme yang digunakan. Amobilisasi sel bertujuan untuk
membuat sel menjadi tidak bergerak atau berkurang ruang geraknya sehingga sel
menjadi terhambat pertumbuhannya dan subtract yang diberikan hanya digunakan
untuk menghasilkan produk.(Putra A.E & Surya, R.P, 2006).
Saccharomyces merupakan genus khamir /ragi/yeast memiliki kemampuan mengubah
glukosa menjadi alkohol dan CO2.
Ciri-ciri spesies Saccharomyces cerevisiae
1. Mikroorganisme ber sel Satu
2. Tidak berklorofil
3. Tumbuh baik pada suhu 30C dan pH 4,8.
4. Mempunyai sifat stabil dan cepat mengadakan adaptasi

Klasifikasi Saccharomyces cerevisiae


1. Kerajaan : Fungi
2.Filum : Ascomycotina
3.Kelas : Saccharomycetes
4.Ordo : Saccharomycetales
5.Famili : Saccharomycetaceae
6.Genus : Saccharomyces
39

Faktor
Faktor Yang Mempengaruhi Kehidupan Ragi ada berbagai factor yang
mempengaruhi kehidupan ragi, yaitu sebagai berikut :

1.Nutrisi (Zat Gizi)


Dalam kegiatannya khamir memerlukan penambahan nutrisi untuk pertumbuhan
dan perkembangbiakan, yaitu :
a) Unsur C, ada factor karbohidrat
b) Unsur N, dengan penambahan pupuk yang mengandung nitrogen, misal ZA,
urea, ammonia, dan sebagainya.
c) Unsur P, dengan penambahan pupuk fosfat, misal NPK,TSP, DSP, dan
sebagainya.
d) Mineral-mineral
e) Vitamin-vitamin

2.Keasaman (pH)
Untuk fermentasi alkohol, khamir memrlukan media denan suasana asam,
yaitu anatara pH 4,8 5,0. Pengaturan pH dapat dilakukan dengan penambahan asam
sulfat jika subtratnya alkalis atau dengan natrium bikarbonat jika subtratnya asam.

3.Suhu
Suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan adalah 280 - 300C.
Pada waktu fermentasi terjadi kenaikan panas, karena reaksinya eksoterm. Untuk
mencegah agar suhu fermentasi tidak naik, perlu pendingin agar dipertahankan tetap
26o 30oC.

4.Udara
Fermentasi alkohol berlangsung secara anaerobic (tanpa udara). Namun
demikian udara diperlukan pada proses pembibitan sebelum fementasi untuk
perkembangbiakan khamir tersebut.(Hidayat, 2006).
40

Pertumbuhan Mikroba
Pada fase pertama , yaitu 1 sampai 2 jam setelah pemindahan , bakteri belum
mengadakan pembiakan , fase ini disebut fase adaptasi. Kemudian fase kedua dimana
jumlah bakteri mulai bertambah sedikit demi sedikit . Selanjutnya fase pembiakan
cepat (fase logaritma), dimana pembiakan bakteripaling cepat. Jika ingin mengadakan
piaraan yang cepat tumbuh, maka bakteri didalam fase ini baik sekali untuk dijadikan
inokulum. Kemudian fase pembiakan diperlambat, ini disebabkan oleh keadaan
medium memburuk, perubahan pH, bertimbun -timbunnya zat kotoran, kecepatan
berbiak menjadi berkurang sekali. Kemudian fase dimana jumlah bakteri yang berbiak
sama dengan jumlah bakteri yang mati, sehingga kurva penunjukkan garis yang
hampir horizontal, disebut fase konstan. Fase terakhir yaitu fase dimana jumlah
bakteri yang makin banyak, dan makin melebihi jumlah bakteri yang membelah diri,
grafiknya mulai menurun, fase ini disebut fase kematian. Keadaan ini dapat
berlangsung beberapa minggu, hal ini bergantung pada spesies dan keadaan medium
( Dwidjoseputro, 1987).
Nama ilmiah Saccharomyces cerevisiae berarti jamur yang melakukan
fermentasi gula pada sereal (Saccharo-mocus cerevisiae) untuk menghasilkan alkohol
dan karbon dioksida (Anonim, 2002). Saccharomyces cerevisiae merupakan salah
satu jenis khamir. Khamir adalah fungi uniseluler yang eukariotik. Sel khamir yang
termasuk jenis Saccharomyces berbentuk bulat, oval atau memanjang dan dapat
membentuk pseudomiselium. Sel Saccharomyces cerevisiae berukuran (3-10) (4,5-
21) m. Reproduksi Saccharomyces dilakukan dengan membentuk tunas dan spora
seksual (Fardiaz, 1992; Jutono dkk., 1980).
Khamir dan bakteri telah digunakan untuk produksi etanol. Bakteri yang
paling banyak digunakan adalah Zymomonas mobilis. Khamir yang umum
digunakan adalah Saccharomyces cerevisiae, Saccharomyces uvarum
(Carlsbergensis), Schizosacchanomyces pombe dan Kluyveromyces fragilis (Crueger
and Crueger, 1990). Menurut Anonim (2008) Klasifikasi Saccharomyces cerevisiae
adalah sebagai berikut :
Kingdom : Fungi
Division : Ascomycota
Subdivision : Saccharomycetes
Ordo : Saccaromycetales
Familia : Saccharomycetaceae 20
41

Genus : Saccharomyces
Spesies : Saccharomyces cerevisiae

Pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae dipengaruhi oleh kondisi lingkungan


sebagai tempat tumbuhnya, berupa temperatur, pH dan medium. Strain mesofilik
Saccharomyces dapat tumbuh secara optimum pada temperatur 28-35C (Atkinson &
Mavituno, 1991). Khamir pada umumnya dapat tumbuh dan secara efisien
melakukan fermentasi etanol pada pH 3-8,5 dan bersifat fakultatif aerobik (Kosaric
et al, 1983). Saccharomyces cerevisiae memiliki kemampuan untuk menggunakan
berbagai jenis gula yaitu : glukosa, fruktosa,galaktosa, sukrosa, maltosa, manosa,
rafinosa, treholusa, dan malfotriosa (Kosaric et al., 1982). Gula dalam medium yang
masih dalam bentuk sukrosa dihidrolisis terlebih dahulu olehenzim invertase menjadi
glukosa dan fruktosa. Saccharomyces cerevisiae dapat menghasilkan invertase.
Selanjutnya glukosa dan fruktosa masuk dalam sel melalui difusi dengan perantara
dan transport aktif (Kosaric et al., 1982). Setelah itu glukosa akan difermentasi oleh
Saccharomyces cerevisiae menjadi etil alkohol melalui jalur Embden Meyerhof
Khamir Saccharomyces cerevisiae menggunakan jalur Embden Meyerhof
dalam memfermentasi glukosa menjadi etanol pada kondisi netral atau sedikit asam
dan dalam kondisi anaerob (Purwoko, 2007). Jalur Embden Meyerhof(EMP) dibagi
menjadi 3 tahapan utama Tahap I merupakan tahap perubahan glukosa C6 menjadi 2
molekul gliseraldehid-3-fosfat (C3) menggunakan ATP. Reaksi oksidasi-reduksi dan
pelepasan energi tidak terjadi 21 pada tahap ini, kedua reaksi tersebut baru terjadi
dalam tahap II. Energi yang dihasilkan berupa ATP. Piruvat sebanyak 2 molekul juga
dihasilkan dalam tahap ini. Tahap III merupakan tahap terjadinya reaksi oksidasi-
reduksi yang ke-2 dan pembentukan produk fermentasi (Madigan et al.,2000). Etanol
yang dihasilkan pada tahap III bersifat ekstra seluler karena dikeluarkan dari sel
melalui membran sel (Guarzoni et al., 1997).
Menurut Indyah (2007), fermentasi gula menjadi etanol dengan penambahan
yeastatau ragi akan menghasilkan reaksi sederhana yaitu sebagai berikut :
H2O + (C6H10O5)n N C6H12O6 + Enzim
(C6H12O6)n 2C2H5OH + 2CO2
Pada kondisi aerob dan konsentrasi gula yang tinggi, Saccharomyces
cerevisiae tumbuh dengan baik tetapi tidak menghasilkan alkohol. Dalam kondisi
lingkungan yang anaerob, pertumbuhan mikrobia lambat dan piruvat
42

dekarboksilase menjadi asetildehid dan CO2, selanjutnya akan terbentuk etanol dari
hasil reduksi asetaldehid oleh alkohol dehidrogenase (Crueger and Crueger, 1990).

2.3 Ethanol
Etanol disebut juga etil alkohol dengan rumus kimia C2H5OH atau CH3CH2OH
dengan titik didihnya 78,4 C. Ethanol merupakan nama IUPAC dari bahan kimia ini.
Selain itu, nama etil alcohol juga lazim digunakan. Etanol adalah cairan tak berwarna
yang mudah menguap dengan aroma yang khas dan larut dalam air, eter, benzene dan
semua pelarut organic, serta memiliki bau khas alkohol. Ia terbakar tanpa asap dengan
lidah api berwarna biru yang kadang-kadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa
(Fessenden , 1982).

Gambar 2.9 Struktur etanol

Dilihat dari struktur kimianya etanol termasuk gugus hidroksil. Gugus hidroksil
adalah gugus fungsional OH yang digunakan sebagai subsituen di sebuah senyawa
organik. Molekul yang mengandung gugus hidroksil dikenal dengan sebutan alcohol
(Fessenden, 1982). Gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen,
sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya
dengan massa molekul yang sama. Gugus hidroksil akan membangkitkan polaritas pada
molekul dan menimbulkan ikatan antar molekul. Polaritas adalah kemampuan awan
elektron untuk di disorsi (diubah bentuknya) sehingga mengimbas kepolaran. Kedua sifat
tersebut menyebabkan perbedaan sifat fisik alkohol berat molekul rendah dengan
senyawa hidrokarbon yang mempunyai berat molekul ekuivalen. Spektrografi inframerah
menunjukkan bahwa dalam keadaan cair ikatan hydrogen terbentuk karena Tarik-menarik
antar atom hydrogen pada gugus hidroksil molekul satu dengan atom hydrogen pada
gugus hidroksil molekul yang kedua. Ikatan hidrogen pada etanol terjadi pada fase cair,
sedangkan fase gas senyawa ini bersifat monomeric.
43

Etanol juga memiliki rantai karbon nonpolar, ia juga larut dalam senyawa
nonpolar. Etanol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut organik
lainnya, meliputi asam asetat, aseton, benzena, karbon tetraklorida, kloroform, dietil 6
eter, etilena glikol, gliserol, nitrometana, piridina, dan toluena. Ia juga larut dalam
hidrokarbon alifatik yang ringan, seperti pentana dan heksana, dan juga larut dalam
senyawa klorida alifatik seperti trikloroetana dan tetrakloroetilena. Campuran etanol-air
memiliki volume yang lebih kecil daripada jumlah kedua cairan tersebut secara terpisah.
Campuran etanal dan air dengan volume yang sama akan menghasilkan campuran yang
volumenya hanya 1,92 kali jumlah volume awal.
Reaksi Asam Basa Etanol gugus hidroksil etanol membuat molekul ini sedikit
basa. Ia hampir netral dalam air, dengan pH 100% etanol adalah 7,33, berbanding dengan
pH air murni yang sebesar 7,00. Etanol dapat diubah menjadi konjugat basanya, ion
etoksida (CH3CH2O ), dengan mereaksikannya dengan logam alkali seperti natrium:.
Reaksi seperti ini tidak dapat dilakukan dalam larutan akuatik, karena air lebih asam
daripada etanol, sehingga pembentukan hidroksida lebih difavoritkan daripada pembentuk
etoksida ( Viscera, 1985).
Fermentasi etanol untuk kegunaan konsumsi manusia (seperti minuman
beralkohol) dan kegunaan bahan bakar diproduksi dengan cara fermentasi. Spesiesragi
tertentu (misalnya Saccharomyces cerevisiae) mencerna gula dan menghasilkan etanol
dan karbon dioksida: Proses membiakkan ragi untuk mendapatkan alkohol disebut
sebagai fermentasi. Konsentrasi etanol yang tinggi akan beracun bagi ragi. Pada jenis ragi
yang paling toleran terhadap etanol, ragi tersebut hanya dapat bertahan pada lingkungan
15% etanol berdasarkan volume. Untuk menghasilkan etanol dari bahan-bahan pati,
misalnya serealia, pati tersebut haruslah diubah terlebih dahulu menjadi gula. Dalam
pembuatan bir, ini dapat dilakukan dengan merendam biji gandum dalam air dan
membiarkannya berkecambah. Biji gandum yang beru berkecambah tersebut akan
menghasilkan enzim amilase. Biji kecambah gandum ditumbuk, dan amilase yang ada
akan mengubah pati menjadi gula. Untuk etanol bahan bakar, hidrolisis pati menjadi
glukosa dapat dilakukan dengan lebih cepat menggunakan asam sulfat encer,
menambahkan fungi penghasil amilase, ataupun kombinasi dua cara tersebut.
Untuk etanol yang mempunyai grade 90-96,5% dapat digunakan pada industri,
sedangkan etanol yang mempunyai grade 96-99,5% dapat digunakan sebagai campuran
untuk miras dan bahan dasar industri farmasi. Besarnya grade etanol yang dimanfaatkan
sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan sebesar 99,5-100%. Perbedaan besarnya
44

grade akan berpengaruh terhadap proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa)
larut air (Kirk Othmer, 2007).
Salah satu metode pembuatan ethanol yag paling terkenal adalah fermentasi.
Bahan baku untuk proses fermentasi berupa bahan mentah seperti mono atau disakarida
(gula tebu, tetes tebu), bahan berpati (padi, jagung dan umbi), dan bahan selulosa (kayu,
limbah pertanian). Ragi yang dapat digunakan dalam proses fermentasi ethanol adalah
saccharomyses cerivisiae, saccharomyces uvarum (tadinya saccharomyces
carlsbergensis), candida utilis, saccharomyces anamensis, schizosccharomyces pombe.
Prose fermentasi dapat dijalankan secara batch maupun kontinyu. Fementasi secara batch
membutuhkan waktu sekitar 50 jam, PH awl 4,5 dan suhu 20-30oC untuk menghasilkan
yield ethanol 90% dari nilai gula teoritis. Hasil akhir ethanol sekitar 10-16% v/v (Bailey,
1986).
Secara teoritik tiap molekul glukosa akan menghasilkan 2 mol ethanol dan 2 mol
karbondioksida, dan melepaskan energi. Nutrien diperlukan dalam pertumbuhan ragi.
Nutrien yang ditambahkan adalah karbon, nitrogen, fosfor dan belerang, sedangkan
nutrien dalam jumlah kecil yaitu kalium, magnesium, kalsium, mineral dan senyawa-
senyawa organic seperti vitamin, asam nukleat dan asam amino. Temperatur operasi yang
digunakan tergantung pada jenis ragi, umumnya adalah 30-40oC.
Pembutan ethanol dengan bahan baku tetes memerlukan tahap penyimpan terlebih
dahulu. Hal ini meliputi sterilisasi dan penyapan ragi. Ethanol hasil proses fermentasi
mempunyai konsentrasi sekitar 8-12% (berat). Ragi setelah digunakan dapat juga didaur-
ulang atau langsung dibuang.
Fermentasi dilakukan dalam fermentor yang dapat berbentuk tangki berpengaduk
secara sinambung atau menara. Proses fementasi dilakukan dengan metode curah atau
sinambung. Fermentasi pembuatan ethanol merupakan proses metambolisme anaerob.
Reaksi yang terjasi secara keseluruhan pada kondisi anaerob mengikuti persamaan gay-
lussac berikut ini (Kirk Othmer, 2007).

Setiap 1 gram glukosa menghasilkan 0.51 gram ethanol. Hasil samping yang
terbantuk antara lain: asetaldehid (sebagian kecil eter) dan minyak fusel, yang merupakan
campuran senyawa alkohol tigkat tinggi dengan komposisi tergantung bahan baku.
45

Ethanol atau etil alkohol merupakan bahan kimia organik yang mengandung
oksigen yang paling eksotik karena kombinasi sifat-sifat uniknya yang dapat digunakan
sebagai pelarut, germisida, minuman, bahan anti beku, bahan bakar, bahan depressant dan
khususnya karena kemampuannya sebagai bahan kimia intermediet untuk menghasilkan
bahan kimia yang lain.
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut, germisida, minuman, bahan anti beku,
bahan bakar dan senyawa antara untuk sintesis senyawa senyawa organik lainnya.
Etanol sebagai pelarut banyak digunakan dalam industri farmasi, kosmetika dan resin
maupun laboratorium. Di Indonesia, industri minuman merupakan pengguna terbesar
etanol, disusul berturut-turut oleh industri asam asetat, industri farmasi, kosmetika, rumah
sakit dan industi lainnya. Sebagai bahan baku, etanol digunakan untuk pembuatan
senyawa asetaldehid, butadiene, dietil eter, asam asetat dan sebagainya.
Penggunaan etanol sebagai bahan bakar, mempunyai prospek yang cerah. Etanol
dapat digolongkan sebagai bahan yang dapat diperbarukan, karena dapat dibuat dari
bahan baku yang berasal dari tumbuh tumbuhan. Etanol murni dapat digunakan sebagai
cairan pencampur pada bensin. Etanol mempunyai angka oktan yang cukup tinggi,
sehingga dapat digunakan untuk menaikkan angka oktan.
Berikut sifat-sifat fisik ethanol:
Fase : Cair
Titik didih, oC : 78
Titik kritis, oC : 243,1
Tekanan kritis, atm : 62,96
Titik beku, oC : (- 112)
Densitas, kg/L : 0,79
Viskositas, cp : 0,279
Kapasitas panas, kcal/kg.oC : 0,813
Konduktivitas termal, Btu/j.ft2: 0,105
(Perry, 2008)

Sifat kimia dari ethanol antara lain :


Ethanol dapat didehidrasi membentuk etilen atau etil eter disebut reaksi dehidrasi
46

Reaksi dehidrogenasi, merubah etanol menjadi acetaldehyde dapat dipengaruhi


oleh reaksi fase uap pada berbagai macam katalis

Pembakaran etanol akan menghasilkan karbon dioksida dan air

Reaksi oksidasi Antara etanol dan oksigen menjadi asetaldehid

Reaksi etanol dan asam karboksilat menjadi etil eter dan air

(Perry, 2008)

2.4 Proses Pembuatan Bioethanol


Etanol dapat diproduksi secara komersial dengan dua cara, yaitu secara petrokimia
dengan konversi katalitik etilen (indirect dan direct hydration) dan secara biologis
dengan fermentasi antara lain sebagai berikut :
1. Hidrasi Etilen
Hidrasi Etilen ada dua cara untuk mensintesis etanol dari etilen. Cara pertama
adalah indirect-hydration process yang pertama kali dikembangkan oleh Union
Carbide Corporation, Amerika Serikat, pada 1930 (Kirk dan Othmer, 2007). Cara
kedua adalah direct-hydration process yang pertama kali digunakan oleh Shell
Chemical Corporation, Houston, Texas, pada 1948 (McKetta, 1983).

a. Indirect-Hydration Process
Proses ini terjadi dengan penyerapan etilen dalam asam sulfat untuk menghasilkan
etil sulfat kemudian dihidrolisis untuk menghasilkan etanol. Proses ini terdiri dari tiga
langkah:
Absorpsi etilen dengan asam sulfat pekat (95-98%) untuk membentuk etil
hydrogen sulfat dan dietil sulfat. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
47

C2H4+ H2SO4C2H5HSO4
Etil hydrogen sulfat

C2H4+ C2H5HSO4 (C2H5)2SO4


Dietil sulfat
Reaksi ini merupakan reaksi eksotermik sehingga diperlukan pendinginan untuk
menjaga temperatur tetap rendah dan mengurangi laju

Hidrolisis etil sulfat menjadi etanol


(C2H5)2SO4 + H2OC2H5OH + C2H5HSO4

Ethanol

C2H5HSO4+ H2O C2H5OH + H2SO4

Ethanol

Reaksi hidrolisis ini biasa dilakukan dengan dua stage, yang pertama pada suhu
sekitar 70 C (343 K) dan yang kedua pada suhu mendekati 100 C (373 K).
Pada reaksi ini digunakan air sehingga konsentrasi asam sulfat mencapai 40-
55%. Penambahan air ini dilakukan untuk menekan reaksi samping, yaitu
pembentukan dietil eter (McKetta, 1983).

Proses:

Ethanol diproduksi dengan mengabsorbsi etilena dalam asam sulfat pada


suhu 65-85C dan tekanan operasi biasanya 0,1-0,35 atm. Setiap 1 mol asam
sulfat akan mengabsorbsi 1,4 mol Etilena. Resin atau cairan hasil reaksi di agitasi
untuk beberapa jam dibawah tekanan 1 atm untuk menyempurnakan reaksi. Pada
tahap reaksi hidrolisis berlangsung selama 1 jam

Perolehan ethanol yang terbentuk di dapat pada kolom stripping bersama


sama produk samping dietil ether. Dari kolom stripper, ethanol dan di etil eter
dicuci dengan NaOH untuk menetralkan asam-asam yang ada. Di etil eter akan
didapatkan melalui proses distilasi pada kolom di etil eter, dan ethanol akan
didapatkan dengan cara distilasi pula pada kolom distilasi etanol.
48

Gambar 2.1. Diagram Alir Proses Indirect Hydration

b. Direct Hydration of Etilene


Proses ini terjadi dengan cara mengkontakkan reaktan yang berfase gas
dengan katalis padat atau cair. Reaksinya adalah sebagai berikut:

C2H4 (g) + H2O (g)C2H5OH(g)

Katalis yang umumnya digunakan dalam proses ini adalah asam fosfat
dengan penyangga antara lain tanah diatomic, bentonite dan silica gel. Gas
etilen dan air dipanaskan hingga suhu reaksi yaitu sekitar 230-280o C (503-
553 K) pada tekanan 60-80 bar, kemudian dilewatkan pada reaktor fixed bed
agar bereaksi membentuk etanol. Uap keluar reaktor sedikit lebih panas
dibanding umpan karena reaksi besifat eksotermis. Keluaran reaktor kemudian
didinginkan dan dipisahkan menjadi arus cair dan uap. Arus cair diteruskan ke
unit pemurnian etanol sedangkan arus uap dicuci dengan air untuk mengambil
kembali etanol yang tersisa. Gas yang sudah dicuci sebagian besar terdiri dari
etilen yang tidak bereaksi, selanjutnya dikembalikan ke reaktor (Kirk dan
Othmer, 1980).
Kekurangan dari proses ini ialah konversinya yang rendah. Konversi etilen
hanya berkisar 5% per pass sehingga agar ekonomis etilen perlu direcycle
beberapa kali untuk mendapat konversi yang tinggi. Untuk itu, diperlukan
pendinginan etilen sebelum dimasukkan kembali ke dalam reaktor.
49

Keunggulan proses ini dibandingkan indirect-hydration process, senyawa-


senyawa yang digunakan dalam proses ini cenderung tidak korosif sehingga
alat-alat yang digunakan lebih murah.

Gambar 2.2. Diagram Alir Proses Direct Hydration

2. Fermentasi
Fermentasi adalah proses perubahan bahan organik menjadi bentuk lain dengan
bantuan mikroorganisme. Bahan baku yang dapat digunakan untuk menghasilkan
etanol dengan proses fermentasi dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: gula,
pati, dan selulosa. Pati yang berasal dari singkong pertama-tama harus dihidrolisis
menjadi gula dengan bantuan enzim baru dapat diubah menjadi etanol. Reaksinya
dapat dituliskan secara sederhana sebagai berikut:
(C6H10O5)n + n H2O n C6H12O6 2n C2H5OH + 2n CO2
Secara garis besar, proses-proses yang terjadi adalah:

Pretreatment, bertujuan untuk memisahkan kandungan selulosa, hemiselulosa dan


lignin, sehingga reagen baik enzim maupun asam dapat berkontak dengan selulosa
lebih baik. Luas kontak yang lebih baik menyebabkan konversi bahan baku
menjadi lebih sempurna sehingga jerami dihancurkan hingga membentuk serbuk.
50

Hidrolisis
Selulosa dapat dihidrolisis menjadi glukosa dengan menggunakan zat
penghidrolisis berupa air dan katalisator. Katalisator yang dapat digunakan yaitu
asam dan enzim. Asam yang umumnya digunakan untuk hidrolisis pati adalah
asam sulfat (H2SO4), asam klorida (HCl), dan asam fosfat (H3PO4). Katalis asam
memotong rantai pati secara acak sehingga yield glukosa yang dihasilkan rendah.
Sedangkan jika katalis yang digunakan adalah enzim, diperlukan dua macam
enzim, yaitu enzim -amylase dan enzim glucoamylase. Katalis enzim
menghasilkan yield glukosa yang lebih tinggi dibanding katalis asam karena rantai
pati dipotong secara spesifik. Namun agar enzim dapat beraktivitas secara
optimal, dibutuhkan penyesuaian pH dengan penambahan asam. Katalis enzim
aktif pada pH 3,5-6 (Borglum, 1980).
Fermentasi
Fermentasi dilakukan di dalam fermentor dengan penambahan Saccharomyces
cerevisieae. Bahan nutrisi yang digunakan pada saat fermentasi adalah Urea dan
NPK pH diatur 4-5. Untuk terjadinya fermentasi alcohol, maka dibutuhkan
kondisi anaerob, untuk mengubah glukosa menjadi alkohol. Pada proses
fermentasi 30-40C selama fermentasi yang berlangsung selama 76 jam. Pada
akhir fermentasi, kadar alkohol yang dihasilkan 8-10 %
Pemurnian
Setelah proses fermentasi, dilakukan proses pemurnian untuk memisahkan etanol
dari senyawa-senyawa lainnya. Pemurnian dengan distilasi hanya dapat
menghasilkan etanol dengan kemurnian maksimal 95%. Untuk mendapatkan
etanol dengan kemurnian 99,5% dapat dilakukan distilasi lanjutan dengan
pressure swing distillation, pressure swing adsorption, atau dengan membran.

Gambar 2.10. Diagram Alir Proses Fermentasi


51

2.5 (NH4)2SO4 (Ammonium Sulfat)


Ammonium sulfat (NH4)2SO4 adalah garam anorganik dengan sejumlah
penggunaan komersial. Ammonium sulfat pada awalnya diproduksi dengan
menggunakan asam sulfat dan ammonia sebagai produk sampingan dari gas coke
oven, dimana ammonia berlebih yang terbentuk dinetralkan dengan asam sulfat untuk
membentuk ammonium sulfat, dan masih banyak diproduksi dengan cara ini.
Sebagian besar ammonium sulfat yang dihasilkan sekarang dari reaksi antara
ammonia sintetik dan asam sulfat.
2NH3 + H2SO4 (NH4)2SO4
Ammonium sulfat digunakan terutama sebagai pupuk. Nama ZA adalah
singkatan dari istilah bahasa belanda, zwavelzure ammoniak, yang berarti ammonium
sulfat (NH4)2SO4. Pupuk ZA adalah pupuk kimia buatan yang dirancang untuk
member tambahan hara nitrogen dan belerang bagi tanaman. Wujud pupuk ini butiran
Kristal mirip garam dapur dan terasa asin di lidah. Pupuk ini higroskopis (mudah
menyerap air) walaupun tidak sekuat pupuk urea. Karena ion sulfat sangat mudah
larut dalam air sedangkan ion ammonium lebih lemah, pupuk ini berpotensi
menurunkan pH tanah yang terkena aplikasinya. Sifat ini perlu diperhatikan dalam
penyimpanan dan pemakaiannya. Pupuk ZA mengandung belerang 24% (dalam
bentuk sulfat) dan nitrogen 21% (dalam bentuk ammonium). Kandungan nitrogennya
hanya separuh dari urea, sehingga biasanya pemberiannya dimaksudkan sebagai
sumber pemasok hara belerang pada tanah-tanah yang miskin unsur ini. Namun
demikian, pupuk ini menjadi pengganti urea sebagai pemasok hara nitrogen bagi tebu
budidaya karena lebih efektif dalam meningkatkan kadar gula(randemen). (lide, david
R., ed. 2006)
Ammonium sulfat juga digunakan dalam sel kering listrik baterai, sebagai
cairan solder, sebagai penghambat api untuk kain dan produk lainnya, dan sebagai
sumber bahan kimia ammonium tertentu. Kegunaan lain termasuk pengolahan air,
fermentasi proses, agen fireproofing, dan penyamaan kulit. (J.G.Speight,2005)
Toksisitas ammonium sulfat yaitu bisa menyebabkan gangguan pada kulit,
gangguan mata, dan iritasi saluran pernafasan. Bila tertelan, osmolaritas yang dapat
menarik air dari tubuh kedalam usus, bertindak sebagai pencahar. Namun, jika cukup
diserap secara sistemik dapat menghasilkan keracunan ammonia. Gajala mungkin
termasuk gastrointestinal (pencemaran)iritasi saluran dengan mual, muntah,
hipermotilitas, diare. Mungkin juga mempengaruhi mata, system saraf pusat
52

(mengantuk, tremor, kejang, kontraksi otot atau kejang-kejang), dan sistem


pernafasan (stimulasi pernapasan, dyspnea). Juga, dengan menelan dosis besar
ammonium sulfat muncul kemungkinan penyerapan cukup untuk menghasilkan
dieresis, urin berlebih, dan kerusakan ginjal (gangguan tubular ginjal, fungi ginjal
yang abnormal). (Ullamanns,2012)

Ammonium sulfat (ejaan yang direkomendasikan IUPAC; juga ammonium


sulfat dalam bahasa Inggris British), (NH4)2SO4, ialah suatu garam anorganik dengan
penggunaan komersial yang banyak. Penggunaan paling umum ialah sebagai pupuk
tanah. Ammonium sulfat mengandung 21% nitrogen sebagai kation ammonium, dan
24% sulfur sebagai anion sulfat.

Nama IUPAC garam ammonium ini ialah Diazanium sulfat. Nama lainnya
adalah: Ammonium sulfat, Ammonium sulfat (2:1), Diammonium sulfat, Garam
diammonium asam sulfat, Mascagnite, Actamaster, Dolamin.

Kegunaan Ammonium Sulfat

Kegunaan utama ammonium sulfat ialah sebagai pupuk untuk tanah basa
(alkalis). Dalam tanah ion ammonium dilepaskan dan membentuk sejumlah kecil
asam, yang menurunkan pH keseimbangan tanah, sambil berkontribusi menyumbang
nitrogen esensial untuk pertumbuhan tanaman. Kerugian utama atas penggunaan
ammonium sulfat ialah kandungan nitrogennya yang relatif rendah dibandingkan
ammonium nitrat, yang meningkatkan biaya transportasi.Ammonium sulfat juga
digunakan sebagai adjuvant semprot pertanian untuk inseksitisida, herbisida, dan
fungisida yang larut dalam air, disana ammonium sulfat berfungsi untuk mengikat
kation-kation besi dan kalsium yang ada baik dalam air maupun dalam sel.
Ammonium sulfat terutama efektif sebagai adjuvant untuk herbisida 2,4-D
(amina), glyphosate, dan glufosinate.

Dalam biokimia, pengendapan ammonium sulfat ialah suatu cara biasa untuk
memurnikan protein melalui pengendapan selektif; Ammonium sulfat sangat larut dalam
air dan dapat membuat larutan sangat pekat, yang dapat membuat protein mengalami salt
out, yang menyebabkan pengendapan pada konsentrasi tertentu. Ini memberikan sesuatu
yang berarti dan sederhana untuk memfraksinasikan campuran protein kompleks.
Ammonium sulfat juga tercantum sebagai bahan racikan untuk banyak vaksin Amerika
53

Serikat setiap Pusat untuk Pengawasan Penyakit. Sebagai aditif makanan, ammonium
sulfat dianggap secara umum diakui karena aman (generally recognized as safe, disingkat
GRAS) oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), dan di Uni
Eropa ammonium sulfat dirancang dengan istilah E number E517. Ammonium sulfat
digunakan sebagai pengatur keasaman dalam tepung dan roti.

Ammonium sulfat digunakan pada skala kecil dalam pembuatan garam-garam


ammonium lain, khususnya ammonium persulfat. Larutan ammonium sulfat jenuh dalam
air berat (2H2O) digunakan sebagai standar eksternal dalam spektroskopi NMR sulfur
(33S) dengan bilangan pengganti (shift value) 0 ppm. Ammonium sulfat juga telah
digunakan dalam komposisi zat pemadam api (flame retardant) yang berfungsi banyak
layaknya diammonium fosfat. Sebagai zat pemadam api, ammonium sulfat menurunkan
suhu pembakaran bahan, yang menurunkan laju kehilangan berat maksimum, dan
menyebabkan meningkatnya produksi residu atau arang. Keberhasilan zat pemadam ini
dapat ditambahkan dengan mencampurkan ammonium sulfat dengan ammonium
sulfamat. Ammonium sulfat telah digunakan sebagai bahan pengawet kayu, tetapi karena
sifat higroskopiknya, penggunaan ini telah dihentikan secara luas disebabkan terkait
dengan masalah-masalah korosi logam yang lebih cepat, ketidakstabilan dimesional, dan
penyelesaian yang gagal.

Ammonium sulfat dibuat dengan mengolah ammonia, setelah sebagai hasil-samping dari
oven-kokas, dengan asam sulfat:

2 NH3 + H2SO4 (NH4)2SO4

Campuran gas ammonia dan uap air dimasukkan ke dalam sebuah reaktor yang
berisi larutan ammonium sulfat pekat dan kira-kira 2 4% dari asam sulfat bebas pada
suhu 60 C. Asam sulfat pekat yang ditambahkan untuk mempertahankan keasaman
larutan, dan untuk mempertahankan tingkat asam bebasnya. Panas reaksi menjaga suhu
reaktor pada 60 C. Serbuk kering ammonium sulfat, dapat dibentuk dengan
menyemprotkan asam sulfat ke dalam sebuah bejana reaksi yang diisi dengan gas
ammonia. Panas reaksinya menguapkan semua air yang ada di dalam sistem, yang
membentuk garam seperti tepung. Hampir 6000 M ton diproduksi pada tahun 1981.
Ammonium sulfat juga dapat diproduksi dari gipsum (CaSO42H2O). Gipsum yang
terbagi dengan sempurna ditambahkan kepada larutan ammonium karbonat. Ammonium
54

karbonat mengendap sebagai suatu zat padat, yang meninggalkan ammonium sulfat
sebagai larutan.

(NH4)2CO3 + CaSO4 (NH4)2SO4 + CaCO3

Sifat-sifat Ammonium Sulfat


Ammonium sulfat menjadi ferroelektrik pada suhu di bawah -49,5 C. Pada suhu
kamar ammonium sulfat mengkristal dalam sistem ortorombik, dengan ukuran sel a =
7,729 , b = 10,560 , c = 5,951 . Bila didinginkan ke dalam keadaan ferroelektrik,
simetri kristalnya berubah menjadi gugus ruang Pna21.

Reaksi Kimia
Ammonium sulfat terurai pada pemanasan di atas 250 C, pertama
membentuk ammonium bisulfat. Pemanas-an pada suhu yang lebih tinggi menyebabkan
dekomposisi menjadi ammonia, nitrogen, sulfur dioksida, dan air.Sebagai garam dari
asam kuat (H2SO4) dan basa lemah (NH3), larutannya bersifat asam; pH dari larutan 0,1
M adalah 5,5. Dalam larutan berair reaksinya berupa ion-ion NH4+ dan SO42. Sebagai
contoh, penambahan barium klorida, akan mengendapkan barium sulfat. Filtratnya pada
penguapan menghasilkan ammonium klorida.

Ammonium sulfat membentuk banyak garam rangkap (ammonium logam sulfat)


ketika larutannya dicampur dengan larutan ekuimolar dari logam sulfat dan larutannya
adalah diuapkan secara lambat. Dengan ion logam trivalen (bervalensi-tiga), alum seperti
ferri ammonium sulfat terbentuk. Sulfat logam rangkap meliputi ammonium kobalto
sulfat, ferro diammonium sulfat, ammonium nikel sulfat yang dikenal sebagai garam
Tutton dan ammonium seri sulfat. Ammonium sulfat rangkap anhidrat juga terjadi dalam
keluarga

Amonium Sulfat [(NH4)2SO4] adalah senyawa kimia yang berwujud padat, berwarna
putih, berbentuk kristal (pada T > 513oC), larut dalam air, tidak larut dalam alkohol dan
memiliki titik leleh 235-280oC pada tekanan 1 atm. Ammonium Sulfat banyak
dimanfaatkan sebagai pupuk nitrogen dan biasa disebut pupuk ZA (Zwuafel Ammonium),
terutama pada tanaman industri dan perkebunan diantaranya tebu, tembakau, cengkeh,
kopi, lada, kelapa sawit, dan teh. Selain sebagai pupuk, senyawa Amonium Sulfat juga
digunakan dalam bidang industri seperti untuk pengolahan air, fermentasi, bahan tahan
api dan penyamakan. Sebagai pupuk, Amonium Sulfat merupakan jenis pupuk anorganik
55

tunggal yang terdiri dari unsur Sulfur (24% berat) dalam bentuk ion Sulfat dan unsur
Nitrogen (21% berat) dalam bentuk ion Amonium (James G. Speight, 2005).

- Proses Piritas Espanolas (PE)

Amonium Sulfat dapat dibuat dengan mengabsorbsi gas Sulfur pada pelarut
organik dan menghasilkan sulfit/kaya liquor dengan udara untuk memproduksi Sulfat.
Kemudian ditambahkan Amoniak untuk menghasilkan Amonium Sulfat . Setelah itu
dipisahkan dari solvennya, dicentrifugasi, dikeringkan kemudian dipagging. Solventyang
digunakan biasanya adalah Toluena.

Dalam proses reaktor selain terjadi reaksi antara Amoniak dan Asam Sulfat juga terjadi
pembentukan kristal (kristalisasi). Amonium Sulfat yang terbentuk dipompakan ke
centrifuge dimana dipisahkan antara kristal dan mother liquor. Kristal dikeringkan di
dalam rotary dryer dengan menggunakan udara panas. (Kirk Othmer, 2007).

Sifat fisik

Fase : padat
Warna : putih
Titik lebur : 513C
Density : 1,77 g/cm3
Solubilitas dalam air (g/100ml) : terlarut sempurna dalam air
Kelembaban : 79,2% (30 C)
Kemurnian : (NH4)2SO4 : 99,75 %
H2SO4 : 0,15 %
H2O : 0,1 %

Sifat kimia

1. Reaksi Netralisasi
Kebanyakan dari produk Amonium Sulfat dibuat dari netralisasi dengan
mereaksikan Amoniak dan Asam Sulfat kuat pada tekanan atmosfer.
Reaksi tersebut adalah sebagai berikut :

2NH3 (g) + H2SO4 (1) (NH4)2SO4(S) + Q


56

Reaksinya adalah eksotermis (65,5 kcal/gmol). Panas yang timbul ini


dikendalikan dengan pendinginan menggunakan air pada reaktor. Dalam proses ini
lebih effisien karena reaksi antara Amoniak dan Asam Sulfat terjadi di Saturator yang
mempunyai dua fungsi yaitu sebagai penetral (netralisasi) dan pembentukan Kristal
(kristalisasi). Amonium Sulfat yang terbentuk dipompakan ke centrifuge dimana
dipisahkan antara kristal dan mother liquor. Kristal dikeringkan di dalam rotary dryer
dengan menggunakan udara panas. (Kirk Othmer, 2007).

2.6 Pemilihan Proses


Ethanol adalah bahan kimia murni yang dibuat dari dehidrasi etilen ataupun bisa
di buat dengan fermentasi glukosa oleh bakteri. Nama lain dari ethanol adalah etil
alkohol, alkohol murni atau alkohol absolut. Proses dasar pembuatan ethanol adalah
konversi katalitik etilen (indirect dan direct hydration) dan secara biologis dengan
fermentasi.

Pada proses pembuatan ethanol terdapat bermacam-macam metode yang dapat


digunakan. Beberapa proses yang banyak digunakan secara komersial menurut Mc Ketta,
1983 antara lain yaitu secara petrokimia dengan konversi katalitik etilen (indirect dan
direct hydration) dan secara biologis dengan fermentasi.

Tabel 2.1 Perbandingan proses pembuatan Bioethanol dari bahan baku jerami
padi(Mc. Ketta, 1983)

Proses Proses Indirect Proses Direct Proses Fermentasi


Hydration Hydration
Parameter
Bahan Pembantu Etilen Etilen Jerami padi

Kondisi operasi
65 100oC 250 300oC 30 40oC
a Suhu
0,1 1 atm 50 70 atm 1 atm
b Tekanan

Koversi / yield 76 80 %
Kemurnian 95 - 98% 95 % 95 %
Bahan Pembantu NPK,Urea,
Asam Phospat Saccharomyces
cervisiae
57

Hasil samping Diethyl Ether Acetaldehyde (NH4)2SO4 , Air

Unit cruser,
Unit absorbsi,
Unit hydrasi, hidrolisi,
Alat utama Hidrolisis,
netralisasi, dan neutralizer,
netralisasi, dan
pemurnian fermentasi dan
pemurnian
pemurnian produk
Utilitas Air, Steam, Air, Steam,
Air, Steam, Listrik
Listrik Listrik

Dengan membandingkan proses-proses yang tersedia, maka dipilih proses


pembuatan ethanol dari jerami padi dengan proses fermentasi dengan alasan sebagai
berikut:
1. Bahan baku yang dibutuhkan pada proses fermentasi lebih banyak tersedia di
alam dan sangat mudah didapatkan serta pemanfaatkan limbah pertanian,
sehingga modal awal untuk pembangunan pabrik ini juga lebih sedikit
dibandingkan dengan proses-proses lainnya.
2. Peralatan yang dibutuhkan pada proses fermentasi lebih sederhana, sehingga
modal awal untuk pembangunan pabrik ini juga lebih sedikit dibandingkan
dengan proses-proses lainnya.