Anda di halaman 1dari 10

EKSTRAKSI DEDAK PADI MENJADI MINYAK MENTAH

DEDAK PADI (CRUDE RICE BRAN OIL) DENGAN


PELARUT N-HEXANE DAN ETHANOL
Subriyer Nasir, Fitriyanti, Hilma Kamila

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

ABSTRAK

Minyak dedak padi atau lebih dikenal rice bran oil merupakan minyak hasil ekstraksi dedak padi,
dimana dalam pengolahannya meliputi dua faktor penting yaitu stabilisasi dan ekstraksi. Minyak dedak padi
dapat digunakan sebagai minyak makan (edible oil), sebagai bahan baku pada produk kosmetik dan farmasi.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk menentukan waktu optimum pada proses stabilisasi dedak dan
proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut berupa n-hexane dan ethanol serta menganalisa kandungan %
FFA dan densitas dari rendemen minyak mentah dedak padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu
optimum untuk stabilisasi adalah 15 menit pada temperatur 110oC, dan waktu optimum untuk ekstraksi
adalah selama 1 jam pada temperatur didih pelarut (solvent) yang digunakan. Hal ini memperkuat dugaan
bahwa semakin lama waktu ekstraksi maka semakin tinggi % FFA ( Free Fatty Acid) yang terkandung dalam
minyak. Berdasarkan karakteristik minyak yang dihasilkan dari ekstraksi, ternyata pelarut n-hexane
memberikan karakteristik baik dibandingkan ethanol.

Kata Kunci : Rice bran oil, dedak padi, stabilisasi, ekstraksi

I. PENDAHULUAN makan berkualitas terbaik. Saat ini produksi


minyak dedak dunia berkisar 1.0 1.4 juta
Dedak merupakan hasil samping proses ton pertahun. Produsen utamanya India,
penggilingan padi, terdiri atas lapisan sebelah luar Cina, Jepang dan Myanmar. India sendiri
butiran padi dengan sejumlah lembaga biji. mampu memproduksi minyak dedak padi
Sementara bekatul (polish) adalah lapisan sebelah (Rice Bran Oil) 700 900 ribu ton minyak
dalam dari butiran padi, termasuk sebagian kecil dedak pertahun.
endosperm berpati. Bila kadar air Gabah Kering Giling
Minyak dedak atau dikenal dengan rice bran (GKG) sebesar 14% maka setiap
oil merupakan minyak hasil ekstraksi dedak padi. penggilingan padi akan menghasilkan
Minyak dedak dapat dikonsumsi dan mengandung sekam 18-20%, dedak 8-10% dan beras 47-
vitamin, antioksidan serta nutrisi yang diperlukan 60%. Bila produksi di Indonesia tahun 2007
tubuh manusia. Minyak dedak mengandung beberapa mencapai sebesar 50 juta ton pertahun,
jenis lemak yaitu lemak monounsaturated, maka dedak yang dihasilkan berkisar 5 juta
polyunsaturated, dan saturated serta asam lemak ton pertahun, suatu jumlah yang sangat
yaitu asam oleat, linoleat, linolenat, palmitat, dan melimpah sehingga perlu usaha usaha
stearat. Minyak dedak juga mengandung antioksidan untuk memanfaatkannya. Oleh karena itu,
alami tokoferol, tokotrienol dan orizanol yang peneliti melakukan percobaan dan
bermanfaat melawan radikal bebas dalam tubuh pengamatan terhadap proses ekstraksi dedak
terutama sel kanker, serta membantu menurunkan dengan pelarut, waktu dan pemanasan yang
kolesterol dalam darah, kolesterol liver, serta optimal sehingga didapatkan rendemen
menghambat menopause. Oleh karena itu, minyak minyak dedak yang tinggi dalam segi
dedak dapat dimanfaatkan sebagai suplemen pangan kualitas maupun kuantitas, serta dapat
untuk meningkatkan kualitas kesehatan manusia. bermanfaat bagi masyarakat dunia
Harga minyak dedak dunia berkisar antara US khususnya Indonesia.
$ 12 14 perliter dengan pasar utamanya Jepang, Tujuan penelitian ini adalah untuk
Korea, Cina, Taiwan dan Thailand. Berarti minyak mengetahui berapa lama waktu stabilisasi /
dedak telah digunakan secara luas sebagai minyak pemanasan dedak yang optimum sebelum

Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009 1


melakukan proses ekstraksi, mengetahui berapa lama dedak merupakan minyak terbaik dibanding
waktu ekstraksi dedak yang optimum sehingga dapat minyak kelapa, minyak sawit maupun
menghasilkan rendemen minyak mentah dedak padi minyak jagung (Hadipernata, 2006).
yang lebih banyak, dan mengetahui perbedaan
terhadap hasil ekstraksi dedak dengan menggunakan Sifat Fisika Dan Kimia Minyak Dedak
pelarut n-Hexane dan Ethanol. Padi (Rice Bran Oil)
Minyak dedak padi yang baru
II. FUNDAMENTAL diekstrak biasanya berwarna hijau
Padi (Oryza Sativa) kecoklatan dan berbau khas minyak dedak
Menurut sejarahnya, padi termasuk genus padi. Sifat fisiko-kimia minyak dedak padi
Oryza L. yang meliputi lebih kurang 25 species, dapat dilihat pada Tabel 1. dibawah ini :
tersebar di daerah tropika dan daerah subtropika
seperti di Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Padi Tabel 1. Sifat Fisiko-Kimia Minyak
yang ada di Indonesia sekarang ini merupakan Dedak Padi
persilangan antara Oryza Officinalis dan Oryza Sativa No. Parameter Nilai
F. Spontonea. Tanaman padi merupakan tanaman 1. Densitas (gr/ml) 0,89
semusim, termasuk golongan rumput-rumputan 2. Bilangan penyabunan 179,17
dengan klasifikasi sebagai berikut: 3. % FFA (Asam oleat) 34,49-49,76
- Genus : Oryza Linn 4. Titik nyala (0C) Minimum 150
5. Titik pengasapan (0C) 254
- Famili : Gramineae (Poaceae)
- Species : Ada 25 species, dua diantaranya ialah Sumber : Mardiah, dkk (2006), PKMI-ITS
* Oryza Sativa L
* Oryza Glaberrima Steund. Komposisi Asam Lemak dalam Minyak
- Subspecies oriza sativa L, dua di antaranya ialah Dedak Padi
: Minyak dedak mengandung
* Indica (padi bulu) beberapa jenis lemak seperti lemak
* Sinica (padi ceve) di kenal juga sebagai monounsaturated, polyunsaturated dan
Japonica. unsaturated, serta asam lemak seperti asam
lemak oleat, linoleat, linolenat, palmitat dan
Dedak Padi (Rice Bran) stearat.
Dedak padi banyak mengandung komponen Untuk komposisi asam lemak yang
tanaman bermanfaat yang biasa disebut sebagai terkandung dalam minyak dedak padi dapat
fitokimia, berbagai vitamin (seperti thiamin, niacin, dianalisa dengan menggunakan alat Gas
vitamin B-6), mineral (besi, fosfor, magnesium, Chromatograph (GC). Adapun contoh hasil
potassium), asam amino, asam lemak essensial dan analisa minyak dedak padi dengan
antioksidan, sehingga berpotensi menjadi ingridien menggunakan alat Gas Chromatograph
gizi yang dapat mengurangi resiko terjangkitnya dapat dilihat pada Gambar 1. dibawah ini :
penyakit dan meningkatkan kesehatan tubuh.
Disamping itu, dedak padi merupakan ingridien yang
bersifat hipoalergenik (bebas alergi) dan merupakan
sumber serat (dietary fiber) yang baik (Hadipernata,
2006).

Minyak Dedak (Rice Bran Oil)


Minyak dedak atau lebih dikenal dengan rice
bran oil merupakan minyak hasil ekstraksi dedak
padi. Minyak dedak mengandung beberapa jenis
lemak yaitu 47 % lemak mono unsaturated, 33 %
polyunsaturated dan 20 % saturated serta asam lemak
yaitu asam oleat 38,4 %, linoleat 34,4 % linolenat 2,2
%, palmitat 21,5 % dan stearat 2,9 %.
Minyak dedak memiliki aroma dan tampilan
yang baik serta nilai titik asapnya cukup tinggi (254
0
C). Dengan titik asap yang paling tinggi
dibandingkan minyak nabati lainnya maka minyak

2 Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009


bercampur dan kemudian zat terlarut
Sumber : Tahira R et all (2007), Characterization Of Rce terpisah dari padatan karena larut dalam
Bran Oil pelarut. Pada ekstraksi padat cair terdapat
Gambar 1. Contoh Hasil Analisa Asam Lemak dua fase yaitu fase overflow (ekstrak) dan
Minyak Dedak Padi fase underflow (rafinat/ampas) (Mc.Cabe,
1985).
Dari contoh hasil analisa asam lemak minyak Metode paling sederhana untuk
dedak padi dengan menggunakan alat Gas mengekstraksi padatan adalah
Chromatograph didapat komposisi asam lemak yang mencampurkan seluruh bahan dengan
terkandung dalam minyak dedak padi yang dapat pelarut, lalu memisahkan larutan tersebut
dilihat pada Tabel 2. seperti dibawah ini : dengan padatan tidak terlarut (Brown,
1950).
Tabel 2. komposisi asam lemak bebas dalam Mekanisme ekstraksi pada ekstraksi
minyak dedak padi minyak dedak padi adalah sebagai berikut:
No. Komponen Asam Lemak Nilai (%) mula-mula pelarut (n-hexane dan ethanol)
1. Capric 0.31 dipanaskan pada temperatur titik didih. Uap
2. Myristic 0.02 dari pelarut kemudian didinginkan. Pelarut
3. Palmitic 16.74 yang menjadi likuid akan jatuh ke alat
4. Palmitoleic 0.22 ekstraktor dan berdifusi ke dalam padatan
5. Heptadecanoic 0.07 (dedak padi), kemudian solut (minyak dedak
6. Stearic 1.79 padi) melarut pada pelarut. Solut yang
7. Oleic 42.79 bercampur dengan padatan kemudian
8. Linoleic 34.65 berdifusi ke luar padatan, selanjutnya
9. Linolenic 0.19 pelarut yang bercampur dengan solut
10. Arachidic 0.64 berdifusi ke permukaan luar partikel.
11. Eicosaenoic 0.70 Perpindahan pelarut biasanya terjadi ketika
12. Behenic 0.20 partikel untuk pertama kalinya dikontakkan
Sumber : Tahira R et all (2007), Characterization Of Rce dengan pelarut (Brown, 1950).
Bran Oil Diagram proses pembuatan minyak
dedak padi dari bahan baku dedak padi
Proses Pengolahan Minyak Dedak Padi sampai dengan dihasilkan minyak dedak
Pengolahan minyak dedak meliputi dua faktor padi dapat dilihat pada Gambar 2.2. berikut
penting yaitu stabilisasi dan ekstraksi (Gambar 2).
Stabilisasi bertujuan untuk menghancurkan enzim
lipase yang ada dalam dedak sehingga rendemen
minyak meningkat dan kadar asam lemak bebas
menurun. Stabilisasi dapat dilakukan secara kimiawi
atau menggunakan panas. Stabilisasi dengan panas
menyebabkan enzim lipase dalam dedak terdeaktivasi
pada suhu 100-120 0C dalam waktu beberapa menit.
Pemanasan dilakukan dengan injeksi uap panas,
kontak dengan udara panas, pemanggangan atau
pemasakan ekstrusif (Hadipernata, 2006).
Ekstraksi merupakan suatu cara untuk
mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang
diduga mengandung minyak atau lemak. Untuk
mendapatkan minyak dari dedak padi digunakan Sumber : Mulyana H. (2006), Mengolah Dedak
ekstraksi dengan pelarut (solvent extraction). Berbeda menjadi Minyak (RBO)
dari komponen-komponen dalam campuran, Gambar 2. Diagram Proses Pembuatan
pemisahan minyak dedak dari dedak padi merupakan Minyak Dedak Padi
proses ekstraksi padat-cair atau leaching.
Ekstraksi padat cair (leaching) adalah proses Faktor yang Mempengaruhi Proses
pemisahan suatu zat terlarut yang terdapat dalam Ekstraksi
suatu padatan dengan mengontakkan padatan tersebut Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
dengan pelarut (solvent) sehingga padatan dan cairan proses ekstraksi adalah sebagai berikut:

Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009 3


1. Temperatur Operasi menguntungkan bila titik didih pelarut tidak
Semakin tinggi temperatur, laju pelarutan zat terlalu tinggi.
terlarut oleh pelarut semakin tinggi dan laju difusi f. Viskositas pelarut
pelarut ke dalam serta ke luar padatan, semakin tinggi Pelarut harus mampu berdifusi ke
pula. Temperatur operasi untuk proses ekstraksi dalam maupun ke luar dari padatan agar
kebanyakan dilakukan dibawah temperatur 100oC bisa mengalami kontak dengan seluruh
karena pertimbangan ekonomis. solut. Oleh karena itu, viskositas pelarut
2. Waktu Ekstraksi harus rendah agar dapat masuk dan keluar
Lamanya waktu ekstraksi mempengaruhi secara mudah dari padatan (Ketaren, 1986).
volume ekstrak minyak dedak yang diperoleh. g. Rasio pelarut
Semakin lama waktu ekstraksi semakin lama juga Rasio pelarut yang dipakai terhadap
waktu kontak antara pelarut n-hexane dengan bahan padatan harus sesuai dengan kelarutan zat
baku dedak sebagai padatan sehingga semakin banyak terlarut atau solut pada pelarut. Semakin
zat terlarut yang terkandung di dalam padatan yang kecil kelarutan solut terhadap pelarut,
terlarut di dalam pelarut. semakin besar pula perbandingan pelarut
3. Ukuran, bentuk dan kondisi partikel padatan terhadap padatan, begitu juga sebaliknya.
Minyak pada partikel organik biasanya Dengan demikian perbandingan solut dan
terdapat di dalam sel-sel. Laju ekstraksi akan rendah pelarut yang tepat akan mampu memberikan
jika dinding sel memiliki tahanan difusi yang tinggi. hasil ekstraksi yang diharapkan.
Pengecilan ukuran partikel ini dapat mempengaruhi Syarat-syarat lain yang harus
waktu ekstraksi (Mc.Cabe, 1985). Semakin kecil dipenuhi oleh pelarut yaitu pelarut sedapat
ukuran partikel berarti permukaan luas kontak antara mungkin harus murah, tersedia dalam
partikel dan pelarut semakin besar, sehingga waktu jumlah yang besar, tidak beracun, tidak
ekstraksi akan semakin cepat. korosif, tidak mudah terbakar, tidak
4. Jenis pelarut eksplosif bila tercampur dengan udara, tidak
Pada proses ekstraksi, banyak pilihan pelarut menyebabkan terbentuknya emulsi, dan
yang digunakan. Beberapa hal yang harus stabil secara kimia maupun termis (Ketaren,
dipertimbangkan dalam memilih pelarut adalah 1986). Karena hampir tidak ada pelarut
sebagai berikut: yang memenuhi semua syarat di atas, maka
a. Selektivitas untuk setiap proses ekstraksi harus di cari
Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang pelarut yang paling sesuai.
diinginkan, bukan komponen lainnya dari bahan yang Pelarut
diekstrak. Dalam hal ini, larutan ekstrak yang Pelarut yang digunakan untuk
diperoleh harus dibersihkan yaitu dengan mengekstraksi dedak padi adalah n-hexane
mengekstraksi larutan tersebut dengan pelarut kedua dan ethanol.
(Ketaren, 1986). N-Hexane
b. Kelarutan Seperti kebanyakan senyawa dari
Pelarut harus mempunyai kemampuan untuk gugus alkana, n-hexane merupakan senyawa
melarutkan solut sesempurna mungkin. Kelarutan non-polar. Karena sifat non-polar inilah
solut terhadap pelarut yang tinggi akan mengurangi kebanyakan senyawa dari gugus alkana
jumlah penggunaan pelarut, sehingga menghindarkan termasuk n-hexane larut dalam pelarut non-
terlalu besarnya perbandingan antara pelarut dan polar atau sedikit polar seperti dietil eter
padatan. (CH3CH2OCH2CH3), atau benzena.
c. Kerapatan Kelarutan disebabkan oleh gaya tarik Van
Perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut der Walls antara pelarut dan zat terlarut.
dan solut akan memudahkan pemisahan keduanya. Seperti halnya senyawa-senyawa gugus
d. Aktivitas kimia pelarut alkana lainnya n-hexane tidak larut dalam
Pelarut harus bahan kimia yang stabil dan air. Sifat racun akut dari hexane relatif kecil.
inert terhadap komponen lainnya didalam sistem Fraksi hexane yang diproduksi dari industri
(Treybal, 1980). mendidih pada 65-70 0C. Sifat fisik dari n-
e. Titik didih hexane dapat dilihat pada Tabel 3. seperti
Pada proses ekstraksi biasanya pelarut dan berikut :
solut dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi atau
rektifikasi. Oleh karena itu titik didih kedua bahan
tidak boleh terlalu dekat. Dari segi ekonomi akan

4 Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009


Tabel 3. Sifat Fisik N-Hexane - Dedak padi 5 kg
Sifat-sifat Keterangan b. Ekstraksi
Rumus molekul C6H14 - Dedak padi 50 gram
Berat molekul 86,18 g/mol - N-hexane (PA)
Bentuk dan warna Likuid tidak berwarna - Ethanol 96 %
Densitas 0,6548 gr/ml c. Penentuan Kadar FFA
Titik leleh - 94 0C (177 K) - NaOH 0,1 N
Titik didih 69 0C (342 K) - Indikator Penolpthalein
Kelarutan dalam air Tidak larut - N-hexane
Viskositas 0,294 cP pada 25 0C - Ethanol 96 %
Temperatur kritis 234,6 0C (507,6 K) d. Penentuan Densitas
Tekanan kritis 3,04 x 106 Pa - Minyak dedak padi
Sumber : Perry, R.H and C.H. Hilton (eds). 1973. The - Aquadest
Chemical Engineers Handbook.
Alat Yang Digunakan
Etanol a. Stabilisasi bahan baku
Ethanol yang juga disebut etyl alcohol - Oven
merupakan jenis pelarut yang mudah menguap, - Neraca analitik
mudah terbakar, dan tidak berwarna serta memiliki - Spatula
aroma yang khas. Ethanol merupakan pelarut serba - Plat datar persegi
guna, dapat larut dengan air dan banyak pelarut b. Ekstraksi
organik termasuk asam asetat, aseton, benzen, karbon - Peralatan ekstraksi soxhlet
tetraklorida, kloroform, dietil eter, etilen glikol, - Mantle pemanas
gliserol, nitrometana, piridin dan toluen. Ethanol juga - Pompa Air
larut dengan hidrokarbon alifatik ringan seperti - Oven
pentana dan heksana, dan alifatik klorida seperti - Neraca analitik
tricloroetana dan tetracloroetilen. Sifat fisik dari - Spatula
ethanol dapat dilihat pada Tabel 4. - Kertas saring
- Benang
Tabel 4. Sifat Fisik Ethanol c. Pemisahan Minyak Dari Pelarut
Sifat-sifat Keterangan - Evaporator
Rumus molekul C2H5OH - Botol kecil
Berat molekul 46,068 g/mol - Gelas ukur 10 ml
Bentuk dan warna Likuid tidak berwarna - Erlenmeyer 50 ml
Densitas 0,789 gr/ml d. Penentuan Kadar FFA
Titik leleh - 112 0C (161 K) - Gelas ukur 1000 ml, 10 ml
Titik didih 78,4 0C (351,6 K) - Erlenmeyer 250 ml
Kelarutan dalam air larut - Buret 50 ml
Viskositas 1,200 cP pada 20 0C - Pipet tetes
Temperatur kritis 240,2 0C (513,92 K) - Corong gelas
Tekanan kritis 6,12 x 106 Pa e. Penentuan Densitas
Sumber : Perry, R.H and C.H. Hilton (eds). 1973. The - Oven
Chemical Engineers Handbook. - Neraca analitik
- Gelas ukur 10 ml
III. METODOLOGI PENELITIAN - Piknometer

Waktu dan Tempat Penelitian Prosedur Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei Ekstraksi Minyak Dedak Padi
sampai dengan Juni 2008 di Laboratorium OTK 1. Siapkan sampel dedak padi yang akan
(Operasi Teknik Kimia) dan Laboratorium Bioproses diekstraksi.
Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya. 2. Saring dedak padi untuk memisahkan
Bahan dan Alat kotoran-kotoran serta partikel-partikel
Bahan Yang Digunakan lain dengan menggunakan screen ukuran
a. Persiapan bahan baku 100 mesh.

Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009 5


3. Timbang sampel sebanyak 50 gr kemudian 4. Tentukan volume air dengan cara :
dipanaskan selama 15 menit dalam oven dengan ba
temperatur 110 0C. Volume air =
4. Potong kertas saring dengan ukuran 15 x 20 cm, aquadest
kemudian dibentuk seperti silinder yang dibagian 5. Hitung densitas minyak dengan cara :
bawahnya diikat. ca
5. Masukkan sampel yang telah dipanaskan kedalam Densitas minyak =
kertas saring silinder, kemudian bagian atasnya volume air
diikat rapat. Kemudian dimasukkan kedalam
ekstraktor. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
6. Masukkan pelarut sebanyak 350 ml kedalam
ekstraktor agar sampel terbasahi. Pengaruh Waktu Stabilisasi Terhadap
7. Nyalakan mantel pemanas serta pompa air Rendemen Minyak Dedak Kasar (Crude
pendingin, sampel diekstraksi sesuai dengan waktu Rice Bran Oil)
yang ditentukan. Proses stabilisasi yang dilakukan
pada penelitian ini, yaitu dengan melakukan
Pemisahan Minyak Dari Pelarut pemanasan dedak dengan berat masing
1. Campuran pelarut dan minyak hasil ekstraksi masing sample 50 gr dalam oven pada suhu
dikeluarkan dari alat ekstraktor untuk dipisahkan konstan 110oC dan variasi waktu stabilisasi
minyak dari pelarutnya. yaitu 0.5, 1.0, 5.0, 10, 15, 30, 45 dan 60
2. Panaskan terlebih dahulu alat evaporator hingga menit dan kemudian dilakukan proses
temperatur air pemanas mencapai titik didih ekstraksi pada waktu konstan selama 1 jam,
pelarut. seperti terlihat pada Tabel 5. berikut ini.
3. Masukkan campuran minyak dan pelarut kedalam Tabel 5. Data Variasi Waktu Stabilisasi
labu evaporator. dan % CRBO
4. Nyalakan alat evaporator, beserta aliran air No. Waktu Volume Berat %
pendingin dan sistem vakum. stabilisasi/ CRBO* CRBO* CRBO*
5. Ukur volume dan berat sampel minyak setelah pemanasan (ml) (gr)
semua pelarut terpisah dari minyak. (menit)
1. 0.5 5.2 4.10 8.20 %
2. 1.0 6.5 5.13 10.26 %
Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas 3. 5.0 8.2 6.30 12.60 %
1. Masukkan 3-5 gr sampel minyak dedak kedalam 4. 10 9.0 7.29 14.58 %
Erlenmeyer 250 ml kemudian ditimbang. 5. 15 12.7 9.12 18.34 %
2. Tambahkan campuran larutan n-hexane dan 6. 30 11.0 9.02 18.04 %
ethanol masing-masing 25 ml kedalam Erlenmeyer 7. 45 10.4 8.45 16.90 %
tersebut, lalu dikocok hingga minyak dedak 8. 60 10.0 7.98 15.96 %
melarut sempurna. (*CRBO : Crude Rice Bran Oil)
3. Tambahkan 3 tetes indicator PP dan dikocok.
Weight of oil ( gr )
4. Titrasi sampel dengan NaOH 0,1 N hingga terjadi % CRBO = 100 %
perubahan warna menjadi merah muda. Weight of sample ( gr )
5. Catat hasil titrasi dan dinyatakan dalam 2 desimal.
N x V x BE Asam Oleat
%FFA= x 100 % 20
W
% crude rice bran oil

Dimana : N = normalitas NaOH 15

V = Volume titran 10
W = berat sampel
5
Penentuan Densitas
0
1. Timbang piknometer kosong (a). 0 20 40 60 80
2. Isi piknometer dengan aquadest, kemudian waktu pemanasan (menit)
ditimbang beratnya (b).
3. Isi piknometer dengan sampel minyak kemudian
Gambar 3. Grafik Waktu Stabilisasi
ditimbang beratnya (c).
Dedak terhadap %CRBO

6 Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009


Dari Gambar 4. dapat terlihat bahwa
Besar kecilnya persentase rendemen minyak lamanya waktu ekstraksi tidak menunjukkan
dedak kasar (Crude Rice Bran Oil) dapat terlihat jelas kenaikan yang signifikan baik menggunakan
setelah dialurkan pada grafik yang terlihat pada solvent n-Hexane maupun Ethanol. Pada
Gambar 3. diatas. Pada awal waktu stabilisasi 0.5, prinsipnya proses ekstraksi dedak harus
1.0, 5.0, 10, dan 15 menit terlihat kenaikan rendemen dilakukan sesegera mungkin 7) karena
minyak dedak ( %CRBO ) yang cukup nyata dan semakin lama proses ekstraksi berlangsung,
setelah melewati menit ke-15 ternyata terjadi maka % minyak meningkat dan semakin
penurunan rendemen minyak dedak. Hal ini tinggi pula kandungan Free Fatty Acid
disebabkan karena untuk menghancurkan enzim (FFA) dalam minyak dedak. Free Fatty
lipase hanya dibutuhkan waktu beberapa menit pada Acid merupakan kandungan asam lemak
temperatur suhu 100120 oC (Hadipernata, 2006), bebas yang terdapat pada suatu
sehingga apabila pemanasan lebih lama maka akan senyawa,dalam hal ini minyak dedak. Besar
membuat komponen yang terkandung dalam dedak kecilnya %FFA dapat mempengaruhi
menjadi rusak dan berpengaruh terhadap rendemen kualitas minyak, dimana semakin tinggi
minyak dedak yang dihasilkan. kandungan %FFA dalam minyak, maka
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa minyak tersebut akan semakin sulit
waktu stabilisasi dedak yang optimal adalah selama dimurnikan dan berpengaruh pada kualitas
15 menit dengan temperatur stabilisasi / pemanasan minyak yang digunakan sebagai edible oil.
dalam oven sebesar 110oC. Pengaruh waktu ekstraksi terhadap
kandungan %FFA dalam minyak dedak
Pengaruh Waktu Ekstraksi Terhadap Rendemen dapat dilihat dari hasil analisa pada Tabel 7.
Minyak Dedak Kasar (CRBO) berikut
Proses ekstraksi pada penelitian ini dilakukan
berdasarkan titik didih masing masing solvent yang Tabel 7. %FFA dalam CRBO Terhadap
digunakan, yaitu n-Hexane pada 69oC dan Ethanol waktu Ekstraksi
pada 78oC. Waktu ekstraksi divariasikan 1, 2 dan 3 Waktu % FFA pd CRBO % FFA
jam untuk masing masing solvent yang digunakan, Ekstraksi (n-Hexane) pd CRBO
dan dapat dilihat pada Tabel 6. berikut (jam) (Ethanol)
1 44.56 % 39.76 %
Tabel 6. Perbandingan %CRBO yang dihasilkan 2 45.84 % 39.97 %
dengan solvent n-Hexane dan Ethanol terhadap 3 47.19 % 41.26 %
Waktu Ekstraksi
No. Waktu %CRBO %CRBO 50
Ekstraksi (solvent (solvent
(jam) n- Ethanol) 45

Hexane) 40
% FFA

1. 1 18.34 % 13.60 %
35
2. 2 19.20 % 15.06 %
n-Hexane
3. 3 21.28 % 17.86 % 30 Ethanol

25
25 0 1 2 3 4
Waktu Ekstraksi (Jam)
% crude rice bran oil

20 Gambar 5. Grafik %FFA Terhadap


15 Waktu Ekstraksi
10
Berdasarkan Gambar 5. terlihat
ethanol
5 n-hexane %FFA cenderung meningkat seiring dengan
0
lamanya waktu ekstraksi yang dilakukan
0 1 2 3 4 baik menggunakan solvent n-Hexane
Waktu ekstraksi (jam) maupun Ethanol, walaupun data pada hasil
Gambar 4. Grafik Perbandingan % CRBO yang analisa %FFA ini tidak menunjukkan
dihasilkan dengan solvent n-Hexane dan Ethanol kenaikan %FFA yang signifikan, namun
Terhadap Waktu Ekstraksi setidaknya menunjukkan bahwa %FFA akan

Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009 7


meningkat apabila proses ekstraksi berlangsung lebih Perbedaan rendemen minyak mentah
lama. dedak padi yang dihasilkan dari solvent n-
Disamping %FFA, waktu ekstraksi juga hexane dan Ethanol dapat dilihat pada Tabel
sedikit berpengaruh terhadap densitas dari minyak 9. yang telah dibahas sebelumnya, dimana
dedak, dari hasil penelitian dengan menggunakan dari segi kuantitas rendemen minyak yang
piknometer, maka diketahui densitas masing masing dihasilkan dari proses ekstraksi
minyak berdasarkan perbedaan waktu ekstraksi menggunakan solvent n-Hexane lebih
baik menggunakan solvent n-hexane maupun banyak dibandingkan menggunakan solvent
Ethanol, hal ini disebabkan karena pelarut
ethanol pada Tabel 8. berikut: (solvent) n-Hexane mempunyai viscositas
Tabel 8. Densitas CRBO (solvent ethanol dan n- dan densitas yang lebih rendah
hexane) dibandingkan ethanol, sehingga n-Hexane
akan lebih mudah berdifusi masuk dan
Waktu Densitas CRBO, Densitas CRBO,
keluar padatan dedak, sehingga dengan
Ekstraksi gr/ml gr/ml
(solvent n-hexane) (solvent ethanol) cepat mengalami kontak dengan seluruh
1. 0.889 0.815 solute (dedak).
2. 0.891 0.826 Perbedaan lain antara hasil
3. 0.893 0.834 rendemen minyak yang diekstraksi
menggunakan solvent n-Hexane dan
Dari hasil penelitian ini maka dapat Ethanol dapat dilihat pada Tabel 10.
diketahui bahwa waktu yang optimum dalam proses berikut:
ekstraksi dedak adalah 1 jam, hal ini dilakukan untuk
menghindari terjadinya peningkatan kandungan Free Tabel 10. Karakteristik minyak mentah
Fattty Acid (FFA) dalam minyak yang sangat dedak padi
mengganggu apabila dilakukan proses lebih lanjut Karakterisitik CRBO CRBO
yaitu proses pemurnian untuk menghasilkan edible (basis 1 jam (solvent : n- (solvent :
oil. ekstraksi) hexane) Ethanol)
% CRBO 18.34 % 13.60 %
Pengaruh Solvent n-Hexane dan Ethanol Densitas (g/ml) 0.889 0.815
Terhadap Rendemen Minyak Mentah Dedak Padi % FFA 44.56 % 39.76 %
(CRBO) Warna Hijau Kecoklatan Coklat
Pada penelitian ini untuk mengekstraksi
minyak dedak padi digunakan solvent berupa n- Disamping dari segi kuantitas
Hexane dan Ethanol , dimana masing-masing solvent minyak yang berbeda, ternyata densitas
ini mempunyai perbedaan sifat fisik maupun kimia minyak juga berbeda, dimana densitas
yang dapat dilihat pada Tabel 9. minyak dedak yang dihasilkan dari ekstraksi
menggunakan solvent hexane lebih tinggi
Tabel 9. Sifat Fisik dan Kimia n-Hexane dan
dibandingkan menggunakan solvent ethanol,
Ethanol
hal ini dipengaruhi dari indikasi besarnya
Properties n-Hexane Ethanol
kandungaan %FFA yang terlihat pada Tabel
Rumus Molekul C6H4 CH3CH2OH
10. sehingga memperbesar nilai densitas
Berat Molekul 86.17 g/mol 46.06844 minyak dedak.
g/mol Apabila dilakukan perbandingan
Densitas 0.6548 g/ml, 0.789 g/ml, antara data hasil penelitian minyak dedak
liquid liquid dengan data yang berasal dari literatur,
Titik Leleh -95oC (178 -114.3oC maka terlihat adanya kesamaan dari
K) (158.8 K) karakteristik yang diteliti, ini dapat dilihat
Titik Didih 69oC (342 K) 78.4oC (351.6 pada Tabel 11. berikut
K)
Viscositas 0.294 cP at 1.2 cP at 20oC
25oC
Kelarutan dlm Tidak Larut Melarut
air Sempurna

8 Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009


Tabel 11. Perbandingan minyak dedak hasil Tabel 12. Komposisi Asam lemak Minyak
ekstraksi dan menurut literatur Mentah Dedak Padi*)
Karakteristik Hasil Menurut No. Komponen Nilai (%)
ekstraksi Literatur Asam Lemak Tahira R,et all.
2007
dedak padi (Rahmania,
1. Capric 0.31
O. 2004) 2. Myristic 0.02
% CRBO 18.34-21.28 < 25 3. Palmitic 16.74
Densitas 0.889 0.89 4. Palmitoleic 0.22
(g/ml) 5. Heptadecanoic 0.07
% FFA 44.556 - 34.49 - 6. Stearic 1.79
47.191 45.76 7. Oleic 42.79
8. Linoleic 34.65
Warna Hijau Hijau
9. Linolenic 0.19
Kecoklatan Kecoklatan 10. Arachidic 0.64
11. Eicosaenoic 0.70
Karakteristik yang ditampilkan menurut 12. Behenic 0.20
literatur adalah berdasarkan penelitian dengan proses
ekstraksi menggunakan solvent n-Hexane, sehingga No. Komponen Nilai (%) Nilai (%)
perbandingan yang dilakukan oleh peneliti hanya Asam Lemak Hadipernata, Rahmania,O
menggunakan minyak hasil ekstraksi menggunakan M 2004
solvent n-hexane. 2006
1. Capric - -
Dari hasil penelitian dan banyaknya literatur
2. Myristic - 0.3366
mengenai ekstraksi dedak padi menjadi minyak 3. Palmitic 21.5 17.2096
mentah dedak padi, ternyata solvent yang paling 4. Palmitoleic - -
banyak digunakan adalah n-hexane, dan ini telah 5. Heptadecanoic - -
terbukti dari data penelitian dan analisa yang telah 6. Stearic 2.9 1.7112
ditampilkan oleh peneliti pada tabel-tabel diatas. 7. Oleic 38.4 45.7510
8. Linoleic 34.4 33.4208
Kandungan Asam Lemak dalam Minyak Mentah 9. Linolenic 2.2 0.3645
Dedak Padi (CRBO) 10. Arachidic - 1.2063
11. Eicosaenoic - -
Minyak dedak padi mengandung beberapa
12. Behenic - -
jenis lemak, yaitu 47% lemak monounsaturated, 33%
lemak polyunsaturated, dan 20% saturated serta asam
Dari beberapa hasil penelitian para
lemak yaitu, asam oleat 38.4%, linoleat 34.4%,
peneliti diatas, maka dapat diketahui bahwa
linolenat 2.2 %, palmitat 21.5%, stearat 2.9%
asam lemak yang terkandung dalam minyak
(Hadipernata, 2006).
mentah dedak padi (crude rice bran oil)
Untuk mengetahui berbagai komponen yang
didominasi oleh asam oleat dan asam
terkandung dalam minyak mentah dedak padi perlu
linoleat dengan kandungan berkisar antara
dilakukan analisa dengan menggunakan alat Gas
72 - 79 % dari berat minyak dedak.
Cromatography, karena keterbatasan alat, maka
peneliti tidak dapat melakukan pemeriksaan
komponen asam lemak, sehingga peneliti hanya V. KESIMPULAN DAN SARAN
mampu menampilkan hasil analisa gas kromatografi
yang berasal dari berbagai hasil Kesimpulan
penelitian,diantaranya hasil penelitian (Tahira R.et Dari hasil penelitian dan pembahasan
al.2007), hasil penelitian (Rahmania,O.2004) dan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
(Hadipernata, M.2006. Balai Besar Penelitian dan 1. Waktu optimum yang dibutuhkan
Pengembangan Pascapanen Pertanian) yang untuk proses stabilisasi dedak adalah
ditampilkan pada Tabel 12 berikut: selama 15 menit pada temperatur
110oC.
2. Lamanya waktu ekstraksi minyak
mentah dedak padi tidak menunjukkan
pengaruh yang signifikan terhadap
rendemen minyak mentah dedak padi,
sehingga waktu optimum yang
dibutuhkan untuk proses ekstraksi

Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009 9


dedak padi adalah selama 1 jam pada Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi
temperatur didih pelarut (solvent) Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta :
3. Rendemen minyak dedak yang dihasilkan dari Universitas Indonesia Press.
ekstraksi menggunakan n-hexane adalah
Mardiah, dkk. 2006. Pengaruh Asam
sebesar 18,34 %, dengan densitas 0,889 g/ml
Lemak. Dan Konsentrasi Katalis Asam
dan % FFA sebesar 44,56 %. Rendemen
Terhadap Karakteristik dan Konversi
minyak dedak yang dihasilkan dari ekstraksi
Biodiesel Pada Transesterifikasi Dedak
menggunakan ethanol adalah sebesar 13,60 %,
Padi. Institut Teknologi Sepuluh
dengan densitas 0,815 g/ml dan % FFA sebesar
November (ITS) Surabaya.
39,76 %. Pelarut (solvent) berupa n-hexane
merupakan pelarut yang paling banyak Mc Cabe, et al. 1985. Operasi Teknik
digunakan dan juga memberikan hasil Kimia. Jakarta : Erlangga.
rendemen minyak yang baik dari segi kuantitas
maupun kualitas dibandingkan pelarut ethanol. Marshall, Wayne. Rice Science and
Technology. Lousiana
Perry, R.H and C.H. Hilton (eds). 1973. The
Saran Chemical Engineers Handbook. 5th.
1. Minyak mentah dedak padi mengandung berbagai p.2-7 to 2.47. New York : McGraw
macam jenis lemak, asam lemak, vitamin dan Hill Book Company.
juga antioksidan yang bermanfaat apabila
dikonsumsi sehingga perlu dilakukan penelitian Suparyono. 1993. Padi. Jakarta : Penebar
lebih lanjut agar ditemukan proses berikutnya Swadaya. Hal. 19-27
yang lebih baik lagi sehingga minyak mentah Tahira R, et al. 2007. Characterization Of
dedak padi dapat digunakan sebagai edible oil Rice Bran Oil.
dan dapat diproduksi di Indonesia.
2. Melihat besarnya kandungan asam oleat dan Treybal, Robert. 1980. Mass Transfer
linoleat dalam minyak mentah dedak padi, maka Operation. Singapore. McGraw Hill
memungkinkan untuk dihasilkannya biodiesel , 2008. Tumbuhan Untuk Manusia.
berkarakteristik baik dan hal ini perlu dilakukan Malaysia. Diakses pada 7 Februari 2008
penelitian lebih lanjut mengingat melimpahnya dari http://www.google.com/padi
dedak yang ada di Indonesia dan besarnya
kebutuhan biodiesel.

DAFTAR PUSTAKA

Brown,G.G, et al. 1950. Unit Operation. Wiley. New


York
Hadipernata, M. 2006. Mengolah Dedak Menjadi
Minyak (Rice Bran Oil). Bogor :
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Pascapanen Pertanian.

10 Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16, April 2009