Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara dengan wilayah yang luas dan mempunyai
berbagai kekayaan alam yang melimpah. Jerami merupakan salah satu sumber
lignoselulosa untuk pembuatan bioetanol. Produksi jerami di Indonesia pada tahun 2015
berkisar antara 83,8 juta ton. Dengan jumlah yang cukup besar tersebut, jerami dapat
menjadi salah satu alternatif bahan baku etanol yang cukup bagus di Indonesia karena
memang ketersediaan jerami tersebar di seluruh wilayah indonesia. Dimana mayoritas
wilayahnya digunakan dalam segi pertanian terutama bercocok tanam padi yang notabene
jerami didapatkan dari sisa penanaman padi.

Kebutuhan energi dunia termasuk Indonesia didalamnya semakin meningkat dari


tahun ke tahun. Lebih dari 80% kebutuhan energi dunia dipenuhi oleh bahan bakar fosil
yang berasal dari minyak bumi dan gas alam. Tingkat pertumbuhan pemakaian energi
bahan bakar minyak (BBM) di negara kita cukup tinggi yakni mencapai 5,6% per tahun.
Namun sangat disayangkan peningkatan energi ini tidak disertai dengan produksi energi
yang memadai. Saat ini, produksi bahan bakar sektor migas semakin menurun karena
sumbernya yang semakin menipis di lapisan bumi. Kita tidak mungkin terus
mengandalkan minyak bumi sebagai pasokan energi karena minyak bumi adalah sumber
energi yang tidak dapat diperbaharui dan suatu saat akan habis. Pengembangan bioethanol
dari jerami merupakan salah satu energi alternatif yang cukup berpotensi untuk
diterapkan di Indonesia. Selain karena sumber bahan bakunya yang melimpah di negara
kita, produksi bioetanol dari jerami juga ramah lingkungan serta membutuhkan biaya
yang relatif murah. Bioethanol dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar substitusi bensin
dan sebagai bahan campuran premium. Ethanol juga dapat dicampur secara langsung ke
dalam bensin dengan campuran 10% etanol dan 90% bensin yang biasa disebut gasohol.
Ditinjau dari besarnya manfaat bioethanol sebagai bahan alternative. Pemerintah
Indonesia, dalam hal ini Kementrian Negara Riset dan Teknologi telah mentargetkan
pembuatan minimal satu pabrik biodiesel dan gasohol (campuran gasolin dan alkohol)
pada tahun 2005-2006. Selain itu, ditargetkan juga bahwa penggunaan bioenergy tersebut

1
2

akan mencapai 30% dari pasokan energi nasional pada tahun 2025. Tidak hanya sebagai
bahan bakar alternative, bioethanol juga berguna untuk berbagai industri kimia antara
lain industry cat, mebel, food, farmasi, dan textile sebagai bahan baku ataupun bahan
pembantu.

Menurut data komoditi impor dari Badan Pusat Statistik, rata rata Indonesia
mengimpor sekitar 2.813,772 ton/tahun bioethanol dari berbagai negara setiap tahunnya,
sampai saat ini Indonesia mengandalkan import dari negara seperti dari Kanada,
Venezuela, Italia, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris. Data impor dari Badan
Pusat Statisik juga menunjukkan peningkatan dari tahun ketahun untuk komoditi tersebut.
Saat ini untuk menyuplai kebutuhan dalam negeri yang rata-rata kebutuhannya sekitar
5000 ton/thn ada beberapa produsen dalam negeri yang sudah ada yang dapat menyuplai
kebutuhan dalam negeri antara lain PT Medco Ethanol Indonesia dengan kapasitas
produksi 60.000 ton/tahun dan masih banyak pabrik lain yang tersaji pada table 1.4.
Dengan demikian pabrik bioethanol di Indonesia layak untuk didirikan untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri serta mengurangi import dan sisanya dapat di ekspor untuk
menambah devisa negara.

1.2. Maksud dan Tujuan Prarancangan Pabrik


Pendirian pabrik bioethanol mempunyai maksud sebagai berikut:
1. Pemberdayaan jerami padi di Indonesia yang sangat melimpah sehingga
masih bisa dimanfaatkan kembali dan menambah nilai jual.
2. Menumbuh kembangkan industri-industri yang menggunakan bahan baku
bioethanol
3. Menerapkan ilmu teknik kimia khususnya di bidang prarancangan, proses,
dan operasi teknik kimia sehingga dapat memberikan gambaran kelayakan
prarancangan pabrik pembuatan bioethanol.

Adapun tujuan dari pendirian pabrik pembuatan bioethanol ini adalah sebagai
berikut:
1. Dengan adanya pabrik ini diharapkan dapat membangun ekonomi
masyarakat di sekitar pabrik dan membuka lapangan kerja baru yang berarti
turut mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.
3

2. Mengurangi ketergantungan pada negara asing.


3. Meningkatkan pendapatan negara dari sektor industri, serta menghemat
devisa negara dengan cara mengekspor barang keluar negeri.

1.3. Analisa Pasar dan Perencanaan Kapasitas Produksi

Kapasitas produksi merupakan jumlah produk yang dihasilkan dalam waktu


satu tahun. Di Indonesia, kebutuhan bioethanol dipenuhi dengan cara mengimport
dari negara-negara lain, misalnya Kanada, Venezuela, Italia, Belanda, Amerika
Serikat, Jepang, dan Inggris serta produsen dalam negeri. Dalam penentuan
kapasitas pabrik bioethanol, hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai
berikut:
1. Proyeksi kebutuhan bioethanol dari tahun ke tahun di Indonesia.
2. Ketersedian bahan baku.
3. Kapasitas produksi minimum.

1.3.1 Analisa Pasar

Analisa pasar untuk ethanol sangat diperlukan untuk memenuhi permintaan atau
kebutuhan pasar. Di Indonesia pabrik ethanol sudah beroperasi tetapi kebutuhan ethanol
rata-rata pertahun mengalami peningkatan seperti terlihat pada tabel 1.1

Tabel 1.1 Kebutuhan bioethanol di Indonesia 2011 2015

Produk Dalam Kebutuhan


No Tahun Import
Negeri (ton)

1 2011 2887.890 5000 7887,89


2 2012 2245.760 5000 7245,76
3 2013 2976.880 5000 7976,88
4 2014 3012.670 5000 8012,67
5 2015 2945.660 5000 7945,66
Rata rata 2813.772 5000 7813,772

(Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015)


4

Oleh karena itu, dalam menyongsong era industrialisasi yang merupakan


program pemerintah yang sangat penting dalam rangka proses alih teknologi dan
membuka lapangan pekerjaan yang baru serta untuk penghematan devisa negara
dan untuk merangsang pertumbuhan industri kimia yang lain, maka perlu dibangun
pabrik bioethanol untuk mencukupi kebutuhan bioethanol dalam negeri.
Pendirian pabrik bioethanol di Indonesia dapat dilakukan dan akan dipasarkan
pada pabrik-pabrik industri kimia seperti pabrik pembuatan fenol, aceton,
polycarbonate industri nylon, dan industri epoxy yang memungkinkan kebutuhan
akan bioethanol semakin meningkat.
Berdasarkan kebutuhan bioethanol tersebut, untuk mencari kebutuhan import
dapat dikorelasikan dengan persamaan mengunakan metode Least Square Time dan
metode grafis.
1.3.2 Perencanaan Kapasitas Produksi

Estimasi kebutuhan nasional pada tahun tersebut dapat diketahui garis regresi
linier dengan menggunakan metode Least Square dari data pada tebel 1.1. Metode Least
Square atau Metode Kuadrat Terkecil digunakan untuk mendapatkan penaksir koefisien
regresi linier.
Dari data tabel 1.1, proyeksi bioethanol kebutuhan di masa yang akan datang
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
y=a+b( )

(Vincenzo, 2010)

Metode Least Square Time :

a= (harga rata-rata y)

b=
5

Tabel 1.2 Data Perhitungan Persamaan Kebutuhan Ethanol di Indonesia

Tahun X x2 Y xy y2
2011 1 1 2887.89 2887.89 8339908.65
2012 2 4 2245.76 4491.52 5043437.98
2013 3 9 2976.88 8930.64 8861814.53
2014 4 16 3012.67 12050.68 9076180.53
2015 5 25 2945.66 14728.3 8676912.84
Jumlah 15 55 14068.86 43089.03 197932822
rata2 3 11 2813.772 8617.806 7999650.91
Berdasarkan data yang diperoleh dari tabel 1.2 maka persamaannya adalah:

=3; =2813.772 ;

Metode Least Square menggunakan persamaan :

Dimana:

(harga rata-rata y)

2813.772

dan
6

Dengan keterangan sebagai berikut:


Y = kebutuhan ethyl acrylate (ton/tahun)
X = Indeks periode/tahun
a = axis intercept
b = slope of regression
n = jumlah data
= rata-rata x

= rata-rata y

Sehingga diperoleh persamaan regresi linier dengan metode Least Square:


y=a+b( )

y = 2813.772 + 88.245 (x 3)
y = 2549.037 + 88.245 x

Contoh perhitungan :
Dengan menggunakan persamaan diatas maka proyeksi kebutuhan 2015 adalah :
Y2016 = 2549.037 + 88.245 (6) = 3078.507 ton
Untuk proyeksi kebutuhan tahun mendatang dengan cara yang sama maka
dapat diperkirakan kebutuhan bioethanol di Indonesia pada tahun 2016-2030
tercantum pada tabel berikut:
7

Tabel 1.3 Proyeksi Kebutuhan bioethanol di Indonesia tahun 2015-2030


Proyeksi (Y)
Tahun Tahun ke- (x)
(ton/thn)
2016 6 8078.507
2017 7 8166.752
2018 8 8254.997
2019 9 8343.242
2020 10 8431.487
2021 11 8519.732
2022 12 8607.977
2023 13 8696.222
2024 14 8784.467
2025 15 8872.712
2026 16 8960.957
2027 17 9049.202
2028 18 9137.447
2029 19 9225.692
2030 20 9313.937
Kapasitas pabrik yang didirikan harus diatas kapasitas minimum pabrik atau minimal
sama dengan pabrik yang berjalan. Untuk pertimbangan kapasitas, dapat dilihat dari
beberapa pabrik yang sudah berdiri pada tabel 1.4.

Tabel 1.4 Proyeksi Kapasitas Perusahaan Bioethanol Di Beberapa Negara

KAPASITAS
NO NAMA PERUSAHAAN LOKASI
(TON/TAHUN)
1 PT Molindo Raya Lawang, Indonesia 50.000
2 PT Indo Lampung Distilery Lampung, Indonesia 50.000
3 PT Indo Acidatama Solo, Indonesia 45.000
4 PT Aneka Kimia Mojokerto,Indonesia 17.000
5 PT Madu Baru Yogyakarta, Indonesia 7.000
6 PT Medco Ethanol Indonesia Lampung, Indonesia 60.000
7 PSA Palimanan Cirebon, Indonesia 7.000
8 Basis Indah Makassar, Indonesia 5.500
9 Permata Sakti Medan, Indonesia 5.000
10 Humpus Lampung, Indonesia 60.000
11 Thinh Cuong Co, Ltd Vietnam 20.000
12 Shanghai Hungsun Chemical Co., Ltd China 10.000
13 Duy Minh Company Vietnam 30.000
14 Taian Gaeodeng Trade China 15.000
15 Grand GMBH Germany 50.000
16 Darlip Corp SRL USA 50.000
8

Dari data tabel proyeksi kebutuhan bioethanol di Indonesia dan proyeksi


kapasitas perusahaan bioethanol maka prarancangan pabrik ini direncanakan
dengan jumlah kapasitas 5.000 ton/tahun yang dimulai pada tahun 2018 dengan
pertimbangan sebagai berikut:
a) Kebutuhan bioethanol yang semakin meningkat dari tahun ke tahun dapat dilihat
pada tabel 1.3 Dengan kebutuhan bioethanol 8078,50 ton pada tahun 2016 terus
meningkat setelah dilakukan pehitungan dan diperoleh 8254,99 ton kebutuhan
ditahun 2018, dan terus meningkat setiap tahunnya. Sehingga didapat peluang
pasar sebesar 3431,48 ton pada tahun 2020.
b) Walaupun proyeksi kebutuhan rata-rata bioethanol adalah 3056 ton/tahun,
namun berdasarkan referensi perusahaan bioethanol paling kecil dengan
kapasitas 5000 ton/tahun dan paling besar 60000 ton/tahun. Maka akan dibuat
dengan kapasitas 5000 ton/tahun dikarenakan peluang pasar sebesar 3431,48
ton/tahun maka sisa dari peluang pasar akan di ekspor.
c) Ketersediaan bahan baku Produksi jerami di Indonesia pada tahun 2015 berkisar
antara 83,8 juta ton. Dengan jumlah yang cukup besar tersebut, jerami dapat
menjadi salah satu alternatif bahan baku etanol yang cukup bagus di Indonesia
karena memang ketersediaan jerami tersebar di seluruh wilayah indonesia.

Gambar.1.1 Grafik proyeksi kebutuhan dan ketersediaan bioethanol


9

1.4 Pemilihan Lokasi


Lokasi serta letak pabrik sangat berpengaruh sebagai faktor yang penting
sebelum didirikannya suatu pabrik. Pemilihan lokasi pabrik merupakan salah satu
masalah pokok yang menunjang kelangsungan dan perkembangan pabrik yang akan
didirikan, terutama pada aspek-aspek baik secara teknis, geografis maupun
ekonomis, sehingga penentuan lokasi dan letak pabrik ini memiliki banyak faktor
yang harus diperhatikan. Secara teoritis pemilihan lokasi pabrik dapat dibedakan
menjadi 2 jenis, yaitu faktor primer dan faktor sekunder.

1.Faktor Primer
Faktor primer merupakan faktor yang menentukan kelancaran proses
produksi dan distribusi produk sampai pada konsumen. Faktor faktor primer ini
meliputi :
a. Ketersediaan bahan baku
b. Letak terhadap pasar
c. Sarana dan prasarana, meliputi utilitas dan transportasi.
d. Tersedianya tenaga kerja
2. Faktor Sekunder
Faktor sekunder adalah faktor yang sebaiknya ada tetapi bila tidak ada maka
operasional pabrik masih dapat diatasi dengan biaya yang lebih tinggi. Faktor
sekunder yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Buangan Pabrik
b. Tanah dan iklim
c. Kemungkinan perluasan pabrik
d. Keadaan mayarakat
Setelah kami mempelajari dan menimbang beberapa faktor yang
mempengaruhi pemilihan lokasi pabrik, maka ditetapkan lokasi pabrik bioethanol di
daerah Lamongan, Jawa Timur. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
pemilihan lokasi pabrik ini antara lain:

1.4.1 Ketersediaan bahan baku


Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi bioetanol adalah jerami,
sehingga ketersediaannya merupakan interpretasi dari jumlah beras yang
mampu dihasilkan antara lain :
10

a. Propinsi Jawa Timur karena berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun
2012, Jawa Timur merupakan penghasil beras terbesar di Indonesia yaitu
sebesar 100.357.203 ton/tahun. Sedangkan kabupaten yang memiliki produksi
rata-rata terbesar adalah Lamongan yaitu 56,25 kuintal/ha. Hal ini akan
menjamin kontinuitas proses produksi pabrik bioetanol, selain akan didukung
oleh beberapa daerah penghasil padi di sekitar Kabupaten Lamongan.
b. Propinsi Jawa Barat tepatnya kabupaten Karawang karena dari sector
pemasaran memang karawang cenderung banyak industri dan menurut Badan
Pusat Statistik pada tahun 2012, Jawa Barat merupakan penghasil kedua
terbesar di Indonesia sebesar 90.567.784 ton/tahun dan rata-rata karawang
memproduksi beras 51,33 kuintal/ha.

1.4.2 Pemasaran
Produk yang dihasilkan oleh suatu pabrik harus dipasarkan. Letak pasar
yang relatif dekat akan mempermudah pihak pabrik, dan dapat menekan biaya
transportasi yang harus dikeluarkan. Adapun sasaran dari pemasaran Bioethanol
ini adalah industri kimia baik pangan, farmasi, pakaian, cat dan bioethanol dapat
digunakan sebagai bahan bakar alternatif dimana industri kimia hampir semua
menggunakan ethanol.
Tabel 1.5 Konsumen Bioethanol
No Kosumen Lokasi Produksi
1 PT. Kalbe Farma Jakarta Farmasi
2 PT. Ajitex Surabaya Pakaian
3 PT. Indofood group Saurabaya Food
4 PT. Nippon Paint Surabaya Cat
5 PT. Indah kiat pulp&paper Tangerang Kertas
6 PT. Tjiwi kimia Jakarta Kertas
7 PT. Propan Tangerang Cat
8 PT. Jotun Surabaya Cat
9 PT. atlantic ocean paint Surabya Cat
Sumber : BPPT, 2014
11

1.4.3 Transportasi
Kabupaten Lamongan merupakan daerah yang menghubungkan beberapa
kabupaten di Propinsi Jawa Timur seperti Gresik, Tuban, dan Bojonegoro
sehingga dilengkapi oleh fasilitas jalan raya antar propinsi yang akan
memudahkan transportasi darat. Selain itu, jarak Kabupaten Lamongan terhadap
pelabuhan Tanjung Perak yang terletak di Surabaya juga tidak jauh akan
mempermudah jika dibutuhkan pengangkutan dengan jalur laut. Bahkan
pemerintah Kabupaten Lamongan saat ini dalam pembangunan pelabuhan
Lamongan Integrated Shorebase di daerah yang berbatasan langsung dengan
laut utara yang tentunya akan menguntungkan pabrik karena akan menekan biaya
transportasi.

1.4.4 Kebutuhan utilitas


Utilitas yang diperlukan adalah air, bahan bakar dan listrik, karena
Lamongan berada di Surabaya dan sudah tersuplai , maka kebutuhan tersebut
mudah untuk di dapat. Untuk kebutuhan air dapat di penuhi oleh Unit Pengolahan
Air sehingga dapat digunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhannya.
Kabupaten Lamongan dilalui oleh Sungai Bengawan Solo yang mengalir
sepanjang tahun sehingga diharapkan mampu menyuplai kebutuhan air di pabrik
bioetanol. Apalagi saat ini mampu menyuplai kebutuhan air PT. Petrokimia
Gresik yang berlokasi di Kabupaten Gresik. Di tambah penunjang ketersediaan
bahan baku sangat dominan di daerah lamongan

1.4.5 Tenaga Kerja


Pabrik bioetanol ini membutuhkan tenaga kerja yang jumlahnya relatif
cukup banyak, sehingga dapat direkrut dari masyarakat Kabupaten Lamongan
yang sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik di luar kabupaten. Dengan
adanya pabrik di Kabupaten Lamongan, maka akan menarik minat masyarakat
untuk bergabung menjadi karyawan karena akan menghemat biaya transportasi.
Selain itu, kondisi ini didukung oleh tingkat kehidupan masyarakat yang tidak
terlalu tinggi. Hal ini terlihat dari upah minimum regional berdasarkan Keputusan
Gubernur Jawa Timur adalah sebesar Rp. 1.575.000
12

1.4.6 Peraturan Pemerintah dan Keadaan Masyarakat


Kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemerintah akan sangat mempengaruhi
kelangsungan suatu pabrik. Keuntungan bisa diperoleh jika pemerintah
memberikan kemudahan kepada pihak pabrik, sedangkan pihak pabrik juga
memberikan konstribusi kepada pemerintah berupa pemasukan pajak serta dapat
menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat, sehingga dapat mengurangi
pengangguran.

1.4.7 Letak Geografis


Kondisi tanah yang relative masih luas dan merupakan tanah yang datar,
kondisi iklim yang relatif stabil sepanjang tahun sangat menguntungkan. Di
samping itu, Lamongan merupakan salah satu kawasan industri di Indonesia
sehingga pengaturan dan penanggulangan mengenai dampak lingkungan diharapkan
dapat dilaksanakan dengan baik. Lamongan memiliki iklim yang stabil dengan
temperatur rata rata 28oC yang akan mendukung kelangsungan produksi,
kenyamanan tempat, penyimpanan bahan baku, maupun penyimpanan produk serta
daya tahan peralatan pabrik.
Dari uraian di atas maka prarancangan ini akan didirikan di kawasan industri
Lamongan dengan pertimbangan sebagai berikut:
Letak pabrik dekat dengan adanya ketersediaan bahan baku, utilitas, dan
kemudahan transportasi untuk melakukan pemasaran produk ke industri
pengguna.
Ketersediaan sumber daya manusia
Letak geografis yang cukup memadai dikarenakan memiliki iklim yang
stabil yang akan mendukung kelangsungan produksi, kenyamanan tempat,
penyimpanan bahan baku, maupun penyimpanan produk serta daya tahan
peralatan pabrik.
13

LOKASI

Gambar 1.2 Peta Lokasi Pabrik Bioethanol