Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN

SISTEMATIKA HEWAN 2
JENIS-JENIS KELAS AVES DI KEBUN BINATANG SINKA ZOO
TANJUNG BAJAU, KECAMATAN SINGKAWANG SELATAN,
KOTA SINGKAWANG

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
Andi Novandi (H1041141017)
Elis Piolita (H1041141040)
Melvy Indrianasari (H1041141051)
Nela Amanda (H1041141016)
Ristamora Simagusong (H1041141006)
Robby Sahputra (H1041141047)
PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sinka Zoo adalah salah satu wisata Kebun binatang di Kota Singkawang.
Sinka zoo telah mengkoleksi beberapa jenis satwa. Total keseluruhan koleksi
satwa yang terdapat di Sinka Zoo ini berjumlah sekitar 275 ekor yang terdiri dari
aves sebanyak 137 ekor, mamalia sebanyak 117 ekor, dan reptil sebanyak 30 ekor.
Kelas Aves, diperkirakan terdapat 8.800-10.200 spesies burung di seluruh dunia.
Negara Indonesia ditemukan 1.500 jenis, serta 465 jenis terdapat di Pulau
Sumatera (Balai Taman Nasional Betung Kerihun, 2002).
Burung merupakan anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata)
yang memiliki bulu dan sayap, secara taksonomi hewan ini termasuk kelas Aves..
Habitat burung dapat mencakup berbagai tipe ekosistem, mulai dari ekosistem
alami sampai ekosistem buatan. Penyebaran yang luas tersebut menjadikan
burung sebagai salah satu sumber kekayaan hayati Indonesia yang potensial (Ayat,
2011).
Sinka Island Park Kalimantan Barat, khususnya Sinka Zoo yang terletak di
Kecamatan Sedau, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat memiliki topografi
berupa perbukitan, dan pohon-pohon yang tinggi sebagai habitat alami dari
sepesies kelas aves yang ada. Praktikum Lapangan Sistematika II kelas Aves yang
bertujuan untuk melihat perbandingan setiap spesies yang terdapat di Sinka Zoo,
Kecematan Sedau, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat. Praktikum Lapangan
ini menekankan mahasiswa Biologi untuk dapat membandingkan, serta
mengetahui ciri khas yang terdapat antara spesies, dan kelas-kelas hewan
Vetebrata yang lainnya.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari penjelasan yang telah dipaparkan diatas adalah sebagai
berikut :
1. Apa saja ciri khas secara umum kelas Aves?
2. Bagaimana cara membandingkan ciri-ciri dari setiap spesies kelas Aves?
3. Apa saja spesies-spesies dari kelas Aves yang terdapat di Sinka Zoo?

1.3 Tujuan
Tujuan dari Praktikum Lapangan kelas Aves adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui ciri khas secara umum kelas Aves.
2. Mengetahui cara membandingkan ciri- ciri dari setiap spesies kelas Aves.
3. Mengamati dan mengetahui spesies-spesies dari kelas Aves yang terdapat di
Sinka Zoo.

1.4 Manfaat
Praktikum Lapangan Sistematika Hewan II kelas Aves mempunyai manfaat
seperti, dapat mengetahui nama-nama latin serta lokal yang dijumpai di kawasan
Sinka Zoo, dapat mengetahui ciri-ciri pembanding antara spesies, mengetahui ciri
khas dari kelas Aves secara umum, dan mengetahui persamaan antar spesies dari
kelas Aves.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aves
Aves atau burung merupakan anggota keompok hewan bertulang belakang
(vetebrata) yang memiliki bulu, dan sayap. Taksonomi hewan ini termasuk
kedalam kelas Aves. Penyebaran di seluruh dunia, terdapat 8.800-10.200 spesies
burun di seluruh dunia. Negara Indonesia spesies dari kelas Aves, dapat ditemukan
1.500 jenis, serta 465 jenis terdapat di Pulau Sumatera (Taman Nasional Betung
Kerihun, 2000).
Keanekaragaman jenis burung dapat mencerminkan tingginya
keanekaragaman hayati pada suatu tempat, artinya burun dapat dijadikan sebagai
indikator kualitas hutan. Berbagai jenis burung dapat dijumpai pada berbagai tipe
habitat, diantaranya hutan primer, sekunder, hutan tropis, rawa-rawa, padang
rumput, pesisir pantai, tengah lautan, gua-gua batu, perumahan, di wilayah
perkotaan, agroforest, perkebunan kelapa sawit, karet, kopi, pekarangan, sawah,
dan lahan terlantar (Ayat, 2011).
Habitat burung dapat mencakup berbagai tipe ekosistem, mulai dari ekosistem
alami sampai ekosistem buatan. Penyebaran yang luas tersebut menjadikan
burung sebagai salah satu sumber kekayaan hayati Indonesia yang potensial.
Peranan burung dalam ekosistem sebagai indikator perubahan lingkungan (Jari,
1998).

2.2 Ciri Burung


Secara umum burung memiliki ciri-ciri yang besar keseragaman, dapat
dibedakan dengan hewan lainnya baik dari segi morfologi, maupun segi
anatominya. Ciri-ciri umum burung antara lain : (Ayat, 2011).
1. Tubuh seluruhnya ditumbuhi dengan bulu.
2. Mempunyai sayap yang merupakan hasil modifikasi dari kaki depan yang
berfungsi untuk terbang, kaki belakang berjalan atau bertengger.
3. Mulut berbentuk paruh tidak bergigi. Berfungsi untuk mematuk makanan.
4. Jantung memiliki 4 ruang, dan berdarah panas.
5. Tidak mengeluarkan urine, dan kotorannya berbentuk pasta.
6. Pembukaan terjadi di dalam tubuh berbentuk telur.

Gambar 2.1 Morfologi Burung Kuntul Besar (Egretta alba) Anggota Ordo
Ciconiiformes. (1) Mata, (2) Paruh, (3) Kepala, (4) Sayap, (5) Ekor, (6) Leher, (7)
Dada, (8) Jari kaki, (9) Kaki.

2.3 Aktivitas Burung


Aktivitas yang dilakukan burung antara lain makan, gerak atau pindah, vokal
(bersuara), istirahat, dan sosial. Aktivitas rinci yang dilakukan oleh burung
dijelaskan sebagai berikut :(Jati, 1998)
2.3.1 Aktivitas Makan
Makan merupakan rangkaian gerak dalam mencari, dan memilih pakannya
serta suatu pola yang tetap. Aktivitas yang dilakukan oleh burung berkaitan
dengan aktivitas mencari makan meliputi melangkah, berhenti melangkah,
mematuk mangsa, menelan mangsa, minum, berinteraksi dengan individu lain
sejenis (intraspesies), atau denan individu lain dari jenis yang berbeda
(interspesies). Pakan yang dibutuhkan burung dapat terlihat dari habitat dimana
burung itu berada.
a.) Burung-burung yang terdapat di hutan dapat mencari pakan pada bagian
kanopi pohon sampai lantai hutan. Sumber pakan bagi burung dapat berupa
bagian kanopi pohon, serangga, buah, biji, bunga, dan daun muda. Jenis pelatuk,
Burung Madu, Burung Enggang, dan Burung Alap-alap. Bagian lantai hutan,
makanan berasal dari biji yang jatuh, serangga tanah, dan daun muda dari pohon
muda. Jenis burung yang terdapat di lantai hutan antara lain Ayam Hutan, Burung
Paok, dan Burun Puyuh.
b.) Burung-burung habitatnya terdapat di padang rumput, pakannya berupa biji
rumput. Jenis burung yang ada di habitat padang rumput antara lain jenis pemakan
biji seperti Burung Bondol, Burung Pipit, dan Burung Gelatik.
c.) Burung yang berada di sekitar perairan sungai, dan danau, memperoleh pakan
berupa serangga air, ikan, dan kepiting. Jenis burung yang terdapat pada habitat
ini seperti Bebek, Burung Raja Udang, Burung Kuntul, dan Burung Walet.
2.3.2 Aktivitas Bersuara (Vokal)
Burung menghasilkan suara (vokal) berupa nyanyian, dan variasi nonvokal
atau bunyi yang dikeluarkan. Suara berupa variasi nonvokal dapat terlihat
misalnya pada Burung Pelatuk yang menghasilkan suara seperti drum. Suara ini
berasal dari paruhnya yang menghasilkan suara pada saat mencari pakan. Burung
Gagak jua menghasilkan suara yan berasal dari kepakan sayapnya pada saat
terbang.
Suara burung yang dihasilkan berasal dari suatu bagian organ, pada burung
yang disebut syrink. Bagian ini merupakan organ primer yang memproduksi
suara. Syrink ini berada pada bagian bronkus dari trakea. Trakea pada burung
berbentuk panjan seperti pipa, bertulang rawan berbentuk cincin. Bagian akhir
dari trakea ini bercabang menjadi dua bagian, yaitu bronkus kanan dan kiri.
Dalam bronkus pada pangkal trakea terdapat syrink yang pada bagian dalamnya
terdapat lipatan-lipatan berupa selaput yang bergetar. Suara yang diproduksi
akibat getaran dari membran tympani saat bernafas, dan tidak menghasilkan suara
selama burung menghirup udara.
2.3.3 Aktivitas Sosial
Perilaku sosial burung pada umumnya dijumpai terutama dalam upaya untuk
memanfaatkan sumber daya di habitatnya, selain itu juga untuk mengenali tanda-
tanda bahaya, dan melepaskan diri dari serangan pemangsa. Satwa yang hidup
bersama di suatu tempat akan mengadakan interaksi satu sama lain melalui
komunikasi dan hubungan sosial. Hubungan diantara individu satwa dibedakan
menjadi dua, yaitu :
a.) Hubungan intraspesifik, yaitu hubungan pada jenis yang sama.
b.) Hubungan interspesifik, yaitu hubungan pada jenis yang berbeda.
Berdasarkan hubungan sosial, interaksi dibedakan ke dalam tiga bentuk, yaitu :
a.) Kompetisi, terjadi apabila dua satwa mencari kebutuhan yang sama terhadap
suatu komponen dalam lingkungan hidupnya, sementara ketersediaan komponen
tersebut sangat terbatas.
b.) Kerja sama, terjadi apabila salah satu atau kedua individu yang lainnya saling
membutuhkan individu lainnya untuk memenuhi suatu kebutuhannya.
c.) Netral, apabila tidak terdapat kontrak atau saling mempengaruhi antara kedua
satwa tersebut.
2.3.4 Aktivitas Pindah atau Bergerak
Pergerakan adalah strategi dari individu ataupun populasi untuk
menyesuaikan, dan memanfaatkan keadaan lingkungannya agar dapat hidup, dan
berkembang biak secara normal. Pergerakan berfungsi untuk mencari pakan,
sumber air, dan untuk berkembangbiak ataupun untuk menghindar dari pemangsa,
dan gangguan lainnya.
Aktivitas burung dalam membuat sarang (roosting site), dan mencari makan
dilakukan ditempat yang berbeda, oleh karena itu berbagai jenis burung harus
melakukan perpindahan (bergerak). Aktivitas beristirahat, mencari makan, dan
berpindah, tempat (terbang) masing-masing spesies memiliki perilaku tersendiri.
Umumnya untuk burung nocturnal aktif mencari makan pada waktu senja tiba
(sore) hingga fajar (pagi). Aktivitas burung yang lain adalah loafing, yaitu
keadaan tidak bergerak yang meliputi berbagai perilaku seperti tidur (sleeping),
bertengger (sitting), berdiri (standing), membersihkan bulu (preening), dan buang
air (defecatting) yang dilakukan diluar musim berkembangbiak.

2.4 Identifikasi Aves

Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain.
Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari
epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu
aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis.
Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang
merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup
bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis
membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian
epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat
makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya (MacKinnon,
1993).
Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi filoplumae, plumae,
barbae, barbulae. Filoplumae adalah bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di
seluruh tubuh yang ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati
dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa
barbulae di puncak. Plumulae merupakan bulu yang berbentuk hampir sama
dengan filoplumae dengan perbedaan detail. Plumae, Bulu yang sempurna.
Barbulae, ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut
barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan
(Mackinnon, 1993).
Susunan plumae terdiri dari Shaft (tangkai), calamus, rachis, dan vexillum.
Shaft adalah poros utama bulu. Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu. Rachis, yaitu
lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga di dalamnya.
Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan.Vexillum, yaitu bendera yang
tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari rachis. Menurut
letaknya, bulu aves dibedakan menjadi Tectrices, rectrices, remiges, parapterum
dan ala spuria. Tectices merupakan bulu yang menutupi badan. Rectrices, bulu
yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya simetris dan berfungsi sebagai
kemudi. Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi menjadi remiges primarie
yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara metacarpal pada
metacarpalia. remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada radial
ulna,dan remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai kelanjutan
sekunder daerah siku. Parapterum, bulu yang menutupi daerah bahu. Ala spuria,
bulu kecil yang menempel pada ibu jari (MacKinnon, 1993).
Pergerakan aves terutama dijalankan oleh sayap dan kaki. Dapat
ditambahkan bahwa cauda berfungsi sebagai pengemudi dan sebagai suatu
permukaan untuk penyokong pada waktu terbang walaupun tidak dipergunakan
langsung sebagai pendorong. Pada gerakan bipedal titik gravitasi harus terletak di
atas kaki atau tepatnya diantara kedua kaki. Luas permukaan yang bersinggungan
dengan tanah mereduksi sedang digiti bertambah panjang untuk mencegah
hilangnya keseimbangan. Pada prinsipnya sehubungan dengan cara bergeraknya
pada berbagai spesies burung juga tidak sama maka modifikasi yang terjadi pada
skeleton dan elemen-elemen musculus pada berbagai spesies burung juga tidak
sama. Modifikasi yang terjadi ini terutama terhadap bentuknya, ukurannya, dan
sudut-sudutnya (MacKinnon, 1993)
Karakteristik tengkorak meliputi tulang-tulang tengkorak yang berfungsi
kuat, paruh berzat tanduk. Aves tidak bergigi, mata besar dan kondil okipetal
tunggal. Otak mempunyai serebrum dan lobus optikus yang berkembang baik,
mempunyai 12 pasang saraf cranial. Telinga tengah mempunyai sebuah osikel
auditori. Ada sebuah meatus auditori eksternal. Mata berkembang baik dengan
kelopak mata dan membranes niktitans. Pada mata terdapat struktur vascular
disebut pakiten yang terletak dalam rongga humor vitreas dan mempunyai
kelenjar air mata (MacKinnon, 1998)
Paruh aves terbentuk dari modifikasi maxilla pada rahang atas dan
mandibula pada rahang bawah. Pada luar rustrum dilapisi oleh pembungkus
berupa selaput tanduk. Paruh tidak memiliki gigi. Ada beberapa tipe paruh yang
dapat dijumpai antara lain skimming cutting (membelah dan memotong), tearing
(mencabik), holding ( memegang), drummingand drilling (memukul dan
menngerek), seed cracking (memecah biji) (MacKinnon, 1998).
Dasar yang penting untuk mengidentifikasi di lapangan ada beberapa cara
yaitu menentukan ukuran yang dapat dilakukan dengan membandingkan ukuran
burung yang telah dikenal secara umum, bentuk burung, mempunyai leher, ekor
pendek atau panjang, sayap pendek, membulat atau panjang dan runcing,
kemudian diperhatikan pula susunan warnanya, karakter paruh serta mengenali
suara (MacKinnon, 1998).

BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum lapangan Sistematika Hewan II tentang Aves, dilaksanakan pada
hari, Sabtu tanggal 17 Desember 2016 dan berlokasi di Sinka Zoo, Kecamatan
Singkawang Selatan. Waktu pelaksanaan praktikum lapangan, dimulai dengan
pengamatan langsung yang dilakukan pukul 09.30-15.00 WIB, dan dilanjutkan
dengan identifikasi di Laboratorium Jurusan Biologi Universitas Tanjungpura
Pontianak.

3.2 Deskripsi Lokasi


Praktikum Lapangan Sistematika Hewan II dilaksankan di Sinka Zoo. Sinka
Zoo terletak di Kecamatan Singkawang Selatan Kalimantan Barat. Sinka Zoo
menjadi pilihan pariwisata sekaligus menjadi tempat penelitian karena banyak
menyediakan berbagai macam jenis tumbuhan dan hewan yang ingin di teliti.
Jenis tumbuhan dan hewan yang di dapat sangat beragam. Pengamatan hewan
dilakukan dengan melihat langsung didalam kandang dan jenis tumbuhan diambil
tumbuhan yang langka saat perjalanan menuju ke tempat hewan di Sinka Zoo
Singkawang.

3.3 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan saat Praktikum Lapangan tentang Mamalia adalah alat
tulis, kamera Canon powershot G9X, kamera Oppo R782, kertas HVS, papan
ujian dan penggaris. Saat Praktikum Lapangan tentang Mamalia tidak
menggunakan bahan apapun.

3.4 Cara Kerja


3.4.1 Pengamatan
Pengamatan Mamalia di Sinka Zoo Singkawang dilakukan secara langsung
dengan memfoto dan menggambar objek yang dilihat serta memberikan
mendeskripsikan morfologi singkat pada bagian yang tampak. Pengamatan
dilakukan mulai dari kandang spesies satu ke kandang spies yang lainnya.
3.4.2 Identifikasi
Identifikasi dilakukan dengan melihat kunci determinasi dalam buku-buku
identifikasi yang ada ada di Laboratorium Zoology Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak serta melihat diwebsite
yang ada diinternet.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil dari praktikum lapangan Sistematika Hewan II acara aves dapat dilihat pada
tabel sebagai berikut :
Tabel 4.1.1 Jenis jenis burung yang di temukan di Sinka Zoo
No Kelas Keterangan Gambar
.
1. Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Mambruk
Victoria
2) Nama Spesies:
Goura victoria
3) Keterangan:
a) Kepala c g f
b
b) Paruh h
c) Mata
d) Ekor
e) Sayap
e
f) Leher
g) Jambul d

4) Morfologi:
Mambruk a
victoria adalah
burung endemik
papua. Burung ini
merupakan
spesies tersterial
dan suka mencuri
makanan di atas
permukaan tanah,
spesies ini
biasanya hidup
berpasangan atau
dalam kelompok.

2 Aves 1) Nama lokal : a. Gambar Keseluruhan


Kasuari a

2) Nama spesies:
b
Casuarius
casuarius f
3) Keterangan:
a) Casque
c
b) Leher d
c) Sayap e

d) Tarsus
e) Ekor
f) Mata
4. Morfologi
Kasuari adalah
satu-satunya
hewan
perbakakan (jenis
burung) yang
tersisa dimuka
bumi. Kasuari
ditanduk diatas
kepala nya yang
membantu
burung ini
sewaktu bejalan
di habitatnya
dihutan yang
lebat, memiliki
kaki yang sangat
kuat dan kuku
yang tajam.

3 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan


Burung Unta
a
2) Nama Spesies:
Struthion b
d
camelus
3) Keterangan: g
c
a) Kepala
b) Leher
c) Ekor
d) Paruh
f
e) Digiti
f) Tarsus
g) Mata e
4) Morfologi:
burung unta
merupakan
burung terbesar
yang masih
hidup. Dengan
ketinggian hingga
2.5 meter.terkenal
dengan
menyembunyikan
kepala mereka
didalam tanah
saat berhadapan
dengan bahaya.
Burng unta
merupakan
hewan berdarah
panas, dapat
berlari hingga
kecepatan 70 km
per jam.
4 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Merak Biru
2) Nama Spesies:
Pavo cristatus a
3) Keterangan: b
a) Kepala
b) Mata c

c) Paruh d
d) Kaki
f e
e) Badan
f) Ekor
4) Morfologi:
Merak biru
adalah burung
nasional Negara
india. Merak
jantan adalah
poligami spesies
memiliki
pasangan lebih
dari satu. Pada
musim berbiak ,
burung jantan
memamerkan
bulu ekornya
didepan burung
betina. Bulu-bulu
penutup ekor
dibuka
membentuk kipas
dengan bintik
berbentuk mata
berwarna biru.
5 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Elang bondol
2) Nama Spesies:
Haliastur indus
3) Keterangan:
a) Mata
b) Kepala
c) Paruh
d) Leher
e) Sayap
f) Tarsus a
g) Femur
b
i) Ekor
4) Morfologi:
c
Elang Bondol
(Haliastur indus) d
mempunyai e
karakteristik
f
tubuh berwarna
putih dan coklat h
pirang. Individu g e
dewasa pada
bagian (kepala,
leher dan dada)
berwarna putih,
bagian (sayap,
mantel, ekor dan
perut) berwarna
coklat terang, dan
terlihat kontras
dengan bulu
primer yang
berwarna hitam.
Seluruh tubuh
individu remaja
kecoklatan
dengan coretan
pada dada. Warna
berubah menjadi
putih keabu-
abuan pada tahun
kedua, dan
mencapai bulu
dewasa putih
bersih
6 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Merpati Putih
b
2) Nama Spesies:
c
Columba e
d
domestica
3) Keterangan: a
a) Kepala
b) Mata h f g
c) Leher
d) Sayap
e) Paruh
f) Tarsus
g) Digiti
h) Ekor
4) Morfologi:
Tubuh burung
merpati
(Columba
domestica)
terbagi atas
caput, cervix,
truncus dan
cauda. Caputnya
relatif kecil,
terdapat paruh
yang dibentuk
oleh maksilla dan
mandibula, nares
terletak pada
bagian lateral
paruh bagian
atas. Selain itu,
anggota badan
(extrimitas)
seluruhnya
tertutup bulu
kecuali pada
paruh dan
kakinya. Kakinya
dapat digunakan
untuk berjalan,
bertengger
maupun berenang
(dengan selaput
interdigital),
tidak bergigi dan
mempunyai
paruh yang
berbeda-beda
sesuai jenis
makanannya
7 Aves 1) Nama Lokal : a. Gambar Keseluruhan
Ayam Kalkun
2) Nama Spesies:
Meleagris sp.
3) Keterangan
a) Kepala a
b) Paruh b
c) Leher c
d) Mata
e) Sayap d

f) Digiti
g
g) Tarsus h
f
h) Ekor e
4) Morfologi:
Kalkun
merupakan
burung besar
yang terestial.
Burung ini
mempunyai pial
berwarna merah.
Bulu pada burung
ini berwarna
coklat dengan
beberapa garis
putih pada bagian
ekor. Kepala
berwarna biru
hingga leher

8 Aves 1) Nama Lokal : a. Gambar Keseluruhan


Ayam Hutan
Berjambul a
2) Nama Spesies: b

Rollulus rouloul c
3) Keterangan
e
a) Kepala
b) Leher f d

c) Sayap
d) Digiti
e) Tarsus
f) Ekor
4) Morfologi:
Burung ini
merupakan
burung puyuh
berukuran kecil,
dengan panjang
sekitar 25cm,
berkaki and kulit
sekitar mata
berwarna merah.

9 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan


Burung Nuri
d e
Bayan
a
2) Nama Spesies:
Eclectus roratus
3) Keterangan
a) Kepala
b) Paruh g
c) Leher
d) Mata b c f
e) Sayap
f) Digiti
g) Ekor
4) Morfologi:
Nuri bayan jantan
memiliki bulu
hijau, bawah
sayap dan sisi
dada berwarna
merah dan biru,
dan kaki
berwarna abu-abu
kehitaman. Paruh
atas berwarna
jingga kemerahan
dengan ujung
kuning, paruh
bagian bawah
berwarna hitam.
Burung betina
memiliki bulu
merah, dada dan
punggung biru
keunguan, dan
paruh berwarna
hitam
10 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Burung Makau
a
2) Nama Spesies:
b
Cyanopsitta spixi c
i d
3) Keterangan:
f
a) Kepala
b) Paruh e
c) Leher
d) Sayap
e) Ekor
f) Digiti
4) Morfologi:
Makau memiliki
bulu yang
lengkap dan
paruh yang
pendek. Spesies
ini mempunyai
sayap yang
panjang dan jari
terangkat dengan
cakar yang
runcing. Dilihat
dari bentuk
kakinya,
termasuk burung
bertengger
passerine dan
mempunyai ekor
yang panjang.
11 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Kakatua Jambul g
Kuning
b
2) Nama Spesies:
d
Cacatua
sulphurea c

3) Keterangan:
a) Kepala e

b) Paruh a f
c) Leher
d) Mata
e) Sayap
f) Ekor
g) Jambul
4) Morfologi:
Ciri khas burung
ini adalah jambul
atau mahkota di
ubun-ubun
dikepalanya.bulu
jambul ini bisa
ditegakkan.
Burung ini
memiliki paruh
yang bengkok
dan kuat.bentuk
kakinya
bersilangan.
12 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Cangak merah a
2) Nama
b
Spesies : Ardea
purpurea g

3) Keterangan:
d
a) Kepala
h
b) Leher f
e c
c) Sayap
d) Femur
e) Digiti
f) Tarsus
g) Ekor
4) Morfologi:
Burung yang
berwarna merah
kecoklatan tua ini
cenderung hidup
di lingkungan
yang dekat
dengan air dan
mencari makan di
lingkungannya
yaitu hewan-
hewan kecil yang
hidup di air.
Burung ini
terbang tidak
terlalu cepat
namun lurus ke
depan. Selain itu
selama terbang
burung ini akan
mengibaskan
sayapnya dengan
kuat dan teratur
lalu menjulurkan
kaki lurus ke
balakang dan
menarik lehernya
ke arah badan
13 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Burung Merak
Hijau
2) Nama Spesies: a

Pavo muticus b
3) Keterangan c
d
a) Kepala
b) Paruh f
c) Leher
d) Mata g
e) Sayap e
h
f) Tarsus
g) Ekor
4) Morfologi:
Merak hijau
mempunyai bulu
yang indah. Bulu-
bulunya berwarna
hijau keemasan.
Burung jantan
dewasa
berukuran sangat
besar dengan
penutup ekor
yang sangat
panjang. Di atas
kepalanya
terdapat jambul
tegak. Burung
betina berukuran
lebih kecil dari
burung jantan.
Bulu-bulunya
kurang
mengkilap,
berwarna hijau
keabu-abuan dan
tanpa dihiasi bulu
penutup ekor.
14 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Ayam Picen
2) Nama Spesies: d

Lophura
e
nycthemera
3) Keterangan: c
b
a) Kepala a
f
b) Paruh
c) Leher
d) Ekor
e) Sayap
f) Digiti
4) Morfologi:
Ayam Picen
memliki bulu
berwarna putih
pada bagian
dorsal tubuh,
warna hitam pada
bagian ventral
tubuh. Ayam ini
memiliki ekor
yang panjang dan
berwarna putih.
Kaki dan kepala
berwarna merah
15 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Parakit Matahari
a
2) Nama
d
Spesies :
Aratinga b
solstitialis
c
3) Keterangan
a) Kepala h f
g e
b) Paruh
c) Leher
d) Mata
e) Sayap
f) Digiti
g) Tarsus
h) Ekor
4) Morfologi:
Burung ini
memiliki warna
yang cerah
dimana pada
kepala hingga
ventral tubuh
berwarna jingga
kekuningan,
warna kuning
dengan hijau
pada sayapnya,
dan ekor
berwarna hijau.
Paruh bengkok
16 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Burung Beluk
Ketupa
d
2) Nama Spesies:
Bubo ketupu a
3) Keterangan b
a) Kepala e
b) Paruh
c
c) Leher
d) Mata f
e) Sayap
f) Ekor
4) Morfologi:
Burng hantu
Beluk Ketupa
merupakan
spesies burung
hantu berbadan
medium dengan
bulu unik di
bagian kepala
yang menyerupai
daun telinga yang
mengarah
horizontal.
Burung ini
memiliki warna
coklat dengan
garis hitam serta
sklera berwarna
kuning
17 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Rangkong Perut a
Putih
2) Nama Spesies:
Anthracoceros d
albirostris
3) Keterangan b
a) Tanduk
b) Paruh h g f e c
c) Leher
d) Mata
e) Sayap
f) Digiti
g) Tarsus
h) Ekor
4) Morfologi:
Burung
Rangkong Perut
Putih memiliki
paruh dan
pelindung kepala
berwarna kuning,
kepala berwarna
hitam, bagian
dorsal ditutupi
bulu hitam, dan
bagian kaki
ditutupi bulu
putih
18 Aves 1) Nama Lokal: a. Gambar Keseluruhan
Elang totol a
2) Nama Spesies: b
Accipiter c
trinotatus
3) Keterangan d
a) Kepala
b) Paruh
e
c) Leher f
d) Sayap
e) Digiti
f) Tarsus
4) Morfologi:
Elang ini
memiliki ciri
dimana bagian
dorsal ditutupi
bulu hitam,
ventral ditutupi
bulu berwarna
putih dengan
sedikit warna
merah muda yang
pudar dibagian
leher, sedangkan
pada ekor
terdapat dua
bintik berwarna
putih

4.2 Pembahasan
4.2.1 Ayam Kalkun (Meleagris sp.)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Famili : Phasianidae
Genus : Meleagris
Spesies : Meleagris sp.
Kalkun adalah hewan unggas (sejenis burung), asli Amerika Utara yang
sebenarnya telah dikonsumsi sehari-hari suku indian. Kalkun dalam klasifikasinya
termasuk dalam Filum Chordata, Sub Filum Vertebrata, kelas Aves, Ordo
Galliformes, Family Phasianidae, Sub Family Miliagris, Genus Meleagris,
Spesies Meleagris Gallopavo, Meleagris Silvestri, dan Meleagris Ocellata.
Kalkun liar hidup dalam kelompok-kelompok kecil di hutan dan makanannya
berupa serangga, biji-bijian dan buah-buahan yang jatuh dai pohon. Benua
Amerika sendiri terdapat banyak bangsa kalkun diantaranya Broad Breasted
Bronze, Broad Breasted White, American Mammoth Bronze, White Beltsville dan
Hybrid Indonesia memiliki beberapa varietas kalkun yang dikembangkan yaitu
jenis Broad Breasted Bronze, White Holland,dan kalkun cokelat.Varietas Broad
Breasted Bronze merupakan hasil persilangan Broad Breasted Bronze Large
dengan Broad Breasted White HollandI (Bibby, 1992).
Cara membedakan kalkun jantan dan betina dapat dilihat dari ukuran tubuh.
Kalkun jantan memiliki tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan kalkun
betina. Kalkun jantan memiliki bulu yang lebih indah dan memiliki snood yang
lebih panjang di atas kepalanya, sedangkan betina memiliki snood tetapi kurang
muncul dan warna bulu kurang berwarna-warni. Kalkun jantan juga diciri-cirikan
memiliki suara yang lebih keras dibandingkan dengan kalkun betina. Kalkun
jantan dan betina yang sudah dewasa kelamin akan menghasilkan telur tetas dan
anak kalkun yang baik dibandingkan dengan kalkun yang belum dewasa kelamin.
Pemeliharaan yang sempurna pada anak kalkun dapat diperoleh bobot badan pada
umur 16-24 minggu akan sama seperti yang dihasilkan oleh bibit yang lebih tua.
Begitu juga dengan fertilitas dan daya tetasnya (Bibby, 1992).

4.2.2 Ayam picen (Lophura nytchemera)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Famili : Phasianidae
Genus : Lophura
Spesies : Lophura nycthemera
Ayam picen berasal dari daerah pegunungan di daratan Asia Tenggara serta
bagian selatan dan timur China. Namun populasi ayam ini berkembang dengan
baik di Hawaii dan daerah lain di Amerika Serikat. Ukuran tubuhnya lebih besar
daripada ayam pegar emas maupun ayam pegar lady Seperti halnya ayam hias
lainnya, jenis kelamin ayam picen bisa dilihat dari warna bulu di tubuhnya. Ayam
jantan memiliki pola warna hitam dan putih, sedangkan betina memiliki warna
yang dominan cokelat. Ayam picen betina lebih kecil dibandingkan dengan yang
jantan, yang terbesar mampu mencapai sekitar 28 inci (70 cm). Baik jantan dan
betina punya kaki merah dan muka merah (Bibby, 1992).
Ayam picen memiliki 15 subspesies dan kebanyakan dari mereka relatif
berbeda. Ayam picen jantan subspesies terbesar memiliki panjang total minimal
120-125 cm, dengan ekor yang dapat mencapai 30 inci (75 cm). Sedangkan yang
terkecil dari subspesies ini mencapai 28 inci (70 cm), dengan ekor hingga 12 inci
(30 cm). ayam picen menyukai buah-buahan, tetapi juga sering memakan
serangga dan hewan invertebrata seperti keong atau siput. Mereka sering terlihat
makan pada pagi dan malam hari. Meski bisa terbang, ayam pegar perak jarang
melakukannya, kecuali jika dalam keadaan terancam atau terganggu saja (Beebe,
1918). Ayam picen dikenal agresif dan memiliki mental pemberani. Mereka akan
menyerang siapapun yang mencoba mengganggunya. Meski demikian, ayam ini
justru paling mudah ditangkarkan. Musim kawinnya bervariasi dan mereka
bersarang di tanah. Spesies ini dikenal berkembang biak dalam kelompok kecil
dan anak-anak burung picen akan menetas selama musim hujan. Induk betina bisa
menghasilkan telur sebanyak 6 - 9 butir, yang akan dierami dan menetas setelah
25 - 26 hari (Bibby, 1992).

4.2.3 Burung Makau (Cyanopsitta spixii)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Psittaciformes
Famili : Psittacidae
Genus : Cyanopsitta
Spesies : Cyanopsitta spixii
Burung makau adalah jenis burung yang hias dan memiliki bulu berwarna
cerah serta merupakan anggota keluarga burung nuri (parrot). Burung macaw
mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat dengan burung parkit dan burung
kakaktua. Makaw merupakan burung asli dari Meksiko, Amerika Tengah,
Amerika Selatan dan Karibia. Burung Macaw terutama hidup di hutan hujan dan
berawa, mereka membuat sarang di pohon yang sangat tinggi untuk menghindari
predatornya. namun ada juga spesies yang lebih menyukai habitat perkebunan
atau savana. Hewan ini merupakan burung yang hidup berkelompok dan
berpasangan. Umumnya mereka akan membentuk kawanan besar selama tinggal,
dan membentuk kelompok kecil saat mencari makan. Burung ini sangat sensitive
dengan adanya tanda bahaya yang dapat berupa gerakan, maupun suara. Hewan
ini merupakan jenis satwa pemakan biji-bijian (frugivorus). Burung ini memakan
berbagai macam biji-bijian, seperti rumput, padi-padian, maupun buah-buahan
(Bibby, 1992).
Burung makau ini memiliki panjang tubuh sekitar 81,28-91,44 cm, berat
tubuhnya sekitar 900- 1814 g, dan rentang sayapnya mencapai 104,14-114,3 cm.
Bagian dorsal tubuhnya berwarna hijau, sedangkan bagian ventral tubuhnya
memiliki warna kuning hingga oranye. Keningnya memiliki warna hijau zaitun,
leher, kaki dan paruhnya berwarna hitam, bulu bagian wajah di belakang paruh
dan sekitar mata berwarna putih dengan corak garis-garis berwarna hitam.
Kematangan seksual burung macau jantan dan betina terjadi setelah berumur 3
atau 4 tahun. Musim kawin terjadi terjadi dua tahun sekali. Burung betina mampu
menghasilkan 2-3 butir telur dan di tempatkan di sarangnya yaitu di pohon yang
tinggi dan di lubang kayu yang telah dibuat oleh hewan lain (Bibby, 1992).

4.2.4 Sun corner (Aratinga solstitialis)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Psittaciformes
Famili : Psittacidae
Genus : Aratinga
Spesies : Aratinga solstitialis
Aratinga solstitialis merupakan burung yang berasal dari Amerika Selatan
dan memiliki warna tubuh utama kuning, kuning orange, selain itu dan warna
pendukung di bagian tubuh lain yaitu merah, biru, dan hijau. Aratinga Solstitialis
termasuk burung pemakan buah dan memiliki ukuran lebar sayap yaitu 30 cm
serta berat tubuhnya antara 120 130 gram. Tipe paruh Aratinga Solstitialis
pemakan buah yaitu paruh tajam, kuat berkait, paruh bagian atas bersendi pada
tengkorak. Tipe kaki bertengger zygodactila yaitu dua jari ke muka dan dua jari ke
belakang. Matanya berwarna hitam dan berbentuk bulat pada pupilnya, paruhnya
berwarna hitam, sayapnya berwarna kuning pada bagian sayap tersier dan sayap
primer berwarna hijau, warna bulu pada wajah bagian lateral sampai bagian
ventral tubuh berwarna merah ke orange, ada pula yang berwarna kuning bulunya
pada bagian ventral, disekitar matanya dikeliling bulu yang membulat berwarna
putih, bulu pada bagian kepala dorsal sampai badan berwarna kuning. Ciri
khasnya juga dapat menirukan ucapan atau kata seseorang bila dilatih (Bibby,
2000).
Sun corner hidup didaerah Amerika Selatan dan merupakan daerah yang
relatif kecil di Amerika Selatan yaitu di utara Brazil, dan selatan Guyana. Sun
corner hidup pada daerah tropis kadang juga dapat hidup didaerah savana basah.
Seperti anggota genus Aratinga lainnya, Sun corner merupakan burung yang
hidup dalam kelompok besar yaitu dapat mencapai 20-30 per kelompok. Mereka
sangat jarang memisahkan diri dari melompok apabila terpisah dari kelompok
mereka akan berteriak dalam suara yang tinggi yang dapat terdengar sampai 100
yard sehingga dapat terdengar dan kembali ke kelompoknya. Mereka dapat
menggunakan kakinya seperti tangan untuk mengambil atau memakan. Sun
corner merupakan burung yang cerdas dan memiliki rasa ketertarikan yang tinggi,
burung ini dapat berbicara dan mempelajari trik yang diajarkan secara cepat
(Bibby, 2000).

4.2.5 Kasuari (Casuarius casuarius )


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Struthioniformes
Famili : Casuariidae
Genus : Casuarius
Spesies : Casuarius casuarius
Burung kasuari ini memiliki morfologi yang cukup unik dan indah. Jenis
kasuari memiliki warna bulu coklat muda dengan garis tebal coklat tua membujur
sepanjang badan. Kasuari jenis ini pada saat berdiri memiliki tinggi 1,2 -1,5 m
dengan berat lebih dari 60 kg. Bentuk badan betina lebih besar dibandingkan
jantan dengan warna yang lebih terang dan gelambir yang lebih panjang. Kasuari
memiliki sepasang kaki yang kuat dan kokoh beruas dan tiga jari depan dengan
kuku tajam, sayap tidak tumbuh sempurna dan sangat kecil sehingga tidak dapat
terbang. Kulit wajah dan kepala berwarna biru sampai keunguan dengan
bercampur merah atau kadang-kadang kuning. Mahkota tinggi dan tebal yang
membentuk kurva, dengan leher bergelambir dua (ganda), berwarna merah dan
bulu hitam. Kasuari ini penghuni hutan primer dan sekunder (Shannaz, 1995).
Populasi Kasuari Gelambir-ganda tersebar di hutan dataran rendah di
Australia, pulau Irian dan pulau Seram di provinsi Maluku. Spesies ini merupakan
satu-satunya burung di marga Casuarius yang terdapat di benua Australia. Pakan
burung Kasuari Gelambir-ganda terdiri dari aneka buah-buahan yang terjatuh di
dasar hutan. Burung Kasuari biasanya hidup sendiri, berpasangan hanya pada
waktu musim berbiak. Reproduksi kasuari betina bersifat poliandri, dalam satu
musim kawin akan berhubungan dengan 3 ekor pejantan. Jumlah telur yang
ditinggalkan sebanyak 4-8 butir. Biasanya telur di letakkan di dalam sarang yang
terbuat dari seresah daun dan ranting kering di antara banir-banir pohon.
Pengeraman telur akan dilakukan oleh kasuari jantan selama 58-61 hari. Anak
yang dilahirkan juga akan diasuh oleh kasuari jantan hingga tumbuh menjadi
kasuari remaja (Shannaz, 1995).
Kasuari beradaptasi dengan sempurna dalam semak belukar lebat di hutan
tropis. Tutup kepala, bulu-bulu kasar dan sayap kerdilnya yang melengkung di
bawah tubuh berfungsi untuk melindungi sisi tubuh, diciptakan sedemikian rupa
untuk menghindari adanya luka saat menembus vegetasi lebat. Kaki-kaki yang
kuat dapat membawa burung ini lari dengan cepat (kecepatan lari yang pernah
tercatat mencapai 50 km/jam). Karena kegesitannya, bukti keberadaan mereka
seringkali hanya dapat dilihat dari sisa-sisa kotoran berwarna-warni dan jejak tiga
jari seperti dinosaurus di dasar hutan yang berlumpur. Adanya jari bagian dalam
yang membentuk pisau (digunakan untuk meloncat sampai ketinggian 1,5 m,
dengan kedua kaki diatas) membuat burung ini merupakan lawan yang berbahaya.
Untungnya, jenis ini lebih sering senang menghindari daripada menyerang.
Kasuari berumur panjang, di alam dapat mencapai 19 tahun, dan dalam
penangkaran dilaporkan bisa mencapai 40 tahun. (Penangkapan liar dan hilangnya
habitat hutan mengancam keberadaan spesies ini. Kasuari Gelambir-ganda
dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List (Shannaz, 1995).

4.2.6 Burung Hantu Beluk Ketupa (Bubo ketupu )


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Strigiformes
Famili : Strigidae
Genus : Bubo
Spesies : Bubo ketupu
Burung ini berukuran sedang yaitu 45 cm, berwarna coklat kekuningan
dengan daerah telinga mencolok. Tubuh bagian atas coklat, bercoretan hitam,
pinggiran kuning tua. Tubuh bagian bawah kuning sampai merah bata dengan
coretan hitam tebal. Iris kuning terang, paruh abu abu, kaki kuning. Beluk ketupa
merupakan burung hantu hidup di daerah hutan, perkebunan, pekarangan, sawah
atau pinggiran sungai. Beluk ketupa merupakan hewan nokturnal yaitu aktif
malam hari, tetapi sebagian aktif pada siang hari di tempat teduh. Beluk ketupa
dapat ditemukan di daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali (Lase, 2003).
Semua jenis burung hantu mempunyai ciri khas yang hampir sama. Burung
ini termasuk binatang nokturnal (aktif di malam hari), bisa terbang tanpa suara.
Mata burung hantu menghadap ke depan seperti mata manusia dengan bola mata
besar yang selalu melotot, serta kepalanya bisa berputar hingga 180 derajat,
bahkan ada yang hingga 230 derajat. Rata-rata burung hantu memiliki bulu lurik
berwarna kecoklatan atau abu-abu dengan bercak hitam dan putih. Ekornya
pendek, tetapi sayapnya justru sangat lebar. Rentang sayap burung hantu mampu
mencapai tiga kali panjang tubuhnya. Burung hantu merupakan binatang
karnivora dan pemburu yang handal. Paruh yang tajam dan kuat, kaki dan kuku
tajam yang cekatan mencengkeram, kemampuannya berdiam mengintai. Matanya
yang meghadap ke depan mampu mengukur jarak dengan tepat, ditambah dengan
kemampuannya terbang dengan tanpa mengeluarkan suara. Bahkan beberapa
spesies burung hantu selain mempunyai pendengaran yang baik juga mempunyai
bulu-bulu di wajah yang ikut mengarahkan suara sehingga mampu mendeteksi
keberadaan mangsa hanya dengan menggunakan suara (Lase, 2003)

4.2.7 Elang bondol (Haliastur indus)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Accipitriformes
Famili : Accipitridae
Genus : Haliastur
Spesies : Haliastur indus
Secara umum Elang Bondol (Haliastur indus) mempunyai karakteristik
tubuh berwarna putih dan coklat pirang. Individu dewasa pada bagian (kepala,
leher dan dada) berwarna putih, bagian (sayap, mantel, ekor dan perut) berwarna
coklat terang, dan terlihat kontras dengan bulu primer yang berwarna hitam.
Seluruh tubuh individu remaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna
berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa
putih bersih pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria
pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu. Iris coklat, paruh dan sera
abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram. Burung elang bondol bukan
termasuk burung migran, daerah penyebaran burung elang bondol di Indonesia
adalah di seluruh Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali. Namun untuk keberadaan
Elang Bondol di Pulau Jawa dan Bali sudah sangat jarang. Penyebaran global
Elang Bondol juga ditemukan di India, Cina, Filipina, dan Australia. Burung
Elang Bondol juga ditemukan tersebar di seluruh kawasan Wallacea (Adiputra,
2000).
Elang Bondol pada usia juvenile tubuhnya tampak didominasi oleh warna
coklat gelap pada bagian atas, dan lebih pucat pada bagian kepala sampai bagian
bawah tubuhnya. Selama enam bulan pertama bulu yang berwarna kehitaman
memudar menjadi kecoklatan, dan garis-garis berwarna kuning menjadi memudar.
Elang Bondol (Haliastur indus) pada usia remaja, pada bulu terdapat campuran
warna usang dan pudar, yang berasal dari bulu pada saat juvenile dengan
perbandingan bulu baru putih dan bulu merah kecoklatan di kepala. Tubuh bagian
bawah dan rata-rata bulu sayap memiliki tahap yang mencirikan pola dewasa,
dengan dahi dan tenggorokan keputihan, terdapat coretan-coretan putih
kekuningan dan mahkota yang pucat. Sisi kepala, leher, mantel, dada, perut bagian
atas dan panggul menjadi lebih kusam dengan warna coklat kemerahan. Bulu
sayap bagian atas, perut bagian bawah, bagian bawah ekor (crissum), bulu kaki
(thight), bulu penutup primer (grather-coverts), dan ekor sebagian besar tidak
mengalami moulting (peluruhan pada bulu), tetapi mengalami perubahan fase
warna menjadi usang dan coklat pudar. Morfologi Elang Bondol (Haliastur indus)
ketika dewasa di wilayah Australasian memiliki ciri pada bagian kepala, leher
sampai bagian matel, tenggorokan sampai bagian atas perut dan panggul (flanks)
seluruhnya berwarna putih, sedangkan di wilayah Indomalaya memiliki warna
sedikit lebih gelap. Ditandai warna kontras pada dada sampai seluruh bagian
tubuh, meliputi bulu sayap, paha dan ekor, memiliki variasi ujung pucat keputih-
putihan pada wilayah bagian barat, dan berwarna lebih putih di wilayah timur, dan
ujung bulu primer berwarna hitam (Adiputra, 2000).

4.2.8 Elang Totol (Accipiter trinotatus)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Falconiformes
Famili : Accipiteridae
Genus : Accipiter
Spesies : Accipiter trinotatus
Spesies ini memiliki tubuh yang ditutupi oleh bulu berwarna hitam, tubuh
berukuran besar 70 cm, sayap dan ekor panjang, tampak sangat besar pada waktu
terbang. Berwarna kuning tua pucat pada bulu dan paha. Bagian mata iris cokelat,
paruh berwarna hitam dengan ujung abu-abu, sera dan kaki berwarna kuning . Elang
totol tersebar di daerah India, Cina tenggara, Asia tenggara, Sulawesi, Maluku, dan
Sunda Besar. Penyebaran utama elang totol di daerah Indonesia yaitu seluruh Sunda
Besar, di dataran rendah dan hutan perbukitan sampai ketinggian 1.400 m (di Jawa
sampai ketinggian 3.000 m). Elang totol mempunyai kebiasaan mendiami kawasan
hutan, biasanya terlihat berputar-putar rendah di atas tajuk pohon, meluncur dengan
indah dan mudah di sisi-sisi bukit berhutan, sering berpasangan.dan suka merampok
sarang burung lain (Adiputra, 2000).
Elang totol jantan yang sudah dewasa memiliki bulu bagian atas yang
berwarna coklat abu-abu dengan garis-garis pada sayap dan ekor, tubuh bagian
bawah merah karat, dada bercoretan hitam, ada garis-garis tebal hitam melintang
pada perut dan paha yang putih. Elang totol merupakan predator yang berburu dari
tenggeran hutan dan pada ketinggian yang rendah. Elang totol dapat ditemukan
didaerah Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali (Lase, 2003).

4.2.9 Burung merak hijau (Pavo muticus)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Famili : Phasianidae
Genus : Pavo
Spesies : Pavo muticus
Burung merak hijau (Pavo muticus) merupakan jenis burung langka yang
daerah sebaran alaminya di Indonesia terdapat di Pulau Jawa dan statusnya
dilindungi oleh undang-undang. Status burung merak hijau dikategorikan ke
dalam vulnerable (rentan atau rawan punah). Selanjutnya, menurut CITES
(Convention on International Trade in Endangered Species of Wildlife Fauna and
Flora) dalam Departemen, burung merak hijau dikategorikan ke dalam Appendix
II, artinya perdagangan jenis burung ini harus dikendalikan, antara lain melalui
sistem kuota dan pengawasan. Persebaran di Indonesia terutama di Taman
Nasional (TN) Ujung Kulon di Provinsi Banten; TN Meru Betiri, TN Alas Purwo,
dan TN Baluran di Provinsi Jawa Timur (Shannaz, 1995).
Merak hijau termasuk dalam Ordo Galliformes yang mempunyai salah satu
ciri yaitu kaki yang kuat, banyak aktivitas yang tergantung pada kakinya.
Aktivitas tersebut antara lain berjalan, mencari makan, bertengger dan sampai
pada saat akan tidur merak duduk di atas dadanya dengan jari kaki mencengkeram
cabang atau ranting pohon tidur mereka . Merak jantan dewasa mempunyai
jambul tegak di atas kepalanya dan dagu berwarna hijau kebiruan, bulu hiasnya
panjang berwarna campuran antara hijau emas dan hijau perunggu sehingga
terlihat berkilau. Merak hijau jantan berukuran sangat lebih besar dengan panjang
tubuh dapat mencapai 210 cm. Sedangkan merak hijau betina dewasa mempunyai
komposisi warna tubuh sama dengan jantan tetapi lebih lembut, tidak cerah, agak
kusam, dan tidak mempunyai bulu hias. Merak hijau betina panjang tubuhnya
berukuran 120 cm (Shannaz, 1995).

4.2.10 Burung Rangkong Perut Puith (Antrhacocerus albirotris)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Bucerotiformes
Famili : Bucerotidae
Genus : Antrhacocerus
Spesies : Antrhacocerus albirotris
Burung kangkareng perut putih berukuran kecil sekitar 45 cm, berwarna
hitam-putih dan bertanduk besar putih-kuning. Bulu hitam hampir seluruhnya,
kecuali perut bawah, paha dan penutup ekor bawah putih serta ujung putih pada
bulu terbang dan bulu ekor terluar. Iris coklat tua, kulit di sekitar mata tidak
berbulu, tenggorokan berwarna putih, paruh dan tanduk putih-kuning dengan
bintik putih pada pangkal rahang bawah dan tanduk bagian depan, kaki hitam.
Burung kengkareng perut putih hidup di hutan primer/sekunder dan memiliki
kebiasaan hidup berpasangan atau kelompok yang ribut, mengepak-ngepak atau
meluncur di antara pepohonan. Burung ini tersebar di daerah Sumatera,
Kalimantan, Jawa dan Bali (MacKinnon, 1998).
Burung kangkareng perut putih memiliki tanduk besar, berwarna putih-
kuning dengan bintik putih pada pangkal rahang bawah dan tanduk bagian
depan.Burung kengkareng perut putih memiliki ciri di bawah mata berwarna
putih, tanduk pada betina lebih kecil dan lebih kehitaman dari pada jantan.
burung kangkareng perut putih dapat dijumpai di hutan dataran rendah dan
perbukitan. Hutan dataran rendah pada tajuk utamanya di dominasi oleh jenis-
jenis tumbuhan dari suku Dipterocarpaceae, tetapi jenis-jenis Leguminoceae
seperti Kempas kompassia dan Merbau intsia, membentuk tajuk yang menjulang
tinggi dan lebih menonjol. Batangnya yang besar dan tidak bercabang didukung
oleh akar banir, seluruhnya dihiasi oleh tumbuhan yang merambat, epifit dan
pohon ara yang melimpah. Sisi bukit yang terjal ditutupi oleh hutan campuran
kaya dengan relung burung. Hutan ini merupakan hutan yang paling kaya dengan
beranekaragam burung termasuk kengkareng perut putih (MacKinnon, 1998).

4.2.11 Cangak merah (Ardea purpurea)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Ciconiiformes
Famili : Ardeidae
Genus : Ardea
Spesies : Ardea purpurea
Burung cangak merah memiliki tubuh berukuran besar yakni 80cm,
berwarna abu-abu, cokelat berangan dan hitam topi hitam dengan jambul
menjuntai dengan setrip hitam menurun sepanjang leher. Punggung dan penutup
sayap abu-abu, bulu terbang hitam dan bulu lainnya coklat kemerahan. Iris
kuning, paruh coklat, kaki coklat kemerahan. Burung cangak merah mengeluarkan
suara Uak yang keras.Hidup di hutan mangrove, sawah, danau, dan aliran air
memiliki kebiasaan mengendap-endap sendirian di sepanjang perairan dangkal
yang penuh gulma, dengan kepala merendah ke bawah dan ke samping untuk
menangkap ikan dan makanan lain. Terbang dengan leher ditekuk dan bersarang
dalam koloni besar. Tersebar di daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali
(MacKinnon, 1993).
Cangak Merah adalah spesies burung yang berukuran besar dengan warna
tubuh abu-abu coklat berangan. Bagian iris kuning, paruh coklat, kaki coklat
kemerahan sedangkan bulu lainnya pada burung ini berwarna coklat kemerahan.
Terdapat setrip hitam menurun sepanjang leher yang merah-karat khas. Punggung
dan penutup sayap abu-abu, bulu terbang hitam. Habitat dan penyebaran di daerah
lahan basah tidak terbatas di pesisir, mangrove, sawah, danau, aliran air, kadang
perbukitan sampai ketinggian 1.500 m dpl. Tersebar di daerah Afrika, Erasia,
Filipina, Sunda Besar sedangkan di Indonesia, terdapat di Sumatera, Kalimantan,
Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara. Makanan burung ini adalah ikan, katak,
reptil, larva serangga, dan krustasea. Berkembang biak pada bulan Desember-
Maret dan Februari-Agustus. Burung jenis ini sering dijumpai sedang bertengger
di tajuk pohon jenis putat, kemungkinan burung ini sedang mengintai
(MacKinnon, 1998).

4.2.12 Kakak Tua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Psittaciformes
Famili : Cacatuidae
Genus : Cacatua
Spesies : Cacatua sulphurea
Kakatua Sumba (Cacatua sulphurea) merupakan salah satu burung paruh
bengkok yang terancam punah. Subspesies Kakatua-kecil Jambul-kuning ini
endemik di Pulau Sumba dan hidup secara alami pada hutan-hutan yang
terfragmentasi. Ukuran tubuhnya sekitar 33 cm, Burung ini merupakan burung
paruh bengkok yang terancam punah akibat perdagangan dan degradasi habitat
IUCN (International Union Conservation Nation) mengkategorikan kedalam
status kritis (Critically endangered). Pada tahun 2004, di pertemuan ke-13 COP
(Conferences of the Parties) CITES (Convention on Trade In Endangered Spe-
cies of Wild Fauna and Flora), status Kakatua sumba diusulkan untuk meningkat
dari Ap-pendiks 2 ke Appendiks 1, kemudian pada tanggal 24 Juni 2010 status
Appendiks 1 ini berlaku (Shannaz, 1995).
Bulu berwarna putih dengan pipi kuning kejingga-jinggaan, jambul depan
yang berbentuk melengkung, ketika dinaikkan berwarna kuning. Bulu dibawah
sayap dan ekor berwarna kuning. Cincin mata berupa kulit yang berwarna kebiru-
biruan. Warna iris juga dapat dijadikan pembeda kelamin jantan dan betina.
Betina memiliki warna iris keabu-abuan pada usia 5 6 bulan dan akan berubah
kecoklatan pada usia 7 bulan. Berat rata-rata sekitar 350 gram, panjang tubuh 330
mm, panjang rentang sayap 211 245 mm, panjang ekor 98 115 mm, panjang
tungkai 21 25 mm (Obrien, 2007). Cacatua sulphurea merupakan anak jenis
Kakatua-kecil Jambul-kuning yang endemik di Pulau Sumba (Oki, 2014). Proses
perkembangbiakan Kakatua Sumba memakan waktu cukup lama, yaitu antara
bulan November Februari. Semua jenis kakatua bersarang di dalam lubang
pohon. Beberapa keuntungan bersarang pada lubang pohon antara lain
memberikan perlindungan dari predator, perlindungan dari cuaca ekstrim dan
memberikan iklim mikro yang stabil (Shannaz, 1995).

4.2.13 Merpati putih (Columba domestica)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Columbiformes
Famili : Columbidae
Genus : Columba
Spesies : Columba domestica
Tubuh burung merpati (Columba domestica) terbagi atas caput, cervix,
truncus dan cauda. Caputnya relatif kecil, terdapat paruh yang dibentuk oleh
maksilla dan mandibula, nares terletak pada bagian lateral paruh bagian atas.
Selain itu, anggota badan (extrimitas) seluruhnya tertutup bulu kecuali pada paruh
dan kakinya. Kakinya dapat digunakan untuk berjalan, bertengger maupun
berenang (dengan selaput interdigital), tidak bergigi dan mempunyai paruh yang
berbeda-beda sesuai jenis makanannya. Columba domestica merupakan salah satu
dari kelas aves. Burung ini termasuk hewan berdarah panas dan berkembang biak
dengan ovipar atau bertelur. Columba domestica mampu mengenal habitatnya,
ketika burung dilepas maka ia akan kembali ke sarangnya (MacKinnon, 1998).
Merpati jenis ini merupakan merpati pemakan biji-bijian dari famili
Columbidae yang menempati urutan pertama yang memiliki jenis yang terbanyak.
Anggota famili Columbidae biasa ditemukan beraktifitas di permukaan tanah dan
di atas tajuk. Burung ini biasanya mencari makan biji-bijian diatas permukaan
tanah, terkadang mereka memakan batu atau pasir untuk membantu proses
pencernaannya. Selain biji-bijian, jenis ini senang memakan buah Ficus sp. Jenis
spesies merpati ini banyak ditemukan dengan ciri-ciri yang bervariasi, misalnya
dari warna bulunya ada yang berwarna hitam, hitam keputihan, dan dari
tungkainya ada yang terdapat bulu di bagian kakinya dan ada yang tidak terdapat
bulu (MacKinnon, 1998).

4.2.14 Nuri Bayan (Eclectus roratus)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Psittaciformes
Famili : Psittacidae
Genus : Eclectus
Spesies : Eclectus roratus
Burung Bayan atau Nuri Bayan, yang dalam nama ilmiahnya Eclectus
roratus adalah burung berukuran sedang dengan panjang sekitar 43 cm dari salah
satu genus burung paruh bengkok Eclectus. Tidak seperti kebanyakan jenis
burung yang sulit untuk dibedakan antara jenis kelamin jantan atau betina, burung
jenis ini dengan mudah dapat dibedakan yaitu dari perbedaan warna bulunya yang
mencolok, bahkan pada awalnya, ahli burung di Eropa mengira Nuri Bayan jantan
dan betina adalah dua spesies yang berbeda, ini disebabkan karena perbedaan
warna bulu yang mencolok antara jantan dan betina. Nuri Bayan jantan memiliki
bulu hijau, bawah sayap dan sisi dada berwarna merah dan biru, dan kaki
berwarna abu-abu kehitaman. Paruh atas berwarna jingga kemerahan dengan
ujung kuning, paruh bagian bawah berwarna hitam. Burung betina memiliki bulu
merah, dada dan punggung biru keunguan, dan paruh berwarna hitam. Umumnya,
betina berukuran lebih kecil dari jantan (Arumasari, 1989).
Daerah sebaran Nuri Bayan adalah di hutan dataran rendah, savana, hutan
bakau dan perkebunan kelapa di Maluku, kepulauan Sunda Kecil, Irian, Australia,
Papua Nugini dan Kepulauan Solomon. Ada sekitar sembilan subspesies Nuri
Bayan di alam liar, tersebar di pulau-pulau tersebut. Pakan Nuri Bayan, seperti
burung paruh-bengkok lainnya terdiri dari aneka buah-buahan, kacang dan biji-
bijian. Burung ini bersarang di dalam lubang pohon dan betina biasanya
menetaskan dua butir telur berwarna putih. Selain perbedaan bulunya yang
mencolok, burung Nuri Bayan (Eclectus roratus) dikenal dengan beberapa
kebiasaan unik lainnya seperti kebiasaan selingkuh (berganti pasangan) yang
berbeda dengan kebiasaan burung paruh bengkok lainnya yang umumnya setia
terhadap pasangan, juga kecenderungan induk membunuh anak jantan saat merasa
terancam. Nuri Bayan merupakan salah satu burung paruh bengkok yang asli
Indonesia. Burung Nuri Bayan pun termasuk salah satu burung yang dilindungi di
Indonesia, baik berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 maupun
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 (Rombang, 2009).

4.2.15 Ayam Hutan Berjambul (Rollulus rouloul)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Famili : Phasianidae
Genus : Rollulus
Spesies : Rollulus rouloul
Ciri-ciri spesies ini berbadan gemuk yakni 25cm dan memiliki jambul.
Ayam jantan memiliki jambul berwarna merah padam menyebar khas, mahkota
putih berbercak, sayap merah gelap (kontras dengan tubuh yang biru keungguan
metalik). Ayam betina memiliki jambul pada kepala berwarna abu-abu, sayap
cokelat berangan, tubuh berwarna hijau, mempunyai iris merah, kulit luar dekat
mata melingkar dengan mata merah, paruh hitam dengan pangkal merah (jantan)
atau hitam (betina), kaki merah. Penyebaran dan ras spesies ini Burma Selatan,
dan Thailand Barat-Daya, Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan.
Habitatnya menghuni hutan dataran rendah sampai ketinggian 800 m di Sumatera
dan 1200 m di Kalimantan (Mackinnon, 1998).
Kebiasaannya bergabung dalam kelompok sebanyak 5-15 ekor.
Menggaruk-garuk seresah untuk mencari makan, mengunjungi pohon berbungaa
serta tempat primata dan burung makan. Makanannya berupa inverteberata, biji-
bijian dan buah-buahan. Jika terganggu, kelompok akan berpencar tidak menentu.
Sarang tersembunyi di antara seresah lantai hutan. Jumlah telur 5-6 berwarna
putih yang dierami selama 18 hari. Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang
terus berlanjut, serta populasi yang terus menyusut, ayam hutan berjambul
dievaluasi sebagai spesies yang beresiko hampir terancam di dalam IUCN Red
List, spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix III (CITES, 2013).

4.2.16 Burung merak biru (Pavo cristatus)


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Famili : Phasianidae
Genus : Pavo
Spesies : Pavo cristatus
Burung merak biru (Pavo cristatus) merupakan jenis burung langka yang
daerah sebaran alaminya di Indonesia terdapat di Pulau Jawa dan statusnya
dilindungi oleh undang-undang. Status burung merak biru dikategorikan ke dalam
vulnerable (rentan atau rawan punah). Selanjutnya, menurut CITES (Convention
on International Trade in Endangered Species of Wildlife Fauna and Flora)
dalam Departemen, burung merak hijau dikategorikan ke dalam Appendix II,
artinya perdagangan jenis burung ini harus dikendalikan, antara lain melalui
sistem kuota dan pengawasan. Persebaran di Indonesia terutama di Taman
Nasional (TN) Ujung Kulon di Provinsi Banten; TN Meru Betiri, TN Alas Purwo,
dan TN Baluran di Provinsi Jawa Timur (Shannaz, 1995).
Merak biru termasuk dalam Ordo Galliformes yang mempunyai salah satu
ciri yaitu kaki yang kuat, banyak aktivitas yang tergantung pada kakinya.
Aktivitas tersebut antara lain berjalan, mencari makan, bertengger dan sampai
pada saat akan tidur merak duduk di atas dadanya dengan jari kaki mencengkeram
cabang atau ranting pohon tidur mereka . Merak jantan dewasa mempunyai
jambul tegak di atas kepalanya dan dagu berwarna hijau kebiruan, bulu hiasnya
panjang berwarna campuran antara hijau emas dan hijau perunggu sehingga
terlihat berkilau. Merak biru jantan berukuran sangat lebih besar dengan panjang
tubuh dapat mencapai 210 cm. Sedangkan merak hijau betina dewasa mempunyai
komposisi warna tubuh sama dengan jantan tetapi lebih lembut, tidak cerah, agak
kusam, dan tidak mempunyai bulu hias. Merak biru betina panjang tubuhnya
berukuran 120 cm (Shannaz, 1995).

4.2.17 Mambruk viktoria (Goura victoria)


4.2.18 Burung Unta (Struthio camelus)

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum lapangan Sistematika Hewan II tentang Aves maka
dapat yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.) Jenis Aves yang ditemukan di Sinka Zoo berjumlah 16 jenis spesies, yaitu
Psittacidae cyanopsitta (burung makaw), Accipiter trinotatus (elang totol),
Antrhacocerus albirotris (karangkareng perut putih), Aratinga solstitialis (Sun
corner), Ardea purpurea (cangak merah,) Cacatua sulphurea (kakatua jambul
kuning), Casuarius casuarius (Kasuari), Columba domestica (merpati), Eclectus
roratus (nuri bayan) , Gallus gallus Domesticus (Ayam ketawa), Haliastur indus
(elang bondol), ketupa ketupu (Burung hantu), Lophura nythemera (Ayam picen),
Meleagris sp.(Ayam kalkun), Psittacidae cyanopsitta (burung macau), Rollulus
rouloui (ayam hutan).
2.) Ciri-ciri umum dari kelas Aves adalah tubuh ditutupi oleh bulu,memiliki 2
tungkai, memiliki sayap, memiliki paruh yang berbeda dari jenis makanannya dan
tidak memiliki gigi.

5.2. Saran
Praktikum Lapangan Sistematika Hewan II, tentang Aves dapat dilaksanakan di
hutan atau riam-riam, seperti riam terinting atau hutan wisata baning dikabupaten
sintang, untuk dapat melihata spesies endemik pada topografi daerah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra J. 2000. Keanekaragaman Jenis Elang Pada Tipe Habitat Yang Berbeda
Di Taman Nasional Gunung Halimun Dan Sekitarnya, Jawa Barat. Sripsi
Sarjana Biologi. Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta.
Arumasari. 1989. Komunitas Burung Pada Berbagai Habitat di Kampus UI,
Depok. Skripsi Sarjana Biologi FMIPA Universitas Indonesia. Jakarta.

Ayat, Asep, 2011. Burung-Burung Agrofrest di Sumatra, Bogor: World


Agroforestry Centre-ICRAF.

Balai Taman Nasional Betung Kerihun. 2000. Rencana Pengelolaan Taman


Nasional (RPTN) Betung Kerihun Periode 2000-2024 (Buku I). Balai
Taman Nasional Betung Kerihun. Putussibau.

Bibby CJ, Burges ND, Hill DA, dkk. 2000. Bird cencus techniques. 2nd Edition,
Academic Press, London

Bibby CJ, Burges ND, Hill DA, dkk. 1992. Bird cencus techniques. RSPB/British
Trust for Ornithology, Academic Press Limited, London.

Dzatiyah, Tutut Handayani, 2012. Keanekaragaman dan Kelimpahan Jenis


Burung di Kawasan Hutan Mangrove Baros, Kretek, Bantul,
Yogyakarta, Skripsi, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga

Haq MZ. 1996. Distribusi Vertikal Burung Pada Beberapa Taman Kota di DKI
Jakarta. Skripsi Sarjana Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta.

Elifidasari, Dewi dan Junardi. 2006. Keragaman Burung Air di Kawasan Hutan
Mangrove Peniti Kabupaten Ponianak, Jurnal Biodiversitas, Volume 7,
Nomor 1 Halaman: 63-66.
Jati A. 1998. Kelimpahan dan Distribusi Jenisjenis Burung Berdasarkan
Fragmentasi dan Stratifikasi Habitat Hutan Cagar Alam Langgaliru,
Sumba. Program Pasca Sarjana IPB. Bogor

Lase EF. 2003. Keanekaan Jenis Burung di Daerah Nanggorak dan Cikamal
Cagar Alam Pananjung Pangandaran Ciamis, Jawa Barat. Laporan
Kuliah Kerja Lapangan. Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas
Padjadjaran, Jatinangor.

MacKinnon, J., K. Phillipps & B. van Balen. 1998. Seri Panduan Lapangan
Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Birdlife
International-Indonesia Program Pusat Penelitian dan Pengembangan
Biologi LIPI. Cibinong.

MacKinnon, J. 1993. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-burung di Jawa dan


Bali. Terj. S. Lusli dan Y.A. Mulyani. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

Shannaz, J., P. Jepson & Rudyanto. 1995. Burung-burung Terancam Punah di


Indonesia. PHPA/Birdlife Indonesia Program. Bogor.

Rombang WM dan Rudyanto. 2009. Daerah Penting Bagi Burung Jawa dan Bali,
PKA/Birdlife International-Indonesia Programme, Bogor.