Anda di halaman 1dari 12

Abstrak

Sebuah regulasi dibutuhkan untuk mengendalikan perilaku manusia atau


masyarakat dengan aturan atau pembatasan. Begitu pula regulasi akuntansi.
Terdapat dua pandangan terhadap teori-teori regulasi akuntansi, pertama
perspektif pasar bebas, dimana dalam pandangan ini informasi akuntansi
dianggap sebagai barang ekonomi. Kedua adalah perspektif pro regulasi, dalam
pandangan perspektf ini informasi akuntansi dianggap sebagai barang public.
Dalam perspektif proregulasi terjadi kegagalan pasar, hal ini terjadi karena
ketidakefisienan antara permintaaan dan pemawaran terhadap informasi
akuntansi. Teori-teori regulasi dibagi menjadi public the interest theory, the
capture theory, dan the interest grouptheory. Dalam penyusunan sebuah regulasi
akuntansi terjadi proses-proses politis sehingga dikatakan bahwa regulasi
akuntansi adalah output dari sutau proses politis.

Kata kunci: regulasi, pasar bebas, pro regulasi, politik


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Akuntansi sebagai bagian dari aktivitas ekonomi banyak mengalami
regulasi, baik dilakukan oleh pemerintah maupun oleh profesi akuntansi sendiri.
Regulasi yang dilakukan oleh pemerintah dilakukan melalui Undang-undang,
Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri atau Keputusan Lembaga Pemerintah
lain yang mengatur mengenai organisasi profesi dan haknya untuk berpraktik
publik serta persyaratan pengungkapan dalam pelaporan keuangan perusahaaan.
Regulasi yang dilakukan oleh profesi akuntansi sendiri berupa regulasi penentuan
dan pemonitoran standar akuntansi dan pengauditan (Scott, 2003:412).
Penetapan/penentuan Standar Akuntansi juga merupakan proses yang
sangat politik dan harus memenuhi kebutuhan semua pihak hingga tidak ada pihak
yang merasa dirugikan. Untuk mencapai kesepakatan perlu proses politik antara
pihak yang merasa memiliki kepentingan maupun pihak regulator atas keputusan
dalam penyusunan standar ini dapat tercapai. Proses politik ini meliputi
pemberian masukan dan komentar oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam
Standar Akuntansi, pendapat yang bisa menentang dan merubah pandangan awal,
dan juga berkaitan dengan bagaimana pendistribusian kesejahteraan setelah
implementasi standar akuntansi bagi masyarakat itu sendiri. Beberapa persyaratan
yang diajukan setelah proses politik dapat menjadi regulasi, tetapi beberapa
regulasi tersebut mungkin tidak dapat diajukan karena terkena dampak kekuatan
politik.
Berbagai tekanan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan muncul
seiring dengan terjadinya berbagai skandal pelaporan keuangan yang dapat
mempengaruhi kepercayaan dan perilaku investor. Berbagai skandal tersebut telah
mendorong pemerintah dan badan berwenang untuk mengeluarkan kebijakan
regulasi yang ketat berkaitan dengan pelaporan.
BAB II

PEMBAHASAN

Perspektif Pasar Bebas (Free Market Perspective)


Pendekatan ini dilandasi asumsi bahwa informasi akuntansi merupakan
komoditi ekonomi serupa dengan barang atau jasa yang lain. Sehingga informasi
akuntansi akan dipengaruhi kekuatan permintaan dan penawaran. Pasar dipandang
sebagai mekanisme yang ideal untuk menentukan jenis informasi yang harus
diungkapkan dan kelompok penerima informasi. Dengan demikian standar
akuntansi menentukan informasi yang dihasilkan dan siapa akan menerima
informasi. Beberapa argumen yang mendukung free market perspective :
- Private economic incentive
Diasumsikan bahwa para manajer telah menjalankan bisnis adalah lebih
untuk kepentingan mereka sendiri daripada untuk memaksimalkan nilai
organisasi. Dan kenaikan biaya ini biasa disebut dengan agency costs.
- Market for managers
Anti regulasi menuntut setiap perusahaan untuk bekerja sekreatif mungkin
dalam memaksimalkan income perusahaan. Dengan tidak adanya regulasi
masing-masing perusahaan bisa saling berlomba untuk menunjukkan
sistem atau strategi mereka yang terbaik, karena dengan tidak adanya
regulasi berarti para manajer bebas dalam menentukan standar tanpa
memperdulikan regulasi yang mengatur.
- Market for corporate takeovers
Diasumsi bahwa suatu perusahaan yang berkinerja buruk akan diambil alih
oleh entitas lain yang akan kemudian menggantikan tim manajemen yang
sudah ada. Dengan ancaman yang dirasakan, manajer akan termotivasi
untuk memaksimalkan nilai perusahaan.
- Market lemon
Argumen ini dikembangkan berdasarkan penelitian Akerlof pada tahun
1970 yang berpandangan bahwa perusahaan adalah sebuah lemon
bahwa bahkan pada keadaan tidak adanya peraturan, perusahaan akan
tetap termotivasi mengungkapkan berita baik dan buruk tentang posisi
keuangan dan kinerja. Perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan
atas informasi keuangannya sama saja dengan mengungkapkan informasi
buruk, meskipun sebenarnya informasi yang dimiliki bukanlah informasi
yang buruk. Maka perusahaan akan memperoleh image buruk ketika ia
tidak melakukan pengungkapan atas informasi keuangannya. Reputasi
manajer mungkin akan turun jika mereka gagal untuk mengungkapkan
berita buruk pada waktu yang tepat (Skinner, 1994: 39).

- Agency theory
Berargumen bahwa manajemen memiliki insentif membuat laporan
keuangan yang andal dan disajikan secara sukarela kepada shareholder.
Teori agensi memposisikan konflik antara manajemen dan pemilik dapat
diredakan dengan pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan yang rutin
digunakan untuk memonitor hubungan kerja (keagenan) serta untuk
menilai dan menentukan kompensasi yang akan dibayarkan kepada
manajer. Minimalisasi biaya monitoring keagenan adalah insentif ekonomi
untuk manajer untuk melaporkan hasil akuntansi yang dapat dipercaya
oleh pemilik. Insentif berasal dari kenyataan bahwa manajer dinilai dan
dibayar dengan dasar, sebaik apa yang dilaporkannya. Peaporan yang baik
akan menaikkan reputasi seorang manajer dan reputasi yang baik akan
menghasilkan kompensasi yang lebih tinggi karena biaya memantau
keagenan akan minim jika pemilik merasa laporan akuntansi dapat
dipercaya.

Perspektif Pro Regulasi (Pro Regulation Perspective)


Pendekatan ini dilandasi asumsi bahwa informasi akuntansi adalah sebuah
barang publik, dimana meskipun seberapa banyak yang mengkonsumsi informasi
tetapi barang tersebut tetap utuh. Pada awalnya pengguna informasi bisa
menggunakannya tanpa membayar dan juga dapat memberikannya pada orang
lain. Konsumen yang menggunakan informasi tanpa membayar yang biasanya
disebut dengan free rider atau penikmat informasi gratis semakin banyak,
sehingga terjadilah sebuah penurunan permintaan akan informasi tersebut dan
berdampak pada turunnya pula intensitas produsen informasi untuk
memproduksinya. Tanpa adanya kebijakan yang mengatur tentang informasi yang
beredar, sehingga berakibat dalam kegagalan pasar.
Pendekatan ini juga berpendapat bahwa kegagalan pasar atau informasi
yang asismetris dalam kaitannya dengan kuantias dan kualitas. Adanya krisis
penentuan standar mendorong munculnya kebijakan regulasi akuntansi. Oleh
karena itu, permintaan terhadap kebijakan atau standar semacam itu di dorong
oleh krisis yanag muncul, pihak penentu standar menanggapi dengan cara
menyediakan kebijakan tersebut. Hubungan antara permintaan dan penawaran
menarah pada suatu keseimbangan. Dalam proses regulasi yang dinamis, terdapat
proses penyesuaian yang berlangsung terus menerus terhadap standar sesuai
permintaan dan penawaran.
Belkaoui (1985:48) mengatakan bahwa regulasi umumnya diasumsikan
untuk dirancang dan dioperasikan demi kepentingan industri yang ada. Ada tiga
teori regulasi dalam industri, yaitu:
a. Teori kepentingan publik (public interest theory),
b. Teori kepentingan individu (capture theory),
c. Teori kepentingan kelompok (interest group therory).
Teori kepentingan publik berpandangan bahwa regulasi diperlukan sebagai
tanggapan atas permintaan publik terhadap perbaikan praktik harga-harga pasar
yang tidak efisien dan tidak adil (Posner, 1974: 335). Sedangkan teori kepentingan
individu berpandangan bahwa regulasi disediakan sebagai tanggapan atas
permintaan kelompok tertentu untuk memaksimumkan pendapatan mereka
(kepentingan individu tertentu). Dan yang ketiga teori kepentingan kelompok
berasumsi bahwa kelompok akan membentuk untuk melindungi keinginan
ekonomi tertentu, kelompok yang berbeda dipandang tidak sesuai dengan yang
lain dan kelompok yang berbeda akan melobi pemerintah untuk ditempatkan di
badan legislatif yang secara ekonomis bermanfaat bagi mereka.
Teori Kepentingan Publik (Public Interest Theory)
Posner (1974, p335) menyebutkan dalam bukunya bahwa regulasi
diberikan sebagai jawaban atas permitaan publik akan perbaikan dari harga-harga
pasar yang tidak efisien atau tidak adil. Teori kepentingan publik ini muncul
sebagai akibat dari adanya kegagalan pasar yang terjadi di masyarakat. Kegagalan
pasar terjadi karena kurangnya informasi yang tersedia bagi para stakeholder yang
disebabkan oleh beberapa hal yaitu pertama adalah keengganan perusahaan dalam
mengungkapkan informasi atau laporan keuangannya, kedua yaitu adanya
penyelewengan atas informasi perusahaan dan ketiga yaitu penyajian informasi
yang tidak ada standarnya (berantakan).
Teori kepentingan publik bertujuan untuk memberikan perlindungan dan
menjamin kepentingan masyarakat umum. Dalam teori ini disebutkan bahwa
pemerintah merupakan pihak yang independen dalam pembuatan standar. Artinya
adalah bahwa pemerintah tidak memihak kelompok tertentu yang ada dalam
masyarakat dan memberikan keuntungan yang sama pada semua masyarakat
umum. Pemerintah diharapkan mampu memberikan kesejahteraan sosial dengan
membuat regulasi atau kebijakan. Sehingga kegagalan pasar dapat terkendali
dengan adanya regulasi yang netral yang dibuat oleh regulator yaitu pemerintah.

Pemerintah memang diharapkan menjadi pihak yang netral, tetapi terdapat


beberapa kelompok tertentu yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan
sehingga dapat mempengaruhi regulator. Kelompok yang memiliki kekuasaan
besar ini biasanya kelompok politik seperti partai tertentu yang memegang kendali
atas pembuatan suatu kebijakan. Maka muncullah Capture Theory setelah adanya
Public Interest Theory.

Teori Tangkapan (Capture Theory)

Dalam Capture theory, pada dasarnya regulasi yang dibuat memang untuk
kepentingan umum, tetapi pada kenyataanya regulasi yang dibuat ini lebih
memberikan keuntungan pada kelompok tertentu. Tujuan pembuatan regulasi
tidak dapat terpenuhi karena pada proses pembuatannya, regulator mendominasi
dalam pembuatannya. Maksudnya adalah bahwa regulator memiliki maksud
tersendiri dalam membuat regulasi yang mengatasnamakan untuk kepentingan
umum.
Dalam teori ini dijelaskan bahwa regulator tidak independen karena
mementingkan kelompok tertentu yang memberikan keuntungan lebih
terhadapanya. Sehingga regulator membuat regulasi yang memberikan
keuntungan pada kelompok yang memberikan keuntungan lebih banyak daripada
kelompok yang kurang memberikan keuntungan. Misalnya suatu industri besar di
suatu Negara memberikan deviden sangat tinggi yang berdampak pada
pendapatan Negara yang meningkat sedangkan industri lain hanya memberikan
sedikit deviden.

Teori Kepentingan Pribadi (Private Interest Theory)

Dalam teori ini menjelaskan bahwa ada pihak yang memiliki kekuasaan
tertinggi dalam suatu organisasi bekerjasama dengan regulator dalam
pembentukan kebijakan akuntansi tertentu yang tentunya memberikan keuntungan
tersendiri bagi mereka yang berkuasa di atas regulator. Selain karena terdapat
beberapa pihak yang berkuasa di atas regulator, terdapat pula pihak-pihak yang
melakukan penyuapan pada regulator agar membuat kebijakan sesuai dengan
keinginan pihak yang menyuap. Sehingga pada teori ini independensi regulator
dan kebijakan yang dibuat dipertanyakan.

Pemerintah wajib membentuk badan pengawas khusus yang menangani


proses pembuatan regulasi maupun pembuat regulasi. Tentunya badan pengawas
ini harus independen dan dapat dipercaya. Badan pengawas bertugas mengawasi
bagaimana regulasi dapat berjalan dan dilaksanakan. Selain itu, badan pengawas
harus transparan dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Sehingga
regulasi dapat dijalankan dan dilaksanakan.

Lobi Politik Dan Teori Kepentingan Kelompok

Craig Deegan And Jeffrey Unerman dalam bukunya mengatakan bahwa


The Economic Intertest Group theory of regulation assumes That Group Will
form to protect paticular Economic Intertest. Dari penjelasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa Teori kepentingan kelompok di definisikan sebagai teori di
mana pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu akan melobi regulator
untuk membuat regulasi yang menguntungkan pihak pemilik kepentingan
tersebut. Kebijakan yang dibuat regulator inilah yang akan memunculkan
konsekuensi-konsekuensi bagi pihak-pihak yang terkait baik itu memberikan
manfaat atau malah merugikan pihak lainnya secara ekonomis. Konsekuensi
inilah yang disebut Economic Consequences.

Menurut Zeff (1978), pihak-pihak yang memiliki kepentingan khususnya


dalam pembuatan keputusan akan selalu melobi regulator. Pihak-pihak tersebut
antara lain :

1. Investor
2. Kreditor
3. Pemerintah
4. Perusahaan
5. Union

Zeff menjelaskan bahwa hal ini terkait dengan: Economic consequences


karena standar yang dibuat akan mempengaruhi pelaporan laporan keuangan.
Pihak-pihak di atas akan selalu menekan regulator dengan cara sebagai berikut :

1. Akan menghentikan aliran dana ke standard setter jika tidak memenuhi


permintaannya.
2. Mengerahkan pers untuk mengintimidasi standard setter.
3. Membuat surat atau testimoni kepada publik tentang kebijakan yang
dibuat standard setter.

Selain itu, pihak yang memiliki kepentingan tersebut harus memiliki


Power yang besar agar bisa mempengaruhi standard setter. Jadi, pihak yang tidak
memiliki kekuatan yang cukup akan tersingkirkan dan harus tunduk terhadap
kebijakan hasil dari lobi pihak yang memiliki kekuatan. Pihak yang paling terlihat
kekuatannya adalah pemerintah ( juga sebagai pihak regulator) dan politikus.

Stigler (1971) menyatakan:


The State-the machinery And Power of the state - is potential resource or threat
to every industry in society. regulation may be actively sought by an industry or it
may be thrust upon it, as a rule, regulation is acquired by the industry and is
designed and operated primarily for its benefit. We propose the general
hypothesis: every industry or occupation that has enough political power to
utilise the state will seek to control entry.

Dapat dilihat bahwa pemerintah yang sebagai regulator pun akan membuat
regulasi yang akan menguntungkan dirinya agar kekuasaannya tetap terjamin. Hal
ini karena regulasi diharapkan dapat memenuhi semua kepentingan partai dan
politikus yang ada di dalam pemerintahan saat ini.

Standar Akuntansi Sebagai Hasil Output dari Proses Politik.

Standar akuntansi dianggap sebagai produk dari proses politik karena


seperti yang telah kami jabarkan di atas bahwa banyak pihak yang melobi
standard setter untuk memenuhi kepentingannya dengan cara apapun, pada tingkat
intimidasi tertentu. Jadi pernyataan bahwa akuntansi selalu objektif, netral dan
tidak bersifat politik dapat disanggah. Salah satu pihak yang terkait dengan lobi
ini adalah manajer perusahaan. Manajer perusahaan memiliki insentif untuk
memanajemen laba agar dapat mencapai target pelaporan yang di inginkan
(Ordelheide, 1993, page 87; von Wysocki, 1984, page 58). Manajemen laba ini
dapat dilakukan jika standar-standar akuntansinya mendukung. Mengapa manajer
perusahaan ingin memperluas area bermain dan fleksibilitas manajemen laba?
Menurut Stephen A. Zeff (2002) berikut ini adalah alasan-alasannya:

1. Company managers are held to account by securities analysts whose


publicly announced earnings forecasts raise the bar for the performance
measures in companies quarterly, semi-annual and annual reports to
shareholders.
Analis yang menganalisa sebuah perusahaan akan melakukan peramalan
tentang harga sahamnya di masa depan. Jika perusahaan tidak dapat
mencapai target earning per share yang di tentukan oleh analis, maka
sudah pasti reputasinya akan turun dan harga saham pun akan turun
drastis.
2. Another motivation relates to how managers are compensated
Jika manajer mendapatkan bonus berdasarkan earning, maka manajer akan
secara mati-matian akan melobi pembuat standar agar membuat kebijakan
yang memudahkan manajer untuk memanajemen laba.
3. Very large companies that are regulated or subject to pressure from
politicians (e.g. anti-trust actions) might well seek to ward off intervention
in their affairs by lobbying for a standard that lowers their earnings, in
order not to attract undue attention from government.
Karena sebuah perusahaan takut disorot secara terus-menerus yang
mungkin takut jika informasi internal atau penyelewengan yang dilakukan
diketahui oleh pemerintah. Sehingga pihak manajemen harus mengurangi
earningnya agar tidak terlalu menarik perhatian. Watts and Zimmerman
(1978).

BAB III
KESIMPULAN

Regulasi akuntansi keuangan merupakan suatu peraturan, kebijkan yang


bersumber dari argumen-argumen dan perspektif yang didasarkan dari suatu
informasi akan suatu kepentingan, baik kepentingan publik, kelompok maupun
kepentingan individu. Dalam mempertimbangkan regulasi akuntansi, kita
mengetahui perspektif-perspektif untuk mengurangi atau menghilangkan regulasi
dan mengadakannya menjadi suatu kebijakan dan standar yang harus dipatuhi.
Kedua hal ini dibedakan dalam dua perspektif inti yaitu Perspektif Pasar Bebas
(Free Market Perspective) dan Perspektif Pro Regulasi (Pro Regulation
Perspective).
Kedua perspektif ini menjelaskan bagaimana suatu regulasi akuntansi
keuangan dibentuk melalui berbagai kepentingan dan juga menjadi suatu
pertimbangan dalam melihat konsekuensi dan dampak yang terjadi. Dan juga
menjadi pertimbangan yang menjelaskan mengapa regulasi diperlukan.
Oleh karena itu, regulasi akuntansi dapat menjelaskan suatu kebijakan dan
standar serta konsekuensi yang muncul akibat dari pemilihan suatu perspektif dan
akuntansi dalam hal ini diarapkan dapat menjadi alat representasi dalam
mentralisir hubungan baik agar keberlangsungan dari suatu informasi yang akan
menjadi dasar pengambilan keputusan semakin berarti.

DAFTAR PUSTAKA

Akerlof, George. (1970). The Market for Lemons: Quality Uncertainty and the
Market Mechanism, Quarterly Journal of Economics (The MIT Press) 84
(3).
Astika, I.B. Putra. 2010. Kontribusi Teori Kepentingan Kelompok dalam Standar
Akuntansi Keuangan.

Anonim. 1990. Comparability of Financial Statements, Statement of Intent,


International Accounting Standards Committee.
Anonim. 2010. Artikel: Pentingnya Regulasi dalam Akuntansi.
http://zetzu.blogspot.com/2010/10/pentingnya-regulasi-dalam-
akuntansi.html. Diakses pada 12 Juni 2014.
Anonim. 2010. Artikel: Pendekatan Regulatori dalam Formulasi Teori Akuntansi.
http://ekonomister.blogspot.com/2010/10/pendekatan-regulatori-dalam-
formulasi.html. Diakses pada 12 Juni 2014

Belkaoui, Ahmed. (1985).Accounting Theory, 2nd Edition, Harcourt Brace


Jovanovich Publishing Co.
Choi, Frederick D. S., dan Gary K. Meek. (2009). Akuntansi Internasional,
Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Deegan, Craig. 2004. Financial Accounting Theory. Australia: McGraw-Hill:
Australia Pty Limited
Farida, Siti., Yolanda Oclines, Okta Vadhyah Ahlina dan Sukha Adi Putra. 2012.
Makalah: Applying Theory to Accounting Regulation.
Maskyur, Ikmar. 2012. Artikel: Aplikasi Teori pada Regulasi Akuntansi.
http://monyetgagahsekali.blogspot.com/2012/04/aplikasi-teori-pada-
regulasi-akuntansi.html. Diakses pada 12 Juni 2014.

Ordelheide, D. 1993. True and fair view: a European and a German perspective,
European Accounting Review, No. 1, pp. 8190.
RA, Posner. (1974). Theories of Economic Regulation, National Bureau of
Economic Research.
Stigler, G. J. (1971) The theory of Economic regulation, Bell Journal of
Economics And Management Science (spring), pp. 2-21.
Watts, R.L. and Zimmerman, J.L. 1978. Towards a positive theory of the
determination of accounting standards, Accounting Review, January, pp.
11234.
Zeff, S.A. 1978. The rise of economic consequences, Journal of Accountancy,
December, p. 56.
Zeff, S.A. 2002. Financial Reporting Bay Listed Groups. McGraw-Hill Book
CompanyNew York.