Anda di halaman 1dari 17

INFEKSI GONOKOKAL

Rofifah Dwi Putri, S.Ked


Pembimbing DR. Dr. Yuli Kurniawati, Sp.KK, FINSDV
Bagian/Departemen Dermatologi dan Venereologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang

PENDAHULUAN
Gonore adalah infeksi bakteri disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, menyebabkan
inflamasi purulen pada membran mukosa genital.1 Pada umumnya cara penularannya melalui
hubungan kelamin yaitu secara genito-genital, dapat melalui oro-genital, dan ano-genital.2
Bakteri ini pada awalnya paling sering menyerang saluran urogenital dan organ lainnya
seperti rektum, orofaring, dan konjungtiva.3
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 820.000 infeksi
gonokokal terjadi setiap tahun di Amerika Serikat, walaupun kurang dari setengah kasus yang
dilaporkan. Gonore merupakan penyakit infeksi terbanyak kedua yang dilaporkan di Amerika
Serikat, setelah Chlamydia,4 dan meningkat pesat pada negara berkembang salah satunya
Indonesia.2 Data dari Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI) tahun
2012 melaporkan insidens gonokokus di Manado tahun 2007-2011 sebesar 31% menempati
urutan ke-2 di Indonesia, Medan (26,3%), Padang (33,3%), Bandung (28,7%), Semarang
(23,8%), Yogyakarta (27,3%), dan Denpasar (16,3%).5 Berdasarkan data kunjungan pasien ke
Poliklinik Dermatologi dan Venereologi Divisi Infeksi Menular Seksual RSUP Mohammad
Hoesin Palembang, pasien gonore sejak Januari 2012 hingga Januari 2016 sebanyak 62 kasus
dari total 650 kasus infeksi menular seksual.6
Perbandingan laki-laki dan perempuan yang mengalami infeksi gonokokal adalah
1:1,27, namun literatur lain melaporkan bahwa laki-laki dua sampai tiga kali lebih banyak
daripada perempuan.1 Infeksi ini paling banyak didapatkan pada kalangan remaja dan dewasa
muda yang aktif secara seksual yaitu usia 15-24 tahun pada perempuan dan 20-24 tahun pada
laki-laki.7 Gonore memiliki infektivitas tinggi dan mudah ditularkan walaupun sebelum gejala
muncul. Faktor sosial ekonomi, perilaku, dan kebiasaan seksual dari individu menentukan
risiko terjadinya infeksi.1
Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) Tahun 2012, gonore
termasuk dalam kategori 4 yang berarti dokter umum di Indonesia mampu membuat
diagnosis klinis dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas. 8
Tinjauan pustaka ini diharapkan dapat membantu dokter umum dalam menegakkan diagnosis
dan memberikan tatalaksana pada gonore dengan tepat.
ETIOPATOGENESIS

1
Etiologi infeksi gonokokal adalah bakteri Neisseria gonorrhoeae, merupakan bakteri
Gram-negatif, berbentuk diplokokus, bersifat tahan asam, tidak tahan lama di udara bebas,
cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan suhu diatas 39 oC, dan tidak tahan zat
desinfektan2 (Gambar 1). Manusia merupakan host bakteri ini. Diluar tubuh manusia bakteri
ini lemah, tetapi apabila berada di dalam tubuh memiliki kemampuan kuat yang berefek pada
variasi antigenik yang membantu dalam menghindari respon imun host dan mengembangkan
resistensi antimikroba.1

Gambar 1. Pewarnaan Gram memperlihatkan neutrofil (PMN) dan Gram-negatif diplokokus di dalam PMNs. 15

Secara morfologik, gonokok ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai
pili dan bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen.
Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. Daerah yang
paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng.2
Patogenesis melibatkan perlekatan bakteri ke sel epitel kolumnar via pili. Tempat
yang perlekatan paling sering yaitu sel mukosa saluran urogenital laki-laki dan perempuan.
Membran protein terluar, PilC dan Opa, pada bakteri membantu dalam perlekatan dan invasi
lokal. Invasi ini dimediasi oleh daya lekat dan enzim sphingomyelinase bakteri, yang
dikontribusikan pada proses endositosis. Bakteri ini mencegah pergantian sel mukosa, sebuah
mekanisme pertahanan alami. Beberapa galur gonokokus menghasilkan immunoglobulin
yang menembus rantai immunoglobulin manusia dan menghalangi respon imun normal host
terhadap bakteri. Setelah berada didalam sel, organisme ini akan melakukan repliklasi dan
dapat tumbuh baik pada lingkungan aerobik dan anaerobik. Setelah invasi selular, organisme
ini bereplikasi dan berproliferasi lokal, memicu terjadinya respon inflamasi. Pada host
muncul gambaran respon inflamasi akut yang menyebabkan mengelupasnya epitel,
mikroabses submukosa dan duh tubuh purulen. Diluar sel, bakteri akan rentan terhadap
perubahan temperatur, sinar ultraviolet, dan faktor lingkungan lainnya. Membrane terluar

2
terdiri dari endotoksin lipooligosaccharide, yang dihasilkan oleh bakteri selama periode
pertumbuhan dan berkontribusi pada patogenesis infeksi diseminata. Penundaan pemberian
antibiotik yang tepat, perubahan sistem pertahanan tubuh host, resistensi terhadap respon
imun, dan strain yang memiliki virulensi yang tinggi akan berkontribusi terhadap penyebaran
melalui darah dan infeksi diseminata. Manusia merupakan satu-satunya host alami N.
gonorrhoeae.1,13
Gonokokus akan melakukan penetrasi permukaan mukosa dan akan berkembang biak
di dalam jaringan subepitelial. Gonokokus akan menghasilkan berbagai macam produk
ekstraseluler yang dapat mengakibatkan kerusakan sel, termasuk di antaranya enzim seperti
fosfolipase, peptidase dan lainnya. Kerusakan jaringan ini tampaknya disebabkan oleh dua
komponen permukaan sel yaitu Lipo Oligosakarida (LOS) berperan menginvasi sel epitel
dengan cara menginduksi produksi endotoksin yang menyebabkan kematian sel mukosa dan
peptidoglikan (mengandung beberapa asam amino dan penicillin binding component yang
merupakan sasaran antibiotika penisilin dalam proses kematian kuman). Mobilisasi leukosit
PMN menyebabkan terbentuk mikroabses sub epitelial yang pada akhirnya akan pecah dan
melepaskan PMN dan gonokokus.11,12
Bakteri ini melekat dan menghancurkan membran sel epitel yang melapisi selaput
lendir, terutama epitel yang melapisi kanalis endoserviks dan uretra. Infeksi ekstragenital di
faring, anus, dan rektum dapat dijumpai pada kedua jenis kelamin. Untuk dapat menular,
harus ada kontak langsung mukosa ke mukosa. Orang yang terpajan bakteri ini tidak
semuanya akan terjangkit penyakit, dan risiko penularan dari laki-laki kepada perempuan
lebih tinggi daripada penularan perempuan kepada laki-laki terutama karena lebih luasnya
selaput lendir yang terpajan dan eksudat yang berdiam lama di vagina. Setelah terinokulasi,
infeksi dapat menyebar ke prostat, vas deferens, vesikula seminalis, epididimis, dan testis
pada laki-laki dan ke uretra, kelenjar Skene, kelenjar Bartholin, endometrium, tuba fallopii,
dan rongga peritoneum, menyebabkan Penyakit Radang Panggul (PID) merupakan penyebab
utama infertilitas pada perempuan.9
Sekitar 0,5-3% kasus penyebaran melalui darah dari membran mukosa yang
menyebabkan Disseminated Gonococcal Infection (DGI).1 Disseminated Gonococcal
Infection merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Gejala klinisnya merupakan sindroma
artritis-dermatitis akut yang terdiri dari arthritis akut, tenosinovitis, dermatitis atau
kombinasi dari gejala-gejala tersebut. Selain itu dapat juga mengalami endokarditis dan
meningitis gonokokal.3,10,13

3
Pada permulaan tahun 1976 ditemukan Neisseria Gonorrhoeae Penghasil Penisilinase
(N.G.P.P) atau Penicillinase Producing Neisseria gonorrhoeae yang mampu membuat enzim
penisilinase atau beta-laktamase yang dapat merusak penisilin menjadi senyawa inaktif.
Galur ini sukar diobati dengan penisilin dan derivatnya, walaupun dengan peninggian dosis.
Selain itu ditemukan juga galur N. gonorrheoeae yang resisten terhadap antibiotik lainnya
seperti tetrasiklin.10

GAMBARAN KLINIK
Periode inkubasi pada laki-laki umumnya berkisar 2-8 hari, dapat lebih lama karena
kebanyakan gejala muncul sekitar 2 minggu setelah terpapar. Pada perempuan masa tunas
sulit untuk ditentukan karena pada umumnya asimtomatik. Hanya sekitar 10% pada laki-laki
yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala dan 50% pada perempuan yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala. Gambaran klinis dan komplikasi gonore sangat erat hubungannya
dengan susunan anatomi dan fisiologi genital. Komplikasi mungkin terjadi karena
pembentukan abses lokal dan dari infeksi asendens dan melalui penyebaran hematogen. 2,13

Infeksi Gonokokal pada Laki-laki

Gambar 2. Duh tubuh purulen dari uretra dan inflamasi preputium dan glans penis. 13

Manifestasi infeksi gonokokal yang paling banyak terjadi pada laki-laki adalah
urteritis, yang terjadi secara spontan, banyak, duh tubuh keruh atau purulen (Gambar 2).
Paling sering terjadi urteritis anterior akuata yang dapat menjalar ke proksimal, dan
mengakibatkan komplikasi lokal, asendens serta diseminata. Keluhan subjektif berupa rasa
gatal, panas di bagian distal uretra di sekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul
disuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah,
dapat pula disertai nyeri pada saat ereksi. Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra
eksternum kemerahan, edema, ektropion, dan duh tubuh mukopurulen. Pada beberapa kasus
dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.10,13,14

4
Infeksi Gonokokal pada Perempuan
Gejala subjektif jarang ditemukan pada perempuan dan hampir tidak pernah didapati
kelainan objektif. Gejala utama uretritis adalah disuria. Pada pemeriksaan, orifisium uretra
eksternum tampak eritem, edema dan terdapat sekret mukopurulen.2

Gambar 3. Servitis1

Infeksi pada serviks uteri dapat asimtomatik, kadang-kadang menimbulkan nyeri pada
punggung bawah. Gejala yang timbul yaitu duh tubuh vagina, perdarahan vagina, dan disuria.
Pada pemeriksaan, serviks tampak merah dengan erosi dan sekret mukopurulen (Gambar
3).1,2,15
Vaginitis gonore hanya terjadi pada masa prapubertas dan menopause. Hal ini terjadi
karena epitel vagina dalam keadaan belum berkembang (sangat tipis) pada masa prepubertas.
Pada masa reproduktif, lapisan selaput lendir vagina mengandung banyak glikogen dan basil
Doderlein yang akan memecah glikogen sehingga suasana menjadi asam dan tidak
menguntungkan bagi pertumbuhan kuman gonokok, berkurang pada masa menopause.2,13

Infeksi Gonokokal Ekstragenital


Kelainan yang timbul akibat hubungan seksual oro-genital atau ano-genital, pada laki-
laki dan perempuan dapat berupa orofaringitis, proktitis. Proktitis yaitu infeksi yang terjadi
pada daerah rektum, pria dan wanita pada umumnya asimtomatik. Gonore rektal umumnya
terjadi pada laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama dan perempuan
heteroseksual. Pada wanita dapat terjadi karena kontaminasi vagina dan kadang-kadang
karena hubungan genitoanal seperti pada pria. Keluhan pada wanita biasanya lebih ringan
daripada pria, terasa seperti terbakar pada daerah anus dan pada pemeriksaan tampak mukosa
eritematosa, edematosa, dan tertutup pus mukopurulen (Gambar 4). Gejala penyerta adalah
pruritus, perdarahan, tenesmus dan konstipasi.2,14

5
Gambar 4. Gonococcal proktitis. Proctoscopy ditemukan inflamasi mukosa dan duh tubuh purulen
Infeksi gonokokal dapat juga terjadi pada orofaring. Orofaringitis terjadi dengan cara
infeksi melalui kontak secara oro-genital. Faringitis dan tonsilitis gonore lebih sering
daripada gingivitis, stomatitis, atau laringitis. Keluhan sering bersifat asimtomatik. Bila ada
keluhan sukar dibedakan dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh kuman lain. Pada
pemeriksaan daerah orofaring tampak eksudat mukopurulen yang ringan atau sedang.2,14

Gambar 5. Gonokokal ophthalmia neonatorum1

Konjungtivitis sangat jarang terjadi pada orang dewasa. Infeksi dapat terjadi karena
penularan pada konjungtiva melalui tangan atau alat-alat. Keluhan berupa fotofobi,
konjungtiva bengkak dan merah dan keluar eksudat mukopurulen. Bila tidak diobati dapat
berakibat terjadinya ulkus kornea, panoftalmis sampai timbul kebutaan. Infeksi pada daerah
ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir yang terpapar sekresi terinfeksi pada jalan lahir
dari ibu yang menderita servitis gonore, sebagai ophthalmia neonatorum (Gambar 5).
Biasanya terjadi pada minggu pertama setelah kelahiran. Kerusakan visual dapat dicegah
dengan pengenalan dan tatalaksana yang tepat. Pencegahan dapat dilakukan dengan perak
nitrat atau tetes mata antimikrobial yang diberikan langsung setelah lahir.1,2,13,14,15

KOMPLIKASI
Komplikasi Infeksi Gonokokal pada Laki-laki

6
Komplikasi lokal pada pria bisa berupa tisonitis. Kelenjar Tyson adalah kelenjar yang
menghasilkan smegma. Infeksi biasanya terjadi pada penderita dengan preputium yang sangat
panjang dan kebersihan yang kurang. Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir pus
atau pembengkakan pada daerah frenulum disertai nyeri tekan. Dapat timbul abses apabila
duktus tertutup dan menrupakan sumber infeksi laten.2
Pada parauretritis terjadi infeksi pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua
muara parauretra, lebih sering terjadi pada laki-laki dengan orifisium uretra eksternum
terbuka atau hipospadia dan dapat menyebabkan deformitas berupa saxophone penis. Littritis
merupakan infeksi yang terjadi pada glandula uretralis atau Littre, dapat didiagnosis dengan
uretroskopi, pada urin ditemukan benang-benang atau butir-butir. Bila salah satu saluran
tersumbat dapat terjadi abses folikular. Abses dapat terjadi pada cowperitis ataupun tanpa
gejala apabila hanya duktus yang terkena. Gejala yang muncul berupa nyeri dan adanya
benjolan pada perineum disertai rasa penuh dan panas, nyeri pada waktu defekasi, dan
disuria. Jika tidak diobati abses akan pecah melalui kulit perineum, uretra, atau rektum dan
mengakibatkan proktitis.1,2
Infeksi dapat menjalar ke atas (asendens), sehingga terjadi infeksi pada prostat yang
disebut prostatitis. Dapat ditandai dengan perasaan tidak nyaman pada daerah perineum dan
suprapubis, malaise, demam, nyeri buang air kecil sampai hematuri, spasme otot urera
sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit buang air besar, dan obstipasi. Pada
pemeriksaan fisik Rectal Toucher (RT) teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal,
nyeri tekan, dan didapatkan fluktuasi bila telah terjadi abses. Proktitis dapat terjadi apabila
tidak diobati.2
Vesikulitis adalah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus
ejakulatoris, dapat timbul menyertai prostatitis akut atau epididimis akut. Gejala subjektif
menyerupai gejala prostatitis. Pada pemeriksaan melalui rektum dapat diraba vesikula
seminalis yang membengkak, keras, memanjang di atas prostat. Gejala pada vas deferentitis
yang terjadi pada vas deferens atau funikulitis yang terjadi pada saluran sperma berupa nyeri
pada daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang sama. Epididimitis yang mengenai kedua
epididimis dapat mengakibatkan sterilitas, dengan gejala bengkak dan teraba panas. Pada
penekanan terasa sangat nyeri. Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai
trigonum vesika urinaria. Trigonitis menimbulkan gejala poliuria, disuria terminal, dan
hematuria.2

Komplikasi Infeksi Gonokokal pada Perempuan

7
Awalnya hanya serviks uteri yang terkena infeksi. Duh tubuh yang mukopurulen dan
mengandung banyak gonokok mengalir keluar dan menyerang uretra, duktus parauretra,
kelenjar Bartholin, rektum, dan dapat juga naik ke atas sampai pada daerah kandung telur.2
Sangat jarang terjadi abses pada parauretritis/skenitis, yaitu infeksi pada kelenjar
parauretritis atau disebut juga kelenjar Skene. Pada Bartolinitis yaitu infeksi pada kelenjar
Bartholini, didapatkan labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah, dan nyeri
tekan, serta terasa nyeri sekali apabila penderita berjalan dan penderita sukar duduk. 2 Tuba
falopi dapat terinfeksi yang disebut salpingitis. Faktor predisposisi terjadinya salpingitis yaitu
masa nifas, setelah kuretase, pemakaian dan tindakan AKDR (Alat Kontrasepsi dalam
Rahim).1,2
Cara infeksi langsung dari serviks melalui tuba falopi sampai pada daerah sekitar dan
ovarium sehingga dapat menyebabkan penyakit radang panggul (PRP). Penyakit radang
panggul ini dapat menimbulkan kehamilan ektopik dan sterilitas. Sekitar 10-40% perempuan
dengan gonore akan berakhir dengan PRP. Gejala yang timbul berupa demam, nyeri pada
daerah abdomen bawah, duh tubuh vagina, menometroragia, disuria, nyeri pada saat
bersanggama (dispareunia), menstruasi yang tidak teratur atau abnormal dan kadang-kadang
disertai dengan mual dan muntah. Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan pungsi
kavum Douglas dan dilanjutkan kultur atau dengan laparoskopi mikroorganisme.2,13,17

Disseminated Gonococcal Infection (DGI) atau Infeksi Gonokokal Diseminata


Kira-kira 1% kasus gonore akan berlanjut menjadi gonore diseminata melalui
penyebaran lewat darah. Penyakit ini banyak didapat pada penderita dengan gonore
asimtomatik sebelumnya, terutama pada wanita. Gejala yang timbul dapat berupa arthritis
(terutama monoartritis), miokarditis, endokarditis, perikarditis, meningitis, dan dermatitis. 2
Sebanyak 0,5-3% kasus DGI berhubungan dengan trias klasik yaitu dermatitis, poliartritis
migrans, dan tenosinovitis. Penyebaran infeksi dari daerah infeksi primer menuju bagian lain
tubuh melewati aliran darah menyebabkan terjadinya DGI.13
Gejala pada kulit terdiri dari makula berukuran kecil sampai sedang atau paling
sering vesikopustul hemoragik pada dasar eritema berlokasi pada telapak tangan dan telapak
kaki, dapat juga terjadi di badan dan ekstremitas. Lesi kulit mungkin berkembang menjadi
nekrosis sentral. Secara bersamaan beberapa derajat hemoragik dan nekrosis menunjukkan
gun metal grey untuk menggambarkan lesi kutaneus pada DGI. Pada telapak tangan dan
telapak kaki, lesi mungkin tender, tetapi juga bersifat tidak pruritus dan tidak sakit. Lesi kulit
dapat sembuh apabila diberikan tatalaksana yang baik. Lesi kutaneus terjadi pada 40-70%
kasus DGI.13

8
Gejala artritis, rasa nyeri dan bengkak dapat terjadi pada satu sendi atau pada lebih
dari satu sendi yang asimetris. Artritis disertai dermatitis merupakan manifestasi DGI
13
tersering yang ditemukan. Perikarditis dan endokarditis dapat terjadi pada tingkat ini.
Kebanyakan terjadi pada laki-laki, biasanya terjadi pada katup aorta dan timbul gejala nyeri
dada dengan onset subakut, demam, menggigil, dan malaise. Meningitis jarang terjadi,
memiliki gejala yang hampir sama dengan yang disebabkan oleh meningococci, tetapi lebih
cepat dan mudah dikenali.1

DIAGNOSIS BANDING
Infeksi Genital Nongonokok (IGNG) atau Nongonococcal Genital Infection (NGGI)
merupakan peradangan di uretra, rektum, dan serviks yang disebabkan oleh kuman lain selain
gonokok, seperti Chlamydia trachomatis dan Ureaplasma urealyticum. Berbeda dengan
infeksi gonokokal, pada IGNG timbulnya gejala biasanya 1-5 minggu setelah kontak seksual,
gejala lebih ringan, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Perempuan biasanya asimtomatik,
sama seperti pada infeksi gonokokal.2,16
Pasien laki-laki yang datang dengan keluhan duh tubuh uretra dan atau nyeri pada saat
kencing agar diperiksa terlebih dulu ada tidaknya duh tubuh. Kuman patogen penyebab
utama duh tubuh uretra adalah Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis. Oleh
karena itu, pengobatan pasien dengan duh tubuh uretra secara sindrom harus dilakukan
serentak terhadap kedua jenis kuman penyebab tersebut. Uretritis yang menetap atau rekuren
biasanya dihubungkan dengan Trichomonas vaginalis. Bila ada fasilitas laboratorium yang
memadai, kedua kuman penyebab tersebut dapat dibedakan, dan selanjutnya pengobatan
secara lebih spesifik dapat dilakukan. Pada pemeriksaan dengan pendekatan sindrom tanpa
tanpa sarana laboratorium, dapat digunakan duh tubuh uretra pada laki-laki dengan
pendekatan sindrom.17
Radang saluran epididimis biasanya menimbulkan rasa nyeri pada testis yang bersifat
akut, unilateral, dan sering terasa nyeri pada palpasi epididimis dan vas deferens. Tampak
pula edema dan kemerahan pada kulit di atasnya. Pada laki-laki berumur kurang dari 35
tahun, pembengkakan skrotum lebih sering disebabkan oleh organisme menular seksual
dibandingkan dengan laki-laki berusia lebih dari 35 tahun. Bila terjadi radang epididimis
disertai duh tubuh uretra, maka hampir dapat dipastikan bahwa penyebabnya adalah IMS,
yang umumnya berupa gonore dan atau klamidiosis. Testis yang terletak berdekatan sering
juga menunjukkan radang (orkitis), bila terjadi bersamaan disebut sebagai epididimo-orkitis.
Pembengkakan skrotum dapat disebabkan oleh keadaan bukan oleh infeksi virus atau kuman,
misalnya akibat rudapaksa, torsi testis atau tumor. Torsi testis perlu dipertimbangkan bila

9
nyeri skrotum terjadi secara mendadak, karena memerlukan tindakan bedah darurat, sehingga
perlu segera dirujuk.17
Keluhan duh tubuh vagina abnormal paling sering disebabkan oleh radang vagina,
tetapi dapat pula akibat radang serviks yang mukopurulen. Trikomoniasis, kandidiasis dan
vaginosis bakterial merupakan keadaan yang paling sering menimbulkan infeksi vagina
sedangkan N.gonorrhoeae dan C.trachomatis sering menyebabkan radang serviks. Deteksi
infeksi serviks berdasarkan gejala klinis sulit dilakukan, karena sebagian besar wanita dengan
gonore atau klamidiosis tidak merasakan keluhan atau gejala (asimtomatis). Pemeriksaan
secara mikroskopik hanya sedikit membantu diagnosis infeksi serviks, karena hasil
pemeriksaan yang negatif sering menunjukkan hasil yang negatif palsu. Untuk keadaan ini
perlu dilakukan kultur atau biakan bakteri.17
Semua wanita aktif seksual dengan keluhan nyeri perut bagian bawah perlu dievaluasi
terhadap kemungkinan salfingitis dan atau endometritis atau penyakit radang panggul (PRP).
Sebagai tambahan, pemeriksaan abdominal dan bimanual rutin agar dilakukan terhadap
semua wanita dengan dugaan IMS karena biasanya wanita dengan PRP atau endometritis
pada awalnya tidak akan mengeluhkan nyeri perut bagian bawah. Wanita dengan endometritis
akan mengeluhkan duh tubuh vagina dan atau perdarahan vagina, dan atau nyeri pada uterus
pada saat pemeriksaan dalam. Kuman penyebab PRP meliputi N.gonorrhoeae,
C.trachomatis, dan bakteri anaerob (Bacteroides spesies, dan kokus Gram positif). Kuman
berbentuk batang Gram negatif dan Mycoplasma hominis dapat juga menjadi penyebab
PRP.17

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan
penunjang. Apabila pada layanan kesehatan tidak didapatkan fasilitas untuk melakukan
pemeriksaan dalam dan laboratorium, dapat digunakan alur pendekatan sindrom baik untuk
laki-laki maupun perempuan.
Berikut uraian lima tahapan pemeriksaan penunjang2:
1. Sediaan langsung
Pada sediaan langsung dengan perwarnaan Gram ditemukan gonokok Gram-negatif,
intraselular dan ekstraseluler. Bahan duh tubuh pada laki-laki diambil dari daerah fosa
navikularis, sedangkan pada perempuan diambil dari uretra, muara kelenjar Bartholin,
serviks, untuk pasien dengan anamnesis berisiko melakukan kontak seksual ano-
genital dan oro-genital, maka pengambilan bahan duh dilakukan pada faring dan
rektum. Sensitivitas pemeriksaan langsung ini bervariasi, pada spesimen duh uretra
laki-laki sensitivitas berkisar 90-95%, sedangkan dari spesimen endoserviks

10
sensitivitasnya hanya berkisar antara 45-65%, dengan spesifisitas yang tinggi yaitu
90-99%.2,16
2. Kultur
Untuk identifikasi spesies perlu dilakukan pemeriksaan biakan (kultur). Dua macam
media yang dapat digunakan:
1. Media transpor
- Media Stuart
Merupakan media transport saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media
pertumbuhan
- Media Transgrow
Media ini selektif dan nutritif untuk N. Gonorrhoeae dan N. Meningitidis;
dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan media transpor dan
media pertumbuhan, sehingga tidak perlu ditanam pada media pertumbuhan.
Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin dengan penambahan
trimetoprim untuk mematikan Proteus spp.
2. Media pertumbuhan
- Mc Leods chocolate agar
Merupakan media nonselektif. Berisi agar coklat, agar serum. Selain kuman
N. Gonorrhoeae, kuman-kuman yang lain juga dapat tumbuh.
- Media Thayer Martin
Media ini selektif untuk isolasi N. Gonorrhoeae. Mengandung vankomisin
untuk menekan pertumbuhan kuman Gram-positif, kolestrimetat untuk
menekan pertumbuhan bakteri Gram-negatif, dan nistatin untuk menekan
pertumbuhan jamur.
- Modified Thayer Martin agar
Isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan kuman
Proteus spp.
3. Tes identifikasi presumtif dan konfirmasi (definitif)
1. Tes oksidase
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilendiamin
hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. Semua Neisseria
member reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening
berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung.
2. Tes fermentasi
Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glukosa, maltosa,
dan sukrosa. N. Gonorrhoeae hanya meragikan glukosa.
4. Tes beta-laktamase
Pemeriksaan beta-laktamase dengan menggunakan cefinase TM dis. BBL 961192
yang mengandung chromogenic chepalosporin, akan menyebabkan perubahan warna
dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim beta-laktamase.
5. Tes Thomson

11
Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai di mana infeksi sudah
berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakuakn karena pengobatan pada waktu
itu adalah pengobatan setempat.
Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatijan:
- Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi
- Urin dibagi dalam dua gelas
- Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II
Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit 80-
100 ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas II sukar dinilai karena baru
menguras uretra anterior.

Tabel 2. Hasil pembacaan tes Thomson2


Gelas I Gelas II Arti
Jernih Jernih Tidak ada infeksi
Keruh Jernih Infeksi uretritis anterior
Keruh Keruh Panuretritis
Jernih Keruh Tidak mungkin

Tabel 3. Rekomendasi pemeriksaan laboratorium2


Jenis pemeriksaan Sensitivitas Spesifisitas A B C
Gram:
Uretra 90-95 95-99 + + +
Endoserviks 45-65 90-99 + + +
Kultur:
Uretra 94-98 >99 +/- + +
Endoserviks 85-95 >99 +/- + +
Keterangan:
A: Klinik luar rumah sakit/praktek pribadi
B: klinik rumah sakit dengan fasilitas laboratorium terbatas
C: riset laboratorium lengkap

Pemeriksaan lain yang dikembangkan untuk deteksi di antaranya adalah pemeriksaan


antibody terhadap N. Gonorrhoeae seperti fiksasi komplemen, imunopresipitasi,
imunofloresesnsi, ELISA dan lain-lain. Namun, uji serologis tersebut hanya mempunyai
sensitivitas sebesar 70%, sehingga tidak digunakan sebagai pemeriksaan penunjang.2

TATALAKSANA
Tatalaksana duh tubuh uretra dan vagina perlu dipertimbangkan ketersediaan sarana
pemeriksaan pada lokasi layanan kesehatan. Yang paling ideal adalah melakukan
pemeriksaan penunjang untuk mengetahui mikroorganisme penyebab. Oleh karena itu pada
praktisnya perlu dibedakan antara ada atau tidak adanya fasilitas pemeriksaan mikroskopis.2

12
Untuk daerah tanpa fasilitas pemeriksaan dan laboratorium lengkap, tatalaksana dapat
dilakukan dengan sindromic approach (pendekatan sindrom) berupa penilaian faktor risiko,
dan langsung mengobatinya untuk kedua infeksi tersebut. Untuk lokasi layanan kesehatan
yang mempunyai fasilitas pemeriksaan dan laboratorium lengkap, pendekatannya dapat lebih
sempurna.2
Pedoman tatalaksana pada infeksi gonore2:
Non medikamentosa:
- Bila memungkinkan periksa dan lakukan pengobatan pada pasangan tetapnya
(notifikasi pasangan)
- Anjurkan abstinensia sampai infeksi dinyatakan sembuh secara laboratoris,
bila tidak memungkinkan anjurkan penggunaan kondom
- Kunjungan ulangan untuk tindak lanjut di hari ke-3 dan hari ke-7
- Lakukan konseling mengenai infeksi, komplikasi yang dapat terjadi,
pentingnya keteraturan berobat
- Lakukan Provider Initiated Testing And Counseling (PITC) terhadap infeksi
HIV dan kemungkinan mendapatkan infeksi menular seksual lain
- Bila memungkinkan lakukan pemeriksaan penapisan untuk IMS lainnya
Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga dan ketersediaan
obat, dan sesedikit mungkin efek toksinya. Pilihan utama antimikroba adalah penisilin dan
probenesid, kecuali di daerah yang tinggi insidens N. Gonorrheae Penghasil Penisilinase
(N.G.P.P.). Saat ini secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat per oral
dengan dosis tunggal. Obat pilihan utama adalah sefiksime dosis tunggal, per oral.2
Di Amerika Serikat dilaporkan kejadian kegagalan terapi infeksi gonokokal dengan
menggunakan sefiksime, maka CDC tidak lagi merekomendasikan sefiksime sebagai pilihan
utama terapi infeksi gonokokal. Tatalaksana ganda menggunakan seftriakson dan azitromisin
menjadi tatalaksana yang sekarang direkomendasikan. Dosis seftriakson yang diberikan
sebanyak 250 mg intramuskular (IM) dan azitromisin 1 g per oral, keduanya dosis tunggal
dan direkomendasikan untuk ibu hamil. Sefiksime dosis 400 mg per oral dikombinasikan
dengan azitromisin merupakan terapi alternatif apabila seftriakson tidak tersedia. Pemberian
kombinasi terapi dengan azitromisin disebabkan tingginya angka resistensi. Doxycyclin (100
mg per oral dua kali sehari selama 7 hari) merupakan antibiotik pengganti pada kasus alergi
azitromisin. Spektinomycin, 2 g IM, dapat yang diberikan pada penderita dengan alergi
penisilin. Konjungtivitis gonokokus dapat diberikan irigasi mata dan antibiotik seftriaskson
1g IM dikombinasikan dengan azitromisin 1g per oral, keduanya dosis tunggal.1,4,15
Konsultasi dengan spesialis penyakit infeksi, dirawat dirumah sakit dan pemberian
terapi antimikrobial ganda dapat diberikan pada kasus DGI, disesuaikan dengan organ yang

13
terkena. Artritis dan artitis-dermatitis diberikan antimikrobial seftriakson (1 g IM atau IV
setiap 24 jam) dan azitromisin (1 g per oral dosis tunggal). Cefotaxime (1 g IV setiap 8 jam)
dan Ceftizoxime (1 g IV setiap 8 jam) merupakan terapi alternatif, tetap dikombinasikan
dengan azitromisin. Endokarditis dan meningitis gonokokal dapat diberikan antimikrobial
seftriakson (1-2 g IV setiap 12-24 jam) dan azitromisin (1 g per oral dosis tunggal). Durasi
terapi pada DGI belum sepenuhnya diketahui. Terapi meningitis harus dilanjutkan dengan
terapi parenteral selama 10-14 hari. Terapi parenteral pada endokarditis dilanjutkan
setidaknya 4 minggu.4
Pencegahan ophthalmia neonatorum dapat diberikan obat oles berupa eritromisin
(0,5%), dioleskan satu kali pada setiap mata tepat setelah lahir secara pervaginam maupun
sectio caesarea. Salep silver nitrate dan tetrasiklin tidak lagi direkomendasikan karena tidak
efektif. Apabila salep eritromisin tidak tersedia, dapat diberikan seftriakson 2550 mg/kg IV
or IM, maksimal 125 mg dosis tunggal.4
Tatalaksana diindikasikan apabila diagnosis gonore telah ditegakkan atau didaerah
tersebut terdapat banyak kasus infeksi gonokokal dan diketahui terdapat riwayat kontak
dengan penderita. Penderita gonore dan pasangannya harus sepenuhnya diberikan pengobatan
dan dilakukan pemeriksaan penyakit menular seksual lainnya dan HIV, diberikan konseling,
edukasi dan dukungan tanpa adanya penghakiman. Diinformasikan kepada penderita dan
pasangannya untuk tidak melakukan hubungan seksual selama 7 hari setelah dimulai
pengobatan dan gejala hilang, ditujukan untuk meminimalkan terjadinya penularan.
Pemeriksaan Nucleic acid amplification tests (NAAT) dilakukan untuk mengetahui
kesembuhan, dilakukan 2 minggu setelah pengobatan selesai, biasanya tidak diindikasikan
pada infeksi gonokokal di urogenital dan rektal. Pengobatan diberikan lebih lama pada
infeksi gonokokal yang disertai komplikasi dan biasanya disertai pengobatan untuk bakteri
penyerta gonore seperti Chlamydia trachomatis.1,4

PROGNOSIS
Prognosis infeksi ini sangat baik apabila diberikan tatalaksana yang cepat dengan
antibiotik yang tepat. Infeksi gonokokal yang telah sembuh tidak mengurangi risiko
berulangnya infeksi. Disseminated Gonococcal Infection (DGI) memiliki prognosis yang baik
apabila diberikan pengobatan yang tepat dan sebelum terjadi kerusakan permanen pada sendi
dan organ.13
Sekitar 95% penderita dengan uretritis tanpa komplikasi akan menjadi asimtomatik
setelah 6 bulan apabila tidak dilakukan tatalaksana yang tepat, walaupun kemungkinan terjadi

14
komplikasi >20%. Infeksi faringeal memiliki tingkat kesembuhan 100% setelah pengobatan
selama 12 minggu. Infeksi gonokokal yang terjadi tanpa disertai komplikasi apabila
tatalaksana dengan terapi antimikrobial yang tepat dapat sembuh sempurna.1

KESIMPULAN
Gonore adalah infeksi bakteri disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, menyebabkan
inflamasi purulen pada membran mukosa genital. Cara penularannya melalui hubungan
kelamin yaitu secara genito-genital, oro-genital, dan ano-genital, atau dari ibu ke bayi selama
persalinan. Bakteri ini akan melekat ke epitel kolumnar dan melakukan invasi selular,
replikasi, dan proliferasi lokal yang dapat menyebabkan respon inflamasi. Mukosa saluran
urogenital merupakan tempat paling sering terjadi infeksi gonokokal, yaitu uretritis pada laki-
laki dan servitis pada perempuan. Diagnosis infeksi gonokokal yaitu menemukan gonokok
Gram-negatif dari pemeriksaan sediaan langsung, biakan, ataupun metode lainnya.
Penatalaksaan pasien infeksi gonokokal yang utama adalah dual terapi antrimikroba, lini
utama yaitu seftriakson 250 mg IM dan azitromisin 1 g per oral, keduanya dosis tunggal.
Prognosis infeksi ini sangat baik apabila diberikan tatalaksana yang cepat dengan antibiotik
yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

15
1. Kinghorn, G.R., et al. 2016. Other Sexually Transmitted Bacterial Diseases. Dalam:
Griffiths, C., et al (Editor). Rooks Textbook of Dermatology. 9th ed. Vol 1. United
Kingdom: Wiley Blackwell. hal 30.1-8.
2. Daili, S. F. dan Hanny, N. 2015. Gonore. Dalam: Djuanda, A., dkk. (Editor) Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: Badan penerbit FKUI. hal 443-9.
3. Hook, E. W. dan Handsfield, H. 2008. Gonococcal Infections in the Adult. Dalam:
Holmes, K.K., et al (Editor). Sexually Transmitted Disease. 4rd ed. New York:
McGraw-Hill. hal 62845.
4. Centers for Disease Control and Prevention. 2015. Sexually Transmitted Diseases
Treatment Guidelines. Morbidity and Mortality Weekly Report. 64 (3): 60-8.
5. Sambonu, A., dkk. 2016. Profil Uretritis Gonokokus dan Non-Gonokokus di
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari
Desember 2012. Jurnal e-Clinic.
6. Laporan dan kunjungan pasien Poliklinik Dermatologi Infeksi Menular Seksual Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin periode Januari 2012-September 2016. Palembang: RS
Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
7. Centers for Disease Control and Prevention. 2009. Sexually transmitted diseases in
the United States. http://www.cdc.gov/std/stats09/trends.pdf
8. Konsil Kedokteran Indonesia. 2012. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta:
Konsil Kedokteran Indonesia.
9. Prince, N.A. 2012. Infeksi Saluran Genital. Dalam: Price, S. A. dan Wilson, L.M
(Editor). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi ke-6. Vol 1.
Jakarta: EGC. hal 1336-7.
10. Daili, S.F. 2011. Gonore. Dalam: Daili, S.F., dkk (Editor). Infeksi Menular Seksual.
Edisi ke-4. (hal. 65-76) Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
11. Isnain H, Martodiharjo S. 2007. Resistensi Neisseria Gonorrhoeae terhadap
Antibiotik. BIPK. 13 (2) : 809.
12. Sparling PF. 2008. Biology of Neisseria Gonorrhoeae. Dalam: Holmes, K.K., et al,
(Editor). Sexually Transmitted Disease. 4rd ed. New York: McGraw-Hill. hal 61729.
13. Rosen, T. Gonorrhea, Mycoplasma, and Vaginosis. 2008. Dalam: Wolff, K.,
Goldsmith, L.A., Katz, S.I., et al, (Editor). Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine 8th Ed. Chicago: The McGraw-Hill Companies. hal 2514-9.
14. Stary, A. 2009. Sexual Transmitted Infections. Dalam: Bolognia, J. L., Jorizzo, J. L.,
and Rapini, R. P., (Editor). Dermatology. 2nd ed. United Kingdom: Elsevier. hal 1250-7
15. Ison, C. A. and Lewis, D. A. 2010. Gonorrhea. Dalam: Morse, S. A., et al (Editor).
Atlas of Sexually Transmitted Disease and AIDS. 4rd ed. United Kingdom: Elsevier.
hal 24-39.

16
16. Daili, S. F. dan Hanny, N. 2015. Infeksi Genital Nonspesifik. Dalam: Djuanda, A.,
dkk. (Editor). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: Badan penerbit
FKUI. hal 439-42.
17. Kementrian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular
Seksual. Jakarta: Bakti Husada.

17