Anda di halaman 1dari 15

PEMERIKSAAN MOTORIK

Anatomi

Sistem motorik adalah sistem yang bertanggung jawab terhadap kerja kelompok-kelompok
otot, yaitu inisisasi gerakan volunter dan terampil. Serabut serabut motorik bersama sama
input yang berasal dari sistem-sistem yang terlibat dalam kontrol gerakan yang meliputi
sistem ekstrapiramidal, vestibular, serebellar dan propioceptive afferent semuanya bergabung
didalam badan-badan sel neuron pada cornu anterior medulla spinalis. Dari sel cornu anterior
impuls dibawa ke otot (Gambar 1)

Gambar 1. The Motor Pathway


Prinsip-prinsip Pemeriksaan Fungsi Motorik

Sistem motorik diperiksa dalam hal :

Bentuk/ massa otot

Tonus otot

Kekuatan otot

Bentuk/ Massa Otot

Pemeriksaan motorik dimulai dengan inspeksi tiap daerah yang diperiksa. Setelah pasien
berbaring, seluruh otot pasien perlu diamati, termasuk kelompok otot yang tidak tampak saat
pasien berbaring datar. Bandingkan kesimetrisan kontur massa otot, inspeksi baik proksimal
dan distal. Amati apakah ada kelemahan otot/ atropi, hipertropi, hipotropi. Otot yang
mengecil tampak dari berkurangnya massa dan penampakan yang kendur. Cari juga ada
tidaknya fasikulasi dan gerakan involunter (spontan) pada anggota gerak atau tremor pada jari
tangan. Gerakan involunter tersebut dapat diperkuat dengan menjentik otot dengan lembut.

Atropi otot merupakan lanjutan dari pengurangan massa otot. Hal ini dapat diakibatkan dari
penyakit-penyakit pada system saraf perifer; misalnya pada neuropathi DM. Penyebab lain
dari atropi ini adalah kelainan-kelainan pada motor neuron, disuse otot, remathoid arthritis
dan malnutrisi kalori protein. Atropi otot tangan terjadi normal pada proses penuaan (Gambar
2B).

A. B

Gambar 2. Tangan Wanita Umur 40-an (A) dan Umur 80-an (B)
Hipertropi otot adalah peningkatan massa otot disertai dengan kekuatan yang proporsional.
Peningkatan massa otot dengan kekuatan yang menurun disebut pseudohipertropi.

Fasikulasi terlihat seperti desiran atau kedutan tidak teratur di bawah kulit pada saat otot
istirahat. Fasikulasi dapat terjadi pada kelainan lower motor neuron, biasanya pada otot-otot
yang mengecil. Fasikulasi non patologi kadang terjadi setelah olahraga berat pada orang
sehat.

Tonus Otot

Tonus dapat didefinisikan sebagai sedikit ketegangan residual pada otot yang rileks secara
volunter. Peningkatan tonus disebut hipertonia, sedangkan penurunan tonus disebut hipotonia.
Tonus dinilai dengan resistensi terhadap gerak pasif; dengan cara menggerakkan sendi-sendi
utama lengan dan tungkai (siku, paha, dan lutut) secara pasif untuk menentukan jumlah
resistensi terhadap gerakan pemeriksa. Mintalah pasien untuk relaks kemudian lakukan gerak
pasif pada otot itu. Siku diekstensikan kemudian difleksikan. Lengan dipronasikan kemudian
disupinasikan. Paha dan lutut difleksikan kemudian diekstensikan. Bandingkan satu sisi
dengan sisi yang lainnya. Hipotonia mudah dikenali dengan tanda ekstremitas terasa terkulai
dan biasanya disertai dengan kelemahan otot yang mencolok; sedangkan hipertonia dapat
luput dari deteksi.

Meningkatnya resistensi, seperti pada rigiditas atau spastisitas otot, berarti meningkatnya
tonus otot. Penurunan resistensi seperti pada pincang atau spasiditas berarti penurunan tonus.
Spastisitas adalah resistensi awal terhadap upaya peregangan otot dan resistensi tersebut
tersebut meningkat sesuai dengan gaya yang diberikan sampai akhirnya hilang mendadak
pada tegangan tertentu (efek pisau lipat). Spastisitas disebabkan oleh lesi di pyramid atau
upper motor neuron; misalnya stroke di kapsula interna dan lesi medulla spinalis leher.
Rigiditas adalah resistensi terhadap gerakan pasif dan resistensi tersebut tidak berubah selama
pergerakan (pipa besi). Rigiditas biasanya dijumpai pada lesi ekstrapiramidal dan terutama
pada penyakit Parkinson. Clonus adalah kontraksi secara ritmik yang diakibatkan peregangan
otot. Hal ini dapat terjadi pada individu yang normal ketika kelelahan atau gelisah. Jika
clonus terjadi secara terus menerus ini menunjukkan adanya kerusakan upper motor neuron.
Dan hal ini disertai dengan spastisitas.

Langkah-Langkah Pemeriksaan

Ruang pemeriksaan sebaiknya dalam kondisi hangat


Mintalah pasien untuk berbaring telentang pada ranjang pemeriksaan

Mintalah pasien untuk rileks (perhatian dialihkan dengan mengajak berbicara)

Pada pemeriksaan anggota gerak atas :

Tangan pemeriksa memegang siku pasien untuk menyangga

Dengan tangan yang lain rotasikan lengan pasien

Fleksi dan ekstensi pada pergelangan tangan, siku dan pergelangan lengan

Pada pemeriksaan anggota gerak bawah (Gambar 3) :

Rotasikan betis pasien

Angkat dengan cepat lutut pasien sehingga ke posisi fleksi (Gambar 3A & B)

Pemeriksaan klonus lutut: dengan kondisi pasien relaks dan lutut ekstensi; tekan dengan keras
dengan ibu jari dan jari telunjuk disuperior lutut dan dorong kearah lutut selama beberapa
detik

Pemeriksaan clonus pergelangan kaki : tahan betis pasien dan fleksikan 900 pada lutut dan
pergelangan kaki. Secara cepat dorsifleksikan (Gambar 3C)
Gambar 3. Pemeriksaan Tonus Anggota Gerak Bawah
Kekuatan Otot

Pemeriksaan kekuatan otot dengan menyuruh pasien bergerak secara aktif melawan tahanan
anda. Kekuatan tiap-tiap kelompok otot di lengan dan di tungkai harus selalu dinilai. Setiap
gerakan pasien harus dibandingkan dengan kekuatan pemeriksa sendiri atau dengan yang
dianggap kekuatan normal pasien. Bandingkan satu sisi dengan sisi lainnya. Jika otot terlalu
lemah dalam melawan tahanan, periksa kekuatan dengan melawan gravitasinya sendiri;
contohnya : pada saat lengan bawah dalam posisi istirahat dan supinasi, dorsofleksikan
pergelangan tangan. Jika pasien tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya, amati
kontraksi ototnya.

Berikut ini adalah skala arbitrer yang lazim dipakai untuk menunjukkan kekuatan otot :

0: Tidak Ada

Tidak ada kontraksi otot

1: Sangat Lemah

Hanya ada sedikit kontraksi

2: Lemah

Gerakan yang dibatasi oleh gravitasi

3: Cukup Kuat

Gerakan melawan gravitasi

4: Baik

Gerakan melawan gravitasi dengan sedikit tahanan

5: Normal

Gerakan melawan gravitasi dengan tahanan penuh


Jika menemukan kelemahan otot, perbandingan kekuatan proksimal dan distal penting. Pada
umumnya kelemahan proksimal berkaitan dengan penyakit otot; kelemahan distal berkaitan
dengan penyakit neurologik.

Pemeriksaan Fleksi Lengan Bawah

Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 4)

Pasien diminta untuk mengepalkan tinju dan memfleksikan lengan bawahnya

Pemeriksa harus memegang tinju atau pergelangan pasien

Mintalah pasien untuk menarik lengannya kearah dirinya sendiri dengan melawan tahanan
anda, dengan demikian dapat dinilai kekuatan otot bisep

Gambar 4. Pemeriksaan Fleksi Lengan Bawah

Pemeriksaan Ekstensi Lengan Bawah

Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 5)

Mintalah pasien untuk mengabduksikan lengannya dan mempertahankannya di pertengahan


di antara fleksi dan ekstensi

Sokonglah lengan pasien dengan memegang pergelangan tangannya

Pasien diminta untuk mengekstensikan lengannya melawan tahanan anda

Lakukan pada lengan kanan dan kiri

Gambar 5. Pemeriksaan Ekstensi Lengan Bawah

Pemeriksaan Ekstensi Pergelangan Tangan


Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 6)

Mintalah pasien untuk mengepalkan tangannya

Mintalah pasien untuk menahan dorongan pemeriksa

Lakukan pada tangan kanan dan kiri

Gambar 6. Pemeriksaan Ekstensi Pergelangan Tangan


Pemeriksaan Kekuatan Genggaman Tangan

Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 7)

Lengan pasien dalam posisi ekstensi

Mintalah pasien untuk menggengam 2 jari pemeriksa (jari telunjuk dan tengah) sekuat
mungkin

Pemeriksa menarik jarinya dari genggaman pasien

Pemeriksaan genggaman dilakukan simultan pada tangan kanan dan kiri

Gambar 7. Pemeriksaan Kekuatan Genggaman Tangan

Pemeriksaan Abduksi Jari Tangan

Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 8)

Posisikan tangan pasien dengan permukaan palmar dibawah dan jari-jari melebar

Mintalah pasien untuk mempertahankan jari-jarinya ketika pemeriksa mengerakkan

Lakukan pada tangan kanan dan kiri


Gambar 8. Pemeriksaan Abduksi Jari Tangan
Pemeriksaan Fleksi Paha

Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 9)

Pemeriksa meletakan tangannya diatas paha pasien

Pasien diminta untuk mengangkat tungkai bawah melawan tahanan pemeriksa

Lakukan pada paha kanan dan kiri

Gambar 9. Pemeriksaan Fleksi Paha

Pemeriksaan Ekstensi Paha

Langkah-Langkah Pemeriksaan

Pemeriksa meletakan tangannya dibawah paha pasien

Pasien diminta untuk mendorong paha ke bawah melawan tahanan pemeriksa

Lakukan pada paha kanan dan kiri

Pemeriksaan Fleksi Sendi Lutut

Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 10)

Kaki pasien dalam kondisi rileks di atas tempat tidur

Posisikan tungkai bawah paha pasien sehingga lutut dalam keadaan fleksi

Pasien diminta untuk menarik tungkai bawah ke bawah melawan tarikan ke atas
pemeriksa

Lakukan pada tungkai kanan dan kiri

Gambar 10. Pemeriksaan Fleksi Sendi Lutut


Pemeriksaan Ekstensi Sendi Lutut

Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 11)

Kaki pasien dalam kondisi rileks di atas tempat tidur

Posisikan tungkai bawah paha pasien sehingga lutut dalam keadaan fleksi

Pasien diminta untuk meluruskan tungkai bawah melawan dorongan tangan pemeriksa

Lakukan pada tungkai kanan dan kiri

Gambar 11. Pemeriksaan Ekstensi Sendi Lutut

Pemeriksaan Dorsifleksi dan Plantarfleksi

Langkah-Langkah Pemeriksaan

Pemeriksa meletakkan tangannya di permukaan dosum pedis pasien

Mintalah pasien untuk menahan tarikan tangan pemeriksa (Gambar 12)

Pemeriksa meletakkan tangannya di permukaan plantar pedis pasien

Mintalah pasien untuk mendorong tangan pemeriksa (Gambar 13)

Lakukan pada tungkai kanan dan kiri


Gambar 12. Pemeriksaan Dorsofleksi

Gambar 13. Pemeriksaan Plantarfleksi