Anda di halaman 1dari 17

Culture shock

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kurun waktu terdekat ini kemajuan disegala aspek kehidupan menuntut
masyarakat untuk terus meningkatkan kemampuannya dengan menuntut ilmu. Berbagai
macam lembaga pendidikan telah bermunculan menawarkan berbagai pilihan kepada
masyarakat. Tidak menutup kemungkinkan adanya siswa ataupun mahasiswa yang
datang dari budaya yang berbeda untuk belajar bersama-sama di tempat yang mereka
datangi.
Fenomena datangnya para pendatang di lembaga pendidikan khususnya
pendidikan tinggi ini telah menggugah semangat penulis untuk melakukan riset
mengenai penyesuaian diri para mahasiswa yang berasal dari Jawa Tengah, Jogjakarta,
Belitung, Padang, dan Papua di perguruan tinggi Universitas Pendidikan Indonesia
Bandung-Jawa Barat yang notebenenya berada diluar wilayah yang biasa ditinggali
oleh para mahasiswa yang menjadi objek penelitian.
Meskipun kemungkinan terjadinya culture shock semakin banyak di Indonesia,
namun minat untuk membahas mengenai culture shock ini belum banyak ditemui dalam
berbagai literature di Indonesia. Mengingat hal tersebut, penulis memandang perlunya
mengangkat topik culture shock ini dalam pembahasan dalam makalah ini. Tulisan ini
bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai fenomena culture shock, faktor-
faktor penyebab dan beberapa kemungkinan untuk mengatasi terjadinya culture shock
berdasarkan berbagai literature dan hasil riset. Penyusun berharap melalui tulisan ini
pembaca akan mendapatkan wawasan yang cukup mengenai culture shock dan dapat
memetik manfaat agar dapat menggunakan informasi ini untuk membantu diri sendiri
ataupun orang lain agar terhindar dari culture shock, ataupun mampu mengatasi culture
shock saat berada di budaya yang berbeda.
Oleh karena itu, penyusun sangat tertarik untuk mengkaji tentang kasus culture
shock yang dialami oleh mahasiswa yang berasal dari Jawa Tengah, Jogjakarta, Padang,
Papua dan Belitung yang menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia-
Bandung Jawa Barat.

1.2 Rumusan Masalah

1
Culture shock

Dari latar belakang masalah yang telah diuraiakan diatas, untuk memperoleh
suatu kesimpulan yang jelas maka perlu adanya peumusan masalah yang tepat dan
mampu membatasi agar pembahasan lebih ringkas. Rumusan masalah tersebut
diantaranya sebagai berikut:
1. Apa faktor penyebab terjadinya culture shock atau gegar budaya?
2. Apa efek atau akibat dari terjadinya culture shock?
3. Bagaimana solusi dari permasalahan culture shock tersebut?

1.3 Pendekatan dan Metode


Metode penelitian merupakan unsur penting di dalam penelitian ilmiah karena
metode yang digunakan dalam penelitian dapat menentukan apakah penelitian
tersebut dapat dipertanggung-jawabkan hasilnya.
1.3.1 Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam menyusun dan menganalisis serta
mengkaji pembuatan makalah mengenai culture shock atau gegar budaya ini
berdasarkan pendekatan multi aspek artinya dalam mengkaji setiap pembahasan
kami menggunakan berbagai aspek seperti dari pendidikan, lingkungan, sosial,
budaya, teknologi, dan aspek-aspek lainnya yang erat kaitannya dengan kasus
yang dikaji.

1.3.2 Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif
dan metode kuantitatif. Metode kualitatif ini dimaksudkan untuk melihat
bagaimana gambaran culture shock mahasiswa yang berasal dari Jawa Tengah,
Yogyakarta, Padang, Papua serta Belitung dalam berdaptasi dengan lingkungan
sosial budaya yang baru. Kelompok juga menggunakan metode kuantitatif yaitu
dengan penyebaran angket kepada mahasiswa di Universitas Pendidikan
Indonesia yang berasal dari daerah tersebut diatas. Metode pengambilan sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampel acak (random
sampling). Selain itu penyusun juga melakukan studi pustaka dan browsing
internet dalam pengumpulan data yang berkaitan dengan culture shock.

1.4 Sistematika Makalah

2
Culture shock

Makalah ini disusun menggunakan uraian yang sistematis untuk memudahkan


pengkajian dan pemahaman kelompok mengenai permasalahan yang ada. Adapun
sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini dijelaskan mengenai Latar Belakang, Rumusan Masalah,
Pendekatan dan Metode, serta Sistematika Makalah.

BAB II KAJIAN TEORI


Dalam bab ini dijelaskan mengenai Konsep dasar keanekaragaman sosial,
Konsep budaya dan keanekaragamannya, dan Konsep Peradaban.

BAB III PEMBAHASAN


Dalam bab ini dijelaskan mengenai Masalah Culture Shock, Faktor penyebab
culture shock, dan Solusi Pemecahan Masalah Culture shock.

BAB IV PENUTUP
Dalam bab ini dijelaskan mengenai Kesimpulan dan Saran.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB II

KAJIAN TEORI

3
Culture shock

2.1 Konsep Dasar Keanekaragaman Sosial Masyrakat


Masyarakat merupakan suatu tempat terjadinya interaksi sosial antar individu
dengan individu. Individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok lainnya yang
membentuk suatu masyarakat yang lebih luas dan komplek keberagaman masyarakat
tercipta karena adanya perbedaan suku bangsa atau etnik, keanekaragaman ras,
keanekaragaman agama, perbedaan jenis kelamin dan keanekaragaman profesi.
Keanekaragaman masyarakat adalah merupakan suatu keragaman dalam berbagai
aktifitas sosial di masyarakat dalam bidang agama, jenis kelamin, profesi, etnis, suku
yang tidak mempersoalkan tinggi dan rendahnya yang berkuasa dan yang dikuasai.
bentuk Keragaman masyarakat merupakan salah satu indikator bahwa budaya semakin
tinggi.
Keragaman sosial masyarakat terbentuk karena adanya keberagaman budaya.
Budaya sangat berkaitan erat dengan sosial masyarakat. Jadi keanekaragaman sosial
mayarakat dipengaruhi oleh keragaman budaya itu sendiri.

2.2 Konsep Budaya dan Keanekaragamannya


Budaya merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita.
Masyarakat mengenal istilah budaya yang bermacam-macam. Berdasarkan pendapat
sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, norma, dan adat istiadat, aturan dan dari
Trenholm & Jensen yang diperoleh dari situs internet yang dapat diakses di
http://jurnaljane.blogspot.com bahwa budaya kode, yang secara sosial mendefinikan
kelompok-kelompok orang, mengikat mereka satu sama lain dan memberikan
kesadaran kolektif. Budaya sangat berperan penting dalam kehidupan individu. Apa
yang dibicarakan, bagaimana membicarakannya, apa yang individu lihat dan
perhatikan, apa yang dipikirkan individu sangat dipengaruhi oleh budaya.
Budaya dalam segi historis diartikan sebagai warisan yang diahliturunkan dari
generasi ke generasi atau dari generasi satu kegenerasi berikutnya. Pakar kebudayaan
Lehman, Himstreet dan Betty yang diperoleh dari situs
(http://carapedia.com/pengertian-definisi-budaya-menurut-para-ahli-info481/)
menjelaskan bahwa: budaya diartikan sebagai sekumpulan pengalaman hidup yang
ada dalam masyarakat mereka sendiri. Pengalaman hidup masyarakat tentu saja
sangatlah banyak dan variatif, termasuk di dalamnya bagaimana perilaku dan keyakinan
atau kepercayaan dari para sekumpulan masyarakat itu sendiri yang mendiami suatu

4
Culture shock

wilayah tertentu. Budaya sudah merupakan hal yang mendarah daging. Pakar lain yang
bernama Mitchel dalam situs
(http://www.crayonpedia.org/mw/KERAGAMAN_SOSIAL_DAN_BUDAYA.html/me
maparkan bahwa: Budaya merupakan seperangkat nilai-nilai inti, kepercayaan, standar
, pengetahuan, moral hukum, dan perilaku yang disampaikan oleh individu-individu
dan masyarakat, yang menentukan bagaimana seseorang bertindak, berperasaan, dan
memandang dirinya serta orang lain.

Dalam situs internet (duniabaca.com/definisi-budaya-pengertian-


kebudayaan.html) bahwa: Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan
politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa,
sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika
seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan
menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak,
dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur
sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Dari beberapa definisi budaya menurut para ahli diatas, bisa diambil kesimpulan
tentang beberapa hal penting yang dicakup dalam arti budaya yaitu:

1. Sekumpulan pengalaman hidup,


2. Pemrograman kolektif,
3. Sistem sharing, dan
4. Tipikal karakteristik perilaku setiap individu yang ada dalam suatu masyarakat.
Termasuk di dalamnya tentang bagaimana sistem nilai, norma, simbol-simbol
dan kepercayaan atau keyakinan yang telah melekat dalam diri individu masing-
masing.

2.3 Konsep Peradaban

5
Culture shock

Berdasarkan hasil study pustaka denagn browsing internet di situs yang dapat
diakses di http://refleksibudi.wordpress.com/2010/03/02/konsep-peradaban/ , kelompok
menemukan pemahaman pearadaban dari beberapa tokoh, diantaranya yaitu: Will
Durant yang mengemukakan bahwasannya peradaban merupakan Tatanan sosial yang
menggerakkan pencapaian prestasi intelektual, budaya manusia dalam empat unsur;
ekonomi, sistem politik, etika dan iptek.

Masih dalam situs yang sama, kelompok juga mendapatkan informasi dari tokoh
yang bernama Taylor, mengemukakan bahwa peradaban merupakan Derajat
ketinggian budaya, dalam ilmu, teknologi, kehidupan sosial.

Dalam Situs lain yang dapat diakses di www.anneahira.com/pengertian-


peradaban.html kelompok menemukan informasi lain berkaitan dengan peradaban.
Peradaban menurut webster dictionary diartikan sebagai kadaan atau suatu proses
peradaban, kemajuan kehidupan sosial dan kebudayaan, kurun dari keidupan sosial
tertenu atau seluruh dunia yang sudah maju.

Masih dalam situs yang sama, peradaban juga diartikan sebagai tingkat
kebudayaan yang lebih tinggi, berjalan terus menerus dan tidak pernah berhenti.

Maka kelompok meyimpulkan ciri-ciri peradaban yaitu:

1. Adalah hasil pemikiran manusia


2. Perkembangan kearah yang lebih baik
3. Memberikan kemudahan
4. Mengandung unsur budaya didalamnya
5. Pemikiran yang didapat dari proses sosialisasi
6. Berlangsung secara terus menerus dan tidak pernah berhenti

6
Culture shock

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Masalah Culture Shock


Banyak pengalaman dari orang-orang yang menginjakan kaki pertama kali di
luar dari wilayah atau daerah yang biasa ditinggali, walaupun sudah siap, tetap merasa
terkejut begitu sadar bahwa disekelilingnya banyak orang asing di sekitarnya. Orang
biasanya akan merasa terkejut atau kaget begitu mengetahui bahwa lingkungan di
sekitarnya telah berubah. Inilah kesadaran awal ketika individu berada di lingkungan
yang baru baginya. Inilah yang kemudian dinamakan dengan culture shock atau gagar
budaya atau juga kekagetan terhadap budaya baru.
Berdasarkan riset dengan mengambil sample diantaranya adalah orang yang
berasal dari Jawa Tengah, Jogjakarta, Belitung, Padang serta Papua yang notabenenya
merupakan daerah yang berada diluar Jawa Barat. Orang terbiasa dengan hal-hal yang
ada di sekelilingnya, dan orang cenderung suka dengan familiaritas tersebut.
Familiaritas membantu seseorang mengurangi tekanan karena dalam familiaritas,
orang tahu apa yang dapat diharapkan dari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
Maka, ketika seseorang meninggalkan lingkungannya yang nyaman dan masuk dalam
suatu lingkungan baru, masalah komunikasi akan dapat terjadi.
Pengalaman culture shock ini sebenarnya dianggap hal yang wajar yang banyak
dialami oleh individu yang berada dalam lingkungan yang baru. Bukan pula hal yang
dianggap tabu karena hasil riset menunjukan bahwasannya individu dari latar
belakang sosial, budaya yang telah melekat pada dirinya akan pasti akan mengalami
culture shock ketika mengalami perpindahan tempat tinggal. Hanya saja, tingkat
gangguan yang dialami oleh individu tersebut bisa berbeda dari satu orang ke orang
yang lain, tergantung dari beberapa faktor yang ada dalam diri individu tersebut.
Namun hal tersebut tidaklah menjadi sebuah masalah besar jika ada kemauan yang
kuat serta semangat yang tinggi dari setiap individu untuk mau dan terus belajar
tentang kebudayaan yang baru sehingga individu tersebut akan lebih nyaman
menempati tempat tinggal yang baru meskipun tempat tinggal yang baru jauh
memiliki kebudayaan yang berbeda.

7
Culture shock

Menurut sumber dari internet dalam situs (repository.usu.ac.id), yang


didalamnya mengulas tentang culture shock, salah satu pakar budaya Adler
mendefiniskan bahwa:

... culture shock sebagai suatu set reaksi emosional terhadap hilangnya penguat dari
lingkungan individu tersebut, dan digantikan dengan stimulus kebudayaan baru yang
memiliki sedikit arti, dan menyebabkan kesalahpahaman dengan kebudayaan baru,
dan dapat menyebabkan perasaan tidak berdaya, mudah marah, dan ketakutakan akan
di tipu, dilukai ataupun diacuhkan.

Berbeda lagi, dari sumber (www.luciatriedyana.wordpress.com) menurut Deddy


Mulyana mendasarkan bahwa:
... gegar budaya sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan pesepsi
berdasarkan faktor-faktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang
bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia
pahami.

Oberg di akhir tahun 1960 dalam situs (www.anneahira.com/arti-bvudaya.htm)


mendefinisikan:

... culture shock sebagai penyakit yang diderita oleh individu yang hidup di luar
lingkungan kulturnya. Istilah ini mengandung pengertian adanya perasaan cemas,
hilangnya arah, perasaan tidak tahu apa yang harus dilakukan atau tidak tahu
bagaimana harus melakukan sesuatu, yang dialami oleh individu tersebut ketika ia
berada dalam suatu lingkungan yang secara kultur maupun sosial baru.

Dari pemaparan para ahli serta definisi-definisi diatas, maka kelompok


menyimpulkan Culture shock/gegar budaya/kekagetan terhadap budaya baru
merupakan suatu reaksi negatif terhadap berbagai segi kehidupan suatu masyarakat
asing yang dirasakan rumit. Culture shock bukanlah istilah klinis ataupun kondisi
medis. Culture shock merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan perasaan
bingung dan ragu-ragu yang mungkin dialami seseorang setelah ia meninggalkan
budaya yang dikenalnya untuk tinggal di budaya yang baru dan berbeda.

3.2 Faktor penyebab culture schock


Fenomena culture shock bersifat kontekstual dan dialami dengan berbeda-beda
dari generasi ke generasi berikutnya. Faktor yang mendorong bagaimana munculnya
culture shock juga akan sangat spesifik tergantung pada di daerah mana individu
tersebut berasal, di daerah mana individu berada, serta pada tahun atau masa seperti
apa, akan sangat bervariasi.

8
Culture shock

Ketakutan merupakan faktor terbesar yang mendorong timbulnya kecemasan


ketika individu mengetahui akan menempati tempat yang berbeda dalam jangka waktu
yang tidak singkat. Ketakutan ini akan menimbulkan sebuah kecemasan dan akan
menjalar kepada rasa percaya diri yang kurang. Dengan rasa percaya diri yang kurang
tersebut individu akan cenderung memperoleh hasil yang kurang maksimal dalam
berinteraksi atau berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Inilah yang
kemudian harus segera diatasi agar tidak menjadi berkelanjutan.
Menurut pendapat Parrillo (2008) yang diperoleh dari situs
(http://carapedia.com/pengertian-definisi-budaya-menurut-para-ahli-info481/)
menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi culture shock yaitu:
a) Faktor intrapersonal termasuk keterampilan (keterampilan komunikasi), pengalaman
sebelumnya (dalam setting lintas budaya), trait personal (mandiri atau toleransi), dan
akses ke sumber daya. Karakteristik fisik seperti penampilan, umur, kesehatan,
kemampuan sosialisasi juga mempengaruhi. Penelitian menunujukkan umur dan jenis
kelamin berhubungan dengan culture shock. Individu yang lebih muda cenderung
mengalami culture shock yang lebih tinggi dari pada individu yang lebih tua dan
wanita lebih mengalami culture shock daripada pria (Kazantzis dalam Pederson,
1995)
b) Variasi budaya mempengaruhi transisi dari satu budaya ke budaya lain. Culture shock
lebih cepat jika budaya tersebut semakin berbeda, hal ini meliputi sosial, perilaku,
adat istiadat, agama, pendidikan, norma dalam masyarakat, dan bahasa. Semakin
berbeda kebudayaan antar dua individu yang berinteraksi, semakin sulit kedua
induvidu tersebut membangun dan memelihara hubungan yang harmonis. Semakin
beda antar dua budaya, maka interaksi sosial dengan mahasiswa lokal akan semakin
rendah.
c) Manifestasi sosial politik juga mempengaruhi culture shock. Sikap dari masyarakat
setempat dapat menimbulkan prasangka, stereotip, dan intimidasi.

Berikut hasil akumulasi dari angket yang kelompok sebarkan pada 30 orang
mahasiswa yang beasal dari Jawa Tengah, Jogjakarta, Belitung, Padang, dan Papua di
perguruan tinggi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung-Jawa Barat mengenai
faktor-faktor dominan yang menyebabkan terjadinya culture shock.

9
Culture shock

No. Faktor penyebab Jumlah prosentase


1. Faktor agama 1 0,13 %

2. Faktor bahasa keseharian 13 17,30%

3. Faktor ekonomi 13 17,30%

4. Faktor teknologi 14 18,60%

5. Faktor pergaulan 23 33,33%

6. Faktor adat istiadat 12 16%

7. Faktor geografis 14 18,60%

Jumlah keseluruhan 90 100%


*angket terlampir

Dari hasil angket tersebut dapat terlihat perbandingan antara faktor satu degan
lainnya dalam diagram lingkaran dan diagram batang di bawah ini.

Diagram Lingkaran

Agama; 0%
Teknologi; 15% Bahasa; 14%

Ekonomi; 14%
Geografis; 15%

Adat istiadat; 13%


Pergaulan; 27%

10
Culture shock

Diagram Batang

Teknologi Teknologi; 18.60%

Geografis Geografis; 18.60%

Adat istiadat Adat istiadat; 16.00%

Pergaulan Pergaulan; 33.33%

Ekonomi Ekonomi; 17.30%

Bahasa Bahasa; 17.30%

Agama Agama; 0.13%

0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00%

Berdasarkan hasil akumulasi angket di atas, maka kelompok dapat mengurutkan


faktor penyebab timbulnya Masalah Culture shock dari yang dominan hingga paling
rendah, berikut ini penjabarannya:
1) Faktor pergaulan
Pada faktor ini, individu cenderung mengalami ketakutan akan perbedaan
pergaulan disetiap tempat yang baru. Ketakutan ini menjadikan individu merasa
canggung dalam menghadapi situasi yang baru, tempat tinggal yang baru dan
suasana yang baru. Akibat ketidak pahaman mengenai pergaulan ini, individu juga
akan merasa terasing dengan orang-orang disekelilingnya yang dirasa baru
baginya.
2) Faktor teknologi
Dewasa ini perkembangan teknologi semakin melaju pesat. Perkembangan
teknologi yang semakin mutakhir ini menyebabkan masyarakat harus selalu ingin
berusaha untuk mengikuti perkembangan teknologi agar mampu bersaing di dunia
global. Teknologi juga merupakan faktor penting dalam mempengaruhi timbulnya
masalah culture shock. Individu merasa takut tidak bisa mengikuti perkembangan
teknologi di tempat tinggal barunya sehingga individu cenderung akan merasakan
ketakutan. Individu disini dituntut untuk berpikir keras bagaimana caranya untuk

11
Culture shock

dapat mengikuti perkembangan teknologi serta mampu mengaplikasikannya


dikehidupannya.
3) Faktor geografis
Faktor geografis identik dengan keadaan geografis di daerah tersebut. Faktor
geografis ini merupakan faktor lingkungan secara fisik, misalnya perbedaan cuaca,
perbedaan letak wilayah seperti daerah pantai dengan daerah pegunungan. Hal ini
akan menyebabkan individu tersebut mengalami gangguan kesehatan.
4) Faktor bahasa keseharian
Bahasa merupakan cerminan dari sebuah kebudayaan yang beradab. Bahasa tidak
bisa dianggap dengan sebelah mata dewasa ini. Individu yang mengalami
kekagetan terhadap budaya baru sering kali dihubungkan dengan faktor bahasa
sebagai salah satu ketakutan yang cukup besar ketika akan menetap ditempat yang
baru. Tidak menguasai atau bahkan tidak mengerti sama sekali bahasa merupakan
suatu hal yang wajar yang menyebabkan timbulnya culture shock.
5) Faktor ekonomi
Ketakutan terhadap biaya hidup yang berbeda yang memiliki kemungkinan lebih
tinggi merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya culture shock. Ini
merupakan hal umum yang terjadi bahwa setiap daerah di negara Indonesia
memiliki kemampuan konsumsi yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang
menyebabkan individu guncang ketika dihadapkan pada permasalahan tempat
tinggal yang baru. Individu harus mulai berusaha, bersiap serta berwaspada
mengantisipasi agar mampu bertahan hidup ditempat tinggal yang baru.
6) Faktor adat istiadat
Faktor ini merujuk pada tradisi-tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat di
setiap daerah yang notebene memiliki ciri khas kebudayaan yang berbeda satu
sama lain. Untuk itu individu harus mampu beradaptasi dengan adat istiadat di
daerahnya yang baru. Namun beradaptasi dengan adat istiadat yang baru bukanlah
hal yang mudah bagi seorang pendatang, maka individu cenderung mengalami
kekagetan budaya terutama dalam hal adat istiadat tersebut.
7) Faktor agama
Agama dianggap sebagai salah satu penghambat individu dalam usahanya
menyesuaikan di tempat tinggal yang baru. Individu mengalami ketakutan
tersendiri terhadap agama yang menjadi perbedaan yang sangat rentan dan tidak
bisa disatukan dengan mudahnya.

12
Culture shock

3.3 Solusi Pemecahan Masalah Culture shock


Dari bebrapa faktor penyebab terjadinya culture shock, kelompok merumuskan
solusi untuk mengatasinya. Antara lain yaitu :
1. Faktor pergaulan
Individu harus belajar membiasakan diri beradaptasi dan berinteraksi dengan
lingkungan barunya, dengan pembiasaan ini akan menumbuhkan rasa percaya diri
dari individu tersebut dalam bersosialisasi dengan orang-orang dan lingkungan
barunya tersebut. Pergaulan yang baik akan membuat seseorang lebih mudah
menjalani kehidupan sosialnya.
2. Faktor teknologi
Dewasa ini teknologi semakin berkembang pesat dikalangan orang banyak,
semakin pesat teknologi berkembang maka orang-orang dituntut untuk semakin
keras mempelajari dan mengaplikasikan teknologi yang ada dalam kehidupannya.
Seorang individu yang berada di lingkungan baru baginya pasti akan merasakan
perbedaan teknologi yang berkembang di lingkungan tersebut, terlebih lagi
apabila individu yang berasal dari daerah pelosok kemudian datang ke daerah
yang cukup pesat perkembangan teknologinya.
3. Faktor geografis
Faktor geografis dalam persentasenya memperoleh 18,60% dari keseluruhan total
faktor penyebab terjadinya culture shock. Karena faktor geografis ini berkaitan
erat dengan kondisi fisik lingkungan maka hal ini dapat diatasi dengan cara
individu lebih menjaga kesehatan yang cenderung menurun ketika individu
tersebut tinggal di suatu tempat tinggal yang baru, yang tentunya jauh berbeda
dengan tempat tinggal semula. Pencegahan yang baik perlu dilakukan secara terus
menerus agar individu tetap berada di kondisi yang prima dalam menjalani
aktifitas sehari-hari.
4. Faktor bahasa keseharian
Bahasa keseharian memiliki prosentase sebesar 17,30% dari keseluruhan faktor
penyebab terjadinya culture shock. Untuk mengatasinya kelompok memberikan
solusi diantaranya yaitu dengan menumbuhkan kemauan belajar bahasa kepada
setiap individu ketika tinggal ditempat yang baru. Kemauan belajar bahasa
tersebut bisa dilakukan dengan cara meminta bantuan kepada teman yang memang
berasal dari daerah tersebut untuk mengajarkan bahasa keseharian di daerah
tersebut.
5. Faktor ekonomi
Faktor ekonomi ini dapat diatasi dengan cara pengelolaan keuangan yang baik
sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu, agar individu dapat

13
Culture shock

menyesuaikan pemasukan keuangan dengan pengeluarannya. Pada saat proses


pendidikan alan lebih baiknya individu juga melakukan program saving money,
untuk mengatasi kebutuhan tidak terduga.
6. Faktor adat istiadat
Pada dasarnya melekatnya kebudayaan terhadap seorang individu membutuhkan
proses dan waktu, semua tidak terjadi begitu saja. Solusi menurut kelompok
adalah individu harus lebih membuka dirinya terhadap adat istiadat, kebiasaan,
tingkah laku yang umumnya terjadi dimasyarakat. Dengan cara tersebut
diharapkan individu dapat lebih menghindari terjadinya culture shock/gegar
budaya.
7. Faktor agama
Faktor agama yang menyebabkan terjadinya culture shock ini hanya mendapat
persentase sebesar 0.13 %. Artinya faktor agama tersebut dianggap tidak terlalu
mendominasi terjadinya culture shock. Solusinya yaitu individu harus lebih
meningkatkan sikap toleransinya antar umat beragama.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil riset penyusun menyimpulkan bahwasannya culture shock
atau gegar budaya merupakan sebuah istilah psikologis untuk menggambarkan keadaan

14
Culture shock

dan perasaan seseorang menghadapi kondisi lingkungan sosial dan budaya yang
berbeda.
Faktor yang mendominasi terbanyak adalah faktor pergaulan dengan persentase
33,33%. Disusul dengan faktor teknologi yang mendapatkan persentase sama dengan
faktor geografis yaitu 18,60%, kemudian dibawahnya ada faktor bahasa keseharian dan
faktor ekonomi dengan perolehan sebesar 17,30% dan kemudian faktor adat istiadat
dengan persentase 16%dan terahir faktor agama sebesar 0,13%. Individu yang
mengalami culture shock akan merasa berbeda dan kurang memahami keadaan
sekitarnya. Seseorang yang mengalami culture shock dapat digambarkan bagai orang
yang kebingungan dalam berhubungan dengan lingkungannya.
Yang mendasari secara utuh terjadinya culture shock adalah faktor yang
berkaitan dengan kepribadian individu yaitu faktor soiologis yang pada ahirnya
berbuntut pada faktor psikologis. Ini menggambarkan culture shock tiodak terjadi
begitu saja, tetapi berkaitan erat dengan beberapa faktor yang telah dibuktikan oleh
kelompok menjadi penyebab utama terjadinya culture shock.
Culture shock/gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang
dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang
ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama.

3.2 Saran
Bedasarkan hasil riset, penyusun memiliki rekomendasi yang dapat digunakan
sebagai alternatif pemecahan masalah dalam menangani kasus culture shock tersebut.
Hasil riset kelompok menemukan bahwa keterlibatan individu dalam berbagai
organisasi akan sangat membantu individu untuk mengatasi culture shock dengan
memberikan dukungan sosial dan memampukan individu untuk melakukan
penyesuaian budaya.

Kelompok pun menjabarkan bebarapa kegiatan yang dapat mengatasi gejala-


gejala gegar budaya atau culture shock ini dengan menyarankan hal-hal berikut ini
untuk mengatasinya yaitu antara lain:
Dari bebrapa faktor penyebab terjadinya culture shock, kelompok merumuskan
solusi untuk mengatasinya. Antara lain yaitu :
1. Faktor pergaulan
Bersikap terbuka dengan menerima kebudayaan yang baru, lingkungan pergaulan
yang baru serta mencoba mnyesuaikan diri dengan baik agar tumbuh perasaan
nyaman yang menjadikan individu tidak akan mengalami kecemasan yang
berkelanjutan. Bersedia untuk belajar kultur yang baru. Individu perlu menyadari

15
Culture shock

bahwa kultur bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, tetapi sesuatu yang
dipelajari. Hal yang dibawa sejak lahir adalah kemampuan individu untuk belajar
kultur, apapun kultur itu. Oleh karena itu, kesediaan untuk belajar kultur yang baru
akan membantu untuk mengatasi kesalahpahaman dan menolong teratasinya
persoalan-persoalan sosial di tempat yang baru.
2. Faktor Teknologi
Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat maka sudah seharusnya
masyrakat memiliki sikap yang terbuka dengan kemajuan teknologi ini.
Masyarakat hendaknya tidak apatis dan skeptis dengan segala perubahan yang ada
berkaitan dengan teknologi. Karena tidak menutup kemungkinan juga kemajuan
teknologi dari tahun ke tahun akan lebih semakin pesat.
3. Faktor geografis
Permasalahan pada faktor geoghrafis ini sebaiknya individu lebih menjaga
kesehatan yang cenderung menurun ketika individu tersebut tinggal di suatu
tempat tinggal yang baru, yang tentunya jauh berbeda dengan tempat tinggal
semula. Pencegahan yang baik perlu dilakukan secara terus menerus agar individu
tetap berada di kondisi yang prima dalam menjalani aktifitas sehari-hari.
4. Faktor bahasa keseharian
Bahasa merupakan ciri dari adanya sebuah kebudayaan. Oleh karena itu, sudah
barang tentu bahasa di daerah satu dengan lainnya pasti berbeda. Disadari atau
tidak bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam sebuah interaksi
manusia. Jika bahasa tidak dimengrti maka interaksi tersebut akan cenderung
merujuk pada ketidakteraturan. Inilah yang menyebabkan kesalahpahaman. Oleh
karena itu, masyarakat yang tinggal ditempat yang baru dengan berbeda
kebudayaan dan bahasa sudah sewajarnya menghormati perbedaan itu, dan terus
belajar bahasa daerah tersebut. Sehingga individu akan merasa tidk canggung
dalam interaksinya sehari-hari.
5. Faktor ekonomi
Pengelolaan uang yang baik serta program tabungan akan sanagt memberikan
solusi. Belajar dalam mengelola hal keuangan akan sangat bermanfaat sampai
kapanpun.
6. Faktor adat istiadat
Bersosialisasi dengan baik sesama teman dengan tidak membedakan budaya, suku
serta adat yang berbeda. Mencoba berinteraksi lebih dekat lagi dengan masyarakat
luas dan pelan-pelan meta permahami karakteristik serta perilaku kebiasaan
sehari-hari yang membudaya. Berteman dengan siapapun yang mau membantu
dalam penyesuaian diri di lingkungan baru tersebut.

16
Culture shock

7. Faktor agama
Dalam faktor ini saran yang diberikan kelompok berkaitan dengan faktor agama
adalah, terus meningkatkan sikap toleransi antar umat beragama sehingga tidak
akan terjadinya gesekan negatif antar pemeluk agama yang berbeda.

17