Anda di halaman 1dari 17

Abses Hati Amueba

Amarce Estevina Yoteni


102013328/ D7

Amarce_Estevina@yahoo.com
Falkutas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

PENDAHULUAN

Abses hepar merupakan infeksi pada hati yang disebabkan oleh infeksi bakteri,
parasit, jamur, maupun nekrosis steril yang bersumber dari sistem GIT, ditandai dengan
proses supurasi dengan pembentukan pus, terdiri dari jaringan hepar nekrotik, sel inflamasi,
sel darah dalam parenkim hepar.
Abses hepar terbagi 2 secara umum, yaitu Abses Hepar Amoeba (AHA) dan Abses
Hepar Piogenk (AHP/ Hepatic Abcess, Bacterial Liver Abcess). AHA merupakan salah satu
komplikasi amebiasis ekstraintestinal dan paling sering terjadi di daerah tropis/subtropik.
AHA lebih sering terjadi endemik di negara berkembang dibanding AHP. AHA terutama
disebabkan oleh E. Histolytica. Entamoeba histolytica juga dapat menyebabkan massa pada
dinding abdomen (ameoboma) seperti halnya disentri akut dan menyebabkan abses di hepar.
Abses hepar amoeba adalah lesi inflamasi yang paling umum menempati ruang hati.
Agen penyebabnya adalah protozoa, Entamoeba Histolyitica. Sekitar 10% penduduk dari
populasi dunia, terdapat Entamoeba Histolytica dalam usus mereka, yang kemudian dapat
berkembang menjadi amebiasis invasif. 1 dari 10% pasien tersebut adalah pasien dengan
abses hepar amoeba. Usus besar merupakan tempat awal terjadinya infeksi. Protozoa masuk
ke hepar melalui vena portal. Amebiasis dapat terjadi pada berbagai organ tubuh tetapi Hepar
merupakan organ yang paling umum untuk infeksi extra-intestinal.

Tujuan

Mengetahui dan Menjelaskan apa itu penyakit Abses Hati Amoeba


Mengetahui dan Menjelaskan tentang, Anamnesis, Pemeriksaan fisik,
Pemeriksaan penunjang, Diagnosis, Etiologi, Pathogenesis, Gejala klinis,
Komplikasi, Prognosis, Pencegahan dan Epidemologi.
Kasus

Laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas sejak 1 hari
smrs. Nyeri terutama pada sisi kanan di bawah dada. Nyeri memburuk saat tidur terlentang
dan berkurang bila kaki ditekuk atau agak membungkuk. PF: TD: 100/70 mmHg, FN:
86x/menit, Suhu: 37,5C, FP: 19x/menit. Nyeri tekan abdomen kanan atas (+), murphy sigh
(-). Hb 11 g/dL, leukosit 14000/uL, tromb 354.000/uL, USG: SOI hipoekoik, inhomogen,
berbatas tegas, ukuran 5,7cm x 6,4 cm, sugestif abses hati.

PEMBAHASAN

Anamnesis

Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan
cara melakukan serangkaian wawancara Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap
pasien (auto-anamanesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis).1

Pada skenario 5 tertulis laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas
sejak 1 hari smrs. Nyeri terutama pada sisi kanan di bawah dada. Nyeri memburuk saat tidur
terlentang dan berkurang bila kaki ditekuk atau agak membungkuk. Hal-hal yang perlu
ditanyakan adalah :

1 Identitas pasien meliputi nama pasien, usia (38 tahun), jenis kelamin (laki-laki)
2 Keluhan utama pasien : nyeri perut kanan atas terutama bagian sisi kanan dibawah
dada.
3 Riwayat penyakit sekarang yaitu menanyakan yang berhubugan dengan keluhan
utama seperti :
Sejak kapan : 1 hari smsrs
Intensitas nyeri : terus menerus atau hilang timbul
Jenis nyeri : seperti tertusuk-tusuk, panas dll
Generalisata atau lokalisata
Kapan nyeri dapat membaik dan memburuk? : nyeri memburuk saat tidur
terlentang da berkurang bila kaki ditekuk atau membungkuk.
Menanyakan apakah sebelumnya sudah mengkonsumsi obat atau pergi ke
dokter dan bagaimana hasilnya
Menanyakan pencetus keluhan utama : trauma, makan sembarangan dll
Apakah ada keluhan penyerta/tambahan? Seperti demam, mual, muntah,
anorexia, diare, ikterus dll
4 Riwayat penyakit dahulu :
apakah sebelumnya pasien sudah mengalami seperti yang dikeluhan dan kapan
tepatnya?
5 Riwayat sosial ekonomi : tanyakan bagaimana riwayat makan pasien apakah bersih,
riwayat pembersihan badan dan lingkungan. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan,
alkohol atau merokok.
6 Riwayat penyakit keluarga : tanyakan penyakit yang sedang atau pernah dialami oleh
keluarga yang dapat memungkinkan pasien tersebut mengalami hal yang sama dalam
penyakit genetic dan tanyakan keadaan mereka.

Pemeriksaan fisik

1 Tingkat kesadaran

Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap
rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi:

Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat


menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.2

Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya,
sikapnya acuh tak acuh.2

Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-


teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.2

Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang


lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah
dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 2

Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap
nyeri.2
Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap
rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga
tidak ada respon pupil terhadap cahaya). 2

2 Melakukan penilaian gizi melalui berat dan tinggi badan pasien

Pada pengukuran BMI (Body Mass Indeks) didapatkan pasien tersebut dalam
kisaran normal (gizi baik). Perhitungan yang dilakukan menggunakan rumus BMI
yaitu 3: BMI = (BB) / (TB) * (TB)

Arti BMI bagi orang dewasa :



Kurang dari 18.5 dibawah normal 3

18.5 - 24.9 berat badan normal 3

25 to 29.9 kelebihan berat badan 3

30 to 34.9 Obesitas 1 3

35 to 39.9 Obesitas 2 3

lebih dari 40 Obesitas 3 3

3 Pemeriksaan tanda-tanda vital


a Tekanan darah4
Tekanan Darah
Kriteria
Sistolik Diastolik
Normal 100-120 70-80
Perbatasan (high normal) 130 - 139 85 - 89
Hipertensi :
Derajat 1 : ringan (mild) 140 - 159 90 - 99
Derajat 2 : sedang (moderate) 160 - 179 100 - 109
Derajat 3 : berat (severe) 180 - 209 110- 119
Derajat 4 : sangat berat (very severe) > 210 > 120
Pada kasus : tekanan darah pasien adalah 100/70 mmHg.
Pasien termasuk dalam kategori tekanan darah hypotension.
b Suhu4
Oral Aksila Rektal
Suhu rata-rata 37oC 36,4oC 37,6oC
Rentang suhu 36,5oC - 37,5oC 36oC - 37oC 37oC - 38,1oC
Pada kasus : suhu tubuh pasien adalah 37,5oC.
Pasien termasuk dalam kategori suhu tubuh tinggi

c Denyut nadi4
Usia Nadi (denyut/menit)
Normal 60 - 100
Brakikardi < 60
Takikardi > 100
Pada kasus : denyut nadi pasien adalah 86x/menit.
Pasien termasuk dalam kategori batas normal.
d Frekuensi nafas
Usia Pernapasan (kali/menit)
Normal 16-20
Bradipneu < 10
Takipneu > 24
Pada kasus : frekuensi nafas pasien adalah 19 kali permenit.
Pasien termasuk dalam kategori normal.

Inspeksi : Melihat bagaimana kulit sekitar abomen kanan tepatnya organ hati berada,
apakah terdapat lesi, benjolan, bekas operasi dll. Melihat kondisi abdomen cekung,
datar atau cembung dan simetris atau tidak simetris.

Palpasi : Mencari perbesaran hati di dua tempat , bila ada perbesaran hati kita lihat
ukuran, tepi, konsistensi, permukaan dan nyeri nya. Kita juga bisa lakukan
pemeriksaan khusus cholesistitis yaitu pemeriksaan Murphy sign. Kita lakukan
pemeriksaan ini untuk menyingkirkan diagnosis banding yang ada yaitu kolesistitis.
Pada abses hati pemeriksaan positif ditandai dengan adanya nyeri tekan pada region
abdomen dextra bagian atas dan biasanya terdapat perbesaran hati hingga 2-4 jari.

Pada kasus: Nyeri tekan abdomen kanan atas (+), murphy sigh (-)

Perkusi : Kita bisa lihat dan cari peranjakan paru hatinya, bila sudah ada kelainan
pada hati atau bila terjadi perbesaran hati, maka akan terdapat peranjakan paru hati
yang tidak terlalu jelas. Karena bila sudah terjadi komplikasi pada hati, paru-paru pun
akan terganggu, karena letak yang bedekatan dan hanya dibatasi oleh selaput
pembungkus paru dan pembungkus hati.
Auskultasi : Untuk mendengarkan di setiap kuadran abdomen bising usus yang ada,
apakah ada kelainan pada bising usus? Ada beberapa jenis bising usus yang patologis,
di antaranya adalah : metallic sound (Ileus obstruktif), Bruit Hepar (Hepatoma) ,
systolic aorta abdominal (aneurisma aorta abdominalis)

Pemeriksaan penunjang

1 Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium yang di periksa adalah darah rutin termasuk kadar Hb
darah, jumlah leukosit darah, kecepatan endap darah dan percobaan fungsi hati, termasuk
kadar bilirubin total, total protein dan kadar albumin dan glubulim dalam darah.
Leukositosis dengan shift to the left terjadi pada 2/3 penderita, anemia dan
hipoalbuminemia juga sering ditemukan. Abnormalitas dari tes fungsi hati terjadi pada
hampir semua penderita dan hal ini merupakan penanda yang cukup sensitif untuk
penyakit ini. Kenaikan kadar alkali fosfatase dan gamma-glutamil transpeptidase terjadi
pada 90 % kasus. Hiperbilirubinemia terjadi jika sumber infeksi berasal dari traktus
biliaris.
2 Pemeriksaan kultur darah
Pada kasus-kasus abses hepar piogenik sebaiknya dilakukan kultur darah tepi, hal ini
penting untuk diagnostik, penanganan dan prognosis dari penderita. Ini adalah
pemeriksaan baku emas bagi abses hepar.
3 Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
USG adalah pemeriksaan pertama yang dilakukan jika dicurigai adanya space
occupying lession pada hepar, sensitivitasnya terhadap abses hepar 80 95 %. Lesi hanya
dapat terlihat jika mempunyai ukuran lebih dari 2 cm. Abses terlihat sebagai massa
hypoechoic dengan batas yang tidak teratur, tampak cavitas-cavitas/septum di dalam
rongga abses. USG juga untuk mendeteksi apakah ada kelainan traktus bilier dan
diafragma.1,2
4 Foto toraks
Tampak atelektasis, elevasi dari hemidiafragma kanan, dan efusi pleura kanan. Foto
dada yaitu untuk didapatkan peninggian kubah diafragma kanan, berkurangnya gerak
diafragma, efusi pleura, kolaps paru dan abses paru. Foto polos abdomen yaitu untuk
Kelainan dapat berupa gambaran ileus, hepatomegali atau gambaran udara bebas di atas
hati.2
5 Pemeriksaan serologi
Pemeriksaan ini untuk menunjukan sensitifitas yang tinggi terhadap kuman.
Pemeriksaan ini juga digunakan untuk memastikan pasien mengalami abses hepar amebik
atau abses hepar piogenik. Kalau positif, maka pasien mengalami abses hepar amebik.

Diagnosis Working (WD)

Abses hati amebik (AHA) merupakan salah satu komplikasi amebiasis ekstraintestinal
yang paling sering dijumpai di daerah tropis/subtropik termasuk di Indonesia. Abses hepar
amebik lebih sering terjadi di daerah endemik negara berkembang dibandingkan abses hepar
piogenik. Abses hepar amebik terutama disebabkan oleh Entamoeba Histolytica, yang
merupakan komensal di lumen usus besar.4

Abses Hati Piogenik Abses Hati Amuba


Demografi Usia: 50-70 tahun Usia: 20-40 tahun
Faktor risiko mayor Infeksi bakteri akut, khususnya Bepergian atau menetap di daerah
intra abdominal endemic ( pernah menetap)
Obstruksi bilier/manipulasi
Diabetes melitus
Gejala klinis Nyeri perut regio kuadran kanan Akut:
atas, demam, menggigil, rigor, demam tinggi, menggigil,
lemah, malaise, anoreksia, nyeri abdomen, sepsis
penurunan berat badan, diare, Sub akut:
batuk, nyeri dada pleuritik Penurunan berat badan; demam dan
nyeri abdomen relatif jarang
Khas:
Tak ada gejala kolonisasi usus dan
kolitis
Tanda klinis Hepatomegali disertai nyeri tekan, Nyeri tekan perut regio kanan atas
massa abdomen, ikterus bervariasi
Laboratorium Lekositosis, anemia, peningkatan Serologi amuba positif (70%-95%)
enzim-enzim hati, peningkatan
bilirubin, hipoalbuminemia
Lekositosis bervariasi dan anemia
Kultur darah positif (50%-60%) Tidak ditemukan eosinofilia

Alkali fosfatase meningkat, namun


aminotransferase biasanya normal
Cairan aspirasi Purulen Konsistensi dan warna bervariasi
Tampak kuman pada pewarnaan Steril
gram Trofozoit jarang ditemukan
Kultur positif (80%)

Tabel 1. Perbedaan AHP dan AHA.5

Untuk diagnosis amoebiasis hati dapat digunakan kriteria Sherlock (1969),


kriteria Ramachandran (1973) atau kriteria Lamont dan Pooler.

Kriteria Sherlock :
1 Hepatomegali yang nyeri tekan
2 Respon baik terhadap obat amoebisid
3 Leukositosis
4 Peninggian diafragma kanan dan pergerakan yang kurang
5 Aspirasi pus
6 Pada USG didapatkan rongga dalam hati
7 Tes hemaglutinasi positif

Kriteria Ramachandran (bila didapatkan 3 atau lebih dari) :


1 Hepatomegali yang nyeri
2 Riwayat disentri
3 Leukositosis
4 Kelainan radiologis
5 Respon terhadap terapi amoebisid

Kriteria Lamont dan Pooler (bila didapatkan 3 atau lebih dari ) :


1 Hepatomegali yang nyeri
2 Kelainan hematologis
3 Kelainan radiologis
4 Pus amoebik
5 Tes serologic positif
6 Kelainan sidikan hati
7 Respon yang baik dengan terapi amoebisid

Diagnosis banding (DD)

1 Abses Hepar Piogenik

Abses hepar piogenik dapat berasal dari radang bilier, dari daerah splanknik melalui v.
porta, atau sistemik dari manapun di tubuh melalui a. hepatika. Sebagian sumber tidak
diketahui. Kadang disebabkan oleh trauma atau infeksi E. coli atau sistem di sekitarnya.

Gambaran klinis abses Hepar piogenik menunjukkan manifestasi sistemik yang lebih
berat dari abses hepar amuba.6

Secara klinis, ditemukan demam yang naik turun, rasa lemas, penurunan berat badan
dan nyeri perut. Nyeri terutama di bawah iga kanan atau pada kuadran kanan atas. Dapat
dijumpai gejala dan tanda efusi pleura. Nyeri sering berkurang bila penderita berbaring pada
sisi kanan. Demam hilang timbul atau menetap bergantung pada jenis abses atau kuman
penyebabnya. Dapat terjadi ikterus, ascites dan diare. Ikterus, terutama terdapat pada abses
hepar piogenik karena penyakit saluran empedu disertai dengan kolangitis supurativa dan
pembentukan abses multiple .Jenis ini prognosisnya buruk. Pada pemeriksaan mungkin
didapatkan hepatomegali atau ketegangan pada perut kuadran lateral atas abdomen atau
pembengkakan pada daerah intercosta. Ketegangan lebih nyata pada perkusi. Apabila abses
terdapat pada lobus kiri, mungkin dapat diraba massa di epigastrium.6

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosit meningkat dengan jelas


(>10.000/mm3) didapatkan pada 75-96% pasien, walaupun beberapa kasus menunjukkan nilai
normal. Laju endap darah biasanya meningkat dan dapat terjadi anemia ringan yang
didapatkan pada 50-80% pasien. Alkali fosfatase dapat meningkat yang didapatkan pada 95-
100 pasien. Peningkatan serum aminotransferase aspartat dan serumaminotransferase alanin
didapatkan pada 48-60% pasien. Prognosis buruk bila kadar serum amino transferase
meningkat. Peningkatan bilirubin didapatkan pada 28-73% pasien. Penurunan albumin (<3
g/dL) dan peningkatan globulin (>3 g/dL) masih diamati. Protrombin time meningkat pada
71-87 pasien.6

2. Hepatoma
Hepatoma (karsinoma hepatoseluler) adalah kanker yang berasal dari sel-sel hati.
Hepatoma merupakan kanker hepar primer yang paling sering ditemukan.
Terjadinya penyakit ini belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor yang
diduga sebagai penyebabnya antara lain virus hepatitis B dan C, sirosis hepar, aflatoksin,
infeksi beberapa macam parasit, keturunan maupun ras. Keluhan dan gejala yang timbul
sangat bervariasi. Pada awalnya penyakit kadang tanpa disertai keluhan atau sedikit keluhan
seperti perasaan lesu, dan berat badan menurun drastis. Penderita sering mengeluh rasa sakit
atau nyeri tumpul (rasa nyeri seperti ditekan jari atau benda tumpul) yang terus menerus di
perut kanan atas yang sering tidak hebat tetapi bertambah berat jika digerakkan.7
Pada pemeriksaan fisis didapatkan hepar membesar dengan konsistensi keras dan sering
berbenjol-benjol, terjadi pembesaran limpa, serta perut membuncit karena adanya asites.
Kadang-kadang dapat timbul ikterus dengan kencing seperti air teh dan mata menguning.
Keluhan yang disertai demam umumnya terjadi akibat nekrosis pada sentral tumor. Penderita
bisa tiba-tiba merasa nyeri perut yang hebat, mual, muntah, dan tekanan darah menurun
akibat pendarahan pada tumornya. Diagnosis KHS selain memerlukan anamesis dan
pemeriksaan fisik juga beberapa pemeriksaaan tambahan seperti pemeriksaan radiologi
(rontgen), ultrasonografi (USG), computed tomography scanning (CT scan), peritneoskopi,
dan test laboratrium. Diagnosa yang pasti ditegakkan dengan biopsi Hepar untuk pemeriksaan
jaringan.7
Hepatoma selain menimbulkan gangguan faal hepar juga membentuk beberapa jenis
hormon yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin, kalsium, kolesterol, dan alfafeto protein
di dalam darah. Gangguan faal hepar menyebabkan peningkatan kadar SGOT, SGPT,
fosfatase alkali, laktat dehidrogenase, dan alfa-L-fukosidase. Pengobatan KHAS yang telah
dilakukan sampai saat ini adalah dengan obat sitostatik, embolisasi, atau pembedahan.
Prognosis umumnya jelek. Tanpa pengobatan, kematian penderita dapat terjadi kurang dari
setahun sejak gejala pertama.7

Etiologi

Abses hati amoeba merupakan salah satu komplikasi amebiasis ekstraintestinal, paling
sering terjadi di daerah tropis/subtropik. Abses hari amebic lebih sering terjadi endemic di
negara berkembang dibanding abses hati piogenik. Abses hari amebic terutama disebabkan
oleh Entamoeba histolytica yang dapat menyebabkan pus dalam hati. E. histolytica
mempunyai 2 stadium yaitu trofozoit dan kista. Bila kista matang tertelan, kista tersebut tiba
di lambung masih dalam keadaan utuh karena dinding kista tahan terhadap asam lambung. 8

Tropozoit adalah bentuk yang aktif bergerak dan bersifat invasif, dapat tumbuh dan
berkembang biak, aktif mencari makanan,dan mampu memasuki organ dan jaringan. Ukuran
E. histolytica bentuk trofozoit sekitar 10-60 mikron, mempunyai inti entamena yang di
endoplasma. Stadium trofozit dapat bersifat pathogen dan menginvasi jarinagn usus besar.
Dengan aliran darah, meyebar ke jaringan hati, paru, otak, kulit dan vagina. Hal tersebut
disebabkan sifatnya yang dapat merusak jaringan. 8

Gambar 1.1. Entamoeba histolytica bentuk trofozoit

Bentuk kista Entamoeba Histolytica bulat, dengan dinding kista dari hialin, tidak aktif
bergerak. Stadium ini berasal dari stadium trofozoid yang berada di rongga usus besar.
Ukuran kista 10-20 mikron. Stadium kista tidaklah pathogen tetapi merupakan stadium yang
infektif. Dengan adanya dinding kista, stadium kista dapat bertahan, terhadap pengaruh buruk
di luar badn manusia. Infeksi terjadi dengan menelan kista matang. 8

Gambar 2 Entamoeba histolytica bentuk kista


Epidemiologi

Abses hati amebik didapatkan secara endemic dan jauh lebih sering dibandingkan abses
hati piogenik. Abses hati amebic lebih banyak menyerang pria dibanding wanita dengan
perbandingan 3 : 1 sampai 22 : 1. Usia berkisar antara 20-50 tahun, terutama dewasa muda,
dan jarang ditemukan pada anak-anak. Penularannya dapat melalui oral-anal-fekal ataupun
melalui vector (lalat dan lipas). Individu yang mudah terinfeksi adalah penduduk di daerah
endemis, wisatawan ke daerah endemis atau para homoseksual. Perlu diingat bahwa abses
hati amebik didapatkan lebih endemik dan lebih sering dibandingkan dengan abses hati
piogenik. 9

Patogenesis

Penularan abses hepar amebik terjadi secara fekal-oral, dengan masuknya kista infektif
bersama makanan atau minuman yang tercemar tinja penderita atau tinja karier amebiasis.
Di dalam usus, oleh pengaruh enzim tripsin dinding kista pecah. Di dalam sekum atau
ileum bagian bawah terjadi proses eksitasi, eksitasi adalah proses transformasi dari bentuk
kista ke bentuk tropozoit. Dalam proses eksitasi, satu kista infektif yang berinti empat
tumbuh menjadi delapan amubula, amubula menuju ke jaringan submukosa usus besar, lalu
tumbuh dan berkembang menjadi trofozoit. Bentuk trofzoit dapat menginvasi jaringan dan
pada akhirnya amoeba dapat menjadi pathogen dengan mensekresi enzim cysteine protease,
sehingga dapat melisiskan jaringan maupun eritrosit dan menyebar ke seluruh organ secara
hematogen dan perkontinuinatum.9
Amoeba yang masuk ke submukosa memasuki kapiler darah, ikut dalam aliran darah
melalui vena porta ke hati. Di hati Entamoeba Histolytica mensekresi enzim proteolitik yang
melisiskan jaringan hati dan membentuk abses. Lokasi yang tersering adalah lobus kanan
(70%-90%), kecenderungan ini diperkirakan akibat penggabungan dari beberapa tempat
infeksi mikroskopik, serta disebabkan karena cabang vena porta kanan lebih lebar dan lurus
dari pada cabang vena porta kiri. Ukuran abses bervariasi, yaitu dari diameter 1-25 cm,
dinding abses bervariasi tebalnya, bergantung pada lamanya penyakit. Didaerah sentral dari
abses terjadi pencairan yang berwarna coklat kemerahan, yang disebut anchovy sauce yang
terdiri dari jaringan hati nekrotik dan berdegenerasi. Amoebanya dapat ditemukan pada
dinding abses dan sangat jarang ditemukan di dalam cairan di bagian sentral abses. Kira-kira
25 % abses hati amoebik mengalami infeksi sekunder sehingga cairan absesnya menjadi
purulen dan berbau busuk.
Terdapat periode laten yaitu jarak waktu yang lamanya bervariasi kadang-kadang
sampai bertahun-tahun diantara kejadian infeksi pada usus dengan timbulnya abses hati. Jarak
waktu antara serangan di intestinal dengan timbulnya kelainan di hati berbeda-beda. Bentuk
yang akut dapat memakan waktu kurang dari 3 minggu, tetapi bentuk yang kronis lebih dari 6
bulan, bahkan mungkin sampai 57 tahun. Disamping itu hanya lebih kurang 10 % penderita
abses hati yang dapat ditemukan adanya kista E.histolytica dalam tinjanya pada waktu yang
bersamaan, bahkan dilaporkan 2-33 %. Faktor yang berperan dalam keaktifan invasi amoeba
ini belum diketahui dengan pasti tetapi mungkin ada kaitannya dengan virulensi parasit, diit
flora bakteri usus dan daya tahan tubuh sesorang baik humoral maupun seluler.9
Gambar 3 Patogenesis dan siklus hidup E. histolytica

Gejala klinis

Gejala dapat timbul secara mendadak (bentuk akut), atau secara perlahan-lahan (bentuk
kronik). Dapat timbul bersamaan dengan stadium akut dari amebiasis intestinal atau
berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah keluhan intestinal sembuh. Pada bentuk
akut, gejalanya lebih nyata dan biasanya timbul dalam masa kurang dari 3 minggu. Keluhan
yang sering diajukan yaitu rasa nyeri di perut kanan atas. Rasa nyeri terasa seperti tertusuk
tusuk dan panas, demikian nyerinya sampai ke perut kanan dan ditandai biasanya pasien
membungkuk ke depan dengan memegang perut kanan. Dapat juga timbul rasa nyeri di dada
kanan bawah, yang mungkin disebabkan karena iritasi pada pleura diafragmatika. Pada saat
timbul rasa nyeri di dada dapat timbul batuk batuk. Keadaan serupa ini timbul pada waktu
terjadinya perforasi abses hepatis ke paru paru. Sebagian penderita mengeluh diare. Hal
seperti itu memperkuat diagnosis yang dibuat.9
Gejala demam intermitten atau remitten juga dilaporkan pada abses hepar amebic
walau terkadang gejala demam kadang tidak ditemui pada penyakit ini. Gejala yang non
spesifik seperti menggigil, anoreksia, mual dan muntah, perasaan lemah badan dan penurunan
berat badan merupakan keluhan yang biasa didapatkan. Lebih dari 90 % didapatkan
hepatomegali yang teraba nyeri tekan. Hati akan membesar kearah kaudal atau kranial dan
mungkin mendesak kearah perut atau ruang interkostal. Pada perkusi diatas daerah hepar
akan terasa nyeri. Konsistensi biasanya kistik, tetapi bisa pula agak keras seperti pada
keganasan. Pada tempat abses teraba lembek dan nyeri tekan. Dibagian yang ditekan dengan
satu jari terasa nyeri, berarti tempat tersebutlah tempatnya abses. Rasa nyeri tekan dengan
satu jari mudah diketahui terutama bila letaknya di interkostal bawah lateral. Ini
menunjukkan tanda Ludwig positif dan merupakan tanda khas abses hepatis. Abses yang
besar tampak sebagai massa yang membenjol didaerah dada kanan bawah. Batas paru-paru
hepar meninggi. Pada kurang dari 10 % abses terletak di lobus kiri yang sering kali terlihat
seperti massa yang teraba nyeri di daerah epigastrium.
Ikterus jarang terjadi, kalau ada biasanya ringan. Bila ikterus hebat biasanya disebabkan
abses yang besar atau multipel, atau dekat porta hepatik. Pada pemeriksaan toraks didaerah
kanan bawah mungkin didapatkan adanya efusi pleura atau friction rub dari pleura yang
disebabkan iritasi pleura.9
Gambaran klinik abses hati amebik mempunyai spektrum yang luas dan sangat
bervariasi, hal ini disebabkan lokasi abses, perjalanan penyakit dan penyulit yang terjadi.
Pada satu penderita gambaran bisa berubah setiap saat. Dikenal gambaran klinik klasik dan
tidak klasik.
Gambaran klinik klasik didapatkan penderita mengeluh demam dan nyeri perut kanan
atas atau dada kanan bawah, dan didapatkan hepatomegali yang nyeri. Gambaran klasik
didapatkan pada 54-70 % kasus. Gambaran klinik tidak klasik ditemukan benjolan di dalam
perut (seperti bukan kelainan hati misalnya diduga empiema kandung empedu atau tumor
pankreas), Gejala renal (keluhan nyeri pinggang kanan dan ditemukan masa yang diduga
ginjal kanan), ikterus obstruktif, kolitis akut, gejala kardiak bila ruptur abses ke rongga
perikardium, gejala pleuropulmonal, abdomen akut.9
Penatalaksanaan

Medikamentosa

Metrodinazole adalah ambisid jaringan yang saat ini merupakan pilihan pertama.
Dosisnya bervariasi antara 3x750mg hingga 3x800mg per hari selama 10 hari. Amebisid
jaringan lainnya ialah klorokuin. Dosisnya yang diberikan 600mg klorokuin basa (4 tablet),
lalu 6 jam kemudian 300 mg (2 tablet) selanjutnya 2x150mg/hari selama 28 hari. Cara lain
adalah klorokuin 1 gr/hari (4 tablet) selama 2 hari, diteruskan 500mg/ hari (2 tablet) sampai
21 hari.9

Dapat pula menggunakan analgesik seperti asam mefenamat 3 x 500mg untuk


mengurangi rasa nyeri. 9

Aspirasi terapeutik dilakukan dengan tuntunan USG bila ada indikasi abses yang
dikhawatirkan pecah, dalam 48-72 jam tidak respons terhadap terapi medikamentosa, abses
lobus kiri karena abses disini mudah pecah ke rongga pericardium atau peritoneum, abses
dengan serologi ameba negative, atau abses multiple.9

Tindakan pembedahan jarang dilakukan karena mortalitas tinggi, tindakan


pembedahan dilakukan jika ada indikasi abses yang sangat besar dan menonjol ke dinding
abdomen atau ruang interkostal, bila terapi medikamentosa dan aspirasi tidak berhasil,
rupture abses ke dalam rongga pleura/intraperitoneal/prekardial.9

Nonmedikamentosa

Dapat menganjurkan pasien untuk tirah baring apabila sakit yang dirasakan tidak dapat
diatasi dan semakin menjadi. Tetap diberikan gizi yang seimbang serta mengkonsumsi
makanan dan minuman yang bersih dan matang. Menghindari faktor pencetus kerusakan hati
seperti minum alkohol atau minuman bersoda dan mengkonsumsi rokok.

Komplikasi

Saat diagnosis ditegakan, menggambarkan keadaan penyakit yang berat, seperti


septikaemia/bakteriemia dengan mortalitas 85%, ruptur abses hati disertai peritonitis
generalisata dengan mortalitas 6-7% kelainan plueropulmonal sekitar 10-20%, gagal hati,
kelainan didalam rongga abses, henobilia, empiema, fisistula hepatobronkial, ruptur kedalam
perikard atau retroperitoneum. Sistem plueropulmonum merupakan sistem tersering terkena.
Secara khusus, kasus tersebut berasal dari lesi yang terletak di lobus kanan hepar. Abses
menembus diagfragma dan akan timbul efusi pleura, empyema abses pulmonum atau
pneumonia. Fistula bronkopleura, biliopleura dan biliobronkial juga dapat timbul dari reptur
abses amuba. Pasien-pasien dengan fistula ini akan menunjukan ludah yang berwarna
kecoklatan yang berisi amuba yang ada.9

Prognosis

Prognosis yang buruk, apabila terjadi keterlambatan diagnosis dan pengobatan, jika
hasil kultur darah yang memperlihatkan penyebab bacterial organisme multiple, tidak
dilakukan drainase terhadap abses, adanya ikterus, hipoalbuminemia, efusi pleural atau
adanya penyakit lain. 9

Pencegahan

Untuk abses hati amebik, pencegahan dapat dilakukan dengan meminum air murni dan
tidak makan sayuran mentah atau buah dikupas ketika bepergian di negara-negara tropis
dengan sanitasi yang buruk. Pola hidup sehat tidak merokok ataupun minum alkohol untuk
menjaga kesehatan hati juga penting. 8

Kesimpulan :

Abses hati amebik adalah abses yang disebabkan oleh parasit E. histolytica yang
dimana seseorang mengkonsumsi sesuatu kurang matang dan kurang bersih yang ternyata
terdapat kista E. histolytica dan pada akhirnya menjadi trofozoit yang bermigrasi sampai ke
hepar. Abses hati amebik mempunyai gambaran klinis yang khas seperti nyeri pada bagian
bawah abdomen kanan terutama di bawah dada sehingga pasien harus membungkuk untuk
mengurangi rasa nyerinya tetapi tidak menutup kemungkinan dapat ditemukan penyakit lain
maka dari itu perlu anamnesis yang jelas, pemeriksaan fisik tepat sasaran dan pemeriksaan
penunjang yang akurat untuk menggeser diagnosis banding. Obat amebisid yang sering
dipakai adalah metronidazole dan terapi bedah serta aspirasi terapeutik dapat dilakukan
apabila terdapat komplikasi yang parah.

Pencegahan dapat dilakukan dengan pola hidup yang sehat, menghindari pencetus
kerusakan hati seperti rokok, minum alkohol dan bersoda. Apabila penyakit ini cepat
ditangani dengan cepat dan pengobatan yang tepat maka dapat mengatasi penyakit ini.
DAFTAR PUSTAKA

1 Hardjodisastro D. Menuju seni ilmu Kedokteran. 1 st ed. Jakarta : PT. Gramedia


Pustaka Utama; 2006. h.217.

2 Uliyah M. Keterampilan Dasar Praktik Klinik. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika;


2008.h.153.
3 NIH. BMI Calculator. 2011. Diunduh dari
http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/obesity/BMI/bmicalc.html. 11 Juni 2016

4 Schwartz MW. Pedoman klinis pediatri. Jakarta: EGC; 2004.h. 26.


5 Bukhari AJ, Abid KJ. Amebic liver abscess: Clinical Presentation and Diagnostic
Difficulties.Kuwait Medical Journal 2003. p.183-186.
6 Pubmeb Health. Pyogenic Liver Abscess.2010. Diunduh dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001307/diakses pada tanggal 11
Juni 2016.
7 Pubmeb Health. Hepatoma. 2010. Diunduh dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001307/diakses pada tanggal 11
Juni 2016.
8 Susanto I, Suhariah Ismid. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi 4. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.2008.
9 Ndraha S. Bahan Ajar Gastroenterologi. Cetakan 1. Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran UKRIDA. 2013.