Anda di halaman 1dari 28

79

VI. ANALISIS SWOT DAN STRATEGI PEMASARAN GLOBAL

6.1. Komoditas Pertanian


6.1.1. Strategi Pemasaran Produk Pertanian Tanaman Pangan

Analisis data primer menunjukkan bahwa untuk jenis tanaman pangan

hampir semua petani menggunakan modalnya sendiri. Hal ini dikarenakan jenis

komoditas ini masih belum sepenuhnya merupakan komoditas komersial.

Dari aspek manajerial, pada umumnya petani melakukan perencanaan

produksi dengan memperhatikan faktor musim. Petani pada umumnya given

terhadap aspek pasar dan pemasaran.

Kegiatan produksi tanaman pangan memang telah dilakukan masyarakat

Indonesia dalam waktu yang lama namun demikian permasalahan aspek

produksi belum juga dapat dipecahkan secara komprehensif sehingga kegiatan

produksi yang musiman, fluktuasi produksi dan aspek konservasi yang rendah

merupakan kelemahan dan ancaman bagi pertanian Indonesia dan Jawa Timur

khususnya. Seringkali ketika orientasi produksi pertanian bercorak komersial

maka aspek konservasi dan pemeliharaan sumberdaya kurang diperhatikan demi

menghasilkan produksi yang maksimal.

Berkenaan dengan aspek produksi komoditas tanaman pangan memang

Jawa Timur memiliki daerah produsen tanaman pangan yang tersebar hampir di

seluruh wilayah Jawa Timur dengan tingkat produktifitas yang tidak jauh berbeda.

Yang selanjutnya dilakukan adalah identifikasi surplus produksi dan melakukan

pengelolaan atas suplai yang ada sehingga Jawa Timur mampu melakukan

swasembada pangan bahkan menjadi suplier pangan bagi daerah lain.

Dengan berfungsinya Jawa Timur sebagai salah satu penyangga pangan

nasional maka intervensi pemerintah diperlukan dalam upaya menjaga suplai

pangan Jawa Timur bahkan nasional. Tidak hanya berorientasi pada kebijakan
80

yang berpihak konsumen tetapi juga dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

produsen.

A. Analisis SWOT Pemasaran Global Produk Pertanian Tanaman Pangan


A.1. Analisis Internal
A.1.1. Kekuatan

Jawa Timur merupakan lumbung pangan nasional terbukti dengan nilai

produksi yang sangat besar proporsinya terhadap produksi nasional

Memiliki keunggulan komparatif wilayah berupa kesesuaian agroekologi bagi

pengembangan komoditas tanaman pangan

Infrastruktur yang merupakan necessary conditions juga telah memadai. Hal

ini tentunya akan memudahkan dalam proses pemasaran terutama

berkenaan dengan fungsi tempat dalam pemasaran

Adanya kelembagaan di tingkat petani

A.1.2. Kelemahan

Sulitnya petani melakukan kegiatan berkelompok sehingga seringkali

masalah skala ekonomi berdampak pula pada daya tawar dalam pemasaran

produknya

Manajemen usahatani cenderung hanya mendasarkan pada perilaku musim

sehingga kegiatan produksi petani cenderung mendasarkan pada

pengalaman sebelumnya dan belum mengimbangi dengan mendasarkan

pemahaman akan perilaku pasar

Produk pertanian pangan pada umumnya merupakan produk generik

sehingga tidak dapat dilakukan kegiatan promosi untuk meningkatkan daya

saing dan pemasarannya


81

Fluktuasi produksi yang sangat tajam menyebabkan terjadinya excess supply

pada musim panen dan kelangkaan produksi pada waktu yang lain

Elastis dalam suplai tetapi inelastis dalam permintaannya terutama terhadap

harga

Ketergantungan pada iklim dan cuaca yang tinggi sehingga

A.2. Analisis Eksternal


A.2.1. Peluang

Demand produk pangan yang sangat tinggi terkait dengan pola konsumsi

masyarakat dan juga jumlah penduduk yang sangat besar baik di Jawa Timur

sendiri khususnya maupun secara nasional

Besarnya perhatian pemerintah baik daerah maupun pusat pada aspek

ketersediaan, distribusi dan akses pangan

Kesadaran masyarakat akan produk yang berkualitas memungkinkan produk

pangan melakukan segmentasi dalam pemasaran

Introduksi teknologi pengolahan akan sangat membantu bagi peningkatan

nilai tambah produk primer tanaman pangan sehingga outputnya dapat

dipasarkan di pasar input bagi industri makanan olahan dan sebagainya


82

A.2.2. Ancaman

Adanya impor produk pangan seperti halnya kedelai maupun impor beras

mengancam kestabilan harga pangan nasional

Masih belum terbentuknya pusat-pusat informasi dan pemasaran produk-

produk primer pertanian tanaman pangan sehingga seringkali terjadi asimetri

informasi. Hal ini juga akan dapat berimplikasi pada semakin rendahnya

posisi tawar petani.

Penurunan kesuburan tanah relatif tinggi

B. Matrik Analisis SWOT Tanaman Pangan

Kekuatan (S) : Kelemahan (W) :


Internal 1. Tingginya produksi 1. Manajemen produksi masih
2. Infrastruktur yang memadai: belum berorientasi pasar
transportasi dan komunikasi 2. Production oriented
3. Kelembagaan petani 3. Produk generik
4. Elastisitas suplai tinggi dan
elastisitas demand rendah
Internal
Eksternal
Peluang (O) : Strategi (S) (O) : Strategi (W) (O) :
1. Permintaan produk pangan 1. Mengefektifkan sistem stok 1. Membentuk sistem informasi
tinggi daerah terutama produk pasar (W1, W2, W3, O1, O2)
2. Perhatian pemerintah pangan utama (dikelola 2. Introduksi teknologi
terhadap tanaman pangan pemerintah) (S1, S2, O1, O2) diferensiasi produk baik
3. Kesadaran masyarakat 2. Introduksi teknologi horisontal maupun vertikal
terhadap kualitas pengolahan dalam rangka (W3, W4, O1, O2, O3, O4)
4. Membidik segmen pasar pemberdayaan kelembagaan
yang elastis terhadap harga petani (S3, O3, O4)

Ancaman (T): Strategi (S) (T) : Strategi (W) (T) :


1. Produk pangan impor 1. Meningkatkan produktifitas 1. Introduksi teknologi bibit
2. Belum terbentuknya pusat- produksi domestik (S1, T1) unggul (W1, W3, T1)
pusat informasi pasar 2. Konservasi sumberdaya 2. Meningkatkan akses pasar
produk pertanian lahan dan air (S3, T3) petani (W3, T2)
3. Daya dukung lahan 3. Membentuk sistem informasi 3. Konservasi lahan pertanian
pasar (S2, T2) (T3)
4. Pengolahan produk primer
tanaman pangan (W4)
83

C. Potensi Penerapan Strategi Pemasaran Global melalui Jaringan antar


Daerah

Berdasarkan analisis SWOT di atas maka dapat di ketahui bahwa masih

sangat jauh dari harapan penerapan strategi pemasaran global untuk produk

tanaman pangan. Demikian halnya dengan hasil analisis data primer berkenaan

dengan pemasaran komoditas tanaman pangan melalui key informan baik dari

petani maupun dari dinas bersangkutan.

Pada umumnya produk pangan adalah produk yang tidak terstandarisasi

dan produksi yang berfluktuasi karena bersifat musiman. Dari aspek pemasaran

pihak pemerintah daerah menyadari bahwa informasi pasar masih belum

sepenuhnya terdistribusi secara baik. Strategi pemasaran hanya dilakukan oleh

pedagang-pedagang besar dengan memanfaatkan jaringan pasar yang telah

diketahuinya.

Dengan demikian dari struktur pasar nampak bahwa petani menghadapi

struktur pasar yang cenderung bersifat oligopsoni, struktur pasar pedagang

mengarah pada oligopoli dan pasar produk pangan seperti beras cenderung

mengarah pasar persaingan sempurna. Konsekuensi dari struktur pasar ini

adalah berbedanya kharakteristik pemasarannya.

Secara keseluruhan, strategi pemasaran yang sementara ini diterapkan di

pertanian tanaman pangan Indonesia adalah strategi pemasaran produksi. Hal

ini diindikasikan dengan :

1. Cakupan distribusi yang luas

2. Produk mudah di dapat

3. Harga relatif murah (Gregorius, 004)


84

Produksi tanaman pangan tidak lain difungsikan untuk memenuhi

kebutuhan dasar masyarakat yaitu kebutuhan pangan. Dalam konteks

pemasaran global, produk pangan domestik diharapkan mampu memenuhi

kebutuhan pangan sehingga tidak menggantungkan pada ketersediaan pangan

pasar dunia. Dengan kata lain, produk pangan difungsikan untuk mensubstitusi

produk pangan impor. Kondisi ini didorong oleh kenyataan bahwa dalam neraca

perdagangan nasional, khususnya untuk produk pangan mengalami defisit

perdagangan yang sangat besar. Hal ini seperti ditunjukkan dalam data berikut.

Tabel 21. Keragaan Ekspor Impor dan Neraca Perdagangan Produk Pertanian
tanaman pangan Indonesia 1997 - 2001 (US $ 000)
Deskripsi/Tahun 1997 1998 1999 2000 2001
Ekspor 110.575 157.185 91.187 59.059 56.363
Impor 1.768.871 1.888.011 2.426.336 1.735.697 1.404.472
Defisit -1.658.296 -1.730.826 -2.335.149 -1.676.638 -1.348.109
Sumber : Data BPS, diolah (2001)
Keterangan :* Data s/d Sept. 2001

Dengan kondisi neraca perdagangan seperti Tabel 21 di atas maka

Indonesia akan sangat bergantung pada pasar dunia untuk memenuhi

permintaan pangan. Sementara itu, produk pangan tidak hanya merupakan

komoditi ekonomi tetapi juga telah berubah menjadi komoditi politis, sehingga

penataan pangan dalam aspek produksi, distribusi dan akses pangan sangat

memerlukan peran pemerintah mengingat produk ini untuk memenuhi kebutuhan

dasar dan hajat hidup orang banyak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan

adalah menerapkan sistem pemasaran yang terkontrol sehingga fluktuasi harga

tetap berada pada kisaran yang masih menguntungkan petani dan sistem

distribusi dilakukan melalui mekanisme pasar terkoordinasi antar daerah.


85

D. Langkah Strategis dalam Pengembangan Pemasaran Produk Tanaman


Pangan

Kondisi pemasaran tanaman dalam pasar oligopsoni memang kurang

menguntungkan bagi petani. Hal ini menyebabkan posisi tawar petani semakin

lemah dan semakin sulit untuk mendapatkan informasi pasar. Berikut adalah

langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi pemasaran tanaman pangan :

Introduksi teknologi
bibit unggul dan
perbaikan teknik a. Penguatan
budidaya a. Meningkatkan pasar
pemberdayaan a. Diferensiasi domestik
Penyebaran
kelompok tani horizontal produk atas produk
informasi sistem
b. Meningkatkan pangan dan terstandaris
konservasi lahan
akses pasar petani Segmentasi pasar asi
dan air
tanaman pangan (standarisasi b. Penetrasi
Mengefektifkan
c. Membentuk produk pangan) pasar dan
kembali system
sistem informasi b. Pengolahan pembentuk
stok oleh
pasar produk primer an jaringan
pemerintah
(diferensiasi pemasaran
vertikal) global

Tahap I: Tahap II: Tahap III: Tahap IV:


Penguatan produksi Penguatan Penerapan strategi Extended
dan menjaga kestabilan kelembagaan petani pemasaran market driven
harga pada tingkat dan Perbaikan sistem tersegmentasi dengan strategy
yang masih informasi pasar produk terstandarisasi
menguntungkan

Gambar 19. Langkah Strategis Pengembangan Pemasaran Produk Tanaman


Pangan
86

6.1.2. Strategi Pemasaran Produk Pertanian Hortikultura

Berbeda dengan tanaman pangan, tanaman buah-buahan merupakan

tanaman yang bercorak komersial. Responden yang digali informasinya adalah

petani maju dengan skala produksi yang relatif besar. Penguasaan lahan rata-

rata dari responden adalah 2.2 hektar.

Hasil tabulasi data primer ditunjukkan bahwa sebagian besar responden

menggunakan modalnya sendiri untuk melakukan kegiatan produksi, yaitu sekitar

60% dari responden. Berkenaan dengan aspek manajemen, petani hortikultura

banyak menenkankan pada aspek produksi dan pemasaran yaitu sekitar 66

persen sedangkan yang memahami pentingnya adaministrasi dalam usaha

hanya 34 persen. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun sudah bercorak

komersial namun sebagian besar responden masih belum memahami

pentignnya evaluasi finansial bisnis atau usaha yang dimilikinya.

Berkenaan dengan informasi pasar sebagian responden menyatakan

bahwa informasi pasar terutama berkenaan dengan harga didapat langsung dari

pedagang perantara, sebagian lagi didapat dari pasar lokal. Hal ini menunjukkan

bahwa relatif lebih komersialnya suatu usaha akan mendorong pengusaha/

petani untuk mengetahui informasi pasar dalam upaya meningkatkan posisi

tawarnya. Namun masih dirasakan bahwa ada barrier atau hambatan di dalam

usaha mencari informasi pasar.

Walupun berpotensi untuk dilakukan diferensiasi produk untuk buah-

buahan namun dalam realitasnya hal ini belum dapat dilakukan oleh petani

maupun lembaga pemasaran. Hal ini diindikasikan dengan sedikitnya perhatian

petani maupun lembaga pemasaran buah-buahan pada kegiatan untuk

peningkatan kualitas. Dan hampir semua responden tidak menganggap penting


87

kegiatan promosi. Sebaliknya, harga adalah aspek utama yang sangat

mempengaruhi dalam kegiatan produksi. Rendahnya perhatian pada promosi

dari sisi ilmu pemasaran bisa dipahami. Untuk produk yang homogen maka

penggunaan instrumen promosi adalah sangat tidak efektif karena konsumen

tidak secara khusus terpengaruh oleh atribut produk tertentu yang membedakan

produk buah-buahan yang satu dengan yang lain untuk jenis yang sama.

Dampak krisis ekonomi juga dirasakan oleh petani buah-buahan maupun

lembaga pemasaran. Hal ini dikarenakan adaanya penurunan kemampuan

menyediakan input oleh produsen dan lemahnya daya beli di tingkat konsumen.

A. Analisis SWOT Pemasaran Global Produk Pertanian Hortikultura


A.1. Analisis Internal
A.1.1. Kekuatan

Keunggulan komparatif berupa kesesuaian agroekologi

Infrastruktur yang telah memadai terutama transportasi dan komunikasi. Hal

ini tentunya akan memudahkan dalam proses pemasaran terutama

berkenaan dengan fungsi tempat dalam pemasaran

Pengalaman petani dalam budidaya tanaman buah-buahan

Petani telah mulai memahami pentingnya informasi pasar dan pentingnya

pemasaran

A.1.2. Kelemahan

Sebagian besar produksi tanaman hortikultura masih sangat berfluktuasi

sehingga dari sisi ketersediaan tidak terjadi sepanjang waktu dan dari sisi

haraga menimbulkan perubahan harga yang sangat tajam karena terjadinya

excess suply pada saat panen raya.


88

Kharakteristik produk hortikultura sendiri yang pada umumnya mudah rusak

(perishible), bersifat generik (tidak terstandardisasi)

Masih rendahnya manajemen usaha berkenaan dengan planning atau

perencanaan usaha yang mendasarkan informasi pasar

Manajemen keuangan masih bersatu dengan keuangan keluarga sehingga

tingkat efisiensi usaha sulit dievaluasi perubahannya

Masih terbatasnya upaya-upaya inovatif bagi pengembangan produk

hortikultura baik dalam diferensiasi horizontal maupun vertikal.

A.2. Analisis Eksternal

A.2.1. Peluang

Mendasarkan pada perilaku konsumen, maka produk hortikultura sangat

berpeluang dilakukan segmentasi pasar dengan atribut produk yang berbeda

Potensi permintaan produk hortikultura masih besar

Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kualitas dan keamanan

konsumsi pangan

Perhatian pemerintah pada pengembangan produk unggulan

A.2.2. Ancaman

Masuknya produk impor dengan atribut produk yang sangat menarik baik

terutama dari sisi kemasan

Masih terhambatnya sistem informasi pasar cenderung pada struktur pasar

oligopopsoni yang berimplikasi pada bargaining position di pihak produsen

yang semakin lemah.

Pola konsumsi masyarakat yang belum sepenuhnya memperhatikan

konsumsi buah-buahan dan sayuran dalam kesehariannya


89

Daya dukung lahan mulai menurun

B. Matrik Analisis SWOT Pertanian Hortikultura


Kekuatan (S) : Kelemahan (W) :
Internal 1. Keunggulan komparatif 1. Fluktuasi produksi yang tinggi
2. Infrastruktur yang memadai: 2. Kharakteristik produk (perisible, tidak
transportasi dan komunikasi terstandardisasi)
3. Kesadaran pentingnya 3. Manajemen masih belum
informasi pasar berorientasi pasar
4. Inovasi pada produk rendah
Internal
Eksternal
Peluang (O) : Strategi (S) (O) : Strategi (W) (O) :
1. Segmentasi pasar 1. Membentuk pasar komoditas 1. Introduksi penanganan pasca panen
dengan atribut produk dan pusat informasi pasar di (Handling) oleh petani produsen
yang berbeda daerah sentra (S2, S3, O2, (W1, W2, O1, O2, O3)
2. Permintaan produk O4) 2. Penguatan kelembagaan petani
hortikultura tinggi 2. Membentuk Jaringan hortikultura (W3, O2, O4)
3. Kesadaran masyarakat pemasaran antar daerah (S1, 3. Introduksi teknologi diferensiasi
terhadap kualitas O2, O1, O3) produk baik horisontal maupun
4. Perhatian pemerintah vertikal (W2, W3, W4, O1, O3, O4)
pada produk unggulan

Ancaman (T): Strategi (S) (T) : Strategi (W) (T) :


1. Produk hortikultura 1. Introduksi teknologi untuk 1. Introduksi teknologi diferensiasi
impor dengan atribut peningkatkan produktifitas produk secara horisontal terutama
yang lebih baik produksi hortikultura domestik meningkatkan daya simpan produk
2. Masih terhambatnya (S1, T1) (W1, W2, W4, T1, T3)
sistem informasi pasar 2. Konservasi sumberdaya 2. Meningkatkan akses pasar petani
ditingkat produsen lahan dan air serta perbaikan (W3, T2)
3. Pola konsumsi teknik budidaya (S1, T4) 3. Konservasi lahan pertanian (T4)
masyarakat 3. Membentuk sistem informasi
4. Daya dukung lahan pasar (S2, S3, T2)
4. Melakukan standardisasi dan
promosi produk hortikultura
melalui media masa oleh
pemerintah (S1, T3)

C. Potensi Penerapan Strategi Pemasaran Global melalui Jaringan antar


Daerah Produk Hortikultura

Negara-negara maju seperti halnya Australia telah mampu menembus

pasar Indoensia terutama untuk komoditas buah-buahan. Strategi yang

diterapkan adalah kualitas dan keseragaman hasil. Atribut produk sudah

memperhatikan preferensi konsumen sehingga dapat dengan mudah melakukan


90

penetrasi di pasar Indonesia. Ketersediaannya produk impor pada awalnya

membidik konsumen menengah-atas. Namun semakin lama semakin mudah

diperoleh di pasar lokal. Sementara itu konsumsi buah-buahan lokal menjadi

nomor dua, terutama berkenaan dengan nilai prestise.

Di dalam ilmu pemasaran hal ini dikenal dengan nama positioning

product. Brand Strategy yang diterapkan oleh negara maju dalam menembus

pasar Indonesia sangat baik dan mendasarkan pada consumer approach. Hal

inilah yang belum dilakukan oleh pelaku bisnis hortikultura khususnya di Jawa

Timur. Isu pemasaran global juga menuntut adanya kualitas terstandardisasi,

keamanan mengkonsumsi dan ramah lingkungan dalam proses produksi.

Berdasarkan data BPS seperti pada Tabel 22, kecenderungan seperti

yang disebutkan di atas adalah trend secara nasional. Hal ini terbukti dengan

data nasional perdagangan produk pertanian hortikultura, dimana nilai impor

cenderung meningkat mulai tahun 1998 sampai 2001. Sementara itu ekspor

hortikultura tidak memiliki kekuatan kompetitif dalam menembus pasar

internasional. Ekspor memang diuntungkan dengan adanya devaluasi mata

uang rupiah terhadap dollar, namun hal ini tidak berimplikasi pada ekspansi

pasar yang lebih luas bahkan nilai ekspor cenderung menurun. Data

selengkapnya seperti disajikan dalam Tabel 22.

Tabel 22. Keragaan Ekspor Impor dan Neraca Perdagangan Produk Pertanian
Hortikultura Indonesia 1997 2000 (US $ 000)
Deskripsi/Tahun 1997 1998 1999 2000 2001
Ekspor 140.921 77.678 352.270 298.853 156.788
Impor 224.668 113.111 137.219 237.710 464.261
Defisit -83.747 -35.433 215.051 61.143 -307.473
Sumber : Data BPS, diolah (2001)
Keterangan :* Data s/d Sept. 2001
91

Neraca perdagangan komoditas tanaman hortikultura mengalami defisit

pada tahun 1997, 1998 dan 2001, sedangkan pada tahun 1999 dan 2000

mengalami surplus. Tingginya impor produk hortikultura antara lain disebabkan

oleh rendahnya bea tarif masuk sehingga produk hortikultura impor membanjiri

pasar domestik.

Kondisi pertanian tanaman hortikultura di atas tentunya perlu dipahami

untuk selanjutnya dilakukan langkah-langkah stratgeis guna memperbaiki kinerja

pertanian hortikultura. Berdasarkan analisis SWOT dapat dipahami bahwa

strategi yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan adalah :

Berkenaan dengan economic of scale produk yang dipasarkan

Tentang aspek teknologi produksi dan juga diferensiasi atas produk

hortikultura. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan nilai guna, nilai

tambah maupun perbaikan kualitas produk primer itu sendiri.

Pengetahuan pasar utamanya untuk produsen hortikultura

Standardisasi dan promosi terkait dengan segmentasi dan positioning produk

di pasar

D. Langkah Strategis Pengembangan Pemasaran Produk Hortikultura

Pasar hortikultura memang masih belum berbeda jauh dengan pasar

tanaman pangan. Bahkan seringkali terjadi kenakalan pada lembaga pemasaran

demi mendapatkan keuntungan pemasaran yang lebih besar. Hal ini dilakukan

dengan mengkaburkan kualitas produk yaitu mencampur produk yang kurang

baik dengan yang baik. Hal ini terjadi pada komoditas sayuran dan buah-buahan.

Tidak dilakukan standardisasi kualitas produk semakin meningkatkan peluang

pelaku usaha untuk terjadinya Moral Hazard dalam kegiatan ekonomi.


92

Permasalahan lain yang perlu segera diambil langkah strategisnya

adalah berkenaan dengan masuknya produk impor dengan atribut yang lebih

baik. Dari data primer baik melalui instansi pemerintah maupun petani dan

pedagang diinformasikan bahwa produk impor memiliki kompetitifitas yang lebih

baik dibandingkan dengan produk lokal sehingga daya serap pasar untuk produk

impor semakin meningkat.

Menghadapi masalah-masalah internal di atas bebebrapa langkah

strategis dapat dilakukan yaitu :

Penyebaran
informasi sistem a. Membentuk pasar
konservasi lahan komoditas dan a. Penguatan
dan air pusat informasi pasar
pasar produk a. Diferensiasi domestik
Penguatan
hotikultura horizontal produk atas produk
kelembagaan
b. Membentuk pangan dan terstandaris
petani
jaringan Segmentasi pasar asi
hortikultura
pemasaran antar (standarisasi b. Penetrasi
Introduksi
daerah produk pangan) pasar dan
penanganan
c. Meningkatkan b. Pengolahan pembentuk
pasca panen
akses pasar petani produk primer an jaringan
(handling product)
tanaman pangan (diferensiasi pemasaran
vertikal) global

Tahap I: Tahap II: Tahap III: Tahap IV:


Penguatan Perbaikan sistem Penerapan strategi Extended
produksi, kelembagaan informasi dan pemasaran market driven
dan penanganan pemasaran produk tersegmentasi dengan strategy
pasca panen hortikultura produk terstandarisasi

Gambar 20. Langkah Strategis Pengembangan Pemasaran Produk Hortikultura


93

6.1.3. Strategi Pemasaran Produk Pertanian Perkebunan

Tanaman perkebunan merupakan jenis tanaman yang diusahakan untuk

tujuan komersial. Kharakteristik produk tanaman perkebunan berbeda dengan

produk hortikultura. Tanaman perkebunan pada umumnya dipasarkan di pasar

input, artinya tidak langsung dikonsumsi namun menjadi input bagi industri lain.

Dengan demikian keterkaitan ke depan dari pertanian perkebunan lebih jelas

dibanding dengan hortikultura. Dalam penelitian ini data primer mencerminkan

performen dari pertanian perkebunan rakyat.

Berdasarkan data primer, semua responden menyatakan bahwa modal

usahataninya berasal dari modal sendiri. Manajemen keuangan tidak terpisah

dengan keuangan rumah tangga. Aspek yang paling diperhatikan adalah

berkenaan dengan produksi dan pemasarannya.

Berkenaan dengan informasi pasar, seperti halnya komoditas tanaman

pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan juga menghadapi hal yang sama.

Responden pada umumnya mendapatkan informasi harga dan pemasaran dari

para pedagang perantara. Produsen/ petani pada umumnya merasa kesulitan

mendapatkan informasi pasar yaitu 57 persen dari responden, sisanya

merasakan memang ada hambatan pasar namun masih bisa langsung menjual

ke pasar.

Responden pada umumnya menempatkan harga dan kualitas menjadi

komponen paling diperhatikan dalam penjualan produknya. Seperti halnya

produk pertanian umumnya, produk pertanian tanaman perkebunan juga

merupakan produk generik dan bahkan lebih sulit untuk melakukan diferensiasi

produk karena membutuhkan teknologi yang lebih bersifat capital intensif.


94

Tabel 23. Produksi Tanaman Perkebunan Jawa Timur 2004

Sumber: Statistik Perkebunan Jawa Timur, 2004

Data di atas membuktikan bahwa perkebuanan rakyat memang sangat

potensial dikembangkan karena dari sisi produksi memang mendominasi dan

menyerap tenaga kerja yang cukup signifikan. Tebu, tembakau dan kelapa

memiliki nilai produksi yang jauh lebih besar dibandingkan produksi tanaman

perkebunan yang lain.


95

Sesuai dengan kharakteristik produk primer tanaman perkebunan maka

kharakteristik pasar cenderung bersifat oligopoli yang ketat. Hal ini dikarenakan

pembeli produk tanaman perkebunan pada umumnya adalah industri pengolahan

yang capital intensif. Dengan demikian sangat sulit bagi petani untuk

meningkatkan posisi tawarnya di pasar.

A. Analisis SWOT Pemasaran Global Produk Pertanian Perkebunan


A.1. Analisis Internal
A.1.1. Kekuatan

Keunggulan komparatif berupa kesesuaian agroekologi

Teknologi budidaya yang telah lama dikenal

Perhatian yang lebih baik dalam hal menjaga kualitas

Produk yang dihasilkannya merupakan bahan baku bagi industri selanjutnya

A.1.2. Kelemahan

Lemahnya kelembagaan petani

Kurangnya informasi pasar

Teknologi pasca panen masih rendah yang berpengaruh pada kualitas dan

harga produk perkebunan

Rendahnya teknologi pengolahan hasil perkebunan produk primer

A.1.3. Peluang

Adanya industri pengolahan produk perkebunan

Melakukan kegiatan ekspor yang ekstensif

Perhatian pemerintah terhadap produk unggulan perkebunan


96

A.1.4. Ancaman

Struktur pasar oligopoli ketat dapat semakin menekan posisi tawar petani dan

informasi pasar cenderung sulit diperoleh

Rendahnya investasi industri pengolahan akan menurunkan efek tarikan

deman produk perkebunan

Adanya pesaing negara lain yang sejenis

B. Matrik Analisis SWOT Tanaman Perkebunan

Kekuatan (S) : Kelemahan (W) :


Internal 1. Keunggulan komparatif 1. Lemahnya kelembagaan petani
2. Teknologi budidaya sudah lama 2. Kurangnya informasi pasar
dikenal 3. Rendahnya teknologi pasca
3. Perhatian yang lebih baik dalam panen
hal kualitas 4. Rendahnya teknologi
4. Produk yang dihasilkan pengolahan hasil
merupakan bahan baku industri
selanjutnya
Internal
Eksternal
Peluang (O) : Strategi (S) (O) : Strategi (W) (O) :
1. Adanya industri 1. Membentuk jalinan kemitraan 1. Pembentukan koperasi tani atau
pengolahan produk dengan industri pengolahan kelembagaan tani lainnya
perkebunan (S2, S3, S4, O1, O2) (W1, W2, O1, O2, O3)
2. Kegiatan ekspor 2. Meningkatkan volume ekspor 2. Membentuk pasar komoditi
3. Perhatian pemerintah (S1, S3, O2, O3) perkebunan (W2, O2, O3)
pada produk unggulan 3. Introduksi teknologi diferensiasi
produk baik horisontal maupun
vertikal (W3, W4, O1, O2, O3)
Ancaman (T): Strategi (S) (T) : Strategi (W) (T) :
1. Struktur pasar 1. Membentuk jalinan kemitraan 1. Pembentukan koperasi tani
cenderung oligopoli dengan industri pengolahan (W1, W2, T1)
ketat dan informasi (S2, S3, S4, T1) 2. Introduksi teknologi diferensiasi
pasar sangat sulit 2. Meningkatkan volume ekspor produk baik horisontal maupun
diperoleh (S1, S3, T2) vertikal (W3, W4, T2)
2. Rendahnya investasi 3. Meningkatkan kualitas produksi
industri pengolahan (S3, T3)
3. Produsen negara lain
yang sejenis
97

C. Potensi Penerapan Strategi Pemasaran Global melalui Jaringan antar


Daerah Produk Perkebunan

Pemasaran tanaman perkebunan dapat dibedakan menjadi dua

berdasarkan tujuan pemasarannya, yaitu pemasaran domestik dan pemasaran

internasional (ekspor). Pemasaran di domestik terkait dengan komoditas

perkebunan yang memiliki industri pengolahan di dalam negeri seperti halnya

tebu, kapas, dll. Untuk produk pertanian yang diekspor pada umumnya adalah

produk primer perkebunan yang akan diolah di negara tujuan.

Aspek pemasaran tanaman perkebunan domestik yang perlu

dipertimbangkan adalah aspek :

Perbaikan kelembagaan petani untuk meningkatkan daya tawar

Pembentukan pusat-pusat informasi pasar ataupun pasar komoditas

Teknologi pasca panen

Membentuk jalinan kemitraan dengan industri terkait.

Berkenaan pemasaran ekspor tanaman perkebunan yang perlu

diperhatikan adalah :

Berkenaan dengan economic of scale produk yang dipasarkan

Jenis saluran ekspor yang dipertimbangkan. Terdapat tiga saluran ekspor

yaitu ekspor tidak langsung (indirect export), ekspor bersama (cooperative/

shared export), dan ekspor langsung (direct export). Ekspor tidak langsung

melibatkan agen ekspor, biasanya perusahaan manajemen ekspor. Saluran

ekspor bersama mencakup kesepakatan kolaboratif dengan perusahaan lain

berkenaan dengan kinerja fungsi ekspor.

Sumber informasi ekspor yaitu catatan internal perusahaan, kontak personal,

agent di luar negeri, asosiasi dagang, organisasi jasa maupun organisasi

penyedia jasa informasi.


98

Faktor pendorong kinerja ekspor seperti kualitas, pengetahuan pasar, adanya

komitmen ekspor jangka panjang, dll. Faktor penghambat kinerja ekspor

diantaranya adalah standardisasi, prosedur ekspor negara tujuan, nilai tukar,

persaingan di luar negeri yang ketat, dll.

Tabel 24. Keragaan Ekspor Impor dan Neraca Perdagangan Produk Pertanian
Perkebunan Indonesia 1997 2000 (US $ 000)
Deskripsi/Tahun 1997 1998 1999 2000 2001
Ekspor 5.180.116 4.079.889 4.092.807 3.887.184 3.444.386
Impor 1.522.338 1.247.042 1.427.774 1.257.265 1.550.976
Surplus 3.657.778 2.832.847 2.665.033 2.629.919 1.893.410
Sumber : Data BPS, diolah (2001)
Keterangan :* Data s/d Sept. 2001

Kinerja ekspor salah satunya adalah diukur dari pertumbuhan ekspor.

Berdasarkan data BPS Indonesia menunjukkan kinerja ekspor yang semakin

menurun. Sedangkan kontribusi sektor perkebunan Jawa Timur terhadap PDRB

dapat dilihat di tabel 25 berikut. Dari nilai PDRB perkebunan dari tahun ke tahun

menunjukkan adanya peningkatan.

Tabel 25. Perkembangan PDRB Sektor Perkebunan Jawa Timur Tahun 1999 -
2003 ( Atas Dasar Harga Konstan )

Sumber : WWW.Jatim.go.id, 2005


99

Selain nilai PDRB perkebunan yang semakin meningkat dari tahun ke

tahun, kinerja perkebunan juga dilihat dari kinerja ekspornya. Total produk

perkebunan yang diperdagangkan memang berfluktuasi dari tahun ke tahun

namun hampir semua produk mengalami peningkatan volume penjualan kecuali

untuk panili dan total penjualan produk perkebunan lainnya. Hal ini menunjukkan

bahwa produk perkebunan untuk Jawa Timur tumbuh lebih baik dan memiliki

kinerja ekspor yang lebih baik dibanding dengan kinerja ekspor nasional.

Tabel 26. Perkembangan Volume Dan Nilai Eksport Komoditi Perkebunan Tahun
1999 S/D 2003

Sumber : WWW.Jatim.go.id, 2005


100

D. Langkah Strategis Pengembangan Pemasaran Produk Perkebunan

Jawa Timur merupakan salah satu propinsi yang sangat potensial dalam

pengembangan perkebunan. Upaya peningkatan kinerja pemasaran domestik

yang dapat dilakukan adalah :

a. Penguatan
a. Membentuk pasar komitmen
komoditas dan pusat kerjasama yang
Pembentukan koperasi informasi pasar produk saling
atau kelembagaan tanaman perkebunan menguntungkan
ditingkat petani b. Membentuk jalinan b. Pembentukan
Introduksi teknologi kemitraan dengan mediator jaringan
diferensiasi produk pemerintah pemasaran lebih
luas

Tahap I: Tahap II: Tahap III:


Penguatan Perbaikan sistem informasi Extended
kelembagaan petani dan pemasaran produk market driven
dan penanganan tanaman perkebunan strategy
pasca panen

Gambar 21. Langkah Strategis Pengembangan Pemasaran Domestik Produk


Perkebunan
101

6.2. Usaha Kecil Menengah (UKM)

Berdasarkan pengkajian data primer berkenaan dengan

kharakteristik usaha kecil dan menegah di Jawa Timur diperoleh

informasi bahwa pada umumnya pengusaha kecil telah memahami

pentingnya pengetahuan tentang preferensi konsumen. Sebagian

besar responden menyatakan bahwa terdapat sumber informasi atas

produk yang disenangi oleh konsumen, dimana informasi tersebut

minimal berasal dari lembaga pemasaran maupun dari konsumen.

Atribut produk UKM yang diperhatikan pengusaha UKM adalah

bekenaan dengan harga, kualitas dan keunikan dari produk itu sendiri.

Pasar yang masih terbatas merupakan salah satu masalah besar yang sangat

sulit dipecahkan oleh UKM sendiri.

Dengan pasar yang terbatas semacam ini, tentu sulit diharapkan UKM

dapat mengembangkan pemasaran dan kapitalisasi modal secara mandiri.

Akibatnya, UKM mengalami stagnasi dan hanya sedikit yang mampu mencapai

skala besar secara mandiri.

Untuk memperluas pasarnya, mau tidak mau dibutuhkan dana yang tidak

sedikit guna memperluas jaringan pemasaran. Jarang ada UKM yang bisa dan

mampu melakukan strategi pengembangan semacam ini, karena memang tidak

murah dan tidak mudah. Walaupun ada kesepakatan umum tentang

pentingnya UKM bagi pembangunan ekonomi secara menyeluruh,

namun belum ada kesepakatan bersama mengenai cara membantu

penguatan UKM.
102

A. Analisis SWOT Pemasaran Global Produk UKM


A.1. Analisis Internal
A.1.1. Kekuatan

UKM memiliki fleksibilitas menghadapi perubahan lingkungannya

Memiliki kekhasan dari produk yang dihasilkannya

Elastisitas permintaan terhadap harga cenderung elastis

A.1.2. Kelemahan

Kegiatan produksi pada umumnya relatif kecil/terbatas (masalah skala

ekonomi/ economic of scale)

Permodalan yang terbatas

Daur hidup produk relatif pendek

Mengahadapi permasalahan legalitas produk seperti hak paten baik produk

maupun desain, dll

A2. Analisis Eksternal


A.2.3. Peluang

Sangat strategis untuk melakukan strategi substitusi produk impor

Melakukan ekspansi pasar sampai ke manca negara

Potensial demand yang sangat tinggi baik di domestik maupun luar negeri

Perhatian pemerintah yang tinggi pada sektor UKM

A.2.4. Ancaman

Persaingan produk impor yang sejenis dengan kualitas dan atribut yang lebih

baik

Imitasi atas produk (product imitation) yang dilakukan oleh pihak lain

berkenaan dengan potensi keuntungan atas produk tersebut


103

B. Matrik Analisis SWOT Manufaktur Berbasis UKM

Kekuatan (S) : Kelemahan (W) :


Internal 1. Fleksibilitas dalam menghadapi 1. Masalah economic of scale
perubahan lingkungan 2. Keterbatasan modal
2. Kekhasan produk 3. Daur hidup produk relatif
3. Elastisitas permintaan yang pendek
elastis 4. Masalah legalitas produk
Eksternal
Peluang (O) : Strategi (S) (O) : Strategi (W) (O) :
1. Strategi substitusi 1. Menerapkan strategi bauran 1. Membentuk pusat pemasaran
impor produk yaitu produk UKM (W1, O2, O3)
2. Ekspor produk mempertimbangkan aspek 2. Pelatihan untuk peningkatan
3. Perhatian pemerintah product, price, place, and kemampuan berinovasi dalam
pada UKM promotion (S2, S3, O1) produksi (W3, O3)
2. Ekspansi pasar nasional dan 3. Bantuan kredit lunak berupa
internasional (S1, S2, O2, O3) peralatan produksi
(W1, W2, O3)
4. Pelatihan standardisasi produk
(W4, O2, O3)
Ancaman (T): Strategi (S) (T) : Strategi (W) (T) :
1. Persaingan dengan 1. Meningkatkan kemampuan 1. membentuk dan menguatkan
produk impor berinovasi produk baru asosiasi produsen produk UKM
2. Imitasi produk (S2, S3, T1, T2) tertentu (W1, T1)
2. Meningkatkan volume produksi 2. Introduksi teknologi untuk
(S1, S3, T1) berinovasi (W3, T2)
3. Meningkatkan kualitas produksi 3. Pelatihan standardisasi produk
(S2, T1) (W4, O1, O2)

C. Potensi Penerapan Strategi Pengembangan UKM

UKM mempunyai peran penting dalam pembangunan ekonomi.

Karena tingkat penyerapan tenaga kerjanya yang relatif tinggi dan

kebutuhan modal per unit usaha untuk investasinya yang kecil, UKM

bisa dengan fleksibel menyesuaikan dan menjawab kondisi pasar yang

terus berubah. Hal ini membuat UKM tidak rentan terhadap berbagai

perubahan eksternal.

UKM justru mampu dengan cepat menangkap berbagai peluang,

misalnya untuk melakukan produksi yang bersifat substitusi impor dan

meningkatkan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Karena itu,


104

pengembangan UKM dapat menunjang diversifikasi ekonomi dan

percepatan perubahan struktural, yang merupakan prasyarat bagi

pembangunan ekonomi jangka panjang yang stabil dan

berkesinambungan. Pelajaran terpenting yang bersumber pada

pengalaman internasional adalah pertanyaan tentang peran

pemerintah yang tepat dalam pembangunan sektor swasta.

Ada semacam kesamaan pemikiran yang timbul bahwa

lingkungan terbaik bagi pengembangan usaha, yaitu lingkungan di

mana pasar input dan ouput bisnis berfungsi secara efektif. Pasar-

pasar ini menawarkan beragam layanan jasa yang tepat kepada dunia

usaha, yang membantu unit-unit usaha untuk berkembang.

Sementara itu, pemerintah memusatkan perhatian pada fungsi-

fungsi utamanya serta pada usaha mewujudkan fungsi-fungsinya

secara efisien. Kebijakan pengembangan UKM yang efektif harus lebih

dari sekedar program-program dukungan finansial dan teknis yang

berdiri sendiri tanpa adanya kaitan antara satu dengan yang lain. Agar

efektif, kebijakan pengembangan UKM memerlukan pengkajian dan

reorientasi peran pemerintah dalam banyak aspek.

Hal-hal utama dalam reorientasi peran pemerintah antara lain

adalah:

Menjamin adanya good governance untuk menciptakan

lingkungan yang kondusif bagi investasi;

Menstimulasi lingkungan yang mendorong daya saing guna

menciptakan lebih banyak kesempatan berusaha dan akses kepada

sumber daya produktif;


105

Meningkatkan peran serta sektor swasta dalam perumusan dan pelaksanaan

kebijakan;

Penarikan diri pemerintah dari pemberian jasa layanan secara langsung;

Menyederhanakan alat dan struktur pendukung untuk meningkatkan efisiensi

dan transparansi administratif, dan

Meningkatkan akses ke informasi yang relevan bagi UKM, asosiasi usaha,

para pengelola jasa pengembangan usaha dan pembuat kebijakan.

Beberapa pemikiran yang diharapkan dapat mengemabangkan UKM di

Jawa Timur antara lain adalah :

Memberikan prioritas pengembangan komoditi unggulan dengan pendekatan

pengembangan sesuai potensi daerah/nasional;

Melakukan stratifikasi usaha untuk lebih memfokuskan dan

menyesuaikan program dan pola pembinaan sesuai dengan kondisi ;

Mengembangkan iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan UKM ;

Meningkatkan pembangunan infrastruktur yang mendukung pemberdayaan

ekonomi rakyat ;

Meningkatkan teknologi dan standar UKM ;

Meningkatkan kemampuan SDM baik teknis, manajemen dan kewirausahaan

Meningkatkan bantuan pemasaran UKM dengan mendirikan

Emporium/Outlet di dalam dan luar negeri dan melakukan promosi investasi;

Meningkatkan peran Balai Litbang Industri untuk membantu UKM dalam hal

kemampuan penguasaan teknologi proses dan produk antara lain melalui

pelatihan, rancangan bangun dan perekayasaan serta desain produk

sehingga dapat meningkatkan mutu, efisiensi dan produktivitas ;

Memberdayakan kelompok UKM di bidang kerjasama internasional ;


106

Mendorong kemitraan UKM dengan industri besar ;

Mendorong partisipasi masyarakat profesional (Lembaga Perbankan,

Lembaga Pembina, LSM, Universitas dan Konsultan) untuk berperan dalam

pembinaan UKM ;

Mengembangkan jaringan kerjasama dan sinergi antar berbagai instansi dan

lembaga pembinaan yang ada baik dalam negeri maupun luar negeri.

D. Langkah Strategis dalam Pengembangan Pemasaran Global Manufaktur


Berbasis UKM

Berdasarkan analisis SWOT dan potensi penerapan strategi

pengemabangan UKM maka ddapat disusun langkah-langkah strategis dalam

rangka peningkatan kinerja pemasaran produk manufaktur berbasis UKM

sebagai berikut :

Meningkatkan kemampuan
berinovasi dari UKM a. Penguatan ekspor
Bantuan kredit lunak a. Membentuk pusat produk UKM
peralatan produksi pemasaran UKM b. Pembentukan
Membentuk dan b. Meningkatkan efektifitas jaringan
menguatkan asosiasi strategi bauran produk pemasaran
produsen produk UKM c. Pelatihan standardisasi domestik yang
produk lebih luas

Tahap I: Tahap II: Tahap III:


Penguatan Perbaikan sistem informasi Extended
kelembagaan UKM dan pemasaran produk dan market driven
dan perbaikan aspek standarisasi strategy
produksi

Gambar 22. Langkah Strategis Pengembangan Pemasaran Domestik Produk


Manufaktur Berbasis UKM