Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN

OVERPLANTING

Disusun oleh :
1 Neny Andriyani (14304241022)
2 Theopile Niyonsaba (14304249903)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Tanaman angrek merupakan tanaman hias yang potensial untuk
dikembangkan. Hal ini dikarenakan permintaan konsumen untuk tanaman
anggrek dari tahun ke tahun yang semakin meningkat. Oleh karena itu
metode budidaya anggrek terus dikembangkan. Salah satu metode
budidaya anggrek yang sekarang dikembangkan adalah metode kultur in-
vitro. Metode ini merupakan metode perbanyakan bibit anggrek dalam
medium tertentu dalam kondisi bebas hama. Metode in-vitro dapat
digunakan untuk memperbanyak tanaman anggrek secara cepat. Hal ini
dikarenakan waktu budidaya yang singkat, yaitu sekitar 6 bulan untuk
menghasilkan beratus-ratus bibit anggrek. Selain itu proses perbanyakan
tanaman anggrek yang tidak menggunakan tempat yang luas (Sriyanti,
2007)
Perbanyakan tanaman anggrek dengan menggunakan teknik tabur
biji anggrek menghasilkan plantlet yang cukup rapat, karena sekali tabur
dangan menggunakan spatula dapat membawa ratusan biji anggrek. Biji
anggrek yang sudah ditabur akan berkecambah menjadi planlet dalm
waktu 3-4 bulan. Dalam keadaan demikian, pertumbuhan anggrek sudah
saling berdesakan dan saling berebutan unsur hara yang semakin menipis
sehingga perlu dipindahkan ke medium baru. Pada praktikum kali ini
praktikan melakukan overplanting plantlet anggrek kedalam medium NP
(New Phalaenopsis) dengan tambahan air kelapa.

B. Tujuan
Penjarangan anggrek dalam botol
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Anggrek secara taksonomi diklasifikasikan ke dalam phyllum


Spermatophyta atau tumbuhan berbiji, kelas Angiospermae atau berbiji tertutup,
subkelas Monocotyledonae atau bijinya berkeping satu, ordo Gynandrae karena
alat reproduksi jantan dan betina bersatu sebagai tugu bunga dan famili
Orcidaceae atau keluarga anggrek (Kartiman, R. 2004).
Famili anggrek mempunyai 750 genus berbeda dengan 25 000 spesies dan
lebih dari 30 000 kultivar hasil persilangan (Hew dan Yong, 1996). Dendrobium
merupakan salah satu genus anggrek terbesar di Asia (Warren dan Tettoni, 1996).
Nama Dendrobium berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari kata dendron
artinya pohon dan biein artinya untuk hidup. Secara keseluruhan Dendrobium
berarti tanaman yang hidup pada pohon. Genus Dendrobium diperkenalkan oleh
seorang botanist Swedia, Olaf Swarts pada tahun 1800. Botanist tersebut
mendiskripsikannya dalam sembilan spesies. Dendrobium tumbuh di
AsiaTenggara, Himalaya (Nepal dan Sikkim), Birma, propinsi Moulmein, India
Barat Daya, Ceylon, Malaysia, Filipina, Indonesia, New Guinea, Australia, Cina
dan Jepang (Widiastoety. 1997).
Bentuk daun anggrek bermacam-macam dari sempit memanjang, pensil,
bulat, bulat-lonjong, bulat telur, mata lembing/lanset, jantung dan masih banyak
lagi variasi lainnya. Seperti umumnya tumbuhan monokotil, daun anggrek
memiliki tulang daun yang sejajar dengan helaian daun dan tidak memiliki
pertulangan yang bercabang. Tebal daun bervariasi dari tipis hingga tebal
berdaging (sukulen). Pada setiap bukunya, daun melekat berselang-seling atau
berpasangan dan setiap buku terdapat dua helai daun yang berhadapan
(Widiastoety. 1997).

Menurut Dressler dan Dodson (2000), klasifikasi anggrek Dendrobium


adalah sebagai berikut:
Kingdom Plantae
Divisi Spermatophyta
Subdivisi Angiospermae
Kelas Monocotyledoneae
Ordo Orchidales
Famili Orchidaceae
Subfamili Epidendroideae
Suku Epidendreae
Subsuku Dendrobiinae
Genus Dendrobium
Semua bunga anggrek merupakan hermaphrodit, yaitu polen (serbuk
sari) dan putik terdapat dalam satu bunga. Sifat kelaminnya monoandri, yaitu
kelamin jantan dan betina berada dalam satu tempat. Hal ini yang menyebabkan
anggrek mudah mengalami penyerbukan dan proses penyerbukannya sendiri dapat
terjadi tanpa disengaja. Tanaman anggrek terdapat dalam berbagai jenis dan
berbeda dalam warna bunga, kedudukan dan bentuk dari sepala atau petala, tebal
tipisnya sepala atau petala.

Perbanyakan tanaman anggrek pada umumnya dilakukan melalui dua


cara yaitu, konvensional dan dengan metoda kultur in vitro. Perbanyakan
konvensional biasanya dilakukan dengan cara vegetatif dan generatif.
Perbanyakan konvensional secara vegetatif ini tidak praktis dan tidak
menguntungkan untuk tanaman bunga potong, karena jumlah anakan yang
diperoleh dengan cara-cara ini sangat terbatas. Perbanyakan generatif yaitu
dengan biji. Biji anggrek sangat kecil dan tidak mempunyai endosperm (cadangan
makanan), sehingga perkecambahan di alam sangat sulit tanpa bantuan jamur
yang bersimbiosis dengan biji tersebut. Untuk menghasilkan bunga dalam jumlah
banyak dan seragam diperlukan tanaman dalam jumlah banyak pula. Oleh karena
itu peningkatan produksi bunga pada tanaman anggrek hanya dapat dicapai
dengan usaha perbanyakan tanaman yang efisien.

Teknik kultur jaringan dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman


anggrek secara cepat. Biji anggrek merupakan organ tumbuhan yang siap untuk
tumbuh menjadi tanaman lengkap. Biji anggrek perlu ditanam dalam botol karena
tidak mempunyai cadangan makanan (endosperm) yang dapat digunakan pada
awal perkecambahannya. Oleh karena itu, anggrek perlu diberi makanan yang bisa
diambil dari media kultur. Media kultur biasanya ditambah dengan bahan organik
seperti kelapa, tomat, kentang atau pisang (Sandra, 2003).

Menurut Handaryono dan Wijayani (1994), overplanting adalah pemindahan


anggrek yang masih sangat kecil dari medium lama ke medium baru yang
dilakukan secara aseptis didalam ruang penabur. Tujuannya adalah agar anggrek
tersebut tetap mendapat unsur hara untuk pertumbuhannya. Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam overplanting adalah :

1. Biji anggrek yang sudah ditabur akan berkecambah menjadi planlet dalm
waktu 3-4 bulan. Dalam keadaan demikian, pertumbuhan anggrek sudah
saling berdesakan dan saling berebutan unsur hara yang semakin menipis
sehingga perlu dipindahkan ke medium baru.
2. Medium overplanting yang digunakan sama dengan medium lama,
biasanya berupa medium VW. Dalam ruang penabur anggrek diambil satu-
persatu dengan menggunakan pinset panjang kemudian langsung
dipindahkan kedalam botol baru, kemudian disimpan dalam ruang
inkubasi dengan suhu 250C.
3. Overplanting perlu dilakukan dua kali sebelum tanaman anggrek siap
dipindahkan kedalam pot.
Overplanting adalah pemindahan bibit anggrek (planlet) ke dalam botol
steril yang baru. Tujuan overplanting adalah agar planlet tetap mendapatkan unsur
hara untuk pertumbuhannya. Bila media agar lebih dari 3 bulan tidak diganti,
maka media akan tampak kecoklatan, menjadi menipis dan mengering, serta layu.
Untuk anggrek silangan, keadan demikian akan sanat merugikan. Oleh karena itu
sebelum terlambat, angrek botol harus segera diperjarang dalam media segar yang
baru (Hendaryono, 1994).

Biji anggrek mulai membesar setelah dua minggu dikulturkan. Setelah 3


sampai 6 minggu, chlorophyl mulai terbentuk diikuti dengan perkecambahan biji.
Kecambah berkembang menjadi plantlet muda dengan akar, batang dan daun
setelah 6 bulan dikulturkan. Bibit muda ini menyerap nutrisi dan karbohidrat
dalam media dengan sangat cepat. Selain itu, media menjadi asam karena
akumulasi senyawa-senyawa fenolik dalam ruang kultur. Untuk mengatasinya,
ditambahkan media baru dengan cara memasukkan media baru dengan jarum
steril melalui botol kultur. Jika semua biji telah berkecambah dan bibit ini mulai
membesar, botol menjadi terlalu penuh dan sesak sehingga ruang yang tersedia
untuk pembesaran bibit terbatas. Untuk mengatasinya dilakukan penjarangan
dengan mensubkulturkan bibit ke media dan botol-botol kultur lainnya. Plantlet
membesar dan dapat dipindahkan ke lapangan setelah berumur 12 bulan
(Mulyaningsih, 2007).

Media NPAK terdiri dari unsur makro amonium sulfat, potasium sulfat,
amonium nitrat, potasium nitrat, kalsium nitrat, dan magnesium nitrat. Besi
berupa Na2EDTA, DAN fEso4 7 H2O. Unsur mikro berupa mangan sulfat, Zink
Sulfat, boric acid, potasium iodida, sodium molyfodate, cobalt cloride, cupper
sulfate dan vitamin berupa nicotinic acid, pyridoxin acid, thiamine HCl, Glycine,
Miyoinositol, sukrosa dan agar.

Penggunaan air kelapa sebagai pengganti zat pengatur tumbuh (ZPT)


impor akan dicoba untuk mendorong pertumbuhan, air kelapa mengandung asam-
asam amino, asam nukleat, auksin, asam giberelat dan lainnya. Air kelapa
mengandung antara lain zeatin yang termasuk ke dalam golongan sitokinin yang
bermanfaat untuk mendorong pembukaan stomata, pembelahan sel serta
meningkatkan pembentukan dan perbanyakan tunas. Komposisi utama air kelapa
adalah 2,08% gula yang sebagian besar terdiri dari sukrosa, beberapa mineral
yaitu 29-46 mg kalsium, dan 5,5-9,0 mg fosfor tiap 100 ml air kelapa. Air kelapa
mengandung komponen aktif pengganti hormon seperti diphenil urea yang
mempunyai aktivitas seperti sitokinin, mio-inositol, leukoantosianin, adenin,
guanin, asam amino. Zat-zat tersebut memiliki kemampuan memacu pertumbuhan
akar dan tunas daun tanaman anggrek (Palungkun, 1992).
BAB III
METODE
A. Alat
1. Laminar air flow (LAF)
2. Pinset steril
3. Petridish steril
4. Burnsen
5. Korek api
6. Botol jamp
7. Kanebo
8. Glove
9. Botol media
B. Bahan
1. Bibit anggrek siap dipindah
2. Media NPAK
3. Alkohol 70%
C. Metode
1. Penanaman Eksplan
Laminar air flow sebelum digunakan di sinari dengan sinar UV,
setelah akan digunakan di matikan, laf dilap menggunakan kanebo yang
direndam alkohol 70%. Blower dinyalakan. Alat alat yang akan
digunakan bekerja dalam laf (skalpel steril, petridish,botol jamp, pinset,
burnsen dsb) disterilkan dengan kanebo yang direndam alkohol 70%.
Masukan alat-alat tersebut kedalam laf segera setelah di sterilisasi.
Bibit anggrek dikeluarkan dari botol dan diletakan pada
petridish steril. Bibit dikeluarkan dengan cara menjepit diantara akar
dan daun. Kemudian ditarik diusahakan agar keluar terlebih dahulu.
Bibit yang masih saling menempel dipisahkan satu samalain dan
bersihkan medium yang masih menempel pada akar. Bibit ditanam
kedalam medium NPAK baru satu persatu hingga jumlah bibit dalam
botol sebanyak 7 buah. Botol ditutup kembali dan dilapisi dengan
plastik warp.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Hari/ Kelompo Hasil


tangga k
l
Kamis 1 Kontamina
, 11 si
-18 2 Kontamina
April si
2017 3 Kontamina
si
4 Kontamina
si
5 Kontamina
si
6 Kontamina
si
7 Kontamina
si
8 Kontamina
si

B. Pembahasan
Praktikum kultur jaringan berjudul Overplanting biji anggrek
bertujuan untuk penjarangan anggrek dalam botol. Anggrek yang
digunakan untuk praktikum merupakan anggrek Dendrobium yang
ditanam sekitat 3-4 bulan yang lalu. Medium yang digunakan dalam
melakukan overplanting yaitu medium New Phalaenopsis dengan
tanbahan air kelapa (NPAK) merupakan medium yang sama dengan
medium yang digunakan untuk penaburan biji anggrek. Tujuan utama dari
overplanting merupakan untuk menjarangkan anggrek yang tumbuh pada
medium NPAK dalam botol, karena biji anggrek sangatlah kecil sehingga
dalam sekali penaburan biji anggrek, biji yang tertanam sangatlah banyak.
Saat anggrek mulai tumbuh maka media yang digunakan pun semakin
sesak oleh plant let tersebut dan terjadi kompetisi nutrisi pada medium
sehingga anggrek perlu di pindah ke medium baru dengan jumlah plan let
yang lebih sedikit.

Bibit anggrek yang akan ditanam pada medium baru harus


memenuhi beberapa syarat, yaitu : nama jenis tanaman harus jelas,
tanaman hijau segar, tanaman tidak layu, kuat dan tidak ada daun yang
busuk, akar tanaman sudah muncul dan kuat serta medium belum
terkontaminasi. Pengamatan overplanting juga dilakukan selama 2
minggu. Kondisi awal bibit anggrek pada medium VW air kelapa dan VW
pisang masih baik yaitu tanaman hijau, sehat, akar kuat, dan posisi tegak.
Pemindahan bibit yang dilakukan harus benar-benar teliti, jarak antar bibit
diperhatikan sehingga tidak terlalu berdekatan, pada satu botol ditanam 5-
8 bibit anggrek, dan yang paling utama adalah dijaga kesterilannya.

Langkah yang dilakukan pada praktikum kultur biji ini adalah


membuat medium pertumbuhan New Phalaenopsis dan kelapa yang
dilakukan satu minggu sebelum dilakukan over planting. Medium NPAK
ini terdiri dari unsur mikro, unsur makro, vitamin dan iron. Unsur makro
terdiri dari amonium sulfat, potasium sulfat, amonium nitrat, potasium
nitrat, kalsium nitrat, dan magnesium nitrat. Besi berupa Na2EDTA, DAN
fEso4 7 H2O. Unsur mikro berupa mangan sulfat, Zink Sulfat, boric acid,
potasium iodida, sodium molyfodate, cobalt cloride, cupper sulfate dan
vitamin berupa nicotinic acid, pyridoxin acid, thiamine HCl, Glycine,
Miyoinositol, sukrosa dan agar. Namun bahan bahan ini sudah tersedia
dalam stok sehingg tinggal menambahkan myoinositol, iron, sukrosa, air
kelapa dan agar.

Penggunaan air kelapa sebagai pengganti zat pengatur tumbuh


(ZPT) impor akan dicoba untuk mendorong pertumbuhan, air kelapa
mengandung asam-asam amino, asam nukleat, auksin, asam giberelat dan
lainnya. Air kelapa mengandung antara lain zeatin yang termasuk ke dalam
golongan sitokinin yang bermanfaat untuk mendorong pembukaan
stomata, pembelahan sel serta meningkatkan pembentukan dan
perbanyakan tunas. Komposisi utama air kelapa adalah 2,08% gula yang
sebagian besar terdiri dari sukrosa, beberapa mineral yaitu 29-46 mg
kalsium, dan 5,5-9,0 mg fosfor tiap 100 ml air kelapa. Air kelapa
mengandung komponen aktif pengganti hormon seperti diphenil urea yang
mempunyai aktivitas seperti sitokinin, mio-inositol, leukoantosianin,
adenin, guanin, asam amino. Zat-zat tersebut memiliki kemampuan
memacu pertumbuhan akar dan tunas daun tanaman anggrek (Palungkun,
1992).

Pemindahan Bibit anggrek dilakukan dengam mengeluarkan bibit


anggrek dari botol dan diletakan pada petridish steril. Bibit dikeluarkan
dengan cara menjepit diantara akar dan daun. Kemudian ditarik
diusahakan agar keluar terlebih dahulu. Bibit yang masih saling menempel
dipisahkan satu samalain dan bersihkan medium yang masih menempel
pada akar. Bibit ditanam kedalam medium NPAK baru satu persatu hingga
jumlah bibit dalam botol sebanyak 7 buah. Botol ditutup kembali dan
dilapisi dengan plastik warp.

Berdasarkan hasil pengamatan dua minggu setelah overplanting


hanya satu botol yang tidak terkontaminasi. Sedangkan 7 kelompok yang
lain terkontaminasi. Meskipun terkontaminasi terlihat bahwa plantlet
masih dalam keadaan segar tetapi di permukaan agar terdapat lapisan
berwarna putih yang diduga sebagai kontaminan. Terjadinya kontaminasi
pada overplanting anggrek ini diduga karena saat proses pemindahan
terlalu banyak orang yang berada pada ruang kultur yang berlalu-lalang
keluar dan masuk ruangan serta berbicara pada ruangan medium NP air
kelapa yang mengandung nutrisi juga cocok untuk pertumbuhan jamur
ataupun bakteri kontaminan sehingga terjadilah kontaminasi.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Overplanting bertujuan untuk menjarangkan kultur yang sudah
terlalu padat dan media sudah tidak mampu mendukung pertumbuhan
kultur serta agar planlet tetap mendapatkan unsur hara
untuk pertumbuhannya. Overplanting yang berhasil dilakukan ada satu
botol dengan hasil yang diperoleh setelah dua minggu pemindahan tidak
terjadi kontaminasi dan tanaman dalam keadaan segar.
B. Saran
1. Perlu peningkatan dalam upaya sterilisasi alat, media, dan eksplan
agar tidak terkontaminasi.
2. Pembatasan jumlah orang pada ruang kultur perlu di lakukan untuk
mengurangi resiko kontaminasi.
Daftar Pustaka

Dressler R. dan C. Dodson. 2000. Classification and phylogeny in Orchidaceae.


Annal of the Missouri Botanic Garden. http://digilib.unila.ac.id

Hendaryono, D.P.S. dan A. Wijayani. 1994. Kultur Jaringan (Pengenalan dan


Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Media). Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.

Kartiman, R. 2004. Effect of combinations of growth regulators and pieces


protocorm like bodies for the propagation of the giant moon orchid
(Phalaenopsis gigantea) with tissue culture methods. Thesis, Faculty of
Agriculture, Bogor Agricultural Institute.

Palungkun, Rony. 1992. Aneka Produk Tanaman Kelapa. Penebar Swadaya.


Jakarta

Widiastoety, D., S. Kusumo dan Syafni. 1997. Pengaruh Tingkat Ketuaan Air
Kelapa dan Jenis Kelapa terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek
Dendrobium http://bio.unsoed.ac.id/sites/default/files/B1J009107-7.pdf