Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

PERCOBAAN VI

SINTESIS ASETANILIDA

OLEH :

NAMA : HENDA YULI ARTA

STAMBUK : F1C1 15 024

KELOMPOK : V (LIMA)

ASISTEN : NURSIN

LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan dunia pendidikan pada era globalisasi ini sudah semakin

pesat. Asetanilida dibutuhkan dalam dunia pendidikan khususnya untuk

penelitian. Asetanilida merupakan senyawa turunan asetil amina aromatis yang

digolongkan sebagai amida primer, dimana satu atom hidrogen pada anilin

digantikan dengan satu gugus asetil. Asetanilida memiliki banyak manfaat, baik

sebagai bahan baku maupun bahan penunjang industri kimia, seperti sebagai

bahan baku pembuatan obatobatan seperti parasetamol (keperluan analgesik dan

antipretik), lidokain (keperluan anestesi) obat sulfat dan penisilin, bahan

pembantu dalam industri cat dan karet, bahan intermediet pada sulfon dan

asetilklorida, sebagai inhibitor dalam industri peroksida, sebagai stabilizer pada

selulosa ester varnis seperti tinner, dan sebagai pewarna buatan dan sebagai

intermediet pada pembuatan pewarna buatan.

Sintesis organik adalah suatu percobaan untuk membuat senyawa yang

diinginkan melalui suatu reaksi kimia. Senyawa asetanilida merupakan bahan

baku pembuatan obat-obatan, bahan pembantu dalam industri cat dan karet. Oleh

karena itu diperlukan sintesis asetanilida dengan metode dan proses tertentu untuk

mencukupi kebutuhan. Sebelum melakukan sintesis organik perlu diperhatikan

beberapa langkah dalam merancang sintesis tersebut. Langkah yang harus

dipersiapkan meliputi pengenalan tentang produk yang diinginkan, bahan baku

sintesis produk, serta cara mensintesisnya. Oleh karena itu diperlukan pemahaman
mengenai proses pembentukan ikatan. Proses sintesis dapat dikataan berhasil dan

berjalan dengan baik bergantung pada banyak produk, ketersediaan bahan awal

dan proses yang dilakukan.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka percobaan sintesis asetanilida

dilakukan untuk mempelajari reaksi adisi nukleofilik amina terhadap gugus

karbonil dan untuk mempraktekkan metode rekristalisasi.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah percobaan sintesis asetanilida adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana mempelajari reaksi adisi nukleofilik amina terhadap gugus

karbonil?

2. Bagaimana mempraktekkan metode rekristalisasi?

C. Tujuan

Tujuan percobaan sintesis asetanilida adalah sebagai berikut :

1. Untuk mempelajari reaksi adisi nukleofilik amina terhadap gugus karbonil.

2. Untuk mempraktekkan metode rekristalisasi.

D. Manfaat

Manfaat percobaan sintesis asetanilida adalah sebagai berikut :

1. Dapat mempelajari reaksi adisi nukleofilik amina terhadap gugus karbonil.

2. Dapat mempraktekkan metode rekristalisasi.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Industri pembuatan karbon aktif di Indonesia telah mengalami kemajuan

yang cukup pesat. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya permintaan

pasar baik dalam negeri maupun luar negeri. Pembuatan karbon aktif merupakan

proses gabungan kimia dan fisika dengan perendaman dengan aktivator dan

pemanasan dengan injeksi nitrogen pada suhu tinggi yang bertujuan

memperbanyak pori dan membuat porositas baru sehingga karbon aktif

mempunyai daya serap tinggi (Gilar dkk, 2013).

Asam asetat merupakan senyawa asam lemah yang artinya hanya

terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-, yang konsentrasinaya

mendominasi total jumlah asam lemah dalam minyak mentah. Crolet(1983)

melaporkan bahwa adanya asam asetat dapat meningkatkan laju korosi secara

signifikan. Hedges dan McVeigh(1999) menyatakan bahwa asam asetat yag

terdisosiasi tak sempurna dapat menimbulkan ion H+ cadangan lebih banyak

sehingga asam asetat dapat berlaku sebagai penyuplai hidrogen (Inti dkk, 2012).

Arang aktif atau karbon aktif merupakan suatu padatan berpori yang

mengandung 85-95 % karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung

karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemansan berlangsung,

diusahakan tidak terjadi kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga

bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak

teroksidasi. Arang aktif selain digunakan sebagai bahan bahan bakar, juga dapat

digunakan sebagai adsorben atau penyerap (Erika dan Turmuzi, 2014).


Kristalisasi merupakan peristiwa pembentukan partikel-pertikel zat padat

di dalam suatu fase homogen. Kristalisasi dapat terjadi sebagai pembentukan

partikel padat di dalam uap, seperti dalam pembentukan salju, sebagai pembekuan

(solidification) di dalam lelehan cair. Kristalisasi juga merupakan proses

pemisahan solid-liquid, karena pada kristalisasi terjadi perpindahan massa zat

terlarut dari larutan liquid kepadatan murni pada fasa kristal (Anita, 2011).

Rekritalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau

pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut

setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok. Ada beberapa

syarat agar suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu

memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan

dengan zat pengotor pada kristal, dan mudah dipisahkan dari kristalnya (Agustina,

2013).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Percobaan sintesis asetanilida dilaksanakan pada hari Senin tanggal 17

April 2017, pukul 13:00-15:30 WITA dan bertempat di Laboratorium Kimia

Organik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu

Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan sintesis asetanilida adalah gelas

kimia 50 mL, gelas ukur 25 mL dan 70 mL, pipet tetes, corong, spatula,

seperangkat alat refluks, hot plate, timbangan analitik, statif dan klem.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan sintesis asetanilida adalah

anilin (C6H5NHCOCH3), asam asetat glasial (CH3COOH), natrium hidroksida

(NaOH), akuades (H2O), vaselin, aluminium foil, tisu, kertas saring dan karbon

aktif.
C. Prosedur Kerja

1. Pembuatan Asetanilida

Anilin 10 mL Asam asetat glasial 12,5 mL

- dimasukkan ke dalam labu alas bulat


- direfluks selama 1 jam
- dimasukkan ke dalam gelas kimia

- didinginkan sampai terbentuk kristal


Campuran dalam refluks

- dimasukkan kedalam 10 mL air panas


- diaduk
- ditambahkan 2 gram karbon aktif
- diaduk
- disaring dalam keadaan panas

Filtrat Residu

- didinginkan dengan es batu


- disaring hingga terbentuk Kristal
- dikeringkan
- diuji sifat fisika kristal yang terbentuk

Hasil Pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Data Pengamatan

No Perlakuan Hasil Pengamatan


1 10 mL anilin + 12,5 mL asam asetat glasial + Larutan berwarna coklat
dimasukkan dalam labu refluks + di refluks 1
jam
2 Larutan dingin dalam gelas kimia + disaring Terbentuk Kristal
berwarna coklat
3 Kristal dimasukkan dalam gelas kimia berisi Larutan berwarna coklat
100 mL air panas + diaduk
4 Larutan dipanaskan + 20 gram karbon aktif Tidak terbentuk kristal

2. Reaksi
B. Pembahasan

Sintesis adalah penyusunan senyawa kimia yang lebih kompleks dari

senyawa yang lebih sederhana. Sintesis senyawa organik merupakan jalur penting

untuk mencari senyawa baru yang memiliki kegunaan lebih luas dari pada

material awalnya. Sintesis juga bertujuan untuk menemukan jalur sintesis yang

efisien dengan rendamen tinggi. Teknik sinetesis dilakukan melalui penggabungan

molekul dengan reagen, interkoneksi gugus fungsi, dan proteksi gugus fungsi

tertentu dari material awal. Dalam percobaan ini akan dilakukan sintesis

asetanilida yang bertujuan mempelajari reaksi adisi nukleofilik amina terhadap

gugus karbonil dan untuk mempraktekkan metode rekristalisasi.

Perlakuan pertama yang dilakukan adalah mereaksikan anilin dengan asam

asetat glasial, kemudian direfluks selama 1 jam agar memaksimalkan proses

reaksi. Refluks digunakan sebagai suatu proses pemanasan, dimana uap yang

terbentuk akan terkondensasi dan mengalir lagi ke bawah sehingga proses alir

balik secara kontinyu yang mana pemanasannya didasarkan pada kesetimbangan

uap cair sehingga titik didih zat cair bisa dipertahankan dalam waktu yang lama

karena pengontrolan suhu campuran cukup efektif.

Setelah proses refluks, campuran dalam refluks kemudian

dituangkan kedalam gelas kimia berisi air panas, hal ini untuk

menghilangkan zat-zat pengotornya. Setelah itu ditambahkan

gram karbon aktif, kegunaan karbon aktif ini untuk mengikat

kotoran dan berfungsi sebagai adsorben. Selanjutnya campuran

tersebut disaring dalam keadaan panas agar tidak terbentuk


endapan apabila disaring dalam keadaan dingin, sehingga

terpisah antara filtrat dan residunya. Filtratnya didinginkan

dengan es batu, dimana perlakuan yang diberikan adalah dengan

menuangkan larutan ke dalam aqudes yang berisi potongan es.

Perlakuan ini bertujuan untuk pembentukan kristal. Namun,

dalam percobaan yang dilakukan, tidak terbentuk Kristal

asetanilida. Hal ini disebabkan karena kesalahan pemilihan

metode pemanasan yang seharusnya menggunakan refluks

tetapi dalam percobaan ini menggunakan metode destilasi.

Selain itu, karbon aktif yang digunakan bukanlah karbon aktif

melainkan hanya arang sehingga pengikatan kotoran yang

terkandung dalam campuran tidak maksimal.


V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dan hasil pembahasan, maka

kesimpulan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :

1.

2.

B. Saran

Saran yang bisa disampaikan adalah cukup kebersihan

pada laboratorium dijaga.


DAFTAR PUSTAKA

Dewi,I.S.P., dan Budi,A., 2012, Pengaruh Variasi pH konsentrasi


Asam Asetat Terhadap Karakteristik Korosi CO 2 Pada Baja
BS 970, Jurnal Teknik Material dan Metalurgi, 2(1).

Gultom,E.M., dan Turmuzi,L., 2014, Aplikasi Karbon Aktif Dari


Cangkang Kelapa Sawit Dengan Aktivator H3PO4 Untuk
Penyerapan Logam Berat Cd Dan Pb, Jurnal Teknik Kimia,
3(1).

Pambayun,G.S., Remigius,Y.E.Y., Rachimoellah,M., dan


Endah,M.M.P., 2013, Pembuatan Karbon Aktif Dari Arang
Tempurung Kelapa Dengan AKtivator ZnCl2 Dan Na2CO3
Sebagai Adsorben Umtuk Mengurangi Kadar Fenol Dalam
Air Limbah, Jurnal Teknik Pomits, 2(1).

Pinnalia, Anita, 2011, Kristalisasi Ammonium Perklorat (AP) dengan Sistem


Pendinginan Terkontrol Untuk Menghasilkan Kristal Berbentuk Bulat.
Jurnal Teknologi Dirgantara. 9(2).

Rositawati,A.L., 2013, Rekristalisasi Garam Rakyat Dari Daerah


Demak Untuk Mencapai SNI Garam Industri, Jurnal
Teknologi Kimia dan industri, 2(4).