Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN

SISTEM REGULASI HORMON DAN PEMIJAHAN BUATAN DENGAN


TEKNIK HIPOFISASI PADA IKAN KOMET (Carassius auratus)

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum
mata kuliah Teknologi Pembenihan Ikan pada semester genap

Disusun oleh :
Kelompok 4 / Perikanan A
Fadhilah Rayafi Varselia 230110140012
Agid Faisal Harahap 230110140027
Bagas Jodi Santoso 230110140037
Hapsari Purwitaningrum 230110140039

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT., karena dengan rahmat dan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikanLaporan Akhir Praktikum Teknologi Pembenihan
Ikan mengenai SISTEM REGULASI HORMON DAN PEMIJAHAN
BUATAN DENGAN TEKNIK HIPOFISASI PADA IKAN KOMET
(Carassius auratus). Laporan ini disusun sebagai hasil dari praktikum yang
merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Teknologi Pembenihan Ikan pada
semester genap di Program Studi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran.
Dalam proses penyelesaian laporan ini, tentunya kami tidak terlepas dari
bantuan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini kami menyampaikan
terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pihak yang telah terlibat dalam
penyusunan laporan kali ini. Semoga bantuan, kebaikan,serta dukungan yang telah
diberikan kepada kami mendapat balasan dari Allah SWT.
Akhir kata, kami mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis
sendiri, institusi pendidikan dan masyarakat luas.

Jatinangor, Juni 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
BAB Halaman
DAFTAR GAMBAR ....................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
I.2 Tujuan ...................................................................................... 2
I.3 Manfaat .................................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA
II.1Ikan Komet .............................................................................. 3
II.1.1 Morfologi Ikan Komet ............................................................. 3
II.1.2 Klasifikasi Ikan Komet ............................................................ 4
II.1.3 Reproduksi Ikan Komet ........................................................... 4
II.2Ikan Mas .................................................................................. 5
II.2.1 Morfologi Ikan Mas ................................................................. 5
II.2.2 Klasifikasi Ikan Mas ................................................................ 6
2.3 Pengaruh Hormon terhadap Reproduksi Ikan.......................... 6
2.4 Kelenjar Hipofisa...................................................................... 7
2.5 Pemijahan Buatan dengan Penyuntikan Ekstrak Hipofisa....... 8

III. METODOLOGI PRAKTIKUM


III.1.................................................................................................Tempat
dan Waktu ................................................................................ 10
III.2.................................................................................................Alat
dan Bahan ................................................................................ 10
III.2.1 Alat .......................................................................................... 10
III.2.2 Bahan ....................................................................................... 10
III.3.................................................................................................Prosed
ur .............................................................................................. 11
III.4.................................................................................................Metode
.................................................................................................. 12
III.5.................................................................................................Parame
ter yang diamati ....................................................................... 12

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


IV.1..................................................................................................Hasil
14
IV.2..................................................................................................Pemba
hasan ........................................................................................ 14
V. KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan ................................................................................. 16
V.2 Saran ............................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA........................................................................ 17
LAMPIRAN...................................................................................... 18

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


1 Ikan Komet (Carassius auratus)......................................................... 3
2 Ikan Mas (Cyprinus carpio)................................................................ 5
3 Alur Prosedur Praktikum Hipofisasi.................................................... 11
4 Bagian-bagian Otak Ikan..................................................................... 12
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman


1 Bagan Alir Prosedur Praktikum........................................................... 19
2 Alat dan Bahan yang Digunakan......................................................... 21
3 Dokumentasi Prosedur......................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perikanan adalah suatu kegiatan perekonomian yang memanfaatkan
sumber daya alam perikanan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk kesejahteraan manusia dengan mengoptimalisasikan dan
memelihara produktivitas sumber daya perikanan dan kelestarian lingkungan.
Sumber daya perikanan dapat dipandang sebagai suatu komponen perikanan yang
berperan sebagai faktor produksi yang diperlukan untuk menghasilkan suatu
output yang bernilai ekonomi masa kini maupun masa mendatang (Panjaitan
2015).
Indonesia merupakan negara perairan dengan potensi hasil perikanan
cukup besar, baik untuk komoditas konsumsi maupun nonkonsumsi. Salah satu
komoditas nonkonsumsi yang berpengaruh terhadap sistem perekonomian
masyarakat adalah ikan hias. Ikan hias yang dikembangkan di Indonesia
merupakan ikan hias yang berasal dari luar negeri. Masih sedikit yang
mengembangkan komoditas ikan hias asli Indonesia (Panjaitan 2015).
Ikan komet merupakan salah satu jenis ikan hias yang populer saat ini,
keunggulan ikan komet adalah pada warna yang terdapat pada ikan tersebut yang
bermacam-macam seperti putih, kuning, merah, atau perpaduan lain dari warna-
warna tersebut. Hal inilah yang membuat ikan komet memiliki nilai daya jual
yang tinggi, sehingga banyak orang yang berusaha memperoleh keuntungan yang
tinggi. Ikan komet juga memiliki harga yang tetap stabil di pasaran dan
permintaan pasar yang terus meningkat. Ikan komet memiliki keistimewaan
tersendiri yaitu dilihat dari keanekaragaman warna, jenis dan keindahan sirip-
siripnya (Panjaitan 2015).
Saat ini penerapan berbagai pengetahuan mengenai hormone untuk
meningkatkan produksi budidaya, bukan lagi hal baru. Sejak dua dekade terakhir,
perkembangan endokrinologi ikan sangat berkembang pesat dan berperan serta
dalam meningkatkan produksi budidaya, terutama melalui penyuntikan atau
induksi hormon. Salah satu hormon alami yang biasa digunakan untuk induksi
pemijahan adalah ekstrak hipofisis sehingga pemijahan induksi menggunakan
teknik ini dikenal dengan hipofisasi. Maka dari itu, diperlukan pengetahuan
mengenai teknik hipofisasi yang berguna untuk meningkatkan produksi budidaya
ikan nilem.

1 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui teknik pemijahan buatan
dengan cara hipofisasi, yang dilakukan dengan cara mengekstrak kelenjar hipofisa
ikan donor dan menyuntikannya pada ikan target.

2 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat mengetahui teknik
pemijahan buatan dengan cara hipofisasi, sehingga dapat diaplikasikan untuk
kegiatan budidaya di kemudian hari.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Ikan Komet


2.1.1 Biologi Ikan Komet
Ikan komet merupakan termasuk dalam famili Cyprinidae dalam genus
Carassius. Ikan komet merupakan salah satu jenis dari Cyprinidae yang banyak
dikenal di kalangan masyarakat karena memiliki warna yang indah dan eksotis
serta bentuk yang menarik. Kedudukan ikan komet di dalam taksonomi (Lingga
dan Susanto 2003 dalam Panjaitan 2015) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariphisysoidei
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Carassius
Spesies : Carassius auratus
Ikan komet berasal dari Tiongkok, dengan nama asing (common name)
Goldfish. Di kalangan pembudidaya ikan hias di dunia, ikan komet termasuk salah
satu ikan hias yang sangat populer dan banyak penggemarnya. Tubuhnya yang
aneh itu sulit digambarkan bentuknya dan oleh para peternak disebut fantastik.
Ikan komet yang dikenal sekarang di pasaran maupun di kalangan pembudidaya
bukan lagi seperti aslinya, tetapi telah jauh berbeda (Lingga dan Susanto 2003
dalam Panjaitan 2015).

Gambar 1. Ikan Komet (Carassius auratus)


(Sumber : http://1001budidaya.com/wp-content/uploads/ikan-komet.png)
Kebiasaan hidup ikan komet di alam yang hidup di sungai atau danau,
memiliki pergerakan yang lambat atau masih menggerakkan tubuh di air hingga
kedalaman 20 m. Di habitat aslinya ikan komet tinggal di iklim subtropis dan
lebih suka air tawar dengan pH 6,0-8,0 dengan kesadahan air sebesar 5,0-19,0
DGH, dan rentang temperatur 32-106oF (0-41oC). Makanan ikan komet terdiri dari
krustasea, serangga, dan bahan tanaman. Ikan komet bertelur pada vegetasi air.
Hidup di sungai-sungai, danau, kolam dan saluran dengan air tergenang dan
lambat mengalir. Ikan komet hidup lebih baik dalam air dingin dan bertelur pada
vegetasi terendam. Ikan komet merupakan ikan euryhaline yang mampu hidup
pada salinitas 17 ppt, tetapi tidak mampu bertahan lama pada pemaparan salinitas
di atas 15 ppt (Anonim 2009).

2.1.2 Morfologi Ikan Komet


Morfologi ikan komet tidak jauh beda dengan morfologi ikan mas.
Karakteristik ikan komet masih dapat dibedakan dari karakteristik ikan mas secara
umum, meskipun jika di dekatkan keduanya akan sangat mirip, oleh sebab itu di
luar negeri ikan komet dijuluki sebagai ikan mas (goldfish). Ikan komet sangat
aktif berenang baik di dalam kolam maupun di dalam akuarium, tidak dapat
bertahan dalam ruang yang sempit dan terbatas, serta membutuhkan filtrasi yang
kuat dan pergantian air yang rutin. Ikan komet banyak ditemui dengan warna
putih, merah dan hitam, dapat tumbuh dan hidup hingga berumur 7 hingga 12
tahun dan panjang dapat mencapai 30 cm (Partical Fish Keeping 2006 dalam
Panjaitan 2015).

2.1.3 Reproduksi Ikan Komet


Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar.
Menjelang memijah, induk-induk ikan komet aktif mencari tempat yang rimbun,
seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah
yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus
membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan (Gursina 2008). Sifat telur ikan
komet adalah menempel pada substrat. Telur ikan komet berbentuk bulat,
berwarna bening, berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg. Ukuran
telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran atau bobot induk. Embrio akan
tumbuh di dalam telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa. Antara 2-3 hari
kemudian, telur-telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva. Larva ikan Komet
mempunyai kantong kuning telur yang berukuran relatif besar sebagai cadangan
makanan bagi larva. Kantong kuning telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4
hari.
Larva ikan komet bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva
antara 0,50-6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg. Larva berubah menjadi kebul
(larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan komet
memerlukan pasokan makanan dari luar untuk menunjang kehidupannya. Pakan
alami kebul terutama berasal dari zooplankton, seperti rotifera, moina, dan
daphnia. Kebutuhan pakan alami untuk kebul dalam satu hari sekitar 60-70% dari
bobotnya. Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang berukuran 1-
3 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh
menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm dan
bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga bulan
berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram.

2.1.4 Siklus Hidup Ikan Komet


Siklus hidup ikan komet dimulai dari perkembangan di dalam gonad
(ovarium pada ikan betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan
yang menghasilkan sperma). Sebenarnya pemijahan ikan komet dapat terjadi
sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim, namun di habitat aslinya ikan
komet sering memijah pada awal musim hujan, karena adanya rangsangan dari
aroma tanah kering yang tergenang air (Anonim 2009).
2.2 Ikan Mas
2.2.1 Morfologi Ikan Mas
Secara umum, karakteristik ikan mas memiliki bentuk tubuh yang agak
memanjang dan sedikit memipih ke samping (compressed). Sebagian besar tubuh
ikan mas ditutupi oleh sisik. Pada bagian dalam mulut terdapat gigi kerongkongan
(pharynreal teeth) sebanyak tiga baris berbentuk geraham (Pribadi 2002). Sirip
punggung ikan mas memanjang dan bagian permukaannya terletak berseberangan
dengan permukaan sirip perut (ventral). Sirip punggungnya (dorsal) berjari-jari
keras, sedangkan di bagian akhir bergerigi. Sirip ekornya menyerupai cagak
memanjang simetris. Sisik ikan mas relatif besar dengan tipe sisik lingkaran
(cycloid) yang terletak beraturan (Pribadi 2002).

Gambar 2. Ikan Mas (Cyprinus carpio)


Ikan Mas tergolong jenis omnivora, yakni organisme yang dapat
memangsa berbagai jenis makanan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun
binatang renik. Namun, makanan utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang
terdapat di dasar dan tepi perairan (Suseno 2000).

2.2.2 Klasifikasi Ikan Mas


Klasifikasi Ikan Mas adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Superkelas : Pisces
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio

2.3 Pengaruh Hormon terhadap Reproduksi Ikan


Pematangan gonad yang dilanjutkan dengan proses ovulasi atau spermiasi
pada ikan merupakan suatu proses di bawah kendali kerja hormon-hormon.
Hormon yang mempengaruhi perkembangan gonad ikan terutama dalam
pematangan oosit pada betina dan sperma pada jantan sampai ke tingkat ovulasi
dan spermiasi telah banyak diteliti.
Secara garis besar, mekanisme kerja hormon untuk perkembangan dan
pematangan gonad merupakan suatu rangkaian dalam poros hipotalamus-
hipofisis-gonad. Stimulasi oleh adanya pelepasan gonadotropin releasing
hormone (GnRH) dari hipotalamus menyebabkan kelenjar hipofisis
mensekresikan gonadotropin (GtH) untuk dialirkan ke dalam darah. Rangsangan
untuk mensintesis hormon GnRH di atas diterima oleh hipotalamus dari otak
melalui reseptor-reseptor yang menerima rangsangan dari luar lingkungan. Selain
GnRH yang bersifat memacu, dari hipotalamus juga dikeluarkan substansi
penghambat pelepasan GtH yaitu Dopamin (DA) (Redding 1993).
GnRH mempunyai struktur dekapeptida, hormon ini mempunyai daya
kerja untuk merangsang sekresi GtH. Mekanisme pengaruh GnRH terhadap
peningkatan sekresi hormon-hormon hipofisis ini dilakukan melalui sistem
adenilsiklase-cAMP. GnRH merangsang produksi GtH yang kemudian akan
mempengaruhi produksi hormon-hormon gonad yaitu estrogen dan progesteron.
Dari konsep umpan balik negatif dimengerti bahwa terjadi kaitan antara
keberadaan hormon-hormon gonad dengan status hormon gonadotropin dan
GnRH (Djojosoebagio 1990).
Para ahli endrokinologi ikan saat ini telah bersepakat untuk menetapkan
dua tipe GtH hipofisis ikan yaitu GtH-I dan GtH-II yang dikarakterisasi dari
empat ordo teleostei. GtH-I dan II mempunyai peran yang berbeda dalam
mengendalikan perkembangan gonad. GtH-I secara struktural dan fungsional
dapat dibandingkan dengan FSH pada mamalia dan banyak terdapat pada hipofisis
serta darah ikan ketika gonadnya aktif tumbuh dan dalam fase gametogenesis serta
diyakini bahwa hormon ini penting dalam proses vitellogenesis dan pada awal
perkembangan gonad. Sedangkan GtH-II, yang dapat dibandingkan dengan LH
pada mamalia, penting sebagai stimulator dalam pematangan akhir oosit serta
ovulasi pada ikan betina dan spermiasi pada ikan jantan (Redding 1937; Gomez
1999 dalam Suetake et al. 2001). Dengan adanya kesamaan struktur dan fungsi
antara GtH-I dengan FSH dan GtH-II dengan LH tersebut, maka ada beberapa
penulis yang menggunakan istilah FSH dan LH untuk menggantikan istilah GtH-I
dan GtH-II seperti dalam tulisan ini.

2.4 Kelenjar Hipofisa


Hormon yang digunakan untuk manipulasi pematangan gonad dan ovulasi
ikan dapat berbentuk hormon alamiah maupun sintesis, di antaranya adalah
human chorionic gonadotropin (hCG), Luteinizing Hormon Releasing Hormone
(LHRH dan LHRH-a), ekstrak hipofisis ikan mas, estradiol-17, 17
-metiltestosteron, dan lain-lain. Salah satu jenis hormon yang dapat mempercepat
proses kematangan gonad adalah gonadotropin. Gonadotropin adalah hormon
glikoprotein yang berasal dari hipofisis atau plasenta yang merangsang
perkembangan dan fungsi gonad. Gonadotropin merupakan faktor utama yang
diperlukan untuk memacu perkembangan dan pematangan sel telur. Gonadotropin
bekerja secara tidak langsung melalui stimulasi sintesis hormon steroid oleh
kelenjar gonad yang mempengaruhi perkembangan sel telur (estradiol-17) dan
pematngan akhir (maturation-inducing hormon, MIH; 17, 20 dihidroxy-4-
pregnen-3-one, 17, 20-DP) (Nagahama et al. 1993).
Ekstrak kelenjar hipofisis yang mengandung hormon gonadotropin sangat
efektif untuk merangsang beberapa spesies ikan untuk mencapai kematangan
tahap akhir telur. Epler at al. (1986) melaporkan bahwa penyuntikkan ekstrak
kelenjar hipofisis ikan mas dua kali berturut-turut dengan dosis 0,5 dan 0,4 mg/kg
pada ikan mas (Cyprinus carpio L.) mampu meningkatkan kematangan gonad dan
menjamin keberhasilan ovulasi sebesar 80%.
Aktivitas ekstrak kelenjar hipofisis bergantung pada umur, jenis kelamin,
dan kematangan donor, disamping metode pengumpulan dan teknik yang
digunakan untuk mengawetkan kelenjar hipofisis. Standarisasi ekstrak kelenjar
hipofisis baik yang segar maupun yang telah diawetkan dalam aseton sulit
dilakukan karena kandungan hormon gonadotropin dalam ekstrak tidak selalu
sama. Menurut Woynarivich dan Horvath (1980), kandungan hormon
gonadotropin pada kelenjar hipofisis ikan bervariasi menurut musim pemijahan
dan selama stadia tertentu dalam hidupnya. Umumnya dosis hipofisis yang
diberikan per kilogram bobot induk betina adalah 3 4,5 mg (Woynarivich dan
Horvath 1980).

2.5 Pemijahan Buatan dengan Penyuntikan Ekstrak Hipofisa


Pemijahan sebagai salah satu bagian reproduksi merupakan mata rantai
daur hidup yang menentukan kelangsungan hidup spesies. Ikan berkembang biak
secara seksual, yaitu terjadinya persatuan sel telur ikan betina dan spermatozoa
ikan jantan. Faktor perangsang pemijahan terdiri dari faktor internal dan eksternal.
Faktor internal yang utama adalah kematangan gonad ikan, sedangkan faktor
eksternal merupakan lingkungan termasuk faktor fisika (cahaya, suhu, arus),
faktor kimia (pH, kelarutan oksigen, feromon), dan faktor biologis (adanya lawan
jenis, dan hormon). Untuk mempercepat pemijahan dapat pula diberikan
rangsangan buatan berupa manipulasi lingkungan, suntikan hormon atau imbas.
Pemijahan dapat dilakukan dengan pemberian sediaan hormon baik yang
alami maupun sintetis. Hormon alami yang biasa digunakan untuk pemijahan
adalah ekstrak hipofisis sehingga pemijahan induksi menggunakan teknik ini
dikenal dengan hipofisasi. Hipofisis yang sering digunakan adalah hipofisis ikan
mas. Salam pelaksanaan hipofisasi, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
yaitu persyaratan ikan donor hipofisis, ketepatan dosis ekstrak hipofisis dan
kematangan gonad induk resipien. Ikan donor yang digunakan haruslah ikan yng
sehat dan sudah matang kelamin serta tidak habis mijah. Hal ini perlu
diperhatikan agar kadar hormon gonadotropin yang ada di dalam kelenjar
hipofisis mencukupi untuk menginduksi maturasi dan pemijahan. Berat tubuh ikan
donor sekurang-kurangnya sama dengan berat tubuh ikan resipien. Kelenjar
hipofisa letaknya dibawah otak, diambil dengan cara membelah kepala ikan.
Pengambilannya harus dengan menggunakan pinset. Untuk itu harus dipersiapkan
sejumlah ikan donor yang total bobotnya empat kali bobot induk.
Langkah pertama yang harus dijalani dalam pemijahan buatan dengan
penyuntikan ekstrak hipofisa adalah seleksi induk. Setelah induk diseleksi dan
diketahui bobotnya, langkah berikutnya adalah menentukan bobot ikan donor.
Timbang ikan donor seberat 4 kali bobot induk (empat dosis). Siapkan dalam
tempat terpisah. Ambil ikan donor yang telah ditimbang sebanyak 1/4 nya dan
ambil hipofisanya dengan menggunakan pinset, tempatkan ke dalam penggerus,
dan kemudian lumatkan dengan penggerus tersebut. Hati-hati, pada saat hipofisa
diambil jangan sampai ada darah atau kotoran yang terbawa. Jika hipofisa telah
lumat, tambahkan 1 - 2 cc aquabidest (H 202) untuk melarutkan. Ambit larutan
hipofisa tersebut dengan spuit dan kemudian suntikkan pada induk betina. Pegang
erat-erat dengan menggunakan kain yang halus, suntikkan jarum spuid di otot
bagian punggung ikan. Penyuntikan disarankan mengarah ke bagian depan. (arah
kepala) ikan. Setelah penyuntikan ini, lepaskan kembali induk untuk menunggu
penyuntikan kedua.

BAB III
BAHAN DAN METODE

1 Tempat dan Waktu Praktikum


Tempat dilaksanakannya praktikum TPBI Pemijahan Buatan Ikan
Nilem dengan Teknik Hipofisasi dilakukan di Laboratorium Manajemen
Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat
tanggal29 April2016.

2 Alat dan Bahan yang Digunakan


1 Alat Praktikum \
Adapun alat-alat yang digunakan antara lain:
Alat bedah, untuk membedah ikan
Pisau, untuk memotong kepala ikan
Talenan, tatakan/alas pada saat membedah dan memotong ikan
Kain lap, untuk memengang ikan saat diinjeksi hormon
Tisu, untuk membersih akan hipofisa
Petridisk, sebagai wadah menyimpan hipofisa
Alat pengerus hipofisa, untuk menggerus hipofisa
Sentrifugasi, untuk mensentrifugasi larutan
Tabung Sentrifugasi, sebagai wadah larutan yang akan disentrifugasi
Suntikan, untuk menginjeksi hormon ke tubuh ikan
Aquarium, sebagai media pemeliharan
Tabung fial, sebagai wadah hormon

2 Bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan antara lain:
Ikan donor ( Ikan Mas )
Ikan target ( Ikan Komet )
Aquades

3 Prosedur Praktikum
1 Persiapan hipofisa
Adapun langkah-langkah persiapan hipofisa yang dilakukan antara
lain:
a Ikan target (ikan Komet) diambil dan ditimbang bobotnya
b Ikan donor (ikan mas) diambil dan ditimbang bobotnya
c Jumlah ikan donor dan ikan target disesuaikan jumlahnya berdasarkan
bobot
d Kepala ikan dipotong secara vertikal hingga terpisah dengan tubuh
e Bagian kepala dari arah mulut dipotong secara horizontal hingga bagian
otak terlihat
f Otak dipisahkan dan diambil kelenjar hipofisanya
g Kelenjar hipofisa digerus dengan mortar sambil diencerkan menggunakan
aquades sedikit demi sedikit
h Larutan disentrifugasi selama 2 menit dengan kecepatan 2000 rpm.
i Diambil larutan supernatannya dan dimasukkan ke dalam botol fial
j Hormon disimpan dalam refrigerator

2 Penyuntikan dan Pengamatan Ikan Target


Adapun langkah-langkah yang dilakukan antara lain:
a Hipofisa di dalam refrigerator disiapkan
b Ikan target diambil
c Bagian kepala dan ekor ikan ditutup dengan kain lap
d Hipofisa diambil menggunakan suntikan
e Hipofisa disuntikkan pada ikan target dibawah sirip dorsal sisik kedua

Disentrufugasi dan diambil


supernatannya (ditampung pada
Dilakukan pemeliharaan selama 8-16 jam dan dilihat
botolfial)
perkembangan ovulasi
f Ikan target disimpan kembali dalam aquarium
g Diamati selama 8-22 jam sampai ikan ovulasi

4 Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen. Metode Eksperimen dapat didefenisikan sebagai kegiatan
terinci yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu
masalah atau menguji sesuatu hipotesis. Suatu eksperimen akan berhasil
jika variabel yang dimanipulasi dan jenis respon yang diharafkan
dinyatakan secara jelas dalam suatu hipotesis, juga kondisi-kondisi yang
akan dikontrol sudah tepat.

3.5 Parameter yang Diamati


3.5.1 Otak Ikan, Bagian dan Fungsinya

Gambar 4 . Bagian Otak


Posisi otak terletak di kepala bagian tengah, bentuk dan warna otak
teramati jelas dari sisi atas, samping dan belakang. Adapun fungsi bagian-
bagian otak yang teramati yaitu:
a Trakus Olfaktori : Menghubungkan dengan lobus olfaktori
b Lobus Olfaktori : Berfungsi dalam indera penciuman
c Lobus opticus : Menggerakkan bola mata (Lobus bagian atas) dan
untuk penglihatan (Lobus bagian bawah)
d Cerebelum : Pengatur keseimbangan tubuh
e Lobus Vagal : Berhubungan dengan jantung, saluran
pencernaan dan perut
f Medula Oblongata : Merupakan otak bagian belakang
g Trakus Optikus : Berfungsi untuk pengelihatan
h Pituitary : Berfungsi untuk pengaturan hormon
DAFTAR PUSTAKA

et al. 2005. Akuakultur. Masyarakat Perikanan Nusantara. Taman Akuarium Air


Tawar. Jakarta.
Dewi, R. R. Sri Pudji S. 2002.Pengaruh Penyuntikan Ekstrak Kelenjar Hipofisis
Ikan Mas Dalam Bentuk Emulsi Tipe WIO Terhadap Perkembangan
Gonad Ikan Jarnbal Siam (Pangasius hypophthalmus). Disertasi.
Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Institut Pertanian Bogor: Bogor
Epler, P., M. Sokolowska, W. Popek and K. Bieniarz. 1986. Joint action og carp
(Cyprinus carpio L.) pituitary homogenate and human chorionic
gonadotropin (hCG) in C=carp oocyte maruration and ovulation: in
vitro and in vivo studies. Aquaculture, 51: 133-142.
Hardjamulia, A. 1978. Budidaya Ikan Introduksi. Departemen Pertanian . Balai
Latihan Pendidikan dan Penyuluhan. SUPM Bogor. 49 hal.
Nagahama, Y., M. Yoshikuni, M. Yamashita, N. Sakai, and M. Tanaka. 1993.
Molecular Endrocrinology of Oocyte Growth and Maturation In Fish.
Fish Physiology and Biochemistry, 7:3-14.
Pribadi, S.T., dkk. (2002). Pembesaran Ikan Mas di Kolam Air Deras. Depok:
Agro Media Pustaka. hal. 5-6.
Redding, J. M. And R. Patino. 1993. Reproductive Physiology. In D. H. Evans
(eds.). The Physiology of Fishes. CRC Press. USA. p: 503-534.
Hartono, R. 2013. Aplikasi Rangsangan DMSO (Dimethyil Sulfoxside) melalui
Insang (Topical Gill Application) dalam Pemijahan Ikan Komet (Carasius
auratus auratus). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Riau, Pekanbaru.