Anda di halaman 1dari 12

GAMBARAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSENTRASI

BELAJAR ANAK USIA SEKOLAH DI SMP NEGERI 45


BANDUNG TAHUN 2017

Hj. Henti Sugesti, S.Kp., M.Kep1, Jahidul Fikri Amrullah, M.Kep2 Veronika Natalia, S.Kep3
123
Program studi S1 Ilmu Keperawatan STIKes Dharma Husada Bandung
Jl. Terusan Jakarta 75 Bandung

ABSTRAK

Pendidikan dapat terwujud dengan melakukan proses pembelajaran yang diarahkan dengan cara
melakukan evaluasi hasil belajar. Salah satu tolak ukur dalam perwujudan belajar tersebut diperlukan
konsentrasi belajar. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar yaitu lingkungan
fisik, guru, masyarakat, nutrisi sarapan pagi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar anak di SMP Negeri 45 Bandung. Jenis penelitian
deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 102 siswa, dengan teknik
total sampling sehingga diperoleh 102 responden. Instrumen pada penelitian ini menggunakan
kuesioner. Hasil penelitian menunjukan konsentrasi belajar 29,4% yaitu kurang, lingkungan fisik
kurang baik yaitu 82,4%, Hampir seluruhnya 98,0% siswa dipengaruhi oleh guru, sebagian besar
65,7% dipengaruhi oleh masyarakat yang tidak baik, asupan nutrisi yang tidak sarapan pagi yaitu
57,8%. Saran pihak sekolah dapat mengembangkan potensi guru yang lebih displin terhadap
pembelajaran di kelas, sehingga anak dapat mempersiapkan diri untuk menerima materi pembelajaran
yang akan disampaikan dan dapat meningkatan konsentrasi belajar.
Education can be realized by making the learning process that is directed in a way to evaluate
learning outcomes. One embodiment of the benchmark in the study required the concentrations
studied. Factors that may affect the concentrations studied, namely the physical environment,
teachers, communities, nutritional breakfast. This study aims to describe factors that affect children's
learning concentration at SMP Negeri 45 Bandung. The type of this research descriptive with cross
sectional approach. The study population of 102 students, with a total sampling technique in order to
obtain 102 respondents. Instruments in this study using a questionnaire. The results showed that
29.4% of the concentrations studied less, poor physical environment that is 82.4%, 98.0% of students
almost entirely influenced by teachers, 65.7% largely influenced by people who are not good, not
nutrition breakfast is 57.8%. Suggestions school teachers can develop the potential of a more
disciplined towards learning in the classroom, so that children can prepare to receive teaching
materials that will be delivered and may increase the concentrations studied.

Kata Kunci : Anak, Belajar, Konsentrasi, Usia Sekolah.

STIKes Dharma Husada Bandung 1


PENDAHULUAN kita dapat mengetahui faktor apa saja yang
Salah satu pencapaian sumber daya manusia berpengaruh terhadap konsentrasi, kita mampu
yang berkualitas, lebih di fokuskan untuk menggunakan kemampuan kita pada saat dan
membentuk manusia yang bisa menikmati suasana yang tepat. Faktor lingkungan fisik
hidup sehat, mempunyai kesempatan yang mempengaruhi konsentrasi belajar adalah
meningkatkan ilmu pengetahuan dan hidup suara, pencahayaan, temperatur, dan desain
sejahtera. Peningkatan kualitas pendidikan di belajar (Slemeto, 2015).
Indonesia dilakukan secara terus menerus Menurut Slameto (2015) konsentrasi belajar
dengan tujuan meningkatkan harkat dan dapat juga dipengaruhi oleh asupan nutrisi
martabat manusia tidak saja untuk dirinya yaitu dengan makan pagi atau biasa disebut
tetapi untuk bangsa dan negaranya dengan sarapan. Makan pagi atau sarapan
(Purnakarya, 2010). mempunyai peranan penting bagi anak sekolah
Belajar diperlukan konsentrasi dalam usia 6-14 tahun, yaitu untuk pemenuhan gizi
perwujudan perhatian terpusat. Pemusatan dipagi hari, dimana anak-anak berangkat
perhatian tertuju pada suatu objek tertentu kesekolah dan mempunyai aktivitas yang
dengan mengabaikan masalah-masalah lain sangat padat di sekolah. Apabila anak-anak
yang tidak diperlukan. Orang yang tidak dapat terbiasa sarapan pagi, maka akan berpengaruh
berkonsentrasi jelas tidak akan berhasil terhadap kecerdasan/intelegensi otak, terutama
menyimpan atau menguasai bahan pelajaran. daya ingat anak sehingga dapat mendukung
Oleh karena itu, setiap pelajar atau mahaanak Konsentrasi Belajar anak ke arah yang lebih
berusaha dengan keras agar mempunyai baik. Sarapan pagi merupakan pasokan energi
konsentrasi tinggi dalam belajar (Syaiful untuk otak yang paling baik agar dapat
Bahri, 2015). Eavaluasi hasil belajar yang baik berkonsentrasi di sekolah. Ketika bangun pagi,
slah satunya dengan diproduksi dari hasil gula darah dalam tubuh kita rendah karena
konsumsi belajar anak yang baik selama di semalaman tidak makan
kelas (Slemeto, 2015). Sebagai usaha memenuhi peningkatan gizi
Pencapaian tujuan pendidikan dapat terwujud tersebut pertama- tama anak di SMP perlu
dengan melakukan proses pembelajaran yang diberi pengetahuan tentang pemenuhan gizi
diarahkan untuk merubah perilaku anak yaitu manfaat makanan bagi tubuh, manfaat
melalui peningkatan pengetahuan dan makan tercakup dalam tri guna makanan yang
keterampilan. Salah satu alat yang dapat meliputi: (1) Memberi energi agar dapat
digunakan untuk mengetahui pencapaian belajar dengan baik dan melakukan aktivitas
pembelajaran yaitu dengan cara melakukan lain seperti olahraga, membuat kerajinan
evaluasi hasil belajar (Pendiknas, 2014). tangan dan praktik kerja secara optimal (2)
Hasil belajar pada anak dapat dipengaruhi Membangun agar anak tumbuh serta lincah
oleh faktor guru, seperti perilaku guru yang dan pintar, serta (3) Mengatur dan melindungi
kurang memberikan simpatik terhadap anak badan agar tidak mudah sakit. (Kemenkes,
didiknya dan kurang dapat menjadi teladan 2014).
seorang guru, karena tugas utama seorang Menurut Rohayati (2013), perilaku makan
Guru adalah membelajarkan anak . Ini berarti pagi anak di SMP harus mendapat perhatian
bahwa bila Guru bertindak mengajar, maka yang serius karena hal ini berkaitan erat
diharapkan anak untuk mampu belajar. Hal- dengan status gizi dan kesehatan. Mengingat
hal seperti berikut, diantaranya Guru telah petingnya kebiasaan sarapan terutama pada
mengajar dengan baik, ada anak yang belajar kalangan anak di SMP menuntut anak lebih
dengan giat, anak yang berpura-pura belajar, selektif dalam memilih makanan dan lebih
anak yang belajar dengan setengah hati, memperhatikan pentingnya sarapan. Oleh
bahkan adapula anak yang sesungguhnya karena itu perlu dikaji bagaimana
tidak belajar. Maka dari itu, sebagai Guru yang pengetahuan, sikap dan kebiasaan sarapan pagi
professional harus berusaha mendorong anak anak untuk tingkat SMP sebagai bentuk
agar belajar dengan baik (Adi, 2015). kepedulian mereka terhadap prestasi dan
Peningkatan konsentrasi belajar dapat dicapai sebagai penerapan pengetahuan yang mereka
dengan berbagai cara, salah satunya peroleh.
Lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan Anak SMP sudah punya banyak data atau
dalam berkonsentrasi, kita akan dapat informasi sebagai pembanding atau filter
memaksimalkan kemampuan konsentrasi. Jika terhadap informasi yang ia terima dari

STIKes Dharma Husada Bandung 2


lingkungan. Dengan demikian, mulai kecil berkonsentrasi dalam belajar. Kemudian faktor
hingga usia SMP adalah masa kritis untuk guru yang kurang memotivasi terhadap anak
memasukkan informasi ke pikiran bawah sadar untuk belajar, guru juga dapat mempengaruhi
anak, dibandingkan pada anak SD yang masih semangat belajar yang tinggi dan dapat juga
berumur 8-10 tahun pikiran sadar anak mulai mengendorkan keinginan belajar yang
aktif. (Adi, 2015). Namun menurut Hurlock sungguh-sungguh. Anak yang baik berusaha
(2012) batasan dan perkembangan usia untuk mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan
anak SMP yaitu anak akan memiliki pikiran perhatian kepada bahan pelajaran, bukan
sadar dan cukup kuat ketika saat usia 11 atau kepada kepribadian gurunya. Sebaliknya guru
13 tahun yaitu anak SMP, selain itu pada usia yang pandai mengajar yang dapat
tersebut tahap perkembangan pola fikir menimbulkan pada diri anak rasa menggemari
terhadap anak akan cenderung labil dan dapat bahan yang diajarkannya sehingga tanpa
memperhambat konsentrasi belajar. disuruh pun anak banyak menambah
Studi pendahuluan yang telah dilakukan di pengetahuannya dibidang itu dengan membaca
SMP Negeri 45 Bandung terdapat 102 orang buku-buku, majalah dan bahan cetak lainnya
anak kelas I yang terdiri dari 62 Perempuan (Nugroho, 2016).
dan 40 orang laki-laki, berdasarkan hasil Faktor yang lain yaitu faktor masyarakat dan
wawancara yang telah dilakukan terhadap 10 kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal
orang, 8 dari 10 anak tersebut sering kali tidak anak akan memengaruhi belajar anak .
konsentrasi dalam belajar, karena perut dalam Lingkungan anak yang kumuh, banyak
keadaan kosong dan perut sakit, hal tersebut pengangguran dan anak terlantar juga dapat
karena mereka tidak sarapan terlebih dahulu memengaruhi aktivitas belajar anak , paling
ketika berangkat kesekolah sehingga gizi yang tidak anak kesulitan ketika memerlukan
berkembang dalam tubuh mereka berkurang teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-
selain itu mereka selalu terburu-buru dan tidak alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya
sempat untuk melakukan sarapan pagi (Nugroho, 2016)
dirumah. Peran orang tua juga tidak Konsentrasi belajar pada anak usia sekolah
memprioritaskan anak untuk mengingatkan yaitu kemampuan untuk memusatkan pikiran
sarapan pagi dan sudah lepas dari pengawasan terhadap suatu hal atau pelajaran itu pada
orang tua mereka, peran orang tua disini tidak dasarnya ada pada setiap orang, hanya besar
terlibat dalam penelitian ini dan hanya kecilnya kemampuan itu berbeda-beda. Hal ini
dipandang untuk memotivasi anak dalam dipengaruhi oleh keadaan orang tersebut,
melakukan sarapan pagi, akan tetapi anak lingkungan fisik, faktor guru, masyarakat, dan
tidak mendapatkan peran dukungan tersebut asupan nutrisi yaitu sarapan pagi pemusatan
dari orang tua mereka untuk melakukan pikiran merupakan kebiasaan yang dapat
sarapan pagi sebelum berangkat sekolah, dilatih, jadi bukan bakat/pembawaan.
alasannya para orang tua sibuk dalam Berdasarkan fenomena tersebut penulis
pekerjaanya. Kemudian 1 orang mengatakan tertarik untuk melakukan penelitian dengan
kepala selalu pusing dan perut menjadi sakit judul gambaran faktor yang mempengaruhi
bahkan ada 1 orang anak yang pingsan waktu konsentrasi belajar anak di SMP Negeri 45
diadakan upacara bendera karena perut dalam Bandung .
keadaan kosong.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
diantaranya adalah faktor eksternal yang
meiputi lingkungan, guru, masyarakat dan
nutrisi sarapan pagi, sedangkan faktor internal
diantaranya yaitu keturunan, bakat dan
intelegensi anak (Slameto, 2015).
Faktor lingkungan fisik mempunyai pengaruh
besar terhadap konsentrasi belajar pada anak
yaitu seperti kepadatan Ruang kelas yang tidak
memiliki syarat kepadatan minimal 1,75
m2/anak, ruang gerak yang tidak cukup bagi
anak-anak dan tidak terlalu padat akan
membuat anak susah bergerak dan sulit untuk

STIKes Dharma Husada Bandung 3


METODOLOGI PENELITIAN pribadinya atau hal-hal yang diketahui
Jenis penelitian yang digunakan adalah (Notoatmodjo, 2012).
deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan Pada penelitian ini penulis menggunakan
untuk menemukan ada tidaknya hubungan instrument atau alat ukur konsentrasi yaitu
(Sugiyono, 2014). Metode deskriptif yang modul Grid Concentration Exercise yang
bertujuan untuk mengetahui tingkat diadopsi dari D.V Harris dan B.L Harris
hubungan antara dua variabel atau lebih. (1998) dalam jurnal Puspaningrum (2013).
Tanpa melakukan perubahan, tambahan atau Berikut adalah bentuk instrument dari grid
manipulasi terhadap data yang memang sudah concentraton exercise:
ada (Sugiyono, 2014). Pada penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui hubungan
kebiasaan sarapan pagi dengan Konsentrasi 84 27 51 97 78 13 100 85 55 59
Belajar . 33 52 04 60 92 61 31 57 28 29
Pendekatan waktu dalam pengumpulan data
menggunakan pendekatan cross sectional, 18 70 49 86 80 77 39 65 96 32
yaitu suatu penelitian untuk mempelajari 63 03 12 73 19 25 21 23 37 16
dinamika korelasi yang dilakukan pada satu
81 88 46 01 95 98 71 87 00 76
waktu dan satu kali, pada tempat dan waktu
yang telah ditentukan dengan tujuan untuk 24 09 50 83 64 08 38 30 36 45
mencari hubungan antara variabel independen 40 20 66 41 15 26 75 99 68 06
(faktor risiko) dengan variabel dependen 34 48 62 82 42 89 47 35 17 10
(efek) (point time approach) (Notoatmodjo, 56 69 94 72 07 43 93 11 67 44
2012). Pada penelitian ini yang digunakan 53 79 05 22 74 54 58 14 02 91
yaitu untuk mengetahui hubungan kebiasaan
sarapan pagi dengan Konsentrasi Belajar . Sumber : Puspaningrum (2013)

Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian Pelaksanaanya dari tes Concentration Grid
atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Exercise dengan tujuan untuk mengukur
Berdasarkan data yang diperoleh populasi tingkat konsentrasi belajar yaitu alat tulis
dalam penelitian ini adalah jumlah anak seperti pulpen, dan Stopwatch (menggunakan
SMPN 45 Bandung yaitu kelas 1 sebanyak 102 HP). Kemudian untuk melakukan tes ini
orang. diperlukan sebuah gambar yang memiliki 100
kotak yang memuat angka dari 0 sampai 100
Sampel secara acak. Para anak dikumpulkan secara
Sampling adalah suatu cara yang ditempuh bersama dengan ruangan terpisah jarak satu
dengan pengambilan sampel yang benar-benar meter. Instruksi yang diberikan berupa
sesuai dengan keseluruhan obyek penelitian menghubungkan angka-angka tersebut secara
(Nursalam, 2014). Teknik pengambilan berurutan atau tersusun dari mulai 0 sampai
sampel dalam penelitian ini adalah total dengan 100 baik secara horizontal maupun
sampling. Total sampling adalah teknik vertikal dalam waktu satu menit. Anak hanya
pengambilan sampel dimana jumlah sampel perlu memberi tanda ceklis () pada kotak
sama dengan populasi (Sugiyono, 2014). angka yang mereka temukan secara berurut.
Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 102 Kegiatan ini dibantu oleh dua orang untuk
orang. melihat kejujuran anak dalam menceklis
kotak angka, sedangkan Stopwatch adalah
Instrumen penentuan waktu, bilamana waktu dalam 60
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang detik atau sudah selesai maka penceklisan
digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen angka tersebut dihentikan yaitu 120 detik
yang digunakan dalam pengumpulan data peneliti mengumpulkan kembali dengan
kuantitatif dalam penelitian ini berupa jawaban seadanya, peneliti menentukan skor
kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah hasil tes yaitu hasil kotak angka yang berhasil
pertanyaan atau pernyataan tertulis yang didapat secara berurutan dan tersusun dengan
digunakan untuk memperoleh informasi dari benar dan dinilai sebagai ketentuan berikut :
responden dalam arti laporan tentang

STIKes Dharma Husada Bandung 49


50

Tabel 3. 3 Kriteria Penilaian Konsentrasi Konsentrasi Belajar diantaranya faktor


belajar lingkungan fisik, guru, masyarakat yaitu
No Kriteria Kategori Nilai kepada ahli komunitas adalah Drs. H.
1. >21 Konsentrasi Sangat baik A Supriadi, S.Kp.,M.Kep.,Sp.Kom, sehingga
2. 16-20 Konsentrasi Baik B
dinyatakan sudah relevan dan sudah layak
3. 11-15 Konsentrasi Cukup C
4. 6-10 Konsentrasi Kurang D digunakan untuk penelitian. Adapun hasil dan
5. <5 Konsentrasi Sangat E masukan kontennya (Terlampir).
kurang
Sumber : Puspaningrum (2013)
Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Kerangka Konsep Teknik Pengolahan data ini melalui tahap-
Kerangka konsep penelitian adalah suatu tahap sebagai berikut : Editing (Pengeditan
hubungan atau kaitan antara konsep satu Data), Data Entry (Pemasukan Data), Cleaning
terhadap konsep yang lainnya dari masalah Data (Pembersihan Data)
yang ingin diteliti (Notoatmodjo, S. 2012).
Kerangka konsep pada penlitian ini yaitu : Analisis Data
Pada penelitian ini kerangka konsep yang Pada analisis data ini terdiri dari dua analisis
diteliti yaitu hanya faktor eksternal yaitu sebagai berikut :
diantaranya lingkungan, guru, masyarakat dan Analisi Univariat
nutrisi sarapan pagi. Akan tetapi untuk faktor Analisa yang digunakan pada penelitian ini
internal tidak dilakukan penelitian dengan yaitu analisis univariat yang selanjutnya
alasan, karena pada dasarnya menurut Slameto dideskripsikan dalam bentuk tabel dan
(2013) bahwa faktor internal tersebut dapat dipaparkan sesuai harga persentase. Adapun
dimodifikasi dan di perbaharui tergantung analisis dalam penelitian ini yaitu
anak yang ingin berungguh-sungguh belajar menggunakan rumus persentase frekuensi
dengan baik dan tekun. yaitu untuk mengetahui hasil persentase dalam
Bagan 3.1 Kerangka Konsep Gambaran setiap kategori dari jawaban responden
faktor yang mempengaruhi Konsentrasi digunakan rumus sebagai berikut:
Belajar Anak di SMP Negeri 45 Bandung
= %

Keterangan :
P = presentase untuk setiap kategori
f = jumlah setiap kategori
N = jumlah total responden

Pada analisis univariat ini dilakukan dengan


cara menentukan nilai. Setelah terlihat dari
suatu kategori kemudian dilakukan analsis
berdasarkan distribusi frekuensi tersebut dan
Variabel penelitian menghasilkan data hasil output data dan
Variabel pada penelitian ini terdapat 1 variabel hasilnya ditentukan berdasarkan nilai
yang digunakan : persentase pada setiap kategori Nilai
Variabel Independen persantase pada tiap kategori tafsiran harga
Variabel independen merupakan variabel yang kategori yaitu 0=Tidak ada, 1-25 =Sebagian
mempengaruhi atau yang menjadi sebab kecil, 26-49=Hampir separuhnya,
perubahannya atau timbulnya variabel 50=Separuhnya, 51-75=Sebagian besar, 76-
dependen. Variabel independen pada 99=Hampir seluruhnya,
penelitian ini yaitu faktor lingkungan fisik , 100=Seluruhnya(Arikunto, 2010)
guru, masyarakat dan nutrisi sarapan pagi,
Konsentrasi Belajar

Uji Konten
Pada penelitian ini dilakukan uji konten atau
validitas isi artinya peneliti menanyakan item
pertanyaan kepada ahli tentang Kuesioner

STIKes Dharma Husada Bandung 50


51

Hasil Penelitian
Tabel 4.1 Konsentrasi belajar pada anak Di 1. Nutrisi sarapan pagi yang
SMP Negeri 45 Bandung (n=102) mempengaruhi Konsentrasi Belajar
Tabel 4.5 Nutrisi Sarapan Pagi yang
Konsentrasi Belajar f % mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di
Sangat Baik 4 3.9 SMP Negeri 45 Bandung (n=102)
Baik 20 19.6
Cukup 27 26.5 Nutrisi Sarapan Pagi f %
Kurang 30 29.4 Sarapan Pagi 43 42.2
Sangat Kurang 21 20.6 Tidak sarapan pagi 59 57.8

Tabel 4.1 terlihat bahwa konsentrasi belajar Berdasarkan tabel 4.5 diketahui bahwa
pada anak di SMP negeri 45 Bandung sebagian besar konsentrasi belajar pada anak
didapatkan dari 102 anak menunjukan dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang tidak
sebagian besar 29,4% yaitu kurang. sarapan pagi yaitu 57,8%

Tabel 4.2 Lingkungan Fisik yang Pembahasan


mempengaruhi Konsentrasi Belajar Di Konsentrasi Belajar Anak Di SMP Negeri
SMP Negeri 45 Bandung (n=102) 45 Bandung
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan
Lingkungan f % bahwa menunjukan konsentrasi belajar pada
Fisik anak di SMP negeri 45 Bandung dari 102
Kurang baik 84 82.4 siswa sebagian besar 29,4% yaitu kurang. Hal
Baik 18 17.6 ini dipengaruhi perkembangan intelektual
yang menghasilkan kemampuan untuk
Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa dari memahami makna yang sebelumnya tidak
102 anak , sebagian besar 82,4% menunjukan dimengerti, memperhatikan suatu rangsangan,
lingkungan fisik kurang baik terhadap dalam jangka waktu yang lama, dan
konsentrasi belajar memutuskan ketegangan emosi pada satu
objek. Demikian pula kemampuan mengingat
Tabel 4.3 Guru yang mempengaruhi dan menduga mempengaruhi reaksi emosional.
Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 Dengan demikian anak-anak menjadi reaktif
Bandung (n=102) terhadap rangsangan yang tadinya tidak
mempengaruhi mereka pada usia yang lebih
Guru f % muda. Peran Belajar Kegiatan belajar turut
Ya 2 2.0 menunjang pola perkembangan emosi pada
Tidak 100 98.0 anak. metode belajar apa saja yang ada dan
bagaimana metode tersebut menunjang
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa hampir perkembangan emosi anak (Hurlock, 2012).
seluruhnya 98,0% bahwa konsentrasi belajar Perkembangan sosial mengikuti suatu pola,
pada anak dipengaruhi oleh guru yaitu suatu urutan perilaku sosial yang teratur,
dan pola ini sama pada semua anak di dalam
Tabel 4.4 Masyarakat yang mempengaruhi suatu kelompok budaya. Umur sosialisasi yang
Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 benar dimulai dengan masuknya anak secara
Bandung (n=102) resmi ke sekolah, yaitu ke kelas 1 sekolah
dasar ataupun taman kanak-kanak.
Anak yang tadinya selalu berbuat atas
Masyarakat f %
dorongan hati sekarang berusaha
Baik 35 34.3
menggunakan tolak ukur orang dewasa untuk
Tidak Baik 67 65.7 menilai orang atau situasi. Secara normal,
semua anak menempuh beberapa tahap
Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa sosialisasi pada umur yang kurang lebih sama.
sebagian besar konsentrasi belajar pada anak Sebagaimana pada jenis perkembangan yang
dipengaruhi oleh masyarakat yang tidak baik lain, anak yang pandai mengalami percepatan,
yaitu 65,7%

STIKes Dharma Husada Bandung 51


52

sedangkan yang tidak cerdas mengalami tidak ada Pengaruh terhadap konsentrasi
perlambatan. Kurangnya kesempatan untuk belajar pada anak .
melakukan hubungan sosial dan belajar Menurut Supriadi (2015) menyatakan bahwa
bergaul secara baik dengan orang lain juga syarat lingkungan fisik yang baik yaitu itu
memperlambat perkembangan yang normal. adalah harus memiliki kepadatan Ruang kelas
Setelah anak memasuki sekolah dan memiliki kepadatan minimal 1,75 m2/anak
melakukan hubungan yang lebih banyak bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan
dengan anak lain dibandingkan dengan ketika ruang gerak yang cukup bagi anak-anak, selain
masa prasekolah, minat pada kegiatan itu kondisi kelas yang tidak terlalu padat
keluarga berkurang. Pada saat yang sama semakin memudahkan saat prosedur evakuasi
permainan yang bersifat individual darurat dilakukan, Tingkat kebisingan
menggantikan permainan kelompok (Hurlock, maksimal. Sebuah ruang belajar atau kelas
2012) yang dikatakan baik hanya diperbolehkan
Pada dasarnya konsentrasi merupakan memiliki tingkat kebisingan maksimal 45 dB.
kemampuan seseorang untuk mengendalikan Kebisingan ini setara dengan suara normal dari
kemauan, pikiran, dan perasaan. Melalui orang yang sedang mengobrol, kebisingan di
kemampuan tersebut, seseorang akan mampu atas 45 desibel dikhawatirkan akan
memusatkan sebagian besar perhatian pada mengganggu konsentrasi belajar anak .
objek yang dikehendaki. Pengendalian Menurut pandangan peneliti bahwa tidak ada
kemauan, pikiran, dan perasaan dapat tercapai Pengaruh yang signifikan terhadap
apabila seseorang mampu menikmati kegiatan konsentrasi belajar artinya lingkungan fisik
yang sedang dilakukan (Hakim, 2012), sudah memenuhi syarat yaitu memberikan
kenyamanan dan ruang gerak yang cukup bagi
Lingkungan Fisik yang mempengaruhi anak-anak untuk kegiatan belajar mengajar di
Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 lingkungan sekolah, selain itu pencahayaan
Bandung kelas cukup terang sehingga mereka tidak
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesulitan untuk belajar di sekolah.
sebagian besar 82,4% menunjukan lingkungan
fisik kurang baik terhadap konsentrasi belajar. Guru yang mempengaruhi Konsentrasi
Hal tersebut bahwa faktor lingkungan fisik Belajar Di SMP Negeri 45 Bandung
lingkungan sekolah adalah kurang. Didapatkan hasil penelitian hampir seluruhnya
Tidak sejalan dengan hasil penelitian Wiguna 98,0% bahwa konsentrasi belajar pada siswa
(2016) menyatakan dari hasil penelitianya dipengaruhi oleh guru. Hal tersebut guru sudah
bahwa ada Pengaruh yang positif dan dapat memberikan perhatian kepada anak ,
signifikan antara lingkungan sekolah dengan sehingga jika ada anak yang mengalami
konsentrasi belajar Akhlak anak, semakin kesulitan dalam pelajaran guru mampu
baik lingkungan sekolah maka semakin baik menjawab pertanyaan anak mengenai materi
konsentrasi belajar Akhlak anak . Hal ini yang diajarkan dan anak tersebut mengerti
ditunjukkan dengan koefisien korelasi atas jawaban tersebut.
sebesar 0,590 sementara rtabel 5% sebesar Hasil penelitian Cahya (2014) menunjukan
0,972 maka dapat disimpulkan Ha diterima hasil penelitianya anak sebelum diberi
dan Ho ditolak. Angka sig. (2-tailed) layana bimbingan kelompok oleh guru
0,000<0.005 maka Ho ditolak, sehingga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
bisa dikatakan bahwa Pengaruh kedua konsentrasi belajar dibandingkan sesudah
variabel tersebut signifikan antara lingkungan dilakukan bimbingan kelompok oleh guru.
sekolah dengan konsentrasi belajar Akhlak Artinya faktor guru dapat mempengaruhi yang
anak kelas VIII. Adapun kontribusi signifikan terhadap konsentrasi belajar
lingkungan sekolah terhadap konsentrasi diketahui tingkat konsentrasi belajar
belajar akhlak anak adalah sebesar 34,8%. (47,33%), dan setelah diberi layanan
Berdasarkan hasil kuesioner pada penelitian bimbingan kelompok termasuk dalam
ini bahwa menunjukan dari beberapa jawaban kategori sedang (70,41%) Adanya
pertanyaan dari anak lingkungan fisik peningkatan sebesar 27,19%. Dan hasil uji
memiliki lingkungan sekolah bersih, rindang wilcoxon, menunjukkan bahwa nilai Zhitung
dan nyaman, sehingga faktor lingkungan fisik 0 < Ztabel 14, atau memiliki arti bahwa Ho
penelitian ditolak dan Ha penelitian

STIKes Dharma Husada Bandung 52


53

diterima, artinya konsentrasi belajar anak kemampuan integratif, antara yang satu
dapat ditingkatkan melalui layanan dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Ada
bimbingan kelompok. 2 peranan penting sebagai seorang guru
Hasil kuesioner yang didapatkan dari ialah sebagai seorang pendidik dan pengajar
penelitian ini yaitu guru mampu menjelaskan yang harus mampu membangun dan
setiap materi pelajaran yang diajarkan kepada menerapakan informasi pengetahuan dan
anak , sehingga anak tidak merasa kesulitan teknologi secara logis, kritis, kretif, dan
dengan materi yang guru ajarkan di sekolah, inovatif secara mandiri dengan menunjukan
sehingga guru memberi semangat belajar sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja
kepada anak dan kegiatan belajar sesuai untuk mendapatkan hasil yang terbaik
dengan jam pelajaran yang ditetapkan. dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Nugroho (2016) Guru dapat Pandangan peneliti terhadap penelitian ini
menimbulkan semangat belajar yang tinggi yaitu guru mata pelajaran di sekolah
dan dapat juga mengendorkan keinginan hendaknya dapat lebih memahami
belajar yang sungguh-sungguh. Anak yang bagaimana tingkat konsentrasi belajar para
baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan anak ketika kegiatan belajar berlangsung
memusatkan perhatian kepada bahan dan dapat memotivasi anak nya untuk aktif
pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya. dalam belajar, karena konsentrasi belajar anak
Sebaliknya guru yang pandai mengajar yang di kelas dapat mempengaruhi kualitas proses
dapat menimbulkan pada diri anak rasa pembelajaran dan pemahaman anak
menggemari bahan yang diajarkannya terhadap pelajaran yang berpengaruh pada
sehingga tanpa disuruh pun anak banyak hasil belajar anak .
menambah pengetahuannya dibidang itu
dengan membaca buku-buku, majalah dan Masyarakat yang mempengaruhi
bahan cetak lainnya Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45
Terkait dengan faktor eksternal, bahwa Bandung
guru mempunyai peranan penting dalam Didapatkan hasil penelitian sebagian besar
mempengaruhi prestasi belajar anak . Tugas konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi
utama guru tentunya mendidik, mengajar, oleh masyarakat yang tidak baik yaitu 65,7%.
dan menyampaikan ilmu yang sesuai Hal tersebut dipengaruhi oleh masyarakat
dengan bidang kompetensinya. Dari hal lingkungan sekolah sekitar seperti masyarakat
tersebut maka proses pembelajaran dapat lingkungan sekolah sangat berisik dan dapat
dikatakan sangat penting atau tidak dapat menggangu konsentrasi belajar.
dipisahkan dengan prestasi belajar Sejalan dengan penelitian Haryatni (2014)
dikarenakan hampir sebagian ilmu yang menunjukan faktor lingkungan masyarakat
diserap dan diterima didapat anak melaui didapatkan sebesar (53.88%) dan uji chi
proses pembelajaran guru dikelas. square menunjukan terdapat Pengaruh yang
Bagaimana guru mengajar, mengelola kelas, signifikan antara faktor lingkungan
penggunaan media, dan pemahaman masyarakat terhadap konsentrasi belajar.
karakteristik anak merupakan hal yang Hasil kuesioner pada penelitian ini yaitu
penting dalam suatu proses pembelajaran di sebagian besar orang di mengatakan bahwa
kelas supaya materi dapat diterimadengan lingkungan masyarakat tidak membimbing
baik dan dipahami. Guru merupakan saya untuk berprestasi baik, sehingga sangat
elemen kunci dalam sistem memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan
pendidikan,disebabkan guru merupakan titik keluarga orang tua anak dan sifat-sifat
sentral dalam pembaharuan dan peningkatan orangtua, demografi keluarga (letak rumah),
mut pendidikan. pengelolaan keluarga, semuannya dapat
Peranan guru menurut Suparlan (2012), memberi dampak terhadap aktivitas belajar
status guru mempunyai implikasi terhadap anak . Pengaruh anatara masyarakat yang
peran dan fungsi yang menjadi tanggung harmonis akan membantu anak melakukan
jawabnya. Guru memiliki satu kesatuan aktivitas belajar dengan baik.
peran dan fungsi yang tidak terpisahkan, Menurut Nugroho (2016) Lingkungan sosial
antara kemampuan mendidik, membimbing, masyarakat yaitu kondisi lingkungan
mengajar, dan melatih. Keempat masyarakat tempat tinggal anak akan
kemampuan tersebut merupakan memengaruhi belajar anak . Lingkungan anak

STIKes Dharma Husada Bandung 53


54

yang kumuh, banyak pengangguran dan anak yaitu 57,8%. Anak tidak melakukan sarapan
terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas pagi di rumah hal tersebut dipengaruhi oleh
belajar anak , paling tidak anak kesulitan orang tua yang tidak selalu dan setiap saat
ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau tidak menyiapkan sarapan pagi di rumah
meminjam alat-alat belajar yang kebetulan karena para orang tua tersebut sibuk dalam
belum dimilkinya. pekerjaan di luar rumah sehingga ia tidak
Kegiatan anak dalam masyarakat, yakni sempan untuk menyediakan sarapan pagi
kegiatan anak dalam masyarakat dapat untuk anaknya, dan anak lebih memilih jajan
menguntungkan terhadap perkembangan di luaran yaitu lingkungan sekolah.
pribadinya. Tetapi kalau kegiatan anak terlalu Sejalan dengan hasil penelitian Andriane
banyak maka akan terganggu belajarnya, (2016) tentang Pengaruh Kebiasaan Sarapan
karena ia tidak bisa mengatur waktu. Media dengan Prestasi Belajar pada Anak Kelas 4
Massa, yang dimaksud dalam media massa dan 5 SD Pertiwi Kota Bandung Tahun 2016.
adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, buku- Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
buku, komik. Dan lain-lain. Media massa yang terdapat Pengaruh yang signifikan (p<0,05)
baik akan memberi pengaruh yang baik antara kebiasaan sarapan dengan prestasi
terhadap anak dan juga terhadap belajarnya. belajar.
Sebaliknya media massa yang jelek juga Tidak sejalan dengan hasil penelitian yang
berpengaruh jelek terhadap anak . Selain itu telah dilakukan oleh Ismanto (2016) hasil
pengaruh dari teman bergaul anak lebih cepat penelitianya menyatakan tidak ada Pengaruh
masuk dalam jiwanya. Teman yang baik antara pengetahuan sarapan pagi dengan
membawa kebaikan, seperti membawa belajar prestasi belajar anak, dengan pengetahuan
bersama, dan teman pergaulan yang kurang sarapan pagi berada pada kategori baik dan
baik adalah yang suka begadang, pecandu memiliki prestasi belajar baik
rokok, minum-minum maka berpengaruh sifat Menurut Kemenkes RI (2015) Kebiasaan
buruk juga. sarapan merupakan asupan nutrisi yang dapat
Bentuk kehidupan masyarakat, yakni apabila mempengaruhi konsentrasi belajar yaitu
kehidupan masyarakat yang terdiri dari orang- hendaknya di pertahankan dalam setiap orang.
orang berpendidikan, terutama anak-anaknya Makan pagi dapat menyumbang seperempat
rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik. dari kebutuhan gizi sehari yaitu sekitar 450-
Masyarakat yang terdiri dari orang-orang tidak 500 kalori dengan 8-9 gram protein. Kebiasaan
terpelajar, penjudi, suka mencuri dan makan pagi termasuk dalam dasar gizi
mempunyai kebiasaan yang tidak baik, akan seimbang. Bagi anak di SMP makan pagi
berpengaruh jelek kepada anak yang berada dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan
dilingkungan itu (Sugihartono, 2013) mudah menyerap pelajaran sehingga
Pandangan peneliti apabila dalam kehidupan meningkatkan Konsentrasi Belajar
masyarakat yang terdiri dari orang-orang (Kemenkes, 2015).
berpendidikan, terutama anak-anaknya rata- Hasil kuesioner didapatkan dari jawaban
rata bersekolah tinggi dan moralnya baik anak responden paling banyak jawaban yang tidak
dalam lingkunganya akan berpengaruh fositif artinya anak tidak melakukan sarapan pagi di
terhadap konsentrasi belajar, akan tetapi pada rumah sebelum berangkat sekolah, rata-rata
masyarakat yang terdiri dari orang-orang tidak anak melakukan sarapan jam 10.00 waktu
terpelajar, penjudi, suka mencuri dan istihat belajar.
mempunyai kebiasaan yang tidak baik, akan Menurut pandangan peneliti bahwa kebiasaan
berpengaruh negatif terhadap kepada anak sarapan seseorang mempunyai pengaruh
sehingga dapat mempengaruhi konsentrasi terhadap prestasi belajar yang akan didapat,
belajar menjadi kurang fokus terhadap karena sarapan menyediakan energi yang
pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. dibutuhkan dalam kegiatan belajar. Sarapan
dapat meningkatkan konsentrasi, daya ingat,
Nutrisi Sarapan Pagi yang mempengaruhi dan kemampuan memecahkan masalah dalam
Konsentrasi Belajar Di SMP Negeri 45 proses belajar yang pada akhirnya akan
Bandung mempengaruhi prestasi belajar.
Didapatkan hasil penelitian sebagian besar
konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi
oleh asupan nutrisi yang tidak sarapan pagi

STIKes Dharma Husada Bandung 54


SIMPULAN Almatsier, 2013. Prinsip dasar ilmu
gizi. Jakarta : Garmedia Pustaka
1. Konsentrasi belajar pada anak di SMP Utama
negeri 45 Bandung didapatkan dari 102
siswa menunjukan sebagian besar 29,4% Almatsier, 2014. Prinsip dasar ilmu
yaitu kurang.
gizi. Edisi Revisi Jakarta :
2. Sebagian besar 82,4% menunjukan
lingkungan fisik kurang baik terhadap Garmedia Pustaka Utama
konsentrasi belajar
3. Hampir seluruhnya 98,0% bahwa Anas, 2010. Hubungan Kalori Sarapan
konsentrasi belajar pada siswa dipengaruhi Dengan Kemampuan Konsentrasi
oleh guru Anak Usia Sekolah Di SD Negeri
4. Sebagian besar konsentrasi belajar pada 3 Canggu Diakses dari
siswa dipengaruhi oleh masyarakat yang http://ojs.unud.ac.id/index.php/co
tidak baik yaitu 65,7% ping. Diakses pada tanggal 20
5. Sebagian besar konsentrasi belajar pada November 2016. (Jurnal Tersedia
siswa dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang Online)
tidak sarapan pagi yaitu 57,8%

Saran Anwar,2013. Sumber Daya Manusia,.


1. Bagi Pihak Sekolah Cetakan Ke Tujuh PT. Remaja
Diharapkan untuk pihak sekolah dapat Rosdakarya, Bandung.
mengembangkan potensi guru yang lebih
displin terhadap pembelajaran di kelas, Arikunto, 2014. Prosedur penelitian :
sehingga anak dapat mempersiapkan diri Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi.
untuk menerima materi pembelajaran yang Revisi). Jakarta : Rineka Cipta.
akan disampaikan dan dapat meningkatan
konsentrasi belajar. Azwar, 2009. Metode Penelitian .
2. Bagi Anak Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Diharapkan bagi anak untuk dapat
Bukhari Umar.
membiasakan dalam melakukan sarapan
pagi di rumah, karena dengan sarapan pagi
merupakan asupan nutrisi yang dapat Baharudin, 2010. Teori Belajar dan
mempengaruhi konsentrasi belajar di Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-
sekolah. Ruzz Media.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya agar D.V Harris dan B.L Harris (1998)
menemukan fenomena yang lain terkait dalam jurnal Puspaningrum,
konsentrasi belajar pada anak diantaranya 2013. modul Grid Concentration
pengaruh penyuluhan terhadap kebiasaan Exercise. Penilaian Konsentrasi
sarapan pagi, sehingga nantinya anak yang Belajar.
tidak melakukan sarapan dapat
membiasakannya sarapan pagi di rumah.
Dimyati, 2013. Belajar dan
DAFTAR PUSTAKA Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Adi, 2015. Gizi Anak Sekolah.
Jakarta.Kompas. Elizabeth, 2013. Manfaat Sarapan Pagi
bagi Anak. PT. Rajagrafindo.
Anwar Prabu, 2013. Perkembangan Jakarta.
Intelegensi Anak dan Pengukuran
IQnya, (Bandung : Angkasa Elnovriza, 2008. Hubungan Kebiasaan
Bandung Sarapan Pagi dan Jajan dengan
Status Gizi Anak Sekolah Dasar.

STIKes Dharma Husada Bandung 55


56

Engkoswara, 2012. Administrasi Nugroho, 2013. Belajar Mengatasi


Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Hambatan Belajar. Surabaya:
Prestasi Pustaka.
Giam, 2012. Faktor Gizi terhadap
konsentrasi pada anak. Jakarta. Pendiknas, 2014. Perwujudan Tujuan
EGC. Pendidikan.2014

Hakim, 2012. Mengatasi Gangguan Purnakarya, 2010. Pengaruh Zat Gizi


Konsentrasi. Jakarta: Puspa pada Prestasi. Jakarta.
Swara.
Riyanto, 2011. Aplikasi Metodologi
Hidayat, 2014. Pengantar Konsep Dasar Penelitian Kesehatan. Nuha
Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika. Yogyakarta.
Medika.
Rohani, 2010. Pengelolaan
Jetvig, 2010. Sarapan Pagi. Jakarta. Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka
EGC Cipta.

Kemenkes, 2014. Peningkatan Rohayati, 2013. Perilaku Makan Pagi


Konsentrasi Belajar. dan Jajan Anak Sekolah Penerima
PMTAS Di Daerah Pantai dan
Khomsan, 2010. Sarapan Sehat Dan Pegunungan provinsi Nusa
Unsur Empat Sehat Lima Tenggara Timur. Diunduh dari
Sempurna. Jakarta. EGC http://dokumen.tips/documents/p
mtas.html. Diakses pada tanggal
Khomsan, 2012. Sarapan Sehat Dan 20 November 2016 (Jurnal
Unsur Empat Sehat Lima tersedia Online)
Sempurna. Edisi Revisi Jakarta.
EGC Sardiman, 2011. Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar: Bandung,
Leo, 2015. Hubungan Sarapan Pagi Rajawali Pers
Dengan Konsentrasi Siswa Di
Sekolah. Diakses dari Slameto,2015. Belajar dan Faktor-
http://ejournal.unesa.ac.id/article/ Faktor yang Mempengaruhinya.
17369/68/article.pdf. Diunduh Jakarta: PT Rineka Cipta.
pada tanggal 20 November 2016.
(Jurnal Tersedia Online) Sediaoetama, 2013. Ilmu Gizi untuk
Mahasiswa dan Profesi. Jilid I.
Moehji, 2009. Ilmu Gizi 1 Pengetahuan Jakarta: Dian Rakyat
Dasar Ilmu Gizi. PT Bhratara
Niaga Media. Jakarta. Soemantri, 2013. Pengaruh
Suplementasi Tablet Besi Dan
Muhilal & Damayanti, 2006. Gizi Anak Vitamin C Terhadap Peningkatan
dan Remaja. EGC. Jakarta. Kadar Hemoglobin Pada Siswa.
Diunduh dari
Notoatmodjo, S. 2012. Pengantar http://lib.unnes.ac.id/2478/1/3435
Pendidikan dan Perilaku .pdf. Diakses pada tanggal 12
Kesehatan. Andi Offset. Oktober 2016. (Jurnal Tersedia
Yogyakarta. Online)

STIKes Dharma Husada Bandung 56


57

Sopyudin, 2013. Statistik untuk


Kedokteran dan Kesehatan:
Deskriptif,. Bivariat, dan
Multivariat. Edisi 5. Jakarta :
Salemba

Sugiyono, 2014. Metode Penelitian


Kuantitatif, Kualitatif, dan
Kombinasi (Mixed Methods).
Bandung : Alfabeta

Sumadi Suryabrata, 2010. Psikologi


Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

Supariasa, 2012. Penilaian Status Gizi.


Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Supriadi, 2015. Modul Keperawatan


Komunitas. Tidak Diterbitkan.

Surya, 2013. Konsentrasi Belajar.


Jakarta. Salemba.

Susanto, 2006. Membangun


Kompetensi Belajar. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional.

Syaiful Bahri, 2015. Psikologi Belajar,


Jakarta : Rineka Cipta.

Tonienase, 2012. Sistem Tutoring


sebagai Upaya Perbaikan Hasil
Belajar. Jakarta. EGC

W.S.Winkel, 2012. Psikologi


Pengajaran. Yogyakarta : Media
Abadi.

Yusnalaini, 2014. Gizi dan Kesehatan.


Graha Ilmu. Yogyakarta

STIKes Dharma Husada Bandung 57