Anda di halaman 1dari 28

PANDUAN PRAKTIKUM

ENTOMOLOGI

Oleh:
Drs. Suyud Abadi, M.Si.
Sulton Nawawi, S.Pd., M.Pd.

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2017

1
TATA TERTIB
PRAKTIKUM ENTOMOLOGI

1. Praktikum Entomologi adalah wajib untuk semua mahasiswa


yang mengambil mata kuliah Entomologi, tak terkecuali untuk
mahasiswa yang mengulang.
2. Praktikum dimulai pada waktu yang sudah ditentukan pada hari
yang sudah ditentukan. Praktikan diwajibkan untuk tidak
terlambat. Keterlambatan lebih dari 10 menit pada setiap
praktikum akan mengakibatkan praktikan ditolak untuk ikut serta
dalam praktikum hari tersebut.
3. Praktikan diwajibkan berpakaian rapi, tidak memakai kaos tidak
berkrah, mengenakan sepatu dan bukan sandal.
4. Praktikum adalah sebuah proses belajar, sehingga pada waktu
praktikum, praktikan tidak dibenarkan untuk melakukan kegiatan
lain yang tidak berhubungan dengan proses belajar. Gunakan
waktu praktikum seefisien mungkin, lakukan diskusi mendalam
dengan teman atau asisten/ dosen.
5. Sebelum dan sesudah praktikum, pada acara tertentu, pengampu
akan memberikan tes atau tugas. Tugas harus dikerjakan.
6. Praktikum adalah wajib, dan praktikan tidak dibenarkan untuk
tidak mengikuti tanpa alasan jelas dan dapat
dipertanggungjawabkan. Jika sakit, praktikan harus menyerahkan
bukti yang menerangkan hal tersebut paling lambat 1 hari setelah
hari pelaksanaan praktikum. Praktikan yang tidak mengikuti
praktikum tanpa alasan yang dapat diterima, dinyatakan gagal,
dan harus mengambil ulang semua komponen mata kuliah
Entomologi pada tahun berikutnya.
7. Keputusan pemberian ulangan mata praktikum yang ditinggalkan
praktikan akan ditentukan oleh pengampu dengan
mempertimbangkan hal-hal terkait.

2
PRAKTIKUM 1
ARTROPODA

Artropoda berarti binatang yang bertubuh beruas (kata Yunani: arthro-


berarti ruas, dan -podos berarti kaki), yang merupakan ciri utama, selain ciri lain,
yaitu (1) tubuh terbagi dua belahan yang sama bentuk dan ukuran (bilateral
simetris), dan (2) anggota tubuhnya hampir selalu terdapat berpasangan.
Secara morfologis, meskipun sekilas tampak sama, sesungguhnya artropoda
mempunyai ciri morfologi yang khas, yang berbeda dengan individu artropoda yang
lain, misalnya laba-laba, lipan, dan lain-lain. Sayap adalah salah satu ciri khas
serangga yang tidak ditemukan pada artropoda lain. Dalam kaitannya dengan fungsi
serangga di alam, yang juga ditempati oleh artropoda yang lain, maka pengenalan
ciri-ciri bioekologi, terutama morfologi serangga dan kerabatnya menjadi sangat
penting. Perlu diketahui, bahwa mereka mempunyai hubungan yang sangat erat di
alam, misalnya hubungan mangsa dan pemangsa. Lipan misalnya, merupakan
predator beberapa jenis serangga tanah. Secara umum, anggota filum Artropoda
dapat dibedakan satu dengan lainnya dengan memperhatikan ciri (1) jumlah bagian
tubuh, (2) jumlah pasang kaki, (3) keberadaan antena dan jumlahnya, (4) keberadaan
sayap, dan (5) keberadaan alat tambahan yang terkadang berfungsi sangat khusus,
seperti uropoda pada lobster.
A. Tujuan
Memahami keragaman artropoda dan perbedaan prinsip antara serangga
dan artropoda lain.

B. Metode
Pada spesimen serangga dan artropoda (serangga, tungau, laba-laba, kelabang,
udang, kepiting) yang sudah disediakan, silakan amati perbedaan-perbedaan
morfologi yang dapat Anda identifikasi yang meliputi: Pembagian tubuh (dua atau
tiga bagian), Kaki (jumlah pasang kaki dan keberadaan alat tambahan), Sayap
(jumlah pasang sayap), Antena (jumlah antenna) , Kepala, Tempat hidup Alat
tambahan yang tumbuh pada kepala (ada atau tidak).

3
Tuliskan hasil pengamatan Saudara tentang ciri masing-masing jenis phylum
artropoda yang Saudara amati ke dalam tabel berikut !

Kelas Artropoda
Crustacea Arachnida Myriapoda Insecta

No. Ciri

1 Kepala

2 Dada

2 Perut

3 Sayap

4 Antena

5 Kaki

6 Tubuh

6 Tempat hidup

Alat
7
Tambahan

4
PRAKTIKUM 2
MORFOLOGI KEPALA SERANGGA

Morfologi diartikan sebagai Ilmu tentang bentuk, dan pada organisme,


pengenalan morfologi merujuk pada pemahaman ciri khas bentuk yang terdapat pada
satu kelompok organisme. Kepala merupakan bangunan anterior yang menyerupai
kapsul, pada kepala serangga terdapat mata, antenna, dan alat mulut. Bentuk kepala
serangga bervariasi berkaitan erat dengan bagaimana serangga makan. Serangga-
serangga dengan alat mulut pengunyah secara normal memiliki kepala yang besar,
lurus kearah bawah. Serangga dengan alat mulut pencucuk-pengisap mempunyai
kepala yang kecil, dan sebagainya.
Pada praktikum ini, pengamatan morfologi mata serangga difokuskan pada
organ-organ yang terdapat di bagian kepala serangga seperti antenna, mata, dan alat
mulut.

A. Tujuan
Memahami morfologi kepala serangga yang dapat digunakan sebagai
salah satu petunjuk untuk membedakan setiap jenis serangga.

C. Metode
Pada masing-masing bahan yang sudah disediakan (belalang, lipas, kupu-
kupu, kumbang kelapa, capung dan jangkrik), amatilah dengan cermat, gambarkan
dan tuliskan hasil pengamatan Anda.

5
Dari masing-masing bahan yang sudah disediakan amatilah dengan cermat dan
Gambarkan masing-masing organ spesimen!.

Data Hasil Pengamatan


Nama Jenis Serangga :

Bagian Kepala
1. Antena Keterangan :

Fungsi:

2. Mata Keterangan :

Fungsi:

3. Mulut Keterangan :

Fungsi:

6
PRAKTIKUM 3
MORFOLOGI DADA SERANGGA

Morfologi diartikan sebagai Ilmu tentang bentuk, dan pada organisme,

pengenalan morfologi merujuk pada pemahaman ciri khas bentuk yang terdapat pada

satu kelompok organisme. Thorax merupakan bagian tubuh serangga yang tengah

terdiri atas 3 bagian, yaitu prothorax (pronotum), mesothorax (mesonotum) dan

metathorax (metanotum). Pada thorax terdapat kaki dan sayap yang melekat pada

bagian metathorax. Dua buah spirakulum, yang merupakan lubang luar yang

menyerupai celah dan sistem pernafasan yang berada pada masing-masing sisi

thorax. Fungsi utama dari thorax adalah untuk pergerakan. Masing-masing ruas

thorax terdiri atas 4 kelompok utama sklerit, yaitu dorsal, ventral dan sepasang

pleura.

Pada praktikum ini, pengamatan morfologi mata serangga difokuskan pada

organ-organ yang terdapat di bagian dada serangga seperti kaki, sayap dan ruas dada.

A. Tujuan

Memahami morfologi dada serangga yang dapat digunakan sebagai salah satu

petunjuk untuk membedakan setiap jenis serangga.

C. Metode

Pada masing-masing bahan yang sudah disediakan (belalang, lipas, kupu-

kupu, kumbang kelapa, capung dan jangkrik), amatilah dengan cermat, gambarkan

dan tuliskan hasil pengamatan Anda.

7
Dari masing-masing bahan yang sudah disediakan amatilah dengan cermat dan
Gambarkan masing-masing organ spesimen!.

Data Hasil Pengamatan


Nama Jenis Serangga :

Bagian Dada
1. Kaki Keterangan :

Fungsi

2. Sayap Keterangan :

Fungsi

3. Ruas Dada Keterangan :

Fungsi

8
PRAKTIKUM 4
MORFOLOGI PERUT SERANGGA

Morfologi diartikan sebagai Ilmu tentang bentuk, dan pada organisme,


pengenalan morfologi merujuk pada pemahaman ciri khas bentuk yang terdapat pada
satu kelompok organisme. Perut (Abdomen) merupakan bagian posterior tubuh
serangga. Abdomen serangga secara umum terdiri atas sebelas ruas yang agak sama
(uniform) dengan ruas-ruas yang paling akhir membentuk alat-alat tubuh. Pada
serangga baik jantan maupun betina ruas abdomen yang paling akhir akan berubah
bentuknya menjadi alat genetalia. Pada beberapa spesies serangga jenis kelaminnya
dapat dibedakan berdasarkan struktur genetalia luar.
Pada praktikum ini, pengamatan morfologi perut serangga difokuskan pada
organ-organ yang terdapat di bagian perut serangga seperti ruas-ruas perut, organ
genetalia, dan asesoris lainnya.
A. Tujuan
Memahami morfologi dada serangga yang dapat digunakan sebagai salah satu
petunjuk untuk membedakan setiap jenis serangga.
C. Metode
Pada masing-masing bahan yang sudah disediakan (belalang, lipas, kupu-
kupu, kumbang kelapa, capung dan jangkrik), amatilah dengan cermat, gambarkan
dan tuliskan hasil pengamatan Anda.

9
Dari masing-masing bahan yang sudah disediakan amatilah dengan cermat dan
Gambarkan masing-masing organ spesimen!.

Data Hasil Pengamatan


Nama Jenis Serangga :

Bagian Perut
1. Ruas Perut Keterangan :

Fungsi :

ORGAN GENETALIA

10
PRAKTIKUM 5
ANATOMI TUBUH SERANGGA

Seperti halnya morfologi serangga yang khas pada setiap kelompok


serangga sesuai dengan kebutuhan hidup serangga, anatomi tubuh seranggapun khas
pada setiap kelom-pok serangga. Misalnya, pada kelompok serangga pencucuk
pengisap, terutama dari ordo Hemiptera, pada bagian tertentu pada sistem
pencernaannya berkembang sistem khusus yang disebut Filter Chamber. Atau pada
serangga peterbang kuat, sistem perototan pada bagian toraks berkembang lebih
besar dibandingkan sistem serupa pada serangga bukan peterbang kuat.

A. Tujuan
Mengetahui dan memahami bentuk dan susunan alat tubuh serangga, serta
fungsinya secara umum.

C. Metode
Pada belalang kayu yang sudah disediakan, silakan membedahnya baik pada
bagian ventral (untuk mempelajari sistem pernapasan, otot, dan pencernaan), maupun
dorsal (un-tuk mempelajari sistem saraf) dengan cara sebagai berikut. Pingsankan
belalang dengan kloroform (hati-hati, zat ini beracun!), kemudian bentangkan di atas
papan lilin, dan pasak kaki-kaki belalang tersebut dengan jarum pentul. Bedahlah
eksoskeleton belalang dengan hati-hati menggunakan gunting atau pisau bedah kecil.
Berilah catatan nama bagian pada masing-masing sistem yang Anda amati.

11
Dari masing-masing bahan yang sudah disediakan amatilah dengan cermat dan
Gambarkan masing-masing organ dalam spesimen!.

STRUKTUR ANATOMI SERANGGA

Nama Jenis Serangga : ..

22 20 18
19
25 24 23 21 17

1 16

15
6
14
10 12
2 3 5 8 13
4 7 9 11

Keterangan:
1. . 14. .
2. . 15. .
3. . 16. .
4. . 17. .
5. . 18. .
6. . 19. .
7. . 20. .
8. . 21. .
9. . 22. .
10. . 23. .
11. . 24. .
12. . 25. .
13. .

12
PRAKTIKUM 6
METAMORFOSIS

Metamorfosis merupakan salah satu keunggulan serangga dibandingkan


dengan binatang yang lain, dan merupakan salah satu mekanisme pembagian
pekerjaan dalam satu siklus hidup. Seekor imago (serangga dewasa) akan
menjalankan tugasnya untuk kawin dan mempersiapkan keturunan serta
makanannya, sedangkan serangga pradewasa (larva atau nimfa) akan melakukan
tugasnya untuk menimbun energi yang dibutuhkan pada tahap dewasanya.
Metamorfosis pada beberapa jenis serangga dapat dijalani di dua dunia yang berbeda,
misalnya capung yang menjalani tahap kehidupan pradewasanya di dalam air,
sementara dewasanya adalah penerbang yang memangsa serangga lain. Sementara
pada jenis serangga yang lain, baik serangga pradewasa maupun dewasa hidup pada
habitat yang sama, misalnya wereng coklat yang nimfa dan serangga dewasanya
hidup pada habitat yang sama, yaitu tanaman padi.

A. Tujuan
Memahami arti, jenis, dan peranan metamorfosis pada kelangsungan hidup
serangga.

C. Metode
Siapkan mikroskop dan kaca pembesar untuk mengamati spesimen larva dan
pupa, serta serangga dewasa yang disediakan. Sebutkan tipe metamorfosis masing-
masing spesimen dewasa yang ada dan juga sebutkan stadium hidupnya dengan
mengisi Lembar Kerja yang tersedia. Kemudian amati spesimen larva dan pupa yang
disediakan, kemudian tentukan jenis larva dan pupanya. Jelaskan ciri-ciri masing-
masing larva dan pupa dengan detil.

13
Dari masing-masing bahan yang sudah disediakan amatilah dengan cermat dan
Gambarkan masing-masing organ dalam spesimen!.

METAMORFOSIS SERANGGA

Nama Jenis Serangga : ..


Metamorfosis Sempurna

Keterangan

Metamorfosis Tidak Sempurna

Keterangan

14
PRAKTIKUM 7
IDENTIFIKASI DAN TAKSONOMI

Identifikasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui ciri khas satu
kelompok organisme, dalam hal ini serangga, menggunakan alat bantu yang
tersedia. Identifikasi umumnya dilakukan secara morfologis, meskipun pada
perkembangannya, teknik sidik DNA dan enzim juga sudah lazim digunakan. Hal
yang penting pada identifikasi serangga secara morfologis adalah pemahaman
terhadap arti istilah-istilah morfologi yang umum digunakan pada kunci identifikasi
(morfologi).

Identifikasi serangga secara morfologi dapat menggunakan bantuan buku


kunci identifikasi, mencocokkan dengan spesimen voucher, atau menanyakan kepada
ahlinya. Pada perkembangannya, internet juga menjadi wahana yang cukup baik
dalam membantu upaya identifikasi, atau juga menggunakan program komputer,
misalnya CABI Keys, BioLink, dan LUCID Key.

A. Tujuan

Memahami arti identifikasi serangga serta mengetahui cara-cara identifikasi


secara morfologi dengan menggunakan kunci identifikasi baik secara manual
maupun multimedia.

C. Metode

Amati spesimen serangga yang sudah Anda koleksi, kemudian cocokkan


dengan kara-kter morfologis yang ditunjukkan pada buku identifikasi manual,
minimal sampai tingkat famili. Pada tahap selanjutnya, silakan Anda menggunakan
beberapa program identifikasi, misalnya LUCID Key, untuk mencoba
mengidentifikasi sampai tingkat genus.

15
Dari masing-masing bahan yang sudah disediakan amatilah dengan cermat dan
IDENTIFIKASILAH serta TENTUKANLAH klasfikasi masing-masing spesimen!.

Data Hasil Pengamatan

Kingdom :
Phylum :
Classis :
Ordo :
Family :
Genus :
Species :

Kingdom :
Phylum :
Classis :
Ordo :
Family :
Genus :
Species :

Kingdom :
Phylum :
Classis :
Ordo :
Family :
Genus :
Species :

16
PRAKTIKUM 8
KOLEKSI SERANGGA

Koleksi (atau mengumpulkan) serangga adalah kegiatan menangkap,


mengawetkan, dan membuat spesimen awetan. Spesimen tersebut dapat digunakan
sebagai voucher atau contoh spesimen, dan setelah diidentifikasi menjadi sangat
berguna sebagai patokan identifikasi untuk melakukan pengamatan di lapangan. Oleh
karena itu, tata cara koleksi yang benar harus diperhatikan, agar spesimen yang
dikoleksi bernilai keilmuan tinggi.
Cara mengumpulkan serangga dapat dilakukan bermacam-macam,
tergantung kepada jenis serangga dan tujuan pembuatan koleksi tersebut. Serangga-
serangga praktis dapat ditemukan dimana-mana dan selalu dalam jumlah yang
banyak. Semakin banyak tempat yang dikunjungi orang untuk mencari serangga,
maka akan semakin besar variasi serangga yang akan diperoleh dalam pengumpulan.

A. Tujuan
Memahami arti penting koleksi serangga dan mengetahui tata cara koleksi
serangga secara standar.

I. Metode
Untuk mengumpulkan serangga perlu memperhatikan musim, cuaca dan
waktu tertentu dimana populasinya tinggi, akan tetapi untuk memperoleh keragaman
yang terbesar harus mengumpulkan sepanjang tahun karena jenis yang berbeda aktif
pada waktu-waktu yang berbeda. Alat-alat berikut biasanya digunakan ketika
mengumpulkan serangga sebagai berikut:
1. Jaring serangga
2. Botol-botol pembunuh
3. Kotak pil yang mengandung kertas tissue, amplop-amplop, atau kertas untuk
membuat amplop
4. Botol-botol kecil bermulut lebar untuk pengawetan
5. penjepit-penjepit
6. Lensa lapang
7. Kertas-kertas lembaran putih biasa
8. Alat penyedot
9. Payung pemukul atau lembaran kain
10. Penyaring
11. Perangkap

17
12. Alat pemgumpul akuatik
13. Lampu kepala
14. Pisau lipat
15. Kuas bulu onta

Untuk metode khusus digunakan alat-alat sebagai berikut :

1. Aspirator
2. Lubang Perangkap (pitfall trap)
3. Corong Berlese
4. Beating Sheets
5. Cahaya
6. Baits

Metode Pengumpulan
Metode pengumpulan serangga dapat dilakukan dengan berbagai cara
tergantung pada jenis serangga dan habitatnya, metode yang dapat dilakukan
diantaranya :
1. Aspirator :
Alat ini digunakan untuk menangkap serangga kecil yang aktif bergerak
seperti parasitoid kecil, lalat kecil, wereng dll. Aspirator juga digunakan untuk
mengambil serangga-serangga kecil yang tertangkap dari jaring serangga. Aspirator
biasanya terbuat dari tabung kaca sebagai tempat pengumpul serangga dan ditutup
dengan karet yang diberi lubang untuk untuk dua pipa, yang satu untuk mengisap
serangga ke dalam tabung dan lainnya ke mulut untuk menghisap udara.

2. Koleksi dengan tangan :


Banyak serangga terdapat pada tanaman, di serasah, di bawah batu dan
tempat-tempat lain yang dapat dicari dan dikoleksi langsung dengan tangan. Pada
tanaman, serangga dari berbagai stadia (telur, larva/nimfa, pupa, dan imago) dapat
ditemukan di daun, batang/kayu, dan atau akar. Banyak larva berbagai serangga
terdapat pada kayu atau bahan organik yang membusuk, seperti kayu lapuk, bangkai
binatang dan lain-lain. Koleksi dengan tangan membawa resiko, khusunya apabila
serangga yang ditangkap beracun, oleh karena itu alat seperti forcep atau kaos tangan
dapat digunakan untuk menghindari bahaya terhadap tangan.

18
3. Koleksi dengan jaring serangga :
Jaring serangga meruapakan alat yang paling banyak dan umum digunakan
untuk koleksi serangga. Pada dasarnya ada tiga jenis jaring serangga yaitu: jaring
udara (aerial net), jaring ayun (sweep net), dan jaring air (aquatic net). Jaring udara
digunakan untuk menangkap serangga terbang seperti kupu-kupu, lalat, belalang,
lebah, dan capung. Jaring serangga mempunyai diameter 35 cm pada bagian depan
dan panjang jaring 50 cm. Tongkat tangkai jaring biasanya sepanjang 100 cm. Jaring
ayun untuk menangkap serangga pada daun-daunan atau rerumputan. Bentuk jaring
ayun adalah heksagonal. Agar serangga tidak keluar, usahakan waktu mengambil
seranga dari jaring membelakangi sinar matahari. Jaring air harus lebih kuat untuk
menahan kotoran dalam air, baik kawat lingkar dan bahan jaringnya. Untuk
mengambil serangga yang ada, yang biasanya tercampur lumpur, biasanya lumpur
ditaruh di suatu nampan dan diberi air lalu dikorek-korek untuk mendapatkan
serangganya.

4. Koleksi dengan lembar-pengumpul (Beating sheets) :


Beberapa serangga pada tanaman sulit dikenali karena bentuknya mirip
daun atau duri pada tanaman. Maka itu lembar-pengumpul merupakan alat yang
tepat untuk mengkoleksi serangga tersebut dan jenis lain seperti kutu-kutuan serta
tungau. Lembar untuk koleksi diletakkan di bawah bagian tanaman dan tanaman
dipukul-pukul. Koleksi serangga kecil dari lembar pengumpul dapat dilakukan
dengan kuas yang dibasahi air.

5. Penyemprotan dengan insektisida knock-down :


Pada tanaman yang tinggi serangga sulit ditangkap. Penyemprotan/
pengkabutan dengan insektisida bereaksi cepat seperti piretroid sintetik.

6. Perangkap serangga :

Perangkap serangga yang dapat digunakan, diantaranya :

1) Panci kuning
2) Perekat
3) Kertas
4) Penjebak

19
5) Kupu-kupu
6) Feromone
7) Penyedot
8) Cahaya
9) Layar
10) Malaise

Sebelum dilakukan tahapan pengawetan dan perentangan, serangga dapat disimpan


di amplop kertas, atau lebih dikenal dengan nama papilot. Amplop ini bisa digunakan
untuk menyimpan serangga bertubuh kecil dan bersayap lebar, seperti kupu-kupu dan
capung, diluar amplopnya juga bisa digunakan untuk menuliskan data yang
berhubungan dengan pengkoleksian. PERHATIKAN CONTOH GAMBAR
SERANGGA BERIKUT.

20
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM ENTOMOLOGI
KOLEKSI SERANGGA

Praktikum Ke :
Hari, tanggal : .
Pukul : .

Data Hasil Pengamatan

1. Label lokasi (paling atas)


Propinsi, Kabupaten, Lokasi spesifik
Tanggal koleksi
Nama kolektor

1. Tangkaplah sebanyak mungkin 2. Label data ekologi


jenis-jenis serangga sesuai Inang, habitat serangga, atau metode
dengan lokasi pencarian yang koleksi
Saudara tentukan.
2. Lakukan inventarisasi, identifikasi
dan klasifikasikan sesuai dengan 3. Label identifikasi
taksonnya masing-masing. Famili serangga
3. Lakukan pengawetan sesuai Nama yang mengidentifikasi
dengan petunjuk koleksi dan Tahun identifikasi
pengawetan serangga.
Kingdom
Filum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

KELOMPOK PRAKTIKAN
No. Nama Mahasiswa, NIM Tanda Tangan
1
2
3

21
PRAKTIKUM 9
INVENTARISASI SERANGGA

Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat potensial dalam


mendukung keanekaragaman flora dan fauna. Salah satu sumber daya hutan adalah
serangga tanah. Serangga tanah adalah serangga yang hidup di tanah, baik yang
hidup di permukaan tanah maupun yang terdapat di dalam tanah. Serangga
permukaan tanah, sebenarnya memakan tumbuh-tumbuhan yang hidup, tetapi juga
memakan tumbuh-tumbuhan yang sudah mati. Serangga permukaan tanah berperan
dalam proses dekomposisi. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu
berjalan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan serangga permukaan tanah.

Keberadaan serannga permukaan tanah dalam tanah sangat tergantung pada


ketersediaan energi dan sumber makanan untuk melangsungkan hidupnya, seperti
bahan organik dan biomassa hidup yang semuanya berkaitan dengan aliran siklus
karbon dalam tanah. Dengan ketersediaan energi dan hara bagi serangga permukaan
tanah tersebut, maka perkembangan dan aktivitas serangga permukaan tanah akan
berlangsung baik. Secara garis besar proses perombakan berlangsung sebagai berikut
: pertama perombak yang besar atau makrofauna meremah-remah substansi habitat
yang telah mati, kemudian materi ini akan melalui usus dan akhirnya menghasilkan
butiran-butiran feses. Feses juga dapat juga dikonsumsi lebih dahulu oleh mikrofauna
dengan bantuan enzim spesifik yang terdapat dalam saluran pencernaannya.
Penguraian akan menjadi lebih sempurna apabila hasil ekskresi fauna ini
dihancurkan serangga pemakan bahan organik yang mambusuk, membantu merubah
zat-zat yang membusuk menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Banyak jenis serangga
yang sebagian atau seluruh hidup mereka di dalam tanah. Tanah tersebut
memberikan serangga suatu pemukiman atau sarang, pertahanan dan seringkali
makanan. Tanah tersebut diterobos sedemikian rupa sehingga tanah menjadi lebih
mengandung udara, tanah juga dapat diperkaya oleh hasil ekskresi dan tubuh-tubuh
serangga yang mati. Serangga tanah memperbaiki sifat fisik tanah dan menambah
kandungan bahan organiknya

22
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan serangga tanah di hutan,
adalah, struktur tanah berpengaruh pada gerakan dan penetrasi, kelembaban tanah
dan kandungan hara berpengaruh terhadap perkembangan dalam daur hidup, suhu
tanah mempengaruhi peletakan telur, cahaya dan tata udara mempengaruhi
kegiatannya.

A. TUJUAN
Praktikum ini bertujuan
1. untuk melihat komposisi dan keanekaragaman serangga permukaan tanah
pada area perkebunan, hutan wisata maupun beberapa lokasi praktikum yang
telah ditentukan.
2. Untuk melihat indeks kesamaan jenis serangga yang ada di kedua habitat.

B. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan perangkap jebak yaitu
gelas plastik (luas permukaan 51,5 cm 2), lidi, styrofoam, sekop, alat tulis, kertas
label, alkohol 70% dan larutan asam asetat 5%. Untuk mengukur faktor lingkungan
digunakan pH meter, higrometer, termometer (Yenaco) dan mistar. Dalam
pengumpulan sampel, alat yang digunakan yaitu pinset, kantung plastik dan karet.
Dalam identifikasi sampel serangga digunakan mikroskop dengan perbesaran 20 x.
Untuk dokumentasi digunakan kamera digital.

Gambar 1. Pemasangan Perangkap Jebak

23
C. METODE

1. Penentuan Lokasi

Lokasi pengambilan sampel dipilih pada 2 (dua) kondisi habitat yang


berbeda, sesuai dengan lokasi yang telah ditentukan.

2. Pengambilan dan Identifikasi Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara memasang sepuluh perangkap


jebak pada kedua habitat. Perangkap diisi dengan larutan alkohol 70% dan
ditambahkan larutan asam asetat 5% sebanyak 1 tetes pada masing-masing
perangkap. Perangkap dipasang secara random dan dibiarkan selama 3 hari
kemudian sampel yang tertangkap dikumpulkan. Untuk kepentingan
identifikasi, sampel yang diperoleh kemudian dibawa ke laboratorium.

3. Analisis data

a. Keanekaragaman jenis ditentukan dengan menggunakan rumus Indeks


Keanekaragaman Shannon-Wiener :

dimana :
H = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
ni = Jumlah jenis yang didapat

N = Total jumlah jenis yang didapat

24
Besaran H < 1.5 menunjukkan keanekaragaman jenis tergolong rendah,
H = 1.5 3.5 menunjukkan keanekaragaman jenis tergolong sedang dan
H > 3.5 menunjukkan keanekaragaman tergolong tinggi.
b. Indeks kesamaan jenis serangga pada dua habitat dihitung dengan Uji
Sorenson :
IS = [2 C / (A + B)] x 100%
Keterangan :
IS = indeks kesamaan.
C = jumlah jenis serangga yang ada di kedua habitat, dimana Jumlah
nilai yang sama dan nilai terendah dari jenis-jenis yang terdapat
dalam dua habitat yang dibandingkan
A = jumlah jenis serangga yang hanya ada di habitat pertama
B = jumlah jenis serangga yag hanya ada di habitat kedua

D. TUGAS
Identifikasilah jumlah serangga yang terperangkap, kelompokkan mereka dan
hitung indek keragaman dan indek kesamaan serangga pada kedua habitat.

25
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM ENTOMOLOGI
INVENTARISASI SERANGGA

Praktikum Ke :
Hari, tanggal : .
Pukul : .

Data Hasil Pengamatan


Lokasi, Jumlah Serangga Yang
Ditemukan
Nama Jenis Serangga Yang Ditemukan
1 2 3

10

KELOMPOK PRAKTIKAN
No. Nama Mahasiswa, NIM Tanda Tangan
1
2
3

26
PRAKTIKUM 10
PENGENALAN HABITAT SERANGGA

Pengenalan serangga harus dilakukan dengan memahami bioekologi


serangga, yaitu hubungan antara kehidupan serangga dengan lingkungan di
sekitarnya. Sebagai contoh, pada serangga herbivora, keberhasilan sebuah populasi
untuk berkembang tergantung pada ketersediaan pakan (tumbuhan) dan pengendali
alami (musuh alami), di samping faktor abiotik (suhu, kelembaban, kelengasan
tanah, dan sebagainya). Oleh karena itu, pengenalan habitat dan bioekologi serangga
dapat digunakan sebagai sebuah titik tolak untuk mengenal aspek-aspek serangga
secara lengkap, misalnya aspek morfologi, anatomi, taksonomi, fisiologi, perilaku,
dan ekologi.

A. Tujuan
Memahami hubungan serangga dan lingkungannya, termasuk mekanisme
yang berlangsung dalam hubungan tersebut. Aspek-aspek entomologi yang akan
dipelajari adalah (a) bioekologi umum, (b) koleksi, dan (c) identifikasi secara
umum.

C. Metode
Praktikum akan dilaksanakan di salah satu lokasi terpilih, diantaranya di
Hutan Wisata Punti Kayu, Area-area Perkebunan seperti Perkebunan Karet,
Perkebunan Kelapa Sawit ataupun di perkebunan lainnya yang ada di Wilayah
Sumatera Selatan. Kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi:

1. Pengenalan habitat serangga


Kegiatan dilakukan dengan mengamati serangga-serangga yang hidup di
habitat perairan (sungai dan sawah), dan darat (kering, misalnya di tegalan).
Pengamatan dititikberatkan pada jenis serangga yang ditemukan, perilaku khas
(misalnya, jenis pakan, cara kawin, meletakkan telur, dan sebagainya), dan faktor-
faktor abiotik dan biotik yang ada di sekitar serangga-serangga tersebut (jenis tanah,
ada tidaknya bahan organik, dan sebagainya). Pengamatan langsung dilakukan pada

27
habitat terpilih, yaitu sungai, sawah, dan tegalan menggunakan bantuan tali yang
dibentuk bujursangkar berukuran 1 x 1 meter persegi. Catatlah jenis dan jumlah
individu serangga yang ditemukan pada habitat yang Anda amati tersebut.

2. Pengenalan pola hidup serangga (diurnal, krepuskuler, dan nokturnal)


Kegiatan dilakukan dengan mengamati kemunculan dan waktu aktif serangga
dengan bantuan alat-alat perangkap, yaitu light trap untuk serangga-serangga
krepuskuler dan nokturnal, dan pit-fall trap untuk serangga-serangga tanah yang
aktif pada siang, sore, maupun malam hari. Serangga yang tertangkap oleh alat-alat
perangkap tersebut digolong-golongkan, kemudian dicatat sebagai serangga diurnal,
krepuskuler, atau nokturnal.

3. Koleksi serangga
Pada kegiatan ini, Anda akan dikenalkan pada teknik-teknik koleksi serangga
lanjut, mulai dari (1) mencari habitat berdasarkan serangga yang akan dikoleksi, (2)
pemilihan alat koleksi yang tepat, (3) pengambilan serangga, (4) pengawetan, dan (5)
identifikasi.

28