Anda di halaman 1dari 19

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi

Hipoglikemia adalah kondisi ketidaknormalan kadar glukosa serum yang rendah.


Keadaan ini dapat di definisaikan sebagai kadar glukosa di bawah 40 mg/ dl setelah
kelahiran atau berlaku untuk seluruh bayi baru lahir atau pemacaan strip reagen
oxidasi glukosa di bawah 45 mg /dl yang di konfirmasi dengan uji glukosa darah
( Patricia , 2006).

Hipoglikemia adalah kadar gulu darah < 2,6 mmol / L ketika diukur
denganglukometer bedside atau mesin gas darah ( Mark W, 2011).

Hipoglikemi adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah ( glukosa ) secara
abnormal rendah keadaan di mana kadar glukosa darah < 60 mg/ dl ( Ai Yeyeh ,
2012).

1.2 Etiologi

Hipoglikemia biasanya terjadi jika seorang bayi saat di lahirkan memiliki kadar
glukosa yang rendah yang di bentuk dalam bentuk glikogen (Judarwanto,2012).

Pada neonatus adalah :

1. Perubahan sekresi hormon

2. Berkurangnya subtract cadangan dalam bentuk glikogen hati .

3. Berkurangnya cadangan otot sumer asam amino untuk glukoneogenesis .

4. Berkurangnya cadangan lipid untuk pelepasan lemak .


1.3 Patofisiologi

Biasanya terjadi pada neonatus umur 1-2 jam,penyebabnya bayi tidak mendapat
glukosa lagi dari ibu ,sedangkan insulin plasma masih tinggi dengan kadar glukosa
darah menurun (Iswanto ,2012).

1. Bayi yang di lahirkan oleh ibu yang menderita diabetes melitus atau menderita
diabetes selama kehamilan.

2. Bayi dengan berat badan rendah yang mungkin mengalami malnutrisi


intrauterine ,yang mengakibatkan cadangan glikogen hati dan lemak tubuh total
menurun .

3. Bayi yang sedang sakit berat karena meningkatnya kebutuhan metaolisme yang
melebihi cadangan kalori dan bayi dengan berat badan lahir rendah yang
menderita sindrom gawat nafas ,asfiksia perinatal ,polisitemi ,hipotermi , infeksi
sistemik dan bayi yang mengalami kelainan jantung bawaan sianotik yang
menderita gagal jantung .

4.Bayi yang menderita kelainan genetik atau ganguan metaolisme primer seperti
galaxtosemia ,penyimpanan glikogen , intoleransi fruktosa,propinat asisdemia
,tirosinemia ,metilmanolat asidemia, tirosidemia,penyakit sirop mapel ,sensitifitas
leusin ,insulinoma,nesidioblastissel beta,hyperplasia fungsional
,panhipopituitarisme,dan sindrom backwit serta bayi raksasa.

1.4 Tanda dan Gejala Hipoglikemia

Gejala hipoglikemia dapat diklasifikasikan dalam 2 kelompok besar, yaitu gejala


yang berasal dari sistem saraf autonomi dan gejala yang berhubungan dengan
kurangnya suplai glukosa pada otak. Pada neonatus gejala hipoglikemia tidak
spesifik, antara lain tremor, peka rangsang, apnea dan sianosis, hipotonia, iritabel,
sulit minum, kejang, koma, tangisan nada tinggi, nafas cepat dan pucat
(Sihombing, 2013).
1.5 Klasifikasi

Menurut Vera (2013),tipe hipoglikemia :

1. Transisi dini neonatus (Early transtitional neonatal )

Ukuran bayi yang besar ataupun normal yang mengalami kerusakan system
reproduksi sehingga terjadi hiperinsulin .

2. Hipoglikemi klasik sementara ( Classic Transient neonatal)

Terjadi jika bayi mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan


lemak dan glikogen .

3. Sekunder (Scondary)

Sebagai suatu respon stressdari neonatus sehingga terjadi peningkatan


metabolismeyang memerluhkan banyak cadangan glikogen .

4. Berulang (Recurrent )

Disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis atau metabolisme insulin terganggu.

1.6 Diagnosis

Presentasi klinis hipoglikemia mencerminkan penurunan ketersediaan glukosa serta


stimulasi adrenergik disebabkan oleh tingkat darah menurun atau rendah gula.
Kelompok berisiko tinggi yang membutuhkan skrining untuk hipoglikemia pada satu
jam pertama kehidupan meliputi:

a. Bayi yang baru lahir yang beratnya lebih dari 4 kg atau kurang dari 2 kgb.Besar
usia kehamilan.

b. Besar usia kehamilan bayi yang berada di atas persentil ke-90, kecil untuk usia
kehamilan bayi di bawah persentil ke-10, dan bayi dengan pembatasan
pertumbuhan intrauterine.
c. Bayi yang lahir dari ibu tergantung insulin (1:1000 wanita hamil) atau ibu dengan
diabetes gestasional (terjadi pada 2% dari wanita hamil).

d. Usia kehamilan kurang dari 37 minggu

e. Bayi yang baru lahir diduga sepsis atau lahir dari seseorang ibu yang diduga
menderita korioamnionitis.

f. Bayi yang baru lahir dengan gejala sugestif hipoglikemia, termasuk jitteriness,
tachypnea, hypotonia, makan yang buruk, apnea, ketidakstabilan temperatur,
kejang.

1.7 Penatalaksanaan

Prinsip dasar penatalaksanaan hipoglikemia adalah untuk memberikan bayi lebih


banyak gula ketimbang yang saat ini dapatkan( Iswanto, 2013).

Jika BSL (blood sugar level) sebesar 2,0 2,5 mmol /L

1. Berikan susu (bukan air gula )

2. Berikan lebih sering misalnya 1-2 jam bila perlu .

Jika kadar gula darah 25-40 mg/dl tanpa tanda dan gejala hipoglikemia

1. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya


2. Pantau tanda hipoglikemi
3. Periksa kadar glukosa darah dalam setiap 3 jam
Jika kadar gula darah >25-45 mg/dl dengan tanda dan gejala hipoglikemia

1. Beri air gula kira-kira 30 cc satu kali pemberian dan observasi keadaannya
2. Pertahankan suhu tubuh
3. Segera beri ASI
4. Observasi keadaan bayi,yaitu tanda-tanda vital, warna kulit, reflek
5. Bila tidak ada perubahan selama 24 jam dalam gejala-gejala tersebut segera
rujuk ke rumah sakit.
Jika glukosa darah <25 mg/dl (1,1 mmol/l) atau terdapat tanda hipoglikemia, maka

1. Pasang jalur IV, berikan glukosa 10% 2 ml/kg BB secara pelan dalam 5 menit.
2. Infus glukosa 20% sesuai kebutuhan rawatan.
3. Periksa kadar glukosa darah 1 jam setelah bolus glukosa dan kemudian 3 jam
sekali
4. Jika kadar glukosa darah masih <25 mg/dl (1,1 mmol/l) ulangi pemberian air gula
dan lanjutkan pemberian infus.
5. Jika kadar glukosa darah 24-25 mg/dl (1,1-2,6 mmol/l) lanjutkan infus dan ulangi
pemeriksaan kadar glukosa setiap 3 jam sampai kadar glukosa 45 mg/dl
(2,6 mmol/l) atau lebih.
6. Jika kadar gluosa darah 45 mg/dl (2,6 mmol/l) atau lebih dalam dua kali
pemberian berturut-turut lanjutkan infus glukosa.
7. Anjurkan ibu menyusui, bila bayi tidak menyusu berikan ASI peras dengan
menggunakan sendok.
8. Bila kemampuan minum bayi meningkat, turunkan pemberian cairan infus setiap
hari secara bertahap, jangan menghentikaninfus glukosa secara tiba-tiba.

Pemberian ASI Pada Bayi Dengan Hipoglikemia


1) Hipoglikemia asimtomatik (tanpa manifestasi klinis)
a. Pemberian ASI sedini mungkin dan sering akan menstabilkan kadar
glukosa darah. Teruskan menyusui bayi (kira-kira setiap 1-2 jam) atau beri
3-10 ml ASI perah tiap kg berat badan bayi, atau berikan suplementasi (ASI
donor atau susu formula).
b. Periksa ulang kadar glukosa darah sebelum pemberian minum berikutnya
sampai kadarnya normal dan stabil.
c. Jika bayi tidak bisa menghisap atau tidak bisa mentoleransi asupannya,
hindari pemaksaan pemberian minum, dan mulailah pemberian glukosa
intra vena. Pada beberapa bayi yang tidak normal, diperlukan pemeriksaan
yang seksama dan lakukan evaluasi untuk mendapatkan terapi yang
intensif.
d. Jika kadar glukosa tetap rendah meskipun sudah diberi minum,mulailah
terapi glukosa intra vena dan sesuaikan dengan kadar glukosa darah.
e. ASI diteruskan selama terapi glukosa intra vena. Turunkan jumlah dan
konsentrasi glukosa intra vena sesuai dengan kadar glukosa darah.
f. Catat manifestasi klinis, pemeriksaan fisis, kadar skrining glukosa darah,
konfirmasi laboratorium, terapi dan perubahan kondisi klinik bayi
(misalnya respon dari terapi yang diberikan).
2) Hipoglikemia simtomatik dengan manifestasi klinis atau kadar glukosa plasma <
20-25 mg/dL atau < 1,1 1,4 mmol/L.
a. Berikan glukosa 200 mg tiap kilogram berat ba
b. dan atau 2 ml tiap kilogram berat badan cairan dekstrosa 10%. Lanjutkan
terus pemberian glukosa 10% intra vena dengan kecepatan (glucose
infusion rate atau GIR) 6-8 mg tiap kilogram berat badan tiap menit.
c. Koreksi hipoglikemia yang ekstrim atau simtomatik,pertahankan kadar
glukosa bayi yang simtomatik pada >45 mg/dL atau >2.5 mmol/L.
d. Sesuaikan pemberian glukosa intravena dengan kadar glukosa darah yang
didapat.
e. Dukung pemberian ASI sesering mungkin setelah manifestasi
hipoglikemia menghilang.
f. Pantau kadar glukosa darah sebelum pemberian minum dan saat
penurunan pemberian glukosa intra vena secara bertahap (weaning)
sampai kadar glukosa darah stabil pada saat tidak mendapat cairan glukosa
intra vena. Kadang diperlukan waktu 24-48 jam untuk mencegah
hipoglikemia berulang.
g. Lakukan pencatatan manifasi klinis, pemeriksaan fisis, kadar skrining
glukosa darah, konfirmasi laboratorium, terapi dan perubahan kondisi
klinik (misal respon dari terapi yang diberikan).
Terapi obat tambahan :
Terapi obat di perluhkan untuk hipoglikemia yang tidak berespon terhadap
pengukuran sederhana seperti diatas . Opsi selanjutnya untuk hipoglikemi
membandel adalah penambahan hydrocortisone ,glucagon ,diazoxide , atau
octreotide .
a. Glukagon memobilisasi penyimpanan glikogen , sehingga tidak secara khusus
bermanfaat bagi bayi yang pertumbuhanya terhambat ,glukkagon baik untuk
bayi dari ibu diabetes dan bagi status hiperinsulinemia lainya .
Dosisnya adalah 0,04 mg / kg IV atau IM ,kemudian 10- 50g / kg / jam
glukogon .
b. Hydrocortisone terutama meningkatkan glukoneogenesis dan memiliki respon
yang lambat . Dosisnya adalah 1 mg /kg / dosis setiap 6 jam IV .
c. Diazoxide dan octreotide harus disiapkan untuk diagnosis hiperinsulinemia
yang di tegakkan dan digunakan hanya setelah di konsultasikan dengan ahli
endokrin ( Mark W, 2011).

Pemeriksaan penunjang lanjutan


a. Darah glukosa ,insulin ,kortisol , pH, laktat ,keton ,hormone pertumbuhan
,hormone adrenokotropik (ACTH ),profil asilkarnitin .Hal ini dapat di
peroleh dengan mengumpulkan darah dalam jumlah erikut dalam tabung
yang di indikasikan warna tabung specimen darah akan berbeda beda antar
rumah sakit selalu di periksa .
Tipe specimen Warna tabung
Darah beku 3 mL Tutup merah
EDTA 1 mL Tutup merah muda
Heparin 2 mL Tutup hijau

b. Urine asam amino dan organik kumpulkan urine pertama yang keluar
setelah episode hipoglikemi .urine tersebut harus dikirim segar ke lab
secepatnya setelah pengumpulan .Jangan di bekukan ( Mark W, 2011).
c. .Laboratorium : gula darah dari tali pusat untuk BBL, Gula darah dari perifer/
vena untuk bayi lanjut dan anak , urine gula, SE,BGA
d.Untuk mengetahui adanya tumor penghasil insulin, dilakukan pengukuran
kadar insulin dalam darah selama berpuasa (kadang sampai 72 jam).
Pemeriksaan CT scan, MRI atau USG sebelum pembedahan

1.8 Prognosis
Jika tidak diobati, Hipoglikemia yang berat dan berkepanjangan dapat
menyebabkan kematian pada setiap golongan umur .Pada neonatus prognosis
tergantung dari berat, lama, adanya gejala-gejala klinik dan kelainan patologik
yang menyertainya, demikian pula etiologi, diagnosis dini dan pengobatan yang
adekuat
a. Hipoglikemia neonatus
Berdasarkan tingkat beratnyaHipoglikemianeonatus dapat digolongkan:
1.Hipoglikemia transisional Prognosisnya baik dan tergantung kepada kelainan
yang mendasarinya misal : asfiksia perinatal. Tidak ada korelasi antara
rendahnya kadar gula dengan mortalitas/morbiditas bayi. Kebanyakan bayi tetap
hidup walaupun dengan kadar gula 20 mg/100 ml.
2.Hipoglikemia sekunder Mortalitas neonatus pada kelompok ini disebabkan oleh
kelainan yang menyertainya. Bayiyang menderitaHipoglikemiatipe ini, sedikit
menderita sekuele akibat Hipoglikemianya, tetapi lebih banyak akibat kelainan
patologik yang menyertainya.
3.Hipoglikemia transien bayi yang termasuk dalam kelompok ini bila tidak
diobati akan mati. Bayi-bayi tersebut seringkali pada BBLR dan KMK yang
bisa disertai dengan komplikasi akibat BBLR dan KMK sendiri, demikian pula
masalah-masalah perinatal yang bisa menyebabkan ganggguan mental, perilaku
dan kejang-kejang yang tidak ada hubungannya dengan hipoglikemia.Pada
penelitian prospektif dengan menggunakan kontrol, bayi-bayi kelompok ini
yangdiamati sampai umur 7 tahun ternyata terdapat gangguan intelektual yang
minimal, tetapi tidak ada cacat nerologik yang berat.
4.Hipoglikemia berat (berulang)Keompok ini bisa dibagi atas beberapa katagori
yang masing-masing mempunyai masalah tersendiri yang mempengaruhi
prognosisnya.oDefisiensi hormon multipel (hipopituitarisme bawaan)Sering kali
disertai Hipoglikemia berat bahkan fatalpada hari-hari pertama, nampaknya
akibat defisiensi hormon hipofise anterior.

Prognosis terhadap perkembangannya tergantung dari adanya defisiensi hormone


hormonlainnya dan berhasilnya pengobatan substitusi. Kelebihan hormon
(hiperinsulinisme) Pada sindroma Beckwith Wiedemann, retardasi mental
kemungkinan disebabkan oleh hal yang tidak diobati, meskipun dengan
pengobatan adekuat prognosis masih meragukan, sebab adanya anomali multipel
yang menyertainya.Infant giants(Foetopathia Diabetica) Biasanya memperlihatkan
hipoglikemia berat dan tidak ada respon terhadap pengobatan medikamentosadan
memerlukan pankreatektomi total. Mereka yang hidup biasanya memperlihatkan
retardasi perkembangan yang sedang atau berat. Adenma sel beta ,pada penderita
yang diamati, bayi-bayi yang hidup menunjukkan perawakan yang relatif pendek
tetapi ada yang menderita diabetes dan beberapa diantaranya memperlihatkan
gangguan neurologiksedang atau berat, gangguan mental dan sering kali dengan
kejang-kejang.

BAB II
KONSEP MANEJEMEN PADA KASUS HIPOGLIKEMIA
I. Pengkajian

Tanggal dan waktu pengkajian, tempat pengkajian serta pengkaji

Sebagai dokumentasi bidan dalam melaksanakan manajemen asuhan kebidanan

a. Data subjektif
Data subjektif adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat
terhadap situasi dan kejadian, informasi tersebut tidak dapat ditentukan oleh
tenaga kesehatan secara independent tetapi melalui suatu interaksi atau
komunikasi.
Data subjektif meliputi :
1) Identitas pasien
Identitas pasien meliputi:
a) Nama
Untuk memastikan bahwa yang diperiksa benar-benar bayi yang dimaksud
(Nursalam ,2009).
b) Umur
Untuk mengintrepretasikan apakah data pemeriksaan klinis bayi tersebut
normal sesuai dengan umur (Nursalam ,2009).
c) Jenis kelamin
Untuk penilaian data pemeriksaan kilinis, misalnya nilai-nilai buku,
penyakit-penyakit seks (seks linkes) (Nursalam ,2009).
d) Alamat
Untuk memudahkan komunikasi jika terjadi hal-hal yang gawat, atau hal
lain yang dibutuhkan, serta untuk kepentingan kunjungan rumah jika
diperlukan (Nursalam ,2009).
e) Nama orang tua
Agar tidak terjadi kekeliruan dengan orang lain (Nursalam ,2009).
f) Umur orang tua
Untuk menambah kekuatan data yang diperoleh serta dapat ditemukan
pola pendekatan dalam anamnesis (Nursalam ,2009).
g) Agama
Untuk mendapatkan identitas serta untuk mengetahui perilaku seseorang
tentang kesehatan dan penyakit yang sering berhubungan dengan agama
dan suku bangsa (Nursalam ,2009).
h) Pendidikan
Berperan dalam pendekatan selanjutnya sesuai tingkat
Pengetahuan (Nursalam ,2009).
i) Pekerjaan
Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi orang tua berhubungan dengan
kemampuan dalam mencukupi kebutuhan nutrisi (Nursalam ,2009).
b. Anamnesa dengan Orang tua
Keluhan utama saat datang
Keluhan utama adalah proses pengkajian kondisi pasien pada saat datang. Pada
bayi dengan hipoglikemia keluhan dapat berupa bayi menangis, rewel, sulit untuk
minum/sulit menghisap, tremor (jitternes), pucat , sehingga timbul kecemasan
pada orang tuanya (Sihombing, 2013).
c. Riwayat penyakit
1) Riwayat penyakit sekarang
mengkaji kondisi bayi untuk menentukan pemeriksaan disamping alasan
datang. Pada bayi dengan hipoglikemia bayi terlihat pucat (sianosis), tremor
(jitternes), bayi menangis tinggi, dan sulit untuk minum/ sulit
menghisap (Nursalam ,2009).
2) Riwayat prenatal (kehamilan)
Untuk mengetahui keadaan bayi saat dalam kandungan. Pengkajian
ini meliputi : hamil keberapa, umur kehamilan, ANC, HPHT dan HPL
(Nursalam ,2009).
Bayi dengan hipoglikemia biasanya BBLR dan premature.
3) Riwayat intranatal (persalinan)
Untuk mengetahui keadaan bayi saat lahir (jam dan tanggal),penolong,
tempat, cara spontan atau tidak serta keadaan bayi saat lahir
(Nursalam ,2009).
Bayi dengan yang beresiko terkena hipoglikemia asfiksia , penyakit
jantung bawaan, hipotermi.
4) Riwayat postnatal
Untuk mengetahui keadaan bayi dan ibu saat nifas, adakah komplikasi saat
nifas(Nursalam ,2009)
5) Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular dan
menurun(Nursalam ,2009).
Penderita diabetes mellitus , bayi beresiko terkena hipoglikemia .
d. Data Objektif
Data objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur oleh tenaga
kesehatan.
Data objektif terdiri dari :
1) Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
pemeriksaan keadaan umum dilakukan untuk mengetahui bagaimana
keadaan bayi. keadaan umum pada bayi dengan hipoglikemia umumnya
lemah (Sihombing, 2013).
b) Kesadaran
pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai status kesadaran anak meliputi
tingkat kesadaran (composmentis, apatis, sopor atau delirium, somnolens,
sopor comatus, coma) gerakan yang ekstrem dan ketegangan otot.
kesadaran pada bayi dengan hipoglikemia bayi terlihat apatis atau acuh tak
acuh dengan keadaan sekitar (menangis tinggi dan sulit untuk
minum/menghisap) (Sihombing, 2013).

c) Suhu
pemeriksaan suhu aksila untuk menentukan apakah bayi dalam keadaan
hipo atau hipertermia. Dalam kondisi normal suhu bayi berkisar antara
36,50C-37,50C. suhu pada bayi dengan hipoglikemia mengalami
penurunan akibat asupan glukosa yang berkurang (Sihombing, 2013).
d) Nadi(denyut jantung)
Periksa denyut jantung dilakukan untuk menilai apakah bayi mengalami
gangguan sehingga jantung dalam keadaan tidak normal. Denyut jantung
dikatakan normal apabila frekuensinya antara 100-160 kali per menit
(Sihombing, 2013).
e) Respirasi
Pemeriksaan frekuensi napas dilakukan dengan menghitung napas rata-
rata pernapasan dalam satu menit. Napas bayi baru lahir dikatakan normal
apabila frekuensinya antara 30-60 kali per menit.
frekuensi napas pada bayi dengan hipoglikemia meningkat
(Sihombing, 2013).
f) Riwayat Apgar Skore
Riwayat khusus apgar skore yang dinilai antara lain :
(1) Denyut jantung dengan batas normal 100-160 kali permenit.
(2) Pernafasan dengan batas normal 30-60 kali per menit.
(3) Tonus otot dengan batas normal bayi dapat bergerak normal dan aktif.
(4) Reaksi pengisapan dengan batas normal adalah dapat
menghisap dengan baik pada saat menetek atau pada saat
pemeriksaan fisik.
(5) Warna kulit dengan batas normal adalah kemerahan dan
tidak kebiru-biruan atau pucat (Sihombing, 2013).
Asfiksia dengan apgar skor <7 termasuk faktor resiko
terkena hipoglikemia .
2) Pemeriksaan Fisik Sistematis
Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis yang dimulai dari kepala
sampai kaki.

a) Muka
Pemeriksaan muka untuk mengetahui apakah muka simetris atau tidak
.Pada kasus bayi dengan hipoglikemia muka terlihat pucat (sianosis)
(Sihombing, 2013).
b) Mulut
Pemeriksaan mulut untuk mengetahui ada atau tidak ada labiopalatoskizis
(Sihombing, 2013).
c) Tali pusat
Pemeriksaan tali pusat untuk mengetahui tali pusat terbungkus kasa steril
atau tidak, kering atau basah, ada kemerahan, bengkak atau tidak
(Sihombing, 2013).
e) Punggung
Pemeriksaan punggung untuk mengetahui adanya spinabifida
atau tidak (Sihombing, 2013).
f) Ekstremitas
Pemeriksaan ekstremitas untuk mengetahui kelengkapan ekstremitas
kanan dan kiri, ekstremitas bawah kanan dan kiri serta kelengkapan jari-
jari tangan dan kaki. Pada kasus bayi dengan hipoglikemia ekstremitas
tampak lemah dan tremor (Sihombing, 2013).
g) Genetalia
Laki-laki : testis sudah turun atau belum
Perempuan : labia mayora sudah menutupi labia minora atau belum.
h) Anus
Pemeriksaan anus untuk mengetahui ada tidaknya atresiaani
(Sihombing, 2013).
3) Pemeriksaan Reflek
a) Reflek Moro
Reflek moro yaitu untuk mengetahui gerakan memeluk bila dikagetkan
Reflek moro pada bayi dengan hipoglikemia biasanya lemah
(Sihombing, 2013).

b) Reflek menggerakkan atau reflek grasping


Reflek menggenggam bisa kuat sekali dan kadang-kadang bayi dapat
diangkat dari permukaan meja/tidurnya sementara bayi berbaring terlentang
dan menggenggam jari tangan di periksa, Reflek grasping pada bayi dengan
hipoglikemia biasanya lemah (Sihombing, 2013).
c) Reflek mencari atau reflek rooting
Saat pipi bayi disentuh bayi akan menolehkan kepala ke sisi
yang disentuh untuk mencari puting susu.Reflek rooting pada bayi dengan
hipoglikemia biasaya lemah (Sihombing, 2013).
d) Reflek menghisap atau reflek sucking
Saat bayi diberikan botol susu atau putting susu ibu bayi menghisap dengan
kuat dalam berespons terhadap stimulasi. Reflek sucking pada bayi dengan
hipoglikemia biasanya lemah, bayi mengalami kesulitan untuk minum ASI
(Sihombing, 2013).
e) Reflek tonik neck
Untuk mengetahui otot leher bayi akan mengangkat ke kanan dan ke kiri
jika diletakan pada posisi tengkurap. Reflek tonik neck pada bayi dengan
hipoglikemia biasanya lemah (Sihombing, 2013).
4) Eliminasi
Pemeriksaan urine (BAK) dan tinja (BAB) dilakukan untuk menilai
ada/tidaknya diare. Pemeriksaan ini normal apabila bayi berak cair antara 6-8
kali per hari dalam kasus hipoglikemia feces bayi berwarna hijau kecoklatan
dan urine bayi kuning jernih (Sihombing, 2013).
5) Data Penunjang
Data penunjang untuk kasus hipoglikemia ini diperoleh dari
pemeriksaan laboratorium antara lain : pemeriksaan glukosa darah
kurang dari 45 mg/dl yakni diperiksa dengan dextrostix pada saat
persalinan dan pada usia jam, 1jam, 2jam, 4jam, 8jam, 12jam,
24jam, 36jam, dan 48 jam.

e. Analisis data
1. Diagnosa Aktual
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup
praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Diagnosa untuk kasus hipoglikemia : Bayi Ny. X lahir cukup bulan
umur....hari, jenis kelamin....dengan hipoglikemia.
Dasar Subjektif :
a. Ibu mengatakan baru saja melahirkan bayinya pada tanggal .....
berjenis kelamin ....
b. Ibu mengatakan bayinya tidak mau menyusu dan keadaanya lemah.
Data obyektif pada kasus hipoglikemia:
1) Keadaan umum lemah.
2) Reflek moro, reflek rooting, reflek sucking, reflek grasping
dan reflek tonik neck lemah.
3) Bayi tampak pucat.
4) Kadar glukosa darah rendah kurang dari 45 mg/dl (Sihombing, 2013).
Masalah Aktual
Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien
yang ditemukan dari hasil atau menyertai diagnosa bidan membutuhkan
penanganan . Masalah-masalah yang sering dijumpai pada bayi dengan
hipoglikemia adalah gangguan sistem pernafasan,reflek hisap dan menelan
minuman, kesadaran menurun atau sering tidur (Sihombing, 2013)
Kebutuhan
Hal-hal yang dibutuhkan oleh pasien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa
dan masalah yang didapatkan dengan melakukan analisis data. Kebutuhan-
kebutuhan yang harus diberikan pada bayi baru lahir
dengan hipoglikemia adalah pemberian cairan yang cukup terutama ASI,
mengobservasi keadaan umum bayi secara intensif, menjaga
lingkungan bayi agar lingkungan nyaman dan hangat.

Diagnosa potensial
Diagnosa potensial adalah suatu pernyataan yang timbul berdasarkan diagnosa
atau masalah yang sudah teridentifikasi. Langkah ini mengidentifikasi
masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan
diagnosa yang sudah diidentifikasi Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila
bersiap-siap bila diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Pada kasus bayi baru lahir dengan hipoglikemia diagnosa potensialnya adalah
terjadinya penurunan kesadaran dan terjadi syok pada bayi
(Sihombing, 2013).
Masalah Potensial
Resiko injuri

Kurang pengetahuan

Intervensi

Sesuai penatalaksanaan dan terapi hypoglikemia

f. Penatalaksanaan
Secara mandiri
a.Mengobservasi keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital,memantau keadaan
bayi.
b.Mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
c. Bila tidak ada perubahan selama 24 jam dalam gejala-gejala tersebut segera
rujuk ke rumah sakit.
Kolaborasi
a.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian IVFD (Intra Vena Fluid Drip).
b.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Antibiotik 2250 mg IV
Rujukan
Melakukan BAKSOKUDa
B : Bidan Harus siap antar ibu ke rumah sakit
A : Alat alat yang akan di bawa saat perjalanan rujukan
K : Kendaraan yang akan mengantar ibu ke rumah sakit .
S : Surat rujukan disertakan .
O : Obat obata seperti infuse
K :Keluarga harus di beritahu dan mendampingi ibu saat saat di rujuk .
U :Uang untuk pembiayaan di rumah sakit .
Da : Darah untuk tranfusi .

Informed consent untuk keluarga apabila di lakukan tindakan kegawadaruratan di


rumah sakit yang membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga .

EVALUASI
Sesudah di lakukan penatalaksanaan neonatus dengan hipoglikemia , neonatus
mengalami kenaikan perbaikan glukosa plasma
DAFTAR PUSTAKA

Ledewig Patricia W.2006 .Asuhan ibu & Bayi Baru Lahir .Jakarta: EGC
Wildan dkk. 2008.Dokumentasi Kebidanan.Jakarta .Salemba Medika
Nursalam .2009.Manajemen Keperawatan .Jakarta:Salamba Medika
Maryunani, Nanik,dkk. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan.
Jakarta: Transinfomedia

Davies Mark W .2011.Catatan Saku Neonatologi.Jakarta:EGC

Iswanto,Joni. 2012. Hipoglikemia Pada Bayi. Jakarta : Salemba

Rukiyah, Ai Yeyeh.2012 .ASUHAN KEBIDANAN IV (Patologi


Kebidanan).Jakarta : TIM

Sihombing, H Menry. 2013. Hipoglikemia Pada Neonatus. Jakarta : Salemba


Medika
Dhanjal G,Chauhan ,Lohar ,December 2015,Neonatal Hypoglicemia Brain
Injury A Case Report . Indian Journal of Medical case Report .Volume 4.
http://www.Cibtech.org/jcr.htm. 4 Maret 2016

Anda mungkin juga menyukai