Anda di halaman 1dari 4

Resume Immunobiologi

Titis Sukmaningrum (14/364890/BI/9248)


RESPON IMUN Kholidatus Silmi (14/366834/BI/9294)
Eka Mulia Pratiwi (14/369154/BI/9382)
Respon imun terdapat 3 jenis: Farah Nadia Karima (14/368213/BI/9335)

1. Infeksi intraseluler dan ekstraseluler


2. Tumor
3. Transplantasi
4. Alergi

Gambar 1. Perbedaan respon imun pada ekstraselular dan intraselular.


Penjelasan secara rinci adalah sebagai berikut:
1. INFEKSI INTRASELULER DAN EKSTRASELULER
a. Pada infeksi intraseluler yaitu terjadi di dalam sel yang terjadi secara sitoplasmik
dan vesikular. Infeksi sitoplasmik terjadi di dalam sitoplasma sel dan tidak ada
aktivasi makrofag. Infeksi sitoplasmik dilakukan oleh virus dengan menginfeksi
sel jaringan melalui molekul reseptor, tidak melalui fagositosis. Tidak semua
bagian virus akan masuk ke tubuh, namun bagian envelope akan tertinggal.
Sedangkan infeksi vesikular terdapat aktivasi makrofag (makrofag berfungsi
sebagai antigen presenting cell (APC)). Antigen masuk ke dalam sel sehingga
makrofag akan teraktivasi.
b. Infeksi ekstraseluler yang terjadi pada intersitial dan epithelial.
Proteksi dalam tubuh tediri dari beberapa sistem:
a. Antibodi, terutama IgA yaitu terdapat di saluran-saluran tempat masuknya organisme
patogen seperti pencernaan, pernafasan, dan sebagainya.. Antibodi hanya mengenali
antigen ekstraseluler
b. Komplemen
c. Fagositosis
d. Nutralisasi
e. Antimicrobial
f. Peptides
g. Sel T sitotoksik dan NK cell, bekerja karena ada kerja makrofag. Aktivasi makrofag
karena ketika antigen masuk, fagosom akan mengaktifkan lisosom, sehingga memicu
makrofag sebagai APC (Antigen Presenting Cell).

IMUNITAS SELULER ADAPTIF (oleh sel limfosit T):


- Memerangi infeksi oleh mikrobia intra sel dan virus
- Menanggapi sel asing atau transplantasi
- Menanggapi sel dini yang bertransformasi (tumor)

INFEKSI VIRUS
- Virus menyebabkan infeksi laten karena material genetic masuk ke inti host-nya
- Sel non fagosit tidak memiliki mekanisme intrinsic untuk menghancurkan
mikrobia/virus di dalamnya.
- Infeksi terjadi pada sel-sel tertentu
Virus menginfeksi jaringan/sel melalui molekul reseptor. Mekanisme perkembangan
infeksi laten virus ada 2:

Virus menyebabkan infeksi laten-materi genetik virus berintegrasi ke dalam sel


inang-, sel inang memproduksi protein virus tanpa menghasilkan partikel yang
bersifat menular (tidak menghasilkan virus yang lengkap, maka tidak menular).
Dalam keadaan aktif, semua virus mampu memproduksi partikel virus serta
memproduksi protein dengan perangkat sel (menghasilkan virus lengkap, sehingga
ketika dilakukan pengujian terdapat banyak virus).

2 MEKANISME IMUNITAS SELULAR OLEH SEL T TERHADAP ANTIGEN


INTRASELULAR:
1) Sel T CD4+ : mengaktifkan fagosit untuk menghancurkan mikroba dalam fagosom
2) Sel T CD8+ : membunuh sel yang dihuni mikroba atau mengandung protein mikroba
dalam sitoplasmanya.

AKTIVASI SEL T
1. Aktivasi sel limfosit T berlangsung dalam organ limfoid dan limpa
2. Fagosit menelan mikroba-mencerna-menyajikan fragmen polipeptida mikroba dengan
perantara molekul MHC II pada sel T CD4+
3. Peptida dari mikroba dalam sitoplasma sel inang terinfeksi disajikan oleh MHC I
pada sel T CD8+
Pada dasarnya ketika gen virus masuk dalam sel untuk replikasi, tubuh akan mendeteksi hal
tersebut adalah sebuah proofreading. Sehingga tubuh akan bereaksi untuk melakukan pembacaan
ulang saat coding di replikasi. Namun, kemampuan setiap orang dalam menangatasi
proofreading berbeda-beda,
2. SEL TUMOR
- Dikenali sebagai konfigurasi asing
- Terdapat infiltrasi sel limfosit di jaringan tumor
- Molekul antigen atau tumor merupakan mutan yang diproduksi oleh sel, protein ini
normal namun diproduksi dalam jumlah yang berlebihan.
Mekanisme imun penolakan tumor: mekanisme dasar efek kerja sel T sitotoksik
yang spesifik untuk antigen tumor.
3. TRANSPLANTASI
Tedapatistilah donor sebagai pemberi, dan resipien sebagai penerima. Transplantasi
alogenik adalah suatu transplantasi milik orang lain kepadaseorangpasien. Terdapat
beberapa jenis transplantasi alogenik, setiap jenisnya diberi nama sesuai dengan
donor. Jenis-jenis tersebut adalah: singenikterjadi jika donor dan resipien adalah
saudara kembar identik; berhubungandonor memiliki hubungan keluarga dengan
resipien, biasanya saudara sekandung, jenis lainnya adalah tidak berhubungan yaitu
donor tidak memiliki hubungan dengan resipien. Xenogenotik apabila dilakukan
secara berbeda spesies.

4. ALERGI/HIPERSENSITIVITAS
Factor fisik seperti suhu dan panas dapat mengaktifkan sel mast. Untuk aktivasi sel mast
dan basofil, setidaknya membutuhkan hubung silang paling sedikit antara 2 molekul
reseptor secara tidak langsung. 3 mekanisme hubung silang antara lain saling berikatan,
anti IgE dan anti reseptor.
Gambar 2. Mast Cell dan respon alergi yang ditimbulkan