Anda di halaman 1dari 17

Pengangkutan Ikan Hidup Tanpa Bius

Disusun Oleh :

THP 15 Putra

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2017
2

I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara dengan jumlah laut hingga dari luas wilayahnya.
Potensi perikanan yang ada di Indonesia sangatlah besar sekali. Akan tetapi, karena
jumlah lautnya sangat luas, Negara Indoensia memiliki beberapa kendala dalam
memasarkan produk perikanannya terlebih lagi untuk produk perikanan yang hidup.
Penanganan ikan hidup adalah mempertahankan kelangsungan hidup ikan
semaksimal mungkin sampai ikan tersebut diterima oleh konsumen. Terdapat
beberapa tahap penanganan untuk mencapai maksud tersebut yaitu penanganan ikan
sebelum diangkut, selama pengangkutan dan setelah pengangkutan.
Transportasi produk perikanan khususnya ikan hidup terdapat beberapa macam
sistem, yaitu pengangkutan ikan dengan system basah dimana pengankutan
menggunakan media air. Sedangkan yang lain adalah pengankutan ikan dengan
system kering. Pengangkutan ikan dengan system ini tidak lagi menggunakan media
air, melainkan ikan dipisangkan.
Pengangkutan ikan hidup dengan media air sendiri dibagi menjadi dua jenis. Jenis
tersbut yaitu dengan system terbuka dan dengan system tertutup. Pada jenis pertama
yaitu tentang pengangkutan ikan dengan system terbuka, digunakan untuk
transportasi ikan dengan jarak yang dekat, apabila system terbuka digunaka untuk
pengangkutan jarak jauh, diperlukan instalasi oksigen. Pada system ini air langsung
bersentuhan dengan udara. Sedangkan untuk system tertutup air tidak bersentuhan
dengan udara serta dapat digunakan untuk pengangkutan ikan dengan jarak jauh dan
jarak dekat.
3

I.2. Tujuan dan Manfaat

Adapun Tujuan dan Manfaat dari pembuatan makalah ini:

1. Memberikan Informasi Mengenai Sistem Transportasi Ikan Hidup


2. Memberikan informasi mengenai Mekanisme Transportasi Ikan Hidup
3. Memberikan informasi mengenai keuntungan dan kendala transportasi ikan
hidup sistem basah
4

II. PEMBAHASAN

II.1. Transportasi Ikan Hidup

Prinsip dari penanganan ikan hidup adalah mempertahankan kelangsungan hidup


ikan semaksimal mungkin sampai ikan tersebut diterima oleh konsumen. Terdapat
beberapa tahap penanganan untuk mencapai maksud tersebut yaitu penanganan ikan
sebelum diangkut, selama pengangkutan dan setelah pengangkutan (Junianto 2003).
Menurut Arie (2000), terdapat beberapa kegiatan penanganan ikan hidup setelah
dilakukan pemanenan, yaitu: penyeleksian, penimbangan, pemberokan dan
pengangkutan.
a. Penyeleksian, dilakukan karena dalam satu periode pemanenan biasanya
ukuran ikan sangat beragam. Ikan perlu diseleksi dan dipisahkan menurut
ukurannya. Ikan yang berukuran kecil sebaiknya dipelihara kembali dalam
kolam pembesaran.
b. Penimbangan, ikan yang telah diseleksi ditimbang untuk mengetahui bobot
ikan dari satu periode pemeliharaan, maka dari bobot tersebut dapat diketahui
pendapatan dan keuntungan yang diperoleh.
c. Pemberokan, dapat diartikan sebagai kegiatan penyimpanan sementara
sebelum ikan dipasarkan dengan tujuan untuk membuang kotoran dalam
tubuh ikan. Pemberokan dapat dilakukan dalam bak, selama pemberokan ikan
tidak diberi pakan. Pemberokan dilakukan selama 24 jam untuk perjalanan
yang lebih dari 12 jam (Mangunkusumo 2009). Pemberokan dilakukan 1-2
hari untuk ikan ukuran konsumsi (Junianto 2003).
d. Pengangkutan, untuk ikan konsumsi dapat diangkut dengan berbagai cara,
tergantung tujuan pasar lokal, luar daerah ataupun ekspor. Angkutan lokal
biasanya menggunakan sistem basah, sedangkan untuk luar daerah yang jauh
dan ekspor dilakukan dengan sistem kering.
5

Transportasi ikan hidup pada dasarnya adalah memaksa menempatkan ikan


dalam suatu lingkungan baru yang berlainan dengan lingkungan asalnya dan disertai
perubahan-perubahan sifat lingkungan yang sangat mendadak (Hidayah 1998). Ada
dua sistem transportasi yang digunakan untuk hasil perikanan hidup di lapangan.
Sistem transportasi tersebut terdiri dari transportasi sistem basah dan transportasi
sistem kering (Junianto 2003).
Menurut Jailani (2000), pada transportasi sistem basah, ikan diangkut di
dalam wadah tertutup atau terbuka yang berisi air laut atau air tawar tergantung jenis
dan asal ikan. Pada pengangkutan dengan wadah tertutup, ikan diangkut di dalam
wadah tertutup dan suplai oksigen diberikan secara terbatas yang telah
diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan selama pengangkutan. Pada pengangkutan
dalam wadah terbuka, ikan diangkut dengan wadah terbuka dengan suplai oksigen
secara terus menerus dan aerasi selama perjalanan. Transportasi basah biasanya
digunakan untuk transportasi hasil perikanan hidup selama penangkapan di tambak,
kolam dan pelabuhan ke tempat pengumpul atau dari satu pengumpul ke pengumpul
lainnya.
Menurut Achmadi (2005), transportasi ikan hidup tanpa media air (sistem
kering) merupakan sistem pengangkutan ikan hidup dengan media pengangkutan
bukan air. Pada transportasi ikan hidup tanpa media air, ikan dibuat dalam kondisi
tenang atau aktivitas respirasi dan metabolismenya rendah. Transportasi sistem kering
ini biasanya menggunakan teknik pembiusan pada ikan atau ikan dipingsankan
(imotilisasi) terlebih dahulu sebelum dikemas dalam media tanpa air (Suryaningrum
et al. 2007).
Menurut Kuncoro (2004), proses pengangkutan ikan memerlukan teknik dan
perlakuan yang berbeda-beda tergantung jarak yang akan ditempuh. Proses
pengangkutan ikan ada dua cara yakni cara tertutup dan terbuka. Pada setiap proses
pengangkutan ikan hidup, ikan harus dikondisikan untuk mengkonsumsi oksigen
sekecil mungkin karena konsumsi oksigen dari sejumlah ikan yang diangkut
membatasi lamanya pengangkutan. Menurut Hariyanto et al. (2008), suhu yang tinggi
menyebabkan ikan bernafas lebih cepat sehingga ikan mudah lelah, stres dan
6

kebutuhan oksigen juga meningkat. Dengan demikian, proses pengeluaran kotoran


menjadi cepat akibatnya kualitas air menurun dan mengakibatkan kematian ikan.
Untuk mengatasi masalah ini, dapat dilakukan dengan menurunkan suhu medium
hidupnya atau menggunakan bahan-bahan pembius (anestesi) baik alami maupun
buatan (Karnila, 2001).
Faktor-faktor yang mempengaruhi transportasi ikan hidup dapat dibagi
menjadi beberapa macam diantaranya jenis ikan dan kepadatan. Kepadatan ikan
adalah bobot ikan yang berada pada suatu wadah dan waktu tertentu. Kepadatan ikan
yang dapat diangkut tiap wadah, dengan atau tanpa kematian ikan merupakan
persoalan penting dalam pengangkutan.
7

II.2. Mekanisme dan procedure pengangkutan ikan hidup

Pengangkutan adalah kegiatan memindahkan atau membawa suatu barang, atau

benda lainnya dari satu tempat ke tempat lainnya. Tujuan utama pengangkutan adalah

barang yang dibawa bisa sampai di tempat tujuan dalam keadaan utuh, atau tidak

rusak sedikitpun. Perubahan bentuk, perubahan rasa, dan ke-tidak-lengkapan dapat

menurunkan nilai barang itu. Agar tujuan itu bisa terwujud, maka alat yang digunakan

dalam pengangkutan harus cocok, yaitu alat yang bisa menjaga keutuhan barang itu.

Selain itu, pengangkutan juga harus menggunakan cara yang baik. Bila keduanya

tidak dilakukan, sudah pasti barang itu tidak akan sampai dalam keadaan utuh.

Keadaan itu sangat merugikan.

Seperti pengangkutan barang, pengangkutan ikan juga memiliki arti dan

tujuan yang sama. Namun alat, dan cara yang digunakan dalam pengangkutan ikan

berbeda dengan alat, dan cara dalam pengangkutan buku. Karena buku benda mati

yang tidak mudah rusak. Sedangkan ikan mahluk hidup yang kemungkinan besar bisa

rusak, bahkan mati.

Untuk menentukan alat dan alat pengangkutan sangat tergantung dari

karakteristik, dan sifat-sifat hidup ikan, terutama segala sesuatu yang berhubungan

dengan pernapasannya. Jangan sampai selama pengangkutan alat pernapasannya

terganggu. Itu bisa menyebabkan kematian total.


8

SISTEM PENGANGKUTAN IKAN

A. Pengangkutan Ikan Sistem Terbuka

Mengangkut ikan ada dua sistem, yaitu sistem tertutup dan sistem terbuka.

Terbuka adalah sistem pengangkutan ikan dimana air dalam wadah angkut kontak

langsung dengan udara sebagai sumber oksigen. Sistem ini umumnya digunakan

untuk mengangkut ikan dalam jarak yang dekat, misalnya dari kolam ke kolam dalam

lokasi yang sama. Bisa juga untuk jarak jauh, dan waktu yang lama, asalkan

dilengkapi instalasi pengangkutan dan persediaan oksigen yang cukup selama

pengangkutan.

Pengangkutan Ikan Sistem Terbuka

B. Pengangkutan Ikan Sistem Tertutup

Sedangkan tertutup adalah sistem pengangkutan ikan dimana air dalam wadah

angkut tidak kontak langsung dengan udara bebas, karena tertutup rapat oleh wadah

angkut. Oksigen yang dibutuhkan oleh ikan selama pengangkutan berasal dari tabung

oksigen yang dihembuskan sebelumnya. Sistem ini bisa digunakan, baik untuk jarak
9

dekat maupun jarak jauh, baik untuk waktu yang singkat maupun untuk waktu yang

lama.

Pengangkutan Ikan Sistem Tertutup

C. Faktor - Faktor Penting Yang Harus Diperhatikan Dalam Pengangkutan Ikan

Sebenarnya mengangkut ikan hampir sama dengan memelihara. Bedanya kalau

memelihara wadahnya diam, sedangkan kalau mengangkut wadahnya bergerak. Beda

lainnya adalah kepadatan, dimana saat mengangkut kepadatannya jauh lebih sangat

tinggi dibandingkan dengan memelihara.

Ikan bernapas dengan insang, dan mengambil oksigen dari dalam air. Agar bisa

bernapas dengan bebas, diperlukan oksigen yang cukup. Namun keadaan oksigen

dalam alat pengangkutan berbeda dengan di kolam. Ketersediaan sangat terbatas,

hanya cukup untuk beberapa jam saja.

Karena itu, salah satu prinsip dalam pengangkutan ikan adalah bagaimana

menciptakan suasana dalam alat pengangkutan agar ikan bisa bernapas dengan baik,
10

sehingga bisa bertahan hidup hingga di tujuan. Satu hal lagi yang harus menjadi

perhatian adalah selama pengangkutan ikan mengeluarkan kotoran.

Untuk menciptakan suasana seperti itu, maka ada tiga faktor penting yang harus

diperhatikan dalam pengangkutan ikan, yaitu kepadatan, waktu pengangkutan dan

perlakuan, sebelum dan selama pengangkutan. Bila ketiga faktor itu diperhatikan

dengan baik, maka prinsip pengakutan bisa tercipta.

Kepadatan ikan tidak boleh teralu tinggi agar tidak berdesak-desakan. Sediakan

sedikit areal, atau sekitar setengah bagian dari tubuhnya. Kepadatan dalam satu

wadah sangat tergantung dari ukuran ikan. Ikan yang berukuran kecil, jumlahnya

lebih banyak dari ikan besar.

Kepadatan juga sangat tergantung dari lamanya pengangkutan. Ikan yang

diangkut dalam waktu yang lebih lama, kepadatannya harus lebih rendah, dibanding

ikan yang diangkut dalam waktu yang singkat. Ini sangat tergantung dari ketersediaan

oksigen selama pengangkutan.

Waktu pengangkutan juga harus diperhatikan. Karena ikan hidup pada kisaran

suhu tertentu. Suhu yang melebihi ambang batas hidupnya bisa berakibat fatal.

Demikian juga dengan suhu yang kurang dari ambang batas hidupnya. Namun yang

sering terjadi adalah melebihi ambang batas, karena selama pengangkutan, suhu akan

naik.

Menentukan waktu pengangkutan harus tepat. Ini berkaitan erat jarak yang akan

tempuh dan lamanya pengangkutan. Selain itu juga berkaitan erat dengan prinsip
11

pengangkutan, yaitu bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi ikan. Waktu

kapan akan terjadi suasana seperti itu.

Tentu saja itu terjadi pada suhu rendah. Karena itu pengangkutan ikan harus

dilakukan pada malam hari, sehingga bila terjadi kenaikan suhu selama

pengangkutan, kenaikan itu tidak terlalu tinggi. Bila ikan akan diangkut selama 12

jam, maka berangkatnya harus sore hari, sehingga tiba di tempat tujuan pada malam

atau pagi hari.

Perlakuan pada ikan yang akan diangkut juga turut menentukan kesuksesan

dalam menerapkan prinsip pengangkutan ikan, baik sebelum maupun selama

pengangkutan. Ini juga berkaitan erat dengan sifat ikan. Justru inilah yang menjadi

faktor terpenting dari yang lainnya, dan menjadi kiat dalam pengangkutan. Kiat-kiat

itu diantaranya :

Pertama : Ikan yang akan diangkut harus diberok dahulu. Yaitu ditampung dalam

bak dengan aliran air bersih, dan tidak diberi pakan tambahan. Tujuan pemberokan

adalah untuk mengeluarkan kotoran dari tubuh ikan. Karena ikan yang baru dipanen

banyak mengandung kotorannya.

Bila tidak diberok, maka selama pengangkutan, ikan akan mengeluarkan

kotoran, dan kotoran itu akan menurunkan kualitas air dalam alat pengangkutan,

dimana kandungan karbondioksida dan amoniak tinggi, sedangkan kandungan

oksigen rendah. Keadaan ini bisa menyebabkan ikan tidak bisa hidup dengan dan

tidak bisa bernapas dengan bebas.


12

Kedua : ikan harus diseleksi terlebih dahulu, yaitu dilakukan pemisahan antara

ikan yang berukuran besar, sedang dan kecil. Tujuan seleksi adalah agar ukuran ikan

menjadi seragam, sehingga bila diangkut tidak terjadi persaingan yang terlalu jauh

sesama ikan yang diangkut.

Persaingan itu berupa persaingan dalam memperebutkan tempat, dimana ikan

yang besar bisa menyisihkan ikan yang kecil. Keadaan ini bisa menyebabkan ikan

kecil mati. Persaingan juga bisa berupa persaingan dalam mendapatkan oksigen,

dimana ikan besar dapat menggunakan oksigen lebih banyak dari ikan kecil.

Ketiga : ikan harus ditreatmen, atau disucihamakan terlebih dahulu, yaitu dengan

cara merendam dalam obat tertentu, contoh Kalium Permanganat (PK), dengan dosis

tertertu dan dalam waktu, atau lamanya tertentu pula. (lihat teknik mengobati

penyakit ikan).

Tujuan treatmen adalah agar ikan-ikan yang akan diangkut terbebas dari segala

penyakit. Ikan yang sakit bisa terobati, dan ikan yang sehat bisa dicegah agar tidak

terserang penyakit. Penyakit bisa menjadi penyebab kematian dalam pengangkutan.

Selain itu, bisa menjadi penyebab tersebarnya satu penyakit dari satu daerah ke

daerah lain.
13

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pengankutan Ikan Hidup Media Air

Menurut Jangkaru et al.(2011), secara garis besar pengankutan ikan hidup dibagi

dalam sistem terbuka dan sistem tertutup. Pada sistem terbuka, ikan yang diangkut

berhubungan langsung dengan udara bebas. Sebaliknya pada pengangkutan sistem

tertutup selama pengangkutan ikan hanya berhubungan dengan udara di dalam wadah

saja.

Pengankutan system terbuka yaitu ikan hidup yang diangkut dengan wadah atau

tempat yang media airnya masih dapat berhubungan dengan udara bebas.

Pengankutan system ini biasa digunakan untuk pengangkutan jarak dekat dan

membutuhkan waktu yang tidak begitu lama.

Kelebihannya :

Difusi oksigen melalui udara ke media air masih dapat berlangsung, dapat

dilakukan penambahan oksigen melalui aerator, dan dapat dilakukan

pergantian air sebagian selama perjalanan. Sistem ini sangat cocok untuk

pengiriman ikan ukuran konsumsi.

Kekurangannya :

Dapat membahayakan ikan dan tidak dapat dilakukan untuk pengiriman

menggunakan pesawat terbang.

Pengankutan ikan system tertutup yaitu pengankutan ikan hidup yang dilakukan

dengan tempat atau wadah tertutup, udara dari luar tidak dapat masuk kedalam media
14

tersebut. Pengangkutan dengan cara ini dapat dilakukan untuk pengangkutan jarak

jauh. Seperti halnya dengan system terbuka, pengemasan system tertutup ini juga

memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya antara lain :

media air tahan terhadap guncangan selama pengangkutan, dapat

dilakukan untuk pengangkutan jarak jauh (dengan pesawat terbang),

memudahkan penataan dalam pemanfaatan tempat selama pengangkutan.

kekurangannya antara lain :

media air tidak dapat bersentuhan dengan udara langsung (tidak ada difusi

oksigen dari udara) sehingga tidak ada suplai oksigen tambahan, tidak

dapat dilakukan pergantian air, dan memerlukan kecermatan dalam

memperhitungkan kebutuhan oksigen dengan lama waktu perjalanan.


15

III. KESIMPULAN

III.1. Kesimpulan
1. Transportasi ikan hidup media air merupakan pengangkutan ikan
dengan adanya air sehingga ikan tidak perlu dilakukan pembiusan.
2. Prosedur pengangkutan ikan hidup dimulai dari pra pengangkutan,
pengangkutan dan pasca pengankutan.
3. Terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan yang ada pada
pengankutan ikan hidup media air
16

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi D. 2005. Pembiusan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan tegangan


listrik untuk transportasi sistem kering [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Arie U. 2000. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Jakarta: Penebar Swadaya.
Arini, E., T. Elfitasar, S.H. Pumanto.2011.Pengaruh Kepadatan Berbeda terhadap
Kelulushidupan Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata Blkr.) pada
Pengakutan Sistem Tertutup.Jurnal Saintek Perikanan.7(1):10-18
Hidayah AM. 1998. Studi Penggunaan Gas CO2 sebagai Bahan Pembius untuk
Transportasi Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.).
http://help.lycos.com/newticket.php.
Jailani. 2000. Mempelajari pengaruh penggunaan pelepah pisang sebagai bahan
pengisi terhadap tingkat kelulusan hidup ikan mas (Cyprinus carpio)
[skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Karnila R, Edison. 2001. Pengaruh suhu dan waku pembiusan bertahap terhadap
ketahanan hidup ikan jambal siam (Pangasius sutchi F) dalam ransportasi
sistem kering. Jurnal Natur Indonesia III (2): 151-167 (2001).
Kuncoro EB. 2004. Nila, Mujair dan Kerabat Dekatnya. http://indonesian-
angling.blogspot.com/2009/07/berita-sains-nila-mujair-dankerabat.html.
Mangunkusumo AS. 2009. Transportasi Ikan Hidup.
http://naksara.net/Aquaculture/Application/transportasi-ikan-hidup.html.
17

LAMPIRAN

GAMBAR TRANSPORTASI DENGAN MINYAK CENKEH

Anda mungkin juga menyukai