Anda di halaman 1dari 43

EXECUTIVE SUMMARY

UJI MODEL KERJASAMA PEMERINTAH,


SWASTA, DAN MASYARAKAT DALAM
PENGELOLAAN TPA REGIONAL

TAHUN ANGGARAN 2011

1
1. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan penduduk dan aktivitas sosial ekonomi di perkotaan mempunyai
korelasi positif terhadap peningkatan jumlah dan jenis sampah. Beragam aktifitas
sosial ekonomi di perkotaan, memunculkan sejumlah sampah non konvensional
yang pada gilirannya akan bermuara pada ancaman terhadap keberlanjutan
ekosistem. Dalam Statistik Persampahan 2008 yang di laporkan Kementerian
Negara Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa total timbunan sampah di Indonesia
sebesar 38,5 juta ton / tahun dengan komposisi 58 % sampah dapur, 14 % plastik, 9
% kertas dan 19 % sampah lainnya. Dari total sampah tersebut, sekitar 14,1 juta ton
atau 36 % merupakan sampah di kota besar dan metropolitan.
Dengan besarnya beban pengelolaan sampah khususnya di kota besar dan
metropolitan, maka berbagai kebijakan dikeluarkan untuk menjawab permasalahan
tersebut. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
mengamanatkan adanya kerjasama dan kemitraan antar pemerintah daerah, badan
usaha dan masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah. Pasal 26 ayat 1
menyebutkan Pemerintah daerah dapat melakukan kerjasama antar pemerintah
daerah dalam melakukan pengelolaan sampah. Sementara pada pasal 27 ayat (1)
menyebutkan: Pemerintah daerah kabupaten/kota secara sendiri-sendiri atau
bersama-sama dapat bermitra dengan badan usaha pengelolaan sampah dalam
penyelenggaraan pengelolaan sampah.
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta
Karya menindaklanjuti amanat Undang-undang tersebut dengan mengeluarkan
kebijakan pengelolaan TPA diperkotaan dilaksanakan dengan menggunakan TPA
Regional. Selain itu Pemerintah juga mendorong kerjasama antar pemerintah
daerah, swasta dan masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Upaya fasilitasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Cipta Karya dalam
menggalang kerjasama antar pemerintah daerah, swasta dan masyarakat
dilapangan mengalami beberapa kendala. Kendala yang cukup menonjol antara lain
sulitnya membangun kesepakatan dalam kerjasama pengelolaan TPA regional dan
belum terbentuknya Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Padahal kedua hal
tersebut menjadi prasyarat untuk menjalin kerjasama yang lebih luas khusunya
dengan swasta dan masyarakat.
Dalam konteks permasalahan tersebut, Balai Penelitian dan Pengembangan
Sosial, Ekonomi,dan Lingkungan Bidang Permukiman telah melakukan serangkaian
2
penelitian dan pengembangan sejak tahun 2008 2010. Dari rangkaian kegiatan
tersebut telah menghasilkan sebuah model kerjasama pemerintah, swasta dan
masyarakat dalam pengelolaan TPA regional dengan sebutan model joint service
agreement (JSA). Dengan model kerjasama ini diharapkan dapat meningkatkan
efektifitas pengelolaan sampah dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan
perkotaan.
Untuk melihat kinerja model kerjasama diperlukan suatu uji model kerjasama
pemerintah, swasta dan masyarakat dalam pengelolaan TPA regional. Dengan uji
model ini diharapkan dapat diketahui kinerja model kerjasama secara terukur. Hasil
uji model diharapkan dapat menjadi bahan yang telah teruji dalam penyusunan
konsep pedoman kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat dalam
pengelolaan TPA regional.

2. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN


Deskripsi Lokasi Penelitian Malang Raya
Wilayah Malang Raya merupakan suatu kawasan yang meliputi sebagian wilayah
eks Karesidenan Malang yang terdiri dari kabupaten Malang, kota Malang dan
kota Batu. Wilayah ini secara kultural terikat pada suatu komunitas buday yang di
sebut dengan Arek Malang atau Arema yang mencakup juga sebagian kecil
wilayah kabupaten Pasuruan seperti Sukorejo, Purwosari, Purwodadi, dan Pandaan.
Penyebutan Malang Raya mulai populer ketika kecamatan Batu ditetapkan
sebagai kota administratif hingga kemudian menjadi kota otonom yang terpisah
secara administratif dengan kabupaten Malang. Dalam perkembangannya, tiga
kepala daerah di wilayah Malang Raya sering berkoordinasi dalam setiap kegiatan
yang berpotensi melibatkan ketiga wilayah administratif tersebut. Hal ini menjadikan
kebijakan-kebijakan pemerintahan yang diambil tidak berbenturan antar-wilayah.
Kabupaten Malang berdasarkan jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar
2.442.422 menghasilkan sampah rata-rata per hari sebesar 3.920 m. Komposisi
sampah masih di dominasi oleh sampah organik sebesar 66,07 % sedangkan
sampah an-organik sebesar 33,93 %. Untuk tingkat pelayanan pengelolaan sampah
masih sangat terbatas. Tingkat pelayanan baru menjangkau sekitar 36 % dari total
produksi sampah yang dihasilkan. Hal ini tentunya masih menjadi pekerjaan rumah
yang cukup berat bagi kabupaten Malang.

3
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang kabupaten Malang membagi 7 wilayah
pelayanan dimana setiap wilayah dilayani oleh satu unit pelaksana teknis dinas
(UPTD). Untuk sarana dan prasarana yang tersedia guna melaksanakan tugas
kebersihan dan pengelolaan sampah, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang kabupaten
Malang memiliki beberapa sarana dan prasarana. Adapun sarana dan prasarana
yang tersedia antara lain ; 11 Dump Trucks, 13 Arm Rolls, 99 Containers, 103
Barrows, 6 Wagon Motors. Untuk tenaga kebersihan sebesar 171 pasukan kuning.
Sedangkan untuk alat berat sejumlah 3 bulldozers, 1 ekskavator, and 1 wheel
loader.
Sampah-sampah yang diangkut untuk selanjutnya diproses di tempat
pemrosesan akhir (TPA) sampah. Kabupaten Malang memiliki 6 buah TPA sampah
terdiri dari :
1. TPA Sampah Randuagung Singosari dengan luas 2,0 Ha dan area yang
sudah dimanfaatkan sebesar 80%.
2. TPA Sampah Paras Poncokusumo dengan luas 1,2 Ha dan area yang sudah
dimanfaatkan sebesar 50%.
3. TPA Sampah Bululawang dengan luas 0,8 Ha dan area yang sudah
dimanfaatkan sebesar 100%.
4. TPA Sampah Rejosari Bantur dengan luas 2,0 Ha dan area yang sudah
dimanfaatkan sebesar 80%.
5. TPA Sampah Talangagung Kepanjen dengan luas 2,0 Ha dan area yang
sudah dimanfaatkan sebesar 60%.
6. TPA Sampah Madiredo Pujon dengan luas 0,8 Ha dalam kondisi baru.

Kota Malang secara geografis berada pada 112349-1124134 Bujur Timur


dan 7542-835 Lintang Selatan di ketinggian antara 400-650 meter diatas
permukaan laut (dpl). Berdasarkan letak tersebut, Kota Malang memiliki udara sejuk
dengan suhu rata-rata 22,2C sampai dengan 24,13C dan kelembaban udara 74%-
82% serta curah hujan rata-rata 1.883 milimeter per tahun. Kota Malang mempunyai
luas wilayah 110,0566 Km2. Menurut hasil proyeksi pada tahun 2007, penduduk
Kota Malang sebanyak 805.860 jiwa (pada malam hari dan 1 (satu) juta jiwa pada
siang hari) yang memiliki komposisi penduduk laki-laki sebanyak 400.873 jiwa dan
penduduk perempuan sebanyak 404.987 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk Kota
Malang rata-rata mencapai 7.120 jiwa per km.
4
Dengan laju pertumbuhan penduduk mencapai 0,80% per tahun, kota Malang
menjadi daerah hunian yang semakin padat ditambah oleh pembangunan
perumahan dan permukiman baru di wilayah pinggiran kota dan pertumbuhan
kawasan perdagangan formal maupun informal yang semakin marak disamping
munculnya slum area di beberapa lokasi permukiman yang telah ada sebelumnya.
Dengan bertambahnya penduduk, maka volume sampah setiap tahun
mengalami kenaikan. Berdasarkan data volume sampah tahun 2006 sampah yang
dihasilkan sebesar 259.832 m/hari. Selang 3 (tiga) tahun kemudian padatahun 2009
volume sampah yang dihasilkan sebesar 343.266 m/hari. Sampah sampah
tersebut diangkut dari 43 TPS yang tersebar di berbagai wilayah di kota Malang.
Untuk TPA yang ada di kota Malang terdapat TPA Supit Urang yang terletak di
kelurahan Mulyorejo seluas 15 Ha. Setiap hari ada sekitar 400 ton sampah yang
masuk ke TPA sampah. Dari luasan tersebut, sudah sebesar 75 % sudah penuh
dengan sampah. Menurut kepala dinas kebersihan dan pertamanan kota Malang,
secara de facto TPA Supit Urang sudah menjadi TPA bersama karena setiap
harinya juga melayani sampah dari kabupaten Malang seperti dari daerah Wagir dan
Pakis yang berada di pereumahan Sawojajar II.
Berdasarkan database Dinas Kebersihan kota Batu, volume sampah yang
diproduksi sebesar 475 m / hari. Dari sampah yang dihasilkan hanya 245 m / hari
yang terangkut ke TPA sampah. Tingkat pelayanan kebersihan yang dilakukan di
kota Batu baru sebesar 66 % dimana 16 desa/kelurahan sudah terlayani sedangkan
8 desa/kelurahan belum terlayani. Utuk melayani pengengkutan sampah di kota
Batu, Dinas Kebersihan kota Batu memiliki 5 unit dump truck, 6 unit amroll truck, 1
unit open truck dan 1 unit shovel. Selain itu dari sumber sampah ke TPS dilayani
oleh 116 unit gerobak sampah yang tersebar di berbagai titik di kota Batu.
Untuk menampung sampah-sampah dari warga, telah dibangun berbagai tempat
penampungan semantara (TPS) diberbagai titik sejak tahun 2006. Pada tahun 2006
talah dibangun TPS sebesar 7 unit, tahun 2007 ada penambahan sebesar 5 unit,
tahun 2008 4 sebesar unit, tahun 2009 sebesar 7 unit serta tahun 2010 sebesar 4
unit. Sampah sampah dari TPS untuk selanjutnya diproses di TPA Tlekung yang
berada di wilayah kelurahan Tlekung dengan luas sebear 6,08 Ha.
Wilayah Malang Raya merupakan salah satu dari 8 (delapan) wilayah yang
direncanakan akan diimplementasikan pengelolaan sampah terpadu secara
regional. Kebijakan ini dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan
5
diperkuat dengan Peraturan Daerah No. Tahun 2010. Berdasarkan Perda tersebut,
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan upaya-upaya fasilitasi kerjasama antar
daerah di wilayah Malang Raya. Adapun upaya-upaya tersebut meliputi identifikasi
kelayakan teknis, kerjasama pengelolaan sampah terpadu di wilayah Malang Raya,
peningkatan kapasitas SDM melalui studi banding pengelolaan sampah terpadu di
Perancis, dan berbagai koordinasi baik dengan pemerintah pusat maupun
pemerintah kabupaten/kota di Malang Raya.
Upaya fasilititasi kerjasama ini telah membuahkan hasil dengan telah
ditandatanganinya kesepakatan bersama antara pemerintah kota Malang,
pemerintah kabupaten Malang dan pemerintah kota Batu dalam kerjasama
pembangunan daerah pada tanggal 8 Maret 2011. Kesepakatan kerjasama ini
sifatnya masih umum, meliputi berbagai bidang pembangunan daerah. Dalam
kesepakatan tersebut terdapat 18 bidang yang disepakati untuk dikerjasamakan.
Untuk urusan pengelolaan sampah terwakili pada bidang sanitasi dan lingkungan
hidup.
Setelah kesepakatan bersama ditandatangani, tahap selanjutnya yang akan
dilakukan adalah menyusun perjanjian kerjasama yang delegasikan kepada Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sesuai tugas pokok dan fungsinya. Dalam
perjanjian kerjasama ini. Dalam perjanjian kerjasama ini, untuk masing-masing
bidang khususnya bidang pengelolaan sampah akan diatur secara lebih detail.
Dengan demikian, perjanjian kerjasama ini nantinya yang digunakan sebagai
pedoman/petunjuk pelaksanaan kerjasama pengelolaan sampah regional di wilayah
Malang Raya.
SKPD yang memiliki tugas pokok dan fungsi melakukan pengelolaan sampah di
masing-masing kabupaten/kota berbeda-beda. Pada kabupaten Malang SKPD yang
terkait adalah Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang. Untuk kota Malang SKPD terkait
adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan, sedangkan untuk kota Batu adalah
Dinas Kebersihan Kota Batu. Dalam perjalanan kerjasama pengelolaan sampah
regional, masing masing SKPD ini memiliki peran sebagai ujung tombak
pelaksanaan kerjasama dilapangan. Mereka juga memiliki peran strategis dalam
memberikan masukan-masukan kebijakan kepada Bupati/Walikota terkait
pelaksanaan kerjasama yang akan dilaksanakan.
Berdasarkan survey instansional, upaya mengembangakan kesepakatan
kerjasama di bidang pengelolaan sampah cukup dinamis. Isu-isu pokok yang dapat
6
diidentifikasi terkait perkembangan regionalisasi pengelolaan sampah di Malang
Raya antara lain; isu pelayanan sampah lintas wilayah administrasi, penetapan
lokasi TPA regional, dan pembiayaan pengelolaan sampah regional. Pada isu
pertama, warga kabupaten Malang yang berada di perbatasan dengan kota Malang
selama ini dianggap telah membuang sampahnya ke TPA Supit Urang yang secara
administratif berada di wilayah kota Malang. Kondisi ini menjadi dasar bagi
pemerintah kota Malang dalam memaknai regionalisasi pengelolaan sampah dimana
TPA Supit Urang sudah melayani pengelolaan sampah secara regional sehingga
perlu legalisasi yang kuat. Pada sisi yang lain, pemerintah kabupaten Malang
menganggap pemaknaan regionalisasi pengelolaan sampah yang seperti itu sangat
berlebihan karena terkesan menyalahkan masyarakat kabupaten Malang. Bagi
kabupaten Malang urusan pengelolaan sampah di perkotaan Malang Raya
merupakan urusan bersama yang lintas wilayah administrasi sehingga jangan
sampai disekat-sekat hanya berdasarkan wilayah.
Pada isu kedua, terkait penetapan lokasi TPA regional hasil studi dari
pemerintah pusat (Cipta Karya) merekomendasikan TPA Supit Urang menjadi lokasi
TPA regional. Dalam perspektif kabupaten Malang, kalau TPA Supit Urang dijadikan
sebagai lokasi TPA regional dikhawatirkan tidak bisa bertahan lama karena lahan
yang dimiliki sudah sempit. Kekhawatiran ini didasarkan pada pengalaman tahun
2000 dimana TPA Supit Urang pernah berhenti beroperasi akibat over load.
Pemerintah kota Malang memang berencana membebaskan lahan disekitar TPA
Supit Urang, namun menurut pemkab Malang lahan tersebut berada di wilayah
kabupaten Malang. Untuk membebaskan lahan-lahan tersebut, semestinya ada
koordinasi dan ijin dari Bupati Malang. Hal inilah yang menurut pemerintah
kabupaten Malang belum dilakukan oleh pemerintah kota Malang. Namun demikian,
secara prinsip apabila pemerintah provinsi Jawa Timur berdasarkan studi kelayakan
dan teknologi yang sedang dilakukan saat ini merekomendasikan TPA regional di
Supit Urang, pemkab Malang siap melaksanakan keputusan tersebut.
Untuk isu ketiga terkait pembiayaan tidak bisa dilapaskan dari isu pertama
dimana proses legalisasi pembuangan sampah oleh warga kabupaten Malang ke
TPA Supit Urang untuk menjustifikasi adanya tipping fee dari kabupaten Malang
kepada kota Malang. Aspek pembiayaan ini harus dicermati dan didesain secara
hati-hati karena berpotensi besar merusak kerjasama yang sedang dibangun.

7
Deskripsi Lokasi Penelitian Bandung Raya (Metro Bandung)
Konsep perencanaan pengelolaan sampah di Kota Bandung telah bergulir sejak
tahun 2004. Dimulai dengan kajian karakteristik cekungan Bandung yang
memberikan kecenderungan pencemaran lingkungan yang cukup tinggi dilihat dari
morfologi kota. Pencemaran dari TPA yang melayani 6 kab/kota dengan sistem
open-dumping, saat itu cukup mendapat sorotan. Kajian ini dilanjutkan dengan
Western Java Environmental Management Project (WJEMP) dan Greater Bandung
Waste Management Project (GBWMP). Hasil kajian memperlihatkan bahwa harus
ada sebuah sistem pengelolaan sampah terpadu yang ramah lingkungan.
Tahun 2004 sudah dibuat MoU atau kesepakatan tentang pengelolaan sampah
terpadu di Bandung dan sekitarnya yang dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi
Jabar. Namun, kelembagaan sulit terbentuk dan selama 1 tahun tidak berfungsi.
Pada tahun 2005, terjadi tragedi longsor TPA Leuwigajah yang kemudian menuntut
penyelesaian yang cepat dan terpadu serta berkelanjutan. Oleh karena didasarkan
pada Keputusan Gubernur tahun 2006, Dinas Tarkim membentuk unit pengelola
operasional namun terhenti karena kendala anggaran. Tahun 2007 berdasarkan
Pergub 31/2007 dibentuk Pusat Pengelolaan Persampahan Jawa Barat (P3JB)
namun tidak berjalan lancar karena terkendala pertanggungjawaban anggaran. Saat
itu, P3JB belum memiliki jalur struktural yang jelas. Peraturan Gubernur ini
diperbarui melalui Pergub 12/2009 yang menyebutkan perubahan dari P3JB menjadi
Balai Pengelolaan Sampah Regional (BPSR) Jawa Barat sebagai unit pelaksana
teknis. Sampai saat ini badan ini bertanggungjawab langsung terhadap Gubernur
Jawa Barat tentang perencanaan TPA regional dan pelaksanaan pengelolaan
sampah di TPA sementara.
Permasalahan penanganan sampah pasca musibah longsor Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Leuwigajah, khususnya di wilayah Kota
Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung (sekarang Kabupaten Bandung
barat), yaitu tidak tersedianya lokasi baru pengganti TPA Sampah Leuwigajah,
sehingga menimbulkan kondisi bertumpuknya sampah di wilayah perkotaan yang
sangat potensial menimbulkan gangguan kesehatan lingkungan dan kesehatan
masyarakat serta masalah estetika, yang berdampak pada gangguan pembangunan
bidang lainnya.
Penanggulangan permasalahan penanganan sampah tersebut telah menjadi
perhatian dari Pemerintah Kabupaten/Kota beserta Muspida di wilayah Metropolitan
8
Bandung. Oleh karena itu dibangun TPAS yang baru di Desa Sarimukti, Kecamatan
Cipatat, Kabupaten Bandung Barat untuk menjamin berlangsungnya pelayanan
penanganan sampah di wilayah Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten
Bandung Barat. Hal ini didasarkan pada Kesepakatan Bersama dengan Perum
Perhutani No. 658.1/14/Desen/2006 tanggal 4 Agustus 2006 tentang pengelolaan
sampah menjadi kompos dalam areal kawasan hutan dan Perjanjian Kerjasama
dengan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten tentang kerjasama
pengelolaan sampah menjadi kompos di tempat pengolahan kompos (TPK)
Sarimukti.
Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani tanggal 29 Januari 2009 disebutkan
bahwa pembangunan sarana dan prasarana serta pengadaan peralatan pengolahan
kompos dan penimbunan sampah dan pengalokasian biaya operasional didukung
pemerintah pusat. Selain itu dibentuk lembaga pengelolaan sampah regional (saat
ini bernama BPSR) untuk mengelola TPA Sarimukti di bawah koordinasi Pemerintah
Provinsi Jawa Barat. Perjanjian kerjasama ini belum bersifat hukum mengikat, oleh
karena itu akan dibuat keputusan bersama yang lebih spesifik menerangkan
operasional beserta hak dan kewajiban masing-masing pihak. Keputusan ini akan
bernilai hokum dan mengacu pada Perda no. 12 tahun 2010 tentang Pengelolaan
Sampah di Jawa Barat.
Di dalam dokumen Kerjasama Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah
Regional disebutkan bahwa wilayah Metropolitan Bandung adalah Kota Bandung,
Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten
Sumedang dan Kabupaten Garut. Kesepakatan Bersama ini berlaku untuk jangka
waktu 5 (lima) tahun dan akan dievaluasi setiap tahun. TPPAS regional yang
direncanakan adalah sebagai berikut :
1. Untuk wilayah Metropolitan Bandung Zona Barat dengan cakupan pelayanan
Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung
Barat, berlokasi di Leuwigajah terletak di Desa Batujajar Timur, Kecamatan
Batujajar, Kabupaten Bandung Barat dan Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan
Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
2. Untuk Wilayah Metropolitan Bandung Zona Timur dengan cakupan pelayanan
Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang dan
Kabupaten Garut, berlokasi di Legok Nangka Desa Nagreg dan Desa
Ciherang, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung
9
Sedangkan skema pembiayaan yang akan diberlakukan didasarkan pada Perda
no. 12/2010 pasal 32 yaitu sebagai berikut :
1. Pemerintah Daerah membiayai penyelenggaraan pengelolaan sampah
regional.
2. Penyelenggaraan pengelolaan sampah regional berupa pelayanan jasa
TPPAS Regional, dibiayai bersama antara Pemerintah Daerah dengan
Pemerintah Kabupaten/Kota, dengan ketentuan :
a. Pemerintah Daerah bersama dengan Pemerintah membiayai investasi
pembangunan dan pengadaan peralatan TPPAS Regional; dan
b. Pemerintah Kabupaten/Kota pengguna jasa, membiayai pengelolaan
operasional dan pemeliharaan TPPAS Regional sebagai kompensasi jasa
pelayanan kepada Pemerintah Daerah.
3. Pembiayaan investasi dapat dilakukan melalui kerjasama dengan badan
usaha, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Penetapan besaran dan mekanisme kompensasi jasa pelayanan diatur dan
disepakati dalam kesepakatan bersama dan/atau perjanjian kerjasama antara
Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Kabupaten/Kota.

TPA Sarimukti merupakan TPA sementara sebelum Tempat Pengolahan dan


Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) regional yang direncanakan selesai dibangun.
Metropolitan Bandung akan memiliki 2 (dua) TPPAS untuk melayani zona barat dan
timur. Direncanakan pembangunan TPPAS Legok Nangka selesai dan dapat
langsung beroperasi tahun 2014. Terkait dengan pemanfaatan TPPAS ini telah
dilakukan perjanjian kerjasama antara beberapa Kab/Kota di wilayah metropolitan
Bandung.
Luas TPA Sarimukti adalah 25,2 Ha dimana 21,2 Ha merupakan perjanjian
kerjasama antara Provinsi Jabar dengan Perum Perhutani yang didanai APBD
Provinsi dan 4 Ha merupakan lahan masyarakat yang dibebaskan oleh Kota
Bandung dan Cimahi. Pemeliharaan jalan masuk TPPAS di ruas jalan simpang
Rajamandala Blok Cigedig Desa Sarimukti dilakukan oleh Pemkab Bandung Barat
dengan bantuan pembiayaan dari Pemprov Jabar.
Sejak beroperasi hingga saat ini, biaya operasional dan pemeliharaan TPA
Sarimukti dianggarkan dari APBD Provinsi Jabar sebesar 15,1 milyar per tahun.
Komponen biaya operasional adalah kompensasi jasa pelayanan sebesar Rp 28.900
10
/ton dan kompensasi dampak negatif sebesar Rp 3.500 4.900/ton. Kompensasi
dampak negatif diberikan kepada pemerintah Kab/Kota dan masyarakat desa tempat
TPA Sarimukti berada. Mulai tahun 2011 akan diberlakukan tipping fee kepada
Kab/Kota pengguna dengan pembayaran berdasarkan kuantitas (berat dalam ton)
sampah yang masuk ke TPA.
Kompensasi dampak negatif yang diberikan kepada pemerintah KBB merupakan
kompensasi kegiatan fasilitasi pengendalian dan pemantauan dampak, identifikasi
kebutuhan, perencanaan, sosialisasi serta pendampingan. Sedangkan kompensasi
orang yang terkena dampak kepada masyarakat 3 desa berupa pembangunan
sarana penyehatan lingkungan, kesehatan, pendidikan, keagamaan, perekonomian,
dan sebagainya.
Selain TPPAS Legok Nangka, terdapat TPPAS Nambo yang saat ini sedang
dalam proses pembangunan. Nambo akan melayani wilayah Kota Bogor, Kota
Depok dan Kab. Bogor. Berdasarkan konsep pengembangan TPA Regional Provinsi
Jabar terdapat 6 wilayah pelayanan regional yaitu Metropolitan Bandung (TPPAS
Legok Nangka), Bobodep (TPPAS Nambo), Ciayumajakuning, Cibantasik,
Purwasuka, dan Bumianjur.

3. METODOLOGI
Pendekatan Penelitian dalam uji model ini menggunakan pendekatan kualitatif
yang bertujuan untuk membandingkan antara model yang sudah disusun dengan
praktek kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat dalam pengelolaan TPA di
lokasi penelitian. Selain itu, dilakukan perbandingan antara hasil uji model di
lapangan dengan konsep pedoman pembentukan kelembagan TPA Regional yang
dibuat oleh Dirjen Cipta Karya PU.

Metode Pengumpulan Data


Dalam kegiatan uji model ini ada dua jenis data yang hendak dikumpulkan untuk
selanjutnya menjadi bahan analisis. Pertama adalah data primer yang merupakan
data utama dalam uji model ini. Data primer diperoleh secara langsung dari sumber
data baik sebagai responden maupun informan. Kedua adalah data sekunder
berupa data-data dan informasi tidak langsung yang diperoleh dari dokumen
laporan-laporan, naskah peraturan/kebijakan, leaflet/brosur, dan situs-situs yang
relevan.
11
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dan informasi adalah metode
kualitatif. Metode kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dan focused
group discussion (FGD).
Wawancara mendalam dilakukan untuk menggali alasan-alasan yang
melatarbelakangi jawaban responden terhadap kuisioner yang telah dijawabnya
dalam kuisioner. Selain itu, wawancara mendalam juga digunakan untuk menggali
informasi awal terkait kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat yang sudah
dan sedang berjalan.
FGD dilaksanakan dalam rangka mensosialisasikan model kerjasama yang telah
dirumuskan sehingga stakeholder mendapatkan gambaran yang utuh tentang model
yang hendak di ujicobakan. Selain itu, dalam FGD juga digali dan dikembangkan
berbagai masukan-masukan untuk perbaikan model agar layak untuk dirumuskan
menjadi konsep pedoman. Dalam uji model ini, teknik FGD dilaksanakan pada saat
sosialisasi konsep model, sosialisasi hasil survey kinerja model dan pada
perumusan konsep pedoman.
Wawancara mendalam dan FGD dilakukan kepada penyedia layanan (service
provider) baik sebagai front liner (lembaga kerjasama/UPT TPA Regional) maupun
pemerintah daerah.

Metode Analisis Data


Metode anilisis data yang digunakan dalam kegiatan uji model ini adalah metode
kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan teknik skoring pada
setiap variabel dan indikator (atribut). Sementara metode kualitatif dilakukan dengan
analisis deskriptif untuk setiap hasil skoring.
Teknik skoring dilakukan dengan membandingkan antara parameter pada setiap
atribut dengan praktek di lapangan berdasarkan data sekunder, hasil observasi
lapangan, FGD dan wawancara mendalam. Perbandingan antara parameter dengan
praktek dilapangan dilakukan untuk melihat apakah model yang telah dirumuskan
dapat menjawab dinamika kerjasama pengelolaan TPA regional di lapangan atau
tidak. Kemampuan model menjawab dinamika permasalahan dilapangan dinyatakan
dalam bobot yang menunjukkan tingkat kepentingan suatu atribut dalam model.
Semakin tinggi kemampuan suatu atribut dalam menjawab permasalahan lapangan
maka semakin penting nilai atribut tersebut. Dengan demikian semakin tinggi nilai
atribut maka semakin efektif atribut tersebut sehingga layak dimasukkan dalam
12
konsep pedoman. Adapun bobot kepentingan yang digunakan adalah sebagai
berikut :
Skor 0 : tidak penting
Skor 1 : cukup penting
Skor 2 : sangat penting
Hasil pembobotan ini selanjutnya di masukkan ke dalam tabel pembobotan uji
model untuk setiap variabel sehingga dapat di ketahui rata-rata setiap atribut.
Apabila hasil rata-rata berupa angka desimal, maka untuk skor yang mengandung
desimal 0,5 atau lebih dilakukan pembulatan keatas. Sementara untuk rata-rata
desimal yang kurang dari 0,5 dibulatkan kebawah. Adapun contoh tabel skoring uji
model adalah sebagai berikut :
Tabel Contoh Tabel Pembobotan
BOBOT NILAI
INDIKATOR RATA-
VARIABEL KRITERIA METRO MALANG
(ATRIBUT) RATA
BANDUNG RAYA
0.
1.
2.
0.
1.
2.

Berdasarkan hasil pembobotan uji model tersebut sebenarnya sudah dapat


diketahui variabel dan atribut mana yang memiliki tingkat kepentingan yang tertinggi.
Setiap variabel dan atribut yang mendapatkan hasil pembobotan dengan nilai 1 dan
2 layak untuk dimasukkan kedalam konsep pedoman kerjasama karena terbukti
efektif dijalankan di lapangan.
Sebagaimana diulas di kajian pustaka, pada saat pelaksanaan uji model ini Ditjen
Cipta Karya telah mengeluarkan konsep pedoman pembentukkan kelembagaan TPA
regional. Untuk melihat apakah hasil uji model (khususnya untuk variabel dan atribut
yang masuk pada kategori penting dan sangat penting) telah diakomodasi dalam
konsep pedoman tersebut, maka dibutuhkan teknik analisis yang berbeda. Teknik
analisis yang dipilih adalah teknik pembobotan (skoring).
Pada pembobotan ini, pola pembobotannya hanya melihat apakah hasil uji model
sudah diakomodasi atau belum dalam konsep pedoman yang disusun Ditjen Cipta
Karya. Apabila hasil uji model tersebut sudah diakomodasi dalam konsep pedoman

13
dengan ketentuan yang sesuai dengan parameter pada model maka pada variabel
dan atribut ini tidak memerlukan rekomendasi. Untuk setiap atribut yang masuk
pada kategori ini maka diberikan skor 0 (nol). Sementara jika hasil uji model tersebut
belum/tidak diakomodasi dalam konsep pedoman dengan ketentuan yang sesuai
dengan parameter pada model maka pada variabel dan atribut ini sangat
memerlukan rekomendasi. Untuk setiap atribut yang masuk pada kategori ini maka
diberikan skor 1 (satu). Rekomendasi yang diberikan bisa berupa masukan-
masukkan perbaikan konsep pedoman ataupun konsep pedoman baru / berbeda
yang benar-benar tidak ada/ tidak diatur dalam konsep pedoman yang disusun
Ditjen Cipta Karya. Jika didapatkan hasil skoring berupa angka desimal maka
dilakukan pembulatan ke atas dengan penjelasan bahwa semakin dekat antara hasil
uji model dengan muatan konsep pedoman menunjukkan kesesuaian yang semakin
tinggi sehingga tidak membutuhkan rekomendasi untuk perbaikan dan
penyempurnaan konsep pedoman tersebut. Adapun contoh tabel yang
menggambarkan proses uji komparasi adalah seperti berikut:

Tabel Metode Komparasi


Skoring Uji Skoring Rekomendasi
Model Komparasi
0 0 Tidak butuh
1 0 Tidak butuh
2 0 Tidak butuh
0 1 Butuh rekomendasi
1 1 Butuh rekomendasi
2 1 Butuh rekomendasi

Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan penelitian kedua mengenai rasio biaya


dan manfaat pengelolaan TPA regional maka digunakan analisis biaya dan manfaat.
Cost-Benefit Ratio merupakan analisa untuk mengetahui perbandingan manfaat dan
biaya TPA Regional. Formula yang digunakan untuk mendapatkan nilai Cost-Benefit
Ratio (Gray, 1997; Suparmoko, 2002) adalah :

14

B(1 iC
n
t t
t
t 1 )
NetB / CRatio
n
C B

t 1
t

(1 i ) t
t

Dimana, Bt : Manfaat sosial kotor proyek pada tahun ke-t.


Ct : Biaya sosial kotor proyek pada tahun ke-t.
n : Umur ekonomis proyek.
i : Oportunitas sosial atas modal yang dinyatakan sebagai
tingkat diskonto sosial.

Kriteria analisis kedua adalah Pay Back Period. Pay Back Period yaitu waktu yang
dibutuhkan agar manfaat proyek telah menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan
sebelumnya (Tarigan, 2005). Untuk mendapatkan nilai waktu yang sebenarnya,
maka biaya dan manfaat yang digunakan juga nilai sebenarnya (dengan diskonto).
Kriteria ini konsepnya sama dengan Break Event Point, yaitu waktu ketika nilai input
sama dengan nilai output, atau pada posisi keuntungan bernilai 0 (nol). Teknik
penentuan dilakukan dengan grafik biaya dan manfaat tiap tahun selama umur
peroyek. Titik potong keduanya merupakan nilai pay back period. Kelayakan dengan
kriteria ini didapat jika nilai Pay Back Period lebih kecil dari umur proyek yang
diprediksikan.
Seluruh analisis ekonomi di atas dilakukan pada umur proyek yang diprediksikan
sama untuk semua model, yaitu sekitar 25 tahun. Ada beberapa pedoman untuk
menentukan panjangnya umur proyek, sebagaimana dikemukakan Kadariah (1999),
antara lain:
a. Sebagai ukuran umum dapat diambil suatu periode (jangka waktu) yang kira-
kira sama dengan umur ekonomis dari proyek. Yang dimaksudkan dengan
umur ekonomi suatu aset ialah jumlah tahun selama pemakaian aset tersebut
dapat meminimumkan biaya tahunannya.
b. Untuk proyek-proyek yang mempunyai investasi modal yang besar sekali,
lebih mudah untuk menggunakan umur teknis daripada umur-umur pokok
investasi. Dalam hal ini perlu diingat bahwa untuk proyek-proyek tertentu,
umur teknis dari unsur-unsur pokok investasi adalah lama, tetapi umur
ekonomis dapat jauh lebih pendek karena absolescence (ketinggalan zaman

15
karena penemuan teknologi baru yang lebih efisien). Keadaan ini banyak
terdapat dalam proyek-proyek pertanian.
c. Untuk proyek-proyek yang umurnya lebih lama daripada 25 tahun dapat
diambil 25 tahun, karena nilai sesudah itu, jika di-discount dengan discount
rate sebesar 10 persen ke atas maka present value-nya sudah kecil sekali
(misalnya pada rate 10 persen present value of an annuity factor untuk
seluruh jangka waktu mulai ke-26 sampai tahun ke-100 hanya sebesar 0,923
- yakni kurang dari nilai nominal annuity tersebut dalam satu tahun saja).

Pada metode kualitatif ada beberapa mekanisme yang dilakukan yakni proses
identifikasi, kategorisasi, dan interpretasi data. Berikut penjelasan metode
analisis pada penelitian kualitatif :
Metode identifikasi digunakan ketika data yang telah terkumpul, kemudian
diidentifikasi baik berdasarkan lokasi dan pokok permasalahannya. Metode
kategorisasi diterapkan pada saat data yang sudah teridentifikasi kemudian
dikelompok-kelompokkan antara satu dengan yang lain sehingga dapat diketahui
data yang satu masuk ke dalam kategori data yang lain dan sebaliknya data yang
lain masuk ke dalam kategori yang lainnya lagi. Metode interpretasi dilakukan tatkala
data yang sudah dikategorisasikan masuk ke dalam masing-masing kelompok,
kemudian dilakukan pengaitan hubungan antara satu dengan yang lain sehingga
terlihat suatu jalinan atau suatu koherensi antara satu hal dengan hal yang lain. Dari
sana kemudian dilakukan sejumlah interpretasi/penafsiran atas keterkaitan
berbagai fenomena tersebut. Untuk memperkuat interpretasi peneliti juga
menggunakan beberapa teori yang relevan untuk menjelaskan gejala atau fenomena
sosial yang ada. Di samping itu, sesuai kaidah penelitian kualitatif, melalui metode
analisis yang dipilih, Tim peneliti dapat membuat interpretasi dan dapat mempunyai
kekuatan argumentasi yang berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan (Miles,
dalam Moleong 2004).

Tata Cara Uji Model


Berdasarkan metode pengumpulan data dan analisis data yang telah ditetapkan
sebelumnya, maka berikut dijelaskan tata cara uji model yang akan dilakukan dalam
kegiatan ini. Secara ringkas tata cara ini dapat dilihat pada bagan alir seperti
ditunjukkan gambar berikut
16
Mulai

Sosialisasi Notulensi
Konsep
Model Konsep Model Feed Back

Pengamatan
lapangan/Wawancara/D
okumentasi

Analisis Data Hasil Skoring


Uji Model
Pembobotan Uji
Model

Komparasi Draft
Pedoman CK Rekomendasi
Draft Pedoman /
Pedoman Baru

Penyusunan Konsep
Konsep
Pedoman
Pedoman

FGD Penajaman Final


Konsep
Konsep Pedoman Pedoman

17
4. PEMBAHASAN
I. Skoring Model dan Komparasi
A. Variabel Kelembagaan
Secara kelembagaan pengeloaan kerjasama antara Pemerintah Daerah
membutuhkan suatu prasyarat agar kerjasama yang akan dibangun dapat dijalankan
dengan baik. dengan melihat proses kerjasama diwilayah Metro Bandung dan
Malang Raya maka prasarat ini dapat di identifikasi di setap wilayah. untuk Metro
Bandung prasyarat persamaan tujuan dalam pengelolaan sampah dinilai sudah
padu. Hal ini dilatar belakangi oleh peristiwa longsornya TPA Leuwi Gajah sehingga
setiap daerah berkeinginan agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Kemudian
dengan adanya kewajiban menggunakan pola sanitary landfill mendorong daerah
kabupaten kota untuk bekerjasama. untuk itu pada atribut ini wilayah Metro Bandung
diberi nilai 2. Demikian halnya untuk prasyarat kesamaan kepentingan mendapatkan
nilai 2 dengan alasan yang sama. sementara untuk wilayah Malang Raya tujuan
pengelolaan sampah dimasing masing Kabupaten Kota dianggap belum sama. Hal
ini terlihat dari masih sempitnya pandangan sebagian Kabupaten / Kota yang melihat
pengelolaan sampah dibatasi wilayah administrasi. Namun pandangan tersebut
belum sampai menyebapkan pertentangan kepentingan dalam fasilitasi kerjasama
Pengelolaan TPA Regional. Mereka prinsipnya menyetujui rencana Pengelolaan
TPA Regional di Malang Raya. untuk itu pada atribut kesamaan tujuan dan
kepentingan masing masing memperoleh skor 1. Untuk atribut ini dikedua lokasi
kalau dirata-rata mendapatkan skor 1,5 yang dibulatkan ke atas menjadi 2.
Untuk atribut komitmen Bupati / Walikota / Gubernur ditandai dengan ada atau
tidaknya dokumen legal yang mengikat mereka. untuk wilayah Metro Bandung
Komitmen Pimpinan Daerah tersebut dtunjukkan dengan adanya keputusan
bersama antara Gubernur Jawa Barat, Walikota Bandung, Walikota Cimahi, Bupati
Bandung, Bupati Bandung Barat, Bupati Sumedang dan Bupati Garut tentang
penunjukan tempat pengolahan dan pemrosesan akhir sampah regional diwilayah
Matropolitan Bandung. selain itu ada dokumen kesepakatan bersama antara
Pemerintah Propinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung,
Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut tentang
kerjasama pengolahan dan pemrosesan akhir sampah regional diwilayah
Matropolitan Bandung. dengan demikian wilayah Metro Bandung mendapatkan skor
2. sementara untuk wilayah Malang Raya ditandai dengan adanya kesepakatan
18
bersama antara Pemerintah Kota malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu
mengenai kerjasama pembangunan daerah diwilayah Malang Raya. dalam dokumen
ini kerjasama pengelolaan TPA Regional masuk dalam lingkup bidang Pekrjaan
Umum. oleh karena dokumen ini baru sebatas MoU maka wilayah Malang Raya
mendapatkan skor 1. Untuk atribut ini dikedua lokasi kalau dirata-rata mendapatkan
skor 1,5 yang dibulatkan ke atas menjadi 2.
Selanjutnya untuk atribut independensi lembaga pengelola TPA Regional
dimasing masing wilayah adalah sebagai berikut. pada wilayah Metro Bandung
telah terbentuk Balai Pengelolaan Sampah Regional Jawa Barat yang Sebelumnya
bernama Pusat Pengelolaan Persampahan Jawa Barat. Secara struktural Balai ini
berada dibawah Dinas Permukiman dan Perumahan Propinsi Jawa Barat. namun
demikian sebagai penyedia jasa ( Provider ) Pengelolaan TPA Regional keberadaan
mereka independen terhadap Kabupaten Kota sebagai Pengguna Jasa ( User ).
Untuk itu atribut independensi lembaga Pengelola TPA Regional diwilayah Metro
Bandung memperoleh skor 2. Sementara untuk wilayah Malang Raya belum ada
lembaga yang dibentuk untuk menangani kerjasama Pengelolaan TPA Regional.
saat ini proses fasilitasi sepenuhnya berada dipihak Pemerintah Propinsi Jawa
Timur. untuk itu pada atribut ini tidak diberikan bobot nilai (not available).
Keberadaan unsur profesional didalam lembaga kerjasama baik pada Top
Manager maupun Middle Manager bisa meningkatkan profesionalitas dan
independensi lembaga kerjasama. Pada wilayah Metro Bandung terlihat bahwa
sebagian unsur Pimpinan dan Middle Manager berasal dari unsur profesional yang
kompeten dibidang pengelolaan sampah. Oleh sebab itu wilayah Metro Bandung
mendapat skor 2. sementara wilayah Malang Raya tidak diberikan bobot nilai (not
available) karena belum ada lembaga yang dibentuk.
Selanjutnya pada atribut kemudahan pelayanan terhadap dunia usaha yang
ingin menginvestasikan dananya dalam pembangunan dan pengelolaan TPA
Regional. untuk wilayah Metro Bandung dalam dokumen kesepakatan bersama
digariskan adanya peluang kerjasama dengan badan usaha. Namun demikian saat
ini mereka lebih memilih untuk menginvetasikan dana Pengelolaan TPA Regional
yang bersumber dari APBD Kabupaten / Kota / Propinsi dan jika diperlukan
mengajukan dana APBN dari Pusat. untuk itu pada atribut ini wilayah Metro
Bandung mendapatkan skor 1.lain halnya dengan wilayah Malang Raya yang belum

19
ada lembaga kerjasama yang dibentuk sehingga belum siap bekerjasama dengan
dunia usaha. untuk itu Malang Raya tidak diberikan bobot nilai (not available).
Pada variabel mekanisme dan prosedur kerjasama terdiri dari mekanisme
Mekanisme keanggotaan/perwakilan untuk menentukan keanggotaan dan
perwakilan, Mekanisme pengambilan keputusan bersama, mekanisme operasional
pengelolaan TPA regional, mekanisme penilaian bersama terhadap proposal
investor, mekanisme pengendalian dan pengawasan kerjasama pengelolaan TPA
regional. Pada wilayah Metro Bandung untuk mekanisme keanggotaan/ perwakilan
mendapatkan skor 0 karena tidak ada perwakilan Kabupaten / Kota yang duduk di
BPSR. Untuk mekanisme pengambilan keputusan efektifitasnya belum dapat
dirasakan sepenuhnya. Hal ini ditandai dengan masih adanya keberatan Pemkot
Cimahi untuk memindahkan pengangkutan sampahnya ke TPA Legok Nangka
dengan meninggalkan kondisi TPA Leuwi Gajah sama sekali. Belakangan diketahui
adanya kompromi untuk mengoprasikan sebagian lahan di TPA Leuwi Gajah dengan
demikian pada atribut ini mendapatkan skor 1. Untuk mekanisme penilaian bersama
terhadap proposal investor di wilayah Metro Bandung juga belum ada mekanisme
yang terstandart. oleh karenanya pada atribut ini mendapatkan skor 0. Selanjutnya
untuk mekanisme operasional Pengelolaan TPA Regional dengan adanya BPSR
menunjukkan institusi Pengeloal TPA Regional sudah sangat jelas. Dengan
demikian pada atribut ini mendapatkan skor 2. Untuk mekanisme pengendalian dan
pengawasan operasional TPA Regional sudah dilakukan secara rutin. Fungsi ini
melekat pada seksi perencanaan dan evaluasi BPSR. Untuk itu pada atribut ini
mendapatkan nilai 2.
Untuk wilayah Malang Raya oleh karena belum ada lembaga yang terbentuk
maka segala mekanisme dan prosedur kerjasama belum dapat diaplikasikan. oleh
karena itu pada variabel ini untuk setiap atribut diwilayah Malang Raya tidak
diberikan bobot nilai (not available).
Selanjutnya untuk variabel struktur organisasi pada posisi penanggung jawab
kerjasama dinilai sudah tepat karena Gubernur Jawa Barat atas nama Pemerintah
Propinsi Jawa Barat memang memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk
urusan Pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten /Kota. Demikian halnya untuk
lingkup kewenangan tugas dan fungsi, sudah sesuai dengan tanggung jawab yang
di embannya. Adapun tugas dan tanggung jawabnya antara lain melakukan
perencanaan, pembangunan, pelayanan, pengolahan dan pemrosesan akhir
20
sampah TPA Regional. Dengan demikian untuk masing masing atribut mendapat
skor 2. untuk posisi Tim Pengarah juga dinilai sudah tepat karena dalam perjanjian
kerjasama diatur pendelegasian wewenang kepda Sekretaris Daerah menyangkut
perubahan hal hal teknis.
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dilihat bahwa pada variabel prasyarat
kerjasama sebagian besar atribut bernilai sangat penting. Hanya pada atribut
kemudahan pelayanan terhadap dunia usaha yang benilai cukup penting. Pada
variabel mekanisme dan prosedur kerjasama sebagian besar atributnya bernilai
sangat penting kecuali pada atribut mekanisme keanggotaan yang bernilai 0 (tidak
penting). Pada variabel struktur organisasi seluruh atributnya bernilai sangat penting.
Dengan demikian maka setiap atribut pada variabel-variabel ini layak dimasukkan ke
dalam konsep pedoman kerjasama pengelolaan TPA regional.

Komparasi Model Pedoman CK: Variabel Kelembagaan


a. Prasyarat kerjasama
Untuk membentuk kerjasama diperlukan beberapa prasyarat agar proses
yang terjadi dan bentuk kerjasama berjalan sesuai tujuan. Kesamaan tujuan
dalam kerjasama merupakan hal pertama dan utama. Dalam pedoman yang
dibuat Cipta Karya (CK) PU, hal ini disebutkan dalam latar belakang.
Pengelolaan TPA dengan sanitary landfill seperti yang diamanatkan UU
18/2008 merupakan tujuan akhir yang membuat kerjasama ini harus
dilakukan. Oleh karena itu, untuk indikator ini diberi nilai 0. Begitu pula
dengan indikator adanya kepentingan yang sama dalam pengelolaan
sampah.
Indikator selanjutnya yaitu adanya komitmen bupati / walikota / gubernur
terkait kerjasama pengelolaan TPA regional telah terlihat pada bagian
penandatanganan kerjasama. Diperlukan komitmen dari kepala pemerintah
daerah, kab/kota. Independensi lembaga kerjasama/unit pengelola TPA
regional yang dibentuk dalam melakukan koordinasi lintas daerah bersifat
hubungan antara provider user agar profesionalisme dapat dijaga.
Profesionalisme ini kemudian diperkuat dengan kepemimpinan lembaga
kerjasama oleh unsure professional. Hal ini ditunjukkan oleh uraian tugas
masing-masing unit kerja.

21
Indikator terakhir adalah kemudahan pelayanan terhadap dunia usaha
yang berminat menginvestasikan dananya. Hal ini telah diuraikan dalam
bagian kemitraan dengan masyarakat. Meski belum dijelaskan lebih detail
mengenai mekanismenya. Oleh karena semua indikator telah disebutkan
pada pedoman CK maka diberi skor 0.
b. Mekanisme dan prosedur dalam kerjasama
Indikator mekanisme keanggotaan/perwakilan untuk menentukan
keanggotaan dan perwakilan telah disebutkan dalam pedoman CK.
Disebutkan bahwa pemantauan dan evaluasi kondisi TPA dilakukan oleh
pihak pemrakarsa pembangunan, yaitu Dinas Pekerjaan Umum provinsi dan
kab/kota. Indikator mekanisme pengambilan keputusan bersama terlihat
dalam proses pembentukan Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD).
Struktur TKKSD termasuk di dalamnya adalah Kepala Satuan Kerja
Perangkat Daerah, artinya satuan kerja terkait dalam TPA Regional dapat
menjadi anggota pada struktur organisasi kerjasama. Dengan begitu
pengambilan keputusan bersama dapat tercermin.
Mekanisme operasional pengelolaan TPA regional telah diuraikan secara
detail, terutama tugas dari masing-masing unit kerja. Dalam rangka
memfasilitasi kemitraan, maka mekanisme penilaian bersama terhadap
proposal investor juga telah diatur. Begitu pula dengan mekanisme
pengendalian dan pengawasan kerjasama pengelolaan TPA regional. SKPD
kab/kota merupakan wakil dalam operasionalisasi di lapangan dan disebutkan
bahwa kab/kota akan memperoleh laporan dari pengelola/UPTD secara
berkala. Oleh karena semua indikator telah terdapat dalam pedoman maka
skor yang diberikan adalah 0.
c. Struktur Organisasi
Pada komponen struktur organisasi, indikator posisi penanggungjawab
kerjasama telah jelas disebutkan. Gubernur sebagai kepala daerah provinsi
menjadi penanggungjawab dan Sekda menjadi ketua teknis. Lingkup
kewenangan, tugas dan fungsi penanggungjawab telah dijabarkan sesuai
dengan Permendagri 22/2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerja Sama
Daerah, juga pada contoh perjanjian kerja sama yang dilampirkan pada
pedoman CK (pasal 13 Hak dan Kewajiban Para Pihak).

22
Posisi dan lingkup kewenangan, tugas serta fungsi tim pengarah telah
disebutkan dalam lampiran pedoman CK yaitu Pasal 22 Mekanisme
Pengawasan Pengelola/UPTD dengan pembentukan Tim pengawas Kinerja
TPA Regional. Unsur keanggotaan ditunjuk oleh masing-masing Pemerintah
Daerah, kab/kota dan pakar persampahan yang akan ditetapkan oleh
Gubernur.
Posisi dan lingkup kewenangan, tugas serta fungsi tim teknis kerjasama
telah disebutkan dalam lampiran pedoman CK yaitu Pasal 7 tentang Tim
Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD). Sedangkan posisi dan lingkup
kewenangan, tugas serta fungsi tim pelaksana kerjasama telah disebutkan
dalam lampiran pedoman CK yaitu Pasal 14 Hak dan Kewajiban
Pengelola/UPTD.

B. Variabel Biaya
Komponen pembiayaan secara garis besar terdiri dari dua variabel utama yakni
struktur biaya dan struktur manfaat. Untuk struktur biaya menyangkut sharing biaya
dan prosedur pembagian biaya. Sementara untuk struktur manfaat terdiri dari
komponen manfaat, akses manfaat, sharing manfaat dan prosedur pembagian
manfaat. Pada wilayah Metro Bandung berdasarkan perjanjian kerjasama antara
Pemprov Jawa Barat, Pemkot Bandung, Pemkot Cimahi, dan Pemkab Bandung
Barat tentang pengolahan dan pemrosesan sampah regional sementara di desa
Sarimukti, kabupaten Bandung Barat telah menyepakati besaran komponen
kompensasi jasa pelayanan (KJP) dan pola sharingnya (pasal 16). Dengan adanya
ketentuan tersebut maka pada atribut ini diberikan bobot nilai 2. Untuk atribut
prosedur pembayaran biaya diwilayah Metro Bandung berdasarkan perjanjian
kerjasama tersebut telah disepakati mekanisme penghitungan dan pembayaran
kompensasi secara mendetail (pasal 16). Dengan demikian untuk atribut ini
diberikan bobot nilai 2.
Pada atribut komponen manfaat berdasarkan perjanjian kerjasama tersebut
terdapat ketentuan apabila dalam pengelolaan TPA Regional memperoleh
pendapatan dari hasil pengolahan sampah, maka pendapatan tersebut di setor ke
kas pemerintah propinsi Jawa Barat (pasal 20). Namun tidak ada keterangan
apapun mengenai komponen manfaat apa saja yang dikandung dalam struktur
manfaat. Dalam praktekknya dari pengamatan lapangan dan hasil FGD ditemukan
23
bahwa hasil pengolahan sampah di TPA Sarimukti berupa kompos tidak dijual, tetapi
dibagikan kepada peduduk sekitar. Dengan demikian pada atribut ini mendapatkan
skror 1. Demikian halnya dengan atribut akses terhadap manfaat, berdasarkan
kondisi tersebut diatas maka pada atribut ini di berikan bobot nilai 1.
Pada atribut sharing manfaat sesuai dengan ketentuan perjanjian kerjasama
pasal 20 maka tidak ada manfaat langsung yang dibagi. Manfaat yang dibagi
sifatnya berupa insentif bagi daerah-daerah yang mampu mereduksi sampah yang
masuk ke TPA Regional dalam bentuk pengurangan KJP sesuai dengan sampah
yang dhasilkannya. Untuk itu pada atribut ini diberikan bobot nilai 1. Demikian halnya
dengan prosedur pembagian manfaat, sesuai dengan penjelasan tersebut diatas
maka diberikan dengan nilai 1.
Sementara untuk wilayah Malang Raya dalam kesepakatan bersama antara
Pemerintah Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu mengenai kerjasama
pembangunan daerah diwilayah Malang Raya ketentuan tentang pembiayaan hanya
terbatas pada sumber pembiayaan dan pengambilan keputusan dalam urusan
pembiayaan yang membebani masyarakat. Selain itu, pada saat penelitian ini
dilakukan sedang dilakukan kajian kelayakan pengelolaan TPA Regional sehingga
belum dapat diidentifikasi komponen dan aspek-aspek pembiayaan lainnya. Dengan
demikian pada komponen pembiayaan tidak ada informasi yang representatif untuk
diberikan bobot nilai (not available).
Berdasarkan hasil pembobotan tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar
atribut pada variabel struktur biaya bernilai sangat penting. Sementara untuk
variabel struktur manfaat bernilai cukup penting. Dengan demikian kedua variabel
tersebut layak untuk dimasukkan ke dalam konsep pedoman kerjasama pengelolaan
TPA regional.

Komparasi Model Pedoman CK: Variabel Biaya


Hasil uji model untuk selanjutnya di komparasikan dengan konsep pedoman
pembentukkan kelembagaan TPA Regional. Bedasarkan konsep pedoman
tersebut terlihat bahwa pengaturan pembiayaan yang diatur lebih bersifat prinsip-
prinsip umum dan aspek administratif. Dalam prinsip kerjasama yang harus
dibangun dalam pengelolaan TPA Regional antara lain prinsip efesiensi, saling
menguntungkan dan transparansi. Sementara dalam aspek administratif terdapat
dalam contoh kesepakatan kerjasama tentang jumlah nilai investasi, tarif dan
24
mekanisme penyesuaian, pembayaran retribusi, sanksi keterlambatan
pembayaran retribusi dan laporan keuangan. Dalam ketentuan mengenai tarif
tidak ditemukan indikasi sedikitpun mengenai komponen biaya pembentuk tarif.
Satu-satunya atribut yang diatur dan sesuai dengan konsep model adalah atribut
prosedur pembayaran biaya (pembayaran retribusi). Dengan demikian hanya
pada atribut prosedur pembayaran biaya yang mendapatkan bobot nilai 0 (tidak
membutuhkan rekomendasi). Sedangkan untuk atribut lainnya mendapatkan nilai
1 yang artinya membutuhkan rekomendasi untuk penyempurnaan konsep
pedoman atau menjadi konsep pedoman terpisah.

C. Variabel SDM
Kompetensi bidang perencanaan / penyusunan program yang dimiliki SDM
pengelola Metro Bandung dan Malang Raya belum sepenuhnya menghasilkan
dokumen perencanaan SMART. Hal ini dikarenakan pengelolaan TPA Regional
merupakan hal baru. Penyiapan SDM dengan pelatihan dan pembekalan
pengetahuan teknis baru dilakukan. Baik Malang Raya dan Metro Bandung diberikan
skor 1.
Sedangkan untuk kompetensi bidang legal / hukum, Metro Bandung mampu
menyusun dan menganalisa kontrak/perjanjian. Hal ini ditunjukkan dengan dokumen
perjanjian kerjasama untuk TPA Sarimukti yang baik. Sedangkan Malang Raya
belum memiliki kemampuan ini karena kerjasama belum terlaksana. Untuk masing-
masing diberikan skor 2 dan 1.
Untuk kompetensi bidang komunikasi / networking, Metro Bandung telah
mampu mengembangkan komunikasi dan networking karena pelaksanaan
kerjasama mendapat bantuan dan advis teknis dari pemerintah pusat. Oleh karena
itu diberi skor 2. Sedangkan Malang Raya belum mampu karena sampai saat ini
masih melakukan konsolidasi di area tersebut, belum lingkup provinsi sehingga
diberi skor 1.
Sedangkan untuk kompetensi bidang administrasi dan pengelolaan keuangan,
kedua tempat belum sepenuhnya mampu mengelola administrasi dan keuangan
dengan akuntabel karena laporan keuangan masih berinduk pada pola keuangan
provinsi/kab/kota. Sehingga keduanya diberi skor 1. Laporan ini belum dapat secara
mandiri menyediakan laporan yang akuntabel untuk dapat diakses publik. Hal ini

25
wajar karena bentuk lembaga yang ada di Bandung Raya belum independen,
berada di bawah Dinas CK Prov Jabar.
Selain kompetensi non-teknis, dibutuhkan pula kompetensi teknis. Dalam
kompetensi bidang manajemen konflik, Bandung dan Malang belum sepenuhnya
mampu memetakan dan mengelola konflik menjadi kerjasama. Hal ini jelas terlihat
pada Malang Raya dimana masing-masing kab/kota belum dapat duduk bersama.
Oleh karena itu dibutuhkan peran penengah, dalam hal ini provinsi dan atau
pemerintah pusat. Sedangkan Bandung hanya mengalami konflik pada perbedaan
pendapat mengenai penentuan besar retribusi namun dapat ditengahi oleh Sekda.
Keduanya diberi skor 1.
Kompetensi bidang operasional TPA sampah terkait dengan keilmuan SDM
pengelola. Penerapan sistem sanitary landfill selain membutuhkan SDM yang
berkualitas, juga membutuhkan teknologi yang belum sepenuhnya mampu dikelola
saat ini. Oleh karena itu, penting kemitraan dengan swasta yang professional dalam
bidang ini. Oleh karena itu keduanya diberi skor 1. Sedangkan untuk kompetensi
bidang community based development (CBD) untuk mengakomodasi kepentingan
masyarakat, Bandung belum sepenuhnya mampu mengembangkan CBD sesuai
kebutuhan masyarakat dan Malang sudah mampu. Hal ini dikarenakan pola gerak
kelembagaan Bandung adalah top-down, sedangkan Malang bottom-up. Untuk itu
masing-masing diberi skor 1 dan 2.
Berdasarkan hasil penilaian tersebut variabel kompetensi SDM dianggap penting
untuk dimasukkan pada konsep pedoman kerjasama pengelolaan TPA regional.
Secara umum variabel ini akan melekat pada komponen kelembagaan karena
disana terdapat uraian tugas dan fungsi lembaga yang dibentuk dalam pengelolaan
TPA regional.

Komparasi Model Pedoman CK: Variabel SDM


Seluruh kompetensi seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya,
telah diuraikan pada konsep pedoman CK. Kompetensi non-teknis telah
diuraikan per unit satuan kerja, sedangkan kompetensi teknis diuraikan secara
implisit pada penjelasan tahap pembangunan sampai pasca operasional.
Penjelasan ini menuntut pemahaman yang mendalam dari pemerintah daerah,
kab/kota yang kelak akan melakukan kerjasama. Karena jika tidak, prosedur
kelembagaan dan pelaksanaan TPA Regional cacat secara teknis dan non-
26
teknis. Oleh karena itu untuk skoring komparasi diberi nilai 0, artinya tidak
dibutuhkan rekomendasi pedoman tambahan.

D. Variabel CBD
a. Mekanisme pemetaan sosial ekonomi dan lingkungan pada masyarakat sekitar
TPA regional
Mekanisme pemetaan ini diperlukan untuk menggambarkan potensi dan
permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan sebagai akibat dari beroperasinya
TPA Regional. Untuk wilayah Metro Bandung pelaksanaan pemetaan ini dinilai
sudah berjalan dengan baik dengan adanya penyusunan community action plan
(CAP) pada masyarakat sekitar TPA Sarimukti. Pada tahap awal terdapat fase
pelaksanaan survey kampung sendiri (SKS) untuk mengidentifikasi potensi dan
permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan akibat beroperasinya TPA Sarimukti.
Mekanisme SKS ini terbukti mampu mengidentifikasi potensi dan permasalahan
tersebut. Dengan demikian pada atribut ini, wilayah Metro Bandung mendapatkan
skor 2.
Sementara untuk mekanisme integrasi usulan program masyarakat hasil
pemetaan dengan program pengelolaan TPA regional di TPA Sarimukti dinilai belum
sepenuhnya mampu di integrasikan (skor 1). Hal ini disebabkan oleh usulan program
masyarakat yang masih bersifat daftar keinginan dan bukan daftar kebutuhan yang
terkait langsung dengan operasi pengelolaan TPA sampah. Beberapa contoh daftar
keinginan tersebut misalnya rehabilitasi kantor desa dan PAUD, pembangunan GOR
dan gedung PKK, serta pipanisasi saluran irigasi. Contoh-contoh tersebut
menunjukkan bahwa usulan yang diajukan tidak terkait langsung dengan operasi
pengelolaan TPA sampah khususnya dalam hal dampak sosial, ekonomi dan
lingkungan terhadap masyarakat.
Meskipun pada mekanisme integrasi mendapatkan skor 1, namun peran
pengawasan masyarakat terhadap dampak yang ditimbulkan dari beroperasinya
TPA Sarimukti bisa berjalan dengan baik. Kondisi tersebut ditunjang oleh adanya
kegiatan SKS yang mampu mengidentifikasi permasalahan yang diakibatkan dari
beroperasinya TPA Sarimukti. Dengan kata lain, masyarakat sekitar TPA mampu
mengidentifikasi dampak yang diterimanya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Beberapa dampak yang di nilai positif oleh masyarakat antara lain:

27
1. Sebagai sumber mata pencaharian penduduk yang berkerja sebagai
pemulung
2. Selain pemulung, keberadaan TPPAS Regional Sementara ini juga
memunculkan banyaknya bandar rongsokan yang tersebar disetiap RW
Desa Sarimukti
3. Adanya kompensasi arus balik truk sampah yang melewati Desa
Sarimukti sedikit banyak membantu tingkat perekonomian desa.

Sedangkan untuk dampak negatif yang berhasil diidentifikasi warga adalah


sebagai berikut :
1. Kondisi lingkungan Desa Sarimukti menjadi kumuh dan menyebabkan
polusi udara
2. Menurunnya tingkat kesehatan masyarakat Desa Sarimukti akibat polusi
yang ditimbulkan.
3. Rusaknya prasarana jalan Desa Sarimukti yang diakibatkan banyaknya
truk sampah yang melewati jalan lingkungan desa dengan beban yang
berlebihan. Selain itu juga truk sampah yang melewati menyebabkan
lingkungan menjadi kotor dengan sampah yang berceceran dan debu
yang ditimbulkan
4. Keberadaan bandar rongsok menyebabkan banyaknya sampah yang
menumpuk dan tersebar disekitar lokasi dan juga kegiatan pencucian
plastik yang dilakukan oleh bandar rongsok menyebabkan terjadinya
pencemaran lingkungan.
5. Masuknya penduduk dari luar Desa Sarimukti yang berprofesi sebagai
pemulung menimbulkan suatu permasalahan sosial. Tingginya angka
kriminalitas Desa Sarimukti menjadi salah satu permasalahan yang terjadi
akibat terjadinya arus urbanisasi.
6. Banyaknya rumah-rumah penduduk yang berdiri disepanjang jalan
menuju lokasi TPPAS Regional Sarimukti menyebabkan tidak tertatanya
kawasan ini.
Untuk wilayah Malang Raya berdasarkan wawancara mendalam dan FGD
memang tidak ditemukan adanya aktifitas pemetaan pemetaan sosial ekonomi dan
lingkungan pada masyarakat sekitar TPA Supit Urang. Dengan demikian tidak ada
program pembangunan hasil pemetaan masyarakat yang di integrasikan dengan
28
program pengelolaan TPA regional. Kemudian tanpa mekanisme pengawasan
formal yang dilakukan masyarakat terhadap operasional TPA Supit Urang. Dengan
demikian untuk ketiga atribut pada mekanisme pengembangan CBD untuk
masyarakat sekitar TPA regional di wilayah Malang Raya tidak diberi bobot nilai (not
available).

b. Jaringan pengelola sampah komunitas lintas kabupaten/kota


Jaringan pengelola sampah komunitas lintas kabupaten/kota dalam konteks
pengelolaan TPA regional dibangun dalam rangka meningkatkan komunikasi dan
kerjasama sehingga terbangun kapasitas kolektif dalam mereduksi sampah yang
masuk ke TPA regional. Untuk wilayah Metro Bandung, berdasarkan survey
dilapangan dan wawancara dengan nara sumber terpilih menunjukkan upaya
pengelolaan sampah komunitas memang berjalan di masing-masing kabupaten/kota
yang bekerjasama. Meskipun demikian upaya-upaya tersebut masih berjalan sendiri-
sendiri dalam lingkup wilayah yang terbatas. Belum ada integrasi antar komunitas di
kabupaten/kota yang bekerjasama dalam bentuk jaringan atau kelembagaan yang
lain. Dengan kondisi tersebut, maka untuk ketiga atribut pada variabel jaringan
pengelola sampah komunitas di wilayah Metro Bandung diberi bobot nilai 0.
Sebaliknya fenomena menarik terjadi di wilayah Malang Raya. Meskipun pemda
kabupaten/kota sedang dalam proses melembagakan kerjasama mereka dalam
pengelolaan TPA regional, namun pada level komunitas sudah ada upaya rintisan
membangun jaringan komunitas pengelelola sampah. Upaya rintisan tersebut
diwujudkan dengan fasilitasi studi banding, pelatihan, dan pertukaran antar kader-
kader lingkungan oleh instansi terkait diketiga kabupaten/kota. Sebagai contoh
dalam hal memanfaatkan gas methan menjadi energi untuk memasak,
kader/komunitas di kota Malang belajar kepada kabupaten Malang. Hanya saja
upaya ini masih sporadis tergantung dengan agenda dan dana dari pemkab/pemkot
di Malang Raya. Dengan demikian dalam melihat kapasitas yang butuh ditingkatkan
dalam pengembangan jaringan ini sifatnya belum sistematis. Untuk itu pada atribut
pemetaan kapasitas pengelolaan sampah komunitas diberikan bobot nilai 1.
Upaya rintisan yang sudah dilakukan telah membuka jaringan komunitas
pengelola sampah di wilayah Malang Raya. Dengan terbukanya jaringan ini
kemungkinan untuk meningkatkan status jaringan pada pembentukkan lembaga,
penyusunan program, dan agenda bersama menjadi suatu keniscayaan. Meskipun
29
demikian hingga saat ini jaringan yang sudah terbangun belum sampai pada level
pembentukkan lembaga, penyusunan program, dan agenda bersama. Dengan
demikian bobot nilai yang diberikan untuk atribut pengembangan jaringan komunitas
pengelola sampah lintas lintas kabupaten/kota adalah 1.
Sebagai konsekuensi dari belum adanya pembentukkan lembaga, penyusunan
program, dan agenda bersama komunitas pengelola sampah maka tidak ada
integrasi program jaringan komunitas dengan program pengelolaan TPA regional.
Untuk itu pada atribut integrasi program jaringan komunitas pengelola sampah lintas
lintas kabupaten/kota dengan program kerjasama pengelolaan TPA regional yang
sedang/akan berjalan tidak diberikan bobot (not available).
Berdasarkan hasil penilaian tersebut dapat digarisbawahi bahwa untuk variabel
mekanisme pengembangan CBD pada masyarakat sekitar TPA regional bernilai
sangat penting. Hasil ini memang tidak mengherankan mengingat selama ini
resistensi masyarakat terhadap keberadaan TPA sampah menjadi hambatan dan
tantangan yang cukup berat dalam pengelolaan sampah perkotaan. Sementara
untuk variabel jaringan pengelola sampah komunitas lintas kabupaten/kota
tampaknya belum menjadi prioritas saat ini. Dengan demikian pada variabel
mekanisme pengembangan CBD pada masyarakat sekitar TPA regional layak untuk
dimasukkan pada konsep pedoman kerjasama pengelolaan TPA regional.

Komparasi Model Pedoman CK: variabel CBD


Dalam pedoman tentang pembentukkan kelembagaan TPA regional,
ketentuan mengenai kemitraan dengan masyarakat lebih dimaknai sebagai
kemitraan dalam mengelola sampah di TPA regional (termasuk dalam
pembiayaannya). Adapun kemitraan dalam konteks penanganan dampak negatif
pengolahan sampah terhadap masyaraktat sekitar TPA regional belum ada
pengaturan yang cukup detil. Padahal berbagai pengalaman menunjukkan tanpa
adanya upaya pengembangan komunitas masyarakat sekitar TPA sebagai wujud
kemitraan dalam penanganan dampak TPA regional akan berakibat pada
penolakan masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut maka untuk komponen
pengembangan CBD pada masyarakat sekitar TPA Regional diberikan bobot
nilai 1. Dengan demikian komponen ini sangat direkomendasikan sebagai
masukkan untuk melengkapi pedoman yang disusun Cipta Karya.

30
II. Hubungan Hasil Pembobotan Uji Model dengan Pembobotan Komparasi
Seluruh hasil pembobotan uji model yang bernilai 1 dan 2 (cukup penting dan
sangat penting) menunjukkan kemampuan variabel dan atribut tersebut dalam
menjawab permasalahan dan tantangan kerjasama pengelolaan TPA regional.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, variabel dan atribut tersebut layak
untuk dikembangkan dalam konsep pedoman kerjasama pemerintah, swasta, dan
masyarakat dalam pengelolaan TPA regional. Adapun variabel yang masuk pada
kategori cukup penting dan sangat penting pada komponen kelembagaan adalah
variabel prasyarat kerjasama, mekanisme dan komponen kerjasama, struktur
organisasi. Pada komponen pembiayaan dan manfaat variabel yang masuk pada
kategori cukup penting dan sangat penting adalah variabel struktur biaya dan
struktur manfaat. Pada komponen kompetensi SDM seluruh atributnya masuk pada
kategori cukup penting. Terakhir pada komponen pengembangan CBD hanya pada
variabel komponen pengembangan CBD masyarakat sekitar TPA regional yang
dinilai penting.
Variabel variabel tersebut selanjutnya dikembangkan dalam sebuah konsep
pedoman kerjasama pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam pengelolaan TPA
regional. Dalam pengembangan konsep pedoman tersebut, tantangan yang dihadapi
adalah bagaimana merumuskan ruang lingkup yang tepat dengan
mempertimbangkan hasil uji model di lapangan. Kalau seluruh aspek yang dinilai
penting dalam uji model diakomodasi, maka ruang lingkup pedoman menjadi
terlampau luas. Dalam perkembangan diskusi/penyusunan konsep pedoman, maka
diputuskan untuk membatasi ruang lingkup pada tahap perencanaan kerjasama
pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam pengelolaan TPA regional. Pedoman
tersebut mengatur prosedur fasilitasi perencanaan kerjasama pengelolaan TPA
regional mulai dari persiapan hingga penandatanganan kerjasama. Sasaran
pedoman ini adalah pemerintah dan pemerintah propinsi sebagai yang memiliki
kewenangan pengelolaan sampah lintas daerah dan kabupaten/kota. Untuk produk
konsep pedoman perencanaan kerjasama pemerintah, swasta, dan masyarakat
dalam pengelolaan TPA regional dapat dilihat pada bagian lampiran dari laporan
akhir ini.
Sebagaimana berulangkali telah disampaikan sebelumnya, pada saat
penyusunan konsep pedoman ini Ditjen Cipta Karya melakukan diseminasi konsep
pedoman pembentukkan kelembagaan TPA regional. Dengan melihat tahapan
31
dalam konsep pedoman tersebut terdapat kemiripan sekaligus kesamaan lingkup
dengan konsep pedoman yang tengah dikembangkan. Dengan kondisi tersebut, tim
peneliti memutuskan untuk melakukan pembobotan antara hasil uji model dengan
substansi dan ketentuan yang diatur pada pedoman yang dibuat Ditjen Cipta Karya.
Berdasarkan hasil pembobotan komparasi ditemukan bahwa pada komponen
pembiayaan/manfaat dan komponen pengembangan CBD terdapat ruang kosong
yang menjadi peluang dari kajian ini untuk melengkapi konsep pedoman yang telah
disusun Cipta Karya. Dari kedua komponen tersebut, dengan melihat kemampuan
dan prioritas yang paling logis maka dipilihlah komponen pembiayaan dan manfaat
sebagai produk konsep pedoman yang paling strategis untuk di masukkan. Alasan
utama dari dipilihnya komponen pembiayaan dan manfaat karena banyak sekali
proses fasilitasi kerjasama yang gagal karena tidak bisa mencapai kesepakatan
terkait pembagian biaya dan manfaat pengelolaan TPA regional. Ketika kesepakatan
antar pemerintah daerah tersebut tidak dapat dicapai, maka logikanya tidak mungkin
akan mengembangkan kemitraan dengan swasta dan masyarakat. Dengan demikian
pilihan untuk mengembangkan konsep pedoman perumusan pembagian biaya dan
manfaat pengelolaan TPA regional menjadi pilihan yang rasional pada saat ini dan
kedepan.

III. Analisis Biaya dan Manfaat: Valuasi Ekonomi TPA Regional Sari Mukti
Valuasi ekonomi dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kelayakan
implementasi TPA Regional. Pada penelitian ini valuasi ekonomi berada pada
proses perencanaan. Analisis dilakukan pada dua level, yaitu secara umum meliputi
ketiga wilayah serta analisis per wilayah. Analisis valuasi ekonomi dilakukan untuk
jangka 10 tahun, yang diperkiraan sebagai umur rerata TPA Regional dengan tingkat
diskonto 15%.
Biaya TPA Regional terdiri dari biaya studi perencanaan, biaya pembebasan
lahan, biaya konstruksi, biaya pengangkutan serta biaya operasional dan
pemeliharaan sarana TPA Regional. Biaya tersebut secara umum dikeluarkan
dengan sistem sharing antara Pemerintah Pusat, Provinsi Jawa Barat dan Pemda
Bandung-Cimahi-Bandung Barat. Biaya ini akan semakin meningkat seiring dengan
waktu, misalnya adalah lahan yang semakin mahal. Dalam hal ini juga kenyataan
sulitnya mencari lokasi lahan yang layak,strategis, representatif, dan diterima

32
masyarakat sekitar. Biaya awal TPA Regional diprediksikan sebagaimana disajikan
pada Tabel berikut.
Tabel Biaya Awal Pembangunan TPA Regional
Komponen Biaya (Rupiah) Penanggung Jawab
Biaya Perencanaan (Studi, Desain, 752.576.000 Pemerintah Pusat
AMDAL) dan Prov Jawa Barat
Biaya Pembebasan Lahan
Sewa Lahan Perhutani (21,2 Ha) PemProv Jawa Barat
Penggantian investasi jati 540.000.000
Pembayaran lost Oppurtunity 4.439.960.600
cost pengusahaan jati
Pembebasan lahan milik (4 ha) 4.000.000.000 Pemkot Bandung
@Rp.100.000/m2 dan Cimahi
Biaya Konstruksi 27.799.851.000 Pemerintah Pusat
dan Prov Jawa Barat
Total 37.532.287.600
Sumber : Diolah dari Balai Pengelolaan Sampah Regional (BPSR) Provinsi Jawa Barat

Biaya di atas merupakan investasi awal yang dikeluarkan pada tahun pertama
dan kedua. Tahap selanjutnya adalah pengelolaan TPA yang membutuhkan biaya
pengumpulan dan pengangkutan ke TPA, biaya retribusi masuk, serta biaya
operasional dan pemeliharaan (OP) sarana TPA Regional. Pengumpulan dan
pengangkutan dikelola masing-masing kabupaten/kota, sehingga biayanya juga
menjadi beban sendiri-sendiri. Pengangkutan dilakukan dengan dump truck
kapasitas 10 m3 atau setara sekitar 2,56 ton. Biaya pengangkutan tergantung jarak
dari masing-masing daerah. Selanjutnya biaya retribusi masuk tergantung volume
sampah, dimana sesuai kesepakatan dan perencanaan tarifnya adalah
Rp.29.000/ton sampah. Pelaksanaan OP menjadi tanggung jawab BPSR Jawa
Barat. Dimana, biaya OP menjadi beban bersama yang akan dikumpulkan dengan
sistem sharing berdasarkan volume sampah yang diangkut setiap kabupaten/kota ke
TPA Regional. Kekurangan dibiayai APBD Provinsi melalui BPSR Jawa Barat. Biaya
ini rutin dikeluarkan setiap bulan. Biaya pengelolaan TPA Regional setiap tahunnya
tersaji pada Tabel berikut.

33
Tabel Biaya Pengelolaan TPA REGIONAL Per Tahun
Biaya Penanggung
Komponen
(Rupiah) Jawab
Biaya Pengumpulan dan Pemda Bandung-
Pengangkutan Cimahi-Bandung
Bandung 7. 373.000.000 Barat (masing-
(202 rit x 365 hari x Rp.100.000) masing)
Cimahi 657.000.000
(24 rit x 365 hari x Rp.75.000)
Bandung Barat 127.750.000
(7 rit x 365 hari x Rp.50.000)
Biaya Operasional dan 13.224.562.200 Pemprov dan
pemeliharaan TPA Pemda Bandung-
Cimahi-Bandung
Barat
Biaya Kompensasi Dampak Negatif Pemda Bandung-
Bandung 1.318.684.400 Cimahi-Bandung
(299701 ton x Rp.4.400/ton) Barat
Cimahi 108.270.800
(24607 ton x Rp. 4.400/ton)
Bandung Barat 32.846.000
(7465 ton x Rp. 4.400/ton)
Total 22.842.113.400
Sumber : Diolah dari Balai Pengelolaan Sampah Regional (BPSR) Provinsi Jawa Barat

Penilaian berikutnya adalah untuk manfaat. Manfaat langsung dari


pengembangan TPA Regional antara lain retribusi sampah, profit pengolahan
sampah, dan efisiensi pengelolaan sampah. Retribusi sampah dihitung berdasarkan
volume sampah yang masuk ke TPA. Potensi dan kemampuan tampung TPA rata-
rata adalah 331.733 ton per tahun. Biaya retribusi berdasarkan kesepakatan antar
pemkab/kota adalah Rp. 29.000,00/ton serta biaya kompensasi dampak negatif
sebesar 4.400,00/ton yang diserahkan ke Kabupaten Bandung Barat untuk
masyarakat sekitar TPA. Sampah dimanfaatkan sebagai kompos. Rata-rata setiap
bulan dapat dihasilkan 29,46 ton kompos. Pengelolaan sampah dengan TPA
terpadu dapat memberikan efisiensi bagi masing-masing kabupaten/kota jika
dibanding mengelola sendiri, ditambah dengan kondisi prediksi over kapasitas TPA
eksisting serta semakin menyempitnya ketersediaan lahan untuk TPA baru. Efisiensi
Kota Bandung dan Cimahi didapat dari efisiensi pengadaan lahan. Lahan di kedua
daerah tersebut semakin terbatas dan lebih tinggi harganya. Di Kota Bandung rata-
rata harga tanah termurah adalah Rp. 300.000/m2, sedangkan di Cimahi juga
mencapai Rp. 250.000/ m2. Kebutuhan lahan diasumsikan sama dengan standar

34
perencanaan TPA Regional, yaitu 277 m2/ton sampah per hari. Penyediaan lahan
dilakukan secara sewa untuk kompensasi pengusahaan tanaman jati kepada
PERHUTANI melalui APBD Provinsi Jawa Barat. Sedangkan pembebasan lahan
yang dimiliki warga seluas 4 Ha dilakukan secara sharing antara Bandung dan
Cimahi secara proporsional berasarkan potensi volume sampah. Bagi Kabupaten
Bandung Barat, manfaat juga berupa meningkatnya ekonomi masyarakat, baik untuk
karyawan TPA maupaun masyarakat yang memanfaatkan sampah untuk diolah.
Nilai ekonomi manfaat tersebut tersaji pada Tabel berikut.

Tabel Manfaat Langsung Pengelolaan TPA Regional


Nilai Ekonomi Pengelola
Komponen Manfaat Manfaat
(Rupiah)
Retribusi BPSR
Bandung 8.691.329.000
(299701 ton x Rp.29.000/ton)
Cimahi 713.603.000
(24607 ton x Rp. 29.000/ton)
Bandung Barat 216.485.000
(7465 ton x Rp. 29.000/ton)
Hasil pengolahan sampah BPSR
Kompos 353.520.000
(29,46ton/bulan x 12 bulan x
Rp.1.000.000)
Efisiensi lahan Masing-masing
Bandung 64.553.296.164 kabupaten/kota
(299701 ton/365hari x 277 m2/ton x
Rp.300.000/m2 ) -(Rp. 3.680.000.000)
Cimahi 3.414.870.685
(24607 ton/365hari x 277 m2/ton x
Rp.250.000/m2) -(Rp.320.000.000)
Peningkatan ekonomi masyarakat 1.825.000.000 Masing-masing
Bandung Barat kabupaten/kota
(100 orang x Rp. 50.000 x 365 hari)
Sumber : Balai Pengelolaan Sampah Regional (BPSR) Provinsi Jawa Barat dan Analisis (2011)

Manfaat selanjutnya adalah manfaat tidak langsung. Pembangunan TPA


Regional akan memberikan manfaat tidak langsung antara lain peningkatan
kebersihan dan kesehatan lingkungan serta peningkatan ekonomi masyarakat.
Kebersihan dan kesehatan yang terutama akan dinikmati oleh Bandung dan Cimahi,
karena dengan TPA Regional akan menyebabkan kondisi kota lebih bersih
dibanding tanpa TPA Regional atau dengan TPA lokal yang kapasitasnya terbatas.
35
Sedangkan bagi Bandung Barat dapat membuka kesempatan bagi masyarakat
untuk membuka peluang ekonomi dengan pengolahan sampah, misal daur ulang
sampah an organik atau penjualan/pemanfaatan komposting. Nilai manfaat ini sulit
diekonomiskan karena sangat kompleks dan efeknya berantai.
Berdasarkan biaya dan manfaat di atas dapat dianalisis kelayakan ekonomi TPA
Regional menggunakan asumsi umur program 10 tahun dan tingkat bunga diskonto
15 %. Tabel 4 menunjukkan nilai manfaat tunai (net benefit) didapat melebihi net
cost-nya. Selisih keduanya adalah nilai manfaat bersih berdasarkan nilai sekarang
(NPV). NPV di semua kabupaten/kota adalah negatif, artinya cost-benefit ratio akan
di bawah 1. Berdasarkan nilai ini menyimpulkan bahwa secara ekonomi, TPA
Regional tidak layak untuk dibangun dengan kerjasama selama 10 tahun.

Tabel Hasil Analisis cost-benefit ratio TPA Regional


Parameter Nilai
Net Cost (15%) Rp.142.783.919.434
Net Benefit
(15%) Rp.116.183.139.275
Net Present
Value Rp.-26.600.780.160
Cost-Benefit
Ratio 0,81
Sumber : Hasil Analisis (2011)

Analisis selanjutnya adalah menentukan pay back period, yaitu pada tahun ke
berapa biaya yang dikeluarkan telah tertutupi oleh manfaat yang didapat secara
kumulatif. Secara grafis nilai ini dapat ditentukan pada Gambar 1, dimana pay back
priod terletak pada titik potong net cost dan net benefit (titik break event point).
Grafik tersebut menunjukkan bahwa pay back period sebelum ke-10 yaitu sekitar
tahun ke-2. Dengan demikian mulai tahun-tahun tersebut, pemerintah
kabupaten/kota akan dapat menikmati manfaat dari pengembangan TPA Regional.
Tetapi biaya kembali melebihi manfaat mulai tahun ke-4. Pay back period 1 terjadi
sebelum umur program diprediksikan berakhir, artinya TPA Regional layak
diimplementasikan hingga tahun ke-4 saja. Kelayakan ini masih berpotensi
ditingkatkan dengan memperbesar nilai manfaat. Potensi pemanfaatan sampah TPA
yang bisa diupayakan adalah produksi listrik dan penjualan hasil penangkapan

36
Methana. Peluang paling besar adalah dengan menjalin kerjasama swasta dan
internasional.

5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya,
maka terdapat beberapa kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan. Adapun
kesimpulan pada kegiatan uji model kemitraan pemerintah, swasta dan masyarakat
dalam pengelolaan TPA Regional antara lain :

Hasil uji kinerja model :


1. Komponen kelembagaan menunjukkan skor rata-rata 2. Artinya seluruh
variabel dalam komponen model ini sangat sesuai dengan kondisi di
lapangan dan memiliki nilai sangat penting sehingga sangat layak
dikembangkan dalam konsep pedoman.
2. Komponen pembiayaan menunjukkan skor rata-rata 1. Artinya sebagian
besar variabel dalam komponen model ini sesuai dengan kondisi di lapangan
dan memiliki nilai penting sehingga cukup layak dikembangkan dalam konsep
pedoman.
3. Komponen SDM menunjukkan skor rata-rata 1. Artinya sebagian besar
variabel dalam komponen model ini sesuai dengan kondisi di lapangan dan
memiliki nilai penting sehingga cukup layak dikembangkan dalam konsep
pedoman.
4. Komponen CBD menunjukkan skor rata-rata 1. Artinya sebagian besar
variabel dalam komponen model ini sesuai dengan kondisi di lapangan dan
memiliki nilai penting sehingga cukup layak dikembangkan dalam konsep
pedoman.

Parameter kinerja model :


Berdasarkan hasil pembobotan uji model dapat dikeluarkan beberapa parameter
kinerja model seperti efektifitas dan efesiensi. Model kerjasama ini dianggap
semakin efesien manakala :
1. Mampu mendorong para pihak yang bekerjasama untuk menyatupadukan
tujuan dan kepentingannya dalam pengelolaan sampah skala regional dengan
37
input (biaya fasilitasi, FGD, kampanye publik, dan sebagainya) sehemat
mungkin.
2. Mampu mendorong para pihak yang bekerjasama segera melakukan
penandatanganan nota kesepahaman dan ditindaklanjuti dengan perjanjian
kerjasama yang legal dan mengikat menggunakan sumber daya yang
sehemat mungkin.
3. Mampu membentuk lembaga kerjasama pengelola TPA regional yang
independen dan SDM didalamnya di isi oleh orang-orang yang memiliki
kompetensi yang memadai dengan penggunaan sumber daya yang sehemat
mungkin.
4. Mampu memudahkan para pihak yang bekerjasama dalam melakukan
perhitungan dan perumusan pembiayaan dan manfaat sehingga dapat
menghasilkan keputusan pembiayaan yang disepakati bersama.
5. Mampu memfasilitasi pengembangan kemitraan dengan masyarakat sekitar
TPA sehingga meningkatkan penerimaan masyarakat dalam pengelolaan
TPA regional.

Model kerjasama ini dianggap semakin efektif manakala :


1. Mampu meminimalkan konflik kepentingan setelah ada penandatanganan
perjanjian kerjasama.
2. Lembaga kerjasama yang dibangun mampu menjalankan fungsi-fungsinya
secara optimal khususnya untuk fungsi koordinatif dalam pengambilan
keputusan bersama.
3. Keputusan pembagian biaya dan manfaat dijalankan dengan konsisten dan
menunjang keberlanjutan pengelolaan sampah di TPA regional.
4. Masyarakat di sekitar TPA regional mendapatkan manfaat yang optimal dan
berperan dalam pengelolaan TPA sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya.

Hasil uji komparasi :


1. Komponen kelembagaan menunjukkan skor rata-rata 0. Artinya seluruh
variabel dalam komponen model ini sudah diakomodasi dalam Konsep
Pedoman Pembentukkan Kelembagaan TPA Regional.

38
2. Komponen pembiayaan menunjukkan skor rata-rata 1. Artinya sebagian besar
variabel dalam komponen model ini belum diakomodasi dalam Konsep
Pedoman Pembentukkan Kelembagaan TPA Regional.
3. Komponen SDM menunjukkan skor rata-rata 0. Artinya seluruh variabel dalam
komponen model ini sudah diakomodasi dalam Konsep Pedoman
Pembentukkan Kelembagaan TPA Regional.
4. Komponen CBD menunjukkan skor rata-rata 1. Artinya seluruh variabel dalam
komponen model ini belum diakomodasi dalam Konsep Pedoman
Pembentukkan Kelembagaan TPA Regional.

Hasil Perhitungan Biaya dan Manfaat


1. Nilai Cost Benefit Ratio untuk Bandung 0,649; Cimahi 0,403; dan Bandung
Barat 3,784. Nilai menunjukkan Bandung Barat memperoleh manfaat paling
besar.
2. Pay back period jauh sebelum ke-10 hanya Bandung Barat yaitu sejak tahun
ke-1. Bandung dan Cimahi sebelum tahun ke-2 sebenarnya sudah pay back
period, tetapi terlampaui lagi biayanya pada tahun ke-5 untuk Bandung dan
ke-3 untuk Cimahi, sehingga hasil analisis menjadi tidak layak

B. Rekomendasi
B.1. Rekomendasi Umum
1. Komponen pembiayaan dan pengembangan CBD direkomendasikan menjadi
konsep pedoman yang melengkapi Konsep Pedoman Pembentukkan
Kelembagaan TPA Regional.
2. Komponen pembiayaan menjadi prioritas dalam penyusunan konsep pedoman
berdasarkan pertimbangan pengalaman kegagalan proses fasilitasi kerjasama
akibat tidak tercapainya kesepakatan terkait pembagian biaya dan manfaat
pengelolaan TPA regional. Adapun konsep pedoman mengenai pembiayaan yang
direkomendasikan adalah Konsep Pedoman Tatacara Perumusan Pembagian
Biaya dan Manfaat Pengelolaan TPA Regional (Lampiran).
3. Untuk menyempurnakan konsep pedoman Tatacara Perumusan Pembagian
Biaya dan Manfaat Pengelolaan TPA Regional perlu kajian lebih mendalam terkait
manfaat lingkungan keberadaan TPA regional dan kemampuan fiskal daerah
kabupaten/kota.
39
B.2. Rekomendasi Khusus
1. Sebelum melakukan perumusan pembagian biaya dan manfaat dalam
pengelolaan TPA regional harus dipastikan adanya kesamaan kepentingan dan
tujuan dalam pengelolaan sampah regional.
2. Untuk memperkuat kesamaan kepentingan dan tujuan para pihak yang
bekerjasama harus diingatkan dengan kewajiban dalam UU Pengelolaan
Sampah terkait keharusan melakukan pengelolaan TPA dengan sistem sanitary
landfill. Untuk memenuhi kewajiban ini tidak ada jalan lain kecuali dengan
bekerjasama mengelola TPA regional.
3. Seluruh dokumen perencanaan TPA regional yang telah dihasilkan seperti
meliputi dokumen Master Plan, Feasibility Study (FS), dan AMDAL
pembangunan TPA regional sebaiknya sudah terkumpul sebagai dasar dalam
melakukan perumusan pembagian biaya dan manfaat.
4. Perumusan pembagian biaya dan manfaat harus memperhitungkan kapasitas
fiskal daerah kabupaten/kota yang bekerjasama. Peran pemerintah provinsi
sebagai buffer ketika kapasitas fiskal kabupaten/kota sangat penting dan
strategis.
5. Pembagian biaya dan manfaat pengelolaan TPA regional sedapat mungkin
dapat mendorong daerah yang bekerjasama untuk mengurangi produksi
sampah dari daerahnya. Pada sisi yang lain proses ini juga sedapat mungkin
meningkatkan kapasitas daerah dalam kerjasama.
6. Pembagian biaya dan manfaat pengelolaan TPA regional sebaiknya didesain
untuk memberikan insentif kepada daerah kabupaten/kota yang mampu
mereduksi sampahnya yang masuk TPA regional secara signifikan dan
disinsentif bagi kabupaten/kota yang justru terus meningkat volume sampahnya.
7. Komponen biaya pembangunan dan pengelolaan TPA regional mengacu pada
pembagian kewenangan antara pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2008.
8. Prinsip-prinsip dalam proses pembagian biaya dan manfaat pengelolaan TPA
regional sebaiknya mengacu pada Permendagri 69/2007 tentang Kerjasama
Pembangunan Perkotaan.
9. Komponen kompensasi dampak negatif kepada masyarakat sekitar TPA menjadi
salah satu variabel penting yang bisa digunakan sebagai indeks pembagi biaya
dan manfaat khususnya bagi daerah lokasi TPA regional berada.
40
10. Dalam menentukan biaya kompensasi dampak negatif harus dibedakan dengan
biaya penataan lingkungan disekitar TPA regional. Kompensasi dampak sifatnya
hanya respon/adaptasi pada dampak negatif yang ditimbulkan akibat
operasional TPA regional seperti; pembangunan puskesmas dan biaya
pengobatan akibat pencemaran sampah di TPA, pembangunan/bantuan air
bersih sebagai respon dampak pencemaran air lindi, dana rehabilitasi jalan
akibat kerusakan yang ditimbulkan kendaraan pengangkut sampah yang lewat.

41
DAFTAR PUSTAKA

Arvidsson, G, 1986, Performance Evaluation, dalam Kaufmann (Eds), Guidance,


Control and Evaluation in Public Sector, Walter de Guyter: Berlin
Baso, H.Moerat, 2003, Pembinaan SDM Berbasis Kompetensi, Majalah
Usahawan No. 6 Tahun 2003 Jakarta
Bastary, Indra P, 2009, Public Private Partnership : Kerjasama Pemerintah dan
Swasta di Indonesia, Bahan materi Short Course On Integrated Urban
Planning for Sustainable Management di Jakarta
Boyle, R, 1989, Managing Public Sector Performance, a Comparative Study of
Performance Monitoring System in the Public and Private Sector, Institute
of Public Administration : Dublin
Carter dkk, 1992, How Organization Measures Success : The Use of
Performance Indicators in Government, Rourledge : London
Downs, E.W. Larkey PD, 1986, The Search for Government Efficiency : from
hubris to helplessness, Random House : New York
Gray, C., 1997, Pengantar Evaluasi Proyek Edisi Kedua, PT.Gramedia : Jakarta

Kadariah, 1999, Evaluasi Proyek Analisa Ekonomi Edisi Satu, LPFE-UI: Jakarta

Kementrian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Statistik Persampahan


Indonesia Tahun 2008

Michael Amstrong, Angela Baron, Performance Management, CAID House :


London
Mitrani, Alain, 1995, Manajemen SDM Berbasis Kompensasi (terjemahan), PT.
Intermasa : Jakarta
Moleong, Lexy J. 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya,
Bandung

Mulreany, M, 1991, Economy, Efficiency and Effectiveness in Public Sector :


Key Issues, Institute of Public Administration : Dublin
Oktaviani dan Suryana, 2006, Analisis Kepuasan Pengunjung dan Pengembangan
Fasilitas Wisata Agro, Jurnal Agro Ekonomi Volume 24 No.1 Mei 2006 hal 41 - 58
Prasetyo B dan Jannah, 2005, Metode Penelitian Kuantitatif : Teori dan Aplikasi,
Rajawali Press : Jakarta

42
Prayitno, Widodo dan Suprapto, 2002, Standarisasi Kompensasi PNS Menuju Era
Globalisasi Global. Seri Kertas Kerja Volume II No. 05, Pusat Penelitian dan
Pengembangan BKN : Jakarta
Suparmoko, 2002, Penilaian Ekonomi : Sumberdaya Alam dan Lingkungan,BPFE :
Yogyakarta
Santoso, Singgih, 2005, SPSS dan Excel Untuk Mengukur Sikap dan Kepuasan
Konsumen, Elex Media Komputindo : Jakarta

Zwell, Michael, 2000, Creating a Culture of Competence, Wiley : New York

43