Anda di halaman 1dari 3

Implementasi Clinical Pathway RSUD.

Haji Makassar
Tahun 2016
Clinical Pathway adalah alur yang menunjukkan secara detail tahap-tahap
penting dari pelayanan kesehatan termasuk hasil yang diharapkan. Secara sederhana
dapat dibilang bahwa clinical pathway adalah sebuah alur yang menggambarkan
proses mulai saat perimaan pasien hingga memulangkan pasien. Clinical Pathway
menyediakan standar pelayanan minimal dan memastikan bahwa pelayanan tersebut
tidak terlupakan dan dilaksanakan tepat waktu. Clinical Pathway memiliki banyak nama
lain seperti: Critical care pathway, Integrated care pathway, Coordinated care pathway,
Caremaps, atau Anticipated recovery pathway.

Menurut dr.Hanevi Djasri,MARS konsultan dari PMPK FK UGM, terdapat sekitar tujuh
tujuan utama Implementasi clinical pahway:

1. Memilih pola praktek terbaik dari berbagai macam variasi pola praktek.
2. Menetapkan standar yang diharapkan mengenai lama perawatan dan
penggunaan prosedur klinik yang seharusnya.
3. Menilai hubungan antara berbagai tahap dan kondisi yang berbeda dalam suatu
proses dan menyusun strategi untuk mengkoordinasi agar dapat menghasilkan
pelayanan yang lebih cepat dengan tahap lebih sedikit.
4. Memberikan Informasi kepada seluruh staf yang terlibat mengenai tujuan umum
yang harus tercapai dari sebuah pelayanan dan apa peran mereka dalam proses
tersebut.
5. Menyediakan kerangka kerja untuk mengumpulkan dan menganalisa data
proses pelayanan sehingga penyedia layanan dapat mengetahui seberapa
sering dan mengapa seorang pasien tidak mendapatkan pelayanan sesuai
standar.
6. Mengurangi beban dokumen klinik.
7. Meningkatkan kepuasan pasien melalui peningkatan edukasi kepada pasien
(misalnya dengan menyediakan informasi yang lebih tepat tentang rencana
pelayanan).

Secara konvensional, clinical pathway ditulis dalam bentuk formulir matrix dengan
aspek pelayanan di satu sisi dan waktu pelayanan disisi yang lain. Interval waktu
biasanya dalam hitungan hari mengikuti instruksi klinik harian, namun hal ini dapat
berbeda tergantung dari perjalanan dan perkembangan penakit atau tindakan yang ada
(misalnya Clinical Pathway untuk penyakit kronis mungkin memiliki interval waktu
perminggu atau bulan). Umumnya clinical pathway dikembangkan untuk diagnose atau
tindakan yang sifatnya high-volume, high-risk dan high-cost. Clinical pathway
banyak dikembangkan dirumah sakit, namun saat ini secara bertahap sudah mulai
diperkenalkan ke sarana pelayanan kesehatan lain seperti nursing home dan home
healthcare.

Menurut dr.Hanevi Djasri,Mars berbagai proses dapat dilakukan untuk menyusun


Clinical Pathway, salah satunya terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut:

1. Pembentukan Tim Penyusun Clinical Pathway.


Tim penyusunan clinical pathway terdiri dari staf multidisiplin dari semua
tingkat dan jenis pelayanan. Bila diperlukan, tim dapat mencari dukungan
dari konsultan atau institusi diluar RS seperti organisasi profesi sebagai
narasumber. Tim bertugas untuk menentukan dan melaksanakan langkah-
langkah penyusunan clinical pathway.
2. Identifikasi key players
Identifikasi key players bertujuan untuk mengetahui siapa saja yang terlibat
dalam penanganan kasus atau kelompok pasien yang telah ditetapkan dan
untuk merencanakan focus grup dengan key players bersama dengan
pelanggan internal dan eksternal.
3. Pelaksanaan site visit di rumah sakit.
Pelaksanaan site visit di rumah sakit bertujuan untuk mengenal praktik yang
sekarang berlangsung, menilai system pelayanan yang ada dan memperkuat
alas an mengapa clinical pathway perlu disusun. Jika diperlukan, site visit
internal perlu dilanjutkan dengan site visit eksternal setelah sebelumnya
melakukan identifikasi partner benchmarking. Hal ini juga diperlukan untuk
mengembangkan ide.
4. Studi literature.
Studi literature diperlukan untuk menggali pertanyaan klinis yang perlu
dijawab dalam pengambilan keputusan klinis dan untuk menilai tingkat dan
kekuatan bukti ilmiah. Studi sebaiknya menghasilkan laporan dan
rekomendasi tertulis.
5. Diskusi kelompok terarah.
Diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) dilakukan
untuk mengenal kebutuhan pelanggan (internal dan eksternal) dan
menyesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan
tersebut serta untuk mengenal kesenjangan antara harapan pelanggan dan
pelayanan yang diterima. Lebih lanjut, diskusi kelompok terarah juga perlu
dilakukan untuk memberi masukan dalam pengembangan indicator mutu
pelayanan klinis dan kepuasan pelanggan serta pengukuran dan
pengecekan.
6. Penyusunan Pedoman Klinik.
Penyusunan pedoman klinik dilakukan dengan mempertimbangkan hasil site
visit, hasil studi literature (berbasis bukti ilmiah) dan hasil diskusi kelompok
terarah. Pedoman klinik ini perlu disusun dalam bentuk alur pelayanan untuk
diketahui juga oleh pasien.
7. Analisis bauran kasus.
Analisis bauran kasus dilakukan untuk menyediakan informasi penting baik
pada saat sebelum dan setelah penerapan clinical pathway. Meliputi: Length
of stay, biaya perkasus, obat-obatan yang digunakan, tes diagnosis yang
dilakukan, intervensi yang dilakukan, praktisi klinis yang terlibat dan
komplikasi.
8. Menetapkan system pengukuran proses dan outcome.
Contoh ukuran-ukuran proses antara lain pengukuran fungsi tubuh dan
mobilitas, tingkat kesadaran, temperature, tekanan darah, fungsi paru dan
skala kesehatan pasien (wellness indicator).
9. Mendisain dokumentasi clinical pathway.
Penyusunan dokumentasi clinical pathway perlu memperhatikan format
clinical pathway, ukuran kertas, tepi dan perforasi untuk filing. Perlu
diperhatikan bahwa penyusunan dokumentasi ini perlu mendapatkan
ratifikasi oleh instalasi Rekam Medik untuk kesesuaian dokumentasi lain.

Setelah Clinical pathway tersusun, perlu dilakukan uji coba sebelum akhirnya di
implementasikan di rumah sakit. Saat uji coba dilakukan penilaian secara periodic
kelengkapan pengisian data dan diikuti dengan pelatihan kepada para staf untuk
menggunakan Clinical Pathway tersebut. Lebih lanjut, perlu juga dilakukan analisis
variasi dan penelusuran mengapa praktek dilapangan berbeda dari yang
direkomendasikan dalam clinical pathway.

Hasil analisis digunakan untuk: mengidentifikasi variasi umum dalam pelayanan,


memberikan sinyal kepada staf akan adanya pasien yang tidak mencapai
perkembangan yang diharapkan, memperbaiki clinical pathway dengan menyetujui
perubahan dan mengidentifikasi aspek-aspek yang dapat diteliti lebih lanjut. Hasil
analisis variasi dapat menetapkan jenis variasi yang dapat dicegah dan tidak dapat
dicegah untuk kemudian menetapkan solusi bagi variasi yang dapat dicegah(variasi
yang tidak dapat dicegah dapat berasal dari penyakit penyerta yang menyebabkan
pelayanan menjadi kompleks bagi seorang individu).

Dengan Implementasi Clinical Pathway diharapkan pasien benar-benar


mendapat pelayanan yang dibutuhkan sesuai kondisinya sehingga biaya yang
dikeluarkanpun dapat sesuai dengan perawatan yang diterima dan hasil yang
diharapkan. Adanya clinical pathway juga dapat membantu dokter dalam melakukan
perawatan. Rincian tahapan-tahapan perawatan pasien yang tertera dalam clinical
pathway dapat menjadi panduan dokter saat beraksi. Memang banyak cara untuk
menangani suatu penyakit tapi dengan menggunakan panduan yang baik kita dapat
melakukan terapi pasien yang paling bagus dengan cost yang seminimal mungkin buat
rumah sakit dan meningkatkan pendapatan rumah sakit.