Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

KIMIA BAHAN ALAM II


Isolasi Alkaloid dari Buah Lada Hitam (Merica)
(Piper nigrum L.)

Oleh :

Nama : Winda Astuti


Bp : 1411011029
Shift : Jum'at Siang
Kelompok : 4 (empat)
Rekan Kerja : Ranelliza (1411011014)
Sonia Rafika (1411011022)
Mutia Hardi S ( 1411011041)
Nasty Ranura (1411012037)
Ria Anggraini (1411012053)
Yuliga Mutia (1411012055)

LABORATORIUM KIMIA BAHAN ALAM II


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu jenis rempah yang paling
penting diantara rempah-rempah lainnya (King of Spices). Genus Piper ditemukan
oleh Linnaeus dan memiliki banyak spesies. Sekitar 600 -2.000 spesies di
antaranya tersebar di daerah tropis. Dari jumlah tersebut, terdapat beberapa
spesies yang telah di budidayakan, antara lain P. nigrum (Lada), P. betle (Sirih),
dan P. retrofractum (Cabai Jawa) ( Rukmana, 2003).
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil utama lada dan
mempunyai peranan penting dalam perdagangan lada dunia. Terdapat tidak
kurang dari 40 varietas di Indonesia. Adapun varietas lada yang banyak
dikembangkan di Indonesia antara lain: Jambi, Lampung, Bulok Belantung,
Muntok atau Bangka. Pasokan lada Indonesia dalam perdagangan dunia dipenuhi
dari Provinsi Bangka Belitung yaitu Lada Putih dengan sebutan Muntok White
Pepper dan Provinsi Lampung Lada hitam sebagai Lampung Black Pepper yang
sudah dikenal sejak sebelum Perang Dunia ke-II ( Rukmana, 2003).
Ada dua jenis merica yang dikenal, yaitu lada hitam dan lada putih.
Namun yang membedakan keduanya adalah cara memanen dan
mempersiapkannya sebelum dipasarkan. Merica putih adalah merica yang dipetik
ketika sudah matang. Kemudian kulitnya dikupas dengan cara direndam didalam
air selama dua minggu, setelah itu merica dikeringkan di bawah sinar matahari
selama tiga hari. Sementara lada hitam adalah merica yang dipetik saat kulitnya
masih hijau, tidak direndam dan segera dikeringkan dibawah sinar matahari
( Rukmana, 2003).
Lada merupakan tanaman rempah yang sangat disukai oleh para pedagang
kuliner yang umumnya dicampurkan pada masakan. Selain itu, lada dapat
digunakan sebagai obat tradisional dalam menyembuhkan berbagai macam
penyakit. Terutama dalam masyarakat yang masih serba terbatas dalam
menjangkau pengobatan medis yang begitu mahal dan canggih seperti saat ini.
Lada mengandung serat dan vitamin. Selain itu, lada juga mengandung senyawa
metabolit sekunder yaitu senyawa alkaloid berupa piperin (Wulandari, 2012).
Oleh karena itu, percobaan yang penulis lakukan ini adalah untuk
mengisolasi senyawa yang terkandung didalam merica yang dapat berkhasiat
untuk beberapa jenis penyakit.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui dan mempraktekkan cara mengisolasi suatu senyawa yang
terdapat didalam merica.
2. Mengetahui cara mengidentifikasi senyawa yang terdapat didalam merica.

1.3 Manfaat Praktikum


Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1. Menambah ilmu pengetahuan mengenai cara mengisolasi suatu senyawa.
2. Menambah informasi tentang kandungan kimia yang terdapat pada merica
3. Menambah informasi tentang kasiat dari merica.
4. Sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut tentang merica.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.1 Merica Hitam (Anonim, 2016).


2.1. Taksonomi
Menurut Akbar (2010), kedudukan tanaman merica hitam (Piper nigrum
L.) dalam taksonomi adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Magnoliidae
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae (suku sirih-sirihan)
Genus : Piper
Spesies : Piper nigrum L.
Nama daerah dari Piper nigrum. L ini, pedes (Sunda), merica (Jawa), lada
kecik (Bengkulu), lado ketek (Minangkabau), marica (Makassar), malita godala
(Gorontalo). Nama asing yaitu black pepper (Inggris), dan hu zhiau (China)
Tanaman lada memiliki akar tunggang dengan akar utama dapat menembus tanah
sampai kedalaman 1-2 m. Batang tanaman lada berbuku-buku dan berbentuk sulur
yang dapat dikelompokkan menjadi empat macam sulur, yaitu sulur gantung,
sulur panjat, sulur buah, dan sulur tanah. Daun lada merupakan daun tunggal
dengan duduk daun berseling dan tumbuh pada setiap buku. Warna daun hijau
muda pada waktu muda dan daun tua berwarna hijau mengkilat pada permukaan
atas. Pertulangan daun melengkung dengan tepi daun. bergelombang atau rata.
Bunga-bunga terdapat pada cabang plagiotrophic (horizontal) yang tersusun
dalam bulir (spica) atau untai (amentum). Buah lada temasuk buah buni berbentuk
bulat berwarna hijau dan pada waktu masak berwarna merah. Biji lada berwarna
putih cokelat dengan permukaan licin (Gambar 1) (Wahid, 1996).
Lada dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian 0-500 m
dpl. Curah hujan yang paling baik untuk tanaman lada adalah 2000 - 3000
mm/tahun dengan hari hujan 110- 170 hari, dan musim kemarau 2-3 bulan/tahun.
Kelembaban udara yang sesuai adalah sekitar 70% sampai 90% dengan kisaran
suhu 25-35oC. Tanaman lada dapat tumbuh pada semua jenis tanah, terutama
tanah berpasir dan gembur dengan unsur hara yang cukup serta pH tanah yang
sesuai berkisar antara 5-6,5 (Wahid, 1996).

2.2 Kandungan Senyawa


Lada hitam (Piper ningrum L.) mengandung metabolit sekunder berupa
alkaloid yaitu piperin.

Gambar 2.2 Piperin (Anonim, 2016).

Piperin (1-piperilpiperidin) C17H19O3N merupakan senyawa alkaloid yang

memiliki inti piperidin. Piperin dapat membentuk kristal berwarna kuning dengan

titik leleh 127-129,5oC, merupakan basa yang tidak optis aktif, dapat larut dalam

alcohol, benzene, eter dan sedikit larut dalam air. Hidrolisis piperin dapat

dilakukan dengan menggunakan larutan 10 % KOH-etanol menjadi asam piperat

(Sastrohamidjojo, 1996).

Piperin terdapat dalam senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid yang

sesungguhnya merupakan racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisilogi

yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa. Lazim mengandung nitrogen

dalam cincin heterosiklik, diturunkan dari asam amino biasanya terdapat dalam

tanaman sebagai garam asam organik (Sastrohamidjojo, 1996).


Sumber alkaloid adalah tanaman berbunga, angiosperma. Sejumlah besar
juga dapat ditemukan pada hewan, serangga, organisme laut, mikroorganisme dan
tanaman rendah. Alkaloid adalah suatu kelompok senyawa yang terdapat sebagian
besar pada tanaman bunga, maka para ilmuwan sangat tertarik dengan aturan
tanaman. Satu genus sering kali mengandung alkaloid yang sama dan bebarapa
genera yang berbeda dalam suatu famili dapat mengandung alkaloid yang sama
(Sastrohamidjojo, 1996).
Alkaloid dapat diketahui dengan melihat sifat fisika dan kimia. Sifat fisika
alkaloid yaitu berbentuk amorf dan beberapa nikotin dan koinin berupa cairan.
Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa kompleks spesies
aromatik berwarna (contoh, berberin berwarna kuning dan betanin berwarna
merah). Umumnya, basa bebas hanya larut dalam pelarut organik meskipun
beberapa pseudo dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid
quartener sangat larut dalam air sedangkan sifat kimianya yaitu tergantung adanya
pasangan elektron pada nitrogen. Jika gugus fungsional yang berdekatan dengan
nitrogen bersifat melepaskan elektron sebagai contoh gugus alkil, maka
ketersediaan elektron pada nitrogen naik dan senyawa lebih bersifat basa
(Sastrohamidjojo, 1996).

2.3 Kegunaan
Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi lada hitam
dapat membantu mengontrol lemak dalam darah. Kandungan piperin dalam lada
hitam dapat memblokir pembentukan selsel lemak baru. Piperin berguna untuk
mengganggu aktivitas gen yang mengontrol pembentukan sel lemak baru. Piperin
memicu reaksi metabolisme berantai yang membantu menjaga lemak, dan dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan obesitas (Risfaheri, 2012).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak lada hitam secara
signifikan meningkatkan aktivitas sitotoksik sel pembunuh alami, yang
menunjukkan potensinya sebagai anti kanker. Efek anti kanker tersebut karena
aktivitas dari senyawa alkaloid piperin yang terdapat di dalam lada. Peran
imunomodulator dan aktivitas antitumor dari ekstrak lada hitam tersebut, dapat
dipromosikan dalam pemanfaatan lada sebagai agen alami untuk pemeliharaan
sistem kekebalan tubuh (Risfaheri, 2012).
Lada hitam juga dilaporkan dapat membantu mengatasi masalah
pencernaan. Lada mampu meningkatkan cairan pencernaan karena kandungan
asam klorida yang terkandung di dalamnya dengan cara memecah protein dalam
lambung. Selain itu, lada dikenal memiliki kandungan antioksidan yang
melimpah. Manfaat lainnya, lada dipercaya dapat menekan pertumbuhan bakteri
terutama pada saluran usus. Lada dilaporkan memiliki berbagai khasiat obat di
antaranya dapat mengatasi penyakit seperti asma, saluran pernafasan,
memperlancar aliran darah di sekitar kepala, dan sebagai afrodiksia
(Risfaheri, 2012).
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat: Botol infus 500 ml, seperangkat alat Rotary evaporator, pipet tetes,
chamber, penotol, vial, corong, spatel.
3.1.2 Bahan: Buah lada hitam (Piper nigrum) (25 g), metanol, kalium
hidroksida, etil asetat, kapas/kertas saring, plat KLT .

3.2 Cara Kerja


a. Buah lada hitam kering dihaluskan (25 g).
b. Dimaserasikan dengan 250 mL metanol dalam botol infus 500 mL selama 3
x 24 jam , lalu disaring.
c. Diuapkan maserat dengan alat rotary evaporator hingga kental.
d. Ekstrak kental ditambahkan 10 mL larutan kalium hidroksida 10%, lalu
disaring dan diamkan 24 jam.
e. Ambil kristal yang terbentuk, kemudian dilakukan rekristalisasi dengan
pelarut etil asetat dan n-heksan. KLT senyawa hasil isolasi dengan fase diam
silika gel 60 F254, fase gerak n-heksan : etil asetat (2:3). Lihat noda dibawah
sinar UV 254.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari praktikum yang telah dikerjakan, didapat hasil sebagai berikut :

a) Organoleptis
Warna : Coklat kehitaman
Bau : Khas
Bentuk : Kristal kecil
Rasa :-
b) Berat isolat
- Berat botol kosong : 11, 5587 gr
- Berat botol + kristal : 11, 5727 gr
- Berat isolate = (Berat botol + kristal ) (Berat botol kosong)

= 11, 5727 gr 11, 5587 gr

= 0,014 gr

c) Berat randemen = Berat isolat x 100%


Berat sampel

= 0,014 gr x 100 %

25 gr

= 0,056 %
d) Profil KLT dan Rf
Fase diam : silica gel 60
Fase gerak : n-heksan : etil asetat (2:3)

Di bawah sinar UV 254 nm

Rf = Jarak tempuh zat


Jarak tempuh eluen

= 2,5

3,2

= 0,78

Gambar 4.1 Hasil KLT Gambar 4.2 Hasil KLT

Gambar 4.3 Isolat


4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, penulis melakukan metoda isolasi terhadap buah lada
hitam atau yang bisa disebut dengan merica untuk mendapatkan senyawa yang
terkandung didalamnya. Senyawa yang terkandung didalam dari lada hitam itu
sendiri yang diharapkan adalah penulis mendapatkan senyawa yang terdiri dari
senyawa piperin. Lada hitam yang digunakan dibersihkan dan dihaluskan hingga
terbentuk serbuk lada yang halus. Tujuan penghalusan lada hitam adalah agar zat-
zat yang terkandung di dalam lada hitam mudah melarut dalam pelarut yang
digunakan. Hal ini karena semakin halus serbuk, maka kelarutan akan meningkat
karena semakin banyak terjadi kontak dengan pelarut, sehingga semakin banyak
zat yang dapat terbentuk dan semakin efisien proses pemisahan atau ekstraksi
yang terjadi. Penghalusan ini juga dapat untuk meninaktivasi enzim yang
terkandung di dalam jaringannya, selain itu juga untuk mencegah tumbuhnya
jamur, sehingga sampel bisa digunakan untuk waktu yang lama. Lada hitam yang
digunakan sebagai sample ditimbang sebanyak 25 gram.
Untuk pemeriksaan senyawa alkaloid ini, penulis menggunakan metode
maserasi. Dipilihnya metode ini karena metode ini lebih sederhana, hanya dengan
perendaman beberapa hari. Selain itu sampel yang digunakan dalam jumlah yang
cukup banyak. Pelarut yang digunakan adalah metanol, karena metanol ini
merupakan pelarut yang universal yang bisa melarutkan semua senyawa yang
terkandung didalam suatu simplisia. Dan harga nya juga relatif lebih murah
dibandingkan dengan pelarut pelarut yang lainnya. Dilakukan maserasi ini dalam
beberapa hari. Penulis melakukan maserasi selama 3 (tiga) hari. Dalam buku
panduan sebenarnya hanya perlu dilakukan maserasi dalam satu hari, tetapi
dilakukan dalam tiga hari diharapkan agar senyawa yang terkandung didalam
serbuk kulit buah manggis tersebut dapat terikat dengan pelarut secara sempurna.
Maserasi dilakukan dalam botol infus 500 ml.
Setelah dilakukannya maserasi, lalu hasil maserasi tersebut dilakukan
penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan menggunakan kapas dan kertas
saring agar tidak ada lagi sari-sari merica yang terbawa pada filtrat. Pada
penyaringan pertama, dilakukan penyaringan dengan menggunakan kertas saring.
Hasil penyaringan berupa filtrat. Kemudian dilakukan penyaringan kembali..
Filtrat yang didapatkan tadi langsung dilakukan penguapan dengan rotary
evaporator. Rotary evaporator adalah alat yang digunakan untuk melakukan
penguapan pelarut yang efisien. Penguapan dapat terjadi karena adanya
pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat dibantu dengan
penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyaring akan
naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan
pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung. Proses
penguapan ini dilakukan hingga diperoleh ekstrak kental yang ditandai dengan
terbentuknya gelembung-gelembung udara pada permukaan ekstrak atau jika
sudah tidak ada lagi pelarut yang menetes pada labu alas bulat penampung.
Setelah proses penguapan selesai, rotary evaporator dihentikan. Maserat diuapkan
dengan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kentalnya.
Selanjutnya, ekstrak kental tadi ditambahkan dengan larutan KOH dalam
metanol dan diperoleh larutan berwarna cokelat kehijau-hijauan. Penambahan
larutan KOH dalam metanol bertujuan untuk memperoleh piperin dari ekstrak
kental tersebut, dimana di dalam ekstrak kental tersebut terdapat komponen lain
ketika ditambahkan KOH-metanol yang menyebabkan piperin yang ada dalam
ekstrak tersebut bereaksi menjadi garam asam piperat dan dengan penambahan
KOH-metanol dapat mengeliminasi senyawa lainnya, karena dalam ekstak
tersebut masih ada zat pengotor. Masih terdapatnya zat pengotor ini disebabkan
senyawa piperin, merupakan senyawa alkaloid golongan amida yang dapat
mengalami reaksi hidrolisis baik dalam suasana asam maupun basa. Jadi
penambahan larutan KOH-metanol ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa
piperin dalam bentuk garamnya, karena berdasarkan literature dinyatakan bahwa
senyawa golongan alkaloid sering kali diisolasi dalam bentuk garamnya yaitu
garam asam piperat.
Dilakukan penyaringan dan lakukan rekristalisasi dengan menggunakan 2
pelarut berbeda kepolarannya, yaitu etil asetat dan n-heksan. Rekristalisasi
dilakukan berulang-ulang, sampai didapatkan senyawa murni
Kristal yang sudah didapat langsung dilakukan KLT. Kromatografi
Lapis Tipis adalah salah satu metode pemisahan komponen menggunakan fasa
diam yang berupa silika gel 60 dan fase gerak yang digunakan adalah n-
heksan:etil asetat (2:3). Lalu didapatkan noda yang nilai Rf nya adalah 0,78.
Berdasarkan penelitian, bahwa piperine memiliki nilai Rf 0.49 0.01 Metode yang
digunakan berdasarkan linearitas, keakuratan, dan presisi (Tapadiya et al, 2009).
Persen berat rendemen yang didapat adalah 0,056 %.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dijalankan, dapat diambil kesimpulan
bahwa:
1. Persen berat rendemen yang didapat untuk isolasi lada hitam ini adalah
sebanyak 0,056%.
2. Rf yang didapat pada uji KLT senyawa didalam lada hitam ini adalah
sebesar 0,78 .

5.2 Saran
Setelah melakukan praktikum ini, disarankan untuk:
1. Melakukan prosedur praktikum sesuai dengan buku panduan.
2. Diharapkan praktikan dapat melakukan praktikum dengan tingkat
ketelitian yang tinggi.
3. Diharapkan praktikan untuk selalu membandingkan dengan literatur
yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Budhi. 2010. Tumbuhan dengan Kandungan Senyawa Aktif yang


Berpotensi Sebagai Bahan Antifertilitas. Jakarta: Adabia Press.
Anonim. 1995. Piper nigrum. dikutip dari http://www.henriettes-herb.com/,
diakses pada 1 Mei 2016.
Anonim. 2016. Piperine. dikutip dari http://www.trc-canada.com/ , diakses pada 1
Mei 2016.
Risfaheri. 2012. Buletin Teknologi Pascananen Pertanian Vol 8 (1). Bangka
Belitung.
Rukmana , H. Rahmad. 2003. Usaha Tani Lada Perdu. Yogyakarta: Kanisius.
Sastrohamidjojo, Hardjono. 1996. Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Tapadiya , Kokate CK, Purohit AP, Ghokhale SB. 2009. Quantitative Estimation
Of Piperine From Pharmaceutical Dosage Form By HPTLC. Asian
Journal of Pharmaceutical and Clinical Research Vol 2.
Wahid, P. 1996. Identifikasi Tanaman Lada. Monograf Tanaman Lada. Balittro.
Wulandari, Heny, Zakiatulyaqin dan Supriyanto. Isolasi Dan Pengujian Bakteri
Endofit Dari Tanaman Lada (Piper Nigruml.) Sebagai Antagonis
Terhadap Patogen Hawar Beludru (Septobasidium sp.). Jurnal
Perkebunan & Lahan Tropika Vol 2(2).. 23-31.
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
KIMIA BAHAN ALAM II
Isolasi Flavonoid dari Paku Resam
Gleichenia linearis (Burm.) Clarke)

Oleh :

Nama : Winda Astuti


Bp : 1411011029
Shift : Jum'at Siang
Kelompok : 4 (empat)
Rekan Kerja : Ranelliza (1411011014)
Sonia Rafika (1411011022)
Mutia Hardi S ( 1411011041)
Nasty Ranura (1411012037)
Ria Anggraini (1411012053)
Yuliga Mutia (1411012055)

LABORATORIUM KIMIA BAHAN ALAM II


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Keanekaragaman tumbuhan yang terdapat di Indonesia merupakan salah
satu kekayaan alam yang perlu untuk dilestarikan, mengingat peranan dan khasiat
dari tumbuhan tersebut yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan
masyarakat berupa pemeliharaan kesehatan dan pengobatan. Penggunaan tumbuh-
tumbuhan tertentu sebagai tanaman obat untuk pengobatan penyakit tertentu
merupakan warisan turun temurun dari dahulu sampai sekarang. Penggunaan
tumbuhan tersebut sampai saat ini masih terus dilakukan mengingat di dalam
tumbuhan tersebut terdapat kandungan senyawa-senyawa kimia berkhasiat. Hal
ini juga yang menyebabkan banyak orang tertarik untuk menyelidiki kandungan
senyawa kimia apa saja yang mungkin terdapat dalam tumbuhan obat tersebut.
Mencari senyawa-senyawa baru yang belum pernah ditemukan dan diharapkan
dapat dipergunakan kelak sebagai bahan obat, makin mendorong arti pentingnya
peranan Kimia Bahan Alam (Natural Products Chemistry) dalam segala aspek
kehidupan, baik peranannya dalam bidang kesehatan, farmasi, kosmetika, dan
disiplin ilmu lain yang terkait.
Tumbuhan Gleichenia linearis merupakan gulma berdaun lebar yang
mengandung senyawa alelokimia berupa flavonoid, triterpenoid, saponin, tanin,
alkaloid dan steroid yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain, sehingga
dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida. Gleichenia linearis yang dikenal
dengan paku resam adalah salah satu spesies paku-pakuan yang dianggap sebagai
gulma penting yang berbahaya bagi tanaman pokok dalam perkebunan karet,
kelapa sawit dan akasia . Tanaman ini memiliki kemampuan untuk menghambat
pertumbuhan tanaman lain. Populasi leichenia telah menunjukkan adanya
beberapa senyawa phytotoxin yang mampu menganggu perkecambahan dan
pertumbuhan spesies tumbuhan tertentu (Vun, 2005).
Dilakukannya percobaan yang penulis lakukan ini, adalah untuk
mengisolasi senyawa yang terkandung didalam paku resam ini agar diketahui
lebih manfaat apa saja yang dapat digunakan dari senyawa yang terdapat didalam
paku resam ini dalam bidang kesehatan selain yang biasanya digunakan untuk
salah satu media alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembibitan
tanaman kehutanan.

1.2. Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui dan mempraktekkan cara mengisolasi flavanoid.
2. Mengetahui cara mengidentifikasi senyawa flavanoid.

1.3 Manfaat Praktikum


Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1. Menambah ilmu pengetahuan mengenai cara mengisolasi suatu senyawa.
2. Menambah informasi tentang kandungan kimia yang terdapat pada
tumbuhan paku resam.
3. Menambah informasi tentang kasiat dari tumbuhan paku resam.
4. Sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut tentang tumbuhan
paku resam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.1 Paku Resam (Anonim, 2011).


2.1 Taksonomi
Menurut Smith et al., (2006), Kedudukan tanaman merica hitam
(Gleichenia linearis (Burm. f.) C. B) dalam taksonomi adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi : Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas : Gleicheniopsida
Sub Kelas : Gleicheniatae
Ordo : Gleicheniales
Famili : Gleicheniaceae
Genus : Gleichenia
Spesies : Gleichenia linearis (Burm. f.) C. B
Paku ini hidup di daerah banyak hujan, 30-2.800 m, kadang-kadang
merupakan belantara yang rapat. G. linearis memiliki akar serabut. Batang tegak
dengan percabangan dua dan masing-masing cabang itu akan bercabang dua lagi
dan seterusnya. Tumbuhan ini sangat bermanfaat karena dapat menyuburkan
tanah. Tumbuhan ini mampu menyerap racun di sekitar tempat tumbuhnya
(Hasibuan et al., 2016).
Paku resam dikenal sebagai tumbuhan invasif di beberapa tempat karena
mendominasi permukaan tanah yang menyebabkan tumbuhan lain terhambat
pertumbuhannya. Paku ini dapat sebagai tanaman hias (Latifah, 2004).
2.2 Kandungan Senyawa

Gambar 2.2 Kaempferol (Jubahar J., et al,. 2006).


Kaempferol murni adalah bubuk berwarna kuning. Paku resam
mengandung senyawa kaempferol. Kaempferol yang terdapat di paku resam yaitu
Na - Kaempferol Sulfate dan Na kaempferol 7-sulfate-3-glucopyranoside
(Jubahar J., et al,. 2006).
Hasil penelitian Raja et al (1995) menunjukkan bahwa salah satu senyawa
metabolit sekunder yang terdapat pada tumbuhan paku resam adalah flavonoid.
Mengisolasi senyawa flavonoid dari tiga varietas Gleichenia linearis (G. linearis)
dengan menggunakan daunnya sebagai sampel. Ketiga jenis varietas tumbuhan
paku tersebut adalah G. linearis var, brevis, G. linearis var. tenuis dan G. linearis
var. sebastiana. Flavonoid yang berhasil diisolasi dari ketiga jenis varietas G.
linearis ini adalah golongan flavonol 3-O-glikosida. Mereka juga berhasil
menemukan satu buah senyawa gliosida baru yaitu pada spesies G. linearis var.
sebastiana berupa padatan amorf yang berwarna kuning. Adapun senyawa
flavonoid yang berhasil diisolasi pada ketiga varietas tumbuhan paku tersebut
adalah afzelin dan quercitrin pada G. linearis var, brevis, quercitrin dan
isoquecitrin pada G. linearis var, tenuis, serta astragin, isoquecitrin, rutin, dan
sebastiana 1,3-diarilpropan (flavonoid), 1.2-diarilpropan (isoflavonoid) dan 1,1-
diarilpropan (neoflavonoid). Flavonoid merupakan salah satu senyawa metabolit
sekunder yang berperan sebagai antioksidan dalam tubuh manusia dan dapat
menghambat proses oksidasi molekul di dalam tubuh (Septinus, 2011).
2.3 Kegunaan
Kulit batang paku ini digunakan untuk bahan baku kerajinan tangan.
Batang bagian dalamnya untuk memperkuat kopiah, dan juga dapat dimanfaatkan
sebagai obat, menjadi bahan baku kerajinan anyaman yang bernilai jual. Hal ini
karena paku ini mengandung zat tanduk, anti rayap, dan tahan terhadap udara
lembab yang mampu melebihi kekuatan rotan. Penggunaan lainnya dapat
digunakan sebagai obat luka memar, obat batuk, pemecah bisul dan pena kaligrafi
(Tampubolon, 1995).
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat: Boiler, steamer, kempa hidrolik, wadah penampung,
Erlenmeyer/Beker glass, seperangkat alat rotary evaporator, corong,
kain penyaring
3.1.2 Bahan: Paku resam (25 Kg), metanol, etil asetat, n-heksan, asam
asetat,aquadest, kertas saring.

3.2 Cara Kerja


a. Paku resam (25 Kg) dikukus selama 1 jam.
b. Paku resam dikempa, tampung air hasil kempa, diamkan selama 3 hari.
c. Disaring, dan diambil endapan.
d. Endapan diambil 50 gram, dilarutkan dengan metanol 500 mL,
dipanaskan, dan disaring selagi panas.
e. Diuapkan filtrat endapan paku resam dengan rotary evaporator.
f. Dilakukan rekristalisasi
g. Dicek KLT senyawa hasil isolasi dengan fase diam silika gel, fase gerak
Etil Asetat:Asam Asetat:Air (4:1:5). Lihat fase diam di bawah sinar UV
254 sebelum dan sesudah di elusi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari praktikum yang telah dikerjakan, didapat hasil sebagai berikut :

a) Organoleptis
Warna : Coklat kehitaman
Bau : Khas
Bentuk : Kental
Rasa :-
b) Kelarutan : kaempferol larut dalam etil asetat, tidak larut dalam n-heksan,
mudah larut dalam air panas.
c) Berat isolat
- Berat botol kosong : 118,9189 gr
- Berat botol + kristal : 131,6129 gr
- Berat isolate = (Berat botol + kristal ) (Berat botol kosong)

= 131,6129 gr 118,9189 gr

= 12,694 gr

d) Berat rendemen = Berat isolat x 100%


Berat sampel

= 12,694 gr x 100 %

50 gr

= 25,388 %
e) Profil KLT dan Rf
Fase diam : kertas saring
Fase gerak : Etil Asetat:Asam asetat:Air (4:1:5).

Di bawah sinar UV 254 nm

Rf = Jarak tempuh zat


Jarak tempuh eluen

= 3,5

3,5

= 1

Gambar 4.1 Isolat

3,5 cm

Gambar 4.2 Hasil KLT Gambar 4.3 Pola KLT


4.2 Pembahasan

Pada pemeriksaan flavonoid dari paku resam, digunakan tumbuhan


paku resam yang masih segar. Tumbuhan paku resam yang masih segar
dicari sebanyak 25 kg. Pencarian paku resam dilakukan disekitar Kebun Tanaman
Obat Universitas Andalas. Tujuan digunakan tumbuhan yang masih segar agar
zat aktif yang terdapat tidak rusak. Untuk pemeriksaan flavonoid ini dilakukan
beberapa metode isolasi seperti metode ekstraksi dan pengempaan. Paku
resam yang telah terkumpul sebanyak 25 kg tadi, dilakukanlah perebusan.
Masukkan air kedalam tungku tidak perlu terlalu banyak. Karena yang diharapkan
adalah didapatkan air rebusan dan air kempaan yang pekat yang diduga
mengandung banyak senyawa yang terkandung didalam paku resam. Sehingga,
dalam melakukan pengendapannya tidak memerlukan waktu yang cukup lama.
Paku resam direbus selama satu jam setelah air mendidih. Penulis bersama rekan-
rekan membagi perebusan ini menjadi dua bagian waktu, karena tidak bisa
sekaligus paku resam yang seberat 25 kg tersebut dapat masuk kedalam tungku
pada satu waktu. Selanjutnya dilakukan pengempaan menggunakan kempa
hidrolik untuk mendapat ekstrak. Pengempaan ini bertujuan agar didapatkan
ekstrak yang maksimal sehingga tidak adanya zat aktif yang tertinggal pada
tumbuhan. Air rebusan juga dikumpulkan bertujuan untuk mendapatkan endapan.
Air rebusan dan air kempaan yang didapat didiamkan dalam beberapa hari untuk
menunggu adanya endapan.
Endapan yang didapat dilarutkan dengan pelarut. Pelarut yang digunakan
adalah metanol, karena metanol ini merupakan pelarut yang universal yang bisa
melarutkan semua senyawa yang terkandung didalam suatu simplisia dan harga
nya juga relatif lebih murah. Metanol yang digunakan sebanyak 500 ml. Dan
dilakukan pemanasan dan disaring dengan kertas saring. Penyaringan dilakukan
dengan menggunakan kapas dan kertas saring agar tidak ada lagi merica yang
terbawa pada filtrat.
Filtrat yang didapatkan tadi langsung dilakukan penguapan dengan rotary
evaporator. Rotary evaporator adalah alat yang digunakan untuk melakukan
penguapan pelarut yang efisien dan saat ini banyak dilakukan. Penguapan dapat
terjadi karena adanya pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat
dibantu dengan penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan
penyaring akan naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-
molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung.
Proses penguapan ini dilakukan hingga diperoleh ekstrak kental yang ditandai
dengan terbentuknya gelembung-gelembung udara pada permukaan ekstrak atau
jika sudah tidak ada lagi pelarut yang menetes pada labu alas bulat penampung.
Setelah proses penguapan selesai, rotary evaporator dihentikan. Maserat diuapkan
dengan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kentalnya. Ekstrak ini di
kristalisasi dengan menggunakan 2 pelarut berbeda kepolarannya, yaitu etil asetat
dan h-heksan. Rekristalisasi dilakukan berulang-ulang, sampai didapatkan
senyawa murni. Rekristalisasi adalah pemurnian suatu zat padat dari
campuran/pengotornya dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah
dilarutkan dalam pelarut yang cocok. Prinsip rekristalisasi adalah perbedaan
kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan kelarutan zat
pencampur/pencemarnya. Larutan yang terjadi dipisahkan satu sama lain,
kemudian larutan zat yang diinginkan dikristalkan dengan cara menjenuhkannya.
Zat campuran dari hasil reaksi pembuatan preparat yang akan dimurnikan
dilarutkan dalam pelarut yang cocok yang telah dipilih, biasanya dengan cara
coba-coba atau dapat dilihat dalam handbook kimia. Sebaiknya dilarutkan pada
temperatur dekat titik didihnya, saring untuk memisahkan dari zat pencampurnya
yang tidak larut dalam pelarut yang digunakan itu, kemudian larutan (zat cair hasil
saringan) diuapkan sampai jenuh, dan diamkan zat tersebut mengkristal. Apabila
zat tersebut larut dalam keadaan panas maka larutan akan mengkristal bila larutan
tersebut didinginkan.
Kristal yang sudah didapat langsung dilakukan KLT. Kromatografi Lapis
Tipis adalah salah satu metode pemisahan komponen menggunakan fasa diam
yang berupa kertas saring dan fase gerak yang digunakan adalah Etil Asetat:Asam
asetat:Air (4:1:5).
Lalu didapatkan noda yang nilai Rf nya adalah 1. Persen berat rendemen
yang didapat adalah 25,388 %.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dijalankan, dapat diambil kesimpulan
bahwa:
1. Persen berat randemen yang didapat untuk isolasi paku resam ini
adalah sebanyak 25,388 %.
2. Rf yang didapat pada uji KLT senyawa didalam paku resam ini adalah
sebesar 1 .

5.2 Saran
Setelah melakukan praktikum ini, disarankan untuk:
1. Lakukan prosedur praktikum sesuai dengan buku panduan.
2. Diharapkan praktikan dapat melakukan praktikum dengan tingkat
ketelitian yang tinggi.
3. Diharapkan praktikan untuk selalu membandingkan dengan literatur yang
ada.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Lycopodium, dikutip dari


http://plantamor.com/index.php?plant=1372, diakses pada 1 Mei 2016.
Hasibuan, Hotmatama , Rizalinda , Elvi Rusmiyanto P.W. 2016. Inventarisasi
Jenis Paku-Pakuan (Pteridophyta) di Hutan Sebelah Darat Kecamatan
Sungai Ambawang Kalimantan Barat Vol. 5 (1) : 46-58. Pontianak.
Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura.

Jubahar J., DachrIyanus, Arbain D., Bakhtiar A., Mukhtar MH., Sargent MV.
2006. A Flavonoid Sulfate from Gleichenia linearis (Burm; Clarke),
ACGC Chem. Res. Commun, 20: 6-7.

Latifah, Eva. 2004. Biologi 2. Bandung : Remaja Rosdakarya.


Septinus, Paul. 2011. Isolasi Flavonoid dari Ekstrak Akif Daun Paku Rasam
(Glaichenia linearis) Sebagai Antioksidan. Padang : UNAND.
Smith, A.R., Kathleen M. Pryer, E.Schuettpelz, P.Korall, H.Schneider
& P.G.Wolf. 2006. A classification for extant ferns. New York: Cambridge
Press.
Tampubolon, Oswald T. 1995. Tumbuhan Obat. Jakarta : Penerbit Bhratara.
Vun C. T. 2005. Kesan alelopati Mikania micrantha, Imperata cylindrica, Lantana
camara dan Dicranopteris linearis keatas beberapa spesies rumpai
malaysia. Pusat Pengkajian Siswazah. Universitas Kebangsaan Malaysia.
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
KIMIA BAHAN ALAM II
Isolasi Triterpenoid dari Pegagan
(Centella asiatica L.)

Oleh :

Nama : Winda Astuti


Bp : 1411011029
Shift : Jum'at Siang
Kelompok : 4 (empat)
Rekan Kerja : Ranelliza (1411011014)
Sonia Rafika (1411011022)
Mutia Hardi S ( 1411011041)
Nasty Ranura (1411012037)
Ria Anggraini (1411012053)
Yuliga Mutia (1411012055)

LABORATORIUM KIMIA BAHAN ALAM II


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara yang dikenal dengan alamnya yang
kaya dengan tanaman berkhasiat untuk pengobatan penyakit secara tradisional,
salah satunya adalah tanaman pegagan (Centella asiatica L.). Supaya obat
tradisional dapat diterima di kalangan praktek kedokteran, maka pengembangan
terus didasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan obat dalam kedokteran
modern. Hasil-hasil yang secara empirik harus pula didukung oleh bukti-bukti
ilmiah adanya manfaat klinik obat serta keamanan pemakaian pada manusia.
Dalam perobatan veteriner maupun penelitian biomedis penggunaan obat
herbal juga menjadi alternative yang dipertimbangkan selain penggunaan obat
yang telah diproduksi secara meluas, namun penggunaan obat herbal harus diteliti
lebih mendalam karena terdapatnya variasi bahan aktif yang terkandung dalam
suatu tanaman obat yang mungkin juga memberi efek yang beragam. Tanaman ini
merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak manfaat, sehingga
menarik perhatian para ahli untuk meneliti dan mengembangkannya dalam rangka
eksplorasi obat baru yang berasal dari alam. Sejauh ini bukti ilmiah efek herba
pegagan sebagai antipiretik belum diketahui. Tanaman pegagan seringkali
dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat alternatif untuk mengobati
berbagai macam penyakit seperti wasir, demam, pembengkakan hati atau liver,
bisul, darah tinggi, penambah daya ingat, campak, amandel, sakit perut dan
kurang nafsu makan. Beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan pegagan
ini tentu tidak terlepas dari apa saja yang terdapat dalam kandungan pegagan
tersebut. Senyawa yang terdapat didalamnya yang memiliki efek farmakologis
bagi tubuh.
Dengan dasar inilah yang mendorong penulis melakukan percobaan ini
untuk dapat mengisolasi senyawa yang terkandung didalam pegagan. Sehingga
diharapkan dalam pegagan dapat digunakan sebagai obat alternatif yang
berkhasiat untuk berbagai jenis penyakit yang berguna bagi perkembangan
pengobatan tradisional terutama dalam perkembangan ilmu pengkulturan
tanaman.

1.2. Tujuan Praktikum


Adapuan tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk menentukan senyawa-senyawa kimia yang terkandung di dalam
tumbuhan pegagan.
2. Untuk mengetahui manfaat dan kasiat dari tumbuhan pegagan.
3. Untuk memenuhi tugas praktikum Kimia Bahan Alam II.

1.3. Manfaat Praktikum


Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1. Menambah ilmu pengetahuan mengenai cara mengisolasi suatu senyawa.
2. Menambah informasi tentang kandungan kimia yang terdapat pada
tumbuhan pegagan.
3. Menambah informasi tentang kasiat dari tumbuhan pegagan.
4. Sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut tentang tumbuhan
pegagan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.1 Pegagan (Badan POM RI, 2008).


2.1 Taksonomi
Menurut Muhlisah (1999), kedudukan tanaman pegagan Centella asiatica
dalam taksonomi adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Apiales
Familia : Apiaceae
Genus : Centella
Species : Centella asiatica Urban
Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan
berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan
lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah. Pegagan hijau sering
dijumpai di daerah persawahan, di sela-sela rumput, di tanah yang agak lembab
baik yang terbuka atau agak ternaungi, juga dapat ditemukan di dataran rendah
sampai daerah dengan ketinggian 2500 m dpl (Depkes RI, 1977).
Tumbuhan ini tidak berbatang, menahun, mempunyai rimpang pendek
dan stolon-stolon yang merayap, panjang 10-80 cm, akar keluar dari setiap buku-
buku, banyak percabangan yang membentuk tumbuhan baru, daun tunggal,
bertangkai panjang, tersusun dalam roset akar yang terdiri dari 2-10 helai daun.
Helaian daun berbentuk ginjal, tepi bergerigi atau beringgit, kadang agak
berambut. Bunga tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bunga
bersama-sama keluar dari ketiak daun, berwarna merah muda atau putih. Buah
kecil bergantung, berbentuk lonjong, pipih, panjang 2-2,5 mm, baunya wangi dan
rasanya pahit. Daunnya dapat dimakan sebagai lalap untuk penguat lambung.
Pegagan dapat diperbanyak dengan pemisahan stolon dan biji (Depkes RI, 1977).

2.2 Kandungan |Senyawa

Gambar 2.2 Asam Asiatat Gambar 2.3 Asiatikosida

Gambar 2.4 Asam Madekasat


Penggunaan tumbuhan sebagai obat, berkaitan dengan kandungan kimia
yang terdapat dalam tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tanpa adanya suatu
senyawa bioaktif dalam tumbuhan maka secara umum tumbuhan itu tidak dapat
digunakan sebagai obat. Noverita dan Marline (2012) menyebutkan hasil uji
fitokimia daun pegagan terdapat kandungan triterpenoid. Pegagan mengandung
bahan aktif seperti triterpenoid glikosida (terutama asiatikosida, asam asiatik,
asam madekasik, madekasosida (Hashim, et al., 2011), flavonoid (kaemferol dan
kuercetin), volatil oil (valerin, kamfor, siniole dan sterol tumbuhan seperti
kamfesterol, stigmasterol, sitosterol), pektin, asam amino, alkaloid hidrokotilin,
miositol, asam brahmik, asam centelik, asam isobrahmik, asam betulik, tanin serta
garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Zat valerin
yang ada memberikan rasa pahit.

2.3 Kegunaan
Glikosida triterpenoid yang disebut asiatikosida merupakan antilepra dan
penyembuh luka yang sangat luar biasa (Chakrabarty and Deshmukh, 1976).
Manfaat lainnya sebagai stimulasi sintesis kolagen (Widgerow et al., 2000) dan
glycosaminoglycan (Solet et al., 1986). Glikosida ini juga ditemukan dalam
aktivitasnya melawan herpes simplex virus 1 and 2 dan mikobakterium
tuberculosis Neuroprotecta. Manfaat yang berhubungan dengan fungsi saraf dan
otak telah dibuktikan lewat berbagai penelitian. Sebanyak 30 orang pasien anak-
anak yang menderita lemah mental menunjukkan kemajuan yang cukup berarti
setelah diberi perlakuan dengan ramuan Centella asiatica selama 12 minggu.
Sebanyak enam pasien sirosis hati menunjukkan perbaikan (kecuali yang kronis)
setelah dua bulan meminum ramuan tersebut. Penelitian lain menunjukkan,
berbagai penyakit seperti skleroderma, gangguan pembuluh vena, maupun
gangguan pencernaan rata-rata dapat disembuhkan dengan ramuan itu hingga 80%
setelah 2 - 18 bulan. Pada orang dewasa dan tua penggunaan Centella asiatica
sangat baik untuk membantu memperkuat daya kerja otak, meningkatkan memori,
dan menanggulangi kelelahan. Tanaman ini juga bermanfaat bagi anak-anak
penderita attention deficit disorder (ADD). Hal ini karena adanya efek stimulasi
pada bagian otak sehingga meningkatkan kemampuan seseorang untuk lebih
konsentrasi dan fokus. Di samping itu juga mempunyai efek relaksasi pada sistem
saraf yang overaktif. Pendapat lain menyatakan, dalam pengobatan Ayurveda di
India tanaman ini dikenal sebagai herba untuk awet muda dan memperpanjang
usia. Hal ini terbukti dari pengamatan, gajah yang kita kenal memiliki umur
panjang karena satwa ini memakan cukup banyak tanaman pegagan
(Kumar and Gupta, 2003; Rao et al., 2009; Intisari, 2001).
Penggunaan krim yang mengandung 1% ekstrak Centella asiatica selama
3 minggu pada 22 pasien dengan infeksi kulit yang kronis, 17 pasien dapat
sembuh total dan 5 pasien yang lain terjadi pengurangan besar lukanya.
Dilaporkan bahwa pengobatan secara oral berupa kapsul berisi Centella asiatica
atau asiatikosida dan potasium klorida efektif dalam upaya terapi dapson pada
penderita lepra. Ekstrak Centella asiatica berefek sebagai anti tukak setelah
pemberian secara oral. 15 pasien dengan tukak peptik dan tukak duodenum yang
diberi ekstrak Centella (60 mg/orang), 93% pasien menunjukkan kemajuan pasti
secara subyektif dan 73% pasien dinyatakan sembuh setelah pemeriksaan
endoskopi dan radiologi. Studi klinik herba Centella pada pengobatan beberapa
gangguan vena menunjukkan adanya efek terapetik yang positif. Pada pasien
dengan keluhan insufisiensi vena yang diobati dengan ekstrak tersebut
menunjukkan adanya suatu kemajuan yang signifikan pada distensi vena dan
udem (Duke, 1987).
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat: Wadah untuk maserasi, corong, botol 100 mL, vial, pipet tetes,
seperangkat alat rotary evaporator, chamber, penotol.

3.1.2 Bahan: Daun pegagan kering (100 g), metanol, etil asetat, plat KLT,
kapas, norit.

3.2 Cara Kerja


a. Digrinder sebanyak 100 g daun pegagan kering.
b. Dimaserasikan dengan 500 mL metanol selama 1x3 hari, saring.
c. Diuapkan maserat hingga volume 200 mL.
d. Dimasukkan 100 g norit ke dalam kolom kemudian lewatkan maserat ke
dalam kolom, tampung.
e. Diuapkan eluat dengan rotary evaporator hingga kering.
f. KLT senyawa hasil isolasi menggunakan fase diam silika gel 60 F254, fase
gerak etil asetat : metanol : aquadest (4:1:5). Plat KLT yang sudah dielusi
kemudian panaskan untuk melihat noda pada fase diam.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari praktikum yang telah dikerjakan, didapat hasil sebagai berikut :

a) Organoleptis
Warna : Putih
Bau : Khas
Bentuk : serbuk
Rasa :-
b) Berat isolat
- Berat botol kosong : 9, 8223 gr
- Berat botol + serbuk : 10,1614 gr
- Berat isolate = (Berat botol + serbuk) (Berat botol kosong)

= 10,1614 gr 9, 8223 gr

= 0,3391 gr

c) Berat rendemen = Berat isolat x 100%


Berat sampel

= 0,3391 gr x 100 %

100 gr

= 0,3391 %
d) Profil KLT dan Rf
Fase diam : silica gel 60
Fase gerak : etil asetat : metanol : aquadest (4:1:5)

Di bawah sinar UV 254 nm

Rf = Jarak tempuh zat


Jarak tempuh eluen

= 3,6

3,6

= 1

Gambar 4.1 Hasil KLT 3,6 cm

Gambar 4.2 Pola KLT

Gambar 4.3 Isolat


4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, penulis melakukan metoda isolasi terhadap tanaman
pegagan untuk mendapatkan senyawa yang terkandung didalamnya. Senyawa
yang terkandung didalam dari tanaman pegagan itu sendiri yang diharapkan
adalah penulis mendapat tiga senyawa yang terdiri dari asam asiatat, asam
asiatikosida, dan asam madekasat. Pegagan yang digunakan merupakan daun yang
telah kering. Tujuan digunakan daun yang telah kering agar simplisia bertahan
lama dan tidak berjamur. Pegagan yang digunakan sebagai sample ditimbang
sebanyak 100 gram. Pegagan yang didapatkan oleh penulis dan rekan rekan masih
terdapat dalam bentuk tanaman asli. Lalu dilakukan grinder untuk menjadikan
pegagan tersebut menjadi serbuk. Mengapa pegagan perlu untuk dibentuk menjadi
serbuk? Hal yang pertama adalah agar proses maserasi yang akan dilanjutkan pada
tahap selanjutnya akan berjalan dengan baik. Saat pegagan dibentuk dalam bentuk
serbuk, luas permukaannya pun menjadi lebih besar sehingga pelarut lebih mudah
berpenetrasi kedalam sel-sel dari pegagan.
Untuk pemeriksaan triterpenoid ini digunakan metode maserasi. Dipilihnya
metode ini karena metode ini lebih sederhana, hanya dengan perendaman
beberapa hari dan sampel yang digunakan dalam jumlah yang cukup banyak.
Pelarut yang digunakan adalah metanol, karena metanol ini merupakan pelarut
yang universal yang bisa melarutkan semua senyawa yang terkandung didalam
suatu simplisia dan harga nya juga relatif lebih murah dibandingkan dengan
pelarut pelarut yang lainnya. Dilakukan maserasi ini dalam beberapa hari. Penulis
melakukan maserasi selama 3 (tiga) hari. Maserasi dilakukan dalam 2 (dua) botol
infus 500 ml. Pegagan yang sebanyak 100 gram tersebut dibagi dua dan
pelarutnya pun dibagi menjadi dua, dan dimasukkan ke dalam botol infus 500 ml
agar proses maserasi berjalan dengan cepat.
Setelah dilakukannya maserasi, lalu hasil maserasi tersebut dilakukan
penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan menggunakan kapas dan kertas
saring agar tidak ada lagi sari-sari pegagan yang terbawa pada filtrat. Pada
penyaringan pertama, dilakukan penyaringan dengan menggunakan kertas saring.
Hasil penyaringan berupa filtrat digabungkan seluruhnya. Hasil saringan
ditambahkan dengan norit sampai warna filtrat tersebut berubah menjadi bening
dan tidak berwarna. Tujuan ditambahkan norit ini adalah untuk menarik klorofil
dan pengotor-pengotor yang terdapat pada filtrat. Selain itu juga untuk menarik
senyawa-senyawa yang mempunyai gugus polar dan aromatis seperti alkaloid,
flavonoid, dan fenol. Kemudian dilakukan penyaringan kembali. Norit yang
digunakan sebaiknya harus dalam keadaan aktif agar proses penarikan klorofil dan
pengotor lainnya berjalan dengan baik. Filtrat yang didapatkan tadi langsung
dilakukan penguapan dengan rotary evaporator. Rotary evaporator merupakan
suatu alat yang digunakan untuk melakukan penguapan pelarut yang efisien.
Penguapan dapat terjadi karena adanya pemanasan yang dipercepat oleh putaran
dari labu alas bulat dibantu dengan penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa
vakum, uap larutan penyaring akan naik ke kondensor dan mengalami kondensasi
menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas
bulat penampung. Proses penguapan ini dilakukan hingga diperoleh ekstrak kental
yang ditandai dengan terbentuknya gelembung-gelembung udara pada permukaan
ekstrak atau jika sudah tidak ada lagi pelarut yang menetes pada labu alas bulat
penampung. Setelah proses penguapan selesai, rotary evaporator dihentikan.
Untuk pegagan didapatkan serbuk berwarna putih.
Serbuk yang sudah didapat langsung dilakukan KLT. Kromatografi Lapis
Tipis adalah salah satu metode pemisahan komponen menggunakan fasa diam
yang berupa silika gel 60 dan fase gerak yang digunakan adalah etil asetat :
metanol : aquadest (4:1:5). Lalu didapatkan satu noda yang nilai Rf nya adalah 1
. Lalu, berat rendemen yang didapat adalah 0,3391 %. Seharusnya noda yang
didapat ada tiga buah, tetapi yang didapat hanya satu buah, mungkin disini terjadi
kesalahan pada proses kerja dan bisa jadi konsentrasi pada saat penotolan terlalu
sedikit.
Menurut penelitian Herlina et al (2010) nilai Rf dari senyawa asiatikosida
adalah Rf = 0,0476 dengan fase gerak yang digunakan adalah kloroform :
methanol (4:1) sedangkan menurut penelitian Padmadisastra et al (2007) nilai Rf
dari zat aktif asam asiatat Rf = 0,26; Asam madekasat Rf = 0,83 dan Asiatikosida
Rf = 0, dengan fase gerak yang digunakan adalah kloroform : methanol : air ( 65 :
25 : 4 ). Fase gerak yang digunakan berbeda maka nilai Rf yang dihasilkan pun
juga berbeda.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dijalankan, dapat diambil kesimpulan
bahwa:
1. Persen berat rendemen yang didapat untuk isolasi pegagan ini adalah
sebanyak 0,3391 %.
2. Rf yang didapat pada uji KLT senyawa didalam pegagan ini adalah
sebesar 1.

5.2 Saran
Setelah melakukan praktikum ini, disarankan untuk:
1. Lakukan prosedur praktikum sesuai dengan buku panduan.
2. Diharapkan praktikan dapat melakukan praktikum dengan tingkat
ketelitian yang tinggi.
3. Diharapkan praktikan untuk selalu membandingkan dengan literatur
yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Chakrabarty and Deshmukh. 1976. Centella asiatica in the Treatment of Leprosy.


Sci Cult 42: 573.

Depkes RI. 1977. Materia Medika Indonesia. Jilid I. Jakarta.

Duke, J.A., 1987. Handbook of Medicinal Herbs. Florida: CRC Press.

Hashim, P., Hamidah Sidek, Mohd Helme M. Helan, Aidawati Sabery, Uma Devi
Palanisamy and Mohd Ilham. 2011. Triterpene Composition and
Bioactivities of Centella asiatica. Molecules 16: 1310-1322.

Herlina dan L. Hutasoit. 2010. Pengaruh Senyawa Murni dari Pegagan (Centella
asiatica (L.) Urban) Terhadap Fungsi Kognitif Belajar dan Mengingat
dan Efek Toksisitas Pada Mencit. (Mus musculus) Betina. Sriwijaya:
FMIPA Universitas Sriwijaya.

Intisari. 2001. Pegagan Gantinya Ginko Biloba. Edisi Mei 2001.

Kumar, MHV and YK Gupta. 2003. Effect of Centella asiatica on Cognition and
Oxidative Stress in an Intracerebroventricular Streptozotocin Model of
Alzheimer's Disease in Rats. Clinical and Experimental Pharmacology
and Physiology 30: 336-342.

Muhlisah, Fauziah.1999. Tanaman Obat Keluarga. Penebar Swadaya, Jakarta.

Noverita, S. V. dan Marline Nainggolan. 2012. Kandungan Asiatikosida dan Uji


Fitokimia Daun Pegagan. Prosiding Seminar Nasional Farmasi 2012.
Peranan Farmasi dalam Pembangunan Kesehatan.

Palmadisastra, Y., A. Syaugi dan S. Anggia. 2007. Formulasi Sediaan Salep


Antikeloida yang Mengandung Ekstrak Terfasilitasi Panas Microwave
dari Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). Seminar
Kebudayaan Indonesia Malaysia Kuala Lumpur, 28-31 Mei 2007.

Rao, K. G. Mohandas, S. Muddanna Rao and S. Gurumadhva Rao. 2009.


Enhancement of Amygdaloid Neuronal Dendritic Arborization by Fresh
Leaf Juice of Centella asiatica (Linn) During Growth Spurt Period in
Rats. eCAM 6 (2): 203-210.

Solet J.M., Simon-Ramiasa A., Cosson L., Guignard J.L. 1986. Centella asiatica
(L.) Urban (Pennywort): Cell Culture, Production of Terpenoids and
Biotransformation Capacity. In Bajaj YPS (ed) Biotechnology in
Agriculture and Forestry: Medicinal Aromatic Plants X. Springer-Verlag,
Berlin, Heidelberg.

Widgerow AD, Chait LA, Stals R and Stals PJ. 2000. New Innovations in Scar
Management. Aesthetic and Plastic Surgery: 24: 227-234.
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
KIMIA BAHAN ALAM II
Isolasi Senyawa Fenolik dari Kuliat Buah Manggis
(Garcinia mangostana L.)

Oleh :

Nama : Winda Astuti


Bp : 1411011029
Shift : Jum'at Siang
Kelompok : 4 (empat)
Rekan Kerja : Ranelliza (1411011014)
Sonia Rafika (1411011022)
Mutia Hardi S ( 1411011041)
Nasty Ranura (1411012037)
Ria Anggraini (1411012053)
Yuliga Mutia (1411012055)

LABORATORIUM KIMIA BAHAN ALAM II


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan tanaman buah berupa
pohon yang berasal dari wilayah tropis di kawasan Asia Tenggara, yaitu belantara
Malaysia atau Indonesia. Bagian yang biasa dipakai adalah buahnya, sedangkan
kulitnya jarang digunakan dan hanya menjadi limbah. Di negara Indonesia,
Malaysia, Filiphina, dan Thailand kulit manggis telah banyak digunakan oleh
masyarakat dalam pengobatan tradisional, antara lain mengobati sakit perut, diare,
disentri, keputihan dan infeksi luka (Moongkarndi, 2004).
Manggis (Garcinia mangostana L.) adalah sejenis pohon hijau abadi dari
daerah tropika yang diyakini berasal dari Kepulauan Nusantara. Buah ini
mengandung mempunyai aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Sehingga di luar
negeri buah manggis dikenal sebagai buah yang memiliki kadar antioksidan
tertinggi di dunia. Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu
tanaman buah asli Indonesia yang mempunyai potensi ekspor sangat besar.
Tanaman ini mendapat julukan ratunya buah (queen of fruit) karena keistimewaan
dan kelezatannya.
Manggis menyimpan berbagai manfaat yang luar biasa bagi kesehatan
atau biasa disebut sebagai pangan fungsional (functional food). Di beberapa
negara sudah sejak lama manggis dijadikan sebagai obat dan bahan terapi,
terutama bagian kulitnya. Kulit buah manggis yang dikategorikan sebagai limbah,
mengandung 62,05% air, 1,01% abu, 0,63% lemak, 0,71% protein, 1,17% gula
dan 35,61% karbohidrat. Berbagai hasil penelitian menunjukkan kulit buah
manggis kaya akan antioksidan terutama antosianin, xanthone, tannin dan asam
fenolat yang berguna sebagai anti diabetes, anti kanker, anti peradangan,
hepatoprotektif, meningkatkan kekebalan tubuh, aromatase inhibitor, anti bakteri,
anti fungi, antiplasmodial dan aktivitas sitotoksik
Kandungan utama senyawa manggis adalah senyawa turunan xanton yang
menpunyai aktivitas biologi sebagai antibakteri, antimikroba, anti inflamasi,
antioksidan, dan dapat menghambat pertumbuhan sel kanker usus. Xanton
merupakan antioksidan yang unik dengan kadar tinggi pada kulit buah manggis.
Turunan senyawa xanton yang paling banyak pada kulit manggis adalah alfa-
mangostin (Yunitasari, 2011).
Oleh karena itu, percobaan yang penulis lakukan ini adalah untuk
mengisolasi senyawa yang terkandung didalam kulit buah manggis yang dapat
berkhasiat untuk beberapa jenis penyakit.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapuan tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk menentukan senyawa-senyawa kimia yang terkandung di dalam
kulit buah manggis.
2. Untuk mengetahui manfaat dan kasiat dari kulit buah manggis.
3. Untuk memenuhi tugas praktikum Kimia Bahan Alam II.

1.3 Manfaat Praktikum


Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1. Menambah ilmu pengetahuan mengenai cara mengisolasi suatu senyawa.
2. Menambah informasi tentang kandungan kimia yang terdapat pada kulit
buah manggis.
3. Menambah informasi tentang kasiat dari kulit buah manggis.
4. Sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut tentang kulit buah
manggis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 1. Kulit Buah Manggis (Anonim, 2016).

2.1 Taksonomi

Menurut Tjitrosoepomo (1994) , kedudukan dari pohon manggis


(Garcinia mangostana L.) dalam taksonomi adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Guttiferanales
Famili : Guttiferae
Genus : Garcinia
Spesies : Garcinia mangostana Linn.
Pohon manggis memiliki cabang yang teratur, berkulit cokelat, dan
bergetah. Bentuk buahnya khas, kulitnya berwarna merah keunguan (Gambar 1.)
ketika matang, terdapat varian warna lain di kulit, yakni merah cerah. Buah
manggis memiliki beberapa ruang atau segmen dengan satu biji pada tiap
segmennya, namun yang dapat menjadi biji sempurna hanya 1-3 biji. Setiap biji
diselubungi oleh selaput berwarna putih bersih, halus, disertai rasa segar. Secara
organoleptik, rasa manggis cenderung seragam, yaitu manis, asam, sedikit sepat
(Mardiana, 2012).
Tanaman yang sekerabat dengan kandis ini dapat mencapai tinggi 25 m
dengan diameter batang mencapai 45 cm. Pohon manggis mampu tumbuh dengan
baik pada ketinggian 0-600 m dpl, suhu udara rata-rata 20-300C, pH tanah
berkisar 5-7. Lahan dengan pH asam seperti di lahan gambut, manggis tetap
mampu tumbuh dengan baik. Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan
manggis berkisar 1500- 300 mm/tahun yang merata sepanjang tahun (Mardiana,
2012).

2.2 Kandungan Senyawa

Gambar 2.2 -mangostin


Kulit manggis yang dahulu hanya dibuang saja ternyata menyimpan
sebuah harapan untuk dikembangkan sebagai kandidat obat. Beberapa senyawa
utama kandungan kulit buah manggis yang dilaporkan bertanggung jawab atas
beberapa aktivitas farmakologi adalah golongan xanton. Senyawa xanton yang
telah teridentifikasi, diantaranya adalah 1,3,6-trihidroksi-7-metoksi-2,8-bis(3-
metil-2-butenil)- 9H-xanten-9-on dan 1,3,6,7- tetrahidroksi-2,8-bis(3-metil-2-
butenil)- 9Hxanten-9-on. Keduanya lebih dikenal dengan nama alfa mangostin
dan gamma-mangostin (Jinsart, 1992).
Identifikasi kandungan xanton dari ekstrak larut dalam diklorometana,
yaitu 2 xanton terprenilasi teroksigenasi dan 12 xanton lainnya. Dua senyawa
xanton terprenilasi teroksigenasi adalah 8-hidroksikudraksanton G, dan
mangostingon [7-metoksi-2-(3-metil-2- butenil)-8-(3-metil-2-okso-3-butenil)-
1,3,6- trihidroksiksanton. Sedangkan keduabelas xanton lainnya adalah :
kudraksanton G, 8- deoksigartanin, garsimangoson B, garsinon D, garsinon E,
gartanin, 1-isomangostin, alfamangostin, gamma-mangostin, mangostinon,
smeathxanthon A, dan tovofillin A (Jung et al., 2006).
2.3 Kegunaan

Dalam tubuh manusia xanton berfungsi sebagai antioksidan,


antiproliferasi, anti-inflamasi, dan antimikrobial. Xanton adalah antioksidan kuat,
yang sangat dibutuhkan untuk penyeimbang pro-oxidant di dalam tubuh dan
lingkungan, yang dikenal sebagai radikal bebas. Sejumlah peneliti menjelaskan,
kulit manggis matang mengandung polyhydroxyxanton, yang merupakan derivat
mangostin dan -mangostin, yang berfungsi sebagai antioksoidan, antibakteri,
antitumor, dan antikanker. Sifat antioksidan xanton melebihi vitamin E dan
vitamin C, yang selama ini terkenal sebagai antioksidan tingkat tinggi (Yatman,
2012).
Kulit manggis yang dahulu hanya dibuang saja ternyata dapat
dikembangkan sebagai obat. Kulit buah manggis setelah diteliti ternyata
mengandung beberapa senyawa dengan aktivitas farmakologi misalnya
antiinflamasi, antihistamin, pengobatan penyakit jantung, antibakteri, antijamur.
Beberapa senyawa utama kandungan kulit buah manggis adalah golongan xanton.
Senyawa xanton yang telah teridentifikasi, diantaranya alfa mangostin dan
gamma-mangostin. (Mardiana, 2102).
Pemanfaatan kulit buah manggis sebenarnya sudah dilakukan sejak lama.
Kulit buah manggis secara tradisional digunakan pada berbagai pengobatan di
Negara India, Myanmar Sri langka, dan Thailand. Secara luas, masyarakat
Thailand memanfaatkan kulit buah manggis untuk pengobatan penyakit sariawan,
disentri, cystitis, diare, gonorea, dan eksim. (Mardiana, 2012).
Kulit buah manggis dibuat menjadi salep untuk mengobati eksim, air
rebusan kulit manggis juga digunakan sebagai ramuan untuk mengobati luka,
demam, diare, sariawan dan sembelit, selain itu juga bubuk atau serbuk dari kulit
manggis yang dikeringkan juga bermanfaat untuk mengobati disentri (Mardiana,
2012).
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat: Wadah untuk maserasi, corong, botol infus 500 mL, botol infus 100
mL, vial, pipet tetes, seperangkat alat rotary evaporator, chamber,
penotol.
3.1.2 Bahan: Kulit buah manggis kering (100 g), n-heksan, etil asetat, etanol,
kapas, plat KLT.

3.2 Cara Kerja


a. Digrinder 100 g kulit buah manggis.
b. Dimaserasi dengan etanol (500 mL) 1x1 hari, saring.
c. Diuapkan maserat dari etanol dengan rotary evaporator sampai kering.
d. Dilakukan rekristalisasi menggunakan pelarut campur etanol dalam etil
asetat etil asetat dan n-heksan.
e. KLT senyawa hasil isolasi menggunakan fase diam silika gel 60 F254,
fase geraknya adalah n-heksan:etil asetat (3:2). Lihat noda pada fase
diam sebelum dan sesudah dielusi di bawah sinar UV 254.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari praktikum yang telah dikerjakan, didapat hasil sebagai berikut :

a) Organoleptis
Warna : Kekuning-kuningan
Bau : Khas
Bentuk : Kristal
Rasa :-
b) Berat isolat
- Berat botol kosong : 85,9169 gr
- Berat botol + kristal : 86,0269 gr
- Berat isolate = (Berat botol + kristal) (Berat botol kosong)

= 86,0269 gr 85,9169 gr

= 0,11 gr

c) Berat randemen = Berat isolate = Berat ekstrak kental


ml rekristal Vol ekstrak kental

= 0,11 gr = x

3 ml 40,5 ml

x = 1,485 gr

% = 1,485 gr x 100 %
100 gr

= 1, 485 %
d) Profil KLT dan Rf
Fase diam : silica gel 60
Fase gerak : n-heksan:etil asetat (3:2)

Di bawah sinar UV 254 nm

Rf = Jarak tempuh zat


Jarak tempuh eluen

= 3,7 dan 4,4

5,2 5,2

= 0,7 = 0,8

Gambar 4.1 Hasil KLT 3,7 cm 5,2 cm

4,4 cm

Gambar 4.2 Pola KLT

Gambar 4.3 Isolat


4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, penulis melakukan metoda isolasi terhadap kulit
buah manggis untuk mendapatkan senyawa yang terkandung didalamnya.
Senyawa yang terkandung didalam dari kulit buah manggis itu sendiri yang
diharapkan adalah penulis mendapatkan senyawa yang terdiri dari mangostin.
Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) yang telah dikeringkan dan
digerinder sampai halus bertujuan untuk meninaktivasi enzim yang terkandung di
dalam jaringannya, selain itu juga untuk mencegah tumbuhnya jamur, sehingga
sampel bisa digunakan untuk waktu yang lama. Didalam langkah kerja juga di
haruskan sampelnya dalam keadaan halus dengan tujuan adalah agar luas
permukaan sampel bertambah sehingga mempermudah proses pelarutan senyawa-
senyawa yang terkandung didalam sampel. Kulit buah manggis yang digunakan
sebagai sample ditimbang sebanyak 100 gram. Kulit buah manggis yang
didapatkan oleh penulis dan rekan-rekan sudah dalam bentuk serbuk.
Untuk pemeriksaan senyawa fenolik ini, penulis menggunakan metode
maserasi. Dipilihnya metode ini karena metode ini lebih sederhana, hanya dengan
perendaman beberapa hari. Selain itu sampel yang digunakan dalam jumlah yang
cukup banyak. Pelarut yang digunakan adalah etanol, karena etanol ini merupakan
pelarut yang universal yang bisa melarutkan semua senyawa yang terkandung
didalam suatu simplisia dan harga nya juga relatif lebih murah dibandingkan
dengan pelarut pelarut yang lainnya. Dilakukan maserasi ini dalam beberapa hari.
Penulis melakukan maserasi selama 3 (tiga) hari. Dalam buku panduan
sebenarnya hanya perlu dilakukan maserasi dalam satu hari, tetapi dilakukan
dalam tiga hari diharapkan agar senyawa yang terkandung didalam serbuk kulit
buah manggis tersebut dapat terikat dengan pelarut secara sempurna. Maserasi
dilakukan dalam botol infus 500 ml.
Setelah dilakukannya maserasi, lalu hasil maserasi tersebut dilakukan
penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan menggunakan kapas dan kertas
saring agar tidak ada lagi sari-sari kulit buah manggis yang terbawa pada filtrat.
Pada penyaringan pertama, dilakukan penyaringan dengan menggunakan kertas
saring. Hasil penyaringan berupa filtrat. Kemudian dilakukan penyaringan
kembali. Filtrat yang didapatkan tadi langsung dilakukan penguapan dengan
rotary evaporator. Rotary evaporator adalah alat yang digunakan untuk
melakukan penguapan pelarut yang efisien. Penguapan dapat terjadi karena
adanya pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat dibantu
dengan penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyaring
akan naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul
cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung. Proses
penguapan ini dilakukan hingga diperoleh ekstrak kental yang ditandai dengan
terbentuknya gelembung-gelembung udara pada permukaan ekstrak atau jika
sudah tidak ada lagi pelarut yang menetes pada labu alas bulat penampung.
Setelah proses penguapan selesai, Rotary evaporator dihentikan. Maserat
diuapkan dengan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kentalnya, untuk
kulit buah manggis didapatkan ekstrak kental berwarna coklat, dan ekstrak ini di
kristalisasi dengan menggunakan 2 pelarut berbeda kepolarannya, yaitu etil asetat
dan h-heksan. Rekristalisasi dilakukan berulang-ulang, sampai didapatkan
senyawa murni. Lalu, akan terbentuk suatu kristal berwarna kekuningan.
Kristal yang sudah didapat langsung dilakukan KLT. Kromatografi
Lapis Tipis adalah salah satu metode pemisahan komponen menggunakan fasa
diam yang berupa silika gel 60 dan fase gerak yang digunakan adalah n-
heksan:etil asetat (3:2). Lalu didapatkan dua noda yang nilai Rf nya adalah 0,7
dan 0,8. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Padahal dalam senyawa yang akan
dianalisa hanya satu saja dan diyakini akan keluar satu noda. Hal tersebut bisa
terjadi karena masih terdapat beberapa pelarut yg masih terdapat didalam sample
Persen berat rendemen yang didapat adalah 1,485 %.
Berdasarkan penelitian, fraksi yang diuji kemurniannya secara
kromatografi lapis tipis dua dimensi dengan menggunakan eluen bergradien yang
cocok dengan beberapa perbandingan, yaitu n-heksan:etilasetat (7:3) dan
etilasetat:metanol (8:2) dengan nilai Rf yang diperoleh dari masing-masing
perbandingan adalah 0,66 dan 0,78 ( Rena, 2014).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dijalankan, dapat diambil kesimpulan
bahwa:
1. Persen berat rendemen yang didapat untuk isolasi kulit manggis ini adalah
sebanyak 1,485 %.
2. Rf yang didapat pada uji KLT senyawa didalam kulit manggis ini adalah
sebesar 0,7 dan 0,8.

5.2 Saran
Setelah melakukan praktikum ini, disarankan untuk:
1. Lakukan prosedur praktikum sesuai dengan buku panduan.
2. Diharapkan praktikan dapat melakukan praktikum dengan tingkat
ketelitian yang tinggi.
3. Diharapkan praktikan untuk selalu membandingkan dengan literatur yang
ada.
DAFTAR PUSTAKA

Jinsart W, Ternai B, Buddhasukh D, Polya GM., 1992. Inhibition of Wheat


Embryo Calcium-Dependent Protein Kinase and Other Kinases by
Mangostin and Gammamangostin. Phytochemistry, 31(11):3711- 3713.

Jung HA, Su BN, Keller WJ, Mehta RG, Kinghorn AD., 2006. Antioxidant
Xanthones from the Pericarp of Garcinia mangostana (Mangosteen). J
Agric Food Chem., 54(6):2077-2082.

Mardiana, L. 2012. Ramuan dan Khasiat Kulit Manggis. (B. P. W., Ed.) Jakarta:
Penebar Swadaya.

Moongkarndi, P., Kosem, N., Kaslungka, S., Luanratana, O., Pongpan, N.,
Neungton, N. Antiproliferation, Antioxidation and Induction of
Apoptosis by Garcinia mangostana (Mangosteen) on SKBR3 Human
Breast Cancer Cell Line. J Ethnopharmacol. 2004, 90, 161-166.
Rena, Nurhayati. 2014. Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Flavonoid Sebagai
Antioksidan Pada Kulit Buah Manggis. Other Thesis, Gorontalo:
Universitas Negeri Gorontalo.
Tjitrosoepomo, G. 1994. Taksonomi Tumbuhan Obat-Obatan. Cetakan I.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press..

Yatman, Eddy. 2012. Kulit Buah Manggis Mengandung Xanton yang Berkhasiat
Tinggi. Yogyakarta : Universitas Borobudur.

Yunitasari, Liska S. P. 2011. Gempur 41 Penyakit dengan Buah Manggis.


Yogyakarta: Pustaka Baru Press.