Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akulturasi adalah pencampuran beberapa budaya
yang menghasilkan budaya baru, hal ini tercermin dari
daerah Cirebon sendiri karena melihat dari sejarah, bahwa
sebelum menjadi cirebon wilayah tersebut dikenal dengan
caruban yang artinya pencampuran, yaitu pencampuran
dari berbagai negara, seperti Arab, Cina, India yang datang
ke cirebon untuk berniaga atau berdagang serta
menyebarkan agama yang di bawa mereka, seperti agama
Hindu-Budha yang di bawa oleh orang india dan agama
tiong hoa di bawa oleh cina dan agama islam yang dibawa
oleh orang-orang Arab, mereka datang dengan membawa
kebudayaan baru dan di cirebon sendiri memiliki budaya
asli yaitu budaya sunda dan budaya jawa yang keduanya
sama-sama mengakui kebudayaan cirebon.
Tak heran jika cirebon menjadi pusat perdagangan
karena cirebon sendiri memiliki pelabuhan yang sangat
terkenal pada saat itu yaitu pelabuhan muara jati,
disamping itu cirebon juga penghasil rempah-rempah yang
melimpah dan dicari oleh orang-orang luar, sehingga
Interaksi dan perkawinan kepada para pendatang dengan
pribumi sudah tidak bisa dihindarkan begitupun budaya
dan agama. mereka semua saling menguatkan
pengaruhnya terhadap kebudyaan cirebon, seperti agama
hindu-budha yang terlebih dahulu datang dan berhasil
menanamkan pengaruhnya, kemudian datang islam yang
juga berhasil menanamkan pengaruhnya dengan tidak
menghilangkan kebudayaan hindu-budha dan cirebon
sendiri, sehingga tidak bisa dihindarkan bentuk-bentuk
Akulturasi dari segi budaya, bangunan dll yang mewarnai
cirebon dan masih terlihat dan dirasakan saat ini, dan
seperti apakah bentuk akulturasai tersebut secara jelasnya
akan dibahas pada bab selanjutnya secara khusus yang
membahas tentang Akulturasi di Cirebon.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka ada beberapa
rumusan masalah yang akan memperjelas pembahasan ini
diantaranya;
a) Bagaimana Peroses Akulturasi di Cirebon ?
b) Apa Penyebab Aklturasi di Cirebon?
c) Apa saja bentuk Akulturasi dalam kesenian Cirebon?
d) Apa saja bentuk Akulturasi dalam Tradisi Cirebon?
e) Apa saja bentuk Akulturasi dalam bangunan dan
arsitektur di Cirebon?
C. Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah diatas tadi maka ada
beberapa tujuan dalam penulisan makalah ini di
antaranya ;
a) Mengetahui Peroses Akulturasi di Cirebon ?
b) Mengetahui Penyebab Aklturasi di Cirebon?
c) Mengetahui Bentuk Akulturasi dalam Kesenian Cirebon?
d) Mengetahui Bentuk Akulturasi dalam Tradisi Cirebon?
e) Mengetahui Bentuk Akulturasi dalam Bangunan Dan
Arsitektur di Cirebon?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Akulturasi di Cirebon
Sebagai daerah yang secara administratif
masuk wilayah propinsi Jawa Barat Tak heran jika
potensi budaya yang tumbuh dan berkembang di
daerah Cirebon terdiri dari budaya Sunda dan Jawa,
dan oleh karena itu Cirebon dapat digolongkan
sebagai wilayah bilikultur (dua budaya) atau bilingual
(dua bahasa). Masyarakat Cirebon tidak hanya
memiliki kesenian khas Cirebon seperti Wayang
Golek Cepak Misalnya tetapi juga memiliki kesenian
tradisional yaitu Wayang Golek Purwa, kemudian
masyarakat Cirebon juga bisa berbahasa Sunda dan
Jawa (Cirebon), demikian juga adat istiadatnya.
Bahkan bila dilihat dari latarbelakang sejarah
berdirinya Cirebon, daerah yang pernah menjadi
pusat penyebaran agama islam ini, sebelumnya telah
dihuni oleh penduduk dari berbagai suku bangsa,
seperti; Sunda, Jawa, Arab, Cina, Melayu dan
sebagainya. Saat sebelum berdirinya kesultanan,
Cirebon telah menjadi tempat Melting Pot, tempat
berte munya berbagai suku, bangsa, agaman dan
budaya, tak aneh jika kemudian cirebon menjadi
daerah yang paling kaya akan keragaman
budayanya. Dari kondisi Akulturasi pun tidak dapat
dihindarkan. Sehingga di daerah ini tumbuh dan
berkembang berbagai jenis dengan segala keunikan
dan kekhassanya.
Maka tidaklah berlebihan jika Cirebon disebut
juga sebagai kantongnya kesenian tradisional di Jawa
Barat. Apa yang ada di daerah lain ada pula di
Cirebon, tetapi apa yang dimiliki oleh Cirebon belum
tentu di miliki oleh daerah lain. Sebagai contoh; di
daerah Pasundan ada Wayang Golek Purwa, maka di
Cirebon pun punya Wayang Golek Purwa, sebaliknya
kita tidak menemukan kesenian khas macam Tarling
di wilayah Pasundan. Inilah kelebihan Cirebon.1
B. Faktor Penyebab Akulturasi di Cirebon
1. Letak Geografis
Kembali pada geografis Cirebon, Paramita
R.Abdurachman menggambarkan Cirebon berada
dipersimpangan jalan dari berbagai jurusan yang
sekarang menjelma sebagai suatu kota pesisir
diperbatasan Jawa Barat, dan merupakan contoh
khas peninggalan kerajaan-kerajaan hindu jawa
abad ke 15, Cirebon juga memiliki pelabuhan
muarajati, memang harus diakui, disamping
sebagai pintu gerbang ekonomi sekaligus pula
menjadi pintu gerbang kebudayaan dalam artian
luas. Disinilah pencampuran itu terjadi berbagai
bangsa yang ada, seperti yang di sebutkan dalam
carita purwaka caruban nagari, bertemu dan
berkumpul yang akhirnya membentuk sebuah
koloni kebudayaan tersendiri.2

2. Hubungan Niaga Antara Bangsa


Pada bagian lain dari kitab itu disebutkan juga
mengapa Cirebon menjadi muara (meltingpot)

1 Dede Wahidin SSn. Kompilasi Kesenian Tradisional, (Kota-Cirebon ;


Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon,
2013) Hal 75

2 Nurdin M. Noer Menusa Cerbon, (Jakarta ; Dinas Pemuda Olahraga


Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, 2009) Hal 28
bagi kebudayaan lain, hubungan niaga antara
bangsa diidentifikasi sebagai sebab terjadinya
perkawinan kebudayaan tersebut.
Pratidina janmapadha ikang don rinuku
samya ake keng ngke. I sedeng parirenan
kang prahwa muarajati dumadi akrak,
mapanri manawidha kang palwa nityasa
mendheg ngke pantaraning yeka sakeng cina
nagari, ngarah. Persi india, malaka, tumasik,
paseh, jawa wetan, mandura lawan
palembang, matan ika pasambangan dhukuh
dumandyakna
Artinya, tiap hari masyarakat pedagang banyak
yang berjual beli dan berdatangan disana, dengan
demikian maka pelabuhan muarajati ramai,
karena bermacam-macam jenis perahu senantiasa
singgah disana, diantaranya pedagang dari
negara cina, arab, persia, india malaka, tumasik
(singapura sekarang), Pasai, Jawa Timur Madura
Dan Palembang. Oleh karena itu desa
Pasembangan menjadi ramai para pendatang.3
3. Sebagai Daerah Terbuka
Cirebon sebagai daerah yang terbuka secara jelas
digambarkan dalam carita purwaka caruban
nagari (Pangeran Arya Cirebon 1720) terjemahan
P.S. Sulendraninggrat (1938) sebagi sarumban
(campuran)
(......ri witan ingkan ngaran caruban yeka
sarumban, i wekasan ika mangko caruban
tumuli, ana pwa ike nagari dening sang
kamastwing kang sangan ....

3Ibid hal 28
Artinya; dan ketika itu pula negaranya disebut
caruban, kata caruban semula sarumban, artinya
canmpuran berbagai suku, bahasa adat istiadat
dan agama, dari sebuah sarumban itulah akhirnya
berubaha ucapan menjadi carbon, (Cirebon
sekarang). Negara itu oleh para wali disebut
sebagai negara puser bumi (minastwan ngaran
puser bhumi)4
Masyarakat Cirebon adalah sarumban istilah yang
dipakai dalam kitab Carita Purwaka Caruban
Nagari yang artinya campuran. Sebuah daerah
meltingpot-muara bagi dari berbagai kebudayaan.
Kemungkinan ini lantaran letak geografis daerah
tersebut di pinggir laut dan mudah dijangkau
siapapun. Disamping itu karakteristik masyarakat
yang terbuka, lugas dan apa adanya.5
Antara kebudayaan Islam, Kon Hu Chu/Budha dan
Hindu menjadi caruban (campuran) yang pada
akhirnya diadopsi menjadi kebudayaan Cirebon.
Dengan demikian kebudayaan Cirebon merupakan
pancampuran atau caruban atau sarumban dari
induk kebudayaan yang telah mapan, Cirebon
hanyalah pantulan dari kebudayaan itu sendiri, ia
ibarat bulan yang indah dan penuh misteri, lebih-
lebih pada pecinta sejati, bulan masih menjadi
simbol kencantikan yang membuahkan imjinasi
keindahan yang luar biasa.6
4. Peranan Para Penghulu dan Seniman

4 Ibid hal 25

5 Ibid Hal 2
Babad Cirebon yang dikenal sebagai induk
dongeng berbagai peristiwa masa lalu sering kali
dimanfaatkan para seniam panggung, seperti
sandiwaram dalang wayang kulit dan wayang
golek cepak untuk mengembangkan kisah-kisah
seusai dengan imajinasinya, kebudayaan memang
merupakan sesuatu yang tidak tetap, kebudayaan
selalu bergerak seiring dengan kemauan
masyarakatnya karena itu budaya selalu bersipat
luwes dan mampu mengisi ruang-ruang kosong
dalam masyarakat yang membutuhkan secara
fisik kebudayaan tak bisa di lestarikan secara
utuh. Malah upaya pelestarian hanya terbatas
pada nilai-nilai yang bersifat adiluhung
Para penghulu keraton pada masa lalu
memegang peranan yang sangat penting dari
pemeliharan dan pengembangan kebudayaan.
Para penhulu itulah para penghulu itulah yang
memulai melakukan perubahan-perubahan,
mereka menulis buku yang di jadikan babon atau
buku induk yang di sebarluaskan kepada
masyarakat luas. Di lingkungan keraton Cirebon
sendiri, penghulu memang memiliki
keistimewahan, sebagai ia pembesar sultan yang
setingkat kedudukanya dengan Mentri Agama,
mereka diserahi tugas untuk acara-acara
keagamaan dan tradisional, seperti peringatan
perayaan maulid Isra Mikraj, Idhul Fitri dan adha

6 Ibid Hal 47
serta menjadi iman besar sekaligus khatib di
masjid Agung Sang Ciptarasa7.
C. Akulturasi Dalam Bentuk Kesenian Cirebon
1. Wayang Jawa
Tak bisa dipungkiri, Sunan Kalijaga adalah seorang
anggota Walisanga yang piawai dalam
mengadopsi berbagai kesenian Hindu menjadi
bentuk yang Islami, wali yang seniman itu
terbilang paling kreatif dalam mengutak-atik
berbagai ragam kesenian. Siapa berani misalnya,
yang mennyatakan secara tidak langsung, bahwa
satu-satunya wayang bernama Samiaji putra
sulung pandawa yang berhak masuk surga karena
ia telah masuk Islam.
Samiaji atau Puntadewa dalam khazanah
wayang jawa dikenal sebagai tokoh penyabar
yang luar biasa, ia menjadi saksi lantaran
kesabaran dan kearifannya dalam memecahkan
masalah, mengapa? Karena ia memiliki agem-
agem atau jimat yang bernama layang
kalimahsadah itu selalu disimpan dalam
sanggulnya penetrasi (perembesan) nilai-nilai
Islam pada masyarakat Hindu pada masa lalu
lewat wayang sangat efektif.
Cara memasukan konsep-konsep Islam
kedalam konsep Hindu Jawa melalui kebudayaan
itu, menurut Porf. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-
Atas (guru besar Universitas Kualalumpur) jusru
merupakan cara tulen tersendiri, hasil daya caipta
para penyebar agama Islam di Jawa kita harus
tau, bahwa para penyebar Islam di Jawa terpaksa
7 Ibid hal 47
menggunakan konsep-konsep agama Hindu-Jawa
yang estetik itu kepada masyarakat yang telah
lama hidup dalam suasan estetik. Pendekatan
estetik dalam penyebaran Islam pada abad ke 15
ternyata terbukti ampuh, kedua penganut agama
(Hindu dan Islam) dalam pandangan Naquib Al
Atas ternyata memiliki pandangan estetika yang
sama. Pada masyarakat Hindu nilai estetikan
diwujudkan pada upacara-upacara ritul yang
melibaatkan bentuk-bentk alamiah, seperti janur
kuning dan buah-buahan sedangkan pada
masyarakat Islam nilai-nilai estetika di
kembangkan melalui syair-syair yang
ditembangkan pada karya Jafar Al-Barzanjie.
Nilai-nilai estetika inilah yang dikembangkan
sunan Kalijaga hinga menjelma menjadi bentuk-
bentuk kesenian yang terangkum dalam gamelan,
tari, upacara adat kisah-kisah yang dituturkan
pada media wayang.
Wayang yang dalam pandangan masyarakat
Jawa diartikan sebagai bayangan-bayangan
merupakan tontonan sekaligus tuntunan yang
mengajak setiap orang untuk berbuat baik.
Sedangkan dalang yang diartikan sebagai ngudal-
udal piwulang (guru yagn sering kali memberikan
petuah) merupakan tokoh yang paling dihormati
dalam masyarakat trdisional yang dianuti berbaai
nasehatnya. Antar wayang dan dalang merupakan
rangkaian yang tak terpisahkan satu sama lain.
Wayang hanyalah alat sebagai alat yang
digerakan sang dalang.
Kearifan Sunan Kalijaga dalam penghapusan
pengkastaan bisa dilihat dari wayang baik dalam
mahabharata maupun ramayana versi Hindu
keterlibatan kaum Sudra yang menempati kasta
ke empat (kasta terbawah) takterlihat sama
sekali, hanya kasta Bhrahmana dan Ksatrya saja
yang kiranya memiliki hak dalam menentukan
sejarah, namun dalam wayang Jawa persoalan
kasta menjadi cair, setelah Kalijaga menempatkan
para punakawan tumaritis yang terdiri dari rulah
Semar dan anak-anaknya Bagong, Petruk dan
Gareng turut ambil bagian dalam sejarah, meski
mereka hanya diperankan sebagai rakyat yang
mengabdi kepada penguasa(raja dan
keluarganya).8
2. Kesenian Wayang Golek Cepak
Wayang Golek Cepak di Cirebon diperkirakan
telah berkembang sejak zaman para Wali pada
saat itu Wayang Golek Cepak selain dijadikan
sebagai media hiburan tetapi juga dijadikan
sebagai media dakwah dalam meyebarkan agama
Islam oleh para wali. Dalam kaitanya dengan hal
ini, sunan Kalijaga dalam kegiatan dakwahnya di
lakukan melalui pendekatan kultural. Metode
dakwah yang dilakukannya untuk kepentingan
agama Islam di tanah jawa ini salah satunya
dengan melewati karya seni, saat itu sunan
Kalijaga selain menjadi dalang, juga mengarang
lakon-lakon wayang, pagelaran itu sendiri
dilakukan di pinggir masjid dengan diiringi

8 Ibid Hal 80-84


Gamelan Sekaten atau Syadatain (dua kalimat
persaksian kunci keIslaman)
3. Terbang Brai
Dilihat dari perwujudannya , seni brai atau ada
yang menyebutnya brahi pada dasarnya sama
dengan jenis seni terbang atau gembyung baik
pola irama atau nyanyian dan cara penyajiannya
hanya saja instrumen musik yang digunakan lebih
kecil dari yang digunakan pada terbang den
gembyung, sebenarnya penamaan brai itu sendiri
tidak lebih dari sebuah peristilahan yang diambil
dari kata birahi yang berarti kasmaran atau jatuh
cinta.
Dalam konteks ini yang dimaksud dengan brai
adalah seorang atau sekelompok manusia yang
sedang birahi maring pangeran (cinta Allah ),
kecintaanya beliau kepada sang Kholik mereka
ungkapkan dengan media seni, sayir-syair yang
diciptakannya pun selain sebagai rasa keimanan
mereka kepada Yang Maha Kuasa, juga sebagai
ajakan kepada masyarakat apresiatornya untuk
melakukan hal yang sama yakni bertaqwa kepada
sang pencipta9
Menjelang wafatnya Syekh Nur Jati Menyerahkan
Pesantren yang di pimpinnya kepada Sayid
Abdilah untuk diteruskan, tentu saja hal ini adalah
tugas yang maha berat sebab pada saat itu islam
adalah agama baru, besarnya pengaruh Hindu-
Budha dan Cirebon juga berada dalam kekuasaan

9 Dede Wahidin SSn Op Cit Hal 21


Kerajaan Galuh, maka Islampun belum
berkembang dengan baik.
Setelah melakukan perundingan yang cukup
alot, akhirnya ketiga bersaudara itu memutuskan
untuk menyebarkan agama islam secara
terselubung yaitu dengan menggunakan media
seni sebagai media komunikasinya, dan untuk
menghindarkan kecurigaan penguasa kerajaaan
galuh, syair-sayir lagu yang digunakannya
disamarkan dari kalimat yang sebenarnya ,
misalnya kalimat lailahailallah Muhammadar
Rasulllah menjadi Laelah haelalah
kamadarasalalah dan seterusnya cara itu
ternyata cukup mempengaruhi masyarakat10

D. Akulturasi dalam Arsitektur dan Bangunan di


Cirebon
1. Bangunan Siti Inggil Keraton Kasepuhan

10 Dede Wahidin SSn Op Cit Hal 23


Beberapa unsur yang mempengaruhi bangunan
Siti Inggil adalah sebagai berikut:
Hindu Budha; Di tembok-tembok dataran Siti
Inggil, Gerbang Belah Candi
Cina; Burung Mitos (phoenik) burung Jenjang pioni
di tegel-tegel dan di jambangan
Jawa; Bentuk sruktur penopang dari kayu dan
bentuk atap yang berkaitan dengannya.
Arab; Dalam motif-motif bunga dan banyak motif
dekorasi pada susunan batu-bata
Belanda; dalam bentuk atap yang sederhana dan
kurang mewah, tegel-tegal, lantai batu bata
Yunani Kelasik; Alam tiang dan tiang yang
menonjol dari tiang pelaster dengan bentuk klasik
yang agak berubah
Islam
Banyak ukiran struktur penopang dan pada
tambahan hiasan di pintu-pintu dan papan
penyekat
Menurut Ir.H, Maclani; orang jawa pada mulanya
adalah bangsa alami yang cukup tinggi
peradabannya, meskipun selama berabad-lalu
dipilihlah yang cocok bagi bangsanya, ia
mengalami pengaruh penjajahan asing, ia
mendapati dirinya tetap bersikap sycretitis
terhadap segala aliran rohani yang dibiarkanya
menyentuh dirinya. Jadi dengan mengakui nilai
aliran-aliran itu, yang masing-masing berkaitan
dengan peran bangsanya dalam kemajuan umat
manusia, ia dapat menerima seginya yang baik.11
2. Paksi Naga Lima
Demikian pula dengan kebudayaan cirebon.
Seperti digamnbarkan dalam idiom palsi naga
lima merupakan perpaduan antara tiga
kebudayaan yang telah ada sejak berabad-abad
lamanya.12
Pada karya seni yang agung dimasa lalu seperti
kereta singa baring (kasepuhan), paksinagalima
dan jempana (kanoman). Karya seni yang
ditafsirkan sebagai panduan antar arab
(paksi/burung), Cina (naga) dan India (Liman)
cukup menggambarkan manusia cirebon yang
terbuka yang mau menerima hadirnya
13
kebudayaan dari luar.

E. Akulturasi dalam bentuk Tradisi di Cirebon


Tradisi keagamaan masyarakat jawa Khususnya
kaum petani hakikatnya adalah sebuah senkretisme
budaya yang berisi campuran unsur-unsur india,
Islam dan pribumui Asia tenggara. Ekspansi
perdagangan internasional lewat laut ke kota-kota

11 Ir. H. Maclani. Baluarti Keraton Kasepuhan Cirebon. (Cirebon;


Keraton Kasepuhan Cirebon 2000) hal 20

12 Nurdin M Noer Op Cit hal 45

13 Nurdin M Noer Op cit hal 6


pelabuhan di pantai utara pada abad ke 15 dan 16
dihubungkan dengan penyebaran pola-pola budaya
Islam. Setelah menemukan jalan ke massa petani,
kedua agama dunia ini menjadi tergabung dengan
animistik yang mendasarinya dan khas seluruh
kebudayaan melayu, hasilnya dalah sebuah
senkretisme dari mitos dan ritus yang didalamnya
dewa-dewi Hindu, nabi-nabi muslim, para santo dan
roh-roh serta mahluk-mahluk halus setempat
semuanya mendapat tempat yang layak. Bentuk
ritual inti dalam senkretisme ini adalah sebuah
perayaan bersama yang disebut slametan, yang
memiliki bentuk dan isi dengan hanya sedikit variasi
dengan segala kesempatan, memiliki makna religius
pada titik-titik peralihan daur hidup, pada hari-hari
suci menurut penanggalan, pada tahap-tahap
tertentu daru panen pada waktu pindah rumah,
dimaksudkan untuk memberi persembahan bagi roh-
roh dan mekanisme bersama bagi keutuhan hidup
bersama, ada semacam kepercayaan masyarakat
jawa untuk selalu menyediakan semacam berkat
(nasi beserta lauk pauk yang sudah dipola isi dan
bentuknya) sebagai simbol berkah bagi orang yang
mengadakan kenduri atau slametan.14
1. Tradisi Kelwonan
Suatu Fenomena kegiatan atau peristiwa
dikatakan suatu tradisi, jika peristiwa itu dilakukan
secara berulang ulang-ulang, menjadi kebiasaan

14 Prof. Dr.H. Abdullah Ali M.A. Tradisi Kliwonan Gunungjati Model


Wisata Religi Kabupaten Cirebon. (Cirebon: Pemerintahan Kabupaten
Cirebon, 2007) Hal 32-35
yang diterima oleh masyarakatm. Diwariskan dari
suatu generasi kepada generasi berikutnya.15
Istilah keliwonan bersumber dari budaya jawa
yang memahami makna hari-hari dengan
menggunakan sebutan pon, wage, pahing dan
kliwon, berpadu dengan nilai-nilai islam yang
sangat menghormati posisi hari jumat sebagai
sayyidul ayyam (tuannya hari-hari). 16
Penghormatan kepada figur Muahammad
direfleksikan oleh umat islam dengan selalu
membacakan sholawat. Figur terhormat yang
begitu dekat hubunganya dengan Allah, hanya
bisa digantikan oleh para ulama dan para wali
sebagai pewarisnya.17
Dalam pandangan mistik jawa para wali sebagai
pewaris ajaran Nabi dianggap sebagai orang
pilihan yang sangat dekat hubungannya dengan
Allah, diyakini masyarakat sekitar dapat
memberikan karomah, karena itu mereka sangat
menghargai Moralitas orang-orang suci.18

15 Ibid hal 7

16 Ibid hal 15

17 Ibid Hal 41-42

18 Ibid Hal 43
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari apa yang sudah diuraikan diatas tentang Akulturasi
Budaya di Cirebon jelas bahwa kebudayaan Cirebon itu
tidak hanya di pengaruhi oleh Islam saja, tetapi dari
agama-agama lainnya yaitu agama hindu-budha dan
tionghoa.
Didukung juga dengan Cirebon sendiri yakni
menerima setiap kebudayaan dari luar dengan sikap
terbuka hal ini yang menyebabkan banyak sekali
kesenian-kesenian khas Cirebon dibandingkan daerah
lain, dan di Jawa Barat sendiri Cirebon menjadi
kantongnya kesenian. Hal ini jelas membuktikan bahwa
kebudayaan-kebudayaan cirebon dalam bentuk
kesenian, tradisi dan bangunan semuanya berasal dari
pengaruh-pengaruh kebudayaan lain dan cirebon
adalah pantulan bagi kebudayaan tersebut.
Cirebon pada kenyataannya saat ini masih tetap
terombang-ambing pada jepitan dua kebudayaan besar,
yakni jawa dan sunda. Namun ketidak jelasan itu justru
merupakan identitas dari manusia cirebon itu sendiri.
Diakui dari pengaruh dua kebudayaan itu sangat besar
sekali, di samping pengaruh kebudayaan lainnya,
terutama dari sebrang lautan,india cina dan timur
tengah (Arab)
Pada karya seni yang agung dimasa lalu seperti
kereta Singa Barong (Kasepuhan), Paksinagalima dan
Jempana (Kanoman). Karya seni yang ditafsirkan
sebagai panduan antar Arab (Paksi/Burung), Cina
(Naga) dan India (Liman) cukup menggambarkan
manusia cirebon yang terbuka yang mau menerima
hadirnya kebudayaan dari luar.

DAFTAR PUSTAKA

Wahidin Dede SSn. Kompilasi Kesenian Tradisional,


(Kota-Cirebon ; Dinas Pemuda Olahraga
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, 2013)
M. Noer Nurdin Menusa Cerbon, (Jakarta ; Dinas
Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota
Cirebon, 2009)
Ir. H. Maclani. Baluarti Keraton Kasepuhan Cirebon.
(Cirebon; Keraton Kasepuhan Cirebon 2000)
Prof. Dr.H. Ali Abdullah M.A. Tradisi Kliwonan
Gunungjati Model Wisata Religi Kabupaten Cirebon.
(Cirebon: Pemerintahan Kabupaten Cirebon, 2007)