Anda di halaman 1dari 14

_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor

Pertanian Di Kabupaten Tobasa

Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor


Pertanian Di Kabupaten Tobasa
Parulian Simanjuntak

Abstrak

Pembangunan pertanian membutuhkan keluwesan dalam perencanaan dan


pelaksanaan kegiatan pengembangan itu sendiri, sesuai dengan keaneka-ragaman
jenis produk, lokasi, dan kondisi pelaku usahanya. Hal ini membutuhkan fokus
perhatian dari para perencana dan pelaku kegiatan pembangunan. Otonomi daerah
juga lebih memungkinkan prinsip ini dapat diterapkan dengan lebih konsisten. Hal ini
membutuhkan redefinisi dan reposisi peran pemerintah dalam pembangunan. Proses
reposisi tersebut telah menjadi lebih jelas dengan adanya otonomi daerah. Paling tidak
peran pemerintah (pusat) yang sentralistik akan sangat berkurang dalam
mengimplentasikan kegiatan pengembangan secara langsung. Peran tersebut akan
berubah menjadi peran dukungan, fasilitasi, dan regulasi, serta peran untuk
mendorong terwujudnya lingkungan strategis yang kondusif (kondisi ekonomi makro,
keamanan, kepercayaan nasional dan internasional, dan lain sebagainya) bagi
perkembangan agribisnis dan kegiatan ekonomi daerah lainnya. Peran perencanaan
akan lebih banyak dikembangkan pemerintah daerah yang memang lebih memahami
fokus kegiatan yang harus dikembangkan.
Nilai LQ sektor pertanian di Kabupaten Tobasa berada di atas 1 (> 1), ini
menyatakan bahwa sektor pertanian dapat dijadikan basis pembangunan ekonomi di
kabupaten tersebut. Analisis LQ menunjukkan bahwa nilainya makin lama makin
besar, dengan demikian, dari tahun ke tahun, sektor pertanian sudah sedemikian
pentingnya bagi perkembangan ekonomi di Kabupaten Tobasa. Dengan demikian,
maka pemerintah daerah harus lebih memperhatikan lagi sektor ini dengan membuat
kebijakan-kebijakan yang mendorong makin majunya sektor pertanian. Perhitungan
ini tidak dapat dipungkiri lagi, harus digunakan sebagai salah satu indikator penting
dalam membuat kebijakan ekonomi. Meninggalkan pertanian sebagai basis ekonomi
bukanlah merupakan hal yang disarankan disini (bijaksana).
Dengan hasil di atas, maka sekali lagi, ekonomi kerakyatan memang memegang
peranan penting dalam pembangunan daerah di Indonesia umumnya dan di Kabupaten
Tobasa khususnya. Sektor pertanian di Kabupaten Tobasa, dengan data di atas, masih
merupakan primadona ekonomi yang menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi.
Sektor pertanian merupakan sektor unggulan yang harus tetap dipertahankan
keberadaannya.

Kata Kunci : Pembangunan, Pertanian, ekonomi.

LATAR BELAKANG

Pemerataan pembangunan ekonomi bagi bangsa Indonesia umumnya dan Kabupaten


Tobasa khususnya sudah lama dinantikan oleh masyarakat. Harapan dan cita-cita
tersebut dapat dijadikan kenyataan dengan dilakukannya pembangunan ekonomi yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hingga saat ini,
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

pembangunan ekonomi yang mendasar atau berbasis pertanian belum tergarap dengan
tuntas, optimal, terpadu dan menyeluruh. Masyarakat, sebenarnya, memiliki potensi
yang besar dalam memajukan perekonomian terutama yang bertulangpunggung
pertanian. Hingga saat ini, wilayah pedesaan yang merupakan daerah pertanian, masih
tertinggal dibandingkan dengan pembangunan wilayah lainnya.

Dengan telah terlaksananya otonomi daerah, maka setiap pemerintah kabupaten/kota


sebagai daerah otonom dituntut untuk dapat mengembangkan dan mengoptimalkan
seluruh potensi daerahnya dengan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada
hakekatnya, otonomi daerah adalah kewenangan daerah yang mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat daerahnya berdasarkan aspirasi masyarakat, nyata dan
bertanggungjawab.

Penetapan UU Otonomi Daerah telah menempatkan Indonesia menjadi salah satu


negara dari banyak negara di dunia yang (kembali) mengarahkan proses kehidupan
berbangsa dan bernegaranya dalam satu eksperimen besar menuju ke proses
desentralisasi dan otonomi daerah. Desentralisasi mengantarkan perubahan bobot dari
pemerintah ke masyarakat dan dari pusat ke daerah. Hal ini merupakan bagian dari
proses yang lebih besar lagi, yaitu menuju ke demokratisasi dalam semangat
kedaulatan rakyat yang sebenarnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Proses
desentralisasi diharapkan akan membentuk masyarakat yang lebih berdaulat,
demokratis, lebih terbuka, dan lebih partisipatif; yang kemudian dapat mewujudkan
keadilan dan kesejahteraan.

Hal tersebut kemudian harus diwujudkan dalam berbagai aktivitas masyarakat,


termasuk aktivitas ekonomi yang dilakukannya. Dengan desentralisasi maka setiap
daerah artinya masyarakat di daerah yang bersangkutan, dapat menetapkan strategi
pengembangan ekonomi yang paling sesuai dengan kondisi dan kepentingan mereka.
Strategi pembangunan tidak lagi menjadi sebuah rencana dan rancangan yang
ditentukan oleh segelintir orang saja tetapi merupakan sebuah gerak bersama yang
penuh keragaman. Diantara kegiatan ekonomi yang diharapkan dapat lebih
berkembang dengan desentralisasi adalah pembangunan pertanian.

Sumberdaya wilayah merupakan anasir penting dalam pelaksanaan otonomi daerah.


Sumberdaya wilayah dimaksud adalah sumberdaya lahan yang terkait dengan potensi
fisik wilayah. Kiat manajemen/pengelolan yang berimbang dan berkelanjutan
merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam peningkatan produktifitasnya.
Keberhasilan pengelolaan dengan berpijak pada kaidah kelestarian lingkungan dan
berkelanjutan akan dapat menjamin terhadap meningkatnya masukan daerah yang
telah lama dieksploitasi tanpa mempertimbangkan kelestarian lingkungan secara
optimal. Sebagaimana diketahui bersama bahwa keadaan daerah saat ini telah banyak
yang mengalami perubahan sebagai akibat kurangnya keterlibatan dan pemberdayaan
masyarakat dalam melakukan pembangunan di wilayah yang bersangkutan, sehingga
dalam rangka mengantisipasi pengaruh negatif berkepanjangan maka perlu segera
diupayakan adanya sinkronisasi dan peningkatan hubungan koordinasi dan
kemitraan antara pemerintah dan masyarakat, serta daerah dan pusat dalam rangka
peningkatan potensi di wilayah yang bersangkutan. Oleh sebab itu, melalui Undang-
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

undang Otonomi Daerah diharapkan dapat dibangun sebuah sistem yang mampu
memperkuat institusi pengelolaan sumberdaya daerah. Institusi ini diharapkan akan
menjadi wadah bagi para profesional dalam rangka menerapkan profesi sumberdaya
manusia sebagai pelaku pembangunan di tingkat regional.

Selain itu, persepsi tentang pembangunan daerah yang akan dibangun melalui
kebijakan ini, adalah daerah sebagai satu kesatuan sistem wilayah pembangunan,
bukan saja berkonsentrasi pada kelangsungan hidup manusia dalam kepentingan
sesaat tetapi juga menciptakan habitat bagi tumbuh dan berkembangnya makhluk
lain dalam rangka mempersiapkan sistem yang mendukung kelestarian kehidupan
secara berkesinambungan. Dengan demikian, daerah tidak lagi dipersepsikan sebagai
daerah yang masing-masing terpisah, tetapi tetap memiliki interaksi dan
interdependensi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Keterkaitan sumberdaya
antara satu daerah dengan daerah lainya tidak akan dapat dipisahkan dalam
pengelolaannya. Oleh karenanya, diperlukan wadah yang berupa institusi untuk
mengakomodasikan keterpaduan perencanaan, dan pelaksanaannya sampai dengan
evaluasi dan monitoringnya.

Krishnamurti (PSP IPB, 2003) mengatakan bahwa sektor pertanian yang diatur
sebagai bagian dari pemerintah daerah dalam desentralisasi Indonesia. Dilain pihak
pembangunan pertanian memang memerlukan otonomi daerah. Pertama,
pembangunan pertanian membutuhkan apresiasi yang tinggi terhadap
keanekaragaman. Aspek ini merupakan pilar keunggulan pertanian. Keanekaragaman
tersebut ditunjukkan oleh jenis produk yang bersifat local-specific, disesuaikan
dengan sumberdaya lokal, kondisi sosial budaya, dan kebutuhan masyarakat yang
berbeda antar wilayah. Adanya otonomi daerah memberikan 2 kesempatan yang lebih
besar untuk mewujudkan semua hal tersebut. Masing-masing daerah dapat
menentukan jenis agribisnis yang akan dikembangkan dan bagaimana cara
pengembangannya. Disamping itu nilai lebih dan nilai tambah yang dihasilkan dari
kegiatan agribisnis dapat lebih dipastikan untuk dinikmati oleh masyarakat daerah
yang bersangkutan. Dengan otonomi, masing-masing daerah akan dituntut untuk
mengembangkan pola pengembangan dan teknologi yang sesuai dengan karakteristik
masing-masing daerah.

Kedua, pembangunan pertanian membutuhkan keluwesan dalam perencanaan dan


pelaksanaan kegiatan pengembangan itu sendiri, sesuai dengan keaneka-ragaman
jenis produk, lokasi, dan kondisi pelaku usahanya. Hal ini membutuhkan fokus
perhatian dari para perencana dan pelaku kegiatan pembangunan. Otonomi daerah
juga lebih memungkinkan prinsip ini dapat diterapkan dengan lebih konsisten. Hal ini
membutuhkan redefinisi dan reposisi peran pemerintah dalam pembangunan. Proses
reposisi tersebut telah menjadi lebih jelas dengan adanya otonomi daerah. Paling tidak
peran pemerintah (pusat) yang sentralistik akan sangat berkurang dalam
mengimplentasikan kegiatan pengembangan secara langsung. Peran tersebut akan
berubah menjadi peran dukungan, fasilitasi, dan regulasi, serta peran untuk
mendorong terwujudnya lingkungan strategis yang kondusif (kondisi ekonomi makro,
keamanan, kepercayaan nasional dan internasional, dan lain sebagainya) bagi
perkembangan agribisnis dan kegiatan ekonomi daerah lainnya. Peran perencanaan
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

akan lebih banyak dikembangkan pemerintah daerah yang memang lebih memahami
fokus kegiatan yang harus dikembangkan.

Ketiga, pembangunan pertanian akan lebih banyak bertumpu pada peran dan
partisipasi perorangan atau kelompok masyarakat. Kebutuhan dukungan bagi pelaku
usaha untuk mengembangkan kegiatan pertaniannya masing-masing berbeda antara
satu daerah dengan daerah lain. Pelajaran selama ini menunjukkan bahwa apa yang
diprioritaskan oleh para pengambil keputusan di tingkat pusat tidak jarang berbeda
dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pelaku usaha di daerah. Melalui
otonomi dukungan tersebut dapat lebih terfokus. Disamping itu melalui otonomi maka
tingkat persaingan yang dihadapi pengusaha daerah akan menjadi lebih realistic.
Pengusaha di daerah akan memiliki ajang persaingan yang adil karena terdapat
harapan bagi berkurangnya campur tangan suprastruktur yang selama ini justru
menjadi salah satu penghambat utama dalam perkembangan kegiatan bisnis lokal.

Keempat, pembangunan pertanian sebagai sistem agribisnis membutuhkan


pemahaman dan operasionalisasi kerja jaringan usaha antar pelaku dan antar wilayah,
baik didalam maupun diluar negeri. Jaringan kerja (network) tersebut sangat
diperlukan bukan hanya dalam satu sistem agribisnis tetapi juga antar sistem, antara
pelaku usaha sejenis atau yang memiliki keterkaitan erat dan langsung maupun antara
berbagai insitusi yang terkait dengan agribisnis. Otonomi diharapkan tidak justru
menjadi penghambat adanya kerjasama antar daerah. Kekhawatiran atas hal tersebut
bukan sama sekali tidak beralasan, mengingat agribisnis memiliki lingkup yang lebih
luas dari wilayah daerah (kabupaten), baik dilihat dari aspek sumberdaya, aspek
keterkaitan sistem, dan aspek pasar. Pemahaman yang kuat atas pendekatan integratif
dalam sistem menjadi syarat mutlak untuk mencegah agar otonomi tidak justru
menjadi penghambat pengembangan sistem agribisnis.

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (sustainable development) DAN


PEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTAN

Proses pembangunan bukan hanya ditentukan oleh aspek ekonomi semata, akan tetapi
pertumbuhan ekonomi merupakan unsur yang penting dalam proses pembangunan
daerah. Walaupun demikian, pertumbuhan ekonomi yang tinggi hingga saat ini masih
merupakan target utama dalam rencana pembangunan setiap daerah di samping
pembangunan sosial. Pembangunan ekonomi setiap daerah akan sangat bervariasi
sesuai dengan potensi ekonomi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Kemampuan
daerah untuk bertumbuh akan sangat ditentukan oleh faktor-faktor ekonomi yang
dimiliki daerah tersebut. Dengan demikian, setiap daerah harus mengenal secara rinci
sifat-sifat faktor tersebut. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan akan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.

Dimensi pertumbuhan ekonomi yang tidak boleh ditinggalkan adalah faktor


pemerataan (equity) dan partisipasi yang menghendaki adanya akses yang seimbang
dan sama terhadap berbagai ketersediaan sumber daya dan pemanfaatan peluang atau
kesempatan yang ada. Persoalan yang sering disalahartikan disini adalah bahwa
konsep pemerataan bukanlah hanya dilihat dari segi kesamaan dan keseimbangan
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

distribusi berbagai sumber daya secara harfiah atau pengertian fisiknya saja,
melainkan lebih mengarah pada pemberdayaan intrinsik dan peluang bagi masyarakat
untuk mewujudkan potensinya.

Pembangunan ekonomi suatu daerah selama proses pembangunan akan disertai


dengan pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur ekonomi. Meningkatnya
pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan akumulasi modal dan alokasi dana,
sehingga pada saatnya akan meningkatnya produksi dan pendapatan masyarakat.
Daerah harus dapat mempertahankan kesinambungan (kontinuitas) pertumbuhan
ekonominya agar pembangunan di daerah tersebut juga dapat terus berlanjut.

Inti dari pertumbuhan ekonomi adalah proses untuk melakukan transformasi yang
menyeluruh dalam bidang ekonomi yang akan dilakukan dengan melaksanakan proses
perencanaan yang baik dan mapan dengan tujuan mentransformasikan masyarakat ke
dalam suatu sistem yang lebih maju dan diidamkan. Keadaan yang dihasilkan akan
menghasilkan efek merembes ke bawah (trickle-down effect) seperti yang diinginkan
oleh masyarakat. Pendayagunaan potensi daerah yang efektif akan dapat
mengakomodasi strategi dan kebijakan modernisasi sehingga mampu untuk membawa
masyarakat ke dalam nuansa yang kondusif dalam mengimplementasikan
keinginannya.

Seperti pepatah yang mengatakan bahwa semua pemikiran merupakan anak dari
jamannya, tidak terkecuali pemikiran tentang strategi pembangunan ekonomi, dimana
pembangunan ekonomi daerah merupakan salah satu aspek dan komponen yang di
dalamnya sampai saat ini masih memerlukan pemikiran yang berkelanjutan. Strategi
pembangunan yang ada saat ini haruslah berbeda dengan yang telah dilakukan pada
beberapa dekade yang lalu. Pada awalnya pembangunan ekonomi, walaupun banyak
juga yang menganut hingga saat ini, didominasi oleh arus pemikiran sektoral, yang
membagi kegiatan ekonomi ke dalam 3 sektor, yaitu sektor primer, sekunder dan
tertier. Ketiga sektor tersebut pada akhirnya diterjemahkan menjadi sektor pertanian,
industri/menufaktur dan jasa (CLARK, 1960 : 253ff; FOURASTIE, 1954 : 269ff).
Analisis data yang dilakukan oleh Clark (1960:492ff) membawa pemikiran ekonomi
pada saat itu menjadi :

as time goes on and commodities become more


economically advanced, the numbers engaged in agriculture tend
to decline relative to the numbers in manufactures, which in turn
decline relative to the numbers engaged in services.1

Dengan kesimpulannya ini, Clark berpandangan bahwa pada awalnya perekonomian


akan berdasarkan pada sektor pertanian, yang kemudian akan bergeser pada sektor
industri/manufaktur dan pada akhirnya, perekonomian akan berada pada sektor jasa.
Dengan demikian, maka arus pembangunan ekonomi memang sudah diperkirakan
sedemikian rupa perekembangannya. Akan tetapi, kebijakan pelaksanaan yang
1
C. Clark, The Condition of Economic Progress. Third Edition. McMillan New York. 1960.
492ff. Dalam Jongkers Tampubolon. Manusia Dalam Paradigma Baru Pembangunan
Pertanian Indonesia. Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen. 1999. Hal. 3.
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

dilakukan oleh pemerintah sering mengalami perubahan-perubahan yang tidak jelas


dan hanya berdasarkan pimpinan pada saat itu saja.

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa


kini tanpa mengurangi kemampuan generasi masa mendatang. Surna (2001) dalam
Adiatmojo (2003) mengatakan ada dua gagasan penting dalam pembangunan
berkelanjutan, yaitu : Gagasan kebutuhan, yaitu kebutuhan esensial untuk
memberlanjutkan kehidupan manusia dan Gagasan keterbatasan yang bersumber pada
kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk
memenuhi kebutuhan kini dan hari depan.

Tujuan yang harus dicapai untuk keberlanjutan pembangunan adalah : keberlanjutan


ekologis, keberlanjutan ekonomi, keberlajutan sosial budaya dan politik,
keberlanjutan pertahanan dan keamanan. Sedangkan pembangunan keberlanjutan
mempunyai prinsip prinsip dasar dan prinsip dasar tersebut dari setiap elemen
pembangunan berkelanjutan dapat diringkas menjadi 4 (empat), yaitu : pemerataan,
partisipasi, keanekaragaman (diversity), integrasi dan perspektif jangka panjang.

Kata berkelanjutan (sustainable) memiliki implikasi dalam suatu rentang waktu,


dan pemanfaatan sumberdaya dapat dianggap berkelanjutan untuk rentang waktu
tertentu, biasanya 10 hingga 20 tahun. Namun demikian, rentang waktu ini sering
pula dianggap tidak cukup mewakili istilah berkelanjutan (Conrad, 1999) . Hal ini
berkaitan dengan konsep pembangunan (development) yang tidak mungkin dilakukan
tanpa konsumsi. Sehingga dalam kenyataannya, pembangunan berkelanjutan
seringkali memiliki kontradiksi dalam pelaksanaannya. Arti berkelanjutan secara
ekstrim dapat dikatakan sebagai keseimbangan statis, dimana dalam keseimbangan
tersebut tidak terdapat perubahan, meskipun tentu saja terdapat perubahan dalam
lokasi dari waktu ke waktu (Boulding, 1991, Pezzey,1992). Berkelanjutan dapat pula
berarti keseimbangan yang dinamis (Clark, 1989) yang memiliki dua arti yaitu:
pertama, keseimbangan sistem yang mengalami perubahan, dimana parameter
perubahan dalam keseimbangan tersebut bersifat konstan; yang kedua adalah
keseimbangan suatu sistem yang setiap parameternya mengalami perubahan,
sehingga setiap perubahan misalnya dalam populasi akan memicu restorasi nilai
populasi awal tersebut.2

Adiatmojo (2002) juga mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan memastikan


bahwa generasi yang akan datang memiliki kesempatan ekonomi yang sama dalam
mencapai kesejahteraannya, seperti halnya generasi sekarang. Untuk dapat
melaksanakan pembangunan berkelanjutan diperlukan cara mengelola dan
memperbaiki portofolio asset ekonomi, sehingga nilai agregatnya tidak berkurang
dengan berjalannya waktu. Portofolio asset ekonomi tersebut adalah kapital alami
(Kn), kapital fisik (Kp) dan kapital manusia (Kh). Secara sistematis pembangunan
berkelanjutan dapat dijabarkan dalam gambar berikut:

2
Gatot Dwi Adiatmojo. Pembangunan Berkelanjutan Dengan Optimasi Pemanfaatan Sumber Daya
Alam Untuk Membangun Perekonomian Dengan Basis Pertanian (Di Kabupaten Musi Banyuasin).
Bogor. 2002. p. 7-8.
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

Pembangunan Berkelanjutan (sustainable


Pembangunan Berkelanjutan (sustainable
development)
development)

Memastikan bahwa generasi yang akan datang memiliki kesempatan ekonomi yang
Memastikan bahwamencapai
sama dalam generasi kesejahteraannya,
yang akan datang memiliki kesempatan
seperti halnya ekonomi
generasi yang
sekarang
sama dalam mencapai kesejahteraannya, seperti halnya generasi sekarang

Kesejahteraan tidak berkurang dengan


Kesejahteraan tidak berkurang
berjalannya waktu dengan
berjalannya waktu

Diperlukan cara untuk memperbaiki dan mengelola portofolio aset ekonomi; sehingga nilai agregatnya
tidak berkurang dengan berjalannya waktu

Kapital
Kapital alami
alami Kapital
Kapital fisik
fisik Kapital
Kapital manusia
manusia
(Kn)
(Kn) (Kp)
(Kp) (Kh)
(Kh)

1.
1. Weak
Weak Substitusi Kn Substitusi Kn dengan
Sustainability
Sustainability dengan Kp Kh

Kn bukan hal yg
esensial

2.
2. Strong
Strong Menjaga
Menjaga KnKn agar
agar utuh
utuh karena
karena ::
Sustainability
Sustainability Substitusi
Substitusi yang
yang sempurna
sempurna
Kerugian/
Kerugian/ kehilangan
kehilangan yang
yang tidak
tidak
dapat
dapat
dikembalikan
dikembalikan
Ketidakpastian
Ketidakpastian nilai
nilai

Gambar 1. Sumberdaya alam dan pembangunan berkelanjutan


Sumber : Pearce and Barbier, 2000 dalam Gatot Dwi Adiatmojo, 2003 .

Pembangunan berkelanjutan tidak terlepas dari pembangunan ekonomi. Pembangunan


berkelanjutan yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, sosial dan kepentingan
lingkungan, memiliki 3 (tiga) pilar tujuan, yaitu : pembangunan ekonomi yang
berorientasi pada pertumbuhan, stabilitas dan efisiensi. Pada pilar kedua,
pembangunan berkelanjutan juga mengacu pada pembangunan sosial yang bertujuan
pengentasan kemiskinan, pengakuan jati diri dan pemberdayaan masyarakat. Pilar
ketiga, pembangunan berkelanjutan juga harus mengacu pada pembangunan
lingkungan yang berorientasi pada perbaikan lingkungan lokal seperti sanitasi
lingkungan, industri yang lebih bersih dan rendah emisi, dan kelestarian sumberdaya
alam.

Pembangunan ekonomi berkelanjutan digunakan guna mengukur keberhasilan


pembangunan dan dalam perspektif waktu panjang (mempertimbangkan kepentingan

____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.


Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

antar generasi) yang dikenal dengan model pembangunan ekonomi berkelanjutan


(sustainble development). Pembangunan ekonomi yang diharapkan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pada akhirnya dapat menjadi bumerang jika
ongkos yang harus dibayar sangat mahal oleh generasi mendatang, karena rusaknya
lingkungan hidup dan lingkungan sosial. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan
harus menimbulkan transformasi yang progresif pada ekonomi dan masyarakat.

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BERBASIS PERTANIAN (sustainability


development based on Agriculture)

Dengan latar belakang teoritis yang sudah dielaborasi di atas, maka pada bagian
berikut akan dilakukan analisis pembangunan berkelanjutan Kabupaten Tobasa
berdasarkan pada data yang tersedia. Dengan beberapa alat analisis yang digunakan,
maka akan dapat dilihat apakah sektor pertanian memang merupakan sektor yang
penting dan merupakan ujung tombak bagi kabupaten ini. Dengan mengetahui hasil
perhitungan dan analisis yang dilakukan, maka pemerintah daerah Kabupaten Tobasa
dapat memberikan skala prioritas pada pembangunan daerahnya pada masa yang akan
datang.

Analisis terhadap pembangunan pertanian di Kabupaten Tobasa akan mempergunakan


data sekunder yang berasal dari BPS Kabupaten Tobasa dan BPS Propinsi Sumatera
Utara. Data yang dipergunakan adalah data PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)
dan Ketenagakerjaan. PDRB adalah suatu indikator untuk menunjukkan laju
pertumbuhan ekonomi suatu daerah secara sektoral, sehingga dapat dilihat penyebab
pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tersebut. PDRB dapat juga digunakan sebagai
alat ukur untuk menganalisis perubahan tingkat kemakmuran secara riil pada suatu
wilayah. Perkembangan PDRB Kabupaten Tobasa dan Propinsi Sumatera Utara tahun
2001 2003 disajikan pada tabel 1 dan 2 berikut ini.

Tabel 1. Distribusi PDRB Kabupaten Tobasa Dengan Migas Atas Dasar Harga Konstan

(%) (Rp 000.000.000)


No Tahun
Pertanian PDRB Pertanian PDRB
1 2001 54,48 100 284,889 522,97
2 2002 54,04 100 300,635 556,32
3 2003 53,74 100 318,496 592,69

Sumber : Kabupaten Tobasa Dalam Angka, 2003.

Tabel 2. Distribusi PDRB Propinsi Sumatera Utara Dengan Migas Atas Dasar Harga
Konstan

(%) (Rp .000.000.000)


No Lapangan Usaha
Pertanian PDRB Pertanian PDRB
1 2001 31,11 100 7.749,60 24.911,05
2 2002 30,57 100 7.924,48 25.925,36
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

3 2003 30,33 100 8.211,36 27.071,25

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2003.

Analisis pembangunan berkelanjutan yang berbasis ekonomi untuk mengetahui suatu


sektor pembangunan ekonomi wilayah dan kegiatan basis, yang dapat melayani pasar
daerah itu sendiri maupun pasar luar daerah akan dilakukan dengan Location
Quotien (LQ). LQ akan mengukur perbandingan relatip kemampuan suatu sektor
dalam wilayah yang ingin analisis. Akan tetapi, dalam banyak literatur, alat ukur LQ
mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan LQ adalah kesederhanaan
konsep sehingga mudah diterapkan, sedangkan kelemahannya, adalah angka yang
didapatkan hanya merupakan suatu ukuran umum saja dan penambahan unit lokasi
harus disesuaikan dengan penentuan kegiatan basis dan non basis, sehingga model
ini kurang bisa diandalkan jika wilayah lebih luas.

Analisis tambahan akan dilakukan dengan metode deskriptif saja, yaitu melalui
analisis shift-share (bagaimana sumbangan pertanian pada PDRB) dan analisis
ketenagakerjaan (berapa banyak jumlah orang yang bekerja di sektor pertanian
dibandingkan dengan sektor keseluruhan). Penambahan 2 (dua) analisis ini, akan
memperkuat hasil yang didapatkan pada analisis LQ.

Dari data sekunder yang didapat, maka hasil-hasil perhitungannya dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Tabel 3. Analisis LQ sektor pertanian sebagai basis ekonomi di


Kabupaten Tobasa untuk Beberapa Tahun Terakhir.

Tahun ei e Ei E LQi
2001 284,889 7.749,60 522,97 24.911,05 1,75
2002 300,635 7.924,48 556,32 25.925,36 1,77
2003 318,496 8.211,36 592,69 27.071,25 1,77
o Sumber : Data Sekunder yang diolah.

Dari hasil perhitungan, terlihat bahwa nilai LQ sektor pertanian di Kabupaten Tobasa
berada di atas 1 (> 1), ini menyatakan bahwa sektor pertanian dapat dijadikan basis
pembangunan ekonomi di kabupaten tersebut. Analisis LQ menunjukkan bahwa
nilainya makin lama makin besar, dengan demikian, dari tahun ke tahun, sektor
pertanian sudah sedemikian pentingnya bagi perkembangan ekonomi di Kabupaten
Tobasa. Dengan demikian, maka pemerintah daerah harus lebih memperhatikan lagi
sektor ini dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mendorong makin majunya
sektor pertanian. Perhitungan ini tidak dapat dipungkiri lagi, harus digunakan sebagai
salah satu indikator penting dalam membuat kebijakan ekonomi. Meninggalkan
pertanian sebagai basis ekonomi bukanlah merupakan hal yang disarankan disini
(bijaksana).

____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.


Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

Dengan hasil di atas, maka sekali lagi, ekonomi kerakyatan memang memegang
peranan penting dalam pembangunan daerah di Indonesia umumnya dan di Kabupaten
Tobasa khususnya. Sektor pertanian di Kabupaten Tobasa, dengan data di atas, masih
merupakan primadona ekonomi yang menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi.
Sektor pertanian merupakan sektor unggulan yang harus tetap dipertahankan
keberadaannya.

Tabel 4. Analisis shift-share dari Sektor Pertanian Dibandingkan Sektor


Lainnya di Kabupaten Tobasa Tahun 2001 2003

No Lapangan Usaha/ Sektor (%)


2001 2002 2003
1 Pertanian 54,48 54,04 53,74
2 Perdagangan, Hotel dan Restoran 9,41 9,23 8,15
3 Jasa-Jasa 12,26 12,10 11.96
4 Lainnya 23,85 24,63 26,15
Total 100,00 100,00 100,00
Sumber : Data Sekunder yang diolah

Disamping analisis LQ, analisis shift-share juga menunjukkan bahwa sektor pertanian
adalah penyumbang terbesar dari PDRB Kabupaten Tobasa. Walaupun besaran
angkanya menunjukkan nilai yang menurun, akan tetapi besaran tersebut masih sangat
signifikan dalam menentukan PDRB Kabupaten Tobasa pada masa yang akan datang.
Hasil analisa shift share sektor pertanian di Kabupaten Tobasa pada Tabel 4, pada
tahun 2001 sebesar 54,48 %, tahun 2002 sebesar 54,04% dan pada tahun 2003 sebesar
53,74 % dari total PDRB Kabupaten Tobasa. Rata-rata kontribusi PDRB dari sektor
pertanian di Kabupaten Tobasa adalah di atas 50% dan menjadi yang terbesar
pertama, diikuti dengan sektor jasa, terhadap total PDRB Kabupaten Tobasa.

Tabel 5. Analisis Penduduk yang Bekerja (> 15 tahun) di Sektor Pertanian


Dibandingkan Sektor Lainnya di Kabupaten Tobasa Tahun 2003

No Lapangan Usaha/ Sektor 2003


(%)
1 Pertanian 81,21
2 Industri Manufaktur 3,60
3 Jasa 15,19
Total
Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka, 2003. Hal. 65.

Dari sudut ketenagakerjaan, pada tahun 2003, terlihat bahwa sektor pertanian
menyerap 81,21% tenaga kerja di Kabupaten Tobasa. Ini menandakan bahwa sektor
pertanian telah memberikan lapangan pekerjaan yang sangat besar bagi masyarakat di
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

daerah ini. Pengurangan atau penurunan perhatian terhadap sektor pertanian akan
menyebabkan penurunan jumlah orang yang bekerja nantinya.

Di satu pihak, kontribusi sektor pertanian pada lapangan pekerjaan sangat signifikan
sehingga menimbulkan arti pentingnya sektor pertanian pada masyarakat Tobasa.
Akan tetapi, di lain pihak, sektor pertanian hanya menyerap tenaga kerja yang
berpendidikan rendah sehingga gambaran di atas menjadi suatu kelemahan bagi
Kabupaten Tobasa. Dengan demikian, maka haruslah diupayakan oleh kabupaten ini
untuk menuju pertanian yang modern sehingga menjadi bisnis yang menguntungkan
bagi masyarakat. Konsep pertanian sebagai agribisnis harus dikembangkan, kalau bisa
bukan hanya sebagai agribisnis akan tetapi juga sebagai agrowisata sehingga dapat
mendatangkan pendapatan yang lebih bagi pemerintah daerah.

Dengan mempertahankan pertanian yang tradisional, maka pertanian ini tidak akan
dapat bersaing dalam era persaingan bebas sekarang ini, sehingga mau tidak mau,
pemerintah daerah harus membekali para petani dengan pengetahuan yang lebih baik
sehingga pengelolaan pertaniannya menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Janganlah menjadikan sektor pertanian merupakan pilihan yang terakhir bagi
masyarakat, apabila tidak ada pekerjaan di sektor lain. Jadikanlah sektor pertanian
merupakan sektor unggulan sehingga siapapun yang bekerja di dalamnya bukan
karena terpaksa, melainkan karena keuntungan atau kesejahteraan yang diperolehnya.
Inilah sebenarnya yang menjadi inti dari pembangunan yang berkelanjutan sehingga
pada masa yang akan datang, generasi berikut akan merasa lebih sejahtera dengan
pengelolaan pertanian yang lebih maju. Sudah banyak daerah atau negara yang dapat
dijadikan contoh, dimana mereka lupa akan dasar atau faktor bawaan (endowment
factors) dari ekonominya sehingga menggunakan sektor lainnya sebagai lokomotif
ekonomi untuk menarik sektor lain sebagai gerbongnya, padahal sektor tersebut
bukan sektor unggulannya. Dengan adanya perubahan yang kecil saja, maka
perekonomian daerah atau negara tersebut akan hancur. Akibat nyatanya dapat dilihat
untuk Indonesia sendiri.

PENUTUP

Pembangunan ekonomi di Kabupaten Tobasa dengan pemanfaatan sektor pertanian


dan sumberdaya lainnya, yang nyata-nyata telah memberikan sumbangan bagi
kemajuan daerah tersebut, harus dapat lebih meningkatan kesejahteraan
masyarakatnya dan juga harus ramah lingkungan atau pembangunan sektor pertanian
yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Perspektif yang salah dalam
mengembangkan pertanian akan menghancurkan lingkungan di sekelilingnya
sehingga akhirnya akan menghancurkan daerah itu sendiri. Dengan hancurnya
lingkungan, maka keinginan untuk mendapatkan pembangunan yang berkelanjutan
tidak akan tercapai.

Pembangunan sektor pertanian dalam arti luas di Kabupaten Tobasa dapat


disimpulkan akan terus dijadikan basis perekonomian, setelah dilakukan beberapa
analisis di atas. Disamping itu, sektor pertanian dan Pemerintah Daerah Kabupaten

____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.


Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

Tobasa harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini yang gunanya untuk menjadi
pedoman bagi pengembangannya pada masa yang akan datang.Pembangunan
pertanian harus memanfaatkan sumberdaya lokal (local resources) baik yang berasal
dari human capital maupun natural capital. Dengan demikian, ketersediaan bahan
baku dan tenaga kerja juga berasal dari daerah ini sehingga dapat diawasi dengan
benar.

Sektor pertanian sebagai basis perekonomian terbukti telah teruji dengan adanya krisis
ekonomi tidak mengalami guncangan yang berarti, dibandingkan dengan sektor
industri manufaktur. Dengan demikian, pengembangan pertanian pada masa yang
akan datang merupakan keharusan bagi kabupaten ini. Janganlah suatu daerah
mengembangkan pembangunan ekonominya dengan rencana yang tidak memiliki
rencana atau dasar (planless planning). Pembangunan pertanian harus dilakukan
secara terintegrasi dari industri pertanian hulu sampai ke hilir (dengan sistem
agribisnis), karena nilai tambah yang paling tinggi berada di indusri hilir seperti
industri pengolahan hasil pertanian. Dengan demikian, maka pemerintah harus lebih
memperhatikan alih teknologi dalam pertanian, yang mana hal tersebut membutuhkan
biaya yang tidak sedikit dan juga pendidikan serta keterampilan tertentu.

Pembangunan pertanian di Kabupaten Tobasa sebaiknya dilakukan dengan melibatkan


banyak masyarakat secara aktif sebagai shareholder dan stakeholder. Dengan
dilibatkannya masyarakat, maka akan terjadi pemerataan terhadap penguasaan
sumber-sumber ekonomi. Dengan menyertakan masyarakat, maka arah pembangunan
ekonomi akan disadari dan dilakoni secara bersama antara pemerintah sebagai
pengambil kebijakan dan masyarakat sebagai pelaku. Pembangunan pertanian sebagai
basis perekonomian yang dapat menyerap banyak tenaga kerja lokal maupun regional
hendaknya dipertahankan dengan meningkatkan investasi sumberdaya manusianya
(human capital investment) sehingga akan mampu bersaing dengan yang lainnya di
pasar global.

Pembangunan pertanian dengan melibatkan masyarakat, akan mengurangi jumlah


pengangguran tenaga kerja, sehingga banyak masyarakat yang mendapatkan
penghasilan dari sektor pertanian dan meningkatkan pendapatan keluarga dan
pendapatan per kapita. Dengan meningkatnya pendapatan perkapita maka komposisi
jumlah kategori keluarga pra sejahtera (miskin), akan berkurang dan angka beban
tanggungan ekonomi di Kabupaten Tobasa akan semakin kecil. Dengan demikian,
maka pembangunan sektor pertanian yang tangguh akan mengatasi masalah
pengangguran dan kemiskinan sekaligus.

DAFTAR BACAAN

Anonim. Menuju Konsensus Baru : Demokrasi dan Pembangunan Manusia di


Indonesia. BPS, BAPPENAS dan UNDP. 2001.

Anonim. Toba Samosir Dalam Angka 2002. Badan Pusat Statistik Kabupaten Toba
Samosir dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Toba Samosir.
2002.
____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.
Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

Anonim. Toba Samosir Dalam Angka 2001. Badan Pusat Statistik Kabupaten Toba
Samosir dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Toba Samosir.
2001.

Anonim. Toba Samosir Dalam Angka 2000. Badan Pusat Statistik Kabupaten Toba
Samosir dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Toba Samosir.
2000.

Anonim. Toba Samosir Dalam Angka 1999. Badan Pusat Statistik Kabupaten Toba
Samosir dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Toba Samosir.
1999.

Anonim. Pendapatan Regional (PDRB) Propinsi Sumatera Utara Menurut


Kabupaten/Kota 1998 - 2003. Badan Pusat Statistik Propinsi Sumatera Utara. 2003.

Anonim. Sumatera Utara Dalam Angka 2003. Badan Pusat Statistik Propinsi
Sumatera Utara. 2003.

Christanto, Joko. Otonomi Daerah dan Skenario Indonesia 2010 Dalam Konteks
Pembangunan Daerah Dengan Pendekatan Kewilayahan (Regional Development
Approach). Bogor. 2002.

Colman, David and Frederick Nixson. Economics of change in Less Developed


Countries. Second Edition. Barnes and Noble Books. 1986.

Kasryno, Faisal. The Linkage Between Agriculture Development, Poverty


Alleviation and Employment. Paper presented at the workshop on Agriculture
Policy for The Future on February 12 13, 2004 in Jakarta.

Krisnamurthi, Bayu. Peran Pembangunan Pertanian Dalam Pembangunan Industri


dan Daerah : Pelajaran Dari Kasus Cianjur dan Subang. Pusat Studi Pembangunan
IPB. Bogor. 2003.

Mellor, John W. Agriculture Policy For The Future. Jakarta. 2004.

Nainggolan, Kaman. Policy and Strategy on Food Security : Roles of Rice. Jakarta.
2004.

Pangestu, Mari. Economic Reform, Deregulation and Privatization : The Indonesia


Experience. CSIS. Jakarta. 1996.

Saragih, Bungaran. Revolusi Pasar Agribisnis Dunia dan Pentingnya Budaya Sinergi
Pembangunan. Makalah yang diberikan untuk kuliah umum Program Studi Magister
Manajamen (MM) Program Pascasarjana Universitas HKBP Nommensen. Medan.
2004.

____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.


Balige. 2005.
_________ Pembangunan Berkelanjutan Dengan Berbasiskan Sektor
Pertanian Di Kabupaten Tobasa

Simanjuntak, Parulian. Kajian Singkat Terhadap Kerangka Strategi dan Potret


(Gambaran) Pembangunan Ekonomi Sumatera Utara. Makalah yang diberikan pada
Konggres XXIX GMKI di Pematang Siantar. Pmatang Siantar. 2004.

Sjo, John. Economics for Agriculturalists : a beginning text in Agriculture


Economics. John Wiley and Sons. New York. 1986.

Tampubolon, Jongkers. Manusia Dalam Paradigma Baru Pembangunan Pertanian


Indonesia. Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen. 1999.

____________ Kilas Balik Perekonomian Kabupaten Tobasa 5 Tahun Terakhir.


Balige. 2005.