Anda di halaman 1dari 29

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar IUD

1. Pengertian IUD

a) IUD (Intra Uterine Device) adalah suatu benda kecil yang

terbuat dari plastik yang lentur, yang mempunyai lilitan

tembaga atau juga mengandung hormon yang dimasukkan ke

dalam rahim yang sangat efektif, melalui vagina dan

mempunyai benang (Hartanto, 2010).

b) IUD (Intra Uterine Device) adalah bahan inert sintetik (dengan

atau tanpa unsur tambahan untuk sinergi efektifitas) dengan

berbagai bentuk, yang dipasangkan ke dalam rahim untuk

menghasilkan efek kontraseptif (Proverawati, dkk. 2010).

c) IUD (Intra Uterine Device) adalah alat kontrasepsi yang dianggap

sangat efektif dalam mencegah kehamilan dan memiliki manfaat

yang relatif banyak dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya,

yang diantaranya dapat digunakan sampai menopause (Mulyani,

2013)

2. Jenis-jenis IUD

a) IUD (Intra Uterine Device) pertama disebut Lippesloop, berbentuk

spiral atau huruf S ganda, terbuat dari plastik (poyethyline).

12
13

Gambar 2.1. IUD Generasi Pertama

b) IUD (Intra Uterine Device) generasi ke dua :

1) Cu T 200 B : berbentuk T yang batangnya di lilit tembaga

(Cu).

2) Cu T : berbentuk angka 7 yang batangnya di lilit tembaga.

3) ML Cu T 250 : berbentuk 3/3 lingkaran elips yang

bergerigih yang batangnya di lilit tembaga (Proverawati

dkk, 2010).

Gambar 2.2 IUD Generasi Kedua

c) IUD (Intra Uterine Device) generasi ke tiga :

1) Cu T 360 A : berbentuk huruf T lilitan tembaga yang lebih

banyak dan perak.


14

2) MI Cu 375 : batangnya di lilit tembaga berlapis perak.

3) Nova T.Cu 200 A : batang dan lengannya di lilit tembaga.

(Rara, 2013).

Generasi 2.3 IUD (Intra Uterine Device) Generasi Ketiga

3. Efektivitas

Efektivitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas

(continuation rate) yaitu berapa lama IUD tetap tinggal dalam rahim,

tanpa: Ekspulsi Spontan, Terjadinya kehamilan dan

pengangkatan/pengeluaran karena alasan-alasan medis atau pribadi.

Efektivitas dari berbagai macam IUD tergantung pada :

a) IUD-nya : Ukuran, bentuk dan mengandung Cu atau Progesteron.

b) Akseptor

1) Umur : makin tua usia, makin rendah angka kehamilan,

ekspulsi dan pengangkatan/pengeluaran IUD.

2) Paritas : makin muda usia, terutama pada nuligravida, makin

tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan/pengeluaran IUD.

3) Frekuensi Senggama.
15

c) Sebagai Kontrasepsi efektivitasnya tinggi, sangat efektif 0,6 0,8

kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan

125 170 kehamilan) (Affandi, 2012)

4. Cara Kerja IUD (Intra Uterine Device)

a) Mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopii.

b) Mencegah terjadinya pembuahan dengan mengeblok bersatunya

ovum dengan sperma (Prawirohardjo, 2010).

c) Mempengaruhi fertilitas sebelum ovum mencapai kavum uteri.

d) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus

(Proverawati et al, 2010).

e) Produksi lokal prostaglandin yang meninggi sehingga dapat

menyebabkan sering adanya kontraksi uterus pada pemakaian IUD

yang dapat menghalangi nidasi.

f) Pergerakan ovum yang tambah cepat di dalam tuba falopii.

g) Sifat-sifat cairan di dalam uterus mengalami perubahan-perubahan

pada pemakaian IUD yang menyebabkan blastokista tidak dapat

hidup di dalam uterus (Sulistyawati, 2012).

h) Dapat mengubah transportasi tuba dalam rahim kemudian mampu

mempengaruhi sel telur dan sperma sehingga pembuahan tidak

terjadi (Hartanto, 2008).


16

5. Keuntungan dan Kerugian IUD

Menurut Rinawati, (2013) Keuntungan dan Kerugian dari IUD yaitu:

a) Keuntungan

1) IUD dapat efektif segera setelah pemasangan.

2) Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (10 tahun dari CuT-380A

dan tidak perlu diganti).

3) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.

4) Tidak mempengaruhi hubungan seksual.

5) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut

untuk hamil.

6) Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A.

7) Tidak mempengaruhi kualitas ASI.

8) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus

(apabila tidak terjadi infeksi).

9) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah

haid terakhir).

10) Tidak ada interaksi dengan obat-obat.

11) Membantu mencegah kehamilan ektopik.

b) Kerugian

1) Perubahan siklus haid (umumnya pada 8 bulan pertama akan

berkurang setelah 3 bulan).

2) Haid lebih lama dan banyak.

3) Perdarahan (spotting) antar menstruasi.


17

4) Saat haid lebih sakit.

5) Tidak mencegah IMS termasuk HIV / AIDS.

6) Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau

perempuan yang sering berganti pasangan (Rinawati, 2013).

7) Penyakit radang panggul terjadi pada seorang perempuan

dengan IMS dapat memicu infertilitas.

8) Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah

pemasangan IUD. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.

9) Klien tidak dapat melepas IUD oleh dirinya sendiri. Petugas

kesehatan terlatih yang harus melakukannya

10) Mungkin IUD keluar lagi dari uterus tanpa diketahui (sering

terjadi apabila IUD dipasang sesudah melahirkan).

11) Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena funsi

IUD untuk mencegah kehamilan normal.

12) Perempuan harus memeriksa posisi benang dari waktu ke

waktu, untuk melakukan ini perempuan harus bisa

memasukkan jarinya ke dalam vagina, sebagian perempuan

tidak mau melakukannya (Affandi, 2012).

6. Persyaratan Pemakaian IUD

Menurut Anisah, (2010) syarat-syarat yang harus dipenuhi

sebelum seseorang memilih menggunakan kontrasepsi IUD adalah :

a) Usia reproduktif.

b) Keadaan nulipara.
18

c) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang.

d) Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi.

e) Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya.

f) Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi.

g) Resiko rendah dari IMS.

h) Tidak menghendaki metode hormonal.

i) Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari.

j) Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama.

IUD (Intra Uterine Device) juga dapat digunakan pada ibu

dalam segala kemungkinan keadaan, misalnya :

1) Perokok

2) Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat

adanya infeksi.

3) Sedang memakai antibiotika atau anti kejang.

4) Gemuk ataupun kurus.

5) Sedang menyusui.

Ada beberapa ibu yang dianggap tidak cocok memakai

kontrasepsi jenis IUD ini. Ibu-ibu yang tidak cocok itu adalah mereka

yang menderita atau mengalami beberapa keadaan yaitu:

1) Kehamilan

2) Penyakit kelamin (gonorrhoe, sipilis, AIDS, dsb).

3) Perdarahan dari kemaluannya yang tidak diketahui penyebabnya.

4) Tumor jinak atau ganas dalam rahim.


19

5) Kelainan bawaan rahim.

6) Penyakit gula (Diabetes Militus).

7) Belum pernah melahirkan.

8) Adanya perkiraan hamil.

9) Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti : perdarahan yang

tidak normal dari alat kemaluan, perdarahan di leher rahim dan

kanker rahim.

10) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

7. Indikasi Pemasangan IUD

Menurut Suparyanto, (2012) indikasi dari pemasangan IUD yaitu :

a) Telah mempunyai anak hidup satu atau lebih.

b) Ingin menjarangkan kehamilan (spacing).

c) Sudah cukup anak hidup, tidak mau hamil lagi namun takut atau

menolak cara permanen (kontrasepsi mantap).

d) Tidak boleh atau tidak cocok memakai kontrasepsi hormonal

misalnya karena mengidap penyakit jantung dan hipertensi.

e) Berusia di atas 35 tahun, dimana kontrasepsi hormonal kurang

menguntungkan.

8. Kontraindikasi Pemasangan IUD

Menurut Martini, (2011) kontraindikasi pemasangan IUD yaitu :

a) Sedang hamil.

b) Perdarahan vagina yang tidak diketahui.

c) Sedang menderita infeksi alat genitalia.


20

d) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita

abortus septic.

e) Penyakit trofoblas yang ganas.

f) Diketahui menderita TBC pelvic.

g) Kanker alat genitalia.

h) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

9. Efek Samping Pemasangan IUD

a) Perdarahan

1) Gejala/keluhan

Keluarnya darah dari liang vagina di luar haid dalam

jumlah kecil berupa bercak-bercak (spotting) atau dalam

jumlah berlebihan (metrorhagia). Perdarahan ini dapat pula

terjadi masa haid dalam jumlah berlebihan

(Menometrorhagia).

2) Penanggulangannya

(a) Konseling

Beri penjelasan bahwa perdarahan ringan biasanya terjadi

pada awal pemasangan. Selama haid, perdarahan lebih

banyak dari pada biasanya dan hal ini tidak berbahaya.

(b) Pemberian preparat besi; 1 x 1 tablet perhari.

(c) Bila perdarahan banyak sekali keguguran rujuk ke RS dan

ganti cara KB.


21

b) Keputihan

1) Gejala/Keluhan

(a) Terdapat cairan putih yang berlebihan, terjadi akibat

produksi cairan rahim yang berlebihan.

(b) Tidak berbahaya apabila cairan tersebut tidak berbau, tidak

terasa gatal dan tidak terasa panas.

2) Penanggulangannya

(a) Berikan konseling sebelum pemasangan IUD.

(b) Pada kasus dimana cairan berlebihan, dapat diberikan

antibiotik.

c) Ekspulsi

1) Gejala/Keluhan

Terasa adanya IUD dalam liang senggama yang

menyebabkan rasa tidak enak bagi wanita. Dapat terjadi

ekspulsi sebagian atau seluruhnya. Biasanya terjadi pada

waktu haid.

2) Penanggulangannya

(a) Konseling

Menjelaskan kepada pasien bahwa ekspulsi mungkin

saja terjadi pada pemakaian IUD (5%), hal ini disebabkan

oleh tidak sesuainya ukuran IUD yang terpasang.

(b) Melepaskan IUD dan mengganti dengan ukuran yang

sesuai.
22

d) Nyeri

1) Gejala/Keluhan

Nyeri pada waktu pemasangan IUD, waktu haid dan saat

senggama.

2) Penanggulangannya

(a) Konseling

Jelaskan bahwa nyeri disebabkan oleh kontraksi

yang berlebihan dari rahim dan bersifat sementara dan

mudah diatasi.

(b) Tindakan Medis

a. Inspeculo, Apakah ada cairan keputihan yang

berbau, erosi pada porsio.

b. Pemeriksaan Dalam, apakah terdapat tanda-tanda

radang di rahim. Bila terdapat tanda-tanda radang,

IUD harus segera dilepas. Apabila benang

IUDterlalu panjang dipotong. Nyeri dapat pula

disebabkan oleh ekspulsinya IUD.

c. Pemberian obat analgetik.

e) Infeksi

1) Gejala/Keluhan

Adanya rasa nyeri di daerah perut bagian bawah, bila disertai

demam, keputihan yang berbau busuk dan rasa nyeri pada

wakt bersenggama / periksa dalam.


23

2) Penanggulangannya

(a) Rujuk ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih

lanjut.

(b) Bila tidak dapat diatasi IUD dilepas dan ganti dengan cara

kontrasepsi lain.

f) Translokasi

Translokasi adalah pindahnya IUD dari tempat seharusnya.

Hal ini dapat disertai gejala maupun tidak. Dapat disertai

perdarahan maupun tidak, sehingga gejala dan keluhannya

bermacan-macam. Dalam pemeriksaan dalam, benang IUD tidak

teraba dan pada pemeriksaan sonde, IUD tidak terasa / tersentuh,

untuk mengetahui lebih jelas posisi IUD dilakukan dengan rontgen

atau USG.

1) Penanggulangannya

(a) Konseling

Menjelaskan kepada akseptor bahwa hal tersebut

mungkin saja terjadi. Penyebabnya dapat karena kelainan

rahim, kesalahan dalam pemasangannya.

(b) Rujuk ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut dan

pengangkatan IUD (Martini, 2011).


24

g) Gangguan pada Suami

Kadang-kadang suami dapat merasakan adanya benang

IUD sewaktu bersenggama. Ini disebabkan oleh benang IUD yang

keluar dari porsio uteri terlalu pendek atau terlalu panjang. Untuk

mengurangi atau menghilangkan keluhan ini, benang IUD yang

terlalu panjang dipotong sampai kira-kira 2-8 cm dari portio,

sedangkan jika benang IUD terlalu pendek, sebaiknya IUD-nya

diganti. Biasanya dengan cara ini keluhan suami akan hilang

(Prawirohadjo, 2011).

10. Waktu Pemasangan IUD

Menurut Mulyani, (2013) waktu pemasangan IUD yaitu :

a) IUD dapat dipasang kapan saja dalam siklus haid selama yakin

tidak hamil.

b) Pemasangan setelah persalinan; boleh dipasang dalam waktu 48

jam setelah persalinan.

c) Dapat pula dipasang setelah 4 minggu pasca persalinan dengan

dipastikan tidak hamil.

d) Antara 48 jam sampai 4 minggu pasca persalinan tunda

pemasangan, gunakan metode kontrasepsi yang lain.

e) Setelah keguguran atau aborsi; jika mengalami keguguran dalam 7

hari terakhir, boleh dipasang jika tidak ada infeksi, jika keguguran

lebih dari 7 hari terakhir boleh dipasang jika dipastikan tidak

hamil.
25

f) Jika terjadi infeksi, boleh dipasang 3 bulan setelah sembuh.

11. Waktu Kunjungan Ulang

Menurut Martini, (2011) waktu kunjungan ulang untuk pemeriksaan

IUD yaitu :

a) Satu bulan pasca persalinan.

b) Tiga bulan kemudian

c) Setiap 6 bulan berikutnya.

d) Satu tahun sekali.

e) Bila terlambat haid 1 minggu.

f) Bila terjadi perdarahan banyak dan tidak teratur.

12. Petunjuk Bagi Klien yang Menggunakan IUD

Menurut Affandi (2012) Dalam keadaan normal klien kembali

untuk kontrol rutin sesudah menstruasi pertama kali pasca persalinan

(4-6 minggu) tetapi jangan sampai lewat 3 bulan sesudah pemasangan

IUD dan cek benang IUD . kemudian hal-hal yang perlu diperhatikan

adalah :

a) Timbul kram di perut bagian bawah.

b) Adanya perdarahan bercak antara haid atau sudah melakukan

senggama.

c) Nyeri melakukan senggama atau jika suaminya mengalami

perasaan kurang enak sewaktu melakukan senggama.

d) IUD perlu diangkat setelah satu tahun ataupun lebih awal bila

diinginkan.
26

e) Bila terjadi ekspulsi IUD, atau keluar cairan yang berlebihan dari

kemaluan maka lihat terjadi infeksi atau tidak.

f) Muncul keluhan sakit kepala atau sakit kepala makin parah.

13. Faktor-faktor yang Berperan dalam Pemilihan Kontrasepsi

Menurut Proverawati, (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu :

a. Umur

Pada wanita usia subur boleh menggunakan kontrasepsi

IUD, sedangkan wanita yang sudah menopause tidak dianjurkan

menggunakan kontrasepsi progestin sehingga dapat mempengaruhi

seseorang untuk memilih metode kontrasepsi (Proyoto, 2014).

Umur terbaik bagi ibu untuk melahirkan adalah usia antara 20-30

tahun, jika umur ibu sudah mencapai 30 tahun dan sudah

mempunyai 2 anak maka di anjurkan untuk tidak hamil lagi

(Prasetyawati, 2012). Kebanyakan wanita yang berumur > 35 tahun

yang banyak yang ingin menggunakan MKJP bertujuan untuk

mengakhiri masa subur mereka. Sehingga umur dapat

mempengaruhi seseorang untuk memilih metode kontrasepsi yang

diinginkannya (Arini, 2015).

b. Gaya Hidup

Wanita yang gaya hidupnya suka merokok (perokok),

menderita anemia (kekurangan zat besi) boleh menggunakan

kontrasepsi IUD karena tidak ada efek samping bagi wanita


27

perokok dan penderita anemia dalam pemilihan penggunaan

kontrasepsi IUD. (Hartanto, 2012)

c. Frekuensi Senggama

Frekuensi seorang wanita berhubungan kelamin dan

mempengaruhi bukan saja risiko kehamilan yang tidak

direncanakan, melainkan juga kerelaan dirinya atau pasangannya

untuk menggunakan metode kontrasepsi tertentu. Sebaliknya

pasanganan yang jarang berhubungan kelamin mungkin

mendasarkan keputusan pemilihan kontrasepsi mereka pada faktor-

faktor selain kemudahan penggunaan. Kontrasepsi IUD ini dapat

digunakan pada wanita yang sering ataupun yang jarang

melakukan hubungan seksual dengan suaminya, karena kontrasepsi

ini tidak mengganggu pada saat melakukan hubungan seksual

(Hartanto, 2012)

d. Paritas

Paritas merupakan salah satu komponen yang menyatakan

jumlah kehamilan. Yang bertujuan untuk menjarangkan jumlah

kehamilan. Makin muda usia maka makin tinggi angka ekspulsi

dan pengangkatan/pengeluaran IUD. Jadi wanita yang ingin

mengatur jumlah anak ataupun mengatur jarak kehamilan sehingga

jumlah anak dalam keluarga seseuai keinginan maka dapat

menggunakan kontrasepsi IUD .


28

Dimana sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan

umur lebih 30 tahun sebaiknya tidak hamil lagi. Jika hal ini dapat

menyebabkan terjadinya kehamilan akan menyebabkan pula

terjadinya resiko tinggi terhadap ibu dan anak. Maka kontrasepsi

yang cocok dan disarankan adalah IUD (Suparyanto, 2012).

Jumlah anak hidup yang dimiliki setiap pasangan usia subur

(PUS) akan mempengaruhi keputusan mereka dalam menentukan

pilihan jenis/metode kontrasepsi yang akan digunakan. PUS yang

mempunyai jumlah anak hidup yang lebih sedikit, mempunyai

kecenderungan untuk menggunakan kontrasepsi dengan evektifitas

rendah. Keputusan pilihan tersebut disebabkan adanya keinginan

untuk menambah anak lagi. Pada pasangan dengan jumlah anak

hidup yang banyak, terdapat kecenderungan untuk menggunakan

kontrasepsi dengan efektivitas tinggi, pilihan ini disebebkan oleh

rendahnya keinginan atau tidak adanya keinginan untuk menambah

anak lagi. Sehingga penentuan jumlah anak yang dimiliki setiap

pasangan tergantung dari keluarga itu sendiri dan terpenuhinya

jumlah anak yang diharapkan akan mempengaruhi keputusan

pasangan usia subur dalam menentukan keikutsertaannya dalam

ber-KB. (Indrayani, 2014).


29

e. Pengetahuan

Kurangnya pengetahuan sangat berpengaruh terhadap

pemakaian kontrasepsi IUD. Apabila pengetahuan dari seorang

wanita kurang maka pengguna kontrasepsi IUD akan menurun.

Jika hanya sasaran pada wanita saja yang selalu diberi informasi,

sementara para suami kurang pembinaan dan pendekatan, suami

kadang melarang istrinya karena faktor ketidaktahuan dan tidak

adanya komunikasi untuk saling memberikan pengetahuan.

(Proverawati dkk, 2010)

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil

tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya.

Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh

intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Faktor-faktor

yang mempengaruhi pengetahuan yaitu : pendidikan, media massa,

sosial budaya dan ekonomi, lingkungan, pengalaman, usia,

pekerjaan, faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi wanita

dalam menggunakan kontrasepsi

Menurut Wawan A dan M Dewi (2011) kriteria

pengetahuan itu sendiri yaitu baik : hasil presentase 76% - 100%,

cukup : hasil presentasi 56 75% dan kurang : hasil presentasi <

56% (Notoatmodjo, 2012).


30

f. Dukungan Suami

Dukungan merupakan proses transaksi sumber-sumber

antara individu yang satu dengan individu yang lain dan bertujuan

untuk menigkatkan kesejahteraan. Dukungan mempunyai pengaruh

yang positif, baik secara fisik, mental maupun kehidupan sosial.

Dukungan sosial sangat dirasakan ketika seseorang sedang

mengalami kebingungan/stres. Dukungan yang diberikan oleh

orang-oramg terdekat akan sangat berarti sebagai pendorong utnuk

mengurangi kebingungan yang dirasakan. (Indrayani, 2014).

Dukungan sosial dapat diberikan pada keluarga inti beserta

anggotanya yang berfungsi sebagai sistem pendukung yang

termaksud didalamnya adalah :

1) Dukungan Emosional

Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai

untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan

terhadap emosi. Dukungan emosional dapat menguatkan

perasaan seseorang akan hal yang dimilikinya dan emosional

yang dimaksud seperti rasa empati, cinta dan kepercayaan dari

orng lain terutama suami sebagai motovasi.

2) Dukungan informasional

Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan

diseminator yaitu penyebar informasi tentang dunia. Suami


31

dapat memberikan masukkan kepada istri mengenai berbagai

hal yang berhubungandengan pemilihan kontrasepsi.

Informasional adalah dukungan yang berupa informasi,

menambah pengetahuan seseorang dalam mencari jalan keluar

atau memecahkan masalah seperti nasehat atau pengarahan.

3) Dukungan Instrumental

Dukungan yang menunjukkan ketersediaan sarana untuk

memudahkan perilaku menolong orang yang menghadapi

masalah berbentuk materi (biaya) dan peluang (waktu) (Niven,

2008).

g. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata

laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan

manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan

pasangan suami istri yang rendah akan menyulitkan proses

pengajaran dan pemberian informasi, sehingga pengetahuan

tentang IUD juga terbatas. (Proverawati dkk, 2010)

Pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan seseorang dan

pengetahuan seseorang akan mempengaruhinya dalam memilih

metode kontrasepsi, semakin tinggi pendidikan maka akan semakin

semakin mudah seseorang untuk menerima sebuah inovasi

khususnya dalam bidang kesehatan dan semakin besar

kemungkinannya memakai alat/cara KB modern. (Indriyani, 2014).


32

h. Sikap dan Pandangan Negatif Masyarakat.

Sikap ini juga berkaitan dengan pengetahuan dan

pendidikan seseorang. Banyak mitos tentang IUD seperti dapat

mengganggu kenyamanan hubungan seksual, mudah terlepas jika

bekerja terlalu keras, dan menimbulkan kemandulan. (Proverawati

et al, 2010)

i. Sosial Budaya dan Ekonomi

Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis

kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan

pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus

menyediakan dana yang diperlukan. Jika dihitung dari segi

keekonomisannya, kontrasepsi IUD lebih murah dari KB suntik

atau pil, tetapi terkadang orang melihatnya dari berapa biaya yang

harus dikeluarkan untuk sekali pasang. Kalau patokannya adalah

biaya sekali pasang, mungkin IUD tampak jauh lebih mahal. Tetapi

kalau dilihat dari jangka waktu penggunaannya, tentu biaya yang

harus dikeluarkan untuk pemasangan IUD akan lebih murah

dibandingkan KB suntik ataupun pil. Untuk sekali pasang IUD bisa

aktif selama 3-5 tahun, bahkan seumur hidup atau sampai dengan

menopause. Sedangkan KB suntik atau pil hanya mempunyai masa

aktif 1-3 bulan saja, yang artinya untuk mendapatkan efek yang

sama dengan IUD, seseorang harus melakukan 12-36 kali suntikan

(Hartanto, 2008).
33

14. Faktor-faktor yang berpelam dalam pemilihan kontrasepsi

berdasarkan jurnal

Menurut Thapa (2012) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

seperlima dari 230 wanita yang berhenti menggunakan kontrasepsi

IUD dengan alasan karena faktor pekerjaan, dukungan suami, dan efek

samping yang menyebabkan mereka berhenti menggunakan IUD,

sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada keterkaitan dari masing-

masing faktor terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.

Menurut Drolet dan Nobiling (2012) mengatakan bahwa hasil

penelitiannya menunnjukkan kontrasepsi IUD di negara AS sangat

populer dan terjadi peningkatan dari tahun 2002 2008, dengan faktor

yang terkait dalam memilih kontrsepsi antara lain terdapat faktor usia,

sikap pendidikan, pengetahuan, dan paritas. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa dari masing-masing faktor terdapat keterkaitan

dalam pemilihan kontrasepsi IUD, hal ini didukung berdasarkan

penelitian yang dilakukan oleh Joshi, dkk (2013) yang menunjukkan

hasil penelitiannya yaitu wanita yang menggunakan kontrasepsi IUD

dinegara Nepal terkait dengan faktor pendidikan, sumber informasi,

usia, pekerjaan, dan pengetahuan sehingga hal tersebut dapat dikatakan

mempunyai keterkaitan dalam memilih kontrasepi, hal ini dibuktikan

pula oleh penelitian menurut George, dkk (2016) yang megatakan

dalam penelitiannya bahwa 728 wanita yang melahirkan dengan usia

rata-rata 28 tahun, dan yang menggunakan kontrasepsi IUD dengan


34

presentasi faktor pendidikan 96% dan faktor paritas 3-4 orng anak,

sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara faktor

pendidikan, paritas dalam melkukan pemilihan kontrasepsi.

15. Konsep Prilaku Kesehatan

Menurut Notoatmodjo (2012) prilaku kesehatan dapat dijabarkan

sebagai beikut :

a. Perubahan Perilaku dan Pendidikan Kesehatan

Perilku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor

lingkungan yang mempengaruhi kesehatn individu, kelompok, atau

masyarakat. Oleh sebab itu, dalam rangka membina dan

meningkatkan kesehatan masyarakat, intervensi atau upaya yang

ditujukan kepada faktor perilakuini sangat strategis. Intervensi

terhadap faktor perilaku secara garis besar dapat dilakukan melalui

dua upaya yang saling bertentangan. Masing-masing upaya

tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kedua upaya

tersebut dilakukan melalui :

1) Paksaan (Coertion)

Upaya agar masyarakat mengubah perilaku atau

mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara-cara tekanan,

paksaan atau koersi (coertion). Upaya ini bisa secara tidak

langsung dalam bentuk undang-undang atau peraturan-

peraturan (law enforcement),instruksi-instruksi, dan secara

langsung melalui tekanan-tekanan (fisik maupun nonfifik),


35

sanksi-sanksi, dan sebagainya. Pendekatan atau cara ini

biasanya menimbulkan dampak yang lebih cepat terhadap

perubahan perilaku. Tetapi pada umunya perubahan atau

perilaku baru ini tidak langsung (sustainable), karena

perubahan perilaku yang dihasilkan dengan cara ini tidak

didasari oleh pengertian dan kesadaran yang tinggi

terhadaptujuan perilaku tersebut dilaksanakan.

2) Pendidikan (Education)

Upanya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsi

perilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan, imbauan,

ajakan, memberikan informasi, memberikan kesadaran, dan

sebagainya, melalui kegiatan ang disebut pendidikan atau

promosi kesehatan. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan atau

promosi kesehatan adalah suatu bentuk intervensi atau upaya

yang ditujukan kepada perilaku, agar perilaku tersebut kondusif

untuk kesehatan. Dengan perkataan lain, promosi kesehatan

mengupayakan agar perilaku indivisu, kelompok atau

masyarakat mempunyai pengaruh positif terhadap

pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Agar intervensi atau

upaya tersebut efektif, maka sebelumnya dilakukan intervensi

perlu dilakukan analisa terhadap masalah perilakutersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yaitu :


36

a) Faktor Predisposisi (Predisposing factors)

Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat

terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat

terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem

nilai yang dinut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat

sosial ekonomi dan sebagainya.

b) Faktor Pemungkin (Enabling factors)

Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan

prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat dan

tenaga kesehatan misalnya puskesmas, posyandu, polindes,

pos obat desa, dokter atau bidan praktek swasta. Untuk

berperilaku sehat masyarakat memerlukan sarana dan

prasarana pendukung. Maka faktor-faktor ini disebut faktor

pendukung atau faktor pemungkin.

c) Faktor Penguat (Reinforcing factors)

Fakor ini meliputi faktor sikap dan perilaku toko

masyarakat, tikoh agama, sikap dan perilaku para petugas

termasuk petugas kesehatan. Untuk berperilaku sehat,

masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan

dan sikap positif dan dukungan fasilitas saja, melaikan

diperlukan perilaku.
37

Oleh sebab itu, intervensi pendidikan (promosi) kesehatan

hendaknya dimulai dengan mendiagnosis ketiga faktor penyebab,

kemudian intervensinya juga diarahkan tehadap tiga faktor tersebut.

Diagnosa perilaku ini disebut model Precede, atau pedisposing,

reinforcing and enabling (Notoatmodjo, 2012).


38

B. Kerangka Teori

Faktor Predisposisi (Predisposing factors)

1. Pengetahuan

2. Pendidikan

3. Sikap & pandangan negatif masyarakat

4. Sosial budaya & ekonomi

Faktor Pemungkin (Enabling factors)

1. Frekuensi senggama Pengguna IUD

2. Gaya hidup

Faktor penguat (Reinforcing factors)

1. Umur

2. Paritas

3. Dukungan suami

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

Sumber : Proverawati (2010), Notoatmodjo (2012)

Gambar 2.4. Kerangka Teori


39

C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep/pemikiran adalah suatu uraian dan visualisasi

hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau

antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang

diteliti. (Notoatmodjo, 2010)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan penggunaan

kontrasepsi IUD namun tidak semua variabel dikemukakan diteliti, oleh

karena keterbatasan kemampuan, biaya, tenanga dan waktu penelitian.

Maka peneliti hanya mengambil variabel independen

(umur,paritas,pengetahuan dan dukungan suami) dan variabel dependen

(penggunaan IUD). kerangka konsep peneliti ini secara skematis dapat

digambarkan sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Umur

Pengetahuan

Penggunanaan IUD

Paritas

Dukungan Suami

Gambar 2.5 Kerangka Konsep


40

D. Hipotesis

Hipotesis merupakan suatu jawaban yang sementara terhadap

rumusan penelitian, yang dimana rumusan masalah penelitian telah

dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena

jawaban yang diberikan baru didasarkan teori yang relevan, belum

didasarkan pada arah pembuktian dan fakta-fakta yang diperoleh melalui

pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban

yang teoritis terhadap suatu rumusan masalah penelitian.

(Notoatmodjo,2010)

Dalam penelitian ini hipotesis peneliti sebagai berikut :

1. Ada hubungan tingkat usia dengan pemilihan kontrasepsi IUD di

wilayah kerja pukesmas bergas kabupaten semarang.

2. Ada hubungan tingkat pengetahuan dengan pemilihan kontrasepsi IUD

di wilayah kerja puskesmas bergas kabupaten semarang.

3. Ada hubungan tingkat paritas dengan pemilihan kontrasepsi IUD di

wilayah kerja puskesmas bergas kabupaten semarang.

4. Ada hubungan tingkat dukungan suami pemilihan kontrasepsi IUD di

wilayah kerja puskesmas bergas kabupaten semarang.