Anda di halaman 1dari 8

PERIHAL KEBENARAN

PENYUSUN :

1. Wahyu Sudarman 041411331100


2. Novaldo Dwi W 041411331104
3. Hilmy Rizaldi 041411331110
4. Ricky Azmi Zain 041411331112
5. Lukman Rizka Rindiarto 041411331120
6. Ammar Zaky Ramadhan 041411331125
7. Alwan Lesmana Rahardjo 041411331095

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penyusun sampaikan kepada Allah atas rahmat dan hidayahnya
kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada
Nabi Muhammad saw yang membawa risalah terang dan kesejatian bagi seluruh insan.

Kami juga berterima kasih kepada pihak pihak yang telah membantu menyelesaikan
makalah yang berjudul Perihal Kebenaran ini. Dan sebagai manusia yang tak lepas dari
kesalahan kami sebagai penyusun mohon maaf bila ada kesalahan.

Surabaya, 6 September 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada makalah ini dibicarakan tentang teori kebenaran yang meliputi arti kebenaran,
teori-teori kebenaran dalam perkembangan sejarah manusia, serta teori kebenaran dalam
bidang pengetahuan ilmiah atau ilmu.
Pembahasan tentang arti kebenaran menjelaskan sesungguhnya apa yang disebut
kebenaran serta syarat syarat apa yang menyebabkan sesuatu pengetahuan dapat dinyatakan
benar.
Pada pembahasan berikutnya, adalah pembahasan tentang teori teori kebenaran. Pada
pembahasan ini diungkapkan beberapa teori kebenaran yang pernah ada dalam sejarah
pemikiran manusia.
Pembahasan terakhir dalam tulisan ini adalah berkaitan dengan teori kebenaran secara
khusus atau spesifik berlaku dalam pemikiran keilmuan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari teori kebenaran?
2. Apa saja yang termasuk dalam teori kebenaran?
1.3 Tujuan Masalah
Memberi penjelasan dari definisi teori kebenaran dan apa saja yang termasuk dalam
teori kebenaran tersebut.
1.4 Manfaat

Agar kita dapat mengetauhi hakekat kebenaran dan mendalami arti kebenaran serta
membuat kita berpikir lebih kritis dalam mengambil suatu sikap.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kebenaran


Kata kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun
abstrak (Abbas Hamami, 1983). Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah
proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu
pernyataan atau statement. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji
itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian
itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai
itu sendiri.
Adanya berbagai macam kategori sebagaimana tersebut di atas, maka tidaklah
berlebihan jika pada saatnya setiap subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki
persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan lainnya.
Kebenaran, pertama-tama berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya ialah bahwa
setiap pengetauhan yang dimiliki seseorang yang mengetahui sesuatu objek ditilik dari jenis
pengetahuan yang dibangun. Maksudnya apakah pengetahuan itu berupa (1) pengetahuan
biasa atau biasa disebut juga knowledge of the man in the street atau ordinary knowledge atau
juga common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini memiliki kebenaran yang sifatnya
subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal. Dengan demikian, pengetahuan
tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memeroleh pengetahuan
bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
Pengetahuan jenis kedua (2) adalah pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah
menetapkan objek yang khas atau spefisik dengan menerapkan atau hampiran metodologis
yang khas pula, artinya metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan di antara ahli yang
sejenis. Kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat relatif, maksudnya
kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu
diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir. Dengan demikian, kebenaran dalam
pengetahuan ilmiah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang
paling akhir dan mendapatkan persetujuan dalam suatu konvensi para ilmuwan sejenis.
Pengetahuan jenis ketiga (3) adalah pengetahuan filsafati, yaitu jenis pengetahuan yang
pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang sifatnya mendasar dan
menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran
yang terkandung dalam pengetahuan filsafati adalah absolut-intersubjektif. Maksudnya ialah
kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat selalu merupakan pendapat yang selalu
melekat pada pandangan filsafat seorang pemikir filsafat itu serta selalu mendapat
pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula.
Jika pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain artinya dengan pendekatan filsafat yang lain
sudah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan bertentangan. Suatu contoh filsafat
matematika geometri dari phytagoras sampai kini masih tetap seperti waktu phytagoras itu
pertama kali memunculkan pendapatnya.
Kebenaran jenis keempat (4) adalah kebenaran yang terkandung dalam agama.
Pengetahuan agama memiliki sifat yang dogmatis, artinya pernyataan agama selalu dihampiri
oleh keyakinan tertentu dalam ayat kitab suci agama yang memiliki nilai dengan keyakinan
yang dipahami. Implikasi kandungan kitab suci dapat berkembang secara dinamik sesuai
perkembangan waktu. Tetapi kandungan ayat kitab suci sifatnya absolut.
Kebenaran yang kedua dikaitkan dengan sifat, cara, atau dengan alat apakah seseorang
membangun pengetahuannya itu. Apakah ia membangun dengan penginderaan atau sense
experience atau akal pikir atau rasio, intuisi, atau keyakinan. Implikasi dari penggunaan alat
untuk memperoleh pengetahuan melalui alat tertentu akan mengakibatkan karakteristik
kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan itu akan memiliki cara tertentu untuk
membuktikannya, artinya jika seseorang membangunnya melalui indra atau sense experience
maka pada saat itu membuktikan kebenaran pengetahuan itu harus melalui indra pula, begitu
juga dengan cara yang lain. Seseorang tidak dapat membuktikan kandungan kebenaran yang
dibangun oleh cara intuitif dibuktikannya dengan cara yang lain cara indrawi misalnya. Jenis
pengetahuan menurut kriteria karakteristiknya dibedakan dalam jenis pengetahuan. (1)
pengetahuan indrawi ; (2) pengetahuan akal budi ; (3) pengetahuan intuitif ; (4) pengetahuan
kepercayaan atau pengetahuan otoritatif ; dan pengetahuan yang lainnya. Sehingga implikasi
nilai kebenarannya juga sesuai dengan jenis pengetahuan itu.
Kebenaran pengetahuan yang ketiga adalah nilai kebenaran pengetahuan yang
dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi atau
hubungan antara subjek dan objek, manakah yang dominan untuk membangun pengetahuan
itu, subjekkah atau objek. Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung
nilai kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang
dikandungnya itu amat tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau jika
objek amat berperan maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam dan ilmu-ilmu
alam.

2.2 Teori Kebenaran


Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran sudah mulai
sejak Plato yang kemudian diteruskan oleh Aristoteles. Plato melalui metode dialog
membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori yang paling awal. Sejak
itulah teori pengetahuan berkembang terus untuk mendapatkan penyempurnaan
penyempurnaan sampai kini. Teori teori kebenaran yang telah terlembaga itu antara lain
adalah :
1. Teori kebenaran korespondensi
2. Teori kebenaran koherensi
3. Teori kebenaran sintaksis
4. Teori kebenaran pragmatis
5. Teori kebenaran Semantis
6. Teori Kebenaran non deskripsi
7. Teori kebenaran logis yang berlebihan
2.3 Sifat kebenaran ilmiah

Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah. Artinya suatu kebenaran tidak
mungkin mucul tanpa adanya prosedur baku yang harus dilaluinya. Proses baku yang harus
dilalui itu adalah tahap tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang pada hakikatnya
berupa teori melalui metodelogi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu.

Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif, maksutnya ialah
kebenaran dari suatu teori atau lebih tinggi lagi aksioma atau paradigma harus didukung oleh
fakta fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan objektif. Kebenaran yang benar benar
lepas dari keinginan subjek. Kenyataan yang dimaksut adalah kenyataan yang berupa suatu
yang dapat dipakai acuan atau kenyataan yang pada mulanya merupakan objek dalam
pembentukan pengetahuan ilmiah itu.

Mengacu pada status ontologis objek, maka pada dasarnya kebenaran dalam ilmu
dapat digolongkan dalam dua jenis teori yaitu teori kebenaran korespondensi atau teori
kebenaran koherensi.

Hal yang cukup penting dan perlu mendapatkan perhatian dalam hal kebenaran ini
yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi
dari para ilmuwan pada bidangnya. Para ilmuwan ini pada umunya mereka adalah para
sarjana, disebabkan oleh karena itulah maka sifat kebenaran ilmu memiliki sifat universal
sejauh kebenaran ilmu itu.

2.4 Ringkasan
Dari uraian di atas, maka dapat diringkas sebagai berikut. Bahwa pada dasarnya setiap
proses mengetahui akan memunculkan suatu bentuk kebenaran sebagai kandungan isi
pengetahuan itu. Akan tetapi, setiap kebenaran pada saat pembuktiannya harus kembali pada
status ontologis objek, sikap epistemologis, dan akhirnya sikap axiologis yang bagaimana.
Dengan demikian, muncullah begitu banyak teori kebenaran. Namun dalam teori keilmuan
untuk membuktikan kebenaran ilmiah suatu pernyataan ilmiah maka harus sesuai dengan
sifat dasar metodologis yang digunakan dan amat tergantung pada konvensi.
Daftar Pustaka

Abbas Hamami, 1980, Disekitar Masalah Ilmu; Suatu Problema Filsafat, Bina Ilmu,
Surabaya.
Abbas Hamami, 1983, Epistemologi, Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat UGM,
Yogyakarta.
Ackerman, R., 1965, Theories of Knowledge; A Critical Introduction, Tata McGraw
Hill, Bombay New Delhi.
Black Stone W.T., 1971, Meaning and Existence; Introductory reding in philosophy,
Holt, Rinehard and Winston, New York.
Gallagher, K.T, 1984, Philosophy of Knowledge, disadur oleh Hardono Hadi, 1994,
Epistemologi, Kanisius, Yogyakarta.
Hamersma, H. 1985, Filsafat Eksistensi Karl Jaspers, Gramedia, Jakarta.
Hoernie, R.F.A., 1952, Studies in Philosophy, George Allen & Unwin Ltd, London.
Kattsoff, L.O. 1954, Element of Philosophy, diterjemahkan oleh Soejono Soermagono,
1986, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Poespoprojo, 1987, Interpretasi, Remadja Karya, Bandung.
Randal, J.H. & Justus Buchler, 1974, Philosophy An Introduction, Barnes & Noble Inc.
New York.
Runes, Dagobert D. (ed), 1975, Dictionary of Philosophy, Totowa, Littlefield, Adams.
The Liang Gie, 1977, Suatu Konsepsi ke Arah Penertiban Filsafat, Karya Kencana,
Yogyakarta.
White, R. Allan, 1970, Truth; Problem in philosophy, Double-day & Company, New
York.