Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH KELOMPOK II FARMAKOTERAPI

OSTEOPOROSIS

DISUSUSN OLEH;

SITTI MUNAWARAH (3351161434)

NATALIA E. PASARIBU (3351161436)

CEPI HADIANSYAH (3351161438)

WA ODE ARLINA MISNAENI (3351161446)

SERLYANA BR TAMBUNAN (3351161447)

JOHLAN BUDIKASE (3351161454)

KHAREN C. HOKE (3351161455)

GIOVANI HANI UME (3351161459)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI-BANDUNG
2017
BAB1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh


penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang
sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Menurut NIH (National
Institute of Health) osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai
oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah.
Osteoporosis merupakan gangguan skelet yang ditandai dengan
menurunnya kepadatan atau kekuatan tulang dan dapat meningkatkan resiko
fraktur (Dipiro, 2008). Osteoporosis ditandai dengan massa tulang yang rendah
dan kerusakan jaringan tulang yang berakibat pada kerapuhan tulang dan
peningkatan resiko fraktur. WHO mengklasifikasikan massa tulang dengan
skor T. Skor T adalah bilangan deviasi standar dari densitas mineral tulang
(Bone Mineral Density/ BMD) rata-rata untuk populasi normal muda. Massa
tulang normal memiliki skor T lebih besar dari -1, osteopenia -1 hingga -2, dan
osteoporosis lebih kecil dari -2,5 .
Tiga kategori osteoporosis, yaitu :
Osteoporosis postmenopause, mempengaruhi tulang trabekular pada
dekade setelah menopause.
Osteoporosis terkait usia, diakibatkan hilangnya massa tulang yang
dimulai setelah massa tulang puncak tercapai dan mempengaruhi baik
tulang kortikal maupun trabekular.
Osteoporosis sekunder, disebabkan oleh pengobatan tertentu dan penyakit
dan mempengaruhi kedua tulang.

B. Masalah

a. Bagaimana patofisiologi penyakit osteoporosis?


b. Bagaimana penanganan penyakit osteoporosis?
C. Tujuan

a. Dengan makalah ini di harapkan mahasiswa mampu memahami tentang


patofisiologi penyakit osteoporosis.
b. Dengan makalah ini di harapkan pembaca khususnya mahasiswa mampu
memahami tentang penanganan osteoporisis.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Deskripsi Penyakit

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh


penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga
tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Menurut NIH (National Institute of
Health) osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh
compromised bone strength sehingga tulang mudah patah. Osteoporosis
merupakan gangguan skelet yang ditandai dengan menurunnya kepadatan atau
kekuatan tulang dan dapat meningkatkan resiko fraktur (Dipiro, 2008: 1483).
Osteoporosis ditandai dengan massa tulang yang rendah dan kerusakan jaringan
tulang yang berakibat pada kerapuhan tulang dan peningkatan resiko fraktur.
WHO mengklasifikasikan massa tulang dengan skor T. Skor T adalah bilangan
deviasi standar dari densitas mineral tulang (Bone Mineral Density/ BMD) rata-
rata untuk populasi normal muda. Massa tulang normal memiliki skor T lebih
besar dari -1, osteopenia -1 hingga -2, dan osteoporosis lebih kecil dari -2,5
(Sukandar, 2008: 613).
Tiga kategori osteoporosis, yaitu :
Osteoporosis postmenopause, mempengaruhi tulang trabekular pada dekade
setelah menopause.
Osteoporosis terkait usia, diakibatkan hilangnya massa tulang yang dimulai
setelah massa tulang puncak tercapai dan mempengaruhi baik tulang kortikal
maupun trabekular.
Osteoporosis sekunder, disebabkan oleh pengobatan tertentu dan penyakit dan
mempengaruhi kedua tulang.

B. Prevalensi

Perkiraan jumlah penderita osteoporosis fraktur di beberapa negara, pada


laki-laki dan wanita usia 50 tahun atau lebih pada tahun 2000. (WHO, 2004).
Osteoporosis dapat dijumpai di seluruh dunia dan sampai saat ini masih
merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama di negara
berkembang. Di Amerika Serikat, osteoporosis menyerang 20-25 juta
penduduk, 1 diantara 2-3 wanita post-menopause dan lebih dari 50% penduduk
di atas umur 75-80 tahun.
Mengutip data dari WHO yang menunjukkan bahwa di seluruh dunia ada
sekitar 200 juta orang yang menderita osteoporosis. Pada tahun 2050,
diperkirakan angka patah tulang pinggul akan meningat 2 kali lipat pada wanita
dan 3 kali lipat pada pria. Laporan WHO juga menunjukkan bahwa 50% patah
tulang adalah patah tulang paha atas yang dapat mengakibatkan kecacatan
seumur hidup dan kematian. Dibandingkan dengan masyarakat di negara-
negara Afrika, densitas tulang masyarakat dan Asia lebih rendah, sehingga
mudah sekali mengalami osteoporosis.
Hasil penelitian white paper yang dilaksanakan bersama perhimpunan
osteoporosis Indonesia tahun 2007, melaporkan bahwa proporsi penderita
osteoporosis pada penduduk yang berusia di atas 50 tahun adalah 32,3% pada
wanita dan 28,8% pada pria. Sedangkan data Sistem Informasi Rumah Sakit
(SIRS, 2010) menunjukkan angka insiden patah tulang paha atas akibat
Osteoporosis adalah sekitar 200 dari 100.000 kasus pada usia 40 tahun
(Kemenkes RI, 2015: 1).
Pada gambar di atas terlihat bahwa patah tulang tertinggi pada jenis
kelamin perempuan umur 95-99 tahun sebanyak 1.680 kasus dan terendah pada
umur 40 - 44 tahun yaitu sebanyak 8 kasus. Sedangkan insiden patah tulang
panggul tertinggi pada laki-laki terlihat pada umur 90 94 tahun sebanyak 718
kasus dan trendah pada pada umur 40 44 sebesar 10 kasus (Kemenkes RI,
2015).

C. Epidemiologi

Saat ini diperkirakan 1 dari 3 wanita dan 1 dari 12 pria di atas usia 50
tahun di seluruh dunia mengidap osteoporosis. Jumlah ini menambah kejadian
jutaan fraktur lain pertahunnya yang sebagian besar melibatkan lumbar
vertebra, panggul, dan pergelangan tangan (wrist). Fraktur yang sering terjadi
antara lain adalah :
1. Fraktur Panggul
Fraktur panggul paling sering terjadi akibat osteoporosis. Insidensi fraktur
panggul meningkat setiap dekade dari urutan ke 6 menjadi urutan ke 9 baik
untuk wanita maupun pria pada semua populasi. Insidensi tertinggi
ditemukan pada pria dan wanita usia 80 tahun ke atas.
2. Fraktur Vertebral
Antara 35-50% dari seluruh wanita usia di atas 50 tahun setidaknya satu
orang mengidap fraktur vertebral. Dalam urutan kejadian dari 9.704 wanita
usia 68,8 tahun pada studi selama 15 tahun, didapatkan 324 wanita sudah
menderita fraktur vertebral pada saat mulai dimasukkan ke dalam
penelitian. Sejumlah 18,2% berkembang menjadi fraktur vertebra, tapi
resiko meningkat hingga 41,4% pada wanita yang sebelumnya telah terjadi
fraktur vertebra.
3. Fraktur Pergelangan Tangan
Fraktur pergelangan tangan merupakan tipe fraktur ketiga paling umum
dari osteoporosis. Resiko waktu hidup adalah 16% untuk wanita kulit putih
Ketika wanita mencapai usia 70 tahun, sekitar 20%-nya setidaknya
terdapatsatu fraktur pergelangan tangan.
4. Fraktur Tulang Rusuk
Fragility fracture dari tulang iga umumnya terjadi pada laki-laki usia muda
25 tahun ke atas. Tanda-tanda osteoporosis pada pria ini sering diabaikan
karena sering aktif secara fisik dan menderita fraktur pada saat
berlatih aktifitas fisik.

D. Patofisiologi

Tulang merupakan jaringan hidup yang dinamis, terdiri dari sel-sel


metabolik aktif yang terintegrasi ke dalam kerangka kerja yang kaku.
Komponen utama tulang adalah matriks organik dan kristal garam kompleks.
Kombinasi antara soft-collagen yang dilapisi dengan mineral menciptakan
struktur yang fleksibel dan elastis terhadap tekanan.
Kerangka tulang dewasa mengandung 2 jenis tulang yaitu tulang
kortikal (struktur kompak) dan tulang trabecular (struktur spons atau
cancellous). Tulang kortikal membentuk kepadatan pada kulit luar tulang dan
merupakan 80% dari komponen kerangka pada manusia. Keberadaan utama
tulang kortikal ada pada akhir tulang panjang dan pada bagian dalam tulang
pipih, terdiri dari sel-sel tulang teratur secara konsentris disekitar kanal sentral
(sistem Harvesian) yang mengandung pembuluh darah dan limfatik, syaraf
serta jaringan ikat. 20% komponen kerangka merupakan tulang trabekular yang
membentuk lapisan dalam tulang dan memiliki struktur seperti sarang lebah.
Tulang trabekular membentuk sebagian besar badan vertebral dan ujung
dari tulang panjang, yang diketahui sebagai epifisis. Tulang tersebut memiliki
luas permukaan yang lebih besar daripada tulang kortikal dan strukturnya dapat
direnovasi dengan cepat. Tulang trabekular juga lebih dipengaruhi oleh kondisi
yang berhubungan dengan peningkatan bone turn-over daripada tulang kortikal
oleh karena itu tulang ini rentan terhadap pengeroposan tulang.
Pria dan wanita mulai kehilangan masa tulang pada dekade ketiga atau
keempat karena pembentukan tulang berkurang. defisiensi estrogen selama
menopause meningkatkan aktifitas osteoklas, meningkatkan resorpsi tulang
lebih dari pembentukan. Pria tidak menjalani masa percepatan penyerapan
tulang yang mirip dengan menopause. penyebab sekunder dan penuaan adalah
faktor yang berkontribusi paling umum untuk osteoporosis laki-laki.
Terkait Usia hasil osteoporosis dari hormon, kalsium, dan vitamin D
kekurangan yang mengarah ke pergantian tulang dipercepat dan pembentukan
osteoblas berkurang. Obat yang dapat memicu osteoporosis dapat dihasilkan
oleh kortikosteroid sistemik, pengganti hormon tiroid, obat antiepilepsi
(misalnya, phenytoin dan phenobarbital), depot medroxyprogesterone acetate,
dan agen lainnya.

a. Remodeling tulang

Tulang sepanjang hidup mengalami proses perputaran. Sel- sel tulang


secara berulang mengalami modeling dan atau remodeling tulang
memungkinkan kerangka tulang tumbuh dan beradaptasi dengan kebutuhan
tubuh. Modeling adalah proses dimana terbentuknya tulang baru,
memungkinkan perubahan bentuk dan kekuatan kerangka tulang. Hal ini
terutama terjadi pada masa anak-anak. Remodeling sebaliknya adalah proses
yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan perbaikan tulang. Hal ini
merupakan proses yang dominan pada orang dewasa dan terjadi secara
bertahap, mengontrol pembentukan dan kerusakan pada tulang. Remodeling
memungkinkan perubahan arsitektur tulang dalam menanggapi faktor-faktor
seperti beban mekanik tanpa merubah keseluruhan ukuran kerangka. Pada
kerangka tulang dewasa, 5-10% tulang di remodeling setiap tahun.
Remodeling tidak terjadi secara merata dieluruh kerangka akan tetapi terjadi
pada bagian yang berlawanan, 80% remodeling terjadi pada tulang trabekular.

b. Sel-sel Tulang

Penggantian tulang melibatkan setidaknya 3 jenis sel yang berbeda


diantaranya :

Osteoblas merupakan sel mononuclear yang mensintesis matriks tulang


baru dan membantu meregulasi kebutuhan mineral tulang.
Osteosit, merupakan sel matang yang terlibat dalam daur ulang mineral,
mendeteksi adanya tekanan (stress).

Osteoklas, merupakan sel penyerap tulang-berinti raksasa.

Fungsi dari sel-sel osteoklas dan osteoblas terkait erat dengan penyerapan
tulang oleh osteoklas diikuti dengan peningkatan osteoblas pada pembentukan
tulang. Produksi matriks baru tulang dan kalsifikasi merupakan bagian dari
proses osteogenesis. Peleburan mineral tulang dan substrat organik diketahui
sebagai penyerapan kembali atau osteolisis.
c. Inhibitors dan Stimulators pada Remodeling Tulang

Remodeling tulang merupakan proses yang sangat kompleks yang diatur


secara sistemik dan lokal oleh faktor pertumbuhan, sitokin, dan hormon.
Rangsangan mekanik dan area kerusakan secara mikro merupakan hal

yang penting dalam menentukan bagian dimana terjadinya remodeling tulang


dalam keadaan normal pada kerangka. Peningkatan remodeling tulang dapat
mengakibatkan pelepasan faktor inflamasi sitokin secara lokal maupun
sistemik seperti interleukin-1 dan Tumour Necrosis Factor (TNF). Hormon
Kalsitropik seperti hormon paratiroid dan vitamin D secara bersama-sama
meningkatkan remodeling tulang secara dasar sistemik, memungkinkan
kalsium tulang dimobilisasi untuk pemeliharaan pada homeostasis kalsium
dalam plasma. Remodeling tulang juga dapat ditingkatkan oleh hormon lain
seperti hormon tiroid dan hormon pertumbuhan, serta dapat diturunkan oleh
hormon estrogen, androgen dan kalsitonin.

d. Hubungan antara Usia dan Perubahan Kepadatan Tulang

Pada umumnya masa tulang akan meningkat selama masa kanak-kanak


dan remaja serta mencapai puncaknya selama dekade ke-2 dikehidupan.
Istilah puncak masa tulang mengikuti besarnya jumlah jaringan tulang yang
tersedia setelah terjadi kematangan kerangka. Sementara itu pria cenderung
memiliki tulang yang lebih besar dan lapisan kortikal yang lebih tebal
dibandingkan wanita, kepadatan mineral tulang (jumlah kalsium dan mineral
lainnya pada tulang) diperkirakan sama pada kedua jenis kelamin. Setelah
mencapai puncak masa tulang baik laki-laki dan perempuan memasuki masa
konsolidasi singkat ketika masa tulang telah stabil yaitu sekitar umur 30
tahun.
Pada pria usia yang berhubungan dengan penurunan kepadatan tulang
terjadi pada tingkat yang stabil sepanjang hidup, sedangkan wanita tingkat
penurunan kepadatan tulang lebih tinggi dan dipercepat 5-10 tahun setelah
menopause.

Pada awal tahun setelah menopause, tingkat penurunan kepadatan


tulang jauh lebih besar tejadi pada bagian tulang trabekular, seperti tulang
belakang dan jari-jari distal daripada bagian tulang kortikal. Setelah 20 tahun
setelah menopause penurunan kepadatan tulang masih lebih besar tejadi pada
bagian trabekular tetapi perbedaannya kecil.
Hubungan antara usia dengan penurunan kepadatan tulang
mencerminkan tingkat pembentukan tulang terkait penyerapan tulang dengan
kata lain aktifitas penyerapan oleh osteoklas meningkat dibandingkan
aktivitas pembentukan tulang oleh osteoblas. Selama kepadatan tulang
menurun lapisan kortikal secara bertahap menipis sementara kepadatan tulang
menurun pada bagian dalam yang diakibatkan penipisan lapisan trabekular
dan hilangnya konektivitas tulang.

Puncak masa tulang merupakan penentu utama dari resiko fraktur


osteoporosis dan diatur oleh sejumlah faktor termasuk faktor keturunan,
jenis kelamin, diet dan gizi, status hormonal, aktivitas fisik yang
berhubungan dengan berat dan paparan terhadap faktor resiko. Faktor
genetik diperkirakan menjadi hal yang sangat penting dihitung terhadap
60-80% varians yang diamati dalam masa tulang dewasa.
e. Peran estrogen dalam remodeling tulang

Estrogen memiliki 2 peran kunci dalam kesehatan tulang. Pertama,


hormon merupakan hal yang penting dalam pematangan tulang pada kondisi
normal dan akuisisi mineral, contohnya pada pencapaian puncak masa tulang.
Kedua, estrogen mempertahankan masa tulang di usia dewasa melalui
pengaturan remodeling tulang. Pengurangan estrogen menyebabkan
penurunan masa tulang serta kerusakan dalam mikroarsitektur tulang.
Pengurangan estrogen merupakan penentu utama kehilangan tulang terkait
usia dan hal ini mengakibatkan osteoporosis baik wanita maupun pria.

E. Etiologi

Banyak pasien yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami


osteoporosis, dan hanya terlihat setelah terjadi fraktur atau patah tulang.
Fraktur dapat terjadi setelah menekuk, mengangkat, atau jatuh karena beban
aktivitas.Osteoporosis yang umum terjadi adalah berhubungan dengan patah
tulang belakang, femur proksimal, dan radius distal (pergelangan tangan atau
fraktur Colles). 2/3 orang dengan fraktur tulang belakang terlihat tidak
menunjukkan gejala. Selebihnya terlihat dengan gejala sakit punggung ringan
sampai parah hingga bawah kaki. Rasa sakit biasanya berkurang secara
signifikan setelah 2-4 minggu, tetapi sakit punggung dapat terasa kembali,
bertahan, dan kronis. Beberapa patah tulang belakang dapat menurunkan tinggi
dan kurva tulang belakang (kyphosis atau lordosis) dengan atau tanpa sakit
punggung. Pasien dengan fraktur tulang belakang sering terlihat dengan nyeri
yang parah, pembengkakan, dan pengurangan fungsi dan pergerakan pada
fraktur.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) fraktur model prediksi stratifikasi


risiko pengobatan menggunakan faktor-faktor risiko untuk memprediksi
probabilitas persen fraktur dalam 10 tahun ke depan: usia, ras / etnis, jenis
kelamin, fraktur kerapuhan sebelumnya, sejarah orang tua patah tulang
pinggul, indeks massa tubuh, penggunaan glukokortikoid, merokok saat ini,
alkohol (tiga atau lebih minuman per hari), rheumatoid arthritis, dan pilih
penyebab sekunder dengan leher femur Data BMD opsional. Fisik temuan
pemeriksaan: nyeri tulang, perubahan postural (yaitu, kyphosis), dan
kehilangan tinggi (> 1,5 di [3,8 cm]). Pengujian laboratorium: lengkap hitung
darah, kreatinin, nitrogen urea darah, kalsium, fosfor, alkali fosfatase, albumin,
thyroid-stimulating hormone, tosterone gratis tes-, 25-hydroxyvitamin D, dan
konsentrasi urine 24 jam kalsium dan fosfor.
Pengukuran pusat (pinggul dan tulang belakang) BMD dengan
absorptimetri (DXA) merupakan standar diagnostik. Pengukuran pada situs
perifer (lengan, tumit, dan falang) dengan ultrasound atau DXA hanya
digunakan untuk screening dan untuk determin-ing kebutuhan untuk pengujian
lebih lanjut. T-skor membandingkan pasien diukur BMD dengan rata-rata
BMD yang sehat, muda (20 sampai 29 tahun),, penduduk referensi putih cocok
gender. T-skor adalah jumlah standar deviasi dari mean dari populasi referensi.
Diagnosis osteoporosis berdasarkan fraktur-trauma rendah atau hip pusat dan /
atau tulang DXA menggunakan WHO T-skor ambang. massa tulang normal
adalah T-skor di atas -1, massa tulang yang rendah (osteopenia) adalah T-skor
antara -1 dan -2,4, dan osteoporosis adalah T-score pada atau di bawah -2.5

F. Faktor Resiko

1. Umur
Tiap peningkatan 1 dekad,risiko meningkat 1,41,8
2. Genetik
Etnis (kaukasia dan oriental > kulit hitam dan polinesia)
Seks (perempuan > laki-laki)
Riwayat keluarga
3. Lingkungan
Defisiensi kalsium
Aktivitas fisik kurang
Obat-obatan(kortikosteroid,anti konvulsan,heparin,siklosporin)
Merokok,alkohol
Risiko terjatuh yang meningkat (gangguan keseimbangan, licin,
gangguan penglihatan)
4. Hormonal dan penyakit kronik
Defisiensi estrogen dan androgen
Tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer, hiperkortisolisme)
Penyakit kronik (sirosis hepatis,gagal ginjal,gastrektomi)
5. Sifat fisik tulang
Densitas (massa)
Ukuran dan geometri
Mikroarsitektur
Komposisi
Beberapa penyebab osteoporosis, yaitu:
1. Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen
(hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan
kalsium kedalam tulang. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang
berusia antara 51 75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih
lambat. Hormon estrogen produksinya mulai menurun 2-3 tahun sebelum
menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini
berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 57
tahun pertama setelah menopause.
2. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan
kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara
kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru
(osteoblas). Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia
lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70
tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita sering kali
menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis
sekunder yang disebabkan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan.
Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan
hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan
(misalnya kortikosteroid, barbiturat, antikejang, dan hormon tiroid yang
berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok dapat
memperburuk keadaan ini.
4. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang
penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa
muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin
yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya
tulang.

G. Diagnosis

Pemeriksaan yang diperlukan untuk penilaian osteoporosis antara lain


adalah anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan biokimia tulang,
pemeriksaan radiologi, pemeriksaan densitas massa tulang, sonodensitometri,
dan magnetic resonance imaging.

1. Anamnesis
Anamesis memegang peranan penting ada evaluasi pasien
osteoporosis. Biasanya, keluhan utama dapat berupa fraktur kolum femoris
pada osteoporosis bowing leg pada riket atau kesemutan atau rasa kebal
disekitar mulut atau ujung jari pada hipokalsemi. Fraktur lain adalah trauma
minimal, imobilisasi lama, penurunan tinggi badan orang tua, kurang paparan
sinar matahari, asupan kalsium, fosfor, dan vitamin D, serta latihan yang
teratur yang bersifat weight-bearing, obat-obatan yang harus diminum dalam
jangka panjang harus diperhatikan, alkohol dan merokok merupakan faktor
resiko osteoporosis.

2. Pemeriksaan Fisik
Tinggi badan dan berat badan harus di ukur pada setiap pasien
osteoporosis. Demikian juga gaya berjalan pasien, deformitas tulang, nyeri
spinal dan jaringan parut pada leher. Pasien dengan osteoporosis
menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus ( Dowagers hump ) ada penurunan
tinggi badan. Selain itu juga didapatkan protuberansia abdomen, spasme otot
paravetebral dan kulit yang tipis.

3. Pemeriksaan Biokimia Tulang


Pemeriksaan biokimia tulang terdiri dari kalsium tulang dalam serum,
ion kalsium, kadar fosfor serum, kalsium urin, fosfat urin, osteokalsin serum,
piridinolin urin dan bila perlu hormin paratiroid dan vitamin D. Kalsium
serum terdiri dari tiga fraksi yaitu kalsium yang terikat pada albumin (40%),
kalsium ion dalam (48%) dan kalsium komplek (12%). Kalsium yang terikat
dalam albumin tidak difiltrasi glomerulus. Untuk menetukan turnover tulang,
dapat diperiksa petanda biokimia tulang yang terdiri dari petanda formasi dan
resorpsi tulang. Petanda formasi tulang terdiri dari bone-specific alkaline
phosphatase (BSAP), osteokalsin (OC), carboxy-terminal propeptide of type I
collagen (PICP) dan aminoterminal propeptide of typi I collagen (PINP).
Sedang kan petanda resorpsi terdiri dari hidrokksiprolin urin, free and total
pyridinolines (pyd) urin, free and total deoxypyridinolines (Dpd) urin, N-
telopeptide of collagen cross-links (Ntx) urin, C- telopeptide of collagen
cross-links (Ctx) urin, cross-linked Ctelopeptide of type I collagen (ICTP)
serum dan tartrate-reistant acid phosphatase (TRAP) serum.
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan pada pemeriksaan petanda
biokimia tulang :
a. Karena petanda biokimia tulang hanya dapat diukur dari urin, maka harus
diperhatikan kadar kreatinin dalam darah dan urin karena akan mempengaruhi
hasil pemeriksaan.
b. Pada umunya petanda formasi dan resorpsi tulang memiliki ritme
sirkadian, sehingga sebaiknya diambil sample urin 24 jam atau bila tidak
mungkin dapat diambil urin pagi yang kedua, karena kadar tertinggi petanda
biokimia tulang dalam urin adalah antara pukul 04.00-08.00 pagi. Kadar OC
dan PICP juga mencapai kadar tertinggi didalam serum pukul 04.00-08.00.
c. Petanda biokimia tulang sangat dipengaruhi oleh umur karena pada usia
muda juga terjadi peningkatan bone turnover.
d. Terdapat perbedaan hasil pada penyakit-penyakit tettentu misalnya pada
pagets disease.
Manfaat pemeriksaan petanda biokimia tulang antara lain adalah :
a. Prediksi kehilangan masa tulang
b. Prediksi resiko fraktur
c. Seleksi pasien yang membutuhkan antiresorptif
d. Evaluasi efektivitas terapi

4. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi yang khas pada osteoporis adalah penipisan
korteks dan daerah trabekular yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada
tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.
a. Vertebra
b. Femur proksimal
c. Metakarpal
d. Skintigrafi tulang

5. Pemeriksaan Densitas Masa Tulang (densitometri)


Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan presis
untuk menilai densitas masa tulang, sehingga dapat digunakan untuk
menilai faktor prognosis, prediksi fraktur dan bahkan diagnosis
osteoporosis. Berbagai metode yang dapat digunaka untuk menilai densitas
masa tulang :
a. Single-Photon Absorptiometry (SPA)
b. Dual-Photon Absorptiometry (DPA)
c. Quantitative Computer Tornography (QCT)
d. Dual Energy X-Ray Absorptiometry (DXA)

6. Sonodensitometri
Metode ini lebih murah dalam menilai densitas tulang perifer dengan
menggunakan gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi. Dilakukan
pengukuran densitas btulang berdasarkan kecepatan gelombang suara,
atenuasi ultrasound broadband dan kekakuan (stiffness). Namun, metode ini
masih dalam penelitian.

7. Magnetic Resonance Imaging


MRI mepunyai kemampuan yang cukup menjanjikan dalam
menganalisa struktur trabekula dan sekitarnya. Metode ini mempunyai
kelebihan dengan tidak adanya efek radiasi, namun juga sedang dalam
penelitian.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) fraktur model prediksi stratifikasi
risiko pengobatan menggunakan faktor-faktor risiko untuk memprediksi
probabilitas persen fraktur dalam 10 tahun ke depan: usia, ras / etnis, jenis
kelamin, fraktur kerapuhan sebelumnya, sejarah orang tua patah tulang pinggul,
indeks massa tubuh, penggunaan glukokortikoid, merokok saat ini, alkohol (tiga
atau lebih minuman per hari), rheumatoid arthritis, dan pilih penyebab sekunder
dengan leher femur Data BMD opsional. Fisik temuan pemeriksaan: nyeri tulang,
perubahan postural (yaitu, kyphosis), dan kehilangan tinggi (> 1,5 di [3,8 cm]).
Pengujian laboratorium: lengkap hitung darah, kreatinin, nitrogen urea darah,
kalsium, fosfor, alkali fosfatase, albumin, thyroid-stimulating hormone, tosterone
gratis tes-, 25-hydroxyvitamin D, dan konsentrasi urine 24 jam kalsium dan
fosfor.
Pengukuran pusat (pinggul dan tulang belakang) BMD dengan
absorptimetri (DXA) merupakan standar diagnostik. Pengukuran pada situs
perifer (lengan, tumit, dan falang) dengan ultrasound atau DXA hanya digunakan
untuk screening dan untuk determin-ing kebutuhan untuk pengujian lebih lanjut.
T-skor membandingkan pasien diukur BMD dengan rata-rata BMD yang sehat,
muda (20 sampai 29 tahun),, penduduk referensi putih cocok gender. T-skor
adalah jumlah standar deviasi dari mean dari populasi referensi.
Diagnosis osteoporosis berdasarkan fraktur-trauma rendah atau hip pusat
dan / atau tulang DXA menggunakan WHO T-skor ambang. massa tulang normal
adalah T-skor di atas -1, massa tulang yang rendah (osteopenia) adalah T-skor
antara -1 dan -2,4, dan osteoporosis adalah T-score pada atau di bawah -2.5

H. Gejala

Pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala, bahkan sampai


puluhan tahun tanpa keluhan. Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga
tulang menjadi kolaps atau hancur, akan timbul nyeri dan perubahan bentuk
tulang. Jadi, seseorang dengan osteoporosis biasanya akan memberikan keluhan
atau gejala sebagai berikut:
1. Tinggi badan berkurang
2. Bungkuk atau bentuk tubuh berubah
3. Patah tulang
4. Nyeri bila ada patah tulang

I. Penangan Nonfarmakologi

Terdapat beberapa rekomendasi untuk terapi non-farmakologi berupa


modifikasi atau perubahan terkait gaya hidup yang berhubungan dengan kesehatan
tulang, yaitu diet, olahraga rutin yang terkait latihan angkat berat dan latihan untuk
menguatkan otot, berhenti merokok dan minum minuman beralkohol, pencegahan
jatuh, serta perlindungan pinggul.
Diet
Secara umum diet dengan gizi dan mineral yang seimbang sangatlah penting bagi
tubuh. Menjaga asupan kalsium dan vitamin D melalui makanan merupakan salah satu
terapi farmakologi utama untuk membantu mencegah osteoporosis dan menurunkan
resiko terjadinya fraktur. Asupan vitamin D dan kalsium juga dapat dilakukan untuk
menjaga asupan kalsium dan vitamin D secara adekuat. Asupan kalsium yang baik
adalah sekitar 1200 mg per hari yang sangat berperan dalam pembentukan massa
tulang dan menjaga kesehatan tulang. Makanan yang mengandung kalsium antara lain
adalah susu, yoghurt, keju, buah-buahan dan sayur-sayuran. Asupan vitamin D yang
direkomendasikan adalah sekitar 800-1.000 IU vitamin D, terutama untuk yang
berusia 50 tahun ke atas. Makanan yang banyak mengandung vitamin D antara lain
adalah sereal, vitamin-D fortified milk, kuning telur, ikan, dan ati (NOF, 2013).
Selain itu juga mengurangi konsumsi kafein juga sangat penting karena kafein dapat
meningkatkan ekskresi kalsium, peningkatan hilangnya massa tulang dan resiko
terjadinya fraktur. Konsumsi alkohol juga perlu dihindari karena dapat meningkatkan
faktor resiko osteoporosis atau fraktur, dimana hal ini berhubungan dengan
memburuknya status gizi, gangguan metabolisme kalsium dan vitamin D, dan
peningkatan resiko jatuh. Konsumsi tinggi natrium juga berpengaruh pada
peningkatan ekskresi kalsium yang dapat meningkatkan resorpsi tulang dan rendahnya
nilai bone mass density (BMD).
Vitamin K merupakan kofaktor untuk aktivasi dari beberapa protein, salah
satunya adalah osteocalcin yang berperan dalam pembentukan tulang. Defisiensi
vitamin K juga berkontribusi pada hilangnya massa tulang dan peningkatan resiko
fraktur. Nutrisi dan mineral lain yang juga dibutuhkan antara lain adalah boron dan
magnesium yang mempengaruhi kesehatan tulang.
Diet protein juga berpengaruh pada kesehatan tulang. Intake protein yang tinggi
memang berpengaruh pada meningkatmya ekskresi kalsium, namun beberapa data
juga menunjukkan asupan protein yang rendah dapat meningkatkan resiko
osteoporosis. Asupan protein yang tinggi juga dapat melindungi dari hilangnya massa
tulang. Peningkatan ekskresi kalsium akibat peningkatan asupan protein juga dapat
menjadi indikator yang memperlihatkan bahwa absorpsi kalsium lebih besar
dibandingkan dengan tingkat resorpsi tulang.
Menghindari Merokok
Merokok merupakan faktor resiko osteoporosis dan berhubungan dengan 80%
peningkatan resiko relatif terjadinya fraktur pada tulang pinggul. Berhenti merokok
membantu mengoptimalkan massa tulang, meminimalkan kehilangan tulang, dan
akhirnya mengurangi risiko patah tulang (Wells, 2015). Efeknya bersifat dose-
dependen dan juga tergantung durasi. Merokok juga berhubungan dengan penurunan
kadar hormon seksual, penurunan absorpsi kalsium di intestinal, efek toksik langsung
pada osteoblast, dan efek perusakan pada neurovaskular yang berimplikasi pada
tulang.
Olahraga
Aktivitas fisik merupakan terapi non-farmakologi yang sangat penting untuk
pencegahan osteoporosis. Olahraga secara rutin terutama yang terkait dengan angkat
berat dan penguatan otot dapat meningkatkan kekuatan dan keseimbangan tubuh,
sehingga menurunkan resiko jatuh dan fraktur. Selain itu, olahraga secara rutin juga
dapat meningkatkan densitas tulang (NOF, 2013). Olahraga secara rutin untuk orang
yang dalam masa pertumbuhan sangat penting dalam menurunkan resiko deposisi
tulang dan pelepasan massa tulang.
Faktor penting yang menentukan puncak massa tulang adalah: 1) Status
hormonal, 2) Asupan kalsium, 3) Aktivitas fisik, 4) Faktor genetik dan konstitusional
(ras, jenis kelamin, dan lain-lain). Karena faktor genetik dan konstitusional tidak
mungkin dimanipulasi, maka faktor lainnya, seperti nutrisi dengan asupan kalsium
yang cukup, aktivitas fisik, vitamin D dan sinar matahari merupakan hal penting untuk
dimanfaatkan dalam pengobatan osteoporosis, disamping memperbaiki gaya hidup
seperti tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol.
Massa tulang optimal pada masa dewasa harus diusahakan agar tercapai dengan
menjamin asupan nutrisi yang mengandung cukup kalsium selama masa kanak-kanak
sampai pada saat terhentinya pertumbuhan tulang. Latihan fisik yang teratur juga
penting untuk meningkatkan massa tulang selama masa pembentukan tulang. Setelah
puncak massa tulang tercapai, pada masa dewasa, maka asupan kalsium yang adekuat,
latihan fisik yang teratur harus tetap dipertahankan selama hidup (Kemenkes RI,2008).
Pencegahan Jatuh
Jatuh dan resiko terjadinya cedera dan fraktur pada tulang sangat berkaitan erat.
Hal ini tentunya membuat faktor dukungan keluarga dan lingkungan rumah yang aman
juga berperan penting dalam terapi osteoporosis seseorang. Selain itu juga perlu
pemeriksaan rutin mengenai bagaimana fungsi penglihatan, pendengaran, dan keadaan
neurologis seseorang untuk mencegah resiko seseoarang mengalami jatuh. Selain itu
penggunaan alat pelindung pinggu atau hip protector dari bahan yang baik juga dapat
menurunkan resiko terjadinya jatuh.
Paparan sinar matahari
Sinar matahari di pagi hari dan sore hari (menjelang magrib), berfungsi dalam
memicu kulit membentuk vitamin D3. Dalam menetralisasi tulang, dimana sel
osteoblas (sel pembentuk tulang) membutuhkan kalsium sebagai bahan dasar, dan
hormon kalsitriol. Kalsitriol ini berasal dari vitamin D3 kulit dan vitamin D2 yang
berasal dari makanan (mentega, keju, telur, ikan). Kalsitriol inilah yang merangsang
osteoblas dalam menetralisasi tulang (Kemenkes RI, 2008).
J. Penangan Farmakologi

1. Tujuan Terapi
Tujuan utama dari terapi pengelolan gangguan osteoporosis adalah melalui
pencegahan terjadinya dan perkembangan osteoporosis. Mengoptimalkan
perkembangan tulang dan massa tulang terutama pada masa anak-anak, remaja,
dan awal dewasa, dapat menurunkan resiko terjadinya osteoporosis di masa
yang akan datang. Tujuan terapi osteoporosis juga ditentukan oleh tingkat
perkembangan osteoporosis. Apabila osteoporosis sudah mulai berkembang,
maka tujuan terapi yang dilakukan adalah untuk menstabilkan dan
meningkatkan massa dan kekuatan tulang dan mencegah terjadinya fraktur.
Untuk pasien yang sudah mengalami osteoporosis yang disertai fraktur, maka
tujuan terapi adalah untuk menurunkan resiko pasien mengalami jatuh dan
fraktur yang lebih parah, meningkatkan kapasitas fungsional fisik, menurunkan
nyeri dan deformasi tulang, serta meningkatkan kualitas hidup yang merupakan
tujuan utama dari terapi osteoporosis.
2. Strategi Terapi
Strategi terapi terapi yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan
pengobatan osteoporosis adalah mengatur gaya hidup yang dapat menunjang
kesehatan tulang. Menjaga kadar kalsium dan vitamin D yang adekuat dalam
tubuh, baik melalui konsumsi makanan maupun obat-obatan. Penggunaan
Obat-obatan untuk pasien dengan penderita osteopenia dengan T-score -1
hingga -2,4 masih kontroversial. Penggunaan obat-obatan untuk terapi
osteoporosis direkomendasikan pada wanita postmenopause dengan T-score
kurang dari -2,0 atau kurang dari -1,5 apabila memiliki faktor resiko
osteoporosis. Penggunaan biphosphonat sebagai pilihan terapi obat
direkomendasikan untuk pasienosteoporosis dengan T-score -2,5 atau kurang
atau apabila ada trauma faktur ringan.
Algoritma Pencegahan Osteoporosis

Semua orang sepanjang hidup seharusnya mendapat:

- Nutrisi yang tepat (mineral dan elektrolit, vitamin, protein,


karbohidrat).
- Suplemen Ca dan vitamin D bila perlu untuk meningkatkan asupan
yang memadai
- Aktivitas fisik yang optimal (berat badan, penguatan otot, ketangkasan,
keseimbangan)
- Gaya hidup yang sehat (tidak merokok, tidak minum alcohol, dan
kafein).
- Pencegahan terhadap kecelakaan atau trauma

Algoritma terapi menurut Dipiro (2005), dibagi menjadi dua yaitu:


1. Pengobatan tanpa pengukuran BMD (Bone Mineral Density)
Pertimbangan terapi tanpa pengukuran BMD :
Pria dan wanita dengan peningkatan risiko kerapuhan tulang
Pria dan wanita yang menggunakan glukokortikoid dalam jangka
waktu lama
Terapi dapat dilakukan dengan Biphosphonate, jika intolerance
dengan Biphosphonate pilihan terapi obat lainnya adalah Raloxifene,
kalsitonin nasal, teriparatide, bifosfonat parenteral. Jika kerapuhan tetap
berlanjut setelah pemakaian Biphosphonate, maka pilihan terapi lainnya
adalah teriparatide
2. Pengobatan dengan pengukuran BMD (Bone Mineral Density)
Populasi yang perlu pengukuran BMD :
Untuk wanita dengan usia 65 tahun
Untuk wanita usia 60-64 tahun postmenopause dengan peningkatan
risiko osteoporotis
Pria dengan 70 tahun atau yang risiko tinggi
Dari hasil pengukuran BMD, jika T-score >-1, maka nilai BMD
termasuk normal, tetapi tetap diperlukan monitoring DXA setiap 1-5
tahun. Dan jika diperlukan pengobatan, maka pilihan pengobatannya
adalah Biphosponate, Raloxifene, Calcitonin (Dipiro et.al , 2005).
Jika T-score -1 s/d -2,5, maka termasuk dalam osteopenia. Dapat
dilakukan monitoring DXA setiap 1-5 tahun. Dan jika diperlukan
pengobatan, maka pilihan pengobatannya adalah Biphosponate,
Raloxifene, Calcitonin
Jika T-score <-2,0 dilakukan pemeriksaan lanjut untuk
osteoporosis sekunder, yaitu dengan pengukuran PTH, TSH, 25-OH
vitamin D, CBC, panel kimia, tes kondisi spesifik. Kemudian dilakukan
terapi berdasarkan penyebab, bila ada, yaitu dengan Biphosphonate,
jika intoleransi dengan Biphosphonate maka pilihan pengobatannya
adalah Biphosphonate parenteral, Teriparatide, Raloxifene dan
Calcitonin. Dari hasil pengukuran Osteoporosis dengan skor T < -2,5,
terapi dapat dilakukan dengan Biphosphonate, jika intolerance dengan
Biphosphonate pilihan terapi obat lainnya adalah Raloxifene, kalsitonin
nasal, teriparatide, bifosfonat parenteral. Jika kerapuhan tetap berlanjut
setelah pemakaian Biphosphonate, maka pilihan terapi lainnya adalah
teriparatide.
Obat yang digunakan dalam terapi osteoporosis, yaitu :
Kalsium
Mekanisme kerja obat
Kalsium berfungsi sebagai integritas sistem saraf dan otot, untuk
kontraktilitas jantung normal dan koagulasi darah. Kalsium berfungsi sebagai
kofaktor enzim dan mempengaruhi aktivitas sekresi kelenjar endokrin dan
eksokrin
Data farmakokinetik
1. Absorpsi
Absorpsi kalsium dari saluran pencernaan dengan difusi pasif dan
transpor aktif. Kalsium harus dalam bentuk larut dan terionisasi agar bisa
diabsorpsi. Vitamin D diperlukan untuk absorpsi lasium dan meningkatkan
mekanisme absorpsi. Absorpsi meningkat dengan adanya makanan.
Ketersediaan oral pada orang dewasa berkisar dari 25% hingga 35% jika
diberikan dengan sarapan standar. Absorpsi dari susu sekitar 29% dalam
kondisi yang sama.
2. Distribusi
Kalsium secara cepat didistribusikan ke jaringan skelet. Kalsium
menembus plasenta dan mencapai kosentrasi yang lebih tinggi pada darah
fetah dibanding darah ibu. Kalsium juga didistribusikan dalam susu.

3. Ekskresi
Kalsium dieksresikan melalui feses, urin dan keringat.

Kontraindikasi
Kalsium dikontraindikasikan pada pasien dengan hiperkalsemia dan
fibrilasi ventrikuler
Efek samping
Efek samping yang terjadi ketika mengkonsumsi kalsium yaitu gangguan
gastrointestinal ringan, bradikardia, aritmia, dan iritasi pada injeksi intravena
(Anonim, 2008).
Vitamin D
Mekanisme kerja obat
Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang diperoleh dari sumber alami
(minyak hati ikan) atau dari konversi provitamin D (7-dehidrokolesterol dan
ergosterol). Pada manusia, suplai alami vitamin D tergantung pada sinar
ultraviolet untuk konversi 7-dehidrokolesterol menjadi vitamin D3 atau ergosterol
menjadi vitamin D2. Setelah pemaparan terhadap sinar uv , vitamin D3 kemudian
diubah menjadi bentuk aktif vitamin D (Kalsitriol) oleh hati dan ginjal. Vitamin D
dihidroksilasi oleh enzim mikrosomal hati menjadi 25-hidroksi-vitamin D 3 (25-
[OH]- D3 atau kalsifediol). Kalsifediol dihidroksilasi terutama di ginjal menjadi
1,25-dihidroksi-vitamin D (1,25-[OH]2-D3 atau kalsitriol) dan 24,25-
dihidroksikolekalsiferol. Kalsitriol dipercaya merupakanbentuk vitamin D3 yang
paling aktif dalam menstimulasi transport kalsium usus dan fosfat.
Kontraindikasi
Vitamin D dikontraindikasikan dengan hiperkalsemia, bukti adanya toksistas
vitamin D, sindrom malabsorpsi, hipervitaminosis D, sensitivitas abnormal
terhadap efek vitamin D, penurunan fungsi ginjal.
Efek samping
efek samping yang terjadi ketika mengkonsumsi vitamin D ini yaitu sakit
kepala, mual, muntah, mulut kering dan konstipasi.

Biofosfonat
Mekanisme kerja obat
Biofosfonat bekerja terutama pada tulang. Kerja farmakologi utamanya adalah
inhibisi resorpsi tulang normal dan abnormal. Tidak ada bukti bahwa biofosfonat
dimetabolisme. Biofosfonat utnuk menoptimalkan manfaat klinis harus dengan
dosis yang tepat dan meminimalkan resiko efeksamping terhadap saluran
pencernaan. Semua bifosfonat sedikit diabsorpsi (bioavaibilitas 1-5%).
Efek samping
Efek samping yang terjadi ketika mengkonsumsi biofosfonat yaitu mual, nyeri
abdomen dan dyspepsia (Anonim, 2008).
Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMs)
Raloxifene merupakan agonis estrogen pada jaringan tulang tetapi merupakan
antagonis pada payudara dan uterus. Raloxifen meningkatkan BMD tulang
belakang dan pinggul sebesar 2-3% dan menurunkan fraktur tulang belakang.
Fraktur non-vertebral tidak dapat dicegah dengan raloxifene.
Mekanisme kerja
Raloxifene merupakan reseptor estrogen selektif yang mengurangi resorpsi
tulang dan menurunkan pembengkokan tulang.

Data farmakokinetik
1. Absorpsi
Raloxifene diabsorpsi secara cepat setelah pemberian oral dengan sekitar
60% dosis oral absorpsi.
2. Distribusi
Volume distribusi nyata sebesar 2348L/kg dan tidak tergantung dosis.
sekitar 95% raloxifene dan konjugat monoglukoronid terikat pada protein
plasma.
3. Metabolisme
Raloxifene mengalami metabolisme lintas pertama menjadi konjugat
glukoronid dan tidak dimetabolisme melalui jalur sitokrom P450.
4. Ekskresi
Raloxifene terutama diekskresikan pada feses dan urin.
Kontraindikasi
Kontraindikasi pada SERMs ini yaitu pada wanita hamil dan menyusui.
hipersensitif raloxifene (Anonim, 2008).

Kalsitonin
Mekanisme kerja
Bersama dengan hormon paratiroid, kalsitonin berperan dalam mengatur
homeostasis Ca dan metabolisme Ca tulang. Kalsitonin dilepaskan dari kelenjar
tiroidketika terjadi peningkatan kadar kalsium serum.
Efek samping
Efek samping yang terjadi ketika mengkonsumsi kalsitonin yaitu mual,
muntah, flushing (Anonim, 2008).

Estrogen dan terapi hormonal


Mekanisme kerja
Estrogen menurunkan aktivitas osteoklas, menghambat PTH secara periferal,
meningkatkan konsentrasi kalsitriol dan absorpsi kalsium di usus, dan
menurunkan ekskresi kalsium oleh ginjal. Penggunaan estrogen dalam jangka
waktu lamatanpa diimbangi progesteron meningkatkan risiko kanker
endometrium pada wanita yang uterusnya utuh.
Kontraindikasi
Estrogen ini kontraindikasi dengan wanita hamil dan menyusui, kanker
estrogen-independent (Anonim, 2008).

Fitoestrogen
Isoflavonoid (protein kedelai) dan lignan (flaxseed) merupakan bentuk
estrogen dimana efeknya terhadap tulang dapat disebabkan aktivitas agonis
reseptor estrogen tulang atau efek terhadap osteoblas dan osteoklas. beberapa
studi isoflavon menggunakan dosis yang lebih besar dilaporkan dapat
menurunkan penanda resorpsi tulang dan sedikit meningkatkan densitas (Anonim,
2008).

Testosteron
Penurunan konsentrasi testosteron tampak pada penyakit gonad, gangguan
pencernaan dan terapi glukokortikoid. Berdasarkan penelitian terapi testosteron ini
dapat meningkatkan BMD dan mengurangi hilangnya massa tulang pada pasien
osteoporosis laki-laki (Dipiro et.al , 2005).

Teriparatide
Terapi anabolik ini hanya untuk terapi menjaga dan memelihara bentuk tulang.
Teriparatide merupakan produk rekombinan yang mewakili 34 asam amino
pertama dalam PTH manusia. Teriparatide meningkatkan formasi tulang,
perubahan bentuk tulang dan jumlah osteoblast beserta aktivitasnya sehingga
massa tulang akan meningkat. Teriparatide disarankan oleh FDA kepada wanita
postmenopouse dan laki-laki yang memiliki resiko tinggi terjadi fraktur. Efikasi
dari teriparatide ini dapat meningkatkan BMD. PTH analog sangat penting dalam
pengelolaan pasien osteoporosis yang memiliki risiko tinggi patah tulang karena
PTH merangsang pembentukan tulang baru. Kontraindikasi teriparatide ini yaitu
pada pasien hiperkalsemia, penyakit metabolik tulang lainnya dan kanker otot
(Dipiro et.al , 2005).
Hasil penelitian terbaru membuktikan bahwa obat teriparatide berperan lebih
baik dibanding alendronate dalam meningkatkan kepadatan tulang dan
mengurangi patah tulang belakang pada pasien dengan osteoporosis yang
diinduksi glukokortikoid (glucocorticoid-induced osteoporosis) (Anonim, 2010).

Diuretik Tiazid
Diuretik tiazid meningkatkan reabsorbsi kalsium. Berdasarkan penelitian
pasien yang mengkonsumsi diuretik tiazid memiliki massa tulang lebih besar dan
fraktur yang lebih sedikit. Diuretik tiazid ini diberikan ketika pasien osteoporosis
dengan glukokortikoid yang lebih besar dari 300mg dari jumlah kalsium yang
dikeluarkan dalam urin selama lebih dari 24 jam (Dipiro et.al , 2005).
K. Interaksi Obat

OBAT INTERAKSI OBAT EFEK SAMPING


Kalsium - Antibakteri - Menurunkan
absorpsi tetrasiklin
- Mengurangi
- Bifosfonat
absorpsi
- Dosis kalsium
- Glikosida jantung
intravena yang
tinggi dapat
mencetus aritmia
- Diuretik : Tiazida
- meningkatkan risiko
hiperkalsemia

OBAT INTERAKSI OBAT EFEK SAMPING


Vitamin D dan - Antasid yang - Dapat terjadi hipermagnesemia
Metabolit mengadung pada pasien yang sedang
magnesium melakukan dialysis renal
kronis

- Glukosida - Hiperkalsemia pada pasien


digitalis yang mengkonsumsi digitalis
dapat menyebabkan aritmia
kardiak
- Verapamil - Fibrilasi atrium terjadi jika
suplemen kalsium dan
kalsiferol menginduksi
hiperkalsemia
- Kolestiramin - Absorpsi vitamin D intestinal
menurun
- Ketokonazol - Ketokonazol dapat
menghambat baik enzim
sintesis maupun katabolisme
kalsitriol
- Minyak - Absorpsi vitamin D menurun
mineral dengan penggunaan minyak
mineral secara terus menerus.
- Sintesis endogen kalsitriol
- Fenitoin akan dihambat. Dosis kalsitriol
fenobrbital yang lebih tinggi dapat
diperlukan jika kedua obat ini
diberika bersamaan

- Pasien hipoparatiroid dapat


- Diuretik mengalami hiperkalsemia
tiazid

OBAT INTERAKSI OBAT EFEK INTERAKSI


Bifosfonat - Analgetik - Ketersediaan hayati asam
tiludronat ditingkatkan oleh
indometasin
- Antasid - Mengurangi absorpsi

- Dengan aminoglikosida
- Antibakteri
meningkatkan risiko
hipokalsemia

- Mengurangi absorpsi
- Garam kalsium
- Mengurangi absorpsi
- Besi
OBAT INTERAKSI OBAT EFEK INTERAKSI
Estrogen dan - Penghambat ACE - Estrogen dan kontrasepsi
Terapi Homonal oral kombinasi melawan
efek hipotensif

- Antibakteri : - mempercepat metabolisme


Rifamisin kontrasepsi oral kombinasi
dan progesteron tunggal
(menurunkan efek
kontraseptif, penting:
apabila antibiotika
spectrum luas seperti
ampisilin dan tettrasiklin
diberikan dengan
kontrasepsi oral
kombinasi, kemungkinan
menurunkan efek
kontraseptif (risiko
kemungkinan kecil)

- Antikoagulan - Antagonisme terhadap


efek antakoagulan dari
nikumalon, fenindion, dan
- Antidepresan warfarin

- Dilaporkan adanya
- Antidiabetika antagonisme terhadap efek
antidepresan, tetapi efek
samping trisiklik dapat
meningkat karena kadar
plasma yang lebih tinggi
- Antagonisme efek
- Antiepileptika : hipoglikemia
karbamazepin,
fenobarbiton,
fenitoin,
primidon dan
topiramat - mempercepat metabolisme
(menurunkan efek
- Antijamur : kontrasepsi kombinasi dan
Gliseofulvin, progesteron tunggal)
Flukonazol,
Itrakonazol,
Ketokanazol - mempercepat metabolisme
(menurunkan efek
- Antihipertensi estrogen);

- kontrasepsi oral kombinasi


melawan efek hipotensif
- Antivirus :
Ritonafir
- Mempercepat
metabolisme kontrasepsi
oral kombinasi
- Beta- bloker
(mengurangi efek
kontraseptif)
- Estrogen dan kontrasepsi
oral kombinasi melawan
- Siklosporin efek hipotensif
- Meningkatkan kadar
plasma siklosporin
- Diuretik
- Kontrasepsi oral
kombinasi melawan efek
diuretik
- Teofilin
- Kontrasepsi oral
kombinasi menunda
ekskresi (menaikakan
kadar plasma teofilin)
- Kemungkinan
mempercepat metabolisme
- Antiulkus :
Lansoprazol

L. Terminologi Medik

M. Studi Kasus

Studi Kasus I:
Ny AK, 54 th, sejak 1 bulan yang lalu mengeluh nyeri pada punggung
dan tulang belakang. Siklus menstruasinya sudah berhenti sekitar 3 tahun yang
lalu. Untuk mengatasi keluhannya, dia minum Natrium Diklofenak tablet 2X50
mg sehari. Beberapa saat nyeri bisa berkurang, namun kemudian sering
kambuh lagi. Pilihan obat osteroporosis apa yang tepat digunakan untuk pasien
tersebut?

Riwayat Penyakit Sebelumnya


Hipertensi sejak 10 th yang lalu. Memiliki riwayat ulcer dan perdarahan
lambung. Pernah mengalami perdarahan per vagina (vaginal bleeding) setahun
yang lalu. Riwayat Keluarga. Ibunya meninggal karena kanker payudara.

Riwayat Pengobatan
Kaptopril 3X12,5 mg seharidan nifedipin 3X10 mg sehari
Diagnosa osteoporosis post menopause
Hasil Laboratorium
Pemeriksaan Fisik
Hasil Nilai Normal Keterangan
Pemeriksaan
Tekanan Darah 160mg/100 mg 120/80 Tinggi
Tekanan Nadi 35 mmHg 30-40 Normal
Respiration 17x per menit 12-18 x per menit Normal
Rate(RR)
Pemeriksaan Laboratorium
Kolesterol total 237 mg/dL <200 mg/dL Tinggi
Serum Kreatinin 0,9 mg/dL 0,5- 1,5 mg/dL Normal
Kalsium 9,0 mg/dL 9-11 mg/dL Normal
Phospor 4,0 mg/dL 2,5-4,5 mg/dL Normal
BUN 30 mg/dL 8-25 mg/dL Tinggi
Pemeriksaan Lain
Pemeriksaan Normal
Radiologis
Papsmer dan Normal
Mamogram
T-score < -2,7 >-1 Rendah

Diagnosis : Osteoporosis post Menopause, Hipertensi stadium II


Analisis Kasus
1. Subjective
Ny. AK, 54 tahun, sejak 1 bulan yang lalu mengeluh nyeri pada
punggung dan tulang belakang. Siklus menstruasinya sudah berhenti sejak 5
tahun yang lalu.
Riwayat Penyakit : Ulser, pendarahan vagina 1 tahun yang lalu, dan
hipertensi sejak 10 tahun yang lalu
Riwayat Keluarga : Ibu meninggal karena kanker payudara
Riwayat Pengobatan : Kaptopril 3x12,5 mg, Nifedipin 3x10 mg sehari,
Nadiklofenak tablet 2x50 mg/hari.
Pengembangan Kasus : Pasien mengaku sering lupa dan mulai bosan
meminum obat anti hipertensi karena sudah terlalu lama mengidap
hipertensi tersebut. Selain itu juga pasien juga memiliki kebiasaan
merokok.
2. Objective
Berdasarkan pemeriksaan pasien mengalami osteoporosis dengan
Tscore -2,7. Berdasarkan pemeriksaan juga didapat tekanan darah pasien
adalah 160/100 mmHg, berat badan 63 kg dan tinggi badan 155 cm serta
didapat nilai kadar kolesterol juga menunjukkan nilai 237 mg/dL (>200
mg/dL). Pemeriksaan radiologis Hysterocopic, Pap Smear, dan mammogram
menunjukkan hasil yang normal.

3. Assessment
Pasien mengalami osteoporosis post-menopause dan hipertensi stadium II.
4. Plan
Terapi obat untuk mengurangi perkembangan osteoporosis dan
terjadinya fraktur. Terapi untuk mengurangi gejala nyeri pada pasien. Terapi
non-farmakologi untuk mencegah perkembangan osteoporosis,
hipertensi, dan overweight pada pasien.

Etiologi Osteoporosis pada Kasus


Berdasarkan pemeriksaan, pasien mengalami osteoporosis postmenopause,
yang diakibatkan terjadinya penurunan hormon estrogen pasca menopause.
Osteoporosis yang dialami oleh pasien termasuk ke dalam osteoporosis primertipe
I (osteoporosis akibat defisiensi estrogen pasca menopause). Osteoporosis pada
wanita postmenopause terjadi akibat peningkatan resorpsi yang mengakibatkan
pelepasan kalsium tulang yang dipengaruhi oleh menurunnya produksi hormon
wanita terutama estrogen. Defisiensi estrogen mengakibatkan peningkatan
proliferasi, diferensi dan aktivasi osteoclast yang berperan dalam resorpsi tulang
yang daoat mengakibatkan penurunan massa tulang.
Terapi Non-farmakologi

a. Nutrisi

BMI pasien termasuk ke dalam kategori overweight dan pasien juga


memiliki kadar kolesterol yang tinggi (>200 mg/dL), sehingga pasien
membutuhkan pengaturan asupan makanan sehari-hari. Makan
direkomendasikan adalah makanan rendah lemak kolesterol untuk mencegah
peningkatan kadar kolesterol, buah-buahan dan sayur-sayuran yang
mengandung kalsium dan vitamin D untuk menjaga kadar. Asupan kalsium dan
vitamin D yang direkomendasikan adalah sekitar 1200 mg per hari (untuk
kalsium) dan 800-1000 IU (untuk vitamin D) Pengaturan asupan makanan
tersebut adalah untuk mencegah perkembangan osteoporosis dan menurunkan
resiko terjadinya fraktur (NOF,2013). Selain itu juga pasien perlu menghindari
makanan dan minuman yang banyak mengandung kafein, alkohol, natrium, dan
minuman bersoda karena berpengaruh pada kondisiosteoporosis pasien.
Makanan yang tinggi natrium juga kurang baik untuk pasien hipertensi karena
dapat meningkatkan tekanan darah. Berdasarkan Dietary Guideline for
Americans (DGA), total asupan natrium adalah kurang dari 1.500 mg per hari
untuk pasien hipertensi.

b. Olahraga

Olahraga merupakan terapi non farmakologi untuk meningkatkan


kekuatan otot dan keseimbangan tubuh, dimana hal ini dapat mengurasi resiko
seseorang mengalami jatuh yang berimplikasi pada penurunan resiko terjadinya
fraktur. Selain itu juga karena pasien memiliki BMI di atas normal
(overweight) maka pasien juga perlu olahraga rutin dengan salah satu
tujuannya adalah untuk mengurangi berat badan. Berat badan yang besar
terutama pada pasien yang mengalami overweight bahkan hingga obesitas juga
dapat meningkatkan resiko osteoporosis dan fraktur. Berat badan yang besar
mengakibatkan beban pada tulang meningkat sehingga
mengakibatkanterjadinya osteoporosis dan meningkatkan resiko terjadinya
fraktur (Sampson, 2002). Olahraga rutin yang dapat dilakukan antara lain jalan
santai, jogging, tennis, menaiki tangga, dan lain-lain.

Terapi Farmakologi

a. Raloxifene

Nama Sediaan : Evista Eli Lily

Dosis : 60 mg

Frekuensi : 1 hari 1 tablet setiap hari

Durasi : 14 hari (2 minggu)

Mekanisme aksi : Selective estrogen receptor modulator, agonis estrogen di


jaringan tulang sehingga dapat menurunkan resporpsi tulang dan meningkatkan
densitas tulang), namun beraksi sebagai antiestrogen pada jaringan uterus dan
payudara.

Efek samping : Tromboemboli vena, hot flashes.

Alasan Pemilihan:

Raloxifene adalah second-line therapy untuk pasien osteoporosis dengan T-


score <-2,0 (Dirpiro, 2008). First-line therapy untuk kasus ini adalah
biphosphonate, tetapi tidak digunakan karena meningkatkan resikoinflamasi
dan ulserasi pada saluran gastrointestinal, dan efek samping padasaluran
gastrointestinal lainnya (Lichtenberger et al., 2000; Vella, 2005). Pasien
memiliki riwayat ulser dan pendarahan lambung, sehingga tidak diberikan
boiphosphonate. Pasien juga memiliki resiko mengalami kanker payudara
karena memiliki riwayat keluarga, dimana ibu nya meninggal karena kanker
payudara. Menurut American Cancer Society (ACS) bila seseorang memiliki
riwayat keluarga penderita kanker payudara maka resiko kanker payudara akan
meningkat hingga 2 kali lipat. Penggunaan hormone-repalcement therapy yang
mengandung estrogen dapat meningkatkan resiko kanker payudara, sehingga
obat yang mengandung estrogen tidak digunakan untuk kasus ini.Raloxifene
memiliki mekanisme aksi sebagai selective estrogenreceptor modulator pada
jaringan tulang sehingga dapat meningkatkan densitas tulang dan menurunkan
resiko terjadinya fraktur, terutama pada tulang belakang. Namun raloxifene
juga memiliki aksi sebagai antiestrogen di jaringan payudara sehingga dapat
menurunkan resiko terjadinya kanker payudara (Rosen, 2005). Selain itu
raloxifene juga relatif aman untuk pasien karena tidak menyebabkan gangguan
pada lambung dibandingkan dengan biphosphonate. Raloxifen juga baik untuk
pasien osteoporosis yang mengalamihi perkolesterol karena memiliki efek
menurunkan kolesterol, terutama LDL, tanpa mempengaruhi HDL (Insull et al,
2005)

Studi Kasus II
S umur 27 setelah 2 bulan menikah kemudian hamil. Namun saat
kandungannya menginjak 2 bulan S sering merasa ngilu di bagian sendi dan
giginya, S kemudian tidak peduli, namun sampai kandungannya menginjak
usia lima bulan, ngilu di tubuhnya tak kunjung hilang. Kemudian hal ini
dikeluhkan ke dokter kandungannya dan dianjurkan untuk test darah dan
rontgen. Hasilnya menunjukan ia menderita osteoprosis.

Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa kalsium sangat dibsutuhkan


oleh tubuh kita terutama dalam menjaga kesehatan tulang. Ibu hamil dan
menyusui juga harus tetap menjaga asupan kalsium dan vitamin sehari-hari
sehubungan dengan perkembangan dan pertumbuhan bayinya baik sejak dalam
kandungan maupun setelah dilahirkan. Ibu hamil dan menyusui mempunyai
target asupan kalsium yaitu 1000-1.300 mg perhari.
Daftar Pustaka

Anonim, 2008, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 8 2008/2009, Jakarta:


Info Master.

Anonim, 2010, Teriparatide Padatkan Tulang Lebih Baik , Majalah Farmacia


Edisi Januari 2010 Vol.9 No.6, http://www.majalah-
farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=1540, diakses tanggal 20
Maret 2017.

Anonim,2011,SenamOsteoporosis,http://www.medistra.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=45:Senam%20Osteoporosis,
diakses tanggal 22 September 2011.

Dipiro, Joseph T., Robert L. Talbert., Gary C. Yee., Barbara G. Wells., L. Michael
Posey. 2008. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, Seventh
Edition. United states : Mc Graw Hill.

Gudjonsson J. dan Elder J. 2012. Psoriasis Vulgaris. In: Wolff K., Goldsmith L.,
Katz S., Gilchrest B., Paller A., Leffell D. editors Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine8 th ed. New York: McGraw-Hill

Junaidi, I, 2007. Osteoporosis - Seri Kesehatan Populer. Cetakan Kedua, Penerbit


PT Bhuana Ilmu Populer.

Kemenkes RI. 2015. Data & Kondisi Penyakit Osteoporosis di Indonesia, dalam
http://www.depkes.go.id/download.php?
file=download/pusdatin/buletin/buletin-lansia.pdf

Prof. Dr. Elin Yulinah Sukandar, apt dan tim penyusun, 2011, Iso farmakoterapi
buku 2 (52-85). Penerbit Ikatan Apoteker Indonesia, Jakarta.

Sukandar, Elin Yulinah., Retnosari Andrajati., Joseph I Sigit., dkk. 2008. ISO
Farmakoterapi, Buku 1. Jakarta : PT. Isfi Penerbitan

WHO. 2004. WHO Scientific Group On The Assessment Of Osteoporosis At


Primary Health Care Level.

WHO, Executive boartd psoriasis, 2013, www.informasiobat.com ,


www.aldodokter.com/psoriasis/pengobatan

Wiryadi, BE., 2004, Epidemiologic data of psoriatic patient in Dr. Cipto


Mangunkusumo General Hospital (year 2000-2001). Psoriasis CLEAR
Study Group inaugural meeting May 7, 2004, Singapore.

Beri Nilai