Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

PENILAIAN STATUS GIZI

ACARA ANTROPOMETRI

DISUSUN OLEH

ENENG SAFITRI A (I1D015010)

ASISTEN

UMI FAZA ROKHMAH (G1H012026)

PROGRAM STUDI ILMU GIZI

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2016
PENDAHULUAN

Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh


keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut
dapat dilihat dari variabel pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan/panjang
badan, lingkar kepala, lingkar lengan, dan panjang tungkai (Gibson, 2005).
Penilaian status gizi terbagi atas dua yakni penilaian status gizi secara langsung
yang dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan
biofisik. Dan penilaian status gizi secara tidak langsung yakni, survey konsumsi
makanan, statistik vital, dan faktor ekologi (Supariasa,dkk, 2001).

Kata antropometri berasal dari bahasa latin antropos yang berarti manusia
(human being). Sehingga antropometri dapat diartikan sebagai pengukuran pada
tubuh manusia. Metode antropometri mencakup pengukuran dari dimensi fisik
dan komposisi nyata dari tubuh (WHO cit Gibson, 2005). Pengukuran
antropometri, khususnya bermanfaat bila ada ketidakseimbangan antara protein
dan energi. Dalam beberapa kasus, pengukuran antropometri dapat mendeteksi
malnutrisi tingkat sedang maupun parah, namun metode ini tidak dapat digunakan
untuk mengidentifikasi status kekurangan (defisiensi) gizi tertentu (Gibson, 2005)

Pengukuran antropometri memiliki beberapa keuntungan dan kelebihan,


yaitu mampu menyediakan informasi mengenai riwayat gizi masa lalu, yang tidak
dapat diperoleh dengan bukti yang sama melalui metode pengukuran lainnya.
Pengukuran ini dapat dilakukan dengan relatif cepat, mudah, dan reliable
menggunakan peralatan-peralatan yang portable, tersedianya metode-metode yang
terstandardisasi, dan digunakannya peralatan yang terkaliberasi. Untuk membantu
dalam menginterpretasi data antropometrik, pengukuran umumnya dinyatakan
sebagai suatu indeks, seperti tinggi badan menurut umur (Gibson, 2005).

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan


mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh
manusia, antara lain : umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar
kepala, lingkar dada, lingkar pinggul, dan tebal lemak di bawah kulit (Supariasa
dkk, 2001). Berdasarkan pada standar baku WHO pengukuran status gizi
menggunakan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB, indeks BB/U dan BB/TB
digunakan untuk mengetahui status gizi masa sekarang, sedangkan indeks TB/U
digunakan untuk menggambarkan status gizi masa lalu. Ambang batas atau cut
point status gizi yaitu (Ulfah,2015):

Table 1,1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PENGUKURAN PADA BAYI


Nama :X
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 20 Januari 2016
Tanggal Periksa : 3 Maret 2016
Usia : 1 bulan

Table 1.1 Hasil pengukuran antropometri bayi X

No. PARAMETER PENUKURAN HASIL PENGAMATAN


1 Berat Badan 5,7 kg
2 Pajang Badan 58,0 cm
3 Lingkar Kepala 39 cm
4 Lingkar Dada 29 cm

1. BB/U

Z score =

= 1,71 (Gizi baik)

2. BB/PB

Z score =

= 0,6 (Normal)

3. IMT/U

IMT =
=

=
= 16,94

Z score =

= 1,36 (Normal)

4. Estimasi Tinggi Badan


TB Estimas = PB 0,7 cm
= 58,0 0,7
= 57,3 cm

Praktikum pengukuran antropometri pada bayi, untuk mengukur berat


badan dapat menggunakan alat timbang bayi (baby scale) atau dacin, dan untuk
mengukur panjang bayi di bawah 2 tahun dapat menggunakan alat ukur panjang
badan. Hasil praktikum dengan menggunakan metode antropometri pada
bayi laki-laki yang berusia 1 bulan menunjukkan bahwa berat badan responden
adalah 5,7 kg dengan panjang badan 58,0 cm. Jika diestimaskan panjang badan
responden ke dalam tinggi badan, maka tinggi badan responden adalah 57,3 cm.
Lingkar kepala dan lingkar dada diukur menggunakan metlin. Lingkar kepala
responden adalah 39 cm dan lingkar dada adalah 29 cm. Lingkar kepala
dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat
secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar lingkar kepala tidak
menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Dalam antropometri gizi rasio
lingkar kepala dan lingkar dada cukup berarti dan menentukan KEP pada anak.
Lingkar kepala juga digunakan sebagai informasi tambahan daam pengukuran
umur.
Berdasarkan penilaian status gizi pada balita, status gizi berdasar pada
indeks BB/U menunjukkan bahwa responden termasuk ke dalam kategori
gizi baik dengan nilai Z score 1,71 termasuk kedalam kategori gizi baik karena
berada pada nilai ambang batas -2 SD - +2 SD. Berdasarkan indeks BB/PB
responden termasuk ke dalam kategori normal dengan nilai Z score 0,6. Nilai Z
score ini termasuk ke dalam kategori normal karena berada pada nilai ambang
batas -2 SD - +2 SD. Sedangkan berdasarkan IMT/U pada anak usia
0-60 bulan responden termasuk ke dalam kategori normal dengan nilai
Z score 1,36 ini termasuk ke dalam kategori normal karena berada pada nilai
ambang batas -2 SD - +2 SD.

B. PENGUKURAN PADA DEWASA


Nama :Y
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 19 Tahun

Table 1.2 Hasil pengukuran antropometri Ny. Y

No. PARAMETER PENUKURAN HASIL PENGAMATAN


1 Berat Badan 50,8 kg
2 Tinggi Badan 160 cm
3 Panjang Lutut 47,5 cm
4 Panjang Ulna 24 cm
5 Rentang Lengan 156 cm
6 Lingkar Lengan (LILA) 26 cm
7 Tebal Lemak Bawah Kulit 4 mm
8 Lingkar Pinggang 72 cm
9 Lingkar Panggul 97 cm

1. IMT

IMT =

=
= 19,84 (Normal)

2. Estimasi Tinggi Badan


a. Panjang Lutut
TB = (1,83 x tinggi lutut(cm)) (0,24 x umur(th)) + 84,88
= (1,83 x 47,5) (0,24 x 19) + 84,88
= 86,925-4,56+84,88
= 167,245 cm

b. Panjang Ulna
TB = 95,6 + 2,77 x panjang ulna (cm)
= 95,6 + 2,77 x 24
= 95,6 + 66,48
= 162,08 cm

c. Rentang Lengan
TB = 28,312 + 0,784 x panjang rentang tangan
= 28,312 + 0,784 x 156
=28,312 + 121,992
= 150,304 cm

d. Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul (RLPP)


Lingkar Pinggang (LPi) = 72 cm
Lingkar Pnggul (LPa) = 97 cm

RLPP =

=
= 0,74 (High)
Responden Ny. Y seorang perempuan berusia 19 tahun, pengukuran
antropometri yang dilakukan diantaranya mengukur berat badan,tinggi badan,
panjang lutut, panjang ulna, panjang rentang lengan, lingkar lengan atas (LILA),
lingkar perut, lingkar panggul, dan tebal lemak bawah kulit (TLBK). Pengukuran
berat badan menggunakan timbangan digital menunjukan hasil 50,8 kg. Tinggi
badan diukur dengan microtoise menunjukan hasil 160 cm. Panjang lutut Ny. Y
adalah 47,5 cm, panjang ulna 24 cm, dan panjang rentang lengan(arm span)
adalah 156 cm.

Selain menggunakan microtoise, tinggi badan dapat di estimasikan dengan


mengukur panjang lutut,panjang ulna, atau panjang rentang lengan. Pengukuran
ini biasanya dilakukan pada responden yang tidak bisa berdiri dengan baik. Tinggi
lutut berkolerasi kuat dengann tinggi badan dan dapat digunakan untuk
mengestimasi tinggi badan pada subjek dengan cacat fisik tulang belakang,
dengan panjang lutut 47,5 cm maka estimasi tinggi badan Ny. Y adalah 167,245
cm. Pengukuran panjang ulna biasa digunakan untuk responden yang tidak bisa
berdiri, hasil pengukuran panjang ulna Ny. Y adalah 24 cm maka estimasi tinggi
badannya adalah 162 cm . Pengukuran rentang lengan kira-kira sama dengan
tinggi badan maksimal, hasil pengukuran rentang tangan Ny. Y adalah 156 cm,
maka estimasi tinggi badannya adalah 150,304 cm.

Hasil perhitungan estimasi tinggi badan dengan panjang lutut,panjang


ulna, dan rentang lengan sedikit berbeda dengan tinggi badan responden yang
diukur menggunakan microtoise, selisih pengukuran dengan panjang lutut adalah
7,245 cm lebih tinggi, selisih pengukuran dengan panjang ulna 2,08 cm lebih
tinggi, dan selisih pengukuran dengan rentang lengan 10,34 cm lebih pendek dari
pengukuran menggunakan microtoise. Perbedaan selisih hasil pengukuran ini
dapat disebabkan karena kesalahan pada peralatan (belum dikalibrasi), kesalahan
pada observer (kesalahan pengukuran, pembacaan, pencatatan), perubahan hasil
pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan, analisis dan asumsi yang
keliru.

Berdasarkan penilaian status gizinya, IMT Ny. Y pada kategori ambang


batas IMT untuk Indonesia menunjukkan bahwa Ny. Y termasuk ke dalam
kategori normal. Nilai IMT Ny. Y adalah 19,84 berada pada nilai ambang batas
18,5-22,9 sehingga masuk kategori normal. Pengukuran lingkar lengan atas
(LILA) juga menunjukan kategori normal diatas 23,5 cm untu wanita usia subur
(WUS) dengan nilai 26 cm.

Pengukuran tebal lemak bawah kulit (TLBK) bisa dilakukan pada


beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas (biceps dan triceps),
lengan bawah (ectoral) ,perut (abdominal), paha (suurailiaca), tempurung lutut
(suprapattela), dan pertengahan tungkai bawah (medial calp). Pengukuran tebal
lemak bawah kulit pada Ny. Y hanya dilakukan pada bagian biceps dengan
menggunakan skinfold caliper hasil tebal lemak bawah kulit adalah 4 mm.
Pengukurann tersebut belum bisa dimasukan kedalam kategori TLBK karena
pengukuran hanya dilakukan pada bagian biceps, sedangkan untuk memprediksi
persentase lemak badan sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak data lokasi
skinfold yang digunakan dalam rumus tersebut. Ada persamaan yang hanya
menggunakan satu atau dua data skinfold saja tetapi ada pula yang menggunakan
data skinfold pada tujuh lokasi pengambilan skinfold. Pada dasarnya semakin
banyak data lokasi skinfold yang digunakan dalam rumus maka ketepatan
persamaan tersebut dalam memprediksi persentase lemak badan akan semakin
besar pula (Sudibjo,2016).

Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul (RLPP) adalah suatu metode


sederhana untuk mengetahui obesitas sentral pada orang dewasa dengan
mengukur distribusi jaringan lemak pada tubuh terutama bagian pinggang dengan
menmbandingkan antara ukuran lingkar pinggang di banding dengan lingkar perut
(Harna,2012). Dari hasil perhitungan RLPP dengan Ny. Y diperoleh nilai RLPP
sebesar 0,74. Nilai ini diperoleh dari perbandingan lingkar pinggang dan lingkar
panggul. Dengan lingkar pinggang = 72 cm dan lingkar panggul = 97 cm.
Berdasakran tabel risiko/tipe kegemukan terhadap penyakit degeneratif
berdasarkan RLPP ini termasuk kategori rendah, dengan begitu berarti Ny. Y
beresiko rendah mengalami penyakit degenerative.
DAFTAR PUSTAKA

Buku baku antropometri dari Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor : 1995/MENKES/SK/XII/2010.

Gibson. ( 2005 ). Principles of Nutritional Assessment. New York: Oxford


University Press.

Harna. 2012. Laporan PSG Antropometri. (online)


https://www.scribd.com/doc/111545822/Laporan-PSG-Antropometri (di
unduh 10 Oktober 2016)

Sudibjo,Prijo. 2016. Penilaian Presentase Lemak Badan pada Populasi Indonesia


Metode Anthropometris. (online)
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132172719/Penilaian%20Presentase
%20Lemak%20badan%20Metode%20Anthropometris.pdf (di unduh 10
Oktober 2016)

Supariasa I. D. N., B. Bakri., dan I. Fajar. 2001. Penilaian Status Gizi. EGC.
Jakarta.
Ulfah, Kania. 2005. Laporan praktikum penilaian status gizi. (online)
Laoranhttp://dokumen.tips/documents/laporan-praktikum-penilaian-
status-gizi.html (di unduh 10 Oktober 2016)