Anda di halaman 1dari 12

Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No.

2, Desember 2014

Analisis Risiko Kualitas Produk dalam


Proses Produksi Miniatur Bis dengan
Metode Failure Mode and Effect Analysis
pada Usaha Kecil Menengah Niki Kayoe
Leonard Nanda, Lusia P.S Hartanti, Johan K. Runtuk
Program Studi Teknik Indstri
Universitas Pelita Harapan
Surabaya, Indonesia
leonard.nanda@yahoo.com, lusia.permata@uphsurabaya.ac.id, johan.runtuk@uphsurabaya.ac.id
Abstrak Risiko merupakan salah satu hal yang menjadi bagian dalam perusahaan. Risiko yang muncul di dalam
sebuah perusahaan harus mampu diidentifikasi dan dikelola dengan baik agar dapat meminimalkan biaya-biaya
yang ditanggung perusahaan, selain itu pengelolaan risiko pada proses produksi juga dapat memperbaiki kualitas
produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) merupakan metode yang
digunakan dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi risiko kegagalan yang terjadi, serta menghitung ekpektasi
biaya akibat kegagalan dengan menggunakan metode FMEA cost based. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik
kepustakaan, observasi, wawancara, serta penyebaran kuesioner. Hasil pengolahan data dianalisis berdasarkan
penilaian severity, occurrence, detection, ekspektasi biaya, serta rekomendasi untuk mengurangi risiko-risiko
kegagalan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 18 risiko yang terdapat pada proses produksi
perusahaan, dimana lima (5) diantaranya tergolong kritis dan dapat menggangu kualitas produk. Dari lima (5) risiko
tersebut dapat diketahui biaya ekspektasi kegagalan yang dialami perusahaan selama tiga bulan terakhir yaitu
sebesar Rp. 12.845.900,00. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan
perusahaan untuk mengurangi risiko kritis tersebut.
Kata kunci Risiko , FMEA , Ekspektasi Biaya , Mitigasi Risiko

Niki Kayoe merupakan salah satu home industry


I. PENDAHULUAN
yang berada di kota Lawang, kabupaten Malang, Jawa
Kualitas suatu produk merupakan salah satu faktor Timur. UKM ini bergerak di bidang produksi replika
yang penting dalam bisnis. Kualitas berkaitan erat alat transportasi darat, khususnya bis. Sistem produksi
dengan perhatian sekaligus minat dari para konsumen bergerak dengan metode MTO (Make To Order). Dari
terhadap produk yang diciptakan. Banyak konsumen hasil wawancara, frekuensi produk cacat dalam satu
yang sangat menyukai produk dengan harga bulan rata-rata sekitar empat hingga lima produk, dan
terjangkau apalagi ditambah dengan kualitas produk produk cacat ini harus segera di rework agar sesuai
yang baik. Maka dari itu kualitas memiliki peran dengan standar perusahaan. Hal ini mengakibatkan
penting di dalam kriteria sebuah produk. Pada suatu sering terjadi keterlambatan di dalam menghasilkan
proses produksi terdapat usaha untuk suatu produk jadi, karena adanya proses rework yang
membutuhkan waktu pengerjaan rata-rata selama satu
meminimalisasikan risiko (manajemen risiko) supaya hingga dua hari. Apabila masih banyak risiko-risiko
dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik yang terjadi di dalam suatu proses produksi, maka
sesuai dengan standar perusahan. Sebagian besar dari akan berpengaruh juga terhadap biaya yang
perusahaan memiliki standar produk, baik itu dikeluarkan perusahaan Oleh karena itu, peneliti ingin
perusahaan besar ataupun Usaha Kecil dan Menengah meneliti dan menganalisis risiko-risiko pada proses
(UKM). Risiko yang terjadi di dalam suatu proses produksi UKM Niki Kayoe dan memperbaikinya agar
produksi dapat merugikan di berbagai hal, misalnya menghasilkan sebuah produk yang sesuai standar
biaya, waktu, kesulitan perusahaan untuk perusahaan dan menggunakan biaya produksi
memperbaiki dan memanajemen ulang risiko tersebut, seefektif mungkin.
maupun dampak terhadap kelangsungan perusahaan Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui
dalam jangka waktu tertentu apabila terlalu sering risiko yang menganggu kualitas produksi dan
melakukan kesalahan produksi. tergolong kritis, mengetahui total ekspektasi biaya

71
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

yang muncul pada proses produksi, serta melakukan mengetahuai secara keseluruhan mengenai bagian
perbaikan melalui usulan-usulan untuk memperbaiki produksi, mulai dari material hingga bahan-bahan
proses produksi UKM Niki Kayoe dalam upaya tambahan yang diperlukan untuk membuat sebuah
mengurangi tingkat kegagalan. Manfaat penulisan produk miniatur bis. Data sekunder merupakan data
laporan tugas akhir ini terbagi menjadi dua bagian, yang diperoleh secara tidak langsung, baik dari buku-
yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat buku literatur, arsip-arsip dan dokumen-dokumen
teoritis yang diharapkan oleh penulis melalui yang dimiliki oleh perusahaan. Terdapat empat data
penelitian ini yaitu dapat memberikan sebuah sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yaitu
literatur-literatur baru sekaligus perbaikan-perbaikan Data historis rata-rata jumlah produksi dalam satu
untuk menghasilkan suatu produk yang lebih seragam bulan, biaya-biaya dari setiap material yang
sesuai dengan standar yang sudah ditentukan oleh mengalami kecacatan pada waktu proses produksi
usaha kecil menengah Niki Kayoe. Manfaat praktis kerusakan, data mengenai upah tenaga kerja setiap
yang diharapkan melalui penelitian ini yaitu bulannya, dan biaya-biaya kerugian akibat produk
memberikan sebuah pedoman ataupun cara baru bagi cacat. Tahap pengumpulan data yang ketiga yaitu
perusahaan agar dapat menciptakan produk yang melalui pembagian kuesioner kepada seluruh
sesuai standard walaupun sebagian besar proses karyawan bagian produksi UKM Niki Kayoe.
produksinya masih dilakukan secara manual. Batasan Responden yang dibutuhkan dalam penelitian ini
masalah pada penelitian ini yaitu penulis hanya yaitu berjumlah enam orang, sesuai dengan jumlah
melakukan penelitian pada bagian produksi yakni karyawan proses produksi UKM Niki Kayoe. Atribut-
proses produksi miniatur bis usaha kecil menengah atribut yang terdapat dalam kuesioner ini dihasilkan
Niki Kayoe. dari wawancara yang dilakukan kepala produksi
tentang urutan-urutan proses produksi, sekaligus
.Sistematika penulisan dalam pembuatan laporan risiko-risiko yang mungkin terjadi. Kuesioner ini
tugas akhir ini adalah pendahuluan, tinjauan pustaka, bertujuan untuk mengetahui nilai severity,
metode penelitian, analisis dan pembahasan, occurrence, dan detection pada proses produksi.
kesimpulan dan saran. Nilai-nilai tersebut (severity, occurrence, detection)
akan digunakan untuk memberikan penilaian-
II. METODOLOGI PENELITIAN penialian terhadap risiko-risiko yang terjadi pada
proses produksi.
Tahap pertama yang dilakukan pada penelitian ini
yaitu tahap persiapan. Tahap perisapan terbagi Penilaian terhadap severity pada proses produksi
menjadi lima urutan, diantaranya observasi, merupakan penilaian yang berhubungan dengan
wawancara, perumusan masalah, perumusan tujuan seberapa besar kemungkinan terjadinya dampak yang
dan manfaat penelitian, serta tinjauan pustaka. timbul akibat adanya kegagalan atau kecacatan yang
terjadi. Nilai severity dihasilkan melalui kuesioner
Tahap selanjutnya yaitu tahap pengumpulan data. yang sudah dilakukan terhadap seluruh karyawan
Tahap pengumpulan data terbagi menjadi tiga, yaitu bagian produksi. Melalui kuesioner tersebut akan
data primer, data sekunder, serta penyebaran diketahui kemungkinan dampak yang akan terjadi
kuesioner. Data primer merupakan data yang apabila adanya kegagalan atau kecacatan yang terjadi
diperoleh dari responden secara langsung dan pada lini produksi dan terdapat sepuluh penilaian
dikumpulkan melalui survey lapangan dengan terhadap severity.
menggunakan teknik pengumpulan data yang
Tabel 1. Tabel Peringkat Severity
diperoleh secara langsung. Data primer pada
Tingkat Keseriusan
penelitian ini didapatkan langsung dari perusahaan Dampak Peringkat
Dampak
melalui survey lapangan yang dilakukan pada proses
produksi UKM Niki Kayoe, serta wawancara yang Berbahaya
Kegagalan tidak didahului
dilakukan bersama kepala bagian produksi serta tanpa 10
oleh peringatan
peringatan
karyawan produksi UKM Niki Kayoe. Proses
wawancara dilakukan kepada bagian kepala produksi Berbahaya
Kegagalan didahului oleh
dengan 9
UKM Niki Kayoe, sebab kepala bagian produksi peringatan
peringatan

72
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

Sangat Produk tidak dapat Sama halnya seperti penilaian terhadap severity dan
8
tinggi dioperasikan occurrence, untuk mengetahui seberapa besar nilai
Produk dapat dioperasikan occurrence pada perusahaan, maka dilakukan
Tinggi dengan tingkat kinerja yang 7 pembagian kuesioner. Detection memiliki range nilai
banyak berkurang
Produk dapat dioperasikan
mulai 1 hingga 10, nilai 1 mengartikan bahwa risiko
tetapi sebagian item tambahan sangat mungkin terdeksi, sedangkan nilai 10 dapat
Sedang 6
(fungsi sekunder) tidak dapat diartikan bahwa risiko sangat tidak mungkin
berfungsi
terdeteksi.
Produk dapat dioperasikan
Rendah dengan tingkat kinerja yang 5
Tabel 3. Tabel Kriteria Penilaian Detection
sedikit berkurang
Sangat Cacat disadari oleh pelanggan Deteksi Kemungkinan Deteksi Peringkat
4
rendah (>75%)
Hampir
Pengontrol tidak dapat 10
Cacat disadari oleh pelanggan tidak
Minor 3 mendeteksi kegagalan
(50%) mungkin
Sangat jauh kemungkinan
Sangat Cacat disadari oleh pelanggan Sangat pengontrol akan 9
2
minor (<25%) jarang menemukan potensi
kegagalan
Tidak ada Tidak memiliki pengaruh 1
Jarang kemungkinan
pengontrol akan 8
Penilaian terhadap occurrence dilakukan untuk Jarang
menemukan potensi
mengetahui seberapa sering kemungkinan terjadinya kegagalan
suatu kegagalan pada proses produksi. Sama seperti Kemungkinan pengontrol
Sangat 7
penilaian terhadap severity, penilaian terhadap untuk mendeteksai
rendah
kegagalan sangat rendah
occurrence juga dilakukan dengan cara pembagian
kuesioner terhadap karyawan bagian produksi. Kemungkinan pengontrol
Rendah untuk mendeteksai 6
Penilaian untuk occurrence dilakukan dengan cara
kegagalan rendah
memberi nilai dari 1 hingga 10 untuk mengetahui
seberapa besar potensi kegagalan pada proses Kemungkinan pengontrol
Sedang untuk mendeteksi kegagalan 5
produksi. sedang

Tabel 2. Tabel Kriteria Penilaian Occurence Kemungkinan pengontrol


Agak 4
Probabilitas untuk mendeteksi kegagalan
tinggi
agak tinggi
Kejadian Frekuensi Peringkat
Risiko Kemungkinan pengontrol
Tinggi untuk mendeteksi kegagalan 3
Sangat Tinggi 1 in 10 10 tinggi
1 in 20 9 Kemungkinan pengontrol
Sangat 2
Tinggi untuk mendeteksi kegagalan
1 in 50 8 tinggi
sangat tinggi
1 in 100 7
Kegagalan dalam proses
1 in 500 6 Hampir tidak dapat terjadi karena 1
pasti telah dicegah melalui desain
Sedang 1 in 2.000 5 solusi
1 in 10.000 4
Setelah diketahui setiap nilai severity, occurrence,
1 in 100.000 3
Rendah dan detection dari masingmasing peruses produksi,
1 in 1.000.000 2 tahap selanjutnya yaitu melakukan perhitungan
Kegagalan dapat terhadap nilai Risk Priority Number (RPN) dan
Sangat rendah 1
dieliminasi probability impact matrix.

Penilaian terhadap detection bertujuan untuk


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
mengetahui seberapa besar kemungkinan kegagalan-
kegagalan tersebut dapat di deteksi dengan maksimal. 1. Hasil Perhitungan Nilai RPN

73
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

Pemasangan
Tahap perhitungan yang pertama kali dilakukan 16 body dengan 5.5 6.2 7.3 249
interior
adalah perhitungan nilai RPN (Risk Priority Number).
Finishing Pemasangan
Perhitungan RPN memiliki rumus sebagai berikut: 17 7.7 7.2 7.8 432.4
as roda
Pemasangan
RPN = severity x occurrence x detection. 18 4.5 4.5 4.5 91.1
roda

Melalui proses wawancara yang sudah dilakukan Nilai RPN yang dihasilkan pada tabel 4 merupakan
sebelumnya, maka didapatkan 18 buah proses hasil perkalian dari tiga kriteria penilaian, yaitu
produksi, diman setiap proses memiliki risiko. Setelah severity, occurrence, dan detection. Sebagai contoh,
diketahui seluruh proses produksi pembuatan miniatur pada proses perencanaan menentukan desain produk
bis, selanjutnya dilakukan penyebaran kuesioner yang memiliki nilai severity sebesar 6.2, nilai
untuk mengetahui rata-rata nilai severity, occurrence, occurrence sebesar 6.3, dan nilai detection sebesar 7.5,
dan detection. Dibawah ini merupakan tabel maka hasil perkalian ketiga nilai kriteria tersebut akan
perhitungan nilai RPN: menghasilkan nilai RPN sebesar 293. Perhitungan ini
dilakukan pada seluruh proses produksi pembuatan
Tabel 4. Tabel Perhitungan RPN
miniatur bis UKM Niki Kayoe.
Aktivitas/Ko O D
Proses SE
No mponen C E RPN
Produksi V Dari hasil perhitungan RPN pada tabel 4.1,
Proses C T
selanjutnya dilakukan penentuan urutan-urutan mulai
Menentukan dari risiko yang paling kritis (nilai RPN yang paling
1 6.2 6.3 7.5 293
desain produk
Perencan tinggi), yaitu proses pengecatan dengan air brush (12),
aan Merencanaka proses perencanaan kebutuhan bahan baku (2),
2 n kebutuhan 8.3 7.8 8.2 530.9
bahan baku pemasangan as roda (17), pemasangan lampu depan
dan belakang (10), dan penentuan desain produk
Pembuata Membuat
3 4.5 5 5.8 130.5 sesuai pesanan (1). Data-data tersebut merupakan lima
n Pola pola
besar urutan penilaian RPN pada proses produksi
Pemotongan
4 kayu dengan 4.5 5.3 5.2 124 UKM Niki Kayoe.
Pemoton gergaji
gan Melakukan
2. Hasil Perhitungan Probability Impact Matrix
5 pemotongan 5.5 3 4.2 69.3
bagian profil
Menyatukan Menurut Hoseynabadi (2010), probability impact
6 5.2 4.8 4.5 112.3
bagian body matrix merupakan salah satu metode pendeteksi risiko
Pengelem Pengeleman
7 an 6.5 5.3 3.5 120.6 pada proses produksi yang bertujuan untuk
kursi
Pengeleman menentukan daerah prioritas risiko dengan
8 2.8 2.2 5.7 35.1
bagian AC mempertimbangkan nilai severity dan nilai
Pemasangan occurrence. Dasar perhitungan probability impact
9 4.8 5.7 7.5 205.2
Perakitan kaca
matrix tentu berbeda dengan perhitungan nilai RPN
eksterior
Pemasangan pada metode FMEA. Jika perhitungan RPN
10 8.3 6.5 6.5 350.7
lampu
menggunakan tiga kriteria utama (severity,
Pendempulan
11
Pendemp
pada body 5 3.5 6.3 110.3
occurrence, dan detection) untuk mengetahui tingkat
ulan
eksterior risiko, sedangkan probability impact matrix hanya
Pengecatan menggunakan dua kriteria utama untuk menentukan
12 dengan air 8.7 8.2 8.3 592.1 prioritas risiko, dua item utama tersebut yaitu nilai
Pengecat brush
severity dan nilai occurrence.
an
Penggunaan
13 5.8 4.7 5.3 144.5
media stiker
Nilai rata-rata kriteria severity dan occurrence
Pemasangan didasarkan pada data sesuai dengan hasil rekap
14 4.2 4.8 8.3 167.3
tirai
Perakitan kuesioner yang sudah dilakukan. Nilai rata-rata
interior
Pemasangan severity dan occurrence pada sistem penilaian
15 3.7 4.8 7.7 136.8
kabin

74
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

probability impact matrix ini dimasukkan dengan yang memiliki range 1-4 dinilai sebagai tingkatan
pembulatan ke atas terhadap nilai desimal yang lebih yang sangat rendah (lihat tabel 6). Selain itu, gambar
besar sama dengan 0.5 ( 0.5) dan sebaliknya, 1 merupakan penilaian probability impact matrix pada
pembulatan ke bawah terhadap nilai desimal yang proses produksi UKM Niki Kayoe.
lebih kecil dari 0.5 (< 0.5). Tabel 4.2 merupakan nilai
rata-rata dari kriteria severity dan occurrence yang Tabel 6. Tabel Tingkat Penilaian Risiko

menjadi input untuk probability impact matrix. Tabel


Tingkatan Dampak Probabilitas
5 merupakan nilai rata-rata severity dan occurrence
pada 18 proses produksi sesuai dengan hasil rekap Sangat rendah 1-4 1-4
keusioner.
Rendah 5 5
Tabel 5. Tabel Rata-Rata Nilai Severity dan Occurence
Sedang 6 6
Dari hasil rata-rata penilaian severity dan
occurrence diatas, maka dapat diketahui hasil Tinggi 7-8 7-8
pemetaan risiko dari seluruh proses produksi pada

No. Penilaian Sangat tinggi 9-10 9-10


Penilaian Severity
Risiko Occurrence
Gambar 1. Hasil Perhitungan Probability Impact Matrix
1 6.2 6.3 Sangat
Tinggi
2 8.3 7.8
2, 10,
3 4.5 5 Tinggi 12
Probabilitas

17
4 4.5 5.3
Sedang 9 1, 16
5 5.5 3
6 5.2 4.8 3, 4, 6,
Rendah 14, 15 13 7
18
7 6.5 5.3
Sangat
Rendah
8, 11 5
8 2.8 2.2
9 4.8 5.7 Sangat Sangat
Rendah Sedang Tinggi
Rendah Tinggi
10 8.3 6.5
Dampak
11 5 3.5
12 8.7 8.2 Keterangan:
Dampak = Severity
13 5.8 4.7 Probabilitas = Occurrence
14 4.2 4.8
Dari hasil penilaian probability impact matrix pada
15 3.7 4.8 gambar 1, maka dapat diperoleh item-item proses
16 5.5 6.2 produksi yang memiliki tingkat risiko tergolong kritis
17 7.7 7.2 dan harus segera dilakukan mitigasi. Terdapat lima
proses produksi miniatur bis Niki Kayoe yang
18 4.5 4.5 tergolong kritis menurut penilaian probability impact
UKM Niki Kayoe. Tabel 5 merupakan tabel mengenai matrix yaitu proses perencanaan kebutuhan bahan
tingkat penilaian risiko, dimana terdapat lima baku (2), proses pengeleman bagian kursi dan kabin
tingkatan, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, (interior) pada chassis (7), proses pemasangan lampu
dan sangat tinggi. Setiap tingkatan memiliki range bagian depan dan belakang (10), proses pengecatan
masing-masing untuk penilaian dampak serta dengan air brush (12), proses pemasangan as roda
probabilitas. Misalnya nilai severity dan occurence (17). Untuk mengurangi tingkat risiko maupun tingkat

75
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

teknik perkalian untuk nilai severity, occurrence, serta


Probability detection, sedangkan untuk perhitungan probability
No Nama Proses RPN
Impact Matrix
impact matrixhanya dibutuhkan nilai rata-rata dari
Penentuan desain severity dan occurrence untuk menentukan tingkat
1
produk sesuai pesanan risiko proses produksi. Untuk lebih jelasnya
Perencanaan kebutuhan perbandingan antara hasil nilai RPN serta probability
2
bahan baku impact matrix, lihat tabel 7.
Pengeleman bagian
Tabel 7. Perbandingan nilai RPN dan Probability Impact Matrix
3 kursi dan kabin
(interior) pada chassis

Pemasangan lampu
4 Pada metode RPN, proses produksi penentuan
depan dan belakang
desain produk sesuai pesanan (1), digolongkan sebagai
Pengecatan dengan air
5 proses produksi yang kritis, sedangkan pada
brush
probability impact matrix proses tersebut tidak
6 Pemasangan as roda tergolong kritis. Proses penentuan desain produk dapat
kegagalan pada proses produksi miniatur bis tersebut, dinilai kritis sebab tidak semua pesanan produk dapat
maka perlu dilakukan mitigasi risiko pada kelima dikerjakan oleh UKM Niki Kayoe apabila tidak sesuai
proses yang tergolong kritis tersebut. standar perusahaan, selain itu banyak juga pesanan
yang sifatnya custom (model sesuai keinginan
3. Perbandingan Nilai Hasil RPN dan Probability konsumen), sehingga membuat sulit operator untuk
Impact Matrix mengerjakan pesanan tersebut apabila tidak sesuai
dengan pola dan desain yang ada. Sebaliknya, pada
Menurut perhitungan-perhitungan terhadap tingkat metode probability impact matrix proses produksi
risiko yang sudah dilakukan dengan menggunakan pengeleman bagian kursi dan kabin (interior) pada
metode risk priority number (RPN) dan probability chassis (7), dinilai sebagai sebuah proses produksi
impact matrix, selanjutnya hasil perhitungan tersebut yang tergolong kristis, sedangkan penilaian menurut
akan dibandingkan untuk mengetahui proses produksi metode RPN proses produksi tersebut tidak tergolong
yang tergolong kritis. Untuk hasil perhitungan risiko kritis.
yang paling kritis dengan metode RPN, terdapat lima
proses produksi yang tergolong paling kritis, proses- 4. Perhitungan FMEA Cost Based
proses produksi tersebut diantaranya proses
pengecatan dengan air brush (12), proses perencanaan Di dalam sebuah tabel FMEA cost based, terdapat
kebutuhan bahan baku (2), pemasangan as roda (17), kolom input serta kolom output. Kolom input terdiri
pemasangan lampu depan dan belakang (10), dan dari Re-occuring (banyaknya peristiwa kegagalan
penentuan desain produk sesuai pesanan (1). terulang), frekuensi kegagalan, waktu deteksi, waktu
perbaikan, waktu penundaan, loss time (waktu yang
Pada perhitungan probability impact matrix terbuang akibat kegagalan), kuantitas, parts cost.
terdapat lima proses produksi yang dinilai memiliki Sedangkan pada kolom output terdapat tiga biaya,
tingkat risiko paling kritis, proses-proses produksi diantaranya biaya tenaga kerja, biaya material, dan
tersebut diantaranya proses perencanaan kebutuhan biaya kesempatan. Kolom yang teakhir adalah kolom
bahan baku (2), proses pengeleman bagian kursi dan expected failure cost atau biaya-biaya yang muncul
kabin (interior) pada chassis (7), proses pemasangan akibat kegagalan.
lampu bagian depan dan belakang (10), proses Pada kolom input, nilai-nilai untuk pengisian
pengecatan dengan air brush (12), proses pemasangan kolom re-occuring, frekuensi, waktu deteksi, waktu
as roda (17). Kedua metode tersebut (RPN dan perbaikan, waktu penundaan, kuantitas, serta parts
probability impact matrix) sama-sama memberikan cost dihasilkan dari proses wawancara yang dilakukan
hasil penilaian yaitu lima proses produksi yang dengan kepala bagian produksi UKM Niki Kayoe.
tergolong memiliki tingkat risiko paling kritis. Akan Sedangkan untuk pengisian kolom loss time
tetapi terdapat satu proses yang berbeda diantara didapatkan melalui rumus:
keduanya, sebab perhitungan nilai RPN menggunakan

76
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

Loss Time = (waktu deteksi + waktu perbaikan +


waktu penundaan) Dimana:
p: Probabilitas kegagalan yang terjadi
Sedangkan untuk pengisian biaya tenaga kerja, c: Biaya-biaya yang muncul pada kegagalan
biaya material, serta biaya kesempatan pada kolom n: Jumlah kegagalan
output, dihasilkan melalui rumus sebagai berikut:
Data-data lain yang didapatkan melalui proses
Biaya Tenaga Kerja = Frekuensi {[Waktu wawancara yaitu upah tenaga kerja per bulan sebesar
Deteksi upah tenaga kerja # Operator] + [Waktu Rp. 900.000,00 atau Rp. 3.750,00/jam dengan jumlah
Perbaikan Upah tenaga kerja #Operator pekerja sebanyak 6 orang. Selain itu, juga didapatkan
Kuantitas] + [Waktu Perbaikan Upah tenaga kerja data mengenai biaya kesempatan yang diperoleh
#Operator]} UKM Niki Kayoe yaitu sebesar Rp. 187.500,00/jam.
Data biaya kesempatan per jam ini digunakan untuk
Biaya Material = Frekuensi Re-occuring mengisi total biaya kesempatan yang terdapat pada
kolom output. Dari data-data yang sudah didapatkan,
kuantitas Parts cost
maka akan diketahui total expected failure cost,
Biaya Kesempatan = Loss time Opportunity seperti pada tabel 8 di bawah ini.
cost

Tabel 8. Perhitungan FMEA Cost Based


Di bawah ini merupakan rumus yang digunakan 5. Analisis Sebab Akibat Risiko yang Tergolong
Kritis
untuk menghitung expected failure cost:
Berdasarkan hasil identifikasi risiko yang sudah
Expected failure cost = dilakukan pada UKM Niki Kayoe, maka didapatkan

Input Output
Biaya Tenaga Kerja (Rp)
Waktu Penundaan (Jam)
Waktu Perbaikan (Jam)

Biaya Kesempatan (Rp)


Waktu Deteksi (Jam)

Loss Time (Jam)

Biaya Material
Parts cost (Rp)
Re-occuring

Kuantitas
Frekuensi

No
Risiko Biaya Ekspektasi
Kegagalan

2 1 12 0.25 2 1.5 3.75 1 100.000 1.012.500 1.200.000 703.125 Rp. 2.915.625,00

7 1 24 0.08 0.5 0 0.58 1 75.000 313.200 1.800.000 108.750 Rp. 2.221.950,00

10 1 8 0.08 0.65 0 0.73 4 35.000 582.400 1.120.000 136.875 Rp. 1.739.275,00

12 1 15 0.17 2.5 2 4.67 1 150.000 1.576.125 2.250.000 875.625 Rp. 4.701.750,00

17 1 11 0.08 1 0 1.08 2 25.000 514.800 550.000 202.500 Rp. 1.267.300,00

Total Biaya Ekspektasi


Rp. 12.845.900,00
Kegagalan
77
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

18 risiko yang berpotensi menggangu proses produksi


serta kualitas produk. Melalui hasil perhitungan
tingkat risiko dengan metode RPN dan probability
impact matrix maka didapatkan enam proses produksi
yang tergolong kritis. Sebelum dilakukan mitigasi,
tahap awal yang harus dilakukan yaitu
mengidentifikasi sebab dan akibat dari seluruh risiko
proses produksi yang tergolong kritis. Proses
identifikasi sebab akibat disertai juga dengan
penggunaan diagram Ishikawa. Adapun risiko-risiko
yang tergolong kritis tersebut sebagai berikut:

a) Desain yang dipesan tidak dapat diproduksi

d) Lampu depan dan belakang mudah lepas

b) Kesulitan menentukan jumlah bahan baku

e) Warna dan livery tidak sesuai

c) Pengeleman yang kurang kuat dan mudah


lepas pada bagian kursi dan kabin

f) As roda tidak presisi dan mudah terlepas

78
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

pemesanan setiap bulan, supaya dapat diprediksi rata-


rata pemesanan dalam satu bulan. Hal ini
memudahkan UKM Niki Kayoe untuk melakukan
penjadwalan pembelian bahan baku setiap bulannya,
agar tidak kelebihan ataupun kekurangan stok bahan
baku.

Risiko kegagalan pengeleman yang kurang kuat


pada bagian kursi dan kabin terjadi karena sebagian
besar bahan-bahan yang digunakan untuk bagian
interior memiliki ukuran kecil, sehingga dibutuhkan
ketelitian operator dalam melakukan pengeleman.
Terdapat dua bagian utama yang sering terjadi
kesalahan pada proses pengeleman interior yaitu pada
bagian kursi dan bagian kabin bis. Untuk
6. Mitigasi Risiko memperbaiki proses produksi ini, maka diperlukan
operator yang teliti serta mampu bekerja secara rapih
Risiko desain yang dipesan tidak dapat diproduksi pada proses pengeleman. Untuk material dibutuhkan
ini terjadi dikarenakan sebagian besar konsumen ukuran alas kursi yang lebih tebal dan besar, sehingga
melakukan pemesanan sesuai dengan keinginan memudahkan proses pengeleman, sedangkan untuk
mereka (custom), dan sebagian besar konsep produk louver air conditioner lebih baik menggunakan media
yang diajukan tidak sesuai dengan standar produksi stiker, agar memudahkan proses penempelan,
perusahaan. Akibat dari risiko ini perusahaan tidak daripada harus menggunakan lem yang dapat bersiko
mampu membuat produk sesuai dengan konsep tidak rapih. Dari segi pengukuran, setiap chassis tentu
produk yang diajukan konsumen. Oleh karena itu, memiliki panjang yang berbeda-beda. Untuk itu
untuk dapat mengurangi risiko kegagalan pada tahap perusahaan perlu membuat sebuah daftar mengenai
ini, perusahaan harus membuat sebuah daftar standar ukuran panjang serta lebar dari masing-masing
produk yang dapat dipesan, agar konsumen chassis, tujuannya agar memudahkan operator untuk
melakukan pemesanan sesuai dengan standar menentukan tempat penempelan kursi yang presisi
produksi perusahaan. Dalam hal ini standar produk pada chassis. Apabila perusahaan sudah membuat
miniatur bis dapat berupa body, interior, serta chassis. sebuah daftar mengenai letak penempelan kursi yang
Tiga item ini harus dijadikan sebuah sketsa, yang presisi pada masing-masing chassis, hal ini tentu
nantinya dapat membantu konsumen dalam dapat mengurangi tingkat potensi risiko kegagalan
melakukan pemesanan serta membantu perusahaan pada proses pengeleman bagian kursi dan kabin
dalam hal menciptakan sebuah standar produk sesuai (interior) diatas chassis.
dengan proses produksi yang mampu dilakukan oleh
perusahaan. Risiko kegagalan keempat yaitu lampu yang
mudah lepas, hal ini sering terjadi pada proses
Risiko kegagalan menentukan jumlah bahan baku produksi UKM Niki Kayoe, khususnya pada tiga
disebabkan karena perusahaan belum memahami bulan terakhir. Untuk memperbaiki proses ini maka
proses penjadwalan dengan baik, akibatnya sering diperlukan sebuah mesin pemotong plastik, agar hasil
terjadi keterlambatan produksi dan produk jadi yang potongan jauh lebih rapih, dibandingkan
dibuat tidak dapat diselesaikan sesuai dengan menggunakan gergaji. Selain itu, perbaikan juga harus
deadline yang sudah ditentukan. Pada UKM Niki dilakukan pada proses pengukuran standar masing-
Kayoe sampai saat ini belum menggunakan sistem masing lampu, sehingga perusahaan sudah
penjadwalan untuk pembelian bahan baku, karena mempunyai standar ukuran-ukuran untuk model-
UKM ini menerapkan sistem make to order model lampu yang berbeda pada masing-masing body
(menunggu pesanan datang, kemudian perusahaan eksterior miniatur bis. Jika pengukuran, serta
membeli bahan baku). Untuk mengatasi hal pemotongan sudah baik, tentu pengerjaan proses
penyebab-penyebab munculnya sebuah risiko, maka pengeleman akan lebih mudah dilakukan, dan tingkat
UKM Niki Kayoe harus membuat sebuah daftar

79
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

kerapihannya pasti lebih tinggi (sesuai dengan ukuran menjadi besi, cukup menggunakan bahan baku kayu,
cetakan rumah lampu pada body yang sudah dibuat). namun dengan ukuran diameter yang lebih kecil.
Perbaikan ini tentu dapat mengurangi cost serta Proses yang dilakukan yaitu as roda cukup
penghambatan proses produksi pada UKM Niki dimasukkan ke dalam tabung berlubang yang sudah
Kayoe. menempel dengan chassis, dan as roda yang terbuat
dari kayu tersebut tinggal dimasukkan ke dalam
Risiko kegagalan yang kelima yaitu warna dan tabung berlubang yang sudah menempel, kemudian
livery yang tidak sesuai pesanan, dimana risiko ini dilakukan pemasangan roda. Tentu proses ini akan
merupakan salah satu risiko yang memiliki potensi lebih mudah dikerjakan dan bahan baku yang
kegagalan paling besar pada UKM Niki Kayoe. digunakan akan lebih kuat untuk jangka waktu lama.
Risiko ini biasanya terjadi pada proses pengecatan Demikianlah solusi-solusi perbaikan yang dapat
dengan media air brush. Oleh karena itu, perusahaan diterapkan untuk proses produksi pemasangan as roda
harus berkomunikasi secara jelas dengan konsumen pada UKM Niki Kayoe, dengan tujuan untuk
mengenai desain bis apa yang hendak dipesan, apabila meminimalisasi potensi tingkat kegagalan dan
perusahaan tidak memiliki foto (gambar) bis yang mengurangi biaya-biaya perbaikan (rework).
ingin dipesan oleh konsumen, maka perusahaan harus
mencari gambar tersebut melalui internet atau website
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
yang berhubungan dengan bis tersebut. Akan tetapi,
jika konsumen memesan livery tersebut sesuai
custom, maka perusahaan harus meminta desain dari Berdasarkan penelitian, pengolahan, serta analisis
konsumen baik softcopy atau hardcopy secara rinci. data yang sudah dilakukan mengenai risiko kualitas
serta ekspektasi biaya kegagalan dengan FMEA cost
Risiko kegagalan yang terakhir yaitu as roda yang based pada proses produksi UKM Niki Kayoe, maka
tidak presisi dan mudah lepas. Risiko As roda yang dapat ditarik bebrapa kesimpulan sebagai berikut:
tidak presisi dan mudah lepas terjadi pada tahap
finishing, khususnya pada proses produksi 1) Berdasarkan proses identifikasi risiko
pemasangan as roda. Risiko ini sering terjadi karena menggunakan metode FMEA yang sudah
kesalahan pemotongan pada as roda yang dilakukan dilakukan pada UKM Niki Kayoe, maka
oleh operator, akibatnya ukuran as roda tidak sesuai didapatkan data bahwa terdapat 18 kejadian
dengan ukuran lebar chassis dan roda depan maupun risiko yang berpotensi menganggu proses
belakang tidak dapat terpasang dengan seimbang. produksi dan dapat mempengaruhi kualitas
Selain itu posisi penempelan as roda juga sering tidak produk miniatur bis, dimana risiko-risiko
presisi antara sisi kiri dan sisi kanan karena tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1.
pengukuran yang salah, sehingga roda tidak dapat 2) Berdasarkan hasil perhitungan risiko dengan
terpasang dengan pas. Terdapat dua solusi perbaikan metode Risk Priority Number atau RPN, terdapat
yang dapat dilakukan perusahaan, solusi pertama lima risiko yang tergolong kritis mengalami
yaitu merubah bahan baku as roda yang awalnya kayu kegagalan pada proses produksi UKM Niki
menjadi besi, sehingga as roda dengan chassis dapat Kayoe, risiko-risiko kegagalan tersebut
menempel jauh lebih kuat. Akan tetapi, apabila bahan diantaranya terdapat pada proses penentuan
baku as roda dirubah menjadi besi, terdapat kesulitan desain produk sesuai pesanan (1), proses
pada proses pemotongan baik untuk panjang maupun perencanaan kebutuhan bahan baku (2), proses
diameter, sebab pemotongan harus menggunakan alat pemasangan lampu depan dan belakang (10),
pemotong besi. Solusi kedua yaitu membuat sebuah proses pengecatan dengan air brush (12), dan
tabung berlubang yang terbuat dari besi dan proses pemasangan as roda (17), dan risiko-
menempel pada chassis. Sehingga chassis yang risiko tersebut harus segera dimitigasi.
terbuat dari kayu tersebut menempel dengan tabung Berdasarkan hasil perhitungan risiko dengan
berlubang yang terbuat lempengan besi, sehingga metode probability impact matrix atau pemetaan
tingkat kekuatan rekatan akan jauh lebih kuat karena risiko, terdapat lima risiko yang tergolong kritis
besi yang tertempel dengan kayu (chassis). Untuk mengalami kegagalan pada proses produksi
solusi kedua ini bahan baku as roda tidak perlu diubah UKM Niki Kayoe, risiko-risiko kegagalan
tersebut diantaranya terdapat pada proses

80
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

perencanaan kebutuhan bahan baku (2), proses produksi serta waktu untuk dilakukan perbaikan,
pengeleman bagian kursi dan kabin (interior) agar perusahaan mampu mencapai target
pada chassis (7), proses pemasangan lampu produksi sesuai deadline.
bagian depan dan belakang (10), proses
pengecatan dengan air brush (12), dan proses Saran yang diberikan penulis berdasarkan
pemasangan as roda (17), dan risiko-risiko penelitian ini untuk pengembangan penelitian serupa
tersebut harus segera dimitigasi. kedepan adalah sebagai berikut:
3) Dari hasil penilaian risiko menggunakan metode
FMEA cost based dapat disimpulkan bahwa 1) Pada penelitian berikutnya dapat dilakukan
total ekspektasi biaya akibat adanya failure yang perhitungan biaya (expected failure cost) dengan
terjadi pada UKM Niki Kayoe selama tiga bulan menggunakan metode monte carlo serta pareto
terakhir (Juni, Juli, Agustus) yaitu sebesar Rp. diagram, yang selanjutnya disimulasikan dengan
12.845.900,00. Biaya kegagalan tersebut terjadi software crystal ball untuk hasil perhitungan
akibat adanya risiko-risiko kegagalan pada FMEA cost based.
proses produksi yang dinilai kritis. 2) Pada penelitian berikutnya dapat dikembangkan
4) Dari hasil analisis penyebab terjadinya risiko untuk melihat pengaruh seluruh kegagalan yang
kegagalan dalam diagram sebab akibat, terjadi pada proses produksi dengan sistem
selanjutnya dilakukan langkah perbaikan dengan penjadwalan mulai dari bahan baku hingga
menggunakan metode poka yoke. Adapun usulan menjadi produk jadi sampai dapat diterima oleh
perbaikan dengan metode poka yoke yakni konsumen.
dengan memberikan standar-standar ukuran
pada setiap material yang akan dirangkai,
merubah bahan baku pada part as roda dari kayu V. REFERENSI
menjadi besi, melakukan penambahan operator,
melakukan pelatihan kepada operator agar Ahsen, Anette. (2008). Cost-oriented failure mode
memiliki keahlian, memberikan standarisasi and effect analysis. Darmstadt University,
kerja yang jelas kepada operator, dan melakukan Darmstadt, Germany. International Journal of
kontrol secara teliti pada masing-masing proses
Quality and Reliability Management, Vol. 25, No.
produksi.
5, pp. 466-476.
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan Dale, B. and Shaw, P. (1990). Failure mode and
diatas, maka penulis memberikan beberapa saran effects analysis in the UK motor industry: a state-
untuk UKM Niki Kayoe, diantaranya:
of-art study, Quality and Reliability Engineering
1) Perusahaan dapat melakukan usulan mitigasi
risiko yang sudah diberikan oleh penulis, untuk International, Vol. 6, pp. 179-88.
mengurangi risiko kegagalan pada proses Ishikawa, Kaoru. (1976). Guide to Quality Control.
produksi, serta meminimalisasi cost yang Asian Productivity Organization. Tokyo: JUSE.
dikeluarkan perusahaan tiap bulannya. Melalui
Kosuke, Ishii., Seung J. Rhee. (2003). Using cost
proses mitigasi tersebut, selanjutnya perusahaan
dapat melakukan evaluasi kembali dengan based FMEA to enhance reliability and
menggunakan metode FMEA serta FMEA cost servieability.Advanced Engineering Informatics,
based untuk melihat failure serta biaya-biaya volume 17, pp. 179-188.
yang dikeluarkan setelah dilakukan proses
Oakland, J.S. (1989). Total Quality Management.
mitigasi.
2) Sekalipun hanya sebuah UKM, perusahaan London: Heinemann Professional Publishing Ltd.
seharusnya memiliki kelengkapan data-data Palady, Paul. (1995). Failure Modes and Effects
perusahaan, baik mengenai dokumen, Analysis: Predicting and Preventing Problems
pemesanan, data hasil produksi, data mengenai
Before They Occur, Atlantic Books.
produk cacat, serta data mengenai interval waktu

81
Jurnal GEMA AKTUALITA, Vol. 3 No. 2, Desember 2014

Rhee, Seung J. and Cherrill M. Spencer. (2003).


Cost based failure modes and effects analysis
(FMEA) for systems of accelerator magnets,
Proceedings, Particle Accelerator Conference,
May 2003.
Sankar, N.R. and Prabhu, B.S. (2001), Modified
approach for prioritization of failures in a system
failure mode effect analysis, International Journal
of Quality & Reliability Management, Vol. 18 No.
3, pp. 324-35.
Shimbun, Nikkan Kogyo. (1988). Poka Yoke:
Improving Product Quality By Preventing
Defect. Portland : Productivity Press.
Shingo, S. (1985). Zero Quality Control: Source
Inspection and the Poka Yoke System,
Productivity Press, Cambridge, MA.
Shingo, S. (1986). Zero Quality Control: Source
Inspection and the Poka-Yoke System,
Productivity Press, Portland, OR.
Shourty, Vivek., Ambekar, Swanpil., (2008). A
Review: Implementation of Failure Mode and
Effect Analysis. International Journal of
Engineering and Innovative Technology
(IJEIT). Volume 2, Issue 8, pp. 37-40.
Teng, S. and Ho, S., (1994). Reliability analysis in
a concurrent product design procedure,
Proceedings of the Third International
Conference on Automation Technology, Vol. 2,
pp. 99-106.
Stulz, R. (2003). Risk Management & Derivatives
(1st ed.). Mason, Ohio: Thomson South-
Western.

82