Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH

SEMINAR AKUNTANSI

IAS 38 ASET TIDAK BERWUJUD

NAMA : NISRINA NUR RACHMAYANI


NIM : 1511060086
KELAS : AKUNTANSI KELAS KARYAWAN 6604

Perbanas Institute
PEMBAHASAN

PENDAHULUAN

Definisi Aset Tidak Berwujud


Berdasarkan PSAK 19 paragraf 8 (revisi 2009) aset tidak berwujud adalah aset non-
moneter yang dapat diidentifikasi tanpa wujud fisik.
Aset ini dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau
jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif. Aset tetap tidak
berwujud diakui jika dan hanya jika:
a. Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depa dari
aktiva tersebut, dan
b. Biaya perolehan aset tersebut dapat dikur secara andal.

ASET TIDAK BERWUJUD

Berdasarkan PSAK 19 paragraf 8 (revisi 2009) aset tidak berwujud adalah aset non-
moneter yang dapat diidentifikasi tanpa wujud fisik.
Aset ini dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau
jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif. Aset tetap tidak
berwujud diakui jika dan hanya jika:
1. Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depa dari
aktiva tersebut, dan
2. Biaya perolehan aset tersebut dapat dikur secara andal.

KARAKTERISTIK ASET TIDAK BERWUJUD

Aset tidak berwujud memiliki tiga karakteristik utama, yaitu:


1. Kurang memiliki eksistensi fisik
Aset tidak berwujud memperoleh nilai dari hak dan keistimewaan atau privilege yang
diberikan kepada perusahaan yang menggunakannya.
2. Bukan merupakan instrumen keuangan
Aset tidak berwujud merupakan instrumen keuangan dan menghasilkan nilainya dari
hak (klaim) untuk menerima kas atau ekuivalen kas di masa depan.
3. Bersifat jangka panjang dan menjadi subjek amortisasi
Aset tidak berwujud menyediakan jasa selama periode bertahun-tahun. Investasi
dalam aset ini biasanya dibebankan pada periode masa mendatang melalui beban
amortisasi periodik.

Selain tiga karakteristik utama tersebut, terdapat juga beberapa karakteristik pendukung
aset tidak berwujud, yaitu:
1. Aset tidak berwujud diperoleh melalui pencairan/pengembangan atau dibeli baik
secara terpisah atau menjadi satu dengan aset lain;
2. Aset tidak berwujud digunakan dalam operasi perusahaan secara tidak langsung;
3. Aset tidak berwujud sangat dipengaruhi oleh aktivitas pesaing;
4. Aset tidak berwujud hanya memiliki nilai pada suatu perusahaan;
5. Aset tidak berwujud bukan ditentukan umur ekonomisnya.

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Aset tidak berwujud diakui, jika (par 20):


1. Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari
aset tsb.
2. Biaya perolehan aset tsb dapat diukur secara andal

Perolehan aset tidak berwujud


1. Pembelian tunai
Jika aset tidak berwujud diperoleh secara terpisah, biaya aset tidak berwujud biasanya
dapat diukur secara wajar. Hal ini akan tampak jelas jika pembayaran dilakukan
dalam bentuk uang tunai atau aset moneter lainnya (par 24). Biaya perolehan aset
tidak berwujud terdiri atas harga beli, termasuk bea masuk (impor), pajak yang
sifatnya tidak dapat direstitusi (nonrefundable) dan semua pengeluaran yang dapat
dikaitkan langsung dalam mempersiapkan aset tsb sehingga siap digunakan sesuai
dengan tujuan (par 25).

Tanggal 1 April 2009 PT A membeli hak patent dengan harga Rp.1.000.000.000.


Jurnal:
Patent Rp. 1.000.000.000 -
Kas -
Rp.1.000.000.000
2. Pembelian angsuran
Aset tidak berwujud yang dibeli secara kredit, biaya perolehannya sebesar nilai
tunainya. Selisih antara jumlah pembayaran dengan nilai tunai dicatat sebagai beban
bunga ditangguhkan.

3. Pertukaran aset
Aset tidak berwujud yang diperoleh melalui pertukaran aset sejenis atau pertukaran
aset tidak sejenis. Biaya perolehan aset tidak berwujud diukur sebesar nilai wajar aset
yang diterima, yang sama dengan nilai wajar aset yang diserahkan setelah
diperhitungkan jumlah uang tunai atau kas yang diserahkan (par 28).

PT A menukar tanah dengan Patent. Nilai wajar tanah sebesar Rp.200.000.000. dan
kas yang dibayar PT A Rp.800.000.000.
Nilai wajar tanah Rp.200.000.000
Kas yang dibayarkan Rp.800.000.000 +
Biaya perolehan patent Rp.1.000.000.000
Jurnal:
Patent Rp.1.000.000.000
Tanah - Rp.200.000.000
Kas - Rp.800.000.000

4. Ditukar dengan instrumen ekuitas perusahaan


Aset tidak berwujud yang diperoleh dengan menukarnya dengan instrumen
perusahaan pelapor, biaya perolehannya adalah nilai wajar instrumen yang diterbitkan
yaitu sama dengan nilai wajar aset tsb (par 27).
PT A menukar 1.000.000 lembar saham biasa dengan patent. Nilai nominal saham
biasa sebesar Rp.10.000/lembar, harga pasar saham biasa pada saat pertukaran
sebesar Rp.11.000/lembar. Buatlah jurnal untuk mencatat pertukaran saham.

5. Aset tidak berwujud yang dihasilkan secara internal


Ada dua tahap yaitu tahap penelitian (riset) dan tahap pengembangan.
Biaya perolehan sebesar jumlah pengeluaran yang dilakukan sejak tanggal aset tidak
berwujud pertama kali memenuhi kriteria pengakuan.

Pengukuran setelah pengakuan awal


Setelah pengakuan awal, aset tidak berwujud dinilai sebesar biaya perolehannya
dikurangi akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai (par 57).
Jumlah yang dapat diamortisasi dari aset tidak berwujud harus dialokasikan secara
sismatis berdasarkan perkiraan terbaik masa manfaatnya. Pada umumnya masa
manfaat aktiva tidak berwujud tidak akan melebihi 20 tahun sejak tanggal aset
siap digunakan. Amortisasi harus dimulai dihitung saat aset siap digunakan (par
58).
Neraca

Patent Rp.100 juta


Akumulasi
Amortisasi
Patent Rp. 5 juta
Rp.95 jt

Jenis aset tidak berwujud


1. Patent adalah hak yang diberikan kepada pihak yang menemukan sesuatu hal baru
untuk membuat, menjual atau mengawasi penemuannya selama jangka waktu 17
tahun.
2. Hak cipta (copyright) adalah hak yang diberikan kepada pengarang atau pemain
(artis atau aktor) untuk menerbitkan, menjual atau mengawasi karangannya,
musik atau pekerjaan pementasan selama jangka waktu 28 tahun.
3. Merk dagang. Merk dagang harus didaftarkan sehingga akan dilindungi oleh
undang-undang.
4. Franchises adalah hak yang diberikan oleh suatu fihak (franchisor) kepada fihak
lain untuk menggunakan fasilitas yang dimiliki oleh franchisor.
5. Leasehold adalah hak dari penyewa untuk menggunakan aset tetap dalam suatu
perjanjian sewa menyewa.
6. Goodwill adalah semua kelebihan yang terdapat dalam suatu usaha seperti letak
perusahaan, nama yang terkenal, pimpinan yang ahli dll. Goodwill timbul jika ada
penggabungan perusahaan.
PT A membeli PT B dan digabungkan menjadi satu.
Harga beli PT B Rp.1.000.000.000
Nilai wajar aktiva PT B:
Kas Rp.50.000.000
Surat berharga Rp.50.000.000
Piutang dagang Rp.100.000.000
Persediaan barang Rp. 50.000.000
Tanah Rp.200.000.000
Gedung Rp.400.000.000
Peralatan toko Rp.100.000.000 +
Rp.950.000.000
Utang dagang Rp. 50.000.000 -
Total aktiva bersih Rp. 900.000.000
Goodwill Rp. 100.000.000

a. Biaya penelitian dan pengembangan

Metode amortisasi
Metode amortisasi harus mencerminkan pada konsumsi manfaat ekonomis oleh
perusahaan. Jika pola tsb tidak dapat ditentukan secara andal, maka harus
digunakan metode garis lurus. Biaya amortisasi setiap periode harus diakui
sebagai beban kecuali PSAK lainnya mengijinkan atau mengharuskannya untuk
dimasukkan kedalam nilai tercatat aset lain (par 67).
Metode amortisasi:
1. Metode garis
2. Metode saldo menurun
3. Metode jumlah unit produksi (par 68)
Periode amortisasi dan metode amortisasi ditelaah setidak-tidaknya setiap akhir
tahun. Jika perkiraan masa manfaat aset berbeda secara signifikan dengan
estimasi-estimasi sebelumnya, periode amortisasi harus disesuaikan. Jika terjadi
perubahan yang signifikan dalam perikiraan pola konsumsi manfaat ekonomis
dari aset, metode amortisasi harus dirubah untuk mencerminkan pola yang
berubah tsb. (par 72).
BP - NS
Amortisasi patent / tahun = ------------------------------------
Masa manfaat dalam tahun
Jurnal
Amortisasi Patent xx -
Akumulasi amortisasi Patent - xx

RUANG LINGKUP

Dikecualikan dari penerapan PSAK 19 :


a. Aset tidak berwujud yang diatur standar lain (goodwill-PSAK 22)
b. Aset keuangan (PSAK 50)
c. Hak penambangan (PSAK 29) dan sumber daya lain yang tidak dapat diperbarui

IAS 38 mengatur semua aset tidak berwujud kecuali :


a. aset keuangan;
b. hak penambangan, eksplorasi, dan pengembangan mineral, minyak, gas alam dan
sumber daya lainnya yang tidak dapat diperbarui;
c. aset tidak berwujud yang diatur standar lainnya:
-Aset tidak berwujud yang dimiliki entitas untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
(IAS 2: Inventories)
- Aset pajak tangguhan (IAS 12: Income Taxes)
- Aset sewa (IAS 17: Leases)
- Aset yang timbul dari imbalan kerja (IAS 19: Employee Benefits)
- Goodwil yang timbul dari kombinasi bisnis (IFRS 3: Business Combination)

ASET TIDAK BERWUJUD, TIDAK BERWUJUD DAN PENGAKUAN

Pengelompokkan aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud didasarkan pada sifat fisik aktiva
tersebut. Aktiva tetap berwujud adalah aktiva yan memiliki wujud fisik yang dimaksudkan
bukan untuk dijual melainkan untuk digunakan menunjang aktivitas operasional perusahaan.
Aktiva tetap tidak berwujud adalah aktiva yang tidak memeiliki wujud fisik yang digunakan
untuk menunjang operasi perusahaan

Aktiva Tetap Berwujud

Aktiva tetap berwujud dapat dikelompokkan menjadi aktiva tetap yang dibebankan dengan
depresiasi dan deplesi serta aktiva tetap berwujud lain-lain. Akuntansi aktiva tetap berwujud
diatur dengan standar akuntansi keuangan tersendiri, yaitu IAS 16 tentang, Property, Plant
and Equipment yang mengatur perlakuan akuntansi keuangan atas tanah, bangunan dan
peralatan. Standar tersebut diberlakukan efektif sejak tanggal 1 Januari 2005 oleh IASB.

Pengakuan

Berdasarkan IAS 16 paragraf 7, suatu aktiva tetap berwujud diakui apabila memenuhi
dua syarat sebagai berikut:

Besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi di masa yang akan dating yang
terkait dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan
Biaya perolehan dapat diukur secara andal

Secara garis besar, biaya-biaya yang terkait dengan aktiva berwujud dikelompokkan
ke dalam 3 jenis biaya, yaitu:

Biaya penempatan aktiva atau biaya yang dikeluarkan untuk menempatkan aktiva
hingga aktiva tersebut dapat digunakan atau biasa disebut dengan initial cost
Biaya yang terkait dengan pengoperasian aktiva, yaitu biaya yang dikeluarkan
untuk mengoperasikan aktiva tersebut
Biaya yang terkait dengan penghentian aktiva atau termination cost.

Penilaian

IAS 16 menetapkan dua alternative pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai
aktiva tetap berwujud. Kedua alternative tersebut adalah historical cost dan
revaluation model. Salah satu dari kedua pendekatan tersebut harus dipilih dan
diterapkan secara konsisten. Berbeda dengan revaluasi aktiva tetap yang ditetapkan
dalam PSAK No. 16, revaluasi yang diperbolehkan IAS 16 adalah konsekuensi
diadopsinya revaluation model sebagai alternative penilaian aktiva tetap. Revaluasi
yang dimaksud dalam IAS 16 tidak hanya revaluasi yang mengakibatkan kenaikan
niali aktiva tetap (surplus), tetapi juga revaluasi yang mengakibatkan penurunan nilai
aktiva tetap (kerugian).

Aktiva Tetap Tidak Berwujud

Berdasarkan IAS 38 yang telah direvisi pada tahun 2004, aktiva tetap tidak berwujud
adalah aktiva non-moneter yang dapat diidentifikasi yang tidak memiliki wujud fisik.

IAS 38 paragraf 11-17 menyebutkan ada 3 kriteria utama yang harus dipenuhi
sehingga suatu aktiva tetap dapat dikatakan aktiva tetap tidak berwujud yaitu
identifiability, control, dan economic benefit.

Aktiva tetap tidak berwujud juga dinilai dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu
metode harga perolehan dan revaluasi. Perlakuan akuntansi pada saat dilakukan
revaluasi juga sama dengan aktiva berwujud, dan selisih akibat revaluasi akan dicatat
sebagai bagian dari ekuitas.

Pengakuan

Suatu aktiva tetap tidak berwujud diakui apabila memenuhi dua syarat sebagai
berikut:

Besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi di masa yang akan dating yang
terkait dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan
Biaya perolehan dapat diukur secara andal

Goodwill yang diciptakan secara internal tidak boleh diaku sebagai aktiva karena tida
memenuhi sifat identifiability. Terdapat dua kendala umum yang harus diperhatikan
untuk mengakui aktiva tetap tidak berwujud yang diciptakan sendiri yaitu:

Identifikasi atas ada tidaknya aktiva tidak berwujud yang akan menghasilkan
manfaat ekonomi pada masa yang akan dating sangat sulit dilakukan.
Menentukan besarnya biaya perolehan secara andal sangat sulit dilakukan.
Penilaian

IAS 38 juga menetapkan dua alternative pendekatan yang dapat digunakan dalam
mebukukan aktiva tetap tidak berwujud, yaitu historical cost dan revaluatian model
yang harus diterapkan secara konsisten.

PENGUKURAN AWAL

Suatu aset diakui sebagai intangible asset jika memenuhi :


a. definisi aset tidak berwujud;
b. kriteria pengakuan.

Kriteria Pengakuan dan Pengukuran Awal


Sama halnya dengan PPE, kriteria pengakuan intangible asset yaitu jika dan hanya jika :
a. Mempunyai kemungkinan manfaat ekonomis di masa yang akan datang;
b. Cost/ biaya dari aset dapat diukur secara nyata.

Intangible asset dapat diperoleh dalam beberapa cara, yaitu :


a. Perolehan Secara Terpisah
Elemen biaya :
1. Harga beli + bea masuk + pajak/PPn yang tidak dapat dikreditkan diskon;
2. Biaya yang diatribusikan.

b. Perolehan sebagai Bagian dari Kombinasi Bisnis


Diakui jika nilai wajar dapat diukur dengan andal.

c. Perolehan dari Bantuan Pemerintah


Diakui sebesar :
1. Fair value, atau
2. Nilai nominal ditambah biaya langsung yang diatribusikan.

d. Pertukaran Aset
Perolehan intangible asset dari pertukaran nonmonetary asset, atau kombinasi dari
monetary atau nonmonetary asset, diakui sebesar fair value-nya, kecuali kalau :
1. Tidak terdapat substansi komersial;
2. Fair value baik aset yang diterima maupun aset yang diberikan dapat diukur secara
andal. Jika perolehan intangible asset tidak sebesar fair value-nya, maka diukur sebesar
carrying amount dari aset yang diberikan.
PENGAKUAN AWAL UNTUK BIAYA RISET DAN PENGEMBANGAN

Pengembangan Intangible Asset secara Internal


Dalam menentukan apakah suatu aset tidak berwujud yang dihasilkan secara internal
memenuhi syarat untuk diakui, entitas menggolongkan proses dihasilkannya aset
tidak berwujud menjadi dua tahap:
a. Tahap Penelitian atau Riset
- Entitas tidak boleh mengakui aset tidak berwujud yang timbul dari riset.
- Pengeluaran untuk riset diakui sebagai beban pada saat terjadinya.

b. Tahap Pengembangan
- Aset tidak berwujud yang timbul dari pengembangan diakui, jika dan hanya
jika, entitas dapat menunjukkan semua hal berikut:
a. kelayakan teknis penyelesaian aset tak berwujud sehingga dapat digunakan atau
dijual;
b. niat untuk menyelesaikan aset tersebut dan menggunakannya atau menjualnya;
c. kemampuan untuk menggunakan atau menjual;
d. kemungkinan besar akan menghasilkan manfaat ekonomis masa depan.

Contoh-contoh pengembangan :
desain, konstruksi, serta pengujian purwarupa dan model sebelum produksi atau
sebelum digunakan
Desain, konstruksi dan pengujian alternatif bahan baku, peralatan, produk, proses,
sistem atau jasa yang baru atau diperbaiki,
Desain peralatan, konstruksi, jig, cetakan dan pewarnaan yang melibatkan teknologi
baru
Desain, konstruksi dan operasi pabrik percontohan yang skalanya tidak ekonomis
untuk produksi komersial.

Semua pengeluaran merupakan expense Semua pengeluaran merupakan cost

Contoh aset tidak berwujud:


Paten: Hak eksklusif yang diberikan oleh pemerintah yang memungkinkan penemu
untuk mengendalikan produksi, penjualan atau penggunaan dari penemuannya.
Copy right : Hak eksklusif yang diberikan oleh pemerintah yang mengijinkan
pengarang untuk menjual, memberi lisensi atau mengendalikan pekerjaannya.
Trademark and Tradename : Hak eksklusif yang diberikan oleh pemerintah untuk
menggunakan simbol, label dan desain yang unik.
Franchise : Hak eksklusif yang diterima oleh suatu perusahaan/individual untuk
melaksanakan fungsi tertentu atau menjual produk atau jasa tertentu.
Pengukuran setelah Pengakuan
Ada dua metode yang dapat digunakan untuk pengukuran intangible asset. yaitu:
1. Cost Model
Intangible asset dinilai berdasarkan cost; dikurangi akumulasi amortisasi; dan
impairment losses.
2. Revaluation Model
Intangible asset dinilai berdasarkan nilai yang telah direvaluasi pada fair value;
dikurangi jumlah akumulasi amortisasi dana akumulasi impairment setelah
revaluasi.

Revaluation model tidak dapat digunakan jika:


1. Intangible asset sebelumnya tidak diakui sebagai aset; atau
2. Pengakuan intangible asset pada nilai yang lebih besar dari cost.

IAS 38 secara spesifik menjelaskan penentuan fair value merujuk pada active market.
Active market adalah pasar yang memenuhi kondisi sebagai berikut:
Barang yang diperdagangkan sejenis;
Keeinginan penjual dan pembeli dapat diketahui kapanpun;
Harga dapat diketahui oleh public.

Jika tidak ada active market untuk suatu aset, maka aset tersebut dinilai sejumlah cost
dikurangi akumulasi amortisasi dan impairment loss. Jika nilai suatu intangible asset
bertambah setelah direvaluasi, akan muncul revaluation surplus (kredit). Jika ada
penurunan revaluasi dari aset yang sama dimana telah diakui gain atau loss
sebelumnya, maka harus ada pengakuan kenaikan atau penurunannya untuk
membalikkan penurunan revaluasi sebelumnya.

Jika nilai suatu intangible asset menurun setelah direvaluasi (defisit), entitas
memerlukan pengakuan penurunan profit atau loss. Akan tetapi, jika ada revaluasi
surplus yang diakui, entitas perlu mendebit penurunan tersebut langsung ke akun
revaluation surplus.

Revaluasi surplus dapat ditransfer langsung ke laba ditahan ketika surplus telah
terealisasi ketika terjadi penghentian atau pelepasan aset.Akan tetapi beberapa surplus
bisa direalisasi ketika aset tersebut digunakan, Pada kasus ini, jumlah surplus yang
direalisasi adalah selisih antara amortisasi berdasarkan carrying amount setelah
direvaluasi dan amortisasi yang telah diakui berdasarkan historical cost.

Useful Life
Pengukuran setelah suatu intangible asset diakui adalah berdasarkan masa manfaat.
Masa manfaat adalah periode ketika suatu asset siap untuk digunakan oleh entitas.
Masa manfaat suatu aset terbagi menjadi dua macam, yaitu terbatas atau tidak
terbatas. Untuk intangible asset yang masa manfaatnya terbatas, perlu dilakukan
amortisasi.
Untuk menentukan masa manfaat suatu intangible asset, perlu dipertimbangkan
faktor-faktor berikut:
1. Perkiraan penggunaan aset oleh entitas;
2. Estimasi masa manfaat aset yang sejenis;
3. Teknologi, komersialisasi, atau keusangan;
4. Stabilitas industri dan permintaan pasar;
5. Gerakan dari pesaing atau pesaing yang potensial;
6. Tingkat pengeluaran yang dibutuhkan untuk memelihara aset tersebut;
7. Periode kontrol atas aset dan batasan yang legal atau sama pada penggunaan aset;
8. Apakah masa manfaat aset tersebut tergantung dari masa manfaat aset lain.

ASET TIDAK BERWUJUD DENGAN MASA MANFAAT TERBATAS

1. Periode Amortisasi
Amortisasi dimulai ketika aset siap digunakan dan lokasi maupun kondisi yang
diperlukan untuk itu telah tersedia dengan niat manajemen. Sebaliknya, amortisasi bisa
berhenti lebih awal pada saat aset diklasifikasikan sebagai a held for sale, dan pada saat
aset di-derecognition.
2. Metode Amortisasi
Suatu entitas perlu memastikan bahwa metode amortisasi yang digunakan bisa
merefleksikan pola kemungkinan manfaat ekonomis di masa yang akan datang. Jika pola
tersebut tidak bisa dipertanggunjawabkan, maka digunakan metode garis lurus. Metode
yang lain dapat pula digunakan.

Jumlah yang dapat disusutkan dari aset tidak berwujud dengan usia manfaat yang terbatas
harus dialokasikan secara sistematis selama masa manfaatnya. Jumlah yang dapat
disusutkan adalah biaya aset, atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya perolehan
setelah dikurangi yang sisa nilai. Amortisasi harus dimulai ketika aset tersebut tersedia
untuk digunakan, yaitu bila dalam lokasi dan kondisi yang diperlukan untuk itu harus
mampu beroperasi sesuai dengan yang dikehendaki oleh manajemen. Amortisasi akan
berhenti di awal tanggal aset tersebut diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual (atau
termasuk dalam kelompok pembuangan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk
dijual) sesuai dengan IFRS 5 Aktiva Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan
Penghentian Operasi dan tanggal aset tersebut tidak lagi diakui. Metode amortisasi yang
digunakan harus mencerminkan pola di mana manfaat masa depan aset ekonomi
diharapkan akan dikonsumsi oleh entitas.
Jika pola yang tidak dapat ditentukan secara andal, metode garis lurus harus digunakan.
Biaya amortisasi untuk setiap periode diakui dalam laporan laba rugi kecuali izin ini atau
lain Standar atau membutuhkan hal yang akan termasuk dalam jumlah tercatat aktiva
lain.

Nilai sisa aset tidak berwujud adalah jumlah perkiraan bahwa entitas saat ini akan
diperoleh dari penjualan aset, setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan, jika aset
tersebut sudah zaman dan dalam kondisi yang diharapkan pada akhir masa manfaatnya.
Nilai sisa aset tidak berwujud dengan berguna terbatas hidup harus dianggap nol kecuali:
(A) ada komitmen oleh pihak ketiga untuk membeli aktiva tersebut pada akhir masa
manfaatnya, atau
(B) ada pasar aktif untuk aset dan:
(I) nilai sisa dapat ditentukan dengan mengacu ke pasar itu, dan
(Ii) besar kemungkinan pasar seperti itu akan ada pada akhir masa manfaat aset.

Periode amortisasi dan metode amortisasi untuk harta tak berwujud dengan masa manfaat
yang terbatas harus direview minimum setiap akhir tahun keuangan. Jika masa manfaat
yang diharapkan dari aset tersebut berbeda dari sebelumnya perkiraan, periode amortisasi
akan berubah dengan sendirinya. Jika telah terjadi perubahan yang diharapkan pola
konsumsi manfaat ekonomi masa depan yang aset, metode amortisasi ditetapkan diubah
untuk mencerminkan pola berubah. Perubahan tersebut harus dicatat sebagai perubahan
estimasi akuntansi sesuai dengan IAS 8 Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi
Akuntansi dan Kesalahan.

ASET TIDAK BERWUJUD DENGAN MASA MANFAAT TIDAK TERBATAS

Aset tak berwujud dengan masa manfaat yang tidak terbatas tidak dapat diamortisasi.
Sesuai dengan PSAK 36 Penurunan Nilai Aset, suatu entitas diperlukan untuk menguji suatu
harta tak berwujud dengan tak terbatas berguna hidup untuk penurunan dengan
membandingkan jumlah terpulihkan dengan nilai tercatatnya
(A) setiap tahun, dan
(B) apabila terdapat indikasi bahwa aktiva tidak berwujud mungkin terganggu.

Masa manfaat aset tidak berwujud yang tidak diamortisasi akan ditinjau setiap periode untuk
menentukan apakah kejadian dan keadaan terus mendukung penilaian hidup yang tidak
terbatas berguna untuk aset tersebut. Jika mereka tidak, perubahan dalam penilaian masa
manfaat dari tak terbatas untuk terbatas, akan diperhitungkan sebagai perubahan dalam
akuntansi perkiraan sesuai dengan IAS 8.
Klasifikasi aktiva tak berwujud:
Aktiva tak berwujud dibedakan menurut sifat kekhususan, masa manfaat, metode amortisasi
dan hubungannya dengan kegiatan usaha. Berdasarkan eksistensinya, aktiva tak berwujud
dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori:
(a) Aktiva tak berwujud yang eksistensinya dibatasi oleh ketentuan perundang-undangan,
peraturan pemerintah, perjanjian yang dibuat antara para pihak atau sifat dari aktiva tersebut,
misalnya hak paten, hak sewa, hak cipta, franchise yang terbatas, lisensi.
(b) Aktiva tak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas dan tidak dapat dipastikan
masa berakhirnya, misalnya merk dagang, proses dan formula rahasia, perpetual franchise,
goodwill.
Penilaian aktiva tak berwujud tergantung pada tujuan pelaporan:
Kalau tujuannya adalah untuk mengukur dan melaporkan aktiva tak berwujud secara
keseluruhan dalam rangka penggabungan usaha, maka biasanya digunakan cara dengan
menilai perusahaan secara keseluruhan dan kemudian mengurangi jumlah tersebut dengan
nilai aktiva lain yang dapat diukur secara langsung. Cara seperti ini sifatnya subyektif,
kecuali kalau nilai perusahaan dapat ditentukan secara obyektif di bursa saham.
Kalau tujuannya untuk melaporkan aktiva tertentu, maka pengukuran secara independen akan
lebih bermanfaat.
Perolehan aktiva tak berwujud:
Aktiva tak berwujud dapat diperoleh dengan cara membeli dari pihak luar atau
dikembangkan sendiri oleh perusahaan. Biaya yang terjadi sehubungan dengan aktiva tak
berwujud yang dikembangkan sendiri dicatat sebagai beban usaha, kecuali aktiva tak
berwujud tersebut dapat diidentifikasikan secara spesifik. Perusahaan harus mencatat nilai
perolehan aktiva tak berwujud yang diperoleh baik secara satuan maupun dari akuisisi
perusahaan lain sebagai aktiva.
Biaya pemeliharaan, atau penyimpanan aktiva tak berwujud yang tidak dapat
diidentifikasikan secara khusus, atau biaya yang tidak dapat dihindarkan dalam suatu
kegiatan usaha dan merupakan bagian dari perusahaan secara keseluruhan, harus dibebankan
dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan .
Harga perolehan aktiva tak berwujud:
Aktiva tak berwujud yang diperoleh secara satuan harus dicatat sebesar harga perolehan pada
tanggal perolehannya. Harga perolehan tersebut dinilai berdasarkan jumlah pembayaran yang
dilakukan, nilai wajar dari aktiva lain yang diperoleh, nilai tunai dari kewajiban yang ada
atau nilai wajar dari aktiva yang diterima untuk saham yang dikeluarkan.
Aktiva tak berwujud yang diperoleh secara kelompok atau sebagai bagian dari perusahaan
yang diakuisisi, harus dicatat sebesar harga perolehan pada tanggal perolehannya.
Penilaian atas harga perolehan tergantung pada apakah aktiva tak berwujud tersebut dapat
diidentifikasikan secara khusus atau tidak. Harga perolehan aktiva tak berwujud yang dapat
diidentifikasikan adalah merupakan bagian dari jumlah harga perolehan sekelompok aktiva
dari perusahaan yang diakuisisi . Harga perolehan aktiva tak berwujud yang dapat
diidentifikasikan tidak boleh dimasukan dalam goodwill.
Amortisasi aktiva tak berwujud:
Nilai aktiva tak berwujud pada akhirnya akan habis pada saat tertentu. sehingga harga
perolehan aktiva tak berwujud harus diamortisasi secara sistematis selama taksiran masa
manfaatnya.
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menaksir masa manfaat suatu aktiva tak
berwujud adalah sebagai berikut:
a. Ketentuan hukum atau perjanjian yang membatasi masa manfaat maksimum.
b. Kemungkinan untuk memperpanjang atau memperbaharui batas masa manfaat yang
semula telah ditentukan.
c. Pengaruh keusangan, permintaan, persaingan dan faktor keekonomian lain dapat
mengurangi masa manfaat.
d. Perkiraan tindakan yang akan dilakukan oleh saingan yang dapat mempengaruhi
keunggulan komparatif perusahaan tersebut.
e. Adanya suatu masa manfaat yang tidak terbatas dan manfaat yang diharapkan tidak
dapat ditaksir secara wajar.
f. Suatu aktiva tak berwujud mungkin terdiri dari beberapa unsur yang mempunyai masa
manfaat yang berbeda satu dengan yang lainnya:
Harga perolehan untuk setiap aktiva tak berwujud harus diamortisasi berdasarkan taksiran
masa manfaat aktiva tersebut dan tidak boleh dibebankan seluruhnya pada periode perolehan.
Untuk menentukan masa manfaat aktiva tak berwujud secara wajar, hal-hal yang
dikemukakan sebelumnya harus dianalisa terlebih dahulu. Periode amortisasi tidak boleh
melebihi 20 (dua puluh) tahun. Periode 20 tahun ditentukan berdasarkan pertimbangan
bahwa dalam jangka waktu 20 tahun sudah banyak perkembangan yang terjadi sehingga
setelah lewat waktu 20 tahun aktiva tak berwujud tersebut diperkirakan tidak ada manfaat
keekonomiannya lagi. Apabila analisa pada saat perolehan suatu aktiva tak berwujud dapat
menunjukkan bahwa sesungguhnya aktiva tak berwujud tersebut mempunyai masa manfaat
melebihi 20 (dua puluh) tahun, masa manfaat sebagai dasar amortisasi setinggi-tingginya
adalah 20 (dua puluh) tahun.
Metode amortisasi:
Metode amortisasi aktiva tetap tidak berwujud adalah metode garis lurus (straight line),
kecuali jika suatu perusahaan mempunyai metode lain yang lebih sesuai dengan kondisi
perusahaan yang bersangkutan.
Laporan keuangan harus mengungkapkan metode dan periode amortisasi aktiva tak berwujud
yang digunakan.
Evaluasi atas amortisasi:
Perusahaan harus dapat mengevaluasi periode amortisasinya secara teratur untuk menentukan
apakah peristiwa dan kondisi selanjutnya menuntut perubahan taksiran masa manfaat yang
telah ditentukan tersebut.
Jika taksiran masa manfaat berubah, maka jumlah harga perolehan yang belum diamortisasi
harus dibebankan pada sisa manfaat setelah kenaikan/penurunan masa manfaat tersebut
dengan syarat jumlah masa manfaat tidak boleh melebihi 20 (dua puluh) tahun dari tanggal
perolehan. Taksiran nilai dan manfaat di masa akan datang atas suatu aktiva tak berwujud
dapat menunjukkan bahwa nilai aktiva tak berwujud yang belum diamortisasikan tersebut
harus dikurangi sejumlah tertentu (write-down) sebagai beban usaha dalam laporan laba rugi
periode yang bersangkutan. Kerugian pada satu atau beberapa tahun tertentu secara berurutan
tidak dapat dijadikan alasan untuk membebankan semua atau sebagian harga perolehan yang
belum diamortisasi sebagai pembebanan luar biasa, dan jika ada, harus diungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan.

Aset tidak berwujud awalnya diukur atas dasar biaya perolehan.

Pengukuran Setelah Akuisisi

Suatu entitas harus memilih model biaya perolehan atau model revaluasi untuk setiap
kelompok aset tidak berwujud.

Model biaya perolehan. Setelah pengakuan awal, aset tidak berwujud harus dicatat alas
dasar biaya perolehan dikurang dengan amortisasi dan rugi karena penurunan nilai.
Model Reualuasi. Aset tidak berwujud dicatat alas dasar suatu jumlah yang direvaluasi
(nilai wajar) dikurang dengan amortisasi dan rugi karena penurunan nilai, hanya bila nilai
wajar dapat ditentukan melalui referensi suatu pasar yang aktif. Pasar yang aktif
semacam itu diharapkan tidak umum untuk aset tidak berwujud.

Revaluasi harus dilakukan dengan aturan tersebut yang pada akhir periode pelaporan nilai
tercatat dari aset tersebut tidak berbeda seeara material dengan nilai wajarnya.

Menurut model revaluasi, kenaikan revaluasi secara langsung dikreditkan pada surplus
revaluasi didalam ekuitas kecuali hingga sebatas bahwa kenaikan menjurnalbalikan suatu
penurunan revaluasi yang sebelumnya diakui di dalam laporan laba rugi komprehensif.

Aset tak berwujud diklasfikasikan sebagai :


Masa manfaat terbatas. Suaru periode manfaat yang terbatas bagi entitas.
Masa manfaat tidak terbatas. Tidak ada batasan yang dapat diprediksi pada periode
selama aset yang diharapkan menghasilkan arus kas masuk neto untuk entitas.

PENGUNGKAPAN

a. Aset yang dihasilkan internal dengan yang lainnya


b. Masa manfaat terbatas atau tak terbatas
c. Metode amortisasi
d. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi amortisasi dengan akumulasi penurunan nilai pada
awal dan akhir periode
e. Unsur unsur dalam laporan pendapatan komprehensif
f. Penambahan, Penurunan, kerugian penurunan nilai, amortisasi yang diakui, perubahan
lainnya pada jumlah tercatat selama periode.
g. Aset yang dihasilkan internal dengan yang lainnya
h. Masa manfaat terbatas atau tak terbatas
i. Metode amortisasi
j. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi amortisasi dengan akumulasi penurunan nilai pada
awal dan akhir periode
k. Unsur unsur dalam laporan pendapatan komprehensif
l. Penambahan, Penurunan, kerugian penurunan nilai, amortisasi yang diakui, perubahan
lainnya pada jumlah tercatat selama periode.

MENGHITUNG GOODWILL

PT. Astina membeli PT. Alengka dengan harga Rp 1.500.000.000,00


Nilai wajar aktiva PT Alengka pada saat transsaksi Rp 2.400.000.000,00 dan nilai seluruh
utangnya Rp 1.000.000.000,00
Maka nilai goodwill dapat dihitung sebagai berikut:
Harga beli PT. Alengka Rp 1.500.000.000,00
Nilai wajar aktiva neto Rp 2.400.000.000,00
Nilai Utang Rp 1.000.000.000,00
Total modal PT. Alengka Rp 1.400.000.000,00
Niolai Goodwill Rp 100.000.000,00

Transasksi tersebut dicatat dalam jurnak sebagai berikut:


Macam-macam aktiva Rp 2.400.000.000,00
Goodwill Rp 100.000.000,00
Macam-macam utang Rp 1.000.000.000,00
Kas Rp 1.500.000.000,00

Goodwill diamortisasikan selama umur ekonomisnya


Misalnya diamortisasikan selama 20 tahun, maka setiap tahun:
Rp 100.000.000,00 : 20 = Rp 5.000.000,00

Maka jurnal penyesuaian setiap akhir periode akuntansi adalah:


Biaya amortisasi goodwiil Rp 5.000.000,00
Goodwill Rp 5.000.000,00
Ilustrasi:
Lerch Inc. memiliki hak paten bagaima mengestraksi minyak dari serpihak batu. Harga minyak
yang turun membuat teknologi serpihan minyak ini menjadi tidak menguntungkan, dan hak paten
hanya menyediakan sedikit laba hingga saat ini. Arus kas bersih masa depan yang diharapkan dai
hak paten ini adalah $30 juta. Hak paten Lerch memiliki nilai tercatat $50 juta. Karen arus kas
bersih yang diharapkan di masa depan sebesar $30juta lebih kecil dari nilai tercatat sebesar $50
juta maka kerugian penurunan nilai harus diukur. Dengan mendiskontokan arus kas bersih masa
depan yang diharapkan pada suku bunga pasarnya, Lerch menentukan nilai wajar hak patennya
sebesar $15 juta. Perhitungan keruguan penurunan nilai, adalah:
Nilai tercatat hak paten $ 50.000.000
Nilai wajar (berdasarkan perhitungan nilai sekarang) $ 15.000.000
Kerugian atas penurunan nilai $ 35.000.000

Jurnal yang dibuat adalah:


Kerugian atas penurunan nilai 35.000.000
Hak Paten 35.000.000

a. Hak merk dagang


Adalah hak cipta dan hak untuk menggunakan suatu tanda pengenal atau simbol
atas suatu barang yang diusahakan. Harga perolehan hak merk dagang adalah
meliputi biaya perencanaan gambar atau desain gambar, biaya sayembara
pembuatan lambing, dan lain-lain termasuk biaya pengurusan ijin merk dagang
hingga sertifikat merk dagang diterima. Jurnal yang dibuat:

Tanggal Hak Merk Dagang 12.000.000


1 Januari 2011 Kas 12.000.000

Tanggal Beban Amortisasi Hak Merk Dagang 12.000.000


31 Desember 2011 Akumulasi Amortisasi Hak Merk Dagang 12.000.000