Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di negara berkembang kematian ibu mencapai 99% dalam jangka

waktu yang sama, tidak kurang dari 50 juta aborsi akibat kehamilan dan

tidak di inginkan terjadi di dunia kontrasepsi kemudian dijadikan program

untuk menekan angka kematian ibu dan anak. Di Afrika tercatat sekitar

82% penduduknya tidak menggunakan kontrasepsi. Di Asia Tenggara,

Selatan dan Barat hanya 43% yang menggunakan kontrasepsi. Di Negara

Maju di Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan, selangkah lebih

sadar hanya 20% warganya yang menolak kontrasepsi (WHO, 2011).

Keluarga Berencana merupakan tindakan yang membantu

individu/pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak

diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval

diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga dan

kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma

(konsepsi) atau pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke

dinding rahim, di dalam menentukan metode kontrasepsi tidak ada satu

pun kontrasepsi yang efektif secara menyeluruh (Mulyani, 2013).

1
2

Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-

laki mencapai dan membuahi sel telur wanita (fertilisasi), atau mencegah

telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang

di dalam Rahim. Terdapat berbagai macam metode kontrasepsi yaitu

diantaranya kontrasepsi Suntik, Implant, Kondom, MOW, MOP, PIL dan

IUD. Salah satu metode kontrasepsi efektif yaitu Metode Kontrasepsi

Jangka Panjang (IUD) dimana kontrasepsi ini merupakan kontrasepsi

untuk mencegah kehamilan dan memiliki manfaat yang relatif banyak

dibandingkan alat kontrasepsi lainnya, diantaranya dapat digunakan dalam

kurun waktu 10 tahun, tidak mempengaruhi hubungan seksual, tidak

tergantung pada daya ingat, dapat segera dipasang segera setelah

melahirkan, serta dapat digunakan sampai menopause sehingga

kontrasepsi ini lebih sering digunakan pada wanita usia 35 tahun guna

untuk mengakhiri kehamilan dan masa subur (Sulistyawati, 2012).

Berdasarkan undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun

2009 tentang kesehatan, pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana

informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu

dan terjangkau masyarakat, termasuk keluarga berencana. Pelayanan

kesehatan dalam keluarga berencana dimaksudkan untuk pengaturan

kehamilan. Dan presentasi akseptor dalam penggunaan kontrasepsi yaitu

Kb Suntik (49,67%), Pil (25,14%), Implant (10,68%), IUD (7,15%),

Kondom (5,68%), MOW (1,30%) dan MOP (0,21%). Sasaran dalam

program KB ditujukan pada Pasangan Usia Subur (PUS) yang lebih di titik
3

beratkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada

kisaran usia 20-49 tahun. Pasanagn Usia Subur (PUS) adalah pasangan

suami istri yang terikat dalam perkawinan yang sah, yang istrinya berumur

20 sampai dengan 49 tahun (Profil Kesehatan Indonesia 2015).

Berdasarkan uraian dari Profil Kesehatan Indonesia (2015) sama

halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Maryani (2015) dalam

penelitiannya mengatakan bahwa kontrasepsi dapat ditujuakn oleh

pasangan usia subur dengan kisaran usia 20 49 tahun yang dimana

responden yang berumur 20 30 tahun termasuk usia reproduktif dan usia

> 35 tahun cenderung menggunakan kontrasepsi jangka panjang

dikarenakan pada usia tersebut merupakan usia yang rawan dan berisiko

untuk hamil sehingga dengan menggunakan kontrasepsi jangka panjang.

Faktor-faktor yang berperan dalam pemilihan kontrasepsi menurut

yaitu dari faktor pasangan & motivasi : umur, gaya hidup, paritas,

pengalaman, dan dukungan suami. Faktor kesehatan : satatus kesehatan

dan pemeriksaan fisik. Metode kontrasepsi : efektifitas, efek samping,

biaya, pendidikan dan pengetahuan (Proverawatu, 2010). Hal ini didukung

berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Nawirah (2014) yaitu

ada hubungan antara umur dengn pemilihan kontrasepsi dengan nilai

(p<0,005). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam pemilihan

metode kontrasepsi sangat berpengaruh karena semakin bertambah usia

semakin bertambah kedewasaan dan kematangan berpikir, bertindak dalam

pengambilan keputusan sehingga mudah dalam mendapatkan informasi


4

terutama terkait dengan kontrasepsi yang akan digunakan. kemudian pada

faktor paritas juga memiliki hubungan yang signifikan antara paritas

dengan pemilihan kontrasepsi dengan nilai (p=0.005, OR=3.943). oleh

karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam pemilihan metode kontrasepsi

dimana paritas merupakan jumlah anak hidup yang dimiliki oleh setiap

pasangan usia subur yang dapat berpengaruh dalam pengambilan

keputusan dalam menetukan pemilihan jenis/metode kontrasepsi yang

akan digunakan (Proverawati, 2010). Sehingga dapat disimpulkan bahwa

apabila pasangan usia subur mempunyai jumlah anak hidup yang lebih

sedikit, mempunyai kecenderungan untuk menggunakan kontrasepsi

dengan efekteifitas yang lebih rendah, sedangkan pada pasangan usia

subur yang mempunyai jumlah anak hidup yang lebih banyak hal tersebut

dapat memicu pasangan tersebut untuk menggunakan kontrasepsi jangka

panjang dengan lasan untuk mengakhiri masa subur.

Menurut Putri (2015) dalam penelitiannya mengatakan bahwa

faktor pengetahuan cukup mempengaruhi dalam pemilihan kontrasepsi

dengan nilai yang diperoleh (p=0.000, OR=8.571), sehingga dapat

dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin

meningkat pula pengetahuan seseorang dalam menerima respon ataupun

dalam mengambil keputusan terutama dalam memilih metode kontrasepsi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan sangat

berpengaruh dengan pemilihan kontrasepsi berdasarkan tingkat pendidikan

yang tinggi (Priyoto, 204).


5

Menurut Rahma (2015) dalam penelitiannya mengatakan bahwa

faktor dukungan suami cukup berperan dalam pemilihan kontrasepsi

dengan nilai (p=0.001, 0R=4.678),sehingga dapat dikatakan bahwa

dukungan suami mempunyai pengaruh positif baik secara mental,

kehidupan sosial dan pengambilan keputusan. Sehingga didalam memilih

jenis/metode kontrasepsi ibu sangat membutuhkan dukungan baik secara

fisik dan mental dari suami. Dukungan suami sangat berpengaruh terhadap

istrinya karena suami mempunyai hak sepenuhnya dalam mengambil suatu

keputusan terutama pada saat menetukan jenis/metode kontrasepsi yang

akan digunakan.

Berdasarkan Data di Dinas Kesehatan Jawa Tengah tahun 2014

menyatakan bahwa jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak 265.216

orang. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun

2013 yaitu 163.862 orang. Peserta Kb Aktif sebanyak 203.328 orang

(76,07%). Presentase peserta KB Aktif di Kota semarang Kontrasepsi

Suntik (56%) orang, Pil (13%) orang, IUD (9%), Kondom (8%) orang,

Metode Operasi Wanita (MOW) (7%) orang, Implant (6%) orang, Metode

Operasi Pria (MOP) (1%) orang. Cakupan peserta KB Aktif sebesar

76,67% meningkat, dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 76,46%

(Dinas Kesehatan Jawa Tengah, 2014).

Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang tahun

2014 menyatakan bahwa jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak

186.112 orang, Peserta KB Aktif sejumlah 154,788 orang (83,20%). Bila


6

dibandingkan cakupan tahun 2013, cakupan 2014 mengalami penurunan.

(Dinas Kesehatan Kab.Semarang, 2014). Sedangkan Data Dinas

Kesehatan Kabupaten Semarang tahun 2015 menyatakan jumlah Pasangan

Usia Subur (PUS) sebanyak 192.239 orang, Peserta KB Aktif sejumlah

159.904 orang (83,20%) dapat dilihat bahwa peserta KB Aktif tidak

mengalami perubahan (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2015).

Berdasarkan data dari BKKBN Kabupaten Semarang jumlah

peserta KB Aktif mengalami penurunan dari tahun 2014 yaitu berjumlah

2.395.032 dan tahun 2015 berjumlah 2.015.064 orang. Pasangan Usia

Subur (PUS) di kecamatan Bergas pada tahun 2014 berjumlah 14.406

(81.15%) dan pada tahun 2015 berjumlah 14.998 (82.82%) dan Dilihat

dari segi Presentasi peserta KB Aktif tahun 2014 dan 2015 yang

menggunkan kontrasepsi IUD yaitu 80,08% orang dan 97.19% orang,

sehingga dapat disimpulkan bahwa pengguna kontrasepsi IUD mengalami

peningkatan dari tahun ke tahun. (BKKBN, Kabupaten Semarang 2015)

Berdasarkan data dari Puskesmas Bergas bahwa laporan pada

bulan Desember 2016 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) 15.072 orang,

jumlah Akseptor KB Aktif 3.899 0rang dan presentasi akseptor KB

menurut metode kontrasepsi, Suntik 1.040 orang, Implant 1.038 orang, Pil

879 orang, IUD 685 orang, MOW 188 orang, MOP 57 orang dan Kondom

12 orang.
7

Dari hasil kegiatan studi pendahuluan bahwa dari 10 orang yang

diwawancarai berdasarkan faktor umur dan paritas bahwa umur yang < 20

tahun mengatakan alasan memakai IUD dikarenakan untuk menghentikan

masa subur dikarenaka jumlah anak (paritas) yang sudah melebihi dari 3

orang, sedangkan yang tidak memakai IUD di umur tersebut alasan

mereka karena mereka merasa takut, malu dan belum mau untuk

mengakhiri masa suburnya. Umur 20-30 tahun yang didapatkan melalui

wawancara bahwa sebagian dari mereka mengatakan alasan memakai IUD

adalah untuk menjarangkan kehamilannya karena usia anak pertama dan

kedua sangat dekat, sedangkan alasan yang tidak memakai IUD

disebabkan karena mereka merasa takut, malu sehingga tidak bersedia

memakai IUD sedangkan jumlah anak yang dimiliki 3 orang anak. Umur

35 tahun memakai IUD alasannya karena ingin mengakhiri masa subur,

sedangkan yang tidak memakai IUD alasannya dikarenakan masih ingin

mempunyai anak lagi karena jumlah anaknya hanya 1 (paritas).

Hasil wawancara yang didapatkan berdasarkan faktor pendidikan

dan pengetahuan dari beberapa ibu yang memakai IUD mengatakan bahwa

sebagian ibu mengetahui tentang kontrasepsi IUD dan ada yang tidak

mengetahui kontrasepsi IUD dikarenakan dengan faktor pendidikan yang

rata-rata di wilayah kecamatan bergas minimal menempuh pendidikan SD

yang paling rendah dan SMA yang paling tinggi. Kemudian hasil

wawancara yang di dapatkan berdasarkan faktor dukungan suami sebagian

dari mereka yang memakai IUD karena ibu mendapatkan izin dari
8

suaminya untuk mengunakan kontrasepsi IUD, dan alasan yang tidak

menggunakan IUD itu karena ibu tidak mendapatkan izin dari suaminya

dikarenakan suaminya tidak ingin merasakan sakit atau adanya gangguan

pada saat berhubungan, akan tetapi ada juga sebagian ibu yang terpaksa

menggunakan IUD tanpa mendapatkan izin dari suami alasannya yaitu

karena usia sudah tidak reproduktif dan jumlah anak yang 3 orang anak.

Sedangkan hasil wawancara yang didapatkan berdasarkan faktor

gaya hidup dan sosial budaya dari beberapa ibu yang merokok dan

memakai IUD mengatakan bahwa tidak merasakan efek samping setelah

dan sebelum memakai IUD, dan dari faktor sosial budaya, sikap dan

pandangan negatif masyarakat dan gaya hidup dapat ditarik kesimpulan

bahwa dalam kehidupan masyarakat tidak ada pengaruh dalam kehidupan

sehari-hari, memakai kontrasepsi IUD dan tidaknya tidak ada pandangan

negatif dalam masyarakat, sedangkan faktor gaya hidup semua beraggapan

memakai dan tidaknya kontrasepsi IUD tidak mengganggu kehidupannya

meskipun sebagian ada yang merokok dan anemia.

Berdasarkan dari uraian tersebut, maka peneliti merasa perlu

melakukan penelitian mengenai Faktor-Faktor Yang Berhubungan

Dengan Pemilihan Penggunaan Kontrasepsi IUD di Wilayah Kerja

Puskesmas Bergas Kabupaten Semarang .


9

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dirumuskan

masalah penelitian ini adalah apakah ada hubungan Pengetahuan, Umur,

Paritas dan Dukungan suami dengan Pemilihan Kontrasepsi IUD di

Wilayah Kerja Puskesmas Bergas Kabupaten Semarang.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk Mengetahui Faktor-faktor yang Berhubungan dengan

Pemilihan Penggunaan Kontrasepsi IUD Di Wilayah Kerja Puskesmas

Bergas

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskriptifkan faktor usia dengan pemilihan penggunaan

kontrasepsi IUD di wilayah kerja puskesmas bergas kabupaten

semarang.

b. Mendeskripsikan faktor Pengetahuan dengan pemilihan

Penggunaan Kontrasepsi IUD di wilayah kejra puskesmas bergas

kabupaten semarang

c. Mendeskriptifkan faktor Paritas dengan pemilihan penggunaan

kontrasepsi IUD di wilayah kerja puskesmas bergas kabupaten

semarang.

d. Mendeskriptifkan faktor dukungan suami dengan pemilihan

Penggunaan Kontrasepsi IUD di wilayah kerja puskesmas bergas

kabupaten semarang.
10

e. Menganalisis hubungan faktor usia dengan pemilihan penggunaan

kontrasepsi IUD di wilayah kerja puskesmas bergas kabupaten

semarang.

f. Menganalisis hubungan faktor pengetahuan dengan pemilihan

penggunaan kontrasepsi IUD di wilayah kerja puskesmas bergas

kabupaten semarang.

g. Menganalisis hubungan faktor paritas dengan pemilihan

penggunaan kontrasepsi IUD di wilayah kerja puskesmas bergas

kabupaten semarang

h. Menganalisis hubungan faktor dukungan suami dengan pemilihan

penggunaan kontrasepsi IUD di wilayah kerja puskesmas bergas

kabupaten semarang.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapakan dapat meningkatkan motivasi

bagi pasangan usia subur (PUS) dalam meningkatkan penggunaan

kontrasepsi guna mensejahterakan keluarga berencana.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan

pendidikan/kualitas ilmu pengetahuan serta ilmu pengetahuan serta

sebagai bahan referensi mengenai faktor-faktor yang berhubungan

dengan pemilihan penggunaan kontrasepsi IUD.


11

3. Bagi Petugas Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi profesi

bidan dalam upaya meningkatkan pelayanan Keluarga Berencana serta

menumbuhkan motivasi bidan untuk berperan secara aktif dalam usaha

meningkatkan penggunaan kontrasepsi dalam mensejahterakan keluara

berencana.