Anda di halaman 1dari 42

SISTER/D/FS/DC/01A/14/1617

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
JURUSAN TEKNIK KOMPUTER

PROYEK SISTEM TERTANAM

FLOOD SENSOR MENGGUNAKAN BUZZER BERBASIS


NUVOTON NUC140 VE3CN

Disusun Oleh:

Adithya Nanda P 40114274


Ahmad Fajar 40114545
Alpin Rahman 40114885
Angga Yudistira Wibowo 41114212
Arif Dwi Saputra 4C114779
Bagus Satriyo Wibowo 42114005

Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat


Dalam Kelulusan Praktikum Sistem Tertanam
2016
PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini,


1. 40114274 Adithya Nanda P
2. 40114545 Ahmad Fajar
3. 40114885 Alpin Rahman
4. 41114212 Angga Yudistira W
5. 4C114779 Arif Dwi Saputra
6. 42114005 Bagus Satriyo W

Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan karya kami yang telah kami
buat ini merupakan hasil karya sendiri dan benar keasliannya. Segala kutipan
dalam bentuk apa pun telah mengikuti kaidah, dan etika yang berlaku. Mengenai
isi dan segala yang tercantum dalam pembuatan makalah ini adalah tanggung
jawab kami selaku penulis.
Demikian, pernyataan ini kami buat dalam keadaan sadar dan tidak
dipaksakan.

Depok, 27 November 2016

(Arif Dwi Saputra)

i
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Makalah : Flood Sensor Menggunakan Buzzer Berbasis


Nuvoton NUC140VE3CN
Nama / NPM : 1. Adithya Nanda P 40114274
2. Ahmad Fajar 40114545
3. Alpin Rahman 40114885
4. Angga Yudistira W 41114212
5. Arif Dwi Saputra 4C114779
6. Bagus Satriyo W 42114005

Penguji 1 Penguji 2

(...) (...)

Nilai
No Nama
Alat Makalah Presentasi Total
1
2
3
4
5
6

Depok,
PJ Praktikum Sistem Tertanam

Fajrin Riyanto., Amd

ii
ABSTRAKSI

Arif Dwi Saputra 4C114779

Flood Sensor Menggunakan Buzzer Berbasis Nuvoton NUC140VE3CN


Makalah Praktikum. Fakultas Ilmu Komputer. Universitas Gunadarma. 2016

Kata Kunci: Sensor, Buzzer, Mikrokontroler

( + ix + 33 Lampiran)

Penelitian ini dimaksudkan untuk membuat suatu sistem untuk mendeteksi


ketinggian air yang diberi nama Flood Sensor Menggunakan Buzzer Berbasis
Nuvoton NUC140VE3CN. Sistem pengontrol pada alat ini dikendalikan oleh
Mikrokontroler Nuvoton NUC140VE3CN, menggunakan sensor level untuk
memberi arus kepada rangkaian jika terkena air. Kemudian hasil dari sensor
tersebut diproses di dalam mikrokontroler dengan menggunakan logika
pemrograman. Setetlah itu hasil pemrosesan dikirim untuk menyalakan led dan
buzzer sesuai pada tingkatan sensornya, jika pada tingkat pertama yaitu led hijau
yang menyala, tingkat kedua yaitu led kuning yang menyala, tingkat ketiga yaitu
led merah yang menyala, dan tingkatan yang ke 4 yaitu led merah dengan buzzer
yang akan menyala.

Daftar Pustaka ( 2009-2016)

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
tepat pada waktunya dengan judul Flood Sensor Menggunakan Buzzer Berbasis
Nuvoton NUC140VE3CN. Tujuan penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas
akhir praktikum Sistem Tertanam.
Kami mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini. Kritik dan saran yang tentunya akan dapat
memperbaiki makalah ini akan sangat kami terima untuk perbaikan yang lebih
lagi, biak dari segi pengerjaan alat, maupun penyusunan dan pembahasan dalam
bentuk makalah ini.
Semoga dengan penulisan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca dan teman-teman. Dengan segala kerendahan hati, kami juga mohon
maaf apabila dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan sehingga
makalah jauh dari kata sempurna, hal ini karena kami masih dalam proses
pembelajaran.

Depok, 1 November 2016

Tim Penulis

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Konsep ini menerapkan pengukuran ketinggian air suatu tempat.


Flood Sensor ini menggunakan tiga LED, tingkat 1 akan menyalakan
LED hijau, pada tingkat 2 akan menyalakan LED kuning, tingkat 3 akan
menyalakan LED merah, dan pada tingkat 4 akan menyalakan LED merah
bersamaan dengan buzzer, yaitu menunjukkan bahwa ketinggian sudah
mencapai batas ukur maksimumnya. Makalah ini membahas komponen-
komponen yang terpasang dalam rangkaian Indikator Ketinggian Air
seperti yang termuat dalam skema rangkaian yang diberikan (terlampir).
Komponen-komponen yang digunakan dalam rangkaian ini berupa: 3 buah
Resistor 220, 1 buah Buzzer, 3 buah LED (hijau, kuning, merah), 1 buah
IC LM324, dan mikrokontroller Nuvoton NUC140VE3CNV3CN.

1.2 Pembatasan Masalah

Makalah ini ditulis dengan beberapa tujuan, yaitu:

1. Mengetahui bagaimana cara pembuatan alat Flood Sensor


Menggunakan Buzzer Berbasis Nuvoton NUC140VE3CN dari proses
menyusun komponen, membuat jalur di PCB dan merangkainya
dalam sebuah rangkaian elektronik.
2. Memahami dasar-dasar dan cara kerja beberapa komponen
elektronika, terutama yang digunakan dalam Flood Sensor
Menggunakan Buzzer Berbasis Nuvoton NUC140VE3CN.

1.3 Tujuan Penulisan

Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir praktikum


Sistem Tertanam, dan bisa membuat sebuah alat dengan rangkaian yang
sudah ad

1
2

1.4 Metode Penulisan

Ada beberapa metode dalam penulisan makalah ini, yaitu:

1. Pencarian data di internet


Mencari sumber dari beberapa website dan blog yang mengulas tentang
komponen maupun rangkaian Flood Sensor Menggunakan Buzzer
Berbasis Nuvoton NUC140VE3CN.
2. Materi praktikum
Menggunakan literasi yang berasal dari materi prkatikum yang diberikan
oleh asisten laboratorium.

1.5 Sistematika Penulisan

Penulisan makalah ini dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian-


bagian tersebut antara lain sebagai berikut.

LEMBAR PENGESAHAN
PERNYATAAN
ABSTRAKSI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB I : PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
1.2Pembatasan Masalah
1.3Tujuan Penulisan
1.4Metode Penulisan
1.5Sistematika Penulisan
BAB II : LANDASAN TEORI

Berisikan tentang teori dasar yang berhubungan dengan konsep alat seperti
penjelasan program yang digunakan mikrokontroler yang digunakan,
sensor, dan output yang digunakan.
3

BAB III : PERANCANGAN SISTEM


3.1 Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram
3.2 Analisa Rangkaian Secara Detail
3.3 Analisa Logika Pemrograman
BAB IV : CARA PENGOPRASIAN ALAT
4.1 Cara Kerja Alat
BAB V : PENUTUP
1.1Kesimpulan
1.2Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori Dasar

Mikrokontroler adalah suatu chip berupa IC (Integrated Circuit)


yang dapat menerima sinyal input, mengolahnya dan memberikan sinyal
output sesuai dengan program yang diisikan ke dalamnya. Sinyal input
mikrokontroler berasal dari sensor yang merupakan informasi dari
lingkungan sedangkan sinyal output ditujukan kepada aktuator yang dapat
memberikan efek ke lingkungan. Jadi secara sederhana mikrokontroler
dapat diibaratkan sebagai otak dari suatu perangkat/produk yang mempu
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Mikrokontroler pada dasarnya adalah komputer dalam satu chip,


yang di dalamnya terdapat mikroprosesor, memori, jalur Input/Output
(I/O) dan perangkat pelengkap lainnya. Kecepatan pengolahan data pada
mikrokontroler lebih rendah jika dibandingkan dengan PC. Pada PC
kecepatan mikroprosesor yang digunakan saat ini telah mencapai orde
GHz, sedangkan kecepatan operasi mikrokontroler pada umumnya
berkisar antara 1 16 MHz. Begitu juga kapasitas RAM dan ROM pada
PC yang bisa mencapai orde Gbyte, dibandingkan dengan mikrokontroler
yang hanya berkisar pada orde byte/Kbyte.

Mikrokontroler biasanya terdiri dari:

CPU
RAM
EEPROM/EPROM/PROM/ROM (Memori)
I/O (Input Output) Serial dan Paralel
Timer
Interupt Controller4

4
5

Dalam hal aplikasi, sistem mikrokontroler memiliki karekteristik


sebagai berikut:

Memiliki program khusus yang disimpan dalam memori untuk


aplikasi tertentu, tidak seperti PC (Personal Computer) yang multifungsi
karena mudahnya memasukkan program. Program mikrokontroler relatif
lebih kecil dari pada program-program pada PC.
Konsumsi daya kecil.
Rangkaian sederhana dan kompak.
Murah, karena komponen yang digunakan sedikit.
Unit I/O yang sederhana, misalnya keypad, LCD, dan LED.
Lebih tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrim misalnya
temperatur, tekanan, kelembaban dan sebagainya.

2.2 Definisi Komponen


2.2.1 Nuvoton NUC140VE3CN

Gambar 2.2.1 Nuvoton NUC140VE3CN


6

Seri NuMicro NUC100 adalah mikrokontroler 32-bit dengan


ARM Cortex-M0 core yang tertanam untuk kontrol industrial dan
aplikasi yang membutuhkan banyak komunikasi interface. Cortex-M0
adalah processor ARM tertanam terbaru dengan performa 32-bit dengan
biaya yang setara dengan mikrokontoler 8-bit. Seri NuMicro NUC100
meliputi NUC100, NUC120, NUC130 dan NUC140VE3CN.

Jalur konektifitas NuMicro NUC140VE3CN menggunakan USB


2.0 full-speed dan fungsi CAN menanamkan Cortex-M0 core bekerja
hingga 50 MHz dengan 32K/64K/128K-byte flash tertanam, 4K/8K/16K-byte
SRAM tertanam, dan 4K-byte loader ROM untuk ISP. Hal ini juga
melengkapi dengan banyak perangkat periferal seperti Timer, Watcdog
Timer, RTC, PDMA, UART, SPI, I2C, I2S, PWM Timer, GPIO, LIN, CAN,
PS/2, USB 2.0 FS Device, 12-bit ADC, Analog Comparator, Low Voltage
Reset Controller dan Brown-out Detector.

Product Line UART SPI I2C USB LIN CAN PS/2 I2S
NUC100

NUC120

NUC130

NUC140VE3CN
Tabel 2.2.1 Connectify Support

Fitur NuMicro NUC140VE3CN Connectivity Line

a) Core
ARM Cortex-M0 core runs up to 50 MHz
Operating voltage 2.5V to 5.5V
Temperature range -40oC ~ 85oC
b) Memory
128KB of flash memory
4KB of SRAM
Configurable data flash
ISP (In-System Programming)
ICP (In-Circuit Programming)
7

c) ADC
Up to 8 channels
12-bit resolution
Up to 800 kSPS
1oC accurate Temperature sensor
d) PWM
Up to 8-channel PWM or 4 complementary paired PWM outputs
Period/duty trigger ADC function
e) Clock Control
4 to 24 MHz external crystal oscillator
22.1184 MHz internal RC oscillator (1% accuracy at 25oC, 5V)
f) Connectivity
One Bosch CAN 2.0b
USB 2.0 FS
Up to 4 SPIs (up to 36 MHz)
Up to 2 I2Cs (up to 400 kHz)
Up to 3 UARTs (up to 1 Mbps)
16/8 bits EBI interface

2.2.2 Dioda

1. Sejarah Dioda
Awal mula dari diode adalah peranti kristal Cat's
Whisker dan tabung hampa (juga disebut katup termionik). Saat ini diode
yang paling umum dibuat dari bahan semikonduktor
seperti silikon atau germanium.
Walaupun diode kristal (semikonduktor) dipopulerkan sebelum
diode termionik, diode termionik dan diode kristal dikembangkan secara
terpisah pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari diode termionik
ditemukan oleh Frederick Guthrie pada tahun 1873 Sedangkan prinsip
kerja diode kristal ditemukan pada tahun 1874 oleh peneliti Jerman, Karl
Ferdinand Braun.
8

Pada waktu penemuan, peranti seperti ini dikenal sebagai


penyearah (rectifier). Pada tahun 1919, William Henry
Eccles memperkenalkan istilah diode yang berasal dari di berarti dua,
dan ode (dari ) berarti "jalur".

2. Pengertian Dioda

Dioda adalah komponen dasar semikonduktor aktif yang hanya bisa


mengalirkan arus satu arah saja (forward bias) yaitu dari arah positip
(Anoda) ke arah negatif (Katoda) namun memblok arus untuk arah
sebaliknya.
Dalam rangkaian elektronika dioda diibaratkan sebagai kran/katup
listrik satu arah. Dioda memiliki dua elektroda yaitu elektroda positip
(Anoda) dan elektroda negatif (Katoda). Secara umum dioda biasa dipakai
untuk merubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC) atau disebut
sebagai Rectifier.
Dioda dibuat dari bahan semikonduktor seperti germanium (Ge),
Silicon (Si) dan galium arsenide (GaAs), sifat listrik pada jenis material
tersebut ialah menengah atau dengan kata lain tidak baik sebagai konduktor
dan tidak baik juga sebagai insulator, sifat ini dinamakan semikonduktor.
Material semikonduktor memiliki sangat sedikit "elektron bebas"
karena molekul atomnya terkumpul bersama dalam bentuk pola kristal yang
sering disebut "kisi kristal". Untuk meningkatkan daya hantar listrik pada
material ini maka perlu dicampurkan "kotoran atom" pada struktur
kristalnya sehingga menghasilkan lebih banyak elektron bebas dan lubang
atom.
Untuk menghasilkan sisi Negatif (katoda) pada dioda maka material
semikonduktor biasanya dicampurkan kotoran atom dengan bahan seperti:
Arsenik, Antimony atau Fosfor. dan untuk menghasilkan sisi positip
(Anoda) dicampur dengan kotoran atom dari bahan Aluminium, Boron atau
Galium.
9

3. Karakteristik Dioda

Untuk mengetahui karakteristik dioda dapat dilkukan dengan cara


memasang dioda seri dengan sebuah catu daya dc dan sebuah resistor.
Dari rangkaian percobaan dioda tersebut dapat di ukur tegangan dioda
dengan variasi sumber tegangan yang diberikan. Rangkaian dasar untuk
mengetahui karakteristik sebuah dioda dapat menggunakan rangkaian
dibawah. Dari rangkaian pengujian tersebut dapat dibuat kurva
karakteristik dioda yang merupakan fungsi dari arus ID, arus yang
melalui dioda, terhadap tegangan VD, beda tegangan antara titik a dan b.
Rangkaian Pengujian Karakteristik Dioda

(Gambar 2.2.2 : Karakteristik Dioda)

Karakteristik dioda dapat diperoleh dengan mengukur tegangan


dioda (Vab) dan arus yang melalui dioda, yaitu ID. Dapat diubah dengan
dua cara, yaitu mengubah VDD. Bila arus dioda ID kita plotkan terhadap
tegangan dioda Vab, kita peroleh karakteristik dioda. Bila anoda berada
pada tegangan lebih tinggi daripada katoda (VD positif) dioda dikatakan
mendapat bias forward. Bila VD negatip disebut bias reserve atau bias
mundur. Pada diatas VC disebut cut-in-voltage, IS arus saturasi dan VPIV
adalah peak-inverse voltage.
Bila harga VDD diubah, maka arus ID dan VD akan berubah pula.
Bila kita mempunyai karakteristik dioda dan kita tahu harga VDD dan RL,
maka harga arus ID dan VD dapat kita tentukan sebagai berikut. Dari
gambar pengujian dioda diats dapat ditentukan beberapa persamaan
sebagai berikut. Bila hubungan di atas dilukiskan pada karakteristik diode
10

kita akan mendapatkan garis lurus dengan kemiringan (1/RL). Garis ini
disebut garis beban (load line) seperti gambar berikut.

Kurva Karakteristik Dioda Dan Garis Beban

(Gambar 2.2.3 : Kurva Karakteristik Dioda Dan Garis Beban)

Dari gambar karakteristik diatas dapat dilihat bahwa garis beban


memotong sumbu V dioda pada harga VDD yaitu bila arus I=0, dan
memotong sumbu I pada harga (VDD/RL). Titik potong antara
karakteristik dengan garis beban memberikan harga tegangan dioda
VD(q) dan arus dioda ID(q). Dengan mengubah harga VDD maka akan
mendapatkan garis-garis beban sejajar seperti pada gambar diatas. Bila
VDD<0 dan |VDD| < VPIV maka arus dioda yang mengalir adalah kecil
sekali, yaitu arus saturasi IS. Arus ini mempunyai harga kira-kira 1 A
untuk dioda silikon.
4. Jenis dan Simbol Dioda
Seperti penjelasan diatas, Jenis dioda tergantung dari bahan
material yang dipakai saat pembuatannya, dibawah ini adalah contoh
gambar dan simbol dari jenis-jenis diode
11

Gambar 2.2.4 : Simbol dan Gambar Dioda

Dioda Silicon
Terbuat dari bahan Germanium, memiliki drop tegangan maju
(forward volt drop) 0,7V, pada rangkaian elektronika biasa dipakai
sebagai penyearah (rectifier). Contoh dioda Germanium adalah: 1N4000
series dan 1N5000 series dll.
Dioda Germanium
Terbuat dari bahan Silicon, memiliki drop tegangan maju
(forward volt drop) 0,3V. Biasa diaplikasikan sebagai dioda penyearah.
contoh dioda silicon adalah: IN4148 atau 1N914 dll.
Dioda Zener
Terbuat dari bahan silikon, dioda zener atau sering disebut juga
"breakdown diode" berfungsi sebagai pembatas tegangan pada rangkaian,
atau dengan kata lain dioda zener adalah komponen regulator tegangan
sederhana. dioda zener memiliki rating tegangan antara 1 sampai ratusan
volt dengan daya mulai dari 1/4w.
Light Emitting Diode atau LED
Adalah jenis dioda yang dapat mengeluarkan cahaya, LED yang
banyak dipasaran berbentuk kubah bulat dan juga kotak persegi dengan
variasi warna merah, kuning, hijau, biru atau putih. batas arus maksimum
12

LED adalah 20mA. dan memiliki drop tegangan maju (forward volt
drop) antara 1,2v sampai 3,6v tergantung dari jenis warna LED.

Dioda Schottky
Disebut juga dioda power memiliki drop tegangan maju (forward
bias) yang rendah, namun rating arus dan tegangannya tinggi. Biasa
dipakai sebagai penyearah pada frekuensi tinggi, sering dipakai pada
rangkaian pengisian battre, AC Rectifier dan Inverter.contoh untuk dioda
schotky adalah 5819 atau 58xx dll.

5. Kondisi Pada Dioda

(Gambar 2.2.5 : Kondisi Pada Dioda)

Ketika dioda disambungkan sebagaimana pada Gambar A diatas,


dimana kaki anodanya disambungkan ke kutub positif dan katodanya
disambungkan ke kutub negatif baterai, kita mengatakan bahwa dioda
diberikan bias maju atau forward biased. Sebuah dioda hanya akan
menghantarkan arus listrik (menyalakan lampu) apabila diberi bias maju.
Ketika sebuah dioda disambungkan dengan polaritas yang terbalik
seperti pada Gambar B, dimana kaki katodanya disambungkan ke kutub
positif dan kaki anodanya disambungkan ke kutub negatif, kita mengatakan
bahwa dioda diberikan bias mundur atau reverse biased. Sebuah dioda tidak
akan menghantarkan arus listrik (tidak menyalakan lampu) apabila diberi
bias mundur.
13

2.2.3 LED (Light Emitting Diode)

Light Emitting Diode atau sering disingkat dengan LED adalah


komponen elektronika yang dapat memancarkan cahaya monokromatik
ketika diberikan tegangan maju. LED merupakan keluarga Dioda yang
terbuat dari bahan Semikonduktor. Warna-warna Cahaya yang
dipancarkan oleh LED tergantung pada jenis bahan semikonduktor yang
dipergunakannya. LED juga dapat memancarkan sinar inframerah yang
tidak tampak oleh mata seperti

Gambar 2.2.6 LED


yang sering kita jumpai pada Remote Control TV ataupun Remote
Control perangkat elektronik lainnyaBentuk LED mirip dengan sebuah
bohlam (bola lampu) yang kecil dan dapat dipasangkan dengan mudah ke
dalam berbagai perangkat elektronika. Berbeda dengan Lampu Pijar,
LED tidak memerlukan pembakaran filamen sehingga tidak
menimbulkan panas dalam menghasilkan cahaya. Oleh karena itu, saat
ini LED (Light Emitting Diode) yang bentuknya kecil telah banyak
digunakan sebagai lampu penerang dalam LCD TV yang mengganti
lampu tube.
14

Cara Kerja LED

Seperti dikatakan sebelumnya, LED merupakan keluarga dari


Dioda yang terbuat dari Semikonduktor. Cara kerjanya pun hampir sama
dengan Dioda yang memiliki dua kutub yaitu kutub Positif (P) dan Kutub
Negatif (N). LED hanya akan memancarkan cahaya apabila dialiri
tegangan maju (bias forward) dari Anoda menuju ke Katoda.
LED terdiri dari sebuah chip semikonduktor yang di doping
sehingga menciptakan junction P dan N. Yang dimaksud dengan proses
doping dalam semikonduktor adalah proses untuk menambahkan
ketidakmurnian (impurity) pada semikonduktor yang murni sehingga
menghasilkan karakteristik kelistrikan yang diinginkan.
Ketika LED dialiri tegangan maju atau bias forward yaitu dari
Anoda (P) menuju ke Katoda (K), Kelebihan Elektron pada N-Type
material akan berpindah ke wilayah yang kelebihan Hole (lubang) yaitu
wilayah yang bermuatan positif (P-Type material). Saat Elektron
berjumpa dengan Hole akan melepaskan photon dan memancarkan
cahaya monokromatik (satu warna).

Gambar. 2.2.7 Cara Kerja LED

LED atau Light Emitting Diode yang memancarkan cahaya ketika


dialiri tegangan maju ini juga dapat digolongkan sebagai Transduser
yang dapat mengubah Energi Listrik menjadi Energi Cahaya
15

Cara Mengetahui Polaritas LED

Gambar 2.2.8 Polaritas LED

Untuk mengetahui polaritas terminal Anoda (+) dan Katoda (-)


pada LED. Kita dapat melihatnya secara fisik berdasarkan gambar diatas.
Ciri-ciri Terminal Anoda pada LED adalah kaki yang lebih panjang dan
juga Lead Frame yang lebih kecil. Sedangkan ciri-ciri Terminal Katoda
adalah Kaki yang lebih pendek dengan Lead Frame yang besar serta
terletak di sisi yang Flat.

Warna-Warna LED

Saat ini, LED telah memiliki beranekaragam warna, diantaranya


seperti warna merah, kuning, biru, putih, hijau, jingga dan infra merah.
Keanekaragaman Warna pada LED tersebut tergantung pada wavelength
(panjang gelombang) dan senyawa semikonduktor yang
dipergunakannya.
16

Berikut ini adalah Tabel Senyawa Semikonduktor yang


digunakan untuk menghasilkan variasi warna pada LED.

Bahan Semikonduktor Wavelength Warna


Gallium Arsenide (GaAs) 850-940nm Infra Merah
Gallium Arsenide Phosphide (GaAsP) 630-660nm Merah
Gallium Arsenide Phosphide (GaAsP) 605-620nm Jingga
Gallium Arsenide Phosphide Nitride (GaAsP:N) 585-595nm Kuning
Aluminium Gallium Phosphide (AlGaP) 550-570nm Hijau
Silicon Carbide (SiC) 430-505nm Biru
Gallium Indium Nitride (GaInN) 450nm Putih

Tabel. 2.2.2 Warna LED

Tegangan Maju (Forward Bias) LED


Masing-masing Warna LED (Light Emitting Diode) memerlukan
tegangan maju (Forward Bias) untuk dapat menyalakannya. Tegangan
Maju untuk LED tersebut tergolong rendah sehingga memerlukan sebuah
Resistor untuk membatasi Arus dan Tegangannya agar tidak merusak
LED yang bersangkutan. Tegangan Maju biasanya dilambangkan dengan
tanda VF..

Warna Tegangan Maju @20mA


Infra Merah 1,2V
Merah 1,8V
Jingga 2,0V
Kuning 2,2V
Hijau 3,5V
Biru 3,6V
Putih 4,0V

Tabel. 2.2.3 Forward Bias LED


17

Teknologi LED memiliki berbagai kelebihan seperti tidak


menimbulkan panas, tahan lama, tidak mengandung bahan berbahaya
seperti merkuri, dan hemat listrik serta bentuknya yang kecil ini semakin
popular dalam bidang teknologi pencahaya.
Berbagai produk yang memerlukan cahaya pun mengadopsi
teknologi Light Emitting Diode (LED) ini. Berikut ini beberapa
pengaplikasiannya LED dalam kehidupan sehari-hari.
g) Lampu Penerangan Rumah
h) Lampu Penerangan Jalan
i) Papan Iklan (Advertising)
j) Backlight LCD (TV, Display Handphone, Monitor)
k) Lampu Dekorasi Interior maupun Exterior
l) Lampu Indikator
m) Pemancar Infra Merah pada Remote Control (TV, AC, AV
Player)

2.2.4 IC (Integrated Circuit)

1. Sejarah Integrated Circuit


Penemuan awal sirkuit terpadu/integrated curcuit dimulai sejak
tahun 1949, ketika engineer Jerman Werner Jacobi (Siemens AG)
mengajukan hak paten untuk amplifying device semikonduktor dengan
struktur mirip dengan struktur sirkuit terpadu yang menggunakan lima
transistor yang dimuat pada sebuah substrat dalam susunan amplifier 2-
tahap.
Ide sirkuit terpadu dipikirkan oleh seorang ilmuwan radar yang
bekerja untuk Royal Radar Establishment di Ministry of Defence,
Geoffre W.A. Dummer (19092002). Dummer mencetuskan idenya di
depan public pada the Symposium on Progress in Quality Electronic
Components di Washington, D.C. pada 7 May 1952. Ia mencetuskan
idenya di beberapa simposium lainnya, dan berusaha untuk membuat
sirkuit seperti itu pada 1956, tetapi tanpa keberhasilan.
18

Ide pendahulu dari sirkuit terpadu yaitu membuat kotak persegi


kecil dari keramik (wafers), dan setiap persegi memuat satu miniatur
komponen. Komponen tersebut kemudian disatukan dan dihubungkan
dengan kabel untuk membentuk kisi 2 atau 3 dimensi. Ide ini terlihat
meyakinkan, dan pada tahun 1957 diajukan kepada US Army oleh Jack
Kilby, yang menghasilkan proyek Micromodule Program (sama dengan
1951's Project Tinkertoy) yang berumur pendek. Tetapi, seiring
berjalannya proyek ini, Kilby memikirkan sebuah ide lain yang sekarang
dikenal sebagai sirkut terpadu.

2. Pengertian Integrated Circuit


IC (Integrated Circuit) adalah salah satu komponen elektronika
aktif yang terbuat dengan menggunakan bahan semikonduktor berupa
silicon dan gabungan dari ratusan bahkan ribuan komponen elektronika
seperti transistor, resistor, dioda, dan juga kapasitor yang diintegrasikan
menjadi satu kesatuan rangkaian dalam kemasan yang lebih kecil.
Jadi dalam komponen ini tersimpan berbagai jenis komponen
tersebut dalam bentuk yang lebih compact. Perlu diketahui bahwa
komponen IC sangat bermacam-macam dan memiliki fungsi yang
berbeda-beda satu sama lain. Bentuk IC pun juga sangat bermacam-
macam, mulai dari yang mirip transistor, single in line, dual line, sampai
dengan persegi seperti prosesor komputer. Selain itu IC juga bisa
diklasifikasikan menjadi beberapa bagian lagi.
IC dapat dibedakan menjadi 2, yakni IC monolitik dan juga IC
hybrid. IC monolitik adalah jenis IC yang berdiri sendiri mengatur satu
blok rangkaian tanpa bergabung dengan IC lainnya. Sedangkan IC hybrid
adalah jenis IC yang terdiri dari beberapa IC yang bergabung menjadi
satu dalam sebuah blok PCB.

3. Fungsi IC (Integrated Circuit)


Seperti yang telah dikatakan tadi bahwa fungsi dari komponen IC
sangatlah bermacam-macam tergantung komponen penyusunnya. Namun
jika dilihat dari fungsinya, IC dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis,
19

yakni IC linier dan IC digital. Berikut adalah beberapa fungsi dari IC


linier dan IC digital.
Fungsi IC Linier :
Penguat Daya (Amplifier)
Penguat Operasional (Op Amp)
Penguat Sinyal (Signal Amplifier)
Penguat Sinyal Mikro (Microwave Amplifier)
Penguat RF dan IF
Multiplier
Voltage Comparator
Regulator Tegangan (Voltage Regulator)
Penerima Frekuensi Radio
Fungsi IC Digital :
Gerbang Logika
Flip Flop
Timer
Counter
Clock
Multiplexer
Memory
Calculator
Mikrokontrol
Mikroproseso

2.2.5 Buzzer

Gambar 2.2.9 Buzzer


20

Buzzer Listrik adalah sebuah komponen elektronika yang dapat


mengubah sinyal listrik menjadi getaran suara. Pada umumnya, Buzzer
yang merupakan sebuah perangkat audio ini sering digunakan pada
rangkaian anti-maling, Alarm pada Jam Tangan, Bel Rumah, peringatan
mundur pada Truk dan perangkat peringatan bahaya lainnya. Jenis
Buzzer yang sering ditemukan dan digunakan adalah Buzzer yang
berjenis Piezoelectric, hal ini dikarenakan Buzzer Piezoelectric memiliki
berbagai kelebihan seperti lebih murah, relatif lebih ringan dan lebih
mudah dalam menggabungkannya ke rangkaian elektronika lainnya.
Buzzer yang termasuk dalam keluarga Transduser ini juga sering disebut
dengan Beeper Efek Piezoelectric (Piezoelectric Effect) pertama kali
ditemukan oleh dua orang fisikawan Perancis yang bernama Pierre Curie
dan Jacques Curie pada tahun 1880. Penemuan tersebut kemudian
dikembangkan oleh sebuah perusahaan Jepang menjadi Piezo Electric
Buzzer dan mulai populer digunakan sejak 1970-an.

2.2.6 Resistor
Resistor merupakan salah satu komponen elektronika yang
banyak digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena resistor
berfungsi sebagai pembagi arus dan tegangan listrik, selain itu resistor
juga berfungsi sebagai pemikul beban dan dapat memperkecil tegangan.
Didalam rangkaian elektronika pemasangan resistor terbagi
dalam dua bagian besar, yaitu rangkaian seri dan rangkaian paralel,
dimana pada saat resistor dipasang secara paralel akan berfungsi sebagai
pembagi arus dan jika dipasang secara seri maka resistor akan berfungsi
sebagai pembagi tegangan.
Nilai dari sebuah resistor dinyatakan dalam satuan Ohm dan
direpresentasikan dengan huruf dari abjad yunani yaitu . Semakin
tinggi Ohm dari suatu resistor maka semakin besar pula resistansi atau
hambatan dari resistor tersebut.
Secara umum tipe resistor ada dua macam, yaitu resistor tetap
dan resistor variabel. Perbedaannya adalah resistor tetap mempunyai
21

nilai resistansi yang sudah ditentukan. Nilai resistor tersebut biasanya


dibaca menggunakan kode warna. Kode warna biasanya dimulai pada
gelang yang paling dekat dengan ujung resistor, kode warna biasanya
terdiri atas 4 atau 5 gelang warna.
Untuk dapat membaca kode warna dapat dilihat pada tabel
berikut ini :

Warna Gelang I Gelang II Gelang III Toleransi

Hitam 0 0 1

Coklat 1 1 10 1%

Merah 2 2 100 2%

Orange 3 3 1.000

Kuning 4 4 10.000

Hijau 5 5 100.000 0.5%

Biru 6 6 1.000.000 0,25%

Ungu 7 7 10.000.000 0,10%

Abu-abu 8 8 100.000.000 0,05%

Putih 9 9

Emas 0.1 +5%

Silver 0.01 +10%

(Tabel 2.2.4 : Tabel Warna Gelang Resistor)


22

Pada tabel dijelaskan bagaimana membaca warna pada gelang ke-1, ke-2, ke-3
dan seterusnya. Pada pembacaan gelang ini, gelang terakhir dari resistor
merupakan toleransi resistor tersebut. Bila terdapat 4 gelang cara membacanya
persis seperti tabel di atas, tetapi apabila ada 5 atau 6 gelang maka gelang
terakhir sebagai toleransi, gelang sebelum toleransi adalah faktor pengali dan
sisanya adalah besaran sesuai tabel di atas.
1. Resistor Tetap (Fixed Resistance)

(Gambar 2.2.10 : Resistor Tetap)

Resistor tetap merupakan resistor yang nilai resistansinya tidap


dapat diubah atau tetap. Resistor jenis ini biasa digunakan dalam
rangkaian elektronika sebagai pembatas arus dalam suatu rangkaian
elektronika. Resistor tetap dapat kita temui dalam beberpa jenis, seperti :

a) Metal Film Resistor


b) Metal Oxide Resistor
c) Carbon Film Resistor
d) Ceramic Encased Wirewound
e) Economy Wirewound
f) Zero Ohm Jumper Wire
g) S I P Resistor Network
23

2. Resistor Tidak Tetap (Variable Resistance)

(Gambar 2.2.11 : Resistor Variable)

Resistor tidak tetap atau variable resistor terdiri dari 4 tipe yaitu :

a. Pontensiometer, tipe variable resistor yang dapat diatur nilai


resistansinya secara langsung karena telah dilengkapi dengan tuas
kontrol. Potensiometer terdiri dari 2 jenis yaitu Potensiometer Linier
dan Potensiometer Logaritmis.
b. Trimer Potensiometer, yaitu tipe variable resistor yang membutuhkan
alat bantu (obeng) dalam mengatur nilai resistansinya. Pada umumnya
resistor jenis ini disebut dengan istilah Trimer Potensiometer atau
VR.
c. Thermistor, yaitu tipe resistor variable yang nilai resistansinya akan
berubah mengikuti suhu disekitar resistor. Thermistor terdiri dari jenis
yaitu NTC dan PTC. Untuk lebih detilnya thermistor akan dibahas
dalam artikel yang lain.
d. LDR (Light Depending Resistor), yaitu tipe resistor variabel yang
nilai resistansinya akan berubah mengikuti cahaya yang diterima oleh
LDR tersebut.
BAB III
PERANCANGAN SISTEM

3.1 Analisa Blok Diagram

AKTIVATOR
+5

INPUT PROSES OUTPUT

PROSES OUTPUT
INPUT
NUVOTON LED
SENSOR AIR BUZZER
NUC140
BUZZER

Pada blok diagram di atas terdapat aktifator dan tiga blok di


bawahnya yaitu blok input, proses dan output. Pada blok input terdapat
sensor air sebagai sensor yang merupakan sistem kendali flood sensor,
input ini lalu diproses pada blok proses, pada blok proses ini terdapat
Nuvoton NUC 140
Setelah proses selesai maka di lanjutkan sebagai finishing sistem
pada blok output, pada blok output ini terdapat LED hijau untuk level
paling rendah, LED kuning untuk level sedang, LED merah untuk lv
tinggi, dan buzzer yang berbunyi untuk level paling atas.

24
25

3.1.1 Aktivator
Aktifator adalah suatu power supply yang berfungsi untuk memberi
masukan tegangan kepada setiap rangkaian dalam sistem. Aktivator dapat
berupa catu daya, aki, baterai dan sebagainya. Pada project Flood Sensor
with Buzzer ini menggunakan baterai bertegangan 5 Volt dan ground
sebagai aktifatornya.

3.1.2 Input
Pada blok input ini terdapat sensor air sebagai sensor pengukur
ketinggian air. Saat terkena air, tegangan akan terhubung dari sensor yang
terhubung sumber tegangan dengan sensor yang sudah diatur sesuai dengan
level ketinggian. Ketika air menyentuh kedua elektroda (tembaga) maka
tegangan 5V akan terhubung dengan output dan sebagian tegangan akan
berkurang karena air berfungsi sebagai penghambat. Tegangan keluarannya
sebesar 3v sampai 4.5v dengan jarak antara kedua elektroda + 1cm.

3.1.3 Proses
Pada blok proses ini terdapat Nuvoton NUC140VE3CN. Berikut
fungsi IC tersebut:
Nuvoton NUC140VE3CN
Nuvoton NUC140VE3CN berfungsi sebagai pemroses sinyal
input. Saat sinyal input masuk, maka mikrokontroler juga akan
mengatur outputnya. Pada kasus kali ini sisi input pada
mikrokontroler terdapat pada Port GPB0, GPB3, GPB10, GPB13,
sedangkan output yang digunakan adalah Port GPC12, GPC13,
GPC14, GPC15. Pada perencanaan program, IC ini akan bekerja
apabila mendapatkan GPB , dan merubah nilai sisi output yang berada
pada port GPC, sedangkan port ini difungsikan sebagai olah sinyal
untuk komponen output, yang mana jika berubah nilai input dari port
GPB, maka akan mempengaruhi sistem informasi dari Flood
Sensor with Buzzer. Nuvoton NUC 140 ini merupakan inti dari
pemroses sinyal input dan output, serta sebagai wadah program
yang telah dibuat dalam fungsi sebagai inti proses kinerja sistem.
26

3. 1. 4 Output
Pada blok output ini terdapat LED dan BUZZER sebagai
informasi untuk pengguna. Output ini dipengaruhi oleh sinyal
masukan yang didapatkan pada sensor air. Sistem pada output ini
adalah pemberitahuan yang sesuai dengan level sensor yang didapat.
Hal ini mengakibatkan LED dan Buzzer menampilkan informasi
sesuai dengan level air yang dibaca oleh sensor.

3. 2 Analisa Rangkaian Secara Detail

Untuk mengaktifkan rangkaian Flood Sensor with LCD ini


dibutuhkan sumber tegangan sebesar 9 volt yang terbagi masing masing
untuk mengaktifkan LED, buzzer, dan LCD yang berfungsi sebagai suplai
tegangan komponen melalui pin VS pada komponen tersebut.
Saat sensor terkena air maka sensor akan mengubah nilai tegangan
pada ATMega 8535 dan IC ATMega 8535 akan memproses masukan
sehingga input ini akan diproses yang akhirnya akan menghasilkan output
yang bernilai 1 ( High ) pada LED, buzzer, dan LCD. Sedangkan saat sensor
tidak terkena air maka sensor akan mengubah juga nilai tegangan pada IC
ATMega 8535 dan IC ATMega 8535 juga memproses masukan sehingga
input ini akan diproses yang menghasilkan output yang bernilai 0 ( Low ).

Dalam mikrokontroler ini akan memproses input dan output dalam


bentuk heksadesimal, dengan Port B sebagai input dan Port A dan Port C
sebagai output yang nantinya akan dilanjutkan kembali ke LED, buzzer,
dan LCD untuk pengaktifan komponen tersebut masing - masing.
27

3. 3 Flowchart

MULAI

L H = NYALA
S1
S 1 = SENSOR 1
S 2 = SENSOR 2
S 3 = SENSOR 3
S 4 = SENSOR 4
L H = LED HIJAU S2 L K = NYALA

L K = LED KUNING
L M = LED MERAH
BUZ = BUZZER

S3 L M = NYALA

POWER ON
L M & BUZ =
S4 NYALA

INPUT
28

3. 4. Analisa Logika Program

#include "DrvGPIO.h"
void Init();
int main(void)
{
Init();
while(1)
{
//Kondisi Satu = Lampu Hijau
if(DrvGPIO_GetBit(E_GPB,0)==0)
{
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,12);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,13);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,14);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,15);
}
//Kondisi Dua = Lampu Kuning
else if(DrvGPIO_GetBit(E_GPB,3)==0)
{
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,12);
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,13);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,14);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,15);
}
//Kondisi Tiga = Lampu Merah
else if(DrvGPIO_GetBit(E_GPB,10)==0)
{
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,12);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,13);
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,14);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,15);
}
//Kondisi Empat = Lampu Merah & Buzzer
else if(DrvGPIO_GetBit(E_GPB,13)==0)
{
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,12);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,13);
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,14);
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,15);
}
else
{
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,12);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,13);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,14);
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,15);
}
}
}
29

Pada program ini menggunakan bahasa C. Dimulai dari header

#include DrvGPIO. yaitu mengambil library DrvGPIO untuk Input


Output;
void init (); yaitu awalan untuk memulai program;
int main(void) yaitu awalan untuk memulai program;
init(); yaitu awalan untuk memulai program;
while(1) yaitu juga awalan untuk memulai program;
//Kondisi satu = Lampu Hijau, hanya untuk memberi komentar untuk
menandakan Kondisi Lampu Hijau;
if(DrvGPIO_GetBit(E_GPB,0)==0) yaitu untuk mengaktifkan sensor 1
yang ada berada pada pin GPB 0;
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,12); yaitu untuk menyalakan LED hijau yang
ada pada pin GPC 12, ClrBit untuk memberi nilai 0, karena active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,13); yaitu untuk mematikan LED kuning yang
berada pada pin GPC 13, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,14); yaitu untuk mematikan LED merah yang
berada pada pin GPC 14, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,15); yaitu untuk mematikan buzzer yang berada
pada pin GPC 15, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
//Kondisi dua = Lampu Kuning, hanya untuk memberi komentar untuk
menandakan Kondisi Lampu Kuning;
else if(DrvGPIO_GetBit(E_GPB,3)==0) yaitu selain itu, untuk
mengaktifkan sensor 2 yang ada berada pada pin GPB 3;
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,12); yaitu untuk mematikan LED hijau yang
ada pada pin GPC 12, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,13); yaitu untuk menyalakan LED kuning yang
berada pada pin GPC 13, ClrBit untuk memberi nilai 0, karena active low.
30

DrvGPIO_SetBit(E_GPC,14); yaitu untuk mematikan LED merah yang


berada pada pin GPC 14, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,15); yaitu untuk mematikan buzzer yang berada
pada pin GPC 15, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
//Kondisi tiga = Lampu Merah, hanya untuk memberi komentar untuk
menandakan Kondisi Lampu Merah;
else if(DrvGPIO_GetBit(E_GPB,10)==0) yaitu selain itu, untuk
mengaktifkan sensor 3 yang ada berada pada pin GPB 10;
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,12); yaitu untuk mematikan LED hijau yang
ada pada pin GPC 12, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,13); yaitu untuk mematikan LED kuning yang
berada pada pin GPC 13, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,14); yaitu untuk menyalakan LED merah yang
berada pada pin GPC 14, ClrBit untuk memberi nilai 0, karena active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,15); yaitu untuk mematikan buzzer yang berada
pada pin GPC 15, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
//Kondisi empat = Lampu Merah & Buzzer, hanya untuk memberi
komentar untuk menandakan Kondisi Lampu Merah & Buzzer;
else if(DrvGPIO_GetBit(E_GPB,13)==0) yaitu selain itu, yaitu untuk
mengaktifkan sensor 4 yang ada berada pada pin GPB 13;
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,12); yaitu untuk mematikan LED hijau yang
ada pada pin GPC 12, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,13); yaitu untuk mematikan LED kuning yang
berada pada pin GPC 13, SetBit untuk memberi nilai 1, karena active low.
DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,14); yaitu untuk menyalakan LED merah yang
berada pada pin GPC 14, ClrBit untuk memberi nilai 0, karena active low
31

DrvGPIO_ClrBit(E_GPC,15); yaitu untuk menyalakan buzzer yang


berada pada pin GPC 15, ClrBit untuk memberi nilai 0, karena active
low.
else selain itu;
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,12); yaitu untuk mematikan LED hijau
yang berada pada pin GPC 12, SetBit untuk memberi nilai 1, karena
active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,13); yaitu untuk mematikan LED hijau
yang berada pada pin GPC 13, SetBit untuk memberi nilai 1, karena
active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,14); yaitu untuk mematikan LED hijau
yang berada pada pin GPC 14, SetBit untuk memberi nilai 1, karena
active low.
DrvGPIO_SetBit(E_GPC,15); yaitu untuk mematikan LED hijau
yang berada pada pin GPC 15, SetBit untuk memberi nilai 1, karena
active low.
BAB IV
CARA KERJA ALAT

4.1 Cara Kerja Alat


Berikut ini akan dijelaskan bagaimana cara kerja Flood Sensor
dengan menggunaka Mikrokontroller NUVOTON NUC140VE3CN
beserta rinciannya.

1. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memberikan tegangan kepada


NUVOTON NUC140VE3CN agar pin VCC dan Ground pada
NUVOTON dapat disambungkan dengan rangkaian.
2. Selanjutnya NUVOTON NUC140VE3CN harus di aktifkan terlebih
dahulu pin-pin yang ada menggunakan Software CoSmart selanjutnya
kita harus melakukan listing program menggunakan CoIde.
3. Setelah 2 tahapan di atas selesai sambungkan kaki rangkaian dengan pin-
pin yang terdapat di NUVOTON NUC140VE3CN, setelah di pasang
baru kita dapat melihat kondisi pada sensor
4. Ketika sensor air tidak tersentuh dengan air mikrokontroller tidak akan
memberikan kondisi kepada LED dikarenakan tidak ada inputan.
5. Ketika air mengenai sensor paling bawah (level 1), maka kaki GPB,0
pada mikrokontroller mendapat logika 0 yang mengakibatkan output
LED berwarna hijau menyala.
6. Ketika air mengenai sensor paling bawah (level 2), maka kaki GPB,5
pada mikrokontroller mendapat logika 0 yang mengakibatkan output
LED berwarna kuning menyala.
7. Ketika air mengenai sensor paling bawah (level 3), maka kaki GPB,8
pada mikrokontroller mendapat logika 0 yang mengakibatkan output
LED berwarna merah menyala.
8. Ketika air mengenai sensor paling bawah (level 4), maka kaki GPB,13
pada mikrokontroller mendapat logika 0 yang mengakibatkan output
LED merah dan Buzzer menyala.

32
BAB V
PENUTUP

5. 1 Kesimpulan

Setelah melakukan analisis, percobaan dan perancangan


proyek Flood Sensor secara manual. Dapat disimpulkan bahwa :

1. Flood Sensor merupakan sebuah proyek yang didesain untuk


system mobile agar terhindar dari bahaya banjir. Flood Sensor
dikendalikan oleh mikrokontroller yang telah di program oleh user
dan sensor air sebagai sensornya.
2. Flood Sensor bekerja berdasarkan sensor ketinggian air, saat ada air
yang mengenai sensor maka indicator LED akan menyala dan LCD
akan menampilkan kata berdasarkan keadaan yang terjadi.
3. Flood Sensor memiliki beberapa kondisi yaitu:
Level Output Kondisi
1 LED Hijau Aman
2 LED Kuning Siaga
3 LED Merah Waspada
4 LED Merah+Buzzer Bahaya

5. 2 Saran

Untuk menghasilkan alat yang sempurna kita harus memerhatikan


beberapa hal:

1. Pastikan bahwa jalur yang berada pada PCB tidak ada yang
terputus
2. Listing Program yang kita buat tidak ada yang salah
3. Komponen yang kita miliki tidak terdapat kerusakan
4. Tegangan yang di gunakan tidak lebih dari +12V karna dapat
merusak komponen.

33
DAFTAR PUSTAKA

http://tutorial-elektronika.blogspot.com/2009/02/ic-lm-324.html
http://www.nuvoton.com/2016/hq/products/microcontrollers/arm-cortex-
m0-mcus/NUC140VE3CN-240-connectivity-
series/NUC140VE3CNve3cn/
Insap Santoso. P, 1996, Semi Konduktor, Erlangga, Jakarta
JP. Holman. 1985. Metode Pengukuran Teknik Edisi Ke 4. Jakarta.
Erlangga.
Malvino, A.P, 1996, Prinsip Prinsip Elektronika Edisi ke 3, Erlangga,
Jakarta.

ix
LAMPIRAN

Schematic Flood Sensor

L-1
Belakang

Depan

L-2