Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. KISTA OVARIUM

I.1.1. Pendahuluan
Kista ovarium adalah tumor ovarium yang bersifat neoplastik dan non neoplastik.
(Wiknjosastro, 2005)
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf
atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari
epithelium ovarium (Smelzer and Bare. 2002: 1556).
Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar, kistik atau
padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium. Dalam kehamilan, tumor ovarium
yang dijumpai paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein.
Tumor ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin dalam
rahim atau dapat menghalang halangi masuknya kepala ke dalam panggul
(Wiknjosastro, 2005).
Kistoma ovari adalah kista yang permukaannya rata dan halus, biasanya
bertangkai, bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis berisi cairan
serosa dan berwarna kuning. Pengumpulan cairan tersebut terjadi pada indung
telur atau ovarium (Mansjoer, 2000: 388; Kondas, 2008)

I.1.2. Klasifikasi
Prawirohardjo (2002) menyatakan bahwa berdasarkan tingkat keganasannya,
kista terbagi dua, yaitu nonneoplastik dan neoplastik. Kista nonneoplastik sifatnya
jinak dan biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista
neoplastik umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan
sifatnya.

Menurut Mansjoer, et al (2000), kista ovarium neoplastik jinak diantaranya:


a. Kistoma Ovarii Simpleks
Kistoma ovarii simpleks merupakan kista yang permukaannya rata
dan halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi

1
besar. Dinding kista tipis berisi cairan jernih yang serosa dan berwarna
kuning. Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista dengan reseksi
ovarium.

b. Kistadenoma Ovarii Musinosum


Bentuk kista multilokular dan biasanya unilateral, dapat tumbuh
menjadi sangat besar. Gambaran klinis terdapat perdarahan dalam kista
dan perubahan degeneratif sehingga timbul perleketan kista dengan
omentum, usus-usus, dan peritoneum parietale. Selain itu, bisa terjadi
ileus karena perleketan dan produksi musin yang terus bertambah akibat
pseudomiksoma peritonei. Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista in
tito tanpa pungsi terlebih dulu dengan atau tanpa salpingo-ooforektomi
tergantung besarnya kista.

c. Kistadenoma Ovarii Serosum


Kista ini berasal dari epitel germinativum. Bentuk kista umumnya
unilokular, tapi jika multilokular perlu dicurigai adanya keganasan. Kista
ini dapat membesar, tetapi tidak sebesar kista musinosum. Selain teraba
massa intraabdominal juga dapat timbul asites. Penatalaksanaan
umumnya sama dengan kistadenoma ovarii musinosum.

2
d. Kista Dermoid
Kista dermoid adalah teratoma kistik jinak dengan struktur
ektodermal berdiferensiasi sempurna dan lebih menonjol dari pada
mesoderm dan entoderm. Bentuk cairan kista ini seperti mentega.
Kandungannya tidak hanya berupa cairan tapi juga ada partikel lain
seperti rambut, gigi, tulang, atau sisa-sisa kulit. Dinding kista keabu-
abuan dan agak tipis, konsistensi sebagian kistik kenyal dan sebagian lagi
padat. Dapat menjadi ganas, seperti karsinoma epidermoid. Kista ini
diduga berasal dari sel telur melalui proses parthenogenesis. Gambaran
klinis adalah nyeri mendadak di perut bagian bawah karena torsi tangkai
kista dermoid. Dinding kista dapat ruptur sehingga isi kista keluar di
rongga peritoneum. Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista dermoid
bersama seluruh ovarium.

Menurut Prawirohardjo (2002), kista nonneoplastik terdiri dari:


a. Kista Folikel
Kista ini berasal dari Folikel de Graaf yang tidak sampai berovulasi,
namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel
primer yang setelah tumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami
proses atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi kista. Bisa
didapati satu kista atau lebih, dan besarnya biasanya dengan diameter 1
1,5 cm.
Kista folikel ini bisa menjadi sebesar jeruk nipis. Bagian dalam
dinding kista yang tipis yang terdiri atas beberapa lapisan sel granulosa,
akan tetapi karena tekanan di dalam kista, maka terjadilah atrofi pada

3
lapisan ini. Cairan dalam kista berwarna jernih dan sering kali
mengandung estrogen. Oleh sebab itu, kista kadang-kadang dapat
menyebabkan gangguan haid. Kista folikel lambat laun dapat mengecil
dan menghilang spontan, atau bisa terjadi ruptur dan kista pun
menghilang. Umumnya, jika diameter kista tidak lebih dari 5 cm, maka
dapat ditunggu dahulu karena kista folikel biasanya dalam waktu 2 bulan
akan menghilang sendiri.

b. Kista Korpus Luteum


Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan
menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum
mempertahankan diri (korpus luteum persistens), perdarahan yang sering
terjadi di dalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan yang
berwarna merah coklat karena darah tua. Frekuensi kista korpus luteum
lebih jarang dari pada kista folikel.
Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel
luteum yang berasal dari sel-sel teka. Kista korpus luteum dapat
menimbulkan gangguan haid, berupa amenorea diikuti oleh perdarahan
tidak teratur. Adanya kista dapat pula menyebabkan rasa berat di perut
bagian bawah dan perdarahan yang berulang dalam kista dapat
menyebabkan ruptur. Rasa nyeri di dalam perut yang mendadak dengan
adanya amenorea sering menimbulkan kesulitan dalam diagnosis
diferensial dengan kehamilan ektopik yang terganggu. Jika dilakukan
operasi, gambaran yang khas kista korpus luteum memudahkan
pembuatan diagnosis. Penanganan kista korpus luteum ialah menunggu
sampai kista hilang sendiri. Dalam hal dilakukan operasi atas dugaan
kehamilan ektopik terganggu, kista korpus luteum diangkat tanpa
mengorbankan ovarium.

4
c. Kista Lutein
Pada mola hidatidosa, koriokarsinoma, dan kadang-kadang tanpa
adanya kelainan tersebut, ovarium dapat membesar dan menjadi kistik.
Kista biasanya bilateral dan bisa menjadi sebesar ukuran tinju. Pada
pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka. Sel-sel
granulosa dapat pula menunjukkan luteinisasi, akan tetapi seringkali sel-
sel menghilang karena atresia. Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh
hormon koriogonadotropin yang berlebihan, dan dengan hilangnya mola
atau koriokarsinoma, ovarium mengecil spontan.

d. Kista Inklusi Germinal


Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil
dari epitel germinativum pada permukaan ovarium. Kista ini lebih banyak
terdapat pada wanita yang lanjut umurnya, dan besarnya jarang melebihi
diameter 1 cm. Kista ini biasanya secara kebetulan ditemukan pada
pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu operasi. Kista
terletak di bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan
epitel kubik atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan serous.

e. Kista Endometriosis
Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip
dengan selaput dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di
ovarium dan berkembang menjadi kista. Kista ini sering disebut juga
sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah coklat-kemerahan.
Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan
nyeri haid dan nyeri senggama. Kista ini berasal dari sel-sel selaput perut
yang disebut peritoneum. Penyebabnya bisa karena infeksi kandungan
menahun, misalnya keputihan yang tidak ditangani sehingga kuman-
kumannya masuk kedalam selaput perut melalui saluran indung telur. Infeksi
tersebut melemahkan daya tahan selaput perut, sehingga mudah terserang
penyakit. Gejala kista ini sangat khas karena berkaitan dengan haid. Seperti
diketahui, saat haid tidak semua darah akan tumpah dari rongga rahim ke
liang vagina, tapi ada yang memercik ke rongga perut. Kondisi ini

5
merangsang sel-sel rusak yang ada di selaput perut mengidap penyakit baru
yang dikenal dengan endometriosis. Karena sifat penyusupannya yang
perlahan, endometriosis sering disebut kanker jinak.

f. Kista Stein-Leventhal
Ovarium tampak pucat, membesar 2 sampai 3 kali, polikistik, dan
permukaannya licin. Kapsul ovarium menebal. Kelainan ini terkenal
dengan nama sindrom Stein-Leventhal dan kiranya disebabkan oleh
gangguan keseimbangan hormonal. Umumnya pada penderita terhadap
gangguan ovulasi, oleh karena endometrium hanya dipengaruhi oleh
estrogen, hiperplasia endometrii sering ditemukan.

I.1.3. Gejala dan Tanda Klinik


Kista ovarium seringkali tanpa gejala, terutama bila ukuran kistanya masih kecil.
Kista yang jinak baru memberikan rasa tidak nyaman apabila kista semakin
membesar, sedangkan pada kista yang ganas kadangkala memberikan keluhan sebagai
hasil infiltrasi atau metastasis kejaringan sekitar. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat
dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti
endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker
ovarium. Gejala-gejalanya antara lain: perut terasa penuh, berat dan kembung,
tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil), haid tidak teratur,
nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung
bawah dan paha, nyeri senggama, mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara
mirip seperti pada saat hamil. Bila tumor tersebut menghasilkan hormon, kadang ada

6
gangguan hormonal berupa ganguan haid. Mungkin timbul komplikasi berupa asites,
atau gejala sindrom perut akut, akibatnya putaran tungkai tumor atau gangguan
peredaran darah karena penyebab lain ( Sjamjuhidajat, 2004 ). Kadang-kadang kista
dapat memutar pada pangkalnya, mengalami infark dan robek, sehingga
menyebabkan nyeri tekan perut bagian bawah yang akut sehingga memerlukan
penanganan kesehatan segera (Moore, 2001).

I.1.4. Etiologi
Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti, kemungkinan disebabkan oleh
beberapa faktor pendukung, yaitu:
1. Ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen
2. Pertumbuhan folikel yang tidak terkontrol
3. Degenerasi ovarium
4. Gaya hidup tidak sehat yakni dengan:
a. Konsumsi makanan yang tinggi lemak, kurang serat dan makanan
berpengawet
b. Penggunaan zat tambahan pada makanan
c. Kurang berolah raga
d. Merokok dan mengkonsumsi alkohol
e. Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
f. Sering stress
5. Faktor genetik
Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker
yaitu yang disebut protoonkgen, karena suatu sebab tertentu misalnya
karena makan makanan yang bersifat karsinogen, polusi atau terpapar zat
kimia tertentu atau atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah
menjadi onkogen yaitu gen pemicu kanker.

I.1.4. Patofisologi
Sebagian besar gejala dan tanda adalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas
endokrin dan kompikasi tumor tumor tersebut.

1. Akibat pertumbuhan

7
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan
pembenjolan perut. Tekanan terhadap alatalat disekitarnya disebabkan oleh
besarnya tumor atau posisisnya dalam perut. Apabila tumor mendesak
kandung kemih dan dapat menimbulkan gangguan miksi, sedang suatu kista
yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang kadang hanya
menimbulkan rasa berat dalam perut serta dapat juga mengakibatkan obstipasi,
edema pada tungkai.

2. Akibat aktivitas hormonal


Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali jika
tumor itu sendiri mengeluarkan hormon.

3. Akibat komplikasi
a. Perdarahan ke dalam kista
Biasanya terjadi sedikit sedikit sehingga berangsur angsur
menyebabkan pembesaran luka dan hanya menimbulkan gejala gejala
klinik yang minimal. Akan tetapi kalau perdarahan terjadi dalam jumlah
yang banyak akan menimbulkan nyeri di perut.
b. Putaran tangkai
Terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih.
Adanya putaran tangkai menimbulkan tarikan melalui ligamentum
infundibulopelvikum terhadap peritoneum parietale dan ini menimbulkan
rasa sakit.
c. Infeksi pada tumor
Terjadi jika di dekat tumor ada sumber kuman patogen. Kista
dermoid cenderung mengalami peradangan disusul pernanahan.
d. Robek dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai akibat
trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut dan lebih sering pada saat
persetubuhan. Jika, robekan kista disertai hemoragi yang timbul secara
akut, maka perdarahan bebas berlangsung ke uterus ke dalam rongga
peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus disertai tanda
tanda abdomen akut.
e. Perubahan keganasan
8
Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis
yang seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasan. Adanya
asites dalam hal ini mencurigakan, adanya anak sebar (metastasis)
memperkuat diagnosa keganasan. (Wiknjosastro, 2005).

Kista dermoid adalah tumor yang diduga berasal dari bagian ovum yang
normalnya menghilang saat maturasi. Asalnya tidak teridentifikasi dan terdiri atas sel
sel embrional yang tidak berdiferensiasi. Kista ini tumbuh dengan lambat dan
ditemukan selama pembedahan yang mengandung material sebasea kental, berwarna
kuning, yang timbul dari lapisan kulit. Rambut, gigi, tulang dan banyak jaringan
lainnya ditemukan dalam keadaan rudimenter pada kista ini. Kista dermoid hanya
merupakan satu tipe lesi yang dapat terjadi. Banyak tipe lainnya dapat terjadi dan
pengobatannya tergantung pada tipenya (Smeltzer and Bare, 2001).

I.1.5. Diagnosis
Menurut Llwellyn (2001), kista ovarium jinak tumbuh secara tersembunyi dan
sering tidak dapat dideteksi selama beberapa tahun. Tidak menyebabkan nyeri, tetapi
jika membesar dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan jarang menimbulkan
gangguan menstruasi. Pemeriksaan abdomen dan vagina secara periodik akan dapat
mendeteksi kista ini. Kista tanpa nyeri atau massa padat di cul-de-sac, atau di tempat
ovarium, atau meluas ke abdomen, yang dengan palpasi bersifat kistik sampai padat,
memberi tanda kista ovarium. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan skening ultrason
abdomen atau transvagina, yang dapat membedakannya dari kehamilan, kegemukan,
pseudosiesis, kandung kemih penuh atau degenerasi kistik dari mioma.
Prawirohardjo (2002), menyatakan bahwa apabila pada pemeriksaan ditemukan
kista di rongga perut bagian bawah dan atau di rongga panggul, maka setelah diteliti
sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakkan
atau tidak), maka perlu ditentukan jenis kista tersebut. Pada kista ovarium biasanya
uterus dapat diraba tersendiri, terpisah dari kista. Jika kista ovarium terletak di garis
tengah dalam rongga perut bagian bawah dan kista itu konsistensinya kistik, perlu
dipikirkan adanya kehamilan atau kandung kemih penuh, sehingga pada anamnesis
perlu lebih cermat dan disertai pemeriksaan tambahan. Apabila sudah ditentukan
bahwa kista yang ditemukan ialah kista ovarium, maka perlu diketahui apakah kista
itu bersifat neoplastik atau nonneoplastik.
9
Kista nonneoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukkan
gejala-gejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan kista-kista akibat
peradangan tidak dapat digerakkan karena perleketan. Kista nonneoplastik umumnya
tidak menjadi besar, dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri.
Jika kista ovarium itu bersifat neoplastik, maka pemeriksaan yang cermat dan analisis
yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan
diagnosis diferensial.

I.1.6. Pemeriksaan Penunjang


1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor
berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat-sifat tumor
itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah tumor
berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau
solid, dan dapatkah dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang
bebas dan yang tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya,
pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor.
4. Parasentesis
Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan sebab asites.
Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemari cavum peritonei
dengan isi kista bila dinding kista tertusuk. (Wiknjosastro, 2005).

I.1.7. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya, tumor ovarium memerlukan pembedahan, tetapi ada beberapa
kista benigna yang pada umumnya tidak memerlukan pembedahan seperti kista folikel
de graf, kista korpus luteum dan kista endometrium. Penatalaksanaan pada tumor
berbeda beda tergantung jenis tumor neoplastik ganas atau tidak.
1. Tumor ovarium nonneoplastik
Tumor ovarium yang tidak memberikan gejala / keluhan pada
penderita dan yang besarnya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter
10
kurang dari 5 cm termasuk tumor nonneoplastik. Tidak jarang tumor
tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan menghilang. Maka
tindakan yang dilakukan ialah:
a. Menunggu selama 2 sampai 3 bulan.
b. Mengadakan pemeriksaan ginekologik berulang.
c. Mengamati peningkatan pertumbuhan tumor.
d. Mempertimbangkan tindakan operatif, apabila kesimpulan dari
hasil observasi tumor tersebut bersifat neoplastik.

2. Tumor ovarium neoplastik tidak ganas


Tindakan yang dilakukan pada tumor ovarium neoplastik yang tidak
ganas ialah :
a. Pengangkatan tumor ini adalah dengan pengangkatan reseksi
pada bagian ovarium yang mengandung tumor.
b. Jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan
pengangkatan ovarium disertai dengan pengangkatan tuba
(salpingo-ooforektomi).
c. Operasi kedua dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah
ditemukan tumor pada satu atau dua ovarium.
d. Operasi tumor ovarium yang diangkat harus terbuka, untuk
mengetahui apakah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan
meragukan, perlu pada saat operasi dilakukan pemeriksaan
sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli
patologi anatomik untuk mendapatkan kepastian apakah tumor
tersebut ganas atau tidak.

3. Histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral


Operasi yang tepat jika terdapat keganasan adalah dengan
histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral (pengangkatan kedua
tuba). Pada wanita muda yang masih ingin mempunyai keturunan dan
dengan tingkat keganasan tumor yang rendah (misalnya tumor sel
granulosa), dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil risiko dengn
melakukan operasi yang tidak bersifat radikal. (Sjamjuhidajat, 2004 ;
Wiknjosastro, 2005 )
11
Llewellyn (2001) menyatakan bahwa, terapi bergantung pada ukuran dan
konsistensi kista dan penampakannya pada pemeriksaan ultrasonografi. Mungkin
dapat diamati kista ovarium berdiameter kurang dari 80 mm, dan skening diulang
untuk melihat apakah kista membesar. Jika diputuskan untuk dilakukan terapi, dapat
dilakukan aspirasi kista atau kistektomi ovarium. Kista yang terdapat pada wanita
hamil, yang berukuran >80 mm dengan dinding tebal atau semisolid memerlukan
pembedahan, setelah kehamilan minggu ke 12. Kista yang dideteksi setelah kehamilan
minggu ke 30 mungkin sulit dikeluarkan lewat pembedahan dan dapat terjadi
persalinan prematur. Keputusan untuk melakukan operasi hanya dapat dibuat setelah
mendapatkan pertimbangan yang cermat dengan melibatkan pasien dan pasangannya.
Jika kista menimbulkan obstruksi jalan lahir dan tidak dapat digerakkan secara digital,
harus dilakukan seksio sesaria dan kistektomi ovarium.

12
BAB II
LAPORAN KASUS

II.1. Identitas
Nama : Ny. SJ
No. Rekam Medis : 044077
Umur : 30 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Suruh - Kabupaten Semarang
Tanggal Pemeriksaan : 20 September 2013

II.2. Anamnesa
Keluhan :
P1A1 dengan keluhan pembesaran perut post kuretase 4 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit sekarang :


Pasien mengeluh perut membesar 4 bulan. Nyeri intermitten. PPV (-),
pusing (-), lemas (-), tidak ada gangguan aktivitas

Riwayat Penyakit Dahulu :


DM (-), HT (-).

Riwayat Haid :
Menarche :13 tahun Lama Haid : 10 7 hari
Siklus Haid : 28 30 hari

Riwayat Obstetrik :
Anak I : cukup bulan, partus normal spontan, usia 5 tahun
Anak II : D&C saat usia kehamilan 18 minggu karena janin
tidak berkembang
Pasien KB dengan menggunakan suntik selama 2 bulan

13
II.3. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital : Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 92 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,5 0C
Kepala : dalam batas normal
Leher : dalam batas normal
Tenggorokan : dalam batas normal
Mata : anemis (-), ikterik (-)
Jantung : BJ 1-2 +, gallop (-), murmur (-)
Paru : vesikuler seluruh lapang paru, sesak (-)
Abdomen : Hepar : tidak teraba
Lien : tidak teraba
Perut membesar (+), nyeri tekan (-)
II.4. Pemeriksaan Penunjang
USG : Gambaran kista dermoid (+)
Rontgen : Metastasis pulmo dan tulang (-), pembesaran cor (-)
Lab : dalam batas normal

II.5. Diagnosis Kerja


P1A1 dengan Kista Ovarii Sinistra, suspek Kista Dermoid

II.6. Terapi
Nonfarmakologis
- Tirah baring
- Monitoring TTV

Pro Laparotomi Kistektomi

Medika mentosa
- Infus RL 20 tpm
Post Laparotomi et Kistektomi
- Inj Socef/ 6 jam
- Inj Metro/6 jam
- Inj Ketorolac/6 jam
- Inj. Asam tranexamat/6 jam
- Monecto p.o 2x1/2
- Corsel p.o 2x1

II. 6. Follow up

14
Tanggal Follow-up Planning
20/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal. - Pro Laparotomi
11.00 Abdomen : pembesaran abdomen (+), - EKG
nyeri tekan (-) - Lab
Keluhan (-)
- Konsul IPD dan Anestesi

20/9/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.


15.00 Keluhan (-), nyeri (-)
21/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal. - Rencana Laparotomi Senin
07.00 Keluhan (-) 23/09
21/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
15.00 Keluhan (-)
22/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
07.00 Keluhan (-)
22/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
19.00 Keluhan (-)
23/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
07.00 Keluhan (-)
23/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal Terapi :
11.00 Post Laparotomi et Kistektomi Sinistra. - Inj Socef/ 6 jam
- Inj Metro/6 jam
Kista mengalami perlengketan pada
- Inj Ketorolac/6 jam
peritoneum, kista sebesar kepala dewasa. - Inj. Asam tranexamat/6 jam

Planning :
- Histopatologi Jaringan
Ovarii Sinistra
23/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
19.00 Post Laparotomi. Keluhan (-), flatus (+)
24/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
07.00 Post Laparotomi. Keluhan (-). Post
Laparotomi H1
24/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
15.00 Post Laparotomi. Keluhan (-)
25/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
07.00 Post Laparotomi. Keluhan (-). Post
Laparotomi H2
25/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
15.00 Post Laparotomi. Keluhan (-)
26/09/2013 KU baik. TTV dalam batas normal.
15
07.00 Post Laparotomi. Keluhan (-). Post
Laparotomi H3
II.7. Prognosis
Dubia ad bonam

BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Subjektif
Pasien Ny. SJ, perempuan, usia 30 tahun datang dengan keluhan P1A1 dengan
keluhan pembesaran perut post kuretase 4 bulan yang lalu.

III.2. Objektif
Pada pemeriksaan fisik Ny. EW, ditemukan tanda-tanda vital dalam batas
normal. Dari status generalis pasien didapatkan pembesaran abdomen, teraba
massa (+), nyeri tekan (-). Sesuai dengan USG didapatkan adanya kista ovarii,
suspek kista dermoid.

III.3. Assesment
P1A1 dengan Kista Ovarii Sinistra, suspek Kista Dermoid

III.4. Plan
Laparotomi et Kistektomi Ovarii Sinistra.

16
17