Anda di halaman 1dari 21

PORTOFOLIO

Topik : Benign Prostate Hyperplasia


Tanggal (Kasus) : 21 Maret 2017 Presenter : dr. Halpy Karlin
Tanggal Presentasi : 10 April 2017 Pendamping : dr. Saidi Maghfur Ginting

Tempat Presentasi : RSUD. Sultan Sulaiman


Objektif Presentasi :
Keilmuan Ketrampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neon Bayi Anak Remaja Dewas Lansia Bumil
atus a
Deskripsi : Laki-laki berumur 63 tahun datang dengan keluhan sulit buang air kecil sejak 2
minggu yang lalu dan memberat dalam 2 hari SMRS. Nyeri ketika buang air kecil juga
dirasakan pasien sejak 2 minggu yang lalu. Pasien merasa tidak puas saat buang air kecil
dan merasa ada sisa sesudah buang air kecil. Pasien mengeluhkan harus mengedan untuk
mulai berkemih. Rasa ingin buang air kecil dalam 2 jam setelah selesai buang air kecil
dijumpai. Pasien juga mengeluhkan air kencing terputus putus dan pancaran kencing os juga
melemah dijumpai. Pasien juga mengeluh buang air kecil lebih dari 3 kali pada waktu
malam. Riwayat BAK berpasir (-), riwayat keluar batu saat BAK (-), riwayat retensi
sebelumnya (-), nyeri pinggang (-), hematuria (-), demam (-). Pasien sebelumnya sudah di
USG di Rumah Sakit Grand Medistra dan dinyatakan mengalami sakit ginjal.

Tujuan : Mendiagnosis dan memberikan tatalasana yang tepat sesuai dengan penyakit
yang dialami pasien
Bahan Bahasan Tinjauan Riset Kasus Audit
Pustaka
Cara Membahas Diskusi Presentasidan diskusi Email Pos

Data Nama : Tn. M / 63 tahun No. Reg :


Pasien Alamat : Dusun XVII Hapoltahan 01.87.24
Agama : Islam
Nama RS : RSUD Sultan Sulaiman Telp : Terdaftar Sejak:
Data utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosis/Gambaran Klinis :
Deskripsi : Laki-laki berumur 63 tahun datang dengan keluhan sulit buang air kecil sejak 2
minggu yang lalu dan memberat dalam 2 hari SMRS. Nyeri ketika buang air kecil juga
dirasakan pasien sejak 2 minggu yang lalu. Pasien merasa tidak puas saat buang air kecil
dan merasa ada sisa sesudah buang air kecil. Pasien mengeluhkan harus mengedan untuk
mulai berkemih. Rasa ingin buang air kecil dalam 2 jam setelah selesai buang air kecil
dijumpai. Pasien juga mengeluhkan air kencing terputus putus dan pancaran kencing os juga

1
PORTOFOLIO

melemah dijumpai. Pasien juga mengeluh buang air kecil lebih dari 3 kali pada waktu
malam. Riwayat BAK berpasir (-), riwayat keluar batu saat BAK (-), riwayat retensi
sebelumnya (-), nyeri pinggang (-), hematuria (-), demam (-). Pasien sebelumnya sudah di
USG di Rumah Sakit Grand Medistra dan dinyatakan mengalami sakit ginjal.

2. Riwayat Pengobatan : Captopril


3. Riwayat Kesehatan/penyakit : Hipertensi, sakit ginjal
4. Riwayat Keluarga : -
5. Riwayat Pekerjaan : Wiraswasta
Hasil Pembelajaran
1. Anatomi dan Histologi Kelenjar Prostat
2. Epidemiologi, Faktor Resiko, dan Etiopatogenesis Benign Prostate Hyperplasia
3. Gejala Klinis dan Penegakan Diagnosa Benign Prostate Hyperplasia
4. Penatalaksanaan dan Prognosis Benign Prostate Hyperplasia

1. Subjektif :

Deskripsi : Laki-laki berumur 63 tahun datang dengan keluhan sulit buang air kecil sejak
2 minggu yang lalu dan memberat dalam 2 hari SMRS. Nyeri ketika buang air kecil juga
dirasakan pasien sejak 2 minggu yang lalu. Pasien merasa tidak puas saat buang air
kecil dan merasa ada sisa sesudah buang air kecil. Pasien mengeluhkan harus mengedan
untuk mulai berkemih. Rasa ingin buang air kecil dalam 2 jam setelah selesai buang air
kecil dijumpai. Pasien juga mengeluhkan air kencing terputus putus dan pancaran
kencing os juga melemah dijumpai. Pasien juga mengeluh buang air kecil lebih dari 3
kali pada waktu malam. Riwayat BAK berpasir (-), riwayat keluar batu saat BAK (-),
riwayat retensi sebelumnya (-), nyeri pinggang (-), hematuria (-), demam (-). Pasien
sebelumnya sudah di USG di Rumah Sakit Grand Medistra dan dinyatakan mengalami
sakit ginjal. Riwayat penyakit terdahulu :

- Riwayat Jantung disangkal


- Riwayat DM disangkal
- Riwayat Hipertensi dijumpai
- Riwayat Sakit Ginjal dijumpai
- Riwayat Asma, Alergi disangkal

2. Objektif :

Keadaan Umum : Compos mentis


Vital sign :

2
PORTOFOLIO

TD = 170/90 mmHg
HR = 84 x/i
RR = 22 x/i
T = 37,2OC

A. Status Generalis
Kepala
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil
isokor (3 mm)
T/H/M : Dalam batas normal
Leher : Pemb. KGB (-)
Pulmo
Inspeksi : pergerakan dada simetris, ketinggalan pernafasan (-)
Palpasi : stem fremitus kiri=kanan
Perkusi : sonor dikedua lapang paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis tidak teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : S1 S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi : simetris
Palpasi : soepel, hepar dan lien tidak teraba
Auskultasi : peristaltik (+), Asites (-)
Perkusi : timpani
Ekstremitas
Akral hangat, oedem pretibial -/-, deformitas (-)

Genitalia
Laki-laki (+) Tersirkumsisi. Di pasang Foley Katheter 18 Fr.

3
PORTOFOLIO

B. Pemeriksaan laboratorium:

Darah Rutin

Tanggal 21 Maret 2017

Pemeriksaan Unit Hasil Normal

HB gr % 7,8 12.0 - 16.0

Trombosit ribu/mm3 218.000 150 - 450

Eritrosit juta/mm3 2,87 3.8 5.8

Leukosit 10/mm3 7.600 4000-10.000

Ht % 23,6 35.0 50.0

MCV m3 82,5 82-95

MCH Pg 27,1 27-31

MCHC gram/dL 33,0 31.5 35.0

Nilai PCT % 0,211 0.100-0.500

Nilai RDW % 16,8 10.0-15.0

Nilai MPV m3 9,7 6.5-11.0

Nilai PDW % 15,4 10.0-18.0

Glucose ad Random mg/dL 120 200

Faal Ginjal
Tanggal 21 Maret 2017
Pemeriksaan Hasil Normal Satuan
Ureum 109 17-43 mg/dl
Creatinin 3,3 L : 0.9-1.3 mg/dl
P : 0.6-1.1

Faal Hati
Tanggal 21 Maret 2017
Pemeriksaan Hasil Normal Satuan
SGOT (AST) 15 L : < 31 mg/dl
P : < 35
SGPT (ALT) 17 L : < 35 mg/dl

4
PORTOFOLIO

P : < 45

Profil Lipid
Tanggal 21 Maret 2017
Pemeriksaan Hasil Normal Satuan
Cholesterol 171 200 mg/dl
HDL 49 35 mg/dl
LDL 110 130
Triglyseride 60 200

Profil Arthritis
Tanggal 21 Maret 2017
Pemeriksaan Hasil Normal Satuan
Uric Acid 10,4 L : 3,5-7,2 mg/dl
P : 2,6-6,0

3. Diagnosis

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang diagnosis


kasus ini adalah: Retensi Urine ec. ISK dd/ BSK

4. Penatalaksanaan

Konsul Sp.B
Non medikamentosa:
Tirah baring
Pasang kateter
Diet MB RG

Medikamentosa
IVFD RL 10 gtt/menit
Inj Ceftriaxone 1 amp/12 jam (skin test)
Inj Ondansetron 1 amp/ 8 jam
Inj Ketorolac 10 mg/ 12 jam
Ranitidin 2x1
Ulsafat Syr 3xCI
Captopril 2x12,5 mg

5. FOLLOW UP
Tanggal 22 Maret 2017
5
PORTOFOLIO

S : Nyeri BAK (+), mual (+)


O : Kesadaran kompos mentis,
TD 160/80 mmHg, napas 20x/menit, nadi 80x/menit, Toraks: murmur (-),
Abdomen: inspeksi dinding abdomen tampak datar, distensi (-), BU (+)
5x/menit, nyeri tekan (-), Shifting dullness (-), Ekstremitas bawah: pitting
edema (-/-), akral hangat, Genitalia: kateter terpasang
A : BPH + CKD
P : IVFD RL 10 gtt/i
Inj Ceftriaxone 1 amp/12 jam
Inj Ketorolac 10 mg/ 12 jam
Inj Ondansetron 1 amp/ 12 jam
Ranitidin 2x1
Ulsafat syr 3xCI
Captopril 2x12,5 mg
Allupurinol 1x100 mg
Asam folat 2x1
Anjuran : Konsul Sp.PD

Tanggal 23 Maret 2017


S : Nyeri BAK (+), mual (+), pusing (+)
O : Kesadaran kompos mentis,
TD 140/70 mmHg, napas 22x/menit, nadi 82x/menit, Toraks: murmur (-),
Abdomen: inspeksi dinding abdomen tampak datar, distensi (-), BU (+)
5x/menit, nyeri tekan (-), Shifting dullness (-), Ekstremitas bawah: pitting
edema (-/-), akral hangat, Genitalia: kateter terpasang
A : BPH + CKD ec. HN + Hipertensi Stage I
P : IVFD RL 15 gtt/i
Inj Ceftriaxone 1 amp/12 jam
Inj Ketorolac 10 mg/ 8 jam
Inj Ondansetron 1 amp/ 8 jam
Inj Furosemid 1 amp/ 12 jam
Inj Ranitidin 1 amp/ 12 jam
Ciprofloxacin drips 400 mg/ 12 jam
Bicnat 3x1
Ulsafat syr 3xCI
Captopril 2x12,5 mg
Allupurinol 1x100 mg
Asam folat 2x1
Anjuran : USG ginjal

Tanggal 24 Maret 2017


S : Nyeri BAK (+)
O : Kesadaran kompos mentis,
TD 160/80 mmHg, napas 20x/menit, nadi 82x/menit, Toraks: murmur (-),
Abdomen: inspeksi dinding abdomen tampak datar, distensi (-), BU (+)
5x/menit, nyeri tekan (-), Shifting dullness (-), Ekstremitas bawah: pitting
edema (-/-), akral hangat, Genitalia: kateter terpasang, UOP 1000cc/ 12 jam
A : BPH + CKD ec. HN + Hipertensi Stage I
P : Tirah baring
O2 1-2 L/i

6
PORTOFOLIO

IVFD Rsol 30 gtt/i


Inj Ketorolac 10 mg/ 8 jam
Inj Furosemid 1 amp/ 12 jam
Inj Ranitidin 1 amp/ 12 jam
Ciprofloxacin drips 400 mg/ 12 jam
Bicnat 3x1
Captopril 2x12,5 mg
Allupurinol 1x100 mg
Anjuran : Urinalisa, RFT/ 3 hari, USG ginjal

Urinalisa
Tanggal 24 Maret 2017

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Warna Kuning Kuning

Kejernihan Jernih Jernih

Reduksi Negatif Negatif

Bilirubin Negatif Negatif

Keton Negatif Negatif

Spesifik gravity 1,015 1,000-1,030

Blood Negatif Negatif

PH 6,5 5-8,5

Protein ++ Negatif

Urobilinogen Negatif 0,2-1

Nitrit Negatif Negatif

Lekosit Negatif Negatif

Sedimen

Nitrit 1-2 0-1/lpb

Lekosit 2-3 0-3/lpb

Tanggal 25 Maret 2017


S : Nyeri BAK (+)
O : Kesadaran kompos mentis,
TD 140/90 mmHg, napas 20x/menit, nadi 80x/menit, Toraks: murmur (-),
Abdomen: inspeksi dinding abdomen tampak datar, distensi (-), BU (+)
5x/menit, nyeri tekan (-), Shifting dullness (-), Ekstremitas bawah: pitting
edema (-/-), akral hangat, Genitalia: kateter terpasang

7
PORTOFOLIO

A : BPH + CKD ec. HN + Hipertensi Stage I


P : IVFD Rsol 30 gtt/i
Inj Ketorolac 10 mg/ 8 jam
Inj Furosemid 1 amp/ 12 jam
Inj Ranitidin 1 amp/ 12 jam
Ciprofloxacin drips 400 mg/ 12 jam
Bicnat 3x1
Captopril 2x12,5 mg
Allupurinol 1x100 mg
Hasil USG ginjal kesan : bilateral contracted kidney, cystitis, prostat sulit
dinilai

Tanggal 26 Maret 2017


S : Nyeri BAK (+)
O : Kesadaran kompos mentis,
TD 150/90 mmHg, napas 22x/menit, nadi 82x/menit, Toraks: murmur (-),
Abdomen: inspeksi dinding abdomen tampak datar, distensi (-), BU (+)
5x/menit, nyeri tekan (-), Shifting dullness (-), Ekstremitas bawah: pitting
edema (-/-), akral hangat, Genitalia: kateter terpasang
A : BPH + CKD ec. HN + Hipertensi Stage I
P : IVFD RL 15gtt/i
Inj Ceftriaxone 1 g/ 12 jam
Inj Ketorolac 10 mg/ 8 jam
Inj Ranitidin 1 amp/ 12 jam
Ciprofloxacin drips 400 mg/ 12 jam
Bicnat 3x1
Captopril 2x12,5 mg
Allupurinol 1x100 mg
Furosemid 1x1
Asam folat 3x1

Tanggal 27 Maret 2017


S : Nyeri BAK (+)
O : Kesadaran kompos mentis,
TD 140/90 mmHg, napas 22x/menit, nadi 80x/menit, Toraks: murmur (-),
Abdomen: inspeksi dinding abdomen tampak datar, distensi (-), BU (+)
5x/menit, nyeri tekan (-), Shifting dullness (-), Ekstremitas bawah: pitting
edema (-/-), akral hangat, Genitalia: kateter terpasang
A : BPH + CKD ec. HN + Hipertensi Stage I
P : IVFD RL 15gtt/i
Inj Ceftriaxone 1 g/ 12 jam
Inj Ketorolac 10 mg/ 8 jam
Inj Ranitidin 1 amp/ 12 jam
Ciprofloxacin drips 400 mg/ 12 jam
Bicnat 3x1
Captopril 2x12,5 mg
Allupurinol 1x100 mg
Furosemid 1x1
Asam folat 3x1
Anjuran : Darah rutin ulang

8
PORTOFOLIO

Tanggal 28 Maret 2017


S : Nyeri BAK (+), mencret frekuensi 5x
O : Kesadaran kompos mentis,
TD 140/90 mmHg, napas 20x/menit, nadi 80x/menit, Toraks: murmur (-),
Abdomen: inspeksi dinding abdomen tampak datar, distensi (-), BU (+)
5x/menit, nyeri tekan (-), Shifting dullness (-), Ekstremitas bawah: pitting
edema (-/-), akral hangat, Genitalia: kateter terpasang
A : BPH + CKD ec. HN + Hipertensi Stage I
P : IVFD RL 15gtt/i
Inj Ceftriaxone 1 g/ 12 jam
Inj Ketorolac 10 mg/ 8 jam
Inj Ranitidin 1 amp/ 12 jam
Ciprofloxacin drips 400 mg/ 12 jam
Bicnat 3x1
Captopril 2x12,5 mg
Allupurinol 1x100 mg
Furosemid 1x1
Asam folat 3x1
Loperamid 1 tab/ x mencret

Darah Rutin
Tanggal 28 Maret 2017

Pemeriksaan Unit Hasil Normal

HB gr % 7,1 12.0 - 16.0

Trombosit ribu/mm3 136.000 150 - 450

Eritrosit juta/mm3 2,64 3.8 5.8

Leukosit 10/mm3 6.200 4000-10.000

Ht % 21,7 35.0 50.0

MCV m3 82,3 82-95

MCH Pg 26,8 27-31

MCHC gram/dL 32,7 31.5 35.0

Nilai PCT % 0,133 0.100-0.500

Nilai RDW % 18,0 10.0-15.0

Nilai MPV m3 9,8 6.5-11.0

Nilai PDW % 15,3 10.0-18.0

Faal Ginjal
Tanggal 28 Maret 2017

9
PORTOFOLIO

Pemeriksaan Hasil Normal Satuan


Ureum 108 17-43 mg/dl
Creatinin 4,0 L : 0.9-1.3 mg/dl
P : 0.6-1.1

Profil Lipid
Tanggal 28 Maret 2017

Cholesterol 180 200 mg/dl

Profil Arthritis
Tanggal 28 Maret 2017

Uric Acid 9,6 L: 3,5-2,7 mg/dl


P: 2,6-6,0

Tinjauan Pustaka
2.1. Kelenjar Prostat

2.1.1. Anatomi Kelenjar Prostat

Prostat merupakan organ yang terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang
tersembunyi di bawah kandung kemih. Dalam keadaan normal, prostat mempunyai berat 20
gram dan panjang 2,5 cm yang terletak pada uretra posterior. Di bagian depan prostat
disokong oleh ligamentum prostatik dan di bagian belakang oleh diafragma urogenital.
Dalam klasifikasi of Lowsley, prostat terdiri dari 5 lobus yaitu anterior, posterior, median,
lateral kanan, dan lateral kiri. Sedangkan menurut McNeal, prostat terbagi atas zona perifer,
zona sentral, zona transisional, zona anterior, dan zona preprostatik sfingter.

10
PORTOFOLIO

Gambar 2.1. Anatomi Kelenjar Prostat

Vaskularisasi pada prostat berasal dari arteri dan vena. Arteri vesikal inferior, arteri
pudendal interna, dan arteri hemoroid menyuplai darah ke prostat. Sedangkan vena dari
prostat akan berlanjut ke pleksus periprostatik yang terhubung dengan vena dorsal dalam dari
penis dan vena iliaka interna.

Persarafan pada prostat didapat dari inervasi simpatis dan parasimpatis dari pleksus
prostatikus. Pleksus prostatikus menerima masukan serabut simpatis dari nervus
hipogastrikus (T10-L2) dan parasimpatis dari korda spinalis (S2-4). Stimulasi simpatis
menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke uretra posterior seperti saat ejakulasi, sedangkan
rangsangan parasimpatis meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat.

Kelenjar prostat mengeluarkan cairan basa yang menyerupai susu untuk menetralisir
keasaman vagina selama senggama dan meningkatkan motilitas sperma yang optimum pada
pH 6,0 sampai 6,5. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra
posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi.
Volume cairan prostat merupakan 25% dari seluruh volume ejakulat.

2.1.2. Histologi Kelenjar Prostat

Prostat merupakan suatu kumpulan 30-50 kelenjar tubuloalveolar yang bercabang.


Duktusnya bermuara ke dalam uretra pars prostatika. Prostat mempunyai tiga zona yang
berbeda. Pertama adalah zona sentral yang meliputi 25% dari volume kelenjar. Kedua adalah
zona perifer yang meliputi 70% dari volume kelenjar dan merupakan tempat predileksi
timbulnya kanker prostat. Ketiga adalah zona transisional yang merupakan tempat asal
sebagian besar hiperplasia prostat jinak.

Kelenjar tubuloalveolar prostat dibentuk oleh epitel bertingkat silindris atau kuboid.
Stroma fibromuskular mengelilingi kelenjar-kelenjar. Prostat dikelilingi suatu simpai
fibroelastis dengan otot polos. Septa dari simpai ini menembus kelenjar dan membaginya
dalam lobus-lobus yang tidak berbatas tegas pada orang dewasa.

11
PORTOFOLIO

Gambar 2.2. Histologi Kelenjar Prostat

2.2. Benign Prostate Hyperplasia (BPH)

2.2.1. Epidemiologi

BPH adalah tumor jinak prostat yang sering dialami pada pria. Pada BPH terjadi
proliferasi elemen epitel dan stroma yang menyebabkan prostat membesar. Frekuensi
kejadian BPH meningkat secara progresif seiring usia mulai dari umur 41-50 tahun (20%),
51-60 tahun (50%), hingga mencapai 90% pada usia 80 tahun ke atas.

2.2.2. Faktor Resiko

Faktor resiko kejadian BPH masih belum diketahui. Dalam beberapa penelitian
dikatakan bahwa predisposisi genetik dan perbedaan ras memungkinkan untuk terjadinya
BPH. Tetapi yang pasti jenis kelamin pria, usia, testosteron, dan faktor pertumbuhan
merupakan faktor resiko yang dapat menyebabkan BPH.

2.2.3. Etiopatogenesis

Etiologi BPH masih belum sepenuhnya dipahami, namun bukti yang ada saat ini
menunjukkan bahwa androgen dan estrogen berperan sinergis dalam pembentukannya. Ada
beberapa teori yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat antara lain :

1. Teori dihidrotestosteron

12
PORTOFOLIO

Dihidrotestosteron (DHT) suatu androgen yang berasal dari testosterone melalui


kerja 5-reduktase dan metabolitnya 3-androstanediol merupakan hormon pemicu
utama terjadinya proliferasi kelenjar dan stroma pada pasien BPH. DHT berikatan
dengan reseptor pada nukleus dan pada gilirannya merangsang sintesis DNA, RNA,
faktor pertumbuhan, dan protein sitoplasma lainnya yang kemudian menyebabkan
hiperplasia.

2. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron

Pada usia lanjut, kadar testosteron menurun sedangkan kadar estrogen relatif tetap
sehingga perbandingan antara estrogen-testosteron relatif meningkat. Estrogen pada
prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara
meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen,
meningkatkan jumlah reseptor androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel-sel
prostat. Akibatnya sel-sel prostat mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa
prostat menjadi lebih besar.

3. Interaksi stroma-epitel

Sel-sel stroma mendapat stimulasi dari DHT dan estradiol yang kemudian akan
menstimulasi faktor pertumbuhan sehingga mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri
dan sel epitel. Stimulasi itu menyebabkan proliferasi sel-sel stroma maupun epitel yang
mengakibatkan hiperplasia prostat.

4. Berkurangnya kematian sel prostat

Sampai sekarang belum dapat dijelaskan dengan pasti. Tapi diduga hormon
androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel (apoptosis), estrogen
mampu memperpanjang usia sel-sel prostat, dan faktor pertumbuhan TGF- berperan
dalam proses ini. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis
menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga
menyebabkan pertambahan massa prostat.

5. Teori sel stem

Sel stem mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif sehingga mampu


mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis. Kehidupan sel ini dipengaruhi oleh
keberadaan hormon androgen. Kadar androgen yang meningkat menyebabkan

13
PORTOFOLIO

ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi sel stroma maupun epitel
yang berlebihan.

Dari beberapa teori di atas, ada juga teori yang menyatakan bahwa hormon testosteron
dianggap mempengaruhi bagian tepi prostat sedangkan estrogen mempengaruhi bagian
tengah prostat. Ketidakseimbangan hormon ini membuat pertumbuhan yang abnormal pada
salah satu bagian dari lobus prostat. Akibat dari hiperplasia prostat, resistensi pada uretra
akan meningkat sehingga menyebabkan aliran urin menjadi lebih lambat.

2.2.4. Gejala Klinis

Gejala klinis BPH terjadi pada hanya sekitar 10% pria yang mengalami kelainan ini.
Karena hiperplasia nodular terutama mengenai bagian dalam prostat, manifestasinya yang
tersering adalah gejala saluran kemih bawah atau Lower Urinary Track Syndrome (LUTS).
Gejala tersebut terdiri atas obstruksi dan iritasi. Sulit memulai aliran urine (hesitancy),
pancaran kencing yang lemah (weak stream), kencing tidak lampias (incomplete emptying),
mengedan saat kencing (straining), dan kencing terputus-putus (intermittency) termasuk
dalam gejala obstruktif. Sedangkan tidak dapat menunda kencing (urgency), sering kencing
(frequency), dan kencing di malam hari (nocturia) tergolong dalam gejala iritasi.

2.2.5. Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis BPH diperlukan beberapa tindakan seperti :

1. Anamnesis

Hal yang perlu ditanyakan pada pasien adalah usia dan gejala-gejala yang dialami
pasien seperti pada gejala klinis. Sistem skoring diperlukan untuk menilai tingkat
keparahan dari keluhan pasien yg diisi secara subjektif. Sistem skoring yang digunakan
adalah Skor Internasional Gejala Prostat atau International Prostate Symptom Score
(IPSS).

14
PORTOFOLIO

2. Pemeriksaan fisik
a. Kandung kemih
Pada pemeriksaan didapati kandung kemih terisi penuh dan teraba massa
akibat retensi urin.
b. Colok dubur atau Digital Rectal Examination (DRE)
Pada pemeriksaan DRE didapati prostat teraba membesar, konsistensi kenyal,
permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak didapatkan nodul, menonjol
ke dalam rektum.
3. Pemeriksaan laboratorium
a. Darah lengkap
Komponen yang diperiksa antara lain ureum, kreatinin, elektrolit, dan gula
darah.
b. Urin
Dilakukan kultur urin dan sensitivitas untuk melihat kemungkinan infeksi.
c. Pemeriksaan Prostate Spesific Antigen (PSA)
Pemeriksaan PSA ditujukan pada pasien yang memiliki resiko BPH.
Pemeriksaan ini dilakukan sebagai skrining untuk deteksi dini kanker prostat.
4. Pemeriksaan pencitraan
a. Foto polos abdomen (Buik Nier Overzich, BNO)

15
PORTOFOLIO

Foto polos abdomen digunakan untuk mencari adanya batu opak di saluran
kemih, adanya batu atau kalkulosa prostat, dan kadang dapat menunjukkan
bayangan kandung kemih yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari suatu
retensi urin.
b. Intravenous Pyelography (IVP)
IVP digunakan untuk melihat kemungkinan adanya hidroureter atau
hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh
adanya indentasi prostat (pendesakan kandung kemih oleh kelenjar prostat), dan
penyulit-penyulit yang lain. Pemeriksaan IVP sekarang tidak direkomendasikan
pada BPH.
c. Transrectal Ultrasound (TRUS)
TRUS digunakan untuk mengetahui volume kelenjar prostat, adanya
kemungkinan pembesaran prostat maligna, sebagai petunjuk untuk melakukan
biopsi aspirasi prostat, menentukan jumlah residu urin, dan mencari kelainan lain
yang mungkin ada di dalam kandung kemih.
d. Ultrasonografi transabdominal
Ultrasonografi transabdominal digunakan untuk mendeteksi adanya
hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama.
e. Sistografi
Sistografi digunakan bila terdapat hematuria atau kemungkinan terdapat
tumor.
5. Pemeriksaan lain
a. Uroflowmetri

Uroflowmetri digunakan untuk pemeriksaan derajat obstruksi prostat. Dari


uroflowmetri dapat diketahui lawa waktu miksi (voiding time), lama pancaran
(flow time), waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pancaran maksimum (time to
max flow), pancaran maksimum (max flow rate), rata-rata pancaran (average flow
rate), dan volume urin yang keluar sewaktu miksi (voided volume) .

b. Pemeriksaan volume residu urin

Tindakan ini dilakukan dengan memasang kateter dengan batas indikasi 100 cc.

2.2.6. Penatalaksanaan
Tujuan terapi pada pasien BPH adalah untuk memperbaiki keluhan miksi,
meningkatkan kualitas hidup, mengurangi obstruksi infravesika, mengembalikan fungsi ginjal
jika terjadi gagal ginjal, mengurangi volume residu urin setelah miksi, dan mencegah
progresifitas penyakit. Pilihan terapi tergantung dari hasil skor IPSS pasien.

16
PORTOFOLIO

1. Watchful waiting

Pilihan terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS di bawah 7, yaitu
keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak mendapat
terapi apapun karena dapat sembuh sendiri dan diberi penjelasan mengenai semua hal
yang mungkin dapat memperburuk keluhannya, seperti jangan mengkomsumsi kopi
atau alkohol setelah makan malam, kurangi komsumsi kopi atau coklat (mengiritasi
kandung kemih), batasi penggunaan obat flu yang mengandung fenilpropanolamin,
kurangi makanan pedas dan asin, serta jangan menahan kencing terlalu lama. Selain itu
pasien juga diminta untuk datang kontrol secara periodik setelah 6 bulan untuk
mengevaluasi keluhannya sambil dilakukan pemeriksaan uroflowmetri dan volume
residu urin.

2. Medikamentosa

Pilihan terapi medikamentosa ditujukan untuk pasien dengan skor IPSS 8-19.
Obat-obatan yang dapat digunakan antara lain :

a. Penghambat reseptor adrenergik-1 (1 adrenergic blocker)

Tujuannya adalah untuk mengurangi resistensi otot polos prostat. Awalnya


obat yang digunakan adalah golongan non selektif (fenoksibenzamine) yang
mampu memperbaiki laju pancaran dan mengurangi keluhan miksi. Tetapi obat ini
menyebabkan komplikasi sistemik sehingga tidak disenangi oleh pasien.
Kemudian ditemukan obat penghambat adrenergik 1 yang punya waktu paruh
pendek (prazosin) dan panjang (tetrazosin, doxazosin). Golongan penghambat
adrenergik 1a (tamsulosin) sangat selektif terhadap otot polos prostat.

Tabel 2.1. Klasifikasi terapi medikamentosa beserta dosisnya

Klasifikasi Dosis Oral

Alpha blockers

Nonselektif

Phenoxybenzamine 10 mg 2 x sehari

Alpha-1, short-acting

Prazosin 2 mg 2 x sehari

17
PORTOFOLIO

Alpha-1, long-acting

Terazosin 5 atau 10 mg sehari

Doxazosin 4 or 8 mg sehari

Alpha-1a selectif

Tamsulosin 0,4 atau 0,8 mg sehari

b. Penghambat 5-reduktase

Tujuannya adalah untuk mengurangi volume prostat dengan cara menurunkan


kadar DHT. Obat ini (finasteride) menghambat pembentukan DHT dari
testosterone yang dikatalisis oleh enzim 5 reduktase di dalam sel-sel prostat.
Menurunnya kadar DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi sel-sel
prostat menurun. Pemberian obat ini 5 mg sehari selama 6 bulan mampu
menyebabkan penurunan prostat hingga 28% dan memperbaiki keluhan miksi
dan pancaran miksi. Finasteride mempunyai efek samping antara lain penurunan
libido, penurunan volume ejakulasi, dan impotensi. Kombinasi finasteride
dengan penghambat reseptor adrenergik lebih baik daripada obat tunggal.

c. Fitoterapi

Terapi ini menggunakan beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu untuk


memperbaiki gejala akibat obstruksi prostat, namun data-data farmakologik
tentang kandungan zat aktif yang mendukung mekanisme kerja obat sampai saat
ini belum diketahui secara pasti. Fitoterapi yang banyak dipasarkan adalah
Pygeum africanum, Serenoa repens, Hypoxis rooperi, dan masih banyak lainnya.

3. Operasi

Pilihan operasi ditujukan untuk pasien dengan skor IPSS 20-35. Penyelesaian
masalah hiperplasia prostat jangka panjang yang paling baik saat ini adalah
pembedahan. Indikasi pembedahan ditujukan pada pasien BPH yang tidak
menunjukkan perbaikan setelah terapi medikamentosa, mengalami retensi urin, infeksi
saluran kemih berulang, hematuria, gagal ginjal, dan timbul batu saluran kemih atau
penyulit lainnya akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah. Tindakan pembedahan
tersebut antara lain :

18
PORTOFOLIO

a. Transuretral Resection of the Prostate (TURP)

TURP merupakan gold standart dan operasi yang paling banyak dikerjakan di
seluruh dunia. Reseksi kelenjar prostat menggunakan cairan pembilas agar daerah
yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Cairan yang sering
dipakai adalah H2O steril (aquades) karena tidak menyebabkan hantaran listrik
saat operasi dan harganya cukup murah.

b. Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)

Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan dua insisi dengan pisau Collins
pada posisi jam 5 dan 7. Insisi diawali dari distal ke orificium uretra dan keluar
melalui verumontanum.

c. Prostatektomi terbuka

Prostatektomi terbuka dilakukan pada keadaan prostat yang sangat besar (>100
gram). Tindakan ini dapat dilakukan melalui pendekatan suprapubik transvesikal
(Freyer) atau retropubik infravesikal (Millin).

d. Laser prostatektomi

Teknik ini dianjurkan pada pasien yang memakai terapi antikoagulan dalam
jangka waktu lama dan tidak mungkin dilakukan tindakan TURP karena
kesehatannya. Tindakan ini lebih sedikit menimbulkan komplikasi, dapat
dikerjakan secara poliklinis, dan penyembuhan lebih cepat. Akan tetapi terapi ini
membutuhkan terapi ulang 2% tiap tahunnya. Selain itu tidak diperolehnya
jaringan untuk pemeriksaan patologi, sering menimbulkan disuria pasca bedah
yang dapat berlangsung sampai 2 bulan, tidak langsung miksi spontan setelah
operasi, dan peak flow rate lebih rendah daripada pasca TURP merupakan
komplikasi yang dapat terjadi dari tindakan ini.

4. Tindakan invasif minimal

Tindakan ini terutama ditujukan untuk pasien yang mempunyai resiko tinggi
terhadap pembedahan. Tindakan tersebut antara lain :

a. Termoterapi

19
PORTOFOLIO

Teknik ini direkomendasikan untuk pasien yang memliki prostat ukuran kecil.
Pemanasan dengan gelombang mikro pada frekuensi 915-1296 Mhz yang
dipancarkan melalui antena yang diletakkan dalam uretra menyebabkan destruksi
jaringan pada zona transisional karena nekrosis koagulasi.
b. Transurethral Needle Ablation of the prostate (TUNA)
Teknik ini menggunakan kateter yang dimasukkan ke dalam uretra melalui
sistokopi dengan pemberian anestesi topical xylocaine sehingga jarum yang
terletak pada ujung kateter terletak pada kelenjar prostat. Kateter ini dihubungkan
dengan generator yang dapat membangkitkan energy panas sampai 100C
sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat.
c. High Intensity Focused Ultrasound (HIFU)
Teknik ini menggunakan alat yang diletakkan transrektal dan difokuskan ke
kelenjar prostat. Energi panas yang berasal dari gelombang ultrasonografi dari
transduser piezokeramik dengan frekuensi 0,5-10 Mhz akan dipancarkan melalui
alat ini sehingga menimbukan nekrosis pada prostat.
d. Stent
Alat ini ditujukan untuk pasien yang tidak mungkin menjalani operasi karena
resiko pembedahan yang cukup tinggi. Stent ini dipasang pada uretra prostatika
untuk mengatasi obstruksi karena pembesaran prostat dan dapat dipasang selama
6-36 bulan. Pemasangan stent ini tidak menyebabkan reaksi dengan jaringan
karena terbuat dari bahan yang tidak diserap serta dapat dipasang atau dilepas
kembali secara endoskopi.

2.2.7. Prognosis

Prognosis BPH berubah-ubah dan tidak bisa diprediksi tiap individu. BPH yang tidak
diterapi akan menunjukkan efek samping yang merugikan pasien itu sendiri seperti retensi
urin, insufisiensi ginjal, infeksi saluran kemih yang berulang, dan hematuria.

20
PORTOFOLIO

DAFTAR PUSTAKA

1. Yuniastuti, A., 2008. Gizi dan Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu, 101
2. Kumar, V., Cortan, R.S., Robbins, S.L., 2007. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Volume 1.
Jakarta: EGC, 186.
3. Pearce, E.C., 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 327.
4. Rahardjo, D., 1999. Prostat : Kelainan-kelainan Jinak, Diagnosis, dan
Penanganannya. Jakarta: Asian Medical.
5. Tanagho, E.A., 2004. Anatomy of the Genitourinary Tract. In: Tanagho, E.A.,
McAninch, J.W., Smiths General Urology, Sixteenth edition. USA: The McGraw-
Hill Companies, 10-12.
6. Purnomo, B.B., 2009. Dasar-dasar Urologi, Edisi kedua. Jakarta: Sagung Seto, 69-
83.
7. Presti, J.C., 2004. Neoplasms of the Prostate Cancer. In: Tanagho, E.A., McAninch,
J.W., Smiths General Urology, Sixteenth edition. USA: The McGraw-Hill
Companies, 367-384.
8. Deters, Levi A. 2011. Benign Prostatic Hypertrophy, Dartmouth Hitchcock Medical
Centre. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/437359-overview.
[Accessed 19 July 2014].

21