Anda di halaman 1dari 22

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK

MENULAR
MAKALAH
HIPERTENSI

Oleh:
Kelompok 8
Kelas C7
Nama: Stb:
DIAN ULFIANA
BASO FIDAUS
RAHMANIATI 141 2014 0118
SRYWAHYUNI SUDARWIN 1412014
ULFA R. BASIR 141 2014 0287

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2016
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya
terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah mata kuliah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular tepat pada waktu
nya. Penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam
penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Makassar, November 2013

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................

DAFTAR ISI...............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................

A. Latar Belakang...............................................................................................
B. Rumusan Masalah.........................................................................................
C. Tujuan Masalah..............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN..............................................................................................

A. Pengertian......................................................................................................
B. Mengkukur Tekanan Darah............................................................................
C. Penyebab Hipertensi......................................................................................
D. Tanda dan Gejala Hipertensi..........................................................................
E. Akibat dari Hipertensi.....................................................................................
F. Pencegahan Hipertensi..................................................................................
G. Pengobatan Hipertensi...................................................................................

BAB III PENUTUP.....................................................................................................

A. Kesimpulan.....................................................................................................
B. Saran..............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan


penyakit yang mendapat perhatian dari semua kalangan masyarakat, mengingat
dampak yang ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang
sehingga membutuhkan penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan
terpadu. Penyakit hipertensi menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan
mortalitasnya (kematian) yang tinggi.

Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi


dari berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Berbagai penelitian telah
menghubungkan antara berbagai faktor resiko terhadap timbulnya hipertensi.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tenyata prevalensi (angka


kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari berbagai
penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8-28,6%
penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi.Hipertensi,
saat ini terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan lebih
banyak menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara
lain dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan
dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya
olahraga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya.

Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan


tekanan darah, tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan
diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara
perlahan atau bahkan menurun drastis.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pengertian hipertensi ?
b. Bagaimana mengukur tekanan darah ?
c. Menjelaskan penyebab hipertensi ?
d. Menjelaskan tanda dan gejala hipertensi ?
e. Menjelaskan akibat dari hipertensi ?
f. Bagaimana pencegahan hipertensi ?
g. Menjelaskan pengobatan hipertensi ?

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 7


C. Tujuan

Untuk mengetahui tentang gambaran penyakit hipertensi

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 8


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Hipertensi atau tekanan darah tinggi, adalah meningkatnya tekanan darah


atau kekuatan menekan darah pada dinding rongga di mana darah itu berada.
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di
dalam arteri. (Hiper artinya Berlebihan, Tensi artinya tekanan/tegangan; jadi,
hipertensi adalah Gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan
kenaikan tekanan darah diatas nilai normal.

Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi


dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah
daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana
akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika
beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda, paling tinggi di waktu
pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.

Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk stroke, infark miokard


(serangan jantung), gagal jantung, aneurisma arteri (misalnya aneurisma
aorta), penyakit arteri perifer, dan penyebab penyakit ginjal kronik. Bahkan
peningkatan sedang tekanan darah arteri terkait dengan harapan hidup yang
lebih pendek. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memperbaiki
kontrol tekanan darah dan mengurangi resiko terkait komplikasi kesehatan.
Meskipun demikian, obat seringkali diperlukan pada sebagian orang bila
perubahan gaya hidup saja terbukti tidak efektif atau tidak cukup.

B. Mengukur Tekanan Darah

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang
lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih
rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah
ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80
mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh. Sejalan dengan
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 9
bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah,
tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik
terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara
perlahan atau bahkan menurun drastis.

Tekanan darah ditulis dengan dua angka, dalam bilangan satuan mmHg
(millimeter air raksa) pada alat tekanan darah/ tensi meter, yaitu sistolik dan
diastolik. Sistolik adalah angka yang tertinggi ialah tekanan darah pada waktu
jantung sedang menguncup atau sedang melakukan kontraksi. Diastolik adalah
angka yang terendah pada waktu jantung mengembang berada di dalam akhir
relaksasi.

Misalnya tekanan darah 120/ 80 mmHG artinya tekanan sistolik 120 dan
tekanan diastolik 80 mmHg.Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan
oleh :

a. Kekuatan kuncup jantung yang mendesak isi bilik kiri untuk memasukkan
darah ke dalam batang pembuluh nadi.
b. Tahanan dalam pembuluh nadi terhadap mengalirnya darah.
c. Saraf otonom yang terdiri dari sistem simpatikus dan para simpatikus.

Klasifikasi Tekanan Darah

No Klasifikasi Sistolik Diastolik


1 Optimal < 120 mmHg < 80 mmHg
2 Normal < 130 mmHg < 85mmHg
3 Normal 130 139 mmHg 85 89 mmHg
4 Hipertensi ringan 140 179 mmHg 90 99 mmHg
5 Hipertensi sedang 160 179 mmHg 100 109 mmHg
6 Hipertensi berat >180 mmHg >110 mmHg

Tekanan Darah Normal


Tekanan darah setiap orang bervariasi setiap hari, tergantung pada
keadaan dan dipengaruhi oleh aktivitas seseorang, jadi tekanan darah
normalpun bervariasi.
Orang dewasa bila tekanan darah menunjukkan angka 140/ 90 mmHg ke
atas dianggap tidak normal. Ada anggapan tekanan darah rendah kurang baik,
hal tersebut kurang tepat. Sebab data statistik menunjukkan bahwa orang
dengan tekanan darah rendah mempunyai umur yang sama dengan yang
disebut normal. Yang terbaik adalah menjaga tekanan darah agar normal dan
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 10
anggapan bahwa semakin bertambah usia tekanan darah lebih tinggi tidak
menjadi masalah, adalah anggapan yang perlu diluruskan, karena berdasarkan
data statistik orang tua yang tekanan darahnya berkisar di normal,
kecenderungan mendapat gangguan stroke rendah. Periksa tekanan darah
secara teratur minimal 6 bulan sekali atau setiap kali ke dokter/ fasilitas
kesehatan.
Di kenal 2 klasifikasi hipertensi (berdasarkan penyebabnya) yaitu :
a. Hipertensi primer (hipertensi idiophatik), dimana penyebabnya tidak
diketahui dengan pasti. Dikatakan juga bahwa hipertensi ini adalah dampak
dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan.
b. Hipertensi secundary, adalah hipertensi yang terjadi akibat dari penyakit
dari penyakit lain misalnya kelainan pada ginjal atau keruskanan dari
sistem hormon.

WHO mengklasifikasikan hipertensi berdasarkan ada tidaknya kelainan pada


organ tubuh lain, yaitu :
a. Hipertensi tanpa kelainan pada organ tubuh lain.
b. Hipertensi dengan pembesaran jantung.
c. Hipertensi dengan kelainan pada organ lain di samping jantung.

Klasifikasi hipertensi berdasarkan tingginya tekanan darah yaitu :


a. Hipertensi borderline : tekanan darah antara 140/90 mmHg dan 160/95
mmHg.
b. Hipertensi ringan : tekanan darah antara 160/95 mmHg dan 200/110 mmHg.
c. Hipertensi moderate : tekanan darah antara 200/110 mmHg dan 230/120
mmHg.
d. Hipertensi berat : tekanan darah antara 230/120 mmHg dan 280/140
mmHg.

C. Penyebab hipertensi
Ada 2 macam hipertensi, yaitu esensial dan sekunder.
a. Hipertensi esensial adalah hipertensi yang sebagian besar tidak diketahui
penyebabnya. Ada 10-16% orang dewasa mengidap takanan darah tinggi.
b. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang diketahui sebab-sebabnya.
Hipertesnsi jenis ini hanya sebagian kecil, yakni hanya sekitar 10%.

Beberapa penyebab hipertensi, antara lain :


1. Keturunan
Faktor ini tidak bisa dikendalikan. Jika seseorang memiliki orang tua
atau saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia
menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 11


masalah tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada
yang kembar tidak identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti
gen yang diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi.
2. Usia
Faktor ini tidak bisa dikendalikan. Penelitian menunjukkan bahwa seraya
usia seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak
dapat mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama
ketika Anda bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan
melewati batas atas yang normal.
3. Garam
Faktor ini bisa dikendalikan. Garam dapat meningkatkan tekanan darah
dengan cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes,
penderita hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang
berkulit hitam.
4. Kolesterol
Faktor ini bisa dikendalikan. Kandungan lemak yang berlebih dalam
darah Anda, dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding
pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan
akibatnya tekanan darah akan meningkat. Kendalikan kolesterol Anda
sedini mungkin.
5. Obesitas/Kegemukan
Faktor ini bisa dikendalikan. Orang yang memiliki berat badan di atas 30
persen berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita
tekanan darah tinggi.
6. Stres
Faktor ini bisa dikendalikan. Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil
juga dapat memicu tekanan darah tinggi.
7. Rokok
Faktor ini bisa dikendalikan. Merokok juga dapat meningkatkan tekanan
darah menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko
diabetes, serangan jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok
yang terus dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi, merupakan
kombinasi yang sangat berbahaya yang akan memicu penyakit-penyakit
yang berkaitan dengan jantung dan darah.
8. Kafein
Faktor ini dikendalikan. Kafein yang terdapat pada kopi, teh maupun
minuman cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
9. Alkohol

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 12


Faktor ini bisa dikendalikan. Konsumsi alkohol secara berlebihan juga
menyebabkan tekanan darah tinggi.
10. Kurang Olahraga
Faktor ini bisa dikendalikan. Kurang olahraga dan bergerak bisa
menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Olahraga teratur
mampu menurunkan tekanan darah tinggi Anda namun jangan melakukan
olahraga yang berat jika Anda menderita tekanan darah tinggi.

D. Tanda dan Gejala hipertensi


Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala,
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan
dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sebenarnya
tidak ada).
Gejala-gejala hipertensi, antara lain :
a) Sebagian besar tidak ada gejala.
b) Sakit pada bagian belakang kepala.
c) Leher terasa kaku.
d) Kelelahan.
e) Mual.
f) Sesak napas.
g) Gelisah.
h) Muntah.
i) Mudah tersinggung.
j) Sukar tidur.
k) Pandangan jadi kabur karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung,
dan ginjal

Keluhan tersebut tidak selalu akan dialami oleh seorang penderita


hipertensi. Sering juga seseorang dengan keluhan sakit belakang kepala,
mudah tersinggung dan sukar tidur, ketika diukur tekanan darahnya
menunjukkan angka tekanan darah yang normal. Satu-satunya cara untuk
mengetahui ada tidaknya hipertensi hanya dengan mengukur tekanan darah.

E. Akibat-akibat hipertensi
Komplikasi/bahaya yang dapat ditimbulkan pada penyakit hipertensi :
1. Pada mata : penyempitan pembuluh darah pada mata karena penumpukan
kolesterol dapat mengakibatkan retinopati, dan efek yang ditimbulkan
pandangan mata kabur.
2. Pada jantung : jika terjadi vasokonstriksi vaskuler pada jantung yang lama
dapat menyebabkan sakit lemah pada jantung, sehingga timbul rasa sakit
dan bahkan menyebabkan kematian yang mendadak.

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 13


3. Pada ginjal : suplai darah vaskuler pada ginjal turun menyebabkan terjadi
penumpukan produk sampah yang berlebihan dan bisa menyebabkan sakit
pada ginjal.
4. Pada otak : jika aliran darah pada otak berkurang dan suplai O2 berkurang
bisa menyebabkan pusing. Jika penyempitan pembuluh darah sudah parah
mengakibatkan pecahnya pembuluh darah pada otak (stroke).

F. Pencegahan Hipertensi
Resiko seseorang untuk mendapatkan hipertensi (kecuali yang esensial),
dapat dikurangi dengan cara :
a) Memeriksa tekanan darah secara teratur.
b) Menjaga berat badan ideal.
c) Mengurangi konsumsi garam.
d) Jangan merokok.
e) Berolahraga secara teratur.
f) Hidup secara teratur.
g) Mengurangi stress.
h) Jangan terburu-buru.
i) Menghindari makanan berlemak.

Pencegahan Primer :

Tidur yang cukup, antara 6-8 jam per hari.


Kurangi makanan berkolesterol tinggi dan perbanyak aktifitas fisik untuk
mengurangi berat badan.
Kurangi konsumsi alkohol.
Konsumsi minyak ikan.
Suplai kalsium, meskipun hanya menurunkan sedikit tekanan darah tapi
kalsium juga cukup membantu.

Pencegahan Sekunder

Pola makanam yamg sehat.


Mengurangi garam dan natrium di diet anda.
Fisik aktif.
Mengurangi Akohol intake.
Berhenti merokok.

Pencegahan Tersier

Pengontrolan darah secara rutin.


Olahraga dengan teratur dan di sesuaikan dengan kondisi tubuh.

G. Pengobatan hipertensi

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 14


Pengobatan hipertensi yang paling baik adalah :
a. Selalu mengontrol tekanan darah secara teratur dengan memeriksakan diri
ke dokter.
b. Selalu minum obat teratur meskipun tanpa keluhan.
c. Mengurangi konsumsi garam.
d. Perbanyak konsumsi sayur dan buah.
e. Mematuhi nasihat dokter.

Selain obat-obatan yang diijinkan oleh dokter,ada cara lain yang tradisisonal
yaitu dengan :

1. Dua buah belimbing diparut kemudian diperas airnya sehingga menjadi satu
gelas belimbing dan diminum setiap pagi.
2. Daun salam 4 lembar + 2 gelas air direbus sampai menjadi 1 gelas, minum
2 gelas/hari.
3. Makan 2 buah ketimun / hari atau dibuat jus

Cara membuat jus mentimun

kg buah mentimun dicuci bersih


Dikupas kulitnya kemudian diparut
Saring airnya menggunakan penyaring/kain bersih
Diminum setiap hari 1 kg untuk 2 kali minum pagi dan sore hari

H. Distribusi Epidemiologi Penyakit Hipertensi

Distribusi epidemiologi penyakit hipertensi terdiri dari :

1. Person (orang)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit hipertensi dilihat


dari segi orang :

a. Umur

Penyakit hipertensi pada kelompok umur paling dominant berumur (31-


55tahun). Hal ini dikarenakan seiring bertambahnya usia, tekanan darah
cenderung meningkat. Yang mana penyakit hipertensi umumnya
berkembang pada saat umur seseorang mencapau paruh baya yakni

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 15


cenderung meningkat khususnya yang berusia lebih dari 40 tahun
bahkan pada usia lebih dari 60 tahun keatas.

b. Jenis kelamin

Penyakit hipertensi cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan


dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dikarenakan pada perempuan
meningkat seiring dengan bertambahnya usia yang mana pada
perempuan masa premenopause cenderung memiliki tekanan darah
lebih tinggi daripada laki-laki penyebabnya sebelum menopause, wanita
relatife terlindungi dari penyakit kardiovaskuler oleh hormone estrogen
yang dimana kadar estrogen menurun setelah menopause.

c. Status gizi

Keadaan Zat gizi seperti karbohidrat, protein dan lemak Kekurangan


atau kelebihan salah satu unsur zat gizi akan menyebabkan kelainan
atau penyakit. Oleh karena itu, perlu diterapkan kebiasaan makanan
yang seimbang sejak usia dini dengan jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan masing-masing individu agar tercapai kondisi kesehatan yang
prima.Dimana ini merupakan faktor penting sebagai zat pembangun atau
protein ini penting untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel rusak yang
didapatkan dari bahan makanan hewani atau tumbuh-tumbuhan
(nabati).Sehingga ini sebagai penunjang untuk membantu menyiapkan
makanan khusus serta mengingatkan kepada penderita, makanan yang
harus dihindari/dibatasi.

d. Faktor psikokultural

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 16


Penyakit Hipertensi ada banyak hubungan antara psiko-kultural, tetapi
belum dapat diambil kesimpulan. Namun pada dasarnya dapat
berpengaruh apabaila terjadinya stres, psikososial akut menaikkan
tekanan darah secara tiba-tiba yang mana ini merupakan penyebab
utama terjadinya penyakit hipertensi dan merupakan masalah kesehatan
yang layak untuk perlu diperhatikan.

A. Place (tempat)

Tempat yang dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kasus hipertensi


adalah merupakan wilayah yang berdominan dipesisir dari pada
dipegunungan. Yang dimana penduduk yang berdomisil didaerah pesisir
lebih rentan terhadap penyakit hipertensi karena tingkat mengkonsumsi
garam lebih tinggi atau berlebihan dibanding daerah pegunungan yang
kemungkinan lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-
buahan.

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 17


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyakit Hipertensi merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang


mana dapat dihadapi baik itu dibeberapa negara yang ada didunia maupun di
Indonesia.

Cara mengatur diet untuk penderita hipertensi adalah dengan memperbaiki


rasa tawar dengan menambah gula merah/putih, bawang (merah/putih), jahe,
kencur dan bumbu lain yang tidak asin atau mengandung sedikit garam natrium.
Makanan dapat ditumis untuk memperbaiki rasa. Membubuhkan garam saat diatas
meja makan dapat dilakukan untuk menghindari penggunaan garam yang berlebih.
Dianjurkan untuk selalu menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam
jangan lebih dari 1 sendok teh per hari.

B. Saran

Agar lebih menjaga diri dan menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit
hipertensi. Bagi seluruh keluarga, diharapkan dapat mengurangi asupan garam
dalam satu hari sehingga resiko hipertensi dapat dicegah.

Perlunya upaya penyuluhan agar dari case-finding maupun pendidikan


kesehatan dan penatalaksanaan pengobatannya yang belum terjangkau masih
sangat terbatas. Untuk penderita yang datang berobat untuk pertama kalinya
datang terlambat dimana sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai
keluhan agar sedini mungkin diberi pengobatan .

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 18


JURNAL

1. Judul :

EFEKTIVITAS JUS PISANG DAN AIR KELAPA MUDA TERHADAP TENSI LANSIA
PENDERITA HIPERTENSI (2015)

Penulis :

Tri Peni, Sulisdiana (Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit)

Hasil :

Hasil penelitian menyatakan tekanan darah sesudah mengkonsumsi jus pisang


ambon dan air kelapa muda pada minggu ke 2 terjadi penurunan tekanan darah
sistolik pada kedua kelompok, namun penurunan yang terjadi pada kelompok jus
kombinasi mengalami penurunan yang lebih rendah dibandingkan pola yang
dibentuk oleh kelompok yang hanya diberi air kelapa muda saja.

Pengaruh Pemberian Jus Pisang-Air Kelapa Muda Terhadap Penurunan


Tekanan Darah Lansia Penderita Hipertensi
a) Perbedaan Tekanan Darah Sistolik Sebelum Dan Setelah Diberi Jus
Kombinasi

2
Hasil uji statistik menggunakan Uji Friedman menunjukkan nilai hitung
sebesar 60,576 dengan p value sebesar 0,000 yang dapat dinyatakan
bahwa Ho ditolak jadi ada perbedaan yang bermakna tekanan darah sistolik
sebelum dan sesudah pemberian jus kombinasi mulai dari minggu pertama
sampai dengan minggu ke dua. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pemberian jus kombinasi air kelapa muda dicampur dengan pisang ambon
efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik penderita hipertensi
setelah dikonsumsi selama 2 minggu.

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 19


b) Perbedaan Tekanan Darah Diastolik Sebelum Dan Setelah Diberi Jus
Kombinasi

2
Uji Friedman menghasilkan nilai nilai hitung sebesar 47,897 dengan p
value sebesar 0,000 yang dapat dinyatakan bahwa Ho ditolak jadi ada
perbedaan yang bermakna tekanan darah diastolik sebelum dan
sesudah pemberian jus kombinasi mulai dari minggu pertama sampai
dengan minggu ke dua. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian jus
kombinasi juga efektif dalam menurunkan tekanan darah diastolik penderita
hipertensi lansia.

c) Perbedaan Tekanan Darah Sistolik Sebelum Dan Setelah Diberi Air


Kelapa Muda

2
Hasil uji statistik menggunakan Friedman Test menghasilkan nilai nilai
hitung sebesar 32,586 dengan p value sebesar 0,027 yang dapat
dinyatakan bahwa Ho ditolak jadi ada perbedaan yang bermakna tekanan
darah sistolik sebelum dan sesudah pemberian air kelapa muda mulai dari
minggu pertama sampai dengan minggu ke dua. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pemberian air kelapa muda efektif dalam menurunkan
tekanan darah sistolik namun tidak seefektif jus kombinasi.

d) Perbedaan Tekanan Darah Diastolik Sebelum Dan Setelah Diberi Air


Kelapa Muda

2
Hasil uji Friedman menjelaskan bahwa nilai hitung sebesar 40,653
dengan p value sebesar 0,003 sehingga bisa disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah diberi air kelapa
muda namun tidak sebagus penurunan yang dialami kelompok yang diberi
jus kombinasi.

e) Perbedaan Tekanan Darah Sistolik Antara Kelompok Yang Diberi Air


Kelapa Muda Dan Jus Kombinasi

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan p value sebesar 0,028 yang lebih kecil
jika dibandingkan dengan tingkat signifikansi (0,05) dan nilai Z hitung

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 20


sebesar - 2,201 yang bermakna bahwa ada perbedaan tekanan darah
sistolik antara kelompok yang diberi air kelapa muda dibandingkan dengan
kelompok yang diberi jus kombinasi dengan kesimpulan bahwa tekanan
darah sistolik kelompok yang diberi jus kombinasi lebih rendah
dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberi air kelapa muda.

f) Perbedaan Tekanan Darah Diastolik Antara Kelompok Yang Diberi Air


Kelapa Muda Dan Jus Kombinasi

Uji Mann Whitney menunjukkan nilai Z hitung sebesar -1,640 dengan p


value sebesar 0,101 yang lebih besar dari pada tingkat signifikansi (0,05)
yang berarti bahwa tidak ada perbedaan tekanan darah diastolik pada
kedua kelompok tersebut. Hal ini bermakna bahwa baik diberi air kelapa
muda saja maupun diberi jus kombinasi keduanya belum efektif digunakan
untuk menurunkan tekanan darah diastolik.

2. Judul :

Hubungan Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Laki-Laki Usia 35-65 Tahun
di Kota Padang (2015)

Penulis :

Yashinta Octavian Gita Setyanda, Delmi Sulastri, Yuniar Lestari (Pendidikan


Dokter FK UNPAD)

Hasil :

Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Hipertensi;

Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan bermakna antara


kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi (p=0,003). Hasil tersebut
sesuai dengan penelitian yang mendapatkan peningkatan tekanan darah dari
1407 / 993 mmHg menjadi 1515 / 1082 mmHg setelah merokok 10
menit.Nikotin yang ada di dalam rokok dapat mempengaruhi tekanan darah
seseorang, bisa melalui pembentukan plak aterosklerosis, efek langsung

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 21


nikotin terhadap pelepasan hormon epinefrin dan norepinefrin, ataupun melalui
efek CO dalam peningkatan sel darah merah

Hubungan Antara Lama Merokok dengan Kejadian Hipertensi;


Hasil uji chi-square didapatkan adanya hubungan bermakna antara lama
merokok dengan kejadian hipertensi (p=0,017). Hasil ini sejalan dengan
penelitian Suheni yang menunjukkan sangat besar pengaruh lama merokok
terhadap kejadian hipertensi (p=0,000 dan OR=21), artinya semakin lama
memiliki kebiasaan merokok, maka semakin tinggi kemungkinan menderita
hipertensi. Dampak rokok memang akan terasa setelah 10-20 tahun pasca
penggunaan. Rokok juga punya dose-response effect, artinya semakin muda
usia mulai merokok, semakin sulit untuk berhenti merokok, maka semakin lama
seseorang akan memiliki kebiasaan merokok. Hal itu menyebabkan semakin
besar pula risiko untuk menderita hipertensi.

Hubungan Antara Jumlah Rokok dengan Kejadian Hipertensi;


Hasil uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara
jumlah rokok dengan kejadian hipertensi (p=0,412). Hasil berbeda dengan teori
Thomas yang menyatakan adana hubungan antara jumlah rokok yang dihisap
perhari dengan kejadian hipertensi (p<0,05). Hal ini sejalan dengan penelitian
Paola yang mendapatkan hasil tekanan darah rata-rata yang tidak jauh
berbeda antara ketiga kategori jumlah batang rokok (p>0,05). Hal ini
dipengaruhi oleh data diet responden, dimana terdapat kebiasaan minum
alkohol dan asupan elektrolit yang tinggi pada semua responden, sehingga
tekanan darah pada responden tersebut tidak jauh berbeda. Hal itu yang
memngkinkan hasil yang berbeda dengan teori dalam penelitian ini.

Hubungan Antara Derajat Perokok dengan Kejadian Hipertensi


Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara
derajat perokok dengan kejadian hipertensi (p=0,226). Hasil ini tidak sejalan
dengan penelitian Miyatake yang mendapatkan peningkatan risiko sindrom
metabolik terdapat pada perokok berat (indeks Brinkmann >600)
(p<0,05).Hipertensi merupakan salah satu sindroma metabolik, artinya terdapat
hubungan antara derajat perokok dengan hipertensi.1Ada beberapa hal yang

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 22


menyebabkan hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori. Sejalan dengan
penelitian Bambang yang mendapatkan tidak ada hubungan derajat perokok
dan kejadian hipertensi (p=0,358). Pada penelitian ini terdapat interaksi kuat
antara konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, dan indeks massa tubuh, artinya
faktor-faktor lain dapat mempengaruhi hasil analisis

Hubungan Antara Jenis Rokok dengan Kejadian Hipertensi;


Hasil uji chi-square didapatkan adanya hubungan bermakna antara jenis
rokok dengan kejadian hipertensi (p=0,017). Hal ini sejalan dengan penelitian
Susanna yang menyatakan bahwa kandungan nikotin dalam rokok non filter
lebih besar dari rokok filter, sehingga risiko yang ditimbulkannya akan lebih
besar. Jenis rokok filter dapat mengurangi masuknya nikotin ke dalam tubuh.
Filter tersebut berfungsi sebagai penyaring asap rokok yang akan dihisap,
sehingga nantinya tidak terlalu banyak bahan kimia yang akan masuk sampai
ke paru-paru.

3. Judul :
BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI
PADA REMAJA DI SMAN 1 UNGARAN KABUPATEN SEMARANG

Penulis :

Fitrianingsih, Yuliaji Siswanto, Auly Tarmali (Alumni & Dosen Prodi Kesehatan
Masyarakat STIKES Ngudi Waluyo)

Hasil :

Hasil penelitian menyatakan bahwa responden yang mengalami hipertensi dan


ada riwayat keluarga hipertensi yaitu sebesar 97,0% lebih tinggi dibandingkan
responden yang tidak ada riwayat keluarga hipertensi dan mengalami hipertensi
yaitu 35,6%. Dan secara statistik terbukti bermakna (p=0,000; RP=2,724).
Responden yang mengalami hipertensi dan berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar
58,6%, lebih tinggi dibandingkan responden yang berjenis kelamin perempuan dan
mengalami hipertensi yaitu 57,1%. Dan secara statistik terbukti tidak bermakna
dengan nilai (p=1,000). Responden yang mengalami hipertensi dan mempunyai
kebiasaan konsumsi asin kategori sering yaitu sebesar 88,9%, lebih tinggi

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 23


dibandingkan responden yang mempunyai kebiasaan konsumsi asin kategori
jarang dan mengalami hipertensi yaitu 37,5%. Dan secara statistik terbukti
bermakna (p=0,000; RP=2,370). Responden yang mengalami hipertensi dan
mempunyai kebiasaan olahraga tidak teratur yaitu sebesar 59,5%, lebih tinggi
dibandingkan responden yang mempunyai kebiasaan olahraga teratur dan
mengalami hipertensi yaitu 50,0% dan secara statistik terbukti tidak bermakna
dengan nilai (p=0,644).

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR 24


DAFTAR PUSTAKA

1. Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien


Indonesia. Penuntun Diet;Edisi Baru, Jakarta, 2004, PT Gramedia Pustaka
Utama
2. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani W. I, Setiowulan W, Kapita Selekta
Kedokteran Edisi ke-3 jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI,
Jakrta, 1999