Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

Sistem Penyediaan dan Distribusi Air Bersih Air Baku PDAM


dan Pressure Tank

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Otomasi


Gedung Komersial II

Disusun oleh:
Faisal Arrasyid R. (131364009)
Faris Muhammad Fajar (131364008)
Fikri Fadhila (131364009)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK OTOMASI INDUSTRI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2016

DAFTAR ISI

Halaman Judul...........................................................................................................1

Daftar isi....................................................................................................................2

1. Pengertian Sistem Penyediaan dan Distribusi Air Bersih Bangunan ...................3

2. Ruang Lingkup Sistem..........................................................................................4

3. Elemen dasar dan Jariangan Sistem......................................................................6

4. Model-model sistem ...........................................................................................11

5. Posisi Utilitas Sistem pada Bangunan.................................................................12

6. Mekanisme utilitas sistem...................................................................................12

7. Hardware.............................................................................................................13

8. Software..............................................................................................................15

9. HMI.....................................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................21
1. Pengertian Sistem Penyediaan dan Distribusi Air Bersih Bangunan
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan
akanmenjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air
bersihadalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum.
Adapunpersyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang
meliputikualitas fisik, kimia, biologi dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi
tidakmenimbulkan efek samping (Ketentuan Umum Permenkes
No.416/Menkes/PER/IX/1990) dan penyediaan air bersih yang layak untuk
dikonsumsiharus memenuhi Permenkes No. 173/Menkes/Per/VII/1977.
Sistem adalah seperangkat elemen atau komponen yang saling
bergantungatau berinteraksi satu dengan lain menurut pola tertentu dan
membentuk satukesatuan untuk mencapai tujuan tertentu (Sinulingga, 2008).
Plambing adalah seni dan teknologi pemipaan dan peralatan untuk
menyediakan air bersih, baik dalam hal kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang
memenuhi syarat dan pembuang air bekas atau air kotor dari tempat-tempat
tertentu tanpa mencemari bagian penting lainnya untuk mencapai kondisi higienis
dan kenyamanan yang diinginkan.
Perencanaan sistem plambing dalam suatu gedung, guna memenuhi
kebutuhan air bersih sesuai jumlah penghuni dan penyaluran air kotor secara
efesien dan efektif (drainase), sehingga tidak terjadi kerancuan dan pencemaran
yang senantiasa terjadi ketika saluran mengalami gangguan.
Fungsi utama peralatan plumbing gedung adalah menyediakan air bersih
dan atau air panas ke tempat-tempat tertentu dengan tekanan cukup, menyediakan
air sebagai proteksi kebakaran dan menyalurkan air kotor dari tempat-tempat
tertentu tanpa mencemari lingkungan sekitarnya.

Pressure Tank - Tangki Tekan, merupakan tangki yang bisa menyimpan air
bertekanan untuk sementara. Tangki ini di lengkapi dengan membran
(diaphragm) yang akan memisahkan air dan udara. Fungsi utama yaitu
Menghemat listrik (pemakain listrik) pada pompa, tekanan air pada system
perpipaan, Sebagai bantalan udara, sehingga pompa bisa off (mati) secara halus
(soft), tidak terjadi lonjakan, dan Untuk mengurangi efek palu air (water
hammering), saat kran air di matikan tiba tiba atau saat pompa mati tiba tiba.
2. Ruang lingkup Sistem PDAB
2.1 Persyaratan Dalam Penyediaan Air Bersih
Terdapat beberapa persyaratan dalam penyediaan air bersih, diantaranya:

1. Persyaratan Kualitas

Persyaratan kualitas menggambarkan mutu dari air baku air bersih.


Dalam Modul Gambaran Umum Penyediaan dan Pengolahan Air
Minum Edisi Maret 2003 dinyatakan bahwa persyaratan kualitas air
bersih adalah sebagai berikut:

2. Persyaratan Fisik

Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Selain
itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang
lebih 25oC, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang
diperbolehkan adalah 25oC 3oC.

3. Persyaratan Kimiawi

Air bersih tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah


yang melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia antara lain adalah:
pH yang diperbolehkan berkisar antara 6,5-8,5, total solid, zat
organik, CO2 agresif, kesadahan, kalsium (Ca), besi (Fe), mangan
(Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), chloride (Cl), nitrit, flourida (F), serta
logam berat.

4. Persyaratan bakteriologis

Air bersih tidak boleh mengandung kuman pathogen dan parasitik yang
mengganggu kesehatan. Persyaratan bakteriologis ini ditandai dengan
tidak adanya bakteri E. Coli atau fecal coli dalam air.

5. Persyaratan radioaktifitas

Persyaratan radioaktifitas mensyaratkan bahwa air bersih tidak boleh


mengandung zat yang menghasilkan bahan-bahan yang mengandung
radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma.

2.2 Persyaratan Kuantitas (Debit)


Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari
banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah dan jumlah
penduduk yang akan dilayani. Persyaratan kuantitas juga dapat ditinjau dari
standar debit air bersih yang dialirkan ke konsumen sesuai dengan jumlah
kebutuhan air bersih. Kebutuhan air bersih masyarakat bervariasi,
tergantung pada letak geografis, kebudayaan, tingkat ekonomi, dan skala
perkotaan tempat tinggalnya.

2.3 Persyaratan Kontinuitas


Air baku untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus dengan
fluktuasi debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun
musim hujan. Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih harus
tersedia 24 jam per hari, atau setiap saat diperlukan, kebutuhan air tersedia.
Akan tetapi kondisi ideal tersebut tidak dapat dipenuhi pada setiap wilayah
di Indonesia, sehingga untuk menentukan tingkat kontinuitas pemakaian air
dapat dilakukan dengan cara pendekatan aktifitas konsumen terhadap
prioritas pemakaian air. Prioritas pemakaian air yaitu minimal selama 12
jam per hari, yaitu pada jam-jam aktifitas kehidupan, yaitu pada pukul 06.00
18.00. yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan reservoir pelayanan
dan fasilitas energi yang siap setiap saat.
Sistem jaringan perpipaan didesain untuk membawa suatu kecepatan aliran
tertentu. Kecepatan dalam pipa tidak boleh melebihi 0,6-1,2 m/dt. Ukuran
pipa harus tidak melebihi dimensi yang diperlukan dan juga tekanan dalam
sistem harus tercukupi. Dengan analisis jaringan distribusi, dapat ditentukan
dimensi atau ukuran pipa yang diperlukan sesuai dengan tekanan minimum
yang diperbolehkan agar kuantitas aliran terpenuhi.
Kontinuitas aliran sangat penting ditinjau dari dua aspek. Pertama adalah
kebutuhan konsumen. Sebagian besar konsumen memerlukan air untuk
kehidupan dan pekerjaannya, dalam jumlah yang tidak ditentukan. Karena
itu, diperlukan pada waktu yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan
reservoir pelayanan dan fasilitas energi yang siap setiap saat.

2.4 Persyaratan Tekanan Air


Konsumen memerlukan sambungan air dengan tekanan yang cukup, dalam
arti dapat dilayani dengan jumlah air yang diinginkan setiap saat. Untuk
menjaga tekanan air akhir pipa di seluruh daerah layanan, pada titik awal
distribusi diperlukan tekanan yang lebih tinggi untuk mengatasi kehilangan
tekanan karena gesekan, yang tergantung pada kecepatan aliran, jenis pipa,
diameter pipa, dan jarak jalur pipa tersebut.
Dalam pendistribusian air, untuk dapat menjangkau seluruh area pelayanan
dan untuk memaksimalkan tingkat pelayanan maka hal wajib untuk
diperhatikan adalah sisa tekanan air. Sisa tekanan air tersebut paling rendah
adalah 5 mka (meter kolom air) atau 0,5 atm (satu atm = 10 m), dan paling
tinggi adalah 22 mka (setara dengan gedung 6 lantai). Menurut standar dari
Departemen Pekerjaan Umum, air yang dialirkan ke konsumen melalui pipa
transmisi dan pipa distribusi, dirancang untuk dapat melayani konsumen
hingga yang terjauh, dengan tekanan air minimum sebesar 10 mka atau 1
atm. Angka tekanan ini harus dijaga, idealnya merata pada setiap pipa
distribusi. Jika tekanan terlalu tinggi akan menyebabkan pecahnya pipa,
serta merusak alat-alat plambing (kloset, urinoir, faucet, lavatory, dll).
Tekanan juga dijaga agar tidak terlalu rendah, karena jika tekanan terlalu
rendah maka akan menyebabkan terjadinya kontaminasi air selama aliran
dalam pipa distribusi.

3. Elemen Dasar dan Jaringan Sistem PDAB

3.1 Elemen Dasar


Pompa Transfer, berfungsi untuk memompa air bersih dari ground water
tank ke roof tank melalui pipa transfer. Beberapa jenis pompa transfer
yang sering dipakai, antara lain :
o End Suction Pump
o Horizontal Split Case Pump
o Multi Stage Pump
o Centrifugal Pump

Pressure Tank, berfungsi untuk meringankan kerja pompa dari keadaan


start-stop yang terlalu sering. Beberapa jenis pressure tank yang sering
dipakai, antara lain :

o Diaphragma Pressure Tank

o Non Diaphragma Pressure Tank atau Well Pressure Tank

Peralatan pengaturan dan ukur, meliputi :

o Check Valve, penahan aliran balik air didalam instalasi pipa.

o Gate Valve, pengatur buka-tutup aliran air didalam pipa.

o Ball Valve, pengatur jumlah aliran air didalam pipa.

o Butterfly Valve, pengatur buka-tutup aliran air di dalam pipa.

o Floating Valve, klep pengatur buka-tutup aliran air ke tanki.

o Foot Valve, penahan air balik di bawah pipa isap.

o Strainer, berfungsi sebagai filter air.

o Flexible Joint, penahan getaran dan gerakan.

o Pressure Gauge, pengukur tekanan.

o Pressure Switch, alat kontak hubung-putus akibat tekanan.

o Flow Switch, alat kontak hubung-putus akibat aliran.

o Water Meter, pengukur debit air.

3.2 Jaringan Sistem PDAB


Pola jaringan sistem perpipaan distribusi air bersih umumnya, dapat
diklasifikasikan menjadi :
Sistem jaringan melingkar (Grid System/Loop).
Sistem jaringan cabang ( Branch System).
Sistem kombinasi dri kedua sistem tersebut.
Bentuk sistem jaringan perpipaan tergantung pada pola jalan yang ada dan
jalan rencana, topografi, pola perkembangan daerah pelayanan dan lokasi
instalasi pengolahan. Gambar berikut dapat memberikan ilustrasi tentang
bentuk dan sistem jaringan pipa distribusi tersebut.

Gambar Sistem Loop

Gambar Sistem
Cabang
Gambar Sistem
Gabungan

1. Sistem Jaringan Perpipaan Melingkar


Sistem jaringan perpipaan melingkar terdiri dari pipa pipa induk dan
pipa cabang yang saling berhubungan satu sama lainnya dan
membentuk loop (melingkar), sehingga terjadi sirkulasi air ke
seluruh jaringan distribusi. Dari pipa induk dilakukan penyambungan
(tapping) oleh pipa cabang dan selanjutnya dri pipa cabang dilakukan
pendistribusian untuk konsumen.

Dari segi ekonomis sistem ini kurang menguntungkan, karena


diperlukan pipa yang lebih panjang, katup dan diameter pipa yang
bervariasi. Sedangkan dari segi hidrolis (pengaliran) sisten ini lebih
baik karena jika terjadi kerusakan pada sebagian blok dan selama
diperbaiki, maka yang lainnya tidak mengalami gangguan aliran
karena masih dapat pengaliran dari loop lainnya

Sistem jaringan perpipaan melingkar digunakan untuk daerah dengan


karakteristik sebagai berikut :
Bentuk dan perluasannya menyebar ke seluruh arah
Pola jaringan jalannya berhubungan satu dengan lainnya
Elevasi tanahnya relatif datar
2. Sistem Jaringan Bercabang
Sistem jaringan bercabang terdiri dari pipa induk utama (main feeder)
disambungkan dengan pipa sekunder, lalu disambungkan lagi dengan
pipa cabang lainnya, sampai akhirnya pada pipa yang menuju ke
konsumen.

Dari segi ekonomis sistem ini menguntungkan, karena panjang pipa


lebih pendek dan diameter pipa kecil. Namun dari segi teknis
pengoperasian mempunyai keterbatasan, diantaranya :
Timbulnya rasa, bau akibat adanya air mati pada ujung-ujung
pipa cabang. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan
pengurasan secara berkala dan menyebabkan khilangan air yang
cukup banyak.
Jika terjadi kerusakan akan terdapat blok daerah pelayanan yang
tidak mendapatkan suplai air, karena tidak adanya sirkulasi air.
Jika terjadi kebakaran, suplai air pada hidran kebakaran lebih
sedikit, karena alirannya satu arah.
Sistem jaringan perpipaan bercabang digunakan untuk daerah
pelayanan dengan karakteristik sebagai berikut :
Bentuk dan arah perluasan memanjang dan terpisah.

Pola jalur jalannya tidak berhubungan satu sama lainnya.

Luas daerah pelayanan relatif kecil.

Elevasi permukaan tanah mempunyai perbedaan tinggi dan


menurun secara teratur.

3. Sistem Jaringan Perpipaan Kombinasi


Sistem jaringan perpipaan kombinasi merupakan gabungan dari
sistem melingkar dan sistem bercabang. Sistem ini diterapkan untuk
daerah pelayanan dengan karakteristik:

Kota yang sedang berkembang.


Bentuk perluasan kota yang tidak teratur, demikian pula jaringan
jalannya tidak berhubungan satu sama lain pada bagian tertentu.

Terdapat daerah pelayanan yang terpencil dan elevasi


tanah yang bervariasi.

4. Model-model Sistem PDAB

Sistem penyediaan air bersih dalam suatu bangunan gedung terdiri dari 3
(tiga) Sistem, yaitu :

1) Sistem sambungan langsung

2) Sistem tangki tekan


3) Sistem tangki atap
4.1 Sistem sambungan langsung
4.2 Sistem tangki tekan
4.3 Sistem tangki atap
5. Mekanisme Operasi Sistem PDAB
5.1 Sistem sambungan langsung

Sistem sambungan langsung adalah sistem dimana, pipa distribusi


kebangunan langsung dengan pipa cabang dari sistem penyediaan air minum
secara kolektif (daiam hal ini pipa cabang distribusi PDAM).

Karena terbatasnya tekanan air di pipa distribusi PDAM, maka sistem


ini hanya bisa untuk bangunan kecil atau bangunan rumah sampai dengan 2
(dua) lantai.

Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem, ini adalah, air
yang berasal dan pipa cabang sistem penyediaan air minum secara kolektif
(dalam hal ini pipa cabang distribusi PDAM).

5.2 Sistem tangki tekan

Biasanya sistem ini digunakan bila air yang akan masuk kedalam
bangunan, pengalirannya menggunakan pompa.

Prinsip kerja sistem ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Air dari
PDAM atau yang telah ditampung dalam tangki bawah dipompakan ke
dalam suatu bejana (tangki) tertutup, sehingga air yang ada didalam tangki
tertutup tersebut dalam keadaan terkompresi. Air dan tangki tertutup
tersebut dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan.

Pompa bekerja secara otomatis yang diatur oleh suatu detektor


tekanan, yang menutup/membuka saklar motor listlik penggerak pompa.
Pompa berhenti bekeria kalau tekanan dalam tangki telah mencapai suatu
batas maksimum yang ditetapkan, dan bekerja kembali setelah tekanan
dalam tangki mencapai suatu batas minimum yang ditetapkan. Daerah
fluktuasi tekanan biasanya ditetapkan antard 1,00 kg/cm2 sampai 1,50
kg/cm2

Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah, air
yang berasal dari reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDAM atau
dari sumur atau dan PDAM dan sumur) atau langsung dari sumur (air
tanah).
5.3 Sistem tangki atap

Apabila sistem sambungan langsung oleh berbagai hal tidak dapat


diterapkan, maka dapat diterapkan sistem tangki atap.

Dalain sistem ini, air ditampung leriebih dahulu pada tangki bawah, lalu
dipompakan ke tangki atas. Tangki atas dapat berupa tangki yang di simpan
di atas atap atau dibangunan yang tertinggi, dan bisa juga berupa menara air.

Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah air
yang berasal dari reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDANI atau
dari sumur atau dari PDAM dan sumur) atau langsung dari sumur (air tanah).

Untuk lebih jelasnya sistem ini dapat dilihat pada Gambar 4, dan
Gambar 5. Agar supaya system penyediaan air minum di dalam bangunan
gedung (plumbing air minum) dapat berfungsi secara optimal, maka perlu
memenuhi beberapa persyaratan diantaranya adalah :

a) Syarat kualiitas

b) Syarat kuantitas

c) Syarat tekanan

6. Posisi Utilitas (PDAB) dalam Sistem Otomasi Bangunan

HMI MASTER SERVER

SLAVE

UTILITAS
(PDAB
7. Perangkat Keras Kendali Utilitas Dalam Jaringan Otomasi Bangunan

7.1 Perangkat Keras Kendali Sistem PDAB

Software yang digunakan adalah Epanet, dalam perangkat lunak ini


terintegrasi dengan komponen-komponen lainnya atau perangkat keras.
Epanet memodelkan sebuah sistem distribusi air berupa serangkaian jalur-
jalur yang dihubungkan dengan titik-titik. Sebuah jalur bisa mewakili pipa,
pompa, dan katup. Sedangkan titik mewakili junction (persimpangan), tank
(bak penampung) dan reservoir.

- Junctions adalah titik titik yang merupakan tempat penyambungan


antar links (pipa, pompa dan katup) sekaligus penanda masuk maupun
keluarnya air dalam jaringan distribusi dengan format input pada
junction

- Reservoir merupakan titik yang mewakili sumber luar tak hingga atau
cekungan air dalam jaringan distribusi misalnya danau, sungai dan
akuifer air tanah.

- Tank merupakan node dengan kapasitas tampungan yang dapat beragam


selama waktu simulasi (running).

- Pipa merupakan penghubung yang membawa air dari satu titik ke titik
lainnya dalam jaringan distribusi.

- Pompa merupakan penghubung yang memberi energi ke fluida (air)


sehingga fluida tersebut bertambah nilai tinggi hidrolik (hydraulic head).
- Katup merupakan penghubung yang membatasi tekanan atau aliran pada
titik tertentu dalam jaringan distribusi.
7.2 Aktuator dan Sensor

Aktuator pada sistem utilitas yaitu katup. Katup adalah suatu link
yang membatasi tekanan ataupun aliran pada suatu titik tertentu pada
jaringan. Yang menjadi parameter input untuk katup adalah:

- Awal dan akhir node

- Diameter

- Setting

- Status

Output hasil perhitungan untuk sebuah katup adalah rata-rata aliran


dan headloss. Berbagai tipe katup yang disediakan oleh Epanet (perangkat
lunak utilitas) adalah

- Pressure Reducing Valve (PRV)

- Pressure Sustaining Valve (PSV)

- Pressure Breaker Valve (PBV)

- Flow Control Valve (FCV)

- Throttle Control Valve (TCV)

- General Purpose Valve (GPV).

Sensor yang digunakan pada sistem utilitas yaitu:

- Resistance Temperature Detectors (RTDs) adatah sebuah transduser


temperatur yang dibuat dari elemen kawat konduktif. Jenis kawat yang
banyak digunakan dalam RTDS adalah platinum, nickel, copper, dan
nickel-iron. Seluruh permukaan kawat diberi selubung pengaman.
Dalam RTD, resistansi dari kawat naik secara linier dengan naiknya
temperatur yang diukur, oleh karena RTD disebut mempunyai koefisien
temperatur positif (Temperature positive coefficient).

- Pressure sensor (sensor tekanan) merupakan alat yang digunakan untuk


mengukur tekanan, yaitu dengan cara mengubah tegangan mekanis
menjadi sinyal listrik

- Sensor level adalah pengukur ketinggian permukaan fluida cair pada


suatu tangki. Level adalah suatu besaran fisika yang dapat dikatakan
sebagai variabel proses dasar yang dapat diukur dengan jenis sensor
fisika (sesuai dengan klasifikasi sensor). Sensor yang digunakan adalah
dengan menggunakan d/p transmitter.

8. Perangkat Lunak Jaringan Kendali

Metode yang dipergunakan dalam analisis pendistribusian air bersih yaitu


dengan memakai program EPANET versi 2.0. program tersebut merupakan
program komputer (software) dengan tampilan Windows yang dapat melakukan
simulasi periode tunggal atau majemuk dari perilaku hidrolis dan kualitas air pada
jaringan pipa bertekanan. Dengan analisis simulasi yaitu melacak aliran air (flow)
pada pipa, tekanan (pressure) di setiap titik (node), kedalaman (height) air dalam
tangki serta konsentrasi bahan kimia dalam sistem distribusi air bersih maupun air
minum.
Dengan penjelasannya pada tiap bagian (input,prosess dan output) yaitu :

1. Membuat jaringan sistem distribusi atau mengimport file jaringan


(dalam bentuk text file). Maksudnya adalah dalam tampilan windows
EPANET dapat dibuat skema jaringan pendstribusianyang dikehendaki
maupun dapat dilakukan dengan mengambil jaringan yang sudah ada
(tersimpan dalam format/program lain) misalnya computer aided
drawing (CAD)

2. Mengedit sifat objek atau komponen fisik yang terlihat dalam sistem
distribusi. Yang termasuk komponen fisik dalam sistem distribusi
diantaranya:

- Junctions adalah titik titik yang merupakan tempat penyambungan


antar links (pipa, pompa dan katup) sekaligus penanda masuk
maupun keluarnya air dalam jaringan distribusi dengan format input
pada junction

- Reservoir merupakan titik yang mewakili sumber luar tak hingga


atau cekungan air dalam jaringan distribusi misalnya danau, sungai
dan akuifer air tanah.

- Tank merupakan node dengan kapasitas tampungan yang dapat


beragam selama waktu simulasi (running).

- Pipa merupakan penghubung yang membawa air dari satu titik ke


titik lainnya dalam jaringan distribusi.

- Pompa merupakan penghubung yang memberi energi ke fluida (air)


sehingga fluida tersebut bertambah nilai tinggi hidrolik (hydraulic
head).

- Katup merupakan penghubung yang membatasi tekanan atau aliran


pada titik tertentu dalam jaringan distribusi.
3. Pengaturan dan pengoperasian sistem lebih ditekankan sebagai editing
pada komponen yang tidak nampak dalam sistem (non-visual
components), terdiri atas :
- Curve editor ditujukan untuk mengatur bagaimana link (pompa)
maupun node bekerja sesuai standar atau keadaan yan dikehendaki.
Curve editor diantaranya hubungan tinggi tekan dengan debit (pump
curve), biaya atas pengunaan energi/hubungan efisiensi dengan debit
(effisiency curve), hubungan volume dengan kedalaman air (volume
curve) dan hubungan kehilangan energi dengan debit (headloss
curve).
- Pattern editor ditujukan untuk mengatur pola distribusi air bila
dilakukan simulasi berjangka (extended period simulation) sesuai
dengan waktu yang dikehendaki.
- Controls editor merupakan pengaturan yang dilakukan terhadap node
dan links pada saat simulasi terjadi, apakah dikehendaki tertutup,
terbuka maupun keadaan lainnya.
- Demand editor ditujukan unutk pengaturan kebutuhan sekaligus
dilakukan penggolongan kebutuhan tersebut berdasarkan kategori
yang ditetapkan saat simulasi berjalan.
- Sorce quality editor merupakan pengaturan dengan memasukkan
komponen water quality ketika simulasi berjalan. Editor ini dapat
diabaikan bilamana ditujukan hanya untuk simulasi hidrolik.
4. Memilih analisis yang diinginkan untuk menjalankan simulasi,
diperlukan untuk kesesuaian dengan penggunaan formula, sistem satuan
serta karakteristik lain yang dikehendaki, apakah menggunakan formula
Hazen- Williams, Darcy-Weisbach atau Chezy-Manning.
5. Menjalankan program (running) dilakukan setelah proses input
terjadi, adapun komentar ketika running dilakukan diantaranya :
- Run was succesfull yang berarti bahwa proses running berjalan
baik sehingga bisa dilanjutkan dengan mengetahui outputnya.
- Run was unsuccesfull. See status report for reason yang berarti
bahwa proses berhenti dikarenakan beberapa hal namun dapat
diketahui kesalahan yang terjadi dengan melihat komentar
kesalahan tersebut.
- Warning message were generated. See status report for reason
yang berarti bahwa ada beberapa input yang menyebabkan
kegagalan simulasi ketika simulasi sedang berjalan. Kesalahan
ini dapat terjadi misalnya karena pompa yang tidak bekerja,
jaringan tidak terhubung, adanya tekanan negatif, sistem tidak
seimbang serta persamaan hidrolik tidak terpecahkan.
6. Mengetahui hasil keluaran, tahapan akhir ini dapat diketahui bila proses
analisis yang berlangsung berjala dengan baik (running was succesfull).
Adapun hasil keluaran tersebut dapat ditampilkan dalam tabel dan
grafik.
9. Human Machine Interface (HMI)

HMI merupakan perangkat lunak antar muka berupa GUI berbasis komputer
yang menjadi penghubung antara operator dengan mesin atau peralatan yang
dikendalikan serta bertindak pada supervisory (GlobalSpec, 2010).
Human Machine Interface (HMI) dapat berupa pengendali dan visualisasi
status baik dengan manual maupun melalui visualisasi komputer yang bersifat real
time. Sistem HMI biasanya bekerja secara online dan real time dengan membaca
data yang dikirimkan melalui I/O port yang digunakan oleh sistem controller-nya.
A. Irawan (2010) menyebutkan bahwa secara umum HMI mempunyai fungsi-
fungsi sebagai berikut:
1. Memonitori dan memberikan informasi kondisi plant kepada operator
melalui GUI secara real time. Tampilan kondisi plant adalah berdasarkan
hasil pembacaan input dan output dari proses yang sedang berlangsung
pada plant.
2. Menentukan kondisi output (aktuator) berdasarkan nilai input yang
diperoleh dari pembacaan sensor.
3. Pengambilan dan penyimpanan data dalam satu koleksi data. Pada
umumnya data dapat berupa data pengukuran, status sistem yang
diwakili oleh status valve sebagai actuator, status alarm, tanggal
pengambilan dan penyimpanan data.
4. Menyimpan kondisi alarm, sehingga dapat diketahui alasan terjadinya
penyimpangan dalam sistem.
5. Menampilan grafik dari sebuah proses yang ada di plant, misalkan grafik
penampilan proses kenaikan dan penurunan beban utama yang
terhubung ke genarator baik secara real time maupun historikal.
Trending dapat dilihat secara online real time atau historis.

Pada Penyediaan dan Distribusi Air bersih air baku PDAM. SCADA
agregat/HMI memberikan kontrol real-time dan proses visualisasi untuk
organisasi distribusi air dan pengolahan air limbah skala yang berbeda dan jenis,
termasuk sistem sanitasi, utilitas air, kota, distribusi, filtrasi, desalinasi, dan
remediasi.

Berikut adalah contoh HMI pada sistem utilitas:

http://aggregate.tibbo.com/industries/water-wastewater.html
DAFTAR ISI

Asmadi, Khayan, dan Kasjono H. S., 2011. Teknologi Pengolahan Air Minum.Gosyen
Publishing. Yogyakarta.
Joko, T., 2010. Unit Air Baku Dalam Sistem Penyediaan Air Minum. Graha Ilmu,
Yogyakarta.
Joko, T., 2010. Unit Produksi Dalam Sistem Penyediaan Air Minum. Graha Ilmu,
Yogyakarta.
Sinulingga, S., 2008. Pengantar Teknik Industri. Graha Ilmu, Yogyakarta. Sutrisno, T.
dan Suciastuti E., 2010. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Rineka Cipta, Jakarta.
Susanto, Deki. 2007. ANALISA DISTRIBUSI AIR PADA PIPA JARINGAN
DISTRIBUSI DI SUB-ZONE SONDAKAN PDAM KOTA SURAKARTA
DENGAN SIMULTANEOUS LOOP EQUATION METHOD.
https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/8147/MjA4MTY=/Analisa-distribusi-
air-pada-pipa-jaringan-distribusi-di-sub-zone-sondakan-pdam-kota-Surakarta-
dengan-simultaneous-loop-equation-method-abstrak.pdf
Prihatinni. 2012. ANALISIS SISTEM PENDISTRIBUSIAN AIR BERSIH PADA
BANGUNAN BERTINGKAT DENGAN SOFTWARE EPANET 2.0.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31567/4/Chapter%20II.pdf