Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK TEGANGAN TINGGI

TEGANGAN TEMBUS IMPULS PADA UDARA UNTUK BERBAGAI JENIS ELEKTRODA

NAMA PRAKTIKUM : FATKHIYA MUKARROMAH

NIM : 1215020012

KELAS : 4E/ TEKNIK KONVERSI ENERGI

GRUP : 1. DRIANTO DARMAWAN


2. DIAN RIYANI
3. EFRIZA DININGRAT
4. FADLI
5. FARIS SAHRIN
6. FATHUR MAULANA

TANGGAL PRAKTEK : 4 MEI 2017

TANGGAL PENYERAHAN : MEI 2017

DOSEN PEMBIMBING : 1. P JANNUS ST,MT


2. DEZZETY MONIKA ST,MT

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

TAHUN 2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG

I.II TUJUAN

BAB II DASAR TEORI

BAB III PELAKSANAAN

II.I ALAT

II.II LANGKAH KERJA

BAB IV DATA DAN ANALISA

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BERLAKANG


Sifat alami yang tidak bisa dihindari saat pengoperasian peralatan listrik tegangan tinggi adalah
bahwa peralatan-peralatan tersebut sering terkena tegangan impuls, baik impuls karena petir
maupun impuls karena sistem kontak. Impuls karena sambaran petir disebut dengan impuls petir
dan impuls akibat buka tutup kontak disebut dengan impuls kontak. Sehingga untuk mengetahui
kekuatan isolasi peralatan terhadap berbagai bentuk tegangan impuls ini, sangat diperlukan
pengujian laboratorium terhadap perlatan tegangan tinggi.
Tinggi tegangan lebih yang mungkin terjadi pada jaringan menentukan kekuatan dan jenis isolasi.
Amplitudo dan besaran waktu tegangan lebih telah distandarisasikan. Standarisasi ini telah
diusahakan mendekati kemungkinan pembebanan peralatan secara praktis akibat tegangan lebih
impuls petir ataupun impuls kontak. Pengujian dengan standarisasi teganga impuls ini adalah
sebuah pendekatan dari kemungkinan yang terjadi pada penngoperasian nyata peralatan tegangan
tinggi. Seperti yang kita ketahui besaran waktu impuls kontak sangat bervariasi pada setiap titik
jaringan.Demikian juga arus akibat sambaran petir adalah merukan distribusi statistik, sehingga
gelombang berjalan tegangan berbeda beda. Karena bentuk gelombang impuls ini bervariasi,
maka dibuat standarisasi internasional untuk tegangan impuls (IEC60).

1.2 TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mempelajari dan mengetahui pembangkitan
tegangan tinggi Impuls
2. Mahasiswa dapat mempelajari dan mengetahui cara pengukuran
tegangan tinggi impuls.
BAB II
DASAR TEORI

Impuls adalah suatu fungsi yang berharga sangat besar dalam selang waktu yang
singkatsekali. Diluar siang waktu yang singkat itu fungsi impuls berharga nol. Dalam tenaga
listrik,impuls dapat terjadi dalam bentuk tegangan yang disebut impuls tegangan dan dapat jugadalam
bentuk arus disebut impuls arus. Umumnya yang terjadi pada sistem tenaga listrikadalah impuls
tegangan. Impuls tegangan pada sistem tenaga listrik dapat terjadi oleh switching dan dapat
puladisebabkan oleh petir , yang juga disebut surja tegangan atau surja. Impuls pada sistermtenaga
listrik merambat disaluran secara gelombang. Dan analisa perjalanan impuls disalurandilakukan analog
dengan analisa gelombang berjalan pada tali atau tambang.Bentuk-bentuk Impuls, secara garis besar
impuls dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu :
1. Impuls segi empat (Rectangular)
2. Impuls segitiga ( wedge shape)
3. Impuls eksponensial.

Impuls tegangan pada sistem tenaga listrik merupakan impuls berbentuk eksponen,
yaituimpuls kilat yang dikenal dengan impuls double eksponen dan impuls switching yang jugamirip
eksponen.Impuls double eksponen dapat didefinisikan dengan persamaan berikut
ini :
V(t) = V (e-t/T e-t/T)
Dimana :
V(t) : fungsi impuls (kV)
V : Konstanta (kV)
t : waktu
T dan T : konstanta waktu

Distribusi impuls timbul oleh pengaruh besarnya tegangan yang digunakan. Hal ini dapat
dipraktikan pada konduktor sela-bola, untuk kondisi geometri yang tetap, tegangan tembustergantung
pada besarnya tegangan yang diterapkan. Untuk tidak ada peluang terjadinyaimpuls terdapat pada
tegangan V0 dan peluang terjadinya impuls 100% pada tegangan V100. serta untuk tegangan diatas
tegangan terjadinya impuls 100% maka kemungkinan impulsadalah satu.
Secara statistik flashover yang disebabkan oleh impuls tegangan pada isolator tergantung
pada tegangan kritis flashover (CFO). Untuk besar tegangan impuls yangditerapkan dan dilakukan
berkali-kali percobaan maka probalitas terjadinya flasover padaisolator tunggal itu menurut disribusi
Gaussian dan pada distribusi normal. Kemungkinan terjadi flashover tergantung oleh kondisi
kecuraman permukaan gelombang,polaritas tegangan, bentuk geometri dan keadaan cuaca. Perlu juga
diingat nilai dari CFOtergantung juga pada kondisi itu dan untuk disain diambil harga CFO diatas 3-5%.

BAB III
PELAKSANAAN
1.1 Alat dan Bahan

No Alat Jumlah
.
1. Multi Test Set Table 1 Set
2. Tongkat Grounding 1
3. Elektroda Jarum 2
4. Elektroda Batang 2
5. Electroda Bola Pejal 1
6. Electroda Bola 1
Kosong
7. Lampu Indikator 1
8. Kunci Pas 1

1.2 Langkah Kerja

R1:Tahanan tegangan tinggi Cs :Kapasitansi Impuls


C1: Kapasitas tegangan tinggi Rp :Tahanan Paralel
C2:Kapasitansi tegangan rendah RS1 :Tahanan Seri 1
Z: Karakteristik impedance dari kabel RS2 :Tahanan Seri 2
Cb :Kapasitansi Beban
pengukuran
U1 :Tegangan Input U1 :Tegangan AC primer
U2 :Tegangan Output U2 :Tegangan AC sekunder
Rd :Tahanan Damping Uc :Tegangan DC Charging
Us:Tegangan Impulse Keluaran
a. Pasangkan salah satu konfigurasi diatas pada tempat obyek pengujian.
b. Naikkan tegangan hingga udara diantara elektroda tembus, kemudian catat
tegangan tersebut.
c. Naik kan jarak elektroda seperti pada table kemudian naik kan tegangan hingga
udara tembus.
d. Gantikan konfigurasi elektroda kemudian ulangi percobaan seperti diatas.




























BAB IV
DATA DAN ANALISA

Tabel 4.1.1

Ko Medan
nfigurasi Jarak Tegangan Tembus (kV) Listrik
Elektroda (m) (kV/m)
V V V
1 2 3 (cepat) Vr
(lambat (sedang
) )

3400
0,01 34

2266,67
0,015 34
Bol
1700
a Pejal- 0,02 34
Bola
1360
Kosong 0,025 34

1133,33
0,03 34

971,43
0,035 34

Tabel 4.1.2

Medan
Tegangan Tembus (kV) Listrik
Ko (kV/m)
nfigurasi Jarak V V
Elektroda (m) 1 2 V

(lambat (sedang 3 (cepat) Vr
) )
Bol
a Pejal- 34

Bola Pejal 3333
0,01


34

2088,67
0,015


1600
0,02 34

34

1253,2
0,025


1066,67
0,03 34
914,28
0,035 34

Tabel 4.1.3

Medan
Tegangan Tembus (kV) Listrik
Ko (kV/m)
nfigurasi Jarak V V
Elektroda (m) 1 2 V

(lambat (sedang 3 (cepat) Vr
) )

34

3333
0,01


34

Bol 2222
0,015
a Kosong-
Bola
Kosong
1700
0,02 34

1360
0,025 34

1133,33
0,03 34

971,43
0,035 34

Tabel 4.1.4

Medan
Tegangan Tembus (kV) Listrik
Ko (kV/m)
nfigurasi Jarak V V
Elektroda (m) 1 2 V

(lambat (sedang 3 (cepat) Vr
) )
Bol
3200
a Kosong- 0,01 34
Bola Pejal
2133,33
0,015 34
1566,5
34
0,02


34

1253,2
0,025


1100
0,03 34

34

962
0,035

Grafik 4.1.1

Tegangan tembus terhadap Jarak


Bola Pejal-Bola Kosong Linear (Bola Pejal-Bola
35
Kosong)
34 Bola Pejal-Bola Pejal Linear (Bola Pejal-Bola
33 Pejal)
Bola Kosong-Bola Linear (Bola Kosong-
32
Kosong Bola Kosong)
31 Bola Kosong-Bola Pejal Linear (Bola Kosong-
30 Bola Pejal)

29
1.0000000000000005E-2

Grafik 4.1.2

Kuat Medan terhadap Jarak


4000
3500
3000 Bola Pejal-Bola Kosong
2500
2000 Bola Pejal-Bola Pejal
1500
1000
500 Bola Kosong-Bola
0
Kosong
Bola Kosong-Bola Pejal

Grafik 4.1.3

Tegangan tembus terhadap waktu


40
35 Bola Pejal-Bola Kosong
30 Bola Pejal-Bola Pejal
25 Bola Kosong-Bola
20 Kosong
15 Bola Kosong-Bola Pejal
10
5
0
1 (cepat) 2 (sedang) 3 (lambat)

Analisa:

1. Pada tegangan impuls, tegangan tembus yang dihasilkan tidak konstan. Jika putaran
untuk menghasilkan tegangan lambat, maka tegangan tembusnya kecil. Jika putaran
cepat maka tegangan tembusnya tinggi
2. Kuat Medan listrik berbanding terbalik dengan jarak
3. Tegangan tembus impuls dengan waktu berbanding lurus. Semakin besar tegangan
tembus maka waktu yang dibutuhkan semakin lama



























Tabel 4.2.1 Tabel 4.2.2


Tabel 4.2.3 Tabel 4.2.4

Bola Pejal - Batang (Kelompok 1)


TEGANGAN TERHADAP JARAK
Bola Pejal Bola Pejal (Kelompok 1)
45
Batang Bola Pejal (Kelompok 1)
40
Batang - Batang (Kelompok 1)
35
Bola Pejal-Bola Kosong (Kelompok 2)
30
Bola Pejal-Bola Pejal (Kelompok 2)
25

Bola Kosong-Bola
20 Kosong (Kelompok 2)

Bola Kosong-
15Bola Pejal (Kelompok 2)
TEGANGAN
Jarum- Bola 10
Kosong (Kelompok 3)

Jarum- Jarum 5
(Kelompok 3)

Bola Kosong -0Jarum (Kelompok 3)

Bola Kosong - Bola Kosong (Kelompok 3)

Batang - Batang (Kelompok 4)

Jarum - Jarum (Kelompok 4)

Batang - Jarum (Kelompok 4)

JARAK
Jarum - Batang (Kelompok 4)

Grafik 4.2.1

Bola Pejal - Batang (Kelompok 1)


KUAT MEDAN TERHADAP JARAK
Bola Pejal Bola Pejal (Kelompok 1)
4500

Batang Bola Pejal (Kelompok 1)


4000
Batang - Batang (Kelompok 1)
3500
Bola Pejal-Bola Kosong (Kelompok 2)
3000
Bola Pejal-Bola Pejal (Kelompok 2)
2500
Bola Kosong-Bola Kosong (Kelompok 2)
2000
Bola Kosong- Bola Pejal (Kelompok 2)
1500
KUAT MEDAN
Jarum- Bola Kosong (Kelompok 3)
1000
Jarum- Jarum (Kelompok 3)
500
Bola Kosong - Jarum (Kelompok 3)
0
Bola Kosong - Bola Kosong (Kelompok 3)

Batang - Batang (Kelompok 4)

Jarum - Jarum (Kelompok 4)

Batang - Jarum (Kelompok 4)

JARAK
Jarum - Batang (Kelompok 4)

Grafik 4.2.2





















Analisa:
1. Dari bentuk grafik yang berbeda-beda, terbukti bahwa bentuk anoda dan katoda memengaruhi
hubungan tegangan dan jaraknya
2. Kuat Medan Listrik berbanding terbalik dengan jarak. Semakin besar jarak, semakin kecil kuat
medan listrik
3. Tegangan tembus impuls berbanding lurus dengan waktu. Jika tegangan tembusnya besar
maka yang dibutuhkan semakin lama





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Kuat medan listrik pada tegangan impuls berbanding terbalik dengan jarak. Karena bila
jarak yang diberikan semakin besar maka kuat medan yang dihasilkan juga akan semakin
rendah, begitu pula sebaliknya.
Kuat medan listrik pada tegangan impuls berbanding lurus dengan tegangan. Karena bila
tegangan yang diberikan semakin besar maka kuat medan yang dihasilkan juga akan
semakin besar juga, begitu pula sebaliknya.
Jarak berbanding lurus dengan tegangan. Karena bila jarak yang diberikan semakin besar
tegangan yang dihasilkan juga akan semakin besar juga, begitu pula sebaliknya.
Kecepatan saat memberikan tegangan juga mempengaruhi besarnya tegangan yang
dihasilkan, sehingga tegangan berbanding lurus dengan waktu. Karena hal tersebut
mempengaruhi terjadinya kegagalan isolasi
Bentuk konfigurasi elektroda mempengaruhi besarnya nilai tegangan yang terjadi, Semakin
besar penampang maka semakin besar tegangan tembus yang dihasilkan
5.2 Saran
1. Pastikan telah mengkalibrasi alat dengan benar
2. Selalu bekerja sesuai SOP
3. Jangan lupa melakukan Grounding