Anda di halaman 1dari 22

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

PRAKTIKUM PRINSIP STRATIGRAFI


ACARA 1 : PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR

LAPORAN

OLEH :
SYAMSURIZAL
D611 15 001
GOWA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stratigrafi merupakan studi mengenai sejarah, komposisi

dan umur relatif serta distribusi perlapisan batuan dan

interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah

bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan yang

berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi

(litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif

maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari

untuk mengetahui luas penyebaran lapisan batuan.

Pada hakekatnya ada hubungan tertentu antara kejadian

dan aturan batuan di alam, dalam kedudukan ruang dan waktu

geologi. Stratigrafi membahas aturan, hubungan, kejadian

lapisan serta tubuh batuan di alam. Sandi stratigrafi

dimaksudkan untuk memberikan pengarahan kepada para ahli

geologi yang bekerja mempunyai persepsi yang sama dalam cara

penggolongan stratigrafi.

Pengukuran stratigrafi merupakan salah satu pekerjaan

yang biasa dilakukan dalam pemetaan geologi lapangan. Adapun

pekerjaan pengukuran stratigrafi dimaksudkan untuk


memperoleh gambaran yang terperinci dari hubungan stratigrafi

antar setiap perlapisan batuan / satuan batuan, ketebalan setiap

satuan stratigrafi, sejarah sedimentasi secara vertikal dan

lingkungan pengendapan dari setiap satuan batuan. Dalam

praktikum ini pengukuran stratigrafi dengan menggunakan data

yang ada pada problem set, yang kemudian dibuatlah

perhitungan dan urutan kejadian litologi batuan tertua sampai

termuda.

1.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dari praktikum Prinsip Stratigrafi ini untuk mengimplementasikan

teori-teori dan materi pada perkuliahan yang di realisasikan dengan melakukan

praktikum ini.
Adapun tujuan dari praktikum ini sebagai berikut:
1. Praktikan dapat membuat Profil Lintasan dari problem set yang di dapatkan

saat praktikum.
2. Praktikan mampu menganalisis data berupa koreksi dip, jarak datar dan beda

tinggi dalam pembuatan penampang profil lintasan.


3. Praktikan dapat menghitung ketebalan berdasarkan Penampang Profil

Lintasan
4. Praktikan dapat membuat Kolom Stratigrafi
1.3 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan demi kelancaran Praktikum

Penampang STratigrafi Terukur antara lain :

1. Alat Tulis Menulis


2. Milimeter Block
3. Kalkulator
4. Pensil Warna
5. Double Tip
6. Busur Derajat
7. Penggaris
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Penamapang Stratigrafi Terukur

Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta

distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk

menjelaskan sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan

yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi

(litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun

absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas

penyebaran lapisan batuan.

Penampang stratigrafi terukur (measured stratigraphic section) adalah

suatu penampang atau kolom yang menggambarkan kondisi stratigrafi suatu jalur,

yang secara sengaja telah dipilih dan telah diukur untuk mewakili daerah tempat

dilakukannya pengukuran tersebut. Jalur yang diukur tersebut dapat meliputi satu

formasi batuan atau lebih.

Sebaliknya pengukuran dapat pula dilakukan hanya pada sebagian dari

suatu formasi, sehingga hanya meliputi satu atau lebih satuan lithostratigrafi yang

lebih kecil dari formasi, misalnya anggota atau bahkan beberapa perlapisan saja.

2.2 Hukum-hukum Stratigrafi

1. Hukum Superposisi (Nicolas Steno,1669)


Dalam suatu urutan perlapisan batuan, maka lapisan batuan yang terletak di

bawah umurnya relatif lebih tua dibanding lapisan diatasnya selama lapisan

batuan tersebut belum mengalami deformasi.

2. Hukum Horizontalitas (Nicolas Steno,1669)

Pada awal proses sedimentasi, sebelum terkena gaya atau perubahan, sedimen

terendapkan secara horizontal

3. Original Continuity (Nicolas Steno,1669)

Batuan sedimen melampar dalam area yang luas di permukaan bumi.

4. Uniformitarianism (James Hutton, 1785)

Uniformitarianisme adalah peristiwa yang terjadi pada masa geologi lampau

dikontrol oleh hukum-hukum alam yang mengendalikan peristiwa pada masa

kini. Hukum ini lebih dikenal dengan semboyannya yaitu The Present is the

key to the past. Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang

terlihat sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi

masa lampau.

5. Faunal Succession (Abble Giraud-Soulavie, 1778)

Pada setiap lapisan yang berbeda umur geologinya akan ditemukan fosil yang

berbeda pula. Secara sederhana bisa juga dikatakan Fosil yang berada pada

lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan atasnya. Fosil yang hidup
pada masa sebelumnya akan digantikan (terlindih) dengan fosil yang ada

sesudahnya, dengan kenampakan fisik yang berbeda (karena evolusi).

Perbedaan fosil ini bisa dijadikan sebagai pembatas satuan formasi dalam

lithostratigrafi atau dalam koreksi stratigrafi.

6. Strata Identified by Fossils (Smith, 1816)

Perlapisan batuan dapat dibedakan satu dengan yang lain dengan melihat

kandungan fosilnya yang khas

7. Facies Sedimenter (Selley, 1978)

Suatu kelompok litologi dengan ciri-ciri yang khas yang merupakan hasil dari

suatu lingkungan pengendapan yang tertentu. Aspek fisik, kimia atau biologi

suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh batuan yang diendapakan

pada waktu yang sama dikatakan berbeda fsies apabila kedua batuan tersebut

berbeda fisik, kimia atau biologi (S.S.I.)

8. Cross-Cutting Relationship (A.W.R Potter & H. Robinson)

Apabila terdapat penyebaran lap. Batuan (satuan lapisan batuan), dimana

salah satu dari lapisan tersebut memotong lapisan yang lain, maka satuan

batuan yang memotong umurnya relatif lebih muda dari pada satuan batuan

yang di potongnya.

9. Law of Inclusion
Inklusi terjadi bila magma bergerak keatas menembus kerak, menelan

fragmen2 besar disekitarnya yang tetap sebagai inklusi asing yang tidak

meleleh. Jadi jika ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan

batuan, maka perlapisan batuan itu terbentuk setelah fragmen batuan. Dengan

kata lain batuan/lapisan batuan yang mengandung fragmen inklusi, lebih

muda dari batuan/lapisan batuan yang menghasilkan fragmen tersebut.

2.3 Perhitungan Pada Penampang Stratigrafi Terukur

A. Menghitung Koreksi Dip


Perhitungan koreksi dip dilakukan setelah arah lintasan telah selesai. Dengan

memanfaatkan arah lintasan untuk membuat garis bayangan agar dapat

menentukan sudut bearing (sudut bearing adalah sudut terkecil yang dibentuk

antara garis strike dan garis bayangan), yang kemudian di lakukan

perhitungan koreksi dip per litologi berdasarkan rumus:


Tan (Dip Terkoreksi)-1 = Tan Dip x Sin Bearing
B. Menghitung Jarak Datar dan Beda Tinggi
Dalam pembuatan penampang profil linasan, diperlukan beberapa data yakni

jarak datar dan beda tinggi dari setiap stasiun. Data-data tersebut diperoleh

dengan menggunakan rumus:


Jarak Datar = Jarak Lapangan x cos slope
Beda Tinggi = Jarak lapangan x sin slope
C. Menghitung Ketebalan Lapisan
Perhitungan ketebalan lapisan dapat dilakukan dengan beberapa cara, namun

pada praktikum ini, kami menggunakan rumus:


Ketebalan = Panjang mistar x skala
2.4 Kolom Stratigrafi
Kolom stratigrafi pada hakekatnya adalah kolom yang

menggambarkan susunan berbagai jenis batuan serta hubungan

antar batuan atau satuan batuan mulai dari yang tertua hingga

termuda menurut umur geologi, ketebalan setiap satuan batuan,

serta genesa pembentukan batuannya. Pada umumnya banyak

cara untuk menyajikan suatu kolom stratigrafi, namun demikian

ada suatu standar umum yang menjadi acuan bagi kalangan ahli

geologi didalam menyajikan kolom stratigrafi penampang kolom

stratigrafi biasanya tersusun dari kolom-kolom dengan atribut-

atribut seperti : Umur, formasi, satuan batuan, ketebalan, besar

butir, simbol litologi, pemerian, fosil dianostik, dan lingkungan

pengendapan.

BAB III
PROSEDUR KERJA

Adapun prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum acara penampang

terukur ini berupa:

A. Membuat Arah Lintasan


Pembuatan arah lintasan dilakukan berdasarkan data-data yang di dapatkan

dari problem set yaitu berupa arah, strike/dip dan litologi.


B. Menghitung Koreksi Dip
Perhitungan koreksi dip dilakukan setelah arah lintasan telah selesai. Dengan

memanfaatkan arah lintasan untuk membuat garis bayangan agar dapat

menentukan sudut bearing (sudut bearing adalah sudut terkecil yang dibentuk
antara garis strike dan garis bayangan), yang kemudian di lakukan

perhitungan koreksi dip per litologi berdasarkan rumus:


Tan (Dip Terkoreksi)-1 = Tan Dip x Sin Bearing
C. Menghitung Jarak Datar dan Beda Tinggi
Dalam pembuatan penampang profil linasan, diperlukan beberapa data yakni

jarak datar dan beda tinggi dari setiap stasiun. Data-data tersebut diperoleh

dengan menggunakan rumus:


Jarak Datar = Jarak Lapangan x cos slope
Beda Tinggi = jarak lapangan x sin slope

D. Membuat penampang profil lintasan


Dalam pembuatan penampang profil lintasan dengan H:V = 1:1 dimulai pada

stasiun 1 dengan titik 10 cm pada kertas grafik. Untuk stasiun selanjutnya

disesuaikan dengan data jarak datar dan beda tinggi.


E. Menghitung Ketebalan Lapisan
Perhitungan ketebalan lapisan dapat dilakukan dengan beberapa cara, namun

pada praktikum ini, kami menggunakan rumus:


Ketebalan = Panjang mistar x skala
F. Membuat Penampang Stratigrafi Terukur
Penampang stratigrafi dapat di buat berdasarkan data-data litologi yang

didapatkan pada problem set dan Ketebalan.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Problem Set

Dengan menggunakan metode measuring section, seorang geologist

melakukan penelitian stratigrafi pada suatu daerah, dimulai dari dasar lereng

hingga ke puncak dengan litologi sebagai berikut :

Lapisan pertama dijumpai batuan Sekis Biru dengan ciri fisik warna segar

biru kehitaman, warna lapuk kecokelatan, tekstur lepidoblastik, struktur schistose,

komposisi mineral Glaucophane, Muskovite, dan Biotit, dengan foliasi 25 o dan

kedudukan 125oE.

Sang geologist melanjutkan penelitiannya dengan berjalan kearah N 175oE

dan menjumpai perlapisan Batulempung dengan kedudukan N 150oE/41o dengan

ciri fisik warna segar abu abu, warna lapuk cokelat kehitaman, tekstur klastik

halus, struktur berlapis dan dijumpai adanya struktur sedimen berupa laminasi,

komposisi silika, adapun batuan ini dijumpai sepanjang 16 meter dengan slope

27o. Sang geologist kemudian menjumpai Batupasir halus dengan kedudukan

batuan N 135oE/23o sepanjang 10 meter dengan slope 15 o, dengan ciri fisik batuan

warna segar abu abu, warna lapuk cokelat kehitaman, tekstur klastik halus

dengan ukuran butir 1/8 1/4 mm, komposisi kimia silika, struktur berlapis, dan

struktur sedimen laminasi.

Pengukuran berikutnya dengan arah N 220oE ditemukan lapisan Napal

dengan ciri fisik, warna segar abu abu, warna lapuk kecokelatan, tekstur klastik

halus dengan ukuran butir < 1/256 mm, dan struktur berlapis, komposisi kimia
karbonat dengan kedudukan batuan N 100oE/32o, batuan ini dijumpai sepanjang

11 meter dengan slope 20o. Selanjutnya sang geologist menjumpai Batugamping

dengan ciri fisik warna segar abu abu kecokelatan, warna lapuk cokelat

kehitaman, tekstur bioklastik, komposisi kimia karbonat, struktur berlapis, adapun

kedudukan batuannya adalah N 110oE/25o dengan slope 17o, batuan ini ditemukan

sepanjang 10 meter.

Sang geologist kemudian berjalan kearah N 145oE menemukan Batupasir

kuarsa dengan ciri fisik warna segar cokelat muda, warna lapuk cokelat

kehitaman, tekstur klastik kasar, kedudukan batuannya adalah N 105 oE/27o, slope

15o, singkapan ini dijumpai sepanjang 8 meter. Kemudian arah N 160 oE

ditemukan Batulanau dengan ciri fisik adalah warna segar kecokelatan, tekstur

klastik halus, kedudukan batuan N 138oE/25o, slope 14o, singkapan ini dijumpai

sepanjang 9 meter. Sang geologist kemudian menjumpai Batupasir kasar

sepanjang 5 meter, kemiring lereng 10o, dengan kedudukan batuan N 117oE/26o,

dimana ciri fisik batuan yaitu warna segar abu abu kehitaman, tekstur klastik,

ukuran butir 1 mm, struktur sedimen laminasi. Setelah lelah melakukan

pengukuran, sang geologist tersebut beristirahat sejenak. Di puncak ia

mendapatkan singkapan batuan Konglomerat dengan warna segar abu abu

kecokelatan, warna lapuk abu abu kehitaman, tekstur klastik kasar, ukuran butir

1/4 - > 64 mm, sortasi jelek, roundness subangular hingga subrounded, fragmen

dari batuan beku berupa basalt, matriks batuan beku, dan semen berupa gelas

silika, batuan Konglomerat ini dijumpai sepanjang 15 meter dengan arah

kedudukan batuannya adalah N 132oE/30o, dengan kemiringan lereng 15o, dari


hasil analisis didapatkan kisaran umur singkapan adalah Paleogen dan termasuk

ke dalam formasi Mallawa.

4.2 Hasil Perhitungan

4.2.1 Koreksi DIP

Rumus : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

ST 1 : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 25 x Sin 55 )

: 20,905

ST 2 : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 41 x Sin 33 )

: 25,335

ST 3 : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 32 x Sin 46 )

: 16,979

ST 4 : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 32 x Sin 80 )

: 31,607

ST 5 : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 25 x Sin 70 )

: 23,662

ST 6 : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 27 x Sin 78 )


: 26,491

ST : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 25 x Sin 42 )

: 17,329

ST 8 : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 26 x Sin 67)

: 24,178

ST 9 : Tan -1( Tan DIP x Sin Bearing )

: Tan -1( Tan 30 x Sin 45 )

: 22,207

4.2.2 Beda Tinggi

Rumus: Jarak x Sin slope

ST 1-2 : 16 x sin 27

: 7,263

ST 2-3 : 10 x sin 15

: 2,588

ST 3-4 : 11 x sin 20

: 3,762

ST 4-5 : 10 x sin 17

: 2,923

ST 5-6 : 8 x sin 15

: 2,070

ST 6-7 : 9 x sin 14
: 2,177

ST 7-8 : 5 x sin 10

: 0,868

ST 8-9 : 15 x sin 13

3,882

4.2.3 Jarak Datar

Rumus : jarak x cos slope

ST 1-2 : 16 x cos 27

: 14,256

ST 2-3 : 10 x cos 15

: 9,659

ST 3-4 : 11 x cos 20

: 10,336

ST 4-5 : 10 x cos 17

: 9,563

ST 5-6 : 8 x cos 15

: 7,727

ST 6-7 : 9 x cos 14

: 8,732

ST 7-8 : 5 x cos 10

: 4,924

ST 8-9 : 15 x cos 15

: 14,488
4.2.4 Perhitungan Ketebalan
Rumus : Jarak Penggaris x Skala
ST 1 : -
ST 2 : 13,1 X 100
: 1310
: 13,1 m
ST 3 : 8,5 X 100
: 850
: 8,5 m
ST 4 : 6,5 X 100
: 650
: 6,5 m
ST 5 : 7,6 X 100
: 760
: 7,6 m
ST 6 : 5,4 X 100
: 540
: 5,4 m
ST 7 : 6 X 100
: 600
:6m
ST 8 : 2,4 X 100
: 240
: 2,4 m
ST 9 : 9,5 X 100
: 950
: 9,5 m
4.3 Penjelasan
A. Stasiun 1

Lapisan pertama dijumpai batuan Sekis Biru dengan ciri fisik warna segar

biru kehitaman, warna lapuk kecokelatan, tekstur lepidoblastik, struktur schistose,

komposisi mineral Glaucophane, Muscovite, dan Biotit, dengan foliasi 25o dan

kedudukan 125oE.

B. Stasiun 2

Pada arah N 175oE dan menjumpai perlapisan Batulempung dengan

kedudukan N 150oE/41o dengan ciri fisik warna segar abu abu, warna lapuk

cokelat kehitaman, tekstur klastik halus, struktur berlapis dan dijumpai adanya
struktur sedimen berupa laminasi, komposisi silika, adapun batuan ini dijumpai

sepanjang 16 meter dengan slope 27o. Pada stasiun ini memiliki beda tinggi 7,263

meter dari stasiun sebelumnya. Jarak Datarnya 14,256 meter dari jarak stasiun

pertama. Ketebalan dari litologi ini yaitu 13,1 meter.

C. Stasiun 3

Pada arah yang sama yaitu N 175oE Dijumpai Batupasir halus dengan

kedudukan batuan N 135oE/23o sepanjang 10 meter dengan slope 15o, dengan ciri

fisik batuan warna segar abu abu, warna lapuk cokelat kehitaman, tekstur klastik

halus dengan ukuran butir 1/8 1/4 mm, komposisi kimia silika, struktur berlapis,

dan struktur sedimen laminasi. Pada stasiun ini memiliki beda tinggi 2,588 meter

dari stasiun sebelumnya. Jarak Datarnya 9,659 meter dari jarak stasiun kedua.

Ketebalan dari litologi ini yaitu 8,5 meter.

D. Stasiun 4

Pada arah N 220oE ditemukan lapisan Napal dengan ciri fisik, warna segar

abu abu, warna lapuk kecokelatan, tekstur klastik halus dengan ukuran butir <

1/256 mm, dan struktur berlapis, komposisi kimia karbonat dengan kedudukan

batuan N 100oE/32o, batuan ini dijumpai sepanjang 11 meter dengan slope 20 o.

Pada stasiun ini memiliki beda tinggi 3,762 meter dari stasiun sebelumnya. Jarak

Datarnya 10,336 meter dari jarak stasiun ketiga. Ketebalan dari litologi ini yaitu

6,5 meter.

E. Stasiun 5

Pada arah yang sama yaitu N 220 oE. Dijumpai Batugamping dengan ciri

fisik warna segar abu abu kecokelatan, warna lapuk cokelat kehitaman, tekstur
bioklastik, komposisi kimia karbonat, struktur berlapis, adapun kedudukan

batuannya adalah N 110oE/25o dengan slope 17o, batuan ini ditemukan sepanjang

10 meter. Pada stasiun ini memiliki beda tinggi 2,923 meter dari stasiun

sebelumnya. Jarak Datarnya 9,563 meter dari jarak stasiun keempat. Ketebalan

dari litologi ini yaitu 7,6 meter.

F. Stasiun 6

Pada arah N 145oE menemukan Batupasir kuarsa dengan ciri fisik warna

segar cokelat muda, warna lapuk cokelat kehitaman, tekstur klastik kasar,

kedudukan batuannya adalah N 105oE/27o, slope 15o, singkapan ini dijumpai

sepanjang 8 meter. Pada stasiun ini memiliki beda tinggi 2,070 meter dari stasiun

sebelumnya. Jarak Datarnya 7,727 meter dari jarak stasiun kelima. Ketebalan dari

litologi ini yaitu 5,4 meter.

G. Stasiun 7

Pada arah N 160oE ditemukan Batulanau dengan ciri fisik adalah warna

segar kecokelatan, tekstur klastik halus, kedudukan batuan N 138oE/25o, slope 14o,

singkapan ini dijumpai sepanjang 9 meter. Pada stasiun ini memiliki beda tinggi

2,177 meter dari stasiun sebelumnya. Jarak Datarnya 7,732 meter dari jarak

stasiun ketujuh. Ketebalan dari litologi ini yaitu 6 meter.

H. Stasiun 8

Pada arah yang sama yaitu N 160 oE dijumpai Batupasir kasar sepanjang 5

meter, kemiring lereng 10o, dengan kedudukan batuan N 117oE/26o, dimana ciri

fisik batuan yaitu warna segar abu abu kehitaman, tekstur klastik, ukuran butir 1

mm, struktur sedimen laminasi. Pada stasiun ini memiliki beda tinggi 0,868
meter dari stasiun sebelumnya. Jarak Datarnya 4,924 meter dari jarak stasiun

ketujuh. Ketebalan dari litologi ini yaitu 2,4 meter.

I. Stasiun 9

Pada arah yang sama yaitu N 160 oE didapatkan singkapan batuan

Konglomerat dengan warna segar abu abu kecokelatan, warna lapuk abu abu

kehitaman, tekstur klastik kasar, ukuran butir 1/4 - > 64 mm, sortasi jelek,

roundness subangular hingga subrounded, fragmen dari batuan beku berupa

basalt, matriks batuan beku, dan semen berupa gelas silika, batuan Konglomerat

ini dijumpai sepanjang 15 meter dengan arah kedudukan batuannya adalah N

132oE/30o, dengan kemiringan lereng 15o, dari hasil analisis didapatkan kisaran

umur singkapan adalah Paleogen dan termasuk ke dalam formasi Mallawa. Pada

stasiun ini memiliki beda tinggi 3,882 meter dari stasiun sebelumnya. Jarak

Datarnya 14,488 meter dari jarak stasiun keenam. Ketebalan dari litologi ini yaitu

9,5 meter.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari laporan ini sebagai berikut:
1. Pembuatan arah lintasan dilakukan berdasarkan data-data yang di dapatkan

dari problem set yaitu berupa arah, strike/dip dan litologi


2. Data yang diambil dalam pengukuran koreksi dip berupa dip litologi batuan

serta bearing () yang didapatkan pada pembuatan profil lintasan, adapun

pengukuran jarak datar dan beda tinggi menggunakan data jarak dan slope

(kemiringan) lereng yang kemudian dibuatlah penampang profil lintasan dari

data-data tersebut.
3. Perhitungan ketebalan lapisan dapat dilakukan dengan mengetahui jarak pada

mistar yang kemudian dikalikan dengan skala peta.


4. Kolom stratigrafi terukur dapat di buat berdasarkan data-data litologi yang

didapatkan pada problem set dan Ketebalan. Pada kolom stratigrafi terukur

berisikan data ketebalan, ukuran butir dan struktur sedimen, litologi,

pemerian, dan lingkungan pengendapan/pembentukan.


5.2 Saran

Sebaiknya pada saat praktikum berlangsung, setiap praktikan dibagi dalam

beberapa kelompok kecil yang kemudian diawasi oleh masing-masing asisten

sehingga pemahaman dan komunikasi dapat berlangsung dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arifah, N. 2013.
https://www.scribd.com/document/333165949/penampang-
stratigrafi-terukur#. Diakses pada Jumat, 10 Maret 2017. Pukul 23.49
WITA.

Noor, D. 2009. Bab 3 Pengukuran Stratigrafi Prinsip Stratigrafi pdf. Diakses pada
Sabtu, 11 Maret 2017. Pukul 00.15 WITA.
L