Anda di halaman 1dari 136

ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM

TENTANG
KEGIATAN PENAMBANGAN
DI KAWASAN HUTAN LINDUNG
(UU No. 41 Tahun 1999 jo UU No. 19 Tahun 2004)

BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL


KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI
JAKARTA, 2011
ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM
TENTANG
KEGIATAN PENAMBANGAN
DI KAWASAN HUTAN LINDUNG
(UU No. 41 Tahun 1999 jo UU No. 19 Tahun 2004)
Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Kegiatan Penambangan
Di Kawasan Hutan Lindung (UU No. 41 Tahun 1999 jo UU No.
19 Tahun 2004)

Dikerjakan Oleh Tim Analisis dan Evaluasi


Di bawah Pimpinan
Dr. Drs. Budi Riyanto, S.H., M.Si., APU.

Editor
Ajarotni Nasution, S.H., M.H.

Terbit Tahun 2011

Diterbitkan Oleh
Badan Pembinaan Hukum Nasional
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI
Jalan Mayjen Sutoyo Cililitan
Telepon (021) 8091908, 8002192
Faksimile (021) 80871742
Jakarta Timur 13640
KATA PENGANTAR

Ketergantungan perekonomian terhadap sumber daya alam, secara


potensial mengancam sumber daya alam itu sendiri dan lingkungan hidup.
Cara pandang yang berbeda terhadap sumber daya alam telah melahirkan
kebijakan sektoral yang mengakibatkan potensi ancaman semakin serius.
Kawasan hutan lindung dan konservasi alam Indonesia selama ini sudah
mengalami tekanan berat dari pembalakan, kebakaran hutan, usaha
pertambangan dan hutan tanaman industri. Kemudian direncanakan akan
mengeluarkan izin pertambangan di kawasan hutan lindung seluas 11
hektar. Hal ini tentu akan menambah tekanan pada hutan lindung dan
potensial merusak lingkungan hidup.
Sehubungan dengan itu, Badan Pembinaan Hukum Nasional, melakukan
suatu analisis dan evaluasi mengenai kegiatan penambangan di kawasan
hutan lindung untuk mengetahui dasar pemikiran kebijakan, koordinasi
dalam pelaksanaan, pengawasan dan sanksi yang ditetapkan. Analisis
dan evaluasi ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi permasalahan dan
menemukan pemecahan, sehingga dapat menjadi masukan kepada
pemerintah, khususnya pemerintah daerah.
Penerbitan buku ini dimaksudkan untuk menambah jumlah referensi
hukum pertambangan sekaligus untuk disebarluaskan kepada Anggota
JDI Hukum Nasioal.
Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua anggota tim
yang dipimpin oleh Dr. Drs. Budi Riyanto, S.H., M.Si., APU., dan semua
pihak yang berperan serta sehingga buku ini dapat diterbitkan.

Jakarta, Juli 2011


Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional

Dr. Wicipto Setiadi, S.H., M.H.

v
vi
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ..................................................................... v


DAFTAR ISI .......... ...................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................... 1


A. Latar Belakang......................................................... 1
B. Permasalahan............................................................ 2
C. Maksud dan Tujuan ................................................. 3
D. Ruang Lingkup ......................................................... 3
E. Metodologi ................................................................ 3

BAB II KEBIJAKAN PERTAMBANGAN DI KAWASAN


HUTAN ........................................................................... 5
A. Umum........................................................................ 5
1. Hutan ................................................................. 5
2. Pertambangan .................................................... 8
B. Kebijakan Sektor Kehutanan Terkait Penambangan 10
di Kawasan Hutan ................................................... 10
1. Pengertian Kebijakan ........................................ 10
2. Peraturan Perundang-undangan ....................... 11
C. Kebijakan Sektor Pertambangan Terkait Penambangan
di Kawasan Hutan ................................................... 20
D. Kebijakan Otonomi Daerah Khususnya di Sektor
Pertambangan dan Kehutanan ................................ 22
1. Pertambangan .................................................... 22
2. Kehutanan . ....................................................... 22

BAB III PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT


DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN KEGIATAN
PENAMBA-NGAN DI KAWASAN HUTAN LINDUNG 25
A. Peraturan Perundang-undangan . .............................. 25

vii
1. UU No. 5 Tahun 1960 tentang UUPA ............. 25
2. UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber
Daya Hayati dan Ekosistemnya ......................... 27
3. UU No. 41 Tahun 1999 jo UU No. 19 Tahun
2004 tentang Kehutanan ..................................... 30
4. UU No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan
Perlindungan Lingkungan Hidup ......................... 31
5. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah .................................................................. 32
6. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang 34
7. UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batu Bara ....................................... 35
B. Perizinan . ................................................................... 38
C. Peran Pemerintah Daerah ......................................... 43

BAB IV ANALISA DAN EVALUASI ....................................... 45


A. Tumpang Tindih Kegiatan .......................................... 45
B. Sinergitas Kegiatan ..................................................... 46
C. Koordinasi .................................................................... 46
D. Pembinaan dan Pengawasan ..................................... 47
E. Pengelolaan Hutan Secara Gotong Royong antara
Kehutanan dan Pertambangan ................................... 47
F. Kebijakan menuju Smart Regulation ....................... 49

BAB V PENUTUP ........................................................................ 53


A. Kesimpulan .................................................................. 53
B. Saran ............................................................................ 53

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 55

LAMPIRAN:
1. Peraturan Pemerintah tentang Penggunaan Kawasan Hutan . 61
2. Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan
dan Fungsi Kawasan Hutan ..................................................... 89

viii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sampai satu dekade ke depan diperkirakan perekonomian Indo-
nesia masih akan tergantung pada sektor sumber daya alam. Dalam
keadaan ekonomi yang belum stabil, diperkeruh dengan banyaknya
praktik korupsi, kolusi dan pelanggaran hukum, merupakan ancaman
bagi perekonomian Indonesia yang pada saat sekarang ini dan kelestarian
sumber daya alam serta lingkungan hidup.
Salah satu permasalahan dalam pengelolaan sumber daya alam
saat ini adalah cara pandang terhadap sumber daya alam yang terkotak-
kotak dan tidak integratif sehingga melahirkan kebijakan yang sangat
sektoral, ini merupakan ancaman yang serius bagi berlangsung ekosistem
dan masyarakat sekitar. Misalnya kebijakan yang dibuat oleh Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral dengan kebijakan yang dibuat oleh
Departemen Kehutanan seharusnya saling bersinergi, keduanya
seharusnya mempunyai visi dan misi yang holistik, tidak mengedepankan
kepentingan sektoral. Di lain pihak penerimaan negara untuk menunjang
APBN terhadap hasil dari sumber daya alam khususnya dari sektor
Energi dan Sumber Mineral masih sangat signifikan.
Menurut Bentham dalam Sonny Keraf, 2002 disebutkan bahwa
kebijakan yang baik apabila memberi manfaat tertentu bagi masyakat
oleh karena itu kebijakan dibuat harus memenuhi kebutuhan di masyarakat.
Sudah sejak lama kawasan-kawasan hutan lindung dan konservasi
di Indonesia banyak menyimpan bahan tambang yang menjadi incaran
para investor. Kurang lebih 150 perusahaan tambang yang akan
segera membuka usahanya di kawasan hutan seluas lebih dari 11
juta hektar yang tersebar di pulau Sumatera, kalimantan, Jawa, Sulawesi,
Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Kawasan lindung yang berada
di pulau-pulau kecil pun tidak lepas dari ancaman eksploitasi
pertambangan.

1
Saat ini luas kawasan lindung Indonesia adalah seluas 55,2 juta
hektar dan 31,9 juta hektar diantaranya berstatus sebagai hutan lindung
dan selebihnya kawasan konservasi. Kawasan-kawasan tersebut
mengalami tekanan yang sangat berat, yaitu mulai dari praktik
pembalakan liar, kebakaran hutan serta tumpang tindihnya peruntukan
hutan misalnya Hutan Tanaman Industri dengan Pertambangan. Jelaslah
bahwa akan dikeluarkannya izin pertambahan di kawasan hutan lindung
sebesar lebih dari 11 juta hektar akan menambah tekanan lagi bagi
hutan lindung.
Tidak hanya hutan, rencana penambangan di hutan lindung juga
akan merambah ke pulau-pulau kecil, meskipun kaya dengan
keanekaragaman hayati, keberadaan perairan dan kepulauan ini sangat
rentan dan peka terhadap berbagai perubahan, bahkan yang terkecil
sekalipun. Karena medianya adalah air, jika terjadi pencemaran atau
kerusakan akan jauh lebih sulit untuk diisolasi atau ditangani, dibandingkan
kasus serupa yang terjadi di darat.
Dengan latar belakang masalah di atas memperlihatkan bahwa
kebijakan pemerintah untuk mengizinkan penambangan di kawasan-
kawasan lindung hanya mengejar keuntungan ekonomi semata dan
kurang memikirkan bagaimana kelanjutan keseimbangan ekologis.
Untuk itu BPHN memandang perlu untuk melakukan analisis
dan evaluasi hukum tentang Kegiatan Penambangan di Kawasan
Hutan Lindung. Sehingga penataan dan peruntukan dari masing-
masing sektor tidak merugikan baik secara ekonomi, lingkungan maupun
kepentingan negara/masyarakatnya.

B . Permasalahan
1. Apakah kebijakan yang dibuat oleh Departemen sektoral sudah
berdasarkan kepada pemikiran yang holistik dan berkoordinasi
serta bagaimana implementasinya?
2. Apakah pengawasan pihak-pihak terkait telah berjalan dengan
baik dan apakah sanksi yang diberikan cukup adil?

C. Maksud dan Tujuan


Maksud diadakannya kegitan ini adalah untuk menganalisis dan

2
kemudian dievaluasi dari aspek hukumnya, bagaimana pelaksanaan
perizinan kegiatan penambangan khususnya di kawasan hutan lindung
dalam praktiknya, apakah selama ini koordinasi sudah berjalan
sebagaimana mestinya dan apakah selama ini pengawasannya juga
sudah sesuai prosedur.
Sedangkan tujuannya yang hendak dicapai dalam kegiatan ini adalah:
1. Untuk menemukan materi hukum/peraturan yang mengatur masalah
penambangan di kawasan hutan lindung.
2. Menemukan masalah-masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan
penambangan di kawasan hutan lindung.
3. Memberikan rekomendasi yang diharapkan bisa menjadi masukan
Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah dan dalam rangka
pembinaan hukum pada umumnya.

D. Ruang Lingkup
Analisis dan evaluasi ini akan difokuskan kepada kebijakan yang
diatur dalam UU No. 41 Tahun 1999 jo UU No. 19 Tahun 2004
beserta peraturan pelaksanaannya dan undang-undang terkait. Dari
kajian tersebut diharapkan dapat menjawab permasalahan yang
terumuskan dalam penelitian ini. Apakah Undang Undang tersebut
masih akomodatif atau sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini,
serta analisis dan evaluasi terhadap Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara, dan peraturan
pelaksanaannya.

E. Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan Yuridis Normatif. Telaahan
dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan yang mengatur
tentang kehutanan, pertambangan, pemerintah daerah, tata ruang
dan lingkungan hidup dan khususnya Pengaturan Kawasan Pinjam
Pakai di Kawasan Hutan Lindung untuk pertambangan. Dalam
penelitian ini juga disokong dengan data empiris terutama yang dikaitkan
dengan praktik-praktik pinjam pakai kawasan hutan lindung untuk
pertambangan.

3
Data penelitian dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Selain
itu data diperoleh melalui berbagai tulisan ilmiah yang menyangkut
kegiatan pertambangan di kawasan hutan melalui proses diskusi maka
dapat terumuskan analisis, kesimpulan dan saran.

4
BAB II
KEBIJAKAN PERTAMBANGAN
DI KAWASAN HUTAN

A. Umum
1. Hutan
Sumber daya hutan di Indonesia merupakan anugerah Tuhan
Yang Maha Esa yang harus selalu dijaga dan dimanfaatkan
serta dilestarikan guna kesejahteraan bangsa Indonesia.
Pengelolaan sumber daya hutan di Indonesia mengacu pada
ideologi penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam,
sebagaimana tercermin dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang
Dasar 1945. Negara menguasai sumber daya alam yang
terkandung di dalamnya termasuk hutan yang dipergunakan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Campur tangan Pemerintah tersebut di atas menunjukkan
bahwa Indonesia menganut konsep negara kesejahteraan (wel-
fare state). Campur tangan pemerintah tersebut diberi bentuk
hukum agar segala sesuatunya tidak simpang siur serta
memberikan kepastian hukum dan tidak menimbulkan keragu-
raguan pada semua pihak yang bersangkutan dan bilamana
menimbulkan konflik, penyelesaiannya lebih mudah.
Bentuk hukum tersebut adalah mutlak perlu, oleh sebab
fungsi hukum modern adalah Pertama, untuk menertibkan
masyarakat; Kedua, untuk mengatur lalulintas kehidupan bersama
masyarakat; Ketiga, untuk mencegah dan menyelesaikan sengketa;
Keempat, untuk menegakkan kedamaian dan ketertiban; Kelima,
untuk mengukur tata cara penegakkan keamanan; Keenam,
untuk mengubah tatanan masyarakat; Ketujuh, untuk mengatur
tata cara pengubahan dan perubahan keadaan dalam rangka
pelaksanaan ideologi tersebut.

5
Dalam pelaksanaan ideologi penguasaan dan pemanfaatan
sumber daya hutan tersebut dijabarkan dalam peraturan perundang-
undangan antara lain: Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990
tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
dan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
beserta peraturan pelaksanaannya.
Di dalam Undang-Undang Kehutanan Pasal 4 ayat (1) disebutkan
bahwa semua hutan dalam wilayah Republik Indonesia, termasuk
kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh negara.
Di dalam ayat (2) disebutkan bahwa hak menguasai dari negara
yang tersebut pada ayat (1) diatur dengan memberi wewenang kepada
Pemerintah untuk: Pertama, menetapkan dan mengatur perencanaan,
peruntukkan, penyediaan dan penggunaan hutan sesuai dengan fungsinya
dalam memberikan manfaat kepada rakyat dan negara; Kedua,
menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang
atau badan hukum dengan hutan, dan mengatur perbuatan-perbuatan
hukum mengenai hutan. Berdasarkan ketentuan undang-undang ini,
pemerintah dapat mengatur pemberian hak-hak atas hutan kepada
subjek hukum, apakah perorangan atau badan hukum.
Dalam rangka menghadapi tantangan yang lebih besar di
masa mendatang, maka kebijakan mengenai kehutanan diarahkan
pada pro poor dan pro invertasi yang berlandaskan kepada
amanat Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Agar
kebijakan ini tidak bisa disalahtafsirkan sebagai pengkavlingan
hutan untuk rakyat dan investor, harus dipahami bahwa kebijakan
ini memiliki makna dan pengertian yang lebih luas yaitu pengelolaan
yang arif dan bijaksana dengan memperhatikan kelestarian hutan,
ekonomi dan sosial yang proposional, semata-mata untuk
kemakmuran rakyat secara menyeluruh pada masa kini dan
generasi yang akan datang termasuk masyarakat hukum adat.
Dengan demikian, aktualisasi misi yang diemban dalam
kebijakan pembangunan Kehutanan adalah: Pertama, memberi
kesempatan berusaha, bekerja dan meningkatkan pendapatan
masyarakat; Kedua, meningkatkan pendapatan bagi Pemerintah
demi kelangsungan dan pemerataan pembangunan; Ketiga,

6
mempunyai fungsi yang optimal dan lestari sesuai peruntukkannya,
yaitu fungsi produksi dan perlindungan agar dapat memberi manfaat
ekonomi, ekologi dan sosial secara berkelanjutan.
Namun demikian dalam praktik penyelenggaraan pemerintah
khususnya di sektor kehutanan masih dirasa adanya tuntutan
rasa keadilan di masyarakat bahwa kebijakan kehutanan belum
berpihak kepada rakyat. Selain itu juga sektor kehutanan dituding
menghambat investor dari sektor lain khususnya sektor
pertambangan yang menyebabkan terhambatnya kegiatan
pertambangan di kawasan hutan.
Beberapa permasalahan dalam pengelolaan hutan selain
tersebut di atas, terdapat masalah antara lain illegal logging
yang semakin marak. Berdasarkan data di Departemen Kehutanan
diperoleh angka penebangan liar mencapai 50,7 juta m3 per
tahun dengan kerugian finansial sebesar Rp 30 triliun per tahun.
Selain hal tersebut masalah penyelundupan kayu (illegal trade).
Menurut data di Departemen Kehutanan, kayu yang diselundupkan
dari pusat-pusat produksi kayu balok dengan tujuan Malaysia,
Cina, India dan Vietnam mencapai 10 juta m3 per tahun, dari
Papua di selundupkan sebanyak 600.000 m3 per tahun, selain
penyelundupan kayu juga perdagangan satwa liar yang dilindungi.
Masalah kebakaran hutan (forest fire) juga merupakan masalah
dalam pengelolaan hutan sejak tahun 1997-1998 telah merusak 9,75
juta hektar kawasan hutan dan hal ini terjadi setiap tahun. Di
tahun 2006 ini bahkan terjadi kebakaran di Taman Nasional
Tesonilo yang terletak di Provinsi Riau. Taman Nasional ini
merupakan tempat habitat gajah Sumatera yang saat ini tempat
hidupnya makin sempit akibat kebijakan pembangunan yang sangat
bermuatan antroposentris.
Permasalahan lain yang terkait dengan masalah pengelolaan
hutan adalah hak ulayat atas hutan menjadi hal yang perlu ditangani
secara serius. Terkait dengan masalah hak-hak masyarakat
hukum adat atas hutan.
Selain daripada itu permasalahan yang sangat menonjol
saat ini dalam pengelolaan kawasan hutan adalah adanya tumpang

7
tindih kegiatan pengelolaan hutan dengan kegiatan pertambangan
di kawasan hutan.
Areal kontrak karya pertambangan umum seluas sekitar
42.929.900 Ha tersebar di berbagai wilayah di Indonesia antara
lain Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Kepulauan
Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Papua.
Areal tersebut berdasarkan peta kawasan hutan selain terdapat
di kawasan hutan produksi, sebagian diantaranya berada di kawasan
hutan lindung dan kawasan hutan konservasi (Kawasan Suaka
Alam dan Kawasan Pelestarian Alam). Di samping itu terdapat
pula sebagian areal yang merupakan zona prospek mineral tumpang
tindih dengan kawasan hutan lindung atau kawasan hutan
konservasi.
Dengan lahirnya Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dan
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, aktivitas
yang berkaitan dengan pertambangan umum dan migas menghadapi
beberapa kendala baik bagi investor yang telah melaksanakan
operasinya maupun bagi calon investor yang akan bermaksud
mencari deposit mineral di Indonesia.

2. Pertambangan
UUD Tahun 1945 Pasal 33 ayat (3) menegaskan bahwa
bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di
kuasai negara dan diperuntukkan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu
sumber daya alam yang terkandung di dalam bumi selain minyak
dan gas bumi juga terdapat mineral dan batu bara yang merupakan
sumber daya alam yang tidak terbarukan artinya apabila sumber
daya alam tersebut sudah diusahakan/ditambang sumber daya
alam tersebut tidak ada lagi/habis. Oleh karena itu pengelolaan/
pengusahaan dimaksud harus diteliti dieksplorasi baik kualitas
maupun kuantitasnya serta pemasarannya dan harus diperhatikan
lingkungan dari penambangan apakah akan menimbulkan bahaya
atau tidak, hal ini dilakukan agar dapat memperoleh manfaat
sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat sebagaimana

8
dikehendaki Pasal 33 ayat (3) UUD Tahun 1945 tersebut di
atas.
Pada waktu sekarang ini pengelolaan/pengusahaan
pertambangan baru dapat dilakukan apabila kegiatan tersebut
dinilai layak teknis, layak ekonomi dan layak lingkungan. Mengenai
layak teknis dan layak ekonomis dilakukan Instansi Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, sedangkan layak lingkungan
dilakukan oleh Instansi Lingkungan Hidup. Di sisi lain kegiatan
penambangan ini harus pula mendapat izin dari Menteri Kehutanan
apabila wilayah kerja tersebut berada di kawasan hutan, kalau
belum mendapat izin pinjam pakai baik untuk penelitian maupun
penambangan berdasarkan UU di bidang kehutanan merupakan
tindak pidana. Kesimpulannya bahwa walaupun sudah mendapat
izin kegiatan penambangan tapi belum mendapat izin pinjam
pakai dari kehutanan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan
sepanjang wilayah kerja tersebut berada di kawasan hutan.
Dengan berlakunya UU No. 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batu Bara sebagai pengganti UU
No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan, dengan berlakunya Undang-Undang ini ada
beberapa perubahan yang mendasar , yaitu antara lain bahwa
sebelum Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai
kewenangannya dalam penerbitan wilayah kerja Izin Usaha
Pertambangan (IUP) harus berada dalam Wilayah Pertambangan
(WP) yang ditetapkan oleh Menteri ESDM. Dan WP tersebut
ditetapkan dalam rangka tata ruang nasional. Istilah penggunaan
izin Kuasa Pertambangan (KP) menjadi izin usaha
pertambangan (IUP), bentuk perizinannya berubah yaitu yang
lama setiap tahapan mempunyai Kuasa Pertambangan tersendiri,
sedangkan yang baru dibagi dua IUP eksplorasi yang terdiri
dari kegiatan Penyelidikan Umum, Eksplorasi, dan Studi
Kelayakan, selanjutnya IUP produksi terdiri dari kegiatan
Konstruksi, Penambangan, Pengolahan dan Pemurnian, serta
Pengangkutan Penjualan, dan banyak hal lain yang berubah
serta pejabat yang memberi perizinannya dan sanksi-sanksi
yang diberikan lebih berat lagi.

9
Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan
dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral
atau batu bara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi,
studi kelayakan, penambangan pengelolaan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang.
Kegiatan fisik untuk melakukan kegiatan pertambangan dalam
kawasan hutan harus terlebih dahulu mendapat izin pinjam pakai
dari Departemen Kehutanan, ketentuan di bidang kehutanan
membatasi kegiatan pertambangan tersebut. Kawasan hutan suaka
alam tidak dibenarkan sama sekali untuk kegiatan penambangan,
yang dibolehkan adalah pada kawasan hutan produksi terbatas,
sedangkan pada kawasan hutan lindung hanya boleh dilakukan
dengan persyaratan tertentu, penambangannya tidak boleh tambang
terbuka.

B . Kebijakan Sektor Kehutanan Terkait Penambangan di Kawasan


Hutan
1. Pengertian Kebijakan
Menurut Wahab, S.A. (1990:11-13): Kebijakan adalah suatu
pedoman untuk bertindak. Sedangkan menurut Anderson, J.E.
(1992:2-3): Kebijakan didefinisikan sebagai perilaku dari sejumlah
aktor pejabat, kelompok, instansi pemerintah atau serangkaian
aktor dalam suatu bidang kegiatan.
Menurut Santoso, A. (1988:5) mendefinisikan kebijakan
bermakna politik, dan didefinisikan sebagai berikut: Kebijakan
publik terdiri dari rangkaian keputusan yang dibuat oleh suatu
pemerintahan untuk mencapai suatu tujuan-tujuan tertentu dan
juga petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk mencapai tujuan
tersebut terutama dalam bentuk peraturan-peraturan atau dekrit-
dekrit pemerintah.
Jenkins (1978:15, dalam Wahab, S.A., 1990:14-15)
merumuskan kebijakan publik/negara sebagai berikut: Serangkaian
keputusan yang saling berkaitan yang diambil oleh seorang aktor
politik atau sekelompok aktor politik berkenaan dengan tujuan

10
yang telah dipilih beserta cara-cara untuk mencapainya dalam
suatu situasi demikian keputusan-keputusan itu pada prinsipnya
masih dalam batasan kewenangan kekuasaan dari para aktor
tersebut.

2. Peraturan Perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah
kehutanan dan pertambangan antara lain hal tersebut dapat
dipahami mengingat pembagian fungsi hutan menjadi hutan
produksi, hutan lindung, hutan konservasi telah dipertimbangkan
untuk pelestarian sumber daya alam.
a. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3)
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
di kuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya
untuk kemakmuran rakyat.
b. Undang-Undang No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Kehutanan.
Undang-undang ini lahir setelah pergantian pemerintah orde
lama ke orde baru. Situasi politik pada masa itu memandang
hutan sebagai aset dan dapat dieksploitasi untuk menumbuhkan
iklim investasi. Hal tersebut memungkinkan untuk kegiatan
pertambangan di seluruh fungsi kawasan hutan kecuali di
taman nasional, taman wisata, dan hutan dengan fungsi khusus.
Kebijakan tersebut dimungkinkan karena kondisi hutan pada
saat itu masih utuh dan negara memerlukan investasi. Sehingga
di seluruh fungsi kawasan hutan kecuali taman nasional,
taman wisata alam dan hutan dengan fungsi khusus dapat
dilakukan kegiatan penambangan/kuasa pertambangan.
c. Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Pertambangan.
Kegiatan pertambangan dapat dilakukan di seluruh wilayah
hukum Indonesia yaitu di seluruh kepulauan Indonesia, dan
paparan benua (Continental sheef Kepulauan Indonesia).

11
d. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Undang-Undang ini lahir pada tanggal 10 Agustus 1990,
setelah ada kesadaran perlunya melindungi ekosistem dan
perlindungan jenis tumbuhan dan satwa yang berguna bagi
pelestarian alam. Kesadaran tersebut setelah 23 (dua puluh
tiga) tahun lahirnya Undang-Undang No. 5 Tahun 1967.
Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 atau disebut Undang-
undang Konservasi Hayati prinsipnya mengatur 2 perlindungan
yaitu:
1) Perlindungan kawasan yang meliputi Kawasan Suaka
Alam yang terdiri dari:
a) Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka
Margasatwa.
b) Kawasan Pelestarian Alam terdiri dari Taman
Nasional, Taman Wisata Alam dan Taman Hutan
Raya.
2) Perlindungan jenis yang meliputi jenis-jenis yang dilindungi
dan jenis-jenis yang tidak dilindungi.
Perlindungan kawasan pada hakikatnya adalah melindungi
kawasan beserta unsur hidupan di atasnya sebagai wilayah
perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pelestarian
plasma nutfah agar tetap utuh. Sehingga kegiatan yang
ada di dalam kawasan hanya diperbolehkan untuk kegiatan
tertentu yaitu antara lain penelitian dan pengembangan yang
menunjang fungsi kawasan, pendidikan, menunjang budidaya,
budaya dan wisata alam (kecuali di cagar alam tidak
diperkenankan kegiatan wisata alam). Sedangkan kegiatan
lain di luar hal-hal tersebut di atas dilarang termasuk kegiatan
pertambangan. Keutuhan ekosistem merupakan hal yang
sangat penting dalam pengelolaan kawasan hutan konservasi.
Dengan berlakunya Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 berarti
Surat Keputusan Bersama Menteri Pertambangan dan Energi
dengan Menteri Kehutanan khusus yang mengatur kawasan

12
cagar alam, suaka marga satwa, taman buru batal demi
hukum. Dengan kata lain surat Keputusan Bersama tersebut
hanya berlaku untuk kawasan hutan lindung dan kawasan
hutan produksi.
e. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 26
Tahun 2007.
Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan, meliputi
kawasan lindung dan kawasan budidaya.
Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas
mengkoordinasikan penataan Tata Ruang Wilayah nasional,
wilayah Provinsi dan Wilayah Kabupaten/Kotamadya,
termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan
dan pemanfaatan yang berskala besar dan berdampak penting.
Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya
ditetapkan setelah berkonsultasi dengan DPR.
Penggunaan kawasan hutan yang berskala besar untuk
kawasan pertambangan, pertanian, pemukiman, pariwisata
dan sebagainya, memerlukan pengkajian dan penilaian secara
lintas sektoral, lintas daerah, lintas pusat dikoordinasikan
oleh Menteri.
Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan,
antara lain meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang
daratan karena reklamasi, perubahan bentang alam perbukitan
karena penambangan bahan galian golongan C, perubahan
fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan rencana tata
ruang wilayah kabupaten/kotamadya disesuaikan ke dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/ Kotamadya melalui
Peraturan Daerah yang bersangkutan.
f. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Undang-Undang Kehutanan ini lahir pada tanggal 30 Sep-
tember 1999, untuk mengganti Undang-Undang No. 5 Tahun
1967. Dalam penjelasan umum, Undang-Undang No. 41

13
Tahun 1999 disebutkan bahwa Undang-Undang No. 5 Tahun
1967 dianggap belum cukup memberikan landasan hukum
bagi perkembangan pembangunan kehutanan oleh karena
itu perlu diganti sehingga memberikan landasan hukum yang
lebih kokoh dan lengkap bagi pembangunan kehutanan pada
saat ini dan saat mendatang.
Dengan lahirnya undang-undang kehutanan ini maka
sesuai ketentuan Pasal 38 ayat 4 diatur bahwa pada
kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan
dengan pola pertambangan terbuka. Selanjutnya dalam
penjelasan Pasal 38 ayat (1) disebutkan bahwa kegiatan
pembangunan di luar kehutanan yang dapat dilaksanakan
di dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi
ditetapkan secara selektif. Kegiatan-kegiatan yang dapat
mengakibatkan terjadinya kerusakan serius dan
mengakibatkan hilangnya fungsi hutan yang bersangkutan
dilarang. Kegiatan pembangunan di luar kehutanan adalah
kegiatan untuk tujuan strategis yang tidak dapat dielakan
antara lain kegiatan pertambangan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 38 Undang-Undang No. 41
Tahun 1999 maka ruang gerak Keputusan Bersama antara
Menteri Pertambangan dan Energi dengan Menteri
Kehutanan Nomor 969.K/05/MDPE/1989 dan Nomor: 429/
Kpts-II/1989 tersebut semakin menyempit yaitu kegiatan
pertambangan di hutan lindung kaya untuk migas dan
pertambangan terbuka di hutan produksi.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 19 Undang-Undang Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan beserta penjelasannya
dapat disimpulkan bahwa untuk kepentingan di luar
pembangunan kehutanan dimungkinkan untuk melakukan
perubahan peruntukkan dan perubahan fungsi kawasan.
Namun perubahan tersebut harus melalui serangkaian
penelitian terpadu yang melibatkan instansi terkait yaitu
LIPI selaku Scientific Authority, lingkungan hidup,
Departemen yang terkait dan penetapannya atas persetujuan

14
Dewan Perwakilan Rakyat. Penelitian dimaksud meliputi
aspek biofisik (perubahan iklim, ekosistem, gangguan tata
air) dan aspek sosial ekonomi masyarakat. Kedua aspek
tersebut apakah berdampak penting dan cakupan yang luas
serta bernilai strategis apabila suatu kawasan harus diubah
fungsinya. Dengan demikian pendekatan yang diatur dalam
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 dari sisi etika lingkungan
berjiwa ekosentrisme yaitu memusatkan etika pada seluruh
komunitas ekologis baik yang biotis maupun yang abiotis.
Secara ekologis makhluk hidup dan benda-benda abiotis
lainnya saling terkait satu sama lain. Oleh karena itu, kewajiban
dan tanggung jawab moral tidak hanya dibatasi pada mahluk
hidup. Kewajiban dan tanggung jawab moral yang sama
juga berlaku terhadap semua realitas ekologis. Dengan
demikian aliran ekosentrisme ini sangat menjiwai dalam
pelestarian ekosistem yang pada akhirnya pelestarian
pemanfaatan untuk kehidupan.
Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 19 Undang-Undang
No. 41 Tahun 1999 jo ketentuan Pasal 2 ayat (3) butir 4c
Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 yang mengatur
Kewenangan Pemerintah dalam penetapan kawasan hutan;
perubahan status dan fungsi kawasan hutan maka diterbitkan
Keputusan Menteri Kehutanan No. 70/Kpts-II/2001 tentang
Penetapan Kawasan Hutan, perubahan Status dan Fungsi
Kawasan Hutan. Sebagaimana telah diubah dengan Keputusan
Menteri Kehutanan No. SK 48/Menhut-II/2004 tentang
perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. 70/Kpts-II/
2001 tentang penetapan Kawasan Hutan, Perubahan Status
dan Fungsi Kawasan Hutan.
Dalam Pasal 7 Kepmenhut No. 70/Kpts-II/2000 disebutkan
bahwa pada dasarnya kawasan hutan yang dapat diubah
statusnya adalah Kawasan Hutan Produksi yang dapat
dikonversi (HPK).
Sedangkan ketentuan Pasal 8 Keputusan Menteri Kehutanan
No. 48/Menhut-II/2004 mengatur sebagai berikut:

15
Dalam keadaan tertentu dapat dilakukan perubahan status
kawasan hutan produksi apabila memenuhi persyaratan:
1) Digunakan untuk kepentingan strategis.
2) Tidak berdampak negatif terhadap lingkungan yang
didasarkan hasil penelitian terpadu.
3) Tidak menimbulkan enclave atau tidak memotong
kawasan hutan menjadi bagian-bagian yang tidak layak
untuk satu unit pengelolaan.
4) Hasil scoring berdasarkan kriteria dan standar
penatagunaan kawasan hutan mempunyai nilai kurang
dari 125.
5) Tidak mengurangi kecukupan luas minimal kawasan
hutan dalam wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu
30% (tiga puluh persen) dari luas DAS.
6) Apabila berdampak penting dan cakupan luas serta bernilai
strategis harus mendapat persetujuan DPR.
7) Pada wilayah Kabupaten/Kota atau Provinsi yang
mempunyai kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi
(HPK) harus didahului dengan relokasi fungsi kawasan
hutan dengan HPK.
8) Pada wilayah Kabupaten/Kota atau Provinsi yang tidak
mempunyai HPK harus disediakan tanah pengganti yang
clear and clean dengan rasio:
a) untuk pembangunan kepentingan umum terbatas
oleh Pemerintah.
b) untuk pembangunan proyek strategis yang
diprioritaskan Pemerintah.
c) untuk penyelesaian okupasi atau enclave.
d) minimal 1:3 untuk yang sifatnya komersial.
Apabila kawasan hutan yang dimohon bukan HPK, maka
permohonan harus dilengkapi dengan:
1) Hasil penelitian tim terpadu.
2) Hasil penelitian dilampiri peta dengan skala 1:100.000.

16
Sedangkan ketentuan tukar menukar kawasan hutan dilakukan
melalui proses sebagai berikut:
1) Permohonan tukar menukar kawasan hutan yang diajukan
kepada Menteri dilampiri:
a) Peta dengan skala minimal 1:100.000.
b) Rekomendasi Gubernur atau Bupati/Walikota
dilampiri peta dengan skala minimal 1:100.000.
c) Peta usulan tanah pengganti dengan skala minimal
1:100.000.
2) Atas permohonan tukar menukar kawasan hutan, Eselon
I terkait lingkup Departemen Kehutanan menyampaikan
saran/pertimbangan teknis kepada Menteri dengan
dilampiri peta skala minimal 1:100.000.
3) Penelitian tim terpadu terhadap kawasan hutan yang
dimohon dan usulan tanah pengganti.
4) Atas dasar saran/pertimbangan teknis butir 2 atau hasil
penelitian terpadu butir 3, Menteri memberikan penolakan
atau persetujuan permohonan tukar menukar kawasan
hutan dan usulan tanah pengganti.
5) Apabila permohonan disetujui, dilakukan penyelesaian
clear and clean tanah pengganti yang diusulkan.
6) Pembuatan berita acara tukar menukar kawasan hutan.
7) Penunjukkan tanah pengganti sebagai kawasan hutan
dengan keputusan Menteri Kehutanan.
8) Pelaksanaan tata batas oleh panitia Tata Batas (PTB)
terhadap kawasan hutan yang akan dilepas maupun
tanah pengganti dan dibuat serta ditandatangani
Berita Acara Tata Batas (BATB) dan Peta Tata
Batas.
9) Berdasarkan BATB dan Peta Tata Batas kawasan hutan
yang telah dilakukan penelahaan hukum dan teknis
oleh Eselon I terkait lingkup Departemen Kehutanan,

17
Badan Planologi menyiapkan konsep Keputusan Menteri
beserta peta lampiran skala minimal 1:100.000 tentang:
a) Pelepasan kawasan hutan;
b) Penetapan batas kawasan hutan yang baru yang
berbatasan dengan kawasan hutan yang dilepas,
dan;
c) Penetapan tanah pengganti sebagai kawasan hutan.
10) Menteri menetapkan Keputusan beserta peta lampirannya
tentang:
a) Pelepasan kawasan hutan;
b) Penetapan batas kawasan hutan yang baru yang
berbatasan dengan kawasan hutan yang dilepas,
dan;
c) Penetapan tanah pengganti sebagai kawasan hutan.
Selanjutnya ketentuan perubahan fungsi kawasan
hutan diajukan kepada Menteri Kehutanan dengan
dilampiri:
1) Saran/pertimbangan teknis Dinas Kehutanan
Kabupaten/Kota atau Provinsi untuk yang lintas
Kabupaten/Kota.
2) Rekomendasi Bupati/Walikota atau Gubernur untuk
yang lintas Kabupaten/Kota.
3) Peta skala minimal 1:100.000.
Atas dasar uraian tersebut di atas, arahan ketentuan Pasal
19 Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 beserta Peraturan
Pelaksanaannya dapat digunakan sebagai koridor untuk
perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan.
g. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1976 tentang Sinkronisasi
Pelaksanaan Tugas Bidang Keagrariaan dengan Bidang
Kehutanan, Pertambangan, transmigrasi dan Pekerjaan
Umum.

18
Isi intsruksi Presiden tersebut sebagai berikut:
bila pertindihan penetapan/penggunaan tanah tidak dapat
dicegah, maka hak prioritas pertambangan harus diutamakan
sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
1962.
h. Keputusan bersama Menteri Pertambangan dan Energi dan
Menteri Kehutanan Nomor 969-K/05/MDPE/1989 dan
Nomor 429/Kpts-II/1989 tentang Pedoman Pengaturan
Pelaksanaan Usaha Pertambangan dan Energi dalam kawasan
hutan sebagaimana diubah salah satu pasalnya dengan
Nomor 110 K/702/M.PE/91 dan Nomor 436/Kpts-II/1991.
Dengan Surat Keputusan Bersama antara Menteri
Pertambangan dan Energi dengan Menteri Kehutanan tersebut
ini pada prinsipnya mengatur usaha pertambangan dan energi
dapat dilaksanakan dalam cagar alam, suaka margasatwa,
taman buru, hutan lindung, hutan produksi terbatas.
i. Permenhut No. 43/Kpt-II/2007
Kehadiran Permenhut No. 43/Kpts-II/2007 merupakan
pengganti No. 14/Kpts-II/2006 dan Permenhut No. 64/Kpts-
II/2006.
Permenhut ini prinsipnya mengatur:
1) Bentuk pinjam pakai kawasan hutan yang meliputi:
a) Kepentingan religi;
b) Pertahanan dan keamanan;
c) Pertambangan;
d) Pembangunan ketenagalistrikan dan instalasi
teknologi terbaru;
e) Pembangunan jaringan telekomunikasi;
f) Pembangunan jaringan instalasi air;
g) Jalan umum, jalan rel kereta api;
h) Saluran air bersih dan atau air limbah;
i) Pengairan;
j) Bak penampung air;
k) Fasilitas umum;

19
l) Sarana Telekomunikasi;
m) Stasiun reley televisi;
n) Saran keselamatan lalulintas laut/udara.
2) Objek pinjam pakai kawasan hutan yaitu:
a) Hutan produksi;
b) Hutan lindung;
3) Tata cara pengajuan permohonan;
4) Tata cara penyelesaian permohonan;
5) Kewajiban pemohon;
6) Izin pinjam pakai kawasan hutan;
7) Hak pemegang izin pinjam pakai;
8) Kompensasi lahan;
9) Jangka waktu dan perjanjian izin pinjam pakai kawasan
hutan;
10) Monitoring dan evaluasi;
11) Hapusnya izin pinjam pakai kawasan hutan;
12) Ketentuan peralihan.

C. Kebijakan Sektor Pertambangan Terkait Penambangan di


Kawasan Hutan
Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk
memproduksi mineral dan atau batu bara dan mineral-mineral ikutannya.
Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas berarti kegiatan
penambangan/produksi secara langsung akan berhubungan dengan lahan/
sebidang tanah baik di permukaan maupun di bawah tanah oleh karena
itu untuk kegiatan penambangan pemegang izin pertambangan harus
menguasai lahan tersebut serta fisik sebab kalau tidak dikuasai secara
fisik akan mengganggu kegiatan penambangan.
Penguasaan tanah secara fisik ini akan dilakukan menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, kalau lahan dikuasai oleh
pihak lain dengan sesuatu hak atas tanah tentunya akan adanya pelepasan
hak dari pemegang hak atas tanah, tetapi kalau lahan tersebut belum ada
hak diatasnya tetapi digarap oleh penduduk misalnya juga pemegang izin

20
harus memberi uang santunan kepada penggarap, terhadap lahan ini
masih dalam status kawasan hutan untuk menguasai secara fisik harus
ada izin pinjam pakai kawasan hutan untuk penambangan mineral dan
batu bara yang diterbitkan oleh Menteri Kehutanan. Jadi di luar Instansi
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Apabila belum ada izin
penguasaan lahan secara fisik baik dari pemegang hak atas tanah atau
penggarap tanah atau izin pinjam pakai kawasan hutan yang wilayah
kerjanya berada di kawasan hutan dari Menteri Kehutanan kegiatan
penambangan mineral dan batu bara sudah dapat dilakukan.
Penguasaan tanah secara fisik ini tidak saja untuk penambangan
juga untuk sarana penunjang yang diperlukan menunjang kegiatan
penambangan, seperti untuk perumahan/perkantoran, tempat penimbunan
tanah, tempat penimbunan mineral atau batu bara sebelum diangkut keluar
area penambangan, tempat penimbunan, jalan-jalan dan sebagainya.
Dalam penguasaan tanah secara fisik ini pemegang izin harus pula
memberi ganti rugi tegakan yang ada di atasnya. Istilahnya ganti rugi
tanam tumbuh. Dalam hubungan ini pengurusan administrasi menjadi
tanggung jawab pemegang izin usaha pertambangan. Jadi kebijakan sektor
pertambangan dalam pelaksanaan penambangan diserahkan kepada
pemegang izin usaha penambangan, pemerintah baik pusat maupun daerah
hanya membantu pemegang izin usaha pertambangan. Dengan demikian
izin yang diterbitkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral,
Pemerintah Provinsi atau Kabupaten/Kota belum memberikan jaminan
kepastian berusaha. Hal ini diserahkan karena setiap sektor yang berhubungan
dengan masalah pertambangan mempunyai aturan sendiri dan tidak ada
sinergi antara instansi pemerintah. Khususnya masalah penyelesaian
kawasan hutan sudah pernah ada kerja sama antara Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral (Departemen Pertambangan) dan Departemen
Kehutanan yang saat ini keluhannya diabaikan. Dalam kerja sama tersebut
penyelesaian permasalahan kawasan hutan diselesaikan oleh kedua instansi
pemerintah dan tidak melibatkan swasta (pemegang izin). Tapi sekarang
berdasarkan ketentuan Menteri Kehutanan dalam menyelesaikan
permasalahan kawasan hutan pemegang izin (swasta) secara langsung
dapat berhubungan langsung dengan Departemen Kehutanan. Untuk
diketahui kerja sama antara Departemen Perhubungan dan Departemen
Kehutanan belum pernah dicabut.

21
D. Kebijakan Otonomi Daerah Khususnya di Sektor Pertambangan
dan Kehutanan
1. Pertambangan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, dalam Pasal 17, bahwa pertambangan
bukan merupakan urusan pemerintahan yang bersifat wajib, tetapi
merupakan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan, dan juga
dalam Penjelasan Umum bahwa sumber daya alam pertambangan
merupakan kewenangan bersama, dapat dilaksanakan bersama
antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, maka dengan
demikian setiap Gubernur atau Bupati/Walikota akan menerbitkan
Izin Usaha Pertambangan harus melakukan koordinasi dengan
Menteri dalam rangka pembuatan peta kordinat melalui sistem
Informasi Geografi yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM
No. 1603 Tahun 2003 tentang Pedoman Wilayah Kawasan
Pertambangan, dalam rangka melaksanakan Pasal 2 ayat (4)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, bahwa Dalam melaksanakan urusan pemerintahan harus
dilakukan koordinasi antar Pemerintah Pusat dengan Pemerintah
Daerah, termasuk pengelolaan sumber daya alam khususnya
pertambangan, sebagaimana diatur dalam Pasal 17 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
2. Kehutanan
Desentralisasi pada dasarnya merupakan konsekuensi dari
semakin tingginya tuntutan reformasi di birokrasi dan keadilan
yang merata di mata masyarakat. Di sektor kehutanan
desentralisasi menjadi ajang rebutan wewenang hasil hutan kayu
dari hutan alam, belum terlihat dalam bentuk rebutan tanggung
jawab menjaga kelestarian hutan antara Pemerintah dan
Pemerintah Daerah.
Tarik menarik sektor kehutanan antara Pemerintah dengan
Pemerintah Daerah semakin tajam. Namun demikian dengan
lahirnya Peraturan Pemerntah No. 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi
dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

22
Pada lampiran Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007
ditetapkan dengan jelas masing-masing tugas pokok dan fungsi
dari kementrian sesuai bidang tugasnya di sektor kehutanan
pada tataran pemerintah mengurusi masalah kriteria dan standar
serta norma dan juga pengelolaan kawasan hutan konservasi.
Sedangkan untuk pengelolaan pada hutan produksi dan hutan
lindung pengelola oleh provinsi atau kabupaten/kota sesuai
kewarganegaraan.

23
24
BAB III
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TERKAIT DAN IMPLEMENTASI
KEBIJAKAN KEGIATAN PENAMBANGAN
DI KAWASAN HUTAN LINDUNG

A. Peraturan Perundang-undangan
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang UUPA
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960
dianggap oleh sejumlah pengamat sebagai suatu produk hukum
yang paling populis (lebih bernuansa pro kepada rakyat kecil
atau petani) dibandingkan dengan produk-produk hukum lainnya
yang dibuat di masa Orde Lama, Orde Baru maupun sampai
sekarang ini. Di dalam perkembangannya, UUPA dianggap sebagai
undang-undang payung (umbrella act) dari peraturan-peraturan
lain yang mengatur mengenai agraria dan pertanahan. Lahirnya
undang-undang baru yang berkaitan dengan agraria dan pertanahan
diharapkan dapat meneruskan semangat UUPA yang lebih populis
(berpihak pada rakyat kecil terutama para petani). Akan tetapi
dalam kenyataannya telah terjadi ketidaksinkronan antara UUPA
yang dianggap sebagai undang-undang payung (umbrella act)
dengan undang-undang sektoral yang berkaitan pula dengan agraria
dan pertanahan. Banyak ketentuan-ketentuan dari berberapa
Undang-Undang sektoral tersebut yang tidak sesuai dengan apa
yang telah digariskan di dalam UUPA.
Munculnya Undang-Undang sektoral tersebut lebih
menitikberatkan pada arah kebijakan pembangunan yang tidak
berpihak pada kepentingan rakyat kecil dan hanya berpihak pada
para pemilik modal saja (baik investor asing maupun domestik).
Misalnya kelahiran Undang-Undang No. 1 tahun 1967 tentang
Penanaman Modal Asing, dengan adanya UU ini maka terlihat

25
jelas adanya suatu pergerseran pola orientasi pembangunan menuju
ke arah industrialisasi dan investasi yang dirasa tidak berpihak
pada rakyat kecil. Kemudian muncul Undang-Undang No. 5
Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan sebagaimana telah
diperbaharui dengan Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 dan
Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Pertambangan. Dalam peraturan tersebut, pengelolaan
hutan dan eksploitasi pertambangan banyak yang bertentangan
dengan kebijakan hak atas tanah sebagaimana yang telah diatur
di dalam UUPA. Ketentuan dalam Undang-Undang kehutanan
tersebut, masih memunculkan suatu sifat kepemilikan hutan negara
yang mirip dengan Domein Verklaring pada masa pemerintahan
kolonial Belanda. Yang paling diperdebatkan pada pertengahan
tahun 2005 ialah munculnya Peraturan Presiden No. 36 tahun
2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan
Untuk Kepentingan Umum. Dengan adanya peraturan tersebut
akan lebih mempermudah masuknya investasi pemodal asing ke
Indonesia. Sehingga kekuatan-kekuatan modallah yang akan
bermain dalam penguasaan tanah di Indonesia, hal ini tentunya
akan berimplikasi rusaknya kemakmuran rakyat terutama rakyat
tani, khususnya pencabutan hak atas tanah. Dalam pengertian
pengadaan tanah untuk kepentingan umumpun juga belum ada
penjelasan secara detail siapa yang akan mengelola: negara,
swasta atau rakyat. Sehingga dikhawatirkan semua yang mengatur
tentang pengadaan tanah ini lebih difokuskan pada kepentingan
swasta, bukan kepentingan rakyat. Sebagai contoh konkritnya,
setelah berlakunya Peraturan Presiden tersebut makin banyak
kasus penggusuran yang dilakukan oleh penguasa terhadap
pemukiman warga yang terjadi di Ibu Kota Jakarta dan berbagai
daerah lainnya di Indonesia. Maraknya berbagai kasus penggusuran
tersebut menyebabkan terjadinya konflik kepentingan (Conflict
of Interest) antara kelompok-kelompok tertentu, di mana yang
selalu menjadi korban adalah rakyat kecil.
Ketidaksinkronan materi muatan yang terkandung di dalam
Undang-Undang sektoral dengan materi muatan UUPA
sebagaimana telah dijelaskan di atas, dapat menyebabkan terjadinya

26
konflik hukum (Conflict of Law). Hal tersebut tidak hanya
terjadi antara Undang-Undang sektoral dan UUPA, akan tetapi
konflik hukum (Conflict of Law) juga terjadi antara Undang-
Undang sektoral itu sendiri. Salah satu penyebab utama kegagalan
UUPA sebagai undang-undang payung (umbrella act) ataupun
sebagai peraturan perundang-undangan disebabkan karena materi
muatan UUPA lebih dominan mengatur masalah pertanahan,
sehingga menimbulkan kesan bahwa UUPA lebih tepat disebut
sebagai Undang-Undang Pertanahan daripada Undang-Undang
yang mengatur secara komprehensif dan proporsional tentang
agraria. Meskipun harus diakui bahwa UUPA sesungguhnya
juga mengatur tentang kehutanan, pertambangan, minyak dan
gas bumi, penataan ruang, sumber daya air, dan lingkungan
hidup.

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi


Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Di tingkat nasional, kebijakan mengenai pelestarian
keanekaragaman hayati adalah UU No. 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya yang mengatur
konservasi ekosistem dan spesies terutama di kawasan lindung.
Perundangan ini belum dapat dikatakan komprehensif karena
cakupannya masih berbasis kehutanan dan pelestarian hanya di
kawasan lindung. Padahal di luar kawasan lindung banyak sekali
eksosistem yang mengalami ancaman yang setara.
Pada awal 1990an, ada beberapa kebijakan yang diharapkan
dapat menjadi panduan komprehensif bagi pengelolaan
keanekaragaman hayati. Misalnya, tahun 1993 Kantor Menteri
Negara Lingkungan Hidup (KMNLH sekarang Kementrian
Lingkungan Hidup, KLH) menerbitkan Strategi Pengelolaan
Keanekaragaman Hayati. Pada saat yang hampir bersamaan,
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
menerbitkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati untuk In-
donesia (Biodiversity Action Plan for Indonesia 1993 - BAPI
1993). Dokumen BAPI ini pada tahun 2003 direvisi menjadi
dokumen Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan

27
(IBSAP) juga oleh BAPPENAS. Dokumen ini telah
didokumentasikan oleh sekretariat UNCBD sebagai dokumen
nasional Indonesia.
Tiga kebijakan, yaitu UU No. 5 Tahun 1990, UU No. 5
Tahun 1994 dan IBSAP 2003 merupakan serangkaian upaya
yang apabila dijalankan dapat menjadi sarana bagi pengelolaan
keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Selain itu terdapat
juga peraturan perundangan yang terkait dengan
keanekaragaman hayati di Indonesia, yaitu sejak tahun 1984
pemerintah telah mengeluarkan peraturan perundangan yang
terkait dengan keanekaragaman hayati. Berikut ini adalah
daftar peraturan-peraturan tersebut yang diklasifikasikan
berdasar bentuk perundangannya seperti yang disebutkan
Medrizam dkk.

Undang-Undang
a) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
b) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman;
c) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan
United Nations Convention On Biological Diversity;
d) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah;
e) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
f) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2009;
g) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang.

28
Peraturan Pemerintah
a) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1984 tentang
Pengelolaan Keputusan Presiden;
b) Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang
Perburuan Satwa Buru;
c) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang
Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman
Nasional, Taman Hutan Nasional dan Taman Wisata Alam;
d) Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Suaka
Alam dan Daerah Perlindungan Alam;
e) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pelestarian
Jenis Tumbuhan dan Satwa;
f) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar;
g) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom;
h) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1997 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan;
i) Keppres Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung.

Keputusan Menteri
a) Keputusan Menteri Bersama Menteri Pertambangan Energi
dan Menteri Kehutanan Nomor 110/12/702.M/PE/1991 dan
Nomor 346/Kpts.11/1991 tentang Pedoman Pengaturan
Bersama Usaha Pertambangan dan Energi Dalam Kawasan
Hutan.
b) Adanya aturan-aturan tersebut tidak sepenuhnya diberlakukan
secara tegas, sehingga upaya konservasi dan pengelolaan
keanekaragaman dan kekayaan hayati secara lestari tidak kuat
secara yuridis. Berbagai kerusakan hutan terjadi; illegal loging,
kebakaran hutan, dll. Kerusakan terumbu karang dari tahun-
ketahun semakin meningkat (menurut WWF Indonesia masuk

29
menjadi kawasan triangle dengan biodiversity fauna karang
luar biasa). Kerusakan ekosistem pesisir, yang ditandai
mengecilnya areal kawasan hutan mangrove, abrasi, serta
penumpukan sampah di sepanjang pantai.

3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 jo Undang-Undang


Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan
Dalam UU No. 41 Tahun 1999, hutan didefinisikan sebagai
suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang berisi
sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam
persekutuan lingkungannya, yang satu dengan yang lain tidak
dapat dipisahkan (Pasal 1). Hutan dapat dikategorikan sebagai:
1) hutan berdasarkan statusnya, meliputi hutan negara dan hutan
hak, 2) hutan berdasarkan fungsinya, meliputi hutan konservasi,
hutan lindung dan hutan produksi. Masing-masing fungsi kawasan
tersebut mengemban tugas masing-masing yaitu untuk kawasan
hutan konservasi berfungsi melindungi kawasan dan jenis tumbuhan
dan satwa, hutan lindung berfungsi untuk perlindungan hidrologi
sedangkan hutan produksi berfungsi untuk menghasilkan hasil
serta kayu ikutannya.
Suhubungan dengan pembangunan kehutanan di Indonesia,
terdapat beberapa kebijakan terkait, seperti:
a. Salah satu poin penting dalam UU ini adalah adanya larangan
pertambangan terbuka di kawasan hutan lindung.
b. PP No. 34 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan
PP No. 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan
Penggunaan Kawasan Hutan poin-poin penting dalam
kebijakan ini meliputi kegiatan pengelolaan, pembagian blok
kawasan, dan pemanfaatan hutan.
c. Keputusan Menteri Kehutanan No. 21/Kpts-II/2001 tentang
Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan. Poin penting
Kepmen ini adalah hutan lindung merupakan salah satu
kategoris sebagai hutan yang dapat ditetapkan sebagai hutan
kemasyarakatan.

30
d. Keputusan Menteri Kehutanan No. 32/Kpts-II/2001 tentang
Kriteria dan Standar Pengukuhan Hutan. Dalam kebijakan
ini ditetapkan bahwa dalam penetapan kawasan hutan perlu
diperhatikan: (1) status hutan, apakah sudah ditunjuk sebagai
hutan, tidak terbebani hak atas tanah dan tergambar dalam
kebijakan tata ruang; (2) batas dan luasnya harus jelas terukur;
(3) memiliki koordinat yang tepat dan jelas; (4) didasari
pada peta dasar berdasarkan ketersediaan liputan data yang
ada, misalnya peta rupa bumi, peta topografi dan peta joint
operation graphic.
e. Keputusan menteri Lingkungan Hidup No. 11 Tahun 2001
tentang Jenis Rencana Usaha dan atau kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan AMDAL.
f. UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan
Pusat dan Daerah, undang-undang ini mengatur bagi hasil
pengelolaan hutan (1) 80% dari penerimaan iuran hak
penguasaan hutan, dibagi provinsi 16% dan kabupaten 64%;
(2) 80% dari penerimaan provinsi sumber daya hutan, dibagi
provinsi 16%, kabupaten/kota penghasil 32% kabupaten/kota
lain yang ada dalam provinsi yang bersangkutan 32%.

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan


dan Perlindungan Lingkungan Hidup
Dengan peraturan perundang-undangan yang baru disahkan
ini pemerintah pusat dan daerah berkewajiban membuat kajian
lingkungan hidup strategis. Kajian itu untuk memastikan
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi
dalam kebijakan, rencana, dan program pembangunan. Pemanfaatan
sumber daya alam juga harus didasarkan pada rencana
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (PPLH) yang
menjadi dasar penyusunan rencana pembangunan jangka panjang
dan menengah.
Penguatan AMDAL (analisis mengenai dampak lingkungan)
untuk mencegah kerusakan lingkungan dengan meningkatkan
akuntabilitas, penerapan sertifikasi kompetensi penyusun dokumen

31
AMDAL, penerapan sanksi hukum bagi pelanggar bidang AMDAL
dan AMDAL sebagai persyaratan utama dalam memperoleh
izin lingkungan.
Perizinan diperkuat dengan menjadikan izin lingkungan sebagai
prasyarat memperoleh izin usaha/kegiatan dan izin usaha/kegiatan
dapat dibatalkan apabila izin lingkungan dicabut. Sistem hukum
diperkuat dengan memperluas kewenangan PPNS. Dalam hal
penegakan hukum lingkungan PPNS berwewenang menghentikan
pelanggaran seketika di lapangan. Penyidik PNS dapat melakukan
penangkapan dan penahanan serta hasil penyidikan disampaikan
ke jaksa penuntut umum yang berkoordinasi dengan kepolisian.
Sebagai salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
yang turut dalam menginisiasi lahirnya UU PPLH ini, Catur
Sapto Edi berharap KNLH mampu melakukan gebrakan dalam
penegakan hukum lingkungan. Setidaknya dalam lima tahun ke
depan harus ada perusahaan pencemar besar yang harus ditangkap
berdasarkan UU ini sebagai shock terapi bagi yang lainnya,
ungkap Catur yang akan mempertahankan kaukus lingkungan
hidup di DPR.
Namun menurut Moersidik, UU di sektor lain belum mendukung
pelaksanaan UU PPLH ini karena seperti biasa tidak disusun
secara sepaket dengan sektor lain. Selain itu UU PPLH ini juga
belum mempunyai PP sebagai pelaksana. PP ini harus bisa
menerjemahkan UU PPLH dan tidak hanya bersifat teknis.

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang


Pemerintahan Daerah
Lahirnya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah menandai pelaksanaan otonomi di daerah
sesuai panggilan jiwa UUD 1945 berdasarkan UU ini Pemerintah
Daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk
mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan, pelayanan, pemberdayaan dan peran serta

32
masyarakat. Di samping itu melalui otonomi luas, daerah diharapkan
mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip
demokrasi, pemerataan, kemerataan, keistimewaan dan kekhususan
serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Selanjutnya dalam penjelasan umum UU No. 32 Tahun 2004
disebutkan bahwa Pemerintah Daerah dalam rangka meningkatkan
otonomi daerah, perlu memperhatikan hubungan antar susunan
pemerintahan dan antar pemerintahan daerah potensi dan
keanekaragaman daerah.
Dalam penyelenggaraan desentralisasi masyarakat pembagian
urusan pemerintah antara pemerintah dengan daerah otonom.
Pembagian urusan tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa
selalu terdapat berbagai masa pemerintahan yang sepenuhnya
tetap menjadi kewenangan pemerintah.
Untuk mewujudkan pembagian kewenangan secara profesional
antara pemerintah, daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota
maka disusunlah kriteria yang meliputi: eksternalitas, akuntabilitas
dan efisiensi dengan mempertimbangkan kesesuaian hubungan
pengelolaan urusan pemerintah antar tingkat pemerintah.
Kriteria eksternalitas adalah pendekatan dalam pembagian
urusan pemerintah dengan mempertimbangkan dampak/akibat
yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan
tersebut. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal, maka
urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/
kota, apabila regional menjadi kewenangan provinsi dan apabila
nasional menjadi kewenangan pemerintah.
Kriteria akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian
urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat
pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah
pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat
dari urusan yang ditangani tersebut. Dengan demikian akuntabilitas
penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada
masyarakat akan lebih terjamin.

33
Kriteria efisiensi adalah pendekatan dalam pembagian urusan
pemerintahan-pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya
sumber daya untuk mendapatkan ketetapan, kepastian, dan
kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian
urusan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 10 UU No. 32 Tahun 2004
disimpulkan bahwa penyelenggaraan sektor kehutanan dan sektor
pertambangan menjadi kewenangan Pemerintah Daerah. Untuk
itu diperlukan perencanaan yang matang dari Pemerintah Daerah
dalam pemanfaatan sumber daya alam agar terjadi sinergi
pemanfaatan potensi antar sektor.

6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
merupakan pengganti dari Undang-Undang No. 24 Tahun 1992
tentang Penataan Ruang yang dianggap sudah tidak sesuai dengan
kebutuhan pengaturan penata ruang.
Dalam penjelasan umum Undang-Undang No. 26 Tahun 2007
angka 5 disebutkan bahwa penataan ruang sebagai suatu sistem
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
antara yang satu dan yang lain dan harus dilakukan sesuai dengan
kaidah penataan ruang sehingga diharapkan:
a. Dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna
dan berdaya guna serta mampu mendukung pengelolaan
lingkungan hidup yang berkelanjutan.
b. Tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang.
c) Tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.
Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik, daya dukung
dan daya tampung lingkungan, serta didukung oleh teknologi
yang sesuai akan meningkatkan keserasian, keselarasan dan
keseimbangan subsistem. Hal tersebut berarti akan dapat
meningkatkan kualitas ruang yang ada.

34
7. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batu Bara
Landasan Konstitusional Penguasaan Sumber Daya Alam
khususnya mineral dan batu bara adalah Pasal 33 ayat 3 UUD
1945: Mineral dan Batu Bara sebagai SDA adalah kekayaan
nasional yang dikuasai negara untuk sebesar-besar kesejahteraan
rakyat, hal ini merupakan mineral right.
Negara memberikan kuasa kepada pemerintah untuk
pengelolaan Sumber Daya Alam (Mineral dan Batu Bara) melalui
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Pertambangan sebagaimana diubah dengan
Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batu Bara, hal ini merupakan Mining Right, pada prinsipnya
pengelolaan Mineral dan Batu Bara pengelolaanya dilakukan
oleh Pemerintah BUMN atau BUMD) dan apabila menguntungkan
bagi negara, maka pemerintah dapat memberikan izin kepada
Badan Usaha Swasta, hal ini merupakan Economic Right, untuk:
Undang-Undang No. 20 Tahun 1997 tentang PNBP jo PP No.
45 Tahun 2003 tentang Objek dan Tarif PNBP Sektor ESDM;
Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah
dengan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan
Perlindungan Lingkungan Hidup; Undang-Undang No. 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan; Undang-Undang No. 34 Tahun 2000
tentang Pajak dan Retribusi Daerah; Undang-Undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 2005; Undang-
Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Pusat dan Daerah; Peraturan Pemerintah No. 75 Tahun 2001
perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1969 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 Pasal 4 (1);
Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batu Bara.
Pelaksanaan penguasaan dilakukan oleh: Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, untuk kepentingan nasional pemerintah harus
berkonsultasi dengan DPR menetapkan kebijakan pengutamaan

35
minerba untuk kepentingan dalam negeri, sebagai contoh dalam
rangka kebutuhan energi.
Terkait kepentingan nasional: yaitu dilakukan dengan
pengendalian produksi dan ekspor, sehingga pemeritah mempunyai
kewenangan untuk menetapkan jumlah produksi tiap-tiap komoditas
per tahun untuk setiap provinsi.
Kewenangan pengelolaan berada di tangan: Pemerintah
Pusat (Kebijakan dan Pengelolaan Nasional); Provinsi (Kebijakan
dan Pengelolaan Regional); Kab/Kota (Kebijakan dan Pengelolaan
Lokal).
Pemerintah Pusat secara spesifik dapat: Penetapan Kebijakan
Nasional; Pembuatan peraturan perundang-undangan; Penetapan
standar nasional, pedoman, kriteria; Penetapan sistem perizinan
pertambangan mineral dan batu bara; Penetapan WP dilakukan
setelah koordinasi dengan Pemda dan berkonsultasi DPR;
Pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat
dan pengawasan; Usaha pertambangan dan lokasi
penambangannya pada wilayah lintas provinsi dan atau wilayah
12 mil lebih dari garis pantai.
Selain itu Pemerintah Pusat juga mempunyai kewenangan
untuk: Pengelolaan informasi geologi dan potensi sumber daya
mineral dan informasi pertama tingkat nasional; Penyusunan
neraca sumber daya mineral dan batu bara tingkat nasional;
Pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha
pertambangan; Peningkatan kemampuan aparatur pemerintah
provinsi kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan.
Sedang Pemerintah Provinsi terkait kebijakan dapat: membuat
peraturan perundang-undangan daerah; memberi IUP, pembinaan,
penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha
pertambangan pada wilayah lintas Kabupaten/Kota atau wilayah
4 mil s.d. 12 mil; memberi IUP, pembinaan, penyelesaian konflik
masyarakat dan pengawasan operasi produksi yang berdampak
lingkungan langsung lintas Kabupaten/kota & di wilayah Laut 4

36
mil s.d. 12 mil; memberi IUP, pembinaan, penyelesaian konflik
masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan yang berdampak
lingkungan langsung pada wilayah lintas Kabupaten/Kota atau
wilayah 4 mil s.d. 12 mil. Penginventarisasian dan penelitian
serta eksplor dalam rangka memperoleh data dan informasi
mineral dan batu bara.
Pemerintah Provinsi juga berwenang melakukan: Pengelolaan
informasi geologi, potensi sumber daya mineral dan batu bara
dan informasi pertama pada wilayah provinsi; Penyusunan neraca
sumber daya mineral dan batu bara pada wilayah provinsi;
Pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha
pertama di provinsi; Pengembangan dan peningkatan peran serta
masyarakat dalam usaha pertambangan; pengoordinasian perizinan
dan pengawasan penggunaan bahan peledak di wilayah tambang
sesuai kewenangannya. Penyampaian informasi hasil inventarisasi
penyelidikan dan penelitian dan eksplorasi kepada Menteri dan
Bupati/Walikota; Penyampaian hasil informasi hasil produksi
penjualan dalam negeri, ekspor kepada Menteri dan Bupati/
Walikota; Pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan
pasca tambang, dan Peningkatan kemampuan aparat Pemerintah
Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertama. (Pasal 7)
Kewenangan Kabupaten/Kota: pembuatan peraturan
perundang-undangan daerah; pemberian IUP dan IPR, pembinaan,
penyelesaian konflik masyarakat. dan pengawasan usaha pertama
pada wilayah Kabupaten/Kota atau wilayah laut sampai 4 mil;
Penginventarisasian penyelidikan dan penelitian serta eksplor
dalam rangka memperoleh data dan informasi minerba;
Pengelolaan informasi geologi, potensi minerba dan informasi
pertama pada wilayah Kabupaten/Kota; Penyusunan neraca sumber
daya minerba pada wilayah Kabupaten/Kota; Pengembangan
dan pemberdayaan masyarakat setempat dalam usaha pertama
dengan memperhatikan kelestarian lingkungan; Pengembangan
dan peningkatan nilai tambah dan manfaat kegiatan usaha pertama
secara optimal; Penyampaian informasi hasil inventarisasi PU
dan penelitian serta eksplor dan eksploitasi kepada Menteri dan

37
Gubernur; Penyampaian informasi hasil produksi, penjualan
dalam negeri serta ekspor kepada Menteri dan Gubernur;
Pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pasca
tambang; Peningkatan kemampuan aparatur pemerintah
kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan (Pasal 8).
B . Perizinan
Ketentuan yang mengatur tentang perizinan pinjam pakai kawasan
hutan untuk kegiatan pertambangan diatur dalam Peraturan Menteri
Kehutanan No. P.43/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Pinjam Pakai
Kawasan Hutan.
Mengapa harus pinjam pakai?
Filosofis pinjam pakai kawasan hutan adalah agar setiap pengguna
kawasan hutan di luar sektor kehutanan Pertama tidak menyebabkan
enclave; Kedua luas kawasan hutan tidak terkurangi; Ketiga, agar
pemerintah cq. Departemen Kehutanan masih tetap mengelola kawasan
yang dipinjam pakai sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi.
Yang dimaksud pinjam pakai kawasan hutan adalah penggunaan
atas sebagian kawasan hutan kepada pihak lain untuk kepentingan
pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah status,
peruntukan dan fungsi kawasan hutan tersebut (Pasal 1 angka 1
Peraturan Menteri Kehutanan No. 14/Kpts-II/2006). Dengan demikian
untuk kegiatan komersial seperti pertambangan proses pinjam pakai
harus dengan kompensasi jangka waktu perjanjian pinjam pakai
maksimal 5 tahun dan dapat diperpanjang (ketentuan Pasal 19
Peraturan Menteri Kehutanan No. 14/Kpts-II/2006).
Selanjutnya mengenai lahan kompensasi harus dipenuhi oleh
pemohon pinjam pakai kawasan hutan dalam jangka waktu maksimal
2 tahun sejak diterbitkannya persetujuan prinsip pinjam pakai kawasan
hutan oleh Menteri Kehutanan. Apabila dalam jangka waktu tersebut
belum dipenuhi maka khusus untuk pinjam pakai kawasan hutan
yang bersifat komersial, lahan kompensasi diganti dengan dana yang
dijadikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Departemen
Kehutanan yang besarnya 1% (satu persen) dari nilai persatuan
produksi.

38
Filosofis penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Departemen
Kehutanan dari kegiatan di luar pembangunan kehutanan tersebut
adalah karena hilangnya nilai ekonomis dari ekosistem hutan akibat
suatu kegiatan di luar pembangunan Kehutanan.
Adapun penggunaan dana dimaksud untuk kegiatan pengembalian nilai
konservasi hutan yang hilang tersebut dan atau untuk kesejahteraan
masyarakat. Pemerintah saat ini sedang menyiapkan Rancangan
Peraturan Pemerintah tentang PNBP tersebut dengan memperhatikan
aspek keadilan dan kepastian hukum serta kepastian berusaha.

1. Subjek dan Objek Pinjam Pakai Kawasan Hutan


Subjek pinjam pakai kawasan hutan adalah:
a. Koperasi;
b. Yayasan;
c. Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah;
d. Badan Usaha Milik Swasta;
e. Instansi Pemerintah.
Sedangkan objek pinjam pakai kawasan hutan adalah:
a. Kawasan hutan produksi;
b. Kawasan hutan lindung.

2. Cara Pengajuan Permohonan


a. Permohonan pinjam pakai kawasan hutan diajukan oleh pimpinan
instansi pemerintah/pimpinan perusahaan.
b. Permohonan dilampiri
1) Rencana kerja penggunaan kawasan hutan;
2) Rekomendasi Bupati/Walikota; bagi perizinan yang berkaitan
dengan pinjam pakai kawasan hutan yang diterbitkan oleh
Gubernur;
3) Rekomendasi Gubernur bagi perizinan yang berkaitan dengan
pinjam pakai kawasan hutan yang diterbitkan oleh Bupati/
Walikota dan Pemerintah;
4) Amdal yang telah dilakukan oleh instansi yang berwenang;

39
5) Pertimbangan teknis dari Direktur Utama Perum Perhutani,
apabila areal yang dimohon merupakan areal kerja Perum
Perhutani;
6) Izin atau perjanjian di sektor non kehutanan yang
bersangkutan, kecuali untuk kegiatan yang tidak wajib
memiliki perizinan/perjanjian.
7) Pernyataan kesanggupan untuk memenuhi semua kewajiban
dan menanggung seluruh biaya sehubungan dengan
permohonan tersebut.
8) Untuk kegiatan pertambangan yang diterbitkan oleh Gubernur
atau Bupati sesuai kewenangannya diperlukan pertimbangan
dari Direktur Jenderal Mineral Batu Bara dan Panas Bumi,
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

c. Tata cara penyelesaian permohonan


Adapun tata cara penyelesaian permohonan pinjam pakai kawasan
hutan diatur sebagai berikut:
1) Direktur Jenderal Planologi Kehutanan mengkoordinasikan Eselon
I terkait lingkup Departemen Kehutanan untuk memberikan sa-
ran/pertimbangan teknis kepada Menteri guna mendapatkan
keputusan.
2) ertimbangan teknis pinjam pakai kawasan hutan meliputi:
a) Pada kawasan hutan lindung pertimbangan teknis diberikan oleh
Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.
b) Pada kawasan hutan produksi diberikan oleh Direktur Jenderal
Bina Produksi Kehutanan.
c) Pada areal kerja Perum Perhutani pertimbangan teknis
diberikan oleh Direktur Utama Perum Perhutani.

d. Khusus untuk kegiatan pertambangan terbuka di hutan lindung


dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1) Dilakukan kajian terpadu oleh Tim Pengkajian yang unsurnya
terdiri dari unit kerja Eselon I terkait dan unsur instansi terkait
lainnya.

40
2) Tim dibentuk oleh Menteri Kehutanan.
3) Rekomendasi hasil pengkajian dilaporkan oleh Ketua Tim kepada
Kepala Direktur Jenderal Planologi Kehutanan.
4) Biaya yang timbul dari kegiatan pengkajian ditanggung oleh pihak
pemohon.
e. Kewajiban pemohon
Apabila Menteri Kehutanan menyetujui permohonan pinjam pakai
kawasan hutan maka pemohon diwajibkan hal-hal sebagai berikut:
1) Menanggung biaya tata batas pinjam pakai kawasan hutan.
2) Menanggung biaya inventarisasi tegakan.
3) Melaksanakan reklamasi dan rehabilitasi pada kawasan hutan
yang sudah tidak dipergunakan.
4) Menyelenggarakan perlindungan hutan.
5) Memberikan kemudahan bagi aparat kehutanan sewaktu melakukan
monitoring dan evaluasi di lapangan.
6) Wajib membuat pernyataan di hadapan notaris.

f. Hak pemegang izin pinjam pakai


Pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan berhak untuk
menempati dan mengelola serta melakukan kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan kegiatan pinjam pakai kawasan hutan.
Dengan diundangkannya UU No. 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan, kegiatan penambangan di kawasan hutan lindung secara
terbuka tidak dapat dilanjutkan, karena dalam UU No. 41 Tahun
1999 tersebut tidak mengatur mengenai Ketentuan Peralihan, sehingga
semua Kuasa Pertambangan (KP) Kontrak Karya (KK) atau Perjanjian
Kerja Sama Pertambangan Batu Bara (PKP2B) tidak dapat dilanjutkan
kegiatannya.
Karena UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan melarang
kegiatan penambangan secara terbuka di kawasan hutan lindung
sebagaimana tertuang dalam Pasal 38 ayat (4) UU No. 41 Tahun
1999 yang berbunyi sebagai berikut: pada kawasan hutan lindung
dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan
terbuka.

41
Atas dasar ketentuan pasal tersebut maka secara hukum hak
kegiatan penambangan yang diperoleh sebelum ditetapkannya UU
No. 41 Tahun 1999, hak tersebut tidak diakui keberadaanya oleh
UU No. 41 Tahun 1999.
Untuk memberikan kepastian hukum dalam kegiatan usaha
pertambangan, maka keluarlah PERPU No. 1 Tahun 2004 tentang
Perubahan UU No. 41 Tahun 1999, dalam PERPU tersebut bahwa
Izin, atau Perjanjian yang sudah ada sebelum UU 41 Tahun 1999
ditetapkan masih tetap berlaku sampai berakhirnya izin atau perjanjian
tersebut.
PERPU No. 1 Tahun 2004 tersebut ditetapkan menjadi UU No.
19 Tahun 2004, dan melalui Keputusan Presiden No. 41 Tahun 2004
ada 13 perusahaan yang dapat melanjutkan kegiatannya.
Timbulnya persolalan dan benturan kepentingan antara sektor
kehutanan dan sektor pertambangan, antara lain disebabkan oleh
terjadinya perbedaan peruntukan lahan yang sama oleh kedua sektor
tersebut. Departemen Kehutanan merasa berkewajiban untuk
melestarikan sejumlah kawasan hutan untuk fungsi yang lebih luas,
seperti untuk sistem penyangga kehidupan kawasan setempat.
Dan lebih luas lagi untuk ikut berkontribusi dalam menyangga
kestabilan iklim global.Sementara, Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral memiliki tugas fungsi untuk memanfaatkan sumber
daya mineral yang agar bisa berkontribusi dalam menunjang
perekonomian negara. Persoalan muncul ketika lokasi kawasan yang
berpotensi akan sumber daya.
Tambang tersebut berada di dalam kawasan yang sudah ditetapkan
oleh Departemen Kehutanan sebagai hutan lindung, yang menurut
UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan tidak boleh ditambang.
Proses penetapan suatu kawasan menjadi kawasan konservasi
juga menimbulkan persoalan bagi sektor pertambangan. Keberadaan
kawasan konservasi di satu sisi untuk menghambat laju deforestrasi
namun di sisi lain menimbulkan pro dan kontra karena ketika fungsi
hutan yg sebelumnya memperbolehkan kegiatan pertambangan tiba-
tiba diubah menjadi kawasan koservasi yang melarang semua aktivitas

42
kegiatan pertambangan. Karena adanya usulan perubahan fungsi
dari Pemerintah Daerah. Penggunaan peta dasar yang terkait dengan
akurasi yang berbeda.
Dalam peraturan perundang-undangan tidak mengatur bagaimana
penyelesaian tumpang tindih kawasan yang berbeda peruntukannya.
UU No. 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang belum bisa menyelesaian
persoalan ini.
Permasalahan di luar kehutanan adalah dengan diberlakukannya
Penyelenggaraan Otonomi Daerah UU No. 22 Tahun 1999
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah.

C. Peran Pemerintah Daerah


Dengan telah diundangkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintah Daerah sebagai pengganti Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 1999, maka Pemerintah Daerah mempunyai peran
yang besar dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam. Untuk
itu dalam era desentralisasi sekarang ini PEMDA hendaknya mampu
menciptakan iklim demokrasi yang merupakan payung desentralisasi.
Demokrasi memerlukan kepastian hukum, dengan demikian PEMDA
harus mampu menciptakan produk hukum yang dapat mendukung
fungsi sumber daya alam agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
secara lestari dalam rangka peningkatan kesejahteraannya.
Dalam penetapan kebijakan Pemda hendaknya mengacu pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan selalu melakukan
penelitian dan pengkajian baik teknis kehutanan dan pertambangan,
maupun sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan agar kebijakan
yang ditempuh benar-benar memenuhi kebutuhan riil masyarakat.
Sebagai misal dukungan PEMDA dalam kegiatan pertambangan
hendaknya memperhatikan tata ruang yang telah disepakati sehingga
rekomendasi yang telah diterbitkan benar-benar pada areal yang
clear and clean. Demikian pula dalam hal pelaksanaan hasil studi
mengenai Analisis Dampak Lingkungan maka Pemerintah Daerah
dituntut untuk melakukan pengawasan secara ketat khususnya
pelaksanaan Rencana Kelola Lingkungan dan Rencana Pemantauan

43
Lingkungan. Dengan demikian peran PEMDA akan semakin nyata
dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam yang lestari. Selain
daripada itu untuk dukungan terhadap keberadaan kawasan hutan
konservasi, maka peran Pemerintah Daerah cukup besar antara lain
dalam rangka penetapan mintakat penyangga (Zona Penyangga)
kawasan hutan konservasi hendaknya Pemerintah Daerah sangat
pro aktif khususnya untuk areal di luar kawasan hutan yang berbatasan
dengan kawasan hutan konservasi. Pengelolaan mintakat penyangga
sangat menentukan keberhasilan pengelolaan kawasan hutan konservasi.
Demikian pula dengan kaitannya dengan masyarakat hukum adat
dalam pengelolaan hutan adat. Pemerintah Daerah hendaknya aktif
dalam penyusunan Perda untuk menetapkan keberadaan masyarakat
hukum adat secara objektif dan rasional serta transparan dengan
melibatkan para pakar antropologi budaya, sosiologi, hukum adat dan
instansi terkait. Peraturan Daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah
Daerah tentang masyarakat hukum adat akan membawa konsekuensi
adanya wilayah adat sebagai tempat hidupnya yang dimungkinkan
wilayah tersebut berupa kawasan hutan. Kawasan hutan yang
merupakan wilayah masyarakat hukum adat tersebut diusulkan kepada
Menteri Kehutanan untuk mendapatkan penetapan sebagai kawasan
hutan adat yang dikelola oleh masyarakat hukum adat. Apabila kawasan
hutan yang dikelola masyarakat adat terdapat kegiatan pertambangan
maka perlu ada kompensasi yang layak bagi masyarakat hukum adat
guna kesejahteraannya. Bagi kabupaten pemekaran maka segera
untuk meninjau kembali tata ruang daerahnya disesuaikan dengan
kondisi sekarang. Untuk itu Departemen terkait harus dapat
menyesuaikan dengan pemekaran wilayah yang ada sehingga dapat
mengakomodasi perkembangan politik pemerintahan yang ada mengingat
pemekaran kabupaten didasarkan pada undang-undang.

44
BAB IV
ANALISIS DAN EVALUASI

A. Tumpang Tindih Kegiatan


Hutan sebagai sumber daya alam dan sebagai sistem penyangga
kehidupan mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan
nasional. Sesuai fungsi pokoknya hutan dimanfaatkan untuk kegiatan
pemanfaatan hasil hutan kayu maupun bukan kayu misal getah,
madu, rotan, dan plasma nutfah lainya. Selain hal tersebut di kawasan
hutan juga banyak mengandung galian mineral antara lain nikel,
emas, batu bara, minyak dan gas bumi serta panas bumi.
Dalam rangka pemanfaatan sumber daya hutan untuk budi daya
kehutanan dan di luar kehutanan banyak dijumpai adanya tumpang
tindih kegiatan. Kondisi ini memicu konflik di lapangan dan berdampak
adanya ketidakpastian pemanfaatan di kawasan hutan.
Khusus kawasan hutan lindung yang ditetapkan untuk fungsi tata
air, maka kegiatan yang ada diatasnya harus mendukung fungsi utamanya
yaitu perlindungan kawasan agar tata air tidak terganggu oleh karena
itu kegiatan pertambangan di kawasan hutan lindung dilarang.
Pelarangan kegiatan penambangan di kawasan hutan lindung
dimaksudkan agar fungsi utama kawasan lindung tetap berfungsi
utama kawasan lindung tetap berfungsi sebagaimana tujuannya. Sehingga
kebutuhan akan air dan tata air di suatu wilayah dapat tercukupi.
Untuk menghindari tumpang tindih ini hendaknya Pemerintah
khususnya Departemen Kehutanan dan Departemen ESDM memiliki
perancanaan yang jelas dan adanya kesamaan peta sebagai acuan.
Perlunya informasi dan sosialisasi kepada masyarakat termasuk
investor tentang peraturan perundang-undangan di sektor kehutanan
dan pertambangan serta wilayah-wilayah yang terbuka untuk kegiatan
pertambangan di kawasan hutan.

45
Demikian pula Pemerintah Daerah hendaknya memberikan
informasi dan melakukan inventarisasi terhadap kawasan hutan yang
berpotensi memiliki kandungan mineral.

B . Sinergitas Kegiatan
Kegiatan pengelolaan hutan dan kegiatan pertambangan di kawasan
hutan hendaknya dapat dilakukan secara bersinergi dan saling
mendukung. Sinergitas kegiatan diperlukan guna menjaga keutuhan
ekosistem dan menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan demikian
sinergitas kegiatan tersebut dapat mendukung pembangunan dan
menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat serta pelestarian
lingkungan hidup.
Sinergitas kegiatan yang dapat dilakukan dalam kawasan hutan
antara lain: Pertama, perlindungan kawasan; Kedua, inventarisasi
potensi kawasan; Ketiga, penelitian dan pengembangan dalam
menunjang fungsi kawasan; Keempat, penyesuaian program antara
kehutanan dan pertambangan pada kawasan yang akan ditambang.

C. Koordinasi
Pentingnya koordinasi antar sektor terkait sangat diperlukan guna
mengatasi tumpang tindih pengguna kawasan hutan. Koordinasi yang
telah dilakukan antara Departemen Kehutanan dan Departemen ESDM
terjadi pada saat masing-masing mendasarkan pada SKB antara
Menteri Pertambangan dan Energi dan Menteri Kehutanan No. 969-
K/05/M.DPE/1989 dan No. 429/Kpts-II/1989 tentang Pedoman
Pengaturan Pelaksanaan Usaha Pertambangan dalam Kawasan Hutan.
Koordinasi antar sektor yang menangani masalah kehutanan
dan yang menangani masalah pertambangan serta Pemerintah Daerah
akan mengurangi tumpang tindih kegiatan pertambangan di kawasan
hutan. Oleh karena itu diperkirakan produk hukum berupa Surat
Keputusan Bersama antara Departemen Kehutanan, Departemen
ESDM dan Departemen Dalam Negeri untuk mengatur masalah
koordinasi ini atau bahkan perlu diatur dalam Keputusan Presiden.
Dalam koordinasi ini hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

46
a) Tugas dan fungsi masing-masing instansi.
b) Pemecahan masalah yang spesifik yang memerlukan
penanganan secara khusus.
c) Saling memberikan informasi pada perkembangan kebijakan masing-
masing sektor.
d) Percepatan perizinan dan evaluasi kegiatan.

D. Pembinaan dan Pengawasan


Pembinaan dan Pengawasan terhadap kegiatan Pertambangan
di kawasan hutan dapat dilakukan bersama-sama antara instansi
terkait yaitu Pemerintah Daerah, Departemen Kehutanan dan dengan
Departemen ESDM. Selain itu pembinaan dan pengawasan terhadap
kegiatan eksploitasi pertambangan juga melibatkan Kementerian
Lingkungan Hidup.
Acuan dalam pembinaan dan pengawasan antara lain adanya
dokumen Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL). Kedua dokumen tersebut secara spesifik telah
menyebutkan parameter lingkungan agar yang akan dikelola dan
instansi mana saja yang melakukan pemantauan.
Selain hal tersebut pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh
Departemen Kehutanan dengan mengkaji pada perizinan yang telah
diterbitkan, khususnya dengan memperhatikan kewajiban-kewajiban
yang harus dilakukan oleh pemegang izin pinjam pakai kawasan
hutan.

E. Pengelolaan Hutan Secara Gotong Royong antara Kehutanan


dan Pertambangan
Paradigma pengelolaan hutan saat ini harus diarahkan pada sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana panggilan jiwa Pasal 33
ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Untuk itu dalam pengelolaan
hutan harus melibatkan seluruh stake holders yaitu Pemerintah,
masyarakat (society) dan sektor swasta atau dunia usaha.
Ketiga komponen tersebut saling berinteraksi dan menjalankan
fungsinya masing-masing secara gotong royong. Pemerintah

47
menciptakan lingkungan politik dan hukum serta kebijakan yang
kondusif dan transparan, sektor swasta menciptakan pekerjaan dan
pendapatan, sedangkan masyarakat (society) berperan positif dalam
interaksi sosial, ekonomi dan politik khususnya dalam mendukung
program pembangunan kehutanan.
Dalam pengelolaan hutan secara gotong royong perlu dikembangkan
prinsip: Co-Ownership yaitu bahwa kawasan hutan milik bersama
yang harus dilindungi secara bersama-sama. Untuk itu ada hak-hak
masyarakat di dalamnya yang harus diakui, namun perlindungan harus
dilakukan secara bersama: prinsip Co-Operation/Co-Management
yaitu bahwa kepemilikan bersama mengharuskan pengelolaan hutan
untuk dilakukan bersama-sama seluruh komponen masyarakat dan
prinsip Co-Responsibility yaitu bahwa keberadaan kawasan hutan
menjadi tanggung jawab bersama karena pengelolaan kawasan hutan
merupakan tujuan bersama. Ketiga prinsip tersebut harus terefleksikan
dalam setiap kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya
hutan. Dengan demikian permasalahan pengelolaan hutan seperti
tersebut di atas dapat diatasi secara bertahap.
Dalam kaitannya dengan kegiatan pertambangan di kawasan
hutan maka penambangan harus di integrasikan dalam sistem
pengelolaan hutan. Untuk itu diperlukan perencanaan yang terintegrasi
antara sektor kehutanan dan sektor pertambangan.
Departemen Kehutanan dan Departemen Energi Sumber Daya
Mineral (ESDM) hendaknya mempunyai perencanaan yang jelas
terhadap pengelolaan kawasan dan penggunaan kawasan untuk kegiatan
pertambangan di kawasan hutan. Kejelasan perencanaan ini akan
dapat memperkecil kemungkinan tumpang tindih antara pengelolaan
kawasan hutan dengan kegiatan pertambangan. Kebijakan Departemen
Kehutanan dalam penggunaan kawasan hutan untuk sektor
pertambangan melalui mekanisme pinjam pakai kawasan sebagaimana
diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P.14/Kpts-II/2006
yang diubah menjadi Peraturan Menteri No. P.64/Kpts-II/2007 dan
terakhir diubah dengan Permenhut No. 43/Kpts-II/2008. Kebijakan
tersebut pada prinsipnya memberi kesempatan bagi perusahaan
pertambangan yang mengalami kesulitan untuk penyediaan lahan

48
kompensasi dapat mengganti dengan sejumlah dana kompensasi.
Kebijakan tersebut merupakan terobosan kebijakan yang positif bagi
dunia pertambangan yang dirasakan sangat sulit menyiapkan areal
pengganti.

F. Kebijakan Menuju Smart Regulation


Peraturan di sektor kehutanan dan pertambangan saat ini
didominasi oleh peraturan perundang-undangan yang bersifat com-
mand and control yang ditandai dengan adanya persyaratan standar
tertentu, pemberian izin dan sanksi bagi yang melanggar. Hal tersebut
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 1967
tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Hayati dan Undang-
Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan beserta peraturan
pelaksanaannya.
Dari materi muatan yang diatur dalam perundang-undangan
tersebut masih terasa bernuansa command and control. Sehingga
dianggap tidak memacu dunia investasi dan tidak pro poor. Untuk
itu perlu penyempurnaan-penyempurnaan mengarah kepada good
forestry goverment yang berjiwa pro investasi dan pro poor.
Perumusan kebijakan dengan pendekatan command and con-
trol tidak efektif dikarenakan sembilan kelemahan yaitu:
Pertama, instrument command and control mensyaratkan
pembuatan kebijakan mempunyai kebijakan yang komprehensif dan
akurat dari cara kerja dan kapasitas suatu kegiatan.
Kedua, instrument command and control tidak menyediakan insentif
bagi perusahaan untuk melampaui standar minimum yang telah
ditetapkan, khususnya perusahaan yang telah berinvestasi dalam
teknologi pengendalian lingkungan/ pengelolaan hutan.
Ketiga, intrument command and control penegakkannya mahal
dan sulit. Ini sangat penting karena hal ini berdampak negatif terhadap
kehandalannya. Walaupun sementara badan-badan terikat untuk
menegakkan, sebagian besar rezim pengaturan tidak mempunyai sumber
daya memadai.

49
Keempat, instrument command and control rentan terhadap
manipulasi politik.
Kelima, instrumen command and control dapat menyebabkan
kompleksitas administrasi dan pembatasan hukum.
Keenam, instrument command and control tidak efisien karena
biaya untuk penataan besar. Ketidakefisienan ini dapat ditinjau baik
dari sisi pemerintah sebagai pembuat dan pengawas kebijakan maupun
pihak pelaku ekonomi.
Ketujuh, instrument command and control kurang akomodatif (kaku)
tidak fleksibel.
Kedelapan, intrument command and control muatannya terlalu
padat sehingga ada titik jenuh antara masyarakat yang diatur dengan
peraturannya itu sendiri.
Kesembilan, instrument command and control tidak mendorong
kreativitas.
Berdasarkan pendekatan ini, pihak yang diatur akan menjalankan
apa yang mereka harus taati dengan standar pengaturan.
Dalam mengatasi kesenjangan pengaturan untuk menuju
pengelolaan hutan lestari maka perlu perubahan cara berfikir (mindset)
dalam penentuan kebijakan pengelolaan hutan yang dikenal dengan
pengaturan yang bijak (smart regulations) di sektor kehutanan.
Pertama, swakelola bahwa pengelola hutan agar mandiri dan tidak
menjadi beban pemerintah sehingga menambah kreativitas dan tanggung
jawab pengelolaan.
Kedua, perlunya mengatur ketentuan insentif dan disinsentif dalam
peraturan perundang-undangan kehutanan guna memacu dunia usaha.
Ketiga, desentralisasi, sejalan dengan iklim otonomi daerah maka
kebijakan desentralisasi sudah menjadi keharusan memberikan
kewenangan yang cukup kepada instansi/aparat di daerah yang langsung
menangani pengelolaan hutan (front line workers). Desentralisasi
pemerintahan akan memudahkan partisipasi masyarakat, serta
terciptanya suasana kerja sama tim.

50
Keempat, kinerja pengelolaan hutan harus didasarkan pada hasil
(out come) yang dicapai, bukan sumber daya (input) yang diperoleh
atau pada kepatuhan prosedural. Prosedur kinerja yang berbelit-belit
harus dihilangkan.
Kelima, kebijakan pengelolaan hutan harus dapat memanfaatkan
mekanisasi pasar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memacu
iklim investasi.
Keenam, kebijakan pengelolaan hutan harus mampu mengantisipasi
masalah publik agar mampu melakukan tindakan preventif (pencegahan).
Ketujuh, kebijakan pengelolaan hutan harus berorientasi pada
pemberdayaan dan peran serta masyarakat.
Pemberdayaan merupakan suatu proses yang menyangkut
hubungan-hubungan kekuasaan (kekuatan) yang berubah antara individu,
kelompok dan lembaga-lembaga sosial. Selain daripada itu
pemberdayaan juga merupakan proses perubahan pribadi karena masing-
masing individu mengambil tindakan atas nama mereka sendiri dan
kemudian mempertegas kembali pemahamannya terhadap dunia tempat
tinggal.
Pemberdayaan juga berarti pembagian kekuasaan yang adil (eq-
uitable sharing of power) sehingga meningkatkan kesadaran politis
dan kekuasaan kelompok yang lemah serta memperbesar pengaruh
mereka terhadap proses dan hasil pembangunan. Dalam perspektif
lingkungan, pemberdayaan mengacu pada pengamanan akses terhadap
sumber daya alam dan pengelolaan lestari.
Secara sederhana, konsep pemberdayaan mengacu pada
kemampuan masyarakat untuk mencapai akses dan kontrol sumber-
sumber kehidupan. Kebijakan pemberdayaan sejalan dengan filosofis
pembangunan kehutanan yaitu untuk kesejahteraan masyarakat. Apabila
masyarakat telah sejahtera maka diharapkan akan dapat berpartisipasi
dalam pengelolaan hutan sehingga hutan lestari.

51
52
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Peraturan perundang-undangan di sektor kehutanan terkait masalah
kegiatan pertambangan di kawasan hutan lindung tidak
mengakomodasi kegiatan pertambangan terbuka sedang kegiatan
pertambangan tertutup seperti migas dan panas bumi dapat di
izinkan. Diterbitkannya Perpu No. 1 Tahun 2004 yang kemudian
disahkan menjadi UU No. 19 Tahun 2004 merupakan kebijakan
untuk mengakomodasi kegiatan pertambangan terbuka di kawasan
hutan lindung. Namun pelaksanaannya harus memperhatikan
kaidah-kaidah konservasi khususnya perlindungan tata air agar
fungsi lindung tetap terjaga.
2. Kegiatan pengawasan pertambangan di kawasan hutan mengacu
pada Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL) dari studi AMDAL. Dengan
demikian seluruh instansi terkait sesuai yang tercantum dalam
studi AMDAL tersebut dalam proses pengawasan.

B . Saran
1. Perlu adanya sinergitas kegiatan kehutanan dan pertambangan
di kawasan hutan dengan tujuan untuk menghindari tumpang
tindih kegiatan yang menyebabkan terhentinya iklim invertasi di
dua sektor tersebut, agar supaya kesejahteraan masyarakat dan
kelestarian hutan terwujud.
2. Tumpang tindih pemegang izin pemanfaatan hutan dan pengelolaan
hutan dengan kegiatan pertambangan dilakukan dengan pendekatan
musyawarah dan membangun kesepahaman. Apabila musyawarah
tidak tercapai maka penyelesaian secara hukum sebagai upaya
penyelesaian akhir.

53
3. Peran Pemerintah Daerah dalam menetapkan kebijakan hendaknya
mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku serta
memperhatikan pada kebutuhan riil di masyarakat.
4. Perlu segera diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang penggunaan
kawasan hutan untuk kegiatan di luar pembangunan kehutanan, sebagai
pedoman penentu kebijakan dalam pengelolaan hutan dan pertambangan
di kawasan hutan.
5. Kegiatan pertambangan hendaknya harus selalu berupaya untuk
melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan agar kegiatannya
dapat dukungan masyarakat dan memperkecil kegiatan masyarakat
untuk merambah hutan.
6. Perlu segera dilakukan harmonisasi hukum yang mengatur sumber
daya alam agar panggilan jiwa Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang
Dasar 1945 dapat terwujud.
7. Ketentuan Pasal 19 Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 dapat
digunakan sebagai koridor perubahan peruntukan dan fungsi kawasan
hutan. Untuk itu, segera diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang
Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan.

54
DAFTAR PUSTAKA

Atmosudirdjo, 1994., Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia,


Jakarta.
Bromley, Daniel W. 1989., Economic Interest and Institution: The
Conceptual Foundation of Public Policy, New York. Brasil
Beckwill.
Bruggink, H. J.J. 1996., Refleksi tentang Hukum, Alih Bahasa Arief
Sidharta, S.H., PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
Budiardjo, dkk, 2000., Reformasi Hukum di Indonesia, Cyber Consult,
Jakarta.
Budi Riyanto, 2004., Selayang Pandang Pengelolaan Kawasan Hutan
di Indonesia, Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan
Lingkungan, Bogor.
___________, 2004., Pengaturan Hutan Adat di Indonesia, Lembaga
Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan, Bogor.
___________, 2005, Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan Dalam
Perlindungan Kawasan Pelestarian Alam, Lembaga Pengkajian
Hukum Kehutanan dan Lingkungan, Bogor.
___________, 2006, Hukum Kehutanan dan Sumber Daya Alam,
Bunga Rampai, Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan
Lingkungan, Bogor.
Dey, Thomas R, 1978., Understanding Public Policy, Engelwoodcliff
Hall, New Jersey.
Hardjasoemantri, Koesnadi, 1999., Hukum Tata Lingkungan, Edisi
Ketujuh, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
___________,1995., Hukum Perlindungan Lingkungan, Edisi Pertama
Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

55
___________,1997., Aspek Hukum Perlindungan Lingkungan dan
Pelestarian Fungsi Hutan, Bahan Seminar, Departemen
Kehutanan, Jakarta.
Kasim Azhar, 1984., Pengukuran dan Efektivitas dalam Organisasi, Penerbit
Pusat antara Universitas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia
Jakarta.
Karta Subrata, 1988, Program-Program Kehutanan Sosial di Indonesia,
Dalam Rimba Indonesia, Vol. XXII no. 52 tahun 1988 hlm. 22-23.
Keraf, Sonny, 2002, Etika Lingkungan, Kompas, Jakarta.
Osborne, David dan Ted Gaebler, 1992., Reinventing Government, How
the Entrepreneurial Spirit is Transfoming the Public Sector,
Addison Wesley Pubershing, Company inc, New York.
Podgorecki Adam dan Christoper J. Whelan, ed, 1987., Pendekatan
Sosiologi Terhadap Hukum, Alih Bahasa Rnc Widyaningtyas
dan G. Karta Saputra, PT Bina Aksara Jakarta.
Poggi, Gianfranco, 1978., The Development of the Modern State, Stanford
University Press, Stanford California.
Riyatno, 2005, Perdagangan Internasional dan Lingkungan Hidup,
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta hlm. 168.
Soetandyo Wignyosoebroto. 1965., Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Keefektifan Hukum Yang Melaksanakan Fungsi Sebagai
Sarana Kontrol Sosial, Terjemahan C.G. Howard dan Mum-
mer, Laws Its Nature and Limits, New Jersey, Prentice Hall.
Wibowo, Samudra, 1994., Kebijaksanaan Publik, Proses dan Analisis,
Intermedia, Jakarta.

56
ORGANISASI TIM

Ketua : Dr. Drs. Budi Riyanto, S.H., M.Si., APU.


Sekretaris : Sukesti Iriani, S.H., M.H.
Anggota : 1. Yusmid, AP, S.H.
2. Ainur Rasyid, S.H., M.H.
3. Suradjiman, S.H., M.Hum.
4. Ismail, S.H.
5. Supriyatno, S.H., M.H.
6. Bungasan Hutapea, S.H.
7. Syahriah

57
58
LAMPIRAN

59
60
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR ... TAHUN ...
TENTANG
PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 38 Undang-


Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-
Undang, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Penggunaan Kawasan Hutan;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3888)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi
Undang-Undang (Lembaran Negara Republik In-
donesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4412);

61
MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGGUNAAN


KAWASAN HUTAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan
alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
2. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau
ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai
hutan tetap.
3. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
4. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur
tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah instrusi air
laut, dan memelihara kesuburan tanah.
5. Penggunaan kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan
untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa
mengubah fungsi dan peruntukan kawasan hutan tersebut.
6. Izin pinjam pakai kawasan hutan adalah izin yang diberikan oleh
Menteri atas penggunaan sebagian kawasan hutan produksi atau
kawasan hutan lindung untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan
kehutanan.
7. Penggunaan kawasan hutan yang bersifat non komersil adalah
pembangunan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di
luar kegiatan kehutanan yang bertujuan tidak mencari keuntungan
dan pemakai jasa tidak dikenakan tarif dalam memakai fasilitas
tersebut.

62
8. Penggunaan kawasan hutan yang bersifat komersil adalah penggunaan
kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan
kehutanan yang bertujuan mencari keuntungan dan pemakai jasa
dikenakan tarif dalam memakai fasilitas tersebut.
9. Kompensasi adalah kewajiban pemegang izin pinjam pakai kawasan
hutan untuk menyediakan dan menyerahkan lahan bukan kawasan
hutan guna dijadikan kawasan hutan atau membayar sejumlah dana
yang dijadikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Pengguanaan
Kawasan Hutan sebagai pengganti lahan kompensasi.
10. Penerimaan Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan yang
selanjutnya disebut PNBP Penggunaan Kawasan Hutan adalah
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari penggunaan
kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan
kehutanan yang berlaku pada Departemen Kehutanan sebagai pengganti
lahan kompensasi.
11. Penambangan bawah tanah di hutan lindung adalah penambangan
yang kegiatannya dilakukan di bawah tanah (tidak langsung berhubungan
dengan udara luar) dengan cara terlebih dahulu membuat jalan masuk
berupa sumuran (shaft) atau terowongan (tunnel) atau terowongan
buntu (adit) termasuk sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan
produksi di hutan lindung.
12. Reklamasi adalah usaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan
dan vegetasi dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat
penggunaan kawasan hutan agar dapat berfungsi secara optimal
sesuai dengan peruntukannya.
13. Menteri adalah Menteri yang membidangi urusan kehutanan.

Pasal 2
Penggunaan kawasan hutan bertujuan untuk:
a. membatasi dan mengatur penggunaan sebagian kawasan hutan untuk
kepentingan pembangunan di luar kehutanan.
b. menghindari terjadinya enclave di dalam kawasan hutan dan fragmentasi
pengelolaan kawasan hutan.

63
Pasal 3
(1) Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
hanya dapat dilakukan dalam:
a. kawasan hutan produksi; dan atau
b. kawasan hutan lindung.
(2) Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan.
(3) Penggunaan kawasan hutan untuk pembangunan di luar kegiatan
kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempertimbangkan
batasan luas serta memperhatikan kelestarian lingkungan.
(4) Ketentuan lebih lanjut tentang batasan luas penggunaan kawasan
hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan
Menteri.
Pasal 4
Kepentingan pembangunan di luar kehutanan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 meliputi kegiatan:
a. religi;
b. pertambangan;
c. instalasi pembangkit transmisi dan distribusi, teknologi energi baru
dan terbarukan;
d. pembangunan jaringan telekomunikasi, stasiun pemancar radio, stasiun
relay televisi;
e. jalan umum, jalan tol dan rel kereta api;
f. sarana transportasi yang tidak dikategorikan sarana transportasi umum
untuk keperluan pengangkutan hasil produksi;
g. sarana dan prasarana sumber daya air, pembangunan jaringan instalasi
air, saluran air bersih dan atau air limbah;
h. fasilitas umum;
i. budi daya pertanian tanaman keras;
j. industri penunjang pertanian tanaman keras;
k. pertahanan dan keamanan;

64
l. prasarana penunjang keselamatan umum, berupa keselamatan lalulintas
laut/udara, sarana geofisika dan meteorologi; atau
m. penanganan bencana alam.
Pasal 5
Penggunann kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, dilakukan dengan ketentuan bahwa:
a. dalam kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 ayat (1) huruf a dapat dilakukan:
1. penambangan dengan pola pertambangan terbuka; dan
2. penambangan dengan pola pertambangan bawah tanah.
b. dalam kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat 1 huruf b:
1. hanya dapat diberikan izin melakukan kegiatan penambangan
dengan pola pertambangan bawah tanah;
2. dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan
bawah tanah yang mengakibatkan:
a. turunnya permukaan tanah;
b. berubahnya fungsi pokok kawasan hutan secara permanen;
dan
c. kerusakan ekuiver air tanah.
3. dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambanan
terbuka; dan
4. penambangan dengan pola pertambangan terbuka hanya berlaku
bagi izin/perjanjian pertambangan sebagaimana ditetapkan dalam
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Pasal 6
(1) Penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan budi daya pertanian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf i hanya dilakukan pada
kawasan hutan produksi yang tidak produktif dan tidak dibebani
perizinan serta diintegrasikan dengan pengelolaan hutan.

65
(2) Pengintegrasian kegiatan budi daya pertanian dengan pengelolaan
hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan ketentuan:
a. hanya diberikan pada provinsi yang luas kawasan hutannya di
atas 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai
dan/atau pulau dan/atau provinsi;
b. bersifat sementara sesuai dengan rencana usaha pertanian; dan
c. pada akhir izin secara bertahap dilakukan penghutanan kembali
atau kombinasi tanaman pertanian dan kehutanan.
(3) Terhadap hasil produksi pertanian dalam pembangunan kawasan hutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan PNBP yang jenis
dan tarifnya diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
(4) Kawasan hutan produksi yang tidak produktif sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri.

BAB II
IZIN PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN

Bagian Kesatu
Umum
Pasal 7
(1) Penggunaan kawasan hutan dilakukan berdasarkan izin.
(2) Izin penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) terdiri atas:
a. izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi lahan;
b. izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi membayar
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Penggunaan Kawasan
Hutan sebagai pengganti lahan kompensasi; dan
c. izin pinjam pakai kawasan hutan tanpa kompensasi lahan atau
tanpa komopensasi membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP) Penggunaan Kawasan Hutan sebagai pengganti lahan
kompensasi.

66
(3) Izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf a dikenakan pada provinsi yang luas kawasan hutannya di
bawah 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai,
pulau dan/atau provinsi, dengan ketentuan untuk penggunaan kawasan
hutan yang bersifat:
a. non komersial dikenakan kompensasi lahan dengan ratio 1 : 1.
b. komersial dikenakan kompensasi lahan dengan ratio 1 : 2.
(4) Izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b dikenakan pada provinsi yang luas kawasan hutannya di
atas 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai dan/
atau pulau dan/atau, dengan ketentuan bagi penggunaan kawasan
hutan yang bersifat:
a. non komersial dikenakan kompensasi membayar Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) Penggunaan Kawasan Hutan
sebesar Rp ,- 0,00.
b. komersil dikenakan kompensasi membayar Penerimaan Negara
Bukan Pajak (PNBP) Penggunaan Kawasan Hutan sesuai tarif
yang berlaku.
(5) Izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf c diberikan untuk:
a. kegiatan pertahanan negara, sarana keselamatan lalu lintas laut/
udara, cek dam/embung/sabo, sarana geofisika dan meteorologi,
dan infrastruktur pembangunan pedesaaan.
b. kegiatan pada tahap survei, penyelidikan umum dan ekplorasi,
(6) Dalam hal kegiatan ekplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
huruf b dilakukan pengambilan contoh ruah (bulk sampling) sebagai
uji coba tambang (trial mine) untuk kepentingan kelayakan ekomoni,
maka penggunaan kawasan hutannya dikenakan kompensasi lahan
atau kompensasi membayar PNBP Penggunaan Kawasan Hutan
sebagai pengganti lahan kompensasi.
(7) Selain kegiatan pembangunan di luar kehutanan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4, pada areal kerja Badan Usaha Milik

67
Negara bidang Kehutanan di Pulau Jawa dan Madura, yang
menunjang pengelolaan hutan atau terintegrasi dengan pengelolaan
hutan, penggunaan kawasan hutan dapat dilakukan dalam bentuk
kerja sama pengelolaan kawasan hutan dengan Badan Usaha
Milik Negara di bidang Kehutanan.
(8) Ketentuan lebih lanjut tentang jenis kegiatan yang dapat dilakukan
dalam bentuk kerja sama pengelolaan kawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (7) diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri.

Pasal 8
(2) Menteri dapat melimpahkan wewenang pemberian izin pinjam pakai
kawasan hutan dengan luasan tertentu kepada Gubernur untuk
pembangunan fasilitas umum yang bersifat non komersial.
(2) Ketentuan lebih lanjut pelimpahan wewenang pemberian izin
pakai kawasan hutan kepada Gubernur diatur dengan peraturan
Menteri.

Pasal 9
(1) Penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan yang
berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis,
izin pinjam pakai kawasan hutan hanya dapat diberikan setelah mendapat
persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat.
(2) Izin pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk penggunaan kawasan
hutan yang mengakibatkan perubahan fungsi kawasan hutan.
(3) Izin pinjam pakai kawasan hutan yang mengakibatkan perubahan
fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya
untuk penggunaan kawasan hutan lindung.
(4) Penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan yang
berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan
Menteri.

68
Bagian Kedua
Tata Cara dan Persyaratan Permohonan
Pasal 10
(1) Izin pinjam pakai kawasan hutan diberikan berdasarkan permohonan
kepada Menteri.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan
oleh:
a. menteri atau pejabat setingkat menteri selain yang membidangi
urusan kehutanan;
b. gubernur atau bupati/walikota;
c. pimpinan Badan Usaha; atau
d. ketua yayasan.
(3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kegiatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a sampai dengan huruf
i harus memenuhi persyaratan:
a. administrasi; dan
b. teknis.
Pasal 11
(1) Persyaratan administrasi dan teknis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (3) paling sedikit meliputi:
a. memiliki izin sesuai peraturan perundang-undangan;
b. analisis mengenai dampak lingkungan sesuai peraturan perundang-
undangan.
(2) Perasyaratan administrasi dan teknis sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri.
Pasal 12
(1) Menteri setelah menerima permohonan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (2), meneliti kelengkapan persyaratan dan melakukan
telaahan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat
(3).

69
(2) Berdasarkan telaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri
menerbitkan surat penolakan atau surat persetujuan prinsip penggunaan
kawasan hutan.
(3) Dalam hal ini telaahan permohonan penggunaan kawasan hutan untuk
kegiatan survey atau penyelidikan umum atau ekplorasi sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan, Menteri menerbitkan izin pinjam pakai
kawasan hutan.
Pasal 13
(1) Dalam hal permohonan pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan
pertambangan pada kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9, Menteri menyampaikan permohonan izin pinjam pakai
kawasan hutan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indone-
sia untuk mendapatkan persetujuan.
(2) Berdasarkan surat Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Menteri menerbitkan persetujuan prinsip atau penolakan
penggunaan kawasan hutan.
Pasal 14
(1) Persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (2) dan Pasal 13 ayat (2) diberikan untuk
jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak diterbitkan dan dapat
diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.
(2) Persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat
kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemohon.
Pasal 15
(1) Dalam jangka waktu berlakunya persetujuan prinsip sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan Pasal 13 ayat (2), pemohon
dilarang melakukan kegiatan pembukaan kawasan hutan tanpa
dispensasi dari Menteri.
(2) Dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk
jangka waktu paling lama sesuai dengan jangka waktu persetujuan
prinsip dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.

70
Pasal 16
(1) Dalam hal pemegang persetujuan prinsip mengajukan izin pinjam
pakai kawasan hutan dan telah memenuhi seluruh kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3), Menteri menerbitkan
izin pinjam pakai kawasan.
(2) Dalam hal pemegang persetujuan prinsip mengajukan izin pinjam
pakai kawasan hutan dan tidak memenuhi seluruh kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3), Menteri menerbitkan
penolakan.
(3) Pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat melakukan kegiatan di lapangan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara dan persyaratan permohonan
diatur dalam peraturan Menteri.

Bagian Ketiga
Kewajiban Pemegang Izin Pinjam
Pakai Kawasan Hutan

Pasal 17
(1) Pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (1) paling sedikit dibebani kewajiban:
a. membayar PNBP penggunaan kawasan hutan, atau
b. membiayai penyelesaian pengukuhan kawasan hutan yang berasal
dari lahan kompensasi bagi izin pinjam pakai kawasan hutan
dengan kompensasi lahan.
(2) Izin pinjam pakai kawasan hutan sekaligus merupakan izin untuk
pemanfaatan kayu.
(3) Ketentuan lebih lanjut tentang kewajiban pemagang izin pinjam pakai
kawasan hutan diatur dalam peraturan Menteri.

71
Bagian Keempat
Jangka Waktu Izin

Pasal 18
(1) Jangka waktu izin pinjam pakai kawasan hutan untuk pembangunan
di luar kegiatan kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
ayat (1) diberikan paling lama 20 (dua puluh) tahun.
(2) Jangka waktu izin pinjam pakai kawasan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (3) diberikan sebagai berikut:
a. penyelidikan umum, survey paling lama 2 (dua) tahun;
b. eksplorasi paling lama 5 (lima) tahun.
(3) Jangka waktu izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.

BAB III
MONITORING DAN EVALUASI
Pasal 19
Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap:
a. Pemegang persetujuan prinsip pinjam pakai kawasan hutan.
b. Pemegang Izin Dispensasi pinjam pakai kawasan hutan.
c. Pemegag Izin pinjam pakai kawasan hutan.
Pasal 20
(1) Kegiatan monitoring dan evaluasi penggunaan kawasan hutan
sebagaimana dimaksud pada Pasal 19 dilaksanakan oleh Menteri.
(2) Dalam melaskanakan kegiatan monitoring dan evaluasi sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), Menteri dapat melimpahkan kepada Gubernur.
(3) Kegiatan monitoring dilakukan sebagai pembinaan agar pemegang
izin pinjam pakai kawasan hutan memenuhi kewajiban-kewajiban
sebagaimana ditetapkan dalam izin.
(4) Kegiatan evaluasi merupakan dasar peetimbangan untuk dilakukan

72
perpanjangan persetujuan prinsip atau izin dispensasi atau izin pinjam
pakai kawasan hutan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai monitoring dan evaluasi diatur dengan
peraturan Menteri.

BAB IV
HAPUSNYA IZIN
Pasal 21
Persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (2) atau izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) hapus apabila:
a. jangka waktu persetujuan prinsip atau izin pinjam pakai kawasan
hutan telah berakhir;
b. dibatalkan atau dicabut sebagai sanksi atau keputusan peradilan yang
dikenakan kepada pemegang persetujuan prinsip atau izin pinjam
pakai kawasan hutan; atau
c. diserahkan kembali oleh pemegang persetujuan prinsip atau pemegang
izin pinjam pakai kawasan hutan dengan pernyataan tertulis kepada
Menteri sebelum jangka waktu berakhir.

Pasal 22
(1) Hapusnya izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 tidak membebaskan kewajiban pemegang izin pinjam
pakai kawasan hutan untuk:
a. menyelesaikan seluruh kewajiban yang ditetapkan oleh Menteri;
dan
b. melaksanakan semua ketentuan yang ditetapkan dalam izin pinjam
pakai kawasan hutan.
(2) Pada saat hapusnya izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana
dimaksud ayat (1), sarana dan prasarana yang telah dibangun
keberadaannya diatur oleh Menteri.
(3) Dengan berakhirnya penggunaan kawasan hutan dan reklamasi telah

73
memenuhi penilaian kebersihan, maka Menteri menerbitkan Surat
Keputusan berakhirnya izin pinjam pakai kawasan hutan.
(4) Penerbitan keputusan berakhirnya izin pinjam pakai sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dilakukan setelah serah terima areal pinjam
pakai kawasan hutan.
(5) Serah terima areal pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) dilakukan antara pemegang izin pinjam pakai kawasan
hutan dengan Menteri.

BAB V
SANKSI ADMINISTRASI

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 23
Untuk menjamin kelestarian hutan, maka setiap pemegang izin pinjam
pakai kawasan hutan, apabila melanggar ketentuan di luar ketentuan
pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 78 Undang-Undang Nomor 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan, dikenakan sanksi administratif.

Pasal 24
(1) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dapat
berupa:
a. denda; atau
b. pembatalan persetujuan prisip; atau
c. pencabutan izin pinjam pakai kawasan hutan.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
oleh Menteri.
(3) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang disetorkan
ke kas negara.

74
Bagian Kedua
Sanksi Berupa Denda

Pasal 25
Sanksi administraif berupa denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal
24 ayat (1) huruf a dikenakan kepada:
a. pemegang persetuajuan prinsip penggunaan kawasan hutan yang
melakukan kegiatan pembukaan kawasan hutan tanpa dispensasi
Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1).
b. pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan yang tidak memenuhi
kewajiban yang ditetapkan dalam Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2).

Pasal 26
Denda kepada pemegang persetujuan prinsip penggunaan kawasan
hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a yaitu pelanggaran
berupa:
a. pembukaan lahan dikenakan denda sebesar 20 (dua puluh) kali tarif
tertinggi PNBP Penggunaan Kawasan Hutan sebagaiman diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2008, dan
b. penebangan pohon dikenakan denda sebanyak 20 (dua puluh) kali
Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH).

Pasal 27
(1) Denda kepada pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 huruf b berupa pelanggaran terhadap
pembayaran PNBP Penggunaan Kawasan Hutan dikenakan akibat
kekurangan bayar atau keterlambatan.
(2) Kekurangan bayar atau keterlambatan pembayaran PNBP penggunaan
kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi
denda administrasi sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling
lama 24 (dua puluh empat) bulan dari jumlah kekurangan tersebut.
(3) Pelanggaran terhadap kewajiban selain pembayaran PNBP Penggunaan
Kawasan Hutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.

75
Bagian Ketiga
Sanksi Berupa Pembatalan dan Pencabutan

Pasal 28
(1) Persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (2) dapat dibatalkan oleh Menteri apabila:
a. tidak memenuhi kewajiban dalam tenggang waktu yang telah
diberikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2)
b. membuka kawasan hutan sebelum mendapat izin dispensasi dari
Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2).
(2) Pembatalan persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan setelah diberikan
peringatan tertutlis oleh Menteri sebanyak 3 (tiga) kali masing-
masing dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk setiap
kali peringatan.

Pasal 29
(1) Izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
16 ayat (1) dapat dicabut oleh Menteri dengan ketentuan:
a. tidak melaksanakan kewajiban yang ditetapkan dalam izin pinjam
pakai kawasan hutan;
b. menelantarkan kawasan hutan yang dipinjam pakai;
c. memindahtangankan izin pinjam pakai kawasan hutan kepada
pihak lain tanpa persetujuan Menteri;
d. menggunakan kawasan hutan tidak sesuai dengan izin pinjam
pakainya; atau
e. tidak membayar denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28.
(2) Pencabutan keputusan izin pinjam pakai kawasan hutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan setelah diberikan
peringatan tertulis oleh Menteri sebanyak 3 (tiga) kali masing-
masing dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk setiap
kali peringatan.

76
(3) Terhadap izin pinjam pakai kawasan hutan yang telah dicabut
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemegang izin pinjam pakai
kawasan hutan wajib menyelesaikan kewajiban reklamasi dan/atau
reboisasi pada kawasan hutan yang telah dibuka.

Pasal 30
Tata cara pengenaan sanksi administratif terhadap pemegang izin
pinjam pakai kawasan hutan, sebagaimana diatur dalam Pasal 23 sampai
dengan Pasal 29 diatur dengan peraturan Menteri.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 31

Dengan berlakunya peraturan pemerintah ini:


(1) Apabila kawasan hutan yang dipinjam pakai terjadi perubahan fungsi
dan menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan dinyatakan dilarang dilakukan penggunaan kawasan hutan,
maka perjanjian pinjam pakai atau izin pinjam pakai kawasan hutan
tetap berlaku sampai berakhirnya jangka waktu perjanjian/izin dan
izin tersebut dapat diperpanjang sesuai dengan jangka waktu izin
sektornya.
(2) Bagi perizinan atau perjanjian kagiatan di luar kehutanan dan berada
di luar kawasan hutan tetapi dalam perjalanannya menjadi kawasan
hutan maka diberikan izin pinjam pakai kawasan hutan dengan jangka
waktu sesuai izin perjanjian dimaksud dan tidak dibebani kewajiban
pinjam pakai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18.
(3) Perpanjangan kegiatan pembangunan di luar kehutanan sebagaimana
dimaksud ayat (1) dan ayat (2) mengikuti ketentuan dalam peraturan
pemerintah ini.
(4) Apabila kawasan hutan yang dipinjam pakai berubah peruntukan
menjadi bukan kawasan hutan maka perjanjian pinjam pakai atau
izin pinjam pakai kawasan hutan menjadi berakhir.

77
(5) Terhadap persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan yang telah
terbit sebelum berlakunya peraturan pemerintah ini diatur sebagai
berikut:
a. Persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan, baik berada
dalam kawasan hutan lindung dan atau hutan produksi dinyatakan
tidak berlaku apabila:
1) jangka waktu telah berakhir,
2) belum menyediakan lahan kompensasi; dan
3) belum operasional di lapangan
b. Persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan, baik berada
dalam kawasan hutan lindung dan atau hutan produksi diproses
sesuai dengan ketentuan dalam peraturan pemerintah ini apabila:
1) jangka waktu telah berakhir tetapi telah menyediakan lahan
kompensasi, atau
2) belum dibebani kewajiban kompensasi baik kompensasi lahan
atau melakukan reboisasi pada areal bukan pinjam pakai
kawasan hutan.
(6) Terhadap perjanjian pinjam pakai kawasan hutan yang telah terbit
sebelum berlakunya peraturan ini, diatur sebagai berikut:
a. perjanjian pinjam pakai kawasan hutan, baik berada dalam
kawasan hutan lindung dan atau hutan produksi dinyatakan
berakhir apabila:
1) jangka waktu telah berakhir;
2) belum menyediakan lahan kompensasi atau melakukan reboisasi
pada areal bukan pinjam pakai kawasan hutan; dan
3) belum operasional di lapangan.
b. Perjanjian pinjam pakai kawasan hutan, baik berada dalam
kawasan lindung dan atau hutan produksi diubah menjadi izin
pinjam pakai kawasan hutan apabila:
1) jangka waktu masih berlaku, dan

78
2) belum dibebani kewajiban menyediakan lahan kompensasi
atau melakukan reboisasi pada areal bukan pinjam pakai
kawasan hutan.
c. Perjanjian pinjam pakai kawasan hutan, baik berada dalam
kawasan lindung dan atau hutan produksi dapat diterbitkan izin
pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi lahan atau
membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Penggunaan Kawasan Hutan sebagai pengganti lahan kompensasi
apabila:
1) jangka waktu sudah berakhir;
2) belum dibebani kewajiban menyediakan lahan kompensasi
atau melakukan reboisasi pada areal bukan pinjam pakai
kawasan hutan; dan
3) masih operasional di lapangan.
(7) Untuk kegiatan budi daya pertanian tanaman keras di dalam kawasan
hutan yang telah ada sebelum ketentuan ini dan belum HGU dapat
diberikan izin pinjam pakai kawasan hutan selama 1 (satu) daur
dengan tidak mengabaikan proses hukumnya.

Pasal 32
Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, maka peraturan
pelaksanaan yang mengatur pinjam pakai kawasan hutan dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan, diubah atau diganti berdasarkan
Peraturan Pemerintah ini.

BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 33
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia.

79
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal...

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal...

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


REPUBLIK INDONESIA,

PATRIALIS AKBAR

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN...


NOMOR...

80
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR... TAHUN...
TENTANG

PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN

I. UMUM
Hutan sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan
keberadaannya harus dipertahankan secara optimal dengan luasan
yang cukup dan dijaga agar daya dukunnya tetap lestari. Pembangunan
kehutanan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional
yang tidak terpisahkan sehingga harus selaras dengan dinamika
pembangunan nasional.
Penggunaan kawasan hutan bertujuan untuk membatasi dan mengatur
penggunaan sebagian kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan
di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah fungsi pokok kawasan
hutan dan menghindari terjadinya enclave di dalam kawasan hutan
serta menghindari fragmentasi pengelolaan kawasan hutan.
Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar
kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan dalam kawasan hutan
produksi dan kawasan hutan lindung.
Pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang dapat menggunakan
kawasan hutan meliputi kegiatan religi, pertambangan, instalasi
pembangkit transmisi dan distribusi, teknologi energi baru dan terbarukan,
pembangunan jaringan telekomunikasi, stasiun pemancar radio, stasiun
relay televisi, jalan umum, jalan tol dan rel kereta api, sarana transportasi
yang tidak dikategorikan sarana transportasi umum untuk keperluan
pengangkutan hasil produksi, sarana dan prasarana sumber daya air,
pembangunan jaringan instalasi air, saluran air bersih dan atau air
limbah, fasilitas umum, budi daya pertanian, pertahanan dan keamanan,

81
prasarana penunajang keselamatan umum, berupa keselamatan lalulintas
laut/udara, sarana geofisika dan meteorologi, atau penanganan bencana
alam.
Kegiatan yang menggunakan kawasan hutan harus mempertimbangkan
batasan luas dan kelestarian lingkungan alam yang berada disekitarnya.
Kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan serius dan
mengakibatkan hilangnya fungsi hutan yang bersangkutan, dilarang.
Pada wilayah yang kawasan hutannya kurang dari 30% (tiga puluh
perseratus) dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau/provinsi dengan
secaran yang proporsional, serta dalam rangka tanggung jawab terhadap
keberadaan kawasan hutan maka pengguna kawasan hutan dibebani
kompensasi berupa menyediakan lahan untuk dijadikan sebagai kawasan
hutan. Selain daripada itu pengguna harus melaksanakan rehabilitasi,
reklamasi dan pemeliharaan atas kawasan hutan yang digunakan.
Penggunaan kawasan hutan diberikan oleh Menteri dalam bentuk
izin pinjam pakai kawasan hutan. Izin pinjam pakai kawasan hutan
terdiri dari:
a. izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi lahan;
b. izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi membayar
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Penggunaan Kawasan
Hutan sebagai pengganti lahan kompensasi; atau
c. izin pinjam pakai kawasan hutan tanpa kompensasi lahan atau
kompensasi membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Penggunaan Kawasan Hutan sebagai pengganti lahan kompensasi.
Izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi lahan dikenankan
pada provinsi yang luas kawasan hutannya di bawah 30% (tiga
puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai dan/atau pulau dan/
atau provinsi, dengan ketentuan untuk penggunaan kawasan hutan
yang bersifat:
a. non komersial dikenakan kompensasi lahan dengan ratio 1 : 1.
b. Komersial dikenakan kompensasi lahan dengan ratio 2 : 1.
Izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi membayar
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Penggunaan Kawasan

82
Hutan sebagai pengganti lahan kompensasi dikenakan pada provinsi
yang luas kawasan hutannya di atas 30% (tiga puluh perseratus)
dari luas daerah aliran sungai dan/atau pulau dan/atau dengan ketentuan
bagi penggunaan kawasan hutan yang bersifat:
a. non komersial dikenakan kompensasi membayar Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) Penggunaan Kawasan Hutan
sebesar Rp ,- 0,00.
b. komersial dikenakan kompensasi membayar Penerimaan Negara
Bukan Pajak (PNBP) Pembangunan Kawasan Hutan sesuai
tarif yang berlaku.
Izin pinjam pakai kawasan hutan tanpa kompensasi lahan atau
kompensasi membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Penggunaan Kawasan Hutan, dikenanakan bagi penggunaan kawasan
hutan untuk:
a. kegiatan pertahanan negara, sarana keselamatan lalu lintas laut/
udara, cek dam/embung/sabo, sarana geofisika dan meteorologi,
dan infrastruktur pembangunan pedesaan.
b. kegiatan pada tahap survey, penyelidikan umum dan eksplorasi.
Sehubungan dengan itu, dalam rangka pengaturan dan untuk memberikan
pedoman bagi pelaksanaan penggunaan kawasan hutan, perlu ditetapkan
Peraturan Pemerintah tentang Penggunaan Kawasan Hutan ini.

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Huruf a
Termasuk dalam kegiatan kepentingan religi, antara lain, tempat
ibadah, kuburan, dan wisata rohani.

83
Huruf b
Kegiatan pertambangan meliputi migas, mineral, batu bara, dan
panas bumi.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Termasuk dalam kegiatan pertahanan dan keamanan, antara
lain, pusat latihan tempur, radar, menara pengintai dan
sejenisnya.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Penanganan bencana alam, untuk pembangunan yang
bersifat sementara, antara lain untuk relokasi darurat korban
bencana.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.

84
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Yang dimaksud dengan contoh ruah adalah suatu kegiatan
eksplorasi tambang untuk mengambil contoh mineral dan batu
bara.
Ayat (8)
Cukup jelas
Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan perubahan fungsi kawasan hutan adalah
adanya perubahan fungsi pokok pada hutan lindung sebagai perlindungan
sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara
kesuburan tanah.
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 10
Cukup jelas.

85
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan dalam
ketentuan ini adalah peraturan perundangan di bidang
kehutanan.
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Pemanfatan hasil hutan kayu dan non kayu pada areal pinjam
pakai kawasan hutan, sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 18
Cukup jelas
Pasal 19
Cukup jelas

86
Pasal 20
Cukup jelas
Pasal 21
Cukup jelas
Pasal 22
Cukup jelas
Pasal 23
Cukup jelas
Pasal 24
Cukup jelas
Pasal 25
Cukup jelas
Pasal 26
Cukup jelas
Pasal 27
Cukup jelas
Pasal 28
Cukup jelas
Pasal 29
Cukup jelas
Pasal 30
Cukup jelas
Pasal 31
Cukup jelas
Pasal 32
Cukup jelas

87
Pasal 33
Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


NOMOR ..

88
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR... TAHUN...
TENTANG
TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN
DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 Undang-


Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-
Undang, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan
Hutan;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indone-
sia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3888)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara

89
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4412);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA
CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN
FUNGSI KAWASAN HUTAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan
alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
2. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau
ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai
hutan tetap.
3. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan
dan satwa serta ekosistemnya.
4. Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga
berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.
5. Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu
yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
6. Taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat
wisata berburu.

90
7. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur
tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air
laut, dan memelihara kesuburan tanah.
8. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
9. Hutan Produksi Tetap adalah kawasan hutan dengan faktor-faktor
kelas lereng, jenis tanah, dan intensitas hujan setelah masing-masing
dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai di bawah
125, di luar kawasan lindung, hutan suaka alam, hutan pelestarian
alam, dan taman buru.
10. Hutan Produksi Terbatas adalah kawasan hutan dengan faktor-faktor
kelas lereng, jenis tanah, dan intensitas hujan setelah masing-masing
dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai antara
125-174 di luar kawasan lindung, hutan suaka alam, hutan pelestarian
alam, dan taman buru.
11. Hutan Produksi yang dapat dikonversi adalah kawasan hutan yang
secara ruang dicadangkan untuk digunakan bagi pembangunan di
luar kehutanan.
12. Hutan Tetap adalah kawasan hutan yang akan dipertahankan
keberadaannya sebagai kawasan hutan, terdiri dari hutan konservasi,
hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap.
13. Perubahan peruntukan kawasan hutan adalah perubahan kawasan
hutan menjadi bukan kawasan hutan.
14. Perubahan fungsi kawasan hutan adalah perubahan sebagian atau
seluruh fungsi hutan dalam satu atau beberapa kelompok hutan menjadi
fungsi kawasan hutan yang lain.
15. Tukar menukar kawasan hutan adalah perubahan kawasan hutan
produksi tetap dan/atau hutan produksi terbatas menjadi bukan kawasan
hutan yang diimbangi dengan memasukkan tanah pengganti dari bukan
kawasan hutan menjadi kawasan hutan.
16. Pelepasan kawasan hutan adalah perubahan peruntukan kawasan
hutan produksi yang dapat dikonversi menjadi kawasan bukan hutan.

91
17. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan
satu kesatuan dengan sungai dan anak sungainya, yang berfungsi
menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah
hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan
pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan
yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
18. Perubahan yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta
bernilai strategis adalah perubahan yang berpengaruh terhadap kondisi
biofisik seperti perubahan iklim, ekosistem, dan gangguan tata air,
serta dampak sosial ekonomi masyarakat bagi kehidupan generasi
sekarang dan generasi yang akan datang.
19. Penelitian Terpadu adalah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga
Pemerintah yang mempunyai kompetensi dan memiliki otoritas ilmiah
(scientific autority) bersama-sama dengan pihak lain yang terkait.
20. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang kehutanan.

Pasal 2
Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dilakukan untuk
memenuhi tuntutan dinamika pembangunan nasional serta aspirasi
masyarakat dengan tetap berlandaskan pada optimalisasi distribusi fungsi,
manfaat kawasan hutan secara lestari dan berkelanjutan, serta keberadaan
kawasan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional.

Pasal 3
Lingkup pengaturan dalam peraturan pemerintah ini meliputi:
a. perubahan peruntukan kawasan hutan; dan
b. perubahan fungsi kawasan hutan.

Pasal 4
(1) Kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 meliputi kawasan
hutan yang memiliki fungsi pokok sebagai hutan konservasi, hutan
lindung, dan hutan produksi.

92
(2) Kawasan hutan konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. kawasan suaka alam, terdiri atas:
1. cagar alam; dan
2. suaka margasatwa.
b. kawasan pelestarian alam, terdiri atas:
1. taman nasional;
2. taman wisata alam; dan
3. taman hutan raya.
c. taman buru.
(3) Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri
atas:
a. hutan produksi terbatas;
b. hutan produksi tetap; dan
c. hutan produksi yang dapat dikonservasi.

Pasal 5
Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ditetapkan oleh Menteri dengan didasarkan pada hasil
penelitian terpadu.

BAB II
PERUBAHAN PERUNTUKAN KAWASAN HUTAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 6
Perubahan peruntukan kawasan hutan dapat dilakukan:
a. secara parsial; dan
b. untuk wilayah provinsi.

93
Bagian Kedua
Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Secara Parsial

Paragraf 1
Umum

Pasal 7
Perubahan peruntukan kawasan hutan secara parsial sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 huruf a dilakukan melalui:
a. tukar menukar kawasan hutan; atau
b. pelepasan kawasan hutan.

Pasal 8
(1) Perubahan peruntukan kawasan hutan secara parsial sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 dilakukan berdasarkan permohonan.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diajukan
oleh:
a. menteri atau pejabat setingkat menteri;
b. gubernur atau bupati/walikota;
c. pimpinan badan usaha; atau
d. ketua yayasan.

Pasal 9
(1) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus memenuhi
persayaratan administrasi dan teknis.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan administrasi dan teknis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan Menteri.

Paragraf 2
Tukar Menukar Kawasan Hutan

Pasal 10
Perubahan peruntukan yang dilakukan melalui tukar menukar kawasan
hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a hanya dapat dilakukan
pada:

94
a. hutan produksi tetap; dan/atau
b. hutan produksi terbatas.

Pasal 11
(1) Tukar menukar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
10 dilakukan untuk:
a. pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang bersifat permanen;
b. menghilangkan enclave dalam rangka memudahkan pengelolaan
kawasan hutan; atau
c. memperbaiki batas kawasan hutan.
(2) Jenis pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang bersifat permanen
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan oleh Menteri
setelah berkoordinasi dengan menteri terkait.

Pasal 12
(1) Tukar menukar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11 ayat (1) dilakukan dengan ketentuan:
a. tetap terjaminnya luas kawasan hutan paling sedikit 30% (tiga
puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai, pulau, dan/atau
provinsi dengan sebaran yang proporsional; dan
b. mempertahankan daya dukung kawasan hutan tetap layak kelola.
(2) Dalam hal luas kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a kurang dari 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah
aliran sungai, pulau dan/atau provinsi dengan sebaran yang proporsional,
tukar menukar kawasan hutan dengan lahan pengganti yang bukan
kawasan hutan dilakukan dengan ratio paling sedikit 1 : 2, kecuali
tukar menukar kawasan hutan untuk menampung korban bencana
alam dan untuk kepentingan umum terbatas dapat dilakukan dengan
ratio paling sedikit 1 : 1.
(3) Dalam hal luas kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a di atas 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran
sungai, pulau dan/atau provinsi dengan sebaran proporsional, tukar

95
menukar kawasan hutan dengan lahan pengganti yang bukan kawasan
hutan dilakukan dengan ratio paling sedikit 1 : 1.
(4) Lahan pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
wajib memenuhi persyaratan:
a. letak, luas, dan batas lahan penggantinya jelas;
b. letaknya berbatasan langsung dengan kawasan hutan;
c. terletak dalam daerah aliran sungai, pulau, dan/atau provinsi
yang sama;
d. dapat dihutankan kembali dengan cara konvensional;
e. tidak dalam sengketa dan bebas dari segala jenis pembebanan
dan hak tanggungan; dan
f. rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota.
(5) Kepentingan umum terbatas dan ratio tukar menukar kawasan hutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh
Menteri.

Pasal 13
(1) Permohonan tukar menukar kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (2) diajukan oleh pemohon kepada Menteri.
(2) Dalam hal permohonan telah sesuai dengan persyaratan administrasi
dan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, Menteri membentuk
Tim Terpadau.
(3) Tim Terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan
hasil penelitian dan rekomendasi kepada Menteri.
(4) Kenggotaan, tugas dan biaya Tim Terpadu sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri setelah
berkoordinasi dengan menteri terkait.
(5) Dalam hal tukar menukar kawasan hutan dengan luas paling banyak
2 (dua) hektar dan untuk kepentingan umum terbatas yang
dilaksanakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah, Menteri
membentuk tim yang anggotanya dari kementerian yang membidangi
urusan kehutanan.

96
(6) Berdasarkan hasil penelitian dan rekomendasi Tim Terpadu sebagaimana
dimaksud pada ayat (3), Menteri menerbitkan persetujuan prinsip
atau surat penolakan.

Pasal 14
Dalam hal berdasarkan hasil penelitian dan rekomendasi Tim Terpadu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3), rencana kegiatan perubahan
peruntukan kawasan hutan mempunyai dampak penting dan cakupan
yang luas serta bernilai strategis, Menteri sebelum menerbitkan persetujuan
prinsip, harus meminta persetujuan terlebih dahulu dari Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia.
Pasal 15
(1) Persetujuan prinsip tukar menukar kawasan hutan diberikan untuk
jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak diterbitkannya persetujuan
prinsip oleh Menteri dan dapat diperpanjang paling banyak 2 (dua)
kali masing-masing untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.
(2) Persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat
kewajiban bagi pemohon paling sedikit:
a. menyelesaikan clear and clean calon lahan pengganti;
b. menandatangani berita acara tukar menukar kawasan hutan;
c. menanggung biaya tata batas terhadap kawasan hutan yang
dimohon dan lahan pengganti yang diusulkan; dan
d. menanggung biaya reboisasi terhadap calon tanah pengganti.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban bagi pemohon sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri.
(4) Pemohon dilarang memindahtangankan persetujuan prinsip tukar
menukar kawasan hutan kepada pihak lain tanpa persetujuan Menteri.

Pasal 16
(1) Dalam hal pemegang persetujuan prinsip telah menyelesaikan kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2), Menteri dan pemohon
menandatangani berita acara tukar menukar kawasan hutan.

97
(2) Berdasarkan berita acara tukar menukar kawasan hutan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Menteri menerbitkan keputusan penunjukan
lahan pengganti sebagai kawasan hutan.

Pasal 17
(1) Setelah memperoleh keputusan penunjukan kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2), pemohon dalam jangka waktu
paling lama 1 (satu) tahun, wajib:
a. melaksanakan reboisasi atau penghutanan atas lahan pengganti;
dan
b. melaksanakan tata batas atas lahan pengganti dan kawasan
hutan yang dimohon.
(2) Hasil pelaksanaan tata batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b masing-masing dituangkan dalam berita acara dan peta hasil
tata batas yang ditandatangani oleh panitia tata batas kawasan hutan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(3) Berdasarkan berita acara dan peta hasil tata batas sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), Menteri menerbitkan keputusan penetapan
lahan pengganti sebagai kawasan hutan dan keputusan pelepasan
kawasan hutan yang dimohon.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan reboisasi atau penghutanan
dan tata batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
peraturan Menteri.

Pasal 18
(1) Sebelum diterbitkannya keputusan penetapan lahan pengganti sebagai
kawasan hutan dan keputusan pelepasan kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3), pemohon dilarang melakukan
kegiatan dalam kawasan hutan yang dimohon.
(2) Kegiatan dalam kawasan hutan yang dimohon hanya dapat dilakukan
setelah mendapat dispensasi dari Menteri.
(3) Dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat diberikan
secara terbatas dalam rangka persiapan kegiatan tukar menukar.

98
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian dispensasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri.

Paragraf 3
Pelepasan Kawasan Hutan

Pasal 19
(1) Pelepasan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
huruf b hanya dapat dilakukan pada hutan produksi yang dapat dikonvensi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c.
(2) Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak dapat diproses pelepasannya pada provinsi yang
luas kawasan hutannya kurang dari 30% (tiga puluh perseratus),
kecuali dengan cara tukar menukar.
(3) Hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), baik dalam keadaan berhutan maupun tidak berhutan.
(4) Pelepasan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan
kehutanan.
(5) Jenis kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 20
(1) Permohonan pelepasan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 ayat (1) dan ayat (2) diajukan oleh pemohon kepada
Menteri.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.
Pasal 21
Menteri setelah menerima permohonan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 20, meneliti kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9, dapat menerbitkan surat penolakan atau menerbitkan persetujuan
prinsip pelepasan kawasan hutan.

99
Pasal 22
(1) Persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21 diberikan untuk jangka waktu paling lama 1 (satu)
tahun sejak diterbitkannya persetujuan prinsip oleh Menteri dan dapat
diperpanjang paling banyak 2 (dua) kali masing-masing untuk jangka
waktu paling lama 6 (enam) bulan.
(2) Pemegang persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan wajib:
a. menyelesaikan tata batas kawasan hutan yang dimohon; dan
b. mengamankan kawasan hutan yang dimohon.
(3) Tata batas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a hasilnya
dituangkan dalam berita acara dan peta hasil tata batas yang
ditandatangani oleh panitia tata batas kawasan hutan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(4) Pemohon dilarang memindahtangankan persetujuan prinsip pelepasan
kawasan hutan kepada pihak lain tanpa persetujuan Menteri.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tata batas kawasan
hutan yang akan dilepas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur
dengan peraturan Menteri.
Pasal 23
(1) Dalam jangka waktu berlakunya persetujuan prinsip sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1), pemohon dilarang melakukan
kegiatan di kawasan hutan tanpa dispensasi dari Menteri.
(2) Dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan
kepada pemohon dalam rangka pelaksanaan kegiatan persiapan berupa
pembibitan, persemaian, dan/atau prasarana dengan luasan yang sangat
terbatas.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian dispensasi diatur dengan
peraturan Menteri.
Pasal 24
Berdasarkan berita acara dan peta hasil tata batas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3), Menteri menerbitkan keputusan
pelepasan kawasan hutan yang dimohon.

100
Pasal 25
Berdasarkan keputusan Menteri tentang pelepasan kawasan hutan
dan persyaratan lain telah dipenuhi, instansi yang berwenang di bidang
pertanahan menerbitkan sertifikat Hak Atas Tanah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 26
Pemanfaatan kayu atas kawasan hutan yang telah diberikan dispensasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) dan dilepaskan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24, diatur lebih lenjut dengan Peraturan Menteri.

Pasal 27
Setiap perubahan peruntukan kawasan hutan secara parsial yang
memperoleh keputusan pelepasan kawasan hutan dari Menteri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) dan Pasal 24 dapat melakukan kegiatan
sesuai peraturan perundang-undangan.

Pasal 28
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara permohonan pelepasan
kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 diatur dengan peraturan Menteri.

Bagian Ketiga
Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Wilayah Provinsi

Paragraf 1
Umum

Pasal 29
Perubahan peruntukan kawasan hutan untuk wilayah provinsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b dapat dilakukan pada:
a. hutan konservasi;
b. hutan lindung; atau
c. hutan produksi.

101
Pasal 30
(1) Perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi dilakukan
berdasarkan usulan dari gubernur kepada Menteri.
(2) Usulan perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diintegrasikan oleh gubernur
dalam revisi rencana tata ruang wilayah provinsi.
(3) Gubernur dalam mengajukan usulan perubahan peruntukan kawasan
hutan wajib melakukan konsultasi teknis dengan Menteri.
(4) Tata cara konsultasi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diatur dengan peraturan Menteri.

Paragraf 2
Tata Cara Perubahan Peruntukan
Kawasan Hutan Wilayah Provinsi
Pasal 31
(1) Menteri setelah menerima usulan perubahan peruntukan kawasan
hutan wilayah provinsi dari gubernur, melakukan telaahan teknis.
(2) Berdasarkan hasil telaahan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Menteri membentuk Tim Terpadu.
(3) Kenggotaan, tugas dan biaya Tim Terpadu sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan
menteri terkait.
(4) Tim Terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan
hasil penelitian dan rekomendasi terhadap perubahan peruntukan
kawasan hutan kepada Menteri.
(5) Dalam hal hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
usulan perubahan peruntukan kawasan hutan berpotensi menimbulkan
dampak dan/atau risiko lingkungan wajib melaksanakan kajian lingkungan
hidup strategis.
(6) Menteri menyampaikan hasil penelitian Tim Terpadu kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk mendapatkan persetujuan,
baik terhadap sebagian atau keseluruhan kawasan hutan yang diusulkan.

102
(7) Dalam hal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menyetujui
hasil penelitian Tim Terpadu, Menteri menerbitkan keputusan tentang
perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi.
(8) Dalam hal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menolak
hasil penelitian Tim Terpadu, Menteri menerbitkan surat penolakan
usulan perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi.

Pasal 32
Keputusan Menteri tentang perubahan peruntukan kawasan hutan
wilayah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (7)
diintegrasikan oleh gubernur dalam revisi rencana tata ruang wilayah
provinsi yang dilakukan untuk ditetapkan dalam peraturan daerah provinsi.

BAB III
PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 33
(1) Perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 huruf b dilakukan untuk memantapkan dan mengoptimalkan fungsi
kawasan hutan.
(2) Perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan pada hutan dengan fungsi pokok:
a. hutan konservasi;
b. hutan lindung; dan
c. hutan produksi.
(3) Perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan secara:
a. parsial; atau
b. wilayah provinsi.

103
Pasal 34
Perubahan fungsi kawasan hutan menjadi hutan produksi yang dapat
dikonversi tidak dapat dilakukan pada provinsi yang luas kawasan hutannya
kurang dari 30% (tiga puluh perseratus).

Bagian Kedua
Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Secara Parsial

Paragraf 1
Umum
Pasal 35
Perubahan fungsi kawasan hutan secara parsial sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 33 ayat (3) huruf a dilakukan melalui perubahan fungsi:
a. antar fungsi pokok kawasan hutan; atau
b. dalam fungsi pokok kawasan hutan.

Paragraf 2
Perubahan Fungsi Antar Fungsi Pokok Kawasan Hutan
Pasal 36
Perubahan fungsi antar fungsi pokok kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 huruf a, meliputi perubahan fungsi dari:
a. kawasan hutan konservasi menjadi kawasan hutan lindung dan/atau
kawasan hutan produksi;
b. kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan konservasi dan/atau
kawasan hutan produksi;
c. kawasan hutan produksi menjadi kawasan hutan konservasi dan/
atau kawasan hutan lindung.

Pasal 37
Perubahan fungsi kawasan hutan konservasi menjadi kawasan hutan
lindung dan/atau kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 36 huruf a wajib memenuhi ketentuan:

104
a. tidak memenuhi seluruh kriteria sebagai kawasan hutan konservasi
sesuai peraturan perundang-undangan; dan
b. memenuhi kriteria hutan lindung atau hutan produksi sesuai peraturan
perundang-undangan.
Pasal 38
Perubahan fungsi kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan
konservasi dan/atau kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 36 huruf b wajib memenuhi ketentuan:
a. tidak memenuhi kriteria sebagai kawasan hutan lindung sesuai peraturan
perundang-undangan khusus untuk diubah menjadi hutan produksi;
b. memenuhi kriteria hutan konservasi atau hutan produksi sesuai peraturan
perundang-undangan.
Pasal 39
Perubahan fungsi kawasan hutan produksi menjadi kawasan hutan
konservasi dan/atau kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 36 huruf c wajib memenuhi kriteria sebagai hutan konservasi atau
hutan lindung sesuai peraturan perundang-undangan.

Paragraf 3
Perubahan Fungsi Dalam Fungsi Pokok Kawasan Hutan

Pasal 40
Perubahan fungsi dalam fungsi pokok kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 huruf b, dilakukan dalam kawasan:
a. hutan konservasi; atau
b. hutan produksi.
Pasal 41
(1) Perubahan fungsi dalam fungsi pokok kawasan hutan konservasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf a, meliputi perubahan
dari:
a. kawasan cagar alam menjadi kawasan suaka margasatwa, taman
nasional, taman hutan raya, taman wisata alam atau taman buru;

105
b. kawasan suaka margasatwa menjadi kawasan cagar alam, taman
nasional, taman hutan raya, taman wisata alam atau taman buru;
c. kawasan taman nasional menjadi kawasan cagar alam, suaka
margasatwa, taman hutan raya, taman wisata alam atau taman
buru;
d. kawasan taman hutan raya menjadi kawasan cagar alam, suaka
margasatwa, taman nasional, taman wisata alam atau taman
buru;
e. kawasan taman wisata alam menjadi kawasan cagar alam, suaka
margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, atau taman
buru; atau
f. kawasan taman buru menjadi kawasan cagar alam, suaka
margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, atau taman
wisata alam.
(2) Perubahan fungsi dalam fungsi pokok kawasan hutan konservasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hanya dapat dilakukan dalam
hal:
a. sudah terjadi perubahan kondisi biofisik kawasan hutan akibat
fenomena alam, lingkungan atau manusia;
b. diperlukan jangka benah untuk optimalisasi fungsi dan manfaat
kawasan hutan; atau
c. cakupan luasnya sangat kecil dan dikelilingi oleh lingkungan sosial
dan ekonomi akibat pembangunan di luar kegiatan kehutanan
yang tidak mendukung kelangsungan proses ekologi secara alami.

Pasal 42
(1) Perubahan fungsi dalam fungsi pokok kawasan hutan produksi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b, meliputi perubahan
dari:
a. hutan produksi terbatas menjadi hutan produksi tetap dan/atau
hutan produksi yang dapat dikonversi;
b. hutan produksi tetap menjadi hutan produksi terbatas dan/atau
hutan produksi yang dapat dikonversi;

106
c. hutan produksi yang dapat dikonversi menjadi hutan produksi
terbatas dan/atau hutan produksi tetap.
(2) Perubahan fungsi dalam fungsi pokok kawasan hutan produksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selain tidak memenuhi kriteria
fungsi kawasan hutan sesuai peraturan perundang-undangan, hanya
dapat dilakukan dalam hal:
a. untuk memenuhi kebutuhan luas hutan produksi optimal untuk
mendukung stabilitas ketersediaan bahan baku industri pengolahan
kayu; atau
b. jangka benah fungsi kawasan hutan.

Paragraf Keempat
Tata Cara Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Secara Parsial

Pasal 43
(1) Perubahan fungsi kawasan hutan secara parsial sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 33 ayat (3) huruf a ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
(2) Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan
berdasarkan usulan yang diajukan oleh:
a. bupati/walikota, untuk kawasan hutan yang berada dalam satu
kabupaten/kota; atau
b. gubernur, untuk kawasan hutan lintas kabupaten/kota.
(3) Persyaratan usulan perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri.

Pasal 44
(1) Menteri setelah menerima usulan perubahan fungsi kawasan hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) membentuk Tim
Terpadu.
(2) Kenggotaan, tugas dan biaya Tim Terpadu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan peraturan Menteri setelah berkoordinasi
dengan menteri terkait.

107
(3) Tim Terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan
hasil penelitian dan rekomendasi kepada Menteri.
(4) Menteri berdasarkan hasil penelitian dan rekomendasi Tim Terpadu
sebagaimana dimaksud pada ayat (3), menerbitkan keputusan tentang
perubahan fungsi kawasan hutan atau surat penolakan.

Bagian Ketiga
Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Wilayah Provinsi
Pasal 45
Perubahan fungsi kawasan hutan wilayah provinsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) huruf b dilakukan pada kawasan
hutan dengan fungsi pokok:
a. hutan konservasi;
b. hutan lindung; dan
c. hutan produksi.
Pasal 46
Tata cara perubahan fungsi kawasan hutan wilayah provinsi berlaku
mutatis mutandis ketentuan Pasal 31 dan Pasal 32,
Pasal 47
Setiap perubahan fungsi kawasan hutan secara parsial yang memperoleh
keputusan perubahan fungsi kawasan hutan dari Menteri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 44 ayat (4) dapat melakukan pengelolaan dan/
atau kegiatan sesuai fungsinya sesuai peraturan perundang-undangan.

BAB IV
PERUBAHAN PERUNTUKAN KAWASAN HUTAN
YANG BERDAMPAK PENTING DAN CAKUPAN
YANG LUAS SERTA BERNILAI STRATEGIS
Pasal 48
(1) Perubahan peruntukan kawasan hutan yang berdampak penting dan
cakupan yang luas serta bernilai strategis merupakan perubahan
peruntukan kawasan hutan yang menimbulkan pengaruh terhadap:

108
a. kondisi biofisik; dan
b. kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
(2) Perubahan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi biofisik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan perubahan
yang mengakibatkan penurunan atau peningkatan kualitas iklim atau
ekosistem dan/atau tata air.
(3) Perubahan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi sosial dan
ekonomi masyarakat bagi kehidupan generasi sekarang dan yang
akan datang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan
perubahan yang mengakibatkan penurunan atau peningkatan sosial
dan ekonomi masyarakat.
(4) Perubahan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi biofisik
serta dampak sosial dan ekonomi masyarakat sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) terdiri atas 2 (dua) kategori yaitu:
a. berpengaruh; atau
b. tidak berpengaruh.
(5) Perubahan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi biofisik
serta dampak sosial dan ekonomi masyarakat didasarkan pada pedoman
dan kriteria.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman dan kriteria pengelompokan
kategori sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) diatur
dengan peraturan Menteri.

BAB V
SANKSI
Pasal 49
(1) Persetujuan prinsip tukar menukar kawasan hutan dapat dibatalkan
oleh Menteri apabila:
a. tidak memenuhi kewajiban dalam tenggang waktu yang diberikan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1), ayat (2) dan
ayat (3); dan/atau

109
b. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15
ayat (4).
(2) Pembatalan persetujuan prinsip tukar menukar kawasan hutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan setelah diberikan
peringatan tertulis oleh Menteri sebanyak 3 (tiga) kali masing-masing
dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk setiap kali
peringatan.
Pasal 50
(1) Persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan dapat dibatalkan oleh
Menteri apabila:
a. tidak memenuhi kewajiban dalam tenggang waktu yang diberikan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dan ayat (2);
b. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
ayat (4); atau
c. pemegang persetujuan prinsip membuka kawasan hutan sebelum
mendapat izin dispensasi dari Menteri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 ayat (1).
(2) Pembatalan persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikenakan setelah diberikan peringatan tertulis
oleh Menteri sebanyak 3 (tiga) kali masing-masing dalam jangka
waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk setiap kali peringatan.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 51
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini maka permohonan:
1. tukar menukar kawasan hutan produksi tetap dan hutan produksi
terbatas yang belum memperoleh persetujuan prinsip, penyelesaiannya
diproses sesuai Peraturan Pemerintah ini.
2. tukar menukar kawasan hutan yang telah memperoleh Keputusan

110
Menteri tentang pelepasan kawasan hutan dan Keputusan Menteri
tentang penetapan areal pengganti sebagai kawasan hutan yang telah
ditetapkan sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini dinyatakan
sah dan berlaku.
3. pelepasan kawasan hutan yang belum memperoleh persetujuan prinsip,
penyelesaiannya diproses sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan
Pemerintah ini.
4. pelepasan kawasan hutan yang telah memperoleh persetujuan prinsip
tetapi belum memperoleh keputusan pelepasan kawasan hutan dari
Menteri, wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam Peraturan
Pemerintah ini.
5. pelepasan kawasan hutan yang telah memperoleh Keputusan Menteri
tentang pelepasan kawasan hutan yang ditetapkan sebelum
ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tetap sah dan
berlaku.
6. perubahan fungsi kawasan hutan yang belum memproleh Keputusan
Menteri, diproses sesuai Peraturan Pemerintah ini.
7. perubahan fungsi kawasan hutan yang telah memperoleh Keputusan
Menteri tentang perubahan fungsi kawasan hutan yang ditetapkan
sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tetap
sah dan berlaku.
8. perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi atau perubahan
fungsi kawasan hutan wilayah provinsi, yang belum memperoleh
Keputusan Menteri diproses sesuai Peraturan Pemerintah ini.
9. perubahan peruntukan kawasan hutan wilayah provinsi atau perubahan
fungsi kawasan hutan wilayah provinsi, yang telah memperoleh
Keputusan Menteri yang ditetapkan sebelum ditetapkannya Peraturan
Pemerintah ini dinyatakan sah dan tetap berlaku.
Pasal 52
(1) Kawasan hutan produksi yang telah diberikan persetujuan prinsip
pelepasan kawasan hutan untuk usaha perkebunan kepada badan
usaha sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan, maka:

111
a. badan usaha wajib menyerahkan lahan pengganti dengan ratio
1 : 1 dan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 ayat (4) kecuali huruf c.
b. penyerahan lahan pengganti sebagimana dimaksud pada huruf a
dilakukan paling lama 12 (dua belas) tahun sejak berlakunya
Peraturan Pemerintah ini.
(2) Lahan pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus terletak
di dalam wilayah daerah aliran sungai yang sama, pada wilayah
daerah aliran sungai lain dalam provinsi yang sama, atau provinsi
yang lain dalam pulau yang sama.
(3) Penyerahan lahan pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan dasar pelepasan kawasan hutan dari Menteri.
Pasal 53
Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan
di bidang kehutanan yang telah ada, sepanjang tidak bertentangan dengan
Peraturan Pemerintah ini, tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya
peraturan pelaksanaan yang berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 54
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan
Peraturan Pemerintah ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal...

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

112
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal...

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


REPUBLIK INDONESIA

PATRIALIS AKBAR

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN...


NOMOR...

113
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR... TAHUN...
TENTANG
TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN
DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

I. UMUM
Hutan sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa, merupakan
sumber daya alam yang memiliki aneka ragam kandungan kekayaan
alam yang bermanfaat bagi manusia, baik manfaat ekologi, sosial
budaya dan ekonomi. Sebagai bentuk perwujudan rasa syukur terhadap
karunia-Nya, maka hutan harus diurus dan dimanfaatkan secara
optimal dengan mempertimbangkan kecukupan luas kawasan hutan
dalam daerah aliran sungai dan/atau pulau serta keserasian manfaat
secara proporsional sesuai sifat, karakteristik dan kerentanan
peranannya sebagai penyerasi keseimbangan lingkungan lokal, nasional
dan global.
Sesuai dengan sifat, karakteristik dan kerentanannya sebagai penyerasi
keseimbangan lingkungan, hutan dibagi dalam 3 (tiga) fungsi pokok
yaitu hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Selanjutnya
masing-masing fungsi pokok hutan diatur pengelolaannya dalam rangka
mewujudkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari.
Dalam rangka optimalisasi fungsi dan manfaat hutan dan kawasan
hutan sesuai dengan amanat Pasal 19 Undang-Undang Nomor 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-Undang, dan sesuai
dengan dinamika pembangunan nasional serta aspirasi masyarakat,

114
pada prinsipnya kawasan hutan dapat diubah peruntukannya atau
fungsinya.
Untuk menjaga terpenuhinya keseimbangan manfaat lingkungan, manfaat
sosial budaya dan manfaat ekonomi, maka perubahan peruntukan
dan fungsi kawasan hutan berasaskan optimalisasi distribusi fungsi
dan manfaat kawasan hutan secara lestari dan berkelanjutan dengan
memperhatikan keberadaan kawasan hutan dengan luasan yang cukup
dan sebaran yang proporsional.
Indonesia merupakan negara tropis yang sebagian besar mempunyai
curah dan intensitas hujan yang tinggi, terdiri dari pulau-pulau besar,
menengah dan kecil serta mempunyai konfigurasi daratan yang
bergelombang, berbukit dan bergunung maka Menteri menetapkan
luas kawasan hutan dalam daerah aliran sungai atau pulau paling
sedikit 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daratan. Dengan penetapan
luas kawasan hutan dan luas minimal kawasan hutan untuk setiap
daerah aliran sungai atau pulau, Pemerintah menetapkan luas kawasan
hutan untuk setiap provinsi berdasarkan kondisi biofisik, iklim, penduduk
dan keadaan sosial serta ekonomi masyarakat setempat.
Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dilakukan melalui
mekanisme perubahan parsial atau perubahan pada saat Revisi Tata
Ruang Wilayah Provinsi. Perubahan peruntukan kawasan hutan secara
parsial dilakukan melalui tukar menukar atau pelepasan kawasan
hutan produksi yang dapat dikonversi. Tukar menukar kawasan hutan
dilakukan pada hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap.
Tukar menukar kawasan hutan dilakukan untuk kepentingan
pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang bersifat permanen
yang harus menggunakan kawasan hutan, menghilangkan enclave
dalam rangka memudahkan pengelolaan kawasan hutan, dan
memperbaiki batas kawasan hutan. Tukar menukar kawasan hutan
dilakukan dengan kewajiban menyediakan areal pengganti.
Kawasan hutan merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan
dengan penataan ruang, sehingga perubahan penataan ruang secara
berkala sebagai amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang, akan berakibat perubahan peruntukan dan

115
fungsi kawasan hutan, perubahan peruntukan kawasan hutan dalam
revisi tata ruang wilayah provinsi dilakukan dalam rangka pemantapan
dan optimalisasi fungsi kawasan hutan.
Setiap perubahan peruntukan atau perubahan fungsi kawasan hutan,
terlebih dahulu wajib didahului dengan penelitian terpadu yang
diselenggarakan oleh lembaga pemerintah yang kompeten dan memiliki
otoritas ilmiah bersama-sama dengan pihak lain yang terkait.
Untuk hal-hal tertentu yang sangat penting dan berdampak luas serta
bernilai startegis, perubahan peruntukan atau fungsi kawasan hutan
yang dilakukan oleh Pemerintah harus memperhatikan aspirasi rakyat
melalui persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Perubahan fungsi kawasan hutan dilakukan melalui perubahan fungsi
antar fungsi pokok kawasan hutan atau perubahan fungsi dalam
fungsi pokok kawasan hutan.
Dalam rangka optimalisasi fungsi kawasan hutan, mengingat adanya
keterbatasan data dan informasi yang tersedia pada saat penunjukan
kawasan hutan, dinamika pembangunan, faktor alam maupun faktor
masyarakat maka perlu dilakukan evaluasi fungsi kawasan hutan.

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.

116
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup Jelas
Huruf c
Yang dimaksud dengan badan usaha adalah:
1) badan usaha milik negara;
2) badan usaha milik daerah;
3) badan usaha milik swasta yang berbadan hukum
Indonesia;
4) koperasi.
Huruf d
Yayasan dalam ketentuan ini adalah yayasan yang
berbadan hukum Indonesia.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud pembangunan di luar kehutanan yang
bersifat permanen antara lain waduk, bendungan, fasilitas
pemakaman, kantor pemerintah, fasilitas pendidikan,
fasilitas keselamatan umum, penempatan korban bencana
alam, pemukiman, bangunan industri, pelabuhan, bandar
udara.

117
Huruf b
Yang dimaksud dengan enclave adalah lahan yang
dimiliki oleh perorangan atau badan hukum di dalam
kawasan hutan berdasarkan bukti-bukti yang sah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf c
Yang dimaksud dengan memperbaiki batas kawasan
hutan adalah agar diperoleh kawasan hutan yang
kompak.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan menteri terkait antara lain menteri
yang membidangi urusan dalam negeri, perencanaan
pembangunan, penataan ruang, lingkungan hidup, pertanian,
dan/atau transmigrasi.
Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan ratio 1 : 2 adalah luas lahan pengganti
2 (dua) kali luas kawasan hutan yang ditukar, dengan tujuan
agar luas kawasan hutan yang kurang dari 30% (tiga puluh
perseratus) dari luas daerah aliran sungai dan/atau pulau
dengan sebaran yang proporsional bertambah sampai dengan
30% (tiga puluh perseratus) atau lebih dari luas kawasan
hutan yang ada.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Menteri antara lain menetapkan batas paling sedikit ratio
tukar menukar kawasan hutan baik terhadap kawasan hutan

118
yang berada di atas 30% (tiga puluh perseratus) maupun
terhadap kawasan hutan yang berada di bawah 30% (tiga
puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai dan/atau
pulau dengan sebaran yang proporsional.
Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Penelitian oleh Tim Terpadu dilakukan terhadap kawasan
hutan yang dimohon dan lahan pengganti yang diusulkan.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 14
Yang dimaksud dengan berdampak penting dan cakupan yang
luas serta bernilai strategis, adalah perubahan yang berpengaruh
terhadap kondisi biofisik seperti perubahan iklim, ekosistem, dan
gangguan tata air, serta dampak sosial dan ekonomi masyarakat
yang akan datang.
Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud clear and clean adalah:
a. terhadap tanah-tanah hak untuk calon lahan pengganti
baik yang terdaftar maupun yang belum terdaftar dilakukan
pelepasan hak dengan memberikan ganti rugi;

119
b. terhadap tanah-tanah hak untuk calon lahan pengganti
yang sudah terdaftar dilakukan pencoretan di buku tanah
dan sertifikatnya; dan
c. terhadap tanah-tanah hak untuk calon lahan pengganti
yang belum terdaftar (leter c/girik) dilakukan pencoretan
di buku dan peta desa, serta harus ada keterangan dari
instansi pemerintah kabupaten/kota yang menyatakan
bahwa lahan tersebut belum terdaftar.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Huruf a
Pemohon dalam melaksanakan reboisasi atau
penghutanan atas lahan pengganti dapat bekerja sama
dengan badan usaha yang mempunyai kompetensi di
bidang reboisasi antara lain badan usaha milik negara
di bidang kehutanan.
Huruf b
Pelaksanaan tata batas atas lahan pengganti dan kawasan
hutan yang dimohon dilakukan oleh panitia tata batas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

120
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Ayat (1)
Pelepasan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi
dilaksanakan tanpa melalui penelitian Tim Terpadu karena
kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi merupakan
kawasan hutan yang secara ruang dicadangkan untuk
kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan, yang
ditetapkan berdasarkan hasil penelitian tim pusat dan daerah
serta lintas sektoral, pada saat paduserasi kawasan hutan
dan tata ruang wilayah provinsi.
Ayat (2)
Tata Cara tukar menukar kawasan hutan pada kawasan
hutan produksi yang dapat dikonversi sesuai atau mengikuti
tata cara tukar menukar kawasan hutan produksi.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.

121
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan dalam
ketentuan ini adalah peraturan perundang-undangan di bidang
kehutanan.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.

122
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Perubahan kondisi biofisik akibat fenomena alam antara
lain oleh akibat bencana alam.
Perubahan kondisi biofisik akibat lingkungan atau manusia
antara lain oleh akibat tekanan pembangunan dan
pertumbuhan penduduk.
Huruf b
Yang dimaksud dengan jangka benah adalah waktu yang
dibutuhkan untuk pemulihan pada arahan fungsi pokok
yang ditetapkan.
Huruf c
Penetapan cakupan luas yang sangat kecil didasarkan
atas hasil kajian Tim Terpadu.
Pasal 42
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.

123
Huruf c
Perubahan fungsi hutan produksi yang dapat dikonversi
menjadi hutan produksi tetap dalam rangka proses
pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
(IUPHHK) Alam maupun Tanaman setelah memperoleh
rekomendasi bupati/walikota dan gubernur, serta dilakukan
penelitian oleh Tim Internal yang anggotanya dari
kementerian yang membidangi urusan kehutanan.
Ayat (2)
Huruf a
Penetapan luas hutan produksi didasarkan atas hasil
analisis kebutuhan kayu nasional, regional atau lokal.
Huruf b
Cukup jelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan dalam
ketentuan ini adalah peraturan perundang-undangan di bidang
kehutanan.
Pasal 48
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan dampak penting dan cakupan yang
luas serta bernilai strategis adalah dampak penting
(eksternalitas) negatif maupun positif.

124
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Kondisi sosial ekonomi masyarakat meliputi antara lain
kearifan lokal dan modal sosial dari masyarakat setempat
dalam pengelolaan lingkungan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan penurunan atau peningkatan kualitas
iklim adalah penurunan atau peningkatan kualitas unsur-
unsur iklim mikro antara lain suhu udara, kelembaban relatif
udara, intensitas cahaya, dan kecepatan angin.
Yang dimaksud dengan penurunan atau peningkatan kualitas
ekosistem antara lain penurunan atau peningkatan kualitas
keanekaragaman hayati dan habitat flora dan fauna serta
keindahan bentang alam.
Yang dimaksud dengan penurunan atau peningkatan kualitas
tata air mencakup penurunan atau peningkatan kuantitas
dan/atau kualitas air yang dimulai dari proses penerimaan,
penyimpanan, pengisian, pelepasan, dan kehilangan air.
Ayat (3)
Yang dimaksud penurunan atau peningkatan kualitas sosial
ekonomi masyarakat adalah penurunan atau peningkatan
yang terkait dengan tingkat pendapatan, kesehatan, dan
pendidikan.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.

125
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Cukup jelas.
Pasal 52
Cukup jelas.
Pasal 53
Cukup jelas.
Pasal 54
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


NOMOR ..

126
127