Anda di halaman 1dari 52

Dinamika Pantai

Bab I. Perhitungan Angkutan Sedimen &


Prediksi Perubahan Garis
Note Pantai
Ade . Ratih Ispandiari
Untuk menghitung angkutan sedimen dan
prediksi perubahan garis pantai, maka perlu
diketahui karakteristik gelombang pecah, arus
sejajar pantai dan sifat-sifat sedimen. Arus
sejajar pantai dapat diperoleh dari
karakteristik gelombang pecah, sedangkan
gelombang pecah dihitung berdassarkan
tinggi gelombang yang terjadi di perairan
dalam, tinggi gelombang di perairan dalam
dihitung melalui parameter angin permukaan
dengan menggunakan metode Sverdrup Munk
Bretschneider (SMB).
Sebelum melakukan perhitungan tinggi dan
perioda gelombang, maka terlebih dahulu
dilakukan analisis data angin dan perhitungan
panjang fetch. Untuk menentukan kecepatan
angin dominan, maka dilakukan pemisahan
angin-angin yang dapat membangkitkan
gelombang. Menurut metode SMB, angin yang
dapat membangkitkan gelombang di laut
adalah angin yang mempunyai kecepatan
lebih atau sama dengan 10 knots. Kemudian
dilakukan perhitungan persentase dari setiap
arah pada tiap bulan selama suatu periode
pengamatan. Arah angin tersebut merupakan
arah datang gelombang. Berdasarkan
orientasi garis pantai daerah penelitian, maka
arah angin yang dapat membangkitkan
gelombang adalah angin yan datang dari arah
barat daya, barat dan barat laut.

A. Data Angin Untuk Prediksi


Gelombang
1. Koreksi Data Angin
Data angin yang digunakan dalam rangka
prediksi gelombang adalah data angin
yang diukur di darat dan data angin
pemodelan di laut. Sebelum digunakan
dalam perhitungan prediksi gelombang,
maka data angin diperoleh terlebih dahulu
dikoreksi. Adapun koreksi yang dilakukan
adalah :
1) Koreksi ketinggian
2) Koreksi kecepatan angin rata-rata
untuk durasi 1 jam
3) Koreksi pengukuran kecepatan angin
di darat ke laut
4) Koreksi stabilitas
Berikut penjelasan mengenai koreksi-
koreksi tersebut,
1) Koreksi ketinggian
Jika kecepatan angin diukur pada
ketinggian bukan pada 8 12
meter, maka perlu dikoreksi ke
ketinggian 10 meter dengan
menggunakan gambar 1. Jika
pengukuran kecepatan angin
dilakukan pada ketinggian 8
12 m, maka koreksi ketinggian
dapat dilakukan dengan
menggunakan persamaan (U.S.
Army Corps of Engineers, 2002):

1/ 7
10
U10 Uz
z
(1)
dimana :
U10 = kecepatan angin pada
ketinggian 10 meter
Uz = kecepatan angin pada

ketinggian z
Gambar 1. Rasio kecepatan angina pada suatu ketinggian
dengan kecepatan angina pada ketinggian 10 m sebagai
fungsi dari tinggi pengukuran untuk perbedaan temperature
yang dipilih

2) Koreksi durasi.
Koreksi ini dilakukan untuk
memperoleh kecepatan angin
dengan durasi satu jam. Koreksi
ini dilakukan dengan
menggunakan persamaan (U.S.
Army Corps of Engineers, 2002):
3600
t
Uf
untuk
satuan Uf mile per jam (2.a)
1609
t
Uf
untun
satuan Uf meter per detik (2.b)
Ut 45
1, 277 0, 296 tanh 0,9 log10
U 3600 t

untuk t < 3600 (3.a)


Ut
0.15log10 t 1.5334
U 3600
untuk 3600 < t < 36000
(3.b)
Uf
U t 3600
Uf

U 3600
(4)

3) Koreksi pengukuran angin dari


darat ke laut. Koreksi ini dilakukan
untuk data angin yang diukur di
darat. Koreksi pengukuran angin
dari darat ke laut dilakukan
dengan menggunakan Gambar 2.
untuk fetch cukup panjang (lebih
besar dari 10 mile). Sedangkan
untuk fetch yang lebih kecil dari
10 mile, maka kecepatan angin
yang diamati dikoreksi dengan
menggunakan persamaan UW =
1,2 UL.

4) Koreksi stabilitas. Untuk fetch


yang lebih besar dari 10 mile,
maka diperlukan koreksi stabilitas.
Karena dalam penelitian ini
perbedaan temperatur air laut
dan udara tidak diketahui, maka
diasumsikan sebagai kondisi tidak
stabil dan menggunakan nilai RT =
1,1
Gambar 2. Hubungan antara RL dengan kecepatan angin di
darat

2. Panjang Fetch
Panjang fetch efektif (Fef) ditentukan
dengan menggunakan peta Lingkungan
Pantai Indonesia (LPI) melalui langkah-
langkah sebagai berikut:
Mula-mula ditentukan arah datang
angin
Menghitung panjang jari-jari di titik
peramalan sampai titik dimana jari-jari
tersebut memotong daratan (Xi)
Panjang fecth dihitung melalui
persamaan :
F Xi Sp

(5)
Sp = Skala peta

3. Prediksi Gelombang
Persamaan yang digunakan untuk
menentukan tinggi gelombang di perairan
dalam dari data kecepatan angin dan fetch
adalah (U.S. Army Corps of Engineers,
2002):
1

2 gX
2
gHmo
4,13 10 2
U*2 U*
(6)
dan perioda gelombang :
1
gTp gX 3
0,651 2
u* u*
(7)

Dimana :

X = panjangnya fetch (daerah tiupan


angin)

= velositas friksi yang diberikan oleh :

U*2
CD 2
U10

(8)
CD 0, 001 1,1 0, 035U10
(9)
U10 = kecepatan angin pada ketinggian 10
m dari muka laut
Sedangkan untuk gelombang yang
berkembang secara full dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan (U.S.
Army Corps of Engineers, 2002):
gHmo
2
2,115 10 2
U*
(10)
dan
gTp
2,398 102
u*
(11)

Berdasar angin bulanan maksimum (1997


2006) :
(Hmo ) : 1,82 3,56 meter
(Tp ) : 4,87 7,03 detik
Berdasar angin bulanan rata-rata (1997
2006) :
(Hmo ) : 0,92 1,3 meter
(Tp ) : 4,47 5,02 detik
Gel. tertinggi pada bulan Agustus dimana
kec. angin mencapai maks berasal dari
Selatan
B. Transformasi Gelombang
Gelombang yang merambat menuju pantai
mempunyai kecepatan yang bervariasi
sepanjang garis puncak gelombang yang
bergerak dengan membentuk sudut terhadap
garis kedalaman laut. Variasi kecepatan
rambat gelombang ini disebabkan karena
gelombang di laut dalam bergerak lebih cepat
dari pada gelombang di laut yang lebih
dangkal. Variasi tersebut menyebabkan
puncak gelombang membelok dan berusaha
untuk sejajar dengan garis kontur kedalaman
laut. Refraksi gelombang dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan Snells
(U.S. Army Corps of Engineers, 2002) yaitu:
sin sin 0

C C0

(12)
Dimana:
gT 2d
C tanh
2 L

2d
L L0 tan
L0

Tinggi gelombang pada kedalaman d


dihitung dengan menggunakan persamaan
(U.S. Army Corps of Engineers, 2002):
Hd H0 Ks Kr

(13)
Dimana:
Ho = tinggi gelombang di laut dalam
Ks = koefisien shoaling
1/ 2
Cg0
Ks
C
gd
1/ 2
0,5 C 0

n C

gT
C0
2

C gd nC

1 4d / L
n 1
2 sinh 4d / L

gT 2d
C tanh
2 L

Kr = koefisien refraksi
1/ 2
cos 0
K r
cos

Tinggi gelombang pecah dihitung dengan


menggunakan persamaan :
H b b H o'

(14)
Dimana :
1
H o' 5
b 0.56
Lo

H o' K r H o

Kedalaman laut dimana gelombang pecah


dihitung dengan menggunakan persamaan
(U.S. Army Corps of Engineers, 2002):
H
db b
b

(15)
Dimana :
Hb
b b a
gT 2


a 43.8 1 e19 tan
1.56
b
1 e 19.5 tan

tan
= kelandaian pantai
Lo = Panjang gelombang di laut dalam
T = Perioda gelombang
Apabila gelombang datang dengan
membentuk sudut o terhadap sumbu x
(Gambar 3), maka sudut datang gelombang
pecah terhadap garis pantai adalah (Komar,
1983):
b i o

(16)
Dengan manipulasi matematika, maka sudut
gelombang pecah dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan:
tan i tan o
tan b tan i o
1 tan i tan o

(17)

Arah Gelombang

Gambar 3 Defenisi sudut gelombang pecah


b
Garis Pantai
o
i
X
Untuk memperoleh nilai , H, Hb, dan b pada
setiap titik grid, maka persamaan (3.15, 3.16,
3.17 dan 3.20) diselesaikan secara numerik
dengan menggunakan metode beda hingga
(finite difference).

Dengan metode transformasi gelombang


(USACE, 2003), maka arah gelombang di
pantai ditentukan melalui :

dimana

Dimana
0 = arah gelombang laut dalam
= arah dan kecepatan gelombang pada
kedalaman perairan dangkal
T = periode gelombang
d = kedalaman perairan dangkal
Tinggi gelombang pecah (Hb) diperkirakan
dengan menggunakan rumus :


Kedalaman laut dimana gelombang pecah
dihitung menggunakan persamaan :

Dimana tan = kelandaian pantai.


C. Kecepatan Arus Pantai
Persamaan pengatur yang digunakan
dalam analisis arus dekat pantai adalah
persamaan kekekalan massa (kontinuitas)
dan kekekalan momentum dengan
mengintegrasikan persamaan-persamaan
tersebut terhadap kedalaman dan dirata-
ratakan terhadap periode gelombang.
Dalam sistem arus dekat pantai ini
diasumsikan bahwa arus dekat pantai
mempunyai variasi yang kecil terhadap
waktu dan ruang pada skala besar
dibandingkan dengan panjang gelombang
atau periode gelombang, sehingga
diperoleh (Horikawa, 1988):
Persamaan Kontinuitas:
h U h V
0
t x y

(3.21)

Persamaan Gerak:
U U U
U V Fx M x R x g 0
t x y x

(3.22)
V V V
U V Fy M y R y g 0
t x y y

(3.23)
dimana : Fx dan Fy : gesekan dasar dalam
arah x dan y, Mx dan My : percampuran
lateral dalam arah-x dan y, Rx dan Ry :
stress radiasi dalam arah-x dan y.
Gesekan dasar pada medan gelombang-
arus yang dirata-ratakan terhadap waktu
untuk satu periode adalah sebagai berikut
(Horikawa, 1988):
Cf w2 w2
Fx W b cos 2 U b cos sin V
h W W

(3.24a)
Cf wb2 wb2
Fy cos sin U W sin 2
V
h W
W

(3.24b)

W
1
2
U 2
V 2 wb2 2U cos V sin wb

U 2 V 2 wb2 2U cos V sin wb


(3.24c)
Dimana : Cf adalah kofisien gesekan,
wb H sinh k ( h )
, adalah frekuensi

sudut, k bilangan gelombang, sudut
yang dibentuk muka gelombang dengan
sumbu-x.
Dengan asumsi bahwa turbulensi pada
arus dekat pantai adalah isotropik, maka
percampuran lateral dapat dituliskan
sebagai berikut (Horikawa, 1988):
U U
Mx
x x y y

(3.25a)
V V
My
x x y y

(3.25b)

dimana adalah koefisien momentum.
Hasil penelitian Longuet-Higgins

Nl g (h )
mendapatkan nilai , dengan
N adalah konstanta yang lebih kecil dari
0,016, l adalah jarak dari garis pantai
(h )
l
tan
.

Stress radiasi dihitung dengan


menggunakan persamaan:
1 S xx S xy
Rx
h x y

(3.26)
1 S xy S yy
Ry
h x y

(3.27)
Dimana :
1
S xx n n cos 2 E
2

S xy n cos sin E

1
S yy n n sin 2 E
2

2kh
n 1
sinh 2kh

gH2
E
8

Set-down :
1 H2 k

8 sinh 2kh

Set-up :
1
K
8
1
b K hb h 3 b2
,
Untuk memperoleh kecepatan arus
menyusur pantai (U) dan tegak lurus
pantai (V) pada setiap titik grid, maka
persamaan (3.21, 3.22 dan 3.23)
diselesaikan secara numerik dengan
menggunakan metode beda hingga (finite
difference). Model grid yang digunakan
dalam metode ini adalah persegi empat
dengan jarak antara titik grid sama pada
semua titik grid. Jumlah grid dalam arah
sejajar pantai adalah 500 dengan jarak
antara setiap titik grid adalah 20 meter.
Jumlah grid dalah arah tegak lurus pantai
adalah 300 dengan jarak antara setiap
titik grid adalah 10 meter.

Selaian menggunakan persamaan di


atas, kecepatan arus di pantai juga
dihitung dengan menggunakan persamaan
Longuet-Higgins (1970) yaitu:
5 tan *
b ghb sin b cos b
1/ 2
Vl
16 C f

(3.28)
tan * = Kelandaian pantai termodifikasi
tan

1 3 b2 / 8
=
tan = Kelandaian pantai
Cf = Koefisien gesekan dasar pantai
= 0.005 - 0.01
Hasil perhitungan arus melalui
persamaan (3.21, 3.22 dan 3.23) dan
persamaan (3.28), digunakan untuk
menghitung besar angkutan sedimen pada
setiap titik grid.

D. Analisis Data Sedimen


Data sedimen yang diperoleh di lapangan
dianalisis dengan cara ayakan metode
sieve net yang mengikuti prosedur ASTM
(American Society for Testing and
Material). Kemudian data ukuran butir
sedimen dihitung dengan memplot
prosentase berat kumulatif terhadap
diameter sedimen pada kertas semilog.
Berdasarkan plot ini, maka dapat
ditentukan nilai diameter sedimen.
Berdasarkan hasil perhitungan, maka jenis
sedimen di lokasi penelitian dapat
ditentukan dengan menggunakan Tabel
3.1.

Tabel 1. Klasifikasi Ukuran Partikel Sedimen


E. Analisis Data Pasang Surut
Data pasang surut yang diperoleh dari
hasil pengukuran dianalisis dengan
menggunakan metode Admiralty. Analisis
ini bertujuan untuk mendapatkan nilai
konstanta harmonis pasang surut yaitu :
S0, K1, S2, M2, O1, P1, N2, M4, MS4. Nilai
konstanta yang diperoleh selanjutnya
digunakan untuk memperoleh nilai Mean
Sea Level (MSL), tipe pasang surut dan
tunggang pasang surut untuk penentuan
kedalaman dan pembuatan peta batimetri.

F. Perhitungan Angkutan Sedimen


Menurut Grant (1943) dalam U.S. Army
Corps of Engineers (2003) angkutan
sedimen di pantai merupakan hasil
kombinasi dari angkutan sedimen akibat
gelombang dan angkutan sedimen akibat
arus. Dalam penelitian ini, perhitungan
angkutan sedimen yang digunakan adalah
angkutan sedimen akibat gelombang dan
angkutan sedimen akibat arus. Besar
angkutan sedimen akibat gelombang
dapat dihitung melalui persamaan :
g
Ql K rms H 52 sin 2
16 1 n
1 b b

2
b s

(3.29)
Dimana:
s = Massa jenis sediment =
3
2,648cm /gr
= Massa jenis air laut
b = Indeks gelombang pecah,
perbandingan antara gel. Pecah dg
kedlaman air dimana gel tsb pecah.

n = Porositas sediment
b = Sudut gelombang pecah
K rms 1,4 e 2,5 D50

Dalam perhitungan angkutan sedimen


menggunakan persamaan (3.29), terlebih
dahulu dilakukan konversi tinggi
gelombang pecah signifikan (Hbs) menjadi
tinggi gelombang pecah root mean square
(Hbrms), yaitu:
H brms 0, 706 H bs

(3.30)
Sedangkan angkutan sediment akibat arus
dihitung melalui persamaan:
K
Qa P
s g 1 n l
(3.31)
Dimana:
g H b W Vl C f
Pl
5 V

2 Vo

V
0,2 Y Y
Y
0,714 ln
Vo W W W

W = Lebar daerah hempasan


Vl = Kecepatan arus
Y = Jarak pengukuran arus dari
garis pantai
Hasil perhitungan laju angkutan sedimen
akan digunakan untuk menentukan
perubahan garis pantai.

G. Perubahan Garis Pantai


Model perubahan garis pantai yang dibuat
didasarkan pada persamaan kontinuitas
sedimen. Dalam hal ini, sepanjang pantai
dibagi menjadi sejumlah sel dengan
panjang yang sama yaitu x, seperti
diperlihatkan pada Gambar 3.6. Pada
setiap sel ditinjau angkutan sedimen yang
masuk dan keluar dari sel. Sesuai dengan
hukum kekekalan massa, maka laju aliran
massa netto di dalam sel adalah sama
dengan laju perubahan massa di dalam sel
setiap satuan waktu. Gambar 3.7
menunjukkan angkutan sedimen yang
masuk dan keluar sel dan perubahan
volume yang terjadi di dalamnya. Laju
aliran massa sedimen netto di dalam sel
adalah :
M n s Qin Qout s Qout Qin s Q

(3.32)
Sedangkan laju perubahan massa dalam
sel setiap satuan waktu adalah:
V
Mt s
t

(3.33)
Dimana:
s = Massa jenis sedimen
Qin = Debit sedimen yang masuk ke sel
Qout = Debit sedimen yang keluar sel
V = Volume netto sedimen di dalam sel
Berdasarkan hukum kekekalan massa
sedimen, maka dari persamaan (3.32) dan
(3.33) diperoleh:
V
s Q s
t

(3.34)
Dari geometri sel yang diperlihatkan
dalam Gambar 3.8 diperoleh:
V d y x

(3.35)
Subsitusi persamaan (3.34) ke (3.33)
diperoleh:
d y x
Q
t

Atau (Laju perubahan garis pantai


ditentukan dengan menggunakan rumus
(Horikawa, 1988) :
y 1 Q

t d x

(3.36)
Secara numerik
Pada lokasi penelitian terdapat sumber
sedimen yang berasal dari Sungai
Jeneberang, sehingga persamaan (3.36)
dapat ditulis menjadi:
y 1 Q
Qs
t d x

(3.37)
Dimana:
y = Jarak antara geris pantai dan garis
referensi
Q = Transpor sedimen sepanjang pantai
Qs = Transpor sedimen dari sungai ke
pantai
t = Waktu
x = Absis searah panjang pantai
d = Kedalaman air
sudut datang gelombang pecah dihitung
menggunakan rumus :

Dalam persamaan (3.37), nilai t, d dan x


adalah tetap sehingga y hanya
tergantung pada Q. Apabila Q negatip
(transpor sedimen yang masuk lebih kecil
dari yang keluar sel) maka y akan
negatip, yang berarti pantai mengalami
abrasi. Sebaliknya, jika Q positip
(transpor sedimen yang masuk lebih besar
dari yang keluar sel) maka y akan positip
atau pantai mengalami akresi. Apabila Q
= 0 maka y = 0 yang berarti pantai
stabil.
Untuk memperoleh perubahan garis pantai
pada setiap titik grid, maka persamaan
(3.37) diselesaikan secara numerik dengan
metode beda hingga (finite difference).
Muara Sungai Jeneberang (Qs) terletak
pada titik grid (150, 1) yang mensuplai
sedimen ke pantai pada setiap perhitngan.
Program model ini diselesaikan dengan
menggunakan bahasa program FORTRAN
dengan menggunakan kondisi awal dan
kondisi batas sebagai berikut:
a. Kondisi awal
Pada saat awal simulasi siasumsikan
bahwa kecepatan arus di daerah
penelitian adalah nol (U = 0 dan V = 0),
angkutan sedimen di sepanjang pantai
dan dari sungai (Q = 0 dan Qs = 0) sama
dengan nol serta elevasi muka air laut
rata-rata adalah nol ( = 0).
b. Kondisi Batas Terbuka
Kondisi batas terbuka di perairan dalam
diasumsikan bahwa kecepatan arus dan
angkutan sedimen adalah nol dan level air
rata-rata di batas terbuka lepas pantai
diperoleh dari gelombang set-up. Kondisi
batas terbuka disebelah utara dan selatan
daerah penelitian diasumsikan bahwa
kecepatan arus dan angkutan sedimen
pada grid terluar sama dengan di grid
sebelah dalamnya.
c. Kondisi Batas Tertutup
Kondisi batas di garis pantai diasumsikan
bahwa kecepatan arus dan angkutan
sedimen dalam arah tegak lurus pantai
sama dengan nol dan kecepatan arus dan
angkutan sedimen dalam arah sejajar
pantai tidak sama dengan nol.

y
Qi = Transpor sepanjang
pantai

Garis pantai

Sel i
i-1 i+1
yi

x
Gambar 3.6 Pembagian pantai dibagi menjadi
sederetan sel dengan lebar x.

Garis Pantai Baru


Qout
Garis Pantai Lama

Qin
Gambar 3.7 Angkutan sedimen yang masuk
dan keluar sel

H. Pengolahan Citra
Pengolahan data awal dilakukan dalam
rangka mengoreksi terhadap kesalahan
radiometrik dan geometrik. Kesalahan
geomterik merupakan kesalahan distribusi
spasial dari nilai-nilai piksel yang terekam
oleh sensor yang terjadi akibat berbagai
faktor. Sedangkan kesalahan radiometrik
disebabkan karena kesalahan respon
detektor dan pengaruh atmosfir. Atmosfir
bumi mempunyai efek menghalangi akibat
atmospheric scattering (hamburan) dan
atmospheric absorption (serapan).
Koreksi geometrik dimaksudkan untuk
mengoreksi distorsi spasial obyek pada
citra sehingga posisi obyek yang terekam
sesuai dengan koordinat di lapangan (real
world coordinate). Data raster umumnya
ditampilkan dalam bentuk raw data dan
memiliki kesalahan geometrik sehingga
perlu dikoreksi secara geometrik ke dalam
sistem koordinat bumi. Ada dua proses
koreksi geometrik, yaitu:
Registrasi, yaitu koreksi geometrik
antara citra yang belum terkoreksi
dengan citra yang sudah terkoreksi
Rektifikasi, yaitu koreksi geometri
antara citra dengan peta
Koreksi radiometrik dimaksudkan untuk
mengoreksi distorsi nilai spectral citra
agar kontras objek pada citra nampak
lebih tajam sehingga mudah dalam
melakukan interpretasi.
Klasifikasi data citra adalah suatu proses
dimana semua piksel dari suatu citra yang
mempunyai penampakan spektral yang
sama akan dikelompokkan/ dikelaskan.
Klasifikasi dapat dibedakan menjadi
supervised classification (klasifikasi
terbimbing) dan unsupervised
classification (klasifikasi tak terbimbing).
Klasifikasi terbimbing akan mencari semua
pixel dengan karakteristik spektral yang
sama, sesuai dengan daerah sampel yang
dibuat.
Klasifikasi terbimbing dapat dilakukan
dengan menggunakan metode :
a. maximum likelihood (kemiripan
maksimum)
b. minimum distance (jarak terdekat)
c. parallelepiped classification.
Klasifikasi tak terbimbing digunakan
apabila informasi mengenai daerah yang
akan diklasifikasi hanya sedikit. Klasifikasi
ini secara sendiri akan mengkategorikan
semua pixel menjadi kelas-kelas dengan
menampilkan spektral atau karakteristik
spektral yang sama. Klasifikasi tak
terbimbing akan menghitung secara
statistik untuk membagi data set menjadi
kelas-kelas sesuai dengan jumlah kelas
yang diinginkan.

I. Penentuan Konsentrasi Sedimen


dan Pola Arus
Untuk mengetahui konsentrasi sedimen
dari citra satelit dilakukan dengan
menggunakan persamaan :
Log S 1,83 1,26 Log Xs

(3.38)
Dimana :
S = konsentrasi sedimen
Xs Rrs 555 Rrs 670 Rrs 490 / Rrs 555
0 , 5

Rrs = Panjang gelombang pantulan


Hasil perhitungan konsentrasi sedimen
pada setiap pixel selanjutnya dibuat
menjadi peta kontur konsentrasi sedimen
sehingga diperoleh pola konsentrasi
sedimen. Dari pola konsentrasi sedimen
selanjutnya diinterpretasi untuk
mengetahui pola arus di daerah penelitian.
Penentuan Geris Pantai
Penentuan garis pantai dilakukan dengan
menggunakan :
Peta Lingkungan Pantai, Peta LPI
discanning dan selanjutnya
dilakukan rectifikasi dan deliniasi
garis pantai.
Data citra satelit, Data citra satelit
yang telah dikoreksi secara
geometrik dan radiometrik
penentuan garis pantai dilakukan
dengan menggunakan komposit
RGB 542 dan band 4 sebagai grey
scale. Dari hasil komposit warna
ini, selanjutnya dilakukan deliniasi
garis pantai.
Hasil deliniasi garis pantai dari
data citra ini kemudian dikoreksi
terhadap data pasang surut.
Dari hasil pengolahan citra beberapa
tahun akan diperoleh perubahan garis
pantai daerah penelitian. Kemudian garis
pantai dari hasil pengolahan data citra
digunakan untuk validasi perubahan garis
pantai dari hasil model.
Secara skematis bagan alir langkah-
langkah perhitungan dapat dilihat pada
Gambar 3.8 - 3.12

Kec. Angin

Koreksi ketinggian 10
pd m
Koreksi durasi

Pers (3.5)-(3.7)
< 16,09 > 16,09
Panjang fetch
km km

Lokasi peng. Kec. angin Lokasi peng. Kec. angin


Di atas Di atas Di Di laut
darat air darat
UW = RL UL
UC = 1,2 UL
Gbr. 3.4 RT = 1

UC = RT UW

CD = 0,001(1,1+0,035 UC)

U* = (CD UC2)0,5

Gambar 3.8 Diagram alir untuk koreksi


kecepatan angi

U* = (CD UC2)0,5
X

gTp
1
gHmo gX 2
4,13102 2
2,398102
2
U* U*

gHmo
2
2,115 102 u*
U*
Kedalaman laut (d) 2d
L L0 tan
gT 2d L
C tanh 0
2 L
2
k
L
Gambar 3.9 Diagram alir untuk perhitungan
tinggi, perioda, panjang dan bilangan
gelombang

U* = (CD UC2)0,5 Kecepatan Tinggi Panjang


Glb (C) Glb (H) Glb (L)

sin sin 0
H o' K r H o
C C0 1
H ' 5
b 0.56 o
cos 0
1/ 2 Lo
K r
H b b H o'
cos
a 43.8 1 e19 tan
Sudut grs Pantai (i) 1.56
b
1 e 19.5 tan

o tan i tan
Gambar 3.10 Diagram o alir untuk H b
tan b tan i transpormasi gelombang b b a 2
1 tan i tan o gT

Hb
db
b
Tinggi Bilangan Kedalan Laut
Sudut
(d) Glb datang ()
Glb (H) Glb (k)

Energi Glb (E)


Set-Down
Set-Up

Stress Radiasi (R)


Percampuran Gesekan
Lateral (M) Dasar (F)

U dan V

Tinggi b hb Sudut Glb Pecah


Kemiringan
(b) Dasar Pantai
Gambar
Glb (H) 3.11 Diagram alir untuk perhitungan
kecepatan arus

5 tan *
Vl b ghb 1 / 2 sin b cos b
16 C f
Gambar 3.12 Diagram alir untuk perhitungan
angkutan sedimen dan perubahan garis
pantai
DAFTAR PUSTAKA
Ashton A. dan B. Murray, 2005, Delta
Simulations Using One-Line Model Coupled
With Overwash, JCE.
Bird, E.C.F., 1992, Coastal Morphology and
Research, John Wiley & Sons Ltd., England.
Dabees M., dan J.W. Kamphuis, 2000,
NLINE: Efficient Modeling of 3-D Beach
Change, JCE
Dean, R.G. dan R.A. Dalrymple, 1984,
Water Waves Mechanics for Engineers and
Scientist, Prentice-Hall, Inc., New Jersey
Dean R. G. dan J. Zheng, 1997, Numerical
Model and Intercomparisons of Beach
Profil Evoluytion, JCE, 30, 169-201.
Elfrink B. dan T. Baldock, 2002,
Hydrodynamics and Sediment Transport in
the Swash Zone: a Review and
Perspectives, JCE, 45, 149-167.
Hanson H. dan N. C. Kraus, 1989,
GENESIS: Generalized Model for
Simulating Shoreline Change, Report I:
Technical Reference, U.S. Aemy Eng.
Waterways Experiment Station, Coastal
Eng. Res. Cent, Vickburg, MS.
Horikawa, K., 1988, Nearshore Dynamics
and Coastal Processes, University of Tokyo
Press, Japan.
Ippen, A. T., 1966, Estuary and coastline
Hydrodynamics, Mc. Grow-Hill Book Co.,
New York.
Jaya, I.N.S., 2006, Analisis Citra Digital:
Perspektif Pengindraan Jauh Untuk
Pengelolaan Sumberdaya Alam, Fakultas
Kehutanan IPB, Bogor.
Komar, P.D., 1976, Beach Processes and
Sedimentation, Prentice-Hall Inc.
Englewood Cliffs, New Jersey.
Komar, P.D., 1983, CRC Handbook of
Coastal Processes and Erosion, CRC Press,
Inc. Boca Raton, Florida
Koutitas C.G., 1988, Mathematical
Modelsn in Coastal Engineering, Pentech
Press Limited, London.
Langkoke R., 2006, Sel Sedimentasi Pantai
Di Sekitar Muara Sungai Jeneberang
Makassar Sulawesi Selatan, Tesis Program
Pascasasjana Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Larson M, H Hanson, N. C. Kraus, 1987,
Analitical Solutions of The One-Line Model
of Shorline Change, U.S. Army Corps of
Engineers, Washington, DC.
Leontyev I.O., 1996, Short-term Shoeline
Change due to Cross-shore Structures: a
one-line numerical model, JCE, 31, 59-75.
Massel, S. R., 1989, The Hydrodinamic of
Coastal Zone, Elsevier Publishers, London.
Roberts, W., Hir, P.L., and Whitehouse,
R.J.S, (2000), Investigation using simple
mathematical models of the effect of tidal
currents and waves on the profile shape of
intertidal mudflats, JCSR.
Sorensen, R. M., 1993, Basic Wave
Mechanics: For Coastal and Ocean
Engineers, John Wiley & Sons, Inc., New
York.
Suriamihardja D.A., 2005, Compromise
Management in the Jeneberang Delta and
Losari Bay, Makassar, Department of
Geography, Publication Series Number 61
University of Waterloo.
Thomas C.G., J.R. Spearman, M.J. Turnbull,
2002, Historical Morphological Change in
the Mersey Estuary, JCSR, 22, 1775-1794.
U.S. Army Corps of Engineers, 1984, Shore
Protection Manual, Coastal Engineering
Research Center, Washington D.C.
U.S. Army Corps of Engineers, 2002,
Estimation of Nearshore Waves, Engineers
and Desgn. Coastal Engineering Manual
Washington D.C
U.S. Army Corps of Engineers, 2002,
Water Wave Mechanics, Engineers and
Desgn. Coastal Engineering Manual No. ,
Washington D.C.
U.S. Army Corps of Engineers, 2003,
Coastal Sediment Properties, Engineers
and Desgn. Coastal Engineering Manual,
Washington D.C.
U.S. Army Corps of Engineers, 2003,
Longshore Sediment Transport, Engineers
and Desgn. Coastal Engineering Manual,
Washington D.C.
U.S. Army Corps of Engineers, 2003, Surf
Zone Hydrodynamics, Engineers and
Desgn. Coastal Engineering Manual,
Washington D.C.
Van Rijn, L.C., 1987, Mathematical
Modeling of Morphological Processes in
the Case on Suspended Sediment
Transport, Thesis Approved by the Delft
University of Technology, Delft Hydrolics
Communication No. 382.
Van Rijn, L.C., 1997, Sediment Transport
and Budget of the Central Coastal Zone of
Holland, JCE, 32, 61-90.
Wajsowicz R. C., A. L. Gordon, A. F.eld, R.
D. Susanto, 2003, Estimating transport in
Makassar Strait, JDSR, II 50, 21632181
Zhang Y., D.J.P. Swift, Z. Yu, dan L. Jin,
1998, Modeling of Coastal Profil Evolution
on the Abandoned Delta of the Huanghe
River, JMG, 145, 133-148.