Anda di halaman 1dari 17

2.

1 Pengertian Agroekosistem

Berikut di bawah ini adalah pengertian dari agroekosistem menurut


pendapat beberapa ahli.

2.1.1 Agroekosistem Menurut Karyono (2000)


Agroekosistem menurut Karyono (2000) merupakan sistem ekologis hasil
rekayasa manusia untuk menghasilkan makanan, serat, atau produk agrikultur
lainnya. Dalam agroekosistem ini, peranan manusia sangat dominan karena sistem
ini merupakan hasil rekayasa manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidupnya. Oleh karena itu,agroekosistem dapat dikatakan sebagai suatu kesatuan
dari sistem pertanian, sosial, ekonomi, dan ekologi, yang dibatasi oleh faktor
biofisik dan sosial ekonomi (Conway,1985; Parikesit, et al., 1998). Agroekosistem
seringkali kompleks secara struktur, tetapi kompleksitasnya timbul terutama
dikarenakan interaksi antara proses ekologi dan sosial ekonomi. Faktor fisik yang
mempengaruhi struktur floristik agroekosistem antara lain adalah ketinggian
tempat dari permukaan laut, edafik, iklim, dan topografi. Faktor-faktor tersebut
dapat menjadi kendalaatau pendorong bagi manusia di dalam mengembangkan
suatu sistem pertanian berikutkomoditi yang ada di dalamnya.

2.1.2 Agroekosistem Menurut Conway (1985)


An agroecosystem can be viewed as a subset of a conventional ecosystem.
As the name implies, at the core of an agroecosystem lies the human activity of
agriculture. However, an agroecosystem is not restricted to the immediate site of
agricultural activity (e.g. the farm), but rather includes the region that is impacted
by this activity, usually by changes to the complexity of species assemblages and
energy flows, as well as to the net nutrient balance. Traditionally an
agroecosystem, particularly one managed intensively, is characterized as having a
simpler species composition and simpler energy and nutrient flows than "natural"
ecosystem. Likewise, agroecosystems are often associated with elevated nutrient
input, much of which exits the farm leading to eutrophication of connected
ecosystems not directly engaged in agriculture.
Agroekosistem dapat dilihat sebagai subset dari ekosistem konvensional.
Sesuai dengan namanya, inti dari agroekosistem terletak pada aktivitas manusia
pertanian. Namun, agroekosistem tidak terbatas pada lokasi langsung aktivitas
pertanian (misalnya pertanian), melainkan mencakup spesies kumpulan dan aliran
energi, serta keseimbangan nutrisi. Secara tradisional, agroekosistem, yang
terutama dikelola secara intensif, ditandai memiliki komposisi spesies yang lebih
sederhana dan aliran energi dan nutrisi yang lebih sederhana daripada ekosistem
alami. Demikian juga, agroekosistem sering dikaitkan dengan input nutrisi yang
tinggi, yang sebagian besar keluar dari peternakan yang mengarah ke eutrofikasi
ekosistem yang tidak terlibat langsung dalam pertanian (Conway, 1985).

2.1.3 Agroekosistem Menurut Hasan (2002)


Agroekosistem adalah salah satu bentuk ekosistem binaan manusia yang
bertujuan menghasikan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan manusia.
Konsep agroekosistem adalah sistem ekologi yang terdapat didalam lingkungan
pertanian, yang biasanya merupakan sistem alami yang terjadi setelah dibentuk
oleh manusia (Hasan, 2002).

2.1.4 Agroekosistem Menurut Krishna (2006)


Agroecosystems are unique cropping expanses that are well adapted to a
particular geographic region. They exist as ecological entities and exhibit various
ecosystematic functions and services. There are several ways of defining
agroecosystems based on context, their composition and purpose. Definitions that
highlight the geographic area, weather pattern, natural resources, cropping pattern
and products are most common. One such definition states that an agroecosystem
could be explained as an agricultural and natural resource system managed by
human beings for the primary purpose of his food needs plus other useful
products. In certain situations, agroecosystem or cropping expanse could be
located in different regions/continents and may be small or relatively larger in
area. They often have common features that could be studied and analyzed
collectively as an agroecosystem.
Agroekosistem adalah hamparan tanam yang unik yang disesuaikan
dengan baik dengan wilayah geografis tertentu. Mereka ada sebagai entitas
ekologis dan memamerkan berbagai fungsi dan layanan ekosistem. Ada beberapa
cara untuk menentukan agroekosistem berdasarkan konteks, komposisi dan
tujuannya. Definisi yang menyoroti wilayah geografis, pola cuaca, sumber daya
alam, pola tanam dan produk yang paling umum terjadi. Salah satu definisi
tersebut menyatakan bahwa agroekosistem dapat dijelaskan sebagai sistem
sumber daya pertanian dan sumber daya alam yang dikelola oleh manusia untuk
tujuan utama kebutuhan pangannya ditambah produk bermanfaat lainnya. Dalam
situasi tertentu, hamparan agroekosistem atau tanam dapat ditemukan di berbagai
wilayah / benua dan mungkin berukuran kecil atau relatif lebih luas. Mereka
sering memiliki fitur umum yang bisa dipelajari dan dianalisis secara kolektif
sebagai agroekosistem (Krishna, 2006).

2.2 Pengertian Hama, Musuh Alami, dan Serangga Lain


2.2.1 Hama
Hama merupakan organisme pengganggu tanaman yang mengakibatkan
kerusakan secara fisik pada tanaman dan kerugian secara ekonomis, golongan
hama terbesar berasal dari kelas serangga (insecta). Namun ada beberapa
jenis serangga yang berperan sebagai musuh alami bagi serangga lain yang
bersifat hama. Hama tanaman yang menempati peringkat paling atas berasal
dari klas serangga (insecta), dalam klas insect ini terdapat beberapa ordo yang
membagi jenis-jenis serangga hama pengganggu tanaman (Rahmawatif,
2012).
Pests are organisms considered harmful or detrimental to humans, his
possessions and other human interest. Noxious organisms considered as pests
are plants or animals that carry disease, cause disease or destroy crops. They
could be nematodes, insects, viruses, bacteria, molluscus, fungi, birds,
rodents, herbs, shrubs, mites and annelids. Hama adalah organisme yang
dianggap berbahaya atau merugikan manusia, harta benda dan kepentingan
manusia lainnya. Organisme berbahaya yang dianggap sebagai hama adalah
tanaman atau hewan yang membawa penyakit, menyebabkan penyakit atau
menghancurkan tanaman. Mereka bisa berupa nematoda, serangga, virus,
bakteri, moluska, jamur, burung, hewan pengerat, herbal, semak, tungau dan
annelida (Madigan, et al., 2006).
2.2.2 Pengertian Musuh Alami
Musuh alami merupakan salah satu factor pengendalian organism
pengganggu tanaman (OPT) sehingga berperan dalam pengaturan populasi
OPT di dalam (Abadi, 2003).
Natural enemies is one of biological control that defined as the
reduction of pest population, include predator, parasitoid and pathogens.
Musuh alami merupakan salah satu pengendalian biologi dengan mereduksi
populasi hama yang terdiri dari predators, parasitoid, dan pathogen
(Sthelinger, 1973).

2.2.3 Serangga Lain

Serangga lain adalah serangga/binatang yang ada pada suatu


komuditas namun tidak berperan sebagai hama maupun sebagai musuh alami
(Abadi, 2003).
Another insect is an animal that resides in a plant commodity that
usually hanaya stop over or pass on the plant land. Serangga lain adalah
hewan yang berada di komoditas tanaman yang biasanya hanaya singgah atau
lewat di lahan tanaman (Sthelinger, 1973).

2.3 Macam-Macam Musuh Alami


Menurut Kusnadi (2005), musuh alami hama adalah musuh hama berasal
dari alam berupa parasitoid, predator dan patogen. Jika suatu musuh alami telah
diteliti secara mendalam dan telah diyakini kehandalannya serta layak sebagai
faktor pengendali populasi suatu hama yang efektif maka musuh alami tersebut
disebut sebagai agens pengendalian hayati (biological control agents).
a. Predator, Suatu binatang yang dapat memangsa binatang lain
b. Parasitoid, Organisme yang sepanjang hidupnya bergantung pada inang yang
akhirnya membunuh dalam proses itu
c. Patogen, Organisme yang hidup dalam habitat inangnya dan menyerang hama
tertentu, biasanya menyerang serangga.
Berikut dibawah ini adalah ciri-ciri dari predator, parasitoid, dan patogen
yang berperan sebagai musuh alami:
Tabel 1. Ciri-ciri Musuh Alami
Predator Parasitoid Patogen
1.membunuh, 1. menyedot energy dan 1.bersifat menyerap
memakan/menghisap memakannya selagi serangga
mangsanya dengan cepat mangsa masih hidup 2. tumbuh dan tinggal
2. dalam fase 2. metamorphosis dalam inangnya
nimfa,imago, dapat sempurna 3. berukuran kecil
memangsa semua tingkat 3. ukuran tubuh lebih 4. memiliki skala hidup
perkembangan kecil dari mangsanya pendek
mangsanya 4. membunuh dan (Natawigena,1990)
3. kebanyakan bersifat melumpuhkan inang
karnivorik untuk kepentingan
4. memerlukan dan keturunannya
memangsa banyak (Nyoman,1998)
mangsa selam hidupnya
5. ukuran tubuh lebih
besar dari mangsanya
6. bersifat polifag,
olifag, dan monofag
(Nyoman,1998)

2.4 Hama dan Penyakit Penting pada Agroekosistem


2.4.1 Hama Penting
2.4.1.1 Hama Penting pada Padi
Menurut Rahmawatif (2012), di bawah ini merupakan hama
penting pada tanaman padi yang menyebabkan penurunan produksi padi.
1. Walang Sangit

Gambar 1. Walang Sangit (Rahmawatif, 2012)

Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi


pada fase pemasakan. Mekanisme merusaknya yaitu mengisap butiran
gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu, serangga akan
mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau. Walang sangit merusak
tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai matang susu. Kerusakan
yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur,
serta gabah menjadi hampa.
2. Wereng coklat

Gambar 2. Wereng Coklat (Rahmawatif, 2012)


Wereng coklat dapat menyebabkan daun berubah warna menjadi
kuning oranye sebelum berubah menjadi coklat dan mati. Dalam
keadaan populasi wereng tinggi dan varietas yang ditanam rentan wereng
coklat, dapat mengakibatkan tanaman seperti terbakar atau hopperburn.
Wereng coklat juga dapat menularkan virus kerdil hampa, dan virus
kerdil rumput, dua penyakit yang sangat merusak. Ledakan wereng
biasanya terjadi akibat penggunaan pestisida yang tidak tepat, penanaman
varietas rentan, pemeliharaan tanaman, terutama pemupukan yang kurang
tepat dan kondisi lingkungan yang cocok untuk wereng coklat (lembab,
panas dan pengap).
3. Penggerek Batang

Gambar 3. Penggerek Batang Padi (Rahwamatif, 2012)

Penggerek batang merupakan hama paling menakutkan pada


pertanaman padi, karena sering menimbulkan kerusakan berat dan
kehilangan hasil yang tinggi. Di lapang, kehadiran hama ini ditandai
dengan kehadiran ngengat (kupu-kupu) dan kematian tunas padi,
kematian malai dan ulat penggerek batang. Hama ini merusak tanaman
pada semua fase tumbuh, baik pada saat pembibitan, fase anakan,
maupun fase berbunga. Bila serangan terjadi pada pembibitan sampai
fase anakan, hama ini disebut sundep, dan jika terjadi saat berbunga,
disebut beluk.

2.4.1.2 Hama Penting pada Jagung


Berikut di bawah ini adalah hama penting pada tanaman jagung
yang dapat menyebabkan kerugian dan menurunkan hasil panen menurut
Surtkanti (2011).
1. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Ciri-ciri dari hama ini adalah larva biasa berada dalam tanah,
berwarna coklat kehitaman, mempunyai tujuh pasang kaki. Gejala
serangan ama ini menyerang tanaman umur 1-3 minggu, dengan cara
menyerang dan memotong pangkal batang pada waktu malam hari,
siang hari ulat bersembunyi dalam tanah.

Gambar 4. Ulat Tanah (Surtkanti, 2011)


2. Ulat Grayak (Spodoptera liptura)
Ciri-ciri dari ulat grayak adalah ngengat dengan sayap bagian
depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna
keputihan, aktif pada malam hari. Telur berbentuk hampir bulat dengan
bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun dua lapis), warna coklat
kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25 500 butir)
tertutup bulu seperti beludru. Larva mempunyai warna yang bervariasi,
yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau
hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Siklus hidup berkisar antara
30 60 hari (lama stadium telur 2 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar
: 20 46 hari, pupa 8 11 hari).

Gambar 5. Ulat Grayak (Surtkanti, 2011)


Serangan dari hama ini ketika fase ulat menyerang tanaman pada
malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang
lembab). Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara
serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian
atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja, sedang larva berada
di permukaan bawah daun. Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain
secara bergerombol dalam jumlah besar. Serangan umumnya terjadi pada
musim kemarau. Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain jagung
juga menyerang tomat, kubis, dan tanaman lainnya.
3. Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis)
Ciri-ciri hama ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan
beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa 7-11 hari. Telur
diletakkan berwarna putih, berkelompok, satu kelompok telur beragam
antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-
817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai
meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan
pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9. Larva
yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah
pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar
lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk
di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.
Hama menyerang tanaman menjelang berbunga dengan menggerek
dalam batang, tanda terjadi serangan yaitu adanya serbuk berwarna putih
berserakan di sekitar permukaan daun dan bunga jantan patah. Kerusakan
yang ditimbulkan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil

pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal
tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, dan tumpukan tassel yang
rusak.

Gambar 6. Penggerek Batang Jagung (Surtkanti, 2011)


4. Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera)
Ciri-ciri hama Telur diletakkan pada rambut jagung. Rata-rata
produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga
hari setelah diletakkan. Larva terdiri dari lima sampai tujuh instar.
Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24 -
27,2C adalah 12,8 - 21,3 hari. Larva memiliki sifat kanibalisme. Spesies
ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra
pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya
bergantung pada kekerasan tanah. Pupa umumnya terbentuk pada
kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa
pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga
ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan mendukung,
fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35C dan sampai 30 hari

pada suhu 15C.


Gambar 7. Penggerek Tongkol Jagung (Surtkanti, 2011)
Imago betina akan meletakkan telur pada rambut jagung dan sesaat
setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan
memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Serangan
serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.

2.4.2 Penyakit Penting


2.4.2.1 Penyakit Penting pada Padi
Menurut Harahap dan Tjahyono (1993), di bawah ini merupakan
penyakit penting pada tanaman padi beserta gejala dan penyebabnya.
1. Bercak Belah Ketupat atau Busuk Leher (Pyricularia oryzae)
a. Gejala

Gambar 8. Bercak Belah Ketupat


(Harahap dan Tjahyono, 1993)
Pada daun dan pelepah daun terdapat bercak-bercak belah ketupat.
Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dengan pinggiran
berwarna coklat. Ukuran dan warna bercak ini dapat bervariasi
tergantung pada kondisi linkungan, umur bercak, dan kerentanan
tanaman. Bila penyakit terjadi pada tanaman yang rentan dan kondisi
lingkungan yang lembab, maka bercak-bercak dapat meluas dan bersatu
sehingga dapat mengakibatkan rusaknya sebagian besar daun. Tangkai
malai dapat membusuk dan patah, sehingga penyakit ini disebut pula
busuk leher. Bila infeksi ini terjadi sebelum masa pengisian bulir, maka
dapat terjadi kehampaan pada bulir. Batangpun dapat terinfeksi akibat
penularan dari pelepah daun,sehingga batang membusuk dan mudah
rebah.
b. Penyebab
Jamur Pyricularia oryzae. Konidianya berbentuk seperti buah
alpokat dan bersel tiga, konidia ini dibentuk pada ujung suatu tangkai dan
umunya di lepas pada malam hari saat ada embun atau angin. Jamur ini
berkembang biak bila jarak tanam rapat sehingga kelembaban tinggi dan
tanaman dipupuk nitrogen secara berlebihan. Penyebaran konidia Jamur
ini dapat terjadi melalui benih dan angin. Sisa tanaman di lapang dan
inang lain terutama jenis padi-padian (famili Graminae) yang terinfeksi
dapat menjadi sumber penularan bagi pertanaman padi berikutnya.
2. Bercak Coklat (Helminthosporium oryzae)
a. Gejala
Bercak terutama pada daun, tetapi dapat pula terjadi pada tangkai
malai, bulir, dan batang. Bercak muda berbentuk bulat kecil, berwarna
coklat gelap. Bercak yang sudah tua berukuran lebih besar (0,4 - 1 cm x
0,1 0,2 cm), berwarna coklat pada pusat kelabu. Kebanyakan bercak
mempunyai warna kuning di sekelilingnya. Dan bila serangan menghebat
seluruh permukaan bulir dapat tertutup massa konidia dan tangkainya.

Gambar 9. Bercak Coklat Padi


(Harahap dan Tjahyono, 1993)
b. Penyebab
Cendawan Helminthosporium oryzae atau Drechslera oryzae
(cochliobolus miyabeanus). Konidia H. Oryzae berwarna coklat, bersekat
6-17, berbentuk silindris, agak melengkung, dan bagian tengahnya agak
melebar. Konidia ini di bentuk pada tangkai sederhana yang tumbuh pada
bercak. Konidia ini dapat di sebarkan oleh angin dan dapat terbawa
benih. Sisa tanaman di lapang dan beberapa jenis gulma seperti Leersia
sp., Cynodon sp,. dan Digitaria sp. Yang terinfeksi dapat menjadi sumber
penularan.
3. Bercak Coklat Sempit (Cercospora oryzae)
a. Gejala
Pada daun dan pelepah daun terdapat bercak coklat yang sempit
seperti garis-garis pendek. Pada varietas yang tahan bercak berukuran
0,2-1 cm x 0,1 cm, berwarna coklat gelap. Pada varietas yang rentan
bercaknya lebih besar dan berwarna coklat terang.

Gambar 10. Bercak Coklat Sempit


(Harahap dan Tjahyono, 1993)
b. Penyebab
Jamur Cercospora oryzae merupakan penyebab penyakit ini.
Konidianya bersekat 3-10, tangkainya coklat. Penularan terjadi melalui
udara dan inang alternatif misalnya Panicum repens.
4. Bercak Pelepah Daun Padi (Rhizoctonia solani; R. Oryzae)
a. Gejala

Gambar 11. Bercak Pelepah Daun Padi


(Harahap dan Tjahyono, 1993)
Bercak terutama terdapat pada seludang daun. Bila kondisi lembab,
bercak dapat pula terjadi pada daun. Bercaknya terdapat bulat lonjong,
berwarna kelabu kehijau-hijauan yang kemudian menjadi putih kelabu
dengan pinggiran coklat. Ukuran bercak dapat mencapai panjang 2-3 cm.
Jika kondisinya lembab sekali, pelepahnya dapat busuk sehingga
penyakit disebut juga busuk upih. Biasanya gumpalan benang jamur
dapat dijumpai pada pelepah yang terinfeksi.
b. Penyebab
Sebagi penyebab penyakit ini ialah jamur Rhizoctonia solani dan
R. Oryzae. jamur ini dapat bertahan dalam tanah atau sisa tanaman dalam
bentuk benang-benang atau gumpalan yang keras (sklerotia). Jamur ini
berkembang pesat dalam kondisi lembab, misalnya di bawah rumpun
padi yang rapat. Pada tanaman yang dipupuk berat dengan pupuk N,
jamur juga berkembang pesat. Sinar matahari yang intensif dapat
menekan pertumbuhan cendawan.
5. Hangus Palsu (Ustilaginoidea virens)
a. Gejala
Bulir-bulir padi berubah menjadi gumpalan spora yang berukuran
sampai satu cm. Gumpalan spora tersebut mula-mula berwarna kuning
sampai orange, kemudian menjadi hijau gelap.

Gambar 12. Hangus Palsu


(Harahap dan Tjahyono, 1993)
b. Penyebab
Sebagai penyebab penyakit ini ialah jamur Ustilaginoidea virens.
Jamur ini terutama merusak pada kondisi lembab, banyak hujan,
mendung pada masa pembungaan, dan tanaman yang dipupuk N dengan
dosis tinggi. Infeksi terjadi persis sebelum pengisian bulir. Penularan
terjadi lewat udara.
2.4.2.2 Penyakit Penting pada Jagung
Berikut di bawah ini adalah penyakit penting pada tanaman jagung
yang dapat menyebabkan kerugian dan menurunkan hasil panen menurut
Surtkanti (2011).
1. Bulai
a. Gejala
Gejala penyakit ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna
putih sampai kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik dan ciri
lainnya adalah pada pagi hari disisi bawah daun jagung terdapat lapisan
beledu putih yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur. Penyakit
bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas
keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal (setempat).

Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh


sehingga semua daun yang dibentuk terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi
penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak membentuk buah,
tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih terbentuk buah
dan umumnya pertumbuhannya kerdil.
Gambar 13. Bulai Jagung (Surtkanti, 2011)
b. Penyebab
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan
Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang
luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan
di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu Malang Jawa Timur.
2. Bercak daun
Gejala penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe
menurut ras patogennya yaitu ras O, bercak berwarna coklat kemerahan
dengan ukuran 0,6 x (1,2 - 1,9) Cm. Ras T bercak berukuran lebih besar
yaitu (0,6 - 1,2) x (0,6 - 2,7) Cm, berbentuk kumparan dengan bercak
berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat
kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih virulen dibanding ras O dan pada
bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3 sampai
4 minggu setelah tanam.
Gambar 14. Bercak Daun (Surtkanti, 2011)
Tongkol yang terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan
tongkol dapatgugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian
tanaman (daun, pelepah,batang, tangkai kelobot, biji dan tongkol).
Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu
sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar.
Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup
dalam sisa tanaman.

3. Hawar daun

Gambar 15. Hawar Daun Jagung (Surtkanti, 2011)


Gejala dari penyakit hawar daun pada awal infeksi gejala berupa
bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang
berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar,
warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5- 15 Cm,
bercak muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang
menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati
atau mengering dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot.
Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada
daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang. Penyebab penyakit hawar
daun adalah Helminthosporium turcicum.

4. Karat

Gambar 16. Karat Daun Jagung (Surtkanti, 2011)

Gejala dari karat jagung adalah bercak-bercak kecil (uredinia)


berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di
bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora yang
berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum
dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui
angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan
infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim
kemarau. Penyebab penyakit karat adalah Puccinia polysora.
5. Virus Mosaik Kerdil Jagung

Gambar 17. Virus Mosaik Kerdil Jagung (Surtkanti, 2011)


Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik
atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, dilihat secara keseluruhan
tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai
tetapi apabila permukaannya daun bagian bawah dan atas dipegang tidak
terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis
atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis
secara non persisten. Tanaman yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi
penurunan hasilnya.

Abadi, latief, 2003. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Bayu Media Publishing. Malang.
Conway, G. 1985. Agroecosystem analysis. Agricultural Administration, 20, 31-
55.
Conway, G. 1990. Concepts. In Agroecosystem analysis for research and
concepts. Winrock Int. Inst. for Agriculture. Morrilton, AK.
Gliessman, S. R. 2004 Agroecology and Agroecosystems. In: D. Rickerl & C.
Francis (eds.) Agroecosystem Analysis, pp. 1929. American Society of
Agronomy, Madison, WI.
Karyono. 2000. Conflict Between Agricultural Development and Biological
Diversity. Bionatura 2 (2) : 53-59. Lembaga Penelitian Unpad. Bandung
Harahap dan Tjahyono.1993.Pengendalian Hama Penyakit Padi. Jakarta : Penebar
Suadaya.
Hasan, B. J. 2002. Agroekologi Suatu Pendekatan Fisiologis. Jakarta: Rajawali
Pers.
Madigan MT, Martinko JM, Brock TD. 2006. Brock Biology of Microorgnisms.
New Jersey:Pearson Prentice Hall
Natawigena, Hidayat. 1990. Pengendalian Hama Terpadu. Armico: Bandung
Nyoman, Ida. 1998. Pengendalian Hama Terpadu. UGM Press : Yogyakarta
Rahmawatif, R. 2012. Hama dan penyakit tanaman . Pustaka baru press:
Yogyakarta.
Schlinger, Evert I 1978. Biological Control of Insecta Pert and Weeds. Hallsted :
New York
Surtkanti. 2011. Hama dan Penyakit Penting Tanaman Jagung dan
Pengendaliannya. Balai Tanaman Serelia. Seminar Nasional Tanaman
Serelia 2011.