Anda di halaman 1dari 18

GAMBARAN UMUM LOKASI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

1. Kondisi Lingkungan Fisik


1.1 Letak, Luas, dan Batas Wilayah
Kabupaten Kulon Progo merupakan kabupaten di bagian barat Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta dengan luas wilayah 58.027 ha (580,27 km2). Letak geografis Kabupaten Kulon
Progo pada 110013711001626 BT dan 70384270593 LS sebagaimana pada
gambar, dengan batas-batas :
- sebelah utara : Kab. Magelang Propinsi Jawa Tengah
- sebelah timur : Kab. Sleman dan Bantul Propinsi D.I. Yogyakarta
- sebelah selatan : Samudera Hindia
- sebelah barat : Kab. Purworejo Propinsi Jawa Tengah
1.2 Topografi
Secara umum wilayah Kabupaten Kulon Progo dikelilingi oleh perbukitan dan
pegunungan terutama di wilayah bagian utara. Oleh karena itu wilayahnya mempunyai
ketinggian yang cukup beragam. Gambar 6 menunjukkan ketinggian wilayah Kabupaten
Kulon Progo.
Wilayah Kabupaten Kulon Progo didominasi oleh dataran rendah dengan ketinggian
kurang dari 100 m dpl yaitu sebesar 56,12%. Wilayah dataran rendah tersebut, terdapat pada
bagian selatan memanjang ke utara di bagian timur.Ketinggian wilayah 100-500 m dpl
tersebar di wilayah Kabupaten Kulon Progo bagian tengah ke utara. Wilayah dengan
ketinggian 500-1.000 m dpl merupakan yang paling kecil luasannya, dengan penyebarannya
meliputi wilayah KulonProgo bagian barat memanjang dari tengah ke utara. Berdasarkan
ketinggian wilayah, Kabupaten Kulon Progo terbagi atas tiga bagian dengan luasan dari
masing-masing bagian tersaji pada Tabel 1.

Penyebaran ketinggian wilayah Kabupaten Kulon Progo tidak mengikuti batas


administrasi dalam hal ini batas kecamatan. Kecamatan Nanggulan, Kokap, Girimulyo, dan
Pengasih mempunyai ketinggian wilayah yang beragam. Hal ini berbeda dengan wilayah
Kulon Progo bagian selatan. Kecamatan Wates, Panjatan, Galur, Lendah, dan sebagian
Pengasih merupakan kecamatan dengan wilayah relatif datar dan ketinggian kurang
dari 100 m dpl. Keadaan topografi Kabupaten Kulon Progo tersaji pada Tabel 2.

Kabupaten Kulon Progo mempunyai karakteristik wilayah dengan ketinggian yang


tersebar cukup beragam. Hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat kemiringan lereng.

Gambar menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Kulon Progo mempunyai tingkat


kemiringan dari datar sampai dengan sangat curam. Wilayah dengan kelerengan datar (0-3%)
sangat mendominasi, tersebar di Kulon Progo bagian selatan. Kelerengan 3-8% umumnya
mempunyai penyebaran di sekitar tingkat kemiringan kelerengan 0-3%, terutama di wilayah
Kulon Progo sebelah timur bagian utara. Tingkat kemiringan lereng 3-8% mempunyai luasan
yang kecil. Tingkat kemiringan lereng 8-15% tersebar secara terpencar dengan luasan kecil-
kecil di bagian tengah wilayah Kulon Progo. Tingkat kemiringan lereng 15-25% tersebar
terutama di Kulon Progo bagian tengah sebelah timur. Di samping itu tingkat kemiringan
lereng 15-25% tersebar terpencar di antara lereng dengan kemiringan lebih dari 25%. Tingkat
kemiringan lereng 25-40% atau lebih terdapat pada wilayah Kulon Progo sebelah barat mulai
dari tengah ke utara. Berdasarkan persentase luas tiap tingkat kemiringan lereng, lereng 0-3%
mendominasi wilayah Kabupaten Kulon Progo. Tingkat kemiringan lereng 25-40% atau lebih
mempunyai persentase luasan yang tidak terpaut jauh masing-masing 25,6% dan 21,5%.
Tingkat kemiringan lereng yang lain mempunyai luasan dengan persentase yang kecil yaitu
kurang dari 10%. Sebaran kemiringan lereng di Kabupaten Kulon Progo selengkapnya
ditunjukkan pada Tabel 3.

1.3 Jenis Tanah


Kabupaten Kulon Progo mempunyai tujuh jenis tanah meliputi aluvial,litosol, regosol,
renzina, podsolik, mediteran, dan latosol. Tanah latosol merupakan jenis yang dominan,
tersebar di Kecamatan Pengasih, Kokap, Girimulyo, Kalibawang dan Samigaluh dengan
persentase 42,19% dari luas wilayah kabupaten. Tanah aluvial, tersebar di Kecamatan Temon,
Wates, Panjatan, Galur, Lendah, Sentolo, Pengasih dan Nanggulan dengan persentase 22,77%.
Tanah regosol tersebar di Kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Lendah, dan Galur dengan
persentase 9,22%. Tanah regosol dan litosol mempunyai persentase luasan yang cukup besar
sekitar 12,51% dengan penyebaran meliputi Wates, Panjatan, Lendah, Sentolo, Nanggulan
dan Kalibawang. Tanah litosol, mediteran dan renzina mempunyai persentase luasan 12,38%
dengan penyebaran meliputi Kokap, Wates, Pengasih, Sentolo, Nanggulan, dan Kalibawang.
Tanah podzolik dan regosol mempunyai persentase luasan yang sangat kecil sekitar 1% yang
tersebar diperbatasan antara Nanggulan, Kalibawang dan Girimulyo. Tanah latosol dan litosol
sangat kecil dan terdapat di Kecamatan Kalibawang.
Gambar 8 menunjukkan persebaran jenis tanah di Kabupaten Kulon Progo.
Sebaran jenis tanah di Kabupaten Kulon Progo selengkapnya sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3 Jenis tanah di Kabupaten Kulon Progo

1.4 Pola Curah Hujan


Curah hujan di Kabupaten Kulon Progo rata-rata mencapai 2.388 mm/tahun, dengan
rata-rata hari hujan (hh) sebanyak 112 hh/tahun atau 9 hh/bulan. Curah hujan tertinggi terjadi
pada bulan Januari dan terendah pada bulan Agustus. Suhu terendahnya 24,2 0C (bulan Juli)
dan tertinggi 25,40C (bulan April). Kelembaban terendahnya 78,6% (bulan Agustus) dan
tertingginya 85,9% (bulan Januari). Intesitas penyinaran matahari rata-rata bulanan mencapai
lebih kurang 45,5%, dengan intensitas terendah 37,5% pada bulan Maret dan tertinggi 52,5%
pada bulan Juli. Distribusi curah hujan yang meliputi bulan basah terjadi pada bulan Oktober
sampai April, sementara bulan kering terjadi pada bulan Mei sampai September. Menurut
Klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson, tipe iklim dapat diketahui dengan perbandingan antara
rata-rata jumlah bulan kering dengan rata-rata jumlah bulan basah. Berdasarkan distribusi
curah hujan yang menunjukkan jumlah bulan basah dan bulan kering, diperoleh nilai Q
sebesar 71,4%. Hal ini menunjukkan bahwa berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson,
Kabupaten Kulon Progo mempunyai tipe iklim D (sedang). Rata-rata curah hujan dan hari
hujan bulanan di Kabupaten Kulon Progo tersaji pada Tabel 4.

Pola curah hujan di Kabupaten Kulon Progo menunjukkan bahwa nilai curah hujan
akan meningkat seiring meningkatnya ketinggian wilayah. Pola persebaran hujan dan
topografi wilayah saling berhubungan antara ketinggian tempat terhadap besarnya curah
hujan, dimana daerah yang lebih tinggi secara topografi akan memiliki curah hujan yang lebih
besar pula. Pola curah hujan di Kabupaten Kulon Progo sesuai dengan topografi wilayah
menunjukkan bahwa semakin ke utara curah hujan semakin tinggi. Curah hujan yang tinggi
terutama terjadi di Kecamatan Samigaluh dan Kalibawang. Pola curah hujan di Kabupaten
Kulon Progo tersaji pada Gambar 9.
1.5 Penggunaan Lahan

Pemanfaatan sumber daya alam harus optimal dengan mempertimbangkan aspek


ekonomi, kelestarian, kesesuaian, dan berkelanjutan. Tujuannya untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Penggunaan lahan di daerah pesisir
sebagian besar telah dikembangkan menjadi lahan pertanian dan pemukiman penduduk.
Wilayah dengan karakteristik kelerengan yang curam merupakan kawasan perlindungan
setempat dan perlindungan daerah-daerah dibawahnya. Penggunaan lahan terutama sebagai
kawasan hutan. Permukiman, sawah, dan ladang mempunyai persentase penggunaan yang
kecil pada kawasan lindung karena keterbatasan topografi dan fungsi kawasan. Kawasan
untuk perlindungan meliputi Kecamatan Kokap, Nanggulan, Samigaluh, dan Kalibawang.

Area pertanian dan permukiman terutama di bagian tengah dan bagian selatan wilayah
kabupaten. Areal pertanian meliputi sawah, tegalan, dan kebun. Daerah lagun digunakan
sebagai kebun dengan tanaman seperti pisang, kelapa, dan tanaman lain yang tahan terhadap
pengaruh air laut. Selain itu daerah lagum juga digunakan sebagai lahan pertanian dan
pemukiman, daerah pesisir juga berpotensi untuk digunakan sebagai area tambak udang.
Secara umum penggunaan lahan di Kabupaten Kulon Progo meliputi penggunaan lahan hutan,
sawah, tegalan/ladang, kebun campur, dan permukiman. Hasil interpretasi citra landsat tahun
1996 dan tahun 2009 pada band 542 (RGB), menunjukkan berbagai penggunaan lahan di
Kabupaten Kulon Progo.
Penggunaan lahan terdiri dari sembilan jenis meliputi: hutan (HT), kebun campuran
(KC), permukiman (PK), sawah (SW), sawah tadah hujan (SWT), tegalan/ladang (TG), semak
belukar (SB), sungai (SN), dan waduk (WD). Adapun peta penggunaan lahan Kabupaten
Kulon Progo tahun 1996 dan 2009 disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2.

Gambar 1 Peta Penggunaan Lahan di Kabupaten Kulon Progo Tahun 1996


Gambar 2
Peta Penggunaan Lahan di Kabupaten Kulon Progo Tahun 2009

Deskripsi dari masing-masing jenis penggunaan lahan hasil analisis citra landsat pada
band 542 (RGB) dan pengecekan di lapangan sebagai berikut :
Hutan
Hutan mempunyai kenampakan pada citra landsat band 542 dengan warna hijau tua,
tekstur kasar, pola tidak teratur umumnya bergerombol dengan luasan yang besar. Penggunaan
lahan hutan di Kabupaten Kulon Progo tersebar di sebelah barat dari tengah memanjang ke
utara. Kawasan hutan diperuntukkan sebagai kawasan lindung terhadap wilayah setempat dan
wilayah yang berada dibawahnya. Vegetasi penyusun hutan lindung merupakan campuran
berbagai jenis tanaman tahunan antara lain mahoni, jati, acasia, pinus, kenanga, akasia, kayu
putih, sono keling, dan kemiri. Penyebaran hutan terdapat pada wilayah dengan karakteristik
fisik kelerengan yang curam sampai sangat curam, terutama dijumpai di Kecamatan
Samigaluh, Pengasih, Nanggulan, Kokap, Kalibawang, dan Girimulyo. Kondisi vegetasi
penyusun hutan relatif masih baik dengan kondisi penutupan tajuk yang cukup rapat dan
merata.

Semak Belukar
Penampakan penggunaan lahan semak belukar pada citra Landsat band 542 (RGB)
berwarna coklat kemerahan dengan tekstur kasar, berpola tidak teratur dan menyebar. Semak
belukar merupakan lahan-lahan yang ditumbuhi rerumputan, tanaman perdu, dan tumbuhan
menjalar. Semak belukar umumnya mempunyai kerapatan cukup padat dan merata menutupi
permukaan tanah sehingga dapat berfungsi sebagai penahan erosi dan mempertinggi resapan
air. Penggunaan lahan semak belukar sebagian merupakan peralihan dari penggunaan lahan
yang satu ke penggunaan lahan lainnya. Penggunaan lahan pertanian yang akan dirubah
menjadi areal terbangun biasanya akan tumbuh semak belukar terlebih dahulu. Jenis tanaman
semak belukar di Kabupaten Kulon Progo secara umum adalah alang-alang/rumput dan
tumbuhan menjalar.

Kebun Campuran
Kenampakan penggunaan lahan kebun campuran pada citra landsat band 542 (RGB)
berwarna hijau kecoklatan, pola tidak teratur dan menyebar. Kebun campuran di Kabupaten
Kulon Progo mempunyai penyebaran di wilayah bagian selatan dan bercampur dengan
penggunaan lahan permukiman dan sawah. Di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan
lahan kebun mempunyai polapenanaman campuran antara tanaman semusim dengan tanaman
tahunan atau tumpangsari. Batas tepi kebun ditanami tanaman tahunan dengan jarak tanam
teratur dan cukup rapat. Tanaman tahunan penghasil kayu digunakan sebagai batas antar
pemilik kebun. Tanaman tahunan yang dimanfaatkan untuk hasil bukan kayu ditanam dalam
area kebun bukan sebagai tanaman pagar. Sebagai contoh pada tepi kebun ditanam tanaman
tahunan dengan hasil kayu yaitu jenis kayu jati. Tanaman kelapa ditanam dengan jarak tanam
secara teratur dalam areal kebun sebagai hasil bukan kayu. Di antara tanaman kelapa ditanami
ketela yang merupakan tanaman musiman. Lahan-lahan kebun yang kurang subur oleh
masyarakat ditanami tanaman tahunan tanpa tanaman semusim

Tegalan/Ladang
Tegalan/ladang pada citra landsat band 542 (RGB) mempunyai kenampakan seperti
kebun campuran. Pada umumnya tegalan/ladang terletak jauh dari permukiman.
Tegalan/ladang merupakan areal pertanian untuk tanaman semusim yang tidak memerlukan
air dalam jumlah banyak. Tanaman yang dibudidayakan di lahan tegalan/ladang adalah
palawija, antara lain kacang tanah, jagung, dan ketela. Tegalan/ladang yang didominasi oleh
tanaman palawija membuat lahan sering dalam kondisi terbuka terutama saat tanaman selesai
dipanen dan ada waktu tunggu untuk musim tanam berikutnya saat datangnya hujan. Vegetasi
tanaman tahunan pada tegalan/ladang juga cukup jarang karena naungannya dapat
mengurangi pertumbuhan dan hasil tanaman palawija.
Di Kabupaten Kulon Progo tegalan/ladang banyak ditemukan terutama di wilayah
dengan kondisi topografi berbukit yaitu wilayah bagian tengah. Tegalan/ladang dengan luasan
yang kecil-kecil tersebar di seluruh wilayah. Kegiatan perladangan dilakukan pada lahan-
lahan yang cukup subur untuk tanaman palawija, sedangkan untuk lahan-lahan yang
diperkirakan kurang menghasilkan apabila ditanami palawija, ditanami tanaman tahunan yang
menghasilkan kayu. Pada lahan tegalan/ladang biasanya juga dilakukan teknik konservasi
dengan pembuatan teras yang diperkuat dengan susunan batu.

Sawah dan Sawah Tadah Hujan


Sawah dan sawah tadah hujan pada citra Landsat band 542 (RGB) berbentuk petak-
petak yang ukurannya relatif seragam dengan warna kecoklatan atau hijau. Penyebaran sawah
irigasi di Kabupaten Kulon Progo terutama dijumpai pada wilayah bagian tengah ke selatan,
dengan topografi datar dan ketinggian tempat yang lebih rendah. Petak-petak sawah irigasi
lebih seragam dan bentuk yang jelas sedangkan pada sawah tadah hujan bentuk petakannya
kurang seragam. Luasan petak/hamparan sawah irigasi cenderung lebih besar daripada sawah
tadah hujan.Sawah tadah hujan dijumpai di Kulon Progo bagian utara, yaitu daerah perbukitan
terutama di Kecamatan Samigaluh, Girimulyo dan Kalibawang. Sawah tadah hujan biasanya
menyatu dengan tegalan/ladang dan ditanami padi pada saat musim hujan saja, sedangkan
pada musim kemarau ditanami palawija.
Masyarakat tetap mempertahankan sawah tadah hujan, sehingga tidak dirubah ke
penggunaan lahan yang lain. Hal ini disebabkan karena masyarakat tetap mengharapkan ada
hasil pertanian berupa padi setiap tahunnya, sedangkan lahan untuk menghasilkan padi satu-
satunya adalah sawah tadah hujan mengingat tidak ada sawah irigasi.

Permukiman
Permukiman pada citra landsat band 542 (RGB) mempunyai kenampakan berbentuk
kotak-kotak, berwarna magenta tua, bertekstur halus sampai kasar dengan pola teratur.
Permukiman di Kabupaten Kulon Progo dapat dibedakan antara permukiman di pedesaan
dengan permukiman di perkotaan. Permukiman di pedesaan merupakan permukiman
tradisional dengan pola terpencar tidak teratur dengan kelompok kecil-kecil yang berbaur
menjadi satu kelompok dengan vegetasi. Jarak antar permukiman juga cukup jauh.
Permukiman di perkotaan mempunyai pola berkelompok besar-besar, teratur dengan vegetasi
antar permukiman cukup sedikit.
Permukiman di perkotaan dengan pola teratur dan seragam merupakan daerah
perumahan modern/realestate yang terdiri dari blok- blok perumahan. Pola permukiman di
perkotaan mengikuti jalan utama dan sebagian juga mengikuti sungai untuk daerah di sekitar
kota. Arah perkembangan permukiman di Kulon Progo menunjukkan ke arah
selatan wilayah kabupaten, oleh karena dipengaruhi kondisi fisik wilayah yang relatif lebih
datar. Penambahan luasan permukiman cukup besar terjadi di Kecamatan Wates, Temon,
Sentolo, Panjatan, Nanggulan, dan Galur. Kecamatan Panjatan dan Temon menunjukkan
tingkat perkembangan permukiman yang cukup tinggi mengingat kecamatan tersebut
berdekatan dengan Wates sebagai ibu kota kabupaten.

Sungai
Sungai pada citra landsat band 542 (RGB) dapat dikenali dari bentuknya yang
memanjang berkelok-kelok dan berwarna biru tua atau gelap. Sungai cenderung tetap dari
waktu ke waktu karena tidak ada aktivitas manusia yang berakibat terhadap berubahnya
bentuk sungai. Di Kabupaten Kulon Progo sebelah timur dijumpai Sungai Progo yang
menjadi batas dengan Kabupaten Sleman dan Bantul. Sungai Progo mempunyai anak-anak
sungai yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah disekitarnya. Kecamatan Galur dan Lendah
merupakan kecamatan yang terluas sungainya, oleh karena disisi timur memanjang ke selatan
pada kedua kecamatan ini merupakan muara dari Sungai Progo.

Waduk
Waduk yang terdapat di Kabupaten Kulon Progo yaitu Waduk Sermo, terletak di
Kecamatan Kokap. Waduk Sermo merupakan satu-satunya waduk di Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta, dibangun pada tahun 1994 dan selesai tahun 1997. Luas genangan dari
Waduk Sermo 157 ha, dapat menampung air 25 juta m 3, dengan bentuk waduk yang
berkelok-kelok. Waduk Sermo dibangun dengan membendung sungai Ngrancah. Bendungan
dibangun menghubungkan dua bukit dengan ukuran bendungan lebar atas delapan meter,
lebar bawah 250 meter, panjang 190 meter dan tinggi 56 meter. Pada pembangunan waduk
ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo memindahkan 107 KK untuk
bertransmigrasi, dengan tujuan 100 KK ke Bengkulu dan 7 KK ke Riau.

2. Kondisi Sosial Budaya


2.1 Penduduk
Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2008 sebesar 2,81%,
dengan jumlah 476.387 orang. Jumlah penduduk tersebut, terdiri dari lakilaki sebanyak
234.364 jiwa dan perempuan sebanyak 242.023 jiwa (Kulon Progo dalam Angka, 2009).
Keadaan kependudukan di Kabupaten Kulon Progo menurut registrasi selama lima tahun
terakhir tersaji pada Tabel 5.
Tabel 5 Jumlah dan pertumbuhan penduduk, serta jumlah kepala keluarga di
Kabupaten Kulon Progo

Komposisi penduduk di Kabupaten Kulon Progo berdasarkan umur mulai tahun 2008,
didominasi kelompok usia produktif dengan usia 19 s/d 59 tahun yakni sebesar 288.919 orang
atau 60,65%, sedangkan usia muda umur 0 s/d 18 tahun sebanyak 118.079 orang (24,79%)
dan yang minoritas adalah kelompok usia tua 60 tahun keatas sebanyak 69.389 orang
(14,57%). Komposisi penduduk yang didominasi oleh kelompok usia produktif menunjukkan
efektivitas penduduk yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya manusia
sebagai modal pembangunan sangat terpenuhi di Kabupaten Kulon Progo.
Gambar menunjukkan komposisi penduduk Kabupaten Kulon Progo menurut kelompok umur
sampai tahun 2008.
Berdasarkan tingkat pendidikan, penduduk di Kabupaten Kulon Progo paling dominan
berpendidikan dasar (SD dan SMP) sebesar 201.145 orang, SLTA sebesar 125.103 orang dan
yang terkecil berpendidikan pascasarjana yakni sebesar 596 orang. Penduduk yang belum
sekolah sebesar 78.352 orang, tidak tamat SD sebesar 45.160 orang, dan berpendidikan
diploma sebesar 9.628 orang. Berdasarkan mata pencaharian, jenis pekerjaan yang
mendominasi adalah petani atau pekebun sebesar 127.496 orang 26,7%, belum/tidak bekerja
sebesar 19,25%, pelajar dan mahasiswa sebesar 14,0%, wiraswasta sebesar 10,9%, dan
karyawan swasta sebesar 7,7%.
2.2 Kebudayaan
Seni dan budaya merupakan identitas bagi suatu daerah. Kebudayaan di Kabupaten
Kulon Progo bernuansa budaya jawa, berkaitan dengan benda-benda bersejarah, upacara adat
dan berbagai karya seni lainnya. Kemajuan seni dan budaya akan membawa pengaruh yang
positif baik dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya itu sendiri maupun bagi
masyarakat pendukungnya baik secara sosial, budaya, dan ekonomi.Beberapa upacara adat di
Kabupaten Kulon Progo sudah dikemas dengan cukup baik sehingga menjadi daya tarik
wisata maupun untuk kelestarian budaya itu sendiri. Kesenian Angguk Putri memberikan
warna tersendiri sebagai identitas kebanggaan daerah serta diupayakan terwujudnya seni
unggulan yang lain yaitu sendratari dengan mengangkat tema lokal. Di wilayah Kabupaten
Kulon Progo juga banyak ditemukan peninggalan benda-benda bersejarah yang bernilai
tinggi, dimana sebagian sudah berhasil diidentifikasi.

3. Kelas Kemampuan Lahan Kabupaten Kulon Progo


Kabupaten Kulon Progo mempunyai tingkat kelerengan dari datar sampai dengan
sangat curam. Semakin ke arah utara kelerengannya semakin curam. Tingkat kelerengan lahan
sangat menentukan kelas kemampuan lahan dimana, semakin curam lereng maka semakin
tinggi kelas kemampuan lahan. Selain tingkat kelerengan, jenis tanah, erosi, singkapan
batuan, kedalaman solum tanah, dan rawan longsor merupakan faktor-faktor yang
berpengaruh dalam menentukan kelas kemampuan lahan. Faktor-faktor tersebut akan
membatasi penggunaan lahan sampai batas tertentu. Resiko dari kelas kemampuan lahan yang
semakin tinggi maka semakin terbatas pula pemanfaatan lahan tersebut. Setiap kelas
kemampuan lahan mempunyai kesamaan faktor-faktor penghambat utama. Gambar
memperlihatkan kelas kemampuan lahan di Kabupaten Kulon Progo.

Berdasarkan peta kelas kemampuan lahan pada gambar ,Kabupaten Kulon Progo
mempunyai lima kelas kemampuan lahan. Luas dan persentase dari masing-masing kelas
kemampuan lahan di Kabupaten Kulon Progo tersaji dalam tabel.
Tabel Luas tiap kelas kemampuan lahan di Kabupaten Kulon Progo tahun 1996 dan 2009
Tabel dan Gambar menunjukkan bahwa kemampuan lahan kelas I merupakan yang
paling dominan dengan luas 16.948 ha atau 29,2%. Urutan kedua adalah kelas kemampuan
lahan III dengan persentase 26,0%, diikuti dengan kelas kemampuan VI, kelas kemampuan
lahan II, dan kelas kemampuan lahan IV merupakan yang terkecil sebesar 8,41%. Lahan
kelas I mendominasi wilayah Kulon Progo bagian selatan sampai dengan daerah pesisir dan
wilayah bagian timur tetapi dengan luasan yang cukup kecil. Lahan kelas II mempunyai
sebaran terpencar-pencar dan umumnya berbatasan dengan lahan kelas I, dan tersebar di
daerah pesisir. Lahan kelas II juga tersebar di Kulon Progo bagian timur utara terutama di
Kecamatan Nanggulan.Lahan kelas III tersebar dominan di wilayah tengah, bagian timur
Kulon Progo dengan kondisi topografi berbukit. Persebaran lahan kelas III juga dijumpai
secara terpencar-pencar di wilayah Kulon Progo bagian utara. Sebaran dari lahan kelas
kemampuan IV tersebar di wilayah Kulon Progo sebelah barat dari tengah ke utara dan
berbatasan dengan lahan kelas VI. Kelas lahan VI meliputi wilayah bagian barat dari tengah
sampai ke utara dan merupakan lahan dengan topografi berbukit.

Dibangunnya Waduk Sermo pada tahun 1997, berdampak terhadap lahan-lahan


dengan kelas kemampuan IV berkurang seluas 138 ha, oleh karena digunakan untuk areal
pembangunan waduk tersebut yang terdapat di Kecamatan Kokap. Kelas kemampuan lahan
mengindikasikan kesamaan potensi dan hambatan atau resiko dari lahan tersebut, sehingga
dapat dipakai untuk menentukan tipe penggunaan atau tindakan konservasi yang perlu
dilakukan. Lahan dengan kelas kemampuan lahan I dan II merupakan lahan yang cocok untuk
pertanian ataupun penggunaan lahan yang lain mengingat tidak ada hambatan penggunaan
dalam kelas ini.
Lahan kelas VI merupakan lahan dengan penggunaan terbatas dan diutamakan untuk
dihutankan. Lahan kelas III dan IV dapat dipertimbangkan untuk berbagai penggunaan
lainnya. Kelas kemampuan lahan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan
penggunaan lahan. Penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuan lahan akan tetap
menjaga kualitas lahan, tetapi penggunaan lahan yang tidak sesuai kemampuannya
menyebabkan kerusakan lahan yang berujung ke lahan kritis. Terkait dengan kerusakan lahan
atau lahan kritis, kemampuan lahan dapat digunakan untuk pengecekan terhadap ketepatan
penggunaannya. Berdasarkan kelas kemampuan lahan, penggunaan lahan yang tidak sesuai
dengan kemampuannya dapat direkomendasikan perubahan penggunaannya, atau
diterapkannya teknologi konservasi sesuai karakteristik lahan tersebut. Hal ini akan tetap
menjaga lahan tidak rusak atau dapat digunakan secara lestari.
4. Design Tata Ruang Perkebunan Kakao di Kab.Kulon Progo Yogjakarta