Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM NUTRISI IKAN

PEMBUATAN PAKAN BENTUK ROTI KUKUS

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas laporan akhir praktikum mata kuliah
Nutrisi Ikan semester genap

Disusun oleh :
KELOMPOK 4/ KELAS B

Pipit Widia Ningsih 230110140083


Imas Siti Nur Halimah 230110140084
Lina Aprilia 230110140087
Rizki Nugraha Saputra 230110140094
Darajat Prasetya W 230110140098
Didi Arpindi 230110140101
Agnesia Amalia S 230110140128

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, karena kami telah
menyelesaikan laporan akhir praktikum Teknologi Pembenihan Ikan yang
berjudul Pembuatan Pakan Bentuk Roti Kukus. Tujuan Penulisan laporan ini
adalah memenuhi salah satu tugas laporan akhir praktikum Nutrisi Ikan semester
genap tahun akademik 2016-2017.
Laporan akhir praktikum ini tidak terlepas dari peran serta berbagai pihak,
maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang
terhormat :
1. Tim Dosen Mata Kuliah Nutisi Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran
2. Tim Asisten Praktikum Nutrisi Ikan yang telah membimbing dan
memberikan arahan dalam kegiatan praktikum
3. Kelompok 4 Perikanan B atas kerjasamanya dalam kegiatan praktikum
Penyusun telah berusaha sebaik mungkin dalam penulisan laporan akhir
praktikum ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran-sarannya agar
menjadi masukkan yang berguna bagi penyusun.
Akhir kata, penyusun berharap semoga laporan akhir praktikum ini dapat
memberikan manfaat bagi semua pihak.

Jatinangor, Juni 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

BAB Halaman
DAFTAR TABEL.................................................................................. iv
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................... vi
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
1.2 Tujuan.......................................................................................... 2
1.3 Manfaat........................................................................................ 2

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Pakan Bentuk Roti Kukus................................ 3
2.2 Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Bentuk Roti Kukus................. 5
2.2.1 Bahan Baku Hewani.................................................................... 6
2.2.2 Bahan Baku Nabati...................................................................... 7
2.2.3 Bahan Baku Tambahan................................................................ 8
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pakan Bentuk Roti Kukus............... 10
2.3.1 Kelebihan Pakan Bentuk Roti Kukus.......................................... 11
2.3.2 Kekurangan Pakan Bentuk Roti Kukus....................................... 15

III METODOLOGI PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat....................................................................... 18
3.2 Alat dan Bahan Praktikum........................................................... 18
3.2.1 Alat Praktikum............................................................................. 18
3.2.2 Bahan Praktikum......................................................................... 19
3.3 Prosedur Praktikum..................................................................... 19

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil ............................................................................................ 23
4.2 Pembahasan................................................................................. 27

V PENUTUP
5.1 Kesimpulan.................................................................................. 32
5.2 Saran............................................................................................ 32
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 33
LAMPIRAN........................................................................................... 35
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


1 Kandungan Gizi Pada Telur........................................................... 18
2 Kandungan Gizi Tepung Ikan Lokal.............................................. 19
3 Komposisi Zat Gizi Tepung Susu Per 100 Gram........................... 23
4 Komposisi Tepung Terigu Per 100 Gram Bahan........................... 27
5 Data Pengamatan Karakteristik Pakan...........................................
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman


1 Alat Praktikum............................................................................... 35
2 Bahan Praktikum............................................................................ 36
3 Dokumentasi Kegiatan Praktikum................................................. 37
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada kegiatan pemeliharaan ikan, salah satu hal yang perlu diperhatikan
adalah pemberian pakan. Pakan merupakan faktor penting dalam usaha budidaya
ikan intensif dan termasuk biaya variabel terbesar dalam proses produksi ikan
intensif yaitu 30% - 60% (Webster dan Liem 2002).
Penggunaan pakan buatan dalam jumlah yang cukup, tepat waktu dan
mempunyai nutrisi yang baik merupakan hal yang sangat berperan dalam kegiatan
budidaya ikan namun, pemenuhan kebutuhan pakan tersebut diikuti dengan
peningkatan impor bahan baku utama pakan. Bahan baku pakan ikan yang
diimpor tersebut adalah tepung ikan, tepung cumi, tepung krustase, Meat Bone
Meal (MBM), Poultry Meat Meal (PMM), tepung kedelai, terigu, serta berbagai
jenis vitamin dan mineral (Direktorat Produksi, Dirjen Perikanan Budidaya,
Kementerian Kelautan dan Perikanan 2009).
Adapun jenis-jenis pakan ikan adalah Pelet (Pakan Utama), Pakan
Tambahan (Pakan Kedua), dan Pakan Alami (Pakan Ketiga). Pelet merupakan
pakan yang biasanya diproduksi oleh pabrik, komposisi pelet olahan pabrik
biasanya mengandung berbagai macam jenis tepung, bungkil kelapa dan kedelai,
mineral, dedak halus, minyak dan berbagai macam vitamin yang diperlukan untuk
ikan (Hasan 2015).
Pakan tambahan digunakan oleh para peternak ikan di segmen pembesaran
agar lebih dapat menekan biaya produksi. Sesuai namanya, pakan tambahan
bersifat sebagai tambahan tidak baik memberikan pakan tambahan secara
berlebihan. Pemberian pakan tambahan yang baik biasanya sepuluh hari pada saat
akan menjelang masa panen. Pakan alami adalah pakan yang dihasilkan oleh alam
dan mengandung protein cukup tinggi sehingga sangat baik untuk pertumbuhan
ikan, jenisnya juga sangat banyak dan beragam seperti fitoplankton, zooplankton,
maupun meroplankton (Hasan 2015).
Pengelompokkan jenis-jenis pakan ikan dapat dibuat berdasarkan bentuk,
berdasarkan kandungan air, berdasarkan sumber dan berdasarkan kontribusinya
pada pertumbuhan ikan. Untuk pakan pada ikan yang masih stadia larva

1
2

dibutuhkan jenis pakan yang dapat dimakan dengan larva tersebut dimana masih
memiliki bukaan mulut yang kecil sehingga memudahkannya untuk memakan
pakan tersebut (Hasan 2015).
Salah satu jenis pakan buatan adalah pakan berbentuk Roti Kukus. Pakan
bentuk Roti Kukus ini digunakan sebagai Pakan langsung untuk ikan-ikan yang
ukuran benih/fingerling dengan cara dicuil kecil-kecil, sedangkan untuk larva ikan
dapat dilakukan dengan cara dibuat larutan suspensi terlebih dahulu melalui
proses penyaringan dengan kain mori halus.
Dengan demikian pengetahuan atau keterampilan dalam pembuatan pakan
ikan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan perlu diketahui oleh
pembudidaya, terutama bagi ikan yang masih larva atau benih yang merupakan
fase kritis terhadap mortalitas, sehingga pakan harus tepat sesuai kebutuhan,
ukuran bukaan mulut ikan, salah satu pakan buatan untuk larva atau benih ikan
adalah pakan ikan bentuk roti kukus, maka dalam praktikum ini dilakukan
pembuatan pakan ikan bentuk roti kukus.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui komposisi bahan, cara
membuat pakan dan mengetahui karakteristik pakan bentuk roti kukus.

1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum pembuatan pakan bentuk roti kukus ini diharapkan
praktikan mampu mengaplikasikannya dalam manajemen akuakultur khususnya
dalam bidang nutrisi pakan ikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Pakan Bentuk Roti Kukus


Pakan yang biasa diberikan kepada ikan pemakan plankton/alga, larva, dan
fingerling pakan dalam bentuk tepung kering, suspensi koloid, atau cake lunak.
Oleh ikan, pakan tersebut akan ditangkap langsung atau disaring dari air (Afrianto
dan Liviawaty 2005).
Kelemahan pakan jenis ini adalah sering mengendap di dasar kolam
sehingga tidak termakan. Untuk mencegah hal tersebut dan untuk meningkatkan
konsumsi pakan, campuran bahan baku harus diayak terlebih dahulu agar
mempunyai bentuk yang seragam dan tercampur merata. Selanjutnya, campuran
disemprot dengan minyak, cairan ikan yang kental, atau jaringan ikan yang telah
dihaluskan sehingga dapat memantulkan cahaya, menolak air, dan merangsang
partikel halus untuk bergabung membentuk partikel yang lebih besar (Afrianto
dan Liviawaty 2005).
Cara lain yang dapat dilakukan adalah mencampur bahan baku dengan air
sehingga terbentuk pasta atau cake. Pasta atau cake dapat terbentuk karena adanya
kemampuan mengikat dari komponen protein atau karbohidrat (ubi kayu, kedelai,
sagu, beras, alginat, gelatin, maupun gel buatan/CMC). Adonan ini selanjutnya
disaring sehingga membentuk suspensi koloid, serpihan, gumpalan atau cake
(Afrianto dan Liviawaty 2005).
Pakan buatan berbentuk pasta cocok untuk golongan sidat, carp dan
sebagian besar ikan laut yang dipelihara. Dalam penggunaan pakan berbentuk
pasta, biasanya dilakukan penambahan atau pencampuran dengan air, lemak, atau
ikan rucah.
Pakan buatan bentuk Roti Kukus, merupakan pakan yang digunakan untuk
makanan burayak ikan ataupun udang yang sedang didederkan. Pakan buatan
dalam bentuk Roti Kukus ini memiliki ketahanan selama 3 hari jika disimpan
dalam lemari es. Pakan ini terbuat dari adonan telur ayam, tepung ikan, tepung
terigu, tepung susu dan air yang dilengkapi vitamin.

3
4

2.2 Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Bentuk Roti Kukus


Bahan baku pakan berasal dari dua sumber golongan besar yaitu dari
hewani dan nabati. Bahan pakan bentuk roti kukus terbentuk dari telur, tepung
ikan, tepung susu, tepung terigu, vitamin dan air (mineral).

2.2.1 Bahan Baku Hewani


Bahan hewani adalah bahan baku yang berasal dari bagian-bagian tubuh
hewan. Bahan ini merupakan sumber protein. Protein dari bahan hewani relatif
mudah di cerna dan kandungan asam aminonya lebih lengkap. Beberapa macam
bahan baku hewani antara lain:
Telur
Komposisi telur terdiri dari 11% kulit telur, 58% putih telur, dan 31%
kuning telur. Kandungan gizi terdiri dari protein 6,3 gram, karbohidrat 0,6 gram,
lemak 5 gram, vitamin dan mineral di dalam 50 gram telur. Protein telur
merupakan protein yang bermutu tinggi dan mudah dicerna. Dalam telur, protein
lebih banyak terdapat pada kuning telur, yaitu sebanyak 16,5%, sedangkan pada
putih telur sebanyak 10,9% (Sudaryani 2003). Kuning telur kaya akan vitamin
dibandingkan putih telur. Kandungan vitamin utama pada kuning telur yaitu
vitamin A sebesar 600 g/100 g (Suprapti 2002).
Vitamin di dalam kuning telur umumnya bersifat larut dalam lemak.
Kandungan vitamin di dalam kuning telur jumlahnya bervariasi tergantung dari
jumlah vitamin pada pakan, tetapi vitamin kuning telur lebih banyak dibanding
dengan yang terdapat di putih telur. Kenaikan vitamin dalam pakan akan
meningkatkan kandungan vitamin dalam kuning telur sampai pada tingkat
kebutuhan optimal (Yuwanta 2010).
Menurut Grifin et al. (1985), kuning telur mengandung lebih kurang 33%
padatan, sebagian besar lipoprotein yang kaya dengan trigliserida, lipovitellin,
clan fosvitin, sedangkan sebagian kecil immunoglobulin, serum albumen protein
pengikat protein. Lebih dari 95% kolesterol dari kuning telur bergabung dalam
lipoprotein yang kaya trigliserida, sedangkan sisanya mengelilingi lipovitellin,
sebagai protein atau lemak kompleks yang terdiri atas kurang 20% lemak clan 4%
kolesterol. Kandungan gizi telur dapat dilihat pada Tabel 1.
5

Tabel 1. Kandungan Gizi Pada Telur


Kandungan Telur Utuh Putih Telur Kuning Telur
Energi (kalori) 72 17 55
Protein (g) 6,3 3,6 2,7
Lemak (g) 4,8 0 4,5
Kolesterol (mg) 186 0 184
Vitamin A (IU) 270 0 245
Vitamin D (IU) 41 0 37
Riboflavin (mg) 0,2 0,2 0,1
Asam folat (g) 24 1 25
Vitamin B12 (g) 0,5 0 0,3
Choline (mg) 126 0,4 116
Pospor (mg) 99 5 66
Zat besi (mg) 0,9 0 0,5
Zinc (mg) 0,7 0 0,4
Selenium (g) 15,4 6,6 9,5
Sumber : USBA (2010)

Tepung Ikan
Tepung ikan mempunyai variansi kualitas yang sangat tinggi, standarisasi
pengolahan dan tingkat nutrien tepung ikan yang didatangkan dari luar negeri
mempunya kadar protein antara 55-65 %, lemak 5-7 % (NRC 1994). Sedang
keberadaan nutrien dan kontrol kualitas tepung ikan lokal sangat rendah, itu
dibuktikan variansi nutrien sangat tinggi di masyarakat yaitu protein kasar 30-50
%, cemaran mikroorganisme yang sangat tinggi dan cara pengolahan tidak ada
ekstrasi lemak, kadar lemak mencapai 9-12 %. Kadar lemak tinggi disisi lain
dapat membantu penyusunan ransum di daerah tropik, namun ada kerugian yaitu
cepat tengik atau mudah mengalami oksidasi asam lemak (Sobri 2008).
Kandungan gizi pada tepung ikan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan Gizi Tepung Ikan Lokal


Kandungan Gizi Jumlah
Air % 21.00
Protein % 9.00
Abu % 2.88
Lemak % 4.40
SK % 11.20
Ca % 276.00
P% 704.00
A.P % 1797.00
KH % 280.00
6

Sumber: Uji tanggal 12 Oktober 2008, FPP UMM


Tepung Susu
Tepung susu berasal dari susu segar yang dikeringkan. Ada dua macam
tepung susu, yaitu tepung susu whole dan tepung susu skim. Tepung susu whole
adalah susu segar yang semua airnya diuapkan sehingga tinggal tepung saja, kadar
airnya tinggal 2%. Sedangkan tepung susu skim adalah hasil dari susu segar yang
kadar lemaknya telah dikurangi tinggal 0,1% dan airnya diuapkan hingga tinggal
3% (Girisonta 1995). Kandungan gizi pada tepung susu dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Zat Gizi Tepung Susu Per 100 gram
Kandungan Gizi Jumlah
Energi (kkal) 509
Air (g) 3,5
Protein (g) 24,60
Karbohidrat (g) 36,20
Kalsium (mg) 904
Lemak (g) 30
Fosfor (mg) 694
Besi (mg) 0,60
Vitamin A (g) 1.570
Vitamin B1 (mg) 0,29
Vitamin C (mg) 6
Sumber : Departemen Kesehatan RI (2005)

2.2.2 Bahan Baku Nabati


Bahan baku nabati dapat dijadikan sumber protein meskipun kandungan
proteinnya tidak terlalu tinggi, terutama jenis biji-bijian dari tanaman kacang-
kacangan seperti kacang kedele, kacang tanah, dan lain- lain. Sedangkan tepung
terigu, dedak adalah diantara contoh bahan baku sumber karbohidrat. Ada juga
beberapa bahan nabati lain yang dapat digunakan sebagai bahan baku pelet antara
lain daun lamtoro, daun turi, dan lain- lain sebagai sumber serat kasar atau
hijauan. Salah satu bahan baku pakan nabati yaitu tepung terigu.
Tepung Terigu
Tepung terigu merupakan tepung yang berasal dari bahan dasar gandum
yang diperoleh dengan cara penggilingan gandum yang banyak digunakan dalam
industri pangan. Komponen yang terbanyak dari tepung terigu adalah pati, sekitar
70% yang terdiri dari amilosa dan amilopektin. Besarnya kandungan amilosa
7

dalam pati ialah sekitar 20% dengan suhu gelatinisasi 56 - 62 (Belitz and Grosch
1987).
Tepung terigu yang mempunyai kadar protein tinggi akan memerlukan air
lebih banyak agar gluten yang terbentuk dapat menyimpan gas sebanyak-
banyaknya. Umumnya, dalam pembuatan roti digunakan tepung terigu protein
tinggi untuk mendapatkan volume yang besar, tetapi ada kemungkinan roti
menjadi alot. Oleh karena itu, dalam pembuatan roti perlu penambahan bahan-
bahan lain yang berfungsi untuk mengempukkan roti seperti gula, margarin atau
mentega, dan kuning telur dengan komposisi tertentu. Pencampuran tepung terigu
protein tinggi dengan tepung terigu protein sedang juga dapat dilakukan,
tujuannya agar kadar protein terigu turun sehingga roti yang dihasilkan sesuai
dengan keinginan, seperti tekstur lebih lembut (Mudjajanto & Yuliati 2004).
Tepung terigu merupakan bahan dasar dalam pembuatan roti dan mie.
Keistimewaan terigu diantara serealia lain adalah adanya gluten yang merupakan
protein yg menggumpal, elastis serta mengembang bila dicampur dengan air.
Gluten digunakan sebagai bahan tambahan untuk mempertinggi kandungan
protein dalam roti. Biasanya mutu terigu yang dikehendaki adalah terigu yang
memiliki kadar air 14%, kadar protein 8 - 12%, kadar abu 0,25 0,60% dan
gluten basah 24 36% (Astawan 2004). Kandungan gizi pada tepung terigu dapat
dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Komposisi Tepung Terigu Per 100 gram Bahan
Kandungan Gizi Jumlah
Energi (kal) Min 340
Air (g) Maks 14,5
Protein (g) 11
Karbohidrat (g) Min 70
Serat kasar (g) 0,4
Lemak (g) 0,9
Kalsium (mg) 1,0
Sumber : Departemen Kesehatan RI (1996)

2.2.3 Bahan Baku Tambahan


8

Bahan baku tambahan adalah bahan pelengkap yang ditujukan untuk


memperbaiki nilai gizi, menambah daya terik/atrakan serta memperbaiki daya
tahan pakan tersebut. Jumlah bahan tambahan tidak banyak tetapi sangat penting.
Beberapa jenis bahan tambahan antara lain: vitamin, mineral, bahan perekat atau
bider, anti oksidan dan anti biotik.
Vitamin
Vitamin diperlukan dalam jumlah relatif sedikit, bahan inti diperlukan untuk
membantu perkembangan pertumbuhan, menambah nafsu makan, keseimbangan
tubuh dan daya tahan tubuh. Vitamin yang digunakan dalam pembuatan pakan
bentuk roti kukus yaitu vita chicks. Vita chicks adalah serbuk larut air berwarna
coklat muda dengan kandungan multivitamin dikombinasikan dengan growth
promoter antibiotic untuk meningkatkan pertumbuhan anak ayam. Fungsi
penggunaan vita chicks dalam pembuatan paka emulsi ini sebagai suplemen atau
sumber vitamin dalam formulasi pakan.

Mineral
Mineral dibutuhkan untuk pembentukan jaringan tubuh ikan yang
berfungsi dalam mempertahankan keseimbangan osmoregulasi antara jaringan
tubuh dan cairan media atau lingkungan. Mineral yang diperlukan relatif besar
dibanding mineral lainya yaitu calsium (Ca) dan phospor (P). Kedua mineral ini
diperlukan pada proses penulangan (pembentukan tulang), gigi dan pergantian
kulit. Bahan tambahan mineral yang digunakan pada pembuatan pakan bentuk roti
kukus adalah air, dimana kegunaannya sebagai perekat bahan pakan.

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Pakan Bentuk Roti Kukus


2.3.1 Kelebihan Pakan Bentuk Roti Kukus
Adapun kelebihn dari pakan bentuk roti kukus yaitu sebagai berikut :
1. Tingkat daya simpan pada roti kukus lebih lama dari pakan emulsi, karena
pakan tersebut berbuat dalam keadaan lembap karena tingkat kadar air
yang masuh cukup tinggi dikarenakan pakan tersebut dimatangkan dengan
cara di kukus.
9

2. Komposisi pakan roti kukus tergolong lengkap dimana pakan roti kukus
dilengkapi dengan Protein, Karbohidrat, dan Vitamin.
3. Kadar protein pada pakan roti kukus tergolong tinggi, karena pada
komposisi roti kukus itu mengandung protein dimana terdapat tepung ikan,
tepung susu, dan juga telur.

2.3.2 Kekurangan Pakan Bentuk Roti Kukus


Selain memiliki kelebihan, pakan bentuk roti kukus juga memili
kekurangan sebagai berikut :
1. Penggunaan pakan roti kukus terhadap larva tidak efesien karena, sebelum
digunakan atau diberikan pada larva ikan atau benih ikan, pakan bentuk
roti kukus harus disuspensi terlebih dahulu menggunakan saringan atau
kain halus yang mesh size saringan disesuaikan dengan ukuran larva /
burayak / benih ikan yang diberi pakan tersebut.
2. Proses pembuatan suspensi yaitu dengan gumpalan-gumpalan kecil roti
kukus tersebut diencerkan pada saringan dan kain halus tersebut diatas
permukaan air wadah ikan berada. Proses pembuatan suspensi ini karena
larva ikan memiliki ukuran bukaan mulut yang kecil, sehingga pemberian
pakan untuk larva atau burayak ini disesuaikan dengan ukuran bukaan
mulut.
3. Pakan bentuk roti kukus juga lebih cepat mengalami ketengikan.
BAB III
METODELOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum pembuatan pakan bentuk roti kukus ini dilaksanakan pada hari
Senin, 22 Mei 2017 pukul 08.00 10.00 WIB yang bertempat di Laboraturium
Akuakultur, Gedung Dekanat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan Praktikum


3.2.1 Alat Praktikum
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
a. Panci pengukus sebagai wadah untuk mengukus pakan
b. Kompor sebagai pemanas pada proses pengukusan pakan
c. Gelas ukur plastik untuk mengukur banyaknya air yang dibutuhkan
d. Baskom sebagai wadah untuk menyatukan bahan-bahan
e. Spatula untuk mengaduk dan mencampurkan bahan-bahan
f. Sendok untuk mengambil bahan-bahan yang digunakan
g. Timbangan untuk mengukur berat bahan yang dibutuhkan

3.2.2 Bahan Praktikum


Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
a. butir telur sebagi sumber protein hewani
b. 25 gram tepung ikan sebagi sumber protein hewani
c. 50 gram tepung terigu sebagai sumber karbohidrat
d. 30 gram tepung susu sebagai sumber protein hewani
e. 2,5 gram vita chick sebagai sumber vitamin
f. 50 ml air sebagai sumber mineral dan perekat bahan pakan

3.3 Prosedur Praktikum


Prosedur kerja dalam pembuatan pakan bentuk roti kukus adalah sebagai
berikut :

10
11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka didapatkan hasil
pengamatan karakteristik pada pakan bentuk roti yang dibuat oleh kelompok 5
yang dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Data Pengamatan Karakteristik Pakan


No. Karakteristik Hasil Pengamatan
1 Warna Pakan berwarna coklat tua dan dan tidak mengkilap
2 Tekstur Pakan memiliki permukaan yang lembut tapi agak
kasar dan padat serta agak kenyal
3 Aroma Pakan memiliki aroma yang didominasi aroma tepung
ikan

4.2 Pembahasan
Berdasarkan data karakteristik pakan pada Tabel 5, diketahui bahwa pakan
bentuk roti kukus menghasilkan pakan dengan tekstur yang padat, agak kenyal
dan memiliki permukaan lembut tapi teksturnya agak kasar, beraroma khas tepung
ikan dan berwarna coklat tua dan tidak mengkilap. Karakteristik tersebut
dipengaruhi oleh komposisi bahan yang digunakan, dimana bahan yang digunakan
terdiri dari berbagai jenis tepung dan telur, sehingga tekstur adonannya akan
halus, karena ukuran partikel tepung yang kecil dan seragam.
Padatnya tekstur pakan bentuk roti kukus ini disebabkan oleh tepung terigu
karena, tepung terigu ini sendiri merupakan bahan perekat/ binder. Bahan perekat
pakan ikan biasanya merupakan bahan makanan yang mengandung karbohidrat
atau bahan yang banyak mengandung pati. Komponen yang terbanyak dari tepung
terigu adalah pati, sekitar 70% yang terdiri dari amilosa dan amilopektin.
Besarnya kandungan amilosa dalam pati ialah sekitar 20% dengan suhu
gelatinisasi 56-62oC (Belitz and Grosch 1987).
Selain itu, pencampuran tepung terigu dengan tepung-tepung lainnya yang
memiliki kadar protein tertentu, akan membuat tekstur adonan menjadi halus. Hal
tersebut sesuai dengan pernyataan Mudjajanto & Yuliati (2004), bahwa
pencampuran tepung terigu protein tinggi dengan tepung terigu protein sedang

12
13

juga dapat dilakukan, tujuannya agar kadar protein terigu turun sehingga roti yang
dihasilkan sesuai dengan keinginan, seperti tekstur lebih lembut.
Aroma yang dihasilkan adalah aroma khas tepung dimana, tepung yang
dimaksud adalah tepung ikan, sehingga membuat pakan memiliki aroma tepung
ikan yang mendominasi. Sedangkan warna coklat tua dihasilkan dari tepung ikan
yang berwarna coklat.
Pasta atau cake dapat terbentuk karena adanya kemampuan mengikat dari
komponen protein atau karbohidrat (ubi kayu, kedelai, sagu, beras, alginat,
gelatin, maupun gel buatan/CMC). Adonan ini selanjutnya disaring sehingga
membentuk suspensi koloid, serpihan, gumpalan atau cake (Afrianto dan
Liviawaty 2005). Pakan buatan berbentuk pasta cocok untuk golongan sidat, carp
dan sebagian besar ikan laut yang dipelihara. Dalam penggunaan pakan berbentuk
pasta, biasanya dilakukan penambahan atau pencampuran dengan air, lemak, atau
ikan rucah.
Pakan roti kukus dapat diberikan secara langsung untuk ikan-ikan yang
ukuran benih/fingerling dengan cara dicuil kecil-kecil, sedangkan untuk larva ikan
atau burayak dapat dilakukan dengan cara dibuat larutan suspensi terlebih dahulu
melalui proses penyaringan dengan kain mori halus. Hal tersebut sesuai dengan
pernyataan bahwa pakan bentuk roti kukus/cake ini biasa diberikan kepada ikan
pemakan plankton/alga, larva, dan fingerling, karena pakan tersebut akan
ditangkap langsung atau disaring dari air (Afrianto dan Liviawaty 2005).
Pakan suspensi yang digunakan untuk burayak ikan tersebut memiliki
kelemahan yaitu pakan jenis ini tidak tahan lama dan hanya bisa dipakai sekali,
jadi dalam pembuatannya disarankan sesuai kebutuhan atau sehari sekali.
Kandungan gizi dari pakan roti kukus itu sendiri sudah cukup untuk mempercepat
pertumbuhan benih atau burayak ikan. Kandungan gizi dari bahan-bahan tersebut
mengandung protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, kadar abu, air dan dengan
diperkuat dengan bahan tambahan yaitu vitamin untuk mempercepat pertumbuhan
ikan. Pada umumnya fungsi dari pakan ikan itu sendiri adalah untuk kelangsungan
hidup ikan, untuk pertumbuhan, untuk pencegahan dan pengobatan penyakit dan
untuk menstimulan warna dalam tubuh ikan.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat
disimpulkan bahwa pakan bentuk roti kukus merupakan pakan yang tersusun dari
bahan seperti telur, tepung ikan, tepung terigu, tepung susu dan vitamin serta air
yang dilakukan dengan pengukusan untuk mengurangi kadar air sehingga pakan
memiliki karakteristik dengan tekstur yang padat, agak kenyal dan permukaannya
halus, memiliki warna coklat tua namun tidak mengkilap dan aroma yang
didominasi tepung ikan yang khas.

5.2 Saran
Proses pencampuran bahan-bahan seperti telur dengan tepung-tepungan
yang digunakan harus dilakukkan sedikit demi sedikit agar tidak terbentuk
gumpalan sehingga dapat menurunkan kualitas pakan ketika dikukus. Gumpalan
tersebut akan membuat bentuk pakan menjadi mudah rusak/ pecah-pecah.

14
DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E., Liviawaty, E. 2005. Pakan Ikan. Penerbit Kanisius : Yogyakarta


Astawan, M. 2004. Tetap Sehat dengan Produk Makanan Olahan. Tiga Serangkai.
Solo
Belitz, H.D. dan Grosch, W. 1987. Food Chemistry. 2nd Edition. Springer. Page
232
Girisonta. 1995. Petunjuk Beternak Sapi Perah. Kanisius: Yogyakarta.
Griffin, H. D. and Perry, M. M. 1985. Exclusion of plasma lipoproteins of
intestinal origin from avian egg yolk because of their size. Comp.
Biochem. Physiol. 82B, 321-325.
Hasan, Nur. 2015. Jenis Pakan Ikan. Makalah Akuakultur: Program Studi
Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri
Tembilahan
Mudjajanto, E. S. dan Yulianti, L. N. 2004. Membuat Aneka Roti. Penebar
Swadaya. Jakarta NRC, 1994. Nutrient Requrements of Poultry. 6th Ed.
National Academic Press. Washington, D.C.
Sobri, 2006. Teknologi Pengolahan Pakan (Teknologi Pengolahan Pakan Terapan
di Daerah Tropis/Indonesia). Buku Ajar. Fapetrik UMM. 12 Oktober
2008, FPP UMM
Sudaryani, T. 2003. Kualitas Telur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suprapti, M. L. 2002. Pengawetan Telur. Kanisius, Yogyakarta.
Yuwanta, T. 2010. Telur dan Kualitas Telur. UGM-Press, Yogyakarta.

15
LAMPIRAN
16

Lampiran 1. Alat Praktikum

Baskom Spatula

Toples Timbangan

Gelas ukur Panci pengukus dan kompor

Kertas label
17

Lampiran 2. Bahan Praktikum

Tepung ikan Tepung terigu

Tepung susu Vitamin


18

Lampiran 3. Dokumentasi Kegiatan Praktikum

Pencampuran telur dengan berbagai Penambahan air ke dalam adonan


tepung

Hasil pencampuran adonan dengan air Adonan yang dimasukkan ke toples

Proses Pengukusan Pakan hasil pengukusan

Pakan yang telah dibentuk Pelapisan pakan dengan vitamin