Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KASUS JUNI

2017

PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA PADA PENATALAKSANAAN


GANGGUAN MIGRAIN PADA USIA PERTENGAHAN

NAMA: MUHAMMAD TAUFIK BIN AWANG

NIM: C111 12 856

DEPARTEMAN ILMU KEDOKTERAN MASYARAKAT DAN KELUARGA

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASSANUDIN, 2017


PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA PADA PENATALAKSANAAN
GANGGUAN MIGRAIN PADA USIA PERTENGAHAN

Pendahuluan

Migrain merupakan gangguan nyeri kepala berulang, dengan serangan berlangsung


selama 472 jam dengan karakteristik berlokasi unilateral, nyeri berdenyut (pulsating), intensitas
sedang atau berat, diperberat oleh aktivitas fisik rutin, dan berhubungan dengan mual dan/atau
fotofobia serta fonofobia (Headache Classification Subcommittee of the International Headache
Society, 2004). Nyeri kepala migrain merupakan keluhan klinis yang sering dihadapi oleh dokter
dalam praktik sehari-hari. Migrain dapat menyebabkan disabilitas bagi pasien, keluarganya, dan
masyarakat (Fernndez-de-LasPeas et al., 2010). Menurut Migal dkk., 2004, migraine
merupakan nyeri kepala primer yang memberatkan serta sering disalahpahami, kurang
terdiagnosis, dan kurang penanganan dalam praktik klinis. Gejala migrain biasanya disertai
gejala mual, muntah, atau peka terhadap cahaya. Pada banyak orang, migraine menyebabkan rasa
berdenyut yang terjadi hanya pada satu sisi kepala (Jasmin dkk.). Penelitian di Spanyol pada
subjek 16 tahun (n = 29478) menunjukkan prevalensi 11,02%.1 Penelitian lainnya yang
dilakukan di Taiwan diketahui 948 orang menderita migrain dari 4738 subjek dengan
pengamatan tahun 20072008 (Chen, et al., 2012). Sampai saat ini, belum ada data nasional
seberapa besar penyakit migrain di Indonesia. Penelitian mengenai migrain hanya dilakukan
dengan sampel yang terbatas dan bersifat hospital based.

Dalam penelitiaan lain, ada menerangkan sakit kepala pada penderita migraine berbeda-
beda paling sering hanya mengenai satu sisi kepala saja, kadang-kadang berpindah ke sisi
sebelahnya, tetapi dapat mengenai kedua sisi kepala sekaligus. Migrain merupakan sakit kepala
episodik dengan perubahan neurologis, pencernaan, dan otonom. Faktor genetik berperan
penting dalam migrain, tapi pola pewarisan tertentu belum bisa didefinisikan. Secara umum
migrain menjadi lima kategori utama, akan tetapi hanya dua kategori yang paling sering
digunakan adalah migrain tanpa aura dan migren dengan aura. Dua pertiga hingga tiga perempat
kasus migrain terjadi pada wanita, yang pada awal kehidupan-sekitar 25% awal selama dekade
pertama, 55% dengan 20 tahun, dan lebih dari 90% sebelum usia 40. Sebuah studi di skotlandia
menyebutkan bahwa, dari 2165 anak berusia 5 15 tahun, 11 % nya pernah mengalami migren.
Kemudian migren akan menurun setelah melewati usia 45 sampai 50 tahun.Riwayat migrain
pada keluarga ditemukan dalam banyak kasus.

Sakit kepala migrain atau sepertinya disebabkan oleh perubahan-perubahan pada bagian
kadar/ kimia tubuh yang disebut serotonin. Serotonin memerankan banyak pernanan di dalam
tubuh, dan serotonin dapat berpengaruh pada pembuluh darah. Pada saat kadar serotonin dalam
tubuh tinggi, pembuluh darah akan mengalami konstriksi atau penyusutan. Pada saat kadar
serotonin turun, pembuluh darah akan mengalami dilatasi/pelebaran (pembengkakan).
Pembengkakan yang terjadi tersebut dapat berakibat atau menyebabkan nyeri atau masalah-
masalah lain. Perkiraan 40%-60% dari serangan-serangan migraine didahului oleh gejala-gejala
premonitory (peringatan) yang berlangsung berjam-jam sampai berhari-hari Beberapa hal yang
dapat menjadi pemicu sakit kepala migren antara lain masa menstruasi untuk wanita,rasangan
visual seperti lampu yang berkedip, perubahan cuaca, jika ada serangan migren ketika sering
terbangun di malam hari atau ketika bangun di pagi hari, kemungkinan pemicunya adalah kadar
gula darah yang rendah atau hipoglikemia. migren jenis ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi
makanan ringan sebelum tidur, kurang tidur.tidak makan atau puasa, mengkonsumsi makanan
tertentu seperti yang mengandung vetsin, nitrat, aspartam, kafein. penyebab makanan yang
paling mungkin yaitu keju, jus jeruk, dan cokelat.

Gejala-gejala migrain yang umum terjadi diantaranya adalah sakit-sakit kepala migraine
biasanya digambarkan sebagai nyeri yang hebat, berdenyut yang melibatkan satu pelipis
(temple). (Adakalanya nyeri berlokasi pada dahi, sekitar mata, atau pada belakang kepala). Nyeri
biasanya unilateral (pada satu sisi kepala), meskipun kira-kira sepertiga dari waktu nyeri adalah
bilateral (pada kedua sisi kepala).Sakit-sakit kepala unilateral secara khas merubah sisi-sisi dari
satu serangan ke serangan berikutnya. (Nyatanya, sakit-sakit kepala unilateral yang selalu terjadi
pada sisi yang sama harus menyiagakan dokter untuk mempertimbangkan sakit kepala sekunder,
contohnya, satu yang disebabkan oleh tumor otak). Sakit kepala migraine biasanya diperburuk
oleh aktivitas-aktivitas harian seperti menaiki tangga-tangga. Gejala lain yang sering menyertai
nyeri kepala antara lain: Kepekaan berlebihan terhadap bau, sinar, suara, mual dan muntah
Gejala semakin berat jika beraktifitas fisik.

Migrain dibagi dalam dua golongon besar yaitu migrain biasa (migrain tanpa aura),
kebanyakan penderita migrain masuk ke dalam jenis ini. Migrain biasa ditandai dengan nyeri
kepala berdenyut di salah satu sisi dengan intensitas yang sedang sampai berat dan semakin
parah pada saat melakukan aktifitas. Migrain ini juga disertai mual, muntah, sensitif terhadap
cahaya, suara, dan bau. Sakit kepala akan sembuh dalam 4 sampai 72 jam, sekalipun tidak
diobati. Migrain Klasik (migrain dengan aura ). Pada jenis klasik, migrain biasanya didahului
oleh suatu gejala yang dinamakan aura, yang terjadi dalam 30 menit sebelum timbul migrain.
Migrain klasik merupakan 30% dari semua migrain. Pencegahan migrain apat dilakukan dengan
cara mengatur asupan makanan, rajin berolahraga, tidur yang cukup, minum obat secara teratur,
mengenali pencetus migrain dengan membuat buku harian, tidur dan beraktifitas secara teratur,
makan teratur, dan menghindari makanan yang dapat mencetuskan migrain, mengatasi stress,
menghindari asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif.

Beberapa tatalaksana farmakologik yang digunakan untuk migrain vestibular yaitu


profilaksis migrain, dapat diberikan obat golongan beta-blocker seperti propanolol dan
metoprolol, obat golongan antidepresan, CCB (calcium-channel blockers) seperti flunarizin, obat
golongan antikonvulsan seperti topiramat, dan pizotrifen. Penatalaksanaan migrain akut, dapat
diberikan triptan, supresan vestibular seperti promethazine, dimenhidrinat, dan meclizine,
aspirin, ibuprofen, dan isometepten mukat. Beberapa obat tersebut dapat memblok aktivitas
serotonin atau prostalglandin yang berperan dalam kontraksi pembuluh darah. Oleh itu pelayanan
kesehatan primer memegang peranan penting pada penyakit migrain dalam hal penegakan
diagnosis pertama kali, pemilihan terapi yang tepat, dan edukasi komunitas dalam pencegahan
penyakit ini.

Ilustrasi Kasus

Seorang ibu rumahtangga, St. H, usia 39 tahun datang ke Pukesmas Rappokaling dengan
keluhan nyeri kepala hebat pada seluruh daerah yang dialami sejak kurang lebih 1 bulan yang
lalu, namun memberat sejak 3 hari yang lalu. Nyeri dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan menjalar
seluruh daerah kepala. Pasien tidak mampu menunjukkan dengan tepat lokasi nyerinya. Durasi
nyeri antara 2 jam kadang berterusan sehingga 2 hari. Nyeri dirasakan sangat menganggu
aktivitas hariannya. Nyeri sering dipicu oleh rasa lapar, bau-bauan yang tidak enak, sinar
matahari. Kadang pasien tidak bisa melihat cahaya matahari secara langsung. Nyeri selalu hilang
sendiri jika pasien berehat. Keluhan lain seperti mual dan muntah tidak ada, demam tidak ada,
batuk tidak ada, sesak tidak ada. Riwayat pengobatan ada namun tidak membaik dengan
pemberian asam mefenamat, riwayat keluhan yang sama dalam kelurga tidak ada, riwayat
merokok dan konsumsi alkohol tidak ada, riwayat dengan keluhan yang sama tidak ada, riwayat
darah tinggi dan diabetis melitus tidak ada.

Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien dalam batas normal,
tampak sakit ringan, status generalis dalam batas normal, status gizi pasien overweight dengan
berat badan 60 kg dan tinggi badan 154 cm. Pasien adalah ibu rumahtangga yang tinggal di
rumah layak huni dengan 4 kamar dan 2 kamar mandi. Pasien tinggal bersama suami dan 3 orang
anaknya yang berusia antara 13 tahun -17 tahun. Suami seorang perokok. Sinar matahari cukup
masuk ke rumah, ventilasi baik, kebersihan rumah dan kerapian rumah cukup. Sumber listrik
cukup, sumber air dari sumur borr, sumber air minum dari air galon. Sampah diurus dengan baik.
Saluran air dialirkan ke got di depan rumah yang mengalir. Keadaan got baik dan aliran air agak
lancer dan sedikit berbau. Kepadatan penduduk disekitar rumah tinggi Kegiatan rumah hanya
sebatas untuk tidur, makan, istirahat, mandi. Kegiatan harian pasien hanya sebatas dirumah dan
ke pasar. Jarak rumah dengan pelayanan kesehatan terdekat 2 km sahaja. Gaji kepala keluarga
kurang lebih 2 juta per bulan dengan, biaya kontrak rumah tidak ada kerana pasien tinggal di
rumah milik suaminya. Biaya listrik sekitar rp. 300 000 per bulan. Pasien mempunyai dana
kesehatan khusus BPJS. Pasien dan keluarga pasien rutin berobat ke pukesmas jika sakit dan
keluhan yang dialami benar-benar menganggu.

Dalam menetapkan masalah serta faktor yang mempengaruhi, digunakan konsep


mandala of heath. Diagnosis holistik ditegakkan dengan beberapa poin yaitu poin I) alasan
kedatangan pasien dengan nyeri didaerah kepala yang dialami sejak kurang lebih 1bulan yang
lalu dan memberat sejak 3 hari yang lalu. Ada faktor lain yang memicu sakit kepala seperti rasa
lapar, bauan yang tidak enak, dan ada gejala fotofobia. Pada poin II) diagnosis kerja yang
ditegakkan untuk sementara waktu adalah migraine tanpa aura. Pada poin III) Didapatkan
perilaku pasien yaitu jarang berolahraga, sering menghabiskan waktu di rumah sahaja, sering
terdedah dengan bauan yang kurang menyenangkan dan asap rokok serta lingkungan tempat
tinggal yang padat. Pada poin IV) pendapatan isi rumah yang yang kurang cukup untuk
menampung perbelanjaan seharian keluarga pasien sehingga bisa menimbulkan stress personal.
Pada poin V) ditetapkan skala fungsional pasien derajat 3 yang sesuai dengan usia pasien.

Tindakan yang dilakukan meliputi tindakan terhadap pasien, keluarga, dan


lingkungannya. Pada pasien diberikan terapi farmakologik dan juga terapi non-farmakologik.
Terapi farmakologik yang diberikan adalah asam mefenamat dan ibuprofen untuk mengatasi
gejala nyeri kepala.. Untuk terapi non-farmakologik, pasien diminta menghindari faktor pencetus
migraine seperti rasa lapar, bauan yang tidak enak dan cahaya matahari langsung. Pasien juga
diedukasi supaya berolahraga minima 2 kali seminggu. Selain itu, pasien juga rencana akan
dirujuk ke Rumah Sakit Pelamonia untuk rawatan lebih lanjut jika keluhan pasien masih tidak
ada perubahan. Suami pasien juga diedukasi agar tidak merokok di dalam rumah, dan pasien juga
diminta menghindari asap rokok. Selain itu, pasien dan keluarga juga diminta mengamalkan diet
yang sehat. Untuk lingkungan tempat tinggal pasien, seharusnya got harus dibersihkan supaya
alirannya air lebih lancer dan mengelakkan bau yang kurang menyenangkan segaligus mencegah
erjadi penyebaran penyakit berbahaya juga seperti wabak demam denggi berdarah. Upaya
pencegahan ini bagi memastikan pasien dan lingkungan tempat tinggal pasien dalam keadaan
lebih baik, sehat, dan kualitas hidup bisa ditingkatkan menjadi lebih baik.

Hasil pembinaan telah dilakukan dan akan dievaluasi dengan mengunakan indeks koping,
diharapkan peningkatan hasil peningkatan skor dari 3 menjadi 4, hasil tersebut dapat dilihat pada
tabel 1.

N Masalah Skor Awal Upaya Prediksi


o Hasil
Akhir
1 Fungsi biologis -edukasi pasien agar
-pasien terdedah dengan 3 mengamalkan cara hidup dan 4
cara hidup yang tidak pola makan sehat, rajin
sehat berolahraga, menghindari faktor
pencentus migrain
2 Fungsi ekonomi -memotivasi keluarga pasien
-pendapatan keluarga 3 agar menambah penghasilan 4
pasien masih dalam batas dengan memanfaatkan masa
rendah luang
3 Faktor perilaku -edukasi suami agar
kesehatan keluarga 2 mengurangi tabiat merokok dan 4
-suami seorang perokok tidak merokok didalam rumah
4 Faktor lingkungan -membersihkan got agar aliran
rumah 4 airnya lancar dan terhindar dari 5
-rumah yang padat bau yang kurang
-aliran air di got kurang menyenangkan
lancer menyebabkan got
sedikit berbau
Tabel 1. Skoring kemampuan penyelesaian masalah dalam keluarga

total skor: 12 rata-rata skor: 4 prediksi skor akhir: 17 rata-rata skor akhir: 4,25

Klasifikasi skor kemampuan menyelesaikan masalah

Skor 1 Tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada partisipasi.

Skor 2 Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, tidak ada sumber (hanya keinginan);
penyelesaian masalah dilakukan sepenuhnya

oleh provider.

Skor 3 Keluarga mau melakukan namun perlu penggalian sumber yang belum dimanfaatkan,
penyelesaian masalah dilakukan sebagian

besar oleh provider

Skor 4 Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya, masih tergantung pada upaya provider

Skor 5 Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga


Pembahasan

Studi kasus dilakukan pada pasien ibu St. H. usia 39 tahun., seorang ibu rumah tangga
dengan keluhan nyeri di daerah kepala yang dialami sejak 1 bulan yang lalu dan memberat sejak
3 hari terakhir. Penyebab keadaan ini kemungkinan kerana gaya hidup pasien yang kurang sehat,
faktor stress personal, sering terdedah dengan bauan yang tidak menyenanglan dan asap rokok.

Diagnosis migrain tanpa aura doletakkan untuk sementara berdasarkan gejala klinis yaitu
nyeri dirasakan seperti tertusuk-tusuk dan menjalar seluruh daerah kepala. Pasien tidak mampu
menunjukkan dengan tepat lokasi nyerinya. Durasi nyeri antara 2 jam kadang berterusan
sehingga 2 hari. Nyeri dirasakan sangat menganggu aktivitas hariannya. Nyeri sering dipicu oleh
rasa lapar, bau-bauan yang tidak enak, sinar matahari. Kadang pasien tidak bisa melihat cahaya
matahari secara langsung. Nyeri selalu hilang sendiri jika pasien berehat. Dari hasil pemeriksaan
fisik didapatkan keadaan umum pasien dalam batas normal, tampak sakit ringan, status generalis
dalam batas normal, status gizi pasien overweight dengan berat badan 60 kg dan tinggi badan
154 cm. Untuk menegakkan diagnosis secara pasti pasien harus dirujuk ke rumah sakit tipe A
jika keluhan pasien masih lagi memberat setelah terapi diberikan.

Pada pasien diberikan terapi farmakologik dan juga terapi non-farmakologik. Terapi
farmakologik yang diberikan adalah asam mefenamat untuk mengatasi gejala nyeri kepala..
Untuk terapi non-farmakologik, pasien diminta menghindari faktor pencetus migraine seperti
rasa lapar, bauan yang tidak enak dan cahaya matahari langsung. Pasien juga diedukasi supaya
berolahraga minima 2 kali seminggu. Suami pasien juga diedukasi agar tidak merokok di dalam
rumah, dan pasien juga diminta menghindari asap rokok. Selain itu, pasien dan keluarga juga
diminta mengamalkan diet yang sehat.

Dalam menatalaksana pasien, seorang dokter perlu memperhatikan pasien seutuhnya,


tidak hanya tanda dan gejala penyakit namun juga psikologisnya. Pembinaan keluarga yang
dilakukan pada kasus ini tidak hanya mengenai penyakit pasien, tetapi juga mengenai masalah-
masalah lainnya seperti fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan keluarga, perilaku kesehatan
keluarga, dan lingkungan