Anda di halaman 1dari 46

KOMPONEN CHASIS SEPEDA MOTOR

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sepeda Motor dan Motor
Kecil
Dosen Pengampu : Muhammad Nurtanto M.Pd.,

Disusun Oleh:
Adin Ningrat 2284142600
Atin Supriatin 2284142310
Ita Novita Sari 2284142680
Zaenal Ambia 2284142183

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2016

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha


Esa, atas berkat dan rahmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada Penulis
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Adapun
pokok bahasan yang dikaji dalam makalah ini adalah tentang Komponen
Chasis Sepada Motor yang bertujuan untuk melengkapi tugas mata kuliah
Sepeda Motor dan Motor Kecil. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Muhammad Nurtanto M.Pd. selaku Dosen mata
kuliah Sepeda Motor dan Motor Kecil yang telah memberikan bimbingan
kepada penulis selama mengikuti perkuliahan ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat
berbagai kekurangan dan baik dalam hal penulisan maupun isi. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian yang
bersifat membangun yang bisa menjadi bahan acuan dan pertimbangan
bagi penulis untuk kesempurnaan makalah ini dikemudian harinya.
Harapan penulis, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca sekalian umumnya dan bagi penulis khususnya untuk memahami
Komponen Chasis Sepeda Motor.

Serang, 25 September 2016

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 1
C. Tujuan .......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Chasis pada Sepeda Motor .......................................................... 3
B. Sistem Kemudi.. .......................................................................... 10
C. Sistem Suspensi ........................................................................... 14
D. Sistem Rem ................................................................................. 19
E. Roda dan Ban .............................................................................. 34
BAB II KESIMPULAN
A. Kesimpulan .................................................................................. 42
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 43

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring perkembangan zaman kini teknologi semakin berkembang
pesat khususnya dalam dunia otomotif. Banyak kita jumpai dalam
bidang otomotif itu sendiri contohnya seperti sepeda motor yang
menggunakan berbasis teknologi dengan menggunakan sistem injeksi.
Tetapi tidak halnya dengan teknologi rangka sepeda motor dapat
dikatakan tidak mengalami perkembangan yang pesat, sejak dulu
konstruksi rangka relatif sama.
Oleh karena itu Chassis merupakan bagian paling dasar dari
kendaraan sepeda motor yang mempunyai fungsi antara lain harus
mampu menempatkan dan menopang mesin, transmisi, suspensi, sistem
kelistrikan, serta untuk menjaga kestabilan dan kenyamanan ketika
berkendara. Kekuatan rangak sangat bergantung pada bentuk atau
konstruksinya, bentuknya pun disesuaikan dengan jenis kegunaan
sepeda motor.
Oleh sebab itu, jenis rangka yang digunakan bermacammacam
misalnya, rangka yang digunakan pada sepeda motor tidak akan sama
dengan motor soprt atau keperluan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah komponen chasis pada sepeda
motor adalah sebagai berikut ini:
1. Bagaimana fungsi rangka pada sepeda motor?
2. Apa saja komponen-komponen pada sistem kemudi
3. Apa yang dimaksud dengan suspensi?
4. Apa saja macam-macam rem pada sepeda motor?
5. Apa saja tipe-tipe ban pada sepeda motor?

1
C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah komponen chasis pada sepeda motor
adalah sebagai berikut ini:
1. Mengetahui dan memahami chasis pada sepeda motor
2. Memahami fungsi yang terdapat pada chasis pada sepeda motor
3. Memahami bagian-bagian chasis pada sepeda motor
4. Mengetahui macam-macam chasis pada sepeda motor

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Chasis pada Sepeda Motor


Chassis adalah rangka yang berfungsi sebagai penopang berat
dan beban kendaraan, mesin serta penumpang. Ditinjau dari segi
struktur atau bentuk rangka mempunyai fungsi antara lain harus
mampu menempatkan dan menopang mesin, transmisi, suspensi dan
sistem kelistrikan, serta komponen-komponen lain yang ada dalam
sepeda motor. Oleh karena itu rangka sebaiknya kuat dan kaku tapi
ringan. Sedangkan jika ditinjau dad segi geometri, rangka harus sesuai
dengan geometri yang diinginkan sistem kemudi dan suspensi. Rangka
juga harus mampu menjaga roda tetap sejajar lurus antara depan dan
belakang.
Bahan utama rangka sepeda motor adalah plastik dan logam.
Bagian rangka yang terbuat dari plastik misalnya penahan angin,
penutup rangka dan pelindung roda. Sedangkan bagian utama yang
terbuat dari logam, misalnya rangka utama, kemudi, lengan ayun dan
dudukan mesin.
Teknologi rangka sepeda motor dapat dikatakan tidak mengalami
perkembangan yang pesat. Sejak dulu konstruksi rangka relatif sama.
Bentuk komponen rangka pada dasarnya ada tiga macam, yaitu
silinder (contohnya penghubung rangka dan poros kemudi), persegi
(contohnya lengan ayun), dan plat (contohnya dudukan jok). Rangka
berkaitan erat dengan bodi. Oleh karena itu bentuk rangka
mempengaruhi bentuk bodi motor. Kalau terjadi kerusakan pada
rangka, maka akan menimbulkan kerusakan pada bodi juga karena
bodi menempel pada rangka.
Tipe-tipe rangka antara lain:
1. Rangka bak (cradle frames)

3
2. Rangka tipe trellis (terali)
3. Rangka tipe balok penyeimbang (beam)
4. Rangka tipe spine

Ke empat tipe rangka tersebut di tunjukkan oleh gambar berikut


ini:

Gambar 1.1 Rangka bak (cradle frames)

Gambar 1.2 Rangka Trellis

4
Gambar 1.3 Rangka Beam

Gambar 1.4 Rangka Spine Gambar 1.5 Rangka spine dari pabrik
Berbentuk Pipa

b. Fungsi Rangka pada Sepeda Motor


Rangka pada sepeda motor berfungsi sebagai wadah penempatan
engine, sistem kelistrikan dan kelengkapan-kelengkapan lainnya serta
sekaligus sebagai penyangga penumpang. Bagian rangka juga
mencakup komponen komponen lain yang berhubungan dengan fungsi
keindahan dan kenyamanan berkendara.
1. Rancangan pembuatan sebuah rangka ditentukan oleh beberapa
kepentingan yaitu disesuaikan dengan besar kapasitas mesin (cc)
yang dipasangnya,

5
2. Kemudahan penggunaan dari sepeda motor tersebut,
3. Mudah dan ekonomis dalam perawatan.
Agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya, rangka harus
memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya :
a. Kuat, kokoh; sehingga mampu menopang mesin beserta
kelengkapan kendaraan lainnya, menyangga penumpang maupun
beban tanpa mengalami kerusakan/perubahan bentuk.
b. Ringan, sehingga tidak terlalu membebani mesin (meningkatkan
efektivitas tenaga yang dihasilkan mesin).
c. Mempunyai nilai kelenturan/fleksibilitas, yang berfungsi untuk
meredam getaran/goncangan berlebihan yang diakibatkan tenaga
yang dihasilkan mesin maupun akibat kondisi jalan yang buruk.
c. Bagian-Bagian Chasis (Rangka) Sepeda Motor

Gambar 1.6 Rangka Sepeda Motor


Keterangan gambar :
1. Sumbu kemudi
2. Pipa rangka alas
3. Rangka pipa punggung
4. Dudukan peredam getaran
5. Pipa rangka tengah
6. Dudukan lengan ayun
7. Pipa rangka bawah

6
Pada umumnya sebagian besar jenis rangka menggunakan bahan
dari besi dan aluminium. Aluminium akan menghasilkan bobot yang
lebih ringan dari pada besi dalam bentuk yang sama. Untuk sepeda
motor produksi yang sekarang hampir sebagian besar menggunakan
jenis rangka dari bahan pipa bulat dari berbagai jenis ukuran dan
ketebalan. Ada juga beberapa yang menggunakan jenis rangka dari
bahan pipa segi empat dan empat persegi panjang. Rangka dituntut kuat,
ringan, indah, dan mudah dalam perawatan.

d. Macam-Macam Rangka
Kontruksi
Pressed Steel Rangka ini terbentuk dari pelat
baja yang seluruhnya dipres
(lempengan). Umumnya pada
jenis ini mempunyai pola back
bone (bentuk tulang punggung)

Gambar 1.7 Rangka Jenis Pressed Steel


Back Bone Jenis rangka ini dibuat dari
gabungan antara pipa dan press
steel. Rancangan dasar jenjs
rangka ini diutamakan untuk
penggunaan pada jenis sepeda
motor bebek dan scooter.

Gambar 1.8 Rangka Jenis Back Bone

7
Tubular pola single cradle Jenis rangka single
cradle memiliki satu buah pipa di
bawah (down tube) dan satu buah
pipa utama (main pipe) pada
bagian depan mesin.
Secara struktur bagian-bagian dari
rangka ini mengusung posisi
dudukan mesin. Penggunaan yang
Gambar 1.9 Rangka Tubular Pola Single utama jenis rangka ini adalah
Cradle jenis sepeda motor offroad, jenis
on-road, dan tipe sport dengan cc
sedang, Disamping mempunyai
kekuatan prima, jenis rangka ini
juga mudah dalam perawatan.
Tubular pola double cradle Jenis rangka double cradle hampir
sama dengan jenis single cradle.
Hanya pada jenis ini memiliki dua
buah pipa bawah (down tube). Hal
ini akan manghasilkan kekuatan
sistem rangka. Jenis rangka ini
dipakai pada sepeda motor
jenis on-road dengan cc besar.
Pada tipe tertentu bagian
Gambar 1.10 Tubular Pola Double Cradle dari down tubedapat dilepas pada
saat pemasangan dan melepas
mesin.

8
Rangka Jenis Alumunium Rangka jenis aluminium
mempunyai bobot yang ringan
dibandingkan dengan rangka dari
besi. Penggunaan pipa segi empat
dan empat persegi panjang. Pada
jenis ini akan menjadikan rangka
semakin kuat dan tahan terhadap
tekanan. Bagian-bagian rangka
Gambar 1.11 Rangka Jenis Alumunium
(sub-frame) dapat dilepaskan
untuk tujuan memudahkan dalam
perawatan. Jenis rangka ini
dipakai pada sepeda motor tipe
sport.
Diamond Type Frame Bagian bawah dari pipa (Down
Tube) tidak dihubungkan dengan
bagian rangka yang lain, bentuk
mesin menentukan bagian akhir
dari struktur rangka. Sistem
pengikatan pesin pada rangka
akan menambah kekuatan dari
struktur rangka ini. Jenis rangka
Gambar 1.12 Diamond Type Frame
Diamond dipakai pada jenis
sepeda motor tipe sport.
Disamping bentuknya sangat
sederhana, juga ringan dan mudah
dalam perawatan.

B. Sistem Kemudi
1. Pengertian Sistem Kemudi
Sistem kemudi berfungsi untuk mengendalikan/mengontrol
arah sepeda motor sehingga arah jalannya sepeda motor sesuai
dengan kehendak pengemudi. Tenaga untuk mengendalikan arah

9
kendaraan mempergunakan tenaga tangan, yang diteruskan ke roda
melalui batang kemudi (stang) dan garpu depan (fork).

2. Komponen pada sistem kemudi


Komponen sistem kemudi diantaranya:

Gambar 1.13 Sasis sistem kemudi


Keterangan :
1. Batang Kemudi (Handle Bar)
2. Penghubung garpu bagian atas (Fork Top Bridge)
3. Pengikat stang (Handle Bar Holder)
4. Poros kemudi (Steering Stem)
5. Dudukan peluru/kones atas (Top Cone)
6. Peluru (Steel Balls)
7. Karet penahan debu (Dust Seal)
8. Dudukan peluru/kones bawah (Bottom Cone)

Jenis batang kemudi pada sepeda motor dibedakan menjadi dua,


yaitu:
a. Jenis Tubular (Berbentuk Pipa)
Jenis ini umum digunakan pada sepeda motor dengan suspense
depan tipe teleskopic/upside down.
b. Jenis Pressed Steel
Jenis ini digunakan pada sepeda motor dengan suspensi depan
tipe link. Sebenarnya jenis pressed steel mempunyai susunan
bentuk dan fungsi yang sama dengan jenis tubular, hanya saja jenis

10
pressed steel dibuat dari bahan pelat baja yang dipress (lempengan)
dan dibentuk sebagai penutup lekukan dari batang kemudi,
sekaligus sebagai pengapit lampu depan dan speedometer.

3. Pengertian Caster dan trail


Jari-jari lingkaran perputaran sepeda motor ditentukan oleh
besar/kecilnya sudut belok stang dan juga ditentukan oleh
besar/kecilnya sudut kemiringan dari sepeda motor sewaktu
menikung. Beberapa istilah penting dalam sistem kemudi :
a. Caster, Adalah sudut kemiringan dari poros kemudi, dinyatakan
dalam satuan derajat. Dengan menarik garis sejajar poros kemudi,
maka akan didapat suatu sudut yang dihitung dari garis mendatar
(horisontal).
b. Trail, Adalah jarak antara titik potong dari garis melalui poros
kemudi dengan jalan mendatar, ke titik tumpu ban depan di atas
jalan.

Gambar 1.14 Sistem Kemudi Caster Dan Trail


Caster and trail Kedua hal di atas menunjukkan bahwa
semakin besar sudut casternya, maka trail akan semakin kecil. Caster
dan trail harus diperhitungkan secara tepat, karena berhubungan erat
sekali terhadap pengaruh kestabilan dari sistem kemudi sepeda motor.
Sudut caster yang kecil, berarti memperpanjang jarak trail. Dalam hal
ini, pengendalian sepeda motor terasa baik untuk jalan yang lurus

11
dengan kecepatan tinggi. Tetapi pada kecepatan rendah, pengendalian
terasa berat dan kurang nyaman untuk jalan yang berbelok-belok.

4. Gangguan pada sistem kemudi


No Gangguan Penyebab Penyebab
1. Kelainan suara pada bagian Kerusakan atau retak pada engine
sekitar mesin mounting
Keretakan atau kerusakan pada
bagian-bagian yang dilas
Kebengkokan dan kerusakan pada
rangka

2. Kelainan suara pada saat Kerusakan/kebengkokan pada


pengendaraan engine mounting
Kerusakan pada bagian-bagian
yang dilas
Kerusakan atau kebengkokan
pada rangka

3. Stang kemudi cenderung Kebengkokan pada rangka


berbelok ke satu arah pada Kebengkokan pada suspensi yang
saat pertambahan atau dilas
pengurangan kecepatan Kebengkokan pada swing arm
Kebengkokan pada penghubung
garpu
Kedudukan peredam kejut tidak
seimbang
Poros roda depan bengkok

4. Kemudi terlalu berat Poros kemudi diikat terlalu


kencang
Peluru-peluru pecah atau

12
kekurangan gemuk pelumas
Poros kemudi bengkok
Tekanan angin ban terlalu rendah

5. Kemudi terlalu ringan/kocak Peluru-peluru pecah/aus


Dudukan peluru aus/pecah
Mur pengikat poros kemudi
kendor

C. Sistem Suspensi
Sistem suspensi adalah sistem yang dirancang untuk menahan
getaran akibat benturan roda dengan kondisi jalan. Selain itu, sistem
suspensi diharapkan mampu untuk membuat "lembut" saat sepeda
motor menikung dan dikendarai, sehingga mudah dikendalikan.
Dengan sistem suspensi juga, getaran akibat kerja mesin dapat
diredam. Dari semua peran dan kegunaan sistem suspensi tadi, pada
akhirnya dapat diambil kesimpulan bahwa dengan bekerjanya sistem
suspensi, pada dasarnya adalah agar diperoleh kenyamanan dalam
berkendara. Dengan demikian, gangguan pada sistem suspensi akan
berpengaruh langsung pada kenyamanan berkendara.
Suspensi depan pada sepeda motor biasanya bersatu dengan
garpu (fork), baik untuk bagian depan maupun bagian belakang. Tetapi
ada juga sebagian motor, suspensi belakang bukan sekaligus sebagai
garpu belakang dan biasanya disebut sebagai monoshock (peredam
kejut tunggal).

1. Jenis-jenis Suspensi

13
a. Suspensi Bagian Depan (Front Suspension)
Suspensi depan yang terdapat pada sepeda motor pada umumnya
terbagi tiga, yaitu:
1) Garpu batang bawah (bottom link fork); jenis ini
biasanya dipasang pada sepeda motor bebek model lama,
vespa atau scooter.

Gambar 1.15 Garpu batang bawah)


2) Garpu teleskopik (telescopic fork)
Merupakan jenis suspensi yang paling banyak
digunakan pada sepeda motor. Suspensi teleskopik terdiri dari
dua garpu (fork) yang dijepitkan pada steering yoke.

Gambar 1.16 Garpu teleskopik

14
Garpu teleskopik menggunakan penahan getaran
pegas dan oli (minyak pelumas) garpu. Pegas menampung
getaran dan benturan roda dengan permukaan jalan dan oli
garpu mencegah getaran diteruskan ke batang kemudi.
Garpu depan dari sistem kemudi (yang termasuk
kedalam suspensi depan) fungsinya untuk menopang
goncangan jalan melalui roda depan dan berat mesin serta
penumpang. Oleh karenanya garpu depan harus mempunyai
kekuatan, kekerasan yang tinggi, selain caster dan trail
(kesejajaran roda depan) yang berpengaruh besar
pada kestabilan mesin.
3) Up side down
Jenis suspensi ini banyak diterapkan pada sepeda motor
kapsitas besar, seperti Yamaha R1 & R6, Suzuki GSX 600, dll.
Tipe ini pada dasarnya hampir sama dengan tipe garpu
teleskopik, hanya saja jika pada tipe garpu teleskoik tabung
fluida redam terletak di bawah, maka pada tipe ini justru
sebaliknya, tabung fluida redam terletak di atas.
4) Caster

Gambar 1.17 Caster

b. Suspensi Bagian Belakang (Rear suspension)

15
Gambar 1.18 Suspensi bagian belakang

Generasi awal suspensi belakang pada sepeda motor


adalah jenis plunger unit. Tipe ini tidak mampu mengontrol dengan
nyaman roda belakang. Tidak seperti suspensi depan, suspensi
belakang tidak mempunyai sistem steering (kemudi). Sistem ini
hanya menopang roda belakang dan menahan goncangan akibat
permukaan kondisi jalan.
Tipe suspensi belakang saat ini yang banyak digunakan adalah:
a. Tipe Swing Arm
b. Tipe Unit Swing
Konstruksi suspensi tipe swing arm adalah dua buah lengan
yang digantung pada rangka dan ujung yang lain dari suspensi
tersebut menopang roda belakang. Rancangan suspensi belakang tipe
swing arm ditunjukkan oleh gambar berikut.
Cushion unit/shock absorber (peredam kejut) diletakkan
antara ujung belakang dari lengan dan rangka (frame)

16
Gambar 1.19 Suspensi tipe swing arm)

Getaran pada sepeda motor yang disebabkan oleh


permukaan jalan yang tidak rata perlu diredam untuk mengurangi
kejutan-kejutan akibat gerak pegas. Komponen yang berfungsi
sebagai peredam kejut tersebut adalah sok breker. Oleh sok breker
gerak ayun naik turun badan sepeda motor diperlambat sehingga
menjadi lembut dan tidak mengejut. Itulah sebabnya sok breker
disebut juga sebagai peredam kejut.
Shock breaker terdiri atas sebuah tabung yang berisi oli. Di
dalam tabung tersebut terdapat sebuah katup yang berfungsi
untuk mengatur aliran oli. Perlambatan gerak ayun badan sepeda
motor terjadi karena aliran oli di dalam tabung sok breker
terhambat oleh katup. Hal ini disebabkan karena lubang katup
yang sempit. Jika jumlah oli dalam tabung kurang maka kerja sok
breker menjadi tidak baik. Dalam hal ini sok breker tidak bisa
meredam kejutan. Apabila kerja sok breker sudah tidak baik maka
sebaiknya sok breker tersebut diganti. Penggantian sok
breker dianjurkan sepasang sekaligus meskipun sok breker yang
satunya tidak rusak. Hal ini dimaksudkan untuk menyamakan

17
tekanan sehingga sepeda motor tetap seimbang, tidak seperti berat
sebelah/miring. Untuk menentukan apakah sok breker bekerja
dengan baik atau tidak bukanlah hal yang sulit. Biasanya sepeda
motor yang sok brekernya sudah rusak menjadi tidak enak
dikendarai.
Kerusakan sok breker umumnya disebabkan oleh
kebocoran oli. Hal ini bisa dilihat pada tabung sok brekernya. Jika
tabung sok breker selalu basah oleh rembesan oli maka hal itu
berarti sok breker telah bocor. Sok breker harus diganti jika sudah
tidak baik kerjanya.

Gambar 1.20 Susunan dasar swing arm dan absorber)

Kontruksi tipe unit swing arm adalah bagian itu sendiri yang
bereaksi seperti lengan yang berayun. Jadi bagian tersebut yang
berayun. Umumnya suspensi tipe unit swing dipakai pada sepeda motor
yang mempunyai penggerak akhirnya (final drive) memakai sistem
poros penggerak.

D. Sistem Rem
Sistem rem sepeda motor dirancang untuk mengontrol
kecepatan/laju (mengurangi/memperlambat kecepatan dan
menghentikan laju) sepeda motor, dengan tujuan meningkatkan

18
keselamatan dan untuk memperoleh pengendaraan yang aman. Prinsip
kerja rem adalah dengan mengubah energi kinetik menjadi energi panas
dalam bentuk gesekan. Konstruksi rem cakram pada umumnya terdiri
atas cakram (disc rotor) yang terbuat dari besi tuang yang berputar
dengan roda, bahan gesek (disc pad) yang menjepit & mencengkeram
cakram, serta kaliper rem yang berfungsi untuk menekan & mendorong
bahan gesek sehingga diperoleh daya pengereman. Daya pengereman
dihasilkan oleh adanya gesekan antara bahan gesek dan cakram.

1. Rem Tromol Mekanis ( Mechanical Drum Brakes)


Pada rem tromol, kekuatan tenaga pengereman diperoleh dari
sepatu rem yang diam menekan permukaan tromol yang berputar
besama dengan roda. Rem tromol mempunyai keuntungan
dibandingkan dengan tipe rem cakram, yaitu adanya self energizing
effect yang memperkuat daya pengereman, hanya saja konstruksinya
agak rumit dan tertutup sehingga radiasi panas ke udara luar dan
water recovery kurang baik.
Water recovery merupakan kemampuan bidang gesek (sepatu
rem/pad) untuk mengembalikan koefisien gesek pada kondisi
semula, pada saat sistem rem terkena air yang mengakibatkan
koefisien gesek sepatu rem/ pad menjadi berkurang karena terlumasi
oleh air. Pada saat sistem rem terkena air, tipe rem cakram memiliki
kemampuan.

19
Water recovery yang lebih baik
dibandingkan dengan sistem rem
tromol, hal ini disebabkan karena air
akan terlempar keluar dari permukaan
cakram dan pad karena adanya gaya
sentrifugal. Pada rem tromol tetap
akan menyisakan air di antara sepatu
rem dan tromol sehingga koefisien
gesek rem menjadi rendah.

Gambar 1.21
Konstruksi rem tromol umumnya terdiri dari komponen-
komponen seperti: sepatu rem (brake shoe), tromol (drum), pegas
pengembali (return springs), tuas penggerak (lever), dudukan rem
tromol (backplate), dan cam/nok penggerak. Cara pengoperasian
rem tromol pada umumnya secara mekanik yang terdiri dari pedal
rem (brake pedal) dan batang (rod) penggerak.
Komponen rem tromol:
1. Brake shoes
2. Return spring
3. Backing plate
4. Operating cam
5. Washer
6. Seal
7. Operating lever
8. Pinch bolt
Gambar 1.22 Komponen Rem Tromol

20
Rem tromol terbuat dari besi tuang dan digabung dengan hub
saat rem digunakan sehingga panas gesekan akan timbul dan gaya
gesek dari brake lining dikurangi. Drum brake mempunyai sepatu
rem (dengan lining) yang berputar berlawanan dengan putaran drum
(wheel hub) untuk mengerem roda dengan gesekan. Pada sistem ini
terjadi gesekangesekan sepatu rem dengan tromol yang akan
memberikan hasil energi panas sehingga bisa menghentikan putaran
tromol tersebut. Rem jenis tromol disebut internal expansion lining
brake.
Permukaan luar dari hub tersedia dengan sirip-sirip pendingin
yang terbuat dari aluminiumalloy (paduan aluminium) yang
memiliki daya penyalur panas yang sangat baik. Bagian dalam
tromol akan tetap terjaga bebas dari air dan debu kerena tromol
mempunyai alur untuk menahan air dan debu yang masuk dengan
cara mengalirkannya lewat alur dan keluar dari lubang aliran.
Berdasarkan cara pengoperasian sepatu rem, sistem sistem rem tipe
tromol pada sepeda motor diklasifikaskan menjadi dua, yaitu:
a. Single Leading Shoe Type
Tipe ini digunakan pada semua jenis sepeda motor kecil (di
bawah 250 cc). Pada sistem rem tromol single leading shoe type,
digunakan dua sepatu rem. Sepatu rem yang terbawa oleh putaran
tromol dan cenderung melengket disebut sebagai reading shoe,
sedangkan sepatu rem yang terdorong ke dalam oleh putaran tromol
disebut trailing shoe. Leading shoe menghasilkan daya pengeremen
yang lebih besar dibandingkan dengan trailing shoe sebagai akibat
adanya self energizing effect yang diperoleh karena leading shoe
terbawa oleh putaran tromol. Hal ini akan menyebabkan keausan
pada leading shoe lebih besar dibanding keausan pada trailing shoe.
1) Cara kerja rem tipe Single Leading Shoe

21
Kondisi belum bekerja ketika pedal rem
belum di injak, tuas rem tidak bergerak
memutar brake cam maka tidak ada gaya
putar pada brake cam (bubungan rem)
sehingga sepatu rem tidak bergerak
(mengembang), tidak ada gesekan antara
Gamb tromol dan kanvas rem (brake lining)
ar 1.23 Kondisi Sebelum Bekerja sehinggat tidak terjadi pengereman.
Kondisi bekerja :
ketika pedal rem di injak, tuas rem
bergerak memutar brake cam maka ada
gaya putar pada brake cam (bubungan
rem) sehingga sepatu rem bergerak
(mengembang), terdapat gesekan antara
tromol dan kanvas rem (brake lining)
sehinggat terjadi pengereman
Gambar 2.24 Kondisi Saat Bekerja

2) Kelebihan Rem Tipe Single Leading Shoe:


Konstruksi sederhana
Jumlah komponan sedikit (Wheel Cylinder dan return spring
1 buah.
3) Kekurangan Rem Tipe Single Leading Shoe:
Keausan kampas rem depan (leading) lebih banyak dari pada
kampas rem belakang (trailing), karena adanya self energizing
effect.
Kausan kampas rem masing-masing tidak simetris (Bagian
atas lebih banyak dari pada bagian bawah)
Pengereman kurang pakem.
4) Perhitungan Rem Tromol Single Leading

22
Gaya rem = Gaya reaksi
frem = N x
F = Gaya pada sepatu rem
N = gaya reaksi
f = Gaya gesek
= Nilai Gesek

Gambar 1.25 Rem Tromol Single


Leading Sepatu sekunder :
Tromol putar maju MB = 0
Sepatu primer : - F.a + f.c + n.b = 0
MA = 0 - F.a + N . . c + N . b
F.a + f.c N .b = 0
F.a + N. .c N.b =0
F.a + N . ( .c b ) = 0

b. Rem Tromol Tipe Two


leading shoe dapat menghasilkan gaya pengereman kira-kira satu
setengah kali single leading shoe.Terutama digunakan sebagai rem
depan, tetapi baru-baru ini digantikan oleh disk brake (rem cakram).

Gambar 1.26 Rem Tromol Tipe Two

23
1) Kelebihan Rem Tipe Double Leading Shoe:
Keausan kampas rem depan dan belakang simetris.
Pengereman agak lebih pakem
2) Kekurangan RemTipe Double Leading Shoe:
Keausan kampas rem bagian atas tidak sama dengan bagian
bawah.
Komponen lebih banyak (Wheel cylinder 2 buah. dan
compression spring 2 buah.)
3) Self Energizing Effect (gaya penguatan sendiri)
Seperti yang telah dibahas, saat pengemudi menginjak rem,
tekanan ditularkan dari master silinder ke silinder roda.
Tekanan ini mendorong piston silinder ke luar. Hal ini, pada
gilirannya, menjalar pada sepatu rem dan membawa kampas
rem bergesekan dengan tromol. Pertama-tama, lapisan rem
tidak hanya mendorong melawan tromol dan menahan seperti
yang mereka lakukan ketika kendaraan diam. Gesekan antara
tromol yang bergerak dan kampas rem akan mendorong
sepatu rem ke arah rotasi seperti yang ditunjukkan. Fenomena
ini akan mengakibatkan:

24
Sepatu primer (leading)
Sepatu sekunder (trailling)
Gambar 1.27 Gaya Penguatan Sendiri

Cara Kerja
1) Ketika pedal rem diinjak, maka silinder roda mendorong sepatu
primer berputar searah putaran tromol seperti pada gambar.
2) Hal yang sama terjadi pada sepatu sekunder. Tapi dalam kasus ini,
sepatu sekunder berhenti lebih cepat karena gaya rem sepatu
sekunder melawan anchor pin.
3) Ketika sepatu sekunder berhenti melawan anchor pin, maka sepatu
tidak dapat memutar lebih jauh meskipun kekuatan dorong dari
silinder roda masih berlaku.
4) Kekuatan dorong ini menciptakan kekuatan yang mendorong poros
sepatu rem bergerak ke arah luar, menciptakan peningkatan tekanan
yang lebih besar terhadap tromol. Hal ini disebut "self-energizing
effect" atau gaya penguatan sendiri. Saat sepatu sekunder terdorong
keluar, maka ujung kanvas rem akan menekan semakin kuat
terhadap tromol, sehingga komponen rem tidak dapat bergerak
lebih jauh.
5) Dalam proses ini, sepatu primer memiliki kekuatan lebih besar
daripada sepatu primer. Kedua sepatu rem memberikan gaya dari
silinder roda dan kedua sepatu berputar karena rotasi tromol. Tapi
sepatu primer mendapat kekuatan tambahan dari gaya reaksi yang
memiliki arah sama dengan arah putaran tromol. Dengan demikian,
sepatu primer bekerja lebih banyak daripada sepatu sekunder.
Sehingga kanvas sepatu primer lebih cepat aus daripada kanvas
sepatu sekunder.
Untuk mengatasi hal ini, maka pada rem tromol jenis leading
trailing menggunakan:
a) Sepatu Rem

25
Disain sepatu rem yang paling terkenal untuk sistem rem yang lebih
kecil, adalah sepatu rem siap pakai yang dibuat dari baja. Pada sistem
rem yang lebih besar, campuran besi tuang, campuran aluminium, atau
sepatu rem yang terbuat dari campuran besi lunak, banyak digunakan
akir-akhir ini.

Gambar 1.28 Sepatu Rem

Sepatu rem terdiri dari sebuah meja dan pelapis sepatu (shoe web).
Lapisan atau kampas rem (brake lining) dipasang pada meja sepatu
rem dengan cara pengeleman atau kelingan. Lapisan sepatu menahan
meja dan pegas pengembali sepatu (shoe return spring). Satu ujung
sepatu rem duduk pada lubang jangkar (anchor bore) atau tempat
dudukan jangkar (anchor rest path). Sedangkan ujung sepatu rem yang
lain adalah duduk pada salah satu ujung piston wheel cylinder.
Tergantung pada susunan sepatu rem, apakah dalam posisi leading
(primer) atau dalam posisi trailing (sekunder).
b) Kanvas Rem
Kanvas rem terbuat dari bahan campuran asbes atau fiber glass,
resinsintetis, bahan yang tahan terhadap gesekan dan bahan yang dapat
menyerap panas. Campuran dibuat dalam cetakan dalam bentuk dan
ukuran kampas rem yang direncanakan lalu dikeringkan pada suhu dan
tekanan yang tinggi. Jeis kampas rem ini dirancang untuk menahan
tekanan dan temperatur yang tinggi saat rem bekerja. Untuk maksud
ini, kampas rem harus mampu menyalurkan panas pada sepatu rem.

26
Beberapa fiber glass yang dipakai sebagai bahan kampas rem adalah
pengantar panas yang baik, sehingga untuk mengimbangi hal ini,
partikel-partikel yang halus seperti seng (zinc), dapat dimasukkan
dalam bahan kampas rem tersebut. Partikel-partikel logam adalah
penghantar panas yang baik dan dengan demikian membantu untuk
memindahkan panas dari permukaan kampas rem ke permukaan
komponen yang lain. Pemasangan kampas rem pada sepatu rem
dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Kampas Rem Dipasang dengan Perekat (Bonded Lining)

Gambar 1.29 Kampas Rem

Kampas-kampas rem ini disatukan (dipasangkan) pada sepatu rem


dengan perekat (adhesive) yang dikeringkan dengan panas. Selama
proses perekatan, bagian belakang kampas rem dan meja dari
permukaan sepatu rem dilapisi dengan suatu perekat khusus. Kampas
rem dan sepatunya diklem (dijepit) bersama dan ditempatkan dalam
sebuah oven untuk pemanasan dan perekatan. Setelah pemindahan dan
pendinginan, lapisan diratakan setengah lingkaran agar sesuai dengan
bentuk tromol rem.
Kanvas Rem Dipasang dengan Kelingan (Riveted Lining)

27
Gambar 1.30 Kanvas Rem Dipasang dengan Kelingan

Kampas jenis ini disatukan dengan sepatu rem dengan sejumlah paku
keling. Selama proses pemasangan menggunakan paku keling (rivet)
agar kampas rem dan sepatu rem terjepit bersama.

c. Rem cakram (Disc Brake)


Konstruksi rem cakram pada umumnya terdiri atas cakram (disc
rotor) yang terbuat dari besi tuang yang berputar dengan roda, bahan
gesek (disc pad) yang menjepit & mencengkeram cakram, serta kaliper
rem yang berfungsi untuk menekan & mendorong bahan gesek sehingga
diperoleh daya pengereman. Daya pengereman dihasilkan oleh adanya
gesekan antara kanvas rem dan cakram. Self energizing effect yang
terjadi pada rem cakram sangat kecil, sehingga diperlukan tekanan
pengereman yang lebih besar untuk mendapatkan daya pengereman
yang efisien dan pad cenderung lebih cepat aus disbanding dengan
sepatu rem pada rem tromol. Menurut mekanisme penggeraknya, rem
cakram sepeda motor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1) Rem cakram penggerak mekanik
Rem jenis ini bekerja menggunakan kabel. (cth. : pada sepeda
motor Honda GL100). Cara kerja rem cakram penggerak
mekanik :

28
Gambar 1.31 Cara Kerja Rem Cakram Penggerak Mekanik

Kabel rem akan menarik tuas rem ( brake arm) ke atas.


Pergerakan/perputaran tuas rem mendorong thrust plate guide ke
depan sehingga pad A menempel ke atas cakram.
Badan rumah rem (caliper body) berengsel sehingga dapat erputar
bebas dalam arah mendatar di antara batas-batas yang ditentukan
oleh letak titik. Kontak pad A dan pad B dengan cakram. Oleh
karena itu, bila pad A maju menempel ke atas cakram, sebagai
reaksinya rumah rem dan pad B akan tertarik maju sampai pad B
menyentuh cakram. Akibatnya cakram yang berputar itu dijepit
oleh pad A dan pad B.
Gesekan antara pad A dan pad B pada cakram akan memberikan
tahanan gesek yang melawan perputaran cakram.
2) Rem cakram penggerak hidrolik.
Rem cakram penggerak hidrolik banyak digunakan pada
sepeda motor pada umumnya. Mekanisme penggerak sistem rem
tipe hidrolik memanfaatkan tenaga hidrolik (fluida/cairan) untuk
meneruskan tenaga pengereman dari pedal/handel rem ke sepatu
rem/ pad rem.
Mekanisme penggerak hidrolik berpedoman kepada hukum
Pascal Bila suatu fluida/cairan dalam ruang tertutup diberi tekanan
maka tekanan tersebut akan diteruskan ke semua arah dengan sama

29
rata. Gaya penekanan pada pedal/handel rem akan diubah menjadi
tekanan fluida oleh piston master silinder, kemudian diteruskan ke
silinder roda/kaliper rem melalui slang rem untuk menghasilkan
gaya pengereman.

Gambar 1.32 Cara Kerja Rem Cakram Penggerak Hidrolik

Rem penggerak hidrolik mempunyai beberapa keuntungan


dibandingkan dengan penggerak mekanik, yaitu:
Fluida mempunyai sifat tidak dapat dimampatkan, dan pada sistem
rem hidrolik tidak terjadi kerugian gesekan/penurunan tekanan
karena sambungan atau engsel seperti halnya pada mekanisme
penggerak rem mekanik sehingga rem lebih responsif.
Gaya pengereman yang diperlukan untuk mengoperasikan rem relatif
ringan.
Bebas penyetelan, meskipun celah antara kampas rem dan disc brake
akan selalu berubah, namun mekanisme rem cakram memungkinkan
terjadinya penyetelan secara otomatis.
Panas akan hilang dengan cepat dan memiliki sedikit kecendrungan
menghilang pada saat disk dibuka. Sehingga pengaruh rem yang
stabil dapat terjamin.

30
Tidak akan ada kekuatan tersendiri seperti rem sepatu yang utama
pada saat dua buah rem cakram digunakan, tidak akan ada perbedaan
gaya pengereman pada kedua sisi kanan dan kiri dari rem. Sehingga
sepeda motor tidak mengalami kesulitan untuk tertarik kesatu sisi.
Jika rem basah, maka air tersebut akan akan dipercikkan keluar
dengan gaya Sentrifugal.

a) Komponen-komponen rem cakram penggerak hidrolik :


Silinder master
Silinder master berfungsi mengubah gerak pedal/tuas rem ke dalam
tekanan hidrolis
Komponen Silinder
Master:
1. Tutup reservoir
2. Plat diafragma
3. Diafragma karet
4. Protektor
5. Klem
6. Saklar lampu rem
7. Tuas rem
8. Lever pivot bolt
9. Pivot bolt locknut
10. Dust boot
11. Circlip
12. Piston assembly
Gambar 1.33 Silinder Master 13. Pegas
14. Rubber boot
15. Sealing washer
16. Banyo bolt

Cara Kerja Silinder Master

31
Ketika rem tidak digunakan.
Piston cup dari piston No.1 dan No.2 berada pada inlet port dan
compensating port, dan memberikan ruang antara master cylinder
dan tangki reservoir. Piston No.2 didorong ke kanan oleh tenagadari
pegas pendorong No.2, tetapi ditahan supaya tidak terlalu jauh oleh
stopper bolt.

Gambar 1.34 Kondisi Rem Saat Tidak Digunakan

Ketika pedal rem ditekan


Piston No. 1 bergerak ke kiri dan piston cup menyegel
compensating port untuk menutup saluran antara silinder dan tangki
reservoir. Saat piston didorong lebih jauh, tekanan hidrolis di dalam
master cylinder naik. Tekanan ini ditujukan untuk wheel cylinder
belakang. Karena tekanan hidrolis yang sama juga mendorong piston
No. 2, piston No. 2 bekerja dengan cara yang sama seperti piston No.
1, dan berfungsi pada wheel cylinder depan.

32
Gambar 1.35 Kondisi Pedal Rem Saat Ditekan

Bila pedal rem dilepas.


Piston dikembalikan ke posisinya semula oleh tekanan hidrolis
dan tenaga pegas pembalik. Namun, karena cairan rem tidak
langsung kem bali dari wheel cylinder, tekanan hidrolis di dalam
master cylinder untuk sementara turun (terbentuk hampa udara).
Sebagai akibatnya, cairan rem di dalam tangki reservoir mengalir ke
master cylinder melalui port pintu masuk, melalui banyak lubang
yang ada pada ujung piston, dan disekitar garis keliling dari piston
cup. Setelah piston kembali ke posisinya semula, cairan rem yang
secara bertahap kembali dari wheel cylinder ke master cylinder
mengalir ke tangki reservoir melalui compensating port.
Compensating port juga menyerap perubahan pada volume cairan
rem yang dapat terjadi di dalam silinder akibat perubahan temperatur.
Ini menjaga agar tekanan hidrolis tidak naik saat rem tidak
digunakan.

33
Gambar 1.36 Kondisi Pedal Rem Saat Dilepas

Cara Kerja rem cakram penggerak hidrolik


Sebelum bekerja
- Tekanan minyak rem = 0
- Pad tidak menyentuh piringan

34
Mulai bekerja
- Tekanan minyak rem
bertambah
- Pad menyentuh piringan
dengan ringan
- Gesekan kecil
- Tenaga pengereman kecil

Pada saat bekerja


- Tekanan minyak rem besar
- Tekanan pad pada disk besar
- Gesekan: besar
- Gaya pengereman: besar

Bebas pengereman
- Tekanan minyak rem = 0
- Pad kembali pada posisi
semula
- Gaya pengeremen = 0

Gambar 1.37 Cara Kerja rem cakram penggerak hidrolik

E. Roda dan Ban ( Wheel and Tyre)


1. Roda (Wheel)
Pada sepeda motor roda berfungsi untuk menopang berat
motor dan pengendara, menyalurkan daya dorong, pengereman,
daya stir pada jalan. Disaat yang sama roda juga menyerap
tekanan/kejutan dari permukaan jalan Pada sepeda motor roda
berfungsi untuk menopang berat motor dan pengendara pada area
yang kecil dimana permukaan ban menyentuh permukaan jalan,
menyalurkan daya dorong, pengereman, daya stir pada jalan. Untuk

35
itu roda harus bersifat kuat, kaku/rigit dan ringan. Ada tiga bagian
roda pada sepeda motor, yaitu bagian hub roda, bagian pelek roda
(wheel rim), dan ban (tire). Pada hub roda terpasang bantalan
peluru (bearing), sepatu rem, tromol dan komponen bantu lainnya.
Hub dan pelek roda dihubungkan oleh jari-jari (spokes). Ada juga
roda dengan model satu kesatuan dimana hub dan peleknya terbuat
dari bahan yang ringan (seperti pada aluminium).
Design roda/pelek tergantung dari tipe struktur, material dan
metode pembuatan roda dari pabrik yaitu:
a. Tipe roda jari-jari (wire spoke wheel)
Tipe ini paling banyak digunakan pada sepeda motor. Dimana
roda terbuat dari lembaran-lembaran baja atau alumunium alloy
yang melingkar dan hub/tromol terpasang kaku oleh jari-jari.
Gambar 1.38 Roda Tipe Jari-Jari

1 Grease seal
2 Bearing
3 Spacer
4 Hub casting
5 Brake disc bolt
6 Brake caliper
7 Speedometer cable
8 Axle
9 Speedometer drive unit
10 Speedometer drive gear
11 Bearing
12 Retaining plate

36
13 Hub cover
14 Collar
15 Axle nut

Gambar 1.39 Potongan dan tinjauan setempat dari


kekhasan Hub
b. Tipe roda dari composit (composite wheel)
Tipe ini paling banyak digunakan pada sepeda motor dengan
roda kecil (tipe keluarga atau rekreasi). Rodanya/pelek dibuat
dengan menyatukan rim dan hub dengan menggunakan baut dan
mur.

Gambar 1.40 Tipe Roda Plat Press


c. Tipe roda dari paduan tuang (cast alloy wheel)

37
Roda dan jari-jari menjadi satu disebut tipe Light alloy
disk wheel. Regiditas dan kekuatannya sama dengan sebelumnya,
tidak diperlukan penyetelan untuk balancinga roda (beda dengan
jari-jari yang perlu disetel untuk balancingnya). Designnya sangat
trendi biasanya digunakan motor besar, kadang-kadang pada
motor kecil dan motor-motor sport.

Gambar 1. 41 Tipe Roda dari Besi Tuang


d. Roda tipe khusus (dibentuk dari baja yang dipress dan didalamnya
terbagi dua)

1 . Bolt 3. Rim half 5. Nut 7 . Inner tube

38
2 . Rim half 4. Spring washer 6. Tyre

Gambar 1.42 Membelah susunan pelek roda

2. Roda (Tyre)
Ban merupakan bagian roda yang langsung bersentuhan
dengan jalan. Disaat sepeda motor berjalan dan berhenti akan terjadi
gesekan antara ban dan permukaan jalan. Ban selain berfungsi untuk
menopang berat motor dan pengendara pada area yang kecil dimana
permukaan ban menyentuh permukaan jalan, menyalurkan gaya
tekan pada saat pengendaraan dan pengereman, juga meredam
kejutan secara simultan/terus menerus.
Pada dasarnya ban yang digunakan pada sepeda motor,
umumnya terdiri atas dua bagian utama yaitu ban luar dan ban
dalam. Konstruksi ban pada umumnya sama, baik ban dengan ban
dalam maupun ban tanpa ban dalam. Ban bagian luar disebut Tread
terbuat dari karet yang keras karena bersentuhan langsung dengan
tanah. Untuk itu tread harus memiliki ketahan aus yang tinggi dan
cukup baik melindungi ban dalam.
Sedangkan lapisan bagian dalam ban disebut Breaker, carcas
dan tread fungsinya menjaga dan melindungi ban bagian dalam dari
tekanan udara dan pukulan dari luar secara bersamaan. Carcas ini
terbuat dari lapisan kain (fabric layer) dengan bahan nilon dan rayon
yang dilapisi karet dan kawat yang jumlah lapisannya menentukan
kekuatan ban. Disamping itu ada lapisan bead yang mampu
memegang dengan kuat pada pelek melalui tekanan udara selama
berjalan. Lapisan yang berbeda dibagian dalam dari ban
TUBLESS (tanpa ban dalam) yang bersifat elastis, jika tertusuk
paku udara bagian dalam tidak bocor keluar. Ban tanpa mempunyai
ban dalam disebut ban TUBELESS dengan konstruksi khusus agar
udara bagian dalam tidak bocor keluar. Biasanya pada bagian luar
ban terdapat tanda TUBELESS

39
Gambar 1.43 Ban tipe radial

40
Gambar 1.44 Ciri- ciri umum sidewall dari ban
(bentuk samping dari ban)

BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Chassis adalah rangka yang berfungsi sebagai penopang berat dan
beban kendaraan, mesin serta penumpang. Ditinjau dari segi struktur
atau bentuk rangka mempunyai fungsi antara lain harus mampu
menempatkan dan menopang mesin, transmisi, suspensi dan sistem
kelistrikan, serta komponen-komponen lain yang ada dalam sepeda
motor.
2. Sistem kemudi berfungsi untuk mengendalikan/mengontrol arah
sepeda motor sehingga arah jalannya sepeda motor sesuai dengan
kehendak pengemudi.

41
3. Sistem suspensi adalah sistem yang dirancang untuk menahan getaran
akibat benturan roda dengan kondisi jalan.
4. Sistem rem sepeda motor dirancang untuk mengontrol kecepatan/laju
(mengurangi/memperlambat kecepatan dan menghentikan laju) sepeda
motor, dengan tujuan meningkatkan keselamatan dan untuk
memperoleh pengendaraan yang aman. Prinsip kerja rem adalah
dengan mengubah energi kinetik menjadi energi panas dalam bentuk
gesekan.
5. Roda berfungsi untuk menopang berat motor dan pengendara,
menyalurkan daya dorong, pengereman, daya stir pada jalan.
6. Ban merupakan bagian roda yang langsung bersentuhan dengan jalan.
Disaat sepeda motor berjalan dan berhenti akan terjadi gesekan antara
ban dan permukaan jalan. Ban selain berfungsi untuk menopang berat
motor dan pengendara pada area yang kecil dimana permukaan ban
menyentuh permukaan jalan, menyalurkan gaya tekan pada saat
pengendaraan dan pengereman, juga meredam kejutan secara
simultan/terus menerus.

DAFTAR PUSTAKA

Suratman, M, Drs (2003). Servis dan Teknik Reparasi Sepeda Motor.


Bandung: CV Pustaka Grafika
TAM ____. Materi Pelajaran Engine Group Step 2. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor
TAM ____. Training Manual Gasoline Engine Step 2. Jakarta: PT. Toyota
Astra Motor Taslim Rudatin, dkk. 1987. Teknik Reparasi Mesin-
Mesin Mobil dan Motor. Pekalongan: CV. Bahagia Batang

42

Anda mungkin juga menyukai