Anda di halaman 1dari 16

KAJIAN GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK ERUPSI GUNUNGAPI SLAMET,

JAWA TENGAH

Alifiansyah Wahyu S1, Ansgarius Y. Debrito1, Bagus1, Damas Muharif1, Fatimah Sri G1, Irene
Apriyanti S1, Istin U. Indiraswari1, Kartika I. Rumbay1, Marlina Teniwut1, Nuzulindra Dwi M1

1
Program Studi Teknik Geologi, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional, Jl.Babarsari, Caturtunggal,
Depok, Sleman, Yogyakarta
Email : indramaulana295@gmail.com

ABSTRAK

Komplek Gunungapi Slamet terletak pada 7o1430 LS dan 109o1230" BT merupakan


komplek gunungapi Kuarter yang aktifitas vulkaniknya sudah berlangsung sejak Tersier.
Perkembangan bumi yang dinamis tercermin dari aktifitas tektonik dan vulkanik di Gunung
Slamet yang mempengaruhi evolusi paleo-geografi, membentuk kenampakan alam dan
variasi batuan di daerah ini. Gunungapi Slamet yang merupakan gunungapi aktif tipe A (yang
telah melakukan erupsi sejak tahun 1600). Lebih dari 30 kegiatan erupsi (tipe vulcanian dan
strombolian) sudah tercatat sejak 1772. Peningkatan aktifitas vulkanik muncul sejak
pertengahan April 2009 dan diakhiri dengan beberapa erupsi tipe strombolian diantara 23
April-6 Mei 2009. Sekarang Gunungapi Slamet berada pada kondisi normal.

Kata kunci: aktifitas vulkanik, erupsi, gunung slamet, tipe strombolian

I. PENDAHULUAN bentang alam, G. Slamet dapat dibagi


Di Pulau Jawa Gunung Slamet menjadi tiga periode kegiatan, yaitu G.
(+3432 m) merupakan salah satu gunungapi Slamet Tua, G. Slamet Menengah, dan G.
aktif tipe A (pernah meletus sejak tahun Slamet Muda. Pada kompleks G. Slamet Tua
1600). Gunung ini terletak padaposisi terdapat beberapa bekas kawah dan sumbat
o o
7 1430" LS dan 109 1230" BT, dengan lava G. Beser (+ 925 m). Batuan vulkanik
wilayah administrasi masuk ke dalam lima Slamet Menengah menyebar ke tenggara,
wilayah yaitu Kabupaten Brebes, Tegal, sedangkan batuan Slamet Muda melampar ke
Pemalang, Banyumas dan Purbalingga. timur-timur laut-utara dan sebagian kecil ke
Evolusi tubuh vulkanik dan karakteristik barat laut (Djuri dkk. 1975; Supriatman dkk.
1985; Bronto & Pratomo 2010). Di kaki karakteristik bentang alamnya, tubuh
timur G. Slamet Muda dijumpai 35 buah vulkanik G. Slamet terdiri atas G. Slamet
kerucut silinder yang berumur sekitar 0,042 Tua, G. Slamet Muda yang terletak di
0,020 Ma (Sutawidjaja & Sukhyar 2009). sebelah timurnya dan G. Slamet Menengah.
Secara keseluruhan G. Slamet masih Kelompok endapan vulkanik produk erupsi
memiliki kegiatan kawah pusat, aktivitasnya G. Slamet Tua terdiri atas leleran lava
masih berlangsung yaitu berupa hembusan andesit dan endapan piroklastik yang telah
solfatara, pembentukan kubah lava, serta mengalami ubahan hidrotermal, dan
letusan abu. kelompok endapan G. Slamet Muda, yang
terdiri atas leleran lava basaltik dan
II. METODE PENELITIAN piroklastik jatuhan yang tidak terubah (Haar
Metode yang digunakan dalam 1935; Harloff 1933; Djuri 1975 dan
penelitian ini terdiri dari metode studi Sutawidjaja dkk. 1985; Pardyanto 1971;
literatur dengan cara mengumpulkan data 1990). Kelompok Slamet Tua diwakili oleh
data dari berbagai sumber dan penelitian oleh lava Mingkrik, lelerannya tersingkap terbatas
ahli geologi terdahulu. Data yang di bagian barat kawah G. Slamet, satuan
dikumpulkan berupa data analisa batuan ini adalah pembentukan tubuh Slamet
geomorfologi, stratigrafi, stuktur geologi , Tua (Gunung Cowet), ditindih oleh produk
sejarah letusan, karakteristik erupsi dan Slamet Muda yang diwakili oleh leleran lava
potensi ancaman terhadap lingkungan dan andesit piroksin. Sektor barat laut dari tubuh
upaya dalam mitigasi bencana yang ada. gunung api ini telah mengalami deFormasi
Adapun tahapan penelitian yang vulkano-tektonik dan ubahan hidrotermal,
dilakukan meliputi: (1) pengumpulan data yang membentuk depresi (graben) Guci pada
data dari penelitian para ahli, (2) mencari lereng barat laut (Sutawidjaja 1985). Antara
jurnal-jurnal geologi yang ada dari sumber batuan vulkanik Slamet Muda dengan Slamet
sumber yang ada kaitannya dengan Tua di bagian utara dan Slamet Menengah di
Gunungapi Slamet, dan yang terakhir yaitu bagian selatan dibatasi oleh sistem sesar
(3) penyusunan data. yang membuka ke arah timur, yang
disebabkan oleh adanya struktur berarah
III. HASIL DAN PEMBAHASAN barat daya-timur laut. Terdapat 35 buah
Karakteristik Geologi Gunungapi Slamet kerucut sinder dengan diameter dasar kerucut
G. Slamet yang letusannya mulai berkisar antara 130750 m dengan tinggi
tercatat dalam sejarah sejak tahun 1772 hingga 250 m. Kerucut-kerucut sinder ini
(Kusumadinata 1979). Berdasarkan merupakan kelompok gunung api
monogenesis yang terbentuk pada 0,042 beberapa tempat erupsi yang kecil pada
0,020 Ma (Sutawijaya & Sukhyar 2009). lereng timurnya. Gunungapi Slamet dengan
ketinggian 3.428 mdpal adalah gunung
Geomorfologi tertinggi di Jawa Tengah. Secara morfologi
Secara geomorfologi, wilayah di Gunungapi Slamet dibedakan menjadi lima
sekitar Gunungapi Slamet didominasi oleh bagian yaitu lereng atas yang tertutup oleh
Pegunungan Serayu Utara dan Pegunungan medan lava, breksi fluvial, breksi piroklastik,
Serayu Selatan, diantara dua pegunungan dan debu vulkanik; lereng tengah yang
tersebut terdapat Lembah Serayu. Menurut tertutup oleh breksi fluvio vulkanik, lava,
Van Bemmelen (1949) Pegunungan Serayu aglomerat, dan debu dengan material hasil
Utara berada dalam satu hubungan rangkaian pelapukan; lereng bawah dan lerengkaki
pegunungan dengan Perbukitan Bogor di yang tertutup oleh breksi fluviovulkanik,
Jawa Barat dan Igir Kendeng di Jawa Timur, lahar, deposit aliran rombakan (debris), dan
sedangkan Pegunungan Serayu Selatan deposit aliran sungai serta material hasil
merupakan hasil pengangkatan baru yang pelapukan; dan bagian Gunung Slamet tua
terletak searah dengan Depresi Bandung di dengan breksi fluvial pleistosen, lempung,
Jawa Barat. Pegunungan Serayu Utara breksi, dan lempung tidak terstruktur
lebarnya 30-50 km. Pada bagian barat (Gambar 1 dan Gambar 2)
dibatasi oleh Gunungapi Slamet, sedangkan
bagian timurnya dibatasi oleh endapan hasil Stratigrafi
vulkanik dari Pegunungan Rogojembangan, Stratigrafi yang berada di sekitar
Komplek Gunungapi Dieng, dan Gunungapi Gunung Slamet teridiri dari Formasi
Ungaran. Lembah serayu memanjang Kumbang yang menjemari dengan Formasi
diantara Pegunungan Serayu Utara dan Halang yang tersusun oleh batupasir andesit,
Pegunungan Serayu Selatan meliputi wilayah konglomerat tufan dan napal (Djuri dkk.
Majenang, Ajibarang, Purwokerto, 1996). Dari uraian tersebut di atas,
Banjarnegara, dan Wonosobo. Diatara diperkirakan sebagian besar batuan penyusun
Purwokerto dan Banjarnegara, lebar Lembah Formasi Halang adalah bahan rombakan asal
Serayu mencapai 15 km. gunung api dan kemungkinan berasal dari G.
Menurut Martopo (1984) Gunung Cupu dan lokasi kawasan ini selanjutnya
Slamet dibedakan menjadi; (a) bagian yang dikenal sebagai bagian dari Formasi
tua yaitu bagian barat yang mengalami Kumbang. Kedua Formasi batuan asal
gangguan tektonik, (b) kerucut muda yang gunung api tersebut menumpang di atas
terletak di sebelah timurnya, dan (c)
batuan sedimen lunak Formasi Rambatan selaras ditindih oleh endapan vulkanik
(Tmr) Formasi Kumbang yang berumur Miosen
yang berumur Miosen Tengah. Formasi Akhir, dan batu pasir kasar berwarna
Rambatan terdiri dari serpih, napal dan batu kehijauan dan konglomerat dari Formasi
pasir gampingan. Formasi Kumbang dan Tapak yang berumur Pliosen (Haar 1935;
Formasi Halang ditutupi oleh Formasi Tapak Djuri 1975). Satuan batuan tertua yang
(Tptb) yang berumur Pliosen dan tersusun tersingkap di daerah ini adalah batuan
oleh batu pasir, konglomerat, dan setempat Formasi Rambatan yang terdiri dari serpih
breksi andesit. Kelompok batuan ini diduga dan batu pasir napalan dengan ketebalan 300
juga merupakan bahan rombakan sebagai m. Satuan batuan ini ditindih oleh Formasi
kelanjutan dari pembentukan Formasi Halang, yang terdiri dari batu pasir
Halang. Seluruh batuan berumur Tersier itu berselang-seling dengan konglomerat tufaan
kemudian ditutupi oleh lava G. Slamet dan dan napal. Kedua satuan batuan ini diterobos
endapan aluvium. G. Slamet terletak di oleh Diorit pada akhir Miosen Tengah (Djuri
bagian barat North Serayu Range dan 1975). Semua satuan batuan tersebut di atas
termasuk Zona Bogor (Bemmelen, 1949). ditutupi secara tidak selaras oleh satuan
Pardyanto (1971) menyatakan bahwa batuan Formasi Kumbang, yang terdiri dari
Gunung Cowet (Old Slamet Volcano) breksi, konglomerat tufan, dan lava andesit
dibangun di tengah satuan endapan Kuarter. dengan ketebalan berkisar 200 sampai 2000
Hamilton (1979) menyatakan bahwa gunung m.
api Kenozoikum umumnya berkembang di
atas satuan endapan laut Neogen. Tubuh Satuan Endapan Kuarter
gunung api Slamet adalah gunung api Endapan kuarter di daerah ini
komposit yang berdimensi besar (diameter umumnya didominasi oleh endapan vulkanik
50-60 km), menutupi satuan batuan Tersier produk erupsi G. Slamet, yang terdiri dari
yang terdapat di sekitar daerah ini (Gambar rempah vulkanik hasil erupsi eksplosif
3). berupa jatuhan piroklastik (airfall deposits),
baik berupa endapan lepas maupun yang
Stratigrafi Satuan Batuan Tersier sudah membatu, dan leleran lava basal yang
Batuan dasar yang mengalasi tersebar cukup luas, mencapai jarak hingga
kompleks vulkanik G. Slamet adalah satuan 15 km terutama ke lereng timur-laut dari
batuan Tersier yang terdiri dari endapan pusat erupsinya.
sedimen laut berumur Miosen (Formasi Secara stratigrafi, menurut Djuri, M.
Rambatan dan Formasi Halang), secara tidak dkk., 1996, batuan/litologi yang terdapat di
lereng Gunung Slamet diantaranya tersusun Vulkano) dan juga efusif, yaitu leleran lava
oleh kelompok batuan-batuan: yang disertai letusan abu dan scoria (tipe
1. Breksi, lava, tuf (Qvs) Gunungapi Slamet Stromboli) (Pratomo 2006; 2010). Letusan-
Tua, letusan tersebut di atas umumnya
2. Breksi, lava (Qvls) Gunungapi Slamet berlangsung dalam beberapa hari hingga
Muda. beberapa minggu (Sulistyo dkk. 2009)
3. Breksi laharik (Qls) Gunungapi Slamet (Tabel 1).
Tua dan Muda (Gambar 4).
Karakteristik Erupsi G. Slamet dan
Struktur Geologi Potensi Ancaman
Struktur geologi Gunung Slamet Berdasarkan catatan sejarah letusan,
dapat diidentifikasi melalui bentuk kelurusan pada umumnya letusan G. Slamet adalah
dan pola aliran sungai serta indikasi lainnya. letusan abu disertai lontaran sekoria dan batu
Struktur patahan utama yang terbentuk di pijar, kadang-kadang mengeluarkan lava
sebelah timur laut Gunung Slamet, menurut pijar. Letusannya berlangsung beberapa hari,
Peta Geologi Lembar Purwokerto-Tegal pada keadaan luar biasa mencapai beberapa
(Djuri, M. dkk., 1996) merupakan sesar-sesar minggu. Bila terjadi letusan besar, seperti
mendatar mengiri dan menganan yang letusan G. Agung (1962), G. Galunggung
berarah baratdaya-timurlaut. Di sebelah (1982) atau G. Colo (1983), maka bahaya
timur berkembang struktur patahan mendatar utama letusan G. Slamet atau bahaya primer
mengiri dan menganan berarah baratlaut- (bahaya langsung akibat letusan) adalah
tenggara serta lipatan berarah barat-timur luncuran awan panas, lontaran piroklastik
(Gambar 5) (bom vulkanik, lapili, pasir dan abu) dan
mungkin aliran lava. Sedangkan bahaya
Sejarah Letusan sekunder (bahaya tidak langsung dari
Sejarah Erupsi G. Slamet letusan) adalah lahar hujan yang terjadi
Berdasarkan catatan kegiatan setelah letusan apabila turun hujan lebat di
vulkanik G. Slamet sejak dua abad yang lalu, sekitar puncak. Jauhnya sebaran jatuhan
tercatat setidaknya lebih dari 30 kali erupsi, piroklastik, tergantung pada ketinggian
baik berupa letusan abu maupun yang lontaran dan kencangnya angin yang bertiup
menghasilkan leleran lava. Berdasarkan pada saat terjadi letusan, terutama
catatan kegiatan vulkanik G. Slamet sejak penyebaran hujan abu dan pasir. Perioda
tahun 1772, karakter erupsi gunung api ini Letusan. Letusan G. Slamet berulang-ulang
cenderung bersifat eksplosif lemah (tipe dalam tempo, berlangsung paling lama
sampai beberapa minggu (kurang dari satu 3 km dari pusat erupsi, karena biasanya
bulan). Periode istirahat terpendek antara dua melontarkan material pijar yang berukuran
letusan lk. 1 tahun dan terpanjang 53 tahun. hingga bongkah (volcanic bomb).
Untuk periode istirahat lk. 1 tahun mungkin
masih satu fase letusan atau kegiatan Lontaran (Balistik) Material Letusan
lanjutan. Letusan tipe Stromboli (Stromboli
volcano, Italia), adalah letusan magmatis
Jenis Erupsi dan Potensi Ancaman dengan pelepasan energi yang relatif rendah,
Bahaya terhadap Lingkungan yang dicirikan oleh lontaran lava pijar
Berdasarkan catatan kegiatan berukuran abu vulkanik hingga bongkah
vulkanik G. Slamet sejak tahun 1772, (volcanic bomb), bertekstur scoria, dengan
karakter erupsi gunung api ini cenderung ketinggian kolom letusan hinggga ratusan
bersifat eksplosif lemah (tipe Vulkano) dan meter di atas bibir kawah. Letusan tipe
juga efusif, yaitu leleran lava yang disertai Stromboli biasanya diikuti oleh leleran lava.
letusan abu dan scoria (tipe Stromboli).
Istilah letusan tipe Vulkano (Vulcanian) Hujan Abu Lebat
pertama kali diperkenalkan oleh Giuseppe Erupsi G. Slamet umumnya
Mercalli, seorang saksi menghasilkan abu letusan, yang tersebar
mata erupsi G. Vulcano, Italia, dalam tahun mengikuti arah angin dominan pada saat
1888-1890. Erupsi ini dicirikan oleh tiang letusan terjadi. Endapan abu vulkanik
asap letusan yang pekat, berisi campuran biasanya menjadi semakin berat bila basah
material vulkanik berukuran abu dan gas apabila terjadi hujan pada saat erupsi terjadi.
vulkanik, disertai lontaran material vulkanik Hujan abu lebat dapat menimbulkan
berukuran abu hingga bongkah dan suara- kerusakan pada tetumbuhan, terutama pada
suara dentuman. Material lontaran tersebut tumbuhan yang mempunyai daun relatif
umumnya merupakan material non-juvenil lebar, sehingga batang pohon tidak mampu
(> 50%), yang berasal dari bagian-bagian menahan beban, di samping menghambat
dari sumbat lava dan material yang berasal terjadinya proses foto sintesa yang sangat
dari sekitar kawah dan kepundan gunungapi diperlukan oleh tetumbuhan. Gangguan lain
ini. Tipe letusan ini dicirikan oleh suara- yang juga ditimbulkan oleh endapan abu
suara dentuman, sebagai manifestasi letusan gunung api adalah terjadinya
pelepasan gas, merupakan fitur yang khas pencemaran secara fisik dan kimiawi
dari tipe letusan ini. Letusan tipe Vulkano terhadap sumber-sumber air (mata-air, sumur
adalah relatif berbahaya dalam radius hingga dan kolam), kesehatan manusia (iritasi dan
gangguan saluran pernafasan), dan gangguan butiran yang relatif lebih halus dan juga air
lalu-lintas baik di darat,laut dan di udara hujan pada
(penerbangan). proporsi tertentu berfungsi sebagai pelincir,
sehingga masa lahar dapat mulai meluncur
Leleran dan Kubah Lava (gravitasional). Dengan komposisi seperti
Leleran lava basal masih dapat tersebut di atas, aliran lahar akan mampu
mengalir dalam kondisi sangat panas (600 mengerosi dan membawa bongkah-bongkah
1000O C), dalam kekentalan (viscosity) yang lava berukuran besar karena densitas dari
relatif rendah, hingga berhenti dan membeku masa lahar tersebut menjadi sangat besar.
berbentuk batuan beku di permukaan. Karena Seluruh aspek tersebut di atas beserta
sifat fisiknya lava mengalir relatif lambat, keterangannya tertuang dalam Peta Kawasan
tergatung pada kekentalannya dan Rawan Bencana Gunung api yang berisikan,
kemiringan lelereng (gravitasi), sehingga definisi, inFormasi, rekomendasi, dan
pada saat membeku akan membentuk langkah tindak dalam mengantisipasi setiap
bongkahbongkah dengan tepian yang relatif tingkat ancaman bahaya letusan gunung api
terjal. Kubah lava yang terbentuk pada fase tersebut. Peta kawasan Rawan Bencana
akhir dari sebuah erupsi, menutupi lubang Letusan G. Slamet diterbitkan oleh Pusat
kepundan (kawah), sebagai akhir dari proses Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
pencapaian kesetimbangan termodinamis di (PVMBG) adalah kawasan yang pernah
dalam dan di luar pipa kepundan. terlanda atau teridentifikasi berpotensi
terancam bahaya letusan. Peta ini juga
Banjir Lahar menjelaskan tentang jenis dan sifat bahaya
Lahar terjadi akibat dipicu oleh ancaman letusan, daerah rawan bencana,
intensitas hujan yang terjadi di kawasan jalur penyelamatan diri, lokasi pengungsian
puncak dalam volume tertentu, yang dll. Ancaman bahaya yang ditimbulkan oleh
mengalir dan menghanyutkan tumpukan erupsi G. Slamet adalah lontaran material
material atau rempah hasil erupsi, menuju magmatik, aliran awan panas letusan, leleran
tempat yang lebih rendah melalui lembah- dan guguran lava pijar (KRB-III), lontaran
lembah sungai yang terdapat di puncak dan material vulkanik berukuran kerikil dan
lereng gunung api tersebut. Viskositas masa hujan abu lebat, leleran lava, awan panas dan
lahar ini ditentukan oleh susunan material lahar, terutama pada lembah-lembah sungai
endapan yang terdiri dari bongkah lava yang berhulu di kawasan puncak (KRBII);
hingga abu halus, di mana material dengan dan aliran lahar (KRB-I) yang umumnya
berpotensi mengancam hampir seluruh
kawasan lereng dan kaki gunung api ini, terusmenerus dari Pos Pengamatan G.
terutama bagian utara, timur, tenggara, Slamet di Desa Gambuhan, Kabupaten
selatan barat daya dan barat. Pemalang.
Kegiatan kegempaan G. Slamet, dipantau
Ancamannya Terhadap Lingkungan dengan menggunakan seismograf (model
Karakteristik geologi-gunung api MEQ-800) dengan seismometer satu
yang terekam di kawasan komplek vulkanik komponen tipe Ranger SS-1, yang
G. Slamet dan sejarah kegiatan G. Slamet dioperasikan secara sistem radio telemetri
sejak tahun 1772, mencirikan letusan tipe (RTS). Awalnya seismometer (sensor
Vulkano dan Stromboli sering terjadi, baik gempa) ditempatkan di lereng utara G.
dengan atau tanpa disertai oleh leleran atau Slamet pada ketinggian lk. 3000 m. Sejak 17
kubah lava. Karakter letusan tipe Vulkano Mei 1993, seismometer dipindahkan ke
dan Stromboli, ancaman bahaya yang harus lokasi sekitar G. Cilik (1600 m) di lereng
diwaspadai adalah lontaran material pijar dan utara G. Slamet. Pemindahan sensor gempa
hujan abu lebat. Ancaman bahaya lontaran kembali dilakukan tanggal 27 Februari 2006,
batu pijar (bom vulkanik) yang umumnya karena lokasi sebelumnya telah menjadi
mengancam kawasan dalam radius + 3 km lahan pertanian sehingga rekaman gempa
dari pusat erupsi, di mana di kawasan G. banyak terganggu oleh aktivitas manusia.
Slamet adalah tidak berpenghuni. Sepanjang Pemantauan secara instrumental dilakukan
tidak terjadi dengan menggunakan seismometer L4-C
perubahan karakter erupsi dari gunung api (1Hz) yang dipasang secara permanen di dua
ini, Sebaran abu letusan sangat dipengaruhi stasion yakni di Bukit Cikunang/Buncis (Sta.
oleh arah angin dominan pada saat erupsi BCS) serta Bukit Cilik (Sta. CLK). Sinyal
terjadi. Karakteristik abu vukanik dari erupsi dari kedua stasion tersebut dikirimkan ke Pos
magma bersusunan basalan, umumnya lebih PGA dengan gelombang radio secara
kaya akan unsur magnesium (Mg) sehingga telemetri (RTS) dan direkam dengan
berpotensi menyuburkan tanah di sekitar menggunakan seismograf analog
gunung api ini. Hal ini dapat dilihat dari Kinemetrics PS-2 dan secara digital pada PC
ketebalan hutan dan kesuburan lahan komputer. Setelah peningkatan kegiatan
pertanian di sekeliling G. Slamet. April 2009 di tambah dua stasion, yaitu Sta.
Bambangan (BBG) dan G. Cilik (CLK),
Mitigasi Bencana Gunungapi Slamet sejak tanggal 24 Mei 2009 stasion seismik G.
Kegiatan G. Slamet, baik secara Cilik seismometernya di ganti yang
visual maupun kegempaan, dipantau secara sebelumnya L4-C menjadi jenis tiga
komponen (3D) L4-3D, nama dan posisi Kawasan Rawan Bencana I ( Daerah
stasion ada pada (Tabel 2). Waspada)
Kawasan Rawan Bencana I adalah
Kawasan Rawan Bencana Gunungapi kawasan yang berpotensi terlanda lahar dan
Slamet tidak menutup kemungkinan dapat terkena
Untuk menghadapi bahaya letusan G. perluasan awan panas dan aliran lava.
Slamet jika terjadi letusan besar, maka Selama letusan membesar, kawasan ini
digunakan Peta Daerah Bahaya atau Peta berpotensi tertimpa material jatuhan berupa
Kawasan Rawan Bencana (KRB). Peta hujan abu dan lontaran batu (pijar). Peta
Daerah Bahaya G. Slamet dibagi menjadi 2 kawasan rawan bencana tersebut dapat
zona, yaitu Daerah Bahaya (Kawasan Rawan dilihat pada (Gambar 6).
Bencana II) dan Daerah Waspada (Kawasan
Rawan Bencana I). KESIMPULAN
G. Slamet adalah gunung api aktif
Kawasan Rawan Bencana II (Daerah tipe A bersusunan basalan dengan
Bahaya) karakteristik letusan eksplosif lemah
Adalah daerah yang letaknya terdekat (vulcanian) dan juga efusif (strombolian)
dengan sumber bahaya, sehingga yang dicirikan oleh letusan-letusan abu,
kemungkinan akan terlanda oleh bahaya dengan atau tanpa leleran/kubah lava.
langsung, berupa luncuran awan panas, Potensi ancaman bahaya letusan gunung api
aliran lava dan lontaran piroklastik serta ini terbatas pada lontaran material pijar
lahar hujan. Tanpa memperhitungkan arah dalam radius kurang dari tiga km dari pusat
tiupan angin pada saat terjadi letusan, daerah erupsi, hujan abu lebat yang tersebar
bahaya ini diperkirakan meliputi wilayah menurut arah angin dominan pada saat erupsi
dalam radius lk 5 km berpusatkan kawah dan banjir lahar di sepanjang aliran sungai
aktif di puncak G. Slamet. Kawasan ini yang berhulu di kawasan puncak G. Slamet.
diperpanjang pada lembah-lembah sungai Hal ini berlaku sepanjang tidak terjadi
yang curam yang berhulu di daerah perubahan karakter erupsi seperti tersebut di
puncak/tepi kawah sampai sejauh lk 10-14 atas.
km. Sungai-sungai tersebut yaitu : Kali Gung
diperpanjang sampai lk. 14 km, K. Pelus dan
K. Ponggawa lk.12 km, k. Sat dan K.
Alurjero lk 10 km. Sungai-sungai lainnya
diperpanjang hingga 60lk km.
UCAPAN TERIMAKASIH
Kami segenap penyusun
mengucapkan terima kasih yang sebesar
besarnya kepada Bapak Obrin Trianda, S.T.,
M.T. dan Ibu Fatimah, S.Si., M.Si. atas ilmu
vulkanologi yang diberikan selama
perkuliahan. Kami juga mengucapkan terima
kasih kepada segenap tim asisten praktikum
vulkanologi yang telah memberikan
bimbingan dan ilmunya selama proses
praktikum vulkanologi berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
Ashari Arif dkk, 2012. Lereng Timur
Slamet, Selembar Catatan Ekspedisi. Edisi
khusus, ekspedisi alumni MPA Mahameru
2012, hal: 8-17
Pratomo. I, 2012.Keanekaragaman
Geologi Kompleks Vulkanik G. Slamet Jawa
Tengah.. Ekologi Gunung Slamet (2): 15-30
Gambar 1. Kedudukan Gunung Slamet dalam geomorfologi Pulau Jawa

Gambar 2. Pembagian geomorfologi Gunung Slamet dilihat dari DEM SRTM dengan arah pandangan
vertikal (Martopo, 1984)
Gambar 3. Peta geologi G. Slamet dan sekitarnya, bagian dari peta geologi Lembar Purwokerto dan
Tegal, Jawa Tengah, skala 1:100.000 (Djuri, 1975)

Gambar 4. Pembagian stratigrafi lokal daerah lereng Gunung Slamet (Djuhri dkk, 1996)
Gambar 5. Persebaran struktur geologi di daerah sekitar lereng Gunung Slamet (Djuhri dkk, 1996)

Tabel 1. Catatan kegiatan G. Slamet sejak dua abad yang lalu (Kusumadinata 1979; Abdurachman dkk. 2007 ).
Tabel 2. Lokasi dan Posisi Stasion Seismik yang berada di G. Slamet

Gambar 6. Peta Kawasan Bencana Gunungapi Slamet (Abdurachman dkk, 2007) yang
diterbutkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi,
Kementrian ESD