Anda di halaman 1dari 57

PROPOSAL

PENGARUH LINGKUNGAN FISIK RUMAH TERHADAP KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SELAPARANG KELURAHAN REMBIGA DESA GEGUTU TIMUR TAHUN 2017

PROPOSAL PENGARUH LINGKUNGAN FISIK RUMAH TERHADAP KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SELAPARANG KELURAHAN

OLEH:

INTANG SULISTIANI ZEN 044 STYC 13

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG SI KEPERAWATAN MATARAM

2017

2

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah

kesehatan yang ada di negara maju dan berkembang. Hal ini karena tingginya

angka kesakitan dan kematian akibat ISPA pada balita. Menurut laporan

WHO, angka kesakitan akibat infeksi saluran pernafasan akut mencapai 8,2%

(Suryani dkk, 2015).

Angka kematian bayi dan balita Indonesia adalah tertinggi di negara

ASEAN. Penyebab angka kesakitan dan angka kematian anak terbanyak saat

ini masih diakibatkan oleh pneumonia (ISPA) dan diare. Kematian akibat

ISPA pada anak khususnya balita, terutama disebabkan oleh pneumonia. Di

indonesia, angka kejadian pneumonia pada balita sekitar 10-20% per tahun

dan angka kematian pneumonia pada balita di Indonesia adalah 6 per 1000

balita. Ini berarti dari setiap 1000 balita, setiap tahun ada 6 orang diantaranya

yang meninggal akibat pneumonia sebelum ulang tahunnya yang ke-5. Jika

dihitung, jumlah balita yang meninggal akibat pneumonia di Indonesia dapat

mencapai 150.000 orang per tahun, 12.500 per bulan, 416 per hari, 17 orang

perjam atau 1 orang balita tiap menit. Usia yang rawan adalah usia bayi

(dibawah 1 tahun), karena sekitar 60-80% kematian pneumonia terjadi pada

bayi (Maryunani, 2013).

ISPA disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan

panas disertai dengan satu atau lebih gejala : tenggorokan sakit atau nyeri

3

telan, pilek, batuk kering atau berdahaeriod prevalence ISPA dihitung dalam

kurun waktu satu bulan terakhir (Datin Kemenkes RI, 2015). Secara umum

terdapat 3 (tiga) faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan

(pencemaran udara dalam rumah, ventilasi rumah dan kepadatan hunian

rumah) , faktor individu anak (umur anak, berat badan lahir, status gizi,

vitamin A, dan status imunisasi) dan faktor perilaku. Faktor lingkungan yang

beresiko terjadinya ISPA seperti pencemaran udara dalam rumah, ventilasi

rumah dan kepadatan hunian rumah (Maryunani, 2013).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bee dkk (2014)

di Kepulauan Talaud tahun 2014 menyimpulkan bahwa ada hubungan antara

ventilasi rumah dengan kejadian ISPA pada anak balita dengan luas ventilasi

paling banyak dominan tidak memenuhi syarat rumah sehat sebanyak 52

(52,%), ada hubungan antara pencahayaan rumah dengan kejadian ISPA pada

anak balita dengan pencahayaan rumah paling banyak dominan tidak

memenuhi syarat rumah sehat sebanyak 54 (54,%), ada hubungan antara

lantai rumah dengan kejadian ISPA pada anak balita dengan lantai rumah

paling banyak dominan tidak memenuhi syarat rumah sehat sebanyak 53

(53,%) (Bee dkk, 2014).

Lima Provinsi dengan ISPA tertinggi yaitu, Nusa Tenggara Timur

(NTT) (41,7%), Papua (31,1 %), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (NTB)

(28,3%), dan Jawa Timur (28,3 %). Berdasarkan Riskesdas tahun 2013

karakteristik penduduk dengan ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-

4 tahun (25,8%). Sedangkan menurut SIRS 2013 persentase pasien anak

balita rawat inap berjenis kelamin laki-laki sebesar 54,18% (5.983 jiwa) dan

4

berjenis kelamin perempuan sebesar 45,82% (5.060 jiwa), tidak jauh berbeda

dengan pasien anak balita rawat jalan berjenis kelamin laki-laki sebesar

51,89% (44.702 jiwa) dan berjenis kelain perempuan sebesar 48,11% (41.448

jiwa). Menurut pelayanan di Rumah Sakit per provinsi di Indonesia tahun

2013 yaitu provinsi NTB jumlah pasien balita yang menjalani rawat inap

yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 67 jiwa dan berjenis kelamin

perempuan sebesar 61 jiwa. Sedangkan pasien balita yang menjalani rawat

jalan yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 1.060 jiwa dan berjenis kelamin

perempuan sebesar 862 jiwa (Datin Kemenkes RI, 2015).

Angka kesakitan pada penduduk berasal dari community based data

yang diperoleh melalui pengamatan terutama yang diperoleh dari fasilitas

pelayanan kesehatan melalui pencatatan dan pelaporan rutin dan insidentil.

Kasus penyakit yang paling banyak diderita masyarakat di Provinsi NTB

berdasarkan Laporan Bulanan (LB1) kesakitan di puskesmas dan jaringannya

yaitu penyakit ISPA yang merupakan penyakit urutan teratas dari 10 penyakit

terbanyak di Puskesmas Provinsi NTB pada tahun 2014 dan 2015 dengan

jumlah kasus sebesar 224.542 pada tahun 2014 dan 267.264 pada tahun 2015

(Profil Kesehatan NTB, 2015). Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Mataram

(2013) selama tahun 2013 penyakit ISPA merupakan penyakit dengan jumlah

kunjungan terbanyak yaitu 72.141 kunjungan (Profil Kesehatan Mataram,

 

2013).

Tabel 1.1

Laporan Program Pengendalian ISPA Provinsi NTB Tahun 2013-

 

2015

N

Kabupaten

Tahun

2

 

Jumlah Balita

 

2013

2014

 

Batuk

o

Pneumoni

Pneumoni

Bukan

Pneumoni

Pneumoni

 

2013

2014

2015

a

a Berat

Pneumoni

a

a Berat

Pn

 

a

1

Mataram

40.338

42.614

45.023

3.756

95

38.007

3.510

53

3

(K)

2

Lombok

63.549

63.717

65.483

5.365

290

35.484

5.390

884

3

Barat

3

Lombok

85.931

86.021

86.021

3.914

154

29.429

2.449

114

2

Tengah

4

Lombok

114.109

116.403

116.403

5.679

503

73.331

6.631

697

6

Timur

5

Sumbawa

11.611

12.012

12.400

551

16

4.420

411

19

Barat

6

Sumbawa

42.768

43.991

43.991

1.849

67

20.242

624

67

1

7

Dompu

21.748

21.948

22.822

301

41

7.371

569

110

8

Bima (K)

45.289

45.627

45.626

1.091

25

16.241

996

46

1

9

Kota

14.244

14.244

14.630

523

13

8.588

386

18

Bima

10

Lombok

21.072

21.552

21.551

1.343

230

14.724

1.143

61

1

Utara

Jumlah

460.65

468.12

263.645

24.372

1.434

247.837

22.109

2.069

2

  • 9 9

Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi NTB Tahun 2013-2015

3

Tabel 1.2

10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas Selaparang Tahun 2014-April

2016

No

Nama penyakit

Total

1

ISPA

7.720

2

Hipertensi Esensial (Primer)

3.182

3

Penyakit Sistem Muskuloskletal dan Jaringan Ikat

2.845

4

Gastritis

2.200

5

Diare dan GE (Kolitis Infeksi)

1.686

6

Gangren Pulpa

1.440

7

Asma Bronchiale

1.404

8

Penyakit ISPA Lainnya

1.080

9

Alergi

987

10

Pneumonia

660

Sumber : Puskesmas Selaparang Tahun 2014-April 2016

Tabel 1.3

Angka Kejadian ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Selaparang bulan Agustus-Oktober 2016

N

Puskesmas

o

Selaparang

1

Kelurahan

Karang Baru

2

Kelurahan

Rembiga

3

Kelurahan

Sayang-Sayang

Jumlah

Jumla

2013

h

Bukan

Balita

Pneumonia

pneumoni

 

a

10.184

5

61

10.363

8

76

7.760

18

96

28.307

31

233

Sumber : Puskesmas Selaparang Tahun 2016

Jumlah

ISPA

ditemukan

di SARKES

66

Pneumonia

6

Tahun

2014

Bukan

pneumoni

a

65

84

114

9

19

79

95

264

34

239

Jumlah

ISPA

ditemuka

di SARKE

71

88

114

273

Berdasarkan tabel di atas angka kejadian ISPA masih sangat tinggi di

Puskesmas Selaparang yang ditemukan di sarana kesehatan dilihat dari tiga

kelurahan tersebut dan wilayah Rembiga menempati urutan kedua dengan

jumlah kasus ISPA terbanyak.

Kepadatan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Selaparang tinggi

sehingga mempengaruhi tingkat prevalensi ISPA di setiap kelurahan. Semakin

tinggi tingkat kepadatan penduduk di suatu kelurahan, maka semakin tinggi

pula prevalensi ISPA. Hal ini dikarenakan inhalasi yang terjadi akan semakin

2

intens, sehingga virus yang menyebar melalui udara akan memudahkan

menularkan kepada orang lain.

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang telah dilakukan selama dua

hari di Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur bahwa banyak pemukiman-

pemukiman yang rapat dan padat serta belum memenuhi kriteria rumah sehat

seperti tidak memiliki ventilasi, memiliki ventilasi namun jendela tidak

pernah dibuka, terjadinya kepadatan hunian dalam rumah, dan perilaku

merokok anggota keluarga di dalam rumah. Karena banyaknya penduduk

tersebut, maka aktifitas manusia banyak terjadi disini, baik aktifitas yang

ringan maupun yang berat. Aktifitas-aktifitas tersebut tentu menuntut

masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi dalam memudahkan setiap

aktifitas. Sehingga di desa tersebut polusi udaranya tinggi yang disebabkan

salah satunya oleh keberadaan kendaraan-kendaraan bermotor yang berlalu

lalang disana.

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti

pengaruh lingkungan fisik rumah terhadap kejadian ISPA di Wilayah Kerja

Puskesmas Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur Tahun 2017.

1.2 Perumusan Masalah

Penelitian tentang ISPA pada balita dilaksanakan karena kematian

akibat ISPA pada anak khususnya balita, terutama disebabkan oleh

pneumonia. Di indonesia, angka kejadian pneumonia pada balita sekitar 10-

20% per tahun. ISPA merupakan penyakit yang paling sering terjadi dan

merupakan penyebab pertama angka kesakitan di Puskesmas Selaparang

selama tiga tahun terakhir dan Desa Gegutu merupakan salah satu desa yang

3

terletak di Kecamatan Selaparang Kelurahan Rembiga Kota Mataram sebagai

objek penelitian.

Peningkatan angka kesakitan ISPA belum pernah diteliti sebelumnya,

sehingga diharapkan dengan dilakukannya penelitian tentang Pengaruh

Lingkungan Fisik Rumah Terhadap Kejadian ISPA ini maka akan sangat

membantu Desa Gegutu Timur untuk dapat melakukan pemecahan masalah

tentang kejadian ISPA.

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti ingin mengetahui apakah

lingkungan fisik rumah berpengaruh terhadap kejadian ISPA pada balita di

Wilayah Kerja Puskesmas Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu

Timur Tahun 2017.

4

1.3 Tujuan Penelitian

  • 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui Pengaruh Lingkungan Fisik Rumah Terhadap Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur Tahun 2017.

  • 1.3.2 Tujuan Khusus

    • 1. Mengidentifikasi

lingkungan

fisik

rumah (perilaku merokok dalam

rumah, jenis bahan bakar memasak, penggunaan obat nyamuk, ventilasi,

suhu ruangan, kelembaban ruangan, jenis lantai, jenis dinding dan

kepadatan hunian rumah) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas

Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur Tahun 2017.

  • 2. Mengidentifikasi kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur Tahun
    2017.

  • 3. Mengidentifikasi pengaruh lingkungan fisik rumah (asap rokok, jenis bahan bakar memasak, penggunaan obat nyamuk, ventilasi, suhu dan kelembaban ruangan, jenis lantai, jenis dinding dan kepadatan hunian rumah) terhadap kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur Tahun 2017.

5

1.4 Manfaat Penelitian

  • 1.4.1 Manfaat teoritis (akademis) Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam memperkaya wawasan tentang konsep ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) terutama tentang pengaruh lingkungan fisik rumah terhadap kejadian ISPA pada balita.

  • 1.4.2 Manfaat praktis (aplikatif)

    • 1. Dinas Kesehatan Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi dan masukan sebagai bahan dalam menentukan kebijakan yang akan dilakukan dalam hal pencegahan dan penanggulangan ISPA.

    • 2. Puskesmas Dapat memberikan masukan dan informasi pada pengelola program untuk melakukan pemeriksaan rumah secara berkala dan dapat memberikan penyuluhan tentang rumah sehat serta hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dari pelayanan kesehatan khususnya puskesmas untuk tetap memperhatikan dan melakukan penyuluhan demi terciptanya kesehatan lingkungan di masyarakat sehingga menambah wawasan pengetahuan keluarga dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    • 3. Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan kepustakaan dan menambah informasi kepada mahasiswa STIKES YARSI Mataram yang berhubungan dengan pengaruh lingkungan fisik rumah terhadap kejadian ISPA.

    • 4. Masyarakat Memberikan gambaran kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan lingkungan dan rumah dalam rangka penurunan angka kejadian ISPA.

    • 5. Metodelogis

6

Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lebih

lanjut pada variabel lain yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA pada

balita seperti faktor individu anak (umur anak, berat badan lahir, status

gizi, vitamin A, dan status imunisasi) dan faktor perilaku (pencegahan dan

6.

penanggulangan ISPA di keluarga). Peneliti Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan

dan wawasan peneliti tentang lingkungan fisik rumah yang dapat

mempengaruhi kejadian ISPA sehingga dapat diupayakan kegiatan

promosi kesehatan dan memberikan konseling bagi masyarakat mengenai

bahaya ISPA.

  • 1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan fisik

rumah terhadap kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas

Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur Tahun 2017. Adapun

variabel yang akan diteliti yaitu variabel independennya adalah pengaruh

lingkunga fisik rumah (perilaku merokok dalam rumah, jenis bahan bakar

memasak, penggunaan obat anti nyamuk, ventilasi rumah, suhu ruangan,

kelembabaan udara rumah, jenis lantai, jenis dinding, kepadatan hunian

rumah) dan variabel dependennya adalah kejadian ISPA pada anak balita.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian “Pre Experiment” dengan

rancangan one group pre post test design menggunakan pendekatan

kuantitatif. Adapun penelitian ini akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas

Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur Tahun 2017.

  • 1.6 Keaslian Penelitian Berikut ini adalah beberapa jurnal penelitian yang telah ada :

7

Nama

Judul dan

Sampel

Metode

 

Hasil

 

Persamaan

dan

Tempat

Penelitian

Penelitian

dan Perbedaan

Tahun

Penelitia

n

Bee

dkk,

Hubungan

Populasi

Jenis

Hasil

Persamaan :

2014

Antara

243

balita,

penelitian ini

penelitian

-

Persamaan

Kondisi

sampel

adalah

menunjukka

penelitian ini

Lingkunga

penelitian

penelitian

n

adanya

dengan

n

Fisik

berjumlah

observasional

hubungan

penelitian

Rumah

100 balita.

analitik

antara

yang

akan

dengan

dengan

variabel-

saya lakukan

Kejadian

rancangan

variabel

di

adalah sama-

Infeksi

penelitian

atas

dengan

sama

Saluran

cross

kejadian

menggunaka

Pernafasan

sectional.

ISPA

nilai

n

variabel

Akut (Ispa)

Analisis

signifikan:

independen

pada

Anak

menggunakan

ventilasi

(ρ=

yaitu

Balita

Di

uji chi square

0,000)

α

lingkungan

Wilayah

dengan

≤0,05,

fisik rumah.

Kerja

α=0,05

pencahayaan

 

Puskesmas

(ρ= 0,000) α

Perbedaan :

Salibabu

≤0,05,

dan -

Metode

 

Kabupaten

lantai

rumah

 

penelitian.

Kepulauan

(ρ= 0,000) α

Perbedaan

Talaud

≤0,05

penelitian

ini

Tahun

dengan

dengan

2014.

demikian Ho

penelitian

ditolak

dan

yang

akan

Ha

diterima.

saya

lakukan

Hasil analisa

adalah

jenis

data

penelitian

ini

menunjukka

adalah

n

terdapat

penelitian

hubungan

observasional

antara

analitik

ventilasi,

dengan

pencahayaan

rancangan

dan

kondisi

penelitian

lantai dengan

cross

kejadian

sectional

infeksi

sedangkan

saluran

penelitian

pernafasan

yang

akan

akut

pada

saya

lakukan

balita.

adalah

8

menggunakan desain penelitian “Pre Experiment” dengan rancangan one group pre post test design. - Waktu dan
menggunakan
desain
penelitian
“Pre
Experiment”
dengan
rancangan one
group pre post
test design.
- Waktu
dan
tempat
penelitian.
Tempat
penelitian
ini
adalah
di
wilayah
kerja
Puskesmas
Salibabu
Kabupaten
Kepulauan
Talaud
Tahun
2014
sedangkan
tempat
penelitian
yang
akan
saya
lakukan
adalah
di
wilayah
kerja
Puskesmas
Selaparang
Kelurahan
Rembiga Desa
Gegutu Timur
Tahun 2017.
- Jumlah
sampel.
Jumlah
sampel
yang
digunakan
dalam
penelitian
ini
adalah
100
balita
sedangkan
jumlah sampel
yang
akan

9

           

diajukan pada

penelitian

sekarang

adalah

30

balita.

Supit

Hubungan

Responden

Jenis

Hasil

Persamaan :

dkk,

Antara

sebanyak

penelitian

ini

penelitian

 

-

Variabel

2016

Lingkunga

155 balita

adalah

menunjukka

 

independen.

n

Fisik

Rumah

penelitian

Observasiona

l

analitik

n bahwa Ada hubungan

persamaan

penelitian ini

Dengan

dengan

antara

suhu

dengan

Kejadian

rancangan

dengan

penelitian

Penyakit

cross

kejadian

 

yang

akan

Infeksi

sectional

penyakit

saya lakukan

Saluran

(studi

potong

ISPA (p

=

adalah sama-

Pernafasan

Akut

Pada

lintang).

statistik

Uji

yang

digunakan

0,000;

r

0,736,)

=

ada

sama

menggunaka

Balita

Di

adalah

hubungan

n

variabel

Desa

korelasi

antara

independen

Talawaan

Spearman (α=

kelembaban

 

yaitu

Atas

Dan

0,05;

CI

dengan

lingkungan

Desa Kima

95%).

kejadian

 

fisik

rumah

Bajo

penyakit

dan

tehnik

Kecamatan

ISPA

(p

=

sampling

Wori

0,000;

r

=

yang

Kabupaten

0,286), tidak

 

digunakan

Minahasa

ada

adalah

Utara.

hubungan

 

purposive

antara

sampling.

kepadatan

   

hunian

Perbedaan :

dengan

-

Metode

 

kejadian

   

penelitian.

penyakit

Perbedaan

ISPA.

penelitian

ini

dengan

penelitian

yang

akan

saya

lakukan

adalah

jenis

penelitian

ini

adalah

penelitian

observasional

analitik

dengan

10

rancangan penelitian cross sectional sedangkan penelitian yang akan saya lakukan adalah menggunakan desain penelitian “Pre Experiment”
rancangan
penelitian
cross
sectional
sedangkan
penelitian
yang akan
saya lakukan
adalah
menggunakan
desain
penelitian
“Pre
Experiment”
dengan
rancangan one
group pre post
test design.
- Waktu
dan
tempat
penelitian.
Tempat
penelitian ini
adalah di Desa
Talawaan Atas
dan
Desa
Kima
Bajo
Kecamatan
Wori
Kabupaten
Minahasa
Utara tahun
2016
sedangkan
tempat
penelitian
yang
akan
saya lakukan
adalah
di
wilayah kerja
Puskesmas
Selaparang
Kelurahan
Rembiga Desa
Gegutu Timur
Tahun 2017
- Jumlah sampel.
Jumlah
sampel yang

11

digunakan dalam penelitian ini adalah 168 balita sedangkan jumlah sampel yang akan diajukan pada penelitian yang
digunakan
dalam
penelitian ini
adalah 168
balita
sedangkan
jumlah sampel
yang
akan
diajukan pada
penelitian
yang
akan
dilakukan
sekarang
adalah
30
balita.
-
Metode
penelitian.
Metode yang
akan
dilakukan
pada
penelitian
sekarang
adalah “Pre
Experiment”
dengan
rancangan one
group pre post
test design.
Suryani
Hubungan
Jumlah
Jenis
Hasil
Persamaan :
dkk,
Lingkunga
sampel 106
penelitian
penelitian
-
Variabel
adalah studi
2013
n Fisik dan
Tindakan
Penduduk
dengan
Kejadian
ISPA pada
ibu
yang
menunjukka
independen.
analitik
mempunya
n
ada
Variabel
dengan desain
i balita.
hubungan
independen.
cross
yang
lemah
persamaan
sectional.
Analisis data
menggunakan
uji chi square
dengan
p<0.05 dan
antara
penelitian ini
ventilasi
dengan
Balita
di
(p=0.000,
penelitian
Wilayah
Cc=0.359),
yang
akan
Kerja
pencahayaan
saya lakukan
0.0<Cc<1.00.
Puskesmas
alami
adalah sama-
Lubuk
(p=0.001,
sama
Buaya.
Cc=0.311),
menggunakan
kepadatan
variabel
hunian
independen
(p=0.000,
yaitu

12

       

Cc=0.381),

 

lingkungan

kebiasaan

fisik rumah.

merokok

di

dalam rumah

Perbedaan :

(p=0.002,

  • - Variabel

Cc=0.302),

independen

kebiasaan

pada

buka jendela

penelitian

(p=0.001,

Suryani

Irma

Cc=0.333)

mengandung

dan

dua

variabel

penggunaan

bebas

yaitu

bahan

bakar

selain

rumah

lingkungan

tangga

fisik

rumah

(p=0.027,

yang memiliki

Cc=0.210)

kesamaan

dengan

dengan

kejadian

penelitian

ISPA

pada

yang

akan

balita,

dilakukan

sedangkan

sekarang

kelembaban

maka,

dalam

rumah

tidak

penelitian

ada

Suryani

dkk

hubungan

(2013)

dengan

ditambah

kejadian

dengan

ISPA

pada

Tindakan

balita.

Penduduk.

  • - Metode

penelitian.

Perbedaan

penelitian

ini

dengan

penelitian

yang

akan

saya

lakukan

adalah

jenis

penelitian

ini

adalah

penelitian

observasional

analitik

dengan

rancangan

13

penelitian cross sectional sedangkan penelitian yang akan saya lakukan adalah menggunakan desain penelitian “Pre Experiment” dengan
penelitian
cross
sectional
sedangkan
penelitian
yang
akan
saya
lakukan
adalah
menggunakan
desain
penelitian
“Pre
Experiment”
dengan
rancangan one
group pre post
test design.
- Waktu
dan
tempat
penelitian.
Tempat
penelitian
ini
adalah di
wilayah
kerja
Puskesmas
Lubuk
Buaya
yakni
kelurahan
Lubuk Buaya,
kelurahan
Bungo
Pasang,
kelurahan
Pasia
Nan
Tigo,
kelurahan
Ganting
Batang
Kabung,
kelurahan
Parupuk
Tabing
dan
kelurahan
Dadok
Tunggul
Hitam
Tahun
2013
sedangkan
penelitian

14

sekarang di Wilayah Kerja Puskesmas Selaparang Kelurahan Rembiga Desa Gegutu Timur Tahun 2017 - Jumlah sampel.
sekarang
di
Wilayah Kerja
Puskesmas
Selaparang
Kelurahan
Rembiga Desa
Gegutu Timur
Tahun 2017
- Jumlah
sampel.
Jumlah
sampel yang
digunakan
dalam
penelitian ini
adalah 106
balita
dan
tehnik
sampling yang
digunakan
adalah simple
random
sampling
sedangkan
jumlah sampel
yang
akan
diajukan pada
penelitian
sekarang
adalah
30
balita dengan
tehnik
sampling
purposive
sampling.
- Metode
penelitian.
Metode yang
akan
dilakukan
pada
penelitian
sekarang
adalah “Pre
Experiment”
dengan
rancangan one
group pre post

15

test design.
test design.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) 2.1.1Pengertian ISPA

ISPA adalah saluran penyakit pernafasan atas dengan perhatian khusus

pada radang paru (pneumonia), dan bukan penyakit telinga dan tenggorokan

(Kunoli, 2013).

ISPA Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari

saluran nafas mulai hidung sampai alveoli termasuk adneksanya (sinus,

rongga telinga tengah, pleura). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak (Pedoman Pengendalian

ISPA Kemenkes RI, 2012).

Penyakit ISPA adalah infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang

salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung

(saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya,

seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA yang berlanjut menjadi

pneumonia. Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan

paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak sering kali bersamaan

dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkus yang disebut

bronkopneumonia (Afifah, 2013).

16

2.1.2Klasifikasi ISPA

Menurut Kunoli (2013) klasifikasi penyakit ISPA terdiri dari :

  • 1. Bukan pneumonia mencakup kelompok pasien balita dengan batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah kearah dalam. Contohnya adalah Common Cold, Faringitis, dan Otitis.

  • 2. Pneumonia didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas diagnosis gejala ini berdasarkan umur. Batas frekuensi nafas cepat pada anak berusia dua bulan sampai < 1 tahun adalah 50 kali permenit dan untuk anak usia 1 sampai < 5 tahun adalah 40 kali permenit.

  • 3. Pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai sesak nafas atau tarikan dinding dada bagian bawah ke arah dalam (Chest Indrawing) pada anak berusia dua bulan sampai < 5 tahun. Untuk anak berusia < 2 bulan, diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke arah dalam (Severe Chest Indrawing) (Kunoli, 2013).

Menurut Maryunani (2013) secara anatomis, ISPA dapat dibagi

dalam dua bagian yaitu ISPA atas dan ISPA bawah, dengan batas

anatomis adalah suatu bagian dalam tenggorokan yang disebut epiglotis

yaitu :

  • 1. ISPA Atas (Acute Upper Respiratory Infections) ISPA atas yang perlu diwaspadai adalah radang saluran tenggorokan atau

pharingitis dan radang telinga tengah atau otitis. Pharingitis yang

17

disebabkan kuman tertentu (streptococcus hemolyticus) dapat

berkomplikasi dengan penyakit jantung (endokarditis). Sedangkan

radang telinga tengah yang tidak diobati dapt berakibat terjadinya

ketulian.

  • 2. ISPA Bawah (Acute Lower Respiratory Infections) Salah satu ISPA Bawah yang berbahaya adalah pneumonia.

2.1.3Gejala Klinis ISPA

Tanda dan gejala penyakit ISPA dapat berupa: batuk, kesukaran

bernafas, sakit tenggorok, pilek, sakit telinga dan demam. Anak dengan

batuk atau sukar bernafas mungkin menderita pneumonia atau infeksi

saluran pernafasan yang berat lainnya (Afandi, 2012).

2.1.4Etiologi ISPA

Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan

riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah genus Streptokokus,

Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium.

Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus,

Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain (Afifah,

2013).

ISPA juga disebabkan oleh jamur seperti Aspergilus Sp., Candida

Albicans Histoplasm, dan lain-lain. Selain itu juga dapat disebabkan oleh

aspirasi makanan, asap kendaraan bermotor, BBM (Bahan Bakar Minyak)

tanah, cairan amnion pada saat lahir, benda asing (biji-bijian), mainan

plastik kecil, dan lain-lain (Kunoli, 2013).

18

Masa inkubasi adalah rentan hari dan waktu sejak bakteri atau virus

masuk kedalam tubuh sampai timbulnya gejalah klinis yang disertai dengan

berbagai gejalah. Infeksi akut ini berlangsung sampai dengan 14 hari, batas

14 hari di ambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa

penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA berlangsung lebih dari 14 hari

(Afifah, 2013).

Menurut

Shelov

(2004)

virus

juga

dapat

menyebar

secara

tidak

langsung dengan cara sebagai berikut :

  • 1. Seorang anak atau dewasa yang terinfeksi virus akan batuk-batuk, bersin, atau memegang-megang hidungnya, memindahkan beberapa partikel virus ke tangannya.

  • 2. Kemudian dia akan menyentuhkan tangannya pada orang yang sehat.

  • 3. Orang yang sehat ini menempelkan tangannya yang baru terkontaminasi ke hidungnya sendiri, sehingga kuman menetap di sana dan tumbuh serta berkembang biak pada hidung atau tenggorok. Ini akan menyebabkan munculnya gejala pilek.

  • 4. Siklus ini kemudian berulang dengan sendirinya, dengan cara virus berpindah dari anak-anak atau orang dewasa yang baru saja terinfeksi ke orang yang rentan dan seterusnya.

2.2 FAKTOR- FAKTOR RESIKO TERJADINYA ISPA

Secara umum, terdapat 3 (tiga) faktor risiko terjadinya ISPA yaitu faktor

lingkungan, faktor individu anak, serta faktor perilaku (Maryunani, 2013).

19

  • 2.2.1 Faktor Lingkungan

Menurut Suyono dan Budiman (2010) perumahan yang sehat harus

memenuhi kebutuhan fisiologis :

  • a. Pencahayaan yang cukup, baik cahaya alam (sinar matahari) maupun cahaya buatan (lampau).

  • b. Perhawaan (ventilasi) yang cukup untuk proses penggantian udara dalam ruangan.

  • c. Tidak terganggu oleh suara-suara yang berasal dari luar maupun dalam rumah (termasuk radiasi).

  • d. Cukup tempat bermain bagi anak-anak dan untuk belajar.

Menurut Suyono dan Budiman (2010) perumahan yang memenuhi

kebutuhan psikologis :

  • a. Setiap anggota keluarga terjamin ketenangannya dan kebebasannya (privacy), tidak terganggu oleh anggota keluarga dalam rumah maupun oleh tetangga, atau oleh orang lewat.

  • b. Mempunyai ruang untuk berkumpulnya anggota keluarga.

  • c. Lingkungan yang sesuai, homogen, tidak ada terlalu perbedaan tingkat yang ekstrem di lingkungannya. Misalnya, tingkat ekonomi.

  • d. Mempunyai fasilitas kamar mandi dan WC sendiri.

  • e. Jumlah kamar tidur dan pengaturannya harus disesuaikan dengan umur dan jenis kelaminnya. Orang tua dan anak dibawah 2 tahun boleh satu kamar. Anak diatas 10 tahun dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Anak umur 17 tahun keatas diberi kamar sendiri.

  • f. Jarak antara tempat tidur minimal 90 cm untuk terjaminnya keleluasaan bergerak, bernafas dan untuk memudahkan membersihkan lantai.

    • g. Ukuran ruang tidur anak yang berumur ≤ 5 tahun sebesar 4,5 m³, dan yang umurnya >5 tahun adalah 9 m³. Artinya, dalam satu ruangan anak yang berumur 5 tahun kebawah diberi kebebasan menggunakan volume

20

ruangan 1,5 x 1 x 3 m³, dan diatas 5 tahun menggunakan ruangan 3 x 1 x

3 m³.

  • h. Mempunyai halaman yang dapat ditanami pepohonan.

  • i. Hewan atau ternak yang akan mengotori ruangan dan ribut atau bising hendaknya dipindahkan dari rumah dan dibuat kandang tersendiri dan mudah dibersihkan.

Menurut Suyono dan Budiman (2010) perumahan juga harus mampu

mencegah penularan penyakit :

  • a. Tersedia air bersih untuk minum yang memenuhi syarat kesehatan.

  • b. Tidak memberi kesempatan serangga (nyamuk, lalat) tikus dan binatang lainnya bersarang di dalam atau di sekitar rumah.

  • c. Pembuangan kotoran (tinja) dan air limbah memenuhi syarat kesehatan.

  • d. Pembuangan sampah pada tempat yang baik, kuat dan higienis.

  • e. Luas kamar tidur maksimal 3,5 m² per orang dan tinggi langit-langit maksimal 2,75 m. Ruangan yang terlalu luas akan menyebabkan mudah masuk angin, tidak nyaman secara psikologis (gamang), sedangkan apabila terlalu sempit akan menyebabkan sesak nafas dan memudahkan penularan penyakit karena terlalu dekat kontak.

  • f. Tempat masuk dan menyimpan makanan harus bersih dan bebas dari pencemaran atau gangguan serangga (lalat, semut, lipas dan lain-lain) dan tikus serta debu.

Perumahan harus memenuhi keamanan untuk mencegah terjadinya

kecelakaan. Kecelakaan dalam rumah tangga sering terjadi dengan berbagai

sebab (Suyono dan Budiman, 2010)

Menurut

Suyono

dan

Budiman

(2010)

persyaratan

mencegah

terjadinya kecelakaan di rumah tangga adalah sebagai berikut:

21

  • a. Cukup ventilasi untuk mengeluarkan gas atau racun atau bahan buangan hasil respirasi para penghuni dari dalam ruangan dan menggantinya dengan udara segar.

  • b. Cukup cahaya dalam ruangan untuk mencegah bersarangnya serangga ataupun tikus, mencegah terjadinya kecelakaan dalam rumah karena gelap (terantuk, kesandung, teriris, tertusuk, dan lain-lain).

  • c. Bahan bangunan dan konstruksi rumah harus memenuhi syarat bangunan sipil, terdiri dari bahan yang baik dan kuat.

  • d. Jarak ujung atap dengan ujung atap tetangga minimal 3 m, lebar halaman antara atap tersebut minimal sama dengan tinggi atap tersebut. Hal ini tidak berlaku bagi perumahan yang bergandengan (couple).

  • e. Rumah agar jauh dari rindangan pohon-pohon besar yang rapuh atau

mudah patah.

  • f. menaruh

Hindari

benda-benda

tajam

dan

obat-obatan

atau racun

serangga sembarangan apabila di dalam rumah terdapat anak kecil.

  • g. Pemasangan instalasi listrik (kabel-kabel, stop kontak, fitting dan lain- lain) harus memenuhi standar PLN.

  • h. Jangan menyimpan bahan mudah terbakar dalam rumah.

  • i. Apabila terdapat tangga naik atau turun, lebar anak tangga minimal 25 cm, tinggi anak tangga maksimal 18 cm, kemiringan tangga antara 30-36 harus memenuhi standart PLN.

  • j. Jangan menyimpan bahan mudah terbakar dalam rumah.

  • k. Apabila terdapat tangga naik atau turun, lebar anak tangga minimal 25 cm, tinggi anak tangga maksimal 18 cm, kemiringan tangga antara 30- 36˚. Tangga harus diberi pegangan yang kuat dan aman.

Kondisi fisik rumah :

  • 1. Pencemaran udara dalam rumah

Asap

rokok

dan

asap

hasil

pembakaran

bahan

bakar

untuk

memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme

pertahanan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini

22

dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur

terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi

dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan

anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya sehingga

dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi (Maryunani, 2013).

  • a. Perilaku merokok dalam rumah Asap rokok mengandung ribuan zat kimia, atau komponen asap yang juga disebut sebagai emisi asap. Komponen asap yang paling luas dikenal adalah tar, nikotin, karbon monoksida (CO). Selain zat-zat ini, hingga saat ini lebih dari 7000 zat kimia telah diketahui terkandung dalam asap rokok. Anak beresiko yang lebih tinggi untuk terkena dampak buruk dari asap rokok dibandingkan dengan orang dewasa. Anak mempunyai sistem imun dan alat pernafasan yang masih berkembang dan rentan terhadap berbagai penyakit. Saluran pernafasan dan paru-paru yang kecil membuat anak lebih sering bernafas sehingga lebih sering menghirup asap rokok. Anak-anak telah menjadi perokok pasif dan third hand smoker dikarenakan anggota keluarga anak yang merupakan perokok aktif dan atau lingkungan rumah yang tidak sehat, yaitu banyak perokok aktif (Damairidlosarihasih, 2014). Menurut Damairidlosarihasih (2014) asap yang dihembuskan para perokok dapat dibagi menjadi atas asap utama (mainstream) dan asap sampingan (sidestream) yaitu : a) Asap utama (mainstream) adalah asap tembakau yang dihirup

langsung oleh perokok aktif (first hand smoker). Sebenarnya,

23

seseorang yang merokok itu menghisap asap rokok yang ia

bakar sendiri.

b) Asap sampingan (sidestream) adalah asap tembakau yang

disebarkan ke udara, yang dihirup oleh orang lain atau perokok

pasif (second hand smoker). Asap sampingan memiliki

konsentrasi lebih tinggi karena tidak melalui proses penyaringan

yang cukup sehingga penghirup asap sampingan (perokok pasif)

memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan

kesehatan akibat rokok, apalagi jika dihirup oleh anak-anak.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yuli Trisnawati

dan Juwarni (2012) di Kabupaten Purbalingga Tahun 2012 dalam

jurnal yang berjudul “Hubungan Perilaku Merokok Orang Tua

Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas

Rembang Kabupaten Purbalingga” diperoleh hasil yaitu balita yang

menderita ISPA sebagian besar dari keluarga yang orang tuanya

merokok sejumlah 80.4%. Pada yang tidak menderita ISPA ada

23.5% yang orang tuanya merokok berat dan ada hubungan perilaku

merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah

Kerja Puskesmas Rembang Kabupaten Purbalingga Tahun 2012

(Trisnawati dan Juwarni, 2012).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Milo

dkk (2015) di Puskesmas Sario Kota Manado Tahun 2014 dalam

jurnal yang berjudul “Hubungan Kebiasaan merokok di dalam

24

Puskesmas Sario Kota Manado” diperoleh hasil penelitian,

didapatkan responden dengan kebiasaan merokok menunjukkan

sebagian besar didapatkan responden dengan perokok berat yaitu 22

responden (43,1%). Hal ini menunjukan dengan semakin berat

kebiasaan merokok di dalam rumah maka semakin besar juga

potensi anak menderita ISPA. Keterpaparan asap rokok pada anak

sangat tinggi pada saat berada dalam rumah disebabkan karena

anggota keluarga biasanya merokok dalam rumah pada saat

bersantai bersama anggota, misalnya sambil nonton TV atau

bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya, sehingga balita

dalam rumah tangga tersebut memiliki risiko tinggi untuk terpapar

dengan asap rokok. Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai p

value 0,002 dengan demikian p value <0,05 dapat disimpulkan

bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian dapat

dikatakan bahwa ada hubungan antara kebiasaan merokok di dalam

rumah dengan kejadian ISPA pada anak (Milo dkk, 2015).

  • b. Jenis bahan bakar memasak Dapur mempunyai fungsi sebagai tempat mengolah makanan yang dalam kegiatannya akan selalu berhubungan dengan panas, asap dan debu. Oleh karenanya dapur memiliki memegang peranan penting dalam mempengaruhi kualitas udara rumah. Dalam sebuah rumah idealnya dapur mempunyai ruangan tersendiri, karena asap dari pembakaran (memasak dengan kayu bakar atau minyak tanah) dapat memberikan dampak bagi kesehatan. Ruangan dapur

25

hendaknya terdapat ventilasi yang baik agar asap atau udara dari

dapur dapat teralirkan ke udara bebas (Afandi, 2012). Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan

polusi udara, diantaranya ada peningkatan resiko bronchitis,

pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih terpolusi,

dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6-10 tahun

(Maryunani, 2013).

  • c. Penggunaan obat nyamuk

Penggunaan

obat

anti

nyamuk

sudah menjadi kebiasaan

digunakan pada malam dan siang hari di kota maupun di desa.

Disamping fungsinya untuk mengusir bahkan membasmi nyamuk

ternyata obat anti nyamuk dapat menjadi sumber pencemaran udara

dalam rumah. obat anti nyamuk bakar menghasilkan asap dan racun,

jenis elektrikpun tetap menghasilkan racun (Afandi, 2012). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Soolani

Deflyn dkk (2013) di Kelurahan Malalayang 1 Kota Manado Tahun

2013 dalam jurnal yang berjudul “Hubungan antara Faktor

Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Infeksi Saluran

Pernafasan (ISPA) pada Balita di Kelurahan Malalayang 1 Kota

Manado” hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa ada

hubungan antara penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian

ISPA, dimana pada malam waktu tidur kebanyakan mereka

memakai obat nyamuk bakar sehingga asap dari obat nyamuk bakar

itu dihirup oleh anak tersebut sehingga pernapasaanya tergangggu

dan terjadinya ISPA oleh dengan p = (0,001) (Soolani dkk, 2013).

  • 2. Ventilasi rumah

26

Menurut Maryunani (2013) ventilasi yaitu proses penyediaan

udara atau pengerahan udara ke atau dari ruangan baik secara alami

maupun secara mekanis. Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai

berikut :

  • a. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang optimum bagi pernafasan.

  • b. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan cara pengenceran udara.

  • c. Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang.

  • d. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan.

  • e. Mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh, kondisi, evaporasi ataupun keadaan eksternal.

  • f. Mendisfungsikan suhu udara secara merata.

Menurut Suyono dan Budiman (2010) hawa segar diperlukan

untuk mengganti udara ruangan yang sudah terpakai. Udara bebas

mempunyai susunan unsur :

  • a. Oksigen (zat asam) 20,7%.

  • b. Nitrogen (zat lemas) 78,8%.

  • c. Karbon dioksida (gas asam arang) 0,04%.

  • d. Uap air 0,46%.

  • e. Ozon (O3), amoniak (NH3), hidrogen (H2) dan lain-lain.

Oksigen sangat diperlukan oleh tubuh manusia terutama oleh sel

darah untuk proses metabolisme tubuh. Kekurangan oksigen

mengakibatkan darah menjadi kebiru-biruan termasuk bibir, telinga,

lengan dan kaki (sianosis). Bila bayi akibat keracunan nitrit

mengakibatkan penyakit blue baby desease. Gejala kekurangan oksigen

ini disebut anoksia atau anemia. Oksigen masuk dalam tubuh melalui

paru pada waktu mengisap udara, dan mengeluarkan CO2 pada saat

menghembuskan udara dari paru. Pada waktu mengisap udara, paru

27

memasukkan oksigen 20%, nitrogen 79%, karbon dioksida 0-0,4%.

Pada waktu menghembuskan udara, paru mengeluarkan oksigen 16%,

nitrogen 79%, karbon dioksida 0-0,4%. Banyaknya oksigen di dalam

rumah maupun di luar rumah berbeda sedikit. Pengurangan oksigen

karena pernafasan kita adalah 2,5%. Nitrogen umumnya bersifat

mengurangi kadar oksigen di udara. CO2 banyak terdapat di udara dan

kecenderungannya semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya

penghasil CO2 antara lain hasil respirasi manusia, hewan, tumbuhan,

pembakaran BBM, hasil buangan industri, pembakaran sampah atau

hutan dan lain-lain. CO2 diperlukan oleh tumbuhan berklorofil untuk

proses asimilasi. Sedangkan pada malam hari baik manusia, hewan dan

tumbuhan memerlukan CO2 setiap orang dewasa mengeluarkan CO2

sebanyak 22 liter/jam. Udara segar sangat diperlukan untuk pergantian

hawa dan menjaga temperatur udara dan kelembapan dalam ruangan.

Idealnya temperatur udara dalam ruangan harus lebih rendah dari

temperatur luar paling kurang 4˚C khususnya untuk daerah tropis.

Temperatur kamar sekitar 22-30˚C sudah cukup segar. Pergantian udara

bersih untuk orang dewasa adalah 33 m³/orang/jam, kelembapan udara

sekitar 60% optimum (Suyono dan Budiman, 2010).

Menurut Suyono dan Budiman (2010) ventilasi udara dalam

ruangan harus memenuhi syarat lain di antaranya :

  • a. Luas lubang ventiasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan, selain itu luas ventilasi insidentil (buka dan tutup) minimum 5% luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10% kali luas lantai. Ukuran

28

luas ini diatur sedemikian rupa agar udara yang masuk tidak terlalu

deras dan tidak terlalu sedikit.

  • b. Tinggi lubang ventilasi minimal 80 cm dari langitlangit. Tinggi

jendela yang dapat dibuka dan ditutup minimal 80 cm dari lantai

dan jarak dari langit-langit sampai jendela minimal 30 cm (Dinkes

Lumajang, 2014).

  • c. Udara yang masuk harus udara bersih, tidak tercemar gas atau asap dari pembakaran sampah, pabrik, knalpot kendaraan, asap rokok, debu dan lain-lain.

  • d. Aliran udara jangan membuat orang masuk angin, untuk itu jangan menempatkan tempat tidur atau tempat duduk persis pada aliran udara, misalnya di depan jendela atau pintu.

  • e. Aliran udara mengikuti aturan cross ventilation dengan menempatkan lubang ventilasi berhadapan atau berseberangan antara 2 dinding ruangan. Alira udara ini jangan terhalang oleh barang-barang besar seperti lemari, dinding sekat dan lain-lain.

  • f. Kelembapan udara jangan sampai terlalu tinggi (menyebabkan orang berkeringat) dan jangan terlalu rendah (menyebabkan kulit kering, bibir pecah-pecah dan hidung sampai berdarah). Kelembaban udara dijaga antara 40% s/d 70%.

Perhawaan (ventilasi) alam mengandalkan pergerakan udara

bebas (angin), temperatur udara serta kelembapan di sekitarnya.

Perhawaan alam dengan pergerakan angin yang bebas dan menyegarkan

terdapat banyak di daerah tropis. Perhawaan alam untuk ruangan

diperoleh dari luasnya jendela, lubang angin ataupun pintu. Selain itu,

pehawaan alam untuk ruangan dapat diperoleh dari pergerakan udara

melalui dinding maupun lantai yang bersifat poreus. Banyaknya udara

29

yang masuk dan keluar melalui dinding sebanding dengan luasnya

dinding, perbedaan tekanan udara antara kedua sisi dan bergantung

pada koefisien bahannya dan berbanding terbalik dengan tebal dinding.

Untuk dinding kayu, daya perhawaan tergantung pada jenis kayu, tebal

dan pengecatannya. Demikian pula dinding tembok (tebal acian semen)

juga dipengaruhi oleh pengecetan (jenis dan ketebalan cat tembok).

Utnuk dinding atau atap rumah yang terbuat dari anyaman bambu

(gedek), plupuh (bambu yang diratakan), anyaman rotan, dari daun

rumbia, dari kulit kayu, jerami atau ilalang, udara lebih banyak masuk

dibanding dengan dinding tembok atau papan. Atap genteng, asbes atau

sirap mengurangi masuknya udara namun masih dpat dilalui udara pada

celah-celahnya. Atap metal (metalroof) dan atap seng sangat

mengurangi masuknya udara, selain itu berpengaruh terhadap

temperatur udara yaitu pada musim panas terasa panas dan musim

dingin menjadi lebih dingin. Selain itu atap seng sangat bising pada

waktu turun hujan. Sifat poreus dari atap, dinding dan lantai bergantung

pada derajat kelembaban dari bahan yang digunakan (Suyono dan

Budiman, 2010).

Menurut Suyono dan Budiman (2010) penyerapan udara dalam

ruangan bergantung pada jenis bahan yang melapisinya :

  • a. Plester mengurangi masuknya udara sampai 25%.

  • b. Cat mengurangi masuknya udara sampai 30%.

  • c. Permadani atau karpet mengurangi masuknya udara sampai 30%.

  • d. Cat minyak mengurangi masuknya udara sampai 100%.

Lubang ventilasi sebaiknya jangan terlalu rendah, maksimal 80

cm dari plafon. Tinggi jendela dari lantai minimal 80 cm dan maksimal

30

2 meter. Pemasangan kasa pada lubang ventilasi (roster) sangat

dianjurkan untuk mencegah masuknya nyamuk dan lalat (Suyono dan

Budiman, 2010).

Menurut Suyono dan Budiman (2010) dalam kondisi tertentu

diperlukan perhawaan buatan dengan menggunakan peralatan mekanik

maupun elektrik. alat pendingin elektrik diantaranya :

  • a. Fan (kipas angin), perputaran baling-baling menghasilkan pergerakan udara ke depan. Semakin cepat baling-baling diputar, semakin deras angin yang dihasilkan. Penggunaan kipas angin dapat menimbulkan masuk angin bagi yang tidak tahan.

  • b. Exhauster/exhaust fan, prinsip kerjanya hampir sama dengan fan, namun exhauster ditempatkan pada dinding yang fungsinya mengisap udara dalam ruangan keluar dan sekaligus menarik udara segar dari luar masuk ke dalam kamar melalui lubang udara lain diseberng exhauster tersebut. Exhauster juga dapat menyedot udara dari luar dan menekan udara kotor keluar ruanagn melalui lubang udara diseberangnya.

  • c. Air conditioner (AC). Prinsip kerja AC adalah menghisap udara dalam ruangan, disaring dan didinginkan kemudian disemprotkan kembali ke dalam ruangan dengan temperatur yang dapat disesuaikan melalui tombol mekanik atau remote control. Syarat untuk memaksimalkan kerja AC ini adalah beban listrik cukup, ruangan tertutup rapat, tidak boleh kena matahari alngsung akrena panas matahari akan mengurangi hasil kerja AC dan yang terutama

sekali dalam ruangan ber AC tidak boleh merokok.

31

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bee, dkk (2014) di

Kepulauan Talaud Tahun 2014 dalam jurnal yang berjudul “Hubungan

Antara Kondisi Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Infeksi

Saluran Pernafasan Akut (Ispa) pada Anak Balita di Wilayah Kerja

Puskesmas Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2014”

menyimpulkan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang

bermakna antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA. Responden

yang memiliki ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat 43,0%, di

bandingkan dengan rumah yang memiliki ventilasi rumah yang

memenuhi syarat 23,0% (Bee dkk, 2014).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryani, dkk (2013)

di Kota Padang Tahun 2013 dalam jurnal yang berjudul “Hubungan

Lingkungan Fisik dan Tindakan Penduduk dengan Kejadian ISPA pada

Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya” diperoleh hasil

analisis statistik hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA

pada balita di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya didapatkan nilai

p<0.05 (0.000) dan nilai Cc=0.359. Hal ini berarti terdapat hubungan

yang lemah antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA pada balita

(Suryani dkk, 2013).

Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hutapea dkk

(2013) di Kota Sibolga Tahun 2013 dalam jurnal yang berjudul “

Hubungan Kondisi Fisik Rumah Nelayan dengan Keluhan Infeksi

Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Lingkungan Pintu

Angin Kelurahan Sibolga Hilir Kecamatan Sibolga Utara Kota Sibolga

32

Tahun 2013” menyimpulkan bahwa berdasarkan variabel ventilasi

diperoleh nilai p = 0,07, jika dibandingkan dengan derajat kemaknaan

(p<0,05) maka dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan bermakna

antara ventilasi dengan kejadian ISPA. Responden dalam penelitian ini

sebagian besar sudah memiliki luas ventilasi yang memenuhi syarat.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya responden jarang membuka jendela

rumah. Dimana faktor lain yang berkaitan dengan kejadian ISPA adalah

kebiasaan penduduk membuka jendela pada pagi hari (Hutapea dkk,

 

2013).

3.

Suhu ruangan

Kondisi suhu yang terlalu rendah atau terlampaui tinggi akan bisa

mempengaruhi kondisi udara dalam ruangan akibat dari pergerakan atau

pertukaran udara yang tidak berjalan dengan baik. Kelembaban yang

tidak memenuhi syarat akan menjadi media yang baik untuk tumbuh

dan berkembangnya mikroorganisme patogen terutama mikroorganisme

terutama mikroorganisme penyebab infeksi saluran pernafasan (Afandi,,

2012).

Rumah dinyatakan sehat dan nyaman, apabila suhu udara dan

kelembaban udara ruangan sesuai dengan suhu tubuh manusia normal.

Suhu udara dan kelembaban ruangan sangat dipengaruhi oleh

penghawaan dan pencahayaan. Penghawaan yang kurang atau tidak

lancar akan menjadikan ruangan terasa pengap atau sumpek dan akan

menimbulkan kelembaban tinggi dalam ruangan (Dinkes Lumajang,

2014).

33

Menurut Dinkes Lumajang (2014) Untuk mengatur suhu udara

dan kelembaban normal untuk ruangan dan penghuni dalam melakukan

kegiatannya, perlu memperhatikan :

  • a. Keseimbangan penghawaan antara volume udara yang masuk dan keluar.

  • b. Pencahayaan yang cukup pada ruangan dengan perabotan tidak

  • c. bergerakperabotan yang menutupi sebagian besar luas lantai ruangan.

Menurut Dinkes Lumajang (2014) untuk pengukuran suhu udara

dengan mempergunakan alat Phsycrometer, yang terbagi atas :

  • a. Suhu Kering, merupakan suhu udara yang ditunjukkan oleh thermometer basah dengan pembacaan suhu setelah diukur selama ± 15 menit dan umumnya berkisar antara 29°C-34°C

  • b. Suhu Basah, merupakan suhu yang menunjukkan bahwa udara telah

jenuh yaitu antara 25°C - 28°C.

Rumah yang sehat harus mempunyai suhu yang diatur sedemikian

rupa agar suhu badan dapat dipertahankan sehingga tubuh tidak

terlalu banyak kehilangan panas atau tubuh tidak sampai kepanasan.

Agar diperoleh suhu ruangan yang yang memenuhi syarat kesehatan

(18°C–30°C) dapat dilakukan dengan melakukan pertukaran udara

setempat (kipas angin) atau dengan udara baru (AC/exhauser).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Supit dkk (2016)

di Desa Talawanan Atas Tahun 2016 dalam jurnal yang berjudul

“Hubungan Antara Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian

Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Balita di Desa

Talawaan Atas dan Desa Kima Bajo Kecamatan Wori Kabupaten

34

Minahasa Utara” diperoleh hasil analisis menggunakan uji Spearman

hubungan antara suhu dengan ISPA diperoleh nilai p = 0.000

dengan r = 0.736 (Kuat), artinya secara statistik terdapat hubungan

antara suhu dengan kejadian penyakit ISPA pada balita di Desa

Talawaan dan Desa Kima atas Bajo (Supit dkk, 2016).

  • 4. Kelembaban udara ruangan Kelembaban merupakan kandungan uap air udara dalam ruang yang diukur dengan phsycrometer dan dinyatakan dengan satuan persen (%). Kelembaban ini sangat erat hubungannya dengan ventilasi. Apabila ventilasi kurang baik maka akan meningkatkan kelembaban yang disebabkan oleh penguapan cairan tubuh dan uap pernafasan (Dinkes Lumajang, 2014). Menurut

Dinkes

Lumajang

(2014)

Beberapa

faktor

yang

mempengaruhi tingkat kelembaban dalam rumah antara lain :

  • a. Rising Dump (Kelembaban yang naik dari tanah). Kelembaban yang disebabkan oleh proses kerja osmosis atau tenaga tarik kapiler dari bahan dinding yang mengadakan kontak dengan tanah yang lembab yang dapat naik kedalam dinding (mencapai ketinggian 3 – 4 meter).

  • b. Percolation Dump (merembes melalui dinding). Disebabkan oleh infiltrasi hujan yang masuk kedalam dinding.

  • c. Root Leaks (bocor melalui atap) Disebabkan karena atap atau genting yang tidak dapat menahan air (air hujan dapat merembes melalui celah-celahnya). Udara yang kurang mengandung uap air maka udara terasa kurang

nyaman dan berbau (pengap), sebaliknya jika udara mengandung

banyak uap air maka udara basah yang dihirup akan berlebihan

sehingga mengganggu fungsi paru-paru. Rumah yang lembab akan

mudah ditumbuhi oleh kuman-kuman yang dapat menyebabkan

35

penyakit infeksi, khususnya penyakit infeksi saluran pernafasan. Sesuai

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999

kelembaban udara berkisar antara 40% -70% (Dinkes Lumajang, 2014). Hal ini sejalan dengan penelitia yang dilakuakan oleh Supit dkk

(2016) di Desa Talawanan Tahun 2014 dalam jurnal yang berjudul

“Hubungan Antara Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Penyakit

Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Balita di Desa Talawaan Atas dan

Desa Kima Bajo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara”

menyatakan bahwa terdapat hubungan antara suhu dan kelembaban

dengan kejadian penyakit ISPA pada balita di Desa Talawaan Atas dan

Desa Kima Bajo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Hasil

penelitian menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) (Supit dkk, 2016). Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryani dkk

(2013) di kelurahan Lubuk Buaya, kelurahan Bungo Pasang, kelurahan

Pasia Nan Tigo, kelurahan Ganting Batang Kabung, kelurahan Parupuk

Tabing dan kelurahan Dadok Tunggul Hitam Tahun 2013 dalam jurnal

yang berjudul “Hubungan Lingkungan Fisik dan Tindakan Penduduk

dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk

Buaya” diperoleh hasil analisis statistik hubungan antara kelembaban

rumah dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas

Lubuk Buaya didapatkan nilai p>0.05 (0.542) dan nilai Cc=0.059. Hal

ini berarti tidak terdapat hubungan antara kelembaban rumah dengan

kejadian ISPA pada balita (Suryani dkk, 2013).

  • 5. Jenis lantai

Keputusan

Menteri

Kesehatan Republik Indonesia Nomor

829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan rumah tinggal

menyebutkan bahwa syarat lantai yang baik adalah yang kedap air dan

36

mudah dibersihkan, seperti lantai terbuat keramik, kayu yang

dirapatkan, ubin atau semen yang kedap dan kuat. Lantai rumah yang

tidak kedap air dan sulit untuk dibersihkan akan menjadi tempat

perkembangan dan pertumbuhan mikroorganisme didalam rumah

(Catiyas, 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Soolani dkk (2013) di

Kelurahan Malalayang 1 Kota Manado Tahun 2013 dalam jurnal yang

berjudul “Hubungan antara Faktor Lingkungan Fisik Rumah dengan

Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) pada Balita di Kelurahan

Malalayang 1 Kota Manado menyatakan” bahwa hasil penelitian

diperoleh antara jenis lantai rumah dengan kejadian ispa tidak memiliki

hubungan yang bermakna dengan kejadian ISPA nilai p = 0,072

(Soolani dkk, 2013).

Namun

penelitian

yang

dilakukan oleh Bee dkk (2014) di

Kepulauan Talaud Tahun 2014 dalam jurnal yang berjudul “Hubungan

Antara Kondisi Lingkungan Fisik Rumah Dengan Kejadian Infeksi

Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Anak Balita Di Wilayah Kerja

Puskesmas Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2014” hasil

ini menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang

bermakna antara lantai rumah dengan kejadian ISPA. Responden yang

memiliki lantai rumah yang tidak memenuhi syarat 53,0%,

dibandingkan dengan lantai rumah yang memenuhi syarat 21,0% (Bee,

 

2014).

6.

Jenis dinding

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik Indonesia Nomor

829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan rumah tinggal

37

menyebutkan bahwa jenis dinding tidak tembus pandang, terbuat dari

bahan yang tahan terhadap cuaca, rata dan dilengkapi dengan ventilasi

untuk sirkulasi udara. Dinding rumah yang baik menggunakan tembok,

rumah yang berdinding tidak rapat seperti papan, kayu dan bambu dapat

menyebabkan penyakit pernafasan yang berkelanjutan seperti ISPA,

karena angin malam yang langsung masuk ke dalam rumah (Catiyas,

2012).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hutapea dkk (2013)

di Kelurahan Sibolga Hilir Tahun 2013 dalam jurnal yang berjudul

“Hubungan Kondisi Fisik Rumah Nelayan dengan Keluhan Infeksi

Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Lingkungan Pintu

Angin Kelurahan Sibolga Hilir Kecamatan Sibolga Utara Kota Sibolga

Tahun 2013” menyatakan bahwa variabel dinding rumah diperoleh nilai

p = 0,322, jika dibandingkan dengan derajat kemaknaan (p<0,05) maka

dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara dinding

rumah dengan kejadian ISPA. Sebagian besar responden memiliki jenis

dinding yang tidak memenuhi syarat, yaitu terbuat dari papan atau kayu

yang tidak kedap air. Namun responden memiliki kebiasaan

membersihkan dinding rumah dan dinding terbuat dari kayu yang cukup

rapat. Dimana faktor lain yang mempengaruhi kejadian ISPA adalah

kebersihan dinding dan kerapatan dinding, dinding yang berdebu

merupakan media yang baik bagi pertumbuhan kuman penyakit. Debu

akan mudah menumpuk pada ruas-ruas dinding yang terbuat dari

papan/kayu yang tidak rapat. Penumpukan debu pada ruas-ruas kayu

38

yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan kuman penyakit (Hutapea

dkk, 2013).

  • 7. Kepadatan hunian rumah

Kepadatan

hunian

dalam rumah menurut keputusan menteri

kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan

kesehatan rumah, satu orang minimal menempati luas rumah 8m².

Dengan kriteria tersebut diharapkan dapt mencegah penularan penyakit

dan melancarkan aktivitas (Maryunani, 2013). Menurut Kepmenkes RI (1999) luas ruangan tidur minimal 8 m²

dan tidak dianjurkan lebih dari 2 orang. Bangunan yang sempit dan

tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan mempunyai dampak

kurangnya oksigen dalam ruangan sehingga daya tahan tubuh

penghuninya menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit saluran

pernafasan seperti ISPA. Ruangan yang sempit akan membuat nafas

sesak dan mudah tertular penyakit oleh anggota keluarga yang lain.

Kepadatan hunian rumah akan meningkatkan suhu ruangan yang

disebabkan oleh pengeluaran panas badan yang akan meningkatkan

kelembaban akibat uap air dari pernafasan tersebut.Dengan demikian,

semakin banyak jumlah penghuni rumah maka semakin cepat udara

ruangan mengalami pencemaran gas atau bakteri. Dengan banyaknya

penghuni, maka kadar oksigen dalam ruangan menurun dan diikuti oleh

peningkatan CO2 ruangan dan dampak dari peningkatan CO2 ruangan

adalah penurunan kualitas udara dalam rumah (Afandi, 2012). Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor

polusi dalam rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan ada

hubungan bermakna antara kepadatan dan kematian dari

39

bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan bahwa polusi udara,

tingkat sosial, dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor

ini (Maryunani, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Supit (2016) di Desa Talawaan

Tahun 2016 dalam jurnal yang berjudul “Hubungan Antara Lingkungan

Fisik Rumah dengan Kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan

Akut pada Balita di Desa Talawaan Atas dan Desa Kima Bajo

Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara” menunjukkan hasil

analisis hubungan kepadatan hunian dengan ISPA diperoleh nilai p =

0.099 dengan r = -0.133 (Sangat Rendah), artinya secara statistik tidak

terdapat hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian penyakit

ISPA pada balita di Desa Talawaan dan Desa Kima Atas Bajo

Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara tahun 2016 (Supit, 2016). Namun hasil penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian

yang dilakukan oleh Soolani dkk (2013) di Kelurahan Malalayang 1

Kota Manado Tahun 2013 dalam jurnal yang berjudul “Hubungan

antara Faktor Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Infeksi

Saluran Pernafasan (ISPA) pada Balita di Kelurahan Malalayang 1 Kota

Manado” Hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa tingkat

kepadatan hunian kamar dengan kejadian ispa tidak memiliki hubungan

yang bermakna dengan kejadian ispa. Dengan p = (1.000). Hasil uji

statistik menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat

kepadatan hunian kamar dengan kejadian ispa, hal ini disebabkan

karena masih ada faktor lain yang tidak diteliti yaitu luas ventilasi

rumah (Soolani dkk, 2013).

40

  • a. Umur anak

Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit

pernafasan oleh virus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan

tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6-12

tahun (Maryunani, 2013).

Berdasarkan Riskesdas 2013 karakteristik penduduk dengan

ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun (25,8%)

(Datin Kemenkes RI, 2014).

  • b. Berat badan lahir

Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan

fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah

(BBLR) mempunyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan

dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama

kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna

sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan

sakit saluran pernafasan lainnya (Maryunani, 2013).

Penelitian menunjukkan bahwa berat badan bayi kurang dari

2500 gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi

saluran pernafasan dan hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted

terhadap status pekerjaan, pendapatan, pendidikan. Data ini

mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah

tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernafasan,

tetapi mengalami lebih berat infeksinya (Maryunani, 2013).

  • c. Status gizi

41

Masukan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan

dan perkembangan anak dipengaruhi oleh : umur, keadaan fisik, kondisi

kesehatannya, kesehatan fisiologis pencernaannya, tersedianya makanan

dan aktivitas dari si anak itu sendiri. Penilaian status gizi dapat

dilakukan antara lain berdasarkan antropometri : berat badan lahir,

panjang badan, tinggi badan, lingkar lengan atas. Keadaan gizi yang

buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya ISPA.

Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan gizi

buruk dan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering

mendapat pneumonia. Disamping itu adanya hubungan antara gizi buruk

dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya serta menurunnya

daya tahan tubuh anak terhadap infeksi. Balita dengan gizi yang kurang

akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi

normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi

sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan

mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih

mudah terserang “ISPA berat” bahkan serangannya lebih lama

(Maryunani, 2013).

  • d. Vitamin A

Sejak tahun 1985 setiap enam bulan Posyandu memberikan

kapsul 200.000 IU vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan

empat tahun. Balita yang mendapat vitamin A lebih dari 6 bulan sebelum

sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah sebagai resiko

42

terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada kelompok kasus dan

93,5% pada kelompok kontrol (Maryunani, 2013).

Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan

imunisasi akan menyebabkan peningkatan titer antibodi yang spesifik

dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup tinggi. Bila antibodi

yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan bukan sekedar antigen asing

yang tidak berbahaya, niscaya dapatlah diharapkan adanya perlindungan

terhadap bibit penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak

terlalu singkat. Karena itu usaha massal pemberian vitamin A dan

imunisasi secara berkala terhadap anak-anak prasekolah seharusnya

tidak dilihat sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya haruslah

dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan daya

tubuh dan perlindungan terhadap anak indonesia sehingga mereka dapat

tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan yang sebaik-

baiknya (Maryunani, 2013).

  • e. Status imunisasi

Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan

mendapatkan kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi

campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang

berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti

difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi akan

berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi

faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi

lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila

43

menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan

menjadi lebih berat (Maryunani, 2013).

Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan

pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi

campak yang efektif sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat

dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% kematian pneumonia

dapat dicegah (Maryunani, 2013).

  • 2.2.3 Faktor Perilaku

Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA

pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di

keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya.

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumppul dan

tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung

dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai

masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga

lainnya. Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA sangat

penting karena penykit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di

dalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu mendapat perhatian serius

oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang balita, sehingga ibu

balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita

mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit.

Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia

dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan

kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak menjadi lebih berat.

44

Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga

dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting,

sebab bila praktik penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk

akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi

bertambah berat (Maryunani, 2013).

Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat

digilongkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu : perawatan penunjang oleh ibu

balita, tindakan yang segera dan pengamatan tentang perkembangan

penyakit balita, pencarian pertolongan pada pelayanan kesehatan

(Maryunani, 2013).

  • a. Pencegahan ISPA dan Pneumonia

Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA dan

pneumonia, maka dewasa ini terus dilakukan penelitian cara pecegahan

ISPA dan pneumonia yang efektif dan spesifik. Cara yang terbukti efektif

saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT).

Dengan imunisasi campak yang efektif, sekitar 11% kematian pneumonia

balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT), 6% kematian

pneumonia dapat dicegah (Maryunani, 2013).

Secara umum dapat dikatakan bahwa cara pencegahan ISPA adalah

dengan hidup sehat, cukup gizi, menghindari polusi udara dan pemberian

imunisasi lengkap (Maryunani, 2013).

1) Usaha yang dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan dan

kematian bayi dan balita berkaitan dengan ISPA dan Pneumonia.

45

Seperti halnya berbagai upaya kesehatan, pemberantasan ISPA

dilaksanakan oleh pemerintah dalm halini Departemen Kesehatan

termasuk didalamnya petugas kesehatan bersama masyarakat. Dalam

upaya penanggulangan pneumonia, Departemen Kesehatan telah

menyiapkan sarana kesehatan (seperti puskesmas pembantu/Pustu,

Puskesmas, Rumah sakit) untuk mampu memberikan pelayanan

penderita ISPA, pneumonia dengan tepat dan segera. Teknologi yang

dipergunakan adalah teknologi tepat guna yaitu teknologi deteksi dini

pneumonia balita yang dapat diterapkan oleh sarana kesehatan

terdepan (Maryunani, 2013).

Caranya adalah dengan melihat ada tidaknya tarika dinding

dada kedalam dan menghitung frekuensi (gerakan) nafas pada balita

yang batuk atau sukar bernafas. Adanya tarikan dinding dada ke

dalam merupakan tanda adanya pneumonia berat. Adanya

peningkatan frekuensi nafas merupakan tanda adanya penumonia,

yaitu jika frekuensi nafas 40 kali per menit atau lebih pada anak usia

1-5 tahun, 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai

kurang 1 tahun, dan 60 kali per menir atau lebih pada anak kurang 2

bulan. Untuk ISPA lainnya (bukan pneumonia), seperti batuk pilek,

pharingitis dan radang telinga tengah, penaggulangannya juga

dilakukan di sarana kesehatan dengan diagnosis dini dan pengobatan

tepat segera (Maryunani, 2013).

2)

Upaya Pencegahan ISPA dan Pneumonia

46

Pencegahan ISPA dan Pneumonia dilaksanakan melalui upaya

peningkatan kesehatan seperti imunisasi, perbaikan gizi dan

perbaikan lingkungan pemukiman. Peningkatan pemerataan cakupan

kualitas pelayanan kesehatan juga akan menekan morbiditas dan

mortalitas ISPA dan Pneumonia. Pemerintah telah membangun rumah

sakit, Puskesmas, Pustu (Puskesmas Pembantu) di seluruh penjuru

tanah air. Pemerintah juga telah menempatkan bidan di desa-desa,

menggalakkan hidup bersih dan sehat, menggalakkan produksi dan

distribusi obat generik serta melaksanakan program kesehatan bagi

masyarakat yang kurang mampu. (Maryunani, 2013).

  • b. Peranan Masyarakat dalam Penanggulangan ISPA dan Pneumonia

Peranan masyarakat sangat menentukan keberhasilan upaya

penanggulangan ISPA dan pneumonia. Yang terpenting adalah

masyarakat memahami cara deteksi dini dan cara mendapatkan

pertolongan (care seeking). Akibat berbagai sebab, termasuk hambatan

geografi, budaya dan ekonomi, pemerintah juga menggerakkan kegiatan

masyarakat seperti Posyandu, Pos Obat Desa, dan lain-lainnya untuk

membantu balita yang menderita batuk atau kesukaran bernafas yang

tidak dibawa berobat sama sekali. Bagi masyarakat yang telah terjangkau

dan telah memanfaatkan sarana kesehatan, perlu melaksanakan

pengobatan dan nasehat yang diberikan oleh sarana atau tenaga

kesehatan. Selanjutnya seluruh masyarakat perlu mempraktekan cara

hidup yang bersih dan sehat agar dapat terhindar dari berbagai penyakit

termasuk ISPA dan pneumonia (Maryunani, 2013).

  • c. Pengobatan ISPA yang rasional

47

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah pengobatan ISPA yang

rasional. Penderita pneumonia memerlukan obat antibiotika, demikian

juga penderita pharingitis yang disebabkan oleh Streptococcus

Haemoliticus. Tetapi tidak semua penderita ISPA memerlukan

antibiotika, misalnya yang disebabkan oleh virus seperti batuk pilek

biasa. Selanjutnya pemberian obat batuk pada balita juga tidak

dianjurkan. Pada balita yang batuk, lebih tepat diberikan pelega

tenggorokan seperti minuman hangat (Maryunani, 2013).

Pedoman penatalaksanaa kasus ISPA akan memberikan petunjuk

standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi

penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta

mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat (Kunoli,

2013).

Pengobatan ispa menurut Kunoli (2013), yaitu:

1) Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik

parenteral, oksigen dan sebagainya.

2)

Pneumonia

:

diberi

obat

antibiotik

kotrimoksasol

peroral.

Bila

penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan

pemberian kotrimoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai

obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin, atau penisilin

prokain.

3)

Bukan

pneumonia

: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan

perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk

tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang

merugikan seperti Kodein, Dekstrometrofan, dan Antihistamin. Bila

48

demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita

dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat

adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah

bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman

Streptococcus dan harus diberi antibiotik (Penisilin) selama 10 hari.

2.3 BALITA 2.3.1Pengertian Balita

Balita atau dikenal juga dengan anak prasekolah adalah anak yang

berusia antara 1 sampai 5 tahun (Sulistyoningsih, 2011). Anak bawah lima tahun atau sering disingkat sebagai anak balita

adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular

dengan pengertian usia anak dibawah lima tahun atau biasa digunakan

perhitungan bulan yaitu usia 12-59 bulan. para ahli menggolongkan usia

balita sebagai tahapan perkembangan anak yang cukup rentan terhadap

berbagai serangan penyakit (Datin Kemenkes RI, 2015).

2.3.2Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Menurut Inayah (2015), Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh

Kembang Anak

  • 1. Faktor internal Berikut ini adalah beberapa faktor-faktor internal yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak :

    • a. Ras/etnik atau bangsa Anak yang dilahirkan dari ras atau bangsa Amerika tidak memiliki faktor herediter ras atau bangsa Indonesia atau sebaliknya.

    • b. Keluarga Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk, atau kurus.

    • c. Umur Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.

    • d. Jenis kelamin

49

Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat

dari pada anak laki-laki. Akan tetapi setelah melewati masa pubertas,

pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

 

e.

Genetik Genetik (herodokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi

 

anak yang akan menjadi ciri khas. Ada beberapa kelainan genetik

yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak, contohnya seperti

kerdil.

 
 

f.

Kelainan kromosom

 
 

Kelainan

kromosom

umumnya

disertai dengan kegagalan

pertumbuhan seperti pada Sindrom Down’s Sindroma Turner’s.

2.

Faktor eksternal

 

Berikut

ini

adalah

faktor-faktor

eksternal yang berpengaruh pada

tumbuh kembang anak :

 

a.

Faktor prenatal

 
 

1)

Gizi Nutrisi ibu hamil terutama pada trimester akhir kehamilan akan

2)

mempengaruhi pertumbuhan janin. Mekanis Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan

3)

kongenital seperti club foot. Toksin/zat kimia Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin atau Thalidomid dapat

4)

menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoksisi. Endokrin Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali

5)

dan hiperplasia adrenal. Radiasi Paparan radiasi atau sinar Rontgen dapat mengakibatkan

 

kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi

mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongenital mata

 

6)

serta kelainan jantung. Infeksi

 

50

Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TRCH

(Toksoplasma, Rubella, Citomegalo virus, Herpes simpleks)

dapat menyebabkan kelainan pada janin seperti katarak, bisu,

tuli, mikrosefali, retardasi mental, dan kelainan jantung bawaan.

7)

Kelainan imunologi Eritroblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan

darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi

terhadap sel darah merah janin dan akan menyebabkan hemolisis

yang selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan

8)

kernikterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak. Anoksia embrio Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta

9)

menyebabkan pertumbuhan terganggu. Psikologi ibu Kehamilan yang tidak diinginkan serta perlakuan salah atau

kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.

  • 3. Faktor persalinan Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.

  • 4. Faktor pasca persalinan

    • a. Gizi Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.

    • b. Penyakit kronis atau kelainan kongenital Tuberkulosis, anemia dan kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.

    • c. Lingkungan fisik dan kimia Lingkungan yang sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif dan zat kimia tertentu (Pb,

51

merkuri, rokok, dan lain-lain) mempunyai dampak yang negatif

terhadap petumbuhan anak.

  • d. Psikologis Hubungan anak dengan orang tua sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

  • e. Endokrin

Gangguan

hormon,

misalnya

pada

penyakit

hipotiroid akan

menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.

  • f. Sosioekonomi Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan serta kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, hal tersebut menghambat pertumbuhan anak.

  • g. Lingkungan pengasuhan Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

  • h. Stimulasi Perkembangan memerlukan rangsangan atau stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan mainan, sosialisasi anak serta keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.

  • i. Obat-obatan

Pemakaian

kortikosteroid jangka panjang akan menghambat

pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang

terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi

hormon pertumbuhan.

52

2.4 Kerangka Teori

ISPA Faktor Faktor Kejadian Anak Perilaku Penyakit
ISPA
Faktor
Faktor
Kejadian
Anak
Perilaku
Penyakit
 

Sumber Penyakit

Sumber Penyakit Agent Penyakit : - Bakteri: genus Streptokokus, Stafilokokus, Pnemokokus Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium -
 

Agent Penyakit :

 

-

Bakteri: genus Streptokokus, Stafilokokus, Pnemokokus Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium

-

Virus: golongan Miksovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain

-

Jamur: Aspergilus Sp., Gandida Albicans Histoplasm, dan lain-lain.

 

Faktor

Lingkungan

Faktor Lingkungan Lingkungan fisik rumah. (Kondisi fisik rumah) : Pencemaran udara dalam rumah : - Perilaku
Lingkungan

Lingkungan

 

fisik rumah.

(Kondisi fisik

rumah) :