Anda di halaman 1dari 51

1.

Tujuan dan manfaat uji pre klinik


Exploratory
to understand a biological mechanism
Explanatory
to understand a complex biological problem
Predictive
to discover and quantify the impact of a treatment
(Noor Wijayahadi, 2009)

2. Apa macam-macam uji pre klinik dan contohnya?

Tahap-tahap pengembangan obat meliputi :

1. PEMILIHAN
2. UJI FARMAKOLOGI utk khasiat dan efek terapi
3. UJI TOKSISITAS utk lihat keamanan dan toksisitas, ESO
Uji Toksisitas akut
o Uji ini menyangkut pemberian beberapa dosis tunggal yang
meningkat secara teratur pada beberapa kelompok hewan dari jenis
yang sama
o Pengamatan kematian dalam waktu 24 jam digunakan untuk
menghitung LD50 dan hewan tetap dipelihara selama 14 hari
o Uji ini dilakukan pada tikus dari kedua jenis kelamin menggunakan
minimal 5 hewan dari tiap kelamin perdosis
o Yang perlu dicari pada uji toksisitas akut adalah :
Spektrum toksisitas akut
Cara kematian
Nilai dosis lethal median (LD50)
Uji Toksisitas Lanjutan meliputi :
o Uji Toksisitas subakut
o Uji Toksisitas kronik
o Uji Toksisitas spesifik
Toksisitas pada janin
Mutagenesitas
SK Menkes No. 761/MENKES/SK/IX/1992

UJI TOKSIKOLOGI

Prosedur pengujian dapat dibagi menjadi 4 tahapan kegiatan, yaitu pemilihan


hewan uji, pemberian perlakuan, pengamatan dan pelaporan.
1. Pemilihan Hewan Uji.
Paling tidak ada 5 hal yang harus diperhatikan dalam memilih hewan uji,
yaitu :

a. species
b. strain hewan yang akan digunakan,
c. usia,
d. jenis kelamin dan
e. jumlahnya.
Species mamalia yang umum digunakan adalah tikus, mencit dan
kelinci. Untuk unggas digunakan embrio ayam (percobaan in ovo).
Kemajuan teknik laboratorium yang ada sekarang dan reaksi dari
pemerhati hak binatang telah membuka kemungkinan penggunaan
hanya organ, jaringan atau sel saja menggantikan hewan uji (kultur
organ atau kultur sel melalui percobaan in vitro). Teknik ini sangat
penting terutama dalam upaya mengungkap mekanisme teratogenesis
suatu agensia. Di Indonesa hewan uji yang populer digunakan adalah
mencit dan tikus, karena itu tulisan ini selanjutnya akan membicarakan
pengujian dengan menggunakan hewan uji tersebut.
Hewan betina yang digunakan adalah betina dara sedangkan untuk
jantan dipilih pejantan yang sudah terbukti baik fertilitasnya. Hewan
dikawinkan di malam hari dengan cara mencampur 1 jantan dengan 3
betina dalam satu kandang. Jika keesokan harinya ditemukan adanya
sumbat vagina (vaginal plug) atau adanya sperma di vagina yang
dideteksi melalui pemeriksaan mikroskopis apusan vagina, maka itu
pertanda perkawinan sudah berlangsung dan hari tersebut dtentukan
sebagai hari ke nol kebuntingan.
Jumlah hewan uji yang digunakan palig tidak sebanyak 20 ekor betina
bunting untuk tiap kelompok perlakuan. Karena kelompok perlakuan
biasanya terdiri atas paling tidak 3 taraf dan 1 kelompok kontrol, maka
jumlah hewan bunting yang dibutuhkan adalah 80 ekor.
2. Pemberian Perlakuan.
Untuk agensia berupa senyawa kimia, dosis tertinggi perlakuan
sebaiknya tidak > 1000 mg/kg berat badan per hari dengan pemberian
per oral atau subkutan, sedangkan untuk agensia lain disesuaikan
dengan besaran paparan yang mungkin diterima dari lingkungan.
Dosis tertinggi sebaiknya lebih kecil dari angka LD-50 dan 2 kelompok
dosis berikutnya ditata dengan interval sama di bawah dosis tertinggi
tadi (misalnya LD-50, 2/3 LD-50, 1/3 LD-50, dan kontrol).
Kelompok kontrol disesuaikan dengan percobaan. Aturan yang umum
digunakan adalah apabila agensia dilarutkan dengan suatu pelarut
maka kepada kelompok kontrol diberikan pelarut saja dengan cara
pemberian yang persis sama dengan cara pemberian pada kelompok
perlakuan. Untuk kontrol positif dapat dipilih agensia-agensia yang
sudah dikenali memiliki efek teratogenik. Penggunaan kontrol positip
adalah untuk menilai kepekaan strain yang digunakan.
Cara pemberian perlakuan yang paling umum adalah permberian per
oral (pencekokan). Cara lain dapat dipilih dengan pertimbangan
khusus, seperti inhalasi, subkutan, intrapertoneal atau intramuskuler.
Pertimbangan utama dalam pemilihan cara-cara itu adalah
kemiripannya dengan cara masuk agensia toksis tadi ke dalam tubuh.
Durasi perlakuan disesuaikan degan tujuan pengujian. Untuk pengujian
toksisitas perkembangan umum perlakuan dapat diberikan selama
masa kebuntingan.Dapat juga diberikan perlakuan tunggal 1 kali saja
pada titik waktu spesifik jika yang akan diamati adalah efek suatu
agensia terhadap perkembangan organ tertentu.
Yang paling umum dilakukan adalah pemberian perlakuan dalam
beberapa hari saja, yaitu selama masa organogenesis (hari ke 6 hingga
hari ke 15).
3. Pengamatan.
Meskipun pengujian ini disebut uji tokskologi perkembangan ruang
lingkup pengamatan tidaklah terbatas pada embrio yang sedang
berkembang itu saja melainkan juga mencakup beberapa bagian
pengamatan terhadap induk.
Induk hewan coba diamati kondisi kesehatannya setiap hari dan hal-hal
khusus seperti adanya gejala keracunan atau kematian dicatat. Berat
badan ditimbang paling tidak sekali 3 hari. Data berat badan selain
sebagai petunjuk efek toksik terhadap induk juga digunakan untuk
menentukan jumlah pemberian perlakuan (mg/kg berat badan). Hewan
coba dipelihara dengan baik selama kebuntingan dan selanjutnya
dikurbankan 1 hari sebelum melahirkan (tikus hari ke-20/21; mencit
hari ke-19). Betina tidak dibiarkan sampai melahirkan karena jika itu
terjadi ia akan memakan anak-anaknya yang cacat. Hewan uji dibedah
caesar dengan membuat irisan di garis tengah ventral tubuh mulai dari
area bukaan genitalia hingga ke leher. Rongga perut dan rongga dada
dibuka dan organ dalam tubuh diamati. Uterus diangkat dan ditimbang
bersama-sama dengan embrio di dalamnya. Selanjutnya uterus
ditempatkan di dalam cairan fisiologis, lalu dibelah dan embrionya
dilepas.
Pada saat ini juga status implantasi dipastikan: fetus yang berkembang
penuh dan merespon sentuhan dikategorikan fetus hidup; fetus yang
berkembang penuh dan tidak ada tanda-tanda autolisis tetapi tidak
merespon sentuhan dikategorikan fetus mati; implantasi yang
menunjukkan adanya ciri-ciri fetus tetapi mengalami autolisis
digolongkan sebagai fetus yang diresorpsi pada tingkat lanjut (late
resorption); implantasi yang tidak menunjukkan adanya karakteristik
fetus digolongkan pada fetus yang mengalami resorpsi dini (early
resorption). Selanjutnya ovarium diamati dan jumlah corpora lutea
dihitung. Jumlah corpora lutea umumnya bersesuaian dengan jumlah
implantasi karena corpora lutea adalah petunjuk folikel yang berovulasi
dan berubah menjadi badan hormonal yang berperan dalam
mempertahankan kebuntingan. Kehilangan sebelum implantasi dapat
dihitung berdasarkan selisih antara jumlah corpora lutea dengan
jumlah implantasi.
Tanda-tanda keracunan induk diamati pada organ-organ visceral.
Kelenjar

timus diamati ukuran, warna dan adanya tanda-tanda hemoragi.


Pulmo diamati

ukuran, warna dan jumlah lobusnya, demikian juga hepar diamati


ukuran, warna,

tekstur dan jumlah lobusnya. Lambung dibuka dengan sayatan


sepanjang curvatura

besar dan permukaan mukosalnya diamati. Ginjal diamati bentuk,


ukuran, warna

dan kelainan yang mungkin terlihat dari luar, dan selanjutnya dibelah
untuk

mengamati struktur internalnya. Tiap-tiap kelainan dicatat dan


sedapat mungkin

didokumentasikan dengan fotografi dan jaringan yang mengalami


kelainan tersebut
difiksasi dengan formalin atau larutan Bouin dan diproses melalui
metode parafin

untuk pembuatan sediaan bagi pengamatan histologis.

Pengamatan fetus dimulai dengan penimbangan berat badan.


Penimbangan

hendaknya dilakukan ketika fetus masih segar (segera setelah uterus


dibuka,

sebelum fetus difiksasi). Pengamatan malformasi dimulai dari daerah


kepala.

Pertama-tama diperhatikan bentuk dan ukuran kepala serta adanya


tanda-tanda

gangguan penutupan (closure defect). Di kepala harus terdapat 2


tonjolan mata

(masih tertutup), 2 nares, 5 papila fascialis,dan 2 pinnae. Mulut dan


bibir diamati

ukuran, betuk dan adanya gangguan perkembangan. Mulut dibuka


untuk mengamati

dan memastikan ada tidaknya celah di langit-langit mulut (cleft


palate). Kemudian

aspek ventral dan dorsal tubuh diamati apakah ada closure defect, dan
dilanjutkan

dengan pengamatan tungkai. Pada tungkai diamati ukuran,


kelengkapan ruas dan

arah rotasi / fleksi bahu, siku, telapak dan jemari. Jumlah jemari
(masing-masing 5

depan dan 5 belakang) dihitung dan adanya kelainan pada jumlah


ukuran, fusi atau

adanya selaput dicatat. Ekor juga diamati keberadaan, ukuran dan

pembengkokannya. Ekor selanjutnya diangkat dan jarak antara bukaan


anus dengan

genitalia diperkirakan untuk penentuan jenis kelamin (jarak tersebut


sangat dekat

pada betina dan jauh pada jantan). Selanjutnya kira-kira setengah


bagian dari
jumlah fetus yang diperoleh difiksasi dengan alkohol 95 % dan setelah
beberapa

hari dieviserasi dan dikuliti. Fiksasi dipertahankan hingga 2 mnggu,


kemudian fetus

diwarnai dengan Alcian blue dan Alizarin Red S dan selanjutnya dibuat
transparan

dalam gliserin. Dengan teknik ini dapat diamati secara langsung


komponen tulang

(merah) dan kartilago (biru) fetus dan kelainannya. Pengamatan


rangka meliputi

adanya hambatan atau percepatan penulangan, kelainan bentuk dan


jumlah

komponen rangka. Rangka diamati mulai dari cranium, sternum,


columna

vertebralis, os pectoralis, os pelvis, tulang-tulang tungkai dan


terutama jemari.

Jumlah komponen tulang telapak dan jemari yang telah mengalami


penulangan

dihitung. Kelainan struktur komponen rangka yang sering teramati


adalah hambatan

osifikasi, penambahan atau pengurangan jumlah costae, centrum


vertebra berbentuk

kupu-kupu, costae menggelombang, fusi rusuk, fusi vertebra, tungkai


pekuk dan

lain-lain

www.library-usu.com

Uji yang dijalani obat sebelum dipasarkan adalah :


1. Uji preklinik (pada hewan)
a. Uji Farmakodinamik in vitro dan in vivomenentukan khasiatnya
efficacy
b. Uji Toksikologik
c. Uji Farmakokinetik meliputi ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme
dan eliminasi) obat
Jika dari ke-3 uji tsb (butuh waktu 3-5tahun) obat lolos, maka dilanjutkan
dengan uji KLINIK (Clicical Trial)

2. Clinical trial, dilakukan pada manusia dg urutan


Fase I pada orang yang sehat
Fase II pada pasien dengan indikasi tertentu dalam jumlah yang
terbatas
Fase III pada pasien dengan indikasi tertentu dalam jumlah yang lebih
besar
Fase IV sudah dipasarkan

(Santoso, Nahdloh)

UJI FARMAKODINAMIK

Banyak contoh obat yang setelah mengalami proses metabolisme di tubuh


menghasilkan metabolit aktif. Senyawa induk obat tersebut disebut pro-drug,
yang pada in vitro tidak menimbulkan aktivitas biologis. Pro-drug bersifat
labil, di dalam tubuh (in vivo) mengalami perubahan, melalui proses kimia
atau enzimatik, menjadi senyawa aktif, kemudian berinteraksi dengan
reseptor menghasilkan respon farmakologis.
Adapun factor-farmakodinamik yang mempengaruhi aktifitas metabolisme
obat, yaitu :
a. Sitokrom P450 yang merupakan enzim pereduksi
b. Pembentukan metabolit yang dapat memberikan efek farmakologi yang
lebih kompleks dibanding obat awalnya.
c. Lokasi atau tempat kerja dari metabolit yang dihasilkan.
d. Perbedaan antara profil farmakokinetik dan farmakodinamik dari metabolit
aktif dan obat awal. Perbedaan ini menyebabkan konsentrasi dan
intensitas efek farmakologik metabolit dan obat awal sulit dibedakan.
Efek obat kadang-kadang ditimbulkan oleh metabolitnya. Metabolit itu
mempunyai peran penting sebagai obat oleh karena Metabolit
kemungkinan menimbulkan toksisitas atau efek samping lebih rendah
dibanding pro-drugnya.
Secara umum metabolit mengurangi variasi respon klinik dalam populasi
yang disebabkan perbedaan kemampuan metabolisme oleh individu-individu
atau oleh adanya penyakit tertentu
(Habib)

UJI TOKSISITAS

1. Merupakan uji keamanan pra-klinis


Untuk penapisan spektrum efek toksik

hewan roden dan non-roden

Dripa Sjabana : Uji Toksisitas Akut

Uji praklinik adalah pengujian obat pada reseptor kultur sel terisolasi atau
organ yang terisolasi. Setelah itu diuji pada hewan utuh seperti mencit, tikus,
kelinci, marmot, hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primata.
Hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui efek toksik obat
pada dosis pengobatan. Selain itu toksisitas merupakan cara mengevaluasi
kerusakan genetik (genotoksisitas, mutagenesitas), pertumbuhan tumor
(onkogenisitas dan karsinogenisitas), dan kejadian cacat waktu lahir. Selain uji
pada hewan, juga dikembangkan uji in vitro untuk menentukan khasiat obat.
Contohnya, uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan cell line, uji
antimikroba pada perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi.

2. Macam Uji Toksisitas


a. Uji Toksisitas Umum / Tak Khas
o Dosistunggal:UjiToks.Akut
o Dosisberulang:
Sub akut
Sub-kronis
Kronis
b. Uji Toksisitas Khusus / Khas Reproduksi (teratogenik), karsinogenik, mutagenik,
investigatif
Untuk meneliti berbagai efek yang berhubungan dengan masa pajanan
penelitian toksikologi menurut Frank C. Lu (1995) dibagi dalam :

a. Uji toksisitas akut, dilakukan dengan memberikan zat toksik yang sedang
diuji sebanyak satu kali, atau beberapa kali dalam jangka waktu 24 jam.
b. Uji toksisitas jangka pendek (penelitian sub akut atau sub kronik),
dilakukan dengan memberikan bahan toksik berulang-ulang biasanya
setiap hari atau lima kali seminggu, selama jangka waktu kurang lebih 10
% dari masa hidup hewan.
c. Uji toksisitas jangka panjang, dilakukan dengan memberikan zat kimia
berulang-ulang selama masa hidup hewan coba atau sekurang-kurangnya
sebagian dari masa hidupnya.

Uji Toksisitas akut


Uji Toksisitas Lanjutan meliputi :
o Uji Toksisitas subakut
o Uji Toksisitas kronik
o Uji Toksisitas spesifik
Toksisitas pada janin
Mutagenesitas
SK Menkes No. 761/MENKES/SK/IX/1992 tentang Fitofarmaka

3. Beda antara jenis


Uji toksisitas umum berdasarkan sifat pemberian, lama
pemberian/pemejanan, sasaran uji, luaran uji

a. Uji Toksisitas Akut


o Pengertian
Uji toksisitas merupakan uji keamanan pra-klinis untuk penapisan
spectrum efek toksik. Penelitian ini dirancang untuk menentukan
dosis letal median (LD50) toksikan. Uji toksisitas ini dengan
menggunakan hewan roden dan non roden. Pengujian ini dapat
menunjukan organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik
spesifiknya, serta memberikan petunjuk tentang dosis yang
sebaiknya digunakan dalam pengujian yang lebih lama.
o Sifatpemberian:dosistunggal
o Tujuanutama:
potensi toksisitas akut (kuantitatif)
menilai berbagai gejala toksik yang timbul (kualitatif)
adanya efek toksik yang khas (kualitatif)
mode of death (kualitatif)
o Jargon (data yang diinginkan) Uji Toksisitas
Median Lethal Dose (LD 50 )
Median Toxic Dose (TD 50 )
Besaran statistik dosis tunggal suatu senyawa

Diperkirakan kematian/efek toksik 50% hewan uji

Metode: grafik Lithfield & Wilcoxon

kertas grafik probit logaritma Miller dan Tainter

rerata bergerak

No Effect Dose
Minimum Lethal Dose
o Cara melakukan Uji Toksisitas Akut (1)
Persiapan Hewan Coba :

1. 2 jenis hewan, saran : >4 (roden+non)


2. Jantan dan betina, satu galur, dewasa , sehat, variasi bobot
10% 4 kelompok + kontrol negatif (@ 5 ekor)
3. Kisaran dosis diperkirakan 10-90% mati
4. 3 jalur (WHO). Setidaknya 1 jalur sesuai rencana pada
manusia
o Tata Laksana Uji Toksisitas Akut (2)
Pengamatan 24 jam (s.d. 14 hari)

Kriteria pengamatan :

Secara fisik terhadap gejala toksik


Perubahan berat badan
Jumlah hewan mati
Gros dan histopatologi organ vital
Hasil : spektrum efek toksik, LD 50 /TD 50 , potensi toksisitas

b. Uji Toksisitas Kronis


o Sifat pemberian: dosis berulang
o Tujuan utama:
Spektrum efek toksik terkait dengan organ sasaran
Relasi dosis dengan spektrum efek toksik
Reversibilitas spektrum efek toksik
o Cara Uji Toksisitas Kronis
1. 2 jenis hewan
2. Jantan dan betina, satu galur, dewasa, sehat, variasi bobot
10%, 3 kelompok + 1-2 kontrol negatif (@ 10 ekor)
3. Kisarandosisdiperkirakantertinggiadaygtoksik/mati,terendahtidakadagejala;
meliputidosisterapi
4. Sesuairencanayangdilakukanpadamanusiapadamanusia
5. Sebagiandarisetiapkelompokdikorbankandiakhiruji
6. Sisanya (terutama dosis tertinggi &terendah) uji reversibilitas (2-
4 minggu)
Menyangkut organ dan kelenjar

Pengamatan Wujud Efek Toksik

Perubahan biokimiawi, fungsional, &/struktural (kualitatif & kuantitatif)

Pemeriksaan & pengamatan:gejala & tanda toksik, sistem hematologi,fungsi


organ secara biokimiawi, morfologi organ (gross & histopatologi), dan analisis
urin

Manfaat

UjiToksisitasBerulang

Dasarevaluasibatasamanpemakaian

Panduanperancanganujitoksisitasselanjutnya,teratogenitas,danfarmakokinetikadosisberulang
(terutamadalampemilihanhewanujidanperingkatdosis)
Panduandalammenjalankanujiklinik(efektoksik&berbagaitolokukurklinis)

Cara melakukan uji toksisitas


Membuat rancangan

Rancangan Penelitian Eksperimen

Semua rancangan percobaan atau eksperimen mempunyai


karakteristik sentral yaitu didasarkan pada adanya manipulasi variabel
bebas dan mengukur efek pada variabel terikat. Rancangan eksperimen
klasik terdiri dan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok
eksperimen, variabel bebasnya dimanipulasi. Dalam kelompok kontrol
variabel terikatnya yang diukur, maka tidak ada perubahan yang dibuat
pada variabel bebasnya.

Secara umum ciri rancangan penelitian eksperimen yang baik adalah:

1. Subyek secara acak dipilih ke dalam kelompok-kelompok


2. Peneliti merancang manipulasi yang akan diberikan pada variabel
eksperimen dan dilakukan kontrol yang ketat.
3. Terdapat setidak-tidaknya dua kelompok yaitu kelompok eksperimen
dan kontrol yang satu sama lain sebagai pembanding.
4. Selalu digunakan analisis varians untuk meminimalkan varians dan
error dan memaksimumkan varians dari variable yang diteliti dan
berkaitan dengan hipotesis yang ditetapkan.
Oleh karena peneliti harus mampu melakukan kontrol yang ketat terhadap
variabel eksperimen, maka ada tiga prinsip dasar dalam pelaksanaan
rancangan eksperimen yaitu:

1. Replikasi, pengulangan dari eksperimen dasar. Hal ini berguna untuk


memberikan estimasi yang lebih tepat terhadap error eksperimen dan
memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap rata-rata pengaruh
yang ditimbulkan dan perlakuan.
2. Randomisasi, bermanfaat untuk meningkatkan validitas dan
mengurangi bias utamanya dalam hal pembagian kelompok dan
perlakuan.
3. Kontrol internal, melakukan penimbangan. bloking. dan
penge4ompokan dan unit-unit percobaan yang digunakan. Hal ini
bermanfaat untuk membuat prosedur yang lebih akurat, efisien, dan
sensitif.
Error eksperimen dalam sebuah penelitian eksperimen dapat terjadi
karena beberapa hal, yaitu:

a. Kesalahan dari percobaan yang sedang dilakukan.

b. Kesalahan pengamatan.

c. Kesalahan pengukuran.

d. Variasi dan bahan yang digunakan dalam percobaan.

e. Pengaruh kombinasi dari faktor-faktor luar.

Semakin banyak replikasi memang membawa konsekuensi penelitian


eksperimen itu mahal dan memakan waktu relatif lama. Oleh karena itu,
pertimbangan untuk menentukan banyaknya replikasi sangat ditentukan
oleh:

a. Luas dan banyaknya jenis unit percobaan.

b. Bentuk unit percobaan.

c. Variabilitas dan ketersediaan material percobaan.

d. Derajat ketelitian yang diinginkan. Derajat kebebasan diharapkan tidak


boleh kurang dan 10-15

1. Rancangan Eksperimental-Sungguhan (trueexperimental research)


Tujuan penelitian eksperimental sungguhan adalah untuk menyelidiki
kemungkinan saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan
kepada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi
perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih
kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.

Rancangan eksperimental sungguhan yang cukup dikenal adalah:

a. Post test-only Control group design


Dalam model rancangan ml, kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol dibentuk dengan prosedur random, sehingga keduanya
dapat dianggap setara. Selanjutnya kelompok eksperimen diberikan
perlakuan. Setelah perlakuan telah diberikan dalam jangka waktu
tertentu, maka setelah itu dilakukan pengukuran variabel terikat
pada kedua kelompok tersebut, dan hasilnya dibandingkan
perbedaannya.

Model rancangan ini cocok untuk kondisi yang tidak dimungkinkan


diakukan pre test atau ketika dikhawatirkan akan adanya interaksi
antara pre test dengan perlakuan yang diberikan. Rancangan ml
mampu mengendalikan faktor histori, maturasi, dan pre tes, tetapi
tidak mampu mengukur besarnya efek dan faktor-faktor tersebut.

b. Pre test-post tes control group design


Rancangan ini lebih baik dan rancangan eksperimen tanpa pre tes,
karena akan lebih akurat dalam memperoleh akibat dan suatu
perlakuan dengan perbandingan keadaan dan variabel terikat pada
kelompok eksperimen setelah dikenal perlakuan dan variabel
kontrol yang tidak dikenai oleh perlakuan.

c. Solomon four group design


Rancangan solomon ini memang tidak banyak digunakan pada
jumlah sampel penelitian yang kecil, namun pada penelitian
pertanian dan sosial sering digunakan. Rancangan ini memiliki
keunggulan untuk mengurangi pengaruh pre-test terhadap unit
percobaan dan mengurangi error interaksi antara pre-test dengan
perlakuan.

Rancangan ini terdiri dari 4 kelompok, yaitu 2 kelompok yang


dilakukan pre test-post tes dan 2 kelompok yang dilakukan pre tes-
posttes. Secara konkret dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. kelompok perlakuan dan kontrol dengan pre test.

2. kelompok perlakuan dan kontrol tanpa pre test.

Khusus faktorial, pada dasarnya bukan merupakan rancangan


penelitian, tetapi memang sebuah penelitian eksperimen. Oleh
karena itu eksperimen faktorial bisa didekati dengan berbagai
rancangan, misalnya dengan randomized complete block.
Keuntungan dan eksperimen faktorial adalah dimungkinkan untuk
mengetahui pengaruh interaksi antar faktor. Oleh karena itu, semua
prinsip dasar penelitian eksperimen harus tetap ada, agar error
eksperimen dapat diukur.

2. Rancangan Eksperimental Semu (Quasi-Experimental Research)


Tujuan rancangan eksperimental-semu adalah untuk memperoleh
informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat
diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang
tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan
semua variabel yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti
kompromi apa yang ada pada validitas internal dan validitas eksternal
rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan
tersebut.

Ciri-ciri rancangan eksperimen semu adalah:

a. Manipulasi eksperimen hanya pada variabel bebas.

b. Tidak ada pemilihan secara acak untuk kelompok dan atau

c. Tidak ada kelompok kontrol.

3. Rancangan penelitian uji klinik


Rancangan penelitian uji klinik sangat khas karena berkaitan dengan
pencapaian tujuan untuk mengetahui khasiat obat, efek samping obat,
dosis optimal untuk orang Indonesia, dan membandingkan efek obat
lain. Dalam hal ini rancangan penelitian uji klinik bersifat eksperimental
dan komparatif. Oleh karena itu dalam rancangan uji klinik, dikenal
perlakuan dan plasebo.

Plasebo adalah bahan inert, tidak berkhasiat, tidak mempunyai efek


metabolik yang berarti, tidak toksik, tidak alergenik, dan tidak memiliki
efek farmakologik terhadap penyakit yang sedang diobati. Plasebo
harus diberikan dalam keadaan yang sama dengan obat yang diteliti
dalam arti : bentuk, rasa, dan warna, sehingga penderita tidak dapat
membedakannya dengan obat yang diteliti.

Prosedur pengujian dapat dibagi menjadi 4 tahapan kegiatan, yaitu pemilihan


hewan uji, pemberian perlakuan, pengamatan dan pelaporan.
4. Pemilihan Hewan Uji.
Paling tidak hal yang harus diperhatikan dalam memilih hewan uji, yaitu :
a. species dan strain hewan yang akan digunakan,
b. usia,
c. jenis kelamin dan
d. jumlahnya.
Species mamalia yang umum digunakan adalah tikus, mencit dan
kelinci. Untuk unggas digunakan embrio ayam (percobaan in ovo).
Kemajuan teknik laboratorium yang ada sekarang dan reaksi dari
pemerhati hak binatang telah membuka kemungkinan penggunaan
hanya organ, jaringan atau sel saja menggantikan hewan uji (kultur
organ atau kultur sel melalui percobaan in vitro). Teknik ini sangat
penting terutama dalam upaya mengungkap mekanisme teratogenesis
suatu agensia. Di Indonesa hewan uji yang populer digunakan adalah
mencit dan tikus, karena itu tulisan ini selanjutnya akan membicarakan
pengujian dengan menggunakan hewan uji tersebut.
Hewan betina yang digunakan adalah betina dara sedangkan untuk
jantan dipilih pejantan yang sudah terbukti baik fertilitasnya. Hewan
dikawinkan di malam hari dengan cara mencampur 1 jantan dengan 3
betina dalam satu kandang. Jika keesokan harinya ditemukan adanya
sumbat vagina (vaginal plug) atau adanya sperma di vagina yang
dideteksi melalui pemeriksaan mikroskopis apusan vagina, maka itu
pertanda perkawinan sudah berlangsung dan hari tersebut dtentukan
sebagai hari ke nol kebuntingan.
Jumlah hewan uji yang digunakan paling tidak sebanyak 20 ekor betina
bunting untuk tiap kelompok perlakuan. Karena kelompok perlakuan
biasanya terdiri atas paling tidak 3 taraf dan 1 kelompok kontrol, maka
jumlah hewan bunting yang dibutuhkan adalah 80 ekor.
5. Pemberian Perlakuan.
Untuk agensia berupa senyawa kimia, dosis tertinggi perlakuan
sebaiknya tidak > 1000 mg/kg berat badan per hari dengan pemberian
per oral atau subkutan, sedangkan untuk agensia lain disesuaikan
dengan besaran paparan yang mungkin diterima dari lingkungan.
Dosis tertinggi sebaiknya lebih kecil dari angka LD-50 dan 2 kelompok
dosis berikutnya ditata dengan interval sama di bawah dosis tertinggi
tadi (misalnya LD-50, 2/3 LD-50, 1/3 LD-50, dan kontrol).
Kelompok kontrol disesuaikan dengan percobaan. Aturan yang umum
digunakan adalah apabila agensia dilarutkan dengan suatu pelarut
maka kepada kelompok kontrol diberikan pelarut saja dengan cara
pemberian yang persis sama dengan cara pemberian pada kelompok
perlakuan. Untuk kontrol positif dapat dipilih agensia-agensia yang
sudah dikenali memiliki efek teratogenik. Penggunaan kontrol positip
adalah untuk menilai kepekaan strain yang digunakan.
Cara pemberian perlakuan yang paling umum adalah pemberian per
oral (pencekokan). Cara lain dapat dipilih dengan pertimbangan
khusus, seperti inhalasi, subkutan, intraperitoneal atau intramuskuler.
Pertimbangan utama dalam pemilihan cara-cara itu adalah
kemiripannya dengan cara masuk agensia toksis tadi ke dalam tubuh.
Durasi perlakuan disesuaikan dengan tujuan pengujian. Untuk
pengujian toksisitas perkembangan umum perlakuan dapat diberikan
selama masa kebuntingan. Dapat juga diberikan perlakuan tunggal 1
kali saja pada titik waktu spesifik jika yang akan diamati adalah efek
suatu agensia terhadap perkembangan organ tertentu.
Yang paling umum dilakukan adalah pemberian perlakuan dalam
beberapa hari saja, yaitu selama masa organogenesis (hari ke 6 hingga
hari ke 15).
6. Pengamatan.
Meskipun pengujian ini disebut uji tokskologi perkembangan ruang
lingkup pengamatan tidaklah terbatas pada embrio yang sedang
berkembang itu saja melainkan juga mencakup beberapa bagian
pengamatan terhadap induk.
Induk hewan coba diamati kondisi kesehatannya setiap hari dan hal-hal
khusus seperti adanya gejala keracunan atau kematian dicatat. Berat
badan ditimbang paling tidak sekali 3 hari. Data berat badan selain
sebagai petunjuk efek toksik terhadap induk juga digunakan untuk
menentukan jumlah pemberian perlakuan (mg/kg berat badan). Hewan
coba dipelihara dengan baik selama kebuntingan dan selanjutnya
dikurbankan 1 hari sebelum melahirkan (tikus hari ke-20/21; mencit
hari ke-19). Betina tidak dibiarkan sampai melahirkan karena jika itu
terjadi ia akan memakan anak-anaknya yang cacat. Hewan uji dibedah
caesar dengan membuat irisan di garis tengah ventral tubuh mulai dari
area bukaan genitalia hingga ke leher. Rongga perut dan rongga dada
dibuka dan organ dalam tubuh diamati. Uterus diangkat dan ditimbang
bersama-sama dengan embrio di dalamnya. Selanjutnya uterus
ditempatkan di dalam cairan fisiologis, lalu dibelah dan embrionya
dilepas.
Pada saat ini juga status implantasi dipastikan: fetus yang berkembang
penuh dan merespon sentuhan dikategorikan fetus hidup; fetus yang
berkembang penuh dan tidak ada tanda-tanda autolisis tetapi tidak
merespon sentuhan dikategorikan fetus mati; implantasi yang
menunjukkan adanya ciri-ciri fetus tetapi mengalami autolisis
digolongkan sebagai fetus yang diresorpsi pada tingkat lanjut (late
resorption); implantasi yang tidak menunjukkan adanya karakteristik
fetus digolongkan pada fetus yang mengalami resorpsi dini (early
resorption). Selanjutnya ovarium diamati dan jumlah corpora lutea
dihitung. Jumlah corpora lutea umumnya bersesuaian dengan jumlah
implantasi karena corpora lutea adalah petunjuk folikel yang berovulasi
dan berubah menjadi badan hormonal yang berperan dalam
mempertahankan kebuntingan. Kehilangan sebelum implantasi dapat
dihitung berdasarkan selisih antara jumlah corpora lutea dengan
jumlah implantasi.
Tanda-tanda keracunan induk diamati pada organ-organ visceral.
Kelenjar timus diamati ukuran, warna dan adanya tanda-tanda
hemoragi. Pulmo diamati ukuran, warna dan jumlah lobusnya, demikian
juga hepar diamati ukuran, warna, tekstur dan jumlah lobusnya.
Lambung dibuka dengan sayatan sepanjang curvatura besar dan
permukaan mukosalnya diamati. Ginjal diamati bentuk, ukuran, warna
dan kelainan yang mungkin terlihat dari luar, dan selanjutnya dibelah
untuk mengamati struktur internalnya. Tiap-tiap kelainan dicatat dan
sedapat mungkin didokumentasikan dengan fotografi dan jaringan
yang mengalami kelainan tersebut difiksasi dengan formalin atau
larutan Bouin dan diproses melalui metode parafin untuk pembuatan
sediaan bagi pengamatan histologis.
Pengamatan fetus dimulai dengan penimbangan berat badan.
Penimbangan hendaknya dilakukan ketika fetus masih segar (segera
setelah uterus dibuka, sebelum fetus difiksasi). Pengamatan
malformasi dimulai dari daerah kepala. Pertama-tama diperhatikan
bentuk dan ukuran kepala serta adanya tanda-tanda gangguan
penutupan (closure defect). Di kepala harus terdapat 2 tonjolan mata
(masih tertutup), 2 nares, 5 papila fascialis,dan 2 pinnae. Mulut dan
bibir diamati ukuran, betuk dan adanya gangguan perkembangan.
Mulut dibuka untuk mengamati dan memastikan ada tidaknya celah di
langit-langit mulut (cleft palate). Kemudian aspek ventral dan dorsal
tubuh diamati apakah ada closure defect, dan dilanjutkan dengan
pengamatan tungkai. Pada tungkai diamati ukuran, kelengkapan ruas
dan arah rotasi / fleksi bahu, siku, telapak dan jemari. Jumlah jemari
(masing-masing 5 depan dan 5 belakang) dihitung dan adanya kelainan
pada jumlah ukuran, fusi atau adanya selaput dicatat. Ekor juga
diamati keberadaan, ukuran dan pembengkokannya. Ekor selanjutnya
diangkat dan jarak antara bukaan anus dengan genitalia diperkirakan
untuk penentuan jenis kelamin (jarak tersebut sangat dekat pada
betina dan jauh pada jantan). Selanjutnya kira-kira setengah bagian
dari jumlah fetus yang diperoleh difiksasi dengan alkohol 95 % dan
setelah beberapa hari dieviserasi dan dikuliti. Fiksasi dipertahankan
hingga 2 mnggu, kemudian fetus diwarnai dengan Alcian blue dan
Alizarin Red S dan selanjutnya dibuat transparan dalam gliserin.
Dengan teknik ini dapat diamati secara langsung komponen tulang
(merah) dan kartilago (biru) fetus dan kelainannya. Pengamatan rangka
meliputi adanya hambatan atau percepatan penulangan, kelainan
bentuk dan jumlah komponen rangka. Rangka diamati mulai dari
cranium, sternum, columna vertebralis, os pectoralis, os pelvis, tulang-
tulang tungkai dan terutama jemari. Jumlah komponen tulang telapak
dan jemari yang telah mengalami penulangan dihitung. Kelainan
struktur komponen rangka yang sering teramati adalah hambatan
osifikasi, penambahan atau pengurangan jumlah costae, centrum
vertebra berbentuk kupu-kupu, costae menggelombang, fusi rusuk, fusi
vertebra, tungkai pekuk dan lain-lain
7. Pelaporan
Salomo Hutahean, Prinsio-prinsip Uji Toksikologi Perkembangan

Uji Teratogenitas

Sifat pemberian: dosis berulang


Tujuan :
o Menentukan apakah suatu obat dapat menyebabkan kelainan /cacat
bawaan pada janin yang dikandung oleh hewan bunting
o Menentukan apakah cacat tersebut terkait dengan dosis obat yang
diberikan
Tata Laksana Umum Uji Teratogenitas
o 2spesies, roden &non-roden masih perawan dan daur estrusnya teratur
satu galur, dewasa sehat, variasi bobot 10%
o 3 kelompok tk dosis + kontrol negatif + kontrol positif (@ 20-30 ekor
mencit/tikus, @ 12 ekor kelinci)
Pengawinan & Penetapan masa bunting

o pagi: betina fase proestrus


o sore: + jantan dlm satu kandang (jam 5-6 sore)
o Pagi+1: dipisahkan, apus vagina (mikroskopis)
o Sperma(+) --> H0 masa bunting
Dosis Teratogenik

o Umumnya antara LD semua induk/janin dan dosis yg tdk menimbulkan


efek teratogenik
o Mungkin setara dgn dosis subtoksik pada uji toks.subkronis dgn spesies yg
sama 1/4 1/3 LD50 induk
o Tentatif, 1x, 2x, 4x, dst dosis tx manusia (setelah dikonversi)
Pemberian Dosis

o Dosis tertinggi efek negatif induk (-), misal sedasi


o Dosis terendah harus meliputi dosis terapi
o Setidaknya 1 jalur sesuai rencana pada manusia
o 1 dd selama masa organogenesis
Pengamatan

o Sejak diakhirinya masa bunting, 12-14 jam pra partus normal (bedah
Ceisar)
o Kriteria pengamatan: Biometrika janin /jabang bayi
Grosmorfologi
Histopatologi Kelainan rangka

Biometrika janin: angka kematian, angka resorpsi, angka cacat, berat


plasenta, dan berat janin, perlu data : Jumlah korpora lutea pada kedua
ovarium

Jumlah seluruh janin dalam uterus

Jumlah bayi lahir hidup dan lahir mati

Jumlah bayi lahir cacat

Gros morfologi, kelengkapan & kelainan : tangan, kaki, ekor, telinga, mata,
bibir, celah langit, dan adanya kongesti

Histopatologi : kelainan selular

Kelainan rangka : sistem skeletal

Pewarnaan alizarins

Rerata penulangan sternum, vertebra, dan rusuk

% janin dengan penulangan pada karpal dan tarsal

% kelainan rangka sumbu janin

Sinar-X (Ro:)

Analisis &Evaluasi

Perbedaan antar kelompok perlakuan : Analisis statistik (taraf kepercayaan


95%)

Chi Kuadrat (jumlah kematian &jumlah


cacat)

Anova searah

Mann-Whitney (data histopatologi)

Potensi teratogenitas

Hubungan teratogenitas-dosis obat

Wujud efek teratogenitas (makros&mikros, skeletal)


Uji Toksisitas Sub Kronik

Secara normal uji toksisitas subkronik memerlukan studi inhalasi atau


penelanan selama 90 hari untuk mengetahui efek-efek spesifik dan nyata dari
bahan kimia pada organ dan biokimia dari binatang. Pengujian toksisitas
sebaiknya dilakukan secara berulang-ulang dan diarahkan terutama untuk
mendeteksi efek toksik yang secara jelas bukan akibat dari pemaparan kulit.

Pengujian secara kasar hanya berdasarkan pengamatan abnormalitas secara


pengamatan kasar dengan mata telanjang, tetapi untuk pengujian yang lebih
mendalam perlu pengambilan irisan suatu jaringan dan diperiksa di bawah
mikroskop untuk mengetahui terjadi abnormalitas sel-sel dalam organ. Pada
umumnya dalam pengujian perlu pengambilan cuplikan darah atau urin secara
teratur dari binatang percobaan untuk pemeriksaan dan analisis. Pengujian-
pengujian ini merupakan dasar bagi dosis yang digunakan dalam uji hayati
kronik

Uji hayati kronik (seumur hidup)

Maksud dari uji hayati kronik (seumur hidup), untuk menentukan apakah
bahan kimia dapat menimbulkan setiap efek kesehatan yang mungkin
memerlukan waktu yang lama untuk menimbulkan suatu efek seperti kanker,
atau paparan jangka panjang terhadap bahan kimia menimbulkan efek
kesehatan pada organ seperti ginjal.

Percobaan ini dilakukan dengan memberikan dosis tertentu bahan kimia


terhadap hewan percobaan melalui penelanan atau inhalasi terhadap bahan
kimia yang sedang diuji selama masa hidupnya. Untuk mencit dapat memakan
waktu hingga 2 tahun sedangkan untuk tikus sedikit lebih singkat. Dalam suatu
uji khusus, 50 ekor rnencit atau tikus dari tiap jenis kelamin diberi perlakuan
paparan bahan kimia yang sedang diuji dengan dosis tinggi tetapi tidak
mematikan.

Binatang percobaan ini dibandingkan dengan binatang sebagai kontrol dalam


jumlah yang sama dengan jumlah binatang percobaan dalam waktu yang sama.
Binatang kontrol ini serupa dalam segala hal dengan binatang percobaan,
perbedaannya bahwa binatang kontrol tersebut tidak diberi perlakuan
pemaparan bahan kimia. Suatu percobaan yang baik yaitu dengan memberikan
perlakuan pemaparan untuk kedua jenis kelamin terhadap bahan kimia dengan
dosis yang berbeda. Dalam suatu percobaan efek bahan kimia dapat
menggunakan binatang percobaan hingga 500 ekor

Uji Mutagenitas jangka pendek

Bakteri dan sel binatang yang tumbuh dalam tabung uji dari koloni serangga
buah-buahan atau serangga lain cocok untuk penyelidikan yang cepat dan
rnurah dalarn usaha mengetahui bahan kirnia yang potensial mempunyai efek
karsinogenik dan mutagenik. Uji yang paling baik dan paling banyak digunakan
adalah uji mutagenitas Salmonella (umumnya dikenal sebagai uji Ames). Uji ini
membutuhkan bakteriyang tumbuh secara khusus di laboratorium dan
memaparkannya terhadap bahan kimia yang diuji. Uji tersebut untuk mendeteksi
mutasi dalam bakteri yaitu untuk uji efek mutagenik.

Terdapat sejumlah uji mutagenik jangka pendek yang lain atau pengujian
mutagenitas (mutagenity assay). Uji ini sering kali dirujuk sebagai uji in vitro. Jadi
uji ini dibedakan dengan uji in vivo yang menggunakan jaringan hidup seperti
binatang dan manusia. Banyak bahan kimia dapat menyebabkan kanker pada
binatang dan mungkin menimbulkan kanker pada manusia bersifat mutagenik

Uji yang herhubungan dengan reproduksi

Uji binatang percobaan untuk memeriksa efek yang merugikan dari suatu
bahan kimia pada reproduksi memerlukan perlakuan pemaparan terhadap
seekor atau kedua induk terhadap bahan kimia yang sedang diuji sebelum kawin,
kemudian diamati efek-efeknya pada setiap keturunannya. Kadang-kadang
perlakuan paparannya diberikan pada seekor binatang yang sedang hamil.

Efek reproduksi dapat diklasifikasikan dengan hasil-hasil temuan seperti


apakah keturunannya lebih sedikit jumlahnya, bobot tubuh yang lebih ringan
atau dalam beberapa hal mengalami kerusakan. Uji rnultigenerasi kadang-
kadang diperlukan untuk mendeteksi efek yang dapat diwariskan bagi generasi
berikutnya

Uji FARMAKOKINETIK

Sesuai dg nama yg diberikan pada uji ini, obat diberikan pada dosis terapi utk
dilihat kinetika obat (jumlah dan kecepatan obat) dalam saluran
sistemik/peredaran darah umum.
Dilakukan sampling darah kemungkinan juga urin dan beberapa obat butuh
sample saliva utk menentukan profil obat baik terjadinya absorpsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi = ADME obat = nasib obat dalam tubuh.
Sampling dilakukan sesering mungkin sejak obat diberikan, lamanya sekitar
5-10x T1/2 obat, atau jika belum tahu t1/2 maka harus dilakukan selama
mungkin bisa sampai 12 jam, dilakukan sampling awal tiap 5 menit, diikuti
sampling tiap jam.
Muncul hasil berupa Cmaks (kadar obat maksimal dalam badan), waktu
terjadinya Cmaks disebut Tmaks, jumlah obat dalam badan AUC dan waktu
paro ekskresi=T1/2 obat yang menunjukkan berapa lama obat berada dalam
tubuh dan kapan akan diekskresikan hampir 100% dr dosis awal. T1/2
menjadi dasar penentuan regimen dosis obat (berapa kali dalam sehari obat
bisa diberikan dan aman).
www.miisonline.org/2009/01/31/uji-pada-obat-moderen/
+definisi+uji+preklinik&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id

Santoso, Pamela

3. Apa perbedaan dan karakteristik tiap uji pre klinik?

UJI TOKSISITAS

4. Merupakan uji keamanan pra-klinis


Untuk penapisan spektrum efek toksik

hewan roden dan non-roden

Dripa Sjabana : Uji Toksisitas Akut

Uji praklinik adalah pengujian obat pada reseptor kultur sel terisolasi atau
organ yang terisolasi. Setelah itu diuji pada hewan utuh seperti mencit, tikus,
kelinci, marmot, hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primata.
Hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui efek toksik obat
pada dosis pengobatan. Selain itu toksisitas merupakan cara mengevaluasi
kerusakan genetik (genotoksisitas, mutagenesitas), pertumbuhan tumor
(onkogenisitas dan karsinogenisitas), dan kejadian cacat waktu lahir. Selain uji
pada hewan, juga dikembangkan uji in vitro untuk menentukan khasiat obat.
Contohnya, uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan cell line, uji
antimikroba pada perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi.

5. Macam Uji Toksisitas


c. Uji Toksisitas Umum / Tak Khas
o Dosistunggal:UjiToks.Akut
o Dosisberulang:
Sub akut
Sub-kronis
Kronis
d. Uji Toksisitas Khusus / Khas Reproduksi (teratogenik), karsinogenik, mutagenik,
investigatif
Untuk meneliti berbagai efek yang berhubungan dengan masa pajanan
penelitian toksikologi menurut Frank C. Lu (1995) dibagi dalam :

d. Uji toksisitas akut, dilakukan dengan memberikan zat toksik yang sedang
diuji sebanyak satu kali, atau beberapa kali dalam jangka waktu 24 jam.
e. Uji toksisitas jangka pendek (penelitian sub akut atau sub kronik),
dilakukan dengan memberikan bahan toksik berulang-ulang biasanya
setiap hari atau lima kali seminggu, selama jangka waktu kurang lebih 10
% dari masa hidup hewan.
f. Uji toksisitas jangka panjang, dilakukan dengan memberikan zat kimia
berulang-ulang selama masa hidup hewan coba atau sekurang-kurangnya
sebagian dari masa hidupnya.

Uji Toksisitas akut


Uji Toksisitas Lanjutan meliputi :
o Uji Toksisitas subakut
o Uji Toksisitas kronik
o Uji Toksisitas spesifik
Toksisitas pada janin
Mutagenesitas
SK Menkes No. 761/MENKES/SK/IX/1992 tentang Fitofarmaka

6. Beda antara jenis


Uji toksisitas umum berdasarkan sifat pemberian, lama
pemberian/pemejanan, sasaran uji, luaran uji

c. Uji Toksisitas Akut


o Pengertian
Uji toksisitas merupakan uji keamanan pra-klinis untuk penapisan
spectrum efek toksik. Penelitian ini dirancang untuk menentukan
dosis letal median (LD50) toksikan. Uji toksisitas ini dengan
menggunakan hewan roden dan non roden. Pengujian ini dapat
menunjukan organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik
spesifiknya, serta memberikan petunjuk tentang dosis yang
sebaiknya digunakan dalam pengujian yang lebih lama.

o Sifatpemberian:dosistunggal
o Tujuanutama:
potensi toksisitas akut (kuantitatif)
menilai berbagai gejala toksik yang timbul (kualitatif)
adanya efek toksik yang khas (kualitatif)
mode of death (kualitatif)
o Jargon (data yang diinginkan) Uji Toksisitas
Median Lethal Dose (LD 50 )
Median Toxic Dose (TD 50 )
Besaran statistik dosis tunggal suatu senyawa

Diperkirakan kematian/efek toksik 50% hewan uji

Metode: grafik Lithfield & Wilcoxon

kertas grafik probit logaritma Miller dan Tainter

rerata bergerak

No Effect Dose
Minimum Lethal Dose
o Cara melakukan Uji Toksisitas Akut (1)
Persiapan Hewan Coba :

5. 2 jenis hewan, saran : >4 (roden+non)


6. Jantan dan betina, satu galur, dewasa , sehat, variasi bobot
10% 4 kelompok + kontrol negatif (@ 5 ekor)
7. Kisaran dosis diperkirakan 10-90% mati
8. 3 jalur (WHO). Setidaknya 1 jalur sesuai rencana pada
manusia
o Tata Laksana Uji Toksisitas Akut (2)
Pengamatan 24 jam (s.d. 14 hari)

Kriteria pengamatan :

Secara fisik terhadap gejala toksik


Perubahan berat badan
Jumlah hewan mati
Gros dan histopatologi organ vital
Hasil : spektrum efek toksik, LD 50 /TD 50 , potensi toksisitas

d. Uji Toksisitas Kronis


o Sifat pemberian: dosis berulang
o Tujuan utama:
Spektrum efek toksik terkait dengan organ sasaran
Relasi dosis dengan spektrum efek toksik
Reversibilitas spektrum efek toksik
o Cara Uji Toksisitas Kronis
7. 2 jenis hewan
8. Jantan dan betina, satu galur, dewasa, sehat, variasi bobot
10%, 3 kelompok + 1-2 kontrol negatif (@ 10 ekor)
9. Kisarandosisdiperkirakantertinggiadaygtoksik/mati,terendahtidakadagejala;
meliputidosisterapi
10.Sesuairencanayangdilakukanpadamanusiapadamanusia
11.Sebagiandarisetiapkelompokdikorbankandiakhiruji
12.Sisanya (terutama dosis tertinggi &terendah) uji reversibilitas (2-
4 minggu)
Menyangkut organ dan kelenjar

Pengamatan Wujud Efek Toksik

Perubahan biokimiawi, fungsional, &/struktural (kualitatif & kuantitatif)

Pemeriksaan & pengamatan:gejala & tanda toksik, sistem hematologi,fungsi


organ secara biokimiawi, morfologi organ (gross & histopatologi), dan analisis
urin
Manfaat

UjiToksisitasBerulang

Dasarevaluasibatasamanpemakaian

Panduanperancanganujitoksisitasselanjutnya,teratogenitas,danfarmakokinetikadosisberulang
(terutamadalampemilihanhewanujidanperingkatdosis)

Panduandalammenjalankanujiklinik(efektoksik&berbagaitolokukurklinis)

Cara melakukan uji toksisitas


Membuat rancangan

Rancangan Penelitian Eksperimen

Semua rancangan percobaan atau eksperimen mempunyai


karakteristik sentral yaitu didasarkan pada adanya manipulasi variabel
bebas dan mengukur efek pada variabel terikat. Rancangan eksperimen
klasik terdiri dan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok
eksperimen, variabel bebasnya dimanipulasi. Dalam kelompok kontrol
variabel terikatnya yang diukur, maka tidak ada perubahan yang dibuat
pada variabel bebasnya.

Secara umum ciri rancangan penelitian eksperimen yang baik adalah:

1. Subyek secara acak dipilih ke dalam kelompok-kelompok


2. Peneliti merancang manipulasi yang akan diberikan pada variabel
eksperimen dan dilakukan kontrol yang ketat.
3. Terdapat setidak-tidaknya dua kelompok yaitu kelompok eksperimen
dan kontrol yang satu sama lain sebagai pembanding.
4. Selalu digunakan analisis varians untuk meminimalkan varians dan
error dan memaksimumkan varians dari variable yang diteliti dan
berkaitan dengan hipotesis yang ditetapkan.
Oleh karena peneliti harus mampu melakukan kontrol yang ketat terhadap
variabel eksperimen, maka ada tiga prinsip dasar dalam pelaksanaan
rancangan eksperimen yaitu:

4. Replikasi, pengulangan dari eksperimen dasar. Hal ini berguna untuk


memberikan estimasi yang lebih tepat terhadap error eksperimen dan
memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap rata-rata pengaruh
yang ditimbulkan dan perlakuan.
5. Randomisasi, bermanfaat untuk meningkatkan validitas dan
mengurangi bias utamanya dalam hal pembagian kelompok dan
perlakuan.
6. Kontrol internal, melakukan penimbangan. bloking. dan
penge4ompokan dan unit-unit percobaan yang digunakan. Hal ini
bermanfaat untuk membuat prosedur yang lebih akurat, efisien, dan
sensitif.
Error eksperimen dalam sebuah penelitian eksperimen dapat terjadi
karena beberapa hal, yaitu:

a. Kesalahan dari percobaan yang sedang dilakukan.

b. Kesalahan pengamatan.

c. Kesalahan pengukuran.

d. Variasi dan bahan yang digunakan dalam percobaan.

e. Pengaruh kombinasi dari faktor-faktor luar.

Semakin banyak replikasi memang membawa konsekuensi penelitian


eksperimen itu mahal dan memakan waktu relatif lama. Oleh karena itu,
pertimbangan untuk menentukan banyaknya replikasi sangat ditentukan
oleh:

a. Luas dan banyaknya jenis unit percobaan.

b. Bentuk unit percobaan.

c. Variabilitas dan ketersediaan material percobaan.

d. Derajat ketelitian yang diinginkan. Derajat kebebasan diharapkan tidak


boleh kurang dan 10-15

4. Rancangan Eksperimental-Sungguhan (trueexperimental research)


Tujuan penelitian eksperimental sungguhan adalah untuk menyelidiki
kemungkinan saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan
kepada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi
perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih
kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.

Rancangan eksperimental sungguhan yang cukup dikenal adalah:

a. Post test-only Control group design


Dalam model rancangan ml, kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol dibentuk dengan prosedur random, sehingga keduanya
dapat dianggap setara. Selanjutnya kelompok eksperimen diberikan
perlakuan. Setelah perlakuan telah diberikan dalam jangka waktu
tertentu, maka setelah itu dilakukan pengukuran variabel terikat
pada kedua kelompok tersebut, dan hasilnya dibandingkan
perbedaannya.

Model rancangan ini cocok untuk kondisi yang tidak dimungkinkan


diakukan pre test atau ketika dikhawatirkan akan adanya interaksi
antara pre test dengan perlakuan yang diberikan. Rancangan ml
mampu mengendalikan faktor histori, maturasi, dan pre tes, tetapi
tidak mampu mengukur besarnya efek dan faktor-faktor tersebut.

b. Pre test-post tes control group design


Rancangan ini lebih baik dan rancangan eksperimen tanpa pre tes,
karena akan lebih akurat dalam memperoleh akibat dan suatu
perlakuan dengan perbandingan keadaan dan variabel terikat pada
kelompok eksperimen setelah dikenal perlakuan dan variabel
kontrol yang tidak dikenai oleh perlakuan.

c. Solomon four group design


Rancangan solomon ini memang tidak banyak digunakan pada
jumlah sampel penelitian yang kecil, namun pada penelitian
pertanian dan sosial sering digunakan. Rancangan ini memiliki
keunggulan untuk mengurangi pengaruh pre-test terhadap unit
percobaan dan mengurangi error interaksi antara pre-test dengan
perlakuan.

Rancangan ini terdiri dari 4 kelompok, yaitu 2 kelompok yang


dilakukan pre test-post tes dan 2 kelompok yang dilakukan pre tes-
posttes. Secara konkret dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. kelompok perlakuan dan kontrol dengan pre test.


2. kelompok perlakuan dan kontrol tanpa pre test.

Khusus faktorial, pada dasarnya bukan merupakan rancangan


penelitian, tetapi memang sebuah penelitian eksperimen. Oleh
karena itu eksperimen faktorial bisa didekati dengan berbagai
rancangan, misalnya dengan randomized complete block.
Keuntungan dan eksperimen faktorial adalah dimungkinkan untuk
mengetahui pengaruh interaksi antar faktor. Oleh karena itu, semua
prinsip dasar penelitian eksperimen harus tetap ada, agar error
eksperimen dapat diukur.

5. Rancangan Eksperimental Semu (Quasi-Experimental Research)


Tujuan rancangan eksperimental-semu adalah untuk memperoleh
informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat
diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang
tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan
semua variabel yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti
kompromi apa yang ada pada validitas internal dan validitas eksternal
rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan
tersebut.

Ciri-ciri rancangan eksperimen semu adalah:

a. Manipulasi eksperimen hanya pada variabel bebas.

b. Tidak ada pemilihan secara acak untuk kelompok dan atau

c. Tidak ada kelompok kontrol.

6. Rancangan penelitian uji klinik


Rancangan penelitian uji klinik sangat khas karena berkaitan dengan
pencapaian tujuan untuk mengetahui khasiat obat, efek samping obat,
dosis optimal untuk orang Indonesia, dan membandingkan efek obat
lain. Dalam hal ini rancangan penelitian uji klinik bersifat eksperimental
dan komparatif. Oleh karena itu dalam rancangan uji klinik, dikenal
perlakuan dan plasebo.

Plasebo adalah bahan inert, tidak berkhasiat, tidak mempunyai efek


metabolik yang berarti, tidak toksik, tidak alergenik, dan tidak memiliki
efek farmakologik terhadap penyakit yang sedang diobati. Plasebo
harus diberikan dalam keadaan yang sama dengan obat yang diteliti
dalam arti : bentuk, rasa, dan warna, sehingga penderita tidak dapat
membedakannya dengan obat yang diteliti.

Prosedur pengujian dapat dibagi menjadi 4 tahapan kegiatan, yaitu pemilihan


hewan uji, pemberian perlakuan, pengamatan dan pelaporan.
8. Pemilihan Hewan Uji.
Paling tidak hal yang harus diperhatikan dalam memilih hewan uji, yaitu :

a. species dan strain hewan yang akan digunakan,


b. usia,
c. jenis kelamin dan
d. jumlahnya.
Species mamalia yang umum digunakan adalah tikus, mencit dan
kelinci. Untuk unggas digunakan embrio ayam (percobaan in ovo).
Kemajuan teknik laboratorium yang ada sekarang dan reaksi dari
pemerhati hak binatang telah membuka kemungkinan penggunaan
hanya organ, jaringan atau sel saja menggantikan hewan uji (kultur
organ atau kultur sel melalui percobaan in vitro). Teknik ini sangat
penting terutama dalam upaya mengungkap mekanisme teratogenesis
suatu agensia. Di Indonesa hewan uji yang populer digunakan adalah
mencit dan tikus, karena itu tulisan ini selanjutnya akan membicarakan
pengujian dengan menggunakan hewan uji tersebut.
Hewan betina yang digunakan adalah betina dara sedangkan untuk
jantan dipilih pejantan yang sudah terbukti baik fertilitasnya. Hewan
dikawinkan di malam hari dengan cara mencampur 1 jantan dengan 3
betina dalam satu kandang. Jika keesokan harinya ditemukan adanya
sumbat vagina (vaginal plug) atau adanya sperma di vagina yang
dideteksi melalui pemeriksaan mikroskopis apusan vagina, maka itu
pertanda perkawinan sudah berlangsung dan hari tersebut dtentukan
sebagai hari ke nol kebuntingan.
Jumlah hewan uji yang digunakan paling tidak sebanyak 20 ekor betina
bunting untuk tiap kelompok perlakuan. Karena kelompok perlakuan
biasanya terdiri atas paling tidak 3 taraf dan 1 kelompok kontrol, maka
jumlah hewan bunting yang dibutuhkan adalah 80 ekor.
9. Pemberian Perlakuan.
Untuk agensia berupa senyawa kimia, dosis tertinggi perlakuan
sebaiknya tidak > 1000 mg/kg berat badan per hari dengan pemberian
per oral atau subkutan, sedangkan untuk agensia lain disesuaikan
dengan besaran paparan yang mungkin diterima dari lingkungan.
Dosis tertinggi sebaiknya lebih kecil dari angka LD-50 dan 2 kelompok
dosis berikutnya ditata dengan interval sama di bawah dosis tertinggi
tadi (misalnya LD-50, 2/3 LD-50, 1/3 LD-50, dan kontrol).
Kelompok kontrol disesuaikan dengan percobaan. Aturan yang umum
digunakan adalah apabila agensia dilarutkan dengan suatu pelarut
maka kepada kelompok kontrol diberikan pelarut saja dengan cara
pemberian yang persis sama dengan cara pemberian pada kelompok
perlakuan. Untuk kontrol positif dapat dipilih agensia-agensia yang
sudah dikenali memiliki efek teratogenik. Penggunaan kontrol positip
adalah untuk menilai kepekaan strain yang digunakan.
Cara pemberian perlakuan yang paling umum adalah pemberian per
oral (pencekokan). Cara lain dapat dipilih dengan pertimbangan
khusus, seperti inhalasi, subkutan, intraperitoneal atau intramuskuler.
Pertimbangan utama dalam pemilihan cara-cara itu adalah
kemiripannya dengan cara masuk agensia toksis tadi ke dalam tubuh.
Durasi perlakuan disesuaikan dengan tujuan pengujian. Untuk
pengujian toksisitas perkembangan umum perlakuan dapat diberikan
selama masa kebuntingan. Dapat juga diberikan perlakuan tunggal 1
kali saja pada titik waktu spesifik jika yang akan diamati adalah efek
suatu agensia terhadap perkembangan organ tertentu.
Yang paling umum dilakukan adalah pemberian perlakuan dalam
beberapa hari saja, yaitu selama masa organogenesis (hari ke 6 hingga
hari ke 15).
10.Pengamatan.
Meskipun pengujian ini disebut uji tokskologi perkembangan ruang
lingkup pengamatan tidaklah terbatas pada embrio yang sedang
berkembang itu saja melainkan juga mencakup beberapa bagian
pengamatan terhadap induk.
Induk hewan coba diamati kondisi kesehatannya setiap hari dan hal-hal
khusus seperti adanya gejala keracunan atau kematian dicatat. Berat
badan ditimbang paling tidak sekali 3 hari. Data berat badan selain
sebagai petunjuk efek toksik terhadap induk juga digunakan untuk
menentukan jumlah pemberian perlakuan (mg/kg berat badan). Hewan
coba dipelihara dengan baik selama kebuntingan dan selanjutnya
dikurbankan 1 hari sebelum melahirkan (tikus hari ke-20/21; mencit
hari ke-19). Betina tidak dibiarkan sampai melahirkan karena jika itu
terjadi ia akan memakan anak-anaknya yang cacat. Hewan uji dibedah
caesar dengan membuat irisan di garis tengah ventral tubuh mulai dari
area bukaan genitalia hingga ke leher. Rongga perut dan rongga dada
dibuka dan organ dalam tubuh diamati. Uterus diangkat dan ditimbang
bersama-sama dengan embrio di dalamnya. Selanjutnya uterus
ditempatkan di dalam cairan fisiologis, lalu dibelah dan embrionya
dilepas.
Pada saat ini juga status implantasi dipastikan: fetus yang berkembang
penuh dan merespon sentuhan dikategorikan fetus hidup; fetus yang
berkembang penuh dan tidak ada tanda-tanda autolisis tetapi tidak
merespon sentuhan dikategorikan fetus mati; implantasi yang
menunjukkan adanya ciri-ciri fetus tetapi mengalami autolisis
digolongkan sebagai fetus yang diresorpsi pada tingkat lanjut (late
resorption); implantasi yang tidak menunjukkan adanya karakteristik
fetus digolongkan pada fetus yang mengalami resorpsi dini (early
resorption). Selanjutnya ovarium diamati dan jumlah corpora lutea
dihitung. Jumlah corpora lutea umumnya bersesuaian dengan jumlah
implantasi karena corpora lutea adalah petunjuk folikel yang berovulasi
dan berubah menjadi badan hormonal yang berperan dalam
mempertahankan kebuntingan. Kehilangan sebelum implantasi dapat
dihitung berdasarkan selisih antara jumlah corpora lutea dengan
jumlah implantasi.
Tanda-tanda keracunan induk diamati pada organ-organ visceral.
Kelenjar timus diamati ukuran, warna dan adanya tanda-tanda
hemoragi. Pulmo diamati ukuran, warna dan jumlah lobusnya, demikian
juga hepar diamati ukuran, warna, tekstur dan jumlah lobusnya.
Lambung dibuka dengan sayatan sepanjang curvatura besar dan
permukaan mukosalnya diamati. Ginjal diamati bentuk, ukuran, warna
dan kelainan yang mungkin terlihat dari luar, dan selanjutnya dibelah
untuk mengamati struktur internalnya. Tiap-tiap kelainan dicatat dan
sedapat mungkin didokumentasikan dengan fotografi dan jaringan
yang mengalami kelainan tersebut difiksasi dengan formalin atau
larutan Bouin dan diproses melalui metode parafin untuk pembuatan
sediaan bagi pengamatan histologis.
Pengamatan fetus dimulai dengan penimbangan berat badan.
Penimbangan hendaknya dilakukan ketika fetus masih segar (segera
setelah uterus dibuka, sebelum fetus difiksasi). Pengamatan
malformasi dimulai dari daerah kepala. Pertama-tama diperhatikan
bentuk dan ukuran kepala serta adanya tanda-tanda gangguan
penutupan (closure defect). Di kepala harus terdapat 2 tonjolan mata
(masih tertutup), 2 nares, 5 papila fascialis,dan 2 pinnae. Mulut dan
bibir diamati ukuran, betuk dan adanya gangguan perkembangan.
Mulut dibuka untuk mengamati dan memastikan ada tidaknya celah di
langit-langit mulut (cleft palate). Kemudian aspek ventral dan dorsal
tubuh diamati apakah ada closure defect, dan dilanjutkan dengan
pengamatan tungkai. Pada tungkai diamati ukuran, kelengkapan ruas
dan arah rotasi / fleksi bahu, siku, telapak dan jemari. Jumlah jemari
(masing-masing 5 depan dan 5 belakang) dihitung dan adanya kelainan
pada jumlah ukuran, fusi atau adanya selaput dicatat. Ekor juga
diamati keberadaan, ukuran dan pembengkokannya. Ekor selanjutnya
diangkat dan jarak antara bukaan anus dengan genitalia diperkirakan
untuk penentuan jenis kelamin (jarak tersebut sangat dekat pada
betina dan jauh pada jantan). Selanjutnya kira-kira setengah bagian
dari jumlah fetus yang diperoleh difiksasi dengan alkohol 95 % dan
setelah beberapa hari dieviserasi dan dikuliti. Fiksasi dipertahankan
hingga 2 mnggu, kemudian fetus diwarnai dengan Alcian blue dan
Alizarin Red S dan selanjutnya dibuat transparan dalam gliserin.
Dengan teknik ini dapat diamati secara langsung komponen tulang
(merah) dan kartilago (biru) fetus dan kelainannya. Pengamatan rangka
meliputi adanya hambatan atau percepatan penulangan, kelainan
bentuk dan jumlah komponen rangka. Rangka diamati mulai dari
cranium, sternum, columna vertebralis, os pectoralis, os pelvis, tulang-
tulang tungkai dan terutama jemari. Jumlah komponen tulang telapak
dan jemari yang telah mengalami penulangan dihitung. Kelainan
struktur komponen rangka yang sering teramati adalah hambatan
osifikasi, penambahan atau pengurangan jumlah costae, centrum
vertebra berbentuk kupu-kupu, costae menggelombang, fusi rusuk, fusi
vertebra, tungkai pekuk dan lain-lain
11.Pelaporan
Salomo Hutahean, Prinsio-prinsip Uji Toksikologi Perkembangan

4. Kriteria obat tradisional yang bisa dilakukan uji pre klinik


Diharapkan obat berkhasiat pd penyakit peringkat teratas
Utk alternatif pengobatan

5. Tahapan uji pre klinik

Uji praklinik merupakan persyaratan uji untuk calon obat


Dari uji praklinik diperoleh informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil
farmakokinetik dan toksisitas calon obat.
Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat
pada reseptor dengan kultur sel terisolasi atau organ terisolasi, selanjutnya
dipandang perlu menguji pada hewan utuh.
Hewan yang baku digunakan adalah galur tertentu dari mencit, tikus, kelinci,
marmot, hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primata, hewan-
hewan ini sangat berjasa bagi pengembangan obat.
Hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui apakah obat
menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau aman
Penelitian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi :
o Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau
kronis
o Kerusakan genetik (genotoksisitas, mutagenisitas)
o Pertumbuhan tumor (onkogenisitas atau karsinogenisitas)
o Kejadian cacat waktu lahir (teratogenisitas)
Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik
obat meliputi ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi) obat.
Semua hasil pengamatan pada hewan menentukan apakah dapat diteruskan
dengan uji pada manusia.
Ahli farmakologi bekerja sama dengan ahli teknologi farmasi dalam
pembuatan formula obat, menghasilkan bentuk-bentuk sediaan obat yang
akan diuji pada manusia.
Di samping uji pada hewan, untuk mengurangi penggunaan hewan percobaan
telah dikembangkan pula berbagai uji in vitro untuk menentukan khasiat obat
contohnya uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan cell line, uji anti
mikroba pada perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi dan lain-
lain untuk menggantikan uji khasiat pada hewan tetapi belum semua uji
dapat dilakukan secara in vitro. Uji toksisitas sampai saat ini masih tetap
dilakukan pada hewan percobaan, belum ada metode lain yang menjamin
hasil yang menggambarkan toksisitas pada manusia, untuk masa yang akan
datang perlu dikembangkan uji toksisitas secara in vitro.
http://www.itb.ac.id/focus/focus_file/orasi-ilmiah-dies-45.pdf

6. Apakah ada indikator untuk menentukan tolerabilitas,khasiat dan keamanan?


Uji Teratogenitas

Sifat pemberian: dosis berulang


Tujuan :
o Menentukan apakah suatu obat dapat menyebabkan kelainan /cacat
bawaan pada janin yang dikandung oleh hewan bunting
o Menentukan apakah cacat tersebut terkait dengan dosis obat yang
diberikan
Tata Laksana Umum Uji Teratogenitas
o 2spesies, roden &non-roden masih perawan dan daur estrusnya teratur
satu galur, dewasa sehat, variasi bobot 10%
o 3 kelompok tk dosis + kontrol negatif + kontrol positif (@ 20-30 ekor
mencit/tikus, @ 12 ekor kelinci)
Pengawinan & Penetapan masa bunting

o pagi: betina fase proestrus


o sore: + jantan dlm satu kandang (jam 5-6 sore)
o Pagi+1: dipisahkan, apus vagina (mikroskopis)
o Sperma(+) --> H0 masa bunting
Dosis Teratogenik

o Umumnya antara LD semua induk/janin dan dosis yg tdk menimbulkan


efek teratogenik
o Mungkin setara dgn dosis subtoksik pada uji toks.subkronis dgn spesies yg
sama 1/4 1/3 LD50 induk
o Tentatif, 1x, 2x, 4x, dst dosis tx manusia (setelah dikonversi)
Pemberian Dosis

o Dosis tertinggi efek negatif induk (-), misal sedasi


o Dosis terendah harus meliputi dosis terapi
o Setidaknya 1 jalur sesuai rencana pada manusia
o 1 dd selama masa organogenesis
Pengamatan

o Sejak diakhirinya masa bunting, 12-14 jam pra partus normal (bedah
Ceisar)
o Kriteria pengamatan: Biometrika janin /jabang bayi
Grosmorfologi
Histopatologi Kelainan rangka

Biometrika janin: angka kematian, angka resorpsi, angka cacat, berat


plasenta, dan berat janin, perlu data : Jumlah korpora lutea pada kedua
ovarium

Jumlah seluruh janin dalam uterus

Jumlah bayi lahir hidup dan lahir mati

Jumlah bayi lahir cacat

Gros morfologi, kelengkapan & kelainan : tangan, kaki, ekor, telinga, mata,
bibir, celah langit, dan adanya kongesti

Histopatologi : kelainan selular

Kelainan rangka : sistem skeletal

Pewarnaan alizarins

Rerata penulangan sternum, vertebra, dan rusuk

% janin dengan penulangan pada karpal dan tarsal

% kelainan rangka sumbu janin

Sinar-X (Ro:)

Analisis &Evaluasi

Perbedaan antar kelompok perlakuan : Analisis statistik (taraf kepercayaan


95%)

Chi Kuadrat (jumlah kematian &jumlah


cacat)

Anova searah

Mann-Whitney (data histopatologi)

Potensi teratogenitas

Hubungan teratogenitas-dosis obat


Wujud efek teratogenitas (makros&mikros, skeletal)

Indikator tolerabilitas gmn?

7. Bagaimana kriteria obat tradisional bisa lolos uji pre klinik?


Ada khasiat,sedikit ESO, penelitian jarang dilakukan
Standarisasi bahan baku
8. Kriteria hewan coba yg bisa digunakan

Selain itu pemilihan jenis hewan yg dipilih pun harus tepat menggambarkan
kondisi yg diinginkan. Contohnya :

utk obat fertilitas digunakan hewan uji tikus/rat galur Sprague Dowley/SD
bukan Wistar atau jenis tikus lainnya, krn tikus jenis SD memiliki anak banyak
shg pengamatan akan lbh baik dg jumlah sample yg banyak
Utk uji painkiller digunakan mencit/mice jika utk menilai nyeri ringan yakni
dengan penyuntikan asam asetat glacial ke peritoneum mencit, tapi jika
sasarannya nyeri tekanan digunakan tikus bias Wistar atau SD, karena tikus
akan dijepit ekornya atau telapak jarinya dengan alat tertentu, sementara
kalo nyeri berupa panas, digunakan boleh mencit atau tikus krn hewan akan
diletakkan di hot plate.
Utk antidiabetika, seharusnya digunakan babi atau sapi yg pankreasnya
banyak kemiripan dg manusia, namun dengan tikus sudah cukup dengan
adanya keterbatasan subyek uji
Utk antiemetik/anti muntah digunakan burung merpati, krn bisa dirangsang
utk muntah berkali-kali sbg kuantifikasi, sementara hewan lain hanya muntah
sekali.
Utk obat antihipertensi, digunakan kucing atau anjing teranestesi, krn system
kardiovaskulernya paling mirip dg manusia
Utk obat antiinflamasi digunakan baik tikus yang disuntik karagenan di bawah
kulitnya shg melepuh atau telinga mencit disuntik croton oil, bahkan kaki
tikus sering dipotong utk menimbang udem yg terbentuk
utk antipiretik/penurun panas, digunakan kelinci utk diukur suhu duburnya
setelah disuntik pyrogen
Utk asam urat digunakan ayam/burung yg dikasih makan jus hati ayam (ayam
makan ayam) krn metabolisme asam urat pada manusia mirip dg yg terjadi
dg biokimiawi di keluarga burung.
Uji stamina digunakan tikus atau mencit, krn tubuhnya kuat dan tahan di
dalam air, hewan diuji dg berenang dan lari di treadmill.
Uji libido, digunakan tikus dalam keadaan estrus/siap menerima pejantan.
Utk uji kanker, digunakan punggung tikus yg diimplan dg sel kanker, atau
paru-paru tikus setelah dipejankan benzo(a)pirena

PENGENALAN HEWAN COBA

Hewan coba atau sering disebut hewan laboratorium adalah hewan yang
khusus diternakkan untuk keperluan penelitian biologik. Hewan labboratorium
tersebut digunakan sebagai model untuk peneltian pengaruh bahan kimia atau
obat pada manusia. Beberapa jenis hewn dari yang ukurannya terkecil dan
sederhana ke ukuran yang besar dan lebih komplek digunakan untuk keperluan
penelitian ini, yaitu: Mencit, tikus, kelinci, dan kera.

1. Mencit
a. Data biologik normal
- Konsumsi pakan per hari 5 g (umur 8 minggu)

- Konsumsi air minum per hari 6,7 ml (umur 8 minggu)

- Diet protein 20-25%

- Ekskresi urine per hari 0,5-1 ml

- lama hidup 1,5 tahun

- Bobot badan dewasa

Jantan 25-40 g

Betina 20-40 g

- Bobot lahir 1-1,5 g

- Dewasa kelamin (jantan=betina) 28-49 hari

- Siklus estrus (menstruasi) 4-5 hari (polyestrus)

- Umur sapih 21 hari

Mulai makan pakan kering 10 hari

- Rasio kawin 1 jantan 3 betina

- Jumlah kromosom 40
- Suhu rektal 37,5oC

Laju respirasi 163 x/mn

- Denyut jantung 310 840 x/mn

- Pengambilan darah maksimum 7,7 ml/Kg

- Jumlah sel darah merah (Erytrocyt) 8,7 10,5 X 106 / l

- Kadar haemoglobin(Hb) 13,4 g/dl

- Pack Cell Volume (PCV) 44%

- Jumlah sel darah putih (Leucocyte) 8,4 X 103 /l

b. Cara handling
Untuk memegang mencit yang akan diperlakukan (baik pemberian obat
maupun pengambilan darah) maka diperlukan cara-cara yang khusus
sehingga mempermudah cara perlakuannya. Secara alamiah mencit
denderung menggigit bila mendapat sedikit perlakuan kasar. Pengambilan
mencit dari kandang dilakukan dengan mengambil ekornya kemudian
mencit ditaruh pada kawat kasa dan ekornya sedikit ditarik. Cubit kulit
bagian belakang kepala dan jepit ekornya.

Disamping itu secara komersial telah diproduksi sebuah alat untuk


menghandel hewan laboratoium (mencit/tikus) dengan berbagai ukuran,
sehingga memudahkan peneliti untuk mengambil darah atau perlakuan
lainnya

c. Penandaan (identifikasi) hewan laboratorium.


Beberapa cara penandaan hewan lab. Dilakukan untuk mengetahui
kelompok hewan yang diperlakukan berbeda dengan kelompok lain.
Penandaan ini dapat dilakukan secara permanen untuk penelitian jangka
panjang (kronis), sehingga tanda tersebut tidak mudah hilang. Yaitu :
dengan ear tag (anting bernomor), tatoo pada ekor, melubangi daun
telinga dan elektronik transponder.

d. Pengambilan darah
Pada umumnya pengambilan darah terlalu banyak pada hewan kecil dapat
menyebabkan shok hipovolemik, stress dan bahkan dapat menyebabkan
kematian. Tetapi bila dilakukan pengambilan sedikit darah tetapi sering,
juga dapat menyebabkan anemia. Pada umumnya pengambilan darah
dilakukan sekitar 10% dari total volume darah dalam tubuh dan dalam
selang waktu 2-4 minggu. Atau sekitar 1% dengan interval 24 jam. Total
darah yang diambil sekitar 7,5% dari bobot badan. Diperkirakan
pemberian darah tambahan (exsanguination) sekitar setengah dari total
volume darah.

Contohnya: Bobot 25g, total volume darah 1,875 ml, maksimum


pengambilan darah 0,1875 ml, maka emberian exsanguination 0,9375 ml.

Pengambilan darah dapat dilakukan pada lokasi tertentu dari tubuh, yaitu:

- vena lateral dari ekor


o sinus orbitalis mata
o vena saphena (kaki)
o langsung dari jantung.
Sedangan tempat atau lokasi untuk injeksi, volume sediaan dan ukuran
jarum adalah sebagai berikut:

IV IP IM SC Oral

Lokasi Lateral Tidak Belakang


ekor
direkomendas leher
i
Volume 2-3 ml 2-3 ml 5-10 ml/Kg
0,2 ml

Ukuran <21guag <20 Jarum tumpul


jarum <25 guage e guage 22-

24 guage
e. Euthanasia:
Dengan beberapa cara yaitu euthanasia dengan CO2, injeksi barbiturat
over dosis (200mg/Kg) IP atau dengan dislokasi maupun dekapitasi. Yang
terakhir perlu keahlian khusus dan bergantung pada tujuan dilakukan
euthanasia.

2. Tikus.
a. Data biologik
- Konsumsi pakan per hari 5 g/100 g bb

- Konsumsi air minum per hari 8-11 ml/100 g bb

- Diet protein 12%

- Ekskresi urine per hari 5,5 ml/100 g bb

- lama hidup 2,5- 3 tahun

- Bobot badan dewasa

Jantan 300-400 g

Betina 250-300 g

- Bobot lahir 5-6 g

- Dewasa kelamin (jantan=betina) 50+10 hari

- Siklus estrus (menstruasi) 5 hari (polyestrus)

- Umur sapih 21 hari, 40-50 g

- Mulai makan pakan kering 12 hari

- Rasio kawin 1 jantan 3 atau 4 betina

- Jumlah kromosom 42

- Suhu rektal 37,5oC

- Laju respirasi 85 x/mn

- Denyut jantung 300 500 x/mn

- Pengambilan darah maksimum 5,5 ml/Kg

- Jumlah sel darah merah (Erytrocyt) 7,2-9,6 X 106 / l


- Kadar haemoglobin(Hb) 15,6 g/dl

- Pack Cell Volume (PCV) 46%

- Jumlah sel darah putih (Leucocyte) 14 X 103 /l

b. Cara handling
Pertama ekor dipegang sampai pangkal ekor. Kemudian telapak tangan
menggenggam melalui bagian belakang tubuh dengan jari telunjuk dan
jempol secara perlahan diletakkan disamping kiri dan kanan leher. Tangan
yang lainnya membantu dengan menyangga dibawahnya, atau tangan
lainnya dapat digunakan untuk menyuntik.

c. Penandaan (identifikasi) hewan laboratorium.


Beberapa cara penandaan hewan lab. Dilakukan untuk mengetahui
kelompok hewan yang diperlakukan berbeda dengan kelompok lain.
Penandaan ini dapat dilakukan secara permanen untuk penelitian jangka
panjang (kronis), sehingga tanda tersebut tidak mudah hilang. Yaitu :
dengan ear tag (anting bernomor), tatoo pada ekor, melubangi daun
telinga dan elektronik transponder.

d. Pengambilan darah
Pada umumnya pengambilan darah terlalu banyak pada hewan kecil dapat
menyebabkan shok hipovolemik, stress dan bahkan dapat menyebabkan
kematian. Tetapi bila dilakukan pengambilan sedikit darah tetapi sering,
juga dapat menyebabkan anemia. Pada umumnya pengambilan darah
dilakukan sekitar 10% dari total volume darah dalam tubuh dan dalam
selang waktu 2-4 minggu. Atau sekitar 1% dengan interval 24 jam. Total
darah yang diambil sekitar 7,5% dari bobot badan. Diperkirakan
pemberian darah tambahan (exsanguination) sekitar setengah dari total
volume darah.

Contohnya: Bobot 300g, total volume darah 22,5 ml, maksimum


pengambilan darah 2,25 ml, maka pemberian exsanguination 11,25 ml.

Pengambilan darah harus menggunakan alat seaseptik mungkin. Untuk


meningkatkan vasodilatasi, perlu diberi kehangatan pada hewan tersebut,
misalnya taruh dalam ruangan dengan suhu 40oC selama 10-15 menit,
dengan mememasang lampu pemanas dalam ruangan tersebut.

Pengambilan darah dapat dilakukan pada lokasi tertentu dari tubuh, yaitu:

vena lateral dari ekor bagian ventral arteri ekor

sinus orbitalis mata vena saphena (kaki)

anterior vena cava langsung dari jantung.

Sedangan tempat atau lokasi untuk injeksi, volume sediaan dan ukuran
jarum adalah sebagai berikut:

IV IP IM SC Oral

Lokasi Lateral Otot Belakang


ekor & quadricep,
vena leher
saphena bag. Belakang

0,5 ml paha
Volume 5-10 ml 5-10 ml 5-10 ml/Kg
0,1 ml

Ukuran <23 guage <21guage <20 guage Jarum


jarum <21gauge tumpul 18-

20 guage

e. Euthanasia:
Euthanasia dengan CO2, injeksi pentobarbital over dosis (40-60mg/Kg) IP
atau dengan ketamin/medetomidin, 60-75 mg/Kg ip. Atau dengan obat
anasthetika lainnya.
3. Kelinci
a. Data biologik:
- Konsumsi pakan per hari 100-200 g

- Konsumsi air minum per hari 200-500ml

- Diet protein 14%

- Ekskresi urine per hari 30- 35 ml

- lama hidup 5-7 tahun

- Bobot badan dewasa

Jantan 4-5,5 Kg

Betina 4,5-6,5 Kg (NZ)

- Bobot lahir 30-100 g

- Dewasa kelamin:

Jantan 5-6 bulan (4,5Kg)

Betina 6-7 bulan 4Kg

- Siklus estrus (menstruasi) polyestrus (diinduce)

- Umur sapih 8 minggu. 1,8 Kg

- Mulai makan pakan kering 16-18 hari

- waktu untuk kawin kembali setelah 35-42 hari

- Rasio kawin 1 jantan 6-10 betina

- Jumlah kromosom 44

- Suhu rektal 39,5oC

- Laju respirasi 51 x/mn

- Denyut jantung 200 300 x/mn

- volume darah 55-65 ml/Kg

- Pengambilan darah maksimum 7,7 ml/Kg

- Jumlah sel darah merah (Erytrocyt) 4-7 X 106 / l

- Kadar haemoglobin(Hb) 10-15 g/dl

- Pack Cell Volume (PCV) 33-48 %


- Jumlah sel darah putih (Leucocyte) 5-12 X 103 /l

b. Cara handling
Kadang kelinci mepunyai kebiasaan untuk mencakar atau menggigit. Bila
penanganan kurang baik, kelinci sering berontak dan mencakarkan kuku
dari kaki belakang dengan sangat kuat yang kadang dapat menyakiti
dirinya sendiri. Kadang kondisi tersebut dapat menyebabkan patahnya
tulang belakang kelinci yang bersangkutan.

Cara menghandel adalah dengan menggenggam bagian belakang kelinci


sedikit kedepan dari bagian tubuh, dimana bagian tersebut kulitnya agak
longgar. Kemudian angkat kelinci dan bagian bawahnya disangga.

Sedangkan cara menangani kelinci perlakuan baik untuk diijeksi ataupun


untuk pengambilan darah diperlukan peralatan khusus dimana kelinci
tidak dapat benyak bergerak.

c. Penandaan
Penandaan kelinci dapat dilakukan secara individu hewan ataupun
kelompok. Penandaan banyak dilakukan pada daerah telinga yang berupa
ear tag (anting telinga yang dapat diberi nomor). Dapat juga dengan
tatoo pada telinga.

d. Pengambilan darah
Terlalu banyak mengambil darah dalam waktu satu kali akan dapat
menyebabkan shock hypovolemik, stress fisiologik dan kematian.
Sedangkan pengambilan darah yang sedikit dan dalam frekwensi waktu
yang sering dapat menyebabkan anemia.

Pada umumnya pengambilan darah 10% dari total volume darah dalam
selang waktu 2-4 minggu cukup baik dilakukan, atau 1% dalam interval 24
jam. Total volume darah dapat dihitung sekitar 7,5% dari bobot tubuh.

Perkiraan volume exsanguinasion (pemberian volume cairan/darah)


sekitar setengah dari total volume darah.. mIsalnya bobot kelinci 3 Kg,
maka total volume darah 225 ml, sampel pengambilan darah meksimum
22,5 ml dalam interval 2-4 minggu, jadi volume exsanguinasion 112,5 ml.

Pengambilan darah dilakukan dari beberapa lokasi tubuh taitu:

Arteri sentral di telinga Bagian lateral vena saphena

Vena jugularis Vena cava anterior

Jantung

Sedangan tempat atau lokasi untuk injeksi, volume sediaan dan ukuran
jarum adalah sebagai berikut:

IV IP IM SC Oral

Lokasi Vena Otot quadricep, Belakang


marginal
bag. Belakang leher
telinga
paha,otot
lumbal

Volume 50-100 50-100 5-10 ml/Kg


1-5 ml ml 0,5-1 ml ml

<2gau
Ukuran ge Jarum tumpul
jarum <21 guage <20gauge <20 18-20 guage
guage

e. Anasthesia
Anasthesia dapat dilakukan secara inhalant maupun injeksi. Anasthesia
inhalant dilakukan dengan inhalan isofluran, sedangkan untuk injeksi
dapat diberikan pentobarbital 20-60 mg/Kg iv dan terjadi efek setelah 1-3
jam. Beberapa obat anasthesia umum dpat juga diberikan sesuai dengan
anjuran. Sedangkan euthanasia (pembunuhan) pada hewan kelinci jarang
dilakukan.

4. Kera
Kera adalah termasuk non-human primata, dimana hewan ini sangat berguna
untuk penelitian yang erat hubungannya dengan manusia. Banyak sekali jenis
primata, tetapi yang sering digunakan untuk keperluan penelitian adalah kera
ekor panjang.

a. data biologik
- Konsumsi pakan per hari 2-4% dari bobot badan

- Konsumsi air minum per hari 2-4% dari bobot badan

- Diet protein -

- Ekskresi urine per hari -

- lama hidup 12-15 tahun

- Bobot badan dewasa

Jantan 12 Kg

Betina 10 Kg

- Bobot lahir 500-700 g

- Dewasa kelamin:

Jantan 6 tahun
Betina 5 tahun

- Siklus estrus (menstruasi) 28 hari

- Umur sapih 3-6 bulan

- Mulai makan pakan kering 20-30 hari

- waktu untuk kawin kembali -

- Rasio kawin 1 jantan 10 betina

- Jumlah kromosom -

- Suhu tubuh 38,8oC

- Laju respirasi 40 x/menit

- Denyut jantung 192 x/mn

- volume darah 75 ml/Kg

- Pengambilan darah maksimum -

- Jumlah sel darah merah (Erytrocyt) 4,6-6,5 X 106 / mm3

- Kadar haemoglobin(Hb) 12,5 g/100ml

- Pack Cell Volume (PCV) 42%

- Jumlah sel darah putih (Leucocyte) 15 X 103 /mm3

b. Cara handling
Cara menghandel primata ini memerlukan alat yang khusus sehingga
hewan tidak dapat bergerak.

http://www.geocities.com/kuliah_farm/praktkum_farmakologi/hewan_coba.doc
Bagaimana uji pre klinik dgn menggunakan in vitro?

In vitrodgn organ terisolasi, dgn kultur bakteri.


9. Tahap pengembangan dan penilaian obat tradisional

Jika ingin melakukan uji farmakodinamik(mekanisme kerja obat) bagaimana caranya?

JURNAL TTG UJI PRE KLINIKDIBACA DI METODOLOGI PENELITIAN