Anda di halaman 1dari 9

II.

ISI

I. Karbon
Karbon merupakan zat yang telah ada semenjak proses tebentuknya bumi.
Karbon terdapat pada semua benda mati dan makhluk hidup. Karbon terdapat di
udara dalam bentuk gas karbondioksida. Pada tumbuhan, karbon terdapat pada
batang, daun, akarbuah, juga pada daun-daun kering yang telah berguguran.
Sebagian karbon pada tumbuhan membentuk suatu zat yang disebut hidrat
arang atau karbohidrat. Hidrat arang merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh
manusia maupun hewan sebagai sumber tenaga dan pertumbuhan. Karbon dari
tumbuhan berpindah ke tubuh manusia dan hewan ketika mereka memakannya. Maka
karbon pun menyebar ke seluruh bagian tubuh menjadi bagian-bagian dari tulang,
kuku, daging dan kulit. Karbon juga tersimpan dalam perut bumi sebagai batu kapur,
batu grat, intan, minyak bumi, gas alam, batu bara dan tanah gambut. Karbon yang
berasal dari makhluk hidup seperti batubara dan minyak bumi disebut karbon
organik. Adapun yang bukan berasal dari makhluk hidup seperti batu kapur disebut
karbon anorganik.
Batubara dan minyak bumi merupakan cadangan karbon atau sumber karbon
yang ada di bumi. Batubara terbentuk dari tumbuhan mati yang telah tertimbun tanah
selama jutaan tahun. Sedangkan minyak bumi terbentuk dari hewan-hewan yang
mati jutaan tahun lalu,

II. Siklus Karbon


Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan
diantara biosfer, geosfer, hidrosfer dan atmosfer bumi. Dalam siklus ini terdapat
empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-
reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (termasuk freshwater system dan
material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon), lautan (termasuk
karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati) dan sedimen
(termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahunan karbon, pertukaran karbon antar
reservoir terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi dan biologi yang
bermacam-macam.

Gambar 1. Siklus karbon

III. Proses karbon di Atmosfer


Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer bumi adalah gas karbon
dioksida (CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari
seluruh gas yang ada di atmosfer, namun memiliki peran yang penting dalam
menyokong kehidupan. Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah
metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan).
Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah
bertambah dalam dekade terakhir ini dan berperan dalam pemanasan global.
Gambar 2. Siklus karbon di atmosfer

Karbon diambil dari atmosfer dengan berbagai cara:

a. Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesa untuk


mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat dan melepaskan oksigen
ke atmosfer. Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan
dengan tumbuhan yang baru saja tumbuh atau hutan yang sedang
mengalami pertumbuhan yang cepat.
b. Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan CO2
akan lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan terbawa
oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang
lebih berat ke kedalaman laut atau interior laut.
c. Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah dengan produktivitas yang
tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon,
beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-
bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran
karbon ke bawah.
d. Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti dua proses sebelumnya, proses ini
tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali
ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki efek netto
terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa
ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat laut dengan
reaksi yang sebaliknya (reverse reaction). Karbon dapat kembali ke
atmosfer dengan berbagai cara pula, yaitu:
a) Melalui pernafasan (respirasi) oleh tumbuhan dan binatang. Hal ini
merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya
penguraian glukosa (atau molekul organik lainnya) menjadi karbon
dioksida dan air.
b) Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan. Fungi atau jamur
dan bakteri mengurai senyawa karbon pada binatang dan
tumbuhan yang mati dan mengubah karbon menjadi karbon
dioksida atau menjadi metana jika tersedia oksigen.
c) Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon
yang terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya
seperti asap). Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara,
produk dari industri perminyakan (petroleum) dan gas alam akan
melepaskan karbon yang sudah tersimpan selama jutaan tahun di
dalam geosfer. Hal inilah yang merupakan penyebab utama
naiknya jumlah karbon dioksida di atmosfer.
d) Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau
gamping atau kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan
batu kapur atau batu gamping yang akan menghasilkan juga
karbon dioksida dalam jumlah yang banyak.
e) Di permukaan laut dimana air menjadi lebih hangat, karbon
dioksida terlarut dilepas kembali ke atmosfer.
f) Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas
ke atmosfer. Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida
dan belerang. Jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer
secara kasar hampir sama dengan jumlah karbon dioksida yang
hilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat. Kedua proses kimia
yang saling berkebalikan ini akan memberikan hasil penjumlahan
yang sama dengan nol dan tidak berpengaruh terhadap jumlah
karbon dioksida di atmosfer dalam skala waktu yang kurang dari
100.000 tahun.

IV. Proses karbon di biosfer

Gambar 3. Proses karbon di biosfer


Sekitar 1900 gigaton karbon ada di dalam biosfer. Karbon adalah bagian yang
penting dalam kehidupan di Bumi. Karbon memiliki peran yang penting dalam
struktur, biokimia dan nutrisi pada semua sel makhluk hidup. Dan kehidupan
memiliki peranan yang penting dalam siklus karbon: Autotroph adalah organisme
yang menghasilkan senyawa organiknya sendiri dengan menggunakan karbon
dioksida yang berasal dari udara dan air di sekitar tempat mereka hidup. Untuk
menghasilkan senyawa organik tersebut mereka membutuhkan sumber energi dari
luar. Hampir sebagian besar autotroph menggunakan radiasi matahari untuk
memenuhi kebutuhan energi tersebut dan proses produksi ini disebut sebagai
fotosintesis. Sebagian kecil autotroph memanfaatkan sumber energi kimia dan
disebut kemosintesis. Autotroph yang terpenting dalam siklus karbon adalah pohon-
pohonan di hutan dan daratan dan fitoplankton di laut. Fotosintesis memiliki reaksi:

6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2

Karbon dipindahkan di dalam biosfer sebagai makanan heterotrop pada


organisme lain atau bagiannya (seperti buah-buahan). Termasuk di dalamnya
pemanfaatan material organik yang mati (detritus) oleh jamur dan bakteri untuk
fermentasi.
Sebagian besar karbon meninggalkan biosfer melalui pernafasan atau
respirasi. Ketika tersedia oksigen, respirasi aerobik terjadi, yang melepaskan karbon
dioksida ke udara atau air di sekitarnya dengan reaksi 6CO2 + 6H2O C6H12O6 +
6O2. Pada keadaan tanpa oksigen, respirasi anaerobik lah yang terjadi, yang
melepaskan metan ke lingkungan sekitarnya yang akhirnya berpindah ke atmosfer
atau hidrosfer.

V. Proses Karbon di Laut


Gambar 4. Proses karbon di laut

Laut mengandung sekitar 36.000 gigaton karbon, dimana sebagian besar


dalam bentuk ion bikarbonat. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan
karbon-karbon atau karbon-hidrogen. Pertukaran karbon ini menjadi penting dalam
mengontrol pH di laut dan juga dapat berubah sebagai sumber (source) atau
lubuk (sink) karbon. Pada daerah upwelling, karbon dilepaskan ke atmosfer.
Sebaliknya, pada daerah downwelling karbon (CO2) berpindah dari atmosfer ke
lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk:

CO2 + H2O H2CO3

Reaksi ini memiliki sifat dua arah, mencapai sebuah kesetimbangan kimia.
Reaksi lainnya yang penting dalam mengontrol nilai pH lautan adalah pelepasan ion
hidrogen dan bikarbonat. Reaksi ini mengontrol perubahan yang besar pada pH.

H2CO3 H+ + HCO3-

Didalam daur karbon terdapat kabondioksida, karbondioksida ini dibutuhkan


oleh tumbuhan untuk fotosintesis, sehingga menghasilkan oksigen yang dibutuhkan
oleh berbagai makhluk hidup.

Siklus karbon pada ekosistem menyangkut proses penyerapan dan emisi


karbon ke atmosfer. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atau kondisi yaitu:

1. Kondisi vegetasi yang meliputi jenis atau tipe vegetasi atau hutan

2. Kondisi tempat tumbuh dan lingkungan yang meliputi faktor edafis, klimatis
dan faktor lainnya
3. Kondisi pengelolaan yang melalui pengaturan ruang (tata ruang0, penentuan
peruntukan atau penggunaan lahan dan hutan

4. Kondisi gangguan seperti perubahan lingkungan , kemarau, ledakan,


gangguan hama dan penyakit, gangguan perbuatan manusia seperti
pembakaran, ekspliotasi yang tidak terkelola dengan baik (Dephut, 2009)

Menurut Daniswara, 2009, faktor- faktor yang mempengaruhi siklus karbon di


perairan adalah:

1. Kadar PH di laut

2. Penguapan air lautt

3. Pelapikan batuan

4. Gunung berapi di bawah laut

DAPUS

Daniswara.2009.Produsen dan Konsumen Perairan. http//daniswara.wordpress.com.

[Dephut] Departemen Kehutanan, 2009. Tatacara Perizinan Usaha Pemanfaatan


Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbon Pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung.
Peraturan Menteri Kehutanan No. P.36/Menhut-II/2009.

SCOPE 13 The Global Carbon Cycle

Janzen, H. H. (2004). Carbon cycling in earth systemsa soil science perspective.


In Agriculture, ecosystems and environment, 104, 399 417.

Houghton, R. A. (2005). The contemporary carbon cycle. Pages 473-513 in W. H.


Schlesinger, editor. Biogeochemistry. Elsevier Science.

Jumin.H.B.1989.Ekologi Tanaman.Rajawali Press: Jakarta


Muslimin.L.W.1996. Mikrobiologi Lingkungan.UI Press : Jakarta

Sasmita.W.D.1994. Materi Pokok Biologi Umum. Deptdikbud: Jakarta


Achmad, Rukaesih., 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta:Penerbit ANDI